Tiga Maha Besar Jilid 22

 
Jilid 22

PEMUDA itu hendak mundur kebelakang untuk menghindar, namun jalan telah buntu, dalam gugupnya tanpa berpikir panjang sepasang kakinya segera menutul permukaan tanah kemudian menyeruak dari sisi Kiu-im Kaucu dan menyambar kebelakang punggung lawan.

Dikala tubuhnya masih berada diudara, pedang bajanya yang menyilang didada secepat kilat membabat ke arah tenggorokan musuh.

Dalam pertarungan yang berlangsung antara dua jago lihay, jarang sekali ada yang mau bertarung dengan melewati diatas kepala musuhnya, tapi Hoa Thian-hong terpaksa harus berbuat demikian, hal ini disebabkan karena kesatu keadaan sudah amat terdesak, kedua bila jurus Tay san ya teng dari Kiu-im Kaucu telah digunakan kemudian dia akan berganti jurus, maka arah yang paling susah dicapai oleh serangannya itu adalah atas bahu kirinya, Karena itu Hoa Thian-hong melayang lewat dari titik kelemahan tadi.

Meskipun demikian, andaikata seseorang tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna, kendatipun dia ada hasrat untuk berbuat demikian, belum tentu kekuatannya mampu melakukan. Baru saja Kiu-im Kaucu merasakan serangannya mengenai disasaran yang kosong, desiran angin tajam telah menyambar dari sampingnya, menyusul pula musuh telah muncul didepan mata, dalam terperanjatnya cepat dia putar pinggang sambil mengirim toyanya membabat ke arah belakang dengan jurus Sin liong pak wi (Naga sakti mengebaskan ekor)

“Traang….! sepasang senjata beradu satu sama lainnya menimbulkan letupan bunga api, kedua belah pitak sama- sama merasakan lengannya jadi kesemutan.

Dengan suatu gerakan hampir menempel disamping telinga Kiu-im Kaucu, secepat kilat pemuda itu menyambar lewat dan melayang turun dibelakang tubuh lawan.

Gerakan tersebut boleh dibilang dilaksanakan dengan menempuh bahaya maut, sampai jago yang hadir disitu sama- sama terberanjat dibuatnya, mereka merasa kaget bercampur terkesiap.

Terutama sekali ketika dilihatnya Hoa Thian-hong menyambar lewat dari samping telinga ketua mereka, saking gugup dan kagetnya hampir saja mereka menjerit tertahan.

Tiamcu ruang siksa Le Kiu gi kuatir kalau kaucunya terluka, tanpa pikir panjang ia getarkan tangannya kedepan, tiga batang paku penembus tulang yang mengandung racun keji segera menyergap ke arah punggung Hoa Thian-hong.

Pada waktu itu sepasang kaki Hoa Thian-hong belum mencapai tanah, padahal tenaga luncurnya telah habis dan tenaga baru belum sempat dihimpun, serangan senjata rahasia itu menyambar kemuka dengan begitu cepatnya, jelas sulitlah bagi pemuda itu untuk menghindar. Hampir Le Kiu gi bersorak kegirangan ketika ia lihat Hoa Thian-hong masih tetap tidak merasakan datangnya ancaman senjata rabasiarya padabal reku2 beracin itu ajdab harocir menempel diatas punggungnya, terbayang bagaimana seorang jago lihay bakal mampus ditangannya, air mukanya kontan berseri.

Siapa tahu, seolah-olah diatas punggung Hoa Thian-hong tumbuh mata, menanti paku-paku beracun itu hampir menempel diatas punggung, pedang baja itu diayun kebelakang

“Tiing! Tiiing! Tiiing!” ketiga batang paku beracun itu langsung menempel diujong pedangnya.

Perlu diketahui pedang itu terbuat dari baja dan diatas pedang tersebut terdapat kekuatan besi samberani yang kuat, begitu menempel diujung pedang maka ketiga batang paku itu sama sekali tidak rontok.

Hoa Thian-hong masih tetap tenang seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu kejadian bahkan memandang sekejappun tidak, sorot matanya yang tajam menatap diatas wajahnya Kiu-im Kaucu tanpa berkedip.

Paras muka Kiu-im Kaucu yang dasarnya sudah pucat, kini berubah makin memucat hingga seperti kertas, sedikitpun tidak nampak warna darah, matanya yang tajam memancarkan nafsu membunuh yang tebal, mu kanya menyeringai bengis hingga persis seperti malaikat buas dari neraka.

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa bergidik, pikirnya, “Watak orang ini aneh sekali, aku toh tidak terikat dendam sakit hati apa-apa dengan dirinya, kenapa….!” Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba-tiba Kiu-im Kaucu berkata dengan suara keras, “Engkau toh anggap kamu kuat, kamu tangguh? Kenapa tidak berani beradu kekerasan dengan aku?”

Hoa Thian-hong tertawa.

“Mau adu kekerasan tentu saja boleh, cuma tak dapat dilang-sungkan diatas peraru ini!” katanya.

Saat itulah tiba-tiba tiamcu ruang siksaan Le Kiu gi menimbrung dari samping, “Lapor kaucu, sudah lama tiamcu istana neraka naik keatas daratan namun sampai sekarang belum nampak kembali, jangan-jangan di atas pantai telah terjadi peristiwa diluar dugaan?”

Kiu-im Kaucu terkesiap, cepat dia alihkan pandangan matanya ke arah daratan, pantai memang kosong tak kelihatan seorang manu siapun, baik anak buah Kiu-im-kauw maupun Pek Kun-gie seolah-olah lenyap ditelan bumi.

Terdengar Le Kiu gi berkata kembali, “Pek Kun-gie mengetahui pula tempat persembunyian dari pedang emas itu, kalau kita sampai didahului olehnya, kerugian yang kita derita akan terlalu besar….”

Sembari berkata sorot matanya melirik sekejap ke arah pedang baja yang berada ditangan Hoa Thian-hong, maksudnya lebih baik sang kaucu turun tangan merampas pedang baja milik anak muda itu lebih dulu, sehingga kalau sampai pedang emas tersebut didahului orang, mereka tak akan sampai memberita kerugian besar.

Sepasang biji mata Kiu-im Kaucu berputar kencang, tiba- tiba serunya dengan nyaring, “Hoa Thian-hong, tinggalkan pedang baja itu, aku akan persilahkan engkau naik ke daratan, bila kita berjumpa lagi dikemudian hari, aku berjanji tak akan mencari kemenangan darimu dengan andalkan senjata”

Bagi orang persilatan, pantangan yang paling besar adalah hutang budi kepada orang lain, dalam anggapan Hoa Thian- hong ia telah hutang budi kepada Kiu-im Kaucu, bila hutang tersebut tidak cepat dibayar lunas maka sepanjang hari hidupnya tak akan tenang.

Maka sambil tertawa paksa sahutnya, “Aku bersedia menggunakan pedang baja ini sebagai imbalan dari Leng-ci berusia seribu tahun itu, cuma kaucu pun harus memberi jaminan kalau mulai hari ini engkau tak akan mencelakai Giok Teng Hujin bahkan apabila dia berkeinginan untuk tinggalkan Kiu-im-kauw, maka kaucu tak boleh menghalang-halanginya!”

“Baik!” jawab Kiu-im Kaucu dengan suara lantang, “kita berjanji dengan sepatah kata itu, asal pedang baja itu kau serahkan kepadaku, akupun akan titahkan orang untuk merapatkan perahu ini kedaratan”

Mendengar jawaban yang diberikan begitu cepat, sedikit banyak timbul juga rasa curiga dalam benak Hoa Thian-hong, tapi segera terbayang kembali kalau dia sudah berhutang budi kepada kaucu ini, sekalipun pedang baja tersebut harus diserahkan kepadanya juga pantas.

Maka tanpa banyak bicara lagi dia angsurkan pedang baja itu ketangan Kiu-im Kaucu.

“Thian-hong! Jangan tertipu….” mendadak seorang gadis berteriak nyaring.

Perasaan hati Hoa Thian-hong tergerak, buru-buru dia tarik kembali pedang bajanya. Semua oraig ikut terperanjat, tanpa terasa mereka semua lirikan pandangan matanya ke arah sang pembicara.

Tampaklah Giok Teng Hujin dengan seperangkat pakaian ketat warna hitam sedang berdiri diburitan perahu sebelah kanan, sebuah senjata yang bersinar tajam berada dalam genggamannya, sekujur badan dara itu basah kuyup, tampaknya belum lama naik keatas perahu.

Mula-mula Kiu-im Kaucu agak tertegun, menyusul sambil tertawa seram teriaknya, “Besar amat nyalimu! Bukan saja berani menjumpai aku, bahkan berani pula memusuhi aku…. hemm! Hmm! Bagus, bagus kalau ingin bicara hayo kemari!”

Sekujur badan Giok Teng Hujin gemetar keras, mukanya hijau kepucat-pucaan, jelas ia sedang merasa takut, ngeri bercampur emosi sukar untuk membayangkan bagaimanakah perasaan hatinya waktu itu.

Tiamcu ruang penyiksaan Le Kiu gi segera membentak nyaring, “Kaucu ada perintah, mengapa tidak maju menghadap?”

Hoa Thian-hong mengenyitkan sepasang alis matanya yang tebal, dengan ilmu menyampaikan suara ia segera berbisik, “Cepat-cepat kabur dari sini, bagiku lebih gampang untuk lari seorang diri daripada ber-kawan!”

Meskipun selisih jarak antara kedua belah pihak terpaut empat lima kaki, akan tetapi bisikan yang langsung ditujukan ke sisi telinga Giok Teng Hujin dapat terdengar amat nyaring, seakan-akan sang pembicara berada di sisi tubuhnya.

Tentu saja Giok Teng Hujin juga mengerti betapa sadis dan kejamnya siksaan lima pedang menyincang badan serta Api dingin melelehkan sukma itu. Penampilannya sekarang berani pula mengumumkan penghianatannya secara terus terang, rasa takut dan ngeri yang berkecamuk dalam hatinya makin menjadi, begitu mendengar bisikan dari Hoa Thian-hong, buru-buru dia berseru, “Leng-ci berusia seribu tahun adalah barang milik pribadi, jangan kau serahkan pedang itu kepadanya, ingat baik-baik perkataan itu.

Habis berkata ia menjejakan kaki keatas lantai dan tubuhnya mencebur kembali kedalam sungai.

Begitu hebat amarah yang berkobar didalam dada Kiu-im Kaucu membuat ketua dari Kiu-im-kauw ini hampir saja jadi kalap, dengan setengah menjerit ia membentak, “Le tiamcu! Bong tongcu! Bekuk budak sialan itu sampai dapat!”

Baik Le Kiu gi maupun Bong Seng yang mendapat perintah itu cepat-cepat mengiakan, mereka segera memburu kedepan dan mengejar ke arah mana Giok Teng Hujin melarikan diri.

Hoa Thian-hong merasa gelisah bercampur gusar, nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, cepat tangan kirinya menyambar ketiga batang paku penembus tulang yang menempel diujung pedangnya ke mudian menyambit ke arah punggung Bong Seng.

Sementara kaki kanannya dengan suatu tendangan kilat menghajar seorang pria bersenjata yang berada disamping gelanggang hingga mencelat keudara dan menumbuk punggung Le Kiu gi.

Terdengar Bong Seng menjerit kesakitan, tubuhnya langsung terjungkal kedalam air. Ketiga batang paku penembus tulang itu adalah senjata istana andalan Le Kiu gi, racun yang dipoleskan diujung senjata tersebut luar biasa ganasnya, dalam keadaan panik, sambitan yang dilancarkan Hoa Thian-hong itu menjadi suatu sergapan yang maha dahsyat. 

Ketiga batang paku penebus tulang itu langsung menancap diatas punggung Bong Seng hingga tembus empat cun dalamnya, salah satu diantaranya malahan menhajar tepat dihatinya, begitu tercebur kedalam sungai, racun keji itu mulai bekerja maka mampuslah tongcu itu didalam air.

Dipihak lain, Le Kui gi yang sedang meluncur kedepan tiba- tiba merasa ada orang menyambar ke arahnya, cepat dia berpaling, ketika dilihatnya orang itu adalah anggota perkumpulan sendiri, dengan cekatan ia tolak telapak tangannya, ia bermaksud meminjam tenaga tolakan itu untuk mempercepat daya luncurnya kedepan.

Siapa tahu dalam paniknya, tanpa disadari oleh Hoa Thian- hong sendiri ia telah kerahkan ilmu silat tinggi macam Le san ta gou (memukul kerbau dari balik bukit) serta Ciat hu coan lip (Pinjam benda salurkan tenaga) yang belum pernah dipelajari sebelumnya. 

Baru saja telapak tangan Le Kiu gi menolak tubuh orang itu, mendadak dia merasakan munculnya segulung tenaga pukulal yang maha dahsyat menyambar keluar dari lengan orang itu, kontan isi perutnya terasa bergolak keras, pandangan matanya jadi gelap dan tanpa mampu berteriak lagi tubuhnya ikut tercebur kedalam sungai.

Meskipun dihari-hari biasa Hoa Thian-hong tak pernah menggunakan senjata rahasia, tapi pelbagai macam cara melepaskan senjata rahasia pernah dipelajari olehnya, satu cara paham maka beratus-ratus macam cara yang lain pun dapat dipahami dengan sendirinya.

Apalagi setelah ilmu silatnya mencapai pada taraf seperti apa yang dimiliki sekarang, memetik daun menyambit dengan bungapun bisa mencabut nyawa orang.

Kepandaian Bong Seng didalam air memang sudah mencapai taraf yang tak terkirakan, akan tetapi ia sama sekali tidak menyangka datangnya sergapan dari belakang, nyawanya langsung melayang keakhirat begitu tubuhnya mencapai air.

Sebaliknya Le Kiu gi hanya menderita luka dalam yang sangat parah, selembar jiwanya masih dapat diselamatkan.

Perubahan yang terjadi ini sama sekali diluar dugaan siapapun, dalam waktu singkat Giok Teng Hujin sudah berada tiga kaki jauhnya dari situ, sekali dia menyelam tubuhnya tak pernah muncul kembali.

Kiu-im Kaucu betul-betul marah besar, apalagi setelah dilihatnya dalam satu gebrakan Hoa Thian-hong berhasil membunuh seorang panglima besarnya dan melukai yang lain, hampir saja ia jadi kalap karena sukar mengendalikan diri, dengan suara keras dia menggembor, “Kek tongcu, bawa segenap anak buahmu dan tangkap budak bajingan itu secepatnya, sedangkan yang lain segera lubangi semua perahu yang ada, serentak semuanya bekerja, siapa berani melanggar, bunuh!”

Sembari berseru toya kepala setannya melancarkan serangan-serangan mematikan secara bertubi-tubi, begitu dahsyat ancaman itu ibaratnya angin puyuh dan hujan badai. Sebetulnya Hoa Thian-hong tak tega membunuh orang tanpa alasan yang tertentu, tapi berhubung dia kuatir kalau sampai Giok Teng Hujin tertangkap, maka dia menyerang dengan tangan besi, bukan saja dahsyat dalam serangan, cara membunuhpun dilakukan sangat keji, hampir saja dia tercengang sendiri oleh kekejaman sendiri.

Menunggu Kiu-im Kaucu sudah nekad dan menyerang dia dengan taruhkan nyawa, dia baru merasakan keadaan yang tidak menguntungkan, terpaksa dia putar untuk melayani serangan musuh, sementara ingatan untuk kabur terlintas dalam benaknya.

Sreeeet! Sreeet! Secara beruntun anak buah perkumpulan Kiu-im-kauw pada terjun kedalam air, malahan Pia Leng-cu yang sedang menderita luka parahpun dibawah serta terjun ke sungai.

Hoa Thian-hong merasa gugup bercampur gelisah, dari keadaan itu dia dapat menduga kalau orang-orang Kiu-im- kauw bermaksud melubangi didalam air.

Dalam gugupnya mendadak ia lihat diatas perahu sebelah kiri masih terdapat beberapa orang yang belum sempat terjun kesungai, pedang bajanya segera diayun berulang kali kemuka memaksa mundur Kiu-im Kaucu,

Kemudian secepat sambaran kilat dia menyambar keperahu sebelah kiri dan menangkap salah seorang diantaranya.

Bingung dan tak habis mengerti melintas dalam benak Kiu- im Kaucu, ia tak tahu apa gunanya Hoa Thian-hong mengempit seorang anak buahnya, secepat kilat dia menerjang kembali ke arah anak muda itu sambil melepaskan serangan-serangan berantai. Dengan cekatan Hoa Thian-hong menyingkir kesamping, dalam waktu singkat dia sudah melayang dua kaki lebih, sekali loncat dia melayang pula kesisi sebelah kiri, semua gerak- geriknya dilakukan dengan kecepatan laksana sambaran kilat.

Kiu-im Kaucu merasa gugup bercampur gusar, hampir saja dia kalap, bentaknya dengan marah.

“Hoa Thian-hong, kau seorang pria sejati atau bukan?

Bukannya bertempur, engkau hendak kabur kemana?”

Sekali loncat, ia menubruk ke arah mana pemuda itu kabur. Hoa Thian-hong mendengus dingin.

“Hemm! Perkataanmu tak dapat dipercaya, aku tak sudi masuk perangkap lagi!”

Sambil berkata dia sudah kabur keujung perahu dan loncat kembali keatas perahu sebelah kanan.

Amarah yang berkobar dalam dada Kiu-im Kaucu benar- benar sukar dikendalikan lagi, dia ikut menerjang kesitu.

Rupanya Hoa Thian-hong memang sengaja mempermainkan musuh, melihat perempuan itu mengejar tiba, cepat dia kabur lagi keburitan perahu tersebut.

Begitulah dalam waktu singkat kedua orang itu saling ber kejar-kejaran diatas ketiga buah perahu itu, yang satu kabur yang lain mengejar, lama kelamaan Kiu-im Kaucu berhasil mendekati lawannya.

Ini disebabkan Hoa Thian-hong harus mengempit seseorang dibawah ketiaknya, dia memang lihay dan berilmu tinggi, kalau di bandingkan musuhnya lari pemuda ini jauh lebih cepat, seandainya kejadian ini berlangsung ditanah datar, mungkin sudah tadi-tadi ia sudah jauh meninggalkan musuhnya dibelakang.

Benturan keras menggelegar tiada hentinya dari dasar perahu, menyusul timbulnya beberapa buah lubang diatas perahu tadi, air sungai mulai mengalir masuk keatas geladak dan menggenanggi seluruh ruangan perahu.

Diam-diam Kiu-im Kaucu menyeringai seram, sambil melakukan pengejaran yang ketat, ia berteriak nyaring, “Hoa Thian-hong, apa maksudmu mengempit seorang anak buahku?”

Kalau toh harus mati, sedikit banyak aku musti cari kembali modalku….!” sahut Hoa Thian-hong cepat.

Mendengar perkataan itu, Kiu-im Kaucu teryawa terbahak- bahak.

“Haahh…. haahh…. haahh…. anak murid perkumpulan kami banyak sekali jumlahnya, kalau punya kegembiraan hayo bunuh saja mereka sampai habis….!”

Hoa Thian-hong mendengus dingin, tiba-tiba ia menerjang ketepi perahu, kemudian orang yang berada dibawah ketiaknya langsung dilempar kedepan dengan keras, menyusul mana dia ikut melayang kedepan….

0000O0000

74

KIU-IM KAUCU jadi sangat terperanjat, cepat ia menerjang keujung perahu, tapi sayang sudah terlambat, pemuda itu telah melayang jauh ke arah depan, melihat itu sambil mendebrak kakinya diatas lantai perahu teriaknya setengah menjerit, “Orang she Hoa! Aku bersumpah tak akan hidup tersama kau….”

Sementara itu orang-orang yang berada dalam sungai sama-sama menjerit kaget, tapi diantara mereka yang berotak cerdas cepat putar badan dan cepat-cepat berenang menuju ke arah pantai dengan melawan gulungan ombak yang besar.

Hca Thian-hong yang melayang ditengah udara bergerak enteng ke arah depan, ketika daya luncurnya menjadi lemah dan tubuhnya melayang kembali kebawah, kebetulan orang yang dilempar lebih dahulu kedepan itu berada dibawah kakinya, ia segera menggunakan punggung orang itu sebagai batu injakan, sekali menjejak tahu-tahu ia sudah meluncur kembali kedepan untuk kedua kalinya.

Loncatan yang pertama ia berhasil melampaui jarak sejauh enam kaki, kemudian dalam loncatan yang kedua ia mencapai jarak empat kaki delapan depa, ketika masin berada ditengah udara, ia selipkan kembali pedang bajanya ke arah pinggang.

Kemudian dikala badannya meluncur kebawah dengan cepat hingga tampaknya pemuda itu segera akan tercebur kedalam sungai, tiba- tiba kaki kanannya menjejak kembali diatas telapak atas kaki kirinya, sepasang telapak tangannya mendayung kebelakang lalu ditekan ke arah bawah, dengan kerahkan ilmu meringankan tubuh menaik keawan lewat tangga, suatu kepandaian ginkang tingkat tinggi, sekali lagi badannya meluncur kemuka untuk ketiga kalinya.

Dari balik tanggul di tepi pantai tiba-tiba loncat keluar Pek Kun-gie, tatkala menyaksikan kelihayan kekasihnya dia segera berte puk tangan sambil bersorak, “Horee…. bagus…. bagus…. Thian-hong,kau memang hebat, aduuhh mak!” Pujian itu diakhiri dengan suatu jeritan kaget.

Walaupun secara beruntun Hoa Thian-hong sudah tiga kali mengganti napas dan mencapai permukaan sungai seluas empat lima belas kaki, akan tetapi jarak dari perahu sampai daratan ada dua puluh kaki jauhnya, kendati ilmu meringankan tubuhnya amat sempurna, tak urung dia kehabisan napas juga sehingga akhirnya toh ia tercebur pula kedalam sungai.

Pada waktu itu anak buah Kiu-im Kaucu tersebar ditengah sungai, mereka sedang menugggu sampai perahu itu tenggelam barulah saat itu serentak menyerbu maju untuk melawan mangsanya.

Siapa tahu Hoa Thian-hong telah keluarkan ilmu simpanannya yang lihay hingga jauh meninggalkan lawan- lawannya, menanti kawanan jago dari Kiu-im Kaucu berdatangan ketempat kejadian, pemuda itu sudah mencapai tepi daratan.

Pek Kun-gie sangat gembira, dengan muka berseri dia lari ketepi sungai dan mengulurkan tangannya kebawah sambil berseru, “Hayo cepat naik, hayo cepat naik, mereka sudah makin mendekat, hati-hati, tuh lihat! Mereka sudah sampai dibelakangmu…. “

Sekalipun ilmu berenang milik Hoa Thian-hong tidak begitu bagus, akan tetapi untuk berenang dalam jarak selebar lima enam kaki bukan merupakan suatu pekerjaan yang terlalu menyulitkan, dalam sekejap mata ia sudah mencapai tepi pantai dan diseret naik keatas daratan oleh Pek Kun-gie.

Begitu naik keatas darat, gadis itu segera menarik tangannya untuk diajak kabur dari situ. “Jangan gugup, tak usah terburu nafsu, kita tunggu mereka sebentar….!” kata Hoa Thian-hong cepat.

Ia putar badan dan berdiri tegak, dengan sorot mata tajam di awasinya musuh-musuh yang tersebar ditengah sungai.

Pek Kun-gie gelisah sekali sambil mendepak-depakan kakinya kembali dia berseru, “Hayo cepetan dikit, kita harus segera mencari pedang emas itu, hayo cepat! Kita bisa kena didahului mereka….”

Hoa Thian-hong tertawa geli menyaksikan kepanikan orang, sabutnya sambil tersenyum, “Huuss! Jangan ribut dulu, memangnya kau anggap Pia Leng-cu suka berterus terang, ingat? Dia toh seorang hidung kerbau yang licik dan banyak akal setannya”

Tentu saja Pek Kun-gie tahu apa sebabnya pemuda itu tak mau pergi dari situ, seratus persen dia tentu sedang menguatirkan keselamatan Giok Teng Hujin, kontan saja dia jadi mendongkol dan berdiri dengan muka cemberut, cemberutnya cemberut masam.

Disar perempuan, kalau sudah cemburu memang sukar disembunyikan dalam hatinya, gadis itu tahu, bila Hoa Thian- hong sedang penuju sesuatu, biar diseretpun percuma saja, terpaksa diapun tidak merengek lebih jauh.

Pada saat itulah seorang kakek tua bersenjatakan pedang pendek dari Kiu-im-kauw telah mencapai daratan, dengan cepat dia merangkak bangun dari dalam air dan siap loncat keatas tanggul.

Hoa Thian-hong segera maju sambil menggetarkan pedang bajanya, dia mengancam. “Kau sudah bosan hidup yaa? Hayolah, kalau pingin pulang keakhirat…. silahkan naik ke darat!”

Sekilas rasa kaget dan ngeri meliputi paras kakek tua itu, cepat-cepat dia menyelam kembali kedalam air dan mundur dua kaki kebelakang, dengan termangu-mangu dia memandang ke arah daratan, untuk sesaat lamanya kakek tua itu tahu apa yang musti dilakukan

Hoa Thian-hong alihkan kembali pandangan matanya jauh ketengah sungai, waktu itu dia lihat ada banyak orang sedang berenang menuju kehilir sungai, dia tahu kawanan jago itu sedang mencari Giok Teng Hujin untuk dibekuk, hatinya makin gelisih bercampur murung.

Dari perubahan wajah anak muda itu, Pek Kun-gie sendiripun dapat merasakan kalau kekasihnya sedang menguatirkan keselamatan Giok Teng Hujin, api cemburu membakar hatinya makin keras, pikirnya, “Kalau dia tak mau pergi, apa salahnya kalau kutotok saja jalan darahnaya kemudian membawa dia kabur dari sini?”

Cepat dia ambil keputusan, jari tangannya diam-diam menyodok kedepan dan menotok jalan darah Hoa Thian-hong yang ada diarah pinggang.

Totokan tersebut sudah diarahkan secara tepat, bahkan berat ringannya serangan telah diperhitungkan masak-masak, siapa sangka anak muda itu cuma mengerutkan tubuhnya dan totokan tersebut sama Sekali tidak menunjukkan reaksi.

Pek Kun-gie semakin panik dan keki, akhirnya dia mendepakkan kakinya keatas tanah sambil mengomel, “Baik…. baik…. kalau engkau tak mau pergi dari sini, jangan salahkan aku kalau jiwa Cu locianpwe, dewa yang suka pelancongan itu terancam bahaya, sekarang dia sedang bergerak melawan dua puluh orang jago lihay dari Kiu-im-kauw!”

Sekarang Hoa Thian-hong baru kaget, teriaknya, “Kenapa tidak kau katakan sedari tadi?”

Cepat ia sambar tangan gadis itu dan kabur menuju ketengah dataran.

Pantai selatan sungai Hoang ho merupakan tanah gersang yang jarang ditanami pepohonaan, bukan saja tak ada persawahan disitupun jarang ada perumahan, pemandangan kealam bebas amat luas sekali

Begitu mencapai keatas daratan, dari kejauhan Hoa Thian- hong telah menyaksikan rombongan manusia sedang terlibat dalam suatu pertarungan sengit, ketika dihitung jumlahnya ternyata mencapai tiga empat puluh orang lebih.

Pemuda itu jadi panik, dia percepat larinya dan langsung bergerak menuju ketempat kejadian.

Menanti ia sudah hampir mendekati tempat kejadian, maka segala sesuatunya dapat terlihat jauh lebih jelas lagi.

Ternyata orang yang sedang terlibat dalam pertarungan itu terbagi menjadi dua tombongan, grup pertama terdiri dari Tiam cu istana neraka beserta kesepuluh orang anak buahnya dari Kiu-im-kauw, sedangkan grup kedua terdiri dari Kho Hong-bwee, Pek Soh-gie beserta belasan orang anak buahnya dari perkumpulan Sin-kie-pang, selain itu ditambah pula dengan dua orang jago lain, mereka adalah Cu Thong dewa yang suka pelancongan yang gemuk dan pendek serta Bong Pay yang baru saja sembuh dari luka parahnya. Kho Hong-bwee masih tetap berdandan sebagai seorang Too koh (rahib) sambil putar pedang mustikanya ia sedang melangsungkan pertarungan sengit melawan tiamcu istana neraka.

Sedangkan sisanya, yang lain melangsungkan suatu pertarungan massal yang tak kalah serunya, diantara dua rombongan jumlah anak buah Kiu-im-kauw jauh lebih banyak beberapa orang.

Seng tongcu dari ruangan penerimaan anggota baru menggeletak ditepi gelanggang dalam keadaan jalan darah tertotok, empat orang anggota Kiu-im-kauw sedang berusaha untuk menolong Seng longcunya itu, tapi Dewa yang suka pelancongan Cu Thong selalu menghalangi jalan pergi mereka dengan kebutan kakinya.

Pertarungan ini berjalan sangat kocak dan penuh dihiasi oleh suara tertawa haha hihi yang nyaring.

Ketika Hoa Thian-hong mencapai tempat kejadian, dari kejahuan Cu Thong telah berseru, “Hey anak Seng, baik-baik bukan dirimu?”

“Orang tua, engkau sendiri juga baik-baik bukan? sapa Hoa Thian-hong pula sambil tertawa.

Dengan muka berseri-seri Pek Kun-gie menarik tangan anak muda itu untuk mendekati gelanggang pertarungan, serunya dengan bersemangat, “Hayo kita cepat-cepat bereskan kawanan manusia itu, kemudian berangkat ke kota Lok yang untuk mencari pedang emas!”

Hoa Thian-hong tersenyum. “Boleh saja kalau ingin ambil pedang emas, aku cuma kuatir kalau pengakuan dari Pia Leng-cu tidak jujur, kalau kita sampai kecele dan menubruk tempat kosong, idiih! Malu sekali aaah, kita bisa ditertawa kan orang-orang Kiu-im-kauw!”

Aaah, perduli bagaimana nantinya, sekarang pokoknya kita musti labrak begundal-begundal dari Kiu-im-kauw ini lebih dahulu sampai babak belur, mumpung harimau betina yang galak itu belum sampai disini, lumayan toh kalau kita bisa hadiahkan beberapa buah bogem mentah ditubuh mereka?”

Hoa Thian-hong tertawa geli sewaktu mendengar Pek Kun- gie mengistilahkan Kiu-im Kaucu sebagai Harimau betina, sebetulnya dia mau maju untuk melabrak musuhnya, tiba-tiba ia lihat Bong Pay sedang bertarung dengan Pek Soh-gie mendampingi disamping nya.

Serangan jari maupun telapak tangan dari Bong Pay lihay sekali, angin serangannya dahsyat dan mengerikan, setiap Pek Soh-gie temui bahaya dia segera maju menolong.

Satu ingatan cepat terlintas dalam benaknya, dia berpikir, “Bong toako memang gagah dan ganteng dia paling cocok kalau dijodohkan dengan nona gede dari keluarga Pek, bila dua orang itu bisa berpasang, waah! Mereka merupakan sepasang sejoli yang paling cocok, aaah! Lebih baik aku tak usah maju, biar mereka bertarung agak lamaan secara berduaan!”

Pek Kun-gie tak tahu jalan pikiran kekasihnya, melihat pemuda itu batal untuk maju ia jadi keheranan, segera tanyanya dengan hati gelisah, “Eeh, kenapa kau? kita tidak segera melabrak mereka, kalau sampai pasukan besar musuh tiba disini, kitalah yang bakal konyol!” “Sstt! Jangan ribut dulu” bisik Hoa Thian-hong sambil tersenyum, “kalau kau gembar gembor begitu, konsentrasi yang lagi tertolong pasti akan buyar!”

Kemudian sambil menuding kedepan, bisiknya lagi, “Coba kau lihat ilmu pedang ibamu, Huuh! Kalau dibandingkan dengan kepandaianmu…. waaah! sejaripun kau tak menampil….”

“Hmm! Aku tak mau ambil perduli, pokoknya asal lebih hebat dari Chi Wan Hong, binimu itu, aku sudah puas!” jawab Pek Kun-gie dengan bibir dicibirkan.

Hoa Thian-hong tertawa, ia merasa tidak leluasa untuk menanggapi lebih jauh maka pemuda itu lantas membungkam.

Seperti teringat akan sesuatu tiba-tiba sikap Pek Kun-gie berubah jadi gelisah bercampur panik.

Setelah putar biji matanya kesana kemari gadis itu langsung kabur kemuka sambil berseru, “Thianhong, hayo cepatan dikit, kalau terlambat kuatirnya tidak keburu lagi!”

Dalam waktu singkat dia sudah kabur sejauh puluhan kaki dari tempat semula.

Hoa Thian-hong sama sekali tidak beranjak dari tempat semula, dia kuatir pertarungan seru itu diganggu oleh kehadiran Kiu-im Kaucu beserta anak buahnya, kalau sampai jago lihay itu muncul disana dan dia sedang pergi, siapa lagi yang mampu menghadapi kelihayannya?

Tiba-tiba terdengar Kho Hong-bwee berseru dengan cemas, “Hoa kongcu, cepatlah kejar dia, aku kuatir budak itu sudah teringat oleh suatu urusan penting kalau tidak ia tak akan segugup dan segelisah itu!”

Hoa Thian-hong selain menghormati watak Kho Hong- bwee, selama ini dia pandang perempuan itu sebagai angkatan yang lebih tua, tentu saja ia merasa tak enak hati untuk menampik permohonannya, terpaksa dia kabur mengejar ke arah mana Pek Kun-gie lenyapkan diri.

Tiamcu istana neraka merasa amat terperanjat ketika diketahuinya arah yang ditempuh dua orang itu adalah kota Lok yang, dia segera berpikir dalam hati, “Aduuh celaka! Kalau dililat arah mereka jelas kedua orang itu sedang kabur ke kota Lok yang untuk mencari pedang emas….”

Karena kuatir cepat dia loncat mundur dari gelanggang, sambil ulapkan tangannya ia berseru, “Orang-orang dari Kiu- im-kauw segera ikut aku.

Begitu selesai berbicara dia segera mengejar ke arah Hoa Thian-hong berdua.

Secara beruntun orang-orang dari Kiu-im-kauw mengundurkan diri dari gelanggang pertarungan dan menyusul dibelakang Tiamcu mereka.

Kho Hong-bwee seria Cu Thong sekalian tentu saja tak mau ketinggalan, mereka ikut menyusul dibelakang orang-orang Kiu-im-kauw.

Dengan begitu maka dalam waktu singkat tempat itu menjadi sunyi kembali, kecuali Seng longcu seorang yang masih menggeletak diatas tanah karena tidak mampu bergerak. Gerak tubuh Hoa Thian-hong sangat cepat bagaikan hembusan angin, sekejap kemudian dia sudah menyusul disamping Pek Kun-gie sambil menarik tangannya pemuda itu menegur, “Eeh, apa-apaan kamu ini? Kenapa kau lari dengan muka gugup? Hayo bilang, permainan setan apa yang sedang kau lakukan?”

Pek Kun-gie tidak langsung menjawab, dia berpaling kebelakang, sewaktu dilihatnya para jago yang lain sedang menyusul dibela kangnya ibarat seekor naga panjang, dara cantik itu merasa gembira bercampur gelisah serunya lantang, “Hayo kita kabur rada cepatan dikit, pokoknya kita harus jauh tinggalkan orang-orang dibelakang sana!”

“Ibumu dan encimu toh ikut dirombongan belakang, masa engkau juga akan tinggalkan mereka semua?” tegur sang anak muda keheranan.

“Tentu saja!”

Mendadak gadis itu merasa salah bicara, cepat ia membungkam dan mempercepat larinya kedepan.

Bukan bertambah cepat, Hoa Thian-hong malahan semakin memperlambat gerak tubuhnya, ia mengomel, “Aku mau bicara dengan Cu locianpwe serta Bong toako, kalau engkau tak mau terangkan dengan jelas, aku ogah untuk lari lagi.”

“Engkau tak mau lari lagi?” seru Pek Kun-gie gelisah, “baik, aku segera akan loncat kesungai, aku akan bunuh diri, aku akan tusuk perutku dengan pisau”

“Eeh…. kenapa musti begitu?” tegur Hoa Thian-hong tercengang. “Kita tinggalkan dulu orang-orang itu, nanti akan kukatakan dengan sejujurnya!”

Ha Thian-hong benar-benar dibuat kehabisan akal, dengan perasaan apa boleh buat terpaksa dia mempercepat larinya kedepan.

Begitu dia kerahkan kepandaian saktinya dalam sekejap mata para pengejar dibelakang sudah ketinggalan jauh sekali.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian Pek Kun-gie baru terpaling kebelakang, ia lihat hanya tiamcu istana neraka serta Cu Thong dua orang saja yang masih mengguntil dikejauhan, sedang sisanya yang lain sama sekali tidak nampak batang hidungnya lagi.

Bicara sebenarnya, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Kho Hong-bwee termasuk sangat lihay, malah jauh diatas kepandaian tiamcu dari istana neraka maupun Cu Thong, akan tetapi dia ada maksud untuk memberi kesempatan bagi putrinya untuk jalan bersama Hoa Thian-hong, karenanya ia sama sekali tidak mengejar dengan sepenuh tenaga.

Sebaliknya orang-orang yang lain telah kerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya, sampai seluruh badan telah basah kuyup oleh air keringat namun mereka masih tetap ketinggalan jauh sekali.

Sementara itu Hoa Thian-hong telah menemukan pula keanehan yang menyelimuti wajah Pek Kun-gie, dia merasa amat tercengang sehingga tanpa terasa tegurnya, “Ada urusan apa toh? Kok kau kelihatan begitu gembira?”

Pek Kun-gie tertawa cekikikan. “Kita lari dipaling depan, itu beratti pedang emas tersebut sudah pasti akan terjatuh ketangan kita”

“Aku tidak percaya kalau engkau gembira karena soal ini, Hayo cepat mengaku terus terang! Kalau tidak awas kalau kulemparkan tubuhmu kedalam sungai”

Pek Kun-gie semakin geli hingga tertawa mengikik.

“Hmm Apa takutnya beritahu kepadamu? Aku bukan orang bodoh, bukankah engkau selalu paksa aku untuk pulang kerumah? Nah sekarang ibuku sudah datang, kalau aku tidak cepat-cepat kabur memangnya aku harus menunggu sampai diseret pulang olehnya?”

“Haahh…. haahhh…. haahh…. rupanya karena soal itu, tapi kalau kau bergelandangan terus diluar….”

“Sampai matipun aku tak mau pulang, pokoknya kalau kau paksa aku untuk pulang kerumah, berarti kauingin aku cepat mampus tukas sang dara dengan cepat.

Setelah tertawa cekikikan, ia melanjutkan, “Sekalipun sudah pulang ke gunung, kau toh masih bisa ngeloyor keluar!”

Pokoknya aku akan ikut terus disampingmu, kau lari ke timur ikut ke timur, kau naik langit aku ikut kelangit, itu namanya kalau sudah jodoh kemana tak akan lari lagi, Mengerti?”

Hoa Thian-hong tersenyum dihatinya dia berpikir, “Nasibnya memang jauh lebih beruntung daripada Ku Ing-ing, dia masih punya rumah, masih ada ayah ibu dan saudara, lain sebaliknya Ing ing telah menjadi penghianat dari Kiu-im-kauw, dia harus buron te rus dengan hidup bersembunyi, dunia begini luas, kemana dia akan mencari tempat berteduh?” Teringat sampai kesitu, rasa sedih dan murung kembali menyelimuti wajahnya, rasa gembira yang semula menghiasi wajahnya kontan tersapu lenyap hingga sama sekali tak berbekas.

Pek Kun-gie belum merasakan kesedihan anak muda itu, ia masih gembira dan berjoget dengan riang gembira, serunya lagi dengan setengah mengomel, “Hayolah cepatan dikit larinya…. Ooh Lo Thian! Hayolah, cepatan dikit kalau lari”

“Kau tahu Kiu-im Kaucu masih ada dibelakang, kalau orang orang kita dibelakang sampai ketemu dengannya, mungkin jiwa mereka akan terancam, aku lihat lebih baik kita balik kesana sambil periksa keadaan mereka, setuju bukan?”

Mula-mula Pek Kui Gie agak kaget, menyusul mana sambil tertawa sahutnya, “Ooh, jangan kuatir, makin cepat kita kabur ke arah kota Lok yang, Kiu-im Kaucu akan semakin gelisah dan dia akan mengejar semakin kencang, sekalipun ibu tak dapat menangkan dia, belum tentu beliau akan dikalahkan dalam waktu singkat, saat ini pikiran dari Kiu-im Kaucu telah melayang keatas pedang emas itu, dia pasti akan kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk mengejar kita, tak mungkin dia akan mencari kesulitan buat diri sendiri, percaya tidak?”

Hoa Thian-hong berpikir sebentar, dia merasa apa yang diuraikan dara itu memang sangat masuk diakal, maka segera pikirnya, “Keadaan dari Ing ing jauh lebih berbahaya, kalau begitu akan kuusahakan untuk peroleh pedang emas itu kemudian baru mengajak Kiu-im Kaucu untuk berunding secara baik-baik, mungkin dengan imbalan pedang emas tersebut dia bersedia untuk menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik….” Setelah mengambil keputusan didalam hati, cepat dia kerahkan segenap kemampuannya untuk mengerahkan ilmu meringankan tubuh tingkat tingginya sambil menarik tangan Pek Kun-gie bagaikan hembusan angin puyuh mereka kabur menuju ke kota Lok yang.

Kurang lebih dua tiga jam kemudian sampailah mereka dikota Lok yang, waktu itu malam sudah menjelang lagi, cahaya lampu menerangi setiap rumah penduduk didalam kota, ketika masuk ke kota kebetulan hujan sedarg turun dengan derasnya.

Hoa Thian-hong segera menarik Pek Kue Gie untuk berteduh dibawah emper rumah orang, katanya, “Hayolah kita cari sebuah rumah makan untuk berteduh dari hujan deras ini, sementara kau bersantap, aku akan mencari pedang emas itu, asal ketemu aku segera akan menyusul!”

“Tidak, aku tidak mau, kita harus berada bersama-sama,” jawab Pek Kun-gie sambil membereskan rambutnya yang kusut, dia hembuskan napas panjang.

Kemudian tanpa banyak bicara Pek Kun-gie meneruskan perjalanan diteagah bujan deras.

Menyaksikan kenekatan dara itu, Hoa Thian-hong tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali mengikuti dibelakangnya.

Sesaat kemudian mereka sudah tiba didepan rumah penginapan Ciat-seng, sambil menuding jendela loteng dari kedai penjual obat itu Pek Kun-gie berkata, Diatas loteng itulah gudang penyimpanan obat yang dimaksudkan imam sekarat itu.

“Ikuti aku!” seru Hoa Thiaa Hong cepat” “Eeeh…. tunggu sebentar!” tiba-tiba Pek Kun-gie berseru, seraya berkata dia lari masuk kedalam kedai obat itu dan memesan sejenis benda.

Setelah gadis itu muncul kembali, Hoa Thian-hong baru bertanya dengan keheranan.

Eeeh, apa-apaan kau ini?

“Pinjam korek api, engkau membawa bahan untuk obor bukan?” sahut Pek Kun-gie.

Hoa Thian-hong menggeleng sambil tertawa, dia berputar ke arah kiri, dari situ sambil menggandeng tangan Pek Kun-gie loncat naik keatas loteng kecil itu, setelah membuka jendelanya mereka menyusup masuk kedalam ruangan itu.

“Tutup jendela itu rapat-rapat” bisik Pek Kun-gie, aku akan mencari pedang emas itu se-mentara engkau jaga didepan jendela, jangan beri kesempatan kepada lawan untuk masuk kesini!”

Hoa Thian-hong segera tutup pintu jendela dan berjaga disa mpingnya, sementara Pek Kun-gie telah memasang api dan memilih sebuah batang ranting obat yang mudah terbakar, dengan rating itu Sebagai obor ia serahkan kepada sang pemuda untuk memegangnya, sedang dia sendiri dengan badan basah kuyup mulai mencari pedang emas tersebut disekitar ruangan loteng itu.

Pek Kun-gie adalah seorang jagoan dunia persilatan, dalam soal menggeledah atau melakukan pencarian harta pusaka sudah terlalu hapal dan berpengalaman, setelah memeriksa sekejap sekitar situ dia lantas loncat naik keatas belandar rumah, ia periksa dengan seksama setiap bagian ruangan yang mungkin bisa dipakai untuk menyembunyi kan pedang itu, malahan atap maupun celah celah dinding pun diperiksa dengan seksama, namun pedang emas tersebut sama sekali tidak ditemukan.

Perlu diketahui, ranting yang digunakan sebagai bahan obor itu adalah sejenis bahan obat, karena terbakar maka timbullah asap yang tebal, dan asap itu segera menggumpal didalam seluruh ruangan “berhubung tiadanyva celah sebagai penyaluran, maka dalam waktu singkat ruangan itu sudah berbau bahan obat yang sangat tebal.

Mencium ban obat-obatan itu Hoa Thian-hong segera berkata sambil tertawa geli, “Waaaduuh…. obat-obatan apaan ini? Kalau termasuk bahan obat yang mahal harganya, sayang toh kalau dibakar dengan begitu saja

“Memangnya aku juga tahu? Tanya saja sama binimu!” sambung Pek Kun-gie cepat.

Sambil melayang turun keatas tanah, gadis itu mulai pindahi bahan-bahan obatan tersebut dan menggeledah seputar ruangan itu.

Perlahan-lahan Hoa Thian-hong menghampiri kesamping Pek Kun-gie, dia angkat tinggi-tinggi obor tersebut agar sinar penerangan jauh le bih tajam, ketika dilihatnya pakaian dara iiu basah kuyup oleh air hujan dan tubuhnya sekarang basah pula oleh keringat, ia jadi dibikin sangat terharu.

“Istirahatlah dulu” bisiknya dengan lembut, “aku akan menggan tikanmu untuk menggeledak disekitar tempat ini!”

“Ruangan ini penuh dengan debu, kotornya bukan kepalang, kau tak usah ikut, nanti kotor tanganmu!”

Setelah tertawa manis, sambungnya kembali. “Pia Leng-cu memang seorang telur busuk sialan, setelah menotok jalan darah pingsanku, dia telah menaruh badanku dibawah tumpukan bahan obat-obatan itu, ketika kusadar dari pingsan terasa pandangan mataku jadi sangat gelap, diatas badan masih tertumpuk oleh bahan rumput-rumputan kering Hiih….! Waktu itu aku menyangka sudah mampus dan nyawaku sudah ada di akhirat.”

“Imam tua itu memang patut dibenci tapi patut juga dikasihani” Hoa Thian-hong menanggapi, “ibu jarinya sudah ditusuk oleh sebatang paku beracun yang ganas, jika jalan darahnya dibebaskan maka jiwanya pasti akan melayang tinggalkan raganya!”

Daripada biarkan dia hidup sambil mencelakai orang dijagad, memang lebih enak kalau dibikin mampus saja, hidang kerbau sialan itu seorang telur busuk besar sekalipun dicincang tubuhnya juga pantas.

Gadis itu berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, “Kenapa toh kakinya kok jadi pincang??”

“Oooh dia kena digigit oleh Soat-ji rase salju milik Giok Teng Hujin!”

“Dan mukanya yang bengkak? Apa engkau yang tampar mukanya dengan tangan?”

“Ooh bukan, aku menyemburnya dengan semburan arak!” “Semburan arak?” Pek Kun-gie, tiba-tiba membelalakan

matanya lebar-lebar.

Tiba-tiba dia membanting sedikit bahan obat yang ada dicekalannya keatas lantai, kemudian sambil mencak-mencak karena mendongkol teriaknya, “Bagus, bagus sekali, orang sedang berada dimulut harus, mampuspun tak berkesempatan, engkau malahan cari kesenangan dengan temani perempuan lain minum arak, macam apakah kamu itu? Oooh puas sungguh puas yaa?? Hatimu busuk, tak nyana hatimu kejam, aku…. aku akan adu jiwa dengan kau”

Hoa Thian-hong tertawa santai, bisiknya.

“Eeh…. eehhh…. jangan berteriak-teriak begitu, nanti tauke yang punya warung obat naik kemari lho!”

“Tidak ambil perduli, pokoknya aku mau teriak, aku…. aku mau teriak yang keras….” jerit Pek Kun-gie makin menjadi.

Cepat Hoa Thian-hong menutupi mulutnya dengan tangan, sebelum dia melakukan tindakan lain, tiba-tiba jendela dihajar orang sampai terbentang lebar, menyusul Kiu-im Kaucu dengan suatu sergapan kilat menerjang masuk kedalam ruang loteng itu, begitu tajam sambaran anginnya sehingga memadamkan obor yang berada ditangan anakmuda itu.

Sekejap mata ruang loteng jadi gelap gulita hingga sukar melihat kelima jari tangan sendiri.

Hoa Thian-hong sangat terkejut, cepat ia cabut pedang bajanya dan berdiri dihadapan Pek Kun-gie untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Tiba-tiba Pek Kun-gie bertepuk tangan sambil berteriak kegirangan, “Hooree…. keracunan! Dia mulai keracunan! Hayo, roboh kau, roboh kau sekarang…. mampus kau!”

Sewaktu menerjang masuk kedalam ruang loteng, Kiu-im Kaucu memang sudah mencium sejenis bau obat-obatan yang sangat aneh sekali, mulai detik itu hatinya sudah curiga dia kuatir kalau kena dipecundangi oleh akal busuk Hoa Thian- hong.

Dan kini setelah mendengar seruan yang tiba-tiba diutarakan Pek Kun-gie, kecurigaan semakin menjadi, dengan hati berdebar karena ketakutan cepat ia jejakkan kaki kelantai dan meluncur keluar dari ruangan tersebut, peluh dingin telah mengucur keluar membasahi tubuhnya.

Pek Kun-gie tertawa mengikik karena geli, cepat ia menuju ketepi jendela dan melongok kebawah.

Ditengah hujan sangat deras, tampaklah Kiu-im Kaucu berdiri kaku di tengah jalan raya, tubuhnya sama sekali tak berkutik barang sekejappun, kesadaannya persis seperti sebuah patung arca.

Dari sikapnya itu jelas ia sedang kerahkan hawa murninya untuk mengusir, hawa racun yang mengeram dalam tubuhnya.

Kembali gadis itu tertawa mengikik, serunya dengan lancang, “Hey Kiu-im Kaucu, engkau sudah terkena racun jinsom dari bukit Tiam Pek san, lebih baik cepatlah pulang kerumah untuk persiapkan segala urusan yang terakhir, kalau tidak kau pilih peti mati buat diri sendiri, takutnya mayatmu akan diberikan anjing!”

“Sett….! jangan ribut terus” bisik Hoa Thian-hong, “memangnya sedang ada diruma h sendiri”? Kaok-kaok terus persis seperti burung gagak”

Pek Kun-gie tertawa cekikikan, ia tidak bicara lagi.

Sementara itu dari kejauhan telah meluncur datang beberapa sosok bayangan manusia, orang yang tiba dulu adalah seorang To koh berbadan kecil langsing, dia tak lain adalah Kho Hong-bwee ibunya Pek Kun-gie, dibelakangnya menyusul dia orang yaitu Tiamcu istana neraka dari Kiu-im- kauw serta Dewa yang suka pelancongan Cu Thong.

Sesaat kemudian dari belakang sana baru menyusul datang Kek Thian-tok, itu tongcu pelatih teknis dari Kiu-im-kauw sambil mengempit tubuh Pia Leng-cu.

Melihat gerak tubuh sang lawan yang begitu cepat dan cekatan walaupun sedang mengempit seseorang, dalam hati Pek Kun-gie dan Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat.

Kek Thian-tok adalah seorang tongcu pelatih teknis yang bertanggung jawab dalam soal memberi latihan ilmu silat kepada para anggota, darimana anak buah Kiu-im-kauw pandai ilmu meringankan tubuh dan langkah dewa pemabuk luan ngo beng mi sian tun hoat kalau bukan belajar dari kepala pelatih teknisnya ini?

Anak buahnya saja sudah begitu lihay, apalagi Kek Thian- tok sebagai pengajarnya, sudah tentu berlipat ganda kelihayannya dari yang lain, malahan kalau dibandingkan dengan Kiu-im Kaucu sendiri, boleh dibilang dalam soal ilmu meringankan tubuh dia tak kalah jauh.

Setelah beberapa orang itu sampai ditempat tujuan, mereka menghembuskan napas panjang untuk menyegarkan kembali dadanya yang turun naik.

Dengan memakai kipasnya untuk menahan air hujan, Dewa yang suka pelancongan Cu Thong menengadah keatas loreng, lalu teriaknya dengan suara nyating, “Seng ji, kalian lagi apa- apaan? Permainan setan apa lagi yang telah kamu siapkan?

Aaah…. gara-gara kamu, hampir saja napasku jadi putus ditengah jalan, untuug tak sampai mampus!” Mendengar teguran itu cepat Hoa Thian-hong melayang turun kebawah, sahutnya sambil tersenyum, “Boapwe memang rada sinting sehingga bikin susah kau orang tua saja, harap cianpwe tak usah marah lagi!”

Kemudian ia memberi hormat kepada Kho Hong-bwee sambil menyapa, “Hujini baik-baik bukan selama ini?”

Kho Hong-bwee, tertawa, sambil balas hormat sahutnya, “Kongcu tak usah banyak adat, bagaimana dengan kesehatan ibumu?”

Dipihak lain, Kiu-im Kaucu sudah merasa kalau dirinya tertipu, ia periksa seluruh tubuhnya dengan teliti tapi tak ada tanda-tanda ke racunan, maka sambil melototkan sepasang matanya dengan pandangan tajam, bentaknya penuh kegusaran, “Hoa Thian-hong! Serahkan pedang emas itu kepadaku”

Pek Kun-gie melayang turun dari atas loteng, sambil berdiri disisi Hoa Thian-hong, ejeknya, “Lucu amat kamu ini!

Memangnya kami hutang pedang emas atau pedang perak kepadamu?”

Baru saja perkataan itu selesai diutarakan keluar, mendadak dari kegelapan meluncur keluar sesosok bayangan hitam langsung menerjang ke arah Kek Thian-tok.

Imam bajingan, serahkan jiwa anjing mu!” bentaknya.

Begitu mencapai sasaran, serentetan cahaya perak meluncur dari tangannya dan lenyap dihadapan…. Kek Thian-tok sangat terkejut, cepat dia putar badan sambil menyingkir beberapa kaki kesamping, bentaknya dengan gusar, “Siapa kau?”

Dengan terkejut semua orang berpaling ditengah hujan yang amat deras, berdirilah seorang pemuda bermuka sedih ditengah jalan, dia tak lain adalah Haputule satu-satunya murid It kiam kay Tionggoan ( Pedang yang menggetarkan daratan Tionggoan ) Siang Tang lay yang masih hidup.

Sementara itu sebilah pedang perak yang panjangnya beberapa depa telah menancap diatas punggung Pia Leng-cu langsung tembus hingga gagang pedangnya.

Kek Thian-tok kaget bercampur gusar, ia periksa pernapasan Pia Leng-ci ternyata imam tua itu sudah menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Dalam cemas bercampur marahnya tanpa menunggu perintah dari kaucunya lagi, ia lempar mayat Pia Leng-cu keatas tanah, sambil membentak sebuah pukulan dahsyat dilancarkan ke arah Haputule.

“Saudaraku, hati-hati! Hoa Thian-hong memperingatkan.

Haputule geserkan sepasang kakinya dan berkelit dari serangan tersebut, dengan manis ia lolos dari ancaman.

Kek Thian-tok semakin naik darah, sebagai seorang tongcu dari Kiu-im-kauw dia merasa kehilangan muka setelah tawanan yang berada ditangannya dibunuh orang dihadapan umum tanpa mampu dicegah olehnya, bahkan tawanan tersebut adalah seorang tawanan yang penting sekali artinya.

Dalam gusar dan malunya, ia lancarkan sergapan hebat dengan maksud merobohkan lawannya, siapa tahu serangan itu meleset dari sasaran, hal ini semakin menggusarkan hatinya, cepat dia memburu kemuka sambil mengirim lagi sebuah pukulan maut.

Hoa Thian-hong cepat melayang kemuka dan cabut keluar pedang pendek yang menancap dipunggung Pia Leng-cu, sambil dilemparkan kedepan, serunya, “Saudaraku, sambut pedangmu itu!”

Criit! Diiringi desiran tajam yang memekikan telinga, serentetan cahaya perak langsung meluncur ke arah punggung Kek Thian-tok.

Serangan yang dilancarkan Hoa Thian-hong ini sangat kuat dan mengerikan, mendengar desiran tajam mengancam punggungnya, dengan ketakutan Kek Thian-tok mengguling kesamping untuk menghindar, dengan begitu pedang pendek tadi menyambar lewat dari atas kepala Kek Thian-tok langsung meluncur ke arah dada Haputule.

Pedang pendek itu masih meluncur lewat dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, desiran yang tajam amat memekikan telinga melihat pedang itu meluncur dengan sisa ke kuatan yang cukup hebat, Haputule tak berani menyambut dengan tangannya, terpaksa dia melangkah setindak kesamping untuk menghindarkan diri.

Siapa sangka Hoa Thian-hong menyambit pedahg itu dengan memakai sejenis kepandaian Toa buan keng (tenaga pantulan seperti bumerang) yang sangat aneh tapi hebat, begitu meluncur sampai dihadapan Haputule tiba-tiba pedang itu tidak melaju kembali kedepan melainkan malah sama sekali berhenti sedetik kemudian lewat sesaat lagi baru melaju untuk kedua kali. Melihat keanehan tersebut, Haputule agak tertegun menyusul mana cepat ia sambar gagang senjatanya.

Kemarahan yeng berkobar dalam dada Kek Thian-tok makin menjadi, walaupun Haputule telah bersenjata, namun ia sama sekali tidak ragu untuk menyerang sekali lagi, tubuhnya menerjang kedepan sembari mele paskan sebuah pukulan, Haputule angkuh dan tidak takut mati, sekalipun serangan musuh amat dahsyat ia sama sekali tak sudi berkelit sambil menerjang pula kedepan, pedangnya langsung melepaskan sebuah bacokan kilat.

Dalam waktu singkat kedua orang itu terlibat dalam suatu pertarungan yang amat sengit dibawah curahan hujan deras.

Perlu diketahui Kek Thian-tok adalah seorang tongcu yang bertugas melatih ilmu silat anak murid Kiu-im-kauw, dasar ilmu silat yang dia miliki tentu saja sangat luar biasa sekali.

Bicara yang sebenarnya selama Pia Leng-cu berada dibawah kempitannya, tak mungkin bagi Haputule untuk membinasakan tawanan tersebut, sayang pada waktu itu hujan sedang turun dengan derasnya, pemandangan diseputar sana jadi kabur dan kurang jelas, suara hujan mengganggu pendengaran, dan lagi Kiu-im Kaucu sedang berbicara dengan Hoa Thian-hong sehingga perhatian semua orang tertuju kepada dua orang itu, oleh karenanya sergapan Haputule dapat bersarang dengan jitu.

Jangankan Kek Thian-tok tidak mampu menghindari, andaikata Kiu-im kaucu yang menghadapi sendiri kejadian itu belum tentu ia dapat selamatkan tawanannya.

Sebagai murid kesayangan dari Siang Tang lay, dasar kepandaian yang dimiliki Haputule cukup tangguh, bukanlah suatu pekerjaan yang gampang bagi Kek Thian-tok untuk merobohtan pemuda itu.

Ditengah pertarungan, Kek Thian-tok selalu bergerak ibaratnya sukma gentayangan, dia selalu menempel didepan Haputule sambil melepaskan serangan-serangan kilat yang gencar, semua ancaman ditujukan ke arah bagian-bagian yang mematikan dari lawannya.

Dengan demikian posisi Haputule selalu dipaksakan berada diatas angin dia cuma menangkis dan tak mampu membalas, walauPun begitu permainan pedang pendeknya tangguh sekali, aneh dalam serangan ampuh dalam sergapan terutama sekali senjata pendek macam begitu memang paling cocok untuk melangsungkan pertarungan jarak dekat, karenanya untuk beberapa saat Kek Thian-tok sendiripun tak mampu berbuat apa- apa atas dirinya.

Setelah mengikuti sebentar jalannya pertarungan itu, Hoa Thian-hong tahu bahwa tenaga dalam yang dimiliki Haputule sangat terbatas, bila pertarungan itu dilangsungkan agak lama maka akhirnya dia pasti menderita kekalahan.

Diam-diam ia lanĂ­as bersiap sedia, asal rekannya itu menemui bahaya maka dia akan segera memberikan bantuannya.

Mendadak ia temukan kalau Kiu-im Kaucu sendiripun sedang mengincar dari sudut lain, dia tahu kalau dirinya menerjang maju niscaya perempuan itu pun akan menghalangi gerakannya, merasakan betapa gawatnya suasana, cepat dia memberi kisikan kepada Cu Thong dengan ilmu menyampaikan suaranya, “Diantara enam orang murid Siang locianpwe ada lima diantaranya telah mati dalam keadaan mengenaskan, kini tinggal Haputule seorang yang masih hidup, kita harus lindungi keselamatan jiwanya dari bahaya, sebab kalau tidak maka kita akan malu terhadap arwah Siang locianpwe yang ada dialam baka, nanti kalau sampai Haputule menjum-pai mara bahaya, tolong kau orang tua memberikan pertolongannya, sedang boanpwe akan menandingi Kiu-im Kaucu!”

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong segera mengangguk, dengan sorot mata yang tajam dia awasi pertarungan yang sedang berlangsung ditengah gelanggang, sementara mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Kiu-im Kaucu sendiri merasa gusar bercampur mendongkol, dia mengira pedang emas itu sudah jatuh ketangan Hoa

Thian-hong, kalau sampai demikian maka berarti pula kitab Kiam keng sudah merupakan benda dalam saku anak muda itu.

Otaknya segera berputar keras untuk mencari akal guna mengatasi masalah tersebut, namun diapun sadar betapa minimnya kekuatan yang tersedia baginya waktu itu, dari pihak Kiu-im-kauw kecuali dia sendiri hanya Kek Thian-tok serta tiamcu istana neraka saja yang hadir disana.

Sebaliknya dari pihak lawan hadir pula Hoa Thian-hong, Cu Thong serta Kho Hong-bwee yang mampu menandingi kekuatan mereka bertiga, padahal disitu masih hadir pula Pek Kun-gie serta Haputule, walaupun ilmu silat kedua orang ini biasa-biasa saja akan tetapi cukup memberi angin bagi lawannya untuk melakukan perlawan.

Dalam posisi yang begini menguntungkan, mungkinkah Hoa Thian-hong bersedia untuk serahkan pedang itu kepadanya?

Sekalipan otaknya sudah diperas habis-habisan namun perempuan ini gagal untuk menemukan sesuatu cara yang bagus, tapi ia bertekad tak akan lepaskan Hoa Thian-hong dengan begitu saja.

Akhirnya ia berhasil menemukan suatu akal bagus, dengan ilmu menyampaikan suaranya ia lantas berbisik kepada Tiamcu istana neraka yang berada disampingnya.

“Aku akan mengunci keparat she Hoa tersebut disini, sedang kau cepat tinggalkan tempat ini dan kumpulkan segenap kekuatan yang kita miliki untuk bekuk Bun Siau-ih sampai dapat, cepat berangkat!”

Dengan sorot mata yang tajam tiamcu istana neraka menyapu sekejap pihak lawan, kemudian dengan mengerahkan pula ilmu menyampaikan suara jawabnya dengan ragu-ragu, “Tapi…. pihak musuh jauh lebih banyak jumlahnya, kaucu….”

“Asal orang she Hoa itu mempelajari isi kitab Kiam keng, maka selama hidup tiada harapan lagi bagi Kiu-im-kauw untuk tampil didepan umum” teriak Kiu-im Kaucu dengan gusar, “hayo cepat pergi, tak usah ragu-ragu dalam tindakan, gunakan segala cara yang bisa dilakukan untuk bekuk orang itu, ingat! yang penting adalah tujuan kita tercapai”

Tiamcu istana neraka tak berani banyak bicara lagi, dia segera putar badan dan kabur dari situ.

Pek Kun-gie dapat menyaksikan tingkah laku musuh yang merugikan, cepat dia mendorong tubuh Hoa Thian-hong seraya berseru, “Cepat hadang jalan perginya!”

“Memangnya kenapa?! tanya sang anak muda keheranan. “Dia pergi cari bala bantuan!” Tiba-tiba dara itu merasa jalan pikirannya belum tentu benar, cepat ujarnya lagi, “Yang jelas dia pasti melakukan suatu perbuatan yang merugikan kita jangan biarkan dia pergi!”

“Kita toh tak mungkin membasmi musuh sampai seakar- akarnya, biarkan saja dia pergi dari sana!”

Pek Kun-gie jadi mencak-mencak karena gelisah, dia ingin mengejar ssndiri tapi saat itu bayangan tubuh dari tiamcu istana neraka sudah lenyap dari pandangan mata.

Kho Hong-bwee dapat menyaksikan pula tingkah laku putrinya, dengan hati berkerut ia segera betpikir, Dihari-hari biasa budak ini selalu bertindak terbuka, tenang dan sangat berwibawa, kenapa sekarang jadi begitu ribut dan mencak- mencak melulu seperti monyet? Heran!”

Tiba-tiba dari gelanggang pertempuran terdengar Kek Thian-tok membentak keras, telapak tangannya dibalik dan langsung menghajar ke arah dada Haputule.

Pukulan itu sangat cepat dan luar biasa bebatnya, Haputule yang masib muda dan cetek dalam tenaga dalam jadi kelabakan setengah mati, setelah melayani musuhnya sebanyak tiga puluh gebrakan dia sudah kehabisan tenaga hingga jadi lemah, tampaknya serangan tersebut segera akan bersarang di atas tubuhnya.

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong sudah bersiap sedia sedari tadi, melihat Haputule terancam bahaya, cepat ia menerjang kemuka sambil berseru lantang, “Setan tua, lihat serangan!”

Kipasnya yang besar disertai desiran angin pukulan yang tajam langsung menyergap keatas punggung Kek Thian-tok. Desiran angin pukulan itu tidak terlalu gencar, tapi lingkaran yang diancam amat luas sekali.

Kek Thian-tok jadi terperanjat, dalam hati pikirnya, “Ilmu pukulan apaan ini? Kenapa angin serangannya begitu lembut dan dingin?”

Tentu saja dia tak berani menyambut dengan kekerasan, cepat tubuhnya berkelit ke samping dan menghindar sejauh beberapa kaki dari tempat kedudukan semula.

Dewa yang suka pelancongan sendiri rada kaget juga melihat kegesitan musuhnya, sam il tertawa tergelak dia goyang-goyangkan kipasnya sembari mengejek.

“Itulah pukulan telapak raksasa, sayang belum mencapai kesempurnaan, harap kau setan tua jangan mentertawakan!”

Kegusaran yang berkobar dalam dada Kek Thian-tok susah dikendalikan lagi, dia segera membentak keras dan sekali lagi mener-jang kemuka

Gerakan tubuh musuhh cepat ibaratnya hembusan angin puyuh, diam-diam Dewa yang suka pelancongan merasa terperanjat, namun diluaran sambil tertawa tergelak serunya, “Hey setan tua, sebutkan dulu siapa namamu, aku dewa gede tak pernah membunuh seorang prajurit tanpa nama!”

“Aku adalah Kek Thian-tok, tongcu dalam bidang latihan teknis!”

“Oooh, rupanya setan tua itu, kenapa dia bisa menggabungkan diri dengan Kiu-im-kauw?” pikir Dewa yang suka pelancongan agak heran. Sekalipun dalam hati berpikir demikian diluaran ia berkata lagi sambil tertawa, “Oooh engkau adalah tongcu bagian kematian? Huuh, seorang prajurit tak bernama kalau begitu, aku dewa gede paling muak melihat orang macam kau, nyawamu tak bisa diampuni lagi!”

Kipasnya dikebut kemuka kemudian dialihkan ketangan kiri, sementara telapak tangan kanannya dengan memakai gerakan Menyerang sampai mati dari Ci yu cit ciat (tujuh kupasan dari Ci yu) langsung menyerang kedada lawan.

Ilmu pukulan kuno ini sangat aneh sekali gerakannya, walaupun sasarannya disebelah kiri namun arah yang diserang ternyata kanan.

Ditengah hujan deras yang amat ramai itu, pendengaran maupun penglihatan jago She Kek itu banyak berkurang, hampir saja ia kena diselomot oleh serangan maut itu.

Untung ilmu langkah Loan ngo heng mi sian tun hoatnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, dalam detik terakhir dia masih sempat untuk menghindar kesamping.

Pek Kua Gie yang mengikuti jalannya pertarungan itu dari samping arena segera tertawa cekikikan karena geli. Hoa Thian-hongpun tersenyum lirih, hanya Kiu-im Kaucu seorang yang makin mendongkol dibuatnya, rasa gusar bercampur rasa benci yang berkobar dalam dadanya membangkitkan hawa nafsu membunuhnya yang tebal.

Antara Hoa Thian-hong dengan Kiu-im Kaucu memang terdapat perbedaan yang menyolok dalam soal perangai, kalau si anak muda itu berjiwa besar, terbuka dan tidak mendendam sebaliknya ketua dari Kiu-im-kauw itu berjiwa sempit, gampang tersinggung dan besar sekati rata dendamnya. Baik pendiriannya, dia hanya boleh menang perang dan tak boleh menelan kekalahan, kalau menang tampangnya jadi gembira dan sikapnya sok terbuka, tapi begitu menderita kalah, iasa benci dan dendamnya melipat ganda, ia bersumpah akan membalas dendam dengan kekejaman sepuluh kali lipat dari yang diterima.

Walaupun begitu, perempuan tersebut termasuk seorang jago yang berotak panjang, dia pandai menyimpan perasaan dikala situasi tidak menguntungkan pihaknya, namun dalam kenyataan benih rasa benci yang bersemayam dalam hatinya diam-diam tubuh jadi besar, makin tenang dia bersikap makin menghebat rasa benci yang tertanam dalam hatinya.

Sayang Hoa Thian-hong tidak merasakan hal itu, ia tak tahu kalau mara bahaya yang sangat besar telah siap menanti dirinya.

Sementara itu pertarungan antara Kek Thian-tok dengan dewa yang suka pelancongan telah berjalan enam puluh gebrakan, tiba-tiba hujan berhenti dan udara menjadi cerah kembali, rembulan muncul jauh di awang-awang.