Tiga Maha Besar Jilid 32

  
Jilid 32

“ENCI Ku Ing hidup sebatang kara dalam dunia persilatan, ia tak punya sanak tak punya keluarga, didunia pada saat ini cuma Thian-hong satu-satunya sanak bagi nya” kata Chin Wan-hong sambil tertawa “sedangkan, engkau adalah mutiara dari perkumpulan Sin-kie-pang kekuasaan serta kekuatan kalian amat besar sekali, bila Tang Kwik-siu hendak mencelakai dirimu maka dia harus berpikir akan diri Hoa Thian-hong, iapun musti memperhitungkan pula kekuatan yang dipunyai perkumpulan Sin-kie-pang, mampukah untuk dilawan atau tidak karenanya walaupun engkau berada dalam keadaan bahaya pada hakekatnya keadaan belum mencapai pada puncak kekritisan yang memerlukan bantuan, berbeda dengan enci Ing ing, waktu itu dia sedang melakukan siksaan api dingin yang malelehkan sukma”

Pek Kun-gie termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia bertanya lagi, “Kenapa siluman rase itu menutupi wajahnya dengan kain hitam?”

“Setelah mengalami siksaan berat, enci Ing ing menderita tekanan jiwa yang amat berat, wajahnya ikut berkeriput hingga mengalami perubahan besar, oleh sebab itu sampai sekarang ia menderita cacad muka. Aii! Kedatangan Thian- hong waktu itu memang tepat sekali, bila dia datang setengah hari lebih lambat entah siksaan apa lagi yang akan diderita oleh enci Ing ing, dia adalah seorang manusia yang bernasib jelek, janganlah kau pandang dirinya sebagai seorang musuh!”

“Hmmm! Rejekimu besar nasibmu, sangat baik tentu saja sikapmu lebih terbuka dari pada orang lain?” seru Pek Kun-gie dengan mata amat dingin.

Mendengar perkataan itu, Chin Wan-hong tertawa geli. “Rejeki ada yang besar ada yang kecil, ada pula yang

datangnya agak cepat dan ada pula yang agak lambat, belum tentu nasib mu jelek, cuma datangnya jauh lebih lambat daripada, sekalipun begitu janganlah menggeruti atau merasa terhadap Thian, daripada sikapmu iri akan menyalahi Pousat sehingga Pousat tak mau melindungi dirimu!” “Aku tak sudi dilindungi oleh siapapun!” teriak dara she Pek dengan manja.

Chin Wan-hong tersenyum manis, hiburnya dengan suara lembut, Thian-hong sudah amat lelah karena tugasnya yang amat berat selama inii, janganlah membuat sedih hatinya lagi, besok kami akan menemani Bong toako datang kerumah, aku harap engkau jangan mengumbar hawa nafsu lagi.

Selesai berkata, ia lantas lepaskan tangannya dan turun dari bukit tersebut.

Li-hoa Siancu sedang mananti kedatangannya bagaikan semut diatas wajah yang panas, ketika perempuan itu munculkan diri ia langsung berseru lantang, “Hong ji, permainan setan apa yang sedang kau lakukan? Ketahuilah dua orang perempuan itu sama-sama adalah siluman rase, buat apa engkau ribut-ribut dengan mereka?”

“Aaah! Kami adalah kenalan lama, berbicara soal kehidupan sehari hari memang menarik hati!”

Waktu itu Ciu Thian-hau sedang bermain catur dengan Suma Tiang cing, sedang Cu Im taysu duduk disampingnya, ia lantas berpaling seraya bertanya, “Hong ji, bagaimana dengan tugasmu sebagai mak comblang?”

Chin Wan-hong menghampiri padri itu, kemudian menuturkan apa yang telah diucapkan oleh Pek Siau-thian.

Setelah mendengar penuturan tersebut, Ciu Thian-hau segera tertawa dingin, katanya, “Heeehh…. heeehh…. heeehh…. omong kosong! Pek Siau-thian itu manusia macam apa? Kog Bong pay harus menuruti ajarannya, bukankah dia akan ikut menjadi seorang bajingan cilik? Aku rasa jangan kita penuhi permintaan itu, bila perlu batalkan soal perkawinan ini dan kita carikan perempuan lain bagi pasangan Bong pay”

“Empek yang baik” ujar Chin Wan-hong sambil tertawa, “emas murni tak takut dibakar dengan api, Boag Toako adalah seorang laki-laki sejati yang berjiwa kesatria, sewajarnya kalau ia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, kalau toh Pek pangcu bisa mempengaruhi Bong toako, memangnya Bong toako tak dapat mempengaruhi Pek pangcu. Lagi pula bibi dari keluarga Pek adalah seorang perempuan yang bijaksana, selama Bong toako didampinginya aku rasa tak akan banyak halangan yang bakal ia temui.”

Berbicara sampai disini, dia lantas berpaling ke arah Cu Im taysu dan diam-diam mohon bantuannya.

Cu Im taysu adalah padri, seorang yang saleh dan mengutamakan kasih sayang kalau mengikuti jalan pikirannya maka ia sangat berharap bisa membawa orang jahat untuk kembali kejalan yang benar.

Maka ketika ia mendengar ucapan terakhir dimana dikatakan kemungkinan juga Bong Pay bisa mempengaruhi Pek Siau-thian, satu ingatan segera terlintas dalam benaknya, buru-buru serunya, “Perkataan dari Hong ji memang tak keliru, Bong Pay paling benci kejahatan, diapun bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, kakerasan hatinya melampaui siapapun dan ilmu silat yang dia miliki juga tak rendah, siapa tahu setelah Pek Siau-thian mempunyai menantu seperti Bong Pay dia lantas lepaskan golok pembunuh dan kembali kejalan yang benar? Inilah kesempatan yang terbaik untuk membawa iblis itu menuju jalan kebenaran, menurut pendapatku perkawinan ini jangan dilewatkan dengan begitu saja. Suma Tiang cing yang selama ini membungkam, tiba-tiba berkata, “Kalau toh Cu toako sendiripnn tidak kuatir, kenapa kita musti menguatirkan dirinya? Apa lagi suatu hari Bong Pay jadi jahat, kita kan masih punya kesempatan untuk lenyapkan Pek Lo ji dan akar akarnya dari muka bumi.

Ciu Thian-hau termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya, “Bagus juga cara ini, tapi kita bertiga musti menaruh perhatian khusus, sekali Bong Pay salah bertindak maka kita musti turun tangan dengan tegas.

Perkawinan dari Bong Pay dan Pek Soh-gie pun ditetapkan, begitu malam harinya pihak Sin-kie-pang dan Seng sut pay mendapat giliran kerja, sedang keesokan harinya pekerjaan dilakukan oleh orang-orang dari Kiu-im-kauw.

Siangnya Hoa Thian-hong suami istri di tambah dengan Chin Giok-liong dengan menemani Bong Pay menuju perkemahan dari orang-orang Sin-kie-pang.

Oleh karena pihak laki masuk pihak perempuan, mereka tak perlu membawa mas kawin.

Pek Siau-thian sebagai seorang ketua dari suatu perkumpulan besar tidak berdiam diri belaka, sekalipun berada diluar rumah namun ia tidak bertindak seenaknya.

Kecuali arak dan daging dihidangkan untuk menjamu tamu- tamunya, iapun memberi persenan yang cukup besar buat anak buahnya, suasana riang gembira segera menyelimuti suasana di bukit Kiu ci san.

Malam itu, Hoa Thian-hong memimpin jago-jago aneka ragamnya meneruskan penggalian, ketika kentongan keempat baru lewat dan karena suatu urusan, Hoa Thian-hong sedang keluar dari liang penggalian, tiba-tiba dari arah dasar liang terdengar seseorang berteriak keras.

Hoa kongcu…. istana Kiu ci kiong telah munculkan diri…. istana Kiu ci kiong telah munculkan diri.

Dengan hati terperanjat, Hoa Thian-hong berpaling ke arah mana berasalnya suara teriakan itu.

Beberapa orang yang berada didalam liang penggalian sambil bersorak sorai dan menari dan teriaknya berulang kali.

“Istana Kiu ci kiong telah munculkan diri! Sobat-sobat semua dan lihatlah…. istana Kiu ci kiong telah muncul dari dasar per-mukaan tanah”

Teriakan-teriakan keras itu membelah kesunyian yang mencekam di malam buta itu, semua jago dibuat terkejut dan sadar dari tidurnya, dalam waktu singkat jago-jago lihay dari pelbagai pelosok tempat baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam serentak ber larian masuk kedalam liang tersebut.

Luas liang yang sedang digali itu mencapai sepanjang dua puluh kaki dengan lebar empat puluh kaki, tiap lima depa digantung sebuah tangga dan dalamnya sudah mencapai sembilan puluh kaki.

Karena dalamnya liang tersebut maka orang-orang yang ada diatas liang menyaksikan orang yang sedang bekerja di bawah liang sebesar semut kecuali beberapa orang jago yang dapat melihat jelas keadaan tersebut sebagian besar mereka tak dapat melihat apa-apa.  Hoa Thian-hong dengan menemani Tiangsun Pou serta empat datuk dari bukit Huang-san memburu ke tempat kejadian, waktu itu dasar liang telah menjadi lautan manusia, tiap anak tangga penuh berjejal kawanan jago, lampu lentera menyinari seluruh penjuru membuat suasana jadi terang benderang

Ketika Hoa Thian-hong dan Tiansun Pou sekalian tiba didasar lembah, hampir seluruh jago pada menyingkir ke samping untuk memberi jalan lewat.

Didasar liang terdapat sebuah atap tembaga sepanjang dua depa lebar satu depa enam cun dengan memancarkan sinar keemas-emasan, selain itu terdapat pula sebuah kepala patung binatang Kilin dan separuh potong papan nama yang luasnya empat depa masih terbaca, sebab huruf besar yang terbuat dari emas.

Tulisan itu adalah Huruf Ban atau sepuluh laksa.

Setelah beberapa orang itu mencapai tempat kejadian, Pek Siau-thian segera menunjuk ke arah separuh bagian papan nama itu seraya berseru, “Tiangsun lote, cepatlah rundingkan dengan keempat datuk, tempat ini sebenarnya adalah bagian mana dari istana Kiu ci kiong?”

Po-yang Lojin maju melewati lautan manusia, seteah membaca tulisan Ban itu, ia lantas berseru, Oooh! Tempat ini adalah istana Ban yo tian, sudah terhitung tempat penting didalam istana Kiu ci kiong, orang lain dilarang masuk keluar ditempat ini”

Li lojin yang berada disisinya melanjutkan, Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, ketika Kiu-ci Sinkun memberi nama untuk istananya ini, ia pernah berkata: Barangsiapa dapat memasuki ruang istana ini dia adalah anak buah istana Kiu ci kiong, dan apa dia harapkan akan dipenuhi sampai puas, selama hidup tak akan menderita lagi”

Tiangsun pou membeberkan peta birunya dan membentangkan dihadapan kawanan jago, Po-yang Lojin lantas menunjuk ke arah sebidang tanah yang bertulisan Ban yo tian, ujarnya lagi, Disinilah letak istana Ban yu tian, belakang istana adalah sebuah kebun bunga, dibelakang kebun bunga adalah sebuah telaga kecil, setelah melewati jembatan batu maka kita akan sampai ditem pat tinggalnya Kiu-ci Sinkun.

Peta biru itu dibuat oleh Tiangsun Pou berasarkan keterangan dari empat datuk bukit Huang-san, catatan diatas peta itu amat jelas sekali, hampir semua pemimpin persilatan berkerumun dimuka dan meneliti peta itu.

Tiba-tiba Pek Kun-gie menerobos masuk dari kerumunan orang banyak, kemudian ia berdesakan dan berdiri disamping Hoa Thian-hong.

Kebetulan Kiu-tok Sianci berdiri disamping pemuda itu, karena didesak Pek Kun-gie, ia jadi terdorong kesamping, kejadian ini segera menggusarkan hatinya, Dengan dahi berkerut perempuan suku Biau ini siap mengumbar hawa amarahnya tapi oleh karena Pek Kun-gie adalah seorang anak muda ia malu untuk menurunkan gengsi sendiri.

Rupanya Pek Kun-gie tahu bahwa hubungannya dengan Hoa Thian-hong tak dapat berlangsung lantaran hadangan dan penampikan dari Kiu-tok Sianci beserta anak muridnya, karena itu dia sangat membenci orang orang dari wilayah Biau ini.

Oleh karena itu ia agak penasaran atas diri Kiu-tok Sianci, sebelum perempuan itu sempat mengumbar hawa amarahnya, ia sudah melotot seraya menegur, “Heey, apa yang sedang kau pelototi? Memangnya mau makan orang ya?”

Kalau gadis itu berlagak sok maka Hoa Thian-hong yang paling panik, cepat-cepat ia tarik gadis itu kebelakang kemudian bentaknya dengan perlahan, “Eih, bagaimana sih kamu ini? kenapa berani bersikap tak tahu sopan terhadap orang yang lebih tua dirimu? kalau sampai orang lainpun mengetahui tingkah lakumu ini bagaimana jadinya nanti?”

Pek Kun-gie tidak langsung menjawab, kembali ia melotot sekejap searah Kiu-tok Sianci dengan penuh perasaan dendam, setelah itu baru sahutnya dengan lirih, “Kalian tak boleh bertindak gegabah, sampai sekarang Tang Kwik-siu beserta anak muridnya tidak pernah turun kemari, Kok See- piauw bajingan cilik itupun lenyap tak ketahuan kemana perginya, aku lihat kejadian ini aneh sekali, kita musti waspada dan berjaga-jaga atas segala kemungkinan yang tak diinginkan!”

Sunggguh terperanjat hati Hoa Thian-hong setelah mendengar laporan tersebut, dengan pandangan tajam ia menyapu sekejap seke-liling tempat itu, betul juga perkataan itu, baik Pek Siau-thian maupun Kiu-im Kaucu, Jin Hian serta Thian Ik-cu, beberapa orang tokoh penting dalam dunia persilatan telah hadir semua didasar liang galian itu, tapi dari pihak Mo-kauw yakni Tang Kwik-siu beserta anak muridnya, tak seorang pun yang menampakkan diri disitu.

Sementara itu, Kho Hong-bwee merasa sangat tak senang hati lantaran Kiu-tok Sianci sentimen dengan putrinya, dalam keadaan seperti ini dia lantas manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik baiknya, dengan menunjukkan lagaknya sebagai seorang angkatan yang lebih tua, ia menghardik, “Peristiwa ini sangat mencurigakan hati, Thian-hong! Segera naik keatas dan selidiki persoalan ini sampai jelas!” “Baik!” sahut Hoa Thian-hong, ia tak berani berayal lagi serentak tubuhnya melejit keatas.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki si anak muda ini sudah mencapai pada puncaknya, sambil menutul permukaan batu, dalam waktu singkat ia sudah mencapai permukaan liang tersebut.

Baru saja dia hendak melangkah keluar dari liang galian, tiba- tiba terdengar Tang Kwik-siu tertawa terbahak-bahak dengan seramnya, disusul ia berkata, “Haaaah…. haaaahh…. haaaah….Hoa kongcu, betulkah harta karun itu sudah menampakkan diri?”

Seraya mengejek, segulung angin pukulan yang maha dahsyat ibaratnya gulungan ombak yang dimainkan taufan melanda datang dengan dahsyatnya, diantara desingan tajam tersebut terselip pula bau busuk yang sangat memualkan.

Kejut dan gusar Hoa Thian-hong menghadapi kejadian ini, disaat yang kritis dia mengepos tenaga, sepasang telapak tangannya lantas menekan permukaan tanah dan Sreet….! dengan kecepatan seperti anak panah terlepas dari busurnya dia melejit ke udara, kemudian ber jumpalitan beberapa kali.

Lompatan keudara yang indah dan maha sakti ini tak mungkin bisa dilakukan orang lain didunia ini kecuali Hoa Thian-hong seorang, sebab bukan saja seseorang harus memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna, diapun harus mempunyai keberanian yang luar biasa.

Meleset dengan serangan mautnya, Tang Kwik-siu jadi ketakutan setengah mati, nyalinya serasa jadi pecah, sambil berpekik nyaring dia putar badan dan kabur terbirit-birit. Ketika masih berada ditengah udara mendadak telinganya yang tajam telah menangkap serentetan suara yang aneh sekali kede ngaranya, cepat dia alihkan perhatiannya ketempat berasalnya suara itu.

Apa yang telah terjadi? Mendadak perasaan hatinya tercekat, jantungnya berdebar keras dan mukanya pucat pias seperti mayat, dengan perasaan ngeri jeritnya keras-keras, “Awass….! Air bah telah datang, cepat kabur keatas…. cepat kabur dari sina,air bah telah datang!”

Ia membenci dan mendendam pada kekejaman serta kelicikan Tang Kwik-siu, setelah memberi peringatan kepada kawanan jago itu secepat kilat ia mengejar ke arah gembong iblis tersebut.

Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, jerit ngeri terkumandang susul menyusul dari dalam liang galian itu menyusul mana jeritan kaget mendekati setengah kalap menggelegar dari balik liang tersebut, “Ooooh…. ular…. ular beracun…. kelabang beracun…. laba-laba beracun!”

Jeritan ngeri demi jeritan ngeri berkumandang susul menyusul, suasana amat kalut setiap orang saling berdesakan dan berebutan untuk memanjati anak tangga, ada yang marangkak naik keatas ada pula yang merosot kebawah, apalagi mendengar suara gulungan air bah yang menggemuruh dengan kerasnya, semua orang semakin bergidik dan pecah nyali.

Dalam keadaan seperti ini, setiap orang yang masih berada dalam liang galian tersebut mati-matian berusaha untuk menerjang naik keatas permukaan sebaliknya mereka yang berilmu silat rendah, seketika terdesak kebawah dan berjatuhkan ke dasar liang tersebut. Dalam waktu tingkat, suara gemuruh air bah yang memekikkan telinga menggelegar di udara, keras sekali suara itu, seakan-akan ada berjuta-juta orang pasukan berkuda yang meluncur datang bersamaan waktunya.

Begitu suara gemuruh yang keras bagaikan ledakan gunung berapi itn menggelegar diudara, suasana dalam liang galian itu jadi panik dan kacau balau tak karuan, setiap orang hanya memikirkan untuk menyelamatkan jiwa sendiri, obor yang mereka bawa pun pada dibuang ketanah, dengan begitu suasana jadi gelap gulita.

Ditengah kegelapan yang mencekam seluruh jagad, jeritan kaget dan teriakan panik berkumandang dari sana sini, seakan-akan mereka tertimpa bencana kiamat saja.

Terdengar Pek Siau-thian meneriakan nama “Hong bwe” Kho Hong-bwee meneriakan nama “Kun gi” Kiu-tok Sianci meneriakan nama dari anak muridnya, Kiu im kancu, Jin Hian serta Thian Ik-cu sekalian masing masing kabur secepatnya dari tempat celaka itu, mereka tak gubris bagaimana keadaan yang lain, yang dipikirkan hanya bagaimana caranya untuk meloloskan diri secepatnya dari sana.

Hampir sebagian besar kawanan jago yang hadir ditempat itu terlibat dalam peristiwa maut ini, tapi ada pula beberapa orang yang sama sekali tidak ikut mengalami kejadian tersebut, mereka adalah Chin Wan-hong, Cu Im taysu, Ciu Thian hay serta Suma Tiang cing empat orang.

Keempat orang ini ditinggal dalam markas untuk menjaga keamanan disitu, mereka tak pernah bergeser selangkahpun dari markasnya, maka ketika terjadi peristiwa yang sama sekali tak terduga itu, buru-buru mereka lari ketepi liang galian untuk berusaha menolong rekan-rekan sendiri. Dalam waktu singkat air bah yang maha dahsyat itu sudah menggulung tiba ditepi galian tersebut, kawanan manusia yang begitu banyak seperti semut makin cepat lagi merangkak naik keatas tebing tersebut.

Mereka yang agak lambat larinya segera diterjang oleh kawanan jago lainnya sehinggaag terjatuh dan terinjak jadi daging hancuran, dalam keadaan seperti ini tiap orang hanya memikirkan bagaimana caranya untuk meloloskan diri serta menyelamatkan jiwa sendiri.

Malahan ada pula yang telah mencabut keluar senjata mereka, tanpa pandang bulu baik dia rekan atau musuh pokoknya mereka membacok sekenanya agar bisa terbuka sebuah jalan lewat dan mereka bisa lebih cepat lagi tinggalkan tempat celaka itu.

Selang sesaat kemudian, sang surya telak muncul di ufuk sebelah timur dan memamcarkan sinar keemas-emasannya enyoroti wajah kawanan jago yang baru lolos dari bencana itu.

Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak keras, “Coba lihat!

Hoa kongcu berada disana”

Beratus-ratus pasang mata beralih ke arah mana yang ditunjuk, benar juga, dibawah sorotan cahaya sang surya, tampaklah Hoa Thian-hong dengan pedang terhunus sedang bertempur sengit melawan Tangkwik Siu serta belasan orang anak muridnya….Cahaya senjata berkilauan tertimpa sinar matahari dan membiaskan serentetan sinar yang menyilaukan mata, pertarungan itu berlangsung dengan sengitnya

Kiu-im Kaucu yang sangat mendongkol bercampur gusar serentak acungkan kepalanya sambil berteriak lantang, “Hayo berangkat, kita cingcing setiap orang dari Seng sut Pay menjadi perkedel, jangan biarkan diantara mereka berhasil kabur dari sini dalam keadaan selamat!”

Serentak kawanan jago itu menghadapi dengan teriakan- teriakan kalap, dengan senjata terhunus mereka lantas menyerbu ketepi gelanggang.

oooooOooooo 89

GELANGGANG pertarungan dimana Hoa Thian-hong sedang bertempur melawan Tang Kwik-siu beserta anak muridnya adalah sebuah tebing curam yang amat terjal dan sangat berbahaya.

Ciu Thian-hau serta Suma Tiang Cing paling menguatirkan keselamatan hidup si anak mada itu, dengan mengerahkan segenap ke kuatan yang dimilikinya kedua orang itu sudah berhasil mencapai puncak tebing yang amat curam itu, baru saja mereke hendak melayang kedepn untuk memberi bantuannya, tiba-tiba Hoa Thian-hong berseru dengan lantang, “Kalian tak usah turun tangan membantu, biarlah kubereskan sendiri beberapa orang kurcaci ini”

Dua orang itu lantas alihkan sorot matanya ketengah gelanggang, mereka lihat sebatang pedang Hoa Thian-hong seperti naga sakti yang sedang bermain diudara menggelegar kesana kemari dengan entengnya, baik Tang Kwik-siu maupun Hong Liong keduanya sudah terkurung di tengah tengah kepungan.

Tang Kwik-siu mainkan ikat pinggang berukir naga emas sementara Hong Liong mainkan sebilah golok bergigi yang lebar dan besar ditangan kiri dan sebuah ikat pinggang emas ditangan kanan. Ketika itu sekujur badan mereka berdua sudah penuh dengan luka bacokan, darah segar mengalir keluar membasahi sekujur badannya, paras muka mereka pucat pias seperti mayat, keadaannya mengenaskan sekali.

Dari delapan belas orang murid perguruan Seng sut pay yang dibawa serta dalam perjalanan kecuali Kok See-piauw seorang yang tidak kelihatan batang hidungnya, tujuh belas orang sisanya mengurung Hoa Thian-hong rapat-rapat dari luar gelanggang, kendatipun kepungan itu sangat ketat dan rapat tapi tak seorangpun manusia-manusia itu berhasil mendekati si anak muda itu.

Sungguh terharu dan gembira Ciu Thian-hau setelah menyaksikan betapa gagah perkasanya Hoa Thian-hong, kendatipun dikerubuti oleh sembilan belas orang jago tangguh, pemuda itu masih tampak sehat wal’afiat tanpa kekurangan suatu apapun, tubuhnya bersih dan bebas dari luka yang membuat ia cedera.

Saking terharu gembiranya, pendekar besar yang berhati setenang air telaga ini tak dapat menguasai emosinya lagi, titik-titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya, sambil goyangkan tangannya berulang kali kepada kawanan jago yang berlari datang dengan cepatnya itu, ia berteriak keras, “Coba lihatlah kalian ke atas sana, jangan untuk maju ke situ biarkan mereka lanjutkan pertarungan!”

Kiranya selama ini kecuali memimpin rombongan pekerja untuk menggali tanah mencari harta, Hoa Thian-hong selalu manfaatkan setiap detik setiap menit yang dimilikinya untuk memperdalam ilmu silatnya hampir boleh dibilang jarang sekali ia beristirahat atau tidur, dan perbuatannya ini tentu saja hanya diketahui oleh sekelompok manusia yang mempunyai hubungan paling akrab dengannya. Oleh karena tindakannya yang kelewat berani ini, tanpa disadari rambut Hoa Thian-hong yang hitam ikut berubah jadi putih beruban.

Untuk menghindari perhatian banyak orang, Chin Wan- hong telah meminjam potlot alis dari sucinya untuk menghitamkan rambut Thian-hong yang telah putih beruban itu, mesti dalam hati merasa sedih namun dara itu tak banyak berbicara, sebab dia tahu banyak bicarapun tak ada gunanya.

Hanya orang-orang inilah tahu betapa besarnya pengorbanan yang telah dibayar Hoa Thian-hong untuk memiliki ilmu silat yang maha tinggi itu, karenanya hanya mereka pula yang merasa terharu dan melelehkan air mata setelah menyaksikan kesuksesan Hoa Thian-hong untuk membuat pontang-panting musuh yang dianggap sebagian besar orang sebagai momok yang ditakuti itu.

Dalam pada itu, semua jago persilatan yang lolos dari bencana telah berkumpul semua diatas tebing, semua perhatian mereka tertuju pada pertarungan yang sedang berlangsung dipuncak tebing yang curam itu.

Sementara air bah telah menggenangi seluruh liang galian yang besar dan dalam, hasil kerja para jago baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam yang bersusah payah selama dua puluh harian itu sekarang lenyap tak berbekas disapu air bah.

Tiba-tiba Tang Kwik-siu menjerit dengan suara yang amat keras mendekati setengah kalap, “Hoa Thian-hong! Memburu orang tak akan memburu sampai seratus langkah, sekarang engkau sudah berhasil menangkan pertarungan ini apa lagi yang kau inginkan?” Sebelum Hoa Thian-hong menjawab, kawanan jago penasaran telah berteriak-teriak penuh kemarahan.

“Bangsat tua itu berhati kejam melebihi racunnya ular berbisa, dia hendak membasmi kawan-kawan jago dari daratan tionggoan tanpa berbekas, dosanya kelewat besar, manusia bangsat itu tak boleh dibiarkan hidup, jangan ampuni mereka!”

“Hoa kongcu, bunuh saja manusia-manusia itu, kau tak usah berbelas kasihan lagi bagi mereka, manusia-manusia terkutuk itu harus dibasmi dari muka bumi.

Hoa kongcu, kalau engkau tak bersedia untuk turan tangan, serahkan saja bangsat-bangsat itu kepada kami, kamilah yang akan menjatuhkan hukuman yang setimpal untuk mereka.

Jangan lepaskan bangsat-bangsat dari Seng sut pay, cincang mereka sampai hancur berkeping-keping.

Sekejap mata, teriakan-teriakan gusar dan bentakan- bentakan nyaring seperti guntur yang menggelegar di angkasa, menggema dise luruh lembah bukit itu, keadaan jadi amat genting.

Pucat pias selembar wajah Tang Kwik-siu, dengan penuh ketakutan ia menjerit, “Kalian jangan sembarangan menuduh, kalian jangan sembarangan melimpahkan dosa kepada kami, perbuatan itu dilakukan oleh Kok See-piauw seorang, dia adalah orang Tionggoan, dialah yang harus bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini, jangan melibatkan Seng sut pay kami dengan kejadian tersebut!”

Hoa Thian-hong mendengus dingin, pergelangan tangannya digetarkan kedepan. Sreet! Ia melepaskan sebuah bacokan kilat kemuka. Sebuah mulut luka yang panjang dan besar segera muncul didada sebelah kiri Tang Kwik-siu, darah segar berhamburan keluar membasahi sekujur badannya.

Tang Kwik-siu semakin ketakutan, nyalinya pecah dan tanpa sadar sekujur badannya gemetar keras, kendatipun ikat pinggang naga emasnya sudah diputar sedemikien rupa, toh babatan pedang dari pemuda itu gagal untuk dibendungnya.

Dalamm pada itu, tusukan pedang dari Hoa Thian-hong telah berputar kesamping dan membabat pula dada kiri Hong Liong hingga terluka panjang, sementara kaki kirinya melayangkan keatas dan seorang murid Seng sut pay kena tertendang sehingga mencelat dari tebing curam itu…. tercebur kedalam air bah.

Menyaksikan kehebatan si anak muda itu, Kho Hong-bwee yang berada dipuncak bukit itu, gelengkan kepalanya berulang kali, katanya dengan nada gegetun, “Aaaai! Bocah ini memang hebat dan mengagumkan, sekalipun Kiu-ci Sinkun hidup kembali, belum tentu ia bisa menandingi kehebatan bocah muda ini!”

Paras muka Pek Siau-thian kaku tanpa emosi, mendengar ucapan istrinya, ia cuma, bisa mengeretak giginya keras-keras sehingga terdengar bunyi gemerutuk yang nyaring.

Haruslah diketahui, Tang Kwik-siu adalah seorang tokoh silat yang berilmu tinggi, jangankan orang lain sekalipun Kiu- im Kaucu sendiripun merasa belum tentu bisa menandingi kelihayan gembong Mo-kauw itu, bisa dibayangkan bagaimana dengan lainnya.

Hong Liong telah memperoleh warisan langsung dari gurunya, golok bergigi ditangan kirinya memiliki bobot mencapai empat puluh kati, sedangkan ikat pinggang emas ditangan kanannya merupakan senjata lemas yang ampuh, kerja sama antara keras dan lunak ini boleh dibilang amat erat sehingga kedahsyatan yang ditimbulkan pun luar biasa sekali.

Kiu-im Kaucu maupun Pek Siau-thian sekalian jago-jago lihay tentu saja dapat melihat dengan jelas betapa lihaynya kemampuan Hong Liong dan Tang Kwik-siu, tapi kenyataannya bukan saja Hoa Thian-hong sanggup melayani kerubutan dua orang jago lihay itu, malahan dapat pula melayani kerubutan dari belasan orang jago lainnya, bukan saja pemuda itu berada diposisi yang tak terkalahkan, bahkan masih punya kemampuan untuk mempermainkan lawannya, tidak heran kalau kawanan tokoh silat itu jadi putus asa dan tak berani punya pikiran untuk menantang Hoa Thian-hong berduel.

Pada saat ini, Tang Kwik-siu hanya punya satu pikiran yaitu berharap agar ia di tendang oleh Hoa Thian-hong hingga tercebur ke dalam air, sebab dengan begitu maka ia akan mendapat kesempatan untuk melarikan diri dari tempat celaka itu.

Apa mau dikata, Hoa Thian-hong sama sekali tidak berbuat begitu, ia tak sudi memberi kesempatan kepada musuhnya untuk kabur, dia akan membekuk gembong ibis itu kemudian dijatuhi hukuman yang setimpal setelah diadili bersama oleh kawanan jago persilatan….

Perbuatan serta tindakan Tang Kwik-siu terlampau keji, sikapnya yang tidak menyenangkan itu telah menimbulkan kegusaran semua orang, sebagai manusia licik tentu saja ia diapun bisa membayangkan bagaimana jadinya andaikata ia sampai diadili oleh kawanan jago persilatan. Segenap tenaga dan kemampuan telah dikerahkan keluar untuk mencoba kabur dari situ tapi permainan pedang Hoa Thian-hong terlampau dahsyat dan lihay, sekalipun ia sudag berusaha toh akhirnya gagal.

Pada hakekatnya dua kali tusukan kilat yang dilakukan Hoa Thian boes tadi terlampau aneh dan sakti, jangankan Tang Kwik-siu yang sedang bertempur, malahan Kiu-im Kaucu dan Pek Siau-thian yang mengikuti jalannya pertarungan dari sisi gelanggang pun dibuat tak habis mengerti.

Tiba-tiba terdengar Pek Kun-gie berseru lengking, “Suruh dia serahkan keluar kitab pusaka Thian hua ca ki….!”

Begitu mendengar tentang soal Thian hua ca ki, sekilas harapan untuk hidup muncul dalam hati Kecil Tang Kwik-siu, ia merasa jiwanya mungkin bisa tertolong dengan pertukaran kitab pasaka itu….

Tapi ingatan lain dengan cepat melintas dalam benaknya, ia merasa perbuatan Seng sut pay sudah menimbulkan bencana bagi khalayak ramai, kendatipun kitab pusaka itu sudah ia serahkan kepada Hoa Thian-hong, untuk bersedia untuk melepaskannya, belum tentu kawanan jago persilatan lainnya menyetujui tindakan tersebut.

Dalam pada itu Hoa Thian-hong telah membentak dengan keras, “Tang Kwik-siu serahkan kitab Thian hua ca ki itu kepadaku, aku orang she Hoa menjamin kehidupan untukmu….”

“Cepat serahkan kitab pusaka Thian hua ca ki untuk menebus dosa dosamu yang sudah nampak!” teriak Pek Kun- gie pula dengan lantang, “kalau tidak kau penuhi permintaan itu sekarang juga kami akan beres kan kalian guru dan murid semua, kemudian berangkay ke Cia hay dan membumi ratakan sarang tikus Seng sut pay kalian agar cucu muridmu hancur berantakan dan tak seorang manusiapun tersisa.”

Sorak sorai yang ramai dan gegap gempita segera berkumandang memenuhi angkasa, banyak orang medukung usul itu, bahkan banyak orang pula yang berteriak sambil acungkan kepalan siap bertempur, jelas semua orang sudah membenci rombongan dari Seng Sut pay itu hingga merasuk ketulang sum-sumnya.

Pucat pias selembar wajah Tang Kwik-siu, sepasang matanya merah darah, selama hidup mimpi pun ia tak pernah bayangkan, bahwa suatu ketika dia bakal menderita kekalahan sedemikian mengenaskannya.

Tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang manusia yang bejad dan bermoral jahat, sekalipun berada diujung tanduk dan keselamatan jiwanya terancam, pikirannya tak sampai kalut ataupun bingung, sesudah berpikir sebentar mendadak bentaknya, “Hoa Thian-hong, hentikan seranganmu, kuserahkan kitab pusaka ini kepadamu!”

Hoa Thian-hong menarik kembali serangannya dan melompat mundur ke sisi tebing, perlahan-lahan katanya, “Saudara, kuperingatkan kepadamu, alangkah baiknya kalau berbuat jujur dan jangan mencoba untuk bermain licik lagi kalau tidak bisa-bisa khalayak ramai sampai marah dan menyergap dirimu. aku tak akan menjamin keselamatan jiwamu lagi!”

Napas Tang Kwik-siu tersengkal-sengkal, setelah mengatur kembali pernapasannya, dari saku dia ambil keluar sejilid kitab yang kumal, seraya menuding sejilid kitab yang terbuat dari kulit, katanya, “Orang she Hoa, lihatlah baik-baik, inilah Kitab pusaka Thian hua ca ki, barang yang tulen dan sama sekali bukan barang tiruan!” Pek Kun-gie mendengus dingin, timbrungnya dari samping, “Bila engkau berani menghancurkan kitab tersebut, kami akan cincang tubuhmu menjadi berkeping-keping, akan kami hancur lumatkan tubuhmu kemudian disuguhkan kepada anjing!”

Tang Kwik-siu berlagak pilon, meskipun kata-kata itu tajam dan pedas, ia pura-pura tidak mendengar, seraya membalik pada halaman terakhir dari kitab Thian hua ca ki tersebut, ia menuding pada lukisan yang tertera disitu, lalu katanya lagi, “Inilah peta rahasia yang menunjukkan letak penyimpanan harta pusaka itu, tanpa peta yang tertera dalam kitab ini, kendati pun kalian mengobrak-abrik seluruh kulit bumi yang menopang bangunan Kiu ci kiong, jangan harap barang- barang pusaka itu berhasil kalian temukan.

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa tak tega, ia lihat sekujur badan gembong iblis itu sudah penuh dengan luka yang menganga, keadaannya mengenaskan sekali, tanpa terasa ia berpikir, Bagaimanapun jasa orang ini toh sebagai seorang cikal bakal dari suatu perkumpulan besar, gerakan pencarian harta yang terjadi sekarangpun dia yang mulainya lebih dulu tapi sayang karena terlampau tamak, akhirnya harus mengalami nasib setragis ini, kalau dibicarakan kembali sebetulnya patut di kasihani.

Karena berpendanganbegitu, paras muka nya jauh lebih lunak, ia berkata lagi, “Dalam gerakan pencarian harta ini, jasa mu terhitung besar sekali, kendatipun Seng Sut pay bercokol ditepi perbatasan tapi apa bedanya dengan kami semua

orang-orang Tionggoan? Walaupun bunga berwarna merah, daun berwarna hijau, tapi asalnya dari satu batang yang sama, bukan begitu?” “Nah, andaikata dalam istana Kiu ci kiong benar-benar ada harta karunnya maka aku tidak keberatan untuk membaginya pula untuk kalian beberapa orang, dan bilamana engkau sekalian bersedia pula untuk tetap tinggal disini dan melanjutkan usaha penggalian ini, aku yang tak becus akan berusaha mohonkan pengertian dari saudara-saudara lainnya agar sudi memaafkan kalian!”

Tang Kwik-siu ulapkan tangannya menukas ucapan yang belum selasai itu, ia tertawa sedih, katanya, “Sekalipun semua kitab pusaka ilmu silat yang berada dalam istana Kiu ci kiong berhasil kudapatkan, toh tak akan mampu untuk menandingi sebilah pedang saktimu, meskipun Tang Kwik-siu bodoh, tak akan ku lanjutkan kembali usahaku untuk melakukan percarian tersebut!”

Begitu perkataan itu diutarakan keluar, baik Kiu-im Kaucu maupun Pek Siau-thian sama-sama merasa tercekat, perasaan hati mereka jadi dingin separuh, pikirnya hampir berbareng, “Benar juga ucapan itu! Kendatipun semua kitab pusaka ilmu silat yang tersimpan dalam istana Kiu ci kiong berhasil dirampas semua toh akhirnya tak akan berhasil menangkan kelihayan bocah she Hoa tersebut, lalu apa gunanya musti bersusah payah untuk membuang tenaga serta pikiran dengan percuma?”

Rupanya sampat detik itu dua orang pemuka persilatan yang berambisi besar itu masih juga memiliki pikiran jahat, mereka berencana bila harta karun itu ditemukan maka pada akhirnya mereka akan berusaha merampas serta mengangkangi semua kitab pusaka itu bagi kepentingan pribadi.

Tapi sekarang setelah mendengar perkataan dari Tang Kwik-siu, ibaratnya lonceng pagi yang menyadarkan orang dari tidurnya, seketika menyadarkan kembali dua orang tokoh silat ini bahwa pikiran mereka itu sebetulnya keliru dan sama sekali tak ada manfaatnya.

Serta-merta kegembiraan serta minat mereka berdua terhadap kitab pusaka ilmu silatpun mengalami kemerosotan total bahkan akhirnya boleh dibilang sama sekali tak berminat lagi.

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong telah berkata lagi, “Ilmu silat adalah suatu aliran air yang mengalir dari segala penjuru dimana akhirny terbentuk jadi samudra, kalau toh engkau ribut dan mempersoalkan diriku seorang, tidakkah terasa bahwa tindakanmu itu sebenarnya telah menodai maksud dan tujuan orang belajar silat?”

Sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan lebih jauh. “Setiap manusia mempunyai cita-cita dan tujuan yang

berbeda, tentu saja aku tak berani memaksa engkau untuk menuruti kehendakku, ketahuilah bahwa kitab pusaka Thian hua ca ki adalah benda milik orang Tionggoan, maka aku minta kitab tersebut agar ditinggalkan disini, bila Seng Sut pay ada benda yang tersimpan dalam istana Kiu Ci kiong, andaikata istana ini sudah terbuka dan benda itu kutemukan, pasti akan kuhatur sendiri benda itu ke Seng Sut pay!”

Tang Kwik-siu tertawa seram.

“Haaahh…. haahh…. haaah…. sekalipun Seng Sut pay kami mempunyai benda yang tersimpan dalam istana ini, tapi engkau tak perlu bersusah payah untuk mengembalikannya kepadaku, aku harap benda itu dimpan saja baik-baik, sepuluh tahun atau seratus tahun mendatang bilamana dari Seng sut pay kami sudah mempunyai orang berbakat, pasti akan kuutus orang itu untuk mengambilnya kembali. Mengenai kitab pusaka Thian hua ca ki ini, benda tersebut diperoleh cousu kami dari sini, maka Tang Kwik-siu tak ingin benda tersebut dirampas dari tanganku bila kalian menginginkan benda ini, silahkan untuk mencarinya sendiri”

Selesai berkata dia salurkan hawa murninya lalu menyambit kitab Thian hua ca ki tersebut ke dalam jurang.

Bagaimana anak panah yang terlepas dari busurnya kitab Thian hua ca ki itu meluncur kemuka dan tampaknya segera akan tercebur kedalam air bah yang ganas,

Kawanan jago persilatan yang berkumpul diatas tebing tersebut jadi gempar, caci maki dan kutukan berkumandang dari sana sini semua orang jadi marah sekali melihat tindakan tengik dari gembong iblis tersebut.

Hoa Thian-hong tertawa dingin, tiba- tiba dia melambung ke udara dan Sreeet! Dengan taktik hisapan, suatu kepandaian tingkat tinggi telapak tangannya diayun kemuka dan kitab Thian hua ca ki yang sudah tercebur kedalam air itu seketika terhisap kedalam gengamannya kemudian ia berjumpalitan diudara dan ibaratnya burung walet terbang di angkasa si anak muda itu kembali melayang keatas tebing.

Tempik sorak bergelegar diseluruh angkasa, kawanan jago persi-latan yang menyaksikan jalannya peristiwa itu sama- sama memuji, sampai-sampai Pek Siau-thian sendiri pun lupa keadaan, ia berteriak keras, “Bagus!”

Sesudah memuji, caci maki dan kutukan kembali terlontar keluar ini membuat suasana diatas tebing curam itu jadi ramai dan gaduh sekali.

Tang Kwik-siu merasa malu, benci bercampur gusar, menggunakan kesempatan di kala Hoa Thian-hong melayang kembali ke arah tebing dan perhatian semua jago tertuju pada kitab pusaka Thian hua ca ki dia lantas menjajakkan kakinya seraya berseru, “Hayo pergi!”

Ia tergerak lebih dulu menerjang turun dari tebing itu, para murid tentu saja tak berani berayal, mereka saling berebutan menyusul gurunya unyuk kabur dari tempat celaka itu.

Hong Liong tak dapat melupakan rasa bencinya, sebelum meninggalkan tempat itu, mendadak golok bergiginya yang ada dalam telapak tangan kitinya tiba-tiba di sambit ke udara dan menyergap tubuh Hoa Thian-hong yang sedang meluncur tiba.

Jeritan kaget dan makian kotor kembali berkumandang diatas tebing curam tersebut.

Hoa Thian-hong sama sekali tidak gugup ketika merasa tibanya angin desingan tajam, ia lantas tahu babwa Hong Liong telah menyergap tubuhnya dengan golok bergiginya yang berat itu.

Tanpa memandang barang sekejappun, tangan kanannya diayun kebelakang, pedangnya diputar lantas disambit ke arah datangnya golok bergigi itu, sementara tubuhnya sendiri berjumpalitan di udara dan melayang turun ditepi tebing.

Traanngg….! Diiringi suara dentingan nyaring yang memekikkan telinga, bunga api bermuncratan keempat penjuru….

Termakan oleh sambitan pedang itu, golok bergigi tadi tertumpuk keras dan rontok kebawah, sementara pedang itu sendiri setelah memukul rontok senjata lawan, dengan membawa angin desingan tajam langsung meluncur ke arah punggung Hong Liong dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.

Ketika mendengar suara desingan angin tajam menderu- deru di belakang tubuhnya, dengan ketakutan setengah mati Hong Liong jatuh kan diri berguling ditanah lalu menceburkan diri kedalam air dan melarikan diri terbirit-birit.

Tang Kwik-siu tak berani kabur melalui gerombolan jago persilatan yang berkerumun diatas tebing, dengan membawa anak murid nya dia melarikan diri dengan menceburkan diri kedalam air.

Berhubung Hoa Thian-hong telah menyetujui untuk melepaskan rombongan Seng sut pay dari tempat itu, maka tak seorang jagopun yang melakukan pengejaran, kendatipun demikian, hujan senjata rahasia toh sempat berhamburan disekitar badan Tang Kwik-siu dengan rombongan, caci maki dan suara cemoohan berkumandang memecahkan kesunyian, keadaan cukup mengenaskan sekali.

Tang Kwik-siu dan anak muridnya tak berrani berpaling, dengan terbirit-birit mereka berenang mengikuti aliran air dan melarikan diri dari situ, sekejap mata kemudian bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan.

Sepeninggalnya Tang Kwik-siu dan rombongan, Hoa Thian- hong menghampiri kawanan jago persilatan itu, sambil mengangkat tinggi tinggi kitab pusaka Thian hua ca ki, serunya dengan lantang, “Saudara-saudara sekalian, dihalaman terakhir kitab pusaka Thian hua ca ki ini terdapat selembar peta bumi yang erat sekali hubungannya dengan letak harta karun tersebut, sekarang kitab catatan ini akan kuserahkan kepada Tiangsun sianseng dan biarlah dia yang mempelajari isi peta ini dengan seksama, atau dengan perkataan lain, sejak kini kitab pusaka Thian hua ca ki akan disimpan oleh Tiangseng sianseng, andaikata saudara sekalian punya usul lain, silahkan diutarakan keluar sekarang juga, andaikata, tiada usul lain lagi, maka siapapun dilarang untuk melakukan perampasan atau pencurian kitab pusaka itu lagi!”

Dalam keadaan serta situasi ini, tentu saja tak seorang manusiapun berani mengucapkan kata-kata yang berada menentang, se rentak kawanan jago silat itu memberikan persetujuannya, maka urusanpun diputuskan demikian.

Hoa Thian-hong lantas menyerahkan kitab pusaka Thian hua ca ki tersebut kepada Tiangsun Pou, kemudian dari sana untuk mencari Huang-san su lo.

Setelah bertemu muka, pemuda itu menghela napas panjang, katanya dengan lirih, “Aaai…. sungguh menyesal aku tak dapat melindungi keselamatan kalian berempat entah bagaimanakah caranya cianpwe berempat melarikan diri dari bencana tersebut?”

Po-yang Lojin tertawa berbahak bahak, sahutnya, “Haahhh…. haaahah…. haaaah…. pada waktu itu suasana dalam liang galian gelap gulita, dimana tangan kami menyentuh, di situ hanya lautan manusia yang berjejal jejal, kemanapun kami coba berlalu semua jalan tersumbat dan tak tembus, akhirnya kami empat orang tua malahan tertinggal paling buncit, untunglah Jin tongkeh dan Thian Ik totiang datang membantu, kalau tidak begitu haaahah…. haaaah terpaksa kami hanya bisa duduk sambil menunggu tibanya saat kematian!”

Liu lojin ikut berbicara, katanya, “Hoa kongcu, bila dikemudian hari barang pusaka itu berhasil ditemukan semua, maka bagian kami telah kami putuskan untuk di berikan untuk Jin tongkeh serta Thian Ik totiang!” “Aaah….! Kami menolong orang hanya berdasarkan desakan suara hati, janganlah kalian mencampur baurkan dengan soal harta karun!” cepat-cepat Thian Ik-cu menampik.

Hoa Thian-hong segera berkata, “Totiang, Jin tongkeh!

Tindakan kalian menolong orang dikala orang sedang menghadapi mara bahaya merupakan suatu tindakan yang terpuji, kami semua mengucapkan terima kasih atas pertolongan tersebut, seandainya dikemudian hari barang- barang pusaka itu benar benar berhasil ditemukan, sudah sepantasnya kalau kami harus memberi suatu balas jasa yang setimpal bagi kalian.”

Kemudian sambil berpaling kepada Kho Hong-bwee, tanyanya, “Bibi, apakah ada saudara-saudara dari perkumpulan Sin-kie-pang yang mengalami musibah?”

“Tang Kwik-siu telah menyebarkan sekawanan makhluk beracun yang dipeliharanya dipermukaan liang galian itu, belasan orang anggota perkumpulan kami yang kena digigit makhluk itu hingga keracunan, aku libat belasan orang dari Kiu-im-kauw juga mengalami nasib yang sama!”

Hoa Thian-hong sangat menguatirkan keselamatan jiwa orang-orang itu, cepat ia pergi mencari istrinya untuk memberi pertolongan.

Chin Wan-hong datang mendekat, serunya dengan lantang, “Harap bibi dan kaucu suka memerintahkan setiap orang yang keracunan agar supaya datang ketempat boanpwe sini”

Habis berkata ia putar badan dan kembali kebaraknya. Kho Hong-bwee dan Kiu-im Kaucu tidak tingkat sungkan-

sungkan lagi, dia lantas memerintahkan anak buahnya untuk menggotong mereka yang keracunan hebat guna peroleh pengobatan dari Chin Wan-hong.

Perlu diterangkan, malam itu giliran kerja dari orang-orang Thong-thian-kauw, Hong im bwe serta kawanan jago tanpa kelompok, sewaktu berita tentang ditemukannya istana Kiu ci kiong tersiar keluar, orang-orang dari Sin-kie-pang serta Kiu- im-kauw segera berdatangan kesitu dan berdesakan dilapisan paling atas dari liang tersebut.

Oleh sebab itu makhluk beracun yang disebarkan Tang Kwik-siu hanya melukai orang-orang dari kedua golongan itu belaka.

Sebaliknya korban yang mati terpijak lebih banyak berasal dari jago-jago tanpa kelompok, mereka merupakan kelompok terlemah dengan ilmu silat paling cetek, apalagi sedang giliran kerja di dasar liang penggalian, maka sewaktu air bah melanda tiba, orang-orang Hong-im-hwie dan Thong-thian- kauw serentak melarikan diri mendahului mereka, bahkan ada pula yang ditumpuk, di terjang temannya, tidaklah heran kalau banyak diantara mereka mati terpijak ataupun tergulung oleh air bah.

Sementara itu Hoa Thian-hong sudah memeriksa keadaan diseke-liling tempat itu, tatkala dilihatnya Bong Pay beserta kakak beradik dari keluarga Pek berada dalam keadaan sehat wal afiat, diapun mohon pamit kepada Kho Hong-bwee serta kembali ke dalam rombongannya, tapi sesaat melewati rombongan dari Kiu-im-kauw, tak tahan dia mampir disana.

Giok Teng Hujin masih mengenakan kain kerudung hitam untuk menu tupi raut wajahnya, ketika melihat kekasih hatinya menghampiri, dia tertawa rendah, serunya menegur, “Berkat perlindungan Thian yang maha kuasa, sungguh beruntung aku tak sampai mati konyol!”

Hoa Thian-hong tersenyum, ketika melihat Soat ji yang berada dalam pelukan Pui Che-giok mendesis lirih, dia maju dan membelainya dengan penuh kasih sayang, kemudian baru menuju ke rombongan dari Kiu-tok Sianci, jago racun dari wilayah Biau.

Melihat kedatangan pemuda itu, Lan-hoa Siancu segera acungkan jempolnya, ia berkata sambil tertawa, “Siau long, hari ini engkau betul-betul menunjukkan kelihayan, bila lain waktu ada kesempatan, aku pasti akan mengajak kau untuk berduel adu kepandaian!”

Hoa Thian-hong tersenyum, sorot matanya perlahan-lahan menyapu sekejap rombongan itu sementara mulutnya berkemak-kemik menghitung jumlah orangnya.

Melihat perbuatan si anak muda itu, Ci-wi Siancu tertawa dan berkata.

“Kau tak usah menghitung lagi, berikut suhu jumlahnya adalah tiga belas orang tak bakal keliru!”

Kiu-tok Sianci ikut berkata sambil tertawa.

“Keadaan pada waktu itu sungguh kalut, ketika engkau berteriak dari atas, suasana didasar liang itu seketika jadi gelap gulita, semua jalan lewat jadi buntu, dalam keadan begitu kamipun sama-sama berpegangan tangan antara satu dan lainnya, aku menarik tangan Lan hoa tanpa ambil pusing lagi keadaan disana sambil menyeret mereka, kami semua kabur melewati batok kepala orang banyak” Murid yang kesembilan Bong Tin tin berkata pula sambil tertawa, “Yaa, waktu itu memang gawat keadaannya, siapapun jadi gugup dan gelagapan, ada seorang tosu bau bahkan memeluk pinggangku kencang kencang dalam paniknya, aku lancarkan satu tinju keras keatas kepala tosu bau itu, mungkin batok kepalanya sudah kuhantam sampai remuk jadinya.

Mendengar penuturan tersebut, Hoa Thian-hong hanya bisa meringis sambil tertawa getir, betapa tidak, dari rombongan jago yang datang dari wilayah Biau ini. kecuali Chin Wan-hong seorang boleh dibilang yang lain bertindak tanpa memandang bulu, mereka tidak ambil perduli apakah perbuatannya itu baik atau buruk, yang diutamakan adalah melindungi orang-orang goloagannya sendiri.

Sekalipun sepanjang sejarah, mereka tak pernah melakukan perbuatan yang kelewat jahat, tapi kalau dibandingkan dengan cara kerja kaum pendekar dari daratan Tionggoan, maka perbuatan serta tindak laku mereka tak bisa dianggap benar.

Kendatipnn begitu, Kiu-tok Sianci amat menyayangi Hoa Thian-hong, kasih sayangnya pada pemuda itu melebihi kasih sayangnya antara seorang ibu terhadap anaknya, dengan kawaaan muridnya pemuda itupun mempunyai hubungan yang lebih akrab dari pada saudara kandung sendiri, sebab itulah Hoa Thian-hong tak berani mengatakan apa-apa terhadap mereka.

Kebetulan pada waktu itu lewat seorang anggota dari perkumpulan Sin kie pang, dia adalah seorang kakek berjubah hijau, sambil goyangkan tangannya menuding kesana kemari, terdengar dia berkata kepada rekannya yang ada disisinya, “Hmm…. hmmmm…. untung ji siocia kita cukup cekatan dan cerdik, dalam peristiwa ini dan ia berhasil mengetahui rencana busuk dari Tang Kwik-siu, kalau terlambat sedetik lagi, entah berapa banyak orang lain yang bakal tewas didalam liang itu, bahkan mungkin saja jago-jago yang mengatakan dirinya lihaypun ikut terkubur untuk selamanya dalam liang yang tiada terkira dalamnya itu.

Terdengar rekannya segara menanggapi pula, “Ji siocia kita itu memang luar biasa sekali, andaikata tak ada dia, mungkin kitab Thian hua ca ki itupun tak diketahui kemana lenyapnya!”

“Hmm! ca ki apaan lagi….” orang ketiga menyela, “mungkin kendatipun harta karun yang ada disini sudah diboyong pulang ke wilayah Ceng hay pun, kita semua masih tidur mendengkur disini”

Kakek berjubah hijau yang bicara paling dulu itu segera berkata lagi, “Tentu saja begitu. Hmm! Hmm! Tang Kwik-siu itu manusia apa? Rahasia pencarian harta karun itu telah dibeli oleh Ji siocia kita dengan pertaruhan nyawa!”

Murid kedua belas dari Kiu-tok Sianci bernama Lan cui, usianya cuma setahun lebih tua daripada Chin Wan-hong, dia adalah seorang gadis suku Biau yang masih polos dan bersifat kekanak-kanakan, mendengar beberapa orang itu memuji- muji kebaikan dan jasa Pek Kun-gie, hatinya jadi mangkel karena tak bisa mengolok-olok, maka sambil memandang bayangan punggung beberapa orang itu, ia lantas meludah keras-keras ke atas tanah.

Dalam sekejap mata, suara meludah berkumandang saling menyusul, kecuali Kiu-tok Sianci serta Biau-nia Sam-sian, sembilan orang suku Biau lainnya ikut meludah keatas tanah.

Tiba-tiba Lan-hoa Siancu berkata dengan jengkel, “Siau long, kalau engkau berani berbicara lagi dengan Pek Kun-gie walau hanya sepatah katapun, aku akan menghukum kau untuk berlutut dihadapan orang banyak. Ketahuilau apa yang kukatakan dapat kulaksanakan, aku tak akan ambil peduli engkau sudah dewasa atau belum!”

Tertegun Hoa Thian-hong setelah mendengar perkataan itu tapi dengan cepat dia anggukan kepalanya berulang kali.

“Siaute akan mengingat selalu peringatan dari enci hoa!” katanya.

“Melirik sekejap kepadanya pun tak boleh tahu?” hardik Lan cui pula dengan lantang.

Dengan muka pucat pias seperti mayat Hoa Thian-hong menganguk.

“Siaute akan mengingat selalu perkataan dari enci Cui!” kembali dia menyahut.

Haruslah diketahui hubungan batin antara manusia dengan manusia lain memang aneh sekali.

Sebagaimana telah diketahui, sewaktu Hoa Thian-hong telah makan Teratai racun empedu api sehingga jiwanya terancam, mereka inilah yang telah merenggut kembali jiwanya dari alam baka.

Waktu itu Lan cui bertugas untuk mengurusi makanan dan minuman Hoa Thian-hong selain itu membantu pula Chin

Wan-hong untuk mengurusi soal membersihkan badan si anak muda itu selama banyak bulan, pekerjaan yang amat rendah dan kasar itu dilakukan olehnya dengan seksama dan senang hati, boleh dibilang budi kebaikan sebesar ini tak bisa dibayar dengan apapun jua. Sekalipun Hoa Thian-hong berhasil merampas semua harta karun yang ada dalam istana Kiu ci kiong ini dan seluruhnya diserahkan kepadanya, belum tentu budi sebesar itu dapat terlunasi apalagi mereka anggap pemuda itu sebagai saudara sendiri dan Hoa Thian-hong pun menganggap mereka sebagai kakak sendiri, lama kelamaan hubungan batin mereka boleh dibilang sudah erat sekali.

Siapapun tak akan menyesal untuk saling menyayang dan Hoa Thian-hong yang merasa berhutang budi, tentu saja harus tunduk kepada mereka, kalau tidak maka kendatipun dari pihak Kiu-tok Sianci tak bisa berbuat apa-apa tapi serta- merta Hoa Thian-hong akan dianggap sebagai seorang manusia munafik, seorang manusia yang tak tahu budi….

Sepanjang anak muridnya berbicara, Kiu-tok Sianci sendiri membungkam dalam seribu bahasa, tanpa sadar pikirannya terbayang kembali kejadian pada malam tadi, sewaktu ada dalam liang penggalian dan ia melotot gusar kepada Pek Kun- gie, waktu itu bukan saja kegusarannya tak terlampiaskan, malahan ia sendiri yang rugi.

Ia tahu Pek tok keng, kitab pusaka perguruannya masih tersimpan dalam istana Kiu ci kiOng, bagai manapun juga kitab tersebut harus dimilikinya kembali, tapi dipikir kembali kesemuanya itu toh berkat bantuan dari Pek Kun-gie, ia sebagai seorang ketua suatu perguruan yang berjiwa angkuh merasa amat tak gembira dengan kejadian ini, sebab ia tak sudi dibantu orang lalu apalagi orang yang membantunya adalah orang yang paling tak disukai.

Hoa Thian-hong sendiripun tahu bahwa kawanan kakak- kakak perempuannya ini adalah manusia yang tak bisa diajak berbicara, mereka tak mungkin bisa diajak untuk berbicara secara cengli, maka timbullah niatnya untuk cepat-cepat menyingkir saja dari sana. Tiba-tiba dilihatnya Kiu-tok Sianci menunjukkan wajah murung dan kesepian, dia cepat tertawa paksa seraya berkata, “Kian nio, enci Hong sedang mengobati luka-luka yang diderita sebagian jago, apakah engkau tak mempunyai kegembiraan untuk memberi petunjuk kepadanya?”

Menyinggung tentang muridnya yang terkecil semangat Kiu-tok Sianci berkobar kembali, sahutnya dengan cepat, “Betul! Mari kita bersama-sama menengok Hong ji, jangan biarkan dia kurang mahir sehingga merusak nama baikku!”

“Betul, hayo kita kesana dan membantu adik Hong”, Lao hoa siancu segera memberi tanggapannya, habis berkata tanpa menunggu rekan rekannya ia kabur lebih dulu.

Orang-orang suku Biau memang paling simpatik dan hangat, dalam waktu singkat dari gusar mereka jadi gembira, terentak berbondong bondong meninggalkan tempat itu, soal yang baru terpikirpun seketika lenyap dari benaknya.

Tiga puluh orang lebih jago-jago persilatan yang keracunan ber-kumpul dalam sebuah rumah kayu, waktu itu Chin Wan- hong sedang mengobati luka-luka keracunan mereka dengan tusukan jarum emas.

Tapi oleh karena makhluk beracun yang dipelihara Tang Kwik-siu mencapai puluhan jenis dan lagi semuanya termasuk jenis-jenis aneh yang langka didunia ini, untuk pengobatanpun mengalami banyak kesulitan, Chin Wan-hong yang harus bekerja seorang diri, dibuat kerepotan setengah mati.

Memunahkan racun dengan tusukan jarum emas merupakan sejenis ilmu khusus yang memerlukan pengetahuan serta pelajaran yang sangat mendalam, diantata sekian banyak murid Ki tok sian ci, hanya empat orang yang betul-betul menguasai kepandaian tersebut, diantaranya hanya Lan-hoa Siancu dan Li hoa siaccu yang sudah mencapai kesempurnaan.

Sebaliknya murid-murid seperti Beng Tin tin dan Lan cui sekalian mereka lebih terterik untuk mempelajari menggunakan racun untuk melawan racun, sedang soal ilmu mengobati orang yang keracunan boleh dibilang selisih jauh sekali bila dibandingkan dengan siau sumoay mereka ini.

Tatkala Kiu-tok Sianci tiba dalam rumah kayu itu, pertama- tama dia mengawasi dahulu pekerjaan dari Lan-hoa Siancu serta Li-hoa Siancu, dia kuatir kalau muridnya berbuat salah sehingga menimbulkan korban yang tak diinginkan.

Ketika itu Lan-hoa Siancu sedang menusuk jalan darah Hong bu hiat ditubuh seseorang yang tak sadarkan diri, sewaktu melihat gurunya datang, sambil tertawa segera katanya, “Orang ini dipagut oleh seekor laba-laba bermata tiga, Hong ji telah mengobati seseorang dan sudah ada pengalaman, suhu! Kau tak usah kuatir kalau aku sampai salah tangan”

Kiu-tok Sianci pun mengawasi muridnya yang kedua yaitu Li hoa ciancu, ia lihat muridnya ini sedang mengobati seseorang yang dilukai oleh kelabang langit, kecuali mulut lukanya merah mem-bengkak, tak ada gejala lain yang tampak.

Chin Wan-hong pernah mengobati racun keji yang bersarang di tubuh Liu cu cing akibat dipagut kelabang langit, dan ia memberikan keterangan yang mendetail kepada Li-hoa Siancu, tak heran kalau kakak seperguruannya ini bisa memberikan pengobatan dengan gampang. Perlu diterangkan sebelum seseorang memberikan pertolongannya untuk mengobati luka racun dengan tusukan jarum maka terlebih dahulu orang itu harus memahami sifat dari racun yang mengeram ditubu si-penderita kemudian baru menggunakan jarum emas untuk menembusi urat urat nadi penting dan memunahkan sari racun tersebut dengan tusukan jarum.

Tapi ada bahayanya pula pengobatan dengan cara ini, bilamana sifat racun yang di duganya ternyata keliru atau tusukan jarum itu tidak tepat pada sasarannya, bukannya sembuh, orang yang keracunan itu malahan akan semakin cepat menemui ajalnya, sebab hawa racun itu justru melambung lebih keatas lagi hingga menyerang jantung.

Dalam pada itu Chin Wan-hong sedang memeriksa sifat racun yang mengeram ditubuh seorang korban sedangkan Ci- wi Siancu sekalian mengerubuti disekelilingnya, Kiu-tok Sianci berjalan mondar-mandir sambil bergendong tangan, diam- diam dia mengawasi muridnya yang terkecil ini menjalankan praktek.

Mendadak dari pintu luar berkumandang suara gaduh menyusul Dewa yang suka pelancongan, Cu Thong dengan membopong seseorang melangkah masuk dengan langkah lebar.

Dibelakang jago tua itu menyusul Ko Thay murid atas nama dari Ciu It Bong, dengan membawa bungkusan panjang disampingnya berjalan seorang kakek tua bemuka hitam, Bong pay berjalan dipaling belakang sendiri.

Buru-buru Hoa Thian-hong menyambut manusia ada dalam bopongan Cu Thong itu tegurnya, “Locianpwe apa sebenarnya yang telah terjadi?” Sambil menuding orang yang jatuh tak sadarkan diri itu, Dewa yang pelancongan Cu Thong menjawab, “Orang ini bernama Cing Cu gan, seorang ahli tanah dan paling suka menggunakan bahan peledak, sudah tiga puluh tahun lamanya dia tak pernah melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, ketika kulihat Tang Kwik-siu datang kemari untuk mencari harta maka sengaja kuajak dia datang ke sini untuk diaduken langsung dengan Tang kwik tua bangka itu, siapa tahu ketika kami naik gunung kebetulan sekali kami jumpai Kok See-piauw bajingan cilik itu sedang menghancurkan berdungan”

Setelah berhenti sebentar, tambahnya lebih jauh dengan gelisah, “Cerita selanjutnya nanti saja dibicarakon kembali, tatkala Ciang lote ini beradu satu pukulan dengan Kok See- piauw bajingan cilik itu, sungguh tak nyana sepasang telapak tangan bajingan cilik itu penuh dengan racun. Sian ci!

Cepatlah turus tangan memberi ban tuan, selamatkan dulu selembar jiwa tuanya.

Cepat-cepat Chin Wan-hong mempersiapkan jarum emasnya untuk melakukan pertolongan.

Kiu-tok Sianci yang berada disisinya lantas tersenyum, ia berkata, “Anak Hong, engkau saja yang turun tangan, akan kuawasi pekerjaaamu ini dan samping!”

Chin Wan-hong tak banyak bicara lagi, secepat kilat dia menusukkan lima batang jarum emas sepanjang tujuh inci itu keseku jur dada Ciang cu gan, maksudnya untuk melindungi detak jantung dari jago tersebut, menyusul kemudian ia tusuk pula sepasang ibu jari tangan orang itu dengan dua batang jarum emas.

Kiu-tok Sianci rupanya tahu kecemasan orang, ia tertawa dan berkata sambil menghibur, “Saudara Cu, kau tak kuatir, selama aku dan murid murid ku masih berada disini tak mungkin ada orang yang bakal mati karena keracunan, hayo lanjutkan ceritamu!”

Dewa yang suka pelacongann Cu Thong menghembuskan napas panjang, kemudian katanya, “Aaaai! Sayang sekali kedatangan kami terlambat satu langkah, waktu itu bajingan cilik she Kok itu sudah berhasil menghancurkan sebagian dari bendungan air itu. Aku dan Ciang lotau segera maju untuk menghadang serta berusaha untuk menghalangi niatnya, bajingan Kok See-piauw cukup licik, rupanya dia tahu bahwa kekuatannya tak mungkin bisa menandingi kepandaian kami berdua, ia lantas kabur terbirit-birit ke arah Ciang lotau hendak memerseni sebiji telur kepadanya”

“Telur apa itu? Telur ayam, itik?” sela Ci-wi Siancu tiba-tiba. “Bukan telur ayam, telur itu bersama Pek lek san, peluru

guntur yang punya daya ledakan maha dahsyat. Tetapi oleh karena bendungan itu sudah bocor, kami buru-buru harus membendungnya kembali, terpaksa bajingan Kok See-piauw itu kami biarkan kabur dari sana…. aai…. sayang sungguh sayang, air bah yang tersimpan banyak dan tekanannya terlampau dahsyat, akhirnya toh kami gagal juga untuk membendungnya…. Bagaimana keadaan disini, apakah banyak korban yang jatuh?”

Dengan wajah menyesal Hoa Thian-hong mengangguk. “Sampai kini kami semua masih terlelap dalam tidur,

mimpipun tak pernah menyangka kalau jiwa kami sebetulnya

nyaris akan melayang tersapu oleh air bah tersebut, aaii. Seandainya locianpwee tidak tiba tepat pada waktunya, Kok See-piauw bajingan terkutuk itu pasti telah berhasil menghancurkan semua bendungan tersebut, waktu itu air bah yang menyapu wilayah sekitar tempat ini pasti sepuluh kali lipat lebih dahsyat apa yang telah dialami selama ini, andaikata sampai terjadi keadaan seperti itu entah bagai mana akibatnya!”