Tiga Maha Besar Jilid 24

 
Jilid 24

TANG KWIK-SIU tertawa tergelak, sambil menerjang

kemuka ia melepaskan sebuah pukulan dahsyat, serunya, “Maaf, aku main kasar!” Sekilas pandangan Hoa Thian-hong tahu kalau serangan yang dilancarkan orang itu amat kuat dan hebat, sekalipun mukanya jelek tapi ilmu silat yang dimiliki bukanlah omong kosong.

Tentu saja ia tak berani sembarangan bertindak, apalagi bertindak secara gegabah, sepasang tangannya secepat petir dirangkap menjadi satu, kemudian berbareng dilontarkan kedepan.

“Bagus!” seru Tang Kwik-siu, kesepuluh jarinya direntangkan lebar-lebar seperti jepitan baja, dengan telapak tangan menghadap udara, dia kirim satu pukulan udara kosong dengan hebatnya.

Meskipun ilmu pukulan udara kosong merupakan satu jenis ilmu pukulan, akan tetapi jarang bisa ditemui dalam dunia persilatan, bahkan Hoa Thian-hong baru pertama kali ini menjumpainya, Untuk sesaat ia tak tahu dimanakah letak keampuhan dan kesaktian ilmu pukulan yang tampaknya luar biasa itu, dengan jurus Kun siu ci-tau, ia hadapi serangan keras itu dengan pukulan keras juga.

Rupanya Tang Kwik-siu telah mencari tahu sampai jelas tentang seluk beluk Hoa Thian-hong, begitu ia lihat anak muda itu menyerang dengan telapak kirinya, sadarlah jago tua itu bahwa musuhnya telah keluarkan ilmu simpanannya.

Sambil tertawa tergelak ia rubah pukulan kepalanya menjadi suatu pukulan telapak, disambutnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

“Blaang! ditengah benturan nyaune, sepasang telapak tangan telah saling beradu satu sama lainnya, tubuh mereka berdua segera bergetar keras. Namun kedua belah pihak sama-sama tak mau buang kesempatan baik itu dengan begitu saja, secepat kilat mereka berputar satu ling karan lalu secepat kilat saling melancarkan beberapa jurus pukulan.

Sebagai jaro yang sama-sama lihaynya, cukup dalam sekali bentrokan mereka telah mengetahui sampai dimanakah kemampuan yang dimiliki musuhnya.

Mereka mengerti dalam hal tenaga dalam jelas kekuatan mereka seimbang, siapapun tak bisa menangkan lawannya, untuk merebut kemenangan,j elas harus mengandalkan kesempurnaan jurus silat serta pengalaman dalam menghadapi musuh.

Tidak sampai dua gebrakan, Tang Kwik-siu telah berhasil memaksa Hoa Thian-hong untuk keluarkan ilmu simpanannya, begitu musuh sudah menggunakan ilmu andalannya maka diapun ikut merubah gerak sera ngannya.

Mendadak tangan kirinya sebentar menyerang, sebentar mencekeram, kadangkala menotok dan kadang pula membacok, sebaliknya tangan kanannya mainkan pukulan Lei sim toh si ciang hoat dari aliran Sing sut pay untuk meneter lawannya habis-habisan.

Dalam waktu singkat mereka telah saling bergebrak sebanyak dua puluh jurus lebih.

Serentetan serangan bertubi-tubi itu dilancarkan secepat samba-ran petir, jangankan mereka yang sedang bertempur, bahkan para penonton yang berada disekitar gelanggang ikut merasakan napasnya jadi sesak. Tapi Hoa Thian-hong masih tetap melayani serangan musuhnya dengan jurus Kun-siu-ci-tauw tersebut.

Untungnya dalam hal ilmu meringankan tubuh ia cukup tangguh dan punya simpanan, dalam waktu singkat ia sudah keluarkan ilmu I heng huan wi (geser badan tukar tempat), Sut te tun sin (mengerutkan badan menyusup bumi) serta Gong tiong toa I na (berjumpalitan ditengah udara) untuk meloloskan diri dari bahaya maut.

Kendatipun posisinya masih terdesak dibawah angin, namun ia berhasil mempertahakan diri sehingga tak sampai menderita ke kalahan.

Tang Kwik-siu yang secara beruntun sudah melancarkan pelbagai serangan dengan jurus-jurus yang ampuh tanpa berhasil mengalahkan Hoa Thian-hong, lama kelamaan timbul juga niatnya untuk merebut kemenangan, tiba-tiba ia membentak keras, tangan kiri menggunakan jurus sian ki ci lek sedang tangan kanan memakai ilmu pukulan thian mo ciang, Hua kut Sinkun serta Toa jin eng dari kalangan Buddha untuk meneter lawannya habis-habisan

Jurus-jurus serangan yang dipergunakan rata-rata merupakan serangan ampuh dengan peruba-han yang terhitung banyaknya, dalam waktu singkat Hoa Thian-hong sudah keteter hebat sehingga mundur terus kebelakang.

Betapa gelisahnya Pek Kun-gie menyaksikan kejadian itu, sambil putar pedang lemasnya ia menjerit lengking.

“Kawan-kawan semua, hayo kita serbu bersama, mari kita jagal seluruh manusia siluman dari Mo-kauw ini!”

Sambil menjejak permukaan tanah, ia langsung menerjang lebih dahulu kedepan. Siapa tahu belum sempat tubuhnya meluncur kedepan, tiba-tiba ia merasa lengan tangannya jadi kencang dan tahu- tahu sudah kena dicengkeram oleh ibunya sendiri.

Paras Kho Hong-bwee amat murung dan serius, mulutnya membungkam dalam seribu bahasa, sementara sorot matanya yang tajam mengawasi jalannya pertarungan itu tanpa berkedip.

Pek Kun-gie seketika itu juga merasakan lengannya seolah- olah di jepit oleh suatu jepitan baja yang sangat kuat, ia menjerit kesakitan sampai peluh membasahi seluruh tubuhnya, akan tetapi Kho Hong-bwee tidak merasa dan jepitan itupun lama sekali tidak mengendor.

Tang Kwik-siu memang seorang jago yang lihay dengan ilmu silat yang beraneka ragam, sekalipun pertarungan baru berlangsung enam tujuh puluh gebrakan, secara berutan ia telah menggunakan belasan jenis ilmu pukulan yang rata-rata merupakan ilmu tangguh yang sudah lama lenyap dari peredaran Bu Lim.

Jangan toh berpuluh-puluh macam, apabila orang biasa berhasil mempelajari satu saja diantaranya, ilmu silat itu sudah cukup diandalkan untuk menjago dunia kangou, bisa dibayangkan sampai dimanakah kelihayan dari Tang Kwik-siu tersebut.

Sesudah mengikuti jalannya pertarungan itu, bukan saja Kho Hong-bwee dan Cu Thong merasa terkejut dan berdebar hatinya, malahan Kiu-im Kaucu sendiripus merasa tercekat sehingga paras mukanya berubah jadi hijau membesi.

Jago lihay sebangsa Tang Kwik-siu boleh dibilang sukar dijumpai dalam kolong langit, seorang menguasai berpuluh jenis ilmu pukulan sakti yang beraneka ragam, bukan saja semua jago merasa tak mampu untuk melampaui kelihayannya, bahkan Kiu-im Kaucu sendiripun yakin bahwa dia sendiripun belum temu sanggup mengalahkan jago dari Mo-kauw ini.

Dalam waktu singkat, Hoa Thian-hong sudah terdesak hebat hingga keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, ditengah hembusan angin pukulan yang menderu-deru, secara lapat-lapat kedengaran pula dengusan napasnya yang memburu.

Untung saja ilmu pukulan Kun-siu-ci-tauw yang berhasil dikuasainya itu memang suatu jurus pukulan yang tangguh, semakin berbahaya situasi yang dihadapinya semakin dahsyat pula daya pengaruh yang terpancar keluar dari ilmu pukulan itu, makin hebat teteran musuh yang menekan datang semakin besar pula daya tolakan yang dihasilkan.

Berulang kali Tang Kwik-siu melepaskan pukulan-pukulan dengan jurus tangguh, namun senantiasa ia gagal untuk mendepak musuhnya hingga terpojok, karena itu meskipun pertarungan berjalan sengit dan gembong iblis dari Mo-kauw ini berbasil menduduki posisi atas angin, namun menentukan untuk menang atau kalah masih merupakan suatu pekerjaan yang amat sulit….

Lama kelamaan Kho Hong-bwee merasa gelisah bercampur cemas, apalagi setelah menyaksikan keadaan putrinya yang setiap saat berusaha untuk terjunkan diri kegelanggang pertarungan.

Ia tahu dalam keadaan demikian, kekuatan yang dimilikinya terlalu lemah dan tak mungkin bisa menguaiahi keadaan, apa boleh buat lagi terpaksa ia berpaling ke arah Kiu-im Kaucu dan berkata dengan suara hambar, “Ilmu silat yang dimiliki Tang kwik kaucu sangat lihay dan aneka ragam kepandaian yang dikuasainya sukar ditandingi oleh siapapun, tampaknya kursi pimpinan dunia persilatan dalam daratan Tionggoan harus terpindah tangan kepihak Seng sut pay. Aaai, mungkinkah inilah masanya bagi perkumpulan Sin-kie-pang kami untuk membubarkan diri?”

Beberapa patah kata yang diucapkan Kho Hong-bwee itu kedengaranya amat sederhana dan tiada sesuatu yang hebat, tapi pada hakekatnya kata-kata itu justru tersimpan segulung kekuatan yang luar biasa.

Sekujur badan Kiu-im Kaucu bergetar keras sehabis mendengar perkitaan itu, cepat pikirnya dihati.

“Andaikata Hoa Thian-hong yang berhasil merajai dunia persilatan, orang lain pasti masih ada kesempatan untuk hidup, seba liknya kalau setan tua she Tang ini yang berhasil malang melintang didaratan Tionggoan tanpa tandingan, sudah pasti perkumpulan Kiu-im-kauw yang kudirikan akan ikut tertumpas pula….Hmmm! Untuk menghindari segala kemungkinan yang tidak diinginkan, terpaksa aku musti singkirkan dahulu iblis tua itu….”

Sekalipun Kiu-im Kaucu dapat memahami keadaan tersebut dalam sekilas pandangan, akan tetapi ia tak sudi membantu Hoa Thian-hong, sebab rasa iri dan sifat mementingkan diri sendiri yang dimilikinya terlalu tebal, ia lebih suka menghadapi kesulitan dibelakang hari dari pada sekarang harus membantu musuhnya.

Tang Kwik-siu sendiri walaupun berada di tengah pertarungan, akan tetapi semua perkataan yang di ucapkan Kho Hong-bwee dapat di dengar olehnya dengan sangat jelas, diam-diam ia merasa terperanjat. Jago tua dari Seng Sut hay ini jadi terbayang kembali akan nasib Siang Tang Lay yang pernah malang melintang didaratan Tionggoan tanpa tandingan, tapi akhirnya toh mati setelah dikerubuti oleh ketua Sin-kie-pang, ketua Hong-im- hwiee, ketua Thong-thian-kauw ditambah Bu liang sinkun dan Ciu It Bong.

Sebagai seorang cikal bakal dari suatu perkumpulan besar, Tang Kwik-siu terhitung seorang jago lihay yang berotak cerdik, setelah memahami dimanakah letak kelihayan dan bahaya yang mengancam posisinya, segera ia mengambil keputussn untuk melakukan serangkaian serangkaian kilat untuk merobohkan Hoa Thian-hong lebih dahulu, kemudian sepenuh tenaga menghadapi pula Kiu-im Kaucu, asal dua kelompok kekuatan terbesar dalam dunia persilatan dewasa ini berhasil dipatahkan, maka untuk menguasai jasad dikemudian hari tidaklah mengalami banyak rintangan.

Begitu keputusan diambil, gerak serangan pun ikut berubah, tangan kirinya dengan lima jari yang dipentangkan bagaikan cakar setan senantiasa mengancam hiat to penting ditubuh Hoa Thian-hong, dimana jari tanggannya menyambar lewat disitulah tersembur lima gulung hawa hitam yang disertai bunyi desingan tajam.

Sebaliknya lengan kanannya dengan disertai suara gemerusukan yang nyaring tiba-tiba memanjang empat cun dari keadaan semula pukulan-pukulan yang kemudian dilancarkan semuanya ditujukkan pada dada si anak muda itu.

Memang dahsyat dua macam ilmu serangan itu, dalam sekejap mata Hoa Thian-hong semakin keteter hebat, sehingga setiap saat ia terancam oleh bahaya maut.

Haputule yang berada disamping gelanggang, tiba-tiba menjerit keras dengan nada amat terkejut, Haah bukankah ilmu cengkeraman itu adalah Ngo kui in tong jiu (cakar lima setan angin dingin) dan ilmu pukulan Tong pit mo ciang (pukulan iblis berlengan panjang).

Mendengar seruan tersebut Kiu-im Kaucu segera berpikir pula dalam hatinya.

“Aaih…. kalau begitu, sekalipun ilmu silat yang dimiliki tua bangka itu terdiri dari aneka ragam ilmu yang tangguh, toh yang pa ling diandalkan adalah ilmu-ilmu semacam ini

Selama ini lengan tangan Pek Kun-gie masih dicengkeram terus oleh ibunya setelah Hoa Thian-hong keteter hebat dan jiwanya terancam mara bahaya, malahan paling banter ia cuma bisa bertahan dua puluh gerakan lagi, dalam cemasnya Kho Hong-bwee segera melemparkan tubuh putrinya kebelakang seraya berseru, “Mundur jauh-kauh dari sini….!”

Berbareng iiu pula. ia cabul keluar pedangnya yang tersoren di atas punggung.

“Bibi….” seru Kok See-piauw dengan sepasang alis matanya berkenyit.

“Ada apa? hardik Kho Hong-bwee dengan gusar, sekalipun aku tidak kenal aturan dunia persilatan, aku lebih-lebih tak kenal dengan sampah masyarakat macam dirimu!”

Kendatipun usia Kho Hong-bwee sudah mendekati setengah abad, namun kecantikan wajahnya belum hilang, sekalipan memakai jubah to koh yang kedodoran, kecantikannya masih amat menonjol.

Sayangnya dia adalah seorang perempuan yang halus diluar kasar didalam, kalau tidak begitu tentunya hubungan suami istri mereka tak akan putus sejak belasan tabun yang lampau.

Apa lagi sekarang, setelah hawa nafsu membunuh yang tebal menyelimuti seluruh wajahnya, kontan Kok See-piauw jadi bergidik dan tak berani banyak bicara lagi.

Dengan demikian, situasi dalam gelanggang pertarungan berubah semakin tegang, Kiu im kuicu segera ambil keputusan dihati kecilnya, asal Hoa Thian-hong sudah terluka dan mengalami kekalahan, dia akan turun tangan secepat kilat.

Asal ia bertindak tepat pada saatnya, Hoa Thian-hong pasti tak akan mati dan selama pemuda itu masih hidup berarti Tang Kwik-siu akan bertambah lagi seorang musuh yang tangguh, dan selama pemuda itu terluka, diapun bisa manfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk merebut kursi pertama dalam dunia persilatan.

Sementara itu Kho Hong-bwee dan Cu Thong yang masih menderita luka parah telah loncat kedepan bersiap sedia, mereka tidak langsung terjun kedalam gelanggang sebab pertarungan Hoa Thian-hong melawan Tang Kwik-siu baru berlangsung delapan sembilan puluh gebrakan, mereka berharap agar pemuda itu bisa bertahan beberapa saat lagi sehingga nama baik pemuda itu tidak sampai merosot karena kejadian ini.

Di pihak lain, Kok See-piauw serta dua orang murid Tang Kwik-siu yang lain telah menghimpun tenaga murninya pula untuk bersiap sedia asal situasi telah tegang dan serius, mereka akan turun gelanggang untuk menghalangi setiap bahaya yang mungkin akan diberikan kepada anak muda itu.

Di tengah penarungan sengit yang masih berlangsung, tiba- tiba terdengar Tang Kwik-siu tertawa tergelak, lalu berseru, “Hoa Thian-hong, berhati-hatilah, dalam sepuluh jurus mendatang aku akan berusaha merobohkan dirimu!”

Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut, tiba-tiba ia merebut posisi Tiong kiong dengan langkah Ling ting poh (ilmu langkah menyendiri), segera pukulan dahsyat langsung dilontarkan ke depan.

Waktu itn Hoa Thian-hong sudah kehabisan tenaga dan tersengkal-sengkal napasnya, tatkala merasakan betapa dahsyatnya ancaman yang meluncur datang, dan merasa tak mampu untuk mematahkan ancaman tadi, buru-buru ia menggeserkan badannya ke samping, kemudian balas melancarkan serangan dengan ilmu Menyerang sampai mati.

Tang Kwik-siu tertawa terbahak-bahak, tangan kirinya dibabat kemuka, desingan angin jari yang tajam segera meluncur kemuka menotok sikut anak muda itu, sementara telapak tangan kanannya merendah kebawah dan langsung menjotos ke arah pusarnya.

Rupanya jago tua dari Seng sut hay ini telah memperhitungkan masak-masak, asal ia menyerang maka Hoa Thian-hong bakal menang kis dengan tangan kanannya, maka berbareng itu pula serangan berikutnya yang disusulkan, boleh dibilang telah disertai dengan hawa pukulan yang maha dahsyat.

Setelah menyadari kelihayan musuhnya, Hoa Thian-hong tak berani melayani secara gegabah, sadari tadi seluruh tenaga dan perhatiannya telah dipusatkan menjadi satu.

Begitu merasa tak mampu menghadapi serangan lawan, sepasang kakinya segera menjejak permukaan tanah dan mundur setengah depa kebelakang, dengan begitu loloslah si anak muda itu dari kurungan musuhnya. “Hebat amat ilmu ginkang yang dimiliki bocah ini!” pikir Tang-kwik Siu dihati, “bila aku gagal membinasakan bocah ini sekarang juga, entah bagaimana jadinya beberapa waktu mendatang? Kepandaian silatnya pasti akan bertambah lihay!”

Berpikir sampai disitu, telapak tangannya segera dihimpun ke depan dan mengejar kemana pergi si anak muda itu.

Kecepatan gerak tubuh Hoa Thian-hong boleh dibilang sudah mendekati jalan pikiranya, akan tetapi perubahan jurus yang di lancarkan Tang Kwik-siu boleh dibilang bagaikan sukma gentayangan, jurus pertama belum habis dilancarkan, jurus berikutnya telah menyusul tiba, ini memaksa Hoa Thian- hong keteter hebat dan tiada kesempatan untuk bertukar napas lagi.

Sementara situasi berubah jadi kritis dan Hoa Thian-hong sudah didesak hingga tak sanggup mempertahankan diri lagi, tiba-tiba dari kejauhan terdengar seorang perempuan berseru dengan suara yang dingin tapi penuh kewibawaan, “Jangan gugup, gunakan Siau ci lam thian (sambil tersenyum menuding langit selatan)….!”

Kecuali Hoa Thian-hong, semua orang tertegun setelah mendengar seruan itu, sebab ucapan tadi bukan saja sangat mendadak tibanya bahkan nyaring dan amat menusuk pendengaran.

Lain halnya bagi si anak muda itu, seruan tadi sudah amat dikenal olehnya bahkan boleh dibilang telah bersatu dengan perasaan hatinya, begitu mendengar seruan tadi, spontan lengannya disodok kedepan dan menggunakan jari tangannya, ia menotok jalan darah tay yang hiat sepasang jidat Tang Kwik-siu. Ketika pukulan yang dilancarkan Tang Kwik-siu mengancam dada Hoa Thian-hong, serta-merta anak muda itu menyingkir kesamping sambil menyodok kemuka.

Kejadian tersebut bukan berarti dapat membebaskan diri dari ancaman telapak tangan Tang Kwik-siu, asal jago tua itu membalikkan telapak tangannya niscaya sudah mampu menghatam dada anak muda itu dengan telak.

Sekalipun begitu, asal Tang Kwik-siu berani melanjutkan ancamannya, kendatipun ia berhasil menghantam dada pemuda itu, jari tangan Hoa Thian-hong sendiripun akan menyodok pula jalan darah tay yang hiat diatas jidatnya.

Siapapun tahu bahwa jurus siau ci thian lam ini hanya suatu jurus serangan yang sederhana dan gampang, bahkan setiap orang mampu untuk menggunakannya tapi yang hebat justru jurus yang sederhana itu merupakan tandingan yang paling jitu untuk mematahkan ancaman lawan.

Siapapun lebih suka dadanya kena dihantam dari pada jalan darah tay yang niatnya tersodok.

Bisa di bayangkan betapa gusarnya Tang Kwik-siu menghadapi kejadian tersebut, serta-merta ia lantas berkelit kesamping.

Berhasil dengan serangannya, semangat Hoa Thian-hong makin berkobar, ia membentak keras telapak tangan kirinya diayun kemuka dan segera mengirim lagi sebuah pukulan gencar.

Setelah sekian lama melakukan pertarungan, baru kali ini Hoa Thian-hong melancarkan pukulan yang benar-benar tangguh. Weeess….!” sebuah angin pukulan yang dahsyat bagaikan gulungan ombak di tengah hembusan angin puyuh langsung menggulung kedepan dan menghantam tubuh jago tua itu.

Belum habis rasa kaget yang menyelimuti dada Tang Kwik- siu, angin pukulan yang maha dahsyat itu telah menggulung tiba, dalam posisi begini ia tak berani mererima ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Dalam paniknya ia putar badan sambil merendahkan tubuh, berhasil menghindari serangan musuh, telapak tangannya segera disodok ke depan menghajar iga lawan.

Pertarungan berlangsung makin cepat, dalam sekejap mata dua jurus telah di lewatkan.

Namun kawanan jago sudah tidak berniat untuk menyaksikan jalannya pertarungan lagi, semua orang sama- sama alihkan sorot matanya ke arah mana berasalnya suara itu.

Tampaklah Hoa Hujin dengan wajah yang agung sedang berjalan mendekat, langkah kakcinya amat cepat melebihi sambaran petir, hanya sekejap mata ia sudah tiba ditengah gelanggang.

Tio Sam-koh dengan toya bajanya yang besar, Chin Wan- hong sambil menggandeng tangan Siau Ngo-ji mengikuti dibelakangnya dengan langkah lebar.

Menyaksikan kesemuanya itu, Kiu-im Kaucu sangat terperanjat, dalam hati ia lantas berpikir, “Menurut berita yang tersiar, katanya Bun Siau-ih sudah kehilangan tenaga untuk bertempur, bahkan badannya jadi lemah dan menjagal ayampun tak mampu, kenapa secara tiba-tiba ilmu silatnya bisa pulih kembali jadi begini lihay? atau mungkin apa yang tersiar dalam dunia persilatan hanyalah berita kosong belaka?”

Jangankan dia, orang lainpun sama-sama kaget bercampur tercengang sesadah menyaksikan kejadian itu, sebab berita tentang punahnya ilmu silat yang dimiliki Hoa Hujin telah tersebar luas ke mana-mana, justru karena tiadanya tandingan yang tangguh maka Kiu-im Kaucu sekalian berani malang melintang dengan pongahnya.

Sebagai jago lihay yang berpengalaman, hanya cukup dalam sekilas pandangan saja, Kiu-im Kaucu sekalian telah mengetahui bahwa kekuatan tubuh yang dimiliki perempuan sakti ini telah pulih kembali seperti sedia kala, ini terbukti dari kecepatan gerak tubuhnya.

Apabila bukan disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun tak akan menyangka kalau hal ini benar-benar terjadi, untuk sementara waktu semua orang berdiri terbelalak dengan mulut melongo, kaget dan herannya bukan kepalang.

Tang Kwik-siu sebagai jago dari luar daratan sama sekali tidak kenal dengan Hoa Hujin, ditengah pertarungan dia tak sempat menengok kekiri kanan, dia cuma merasa bahwa suasana disekitar tempat itu anehnya bukan kepalang.

Dalam herannya terrpaksa dia menegur, “Jago lihay darimanakah yang telah datang?”

“Bun Siau-ih?” jawab Hoa Hujin dengan dingin.

Tiba-tiba dengan dahi berkerut ia membentak, Pertahankan diri, gunakan Boan thian hu tee (membongkar langit membalik bumi), Siang cu soay siau (siang cu membanting seruling) Untuk sukses dalam pemberian petunjuk atas jurus silat yang akan dipergunakan orang, seseorang harus benar-benar menguasai ilmu silat yang amat luas, pengalaman dalam menghadapi musuh yang tinggi serta kecerdasan otak yang luar biasa.

Perlu diketahui, ilmu silat yang dimiliki Tang Kwik-siu bukan berasal dari daratan Tionggon, selain itu selama hidupnya Hoa Hujin sendiripun tak pernah menggunakan senjata tajam, dengan begitu ilmu silat yang dimiliki perempuan itu belum bisa dikatakan lebih hebat dari Tang Kwik-siu.

Cuma untungnya perempuan itu ada disisi gelanggang, dengan kedudukannya sebagai penonton pandangannya justru jauh lebih meluas daripada mereka yang langsung terlibat dalam pertarungan itu, maka setiap kali ia berhasil memberi petunjuk kepada Hoa Thian-hong untuk mendahului musuhnya dan merebut posisi yang jauh lebih mengun tungkan.

Sekalipun jurus serangan berikutnya dari Tang Kwik-siu sama sekali tak terduga olehnya, dengan hubungan batin yang amat erat antara ibu dan anak berdua, asal Hoa Thian-hong mendengar suara ibunya, segera ia gunakan jurus serangan itu, maka pemuda ini berhasil memperbaiki kedudukannya yang terdesak.

Jurus Boan thian hu tee hanya suatu pukulan biasa, sebaliknya siang cu soay siau adalah jurus serangan dari ilmu delapan dewa mabok sempoyongan, jurus silat dasar yang sering dilatih Hoa Thian-hong semenjak kecil, bila pemuda itu diharuskan mengunakan sendiri jurus itu, tentu dia tak berani melakukannya, tapi karena ia percaya dengan ibunya maka jurus-jurus serangan itu segera digunakan. Diluar dugaan, jurus yang sederhana itu ternyata justru berhasil digunakan untuk menghindari serangan dahsyat yang dilancarkan oleh Tang Kwik-siu.

Semangat Hoa Thian-hong semakin berkobar, ia sudah tidak jeri lagi untuk menghadapi ilmu pukulan Tang Kwik-siu yang lihay, serangan demi serangan dilancarkan secara tetap dan mantap, setiap kesempatan yang ada segera dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meneter lawan.

Dengan begita maka pertarungan yang berlangsungpun makin ganas dan hebat, Tang Kwik-siu yang sudah lama mendengar akan nama besar Hoa Hujin, sedikit banyak merasa waspada juga sesudah kehadiran ja go itu, ia tak berani lanjutkan niatnya untuk membunuh si anak muda itu, ia cuma berharap agar Hoa Thian-hong hentikan dulu serangan itu dan diapun akan mengakhiri pertarungan ini sampai di sini saja.

Sebagai seorang tokoh silat yang punya nama besar, tentu saja Tang Kwik-siu tak tudi menghentikan dulu serangan tersebut.

Tiba-tiba terdengar Hoa Hujin berseru dengan suara berat, “Poo….”

Begitu mendengar ucapan ‘poo’, Hoa Thian-hong langsung membentak keras, dengan hawa murni yang melimpah ruah dia lepaskan sebuah pukulan dahsyat ke arah musuhnya.

Jurus serangan itu bernama Po hau peng ho (harimau ganas menyeberangi sungai), suatu jurus serangan dikala menghadapi bahaya, mekipun sederhana gerakannya tapi hebat pukulannya, sebagai seorang ketua perkumpulan besar tentu saja Tang Kwik-siu malu untuk menghindarkan diri, dia melepaskan pula sebuah pukulan dahsyat untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

“Blaaram….!” ketika sepasang telapak tangan saling beradu satu sama lainnya terdengarlah suara ledakan yang memekikkan telinga.

Kedua orang itu sama-sama bergetar keras, lengannya jadi linu dan hampir saja tak sanggup digunakan lagi.

Kalau orang lain tentu akan segera mengakhiri pertempuran itu, berbeda dengan Hoa Thian-hong, ternyata makin bertempur ia semakin gagah, telapak tangan kirinya segera dilontarkan kemuka melepaskan satu pukulan dahsyat.

Dalam keadaan begitu, tentu saja Tang Kwik-siu tak bisa menyudahi pertarungan itu secara sepihak, terpaksa dia harus melayani kembali pertarungan itu lebih jauh.

Pada saat itulah Yu beng tiamcu dari Kiu-im-kauw tiba-tiba melayang masuk kedalam gelanggang dan membisikkan sesuatu kesisi telinga ketuanya, Kiu-im Kaucu segera memutar biji matanya berulang kali, tiba-tiba dia ulapkan tangannya dan mengundurkan diri dari situ.

Tiamcu istana neraka dan Kek Thian-tok diam-diam menyusul dari belakang, dalam waktu sekejap mata tiga sosok bayangan manusia itu sudah lenyap dibalik kegelapan.

Betapa tercekatnya Kho Hong-bwee yang diam-diam mengikuti gerak-gerik mereka, dalam hati segera pikirnya, “Sampai sekarang Soh-gie dan Bong pay sekalian belum sampai disini, jangan-jangan mereka telah menjumpai hadangan?” Berpikir sampai disitu, dia jadi amat gelisah, tentu saja tak mungkin baginya untuk berlalu dari situ sebelum pertarungan selesai, maka dengan suara lantang dia berteriak keras, “Dua ratus gebrakan sudah penuh!”

Mendengar seruan itu, Tang Kwik-siu segera melayang mundur kebelakang, sambil tertawa tergelak Katanya, “Hoa kongcu, kegagahan dan keberanian mu sungguh pinto merasa amat kagum!”

Maksud perkataan itu jelas berganda, yang dia maksudkan adalah keberanian saja yang dimiliki pemuda itu, padahal ilmu silatnya toh cuma begitu saja.

Hoa Thian-hong merasa tak senang hati apa lagi setelah menyaksikan mimik wajahnya yang amat bangga dan bernada mengejek, ia segera menjura dan menunjukkan sikap seolah- olah menghantar tamu untuk pergi, sementara mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Tang Kwik-siu tertawa pongah, dengan sorot mata tajam ia perhatikan sekejap wajah Hoa Hujin, lalu pikirnya dihati, “Perempuan ini paling-paling bau berusia empat puluh tahunan, tak disangka dulunya sudah menjadi seorang pimpinan dari kaum pendekar didaratan Tionggoan. benar- benar aneh….!”

Berpikir sampai disitu, bibirnya lantas bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi ketika dilihatnya paras muka Hoa Hujin amat serius dan hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, ia batalkan maksudnya untuk bercakap- cakap, setelah tertawa dingin ia lantas membawa ketiga orang muridnya untuk berlalu dari situ. Setelah empat jagoan dari Seng sut hay itu berlalu, Hoa Hujin baru bergerak maju kedepan dan saling menegur dengan Dewa suka pelancongan Cu Thong.

Kemudian kepada Kho Hong-bwee, katanya sambil tertawa, “Hian Moay, selamat berjumpa kembali! Aku dengar engkau sudah belasantahun lamanya mengasingkan diri dan bertapa, mengapa sekarang muncul kembali dalam dunia persilatan?”

Kho Hong-bwee tertawa getir dan gelengkan kepalanya. “Yaa…. apa boleh buat lagi? Demi anak terpaksa aku harus

berbuat begini”

Sementara itu Pek Kun-gie merasa sedih dan susah sekali sejak Chin Wan-hong munculkan diri ditengah mereka, pada mulanya dia masih dapat menguasai diri, akan tetapi setelah mendengar perkataan dari ibunya, ia merasa perih hatinya dan sedih sekali, tak tahan titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya, cepat ia putar badan membelakangi semua orang sehingga siapapun tak melihat kalau dia sedang meneteskan air mata.

Hoa Hujin melirik sekejap bayangan punggung Pek Kun-gie yang ramping dan halus, setelah menghela napas panjang, bisiknya kepada diri Kho Hong-bwee dengan lirih, “Bocah itu terlalu romantis dan besar cintanya, enci yang bodoh sih memang amat suka kepadanya”

Mendengar perkataan itu, satu ingatan cepat melintas dalam benaknya, segera ia berpikir, “Jangan-jangan ia maksudkan bahwa karena sesuatu halangan maka ia tak bisa menerima putriku?”

Sementara masih termenung, sorot mata nya tanpa sadar dialihkan keatas wajah Chin Wan-hong. “Hong ji cepat kemari dan temui bibi dari keluarga Pek!” buru-buru Hoa Hujin berseru.

Dengan langkah yang lemah gemulai Chin Wan-hong maju kedepan, sambil memanggil Bibi ia memberi hormat.

Sambil tersenyum Kho Hong-bwee memperhatikan semua tingkah laku Chin Wan-hong terasa olehnya gadis itu amat supel, lemah lembut, halus dan agung, gayanya memang gaya seorang perempuan dari keluarga yang terhormat, hal ini membuat hatinya jadi sedih dan menghela nanas panjang, pikirnya, “Aah sudahlah, Chin Wan-hong memang pantas jadi menantunya keluarga Hoa, siapa yang berani mengatakan ia tak pantas?”

Berpikir sampai disitu, dengan perasaan putus asa ia tertawa paksa dan katanya lagi kepada Hoa Hujin, “Putranya gagah, menantunya pintar dan halus, enci Bun! Engkau memang hok-ki dan sangat bahagia….!”

Hoa Hujin tersenyum, ia seperti mau mengucapkan sesuatu tapi niatnya itu kemudian dibatalkan.

Perlu diketahui, dulunya Hoa Hujin dan Kho Hong-bwee disebut sepasang perempuan tercantik dalam dunia persilatan, itu berarti sejak dahulu mereka adalah sahabat lama.

Akan tetapi dikarenakan jalan yang di tempuh Hoa Goan- siu dan Pek Siau-thian berbeda maka hubungan antara Hoa Hujin dengan Kho Hong-bwee juga tanpa sadar terhalang oleh selapis selaput tipis, dengan adanya halangan ini dengan sendirinya bubungan mereka berduapun semakin lama semakin jauh. Apalagi sekarang setelah terjadinya affair cinta antara Hoa Thian-hong dengan Pek Kun-gie, kedua belah pihak merasa semakin serba salah untuk menanggulanginya.

Keluarga Hoa adalah keluarga besar dunia persilatan dengan jumlah keluarga yang amat minim, berbicara menurut hati pribadi Hoa hujjin sendiri, ia tidak menampik jikalau putranya beristri muda lagi selain istrinya yang pertama.

Akan tetapi ia tak berani bertindak secara gegabah dengan menyetujui perkara itu dengan begitu saja, sebab dengan kecantikan dan keangkuhan Pek Kun-gie belum tentu dia bersedia berada dibawah tingkatan orang lain.

Yang paling dikuatirkan Hoa Hujin adalah pertengkaran yang bakal terjadi setelah ia dan Chin Wan-hong bersuamikan satu orang.

Jangankan Kiu-tok Sianci pasti menentang sekalipun Hoa Hujin yang cerdik dan bijaksanapun merasa tak tega hati.

Sebaliknya kalau ditolak, ia juga tak tega, pertama karena ia terharu sekali dengan penampilan Kho Hong-bwee dalam pertemuan Kian ciau tay hwee untuk menegakkan keadilan, kedua, iapun merata terharu oleh sikap Pek Kun-gie yang begitu tergila-gila kepada putranya.

Bilamana ia tidak kuatirkan sikap Kiu-tok Sianci yang terlalu keras dengan pendirian sudah pasti sedari dulu-dulu dia telah memberikan persetujuannya.

0000O0000

77 KHO HONG-BWEE termasuk seorang perempuan bertinggi hati, setelah merasakan betapa kakunya suasana di tempat itu, timbullah pikiran untuk membawa putrinya berlalu dari situ.

Siapa tahu sebelum ia melaksanakan niatnya itu, tiba-tiba Chin Wan-hong menghampiri Pek Kun-gie dan menggandeng tangannya, kemudian kedua orang itu terlibat dalam suatu pembicaraan yang mengasyikkan.

Menyaksikan itu dia tertegun, tapi segera dirasakan olehnya bahwa gelagat semacam ini sangat menguntungkan putrinya, maka niatnya untuk berlalu juga segera dibatalkan.

Kepada Hoa Hujin segera ujarnya sambil tersenyum. “Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan,

katanya tenaga dalam yang dimiliki enci Bun telah buyar dan musnah rupanya berita itu cuma berita sensasi belaka, kenyataannya engkau tetap tangguh dan hebat, kejadian ini sungguh patut digirangkan!”

Hoa Hujin tertawa geli mendengar perkataan itu, sahutnya. “Engkau ikut tertipu, pada hakekatnya tenaga dalam yang

enci miliki benar-benar telah buyar dan sekarangpun aku sedang berlatih kembali dari permulaan, untungnya ilmu meringankan tubuh yang ku miliki dengan cepat telah pulih kembali satu dua bagian maka ketika kugertak Tang Kwik-siu tadi sengaja kuhimpun segenap kemampuan yang kumiliki untuk melayang dari situ kemari dengan kecepatan semaksimal mungkin, padahal kakiku sekarang terasa jadi lemas dan tak bertenaga hampir saja roboh keatas tanah!” “Ooh, sungguh tak kusangka enci memiliki hati yang gagah sampai setaraf itu, sungguh bikin Siau moay merasa sangat kagum!” seru Kho Hong-bwee sambil tertawa.

“Aaai….! Keadaanku ibaratnya menunggang dipungung harimau, apa daya kalau tidak terpaksa berbuat begitu?” sahut Hoa Hujin sambil menggeleng dan tertawa getir.

Begitulah, makin berbicara kedua orang itu semakin asyik sehingga melupakan segala-galanya.

Dipihak lain Chin Wan-hong masih tetap menggandeng tangan Pek Kue Gie dan berbisik dengannya, tapi karena suaranya lirih dan siapa pun tidak mendengar apa yang sedang dibicarakan maka tak seorangpun yang tahu mereka sedang membicarakan tentang soal apa.

Semua orang hanya melihat bagaimana Chin Wan-hong berbisik lirih, sedang Pek Kun-gie berdiri tertegun dengan kadangkala menggeleng kadangkala pula mengangguk,

Hoa Thian-hong paling gembira diantara beberapa orang itu, ia sengaja melibatkan diri dalam pembicaraan yang asyik dengan Tio Sam-koh dan Cu Thong.

Tio Sam-koh kelihatan penasaran sekali sekalipun sedang ber cakap-cakap sepasang matanya mengawasi terus ke arah Chin Wan-hong tanpa berkedip, kalau bukan Kho Hong-bwee hadir pula di situ, niscaya ia sudah mendamprat gadis itu habis-habisan.

Yang paling gelisah adalah Siau Ngo-ji, sedari tadi ia sudah bermaksud untuk memata-matai pembicaraan dari kedua orang dara itu apa lacur Hoa Thian-hong memegangi terus tangannya sehingga ia tak bisa meronta, dalam keadaan begini bocah cilik yang brilian ini jadi mati kutu nya. Tiba-tiba dari bawah wuwungan rumah sebelah utara situ muncul seorang pengemis cilik, sekilas pandangan Siau Ngo-ji segera kenal rekannya itu, teriaknya keras-keras.

“Hey, si bisul, siapa yang lagi kau cari?”

Pengemis cilik itu segera memburu datang sambil menyodorkan secarik kertas, sahutnya, “Ko toako suruh aku menyampaikan ini kepadamu!”

Siau Ngo-ji menerima kertas itu, lalu coba dibacanya dengan suara lantang, “Ing telah ditangkap Kiu-im-kauw….”

“Apa itu Kiu-im-kauw?” tukas Hoa Hujin sambil berpaling” Dengan setengah meringis Siau Ngo-ji menjawab, “Oooh….

aku…. sisa tulisan itu aku tak mengerti….”

Hoa Thian-hong menyambar kertas itu dan dibacanya sekejap, paras mukanya kontan berubah jadi pucat pias, ia maju menghampiri ibunya seraya berkata, “Ibu, surat ini berasal dari saudara Ko Thay, katanya Ku Ing-ing telah ditangkap oleh orang-orang dari Kiu-im-kauw….!”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Ketika terjadi pertarungan diatas perahu tempo hari secara terang-terangan ia telah mengkhianati Kiu-im Kaucu, dan kini sesudah tertangkap kembali, aku kuatir kalau siksaan yang dideritanya….”

“Hidup sebagai umat manusia, kita tak boleh melupakan budi” ujar Hoa Hujin dengan wajah murung, “andaikata Ku Ing-ing belum mati, maka kita harus pertaruhkan nyawa untuk menolongnya lolos dari mara bahaya, sebaliknya kalau ia keburu telah dibunuh, kitapun harus balaskan dendam bagi kematiannya”

Sampai disitu, dia lantas menggape pengemis cilik itu sambil serunya, “Hey, engkoh cilik, hayo kemarilah!”

Pengemis cilik itu maju mendekati dengan sikap yang berbungkuk l karena kelewat menghormat sahutnya tergagap, “Haa…. haamba…. be…. berr…. bernama…. sii…. si Bisul!”

Hoa Hujin tersenyum.

“Saat ini Ko toako mu itu berada di mana?” Pengemis cilik itu menunjuk fceudara dan menyahut.

“Ddd…. dia…. ma…. masih ada urusan, sekarang belum bisa menyambangi hujin!”

Kembali Hoa Hujin termenung beberapa saat lamanya, lalu sambil berpaling ke arah Hoa Thian-hong katanya.

“Seng ji, pergilah mengikuti engkoh cilik ini, disamping menyambangi saudara dari keluarga Ko sekalian tanyakan masalah tertangkapnya Ku Ing-ing serta arah perginya orang- orang Kiu-im-kauw!”

“Baik ibu!” sahut Hoa Thian-hong dengan lurus kebawah, lalu kepada pengemis cilik itu lanjutnya.

“Saudara cilik, hayo kita berangkat!”

Pengemis cilik itu segera melangkah pergi dari situ. Betapa gelisahnya Siau Ngo-ji, cepat-cepat ia lari ke sisi

Chin Wan-hong seraya berbisik. “Enso, hayo kita pergi bersama toako!”

Chin Wan-hong agak tertegun, ia lantas berpaling ke arah mertuanya seraya berseru.

“Ibu, Siau Ngo-ji rindu dengan Ko toako nya, apakah dia boleh ikut serta bersama engkoh Hong?”

“Suruh dia ikut pergi, sekalian berpamitan dengan Ko toakonya itu!”

Siau Ngo-ji agak tertegun sesudah mendengar ucapan tersebut, tapi sesaat kemudian ia sudah menarik Chin Wan- hong kesamping sambil bisiknya lirih, “Enso, engkau jujur dan terlalu welas kasih, jangan biarkan ada orang lain ikut naik keatas pembaringanmu, apalagi Pek….”

Pucat pias wajah Chin Wan-hong karena terperanjat, dia kuatir ibu dan anak dari keluarga Pek ikut mendengar ucapan tersebut, buru-buru tukasnya.

“Anak kecil tahu apa? Hayo tutup mulut dan jangan sembarangan berbicara, sana! Ikut dengan toako mu”

Stan ngo ji masih penasaran, sebelum berlalu mengikuti disamping Hoa Thian-hong, dia masih sempat melemparkan sebuah kerlingan yang sangat dingin ke arah Pek Kun-gie.

Belum jauh tiga orang itu berlalu, tiba-tiba pintu samping sebuah warung kelontong ditepi jalan terbentang lebar, menynsul seorang pemuda berkulit hitam, berwajah persegi dengan dada yang bidang dan tubuh penuh berotot munculkan diri didepan mata. Begitu melihat kemunculan pemuda itu, dengan kejut bercampur girang Siau Ngo-ji segera berteriak keras.

“Ko toako!”

Begitu mengetahui kalau pemuda itu adalah Ko Thay, dengan langkah cepat Hoa Thian-hong maju kedepan seraya menjura.

“Saudara Ko!” katanya, “telah lama ku kagumi nama besarmu, sungguh beruntung hari ini kita dapat saling berjumpa!”

Ko Thay tertawa, ia balas memberi hormat sambil sahutnya.

Siaute merasa malu untuk berjumpa dengan Hoa toako…. “Aah, janganlah saudara memandang asing terhadap kami,

mari, kuperkenalkan saudara dengan ibuku!” kata Hoa Thian- hong.

Ia tarik lengannya yang kekar dan berotot itu untuk diajak maju ke arah depan.

Setibanya dihadapan Hoa Hujin, Ko Thay melepaskan diri dari cekalan dan segera jatuhkan diri berlutut keatas tanah, serunya.

“Hamba Ko Thay menjumpai hujin!”

Hoa Hujin ada maksud untuk menghalangi tapi tak sempat, betapa terharunya perempuan ini, cepat serunya, “Nak, tak usah banyak adat, Bun si tidak memiliki kebaikan budi apapun, tak berani kuterima penghormatan sebesar ini!” Sambil berkata ia lantas bangunkan Ko Thay dari atas tanah.

Sementara itu, dari terapat kejuhan tiba-tiba melayang datang sesosok bayangan manusia, dalam sekilas pandangan Kho Hong-bwee segera kenali orang itu sebagai pelayannya, ia lantas berderu lantang.

“Oh Sam, dimana para pelindung hukum yang lain?” “Lapor Cubo!” seru Oh Sam sambil memberi hormat, “para

pelindung hukum telah mengejar orang-orang dari Kiu-im- kauw ke arah selatan, mungkin pada saat ini mereka sudah berada seratus li lebih dari tempat ini!”

“Karena urusan apa mereka mengejar orang-orang Kiu-im- kauw? dan dimanakah Soh-gie?” tanya Kho Hong-bwee dengan alis mata berkenyit.

“Toa siocia berada bersama-sama para pelindung hukum!” jawab Oh Sam.

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan kembali penuturannya.

“Senja tadi, rombongan kami telah berjumpa dengan orang-orang Kiu-im-kauw, kami lihat mereka telah berhasil menawan Giok Teng Hujin yang berkhianat, menyaksikan kejadian itu Bong sauhiap yang pernah berhutang budi dari perempuan itu segera maju untuk memberikan pertolongannya, toa siocia kami ikut pula memberikan pertolongan maka kami semua terlibat dalam suatu pertarungan yang sengit, Bong sauhiap yang begitu bernafsu untuk menolong orang, berulang kali melakukan tubrukan secara ganas dan gencar, tapi toh akhirnya bukan saja gagal menolong orang, dia sendiri harus menderita luka….” “Bagaimana keadaan lukanya?!” tanya Cu Thong dengan gelisah.

“Cukup parah lukanya, tapi semuanya adalah luka luar sehingga tidak sampai membahayakan jiwanya!”

Bagaimana selanjutnya?! sela Cu Thong kemudian. “Jumlah kekuatan dari Kiu-im-kauw jauh lebih banyak

daripada kami, karena itu walaupun pertarungan berlangsung cukup sengit kami tetap gagal untuk memberikan pertolongannya. Pihak Kiu-im-kauw sendi ripun tiada bernafsu untuk melangsungkan pertarungan lama, setelah berhasil meloloskan diri, mereka segera kabur mennju ke arah selatan, karena Bong sauhiap mengejar terns, terpaksa kami semua harus mengikuti juga kemana ia pergi….!”

Tidak menunggu Oh Sam menyelesaikan kata-katanya, Co Thong telah terseru kepada Kho Hong-bwee, “Terima kasih atas bantuan perkumpulanmu, kuucapkan banyak-banyak terima kasih lebih dahulu!”

Sebelum Kho Hong-bwee sempat menyelesaikan kata- katanya, ia telah berseru pula kepada Hoa Hujin, “Sampai jumpa lain kesempatan!” Sekali menjejak tanah, ia telah kabur dari situ

“Cu teng….!” cepat Hoa Hujin berteriak, “lengan kirimu toh masih terluka….”

Belum habis perkataan itu diutarakan, Cu Thong sudah berada dimulut jalan sebelah depan sana dan lenyap dari pandangan mata. Sesudah perginya Cu Thong, suasana untuk sesaat jadi hening dan sepi, semua orang membungkam dalam pikirannya masing-masing.

Selang sesaat, Kho Hong-bwee baru buka suara dan berkata setelah termenung beberapa saat lamanya.

Enci Bun, apakah engkau tahu kebaikan apa toh yang pernah didapatkan Bong sauhiap dari diri Giok Teng Hujin?”

Hoa Hujin menghela nafas panjang.

“Asai! Beginilah kisahnya” kata perempuan itu kemudian, “nona itu pernah menghadiahkan sebatang Lengci berusia seribu tahun kepada putraku, dengan obat mujarab itulah racun teratai yang terkandung didalam tubuhnya berhasil dipunahkan, sedang sisanya yang separuh telah digunakan untuk menolong nyawa tiga orang yang menderita luka parah dikala sedang berlangsungnya pertemuan besar Kian ciau tay hwe. Nah, Bong pay adalah seorang penerima budi tersebut!”

“Ooh jadi Bong sauhiap masih ingat dengan sumber datangnya budi pertolongan itu? Kalau demikian, dia tentunya seorang yang gagah dan bijaksana!”

Hoa Hujin tersenyum.

Aku pernah memberi pelajaran ilmu silat kepadanya, bocah itu terlalu mengerti akan perasaan orang lain dan lagi jujur serta bersifat terbuka, memang anak semacam itu terhitung sebagai seorang murid yang bagus dan menyenangkan!”

Berbicara sampai disini, mereka berdua saling berpandangan sambil tertawa, tawanya penuh arti yang mendalam. Maka Kho Hong-bwee pun minta diri, katanya, “Aku harus buru-buru berangkat, sebab Kiu-im Kaucu sudah berangkat keselatan, sedang budakku berada pula ditengah perjalanan, kalau sampat saling bertemu…. waah, bisa berabe!”

Hoa Hujin termenung sebentar, kemudian dengan nada yang membawa arti mendalam ia menyabut, “Aku sendiripun harus segera berangkat keutara, hian moay! Bila engkau tidak menampik, silahkan mampir dalam perkampungan Liok soat- san ceng, marilah kita berbicara lebih serius selama beberapa hari!”

Diam-diam Kho Hong-bwe merasa bergirang hati, betapa tidak? Dengan diutarakannya perkataan itu berarti pula kalau janda dari Hoa tayhiap ini telah memberi perlambang kepadanya bahwa ia bersedia merundingkan soal bubungan anak-anak mereka dengan lebih serius.

Sudah tentu tawaran seperti ini tidak di tampik dengan begitu saja, begitulah dengan wajah berseri ia lantas berlalu dengan membawa serta Pek Kun-gie dan Oh Sam.

Pek Kun-gie sama sekali tidak membantah sebab dalam hati kecilnya ia bisa menduga bahwa Hoa Thian-hong tentu akan berangkat untuk menolong Giok Teng Hujin dan bagaimanapun juga ia tak mungkin bisa tetap tinggal disana, maka gadis itupun ambil keputusan untuk menanti ditengah jalan.

Dalam waktu sekejap ketiga orang itupun sudah berlalu dari sana dan lenyap dari pandangan.

Sepeninggalnya Kho Hong-bwee bertiga, Hoa Hujin baru menatap sekejap sisa jago yang masih ada disitu, tiba-tiba serunya kepada Ha putule, “Eaah…. engkoh cilik, bukankah dendam sakit hati perguruanmu telah kau tuntut balas? Kalau tidak terburu-buru kembali ke See ih, bagaimana kalau bermain dulu selama tiga tahun dalam perkampungan Lik soat san ceng kami? Setelah itu baru berangkat pulang ke desa!”

“Bibi tak usah kuatir, aku bisa palang seorang diri, aku tak takut menghadapi mara bahaya macam apapun sepanjang perjalanan!”

“Aku tidak bermaksud begitu, kata Hoa Hujin sambil tersenyum, setelah berhenti sebentar, lanjutnya lebih jauh.

“Sudah lama kudengar orang berkata bahwa pengaruh dari Mo-kauw sudah meluas sampai ke tepi perbatasan, perbuatannya sewenang-wenang dan tidak mengenal arti perikemanusiaan, oleh sebab itu aku pikir apa bila engkau bersedia untuk mengikuti aku selama tiga tahun, maka akan kugunakan waktu yang sebaik-baiknya untuk mewariskan segenap kepandaian silat yang kumiliki kepadamu, dengan harapan suatu ketika engkau bisa kembali ketempat asalmu dan memberantas pengaruh Mo-kauw dari sekitar tempat itu”

“Saudaraku” ujar Hoa Thian-hong pula, perguruanmu telah mengalami kehancuran, dan sekarang tinggal kau seorang yang masih tetap hidup, bila kau bisa bangkitkan semangatmu dan mengangkat kembali nama besar perguruanmu, aku yakin arwah Siang locianpwe yang berada di alam baka pasti akan bergiring hati menyaksikan kesukses anmu itu”

Merahlah sepasang mata Haputule sesudah mendengar perkataan itu, katanya, “Berbahagialah aku setelah ada kesediaan bibi untuk wariskan ilmu silatnya kepadaku akan tetapi pedang emas itu adalah….”

Tiba-tiba ia berhenti berbicara dan mengalihkan pokok pembica-raan kesoal lain, katanya, “Asalkan pedang emas itu terjatuh ketangan Hoa toako, aku rela menyerahkannya kepadamu!”

“Tidak!” tampik Hoa Thian-hong dengan tegas, “belajarlah ilmu silat lebih dahulu dengan ibuku, sedang aku akan berusana keras untuk menemukan kembali pedang emas itu, asal kutemukan pastilah akan kuserahkan kepadamu!”

Haputule berpikir sebentar, lalu menjawab.

“Aku sendiri cuma menginginkan pedang emas itu, sementara kitab Kiam keng itu sendiri sama sekali tiada hubungannya dengan perguruan pedang pendek kami, sekalipun engkau hadiahkan kepadaku, aku belum tentu mau menerimanya!”

Hoa Thian-hong tersenyum, “Kalau toh ibuku bersedia mewariskan ilmu silatnya kepadamu, itu berarti hubungan kita ibaratnya antara sesama saudaru seperguruan, andaikata kitab kiam keng benar-benar terjatuh ketanganku, perduli menjadi siapa toh sama saja!”

“Macam apa toh pedang emas itu?” tiba-tiba Ko Thay menyela dari samping gelanggang.

Dari sakunya Haputule mencabut keluar pedang peraknya, kemudian menjawab, “Menurut keterangan guruku, pedang emas itn dibentuk dari sari emas yang kuat, beratnya dua puluh satu kali lebih mantap daripada bobot emas biasa, dibandingkan besi tujuh belas kali lipat lebih berat dan dibandingkan dengan baja beratnya empat belas kali lipat, bukan saja pedang emas itu tajamnya luar biasa melebihi pedang mustika apapun juga, bentuknya minim dan cuma beberapa senti meter, pokoknya persis sekali bentuknya dengan pedang perak ini” Dengan seksama Ko Thay memperhatikan pedang perak itu dia lihat bentuknya kecil dan panjangnya berikut gagang pedang cuma enam cun, gagang maupun pedangnya melebur menjadi satu bahkan jauh lebih pendek dari pada pisau belati biasa, sepintas lalu orang akan mengira pedang itu sebagai pedang mainan.

Melihat akan hal itu, tak kuasa lagi pemuda kekar ini menge-rutkan dahinya, tiba-tiba ia berpaling dan mengamati jenasah Pia Leng-cu dengan seksama.

Menyaksikan gerak-gerik orang, Hoa Thian-hong berkata, “Le Kiu dari Kiu-im-kauw telah menggeledah sekujur badan Pia Leng-cu dengan seksama, dia adalah seorang jago yang berpengalaman luas, andaikata pedang emas itu benar-benar berada di badan Pia Leng-cu, aku pikir senjata itu tentulah sudah didapatkan olehnya!”

“Aku rasa Pia Leng-cu adalah seorang manusia licik yang mempunyai banyak tipu muslihat, tak mungkin ia tega dan lega hati meletakkan pedang mustika yang disayangi itu di tempat lain, aku cukup mengenal watak manusia semacam ini, agar enak makan dan nyenyak tidur senjata tersebut pasti digembol terus dalam sakunya apalagi kalau ia sudah tahu bahwa pedang mustika itu setiap saat bakal lenyap pastilah dia akan membawanya terus menerus dengan ha rapan bila dia mati maka senjata itu akan dibawanya pula masuk keliang kubur”

“Benar juga pandanganmu ini, puji Hoa Hujin, kalau pedang emas itu tidak berada ditubuh Pia Leng-cu, maka ia tak bisa di hitung sebagai seorang manusia yang besar sekali rasa curiganya!”

Berbicara sampai disitu, tiba-tiba ia seperti merasakan sesuatu, cepat sorot matanya di alihkan ke arah Pia Leng-cu. “Boanpwe sendiripun hanya berpikir seandainya saja, benar atau keliru sama sekali tidak mempunyai keyakinan, harap kalian bersedia untuk memakluminya!” ujar Ko Thay tenang.

Selangkah demi selangkah ia menghampiri jenasah Pia Leng-cu dan mulai periksa sepatu yang dikenakan olehnya.

Dengan perasaan ingin tahu semua orang merubung kedepan, tampaklah Ko Thay mencabut keluar sebilah pisau belati, kemudian dengan sekuat tenaga ia merobek sepatu yang digunakan Pia Leng-cu itu sehingga robek menjadi dua bagian, tapi disitu ia tak berhasil menemukan sesuatu apapun,

Ko Thay segera mencabut kembali pisau belatinya setelah itu melirik sekejap ke arah kaki kiri Pia Leng-cu yang cacad, ia keliha tan agak sangsi sehingga untuk beberapa saat lamanya tidak berani turun tangan secara gegabah.

Hoa Hujin tersenyum sesudah menyaksikan kejadian itu, ia berkata, “Siapapun tak dapat menduga kejadian dengan tepat, apa salahnya kalau kita coba saja untuk memeriksanya, siapa tahu kalau tebakan kita tidak meleset?”

Ko Thay tidak ragu-ragu lagi, pisau belatinya segera ditekan kebawah dan merobeknya keras-keras pada sepatu kiri yang dikenakan Pia Leng-cu, belum terlalu dalam ia memotong, mendadak tangannya jadi enteng dan tahu-tahu ujung pisau belatinya sudah kutung bebera pa bagian.

“Hoore…. kita berbasil temukan pedang itu!” seru Siau Ngo- ji kegirangan.

Lega juga perasaan hati Ko Thay, setelah memperhitungkan arahnya dengan tepat, sekali lagi ia menyobek sepatu kiri Pia Leng-cu, dalam waktu singkat tampaklah cahaya emas memancar keempat penjuru, dari dasar alas sepatu itu tampaklah terselip sebilah pedang pendek.

Pedang emas itu dibungkus oleh selapis kulit ular sehingga hanya gagang pedangnya saja yang kelihaian dari luar, akan tetapi gagang pedang itu berwarna emas dan memancarkan cahaya yang tajam, sehingga siapapun merasa silau sesudah memandangnya.

Ko Thay cabut keluar pedang itu, habis dibersihkan kotoran yang menempel pada pedang itu dengan bajunya, ia lantas menyerahkan ketangan Hoa Hujin dengan sikap yang hormat.

Hoi hujin menerima pedang itu, setelah meloloskan sarung kulit ularnya, ia angkat pedang yang sudah menggetarkan sungai telaga selama puluhan tahun dan mengakibatkan pertumpahan darah yang mengerikan itu keudara.

Meskipun para jago yang mengerubungi disekitarnya tiada bernafsu serakah ataupun ingin mendapatkannya, tak urung tergetar juga perasaan hati mereka.

Setelah semua orang mengamatinya beberapa saat, tiba- tiba Hoa Hujin menghela napas panjang, lalu kepada Hoa Thian-hong katanya, “Demi pedang kecil ini, Ciu It bong sudah hidup menderita selama banyak tahun, di mana akhirnya jiwapun ikut melayang tinggalkan raganya, sebagai orang yang berhutang budi kepadanya engkau jangan melupakan kebaikan yang pernah kau terima itu, ketahuilah keber- hasilanmu bertarung melawan Tang Kwik-siu sebanyak dua ratus ge brakan sebagian benar adalah berkat pemberiannya!”

“Perkataan itu memang besar” sahut Hoa Thian-hong, “ananda telah mempunyai rencana untuk mencarikan seorang pewaris baginya, sehingga ilmu pukulan Kun siu ci tan (pergulatan terakhir binatang yang terjebak) hasil ciptaannya itu bisa terwaris hingga pada generasi yang akan datang, dengan begitu akupun bisa pula membalas budi kebaikannya”

“Kalau engkau memang punya rencana itu, bagus sekali kata Hoa hnjin sambil mengangguk. Ciu It bong adalah seorang jago yang gagah berani dan hidup luntang lantung seorang diri, ia terhitung seorang laki-laki sejati, seorang enghiong hoohan, siapa pun akan berbangga hati apabila bisa menjadi ahli warisnya”

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Kuo siu ci tan kurang sedap didengar dalam pendengaran, kita carikan saja nama lain yang lebih bagus!”

Hoa Thian-hong berpikir sebentar, kemudian sahutnya, “Sekalipun Ciu locianpwe suka hidup luntang lantung seorang diri, ilmu pukulan hasil ciptaannya amat rumit dengan perubahan yang tak terhitung jumlahnya dalam satu gebrakan mungkin tersimpan beratus-ratus jenis perubahan lain, Ibu, bagaimana kalau kunamakan saja jurus pukulannya itu sebagai ilmu pukulan Hau in ciang hoat?” Hoa Hujin mengangguk.

“Bagus, nama Hau in ciang hoat memang sangat tepat! Cuma, engkau harus ingat, bila engkau hendak menerima murid maka pertama yang musti kau perhatikan adalah watak serta perangainya, kedua dia musti berbakat baik, sedang yang lain boleh tidak terlampau diperhatikan, ingat?”

Hoa Thian-hong mengangguk tiada hentinya tanda mengerti.

Tiba-tiba terdengar Tio Sam-koh berseru dari samping, “Eeeh, hayo cepat ambil keluar kitab pedang Kiam keng itu, aku ingin lihat macam apakah bentuk kitab itu?” Hoa Hujin tertawa, ia serahkan pedang emas itu ketangan Hoa Thian-hong lalu berkata, “Ambillah keluar kitab Kiam keng itu, agar semua orang ikut menyaksikan bentuk kitab tersebut!”

“Tapi…. tapi…. ibu, pedang baja itu adalah barang peninggalan ayah, tidakkah terlalu sayang kalau dirusak?” kata Hoa Thian-hong dengan hati sangsi.

Hoa Hujin menghela napas panjang.

“Aaai…. kitab kiam keng adalah benda pokok, sedang pedang baja itu hanya pelengkap yang digunakan sebagai tempat penyimpanan belaka, sekalipun akhirnya harus rusak, yaa apa boleh buat lagi?”

Hoa Thian-hong tak berani membantah perintah dari ibunya lagi, pedang bajanya segeta dicabut keluar, sebelum melakukan penebasan, ia sempat berpaling ke arah Haputule seraya berkata, “Saudaraku, jikalau pedang emas ini sampai rusak atau gumpil….”

“Toako tak usah sangsi ataupun ragu” tukas Haputule dengan cepat, “sekalipun rusak juga tidak menjadi soal!”

Hoa Thian-hong tidak ragu lagi, ia pegang pedang bajanya dengan tangan kiri dan memegang pedang emas dengan tangan kanan, ketika senjata itu ditebas kebawah….

“Criing….!” diiringi suara dentingan nyaring dan kilatan cahaya emas, patahlah pedang baja itu menjadi dua bagian.

Memang tak salah, ruang kosong terdapat dalam pedang baja itu, dalam ruang kosong tadi terseliplah satu gulungan kain warna kuning. Menyaksikan gulungan kain itu, Hoa Thian-hong menghembuskan napas panjang, katanya, “Aaii!….! Untung pedang baja ini tak terbuang dengan percuma ternyata memang benar-benar ada isinya!”

Pedang emas itu diperiksa pula dengan seksama, ketika dilihatnya senjata itu utuh dan sama sekali tidak cedera, cepat-cepat diserah kan kepada Haputule.

Kemudian gulungan kain kuning itu baru dicabut keluar dengan sangat hati-hati, lalu di serahkan kepada ibunya.

Menerima gulungan kain kuning itu, serta-merta Hoa Hujin mem buka dan memeriksanya dengan teliti, ia lihat kain itu terbuat dari bahan sebangsa nilon yang halus tapi sangat kuno, panjangnya delapan cun dengan lebar enam tujuh depa, tulisan yang terukir diatas kain itu sangat rapat dengan sebesar kepala lalat, diantaranya terselip juga tulisan yang dibuat dengan tinta merah yang menyolok, selain itu dihiasi pala dengan seratus lebih gambaran manusia dengan bentuk yang berbeda-beda.

Sementara itu fajar baru saja menyingsing, di tengah- tengah remangnya cuaca tak mungkin bagi Hoa Hujin yang tenaga dalamnya buyar untuk meneliti tulisan itu, karenanya walaupun gulungan kain ada didepan mata, ia tak mampu untuk membaca isinya.

Kendatipun demikian, dari lukisan yang tertera disitu ia tahu bahwa isinya benar-benar adalah kitab kiam keng.

“Tampaknya gulungin kain ini memang benarbenar berisikan jeri payah dari malaikat pedang Gi Ko” pikirnya dalam hati. Setelah diamatinya sekejap, gulungan kain itu lantas diserahkan kepada Tio Sam tokoh, katanya, “Kurang jelas penglihatanku, biar Sam-koh saja yang periksa, apakah isinya benar-benar benda mustika atau bukan!”

Tio Sam-koh menerimanya, kemudian tanpa dilihat segera dilipat dan diserahkan ke tangan Hoa Thian-hong sembari berkata, “Aku malas untuk menelitinya lebih jauh bagaimanapun toh isinya tetap berupa sejilid kitab kiam keng, Nah, bawa saja dalam sakumu dan pelajarilah secara perlahan-lahan!”

Hoa Hujin yang ada disampingnya segera menambahkan pula dengan nada serius.

“Peninggalan orang kuno harus dipelihara dan dilindungi dengan sebaik-baiknya, jangan aampai rusak atau hilang dirampas orang!”

“Ananda tak berani gegabah!” jawab Hoa Thian-hong bersungguh-sungguh.

Bicara sampai disini, dia lantas menyimpan baik-baik Kitab kiam keng itu dalam sakunya, kemudian baru minta petunjuk akan tugas yang harus dilakukan diwaktu mendatang.

Hoa Hujin termenung dan berpikir sebentar, lalu katanya. “Kami harus pulang kerumah, sedang engkau berangkatlah

seorang diri menuju keselatan, berusahalah keras untuk

selamatkan Ku Ing-ing dari mara bahaya, aku tahu tugasmu kali ini sangat berat dan sukar, dengan ilmu silat yang dimiliki Kiu-im Kaucu saja ia sudah mampu menandingi dirimu, apalagi kalau anak buahnya memberi bantuan. Aku sendiri tiada ide atau pendapat lain yang bisa kuberikan kepadamu, aku rasa lebih baik lakukanlah semua tugas itu menuruti suara hatimu sendiri!”

“Ilmu silat yang dimiliki Tang Kwik-siu jauh diatasmu” sambung Tio Sam-koh pula, “sedangkan Kok See-piauw bangsat cilik itu selalu bikin onar dari tengah, sudah pasti dia akan mencari gara-gara lagi dengan dirimu, bila engkau hendak mengatasi kesulitan ini maka satu-satunya jalan adalah pergiat latihan ilmu silatmu, bila mendapatkan kesempatan bereskan saja nyawa keparat cilik she Kok itu!”

Hoa Thian-hong mengiakan berulang kali, selesai mendapatkan wejangan tersebut, dia baru berpaling ke arah Ko Thay dan bertanya, “Saudara Ko, apakah engkau mempunyai rencana lain?”

Ko Thay tersenyum.

“Aah, siaute cuma seorang manusia biasa, buat manusia macam aku sih tak ada rencana apa-apa, semua kesulitan kuatasi setelah berada didepan mata!”

“Nak, ikut saja kami pulang keperkampungan Liok soat san ceng, dan berdiamlah selama beberapa tahun disana!” tiba- tiba Hoa Hujin mengusulkan dari samping.

Untuk sesaat Ko Thay kelihatan agak tertegun, tapi ia segera menggeleng seraya menjawab.

“Aku merasa sangat berbangga hati apabila bisa mendapat didikan langsung dari bibi, cuma aku tahu bibi repot dengan urusan bibi sendiri, dan lagi bakat boanpwe untuk belajar silat sangat cetek, ingin belajar dari depan rasanya sudah terlambat karena usiaku sudah tua dan hasilnya dikemudian haripun terbatas, karena itu aku lebih baik menolak saja penawaran bibi yang sangat menggiurkan hati itu!” Caranya menolak memang sangat halus tapi semua orang tahu bahwa hatinya amat sedih dan pedih sehingga nada suaranya ikut kedengaran agak gemetar….

Sejak perjumpaannya untuk pertama kali ini, rupanya Tio Sam-koh menaruh kesan yang baik terhadap diri Ko Thay, sesudah mendengar perkataan itu tiba-tiba ia menyela dari samping, “Barusan, bukankah engkau mengatakan hendak carikan seorang ahli waris bagi Ciu It bong? Menurut pendapatku, Ko Thay adalah calon ahli waris yang paling tepat untuk Ciu It bong!”

Tampaknya Hoa Thian-hong merasa bahwa cara itu memang berkenan di hatinya, cepat ia menegur.

“Saudara Ko, apakah engkau bersedia!”

“Tentu saja siaute bersedia!” jawab Ko Thay sambil mengangguk.

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan

“Aku tahu, saat ini Hoa toako sedang repot dan banyak urusan, maka siaute pikir alangkah baiknya kalau kugunakan kesempatan ini untuk berkunjung dahulu kelembah Cu-bu-kok, akan kucari jenasah dari Ciu locianpwe dan menguburnya ditempat yang lebih layak, setelah kuangkat beliau sebagai guruku, rasanya waktu itulah baru tepat bagiku untuk belajar silat peninggalannya!”

Hoa Hujin lantas berpikir dihati, “Bocah ini memang tahu diri, tebal sekali rasa setia kawan dan penghormatannya terhadap golongan tua, aku gembira sekali bisa memperoleh seorang rekan seperti dia!” Dengan cepat katanya, “Baiklah, kalau memang begitu kita tetapkan saja persoalan ini sampai disini, sekarang menolong orang lebih penting, cepatlah pergi Seng ji….!”

Hoa Thian-hong tak berani membantah perintah tbunya, terpaksa dia berpamitan dengan orang-orang itu dan segera melanjutkan perjalanannya menuju keselatan.

Sementara itu, Hoa Thian-hong telah tinggalkan kota Lok yang dan berangkat menuju ke selatan, ia tahu bahwa Pek Kun-gie pasti akan menantikan dirinya ditengah jalan.

Siapa tahu, dugaan itu ternyata meleset, sekalipun sudah melakukan perjalanan selama seharian suntuk, bayangan si gadis cantik itu belum juga ditemukan.

Dalam keadaan begitu, dia merasa amat murung dan sedih seolah-olah seperti telah kehilangan sesuatu, untungnya pikiran itu segera terampas untuk memikirkan keselamatan orang lain, maka untuk sementara waktu Pek Kun-gie dapat dilupakan olehnya.

Terbayang akan Ku Ing-ing yang tertawan, tanpa sadar ia memba-yangkan pula kegenitan perempuan itu, cinta kasihnya yang mendalam serta tingkah laku yang romantis, dengan perasaan kesal dan murung, ia meneruskan perjalannya dengan cepat.