Tiga Maha Besar Jilid 29

 
Jilid 29

“SETELAH harta karun itu berhasil ditemukan, peristiwa ini pasti akan menggetarkan seluruh kolong langit, pada waktu itu para jago dari segala pelosok dunia pasti akan berdatangan untuk mencari bagian, soal terpenting bagi sang pemimpin ini adalah mencari jalan pemecahan bagaimana caranya mengendalikan massa, bagaimana memberi perintah kepada mereka, siapa yang berjasa akan diberi pahala apa, siapa yang salah harus diberi ganjaran apa, semua kebijaksanaan ini tergantung padanya dan mengandalkan ilmu silat tok tak mungkin bisa mengatasi kesemuanya itu!”

“Waah…. kalau mesti mencari manusia seperti ini, sukarlah rasanya!” kata Cu Im taysu sambil menghela nafas panjang.

“Apakah locianpwe berempat sudah mempunyai pandangan ataupun gambaran tentang siapakah yang cocok uutuk menempati jabatan ini?” tanya Suma Tiang-cing kemudian.

Mendapat pertanyaan tersebut empat datuk dari bukit Hoang san serentak gelangkan kepalanya, Sekalipun belum ada sekarang toh masih ada kesempatan untuk memilih, bagaimana pun juga kita kan tak bisa membiarkan mereka cari dan berusaha sendiri dengan mengadu nasib!”

Berbicara sampai disit, tiba-tiba teringat oleh Suma Tiang- cing bahwa keempat datuk dari gunung Hoang san pun berbasil mendapatkan sebiji buah merah lantaran nasib mereka yang baik ia lantas riku sendiri karena tanpa sadar ia telah mengorek luka orang, hal ini berarti kurang sopan kepada mereka berempat, tanpa terasa merahlah selambar wajahnya. Terdengar Po-yang Lojin tertawa terbahak, kemudian berkata, “Suma tayhiap adalah pendekar sejati yang berjiwa terbuka apa yang dikatakan memang tepat sekali, lagi pula masalah yang paling kita kuatirkan adalah pertumpahan darah yang bakal terjadi setelah harta karun itu ditemukan, menurut keadaan yang sepantasnya memang harus kita pilih tapi sayangnya sudah lama kami tak pernah bergaul dengan orang lain susah rasanya bagi kami untuk mencari manusia seperti yang dimaksudkan.

Suma Tiang-cing agak tertegun, tiba-tiba dia berpaling sambil bertanya .

“Thian-hong beranikah engkau memegang jabatan ini?”

Betapa terperanjatnya Hoa Thian-hong setelah mendengar pertanyaan itu, cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya.

“Keponakan masih terlalu muda, tidak becus aku untuk memegang jabatan itu, lagi pula dengan watakku dan kemampuanku, siapa yang sudi mendengarkan perkataanku?”

Ca Im taysu termenung sebentar, kemudian dia ikut berkata, “Aaii….! Sebenarnya hanya seorang yang pantas memegang tampuk pimpinan ini dan orang itu adalah Hoa Hujin, cuma sayang….”

“Sampai dimanakah kepulihan ilmu silat ibumu?” tanya Suma Tiang-cing sambil berpaling ke arah pemuda itu.

“Ilmu meringankan tubuhnya sudah pulih kembali dua tiga bagian!”

“Waah…. kalau cuma dua tiga bagian tak mungkin bisa menduduki pucuk pimpinan, sebab bagi orang yang belajar silat hanya akan tunduk kepada orang yang ilmu silat nya lebih lihay, jika mereka harus tunduk kepada seorang manusia yang lemah dan tak berkekuatan apa-apa, siapa yang kesudian tunduk perintah?”

“Bagaimana kalau biar ibuku yang memegang pucuk pimpinan, sedangkan kita semua akan bantunya dari samping?”

“Tidak mantap!” jawab Suma Tiang-cing dengan dingin, “kalau caramu itu bisa dilakukan, apa salahnya kalau biar aku saja yang memegang pucuk pimpinan kemudian kalian membantu aku dari samping?”

“Dosa! Dosa….!” ujar Cu Im taysu sambil tertawa, “perkataan yang sama sekali tak ada manfaatnya, lebih baik tak usah dibicarakan saja daripada buang waktu dan tenaga dengan percuma!”

“Menurut keterangan Cu ing, hingga dewasa ini perkumpulan Sia ki pang masih merupakan satu kekuatan yang amat besar, apabila Kiu-im Kaucu dan Tang Kwik-siu memang memusuhi kaum pendekar dari golongan lain, maka pihak Sin-kie-pang merupakan daya kekuatan yang bi-sa diandalkan untuk mengimbangi kekuatan lawan, apakah pihak Sin-kie-pang bersedia tunduk dibawah perintah jikalau Hoa Hujin yang memegang pucuk pimpinan ini!”

“Heeehh…. heeeh…. heeeh, perkumpulan Sin-kie-pang berambisi besar dan angkuhnya luar biasa, mana mau mereka tunduk kepada perintah kita?” seru Suma Tiang-cing sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Tiba-tiba Lau Cu cing menyela, “Aku lihat Pek hujin amat menaruh perhatian dan rasa sayang kepada Hoa kongcu, aku rasa setiap perkataan dari Hoa kongcu selalu dituruti olehnya!” Cu Im taysu tertawa, ia menjawab, “Pek hujin menyayangi Hoa Thian-hong oleh karena ia mempunyai niat untuk menarik Thian-hong, sebagai menantunya, dia memang seorang nyonya yang bijaksana dan baik hati.”

“Hehmm…. heehhm…. aku lihat jika Sin-kie-pang benar- benar disetir oleh Kho Hong-bwee maka bicara soal pribadi maupun soal tugas sudah pasti Thian-hong berada dipihak yang rugi!”

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong, dia ingin membantah tetapi tak tahu musti berkata dari mana.

Liu lojin berkata pula, “Menggali harta karun bukan suatu pekerjaan yang mudah dan gampang, untuk mengerjakannya kita membutuhkan banyak tenaga dan banyak manusia, aku lihat jumlah anggota perkumpulan Sin-kie-pang banyak sekali mereka adalah suatu kekuatan yang tak boleh dianggap enteng!”

Tiba-tiba sinar setajam sembilu memancar keluar dari mata Suma Tiang-cing dengan blak-blakkan dia menegur, “Locianpwe berempat, aku lihat kalian toh sangat memahami keadaan situasi dalam dunia persilatan kalau ingin mengatakan sesuatu kenapa tidak diutarakan saja secara terang-terangan?”

Empat datuk dari gunung Huang-san saling berpandangan sekejap, akhirnya Po-yang Lojin berkata dengan serius, “Terus terang saja kami katakan, bahwa kami berempat sangat setuju kalau Hoa kongcu yang menduduki jabatan sebagai pucuk pimpinan didalam pergerakan ini. Perlu di ketahui bahwa masalah ini menyangkut masalah kekerasan yaitu meliputi kedudukannya dalam dunia persilatan serta kelihayan ilmu silatnya, disamping itu juga menyangkut dalam soal moral yakni meliputi soal kebijaksanaan, adil dan lebih mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi. Sudah lama kami berempat berusaha menemukan manusia semacam ini, dan akhirnya kami merasa bahwa diantara sekian banyak orang gagah yang ada didalam dunia persilatan, hanya dia seoranglah yang mampu menandingi

Kiu-im Kaucu maupun Tang Kwik-siu, tapi berhubung tugas ini berat dan menyangkut masalah yang lebih besar lagi sedikit salah bertindak bukan saja nama baiknya akan hancur, jiwa akan melayang, menyangkut pula keselamatan orang lain, maka….”

Tidak sampai kakek tua itu menyelesaikan kata-katanya, Suma Tiang-cing telah berpaling seraya menegur, “Thian- hong, bersediakah engkau untuk menerima kedudukan ini?”

Dengan gugup bercampur gelisah, Hoa Thian-hong segera menjawab, “Apabila tugas ini dapat dilaksanakan secara sempurna dan baik, dunia persilatan tentu akan jadi aman tentram dan damai, cara ini memang jauh lebih baik daripada bertempur dengan pedang atau golok melawan kaum penjahat.”

“Benar!” sambung Cu Im taysu, bilamana engkau bisa melaksanakan tugas mulia ini dengan sebaik-baiknya, tak malu engkau menjadi seorang manusia didunia ini.

Aku yang muda sama sekali tak berniat tamak atau kemaruk harta, apabila sanggup kulakukan dengan kekuatanku, dengan senang hati akan kuterima tugas berat tersebut, tapi aku merasa bahwa kekuatanku masih terlalu lemah.

“Telur busuk!” maki Suma Tiang-cing dengan gusar, “sebagai seorang laki-laki sejati berani berbuat tentu berani tanggung jawab, bila engkau telah menyanggupinya, apalagi yang muski kau ragukan?”

“Aaaii!” Cu Im taysu menghela nafas parjang, “untuk melaksanakan tugas yang maha berat ini, kita memang harus berbuat dengan sungguh-sungguh dan sepenuh tenaga, kalau hanya berdasarkan emosi belaka, mendingan kalau cuma dirinya sendiri yang rugi, kalau sampai mencelakai umat manusia kan berabe?”

Dewasa ini kita tak dapat menemukan orang lain yang cocok untuk memikul tanggung jawab ini, itu berarti tugas ini tak bisa terhindar dari halnya bagaimana musti hati-hati, bagaimana musti bertindak, semuanya itu toh urusan belakangan”

Setelah berhenti sebentar dengan wajah lebih kendor dia melanjutkan kata-katanya, “Mulai saat ini juga telah menerima tugas itu dan kami semua akan menurut perintahmu, sekalipun aku adalah angkatan yang lebih tua dari padamu tapi sejak kini aku pun tak akan bersikap keras lagi kepadamu dari pada menghilangkan martabatmu dimuka umum”

“Terima kasih atas kasih sayang paman!” cepat Hoa Thian- hong bangkit dan memberi hormat.

Po-yang Lojin segera tertawa terbahak-bahak, “Haaahh…. haaah…. haaah….Hoa kongcu sekarang marilah rundingkan soal rencana besar ini lebih jauh!”

Hoa Thian-hong termenung dan berpikir sebentar, kemudian berkata, “Boanpwe rasa, kata-kata yang telah kita bicarakan di muka tadi tiada halangannya didengar orang luar, tapi kata-kata berikutnya lebih baik untuk sementara waktu kita rahasiakan dulu!” “Apa maksudmu?” seru Suma Tiang-cing dengan wajah berubah hebat.

Sebelum anak muda itu memberikan jawabannya, dari luar ruangan tiba-tiba terdengar seseorang tertawa tergelak menyusul suara dari Kiu-im Kaucu berkumandang diudara, “Hoa Thian-hong kuucapkan selamat kepadamu karena memangku jabatan tinggi ini, nyonyamu bersedia mendengarkan perin tahmu…. haaah…. haaah….”

Betapa gusarnya Suma Tiang-cing sukar dilukiskan dengan kata-kata, cepat dia melejit dan melayang keluar ruangan itu, kemudian dari atas atap dia melongok keluar.

Beberapa ratus kaki dari bangunan itu terlihatlah Kiu-im Kaucu dengan tongkat kepala setannya sedang berlalu sambil tertawa terbahak-bahak, sungguh cepat gerakan tubuhnya, dalam waktu singkat ia sudah berada jauh sekali dari situ.

Suma Tiang-cing mendengus dingin, setelah mengitari kuil itu satu kali, dia kembali lagi kedalam ruangan, tegurnya ke arah Hoa Thian-hong, “Sedari kapan setan tua itu tiba disini?”

Keponakan menaruh curiga bahwa dia akan menguntit kita semua, maka secara diam-diam kuperhatikan terus sekitar tempat ini, benar juga, baru saja kita sampai disini, diapun tiba pula keatas ruangan ini, keponakan ingin membuat dia jadi kheki, maka sengaja kubiarkan dia berdiri agak lama diluar sana setelah kita akan membicarakan so al yang penting, barulah kita usir dia pergi

Kenapa muski begini! tanya Suma Tiang-cing dengan dahi berkerut.

Orang itu paling suka mencari urusan, sedikit saja ada angin bertiup atau rumput bergerak, dia merasa harus ikut ambil bagian, kini soal mencari harta karun sudah ketahuan olehnya, makaa diapun pasti akan menyelidiki persoalan ini sampai jelas, bila kita tidak membiarkan dia tahu setelah kita semua pergi, dia pasti akan kembali kemari dan memaksa It Pian suhu untuk menceritakan baginya, malahan mungkin juga akan mencari gara-gara dengan Lan wangwe, padahal Ku Ing- ing juga masih berada ditangannya, karena itu keponakan sengaja hendak membuyarkan perhatiannya”

Mendengar keterangan itu, Po-yang Lojin segera tertawa terbahak bahak, “Haahh…. haaah…. haaah…. Hoa kongcu engkau benar-benar amat teliti!”

“Locianpwe engkau tak tahu duduknya persoalan ini, boanpwe jadi ketakutan dibuatnya oleh tingkah mereka!”

Po-yang Lojin mengelus jenggotnya dan tertawa, tanyanya, “Apa rencana kongcu tentang tindakan kita selanjutnya?”

Hoa Thian-hong berpikir sebentar, kemudian jawabnya, “Pertama-tama boanpwe ingin mohon bantuan dari Lau lo wangwe untuk berkunjung ke perkampungan Liok soat san ceng serta merundingkan rencana penggalian harta karun ini dengan ibuku, istriku adalah seorang yang ahli dalam ilmu racun, kemungkinan besar ia dapat memunahkan pula racun kelabang yang bersarang di tubuh lo wangwe, menurut pendapatku bila usaha pertolongan ini tidak berhasil, toh masih ada kesempatan untuk menyusul ke kota Sam kang stan.

“Rencana ini bagus sekali” sahut Cu cing dengan girang, “sudah lama aku dengar dan kagum atas nama besar to hujin, memang ma salah besar ini harus diberitahukan kepada lo hujin, sedangkan mengenai racun kelabang ini aku lebih baik mati keracunan daripada musti tunduk dan minta belas kasihan dari Tang Kwik-siu!” “Cu cing! Keberangkatanmu kesana lebih banyak manfaatnya dari pada kerugian” kata Po-yang Lojin, tentang soal ini rasanya engkau sendiripun setuju bukan? sedangkan kami empat saudara adalah kuda-kuda tua yang mengerti jalan, sekalipun nyawa kami sebagai pertaruhan kami berempat tetap akan ikut serta dalam perjalanan menuju bukit kiu ci san, entah bagaimana menurut pendapat Hoa kongcu?”

Tentu saja Hoa Thian-hong tak dapat menolak keinginan orang lain, terpaksa ia berkata.

“Apabila menuruti pendapat boanpwe, lebih baik locianpwe berangkat lebih dahulu keselatan dengan ditemani oleh Cu Im taysu, toh persoalan ini tak mungkin bisa diselesaikan dalam satu dua hari belaka, sepanjang perjalanan menuju sana tentu melelahkan badan, maka dari itu lebih baik boanpwe saja yang berangkat kesana ini hari juga agar bisa meninjau situasi dibukit Kiu ci sambil mengamat-amati gerak-gerik dari Tang Kwik-siu!”

“Bagus sekali, Lo Siansu! Bersediakah engkau menemani kami berempat menuju bukit Kiu ci san?”

Cu Im taysu adalah seorang jago silat kawakan tentu saja dia dapat memahami maksud hati pemuda itu.

Empat datuk dari bukit Huang-san memang sudah tua, ilmu silatnya tak seberapa, itu berarti dia yang bertugas menemani mereka disepanjang perjalanan sebagai pelindung.

Segera sahutnya setelah mandapat pertanyaan itu. “Dengan senang hati pinceng bersedia menmani locianpwe

berempat, silahkan cianpwe berempat yang menetapkan

jadwal pemberangkatan!” “Kami berempat tidak lebih hanya burung-burung bangau liar yang terbang kesana kemari tanpa arah tujuan, baiklah, kita segera berangkat sesudah tinggalkan tempat ini!”

Sementara itu Suma Tiang-cing telah berpaling ke arah Hoa Thian-hong seraya bertanya, “Bagaimana dengan aku? Kalau engkau ada perintah, silahkan diutarakan tanpa sungkan- sungkani”

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong karena jengah, katanya kemudian, “Setelah berita penggalian harta karun ini tersiar keluar, kawanan jago silat dan orang gagah dari seluruh pelosok dunia akan berdatangan kebukit Kiu ci san, menurut pendapat boanpwee hanya empek Ciu seorang yang tak akan munculkan diri karena masalah ini, sebab sebagai seorang pendekar sejati yang berjiwa besar, tak mengkin ia kesudian turut serta didalam perebutan harta milik orang.”

“Benar, Ciu Thian-hau memang tak boleh ketinggalan dalam gerakan ini!” komentar Cu Im taysu.

“Baiklah!” kata Suma Tiang-cing kemudian, “akan kuseret dia untuk turun gunung kemudian menyusul kalian kebukiit Kiu ci San!”

“Lo siansu kalan toh kepntusan telah di ambil, bagaimana kalau kita berangkat sekarang juga?” tiba-tiba Po-yang Lojin berkata.

Buru-buru Cu Im taysu melompat bangun, sahutnya, “Ini tahun siau ceng baru berusia enam puluh dua tahun kata lo didepan sebutan cianpwe tadi tak berani kuterima!” Begitulah setelah pertandingan selesai, secara beruntun mereka keluar dari ruangan itu siap berangkat, It piau hwesio yang menghantar keberangkatan para tamunya beberapa kali hendak buka suaranya, tapi setiap kali niat itu dibatalkan.

Cu Im taysu seperti memahami isi hatinya, ia lantas bertanya, “Suheng, apakah engkau hendak menyampaikan sesuatu pesan?”

It piau hwesio termenung dan sangsi sebentar, akhirnya sepatah demi sepatah kata sahutnya.

Dengan melewati seribu bukit selaksa sungai dan bersusah payah, Tong Sam cong hoatsu berhasil mencapai negeri Thian tok dan berkat belas kasih Sang Buddha, beliau dapat pulang dengan membawa setumpuk kitab sembahyangan, kita sebagai murid Buddha yang maha pengasih.

Ooh kiranya soal itu, Cu Im akan selalu mengingat persoalan itu, seandainya kitab sembahyangan itu benar-benar berada didalam is tana Kiu ci kiong, aku pasti akan berusaha keras untuk mendapatkannya.

Sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba bisiknya, “Apakah suheng juga ingin ikut serta dalam perjalanan menuju kebukit Kiu ci san?”

It piau hwesio tampak agak tertegun setelah mendengar pertanyaan itu, sahutnya tergagap, “Aku bukan orang persilatan, biar…. biar lah aku mempertimbangkan lagi selama beberapa hari!”

Cu Im taysu mengangguk, ia lantas putar badan dan berlalu mengikuti dibelakang para jago. Suma Tiang-cing berangkat dulu seorang diri, karena dia harus menuju ketelaga Tay su.

Sedangkan Hoa Thian-hong juga berpisah dengan rombongan, dia langsung kembali ke rumah penginapannya.

Setelah bersantap malam udarapun kian menjadi gelap, seorang diri si anak muda itu duduk termenung dalam kamarnya, ia sedang memikirkan masalah yang menyangkut diri Giok Teng Hujin, akhirnya pemuda itu mengambil keputusan malam nanti dia akan sekali lagi menyelidiki kuil It goan koan, bila perlu diapun akan melakukan perundingan babak terakhir dengan Kiu-im Kaucu.

Sementara ia masih termenung melamunkan banyak persoalan, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang.

Hoa Thian-hong agak tertegun kemudian tegurnya, “Siapa diluar?”

“Aku!” jawaban itu amat rendah parau dia sepertinya pernah dikenal.

Berkerut dahi Hoa Thian-hong mendengar jawaban itu, ia meraba gagang pedangnya dan perlahan-lahan membuka pintu kamar.

Tapi ketika sorot matanya membentur di atas wajah pendatang itu, mendadak sekujur badannya gemetar keras.

“Oh, kau….” bisiknya lirih.

Ditengah kegelapan seorang gadis baju hitam berkain cadar warna hitam berdiri di luar pintu, Pui Che-giok sambil membopong Soat-ji berdiri dibelakang gadis berkerudung ini. Begitu melihat kemunculan Pui Che-giok serta Soat-ji, serta-merta Hoa Thian-hong lantas menduga bahwa gadis berkerudung hitam yang berada dihadapan matanya sekarang tak lain adalah Giok Teng Hujin.

Sekalipun sudah menduga sampai kesitu, pemuda itu masih tampak agak sangsi, bukankah Giok Teng Hujin lebih gemuk dan lebih montok dari pada gadis dihadapannya sekarang?

Dan lagi andaikata dia adalah Giok Teng Hujin, mengapa raut wajahnya ditutup oleh kain cadar berwarna hitam?

Tatkala gadis berkerudung hitam itu menyaksikan kekagetan Hoa Thian-hong, dua titik air mata tanpa terasa menetes keluar membasahi pipinya dibalik kata cadar, bisiknya lirih, “Thian-hong!”

Semakin tergetar perasaan hati Hoa Thian-hong sebelah mendengar panggilan itu, ia genggam sepasang tangan gadis itu erat-erat lalu bisiknya pula dengan gemetar, Gadis berkerudung itu memang tak lain adalah Giok Teng Hujin, tapi segala sesuatunya telah berubah, tubuhnya berubah jadi kurus kering, dandanan serta pakaiannya jauh lebih sederhana, gerak-gerik maupun suara pembicaraannya berubah jadi berat dan kaku, gadis itu seolah-olah telah berubah jadi manusia lain.

Lama sekali kedua orang itu berdiri saling berhadapan muka, mereka tak bergerak maupun berkutik sementara empat mata saling berpandangan dengan air mata jatuh bercucuran.

Pui Che-giok melewiti dua orang itu dan masuk kedalam kamar sambil memasang lentera, bisiknya, “Kongcu silahkan duduk!” Hoa Thian-hong menghela napas panjang, sambil bergandengan tangan mereka masuk kekamar dan duduk bersanding diatas pembaringan.

Pui Che-giok menampilkan sekulum senyvman paksa, katanya, “Ini hari nona belum bersantap biarlah kuperintahkan pelayan untuk siapkan hidangan.”

Selesai berkata ia lantas berlalu.

Sepeninggal dayang itu, Hoa Thian-hong mengamati wajah perempuan itu beberapa saat, kemudian sambil memberanikan diri tanyanya, “Cici, bagaimana dengan wajahmu?”

“Wajahku kena penyakit, aku tak ingin menunjukkan di hadapanmu!” jawab Giok Teng Hujin dengan lirih.

Setelah mengetahui kalau wajah gadis itu tidak cedera, diam-diam Hoa Thian-hong menghembuskan napas lega, ia tersenyum dan kembali katanya lagi, “Aaahh….! Kiranya cuma urusan kecil, perlahan-lahan toh akan sembuh dengan sendirinya, aku jadi menguatirkan kalau wajahmu cedera berat!”

Perlahan-lahan Giok Teng Hujin berpaling. “Seandainya wajahku cedera dan rusak? bagaimana

perasaan hatimu?” ia bertanya.

“Aaai! Padahal apa bedanya ruasak atau tidak, asal pikiran cici bisa lebih terbuka, bagi aku sih bukan soal”

“Coba rabalah wajahku tapi kau musti meraba dengan memakai punggung tangan jangan pakai telipak tanganmu!” Hoa Thian-hong tertegun dan tidak habis mengerti oleh perkataannya tapi dia tahu gadis itu berkata demikian sudah pasti dikarenakan ada sebab-sebab tertentu.

Tanpa terasa ia membayangkan kembali kejadian masih berada dalam kuil It goan koan ketika sedang melaksanakan siksaan api dingin melelehkan sukma, perempuan itu pun berusaha menyembunyikan wajahnya dengan rambut yang panjang, semakin gadis itu merahasiakan wajahnya Hoa Thian-hong merasa makin curiga dan ingin tahu.

Akhirnya dia menyikap kain cadar itu dan merabanya dengan punggung tangan, ia menemukan wajah dara itu masih tetap utuh dan tidak mengalami cedera apa-apa, cuma wajahnya sekarang bertambah kering dan kehilangan kehalusan, kelembutan serta kekonyolannya dimasa lalu.

“Apakah sudah kau rasakan?” tanya Giok Teng Hujin kemudian dengan nada murung.

Hoa Thian-hong tertawa geli.

“Aku tidak merasakan apa-apa, aku lihat engkau yang telah membesar-besarkan suatu masalah yang sebetulnya kecil!”

Dengan sedih Giok Teng Hujin menghela napas panjang, kembali ia berkata, “Aaii….! Kau anggap siksaan api dingin melelehkan sukma adalah suatu penyiksaan mainan yang bisa dibuat sebagai bahan gurauan? Api dingin dari lentara itu sudah memusnahkan masa mudaku, sekarang aku sudah menjadi tua”

Pertama-tama Hoa Thian-hong agak terperanjat, tapi sebentar kemudian ia sudah tertawa seraya berkata, “Tua biarkanlah jadi tua, toh makin meningkat usia seseorang, wajahnya juga akan ikut berubah jadi tua, siapa yang dapat awet muda terus?”

Giok Teng Hujin tundukkan kepalanya dengan sedih. “Tapi engkau toh belum tua bisiknya lirih, dahulu saja aku

tak bisa menangkan Chin Wan-hong serta Pek Run gie, apa

lagi setelah wajahku jadi tua dan peyot, lebih-lebih tak dapat kutandingi kecantikan mereka berdua!”

Hoa Thian-hong tertawa, tertawa dengan suara dan nada yang berat memilukan.

“Aku tahu, bila aku terlalu banyak memberikan penjelasan serta keterangan maka engkau malahan tak akan mempercayai diriku lagi, pokoknya engkau boleh ingat baik- baik, biar langit jadi gersang tanah jadi tua namun cintaku padamu tak akan tua, bagaimanapun berubah jadi tua, dalam hati kecilku engkau selamanya tetap kau. Aasai….Sekali pun engkau secara tiba-tiba dapat berubah jadi seorang dara berusia belasan aku tak dapat memberikan cinta yang lebih banyak kepadamu sekalipun kau berubah jadi nenek-nenek yang peyot dan rambut telah berubah semua, akupun tak dapat memberikan cinta yang lebih sedikit padamu asal kau ingat saja bahwa samudera boleh mengering batu boleh menjadi lapuk namun cintaku padamu tidak akan berubah untuk selama-lamanya!”

Giok teng hajin termenung untuk beberapa saat lamanya, kemudian ia berkata lagi, “Rupanya semakin lama engkau semakin pandai berbicara, perka-taanmu pun makin lama semakin dewasa, apakah selama ini kau hidup dalam segala kemurungan dan segala kesulitan?”

Hoa Thian-hong mengangguk. “Pek Kun-gie terjatuh ke tangan Tang Kwik-siu dan sekarang aku menemukan pula masalah pencarian harta karun, jalan yang terbentang didepan mata jelas banyak rintangan dan kesulitan, berhasil atau gagal sukar diramalkan mulai sekarang, kalau tugasku tidak terlalu berat, kenapa tiap hari aku musti bermuram durja? Aaaai! Engkaupun harus mengepos semangat dan tenaga untuk membantu aku dalam penyelesaian tugas-tugas ini.”

“Apa sangkut pautnya antara aku dengan urusannya Pek Kun-gie?” tanaya Giok Teng Hujin sambil tertawa.

0000O0000

85

Hoa Thian-hong miringkan kepalanya lalu tertawa, sahutnya, “Untuk mengatasi masalah yang ada didunia ini, segala sesuatunya tergantung pada diri sendiri, misalnya dalam masalah Pek Kun-gie mau tak mau aku harus mengurusinya, dan masalahku, mau tak mau engkau pun harus mencampurinya pula, bila Thian telah mengatur segala sesuatunya secara rapi, siapakah yang dapat membangkang perintah Nya?”

Setelah mendengar perkataan itu, tanpa sadar Giok Teng Hujin merasakan dada dan perasaan hatinya jauh lebih segar, lega dan terbuka, bagaimanapun juga ia merasa bahwa didunia ini masih ada seseorang yang masih membutuhkan hiburan serta bantuannya, hal ini membangkitkan kembali gairahnya untuk hidup.

Sambil tertawa cekikikan ujarnya, “Kalau toh Pek Kun-gie berada dalam keadaan bahaya, kenapa engkau tidak merasa sedih ataupun gelisah, mau apa engkau berkeliaran ke kota Cho ciu bukannya pergi menolong si dia?” Hoa Thian-hong tertawa getir.

“Kenapa lagi kalau bukan lantaran kau?” sahutnya. Kemudian sambil menunjuk kedepan, dia melanjutkan,

“Sewaktu aku berjumpa muka dikota Cho ciu tempo hari

penemuan itu dilangsungkan dalam kamar itu maka setelah datang kembali kesini tanpa kusadari aku telah kembali lagi kekamar ini masa engkau masih belum paham dengan perasaan hatiku pada dirimu?”

Giok Teng Hujin tertawa cekikikan meski pun dihati ia merasa hangat dan mesra namun diluaran sahutnya dengan suara hambar.

“Jangan omong sembarangan, perempuan hidup lantaran cinta, pokoknya separuh hidupku selanjutnya adalah tanggung jawabmu.”

Hoa Thian-hong tertawa ringan.

“Eeh cici, aku adalah seorang laki-laki yang tak tahu budi, lagipula nasibku jelek, kunasehati dirimu lebih baik cepatlah sadarkan diri dan mencari tulang punggung yang lebih baikkan!”

Giok Teng Hujin tertawa cekikikan, setelah berhenti sebentar dia lantas alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, ujarnya dengan suara lantang, “Setelah Kiu-im Kaucu tahu bahwa engkau adalab penyelenggara pencarian harta karun seketika itu juga aku dibebaskan, katanya hukuman siksaan untuk sementara waktu di tunda dulu, ia perintahkan aku membuat pahata untuk menebus dosa.” “Bagaimanakah jawabanmu?” tanya Hoa Thian-hong dengan dahi berkerut kencang”

Giok Teng Hujin tertawa merdu.

“Aku jawab lihat saja perkembangannya nanti, aku akan berbuat dengan segala kemampuanku. Hmmmm! Aku nyaris mati ditangannya, sejak itu pula aku sudah tak pandang sebelah matapun terhadap kancu itu.”

“Aku tahu persoalan ini tak akan berakhir dengan begitu saja, tampaknya ia memang harus dibikin mampus!” kata Hoa Thian-hong sambil tertawa getir.

“Kembalikan kecantikan dan kelembutan wajahku!” tiba- tiba Giok Teng Hujin berseru dengan manja.

“Tapi bagaimana caranya?” tanya Hoa Thian-hong dengan sepasang mata terbelalak besar dan lagi engkau toh baru saja menjalankan siksaan sudah tentu wajahmu jadi agak layu dan kusut!”

“Layu?” seru Giok Teng Hujin “wajahku sudah berkeriput, sudah jadi tua!”

Mula-mula Hoa Thian-hong agak tertegun kemudian sambil tertawa sahutnya, “Aku tidak merasa keberatan sekalipun kau jadi tua pokoknya kan hati kita telah berpadu menjadi satu?”

“Hmmm kau pintar omong kosong, janjimu muluk aku tak punya gairah untuk hidup lebih lanjut!”

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh. “Didalam istana Kiu ci kiong terdapat banyak sekali obat

mujarab, sekalipun harus pertaruhkan nyawamu engkau harus mendapatkan untukku, agar keriput-keriput diwajahku hilang semua dan kembali di masa muda, kalau tidak…. Hemm! Aku akan mati didepan matamu….”

Hoa Thian-hong tertegun, serunya cepat.

“Istana Kiu ci kiong sudah hampir seratus tahun lebih tenggelam keperut bumi, sekali pun ada obat mujarab yang bagaimanapun bagusnya toh akhirnya akan berubah jadi pasir.”

“Tidak mungkin, Kiu-ci Sinkun adalah seorang manusia yang cerdas dan berpengetahuan tinggi, tidak mungkin dia akan membiarkan obat obat mujarab itu hancur menjadi abu, obat mujarab itu tentunya telah disimpan secara baik-baik!”

Setelah berhenti sebentar ia melanjutkan kembali kata- katanya, “Kalau engkau tidak dapat mencarikan obat mnjarab yang bisa menghilangkan keriput-keriput diatas wajahku, maka engkau harus carikan sejenis ilmu sakti yang dapat mengembalikan kecantikan serta masa mudaku akan kucari suatu tempat yang sepi dan terpencil untuk melatih ilmu kepandaian tersebut, selama masa latihanku engkau hendak mencari tiga istri empat gundik aku tak mau tahu, pokoknya setiap setengah tahun sekali, engkau harus berkumpul selama beberapa hari dengan aku, menanti benar-benar sudah menjadi tua, hubungan kita baru putus jadi dua!”

Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong lantas berpikir di dalam hati kecilnya.

“Po-yang Lojin selalu menegaskan bahwa penyelenggara pencarian harta karun ini adalah seorang yang jujur dan tidak punya jiwa korupsi, barang-barang yang bukan menjadi miliknya tidak diperkenankan untuk diambil bagi diri sendiri, kalau sekarang ku-sanggupi permintaan Ku Ing-ing untuk mendapatkan kitab pusaka awet muda serta obat mujarab, kemudian Kun gie juga pesan satu dua macam, Wan hong juga pesan satu dua macam kemudian para cianpwe minta pula satu dua macam, bagaimana caraku bisa membagi isi harta karun itu secara adil dan bijaksana?”

Terdengar Giok Teng Hujin berkata lagi dengan murung, “Aku lihat dahimu berkerut daa mulutmu membungkam, perasaan hati mu tampak sangat berat, persoalan apakah yang membuat engkau merasa serba salah?”

Hoa Thian-hong tertawa kering.

“Aku sedang berpikir, jujur dan tidak korupsi memang gampang diucapkan tapi hakekatnya sukar untuk dilaksanakan!”

“Kalau manusia tidak berusaha untuk kepentingan diri serdiri, dunia akan kiamat dengan cepat, perduli amat jujur atau tidak korupsi atau tidak, selama engkau adalah manusia maka kau tak akan terlepas dari sifat mementingkan diri sendiri, kecuali bila engkau adalah seorang manusia super ajaib.”

“Bagaimana maksudmu?” tanya sang pemuda sambil tertawa.

“Air yang jernih tak akan ada ikannya, manusia yang jujur tak akan ada temannya, kalau engtau ingin menjadi seorang manusia yang jujur, bijaksana dan tidak korupsi, maka

bersiap-siaplah untuk menjadi seorang manusia sebatang kara yang tidak disenangi orang lain.”

Setelah berhenti sebentar, dia menambahkan, “Pokoknya bagaimanapun juga bila, kau tak dapat memenuhi harapanku ini maka aku akan beradu jiwa dengan dirimu, biar kita menjadi suami istri setan saja di alam baka!”

Hoa Thian-hong dibuat serba salah oleh tingkah laku perempuan itu, untung Pui Che-giok masuk sambil menghidangkan santapan sehingga si anak muda itupan bisa terlepas dari keadaannya yang serba salah.

Sambil menggandeng tangan pemuda itu, Giok Teng Hujin bangkit dan duduk di meja perjamuan, katanya, “Aku dan Che giok akan bersantap, kau duduklah disini menemani aku sambil menceritakan soal harta karun dibukit Kiu ci san, kentongan ketiga tengah malam nanti kita segera berangkat”

“Biarlah aku berangkat lebih dulu, sedang kau dan Che giok beirstirahat beberapa hari dulu dikota Cho chiu, setelah kesehatan badanmu pulih kembali….”

Cepat Giok Teng Hujin gelengkan kepalanya.

“Tidak, aku malahan ingin bersayap sehingga bisa sekali terbang tiba di bukit Kiu ci san dan angkat cangkul menggali sendiri tempat terkuburnya harta karun itu”

xxxx xxxx

Bukit Kiu ci san adalah serentetan bukit tinggi dengan sembilan buah patahan yang terjal diantara patahan-patahan terjal itu tergan tunglah air terjun yang tinggi dan deras.

Pada patahan terjal yang ketujuhlah istana Kiu ci kiong terpendam, tempat itu merupakan bukit yang tertinggi diantara sekian banyak bukit yang tersebut disana sini. Seratus tahun berselang istana itu berdiri angker dipuncak bukit tersebut warna keemasan ysng mentereng dapat terlihat sendari puluhan li jauhnya.

Tapi setelah mengalami banyak kejadian yang berubah- ubah kini istana Kiu ci kiong sudah lenyap dari permukaan tanah bahkan puing-puingpun tidak nampak.

Pagi itu di atas bukit telah kedatangan berombongan manusia yang berbaju kuning, rombongan itu dipimpin oleh ketua Seng sut pay yang lebih dikenal sebagai ketua Mo-kauw, Tang Kwik-siu.

Satu-satunya anggota perempuan yang ikut serta rombongan itu memang tak lain adalah Pek Kun-gie yang cantik jelita bak bidadari dari kayangan, putri kesayangan ketua Sin-kie-pang sedangkan keenam belas orang lainnya terdiri dari murid-murid Tang Kwik-siu termasuk diantaranya adalah Kok See-piauw.

Rombongan itu akhirnya mencapai puncak bukit yang tinggi itu, dihadapan mereka terbentanglah sebuah air terjun yang deras airnya, lebar telaga penampang air di bawah air terjun itu mencapai empat kaki dengan kedalaman lima depa.

Disamping telaga batu cadas tersebar disana sini semak belukar yang tinggi hampir menyeltmuti seluruh permukaan tanah.

Lama sekali Kok See-piauw mengamati keadaan disekeliling tempat itu, lalu tanyanya, “Suhu, masakah istana Kia ci kiong terpendam di bawah air terjun ini?”

Tang kwik termenung sebentar lalu menggeleng. “Aku rasa tidak, malahan mungkin berada dibawah tebing yang terjal ini!” sahutnya

Seorang manusia aneh bermuka jelek berambut dan beralis mata merah yang berada disisi kiri Tang Kwik-siu segera berseru, “Kalau toh sasarannya sudah diketahui, kita segera buntu aliran air ini dan mulai melakukan penggalian!”

Orang ini bertema Hong Liong murid tertua dari Tang Kwik- siu dengan membawa sekawanan adik seperguruan belum lama tiba didaratan Tionggoan untuk bergabung dengan gurunya.

Ketika mendengar perkataan tersebut, Tang Kwik-siu segera mengerutkan dahinya rapat-rapat.

“Menurut petunjuk dari Cousu ya, istana Kiu ci kiong didirikan diatas sebidang tanah yang luasnya mencapai seribu hektar, begitu luas dan besarnya tempat itu sehingga hari keempat setelah tanah merekah, semua bangunan itu baru terkubur kedalam perut bumi, untuk melakukan penggalian kita harus menemukan lebih dahulu pintu masuknya serta jalan utama yang berhubungan dengan istana itu, sekalipun kita lakukan penggalian, sepuluh sampai setengah bulan pun belum tentu bisa kita selesaikan pekerjaan penggalian ini.

“Lalu apa yang musti kita lakukan?” tanya Hong Liong dengan dahi berkerut.

“Untuk melakukan pekerjaan besar ini, kita harus bekerja sama dengan orang-orang persilatan dari daratan Tionggoan, kalau tidak begitu, kenapa kita tidak diam-diam saja meluruk kesini untuk menggali tanah, sebaliknya musti memutar kayun dan mengejutkan semua jago didaratan Tionggoan?” Sementara itu Pek Kun-gie sedang berdiri ditepi kolam sambil memandang pesona air terjun dihadapannya, keatika mendengar perkataan itu dia lantas berpaling dan memandang ke arah lawannya dengan sorot mata yang dingin dan tajam, setajam sembilu.

Tang kwik Sin segera tertawa terbahak-bahak. “Haahh…. haaah…. haaaahh…. selama beberapa hari

belakangan ini sikapmu mengalami perubahan besar, seakan-

akan telah berubah jadi manusia lain, bolehkah aku tahu apa sebabnya?”

Paras muka Pek Kun-gie dingin, ketus dan kaku, bukanya menjawab dia malah bertanya, “Kalau kudengar dari pembicaraanmu barusan, tampaknya engkau sengaja membocorkan rahasia harta karun ini kedalam dunia persilatan?”

“Haaah…. haah…. haah….” Tang Kwik-siu tertawa angkuh, “meskipun orang persilatan didatatan Tionggoan rata-rata licik dan banyak akalnya, akupun bukan seorang manusia yang tak betotak. Haaah haaah…. kalau aku sampai jatuh kecundang ditangan seorang budak seperti kau bukankah itu namanya perahu yang terbalik dalam selokan?”

Habis berkata, kembali dia tertawa terbahak-bahak. Pek Kun-gie mendengus dingin.

“Hemm! Jadi kalau begitu, engkau memang sengaja hendak menggunakan diriku untuk membocorkan rahasia harta karun ini kepada dunia luar?”

“Boleh juga kalau engkau menuduh diriku, tapi tahukah engkau dimanakah letak kelihayanku ini?” Tanpa berpikir panjang, dara itu segera menjawab, “Gampang sekali untuk menjawab pertanyaan ini, bukankah engkau kuatir ditunggangi orang lain bila engkau yang mencari orang lain untuk bekerja sama? Maka daripada menguntungkan orang lebih baik engkau menanti orang lain yang datang mencari dirimu sehingga dengan leluasa kau dapat mengajukan syarat?”

Sekali lagi Tang Kwik-siu tertawa tebahak-bahakk, “Haaah…. haaah…. haaah engkau memang sangat cerdik tapi aku lihat sikapmu beberapa hari belakangan ini berubah jadi dingin dan lamban mendatangkan antipati bagi mereka yang memandang, apakah aku boleh tahu sebab musababnya?”

“Engkau toh mengakui dirimu sebagai seorang manusia cerdik, Hmm! Rapanya soal inipun tidak kau pahami”

“Haaah…. haaah…. haaah…. hati orang perempuan bagaikan jarum didasar samudra sekalipun aku sudah berpikir selama beberapa hari toh tidak dapat kutemukan sebab musababnya tapi aku yakin engkau bukan sengaja memperlihatkan kepada kami”

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lagi, “Bila kau tak ingin racun dari kelabang langit itu bersarang dalam tubuhmu, sekarang juga aku dapat memunahkannya dari bagimu”

“Tidak perlu!” jawab Pek Kun-gie ketus.

Kiranya orang-orang dari Seng Sut pay menyebut kelabang tersebut sebagai kelabang langit, racunnya ganas dan luar biasa kejinya.

Pek Kun-gie telah digigit oleh kelabang tersebut setelah ditangkap orang-orang Seng Sut pay ini, racun keji binatang itu sudah lama bersarang dalam tubuhnya, dan kini Tang Kwik-siu secara sukarela hendak memunhakan racun itu bagi Pek Kun-gie, sebenarnya hal ini merupakan satu kesempatan

yang paling baik untuk membebaskan diri dari pengaruh racun itu.

Apa mau dikata, gadis itu malahan menolak tawarannya itu, malahan sikapnya tetap dingin dan kaku, tindakannya ini tentu saja membuat Tang Kwik-siu yang kejam dan berotak tajampun jadi kebingungan sendiri.

Sementara itu Pek Kun-gie setelah menyelesaikan kata-kata tersebut, sikapnya amat dingin dan hambar.

Kok See-piauw mengikuti semua gerak-gerik dara itu dengan pandangan tajam, paras mukanya tampak berubah hebat dan hawa gusar menyelimuti wajahnya tapi ia tak berani mengatakan sepatah katapun.

Dengan mata melotot, Hong Liong mengamati bayangan punggung Pek Kun-gie dengan mendelong, tiba-tiba tanyanya, “Suhu, mungkinkah budak ini hendak mengakhiri hidupnya dengan cara itu?”

Orang ini termasuk seorang iblis yang ganas, bengis dan memandang nyawa manusia bagaikan benda yang tak berharga, tapi terhadap Pek Kun-gie yang cantik jelita ia merasakan sesuatu perasaan yang aneh, ia merasa sekalipun tak mungkin dirinya bisa memperoleh benda yang sangat indah itu namun diapun kuatir kalau tiba-tiba benda yang indah itu musnah dengan sendirinya.

Tiba-tiba Kok See-piauw mendengus dingin. “Hmmm! Mungkin bagi toa suheng merasa agak asing deagan gaya dan gerak-geriknya itu, buat siaute sih sudah biasa…. lagu lama!”

“Ooh…. iya? Kenapa?” tanya Hong Liong dengan perasaan tertarik, sinar matanya berkilat.

“Dulu-dulunya dia memang telalu bersikap demikian sekalipun tatkala untuk pertama kalinya bertemu dengan bocah keparat she Hoa sikapnya juga tetap dingin kaku dan sedikitpun membawa ciri-ciri kewanitaannya”

“Bagaimana selanjutnya?” tanya Hong Liong semakin tercengang

Dengan gemas dan penuh kebencian, Kok See-piauw melanjutkan kata-katanya lebih jauh, “Akhirnya dia bertemu kembali dengan bocah keparat she Hoa itu dikota Cho ciu, entah apa sebabnya tiba-tiba ia terpesona dan terpikat oleh pemuda bangsat itu, sejak jatuh cinta sikapnya yang dingin dan hambar itu tersapu lenyap, sebagai gantinya senyum dan gelak tertawa selalu menghiasi wajahnya….”

“Lalu semanjak kapan sikapnya berubah kembali jadi dingin dan hambar?”

“Dua hari sebelum toa suheng tiba disini, padahal kamipun tidak bersikap kasar kepadanya”

Tiba-tiba Tang Kwik-siu tertawa terbahak-bahak, lalu serunya, “Haaahh haahh haaah kiranya begitu sekarang aku paham sudah!”

“Suhu, apa yang kau pahami?” cepat Hong Liong bertanya dengan perasaan ingin tahu. Menyaksikan sikap serta tingkah laku muridnya yang begitu ingin tahu, kembali Tang Kwik-siu berpikir, “Aaai, rupanya setiap orang memang suka akan gadis yang cantik, kembali ada seorang yang akan cemburu olah karena soal perempuan!”

Sementara dalam hati ia berpikir demikian, dimulut sahutnya sambil tertawa, Pastilah budak ini merasa gemas dan jengkel lantaran Hoa Thian-hong tidak muncul juga ditempat ini, maka akhirnya kemarahan dan kejengkelannya dilampiaskan kepada kita.

Mendengar penjelasan dari gurunya ini, hawa nafsu membunuh seketika menyelimuti wajah Hong Liong, serunya dengan cepat, “Oooh kiranya begitu, mendingan kalau keparat she Hoa ini tidak datang, kalau ia berani datang kesini maka aku segera akan mencabut jiwa anjingnya, baik atau jelek kita barus memboyong budak ini kembali ke Seng sut Pay!”

Tang Kwik-siu menarik muka, katanya, “Orang persilatan didaratan Tionggoan rata-rata licik dan banyak akal, bubungan masing-masing pihakpun sangat kacau dan tidak karuan, engkau tahu kenapa aku tidak manfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk menyelesaikan soal penggalian harta karun? Hal ini lantaran kau kurang cermat dan otakmu tidak jalan, kepandauanmu juga tak mampu menandingi orang- orang persilatan didaratan Tionggoan, makanya aku tak berani menyerahkan tugas mencari harta karun ini kepadamu.”

Sepasang mata Hong Liong melotot besar, serunya dengan penasaran, “Dengan tenagaku seorang aku bisa menaklukkan sepuluh perkumpulan, masa dengan kemampuan seperti ini aku tak dapat menandingi pula jago-jago silat dari daratan Tionggoan? Hmm! Kalau prinsipku, ketemu satu bunuh satu, ketemu sepasang bunuh sepasang, sekalipun mereka berakal licik, akan kubuat mereka tak mampu untuk menggunakannya….”

Tang Kwik-siu tertawa dingin.

“Hemm! Kalau begitulah prinsipmu, maka selamanya jangan harap kau bisa pulang ke wilayah Seng Sut hay”

Hong Liong sangat tidak puas dia malah hendak mencoba membantah, akan tetapi selelah dilihatnya paras muka gurunya rada aneh, terpaksa ia menahan diri.

Perlahan-lahan Tang Kwik-siu alihkan kembali pandangannya ke arah bayangan punggung Pek Kun-gie, lalu dengan suara dalam ia berkata, “Malam ini atau besok malam, orang-orang dari Sin-kie-pang serta Hoa Thian-hong pasti akan berdatangan kemari, selama aku tak ada di-tempat ini, kemanapun Pek Kun-gie hendak pergi lebih baik kalian jangan coba menghalangi dan kalianpun dilarang mencari gara-gara dengan siapapun, mengerti?”

Diam-diam Kok See-piauw merasa amat gelisah, ia lantas berseru, “Kalau toh memang begitu, kenapa kita musti memboyong dirinya datang kemari?”

Tang Kwik-siu tersenyum.

“Tentu saja aku mempunyai maksud-maksud tertentu dan rahasia di balik rencanaku ini tak perlu kalian ketahui”

Selesai berkata, ia lantas perintahkan muridnya untuk mencari kayu dan membangun rumah papan disitu sebagal persiapan untuk tinggal lama disitu, sedang dia seorang diri menuruni lembah dan bergerak menuju kealiran air dari kolam itu…. Hong Liong memerintahkan adik seperguruannya untuk bekerja, tatkala senja menjelang tiba mereka telah berhasil mendirikan beberapa rumah kayu yang sederhana dan selang sesaat rembulan telah muncul menerangi seluruh jagad.

Ditengah remang-remangnya suasana, belasan sosok bayangan manusia dengan gerakan yang sangat cepat bagaikan sambaran kilat bergerak mendekat, Hong Liong yang bermata tajam segera menegur dengan suara lantang

“Siapa yang datang?”

Tiada jawaban hanya salah seorang perempuan diantara anggota rombongan itu pun menyapa.

“Kun gie….”

Pek Kun-gie masih termangu-mangu ditepi jurang ketika secara tiba-tiba mendengar suara panggilan dari ibunya, ia tampak terpe-ranjat sehingga tubuhnya bergetar keras, buru- buru dia menyongsng maju kedepan.

Tatkala menyaksikan putri kesayangannya tidak mengalami cedera, Kho Hong-bwee merasa sangat lega, sinar matanya segera dialihkan ke arah beberapa buah rumah kayu yang barusan selesai dibangun itu.

Sementara itu, rombongan anak murid partai Seng sut hay yang mendengar tibanya s kelompok musuh segera berlari keluar dari rumah-rumah kayu itu, oleh sebab Tang Kwik-siu telah memberikan pesannya maka mereka tak berani mencari urusan.

Pek Soh-gie memburu maju kedepan, sambil merangkul adiknya dia menegur penuh perhatian, “Adikku, tidak apa-apa bukan?” Pek Kun-gie menggelengkan kepalanya, biji mata yang jeli kembali dialihkan ke arah rombongan yang baru tiba, dugaannya ternyata tak meleset, kekasih hati yang selalu dirindukan selama ini benar-benar belum munculkan diri.

Seketika itu juga dia merasa amat kecewa dan putus asa, hatinya terasa jadi remuk redam, ingin sekali dia menggorok lehernya untuk menghabisi hidupnya sendiri.

Para anggota perkumpulan Sin-kie-pang telah berdatangan semua, mereka pada maju memberi hormat dengan wajah berseri, sebaliknya Pek Kun-gie tetap menunjukkan wajah yang dingin, kaku dan hambar tiada jawaban yang terdengar, mulutnya selalu membungkam seakan-akan dia sama sekali tidak merasa gembira karena bebas dari tawanan.

Kho Hong-bwee yang cermat segera dapat menemukan keadaan yang kurang beres itu, dengan hati terperanjat segera tanyanya dengan suara dalam, “Apakah engkau sudah dirugikan!”

Perlu diketahui kecantikan Pek Kun-gie bak bidadari dari kahyangan, gadis cantik jelita seperti dia bila sampai terjatuh ketangan lawan maka keadaan tersebut ibaratnya domba dimulut harimau siapapun merasa tidak berlega hati.

Sebagai seorang dara muda, kesucian badan merupakan hal yang kadangkala lebih penting dari pada nyawa sendiri, tentu saja Kho Hong-bwee amat kuatir kalau putrinya telah dinodai oleh lawan.

Tentu saja dia tak menyangka kalau Pek Kun-gie bernasib mujur lantaran kecantikan wajahnya itu, oleh karena kecantikan wajahnya sukar dicarikan tandingan dikolong langit, maka orang menganggapnya sebagai suatu benda seni yang tak ternilai harganya membuat siapapun yang memandang merasa suka dan setelah suka tak ingin merusaknya siapapun merasa tak tega untuk menghancurkannya dengan begitu saja.

Selama ini Pek Kun-gie memang telah mengiringi anak murid partai Seng sut pay untuk melakukan perjalanan sejauh sepuluh laksa li, sepanjang jalan siapa pun melamunkan hal yang tidak-tidak, apalagi Tang Kwik-siu sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar, tentu saja lamunannya jauh lebih hebat daripada anak muridnya.

Sekalipun begitu ia selalu merasa bahwa memperkosa Pek Kun-gie dengan suatu paksaan merupakan suatu tindakan yang keliru besar, perbuatannya itu pasti akan merusak pemandangan, dan lagi pihak Sin-kie-pang maupun Hoa Thian-hong pasti tak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, itu berarti pula dia akan merusak rencana besarnya untuk menggali harta karun.

Dengan dasar pelbagai alasan inilah, Tang kwiw Siu selalu mawas diri dan menahan nafsu untuk tidak sampai menodai Pek Kun-gie yang cantik, ini bukan berarti dia telah melepaskan dara itu dengan begitu saja, ia sendiripun masih punya keinginan untuk melakukan perbuatan tersebut bilamana dikemudian hari ada kesempatan.

Begitulah, tatkala mendengar pertanyaan dari ibunya, Pek Kun-gie segera memahami arti yang dimaksudkan, cepat ia menggeleng.

“Aku belum dirugikan!” sahutnya hambar.

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Ibu tak usah kuatir, putri dari ketua Sin-kie-pang tidak mungkin akan melakukan perbuatan yang memalukan ayah ibunya!” “Bagus! Punya semangat” tiba-tiba seseorang memuji dengan suara yang lantang.

Mendengar seruan tersebut, orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang pada terperanjat dan serentak mereka berpaling ke arah mana berasalnya suara itu.

Hong Liong waktu itu berada didepan rumah, dia mengira Hoa Thian-hong telah datang, segera tubuhnya berkelebat kedepan dan menghalangi jalan lewat tempat itu seraya membentak, “Bocah keparat she Hoa, temui dahulu taoya mu!”

Bong Pay ikut naik darat ia membentak, “Bangsat, kawanan tikus darimana berani bertingkah disini, aku Bong Pay akan menemui dirimu lebih dulu!”

Begitu selesai berkata, ia lantas menerjang kedepan tapi ia keburu ditangkap oleh Kho Hong-bwee sehingga tak bisa berkutik.

Tampaklah tiga orang laki-laki munculkan diri dari balik hutan siong kurang lebih seratus kaki didepan sana, orang pertama adalah, seorang laki-laki besar dan jangkung dengan bau warna merah wajahnya gagah dan jenggotnya panjang, siapa lagi orang itu kalau bukan Pek Siau-thian ketua dari perkumpulan Sin-kie-pang.

Melihat siapa yang muncul, Pek Kun-gie segera memburu kedepan sambil menerjang kedalam pelukan kakek itu sambil serunya, “Ayah!”

Air mata tak bisa dibendung lagi segera bercucuran dengan derasnya. Perlu untuk diketahui, Pek Soh-gie dibesarkan oleh ibunya sedangkan Pek Kun-gie dibesarkan oleh ayahnya jadi hubungan maupun wataknya lebih mirip ayahnya dari pada ibunya.

Oleh sebab itu ketika Kho Hong-bwee yang datang, Pek Kun-gie masih dapat menahan diri tapi begitu Pek Siau-thian yang tiba, rasa sedih yang ditahan-tahan selama ini tak mampu kendalikan lagi semuanya segera meluncur keluar.

Dengan halus dan penuh kasih sayang, Pek Siau-thian membelai rambut putrinya, ia berkata dengan halus, “Anak baik kejadian yang sudah lewat biarkanlah lewat, kenapa musti kau bersedih, makanya mulai hari ini janganlah kau tinggalkan ayah ibumu lagi”

Pek Kun-gie menganggguk berulang kali.

“Sekarang putrimu baru tahu bahwa hanya ayah dan ibu saja yang benar-benar menyayangi diriku sedang lainnya hanya cinta palsu…. sayang palsu”

“Benar untuknya, sadar saat inipun belum terlambat!”

Kho Hong-bwee maju kedepan, ujarnya pula kepada suaminya itu, “Cepat amat kedatanganmu, siapakah kedua orang itu?”

Pek Siau-thian tertawa paksa, “Hujin, kau pasti lelah sekali katanya”

Kemudian sambil menuding ke arah dua orang yang berada dibelakangnya ia melanjutkan. “Kedua orang ini semuanya adalah toko-tokoh lihay dari dunia persilatan dewasa ini, mereka terhitung pula sebagai sahabat-sahabat karibku.”

Dua orang laki-laki itu telah berusia empat puluh tahunan, sebelum Pek Siau-thian menyeselesaikan kata-katanya, laki- laki yang menyoren pedang dipunggung itu segera menjura sambil memperkenalkan diri.

“Aku adalah Kiong Thian yu!”

Sedangkan laki-laki berdandan sebagai sastrawan itu menyambung, “Aku adalah Thian sun pou, sudah lama mengagumi budi kebaikan dari hujin….”

Kho Hong-bwee mengangguk sebagai tanda menghormat, oleh sebab mereka adalah sahabat dari suaminya maka ia perintahkan Kun gie serta Soh-gie untuk maju memberi hormat.

Baik Kiong Thian yu maupun Tiang sun Pou dalam hati merasa keheranan, mereka lihat paras kedua kakak beradik itu mirip satu sama lainnya, tapi sang kakak memancarkan kehalusan serta kesederhanaan, sebaliknya sang adik lebih lincah dan genit, timbullah kesan serta perasaan yang berbeda pada kedua orang itu.

Sementara itu Pek Siau-thian sendiripun sedang mengamati wajah Bong Pay dengan sinar mata tajam.

Beberapa bulan berselang, wilayah disebelah selatan sungai kuning berada dibawah pengaruh perkumpulan Sin-kie-pang, dan kini diantara tiga musuh besar ada dua sudah runtuh, sedangkan Sin-kie-pang tetap berdiri dengan kokoh, dengan sendirinya sikap maupun gerak-gerik sang ketuanya ini tetap gagah dan cukup menggidikkan hati. Apa mau dikata yang dihadapi adalah Bong Pay yang tak takut langit tak takut bumi, ketika Pek Siau-thian mengawasinya diapun balas mengawasi orang itu dengan sorot mata yang tak kalah tajamnya.

Kho Hong-bwee segera menemukan gelagat yang kurang serasi itu, ia tahu jika saling melotot ini dibiarkan berlangsung terus niscaya akhirnya akan terjadi hal yang kurang beres.

Buru-buru serunya.

“Anak Pay, hayo cepat memberi hormat kepada empekmu!”

Agak tertegun Pek Siau-thian setelah menyaksikan hubungan yang begitu akrab antara Bong Pay dengan Kho Hong-bwee namun diapun bukan orang bodoh hanya berpikir sebentar saja dia lantas mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya sudah pasti persoalan ini ada hubungan dengan putri sulungnya.

Dalam keadaan seperti ini, kendatipun dia adalah seorang jago yang gagah perkasa toh tak urung dapat termangu- mangu pula.

Sementara itu Bong Pay sudah maju kedepan seraya memberi hormat, katanya, “Aku Bong Pay memberi hormat untuk empek!”

Suara lantang dan amat nyaring sekali ibarat guntur yang membelah bumi di siang hari bolong.

Diam-diam Pek Siau-thian tertawa getir, ia tak menyangka kalau kedua orang putrinya sama sama jatuh cinta kepada pemuda dari golongan kaum pendekar, seraya ulapkan tangannya ia menyahut kaku. “Tak usah banyak adat!”

Mendengar ucapan itu, Bong pay segera putar badan dan mengundurkan diri kesamping Kho Hong-bwee.

Dari tingkah laku pemuda itu, Pek Siau-thian dapat melihat pula suatu keanehan yakni sepanjang masa itu tak pernah Bong pay melirik ke arah putri sulangnya, suatu perasaan heran dan tak habis mengerti segera menyelimuti wajahnya.

Rupanya dalam pergaulannya yang berlangsung selama berhari-hari, tanpa disadari kedua orang itu sudah saling jatuh cinta, kendatipun demikian sebagai orang yang sederhana den jujur mereka tetap berhubu ngan secara wajar tanpa suatu penonjolan hubungan yang luar biasa.

Bong Pay dapat tunduk seratus persen kepada Kho bong bwe adalah dikarenakan alasan lain, sedari kecil ia hidup sebatang kara dan belum pernah merasakan cinta kasih seorang ibu, kasih sayang dilimpahkan Kho Hong-bwee kepadanya membuat ia tunduk kepada perempuan itu.

Memang disinilah letak kelemahan orang yang berhati keras, bila orang kasar kepadanya maka dia bisa berbuat lebih kasar kepada orang itu, sebaliknya kalau orang lembut Kepadanya maka diapun akan lembut kepada orang itu.

Begitulah, setelah semua orang saling memberi hormat, Pek Siau-thian alihkan sorot matanya ke arah Hong Liong yang berada dikejauhan, kemudian serunya, “Beritahu kepada suhumu, besok pagi aku hendak mengajak dia untuk bertemu serta merundingkan soal penggalian harta karun!”

Hong Liong tahun ini berusia empat puluh tahunan, ia sudah belajar ilmu selama tiga puluh tahun lebih, tak heran kalau dia percaya dengan kemampuan ilmu silat yang dimilikinya.

Ketika ia saksikan Pek Siau-thian bersikap jumawa dalam hatinya, kontan hatinya jadi murka dan tak senang hati dalam pandangannya toh ilmu silat orang itu belum tentu bisa lebih tinggi dari kepandaiannya.

Tanpa ia sadari pula, perasaan tak senang itu segera tertera diatas wajahnya.

Pek Siau-thian adalah seorang manusia ysng berotak brillian, sudah tentu perubahan sikap lawannya tak lolos dari pandangan matanya, cepat ia dapat menangkap maksud hati orang itu, katanya dengan dingin, “Hmm! Kalau urusan ini bisa kau putusi tak mungkin gurumu akan bersusah payah jauh jaub datang serdiri kedaratan Tionggoan, huh bobotku bukanlah bobot yang bisa kau tandingi”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Kenyataan toh menunjukkan bahwa kalian guru dan mnrid tidak sempai merugikan putriku, aku sendiripun ogah untuk mencari perkara dengan kalian, bila kau tak puas, nantikan saja kedatangan bocah she Hoa dan tantanglah dia untuk berduel”

Habis berkata sambil ulapkan tangannya, ia lantas berlalu dari tempat itu.

Sudah puluhan tahun Pek Siau-thian meminpin dunia persilatan tentu saja sikap maupun daya pengaruhnya berbeda jauh dengan orang biasa apalagi Hong Liong hidup diluar daratan Tionggoan, penga-lamannya juga amat cetek, sekalipun ilmu silatnya lihay, ia masih kalah jauh bila dibandingkan dengan Pek Siau-thian. Dalam pada itu, ketua dari Sin-kie-pang telah membawa orang-orangnys untuk berlalu dari situ, setelah mencari daratan yang agak tinggi letaknya, ia perintahkan orang untuk beristirahat dan besok pagi baru mencari bahan kayu untuk membangun rumah buat persiapan untuk berdiam agak lama disitu.

Dengan dahi berkerut, Kho Hong-bwee berpaling kepada suaminya, lalu tanyanya, “Engkau punya rencana untuk tinggal berapa lama disini?”

“Paling capat dua bulan paling lama setengah tahun, aku akan berdiam terus disini sampai istana Kiu ci kiong tergali dan harta karunnya ditemukan kita!”

Tiba-tiba Pek Kun-gie menyela diri samping, katanya, “Ayah, Tang Kwik-siu memiliki sejilid kitab yang isinya berupa catatan rahasia ilmu silat, pada halaman yang terakhir dari buku itu aku lihat seolah-olah tercantum sebuah peta bumi, seringkali bila tak ada orang, diam-diam Tang Kwik-siu ambil keluar peta tersebut dan memandangnya dengan wajah mendelong”

“Ooh….! iya?” seru Pek Siau-thian dengan wajah rada berubah, “telah kuduga kalau Tang Kwik-siu mengandaikan sesuatu dalam usaha pencarian harta karun ini, tak kunyana kalau benda yang sangat diandalkan olehnya adalah sebuah peta bumi!”

Ia lantas berpaling ke arah Kiong Thian yu serta Thian sun pou, kemudian sambungnya lebih jauh, “Kiong jiko, Thian sun Lote, menurut dugaan kalian berasal darimanakah kitab serta peta bumi yang dimiliki Tang Kwik-siu itu?”

Kiong Thian yu termenung sebentar, kemudian sahutnya, “Mungkin juga kitab itu adalah benda yang berasal dari istana Kiu ci kiong, tentang apa isi dari peta itu…. waah! Rada sulit untuk menduganya.”

“Tang Kwik-siu memahami aneka ragam ilmu silat dari pelbagai partai persilatan yang ada didunia ini” tukas Pek Kun- gie lagi, jangan-jangan kitab tersebut adalah sumber dari segala cabang ilmu silat yang berhasil dikuasainya itu?”

Tiangsun Pou yang selalu membungkam tiba-tiba berkata, “Ada kemungkinan besar kalau isi peta bumi itu merupakan petunjuk ke arah lorong rahasia yang menghubungkan tempat penyim panan harta, tapi asal dapat kulihat sebentar saja aku yakin letak tempat itu pasti akan segera kukenali”

Pek Kun-gie memutar sepasang biji matanya yang jeli, kemudian ujarnya pula, “Empek Kiong, paman Tiangsun, rupa- rupanya sudah lama kalian mengetahui rahasia tentang harta karun ini?”

Tiangsun Pou menghela napas panjang.

“Aaai….! seratus tahun berselang berita soal harta karun sudah bukan rahasia lagi, hampir setiap manusia yang ada didunia ini mengetahui akan berita tersebut tapi oleh karena sering kali mengalami kegagalan maka banyak orang jadi kecewa putus asa dan akhirnya masalah yang sangat hangat ini menjadi dingin dengan sendirinya meskipun begitu bukan berarti persoalan ini sudah dilupakan orang, tiap orang seakan-akan hanya menunda pelaksanaan pencarian itu untuk

sementara waktu, menanti kesempatan yang sangat baik telah tiba, barulah mereka kerjakan kembali. Leluhurku mempunyai hubungan yang erat sekali dengan masalah harta karun ini, setiap kali mereka akan menghembuskan nafas yang terakhir, rahasia ini selalu diwariskan turun temurun kepada generasi- generasi yang akan datang, kami selalu menganggap permasalahan ini sebagai masalah besar, tapi oleh karena besarnya hubungan soal ini dengan keluarga kami maka soal inipun semakin kami rahasiakan. Dengan dasar itulah maka kecuali mereka-mereka yang mempunyai hubungan erat dengan persoalan ini, tak mungkin mereka akan mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya.