Tiga Maha Besar Jilid 30

 
Jilid 30

PEK SIAU-THIAN yang berada di sampingnya lantas menambahkan pula dengan lantang, “Empek Kiong mu ini adalah ahli waris dari partai persilatan Hoa san pay, kitab ilmu pukulan dan ilmu pedangnya sudah terampas dan tersimpan dalam istana Kiu ci kiong”

Kiong Thian yu ikut menghela napas panjang. “Yaaah….! leluhur paman Tiangsun mu adalah seorang

tokoh yarg amat tersohor pada waktu itu, orang sebut dirinya sebaai Seng jin lu pan (Lu pan bertangan sakti) istana Kiu ci kiong ini adalah hasil karyanya yang paling cemerlang, tapi setelah ia selesai membangun istana Kiu ci kiong ini, sampai tua ia disekap oleh Kiu-ci Sinkun dalam penjara hingga akhir hayatnya, banyak sekali kitab-kitab bangunan yang penting artinya terpendam didalam istana tersebut!”

Perlu diketahui Lu pan adalah seorang ahli dalam bidang pembangunan yang amat tersohor sekali pada dynasti Ciu, ia berasal dari negeri Lu, oleh karena lihaynya dalam konstruksi bangunan maka namanya selain dipakai untuk julukan mereka yang memiliki kemampuan setaraf dengan ahli bangunan kuno itu.

Tiangsun pou menghela napas panjang, kemudian dia berkata pula, “Leluhur paman Kiong mu juga seorang jago yang sangat lihay, beli au dapat melukis dua ekor naga dengan dua belah tangannya secara bersamaan, begitu lihaynya lukisan itu sehingga meskipun berbareng namun kemiripannya tak jauh berbeda, aaai! Bila aku mempunyai kemampuan setinggi itu maka menggali istana Kiu ci kiong bukan pekerjaan yang sulit lagi bagiku.”

“Paman tak usah murung ataupun kesal” hibur Pek Kun-gie, menurut penilaian keponakanmu, usaha kita dalam menggali harta karun kali ini seratus persen pasti akan berhasil.

Ia lantas membeberkan bagaimana Tang Kwik-siu mempunyai rencana untuk bekerja sama dengan para jago dari daratan Tionggoan serta siasat-siasat apa yang akan dilakukan iblis tua itu.

Selesai mendengar penjelasan tersebut Pek Siau-thian tersenyum, lalu ujarnya, “Haahh…. haahhh…. haahhh…. keadaan ini ibaratnya tiga ekor binatang buas yang menyeberangi sungai bersama, masing-masing pihak hanya bisa menggantungkan pada nasib serta rejeki sendiri-sendiri, siapapun bisa berhasil asal kan dia mempunyai rejeki yeng baik tapi bagaimana hasilnya? untuk sementara waktu lebih baik jangan dibicarakan lebih dulu”

Setelah berhenti, sebentar dia melanjutkan.

“Ana Kun, baju kuning itu kurang sedap dipandang mata, cepatlah berganti pakaian!”

Pek Kun-gie mengangguk, ia lantas menghampiri encinya unuk pinjam pakaian.

Buru-buru Pek Soh-gie membuka buntalan dan mengambil keluar pakaian sendiri lalu menemui adiknya masuk kehutan untuk tukar pakaian. Orang-orang dari pihak Sin-kie-pang membawa rangsum kering, setelah bersantap mereka duduk sambil kongkouw, waktu itu Tang Kwik-siu telah kembali pula dari rondanya, dengan membawa sekelompok anak muridnya mereka duduk didepan rumah.

Jarak antara kedua belah pihak hanya terpaut satu panahan belaka, dari kejauhan mereka dapat saling berpandangan.

Selama ini Pek Kun-gie selalu tutup mulut dan merahasiakan masalah dipagutnya pergelangan tangan kirinya itu oleh kelabang langit, sebab itu hubungan antara pihak Sin- kie-pang dengan Seng sut pay bisa berlangsung dengan tenang tanpa urusan, malahan mereka telah bersiap sedia untuk bekerja sama dan saling memanfaatkan keuntungan serta kelebihan yang dimiliki oleh pihak lawannya.

Rembulan telah memancarkan sinarnya dari tengah awang- awang, malam itu sunyi sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun, angin yang dingin berhembus sepoi-sepoi menyejukkan badan.

0000O0000

86

DALAM keadaan sesejuk ini, mereka yang memiliki tenaga dalam agak sempurna masih duduk bersemedi sambil menggatur napas, sedangkan mereka yang bertenaga dalam cetek sudah tertidur pulas.

Pek Soh-gie duduk didepan sebuah batu cadas, punggungnya bersandar diatas batu itu sambil mengantuk, sedangkan Pek Kun-gie berbaring diatas tanah dengan menggunakan kaki kakaknya sebagai bantal, ditengah keheningan suasana, diapun mulai terkantuk-kantuk.

Mendadak dari tempat kejauhan muncul belahan sosok bayangan manusia, dengan cepatnya mereka berlari mendekat dan menuju menuju ke arah mereka berada.

Pek Siau-thian yang bermata tajam, segera dapat mengenali orang-orang itu sebagai anak buahnya, cepat ia memburu kedepan dan menyambut kedatangan mereka.

Perkumpulan Sin-kie-pang tak malu disebut sebagai suatu perkumpulan dengan organisasi yang bagus serta peraturan perkumpulan yang ketat, sekalipun para pelindung hukum maupun tongcunya kebanyakan adalah jago-jago persilatan namun selelah bergabung dengan perkumpulan itu gerak-gerik mereka jadi disiplin dan mentaati peraturan, berbeda jauh dengan perbuatan kasar serta berangasan yang sering kali diperlihatkan para jago dari rimba hijau.

Rupanya kedatangan rombongan inipun karena mendapat perintah dari Pek Siau-thian, setelah tiba dan memberi hormat serentak mereka membubarkan diri untuk mencari tempat beristirahat, selang sesaat kemudian suasana diatas puncak kembali pulih dalam keheningan.

Kurang lebih setengah jam kemudian anak buah perkumpulan Sin-kie-pang rombongan yang kedua telah tiba pula disana, menyusul beberapa jam kemudian rombongan yang ketigapun tiba juga disitu, dalam semalaman saja sudah lima puluh orang lebih jago-jago inti dari perkumpulan Sin-kie- pang yang telah berkumpul dibukit Kiu ci san.

Menjelang fajar tiba-tiba diatas bukit itu kedatangan kembali segeromboagao jago persilatan rombongan itu dipimpin oleh seorang perempuan berambut panjang dan membawa tongkat hitam berkepala setan siapa lagi orang itu kalau bukan Kiu-im Kaucu serta para anggota perkumpulan Kiu-im-kauw nya.

Pek Siau-thian paling benci dan mendendam terhadap pihak Kiu-im-kauw, sebenarnya dia berambisi besar dan cita- citanya adalah merajai seluruh kolong langit tapi setelah pertarungan berdarah dilembah Cu-bu-kok hampir boleh dikata semua impian indahnya telah hancur lembur hingga lenyap tak berbekas.

Kekalahan pahitnya itu sekalipun berhubungan pula dengan dahsyatnya pedang baja milik Hoa Thian-hong namun faktor terpenting yang mempengaruhi kesalahannya ini adalah terlalu banyak mata-mata Kiu-im-kauw yang menyusup kedalam perkumpulannya, jumlah yang sangat banyak itu sangat mempengaruhi kekuatan serta daya tempur pihak Sin-kie- pang.

Sepanjang hidup, hanya kali itu saja Pek Siau-thian mengalami kekalahan besar, tak heran kalau ia memandang peristiwa tersebut sebagai suatu penghinaan, suatu peristiwa yang paling memalukan sepanjang sejarahnya, ia telah bertekad untuk membalas dendam hanya karena otaknya memang cerdik, sebelum kesempatan baik tiba dia tak akan melaksanakan niatnya itu secara gegabah.

Kendatipun demikian, ketika musuh besar saling berhadapan muka, tak urung merah juga matanya karena marah, ia mendengus dingin dan tertawa dingin tiada hentinya.

Mendadak Tang Kwik-siu tertawa tergelak, kemudian ia berseru, “Pek lo pangcu, bersediakah engkau menerima undangan Tang Kwik-siu untuk merundingkan sesuatu?” Pek Siau-thian berpaling, ia lihat Tang Kwik-siu dengan jubah kuningnya yang berkibar terhembus angin sedang berjalan mendekat dengan santai.

Ia lantas maju menyongsong kedatangannya, sesudah balas memberi hormat, sahutnya, “Tang Kwik heng, dari puluhan laksa li kau bersusah payah datang kebukit Kiu ci san untuk mencari harta karun, tampaknya semua persiapan rencanamu sudah masak sekali!”

“Haahh…. haaahh…. haahh….” Tang kwik Sin tertawa terbahak-bahak, “saudara Pek mengapa tidak kau katakan saja bahwa aku datang kedaratan Tionggoan untuk mencari harta karun daratan Tionggoan kenapa engkau ganti dengan bukit Kia ci san?”

“Dunia persilatan meliputi seluruh wilayah didaratan ini, apa bedanya antara daratan Tionggoan dengan tepi perbatasan?

Saudara Tang kwik engkau terlalu memandang asing diri kami.”

“Haahh…. haaahhh…. haaahh…. jadi kalau begitu maksud saudara Pek bahwa kamipun berhak untuk menggali harta karun itu?”

“Setiap benda yang ada didunia ini adalah milik tiap manusia yang hidup dibumi ini kalau toh aku berhak menggali mengapa saudara Tang kwik tidak berhak untuk menggalinya pula?”

Sekali lagi Tang kwik Sin tertawa terbahak-bahak. “Sudah lama aku dengar orang berkata bahwa Pek heng

adalah seorang tokoh persilatan yang sejati, setelah bertemu hari ini dapat kubuktikan bahwa berita itu memang bukan nama kosong belaka” “Terlalu memuji…. terlalu memuji….” sahut Pek Siau-thian dengan cepat.

Berbicara sampai disini dua orang jago silat itu saling berpandangan kemudian kembali tertawa terbakak-bahak.

Belum habis tertawa mereka, dari bawah bukit sebelah utara kembali muncul serombongan manusia, orang pertama adalah seorang pemuda berwajah tampan dengan sebilah pedang tersoren dipinggang, siapa lagi pemuda itu kalau bukan Hoa Thian-hong….

Dibelakangnya mengikuti empat datuk dari bukit Huang- san, Cu Im taysu, Suma Tiang-cing. Ciu Thian hay yang khusus diundang dari telaga Tay ou dan paling terakhir adalah Giok Teng Hujin yang berkain cadar hitam serta dayangnya Pui Che-giok.

Begitu menyaksikan hadirnya empat datuk dari bukit Huang-san bersama dengan rombongan Hoa Thian-hong, kontan sepasang alis mata Tang Kwik-siu berkeryit, ia lantas berpaling ke arah Pek Siau-thian seraya berkata, “Saudara Pek, merekalah yang merupakan rombongan penggali harta karun yang sebenarnya, aaai…. memang kita hanya kebagian tempat untuk menguntit dibelakang orang ini saja!”

Begitu dilihatnya Hoa Thian-hong munculkan diri, Pek Siau- thian sudah merasa kheki apa lagi setelah mendengar perkataan dari Tang Kwik-siu kontan ia mendengus dingin.

Melihat siasatnya termakan, Tang Kwik-siu tertawa dalam hati, selain itu diapun merasa lega dan menghembuskan napas panjang lan-taran diketahuinya bahwa hubungan kedua orang itu memang tak akur. Setelah mendaki keatas bukit, ketika melewari disamping Khe Hong bwe pemuda Hoa Thian-hong segera memberi hormat sambil berkata, “Maaf bibi karena ada masalah lain aku yang muda datang terlambat….”

Kho Hong-bwee yang cerdik tentu saja tahu bahwa perkataan itu sengaja ditujukan kepda putrinya, ia tersenyum.

“Aku sendiri pun kemarin malam baru tiba, sepanjang jalan tentunya kau merasa lelah bukan? Beristirahatlah dulu disana!”

Hoa Thian-hong mengiayakan berulang kali, kemudian ia berpaling ke arah Pek Kun-gie, ketika dilihatnya gadis itu bersikap diam dan hambar, seolah-olah sama sekali terasa asing terhadap dirinya, kembali ia tertegun.

“Apakah racun keji yang bersarang ditubuhmu telah punah?” tegurnya lirih.

“Racun keji apa?” seru Kho Hong-bwee dengan nada terperanjat.

“Dahulu aku sudah tergigit makhluk beracun tapi sekarang sudah sembuh” sahut Pek Kun gie dingin.

Ketika dilihatnya sikap serta paras maka dara itu kurang baik, Hoa Thian-hong segera maju kedepan dan menggenggam tangan kirinya, kemudian ia singkap ujung bajunya.

Diatas pergelanggan tangannya yang putih dan halus tampak dua bekas gigitan merah masih membekas disitu.

Sekuat tenaga Pek Kun-gie meronta dan melepaskan diri dari cekalan si anak muda itu kemudian teriaknya dengan mendongkol, “Kau tak usah mencapai urusanku, urusi persoalanmu sendiri, soal mati hidupku tak usah kau kuatirkan!”

Hoa Thian-hong tertegun, paras mukanya berubah jadi pucat kehijau-hijauan, selang sesaat kemudian dengan langkah lebar ia berjalan menuju kehadapan Tang Kwik-siu sambil menyalurkan tangannya kedepan, serunya lantang, “Ciangbunjin kalau engkau mempunyai obat pemunahnya, harap segera diserahkan kepadaku!”

Paras muka Pek Siau-thian berubah hebat, ditatapnya wajah Tang Kwik-siu tajam-tajam kemudian ia mendengus dingin.

Menyaksikan perubahan wajahnya itu, Tang Kwik-siu segera tertawa terbahak-bahak.

“Haah…. haahh…. haahh…. obat pemunah tentu saja ada, apalagi hubunganku dengan saudara Pek sudah menjadi erat, sekalipun saudara Pek tidak mengatakannya keluar siaute pun akan mempersembabkan obat pemunah itu kepadamu”

Kiu-im Kaucu yang berada dipihak lain, tiba-tiba menyindir sambil tertawa tergelak.

“Haaahh…. haaahhh…. haahh….Hoa Thian-hong rupanya tak berguna, engkau repot-repot begitu toh mereka adalah sobat lama!”

Mendadak Hong Liong menyelinap dibelakang tubuh Hoa Thian-hong, kemudian sambil tertawa dingin, katanya, “Bocah keparat, obat pemunahnya berada disaku toaya mu, kalau engkau menginginkan obat pemunah itu, menangkan dulu toayamu!” Tang Kwik-siu berkata sambil berkata tergelak, “Hoa kongcu, dia adalah muridku Hong Liong, sudah lama ia mengagumi nama besarmu dalam dunia persilatan dan sekarang ingin minta beberapa petunjuk ilmu silat darimu, harap engkau suka memberi pelajaran, obat pemunahnya pasti akan diserahkan kepadamu.”

Berbicara sampat disini, ia lantas berpaling ke arah Hong Liong dan berkata pula, “Hoa Kongcu adalah seorang pendekar sejati dari daratan Tionggoan, ia bersedia melayani dirimu berarti pula ia menaruh rasa hormat kepadamu, bertempurlah dengan batas dua ratus gebrakan kalau kalah mengaku saja kalah jangan sekali-kali main sabun!”

Hong Liong bertepuk tangannya sekali, lalu serunya, “Hey bocah cilik, hayo majulah!”

Betapa gusar dan mendongkolnya Hoa Thian-hong melihat kesombongan musuhnya, ia lantas berpikir, “Bila ingin menaklukkan hati orang maka aku harus mendemon-trasikan pula kemampuan yang kumiliki, tampaknya sukar bagiku untuk menyelesaikan masalah harta karun dengan jalan damai, aneka ragam manusia telah berkumpul disini, siapa yang sudi memberi muka padaku?”

Berpikir sampai disitu ia lantas mengambil keputusan untuk memamerkan kekuatannya dihadapan musuh.

Tanpa banyak bicara lagi telapak tangan kirinya segera diayun kedepan melepaskan sebuah pukulan udara kosong.

Hong Liong tak berani bertindak gegabah, iapun tak sudi bertindak sungkan-sungkan, melihat musuhnya sudah turun tangan diapun membentak keras dan melepaskan pula serentetan pukulan balasan. Sejak terjun kedalam dunia persilatan hampir boleh dibilang setiap hari Hoa Thian-hong berkecimpungan dalam pertarungan-pertarungan seru, pengalamannya dalam menghadapi pertempuran boleh dibilang sangat luas dan banyak.

Dengan dasar pengalamannya ini maka sekali bentrok dia lantas tahu kalau Hong Liong benar-benar telah mendapatkan warisan lang sung dari Tang Kwik-siu, berbicara dalam soal ilmu pukulan, belum tentu dirinya bisa menangkan lawan.

Sementara dua orang jago silat itu baru saja bertempur, dari bawah bukit kembali muncul serombongan manusia yang dipimpin oleh seorang kakek tua berlengan tunggal, dia adalah Jin Hian bekas ketua Hong-im-hwie yang telah buyar,

Dibelakang mengikuti pula seorang imam tua yang tak berkaki lagi, imam itu berjalan dengan menopang dua batang toya baja, orang itu tak lain adalah Thian Ik-cu bekas ketua Thong-thian-kauw.

Sedang jago-jago lainnya yang berjumlah hampir tujuh puluh orang itu antara lain adalah Malaikat kedua Sim Ki an serta bekas anggota Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw.

Kedua kelompok kekuatan itu terhitung kelompok yang paling lemah, sewaktu melewati kota Sam kang sian, Hoa Thian-hong telah bertemu dengan mereka, tapi toh kedatangan mereka masih tetap tertinggal selangkah dibelakang.

Sementara itu pertarungan yang sedang berlangsung antara Hoa Thian-hong melawan Hong Liong masih berjalan dengan serunya, sekejap mata mereka telah bergebrak sebanyak enam puluh jurus, menanti Jin Hian serta Tbian Ik cu sudah tiba ditepi gelanggang, kedua orang itu sudah bertempur hingga mencapai ratusan gebrakan.

Sepanjang pertarungan itu berlangsung, Hoa Thian-hong selalu merasa gelisah dan tak tenang, pikirnya dihati, “Sejak pihak Seng sut pay mendapat bantuan dari kitab Thian hua ca ki, kemajuan ilmu silat yang mereka miliki telah peroleh kemajuan yang pesat sekali, buktinya Hong Liong pun memiliki tenaga dalam yang amat sempurna tak mungkin aku bisa menangkan dirinya secara gam pang, padahal dia tak lebih cuma seorang muridnya Tang Kwik-siu kalau iapun tak dapat kumenangkan bagaimana caranya aku bisa menaklukan para jago lainnya serta meminpin operasi pencarian harta karun?”

Berpikir sampai disini tanpa terasa ia lantas menggigit bibirnya kencang-kencang, sengaja ia membuka pertahanan, dia memancing musuhnya agar masuk jebakan.

Benar juga, ketika Hong Liong menemukan titik kelemahan tersebut betapa kejut dan girang hatinya cepat ia membentak, “Kena!”

Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan.

Semua peristiwa ini berlangsung dengan kecepatanb sambaran kilat, sebelum semua orang sempat menjerit kaget tiba-tiba Hoa Thian-hong mendengus dingin, telapak tangan kirinya segera diayun kemuka dan mengirim pula sebuah pukulan gencar.

“Plaak!”

Ketika sepasang telapak tangan itu saling beradu satu sama lainnya, posisi Hoa Thian-hong tetap sekokoh bukit karang sebaliknya tubuh Hong Liong bergetar keras Tampaklah Hoa Thian-hong menggertak gigi dengan wajah yang dingin menyeramkan, kaki kanannya melangkah maju setindak, telapak tangan kirinya segera diayun kedepan melepaskan sebuah pukulan kilat.

Serangan tersebut dilancarkan mengarah dada Hong Liong kecepatan bagaikan sambaran petir dan lagi diluar dugaan, dalam keadaan begini tak sempat lagi bagi Hong Liong untuk mematahkannya, cepat-cepat ia tangkis keatas dan menyambut kembali serangan tersebut dengan kekerasan.

“Plook….!” sekali lagi terjadi bentrokan dahsyat.

Sekujur badan Hong Liong gemetar keras, sambil mendengus dingin ia muudur selangkah kebelakang, diatas permukaan tanah jelas terteralah sebuah bekas telapak kaki yang amat tajam.

Dalam hal jurus serangan, Hoa Thian-hong memang tak dapat merebut kemenangan maka ia pertaruhkan tenaga dalamnya untuk menggertak tubuh sang lawan.

Maka begitu serangannya telah dilancarkan, ia melangkah maju kemuka, pergelangan tangannya kembali diputar dan melancarkan sebuah pukulan dahsyat kedepan.

Hong Liong betul-betul terdesak hebat, tiada jalan lain baginya didalam keadaan seperti itu kecuali menangkis ancaman tersebut den gan keras lawan keras.

“Ploook! Ploook! Ploook!” secara beruntun Hong Liong harus menerima enam buah pukulan berantai yang memaksa tubuhnya mundur pula enam tangkah kebelakang. Bekas telapak kaki yang tertera diatas permukaan batupun kian kebelakang kian nyata dan dalam sepasang mata Hong Liong melotot besar mukanya merah padam.

Sedangkan Hoa Thian hon bersikap dingin menyeramkan, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.

Sungguh gelisah dan cemas perasaan hati Tang Kwik-siu menghadapi kejadian itu, dia masih ingat ketika terjadi pertarungan dikota Lok yang tempo hari, Hoa Thian-hong bisa mengimbangi permainan silatnya setelah mendapat petunjuk dari Hoa Hujin, oleh sebab itu diapun ingin memberi petunjuk pula kepada Hong Liong, agar ia bisa melepaskan diri dari pertarungan sistim bayangan menempel dengan bayangan dari pemuda she Hoa.

Apa mau dikata ia merasakan pula tenaga dalam yang begitu sempurna dari Hoa Thian-hong, setiap pukulan-pukulan yang dilancar kan selalu merupakan pukulan yang kuat dan sederhana.

Walaupun tidak banyak tipu muslihat yang terselip dibalik pukulan-pukulan itu, namun jelas tenaga dalam Hong Liong belum bisa memahami musuhnya, itu berarti kendati pun ia memberikan petunjuknya, belum tentu Hong liong dapat meloloskan diri dari kepungan lawan.

Bisa dibayangkan betapa gelisahnya iblis Tua dari Seng Sut pay ini, dia ingin mencari jalan lain tapi selalu gagal, untuk sesaat lamanya ia tak tahu apa yang musti di lakukan.

Perlu diketahui, seluruh inti ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong hanya terhimpun dalam satu jurus pukulan serta enam belas ilmu pedang ilmu, silat tersebut tiada tipu muslihat yang jitu, semuanya datar dan sederhana, justru keampuhannya terletak pada kehebatan srrta kecepatannya dalam mengerahkan tenaga dalam.

Contohnya adalah pertarungan antara Hoa Thian-hong dengan Kiu-im Kaucu tempo hari, dengan padang bajanya secara beruntun dia lepaskan berpuluh-puluh buah bacokan keatas toya kepala setannya Kiu in kaucu padahal ilmu silat perempuan Kiu-im-kauw ini luar biasa lihaynya toh ia tak mampu melepaskan diri dari kejaran pedang lawan, dari sini dapat ditarik kesimpulan betapa dahsyat dan sempurnanya kepandaian silat si anak muda itu….

Sementara itu Hoa Thian-hong sendiripun meresa kaget bercampur tercekat ketika ia saksikan enam buah pukulan berantainya belum berhasil merobohkan Hong Liong, tentu saja diapun tahu jika Hong Liong sampai dibikin mampus urusan tak akan selesai sampai disitu saja sebaliknya kalau ia disuruh melepaskan musuhnya dengan begitu ssja ia pun tak sudi.

Akhirnya setelah putar otak dan berpikir beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia membentak keras, “Perduli amat, rasakan pukulanku ini!”

Sebuah pukulan gencar segera dilepaskan kedepan mengarah dada lawannya.

Pukulan itu sangat dahsyat dan menggunakan tenaga sebesar dua belas bagian, lagi pula kecepatannya mengerikan sekali.

Kaget dan panik Hong Liong menghadapi kejadian tersebut, mukanya yang semula berwarna merah padam, seketika berubah jadi pucat keabu-abuan. “Hoa kongcu, kau yang menang dalam pertarungan ini!” tiba-tiba Tang Kwik-siu berseru sambil tertawa terbahak- bahak.

Sambil berseru ia maju kedepan dan menempelkan telapak tangannya diatas punggung Hong Liong, kemudiaa menyeret muridnya untuk mundur sejauh beberapa kaki ke belakang.

Darah panas yang bergolak dalam dada Hong Liong bergelora makin keras, bahkan meluap naik keatas tenggorokan, untungnya Tang Kwik-siu bertindak cepat, sehingga darah yang hampir dimuntahkan keluar dalam dicegah kembali.

Padahal Hoa Thian-hong sendiripun hanya menyiapkan pukulan itu sebagai suatu gertak sambal belaka, setelah pihak musuh menyerah kalah, iapun segera membuyarkan seluruh tenaga pukulannya.

Kendatipun kemenangan berhasil diraih, ia sendiri merasakan suatu perasaan yeng kosong dan hambar….

Dari sakunya Tang Kwik-siu mengambil keluar sebiji obat berwarna merah, seraya diberikan ketangan pemuda, itu katanya sambil tertawa, “Telah lama aku dengar orang berkata bahwa kongcu telah makan teratai racun empedu api serta Leng-ci berusia seribu tahun sehingga tenaga dalammu makin sempurna dan tiada tandingannya dikolong langit, ternyata memang begitulah keadaannya!”

Apa yang dimaksudkan dalam kata-katanya itu sudah cukup jelas, yaitu ia memujih kemenangan yang berhasil diraih Hoa Thian-hong tidak lebih hanya lantaran bantuan serta kasiat dari dua macam obat mustika itu belaka. Tiba-tiba Ciu Thian bau menyindir dengan ketus, “Hmm!

Katanya saja yang kalah harns mengaku kalah, yang menang harus mengaku menang, sekalipun kalah tak boleh main sabun. Huuh….! Kenapa mesti menggunakan kata-kata yang tak berguna itu?”

Tang Kwik-siu segera berpaling, lalu menegur, “Jago lihay dari manakah engkau? Maaf aku tidak mengetahuinya!”

“Hmm! Aku she Ciu bernama Thian hau.”

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong telah menerima obat berwarna merah itu sambil menyela, “Tang kwik sianseng, kedatanganmu kedataran Tionggoan kali ini bertujuaa menggali harta ataukah ingin menjumpai orang gagah yang ada didaratan Tionggoan?”

“Bagaimana kalau tujuanku menggali harta? Dan bagaimana pula kalau tujuanku adalah ingin bertemu dengan orang gagah didaratan Tionggoan….?”

“Bila tujuanmu hendak menggali harta maka kita tak perlu saling cekcok dan bertengkar, kita harus bersatu padu uutuk bersama-sama menyelesaikan pekerjaan besar ini, siapa yang lebih banyak menge-luarkan tenaga dia berhak mendapatkan jumlah yang banyak sebaliknya siapa yang mengeluarkan tenaga sedikit, dia hanya mendapatkan jumlah yang lebih sedikit, keadilan akan tetap dijaga dan semuanya akan diselesaikan sebijaksana-bijaksananya!”

Meskipun sudah kalah rupanya Hong Liong belum puas, kembali hardiknya dengan suara keras, “Bagaimana kalau tujuan kami adalah untuk menemui para orang gagah didaratan Tionggoan?”

Hoa Thian-hong tertawa. “Sebagian besar harta karun yang berada didalam istana Kiu ci kiong ini adalah kitab pusaka ilmu silat, bila Seng sut pay kalian merasa berilmu tinggi dan merasa yakin kalau dapat menangkan orang gagah yang ada didaratan Tioaggoan, lantas apa gunanya kalian mendapatkan kitab- kitab pusaka itu? Bukankah kehadiran kalian hanya akan mengurangi jatah kami orang Tionggoan dalam pembagian nanti? Kalau memang begini, apa salahnya kalau kami orang Tionggoan beradu kepandaian dulu dengan kalian, Jika orang Seng sut pay berhasil dikalahkan dan kembali kesarangnya, kami baru menggali harta karun ini dan menikmati kitab-kitab tersebut bagi kepentingan kami orang Tionggaan!”

Pek Siau-thian yang mengikuti jalannya pembicaraan tersebut, dalem hati kecilnya lantas berpikir, “Hebat amat binatang kecil ini! Bukan saja ilmu silatnya peroleh kemajuan yang pesat, cara berbicaranya pun jauh lebih lihay dari siapapun juga, ia tak boleh dipandang enteng….!”

Tiba-tiba Kiu-im Kaucu tertawa tergelak, kemudian katanya, “Kedua cara itu memang bagus sekali, kami Kiu-im-kauw bersiap sedia menempuh dengan cara apapun, baik urusan main senjata, adu kekerasan maupun dalam urusan menggali bumi mencari harta, kami orang-orang Kiu-im-kauw memutuskan diri untuk berdiri dibelakang Hoa kongcu!”

Berbicara soal adu mulut, Hong Liong lebih-lebih kalah jauh dari orang lain, dan lagi Tang Kwik-siu juga mengetahui sampai dimanakah kelilayan dari Kiu-im Kaucu, karena kuatir muridnya mencari gara-gara lagi, cepat katanya sambil tertawa, “Kita semua adalah orang-orang persilakan, tentu saja setiap orang berharap dapat mengukur ilmu dengan orang lain, sayangnya Seng sut pay kami pun mempunya sejenis benda mustika yang tersimpan pula dalam istana Kiu ci kiong, kami perlu menggali dulu istana ini dan mengambil kembali benda tersebut, aku lihat lebih baik hubungan kerja kita memang jangan sampai diganggu lebih dulu oleh urusan sepele!”

Pek Siau-thian juga berpikir, “Nenek setan itu sudah mengutarakan sikapnya berdiri dibelakang binatang cilik itu, entah apa maksud tujuannya dibalik kesemuanya itu?”

Berpikir sampai disini, segera ujarnya, “Kunci yang paling utama dalam penggalian harta karun ini adalah bagaimana cara menggalinya sehingga tidak sampai menyentuh nadi bumi yang bisa mengakibatkan terjadinya tanah longsor, gempa bumi, banjir serta tanah merekah. Untungnya keturunan dari Seng jiu lu pan ahli bangunan yang mendirikan istana Kiu ci kiong di masa lampau telah hadir pula disini saat ini!”

Semua orang sama-sama merasa terperanjat, beratus-ratus pasang mata serentak dialihkan ke arah rombongsn Sin-kie- pang.

Tiangsun Pou maju selangkah kedepan, sesudah memberi hormat kepada semua jago ia memperkenalkan diri, “Aku yang tak becus adalah Tiangsun Pou masih cetek dan serba terbatas ilmu bangunan yang aku kuasahi.

Pek Siau-thian segera menyambung, “Tentang asal usul dari Tiangsun lote rasanya tiada sesuatu yang perlu dibicarakan lagi dan sekarang ia bersedia untuk turut campur dalam pencarian harta karun ini, entah bagaimana dengan saudara yang lain? Apakah kalian ada pendapat tentang soal ini?”

Maksud ucapan itu cukup jelas, dia sedang bertanya kepada orang lain dengan mengandalkan apakah mereka akan mencari harta. Tang Kwik-siu yang pertama-tama menjawab, “Seng sut pay kami memegang selembar peta rahasia, tanpa peta rahasia itu sekalipun orang yang pernah memasuki Kiu ci kiong dimasa lalu belum tentu bisa mendekati tempat penyimpanan harta”

Berbicara sampai disini, dia lantas tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba Kiu im kancu berkata.

“Empat datuk dari gunung Huang-san pernah menyaksikan sendiri istana Kiu ci kiong, merekapun pernah ikut dalam usaha pencarian harta karun, dalam pekerjaan ini tak bisa ketinggalan tenaga mereka berempat, dan kini mereka hadir dipihak Hoa kongcu itu berarti Hoa kongcu berhak pula untuk ikut serta dalam usaha pencarian harta karun ini”

Tampaknya Pek Siau-thian memang bermaksud untuk menyingkirkan pihak Kiu-im-kauw dari pekerjaan itu, cepat ia berseru dengan dingin.

“Lalu apa yang diandalkan Kiu-im-kauw?”

“Perkumpulan kami datang kesini hanya untuk membantu usaha Hoa kongcu, waktu penggalian kami maju, waktu pembagian harta kami mundur, harap para orang gagah tak usah memikirkan persoalan ini”

Mendengar perkataannya yang begitu manis, Hoa Thian- hong dibuat serba salah, mau menangis tak bisa mau tertawa pun tak dapat.

Baik Pek Siau-thian maupun Tang Kwik-siu sama-sama mempunyai dugaan kalau antara Kiu-im Kaucu dengan Hoa Thian-hong telah mengadakan kontak secara rahasia maka dari itu pihak Kiu-im-kauw selalu membantu Hoa Thian-hong dan berdiri dibelakangnya.

Ini bisa dibuktikan oleh mereka dari ke munculan Giok Teng Hujin yang selalu berada dibelakang pemuda itu dan tak pernah memisahkan diri padahal mereka tahu bahwa Giok Teng Hujin adalah tenaga yang sa ngat berkuasa dalam perkumpulan Kiu-im-kauw, tak mungkin perempuan itu berada dipihak Hoa Thian-hong bila antara dua kelompok kekuatan itu tidak pernah mengadakan kontak apa-apa.

Lebih-lebih Tang Kwik-siu yang kurang begitu paham akan seluk beluknya dunia persilatan didaratan Tionggoan ini lebih percaya lagi dengan ucapan Kiu-im Kaucu tadi

Maka sorot matanya lantas dialihkan ke arah Jin Hian serta Thong-thian-kauwcu, tegurnya, “Bagaimana dengan sahabat- sahabat dari kelompok ini? Tujuan kalian hanya ingin mera- maikan suasana ataukah bertujuan untuk turut serta dalam pencarian harta karun?” 

“Kami datang kemari untuk adu nasib” sahut Jin Hian dengan suara yang berat dan dalam, “bisa menggali kami akan menggali, ada harta kami akan mengambil harta benda dalam perut bumi yang tiada pemiliknya, aku rasa setiap orang berhak untuk mendapatkannya dan siapapun tak usah memperdulikan tindakan kami”

Sepasang alis mata Tang Kwik-siu kontan berkeryit, ia berpaling ke arah Pek Siau-thian minta penjelasan.

Dengan suara hambar Pek Siau-thian menerangkan, “Mereka adalah bekas jago-jago lihay dari perkumpuiau Hong- im-hwie serta Thong-thian-kauw!” Sementara pembicaraan berlangsung, mereka saling berpandangan dengan penuh arti, dalam waktu singkat inilah kedua belah pihak telah mengadakan kontak perjanjian secara diam-diam untuk menyingkirkan rombongan terakhir ini dari percarian harta karun, hanya mereka belum memastikan bagaimana caranya turun tangan.

Sementara itu Hoa Thian-hong yang berdiri didekat mereka berdua sempat mengikuti jalannya lirikan dari kedua belah pihak, makin meningkat usianya makin banyak pengetahuan yang dimilikinya, betapa terperanjatnya dis setelah menyaksikan perilaku dua pemimpin golongsn besar ini….

Ia tahu Sin Ki Pang telah bersekongkol dengan pihak Seng sut pay didalam masalah percarian harta karun ini, bila kerja sama ini dibiarkan berlangsung terus niscaya pihaknya yang bakal terjepit.

Tiba-tiba terdengar Tang Kwik-siu berkata sambil tertawa, “Hoa Kongcu, didalam masalah pencarian harta karun ini, empat datuk dari gunung Huang-san, Tiangsun sianseng serta peta rahasia milikku merupakan tiga faktor terpening yang tak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lain, karenanya kami ingin bertanya kepadamu, bagaimanakah usul atau saranmu dalam pekerjaan ini?”

Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, dalam hati kecilnya dia berpikir, “Ditinjau dan situasi yang terpentang didepan mata saat ini, permulaan dari penggalian harta karun ini pasti akan diakhiri dengan derah manusia yang mengalir dimana-mana, suatu hasil yang baik su dah pasti tak mungkin terjadi, bila aku tak mampu mengendalikan tingkah laku beberapa orang gembong iblis ini dengan kata-kata, bagaimana caranya aku bisa mengatur serta menguasai keadaan?” Untuk sesaat ia tak tahu apa yang mesti dilakukan, akhirnya ia menjawab juga, “Menurut apa yang kuketahui, masih banyak sekali jago persilatan yang belum hadir disini dan beberapa hari mendatang mereka tentu akan berkumpul semua ketempat ini, aku rasa bila kita bersatu padu maka persoalan gampang diselesaikan, tapi bila kita tercerai berai niscaya usaha ini akan mengalami kegagalan, apa salahnya kalau kita undurkan sampai tengah hari besok berkumpul kembali serta merunding-kan lagi masalah ini….?”

Tang Kwik-siu tertawa.

“Betul….! Betul….! Persoalan yang sangat penting artinya ini memang tak perlu dirundingkan dalam waktu singkat, bagaimana pendapat saudara Pek?”

“Kalau akuu sih tak ada perkataan lain” jawab Pek Siau- thian hambar, dia lantas memberi hormat dan mengundurkan diri dari situ.

Hoa Thian-hong pun memberi hormat kepada Tang Kwik- siu lalu ikut berlalu dari situ.

Perasaan hatinya pada saat ini terasa amat berat sekali, ia tak akur dengan Pek Siau-thian, walaupun dengan Pek Kun- gie dia ada hubungan yang luar biasa namun pada Waktu itu sikap dara itupun kurang begitu menyenangkan, maka setelah mempertimbangkan keadaannya beberapa saat, akhirnya ia serahkan obat penawar itu kepada Kho Hong-bwee, dan iapun kembali pada rombongannya.

Setelah berkumpul dengan kawanan jago kaum lurus, tiba- tiba terdengar Ciu Thian bau berkata sambil menunjuk ke arah puncak bukit sebelah kiri. Tempat itu paling tinggi letaknya, lebih baik kita membuat tenda disitu saja, selain letaknya terpencil, dan lagi kitapun dapat mengawasi gerak-gerik kawanan bajingan itu.

Setelah semua orang setuju, maka berangkatlah kawanan jago itu untuk bertenda di kaki bukit, sementara orang-orang dari Kiu-im-kauw bertenda dipuncak bukit itu.

Jarak antara kedua belah pihak hanya beberapa puluh tombak meski pun suara pembicaraan tidak kedengaran tapi gerak-gerik mereka dapat saling terlihat.

Sementara Jin Hian dan Thian Ik-cu beristirahat ditempat yang lebih kebelakang, merekapun memisahkan diri jadi dua kelompok.

Setelah melakukan perjalanan semalaman suntuk, semua orang merasa amat lelah, setelah bersantap mereka duduk bersemedi untuk mengatur pernapasan.

Hanya Hoa Thian-hong seorang yang kelihatan tidak tenang, ia merasa banyak urusan yang memenuhi benaknya semakin dipikir ia merasa semakin kalut, akhirnya dengan wajah yang murung bercampur kesal ia duduk sambil bertopang dagu.

Cu Im taysu merasa tak tega, ia menghampiri si anak muda itu dan bertanya, “Thian-hong marilah kita bicarakan persoalaan yang sedangkan kau hadapi, siapa tahu kalau dengan perundingan tersebut dapat mengu rangi kemurunganmu?”

Hoa Thian-hong segera menggeleng. “Kekuatan pihak kita berlalu minim dan kecil, sekalipun harta karun dapat tergali, itupun tak dapat kita milik sebab mereka pasti akan saling merampas dan saling membunuh”

“Kalau ingin main rampas silahkan suruh mereka rampas!” teriak Suma Tiang-cing dengan gemas, sampai waktunya pilihkan buku-buku yang bagus-bagus dan rampaslah lebih dulu kemudian lindungi empat datuk untuk mundur dari sini, kami akan menghadang para pengejar dan menghancurkan kawanan bajingan itu”

Dengan cepat Hoa Thian-hong menggeleng.

“Tujuan kita datang kesini bukanlah untuk merebut benda mustika, kalau kita sampai terlibat pula dalam soal rampas merampas maka tujuan kita yang sebenarnya akan menjadi kabur artinya!”

“Bagaimanapun juga kita harus mencari akal untuk membantai lebih dulu kawanan iblis dan bajingan dan Cui Thian hau mengusulkan dengan suaranya yang dingin, “biln bajingan itu sudah terastasi urusan selanjutnya gampang untuk diselesaikan”

Hoa Thian-hong tertawa getir dan menggelengkan kepalanya berulang kali.

Kemenangan boanpwe atas diri Hong liong tadi sudah tidak cemerlang, apalagi jumlah anggota mereka sangat banyak, main kekerasan sudah pasti tak akan berhasil.

Siapa suruh kau tidak menggunakan pedang!” omel Suma Tiang-cing dengan mendongkol, buat apa kita musti sungkan- sungkan terhadap kawanan manusia yang memalukan itu!”

Kembali Hoa Thian-hong tertawa getir. Bila aku musti bertempur memakai senjata, mungkin Pek Siau-thian dapat kukalahkan, Kiu-im Kaucu dapat kutandingi dan bila ditanding-kan deegan Tang Kwik-siu sedikitnya juga selisih tak seberapa tapi kendatipun kita bisa menangkan mereka toh belum sampai menaklukan mereka? apalagi menggantungkan kepandaian pada sebilah pedang bukan lah suatu kemampuaan yang cemerlang.

Lalu bagaimana dengan ilmu yang kau pelajari dari kitab Kiam keng?, tanya Cu Im taysu.

Aku selalu sibuk menyelesaikan pelbagai persoalan, boleh di bilang tak ada waktu luang barang sedikitpun untuk mempelajarinya, paling banter aku baru sempat membacanya sekali”

“Kalau begitu berlatihlah dengan tekun” seru Ciu Thian-hau dengan suara dalam, “bila berbasil, jagal dulu Tang Kwik-siu!”

Hoa Thian-hong mengangguk, setelah termenung sebentar akhirnya ia agak tenang dan memandang puncak dibelakangnya, kemudian baru katanya lagi.

“Boanpwe hendak duduk semedi diatas puncak itu sambil mengingat-ingat jurus pedangku, harap cianpwe semua menunggu disini saja.”

Semua orang mengangguk dan memandang bayangan punggung si anak muda itu hingga lenyap dari pandangan mata.

Puncak bukit itu tingginya mencipai enam tujuh kaki, luas dataran dipuncak itu paling cuma lima depa tapi datar dan merata. Dudak seorang diri diatas puncak bukit itu, tanpa terasa Hoa Thian-hong teringat kembali akan ibunya, duduk menghadap ke utara benaknya segera dipenuhi oleh kenangan sewaktu ibunya memberi petunjuk kepadanya waktu ia berterangan melawan Tang Kwik-siu dikota Lok yang tempo hari.

Diam-diam pikirnya dihati, “Sumber dari ilmu silat sebenarnya hanya satu yang kemudian ber ubah-ubah menurut situasi serta keadaan yang sedang dihadapi, mi salnya saja kitab Kiam keng, sekalipun yang dimuat adalah ilmu pedang toh tiada tercantum jurus-jurus pedang yang pasti, itu ber arti ilmu silat dapat dipakai untuk melawan musnh hanya disebabkan orang itu pandai melihat gelagat serta tahu bagaimana cara menghindari sergapan musuh serta melepaskan serangan balasan dengan gerakan tercepat dan terganas…. berarti pula teori ini tak akan berbeda pula kalau diterapkan pada ilmu pukulan maupun ilmu totokan.”

Kemudian ia berpikir lebih jauh, “Teori ilmn silat mengatakan pula, untuk menghindari serangan musuh, maka alangkah baiknya kalau kita gunakan serangan untuk memunahkan serangan musuh, kalau toh teori ini sudah kupahani, apa salahnya kalau kuleburkan teori ilmu pedang yang kudapat kedalam permainan tangan kosong?

Bagaimanapun juga, daripada memakai pedang akan lebih enak bertangan kosong belaka!”

Berpikir sampai disitu ia lantas mengambil keluar kitab Kiam keng san dan sekali lagi membaca dari awal hingga akhir.

Sementara itu tulisan serta lukisan yang tercantum dalam kitab Kiam keng telah dipahami olehnya, maka setelah membacanya sekali lagi, ia simpan kitab tersebut dan mulai mengupas serta membahas setiap teori serta rahasia yang didapatkan dari kitab tadi.

Semakin dipikir ia merasa semakin tertarik dan akhirnya semua perhatian ingatan serta pikiran terpadu menjadi satu untuk meeesapi makna dari teori-teori tersebut, dan tanpa disadari pula pemuda itupun melupakan hal-hal lain.

Tengah hari Cu Im taysu diam-diam naik ke atas bukit, ketika menyaksikan keadaan tersebut, ia tahu bahwa pemuda itu sedang konsentrasi mempelajari ilmunya, maka setelah meninggalkan rangsum dan air, padri inipun mengundur diri dari sana.

Senja itu, Cu Im taysu berkunjung lagi ke atas puncak bukit, tapi ketika dilihatnya pemuda itu tetap duduk tanpa bergerak ma lahan ransum serta air yang disediakan tak disentuhnya terpaksa ia turun lagi dari bukit itu.

Tengeh malam tiba-tiba Kiu-tok Sianci dari wilayah Biau dengan membawa kedua belas orang muridnya tiba disana, setelah di tanya oleh Cu Im taysu sekalian barulah diketahui bahwa kitab pusaka Pek tok keng dari perguruan Kiu-tok Sianci telah terjatuh pula didalam istana Kiu ci kiong, benda tersebut merupakan kitab pusaka dari per-guruannya karena itu mereka pandang tinggi peristiwa tersebut.

Sejak kitab itu lenyap, ilmu racun yang di miliki perguruannya diwariskan berdasarkan ajaran mulut kemulut tanpa dasar kitab bimbingan, lagi pula mereka kuatir kalau kitab Pek tok teng tadi terjatuh ketangan orang lain, maka begitu kabar tentang pencarian harta karun tersiar, buru-buru berangkatlah mereka tinggalkab wilayah Biau menuju kedaratan tionggoan, Chin Wan-hong adalah murid terakhir dari Kiu tok sian ki sedangkan Hoa Thian-hong dianggap menantu perguruan mereka yang paling baik, apalagi usia kedua belas orang muridnya hampir sebaya dengan Hoa Thian-hong dimana hampir setengah tahun lamanya mereka pernah hidup bersama dikala pemuda itu merawat luka racunnya dilembah Hu-liang-kok, dalam pandangan mereka Siau long adalah pujaan semua orang.

Oleh karena itu, dikala mereka saksikan pemuda itu cuma duduk tak berkutik diatas puncak, semua orang lantas ribut hendak menengok keatas puncak.

Kiu-tok Sianci kuatir muridnya membuat ribut, setelah mencegah semua orang untuk ikut, seorang diri ia menengok keatas bukit, setelah itu dia membakar dupa wangi disebuah biolo dan memerintahkan muridnya yang paling besar Lau hoa siaancu untuk mengangkutnya keatas bukit dan diletakkan disamping Hoa Thian-hong.

Dupa wangi itu bukan sembarangan dupa, bila asap yang berbau harum tersiar keluar, maka mereka yang mencium bau dupa itu akan merasakan pikirannya jadi tenang dan segar kembali.

Sehari telah lewat dengan cepatnnya, tengah hari berikutnya Pek Siau-thian, Tang Kwik-siu, Kiu-im Kaucu beserta Jin Hian serta Thian Ik-cu telah berkumpul dibukit untuk merundingkan soal penca rian harta karun, waktu itu Hoa Thian-hong masih duduk tak berkutik diatas puncak sambil mendalami ilmu silatnya.

Dalam keadaan seperti ini, semua orang jadi geiisah, baik Kiu-tok Sianci dan Cu Im taysu sekalian maupun Giok Teng Hujin dan Pek Kun-gie semua orang merasa cemas, mereka kuatir si anak muda itu terserang jalan api menuju neraka, karena suasana yang kacau dan hangat, sekalipun demikian merekapun tak berani menyadarkan pemula itu.

Akhirnya Kiu-tok Sianci dan Ciu Thian-hau mengadakan rapat kilat, mereka menyadari betapa pentingnya keselamatan Hoa Thian-hong pada saat ini, maka diputuskan untuk mengutus Kiu-tok Sianci yang mewakili kawanan jago dari kaum lurus untuk hadir dalam perundingan tersebut.

Kiu-tok Sianci maju menghampiri kawanan jago lainya, kepada mereka ia menerangkan, Pada saat ini Hoa Thian-hong sedang melatih diri ia tak dapat menghadiri perundingan tersebut, muka aku akan mewakili dirinya didalam perundingan ini.

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya kembali, “Orang Biau mempunyai sebuah mustika yang tersimpan pula di dalam istana Kiu ci kiong, aku rasa kamipun berhak untuk mengambil kembali benda milik kami itu, Hoa Thian-hong bukan manusia yang ber ambisi uniuk merampas barang milik orang lain, kalian tak usah menguatirkan dirinya, semua persoalan akan diselesaikan seadil-adilnya!”

Tang Kwik-siu tahu bahwa Pek Siau-thian tak sudi berbicara dengan Kiu-im Kaucu, sambil tertawa ia lantas berkata.

“Bagus sekali kalau memang begitu, lalu entah bagaimanakah pendapat dari Kiu-im Kaucu?”

Kiu-im Kaucu tidak lengsung menjawab, dalam hati pikirnya, “Hmm! aku justru akan menanti sampai tibanya kesempatan yang baik, akan kutunggu sampai benda-benda mustika itu muncul lebih dulu sebelum mengambil tindakan selanjunya” Tentu saja jalan pikiran ini tak diutarakan keluar, sambil tertawa jawabnya.

“Kedatangan kami orang-orang dari Kiu-im-kauw adalah demi membantu usaha Hoa kongcu untuk mencari harta kalau toh bukan Hoa kongcu yang memimpin usaha pencarian ini, lebih baik kamipun mengundurkan diri dari pekerjaan besar ini!”

Selesai berkata, dia lantas putar badan dan menyingkir dari tempat tersebut.

Baik Tang Kwik-siu maupun Pek Siau-thian bukan manusia- manusia bodoh, tentu saja merekapun tahu apa yang sedang dipersiapkan Kiu-im Kaucu, namun sebagai jago yang berpengalaman dalam dunia persilatan, mereka tak ingin membongkar rahasia tersebut sebelum tiba waktunya, maka sambil menahan diri, Tang Kwik-siu berpaling ke arah Jin Hian seraya bertanya, “Bagaimanakah rencana saudara Jin serta Thian Ik totiang?”

Rupanya antara Jin Hian dan Thian Ik-cu telah terjalin perse-kongkolan yang erat, ketika mendengar pertanyaan itu, Jin Hian segera menjawab, Sudah lama kami dengar orang berkata bahwa istana Kiu ci kiong didirikan pada wilayah seluas puluhan li yang luar biasa lebarnya, kami tak sudi tunduk kepada orang lain dan kami berdiri sendiri tanpa mengikuti siapapun, kalau orang lain menggali pintu depan, kami akan menggali pintu belakang, kalau orang lain masuk dari kiri maka kami akan masuk lewat pintu kanan, pokoknya aku tak sudi melewati pintu yang digali orang lain.

Tang Kwik-siu tersenyum setelah mendengar perkataan itu. “Bagaimana andaikata kalian menggali sehingga menyentuh nadi bumi yang dapat mengakibatkan gempa bumi, tanah longsor, serta air bah?” tanyanya.

Tiba-tiba Pek Siau-thian menyela, “Saudara Tang kwik, tanah dan hutan tiada pemiliknya, kita bisa menggali orang lainpun berhak menggali, biarlah mereka bekerja sambil mengadu nasib toh bukan manusia yang berkuasa melainkan Thian lah yang punya kuasa”

Mula-mula Tang Kwik-siu agak tertegun tetapi setelah menyaksikan hawa nafsu membunuh yang menyelimuti wajah Pek Siau-thian ia lantas dapat memahami maksud hatinya, sambil tertawa terbahak sahutnya, “Perkataan dari saudara Pek memang tak salah, agaknya dalam urusan menggali harta karun ini hanya kita berdua saja yang harus mengeluarkan tenaga!”

Pek Siau-thian tersenyum kepada Kiu-tok Sianci, ia memberi hormat dan katanya, “Didalam urusan pencarian harta karun ini biarlah aku bekerja sama dengan Kiu-tok Sianci, tapi berhubung sian ci serta anak muridnya kaum wanita semua maka tak perlu kalian turun tangan sendiri, silahkan empat datuk dari bukit Huang-san saja yang tampil kedepan untuk memberikan petunjuknya!”

“Empat datuk dari bukit Huang-san telah menyatakan kesanggupannya untuk membantu usaha pencarian ini, bahkan telah menyatakan pula bahwa mereka tidak berani mengambil satu bendapun yang berada didalam istana Kiu ci kiong!”

“Harta karun yang berada dalam istana Kiu ci kiong tak terhingga banyaknya, sekalipun kami kemaruk juga tak mungkin bisa memiliki semua kalau toh empat datuk itu tak mau mengambil benda apapun biar kita beri pahala lain kepada mereka sebagai tanda mata.”

Begitulah keputusanpun segera diambil dan sejak itu Tiangsun Pou serta empat datuk dari bukit Huang-san berkumpul jadi satu untuk mempelajari situasi letak dari istana Kiu ci kiong dimasa lalu, kemudian meneliti pula keadaan medan yang terbentang didepan mata saat ini.

Dalam pada itu, Tang Kwik-siu telah mempelajari pula situasi dari air terjun di sebelah atas, dengan membawa anak muridnya serta sebagaian anggota Sin-kie-pang mereka berangkat keatas untuk membendung selokan dan mengalihkan aliran air terjun ketempat lain.

Selain itu diapun mengutus orang untuk turun gunung dan membeli alat perlengkapan serta bahan rangsum.

Hampir semua pekerja yang berkumpul diatas bukit Kiu ci san adalah jago-jago persilatan berilmu tinggi, oleh karenanya tenaga mereka sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari orang biasa, selain itu gerak-gerik merekapun jauh lebih gesit.

Dengan kelebihan itulah hasil kerja mereka sangat mengejutkan sekali, ketika malam menjelang tiba, aliran air terjun tersebut sudah terbendung, dengan begitu telaga dengan airnya mulai surut dan akhirnya mengering.

Empat datuk dari bukit Huang-san dan Tiangsun Pou bekerja lembur, mereka berkumpnl diam sebuah rumah kayu sambil mempelajari terus situasi istana.

Hoa Thian-hong sendiri masih tetap melatih ilmunya diatas bukit, beberapa kali Pek Kun-gie dan Giok Teng Hujin hendak naik ke bukit untuk menengok si anak muda itu, tapi oleh karena mengetahui kelihayan dari Kiu-tok Sianci, mereka tak berani mendekat.

Tengah malam, Chin Pek-cuan dengan membawa putranya Chin Giok Linng telah tiba pula dari kota Keng ciu, menjelang fajar secara beruntun tiba pula berpuluh-puluh orang penggali harta dari pelbagai pelosok dunia persilatan, kebanyekan mereka adalah jago-jago yang ada hubungannya dengan harta karun diistana Kiu ci kiong.

Tapi setelah tiba disana, dan mereka saksikan hampir semua jago kenamaan daru dunia persilatan baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam berkumpul semua disitu, malahan ketua Siu ki pang dan kaucu dari Mo- kauw berada pula disana, terpaksa mereka hanya berdiri termangu dengan mata mendelong, siapapun tak berani turun tangan secara gegabah.

Sampai menjelang tengah hari, telah seratus orang lebih jago jago tanpa kelompok yang tiba dibukit itu, diantara mereka terdapat pula keturunan dari pukulan sakti Huan Teng dan pedang satu huruf Kongsun Tong, tentu saja diantara mereka terdapat pula jago-jago yang datang untuk mencari keuntungan diair keruh, malahan Tio Ceng tang yang berasal satu desa dengan Hoa Thian-hong membatalkan niat nya untuk menerima penyerahan kembali perusahaan piau kioknya dikota Cho ciu dan buru-buru berkunjung pula ke bukit itu

Keika senja menjelang tiba, secara kasar Tiangsun Pou telah berhasil membuat sebuah peta medan yang meliputi lingkaran sekitar tempat itu.

Para jago dari Seng sut pay dan Sin-kie-pang mulai bekerja mengangkuti batu dan membereskan keadaan medan dari semua halangan, meskipun mereka terdiri dari kawanan jago lihay, toh keadaanya tetap mengenaskan sekali. Sebelum permukaan tanah disebelah kiri sempat dibersihkan, Jin Hian dan Thian Ik-cu telah memerintahkan anak buahnya untuk mulai menggali tanah disebehah lain.

Jarak antara kedua belah pihak sangat luas, tempat yang rombongan dari Jin Hian dan Thian Ik-cu gali adalah sebidang tanah dalam radius lima puluh kaki dari tempat yang dikerjakand Pek Siau-thian, selain itu tanah yang mereka galipun diluar daerah yang merupakan bekas selokan yang dibendung pihak Sin-kie-pang.

Karenanya sepintas lalu orang akan mengatakan bahwa pekerjaan mereka bebas, sedikitpun tadik menarik keuntungan dari pihak lain, malahan boleh dibilang bagaikan air sungai tak melanggar air sumur.

Ketika malam menjelang tiba, mereka berhati-hati menggali tanah selebar dua kaki dengan dalam lima depa.

Berdiri di tempat kejauhan, Pek Siau-thian mengamati pekerjaan yang dilakukan orang-orang itu, kemudian dia berpaling ke arah Tang Kwik-siu dan tanyanya sambil tertawa, “Saudara Tang kwik, coba lihatlah liang besar itu, apakah terasa terlalu kecil kalau dibuat untuk mengubur kurang lebih tujuh puluh orang?”

Dengan wajah serius Tang kwik Sio mengamati sekejap tempat itu, kemudian sahutnya, “Aku rasa rada terlalu kecil, kalau mereka mereka dibiarkan menggali satu hari lagi, tentunya sudah cukup!”

“Kalau memang begitu, biarlah mereka menggali sehari lagi!” kata Pek Siau-thian kemudian sambil mengangguk. Selama dua orang tokoh silat itu melakukan perundingan, Jin Hian maupun Thian Ik-cu sama sekali tak merasa kalau ada orang yang sedang mengincar nyawa mereka apalagi para jago yang datang tanpa kelompok semakin tak tahu akan kejadian ini, malahan mereka telah bersatu untuk merundingkan cara lain yang dirasakan dapat pula mendatangkan hasil yang memuaskan.

oooOooo 87

SAMPAI keesokan harinya, ketika rombongan dari Pek Siau- thian mulai menggali tanah, para jago yang tidak berkelompok juga mulai bekerja sama dan melakukan penggalian kurang lebih empat lima puluh kaki jauhnya dari liang kecil yeng dibuat rombongan Jin Hian.

Terhadap perbuatan orang-orang itu, baik Pek Siau-thian maupun Tang Kwik-siu pura-pura tidak melihat, merekapun tidak melarang o rang-orang itu untuk bekerja.

Suatu hari, diatas bukit tiba-tiba bermunculan tenda dan rumah gubuk yang dibuat berjualan oleh rakyat disekitar bukit itu, ada yang menjual teh, menjual arak, menjual barang kebutuhan sehari-hari, menjual penggali tanah malahan ada seorang nyonya setengah tua dengan membawa seorang dara berusia lima enam belas tahanan menjual nyanyi di sana, suasana jadi saut ramai sekali.

Malam ini adalah malam yang keempat, Hoa Thian-hong belum juga turun dari puncak bukit, meskipun kebanyakan orang tahu bahwa empat lima hari tidak tidur bukan suatu pekerjaan yang luat biasa bagi seseorang yang telah memiliki tenaga dalam amat sempurna, namun mereka kuatir apabila pemuda itu menggunakan tenaga yang berlebihan dalam pikiran maupun latihannya sehingga mengalami jalan api menuju nereka

Maka keesokan harinya pagi-pagi sekali, Kiu-tok Sianci serta Ciu Thian-hau beberapa orang secara bergilir naik kebukit dan duduk disamping Hoa Thian-hong sembari berjaga-jaga atas segala kemung-kinan yang tidak diinginkan.

Malam itu sudah tanggal dua puluh, rembulan yang sudah agak lonjong mulai mencorong ditengah awang, ketika kentongan ke empat hampir tiba, mendadak Pek Siau-thian serta anak buahnya meninggalkan tempat tidur dan serentak bermunculan dari rumah rumah kayu. 

Malam itu Pek Kun-gie tak dapat tidur, ia sedang berdiri dibalik jendela sambil memandang Hoa Thian-hong yang berada diatas puncak dengan termangu-mangu, maka menyaksikan kejadian tersebut cepat ia memburu keluar rumah dari sambil menarik ujung baju Pek Siau-thian teriaknya dengan kaget, “Ayah!”

Kho Hong-bwee pun sudah berkelebat keluar dari rumah, ia langsung menegur

“Sau hat apa yang hendak kau lakukan?”

Pek Siau-thian rada menaruh rasa was-was dan jeri terhadap istrinya ini, mendengar teguran tersebut sambil tersenyum ia lantas menjawab, “Jin loji serta Ik cu masih mendendam kepada kita lantaran kekalahan yang dialaminya ketika ada dilembah Cu-bu-kok, sekarang mereka berencana untuk menimbulkan tanah longsor dan hendak membasmi kita semua dari muka bumi, oleh karena itu sebelum mereka bertindak kita musti berusaha mendahului dan mencegah perbuatannya itu. Sesudah berhenti sebentar ia melanjutkan .

“Kau toh mengetahui sendiri bahwa mereka adalah manusia-manusia yang paling kejam dan bengis dikolong langit dewasa ini, perbuatan jahat yang dilakukan selama ini jaun lebih banyak daripadaku, aku kuatir menambah keresahan serta kemurungan hatimu, maka keputusan untuk bertindak sendiri tanpa berunding lebih dahulu dengan dirimu”

Setelah mengetahui bahwa kejadian itu sama sekali tak ada hubungannya dengan Hoa Thian-hong, legalah perasaan hati Pek Kun-gie, cepat ia melepaskan cekalannya pada ujung baju ayahnya.

Sementara Ko Hong bwe sendiri dengan dahi berkerut segera menegur, “Sebagai umat manusia sayangilah sesamanya dengan penuh cinta kasih, apa gunanya melakukan dosa dengan membunuh orang? Bagai-manapun juga engkau harus memikirkan pula bagi keturunanmu, janganlah oleh karena perbuatanmu, anakmu yang harus merasakan hukum karmanya!

Pek Siau-thian tersenyum.

“Aku bersusah payah memeras keringat dan tenaga berusaha untuk menemukan harta karun itu, kalau bukan disebabkan karena kau dan ke dua anakku, memangnya aku suka mencari peti mati buat diri sendiri!”

Ia menuding kedepan dan melanjutkan, “Coba lihat! orang- orang dari pihak Seng sut pay telah bergerak, hal ini menunjukkan bahwa persoalan ini menyangkut keselamatan jiwa orang banyak, jadi bukan aku seorang yang berpikiran sempit” Kho Hong-bwee berpaling kesamping, benar juga Tang Kwik-siu dengan membawa anak muridnya telah bermunculan dari rumah-rumah kayu mereka rupanya mereka sedang menantikan gerak-gerik dari pihak sini.

Tak tahan lagi perempuan itu menghela napas panjang katanya dengan hambar, “Bila aku berusaha keras untuk menghalangi perbuatanmu itu niscaya orang lain akan menuduh engkau takut bini dan tak berani berkutik terhadap istri sendiri, baiklah, lakukanlah perbuatan ini menurut perasaan hatimu, hanya ingatlah selalu bila engkau terlalu banyak membantai orang maka sama artinya engkau telah melukai perasaan hatiku!”

Tertegun Pek Siau-thian sesudah mendengar perkataan ini, selang sesaat dia baru menjawab.

“Jikalau mereka tahu diri dan segera mengundurkan diri dari pertikaian ini tidak mungkin melakukan pembantaian secara besar- besaran!”

Sehabis berkata ia lantas menjura ke arah Tang Kwik-siu dan memberi tanda agar ia yang turun tangan lebih dulu.

Melihat kode rahasia tersebut, Tang Kwik-siu balas memberi hormat dari kejauhan pula.

Pada hakekatnya dua orang sakti ini telah mengadakan kontak rahasia satu sama lainnya, maka selesai memberi hormat, masing-masing pihak lantas memimpin anak buahnya dan serentak menerjang ke arah tenda yang dihuni romboogan Jin Hian.

Posisi antara kedua belah pihak tidak terlampau jauh, selang sesaat kemudian jago-jago lihay dari pihak Teng sut pay dan Sin-kie-pang yang berjumlah tujuh delapan puluh orang bagaikan gulungan air bah telah menerjang ke depan.

Terlihatlah Jin Hian dengan sebilah golok emas yang memancarkan sinar kebiru-biruan karena mengandung racun, melompat keluar dari tendanya dengan garang kemudian menghardik keras-keras.

“Pek Loji, apa yang hendak kau lakukan?”

Rupanya pihak Hong-im-hwiee serta Thong-thian-kauw menyadari bahwa kekuatan mereka paling lemah diantara jago-jago yang hadir dibukit Kiu ci san dewasa itu, terutama sekali untuk berjaga-jaga atas serangan maut dari Pek Siau- thian, maka tiap malam peronda selalu diperketat dan sekalipun tak berani bertindak secara gegabah.

Kerena itu, ketika Pek Siau-thian munculkan diri dari rumah kayunya, pihak Hong im bwe telah mengetahui akan gerakan tersebut.

Begitu Jin Hian menegur secara langsung, serentak pasukannya dengan senjata terhumus telah melesat keluar dari tenda-tenda mereka dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Pek Siau-thian memang seorang jago yang berhati keji, tapi diapun tak berani melanggar permintaan istrinya, dalam susana kalut, ia lantas berseru keras, Siapa yang tak ingin mampus, cepat enyah dari sini!”

Berbareag dengan selesainya ucapan tersebut, sebuah serangan gencar telah dilepaskan kedada Jin Hian.

Tang Kwik-siu jauh lebih keji daripada orang-orang lain, kalau dihari-hari biasa setiap pembukaan katanya selalu diiringi senyuman, maka saat ini tanpa mengucapkan sepatah katapun ia menerjang kedepan dan langsung menyergap tubuh Thian Ik-cu.

Sejak sepasang kakinya kutung, Thian Ik-cu telah melatih ilmunya dengan sepasang toya baja, tatkala ia saksikan tibanya serangan yang amat dahsyat dari Tang Kwik-siu

,terpaksa senjatanya diputar untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

Dalam waktu singkat berkobarlah suatu pertempuran yang amat seru ditengah gelanggang.

Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw memang sudah rontok namanya dari muka bumi, akan tetapi banyak anggotnya yang masih hidup, dan mereka bukanlah manusia- manusia yeng mudah dihancurkan dengan begitu saja, terutama sekali Malaikat kedua Sim Kian anggota tubuhnya tetap utuh dan ilmu silatnya masih tetap hebat, apalagi rasa dendam telah berkecamuk dalam benaknya, membuat ia jadi paling ganas dan paling buas dalam pertarungan itu, setiap musuh yang dijumpainya segera diterjang dan diterkam dengan jurus serangan terkeji.

Suasana jadi gaduh dan ramai sekali, suara benturan senjata dan bentakan-bentakan kegusaran bergema memenuhi seluruh angkasa, kutungan badan, lelehan darah menggenangi seluruh permukaan tanah, membuat pemandangan ditempat itu tampak mengerikan sekali.

Sengit dan mengerikan sesasana pertarungan itu, semua jago dibuat terkejut dan sadar dari tidurnya, selain itu Hoa Thian-hong yang sudah empat hari empat malam terlelap dalam latihannya, ikut sadar pula dari konsentrasinya. Selama Hoa Thian-hong mendalami ilmu silatnya, suara lain sama sekali tidak mempengaruhi dirinya, akan tetapi suara pertarungan dan jerit kesakitan seketika menyadarkan kembali anak muda itu dari semedinya.