BAB 12. TIANG KENG DENGAN NONA CANTIK

BAB 12. TIANG KENG DENGAN NONA CANTIK

Tiang Keng merasa kasihan, ia lebih banyak membela diri daripada menyerang. Dia menyerang cuma untuk megembalikan serangan si nona. Tentang tenaga dalam, ia merasa menang dari si nona. Tapi si nona lincah luar biasa.

Nona itu bertempur sambil melihat ke bawah tembok kota, ke tempat jauh. Ia mau tahu kedua kawan anak muda itu sudah tiba berapa jauh dari tembok kota. Begitulah ketika ia melihat mereka sudah sampai di kaki tembok. Mendadak ia melakukan serangan hebat, sebelah tangan bajunya menyambar ke lengan kanan si anak muda, tangan kanannya dan jari tanganya meluncur ke jalan darah kin-ceng!

Serangan hebat itu dilakukan dengan kecepatan luar biasa.

Syukur Tiang Keng ini, murid Su-khong Giauw, yang pada tujuh puluh tahun yang lampau sudah ternama. Ketika itu kecuali golongan lurus, golongan sesat pun memiliki jago-jago yang lihay.

Ketika Su-khong Giauw muncul, ia menjagoi kalangan Kang-ouw hanya dalam tempo beberapa tahun setelah berhasil membunuh Tay Bok Sam Hiong (Tiga Jago Gurun).

Kemudian dengan pedangnya ia berhasil membunuh hantu dari Cap-jie Lian-hoan-ouw. Kemudian bersama Khu Kun, dia disebut Thian Tee Siang Sian (Sepasang Dewa Langit dan Bumi). Ia menjadi Thian-sian, si Dewa Langit.

Sampai usianya sudah lanjut, ia tidak menikah dan tidak punya murid. Ketika ia datang ke puncak Sie Sin Hong, ia terlambat karena To Ho Jian, murid Khu Kun sedang dalam bahaya dan tak berhasil dia tolong hingga ia menyesal sekali. Karena itu. dia mengambil Tiang Keng sebagai murid satu- satunya. Ia girang Tiang Keng berbakat hingga dengan mudah ia mampu mengajar dan mendidiknya hingga pandai. Itu sebabnya mengapa kepandaian Thian Sian ini tak lenyap dari Dunia Persilatan.

Tiang Keng heran. Setelah bertempur sekian lama, ia belum tahu si nona lawannya itu dari partai persilatan mana.

Mengenai berbagai partai, ia tahu banyak, gurunya telah menuturkan semuanya. Dalam penasaran. mendadak ia melompat tinggi setinggi tiga tombak.

Si nona heran. Ia juga melihat sepatu Tiang Keng yang berwarna putih tetapi tidak kotor. Itu menandakan bahwa Tiang Keng mampu mengejar dia tanpa menginjak tanah. Ia jadi curiga, dia menduga lawannya hendak menggunakan tipu silat yang luar biasa. Segera ia melompat menyingkir sejauh lima kaki, matanya mengawasi dengan tajam ke arah Tiang Keng.

Ternyata Tiang Keng tidak berbuat apa-apa. Dia turun dengan tenang.

Si nona melengak. Sekarang ia lihat tampang orang yang ganteng tetapi dingin seperti es....

Ketika itu kedua nona yang mendatangi seperti bayangan itu sudah sampai di kaki tembok. Ternyata mereka adalah nona-nona yang membawa bingkisan untuk ulang tahun untuk To-pie Sin-kiam In Kiam. Tampak mereka girang dapat menyusul si nona, tetapi mereka keletihan sekali. Nafas mereka memburu keras, muka mereka berubah merah kedaduan.

Tetapi tak lama mereka dapat menenangkan diri kembali.

Setelah mengawasi ke atas, mereka saling pandang, kemudian me-reka melompat naik. Tampak gerakan mereka bagaikan sepasang kupu-kupu yang sedang melayang.. ,

Melompat sekitar dua tombak, mendadak nona yang di sebelah kiri menekan bahu kawannya Oleh sebab itu tubuh si nona bisa mencelat naik. Sebaliknya, kawannya turun kembali ke tanah. Tiba di atas, ia tersenyum. menjurah pada si nona. Setelah itu dari sakunya ia mengeluarkan sehelai tambang merah untuk diturunkan ke bawah. Dengan bantuan tambang itu, nona yang ada di bawah itu dapat melompat naik ke atas untuk berkumpul bersama lagi.

Tiang Keng berseru sambil mengawasi ke arah si nona. "Pernah apa kau dengan Un Jie Giok?" tanya Tiang Keng

dingin. Tiang Keng tidak dapat menerka ilmu silat si nona. Tiba- tiba ia ingat pada wanita jelek, wanita yang sepuluh tahun yang lalu di kaki puncak Sie Sin Hong.

Ketika itu wanita jelek itu bersama seorang nona cilik yang cantik wajahnya. Samar-samar ia mengenali wajah nona cilik itu. ia duga si nona cilik itu sudah dewasa dan menjadi seorang gadis belia yang cantik manis.

Karena Tiang Keng teringat pada kejadian itu, di depan matanya terbayang cara Un Jie Giok membinasakan ayah dan ibunya. Maka bergolaklah dadanya.

Nona itu heran melihat sikap anak muda itu. Tapi ia telah mendapat kawan, hatinya jadi tenang. Kembali ia bisa tertawa dengan manis.

Tiang Keng mengawasi nona itu. tanpa menoleh ia tahu nona itu telah memperoleh kawan, akan tetapi ia tidak menghiraukannya atau gentar.

"Oh, rupanya kau kenal pada Un Jie Giok?" tanya si nona sambil tertawa. "Buat apa kau menanyakan tentang dia kepadaku?"

"Aku bertanya karena aku ingin tahu!" kata Tiang Keng. "Jika kau tidak menjawab pertanyaanku dengan sungguh- sungguh, hati-hati kau! Jangan katakan aku takut padamu!"

Si nona menggerakkan tangannya, dia tertawa manis. "Kau galak sekali!" kata si nona sambil menunjuk pada

anak muda itu. "Bagaimana kalau aku tidak menjawab pertanyaanmu itu?"

la tidak menanti jawaban Tiang Keng, mendadak ia memerintah dengan bengis, "Siauw Keng! Siauw Leng! Kau wakili aku membekuk bocah ini!"

Mendadak Tiang Keng tertawa nyaring, tubuhnya mencelat tinggi. Ia kurang berpengalaman tetapi ia cerdas sekali, la bersiap untuk melayani dua orang yang baru datang itu. Ada baiknya lompatnya ini. Kedua nona itu, sudah lantas menerjang, menubruk tempat kosong.

"Kau dapat melompat tinggi, apa kau kira orang lain tak bisa?" seru si nona yang lantas mencelat naik dengan kedua tangannya dikibaskan.

Gerakan ini mirip dengan ilmu silat Bu Tong Pay yang dinamakan Liu In Hui Siu (tangan baju Mega Melayang). Tetapi sebenarnya itu jurus ciptaan Un Jie Giok yang diberi nama Bu Siang Lo Siu (Sepasang Tangan Baju Tanpa Tanding).

Tiang Keng tidak mengenal ilmu silat itu. Dia pun tidak ambil pusing, ia cuma tahu si nona bertiga pasti ada hubungannya dengan musuhnya yaitu Ang Ie Sian-cu Un Jie Giok, si Dewi Baju Merah.

Maka ia melompat untuk menyambar tangan baju si nona.

Untuk itu, ia mengerahkan tenaganya hingga lima jari tangannya menjadi keras dan kuat seperti lima buah gaetan besi. Ia menarik sambil berseru dengan suara keras.

Dengan suara robekan yang berisik, kedua tangan baju si nona tertarik hingga robek separuhnya hingga terlihat separuh lengannya yang putih. Nona itu kaget sampai parasnya menjadi pucat.

Tiang Keng melemparkan robekan tangan baju si nona. Begitu si nona menaruh kakinya, ia maju lagi menyerang. Ia seolah tidak ingin memberi hati pada si nona manis itu.

Si nona terkejut, tetapi ia berhasil berkelit. Ia jadi heran dan mendongkol. Ia heran sebab tak tahu apa sebabnya Tiang Keng telah menyerangnya dengan demikian hebat. Ia mendongkol karena ia belum pernah terhina. Apalagi gadis ini biasa dimanjakan. Oleh karena itu, ia melawan dengan sengit. Tanpa terasa belasan jurus sudah berlalu. Kedua budak si nona yang dipanggil Siauw Keng dan Siauw Leng itu heran hingga mereka semua melongo. Mereka heran sebab mereka tahu nona mereka tak pernah mendapat lawan yang setimpal.

Sekarang si nona mendapat lawan yang tangguh yaitu pemuda tampan ini. Akibatnya tangan baju Siang Lo Siu berhasil dirobek hingga buntung. Tapi mereka tidak diam saja, lantas mereka maju untuk menyerang sambil berseru dengan nyaring.

Tiang Keng melayani ketiga musuhnya itu. Ia berdiri tegak dan bergerak dengan gesit. Ia dapat melayani ketiga nona itu. Sedangkan Siauw Keng dan Siauw Leng bersikap hati-hati sekali, juga nona mereka. Ketika tangan bajunya robek, si nona telah berlaku kurang hati-hati, ia tidak menduga Tiang Keng lihay. Sekarang ia waspada, ia berlaku hati-hati.

Kelihatan mereka sama gagahnya, ternyata Tiang Keng tak dapat segera mengatasi semua lawannya itu. Dengan demikian, matahari pun telah mulai muncul di ufuk timur.

Dengan dengan demikian tibalah sang siang . . .

0oo0