Tiga Maha Besar Jilid 26

 
Jilid 26

SELANG sesaat kemudian, kedua orang itupun bersantap didalam kamar, tiba-tiba terdengar seorang diantaranya yang lebih muda berkata, “Ang kiu ko, sebenarnya siapa yang telah membocorkan rahasia itu hingga urusan jadi heboh?”

Suara dari orang she Ang itu kedengaran lebih serak dan bertenaga, terdengar dia segera menyahut, “Perduli amat berita itu berasal dari siapa, pokoknya urusan kita adalah melaksanakan tugas tersebut!”

Orang yang pertama tadi rupanya meneguk dulu araknya, kemudian dengan suara berat katanya lagi, “Aaaai….! Siaute kuatir kalau perjalanan kita cuma sia-sia belaka, sekali lagi kita ke tanggor batunya….”

“Ingat saudara, tembok bertelinga, lebih baik tak usah kau ungkap lagi masalah itu, Hmm! Kalau engkau tidak ingin mencari nama dan kedudukan silahkan saja pulang ke rumah membopong anak meniduri istri dan hidup riang gembira, siapa yang akan mengurusi dirimu lagi!”

Orang itu segera tertawa dingin dan berseru dengan nada mendongkol, “Heehh…. heeeh…. heehh…. omong kosong, aku Ciang Kin bukan seorang manusia yang takut mati, aku cuma merasa bahwa ilmu silat yang dimiliki lawan kita terlampau tinggi padahal Hong-im-hwie sudah hancur berantakan dan tercerai berai, dengan andalkan kita beberapa orang prajurit yang kalah perang rasanya masih bisa untuk mencari posisi yang menguntungkan, kalau cuma jiwa yang melayang sih urusan kecil, bagaimana kalau sampai ditertawakan orang?”

Hoa Thian-hong yang mencari dengar pembicaraan itu, dalam hatinya segera berpikir.

“Aaah….! rupanya sisa-sisa komplotan dari Hong-im-hwie, entah urusan penting apakah yang sedang mereka kerjakan?”

Terdengar orang she Ang itu berkata lagi dengan suara lirih, “Inilah kesempatan bagi kita untuk membalikan diri dan mencari kedudukan, sekalipun harus korbankan jiwa tua kita juga harus melaksanakannya dengan mati-matian!”

Ciang Kin lantas berbisik pula dengan suara lembut. “Menurut berita yang kudengar, katanya musuh besar kita

mendapat perintah ibunya untuk pulang kedesa, ketika tiba dikota Lok yang tiba-tiba ia berputar arah, menurut berita kemarin hari dia telah munculkan diri di Hoo lam….” Pembicaraan kedua orang itu makin lama semakin lirih, buru-buru Hoa Thian-hong pusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan pembicaraan tersebut dengan seksama.

Terdengarlah orang she Ang itu sedang berbisik dengan suara yang sangat lirih, “Pendapatmu itu keliru besar, meskipun ilmu silat yang dimiliki musuh besar kita sangat lihay, tapi dia bukan seorang manusia yang serakah, bahkan dia anggap dirinya sebagai seorang pendekar, maka setiap perbuatannya dilakukan menurut cengli, maka dalam masalah ini bukan dia yang musti kita kuatirkan, tapi nenek sialan dari Kiu-im-kauw dan Pek loji dari Sin-kie-pang!”

“Cong tang kee memerintahkan kita semua agar berkumpul di kota Kim leng, apakah kita harus berjalan mengitari dulu propinsi Hok kian langsung menuju Bu gi?”

“Tentu saja bukan begitu maksudnya,” jawab orang she Ang dengan suara dingin, “cong tangkee memerintahkan semua teman agar berputar melewati arah tenggara, maksudnya hanya untuk menghindari bentrokan dengan pihak Sin-kie-pang, padahal kota Kiu ci bila dimaksudkan sebagai arti suatu tempat maka letak yang sebenarnya adalah dikaresidenan Pa kay di Ghong see, kalau diartikan sebagai nama sungai maka letaknya dekat Tan yang di propinsi Kang siok, bila diartikan sebagai nama telaga letaknya ada di sebelah timur laut karesidenan Kang ling, telaga itu dibuat oleh Beng taysu pada jaman Liang dengan tenaga manusia, tapi kalau dimaksudkan sebagai bukit Kiu ci…. waah banyak sekali jumlahnya!”

“Pengetahuan siaute amat cetek, aku hanya tahu di karesidenan Huan sui sian pada propinsi Hoo tam terdapatt sebuah bukit Kiu ci san, Kiu ko!” “Coba terangkanlah ditempat mana lagi terdapat bukit yang bernama bukit Kiu ci san!”

“Disebelah barat keresidenan Ciau hua sian pada propinsi Su chian terdapat sebuah bukit yang bernama Kiu ci san, disebelah utara karesidenan Sam kang sian dipropinsi Kwang see terdapat pula sebuah bukit kiu ci san, bukit itu bentuknya sembilan buah patahan dan terdiri dari batu karang yang tajam, ditengahnya terdapat sebuah air terjun yang amat besar, inilah bukit Kiu ci san yang sebenarnya, sedang bukit Bu gi san di propinsi Hok kian terdapat pula sembilan buah tekukan, pemandangan disitu sangat indah, namun dalam kenyataan bukit itu bukanlah bernama bukit Kiu ci!”

“Jadi kalau begitu tempat yang kita tuju adalah bukit kiu ci san yang letaknya ada di See lam?”

Orang she Ang itu tidak menjawab, rupanya ia lagi mengangguk.

Terdengar Ciang Kin berkata lagi, “Oooh….! Rupanya Kiu ko sudah pernah menjajahi seluruh kolong langit sehingga pengetahuannya begitu luas, sudah banyak tahun siaute bergaul dengan dirimu, sungguh tak nyana engkau adalah manusia selihay itu!”

“Aah. aku sih cuma mendengarnya dari Cong tangkee kita!” “Sekalipun begitu, toh pengetahuanmu jauh lebih luas

daripada aku sendiri!”

Diam-diam Hoa Thian-hong tertawa geli setelah mendengar perkataan itu, ketika ia merasa bahwa pembicaraan selanjutnya adalah kata-kata yang tidak penting, dia lantas menggembol pedangnya, membopong Soat-ji dan diam-diam tinggalkan rumah penginapan itu. Waktu itu senja telah menjelang tiba, jalan raya ramai sekali, dengan langkah yang santai Hoa Thian-hong menyelusuri jalan menuju selatan pintu kota.

Selang sesaat kemudian sampailah anak muda itu disekitar kuil It goan koan, dari kejauhan tampaklah pintu gerbang kuil itu tertutup rapat, sepintas lalu bangunan itu sudah tidak mirip sebuah kuil lagi, cahaya lampu menerangi seleruh penjuru, dari situ dapatlah diketahui bahwa jumlah penghuni yang bberada disitu amat banyak.

Setelah memandang sekejap dari kejauhan, anak muda itu segera menyusup masuk kedalam sebuah lorong dan menyelinap kebelakang bangunan kuil tadi.

Dibelakang halaman kuil terdapat sebuah loteng yang terdiri dari empat tingkat, bangunannya amat megah dan mentereng, dahulunya merupakan tempat penting dari It goan koan, bahkan ketika Giok Teng Hujin menjamu Hoa Thian- hong tempo hari, perjamuan itupun diadakan pada tingkat paling tinggi dari bangunan tersebut.

Dalam hati Hoa Thian-hong lantas berpikir, “Bila Kiu-im Kaucu berada didalam kuil dia sudah pasti berada dalam bangunan itu, tapi dimanakah Giok Teng Hujin disekap?”

Tiba-tiba ia saksikan dua sosok bayangan manusia berkelebat lewat didepan sana, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kedua orang itu sudah mencapai puncak kesempurnaan hingga gerak-geriknya begitu enteng bagaikan segulung asap ringan saja.

Mula-mula Hoa Thian-hong merasa terperanjat tapi setelah mengetahui siapakah kedua orang itu ia jadi sangat kegirangan buru-buru serunya dengan ilmu menyampaikan suara, “Paman Suma….”

Kiranya salah seorang diantara dua orang yang memakai baju hijau dan menyoren pedang itu tak lain adalah Kiu mio kiam kek (jago pedang berjiwa rangkap sembilan) bermuka putih, berambut panjang dan berjubah pendeta warna abu- abu, senjatanya adalah sebuah sekop perak, siapa lagi kalau bukan Cu Im taysu….

Pada saat itu Suma Tiang-cing sudah siap melompat kedalam pekarangan kuil, ketika mendengar pangilan tersebut ia batalkan niatnya dan malahan menghampiri si anak muda itu.

Hoa Thiian hong segera menyambut kedatangan kedua orang itu, baru saja ia hendak memberi hormat, Cu Im taysu telah memburu datang sambil membangunkan anak muda itu.

“Nak, sudah lama engkau tiba di sini?” tegurnya sambil tertawa ramah.

“Tengah malam kemarin boanpwe baru sampai disini, ada urusan apa taysu dan paman Suma datang kesini?”

Kiu mio kiam kek, Suma Tiang-cing segera menjawab, “Aku dan taysu baru saja pulang setelah berpesiar kebukit Tay san, sepanjang jalan aku dengar orang berkata bahwa Kiu-im Kaucu telah menuju ke kota Lok yang bahkan berhasil menangkap Giok Teng Hujin yang mengkhianati dirinya.

Mendengar berita tersebut aku segera memburu datang kemari dengan harapan bisa selamatkan jiwanya, sebab ketika jiwaku terancam tempo hari, berkat beberapa tetes Leng-ci mustika pemberian Ku Ing-ing lah jiwaku selamat, aku tak bisa melupakan budi kebaikannya ini….!” Hoa Thian-hong sama sekali tidak menyangka kalau sebatang Leng-ci pemberian Ku Ing-ing telah mengundang bantuan yang begitu banyak dari kawan-kawan persilatan, pada hal dua pertiga diantaranya sudah dia makan sendiri, sedangkan sisanya sepertiga pun harus dibagi untuk Suma Tiang-cing, Chin Giok long dan Bong Pay.

Berbicara menurut perbuatan yang telah dilakukan Ku Ing- ing selama ini, semestinya Suma Tiang-cing yang benci akan kejahatan tak mungkin akan singsingkan lengan baju untuk membantu dirinya, tapi kenyataannya jago berangasan itu telah datang kemari untuk memberikan pertolongan, kejadian ini boleh dibilang sama sekali diluar dugaan siapapun.

Melihat wajah Hoa Thian-hong yang diliputi kesedihan dan kemurungan, Cu Im taysu merasa tak tega, segera sahutnya, “Nak, janganlah murung! Sebenarnya aku dan paman Samu mu sudah kelabakan setengah mati, sekarang setelah bertambah dengan kau seorang maka berarti kesempatan kita untuk menolong orang semakin besar, mari kita rundingkan sampai masak, kemudian segera turun tangan!”

Haruslah diketahui, meskipun Hoa Thian-hong tersohor didunia persilatan, perawakannya tinggi kekar, orangnya jujur dan wataknya tegas, akan tetapi pada hakekatnya dia baru berusia sembilan belas tahun, di riridingkan Chin Wan-hong dan Pek Kun Ci pun masih jauh lebih muda, ia termasuk seorang pemuda yang cerdik tanpa menghi langkan sifat kejujurannya, sederhana, polos tapi tidak bodoh, terhadap kaum yang lebih tuapun sangat menaruh hormat….

Oleh sebab itulah kebanyakan orang persilatan dari golongan lurus sama-sama menyayangi dirinya, menganggap dia sebagai seorang rekan yang baik, hanya saja ada sebagian orang mengutarakan perasaannya itu secara terus terang, ada pula yang cuma menyimpannya didalam hati. Sementara itu Suma Tiang-cing telah menuding ke arah loteng tinggi didalam kompleks kuil It goan koan seraya berkata, “Ketika senja menjelang tiba tadi, aku telah menyusup kedalam kuil dan berhasil menangkap seorang imam cilik dari Thong-thian-kauw, imam cilik itu bertugas sebagai pelayan yang melayani orang-orang Kiu-im-kauw, menurut pengakuannya, Kiu-im Kaucu berdiam ditingkat ketiga bangunan loteng itu, sedangkan Ku Ing-ing disekap pada loteng tingkat paling atas dan sedang menjalankan siksaan Api dingin melelehkan sukma yang amat keji, bagaimanakah cara menjalankan siksaan tersebut dia tak menyaksikan sendiri, maka tak dapat dikatakan secara jelas, tapi dia tahu babwa Ku Ing-ing jelas belum mati!”

0000O0000

80

HOA THIAN-HONG menghela nafas panjang.

Aaai….! Jika Kiu-im Kaucu punya keinginan untuk membunuh Ku Ing- ing, maka perbuatan itu bisa dilakukan dengan gampang sekali bagaikan membalik telapak tangan sendiri, tapi kenyataannya ia tidak mau turun tangan untuk bereskan jiwanya, itu berarti dia sengaja hendak menyiksa mangsanya dan menggunakan dia sebagai umpan untuk memancing boanpwee masuk jebakan.

“Kenapa begitu?” tanya Suma Tiang-cing dengan sepasang alis matanya berkenyit.

Kiu-im-kauweu memandang keponakan sebagai paku dalam mata, dia menganggap aku sebagai penghalang yang menghalangi niatnya untuk merajai seluruh kolong langit maka kalau bisa secepatnya berusaha untuk lenyapkan aku, sudah dua kali keponakan bentrok dengan diri nya, tapi setiap kali menang kalah sukar ditentukan, oleh karena itu rasa bencinya terhadap diriku semakin menebal.

Iapun lantas menceritakan peristiwa yang telah dialaminya selama ini, ketika Cu Im taysu dan Suma Tiang-cing mendengar kalau ia telah berhasil mendapatkan kitab kiam keng, kedua-duanya merasa gembira tapi sewaktu mendengar Tang Kwik-siu tiba masuk kedaratan Tionggoan untuk mencari harta di bukit Kiu ci san, kembali mereka tertegun.

Cu Im taysu menghela napas panjang, ujarnya, “Meskipun aku sudah menduga bahwa pertikaian dalam dunia persilatan belum selesai, namun tak kusangka kalau perubahan yang berlangsung sedemikian cepatnya, kalau ditinjau dari sini dapatlah diketahui babwa Kiu-im Kaucu mempunyai ambisi yang sangat besar, Tang Kwik-siu mempunyai rencana busuk yang sukar diraba arah tujuannya sedang sisa-sisa laskar dari Hong-im-hwie dan Thong-thian-kauw masih belum mau menyerah dengan begitu saja, aku rasa hawa nafsu membunuh yang menyelimuti dunia persilatan dewasa ini jauh lebih tebal daripada pertemuan di Pek-beng-hwie mau pun dalam pertemuan Kian ciau tay hwe!”

Suma Tian cing tertawa dingin.

“Heh…. heehh…. heeh…. Sebagian besar masyarakat didunia ini kebanyakan menganggap bahwa yang berhasil jadi raja, yang kalah jadi penyamun karena ketidakpuasan manusialah menjadikan sebab musabab hingga terjadinya pertikaian ini, apabila situasi dalam dunia persilatan dapat dibalikkan seperti keadaan pada lima puluh tahun berselang dimana orang yang belajar silat suka akan gengsi, membicarakan soal kedudukan lebih mementingkan pertarungan satu lawan satu, semua orang menganggap yang menang kuat yang kalah harus mengaku kalah dan malu untuk main kerubut, maka dunia persilatan akan menjadi aman. Bila kita menghendaki keadaan tersebut maka hanya ada satu cara saja yang bisa kita lakukan!”

“Apakah caramu itu paman?” tanya Hoa Thian-hong dengan dahi berkerut kencang.

“Hmm! Apalagi? Kita bantai dan bunuh semua kawanan manusia durjana itu dari muka bumi, asal kaum gembong iblis itu sudah tersapu lenyap, dunia pasti akan aman.”

“Omintohud!” seru Cu in taysu, selama dunia masih dihuni oleh makhluk yang bernama manusia, maka kejahatan tak mungkin bisa musnah dari hati umatnya, sekali pun kau basmi kawanan manusia durjana ge nerasi ini toh dari generasi yang akan datang akan muncul pula manusia-manusia durjana lainnya. Suma lote! Ucapan yeng disertai emosi seperti apa yang kau katakan itu bukanlah suatu cara yang jitu, Thian- hong! Jangan kau anggap perkataannya itu sebagai sungguhan!”

Suma Tiang-cing tertawa dingin.

“Taysu engkau keliru besar!” serunya kembali. “Jikalau kita bunuh habis manusia-manusia durjana dari generasi sekarang sekalipun pada generasi yang akan datang muncul pula manusia durjana lain, aku rasa sifat kejahatannya tentu jauh lebih ringan”

“Thian memberikan pelajaran kepada umatnya agar saling mengasihi sesamanya, bila kita gunakan membunuh untuk mencegah membunuh, maka ajaran ini terlalu tidak masuk di akal dan tak pantas dituruti, Thian-hong! Jangan kau gubris ajaran semacam itu.” Hoa Thian-hong segera menghela nafas panjang, ia tahu Suma Tiang-cing masih belum puas, apabila perdebatan in berlangsung terus sampai beberapa haripun tak ada habisnya, buru-buru ia menyela dari samping.

“Pendapat dari taysu didasarkan pada pelajaran agama, sedang pendapat paman Suma didasarkan pada kenyataan, aku rasa kedua duanya masuk diakal.”

Berbicara sampai disini, tiba-tiba dia membungkam dan tidak mengatakan apa-apa lagi.

Cu Im taysu segera menyambung.

“Memang benar, urusan paling penting yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya untuk menolong orang, menurut pendapatmu bagaimana kita musti turun tangan?”

Hoa Thian-hong termenung dan berpikir sebentar, lalu menjawab.

“Ku Ing-ing disekap pada loteng tingkat keempat, sedangkan Kiu-im Kaucu menjaga pada tingkat ketiga, bila boanpwe ingin menye-lamatkan Ku Ing-ing tanpa diketahui olehnya, sudah jelas hal ini tak mungkin bisa kulakukan!”

Sekalipun begitu, kita masa harus merampasnya secara terang-terangan….?!” tanya Cu Im taysu dengan cepat.

“Boanpwe yakin, dengan kekuatan kita bertiga sekalipun harus berhadapan muka dengan kawanan jago Kiu-im-kauw yang berkumpul seruangan, kita masih mampu menerjang masuk dan mampu juga untuk menerjang keluar, akan tetapi kalau dikatakan kita harus menembusi kepungan mereka sambil membawa Ku Ing-ing, jelas pekerjaan ini sulit sekali untuk dilaksanakan”

“Perkataanmu memang benar, dalam kea aan kepepet bisa saja Kiu-im Kaucu turun tangan membereskan dulu nyawa Ku Ing-ing. Aaaai….! Aku rasa persoalan ini merupakan suatu persoalan yang amat sulit, pa dahal perempuan itu harus diselamatkan jiwanya, apa daya kita sekarang?”

Hoa Thian-hong menghela napas panjang, dia lantas berpaling dan memandang ke arah Suma Tiang-cing.

Melihat sinar mata kedua orang itu ditujukan ke arahnya, dengan cepat Suma Tiang-cing gelengkan kepalanya sambil berkata, “Sudah setengah harian aku peras otak berusaha mencari akal yang bagus, tapi usahaku ini selalu gagal, kalau bisa malah aku akan mengambil keputusau untuk menyerbu pakai kekerasan, kalau perempuan itu berhasil diselamatkan yaa syukur, kalau tak bisa akan kulakukan pembantaian secara besar-besaran agar Kiu-im Kaucu mengetahui sampai dimanakah kelihayanku, cuma begitu jika aku gagal selamatkan jiwa orang, maka kemungkinan besar jiwa Cu Im taysu akan ikut jadi korban”

Cu Im taysu tersenyum.

“Meskipun aku tidak suka melakukan pemubunahan, akan tetapi aku tak takut menghadapi bacokan golok, apalagi disuruh bertempur boleh dibilang merupakan suatu kegembiraan!”

Hoa Thian-hong termenung sebentar, tiba-tiba katanya, “Boanpwe telah menemukan suatu cara yang amat sederhana, bagaimana kalau kita bertiga turun tangan bersama? Kita serbu secara menggelap maupun secara terang-terangan, lihat saja bagaimana hasilnya nanti!” “Baik! Suma Tiang-cing menanggapi dengan suara berat, aku rasa inilah satu-satunya cara yang paling ada harapan, biarlah aku dan Cu Im Taysu menyerbu secara terang- terangkan, kalau bisa akan kami belenggu musuh tangguh itu sebisa mungkin, sedangkan engkau segera menyusup kepuncak loteng untuk menolong orang”

“Benar, bila kau berbasil selamatkan perempuan itu maka berusahalah untuk menerjang keluar, jangan kau gubris diriku dan paman Suma lagi!” kata Cu Imn taysu sambil tertawa.

Suma Tiang-cing mempunyai julukan sebagai Kiu mio kiam kek, jago pedang berjiwa rangkap sembilan, bukan saja beraninya luar biasa diapun seorang pemberang, sekali pun dihadapannya terhalang hutan golok atau bukit pedang ia tak akan memandang sebelah matapun.

Maka begitu melihat keputusan telah di ambil, ia lantas loncat masuk kebalik dinding pekarangan kedalam kuil It goan koan.

Menyaksikan hal itu, buru-buru Cu Im taysu berseru kepada anak muda itu, “Engkau harus berhati-hati….!”

Dengan cekatan tubuhnya ikut loncat masuk kedalam pekarangan kompleks kuil itu.

Hoa Thian-hong tak berani berayal, cepat diapun melesat kedepan dan menyusup masuk kedalam kompleks kuil It goan koan tersebut.

Sebagai orang yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan jiwa Ku Ing-ing, pemuda itu tak berani bertindak secara gegabah, dengan sangat hati-hati dan hampir boleh dibilang menempel pada dinding bangunan, dari satu bangunan berpindah kebangunan yang lain tanpa menimbulkan sedikit suara pun, dengan gerak-geriknya ini kendatipun ada orang disekitar sana, belum tentu bisa ditemukan dengan gampang.

Belakang dinding pekarangan adalah sebuah kebun bunga, disitu pohon dan rumput tumbuh dengan suburnya, ada gunung-gunungan, ada kolam dan ada pula pintu berbentuk bulat.

Dibelakang pintu itu berdirilah sebuah bangunan loteng yang megah, ketika Hoa Thian-hong melompat masuk lewat dinding pekarangan, Suma Tiang-cing dan Cu Im taysu sudah menyusup masuk lewat pintu bulat tadi, cepat si anak muda itu bersembunyi dibelakang pintu bulat itu sambil mengawasi gerak-gerik dari dua orang rekannya.

Rembulan bersinar dengan terangnya diawang-awang, cahaya lampu memancar dari bawah, dalam suasana terang benderang tentu saja jejak Suma Tiang-cing dan Cu Im taysu tak bisa disembunyikan lagi, segera mereka berhasil ditemukan oleh penjaga loteng itu.

“Siapa disitu?” terdengar seseorang membentak kasar.

Aku Suma Tiang-cing dan Cu Im taysu sengaja datang kemari untuk menyambangi kaucu mu!”

Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut, tubuhnya langsung meluncur keudara dan menerjang keloteng tingkat ketiga.

Loteng tingkat ketiga jaraknya ada belasan keki, dalam dunia persilatan dewasa ini jarang sekali ada orang yang mampu melakukan hal itu, dengan sendirinya para penjaga loteng itu segera sadar bahwa mereka telah kedatangan musuh tangguh.

Dengan hati tercekat, kedua orang penjaga itu segera membentak keras, secepat sambaran kilat mereka menerjang maju kedepan.

Dengan gaya burung bangau menerjang ke angkasa, laksana anak panah yang terlepas dari busurnya, Suma Tiang- cing membumbung keangkasa, belum habis ia berseru sepasang kakinya sudah menempel diatas tiang dan pedang mustikanya diloloskan pula dari sarungnya.

Dengan suatu gerakan yang amat cepat, kedua orang itu menerjang tiba, terdengarlah suara desingan tajam menderu- deru, sebuah tombak pendek dan sebuah senjata pit baja penotok jalan darah dengan gerakan yang amat cepat telah meluncur tiba.

Sama Tiang cing segera membentak nyaring, “Siapa berani menghalangi aku, mampus!”

Pedangnya secepat sambaran kitat segera melancarkan serangan kilat ke arah depan.

Dua orang jago yang bertugas menjaga loteng itu merupakan dua orang jago lihay dari istana neraka, bukan saja bentuk senjata yang digunakan sangat aneh, jurus serangan yang digunakan cukup mengge-tarkan hati siapapun yang memandang, bila orang lain yang dihadapi nisca nyalinya akan dibuat tercekat.

Sayang musuh yang dihadapinya justru adalah Kiu mio Kiam kek yang pemberang, jago muda ini tak pernah mempersoalkan apakah musuh yang dihadapinya adalah musuh tangguh atau kaum keroco, begitu menyerang ia segera melancarkan serangan dengan jurus yang ganas dan tenaga yang mengerikan, membuat siapapun jadi keder rasanya.

Setelah melepaskan serangannya tadi, kemudian menyaksikan Suma Tiang-cing melancarkan sergapan dengan pedang bajanya, dua orang jago dari istana neraka itu segera menyangka kalau musuhnya akan menangkis ancaman tersebut deagan mengandalkan ketajaman senjatanya.

Siapa tahu, bukan saja ancaman itu tidak ditangkis, ternyata pihak lawan malahan melepaskan pula ancaman maut ke arah mereka dengan sistim adu jiwa.

Tentu saja kedua orang jago itu tak ingin mati konyol, sebelum serangannya dilancarkan sampai habis, cepat-cepat kedua orang itu membatalkan kembali ancamannya seraya melepaskan jurus serangan untuk menyelamatkan diri.

Sayang serbu kali sayang, Suma Tiang-cing bukan manusia sembarangan, dan lagi dalam melepaskan ancamannya itu ia telah menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya, boleh dibilang sergapannya tanpa memperhitungkan mana lebih duluan dan mana belakangan.

Baru saja jago yang bersenjata tombak itu berusaha untuk menghindarkan diri kesamping, tahu-tahu….”Krakk!” ditengah benturan nyaring, senjata tombaknya itu sudah terpapas kutung jadi dua bagian.

Jago yang bersenjata poan koan pit itu cepat memburu kedepan. senjatanya diputar menusuk kaki Suma Tiang-cing, maksudnya dengan serangan tersebut maka ia dapat selamatkan jiwa rekannya. Siapa tahu Suma Tiang-cing bertindak cekatan, sekali angkat kakinya tahu-tahu ia sudah menginjak senjata lawan, menyusul mana sebuah tendangan dahsyat melemparkan tubuhnya sehingga mencelat sejauh satu kaki lebih dari tempat semula.

Pada hakekatnya anak buah Kiu-im-kauw yang diatur disekitar bangunan loteng itu khusus disediakan untuk menghadapi Hoa Thian-hong, apa lacur sekarang yang baru dihadapi adalah Suma Tiang-cing seorang jago yang nekad dan pemberang, kontan saja pertahanan mereka dijebolkan hanya cukup dalam sekali gebrakan.

Baru saja musuhnya terdesak mundur ke belakang, Suma Tiang-cing sudah memberatkan tubuhnya dan melayang keatas serambi.

“Manusia kasar, mau kabur kemana? tiba-tiba seorang perempuan dengan suara yang dingin menyeramkan menegur dari samping.

Berbareng dengan seruan tersebut, sepulung desingan hawa pedang yang tajam menyergap kedepan dan langsung menghajar jalan darah Ki bun hiat ditubuh Suma Tiang-cing.

Betapa terperanjatnya jago muda itu menghadapi serangan yang sama sekali tak terduga ini, peluh dingin sampai mengucur keluar membasahi sekujur mbuhnya.

Cepat pedang mustikanya dikibaskan kedepan dengan jurus bwe bong wu liu (Pusaran angin mainkan pohon Liu), bukan saja ia tidak memperduiikan keselamatan jiwa sendiri, malahan sambil bergerak kedepan ia melancarkan serangan balasan. Sreeet….! Senjata sekop dari Cu Im taysu meluncur tiba dari samping gelanggang.

Dengan berkobarnya pertarungan itu maka dalam sekejap mata, api obor sudah bermunculan di empat penjuru dan menyoroti daerah sekitar gelanggang hingga terang benderang bagaikan disiang hari, berbareng itu pula dari kedua belah sisi serambi bermunculan puluhan orang laki-laki maupun perempuan.

Dalam keadaan demikianlah pintu loteng terbuka, Kiu-im Kaucu dengan senjata toya kepala setannya munculkan diri didepan muka.

Sementara itu Suma Tiang-cing telah melihat jelas bahwa tandingannya ketika itu adalah seorang gadis berambut panjang yang berpotongan badan ramping, dia kenali gadis itu sebagai Tiamcu istana neraka dibawah pimpinan Kiu-im Kaucu, bahkan mengenali juga bahwa senjata mustika yang dipergunakannya adalah pedang mustika Bian liong poo kiam bekas milik Thong-thian-kauw.

Dalam waktu singkat dua puluh gebrakan sudah lewat dengan cepatnya, pertarungan berlangsung makin sengit dan seru.

Waktu itu usia Suma Tiang-cing baru mencapai tiga puluh tahunan, sedangkan Tiamcu istana neraka berusia diantara tiga puluh tahunan juga, bukan saja wajah mereka cakep dan cantik, senjata yang digunakan juga adalah senjata mustika, berbicara yang sesungguhnya pertarungan semacam itu pastilah berlangsung dengan halus dan lembut.

Apa lacur watak Suma Tiang-cing seorang pemberang dan ganas, setiap serangan yang dilancarkannya selalu bermaksud untuk melukai orang, hal ini memaksa Tiamcu dari istana neraka terpaksa harus mengeluarkan pula jurus-jurus ampuhnya untuk melayani kehendak lawan.

Kiu-im Kaucu hanya menonton jalannya penarungan itu dari sisi kalangan, sepasang alis matanya berkenyit hingga menjadi satu garis, dengan suara lantang ia berseru, “Suma Tiang-cing sudah tersohor sebagai seorang jagoan yang pemberang dan besar sekali jiwa nekadnya, ia sudah terbiasa melakukan serangan-serangan kasar macam itu….”

“Anjing betina tak usah banyak bacot, kalau berani hayo turun kemari.! tukas Suma Tiang-cing sambil membentak gusar.

Kiu-im Kaucu sama sekali tidak melayani makian tersebut, malahan sambil tertawa ujarnya, “Engkau bukan tandinganku maka lebih baik tak usahlah menantang aku untuk bertarung, saat ini Hoa Thian bong telah menyusup naik keatas loteng aku harus berjaga-jaga disana menunggu kedatangannya!”

Betapa terkejutnya Suma Tiang-cing sesudah mendengar perkataan itu, dia lantas menduga bahwa dialas loteng telah disiapkan jebakan yang lihay sehingga gembong iblis ini membiarkan musuhnya berhasil menyusup naik ke atas.

“Kalau memang terjadi begini, bukankah itu berarti bahwa selembar jiwa Hoa Thian-hong sedang terancam bahaya maut?”

Karena memikirkan persoalan itu pikiran dan perhatiannya jadi bercabang, Tiamcu istana neraka tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu dengan begitu saja, dia lantas membentak keras, pedang mustika boan liong kiam hoatnya dengan memancarkan cahaya bianglala yang amat menyilaukan mata segera memancar memenuhi seluruh angkasa, dalam waktu singkat dia telah melancarkan serangkaian serangan balasan yang amat gencar.

Sesudah kehilangan posisinya yang baik, dengan cepat pula Suma Thiang cing terdesak hebat sehingga kedudukannya berada di bawah angin.

Dalam waktu singkat secara beruntun dia telah menemui ancaman mara bahaya, untungnya dia memiliki jurus untuk adu jiwa yang mengerikan, maka setiap saat dia masih mampu untuk menyelamatkan jiwanya dari ancaman itu.

Sementara itu dipihak lain, Hoa Thian-hong telah manfaatkan kesempatan berkobarnya pertarungan itu secara baik-baik, sesudah berputar kesamping, sambil membopong Soat-ji dia lantas melompat naik ke loteng tingkat keempat.

Dalam prasangkanya disekitar loteng itu sudah pasti telah disiapkan jebakan maupun penjagaan yang sangat ketat, tapi apa yang dilihatnya waktu itu?

Ternyata suasana diatas loteng tingkat keempat itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, bukan saja tak nampak adanya bayangan manusia, alat jebakan atau senjata rahasiapun tak nampak satupun.

Diatas serambi loteng tergantung sebuah lampu lentera yang anti hembusan angin, cahaya yang redup menyinari sebuah pintu ruangan yang berukir naga dan burung hong.

Dengan cekatan Hoa Thian-hong melayang kedepan dan mendorong pintu tersebut, ternyata pintu tidak terkunci, ketika didorong segera terpentang lebar.

Ruangan itu kosong melomgpong, tak kelihatan sesosok bayangan manusia pun yang berada disitu. Ruangan itu luasnya sekitar tiga kaki persegi, sepuluh buah lentera keraton yang indah tergantung didalam ruangan itu.

Hoa Thian-hong masih ingat ketika ia dijamu Giok Teng Hujin tempo hari, dalam ruangan inilah perjamuan tersebut diselenggarakan.

Sayang suasana dalam ruangan itu remang-remang, diantara sepuluh buah lampu lertara yang tersedia dalam ruangan itu, hanya dua buah diantaranya yang dipasang, ditengah suasana yang remang-remang itulah Hoa Thian-hong merasakan suatu perasaan yang sangat aneh.

Didekat ruangan itu terdapat tiga buah pintu, didepan pintu tergantung horden yang cukup tebal, sekilas pandangan dapatlah di ketahui bahwa dalam ruangan itu tersedia tiga buah kamar tidur.

Setelah menutup kembali pintu ruangan, Hoa Thian-hong bergerak masuk kedalam untuk melakukan pemeriksaan, waktu itulah Soat-ji yang berada dalam bopongannya mendesis lalu melompat turun dan secepat kilat menyusup masuk kedalam ruang tidur sebelah tengah.

Tanpa sadar perasaan hati Hoa Thian-hong berubah jadi amat tenang, cepat dia menyelinap kedepan pintu dan menyingkap horden yang menutupinya. Apa yang kemudian terlihat dihadapannya membuat darahnya tersirap, dengan mata melotot karena menahan gusar dia menyerbu masuk kedalam ruang itu, serunya setengah mendesis, “Cici….!”

Semula ruangan tersebut adalah sebuah kamar rahasia, tapi sekarang perabot yang ada dalam ruangan itu sudah dipindahkan semua sehingga tinggal sebuah ruangan yang kosong melompong. Ditengah ruangan terdapatlah sebuah meja sembahyangan yang tampak masih baru, diatas meja sembahyangan terdapatlah empat buah patung arca setinggi beberapa depa yang tersebut dari kayu wangi, patung itu ada yang duduk ada pula yang berdiri, bentuknya satu sama yang lain jauh berbeda.

Cuma saja keempat-empatnya adalah patung perempuan dan berambut parjang sampai sepundak.

Meskipun raut wajah yang digambarkan pada keempat patung itu tidak jelek, tapi seperti halnya dengan Kiu-im Kaucu, paras muka mereka, membawa selapis kemisteriusan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Didepan sebuah patung arca itu terletak sebuah hiolo, diatas hiolo itu tertancap hio yang mengeluarkan bau dupa wangi, cuma tidak kelihatan ada lilin.

Kurang lebih empat lima depa didepan meja sembahyangan itu terdapat kasur bulat untuk semedi, waktu itu Giok Teng Hujin duduk diatas kasur tadi sambil menghadap ke arah patung arca, tubuh bagian atasnya berada dalam keadaan bugil, rambut nya yang panjang terurai menutupi punggungnya yang telanjang itu.

Didepan kasur bulat itu tergantung sebuah lampu lentera terbuat dari tembaga yang aneh sekali bentuknya, diatas lampu itu terdapat tutupnya, diatas penutupaya terdapat tujuh buah lubang kecil, asap hijau dan percikan api kecil manancar keluar dari ketujuh lubang itu menciptakan tujuh buah asap hijau setinggi delapan sembilan cun.

Ketika asap itu menggumpal keatas segera bergabung menjadi satu dan berbelok menuju ke arah dada Giok Teng Hujin, kobaran api itu segera membakar dadanya dengan ganas.

Tepat pada lekukan payudara Giok Teng Hujin tergantung sebuah bulatan sebesar mulut cawan arak yang berwarna keperak-perakan, kebakaran api yang bergabung setelah keluar dari ketujuh lubang kecil itu langsung memancar keatas bulatan perak itu dan memanggangnya hingga memperdengarkan bunyi gemericik yang amat nyaring.

Sekujur tubuh Giok Teng Hujin kelihatan gemetar keras, badannya telah basah kuyup bermandikan peluh.

Rupanya kesadaran Giok Teng Hujin waktu itu belum lenyap sama sekali, ketika mendengar panggilan dari Hoa Thian-hong dengan cepat dia berpaling ke arah samping dan mengguraikan rambutnya yang panjang untuk menutupi seluruh bagian raut wajahnya.

“Jangan sentuh aku!” terdengar gadis itu berseru dengan nada gelisah, “jangan kau sentuh lampu lentera itu!”

Suara itu kering, serak dan tak enak didengar, seakan-akan bukan berasal dari mulut perempuan itu.

Hoa Thian-hong segera menerjang kehadapanya dan berlutut disamping tubuh Giok Teng Hujin, sekujur badannya gemetar keras sepasang matanya berubah jadi merah membara sementara air mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.

“Cici…. kau….!” akhirnya ia terisak dan tidak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya.

Beberapa titik air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Giok-teng hujin ketika ia tundukkan kepalanya, air mara itu menetes diatas lampu lentera itu dan seketika muncullah asap warna hijau yang sangat mengerikan.

Pemandangan ketika itu benar-benar mengenaskan, baru pertama kali ini Hoa Thian-hong menyaksikan jalannya siksaan yang amat keji ini, tentu saja hatinya terasa jadi remuk redam, darah panas dalam rongga dadanya ikut bergelora dengan hebatnya, dia ingin turun tangan namun tak tahu apa yang musti dilakukan pada saat ini

Rupanya Soat-ji rase salju stupun tahu bahwa majikannya sedang menjalankan siksaan yang kejam, dikala itu makhluk tersebut ber sandar disisi majikannya sambil merintih tiada hentinya, tampaknya binatang itu sedang beriba hati.

Hoa Thian-hong merasa dendam bercampur benci, tiba-tiba serunya dengan nyaring, “Cici, apa yang harus kulakukan!”

Saking jengkelnya, dengan sekuat tenaga dia hajar permukaan lantai itu keras-keras.

“Lampu itu!” bisik Giok Teng Hujin dengan lirih.

Mendengar seruan tersebut, buru-buru Hoa Thian-hong menarik kembali tenaga pukulannya.

“Blaang! sebuah bekas telapak tangan yang dalam sempat membekas diatas permuaan lantai, untungnya lampu siksaan tersebut tidak sampai tergetar oleh pukulan tadi.

Giok Teng Hujin benar-benar tersiksa lahir batinnya menghadapi siksaan api dingin melehkan sukma yang dialaminya sekarang, akan tetapi dengan tabah dihadapinya secara jantan. Tatkala ia saksikan kedatangan Hoa Thian-hong untuk pertama kalinya tadi, dua titik air mata memang sempat meleleh keluar, akan tetapi dengan cepat semua penderitaan dan siksaan yang dialaminya ditahan didalam hati, sesudah berhenti beberapa saat lamanya segera ujarnya.

“Aaai.! Bagaimanapun aku toh tak bisa hidup lebih lama lagi, daripada aku hidup menanggung derita, lebih baik totoklah jalan darah kematianku, agar aku bisa lebih cepat melepaskan diri dari siksaan hidup ini!”

“Tidak!” jerit Hoa Thian-hong sambil menggigit bibir menahan air matanya yang meleleh keluar.

Giok Teng Hujin menghela nafas panjang.

“Aaii! Setiap manusia tak luput dari kematian, aku merasa amat puas apabila bila mati disisimul”

Engkau tak boleh mempunyai ingatan semacam itu, hayo keluar kanlah semangat dan keberanianmu untuk melanjutkan hidup, sekalipun harus pertaruhkan selembar jiwaku akan kutolong juga engkau hingga lolos dari mara bahaya.

Seekor semutpun menginginkan hidup, apa lagi aku adalah seorang manusia, mengapa aku tidak ingin hidup? Bukan begitu saja dan lagi, aai! aku benar-benar merasa berat untuk meninggalkan engkau.

Sekalipun ucapan tersebut sangat pendek dan singkat, akan tetapi luapan cinta yang diperlihatkan dalam perkataan itu benar-benar sanggup melelehkan besi baja.

Hoa Thian-hong merasa hatinya amat sakit bagaikan ditusuk dengan pisau tajam, air matanya jatuh bercucuran membasahi wajahnya. Ketika dilihatnya sekujur badan Giok Teng Hujin gemetar keras, seolah-olah sedang menahan suatu penderitaan yang hebat, buru-buru ia menyeka air matanya sambil berseru lagi, “Beritahukanlah kepadaku, sebenarnya macam apakah lampu setan itu, aku hendak mencarikan akal untuk menyelamatkan jiwa mu!”

Giok Teng Hujin gelengkan kepalanya dengan sedih, sambil terisak menahan tangisnya ia menjawab, “Berilah jawaban dulu kepadaku, engkau harus berjanji tak akan menerima paksaan dari kaucu walau berada dalam keadaan apapun, engkau tak boleh mudah menyerah dengan begitu saja.”

Hoa Thian-hong merasa hatinya semakin perih apalagi setelah mendengar betapa perhatiannya Giok Teng Hujin terhadap dirinya walau berada dalam keadaan begitu.

Akhirnya Hoa Thian-hong berjanji tak akan menerima paksaan dari Kaucu jika ini yang dikehendaki oleh Giok Teng Hujin.

Kemudian diterangkanlah oleh Giok Teng Hujin dengan nada sedih kepada Hoa Thian-hong.

“Dadaku telah dilapisi oleh serbuk perak yang dinamakan Miat ciat in leng (serbuk dingin pelenyap keturunan) bubuk itu dibuat menurut resep rahasia yang hanya dimiliki oleh Kiu-im- kauw, yakni terbuat dari campuran kotoran ulat sutera, empedu burung-burung yang bisa berbunyi, air liur katak buduk, butiran putih telur dari ubur-ubur, kulit ari dari cacing dicampur pula dengan bubuk phospor yang mengandung racun jahat, bila serbuk perak Miat ciat in leng ini dipoleskan diatas dada seseorang, racun itu akan segera meresap ke tubuh ma-nusia bila dibiarkann terus maka racun itu akan menyerang kejantung yang mengakibatkan kematian dari korbannya!”

Perempuan itu berhenti sebentar, kemudian meneruskan lagi kata katanya lebih jauh, “Lentera yang bisa melelehkan sukma ini pun bukan benda sembarangan, didalam lentera itu di isi dengan hawa racun dari katak puru (sejenis katak yang kasar kulitnya dan berbintik-bintik), karena mendapat pembakaran dari cahaya api lentera ini, maka hawa racun Miat ciat in leng yang dipoleskan kedadaku jadi terhisap, karenanya jiwaku bisa selamat sampai kini, tapi jika kutinggalkan cahaya api ini, racun tersebut segera akan menyerang kejantungku yang akan mengakibatkan aku jadi tewas!”

“Tapi…. tapi…. betapa sengsara dan tersiksanya tubuhmu karena selalu dibakar oleh api yang menyala-nyala ini?” seru Hoa Thian-hong sambil menggigit bibirnya kencang.

“Aaai….! Sebagaimana kau ketahui: ‘Api dingin melelehkan sukma’ adalah siksaan yang paling keji dan paling berat dari Kiu-im-kauw kami, masih mendingan kalau siksaan itu hanya Ngo kiam hun si (lima pedang memisahkan mayat)….”

“Apakah ada pemunahnya atau tidak?” tanya pemuda itu kemudian dengan penuh rasa dendam.

Giok Teng Hujin manggut-manggut.

“Ada sih ada, cuma obat pemunahnya hanya dimiliki oleh kaucu seorang….!”

“Aku akan mencari dia sekarang juga!” seru Hoa Thian- hong sebelum perempuan itu menyelesaikan kata-katanya, cepat dia bangkit berdiri dan siap berlalu dari situ.

“Eeh…. tunggu sebentar!” seru Giok Teng Hujin gelisah. Hoa Thian-hong berpaling sambil menyeka air mata yang meleleh keluar bercampur dengan keringat.

“Apa yang hendak kau tanyakan lagi?” tanyanya. “Dimanakah pedang bajamu?”

“Sudah lenyap, kitab kiam keng ada disakuku!”

“Adik Hong, ingat baik-baik perkataanku!” kata Giok Teng Hujin mendadak dengan wajah seiius “bila kau serahkan kitab kiam keng sebagai pertukaran syarat, kendatipun aku bisa kau selamatkan, akhir nya aku tetap akan bunuh diri!”

Tertegun Hoa Thian-hong setelah mendengar ancaman itu, air mata yang baru dihapus kembali meleleh keluar dengan derasnya

Giok Teng Hujin berkata lagi, “Pada umumnya siksaan api dingin melelehkan sukma akan berlangsung selama tujuh hari tujuh malam, aku masih ada kesempatan hidup selama lima hari, usahakanlah pertolongan untukku, tapi jangan kau terima semua paksaan dari orang lain, engkaupun tak boleh menyiksa diri sendiri, usahakan pertolongan sewajarnya mengerti?”

“Ooh…. cici, bolehkah kusentuh badanmu? Walau hanya sebentar saja….” pinta Hoa Thian-hong mendadak dengan air mata bercucuran.

Agak tertegun Giok Teng Hujin mendengar perkataan itu, tapi akhirnya dia mengangguk.

“Sentuhlah, tapi jangan sampai menggoncangkan tubuhku!” Cepat Hoa Thian-hong lepaskan jubah luarnya, sambil berjongkok dia seka keringat yang membasahi punggung Giok Teng Hujin ketika jari tangannya menyentuh tubuh sang dara yang bergetar keras, tanpa sadar tubuhnya ikut gemetar karas.

“Kenakan pakaian itu ditubuhku!” bisik Giok Teng Hujin dengan suara yang lirih.

Hoa Thian-hong kenakan bajunya dipunggung perempuan itu, kemudian berkata lagi, “Wajahmu berkeringat, pipimu berminyak, ijinkanlah kuseka keringat dan minyak itu, lihatlah, rambutmu kusut dan awut-awutan biarlah kubereskan semuanya untukmu!”

“Jangan!” seru Giok Teng Hujin ambil buru-buru berpaling.

Kiranya setelah mengalami siksaan selama sehari dua malam, kulit dan pori-poro wajah dara itu banyak berkerut akibat kepanasan, kelembutan dan kehalusan telah banyak yang hilang, dengan begitu mukanya tampak jauh lebih tua daripada keadaan di hari-hari biasa.

Sebagai anggota Kiu-im-kauw, tentu saja dara itupun tahu akan akibat yang bakal diterima sesudah menjalankan siksaaan tersebut maka ia tak ingin Hoa Thian-hong melihat wajahnya dan mengetahui pula akan kerutanya.

Tertegun si anak muda itu ketika permintaannya ditolak, ia berdiri termangu, sementara dalam hati timbullah perasaan heran dan tak habis mengerti, ia tak tahu betapa perempuan itu merahasiakan raut wajahnya, mungkinkah terjadi suatu perubahan? Namun ia tidak berpikir panjang, setelah termangu sebentar akhirnya pemuda itu berkata, “Cici bersabarlah disini, segera kucari Kiu-im Kaucu! Aku akan membikin perhitungan dengannya!”

“Bawalah serta Soat-ji!” Giok Teng Hujin menambahkan. “Biarkan disini dulu, sebentar aku akan kemari lagi….” “Jangan! Sebelum kau dapatkan obat pemunah, tak usah

kau tengok diriku lagi, hindarilah segala resiko yang tak diinginkan, daripada kau celaka disergap orang”

Sedih dan pilu perasaan hati Thian-hong, ia merasa hatinya bagaikan disayat-sayat pisau, tak tega rasanya pemuda itu untuk menampik permintaannya, maka dengan membopong Soat-ji dia lantas mengundurkan diri dari ruangan itu.

Setelah keluar dari ruangan, ia dengar pertempuran yang sedang berlangsung dibawah loteng makin bertambah seru. Mendadak…. segulung hawa nafsu membunuh yang luar biasa tebalnya menerjang kedalam benak, ia merasa darah panas ditubuhnya jadi mendidih, hanya satu ingatan yang terlintas dalam benaknya, ingatan itu adalah membunuh orang, makin banyak orang yang dibunuh makin baik.

Dipihak lain, Suma Tiang-cing dan Yu beng tiamcu sudah bertarung sebanyak tiga ratus gebrakan, dada kiri Suma Tiang-cing telah bertambah dengan sebuah mulut luka sepanjang tiga cun, sedangkan lengan kiri tiamcu istana Neraka juga bertambah dengan sejalur luka, darah bercampur keringat membasahi tubuh mereka membuat mereka tampak lebih seram dan mengerikan.

Cahaya kilat dan hawa pedang menyelimuti sekeliling ruangan tersebut, dua orang jago lihay itu saling bergerak diantara lapisan cahaya pedang, mereka saing menerkam dan saling menerjang ganas dan mengerikan sekali pertarungan yang sedang berlangsung.

Rapanya kelihayan ilmu siiat mereka seimbang, maka sekalipun sudah bertarung lama, keadaan tetap seimbang alias sema kuat.

Akhirnya mungkin karena penasaran, makin menyerang mereka makin kalap dan masing-masing mengeluarkan segenap kepandaian tangguh yang dimilikinya.

Sepasang pedang saling membentur satu sama lainnya menimbulkan dentingan nyaring yang memekikan telinga.

Pedang pek le kiam milik Suma Tiang-cing memang sebilah pedang yang tajam dan luar biasa, tapi dibandingkan dengan Boan liong poo kiam dari Thong-thian-kauw yang kini berada ditangan tiamcu istana neraka, toh masih kalah tajamnya, karena itu tiap kali terjadi benturan, diatas pedangnya segera tertinggal sebuah gumpilan sebesar biji beras.

Hingga detik ini, sudah tiga gumpilan yana menghiasi pedang Pek lee kiam tersebut, betapa sakit hati dan sayangnya Suma Tiang-cing melihat pedangnya rusak, ia menyerang makin ganas dan makin kalap, hampir semua ilmu kepandaian yang dimilikinya dikeluarkan, seumpama musuhnya kurang teguh imamnya niscaya sedari tadi tadi sudah dibuat ketakutan oleh tindakan musuhnya yang mirip kerbau gila ini.

Diam-diam Cu Im taysu merasa kuatir, ia tahu bila pertarungan itu dibiarkan terus berlangsung, maka akhirnya salah satu diantara mereka tentu akan mati, beberapa kali ia membentak agar rekannya menghentikan pertarungan itu, sayang bentakannya telah mendapatkan tanggapan, pertarungan masih berlangsung terus dengan serunya.

Kiu-im Kaucu tidak menunjukkan perubahan sikap, mukanya tetap dingin dan kaku sedangkan mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.

Disaat pertarungan kedua orang itu sudah mencapai pada puncak ketegangan, Hoa Thian-hong menerkam dari atas loteng, semua orang jadi panik dan sama-sama menbentak keras.

Namun si anak muda itu sudah keburu kalap, ia tak ambil peduli kegusaran orang lain, diiringi gulungan angin pukulan yang amat dahsyat, sebuah pukulan maut telah di lontarkan ke tubuh tiamcu istana neraka.

Semua orang menjerit kaget, hati mereka berdebar keras bahkan ada pula yang sampai mundur sempoyongan, memang semua orang sudah menduga kalau cepat atau lambat Hoa Thian-hong pasti akan muncul di sana, tapi mereka tak menyangka kalau pemuda yang biasanya kalem dan tidak menyerang orang secara sembarangan, tiba-tiba saja menyergap seseorang yang sedang terlibat dalam pertempuran.

Dalam gugupnya, pertama-tama Kiu-im Kaucu yang membentak gusar lebih dahulu, untuk mencegah jelas tak mungkin lagi, maka dia lantas mencaci maki kalang kabut.

Suma Tiang-cing sendiri tak ingin mencari kemenangan dengan cara meagerubut, apalagi terhadap seorang perempuan, seraya membentak diapun tarik kembali serangannya sambil mundur kebelakang. Tiamcu istana neraka yang terserang tak banyak berkutik, tahu-tahu dia merasakan lengan nya bergetar keras, dan pedang Boan liong poo kiam tersebut sudah dirampas oleh Hoa Thian-hong.

Ia tak tahan didorong oleh tenaga pukulan yang maha dahsyat, begitu pedang mustika tersebut terampas oleh lawan, kuda-kudanya gempur dan tak bisa dicegah lagi dengan sempoyongan ia mundur beberapa langkah kebelakang.

Dengan wajah hijau membesi dan memukul-mukulkan tongkat kepala setannya keatas tanah, Kiu-im Kaucu memaki kalang kabut, “Anjing Hoa Thian-hong, begitukah perbuatanmu? Begitukah perbuatan dari seorang manusia yang menganggap dirinya sebagai seorang enghiong…. seorang pahlawan?”

Merah membara sepasang mata Hoa Thian-hong, wajahnya menyeringai seram, dengan sorot mata berapi-api, ia lepaskan Soat-ji ketanah, kemudian membuang pula pedang yang digembol ketanah, dengan suara yang dingin menyeramkan ia berseru, “Tak ada gunanya kita banyak bicara, lebih baik ambillah suatu keputusan untuk menyelesaikan masalah ini!”

Sekuat tenaga Kiu-im Kaucu berusaha untuk menenangkan hatinya, lalu sambil tertawa tergelak katanya, “Haaahh…. haaahhh…. haaahhh…. engkau rampas pedang Boan liong poo kiam dari tangan anggotaku, apakah kau hendak berduel lawan aku dengan mengandalkan senjata itu?”

Hawa nafsu membunuh telah menyelimuti wajah Hoa Thian-hong, ia tahu dalam masalah Giok Teng Hujin, ia tak mungkin memohon kepada kaucu ini dengan kata yang lembut, bertukar syarat jelas tak mungkin, sedangkan dengan

jalan kekerasanpun belum tentu bisa berhasil karena sekalipun ia bisa menangkan Kiu-im Kaucu toh belum tentu orang itu bersedia melepaskan tawanannya.

Jelaslah sudah bagi pemuda itu bahwa masalah yang dihadapi adalah sebuah masalah pelik bagaikan sebuah simpul mati, kecuali ia bersedia menuruti semua kemauan dan keinginan lawan, tak mungkin Giok Teng Hujin dapat ditolong.

Tiba-tiba terbayang kembali olehnya betapa tersiksa dan menderitanya Giok teng hujn tersiksa oleh api dingin melelehkan sukma, api amarah bergelora dalam dadanya kembali memuncak, kebencian dan rasa dendam kembali muncul dihati.

Dalam keadaan demikian, ia jadi kalap, kemarahannya susah dikendalikaa lagi, dengan mata melotot besar tiba-tiba ia putar badan dan menerkam ke arah kawanan jago dari Kiu- im-kauw.

Hebat sekali perubahan wajah Kiu-im Kaucu menyaksikan perbuatan sang pemuda, ia lantas membentak nyaring, “Hoa Thian-hong, engkau berani bertindak keji?”

Hoa Thian-hong menjengek sinis, dia putar pedang mustika itu dan sahutnya dengan nada seram, “Kau anggap aku Hoa Thian-hong tak berani bertindak kejam? Hmm, kalau mau salahkan maka sekarang juga salahkan, akan kubasmi dulu semua begundalmu, kemudian akan kulihat mampukah engkau menghalangi niatku ini!”

Selesai berkata, kembali ia siap menerkam kedepan.

Cu Im taysu bertindak cepat, rupanya dia tahu kegusaran dan kenekadan pemuda itu, sambil menghadang jalan perginya dia berseru, “Omintohud. berbuatlah belas kasihan, jangan karena emosi melakukan pembantaian keji yang sama sekali tak ada manfaatnya!”

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong, sinar matanya berapi api, dengan penuh emosi teriaknya, “Taysu, berbuatlah kebaikan untukku, boanpwae benar-benar amat benci dan dendam!”

Ucapan tersebut diutarakan dengan suara yang berat dan mantap, membuat setiap pendengar perkaraan itu merasakan telinganya mendengung keras, ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, paras muka mereka rata-rata berubah hebat.

Suma Tiang-cing ikut menghela nafas panjang, katanya pula dari sisi gelanggang, “Thian-hong, tadi aku memang pernab mengatakan akan membantai sampai habis setiap orang jahat, manusia jahanam yang ada didunia ini, janganlah kau anggap serius perkataanku itu, sebab ucapan yang dikatakan dalam keadaan emosi adalah kata-kata kasar belaka, kau tak boleh menganggap ucapan itu sebagai kata yang sungguh-sungguh”

Dengan pedang terhunus dan mata melotot besar karena gusar beberapa kali Hoa Thian-hong hendak menerjang lewati Cu Im taysu dan menerkam orang-orang dari Kiu-im-kauw.

Tapi ketika menyaksikan keagungan serta kekerenan wajah Cu Im taysu yang menghadang dihadapannya, ia tak berani menerjang secara gegabah, apalagi sesudah mendengar nasehat dari Suma Tiang-cing, pemuda itu makin termangu dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Perlu diketahui watak mulia, welasasih dan bijaksana yang dimiliki Hoa Thian-hong sekarang, tak lain adalah warisan dari ayah nya sedangkan Hoa Hujin termasuk seorang pendekar perempuan berhati sekeras baja, membenci kejahatan hingga merasuk ketulang, dalam pandangannya membasmi kejahatan sama halnya dengan berbuat kemuliaan, membunuh seorang manusia berhati keji sama artinya menyelamatkan beberapa orang baik dari kematian, baginya daripada satu kota menangis lebih baik satu keluarga saja yang menangis.

Sejak suaminya mati dan rumahnya dirampas musuh, rasa dendam dan ingin membalas dendam berkobar-kobar dalam benaknya, dia bercita-cita untuk membasmi tumpas iblis dari muka bumi dan membantai setiap manusia jahanam yang ditemuinya, dia tidak membenci satu dua orang iblis belaka melainkan seluruh manusia iblis dari golongan hitam.

Oleh karena itulah meskipun sangat ketat pendidikan yang dia berikan kepada putranya, namun tak pernah ia menyinggung soal kebajikan dan welas kasih.

Dengan dasar pendidikan yang telah diperoleh semenjak kecil, Hoa Thian-hong pun tanpa disadari ketularan pula watak keras dari ibunya ini, maka ketika Suma Tiang-cing mengucapkan kata-kata emosi tadi, suatu bayangan gelap sudah menyelimuti hati si anak muda itu, apalagi setelah persoalan yang menyangkut tentang diri Giok Teng Hujin mengalami kesulitan, bahkan mendekati jalan buntu, hawa nafsu membunuh yang sejak permulaan sudah mengkilik isi hatinya seketika tak terkendalikan lagi dan memancarlah keluar bagaikan air bah yang menjebolkan tanggul.

Rasa benci dan dendam masih menyelimuti seluruh benak Hoa Thian-hong, nasehat dari Cu Im taysu maupun Suma Tiang-cing memang sempat meredakan darahnya yang mendidih, tapi bukan berarti dapat melenyapkan keseluruhannya. Sekujur tubuhnya masih gemetar keras menahan emosi, pedang mustika boan liong po kiam berkilauan memancarkan setentetan cahaya yang amat tajam, sinar tersebut mencorong keluar dan amat menyilaukan mata tiap pendekar, begitu dahsyatnya pancaran hawa lwekang yang tersalur didalam pedangnya itu sampai lantai loteng bergetar dan berkenyit keras, udara disekitar gelanggang terasa membeku dan kaku memaksa setiap orang merasa susah untuk bernapas.

Dengan wajah sedih tapi serius kembali Cu Im taysu berkata, “Nak, masih hidupkah nona itu?”

Titik air mata tak kuasa lagi meleleh keluar membasahi pipi anak muda itu, dengan wajah yang kaku Hoa Thian-hong mengangguk.

“Ia masih hidup, sekarang sedang menjalankan siksaan diatas loteng, suatu siksaan yang tidak berperikemanusiaan, siksaan yang hanya bisa dilakukan oleh binatang bukan perbuatan seorang manusia normal!”

Berkernyitlah dahi Cu Im taysu sehabis mendengar jawaban itu, dia lantas berpaling ke arah Kiu im kancu dan berkata, “Kaucu, dengan memberanikan diri pinceng sekalian ingin memohon sesuatu kepadamu, apakah engkau bersedia membebaskan nona itu dari segala siksaannya?”

Diam-diam Kiu-im Kaucu menghembuskan nafas lega, ia tahu sesudah jago berbaju pendeta ini memohon kepadanya, tanpa disadari suasana kaku dan sesak yang semula menyelimuti gelanggangpun kini sudah melumer kembali, ia tertawa dan menjawab, “Ku Ing-ing merupakan anak murid Kiu-im-kauw kami, mau kusiksa dia atau mau kubunuh dirinya persoalan ini adalah persoalan pribadi perkumpulanku, apa sangkut pautnya dengan kalian semua?” Kelihayan ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong sudah diketahui oleh banyak orang, apalagi sesudah pedang mustika Boan liong po kiam yang tajamnya luar biasa itu berhasil dirampas olehnya, keadaan si anak muda itu boleh dibilang ibarat harimau yang tumbuh sayapnya.

Andaikata pemuda itu tetap nekad dan melanjutkan niatnya untuk membantai setiap anggota Kiu-im-kauw yang ditemuinya, Kiu-im Kaucu percaya bahwa dia tak mampu untuk melindungi keselamatan anak buahnya, malahan mencegahpun belum tentu mampu.

Oleh sebab itulah, setelah Cu Im taysu dan Suma Tiang- cing berhasil membatalkan niat si anak muda itu untuk melakukan pembantaian, serta-merta nada ucapannya pun ikut mengalami perubahan besar, pembicaraannya tidak seketus tadi lagi, malahan jauh lebih lembut dan kendor….

Cu Im taysu menundukkan kepalanya dan menghela napas panjang, kemudian ujarnya, “Tak usah kaucu terangkan, pinceng sendiripun mengetahui bahwa persoalan ini sebenarnya adalah masalah pribadi perkumpulanmu sendiri, karenanya kami hanya memohon kerelaanmu, kami bukanlah manu sia-manusia yang tidak mengutamakan soal cengli….!”

“Aku tahu setiap persoalan yang terjadi didunia ini memang tak bisa terlepas dan soal cengli, sebagai pendekar-pendekar besar yang berjiwa ksatria tentu saja taysu sekalian harus mengutamakan soal cengli, bukan begitu?”

Kembali Cu Im taysu menghela napas panjang, selang sesaat kemudian dia baru bertanya lagi, “Kaucu, bila diijinkan ingin sekali pinceng menanyakan satu persoalan lagi….”

“Apa yang hendak kau tanyakan lagi?” sela Kiu-im Kaucu dengan suara lantang. “Sebetulnya kesalahan serta dosa apakah yang telah dilanggar nona Ku, sehingga dia harus disiksa secara keji?”

Kiu-im Kaucu tersenyum.

“Kusiksa dirinya lantaran dia berani membangkang perintahku serta berkhianat terhadap perkumpulannya, apakah taysu merasa tidak terima dengan tuduhanku ini?”

00000O00000

81

“OH…. tidak berani, menurut apa yang pinceng ketahui, sudah amat lama nona Ku tersiksa dan menderita selama dia menyusup ke tubuh perkumpulan Thong-thian-kauw, berbicara sesungguhnya sudah banyak sekali pahala yang telah dia lakukan demi perkumpulanmu!”

“Siapa berjasa dia mendapat pahala, siapa bersalah dia harus menerima pula hukumannya” tukas Kiu-im Kaucu sambil tertawa, “Sekalipun keputusan dan tindak tandukku kurang bijaksana atau kurang adil, aku rasa orang lain tidak berhak untuk mencampurinya, ketahuilah persoalan ini adalah urusan pribadiku sendiri!”

Sekali lagi Cu Im taysu menghela napas panjang. “Aaai…. kami semua berhutang budi kepada nona Ku,

sekarang setelah jiwanya terancam bahaya, tentu saja kami semua tak dapat berpeluk tangan balaka menyaksikan ia mati tersiksa, makanya kami semua mohon kebijaksanaan dari kaucu untuk melepaskan nona Ku dari siksaan dan memberi sebuah jalan kehidupan baginya!” “Haahh…. haaahh…. haaah…. meskipun Ku Ing-ing pernah melepaskan budi kepada kalian semua, toh kalian semua tak pernah melepaskan budi apa-apa kepada perkumpulan Kiu-im- kauw kami, dan berarti boleh saja aku memberi muka kepadamu, tapi dapat pula kami tak akan memberi muka kepadamu….!” seru Kiu-im Kaucu sambil tertawa tergelak.

Merah padam selembar wajah Cu Im taysu sesudah mendengar perkataan itu, untuk sesaat lamanya dia tak tahu apa yang musti dijawab.

Suma Tiang-cing yang mengikuti jalannya perundingan itu, dalam hati kecilnya lantas berpikir, “Taysu ini terlalu polos dan tak memahami kelicikan serta kebusukan hati orang, kalau dia yang memimpin perundingan ini sekalipun sepuluh tahun lagi juga tak akan berhasil, tampaknya aku harus turun tangan sendiri”

Berpikir sampai disitu, dia lantas maju kedepan dan ujarnya kepada Kiu-im Kaucu dengan mata melotot, “Aku sudah pernah menerima kebaikan dan budi pertolongan dari Ku Ingg ing, itu berarti bagaimanapun juga aku harus menolong dirinya sampai terlepas dari siksaanmu, kalau mau melepaskan cepatlah kau sanggupi kalau tidak setuju hayo kita selesaikan saja persoalan ini diujung senjata!”

“Suma Tiang-cing!” seru tiamcu istana neraka dari samping dengan suara yang ketus, “untuk menangkan akupun tidak mampu mau apa engkau berlagak sok didepan kaucu kami?”

“Apa susahnya menangkan dirimu?” teriak Suma Tiang-cing dengan gusarnya, “suatu hari aku pasti akan mencari engkau dan menantang engkau untuk berduel hingga salah satu diantara kita mampus!”

Tiamcu istana neraka tertawa dingin. “Heeeh…. heeeh…. heeeh…. sayang pedang mustikaku telah dirampas orang dengan cara yang memalukan, sedangkan kaucu kamipun tidak sampai merampas pula pedang mustikamu, kalau bertemu lagi dikemudian hari sudah tentu aku tak bisa menangkan dirimu….”

Pancingan yang dilontarkan Tiamcu dan istana neraka ini segera termakan oleh lawannya, benar juga Suma Tiang-cing segera berseru sesudah mendengus dingin, “Hmmm! Engkau tak usah kuatir apa bila kita berjumpa lagi dikemudian hari, Suma Tiang-cing tak akan melayani dirimu dengan pedang mustika. Hmmm…. hmmm…. jangan kau anggap setelah kugunakan pedang biasa maka aku tak mampu untuk bereskan jiwa anjing mu!”

Sementara kedua orang itu sedang saling mencaci maki dan ribut, tiba-tiba dari bawah loteng melayang turun seseorang, dia tak lain adalah Pui Che-giok, sambil memburu ke gelanggang serunya dengan penuh kegelisahan, “Hoa kongcu!”

“Bagus!” seru Hoa Thian-hong dengan mata melotot, engkau punya keberanian untuk datang kemari, tak malu nonamu menyayangi engkau selama ini!”

Pui Che-giok melirik sekejap ke arah Kiu-im Kaucu dengan wajah pucat pias seperti mayat, tampaknya dia merasa jeri dan takut sekali sementara diluar dia menjawab, “Budak diambil nona setelah nona masuk kedalam perkumpulan Thong-thian-kauw, dan berarti budak bukan terhitung anggota Kiu-im-kauw!”

“Baiklah, engkau berdirilah disamping, bila aku gagal untuk menyelamatkan nonamu, aku bersumpah pasti akan membalaskan dendam baginya, aku tak akan membiarkan orang-orang dikolong langit mentertawakan diriku dan menuduh Hoa Thian-hong tak punya rasa tanggung jawab, tak punya rasa setia kawan, sehingga seorang dayangpun tak bisa menandingi….”

Mendengar ucapan tersebut Pui Che-giok benar-benar mengundurkan diri kesamping gelanggang, sementara bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat itu dibatalkan.