Tiga Maha Besar Jilid 19

 
Jilid 19

SEMENTARA ia masih termenung, dengan wajah menyeringai seram Pia Leng-cu telah berkata lagi, “Sekarang, beritahu dulu kepadaku apa isi catatan Kiam keng bu kui yang kau ketahui, jika berani menyelewengkan kata-kata tersebut dari isi yang sebenarnya…. Hmm! Akan kusuruh kau tak punya muka untuk berjumpa lagi dengan Hoa Thian-hong” Pek Kun-gie selalu teringat akan Hoa Thian-hong, maka Pia Leng-cu menggunakan titik Kelemahan tersebut untuk memaksa gadis itu menuruti Kemauannya, meskipun cara ini amat keji dan tak tahu aturan namun amat jitu dan tepat mengenai sasarannya.

Mendengar permintaan tersebut, dalam hati Pek Kun-gie segera berpikir, “Kalau aku mengatakan tak tahu, dia pasti tak percaya, seba-liknya Kalau kuterangkan sejujurnya, bila intisari kepandaian tersebut sampai dipahami olehnya, bukankah kepandaian silat yang dia miliki akan melampaui Thian-hong?”

Agaknya Pia Leng-cu dapat menebak pula isi hatinya, ia menyeringai seram dan berseru

Engkau tak usah banyak berpikir, ilmu silat kekasihmu itu berada jauh didepanku sekalipun aku berhasil memahami intisari catatan Kiam keng bu kui, belum tentu bisa menyusul kemampuannya, siapa kuat siapa lemah masih harus ditentukan setelah Kiam keng mustika itu akhirnya diketahui terjatuh ketangan siapa.

Hmm! Sekalipun kuhafalkan dengan sejujurnya, belum tentu kau percaya seratus persen, pasti kau ngotot mengatakan aku bohong.

“Hafalkan saja dengan cepat, palsu atau asli aku dapat mem-bedakan sendiri!” tukas Pia Leng-cu.

Pek Kun-gie kembali berpikir dihati, “Isi Kiam keng bu kui bagian depan banyak diketahui oleh para jago yang hadir dalam pertemuan Kian ciau tay hwe, tak mungkin aku bisa bohong, sebaliknya kalau isi bagian belakang sengaja kukacau sedikit, rasanya belum tentu ia dapat membedakan….” Karena berpendapat begitu, iapun lantas menghapalkan isi catatan tersebut, “Peraturan menurut langit, kerugian pasti tersisa…. Berjaga ketat sikap waspada dan rahasia, pedang pengusir setan, bocorkan ra hssia langit, lambat, tenang, lincah, bergabung jadi….”

Tiba-tiba Pia Leng-cu tertawa seram.

“Heehh…. heeehh…. heeehh…. keliru besar, lambat, tenang dan lincah mana mungkin bisa digabungkan jadi satu?”

Cahaya kilat berkelebat lewat dan….Breet! pakaian yang dikenakan Pek Kun-gie dari bagian dada sampai antara belahan pahanya mendadak tersebar robek sehingga anggota badannya yang putih mulus dan merangsang tertera jelas didepan mata,

Pisau belati itu disembunyikan dibawah pakaian, setelah merobek pakaian Pek Kun-gie ia sembunyikan kembali pisaunya ditempat semula, semua gerakan dilakukan dalam waktu singkat dan secepat sambaran kilat.

Pek Kue Gie hanya merasakan cahaya tajam berkilauan, sebelum sempat melihat jelas bentuk pisau tersebut tahu-tahu semuanya sudah terjadi, untung gadis itu duduk bersila ditanah oleh sebab badannya naik turun tidak merata maka babatan pisau tersebut tak sampat melukai tubuhnya.

Walaupun begitu, dari sini pula dapat di buktikan betapa sempurnanya permainan ilmu pedang yang dimiliki imam tua ini.

Muja-mula Pek Kun-gie merasa terperanjat, menyusul mata hatinya jadi gusar bercampur malu apalagi setelah dilihatnya pakaian yang dikenakan robek sama sesali hingga dada dan bagian bawahnya terlihat jelas. Berada dalam keadaan bagini, gadis itu ingin mati saja, tapi ia tak berani berbuat begitu kuatir kalau jenasahnya benar- benar dinodai imam cabul tersebut, sepasang tanganpun terbelenggu dibelakang punggung hingga tak mungkin bisa digunakan untuk menutupi bagian yang kelihatan.

Saking gemas benci dan mendongkolnya, sekujur badannya gemetar keras, sambil menggertak gigi ia berseru, “Lebih baik bunuhlah diriku, kalau tidak suatu saat pasti kucokel keluar sepasang biji matamu itu!”

Pia Leng-cu sama sekali tidak menggubris perkataan itu, sepasang matanya melotot besar dan mengawasi payudara sang dara yang menonjol sebagian dari balik pakaiannya yang robek, terutama sekali lekukan tubuh bagian bawahnya yang indah memikat, membuai matanya hampir tak berkedip, paras mukanya yang membengkak berderu ken cang menahan emosi, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya, tanpa sadar nafsu birahinya telah berkobar dengan hebatnya….

Haruslah diketahui Pek Kun-gie adalah seorang gadis yang cantik jelita bagaikan bidadari, bukan saja paras mukanya sangat menawan hati bentuk tubuhnya pun sangat indah, ditambah pula kulit tubuhnya yang putih bersih sama sekali tiada Cacad, pinggangnya ramping serta sepasang payudaranya yang bulat berisi, boleh dibilang suatu perpaduan yang amat serasi.

Pia Leng-cu adalah seorang lelaki hidung bangor yang gemar main perempuan, tidaklah heran kalau nafsu berahinya kontan berkobar setelah menyaksikan anggota tubuh gadis itu. Pek Kun-gie merasa amat malu bercampur marah, pikirnya dihati, “Daripada tubuhku ternoda oleh bajingan cabul ini, lebih baik mati saja…. aaa! Dari pada tubuh ternoda, lebih baik aku mati dalam kesucian.”

Setelah ambil keputusan dihatinya, iapun siap menggigit putus lidah sendiri untuk bunuh diri.

Tapi sebelum niat tersebut dilaksanakan, tiba-tiba Pia Leng- cu berpaling ke arah lain dan menghela nafas panjang.

“Aaaai….!”

Terperangah hati Pek Kun-gie menyaksikan kejadian tersebut, ingatan untuk bunuh diripun untuk sementara waktu ditunda lagi.

Meskipun Pia Leog cu telah alihkan sinar matanya ke arah lain, tapi apa yang barusan dilihat masih terbayang nyata dalam benak nya, perasaan hatinya masih bergolak keras dan nafsu berahi yang telah berkobarpun susah ditenangkan kembali, keringat sebesar kacang kedelai masih terus mengucur keluar membasahi tubuhnya.

Pada saat ini terjadilah perang batin yang sangat dahsyat dalam hati kecilnya, ia merasakan suatu siksaan dan penderitaan yang belum pernah dialaminya sepanjang hidup.

Haruslah diketahui, meskipun bentuk badan Pek Kun-gie sangat indah tetapi kalau pria yang memandang tubuhnya itu hanyalah seorang pria yang belum berpengalaman, maka pria tersebut paling banter cuma merasakan keindahannya belaka, sama sekali tiada rangsangan lain yang jauh lebih hebat.

Sebaliknya Pia Leng-cu berasal dari perkumpulan Thong- thian-kauw, pada dasarnya dia memang seorang pria cabul yang gemar main perempuan, sepanjang hidupnya entah sudah berapa banyak perempuan yang digauli olehnya, justru karena terlalu banyak perempuan yang pernah dilihat olehnya maka ia dapat merasakan kalau bentuk badan Pek Kun-gie luar biasa sekali dan susah diuraikan tandinganya di kolong langit, justru karena pendapat inilah maka rangsangan yang membara dalam dadanya beratus ratus kali lebih hebat daripada rangsangan pada umumnya.

Kalau menuruti watak serta keinginan hatinya, sedari tadi dia pingin menubruk gadis itu serta memperkosanya.

Namun diapun memahami perangai dari Pek Kun-gie, dia tahu gadis itu berhati keras, jika ia terburu-buru merodai tubuhnya, niscaya gadis itu akan bunuh diri dan kalau sampai terjadi keadaan demikian, itu berarti semua rencananya akan gagal total.

Sudah tentu imam tua ini tidak berharap rencana besarnya mengalami kegagalan total hanya disebabkan salah melangkah, ia lantas berusaha untuk menekan perasaan sendiri serta memadamkan api berahi yang sudah hampir mencapai pada puncaknya itu.

Beberapa waktu sudah lewat, ditengah keheningan yang mencekam, ia menjerit dalam hati kecilnya, “Tidak boleh…. Tidak boleh….! Aku tidak boleh melakukannya pada saat ini, dengan adanya gadis ini sebagai sandera, sekalipun tempat persembunyianku ditemukan Hoa Thian-hong keparat cilik itu belum tentu dia berani mengapa-apakan diriku, kalau kuinginkan pedang baja itu ditukar dengan gadis ini, mungkin saja keparat itupun akan menyanggupi, sebaliknya kalau kupaksa keparat cilik itu untuk menghadapi Kiu-im Kaucu, diapun pasti tak berani membangkang perintahku, kini isi dari catatan Kiam keng bu kui belum kudapatkan, aku tak boleh membuat suasana jadi rusak berantakan.” Setelah dipikirkan berulang kali akhirnya dia ambil keputusan untuk memadamkan api berahi dalam hatinya, dari bawah tumpukkan bahan obat ia ambil keluar sebuah buntalan serta pedang mustika Poan liong poo kiam tersebut.

Pedang mustika itu diselipkan dulu dalam pakaiannya, setelah kobaran api birahinya bisa dikuasainya, dia lepaskan buntalan itu dan ambil keluar satu stel jubah warna hijau, dengan pakaian itu ia tutupi badan Pek Kun-gie yang setengah telanjang tadi sehingga tinggal kepalanya saja yang kelihatan.

Pek Kun-gie jadi terperangah oleh tindak tanduk imam tersebut, pikirnya didalam hati, “Meskipun bajingan tua ini patut dibunuh namun ilmu silat yang dia miliki memang terhitung lihay, tampaknya di kolong langit dewasa ini kecuali Thian-hong serta Kiu-im Kaucu, tiada orang ketiga yang mampu menandingi dirinya lagi”

Dalam pada itu, Pia Leng-cu sudah putar badannya dan berkata dengan suara dingin, “Mulai sekarang aku harap engkau bisa baik-baik membawa diri, ketahuilah pada saat ini aku berusaha keras untuk menahan diri kalau engkau mencari kesulitan terus dan berusaha untuk membangkitkan bawa gusar ku, itu berarti engkau sendirilah yang ingin mencari kepuasan dan sengaja memancing nafsu birahiku untuk memperkosa engkau!”

Paras muka Pek Kun-gie berubah jadi hijau membesi, karena gusarnya, tapi gadis itu tahu apa yang diucapkan adalah kata-kata sejujurnya, dalam hati dia merasa takut dan tak berani banyak berbicara lagi.

Pia Leng-cu mendekati bawah jendela dan duduk disitu, ujarnya kembali, “Kepandaian silatku juga terletak diatas sebilah pedang, kalau dihitung sampai ini hari maka sejarahnya sudah berlangsung enam puluh tahun lamanya, perduli sampai dimanakah kehebatan dari Kiam keng bu kui, asal kau masukkan sepatah kata yang tiada hubungannya dengan catatan tersebut, aku segera dapat membedakannya. Ilmu Pedaug yang dimiliki Hoa Thian-hong sangat hebat tenaga dalam yang dia miltki juga jauh melebihi aku, tapi kalau berbicara tentang pengetahuan serta pengalaman dalam hal ilmu pedang, ia masih tak mampu menandingi aku, Pek Siau-thian sendiri hanya belajar sampai setengah jalan, tentu saja lebih tak masuk hitungan. Nah! kalau engkau tahu diri, lekaslah beritahu kepada ku semua isi catatan Kiam keng bu kui tersebut secara lengkap”

Teringat akan peristiwa yang baru saja terjadi, Pek Kun-gie ngeri sekali menghadapi imam tua yang berhati keji seperti kala jengking ini, apa yang dipikirkan sekarang hanyalah melindungi kesucian tubuhnya, selain itu ia tak berani membangkitkan amarahnya sehingga menimbulkan kerugian bagi diri sendiri.

Tanpa diulangi untuk kedua kalinya, cepat-cepat ia menghapalkan kelima puluh delapan kata isi catatan Kiam Leng bu kui tersebut tanpa salah sepatahkata pun.

Pia Leng-cu menghimpun segenap perhatian dan semangatnya untuk mendengar catatan itu, kemudaan dengan seksama dia teliti setiap kata tadi apakah ada yang palsu atau tidak, sesudah yakin tiada ke alahan barulah dia duduk bersandar didinding dan merenungkan makna dari pelajaran tersebut.

Apa yang tercantum dalam catatan Kiam keng bu kui hanyalah inti sari pelajaran ilmu pedang, ajaran itu sebangsa teori untuk menggunakan yang tiada menjadi ada, dan bukanlah jurus serangan untuk menghadapi musuh, oleh sebab itu bila seseorang tidak memiliki dasar ilmu silat yang cukup kuat sekalipun tahu isi pelajaran tersebut belum tentu bisa memahami isinya, sekalipun mengerti setengsh-setengah juga sama sekali tak ada manfaatnya.

Misalnya saja Pek Siau-thian yang mempunyai ilmu silat terdiri dari pelbagai macam ragam, walaupun kepandaian itu meliputi juga ilmu pedang tapi dasarnya amat terbatas sekali, walaupun begitu dia mengetahui akan besarnya manfaat dari pelajaran Kiam keng bu kui ini, maka setelah pertemuan Kian ciau lay hwee bubar, ia segera menutup semua cabang dan ranting perkumpulannya serta membuyarkan anggota perkumpulan yang ada, kemudian seorang diri menutup diri dan mendalami pelajaran yang diperoleh tersebut.

Disamping itu, iapun melatih pula beberapa macam ilmu silat yang lain dari perguruannya, dalam keadaan demikian Kho Hong hwee tak tega meninggalkan suaminya yang baru saja mengalami kekalahan total seorang diri, diam-diam Pek Siau-thian genbira sekali melihat kenyataan itu, berhubung istrinya juga berlatih ilmu pedang maka ia lantas mencatat kelima puluh delapan patah kata catatan Kiam keng bu kui itu diatas secarik kertas, dan diserahkan kepada putri sulungnya Soh-gie untuk diserahkan kepada ibunya, dengan sendirinya Pek Kun-gie jadi ikut mengetahui isi dari kelima puluh delapan kata itu.

Bagi Pek Siau-thian sekeluarga, kelima puluh delapan kata itu tidak mendatangkan manfaat apa-apa, berbeda jauh ketika diketahui oleh Pia Leng-cu.

Apa yang dikatakan imam tua itu sama sekali tak bohong, pengetahuannya mengenai ilmu pedang memang sudah mencapai tingkatan yang sangat tinggi, kelima puluh delapan kata itu ibaratnya melu-kis naga memberi mata, dalam waktu yang amat singkat ilmu silatnya telah peroleh kemajuan yang amat pesat. Suasana diatas loreng sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, Pia Leng-cu duduk sanbii pejamkcn mata, ibaratnya padri yang sudah duduk semedi dan sama sekali tak pernah beranjak dari tempat duduknya

Pek Kun-gie sendiri sama sekalii tak ada pekerjaan, ia gunakan waktu senggangnya untuk melamunkan Hoa Thian- hong terutama sekali sepanjang masa mereka berduaan, mulai dari Hoa Thian-hong lari ra cun dikota Cho ciu hingga detik ini setiap hari dia hanya melamun terus, seringkali ia membayangkan bagaimana mereka menikah, punya anak dan berpesiar keseantero dunia, kemudian membayangkan pula bagaimana anak mereka menikah, punya cucu, hampir tiada sesuatu yang lewat dalam lamunanaya itu.

Asal dia mulai melamun maka segala-galanya sudah terlupakan olehnya, bahkan iapun merasa lupa dimana dia sedang berada.

Demikianlah, kedua orang itu masing-masing sibuk dengan pekerjaannya sendiri, sipapun tak mengganggu pihak yang lain, siapa pun tidak merasa lapar atau dahaga, sepanjang hari tak seorangpun yang buka suara untuk berbicara.

Malam harinya, tiba-tiba Pia Leng-cu bangkit berdiri, dengan kaki yang pincang dia berjalan bolak balik dalam ruang kecil itu, mendadak dari tumpukan peti obat dia ambil seutas ranting kering dan menggunakan ranting itu untuk menebas, menusuk dengan cepatnya.

Walaupun ditengah kegelapan, Pek Kun-gie masih sempat melihat kalau imam tua itu sedang berlatii pedang, ia berlatih terus tiada hentinya bahkan tak kenal lelah, hal ini membuat Pek Kun-gie lama kelamaan merasa amat kesal, pikirnya, “Bangsat ini berlatih terus dengan tekunnya, kalau diteruskan maka ilmu silatnya tentu akan melampaui Thian-hong. Aaai….! Tahu begitu, lebih baik kukorbankan segala-galanya daripada memberi tahukan rahasia ini kepadanya….”

Menyusul mana dia membayangkan bagaimana Hoa Thian- hong berperang tanding melawan Pia Leng-cu, bagaimana imam tua itu diteter terus sampai kalang kabut tak karuan, akhirnya pemuda itu putar pedang bajanya beberapa kali mencukil keluar sepasang biji mata imam bangsat ini, kemudian melamunkan pula bagaimana Hoa Thian-hong menggandeng tangannya mendaki bukit Thay san menyaksikan munculnya sang surya dari balik samudra luas….

Tengah malam telah menjelang, tiba tiba dari depan penginapan berkumandang suara kereta kuda, Pia Leng-cu kelihatan terkejut sambil membuang ranting kayunya dari genggaman, ia lari ketepi jerdela dan mengintip keluar lewat lubang yang dibuat.

Dari balik pintu samping rumah penginapan itu meluncur keluar sebuah kereta kuda. Hoa Thian-hong duduk didepan sebagai sais kuda, jendela ruang kereta tertutup rapat sehingga tak terlihat siapakah yang berada dalam kereta itu.

Pek Kun-gie telah teisadar pula dari lamunannya, dengan hati terperanjat ia berseru lirih, “Kenapa? Kenapa ia berangkat?”

Pia Leng-cu hanya mendengus dingin, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Pek Kun-gie makin tercekat, serunya lagi, “Kiu im katcu telah siapkan jebakan diatas sungai, nenek iblis itu bermaksud merampas pedang bajanya. Hmm! Kalau sampai pedang baja itu terjatuh ketangan Kiu-im Kaucu, selama hidup jangan harap kau bisa mendapatkan kitab pusaka Kiam keng” Pia Leng-cu baru saja terpikat oleh keampuhan isi pelajaran Kiam keng bu kui, ia tahu kitab Kiam keng yang berada dalam pedang baja Hoa Thian-hong merupakan seluruh peninggalan ilmu pedang dari malai kat pedang Gi Ko, rangsangan tersebut terlalu besar baginya untuk bisa dibendung, mendengar perkataan dari Pek Kun-gie tadi timbullah perasaan tak tenang dan panik dalam hati kecilnya.

Tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang jago kawakan yang banyak pengalaman semua tindak tanduknya selalu dipikirkan dulu secara cermat sebelum dilaksanakan, karena itu walaupun dalam hati merasa gelisah namun perasaan tersebut tak sampai diutarakan keluar.

Memandang kereta kuda itu makin menjauh, ia cuma berkata dengan suara tawa.

Tengah malam buta begini pintu kota sudah tertutup, tak mungkin kereta kuda itu bisa keluar dari kota.

Dalam hati kecilnya Pek Kun Gei mengeluh

“Thian-hong…. ooh…. Tbhian Hong! Mengapa kau tinggalkan aku seorang diri? Tegakah kau biarkan aku terjatuh ketangan bajingan cabul ini?”

Dalam hati berpikir begitu, diluaran dia tertawa dingin dan berseru lagi, “Untuk keluar kota dan menyeberangi sungai, masa membutuhkan kereta kuda? Hmm! Setibanya ditepi sungai, pedang baja itu pasti akan terjatuh ketangan Kiu-im Kaucu, waktu itulah Kiu-im Kaucu akan datang mencari engkau untuk merampas pedang emas itu, heeee…. heeehh…. heeeeh…. akan kulihat engkau hendak kabur kemana lagi?”

Pia Leng-cu menyeringai dan tertawa seram. “Haaah…. haaahh…. haaahh…. sampai waktunya maka engkaulah yang bakal sial lebih dulu!”

Pek Kun-gie berusaha keras untuk mententramkan hatinya, sambil berlagak tak acuh, katanya, “Kalau didengar dari pembicaraanmu memang tampaknya menyeramkan sekali, padahal setelah tiba pada waktunya asal mata melotot kaki menjejak, habis sudahnya waktu, apa yang musti aku pusingkan lagi?”

Pia Leng-cu berpikir dihati, “Meskipun mulut budak ini sangat keras, dalam kenyataan memang begitulah.

Heehmmm…. heehmm…. kalau orangnya sudah mampus, siapa yang akan memperdulikan lagi tubuhnya bakal diperkosa atau tidak, kata semacam itu toh tak lebih cuma gertak sambal belaka….”

Sementara itu derap kaki kuda sudah makin menjauh, ketika dilihataya Pia Leng-cu tiada minat untuk melakukan pengejaran, dalam gugup dan gelisahnya ia berseru kembali, “Kalau engkau tak menanggung rasa penyesalan sepanjang masa, cepatlah kejar Hoa Thian-hong, ilmu silat yang dia miliki merupakan nomor satu di kolong langit, dia sudah tak akan tertarik oleh sejilid kitab Kiam keng, dia pasti bersedia menggunakan pedang baja itu untuk ditukar dengan aku”

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lagi, “Dia adalah seorang pria sejati yang tak pernah pungkiri setiap ucapan yang telah di utarakan keluar, asalkan ia sudah bersedia untuk menukar aku dengan pedang baja tersebut, maka janji itu tak akan diingkari dan diapun tak akan menyusahkan dirimu lagi!”

Pia Leng-cu tertawa seram, tukasnya, “Haaahh…. haaahh…. haaahh…. pedangnya aku mau, orangnya aku juga mau, bagaimana akhirnya nanti hal ini harus dilihat dengannasibmu selanjutnya!”

“Huuh! jangan mimpi disiang hari bolong, siapa yang kesudiaan dengan binatang tak tahu malu seperti kau?! sumpah Pek Kun Ge didalam hati.

Mendadak ia merasa iganya jadi kaku, dan gadis itupun jatuh tak sadarkan diri.

Sesudah menotok jalan darah pingsan di iga Pek Kun-gie, imam tua itu menggapitnya dibawah ketiak dan melayang turun kebawah loteng, dengan menelusurl jalan raya dia mengejar ke arah mana kereta kuda tadi berlalu.

Baru saja menyeberangi sebuah jalan raya, dari kejauhan tampaklah kereta kuda ini berjalan dengan sangat lambat, rupanya Hoa Thian-hong kuatir mengganggu ketenangan tidur rakyat disekitar sana maka kereta itu sengaja dilarikan dengan perlahan.

Pia Leng-cu menyadari kalau ilmu silatnya masih bukan tandingan lawan, apalapi kaki kanannya pincang dan mulut lukanya belum merapat, oleh sebab itu dia cuma menguntil dikejauhan dan tak berani terlalu mendekati, sepertanak nasi kemudian tibalah kereta itu dibawah kaki pintu kota sebelah utara.

“Kreekk…. kreeekk….!” pintu kota yang tebal dan berat tiba-tiba terbentang lebar, dari balik gelagapan muncullah dua orang penjaga berseragam lengkap.

Hoa Thian-hong segera jalankan keretanya keluar dari pintu kota, kepada dua orang petugas itu sambil menjura, bisiknya, “Terima kasih atas bantuan kalian berdua.” “Tak usah sungkan-sungkan, semoga kongcu selamat sepanjang jalan” jawab kedua orang itu hampir berbareng.

Pia Leng-cu yang mengikuti jalannya peristiwa itu ditempat kegelapan, segera berpikir dihati, “Aah…. rupanya keparat cilik itu telah menyuap petugas pintu kota untuk membukakan pintu baginya, sungguh tak kunyana otaknya secerdik itu, sehingga asal seperti inipun dapat dilakukan olehnya.”

Ia menunggu beberapa saat lamanya, kemudiaan baru berputar kesamping dan mendaki keatas tembok kota dari kejauhan, dari sana dia loncat turun keluar kota, tampaklah kereta tadi tidak langsung menuju kedermaga melainkan dilarikan menuju ke arah timur.

Dalam hati kecilnya Pia Leng-cu kembali berpikir, “Sungguh cermat dan seksama jalan pikiran bocah keparat ini, kalau nenek setan itu bercokol diatas perahunya, dia pasti menanti ditengah dermaga, menanti mereka sadari kalau keparat itu menyusup keseberang, mungkin bocah kaparat itu sudah mendarat ditepi seberang sana!”

Mula-mula kereta itu hanya dilarikan dengan perlaban, setelah beberapa li, mendadak Hoa Thian-hong ayun cambuknya berulang kali, kereta itupun segera kabur dengan cepatnya.

Diam-diam Pia Leng-cu merasa amat terkejut, dia ikut mempercepat lari tubuhnya, namun selisih jaraknya dengan kereta itu tetap di pertahankan sejauh tiga puluh tombak, ia merasa sekalipun Hoa Thian-hong berpaling kebelakang, ditengah kegelapan demikian ini jejaknya sulit untuk diketahui.

Sepanjang kota Lok yang, permukaan air sungai jauh lebih tinggi dari permukaan tanah disekitarnya, karena itu sepanjang sungai dibangun tanggul yan amat tinggi untuk mencegah terjadinya kebanjiran.

Hoa Thian-hong larikan kudanya dengan cepat menelusuri sisi tanggul tersebut, debu mengepul memenuhi angkasa, suara putaran roda kereta berkumandang memecahkan kesunyian.

Setelah berlarian kurang lebih setengah jam lamanya, tiba- tiba kereta itu dilarikan naik keatas tanggul dan berhenti disana.

Suara gulungan ombak serta hembusan angin menggema memecahkan kesunyian di malam hari itu, tiba-tiba terdengar seseorang menegur dengan suara nyaring.

“Yang datang apakah Hoa ya?”

“Benar, aku yang datang! Bagaimana dengan perahu untuk menyebe-rang….?” sahut Hoa Thian-hong dengan suara dalam.

“Sudah siap sedia semua!”

Pia Leng-cu seeera loncat kedepan dan bersembunyi dibelakang tanggul, ketika ia mengintip kedepan sana tampaklah ditepi sungai telah berlabuh sebuah perahu penyeberang yang besar, empat orang pria kekar berdiri diempat penjuru siap dengan gala yang panjang, dua orang pria yang lain menanti diatas daratan.

Hoa Thian-hong menggerakkan kembali kereta kudanya hingga tepat berhenti didepan perahu itu, sambil loncat turun dari atas kereta bentaknya nyaring, “Cepat! hela kuda itu keatas perahu” Sebelum mendapat perintah dua orang pria itu masing- masing sudah menghela seekor kuda naik keatas geledak perahu, Hoa Thian-hong loncat kebelakang kereta dan mendorong kereta tersebut naik keperahu.

Dalam waktu singkat kereta kuda itu sudah berada diatas geladak, si anak muda itu cepat ayun tangannya, dengan pukulan udara kosong ia putuskan tali pengikat perahu, dengan cepatnya perahu itu terdorong oleh arus sungai yang deras dan meluncur kedepan.

Pia Leng-cu merasa kaget bercampur mendongkol, dia sama sekali tidak menyangka kalau Hoa Thian-hong telah mengatur segala sesuatunya dengan sempurna, bahkan semua gerakan dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, menyaksikan perahu itu bergerak ketengah sungai terdorong oleh arus air yang kuat, ia lantas menduga tak sampai tiga empat li Kemudian perahu itu sudah akan merapat dipantai seberang.

Untuk beberapa saat lamanya ia tak tahu apa yang musti dilakukan, berhubung sekitar sungai ditempat itu berarus kuat dan lagi bukan dermaga maka kecuali perahu itu tidak nampak perahu lain.

Dalam gugup dan gelisahnya, terpaksa dia mengempit tubuh Pek Kun-gie dan berlarian disepanjang bendungan untuk mengikuti bergeraknya perahu tadi.

Dalam waktu singkat perahu penyeberang itu sudah meninggalkan tepi pantai sejauh delapan sembilan kaki, mendadak Pia Leng-cu menemukan sebuah sampan kecil tertambat ditepi sungai.

“Perduli amat sampan itu milik siapa, pokoknya pakai dulu beres” pikirnya dihati, kalau memang hokki sudah pasti bakal bencana, kalau sudah bencana mau kemana untuk menghindar? sekalipun jiwa tua musti melayang, aku tak akan biarkan pedang baja itu terjatuh ketangan nenek setan”

Imam tua ini dibesarkan ditepi pantai lautan selatan, ia yakin ilmu berenang yang dimilikinya tidak lemah, setelah bulatkan tekad, ia segera loncat naik keatas sampan itu, setelah membaringkan Pek Kun-gie keatas geladak, ia segera menyambar dayung dan melanjutkan sampan itu mengejar perahu penyeberang tadi.

Dalam waktu singkat, Hoa Thian-hong yang berdiri diujung geladak lelah menemukan jejeknya, ia segera menghardik, “Siapa disitu?”

“Pia Leng-cinjin dari perkumpulan Thong-thian-kauw!” “Pek Kun-gie ada dimana?” si anak muda itu segera

menghardik.

Pia Leng-cu menengadah dan tertawa terbahak-bahak. “Haaah…. haaah…. haaahh…. dia berada disampan, asal

kakiku ber-gerak sedikit saja kedepan, niscaya tubuhnya yang

indah dan wajahnya yang cantik akan terinjak hancur jadi perkedel!”

“Suruh dia berbicara!”

Dalam pada itu, selisih jarak antara sampan dan perahu penyeberang masih ada sepuluh kaki lebih, dalam suasana ombak menggulung dengan dahsyatnya dan angin berhembus kencang mereka berdua terpaksa harus kerahkan tenaga murni untuk berbicara, suara pembicaraan yang bercampur dengan gulungan ombak kedengaran sangat mengerikan. Hoa Thian-hong menguatirkan keselamatan Pek Kun-gie, maka dia butuh gadis itu berbicara.

Pia Leng-cu segera berpikir, “Kalau aku hendak paksa Hoa Thian-hong untuk serahkan pedang baja itu, paling sedikit aku harus mematahkan dahulu mentalnya….”

Karena berpendapat demikian, buru-buru ia alihkan dayung itu ketangan kiri, sedang tangan kanannya digunakan untuk menotok bebas jalan darah pingsan ditubuh Pek Kun-gie.

Siapa tau karena luka dikedua jari tangan kirinya baru sembuh, kurang leluasa baginya untuk mendayung….

Kreeek! tiba-tiba dayung itu patah jadi dua bagian, seketika itu juga sampan itu tergulung ombak dan hampir saja terbalik.

Pia Leng-cu sangat terperanjat, buru-buru dia sambar sebuah papan dan digunakan sebagai pengganti pendayung.

Dan kejauhan Hoa Thian-hong dapat menyaksikan sampan itu berputar kencang di tengah sungai, dengan hati kaget ia lantas membentak, “Pia Leng-cu!”

0000O0000

70

SEMENTARA itu Pek Kun-gie baru saja bebas dari totokan jalan darah, mengikuti terombang ambingnya sampan kecil itu, kesadarannya perlahan-lahan pulih kembali.

Ketika mendengar seruan dari kekasihnya, dengan penuh rasa gembira ia segera berteriak keras, “Thian-hong!” “Bagaimana keadaanmu? Apakah terluka?” teriak Hoa Thian-hong dengan gelisah.

Pek Kun-gie bangun dari atas geladak dan duduk, ia lihat ombak sedang menggulung dengan hebatnya diseputar badannya, sementara perahu penyeberang yang ditumpangi Hoa Thian-hong sama sekali tak terlihat, dalam gugupnya ia lupa menjawab.

“Bagaimana keadaanmu? Apalah terluka? terdengar Hoa Thian-hong berseru lagi dengan cemas.

Aku tidak terluka, engkau harus perhatikan baik-baik, Kiu- im Kaucu telah mengumpulkan banyak sekali anak buahnya yang lihay dalam ilmu berenang, ia sudah siapkan jebakan didalam sungai dan siap turun tangan terhadap dirimu

Tiba-tiba Pia Leng-cu tertawa keras, serunya dari samping, “Bukankah engkau belum terluka? Nah, sekarang lihatlah tuanmu akan melukai engkau.”

Dengan kaki kanannya dia lancarkan sebuah tendangan keras keatas jalan darah Hay ki hiat dibelakang pinggang Pek Kun-gie, gadis itu merasa kesakitan dan tak tahan lagi dia menjerit ngeri.

Hoa Thian-hong merasakan hatinya sakit seperti diiris-iris, dia segera membentak keras, “Pia Leng-cu, apa yang kau inginkan?”

“Kau punya apa?” jawab Pia Leng-cu sambil tertawa terbahak-bahak, “haaah…. haaah…. aku lihat nona cantik ini berbadan putih, jelas bukan gadis sembarangan, aku segan untuk menukar dengan benda apapun!” “Bicaralah terus terang, apa tujuanmu yang sebenarnya?” kembali Hoa Thian-hong membentak.

Dengan mimik wajah menyeramkan Pia Leng-cu berteriak, “Akupun tak akan berbohong lagi, asal engkau persembahkan pedang baja itu kepadaku, segera kubebaskan Pek Kun-gie, kedua belah pihak sama-sama memperoleh apa yang diinginkan dan rasanya kitapun tidak saling dirugikan”

“Thian-hong” dengan cemas Pek Kun-gie berteriak, “dia paksa aku untuk membacakan isi catatan kiam keng bu kui, pedang baja itu lebih baik…. lebih baik bawalah kabur, kau tak usah menggubris aku lagi….!”

Tentu saja gadis ini ingin sekali meloloskan diri dari cergkeraman mulut srigala, tapi dia kuatir lantaran persoalannya sehingga mengakibatkan kekasihnya harus temui banyak kesulitan, ketika beberapa patah kata itu diucapkan keluar, hatinya terasa remuk redam, isak tangispun makin menjadi.

Pia Lerg cu merasa amat gusar sekali, dengan mendongkol ia menengadah dan tertawa seram.

“Haah…. haaah…. haaah…. baiklah! kalau begitu engkau boleh selalu mengikuti aku, setelah mendarat nanti aku pasti akan memberi kepuasan seks untukmu, aku tanggung engkau pasti akan kenikmatan dan sepanjang masa tak akan terlupakan kembali, haaah…. haaaah…. asal aku temani seorang gadis cantik seperti engkau, apa salahnya kalau Cou- su ya mu melepaskan semua urusan dan pusatkan perhatian pada dirimu seorang? Haah…. haah…. puas puas! Hahh…. haaah…. haaah….”

Waktu itu cuaca amat gelap, awan hitam menyelimuti jagad, ombak pun menggulung dengan hebatnya. Pia Leng-cu memang ada niat untuk bikin keder hati Hoa Thian-hong, maka gelak tertawanya yang mendekati kalap itu kedengaran amat menusuk pendengaran, ibaratnya jeritan kuntilanak atau lolongan srigala dimalam hari, membuat siapapun yang mendengar, merasakan hat nya jadi bergidik.

Sementara itu perahu penyeberang didepan sana sudah mencapai tengah sungai, sedangkan sampan kecil itu berada delapan sembilan kaki dibelakangnya, ditengah gulungan ombak dan arus air yang kencang, dua buah perahu itu meluncur kedepan dengan cepatnya.

Panjang sampan kecil itu cuma beberapa kaki, sama sekali tidak sesuai digunakan dalam situasi semacam ini, ditengah gulungan ombak yang tinggi dan besar, setiap saat sampan itu terancam pecah beran takan jadi berkeping-keping, keadaannya sangat berbabaya sekali.

Ditengah kegelapan, Hoa Thian Hang berdiri angker diburitan perahu, ia tidak berbicara, tidak bergerak, seakan- akan sebuah pa tung arca didalam kuil, sepasang matanya yang tajam memancarkan cahaya menggidikkan menatap sampan dibelakangnya tanpa berkedip, agaknya ia merasa ragu-ragu dan untuk sesaat tak mampu mengambil keputusan.

Pek Kun-gie melingkar tak berkutik di atas sampan, sebab tangan dan kakinya di belenggu oleh otot kerbau yang kuat, saat itu dia hanya bisa menangis dengan sedihnya.

Ditengah kegelapan ia dapat menyaksikan sepasang mata kekasihnya yang melotot tajam, ia menyadari posisi pemuda itu, tidak mungkin baginya untuk serahkan pedang baja itu karena dia, tapi dia tetap menaruh harapan itu, meskipuu harapannya tipis sekali. Beberapa saat kemudian, sampan kecil itu sudah mendekati tengah sungai, jaraknya dengan peraru penyebrang semakin dekat, dalam hati Pia Leng-cu lantas berpikir, “Ibu dan istri Hoa Thian-hong masih bersembunyi didalam kereta besar itu, dengan kehadiran dua orang itu tentu saja Hoa Thian-hong merasa tak leluasa untuk serahkan pedang bajanya untuk ditukar dengan Pek Kun-gie, agaknya pertukaran syarat ini tak dapat dijalankan pada malam ini!”

Karena berpendapat demikian, dia segera ambil keputusan didalam hati, serunya dengan penuh perasaan benci, “Orang she Hoa, simpanlah pedang baja itu dan jagalah seluruh kolong langit! Biar cousu ya mengundurkan diri saja dari dunia persilatan dan jauh meninggalkan daratan!”

Berbicara sampai disitu, dia lantas putar kemudi mendayung sampan kecil itu menuju ketepi sebelah kanan.

Keadaan dalam sungai pada waktu itu sangat berbahaya, jika sampai tercebur kedalam sungai kendatipun Pia Leng-cu masih mampu menyelamatkan diri namun sulit baginya untuk membawa Pek Kun-gie naik kedaratan, walaupun diluaran dia bersikap keras padahal dalam hati merasa sangsi dan sukar ambil keputusan.

Tapi akhirnya ia nekad untuk mengundurkan diri dari situ, secepat kilat arah sampan diputar dan sejenak kemudian sampan itu sudah tinggal dua kaki dari tepi pantai.

Hancur lebur perasaan hati Pek Kun-gie, meskipun selama berada diatas loteng kecil itu dia pandang kematian bagaikan pulang kerumah, tapi sekarang kekasihnya berada didepan mata, keinginannya untuk melanjutkan hidup kuat sekali, ketika dilihatnya Hoa Thian-hong tetap membungkam, tak tahan lagi dia berseru dengan sedih, “Thian-hong! Aku….!” “Pia Leng-cu!” mendadak Hoa Thian-hong membentak nyaring.

Imam tua itu tercekat, cepat ia menegur, “Bagaimana? Mau pedangnya atau mau orangnya?”

“Pedang ini kuserahkan kepadamu, cepat dayung perahu itu kemari….!”

Pia Leng-cu sangat kegirangan, cepat-cepat ia putar kemudi dan mendayung kembali perahu itu ketengah sungai, sementara itu Hoa Thian-hong telah berpesan pula kepada pemegang kemudi perahunya agar perahu mereka dimiringkan sehingga bergeser kemari.

Pek Kun-gie sendiri merasakan hatinya sangat terhibur, ia menggigit bibirnya rapat-rapat sementara air mata jatuh bercucuran dengan derasnya, ia merasa terharu bercampur terima kasih, saking emosinya sehingga tak sepatah katapun sanggup diucapkan keluar.

Ia tahu pedang baja itu bukan saja sangat penting artinya bagi Hoa Thian-hong, didalam senjata itu pun tersimpan kitab kiam keng yang amat luar biasa, kesediaan pemuda itu untuk mengorbankan pedang bajanya benar-benar merupakan suatu pengorbanan yang paling besar dari pemuda itu bagi dirinya.

Tentu saja Pek Kun-gie merasa amat terharu.

Dalam pada itu, sampan kecil itu sudah makin mendekati perahu penyebrang, selisih jarak mereka tinggal lima tombak, pada saat itulah Pia Leng-cu menghentikan perahunya dan berseru, “Hoa Thian-hong, engkau harus mengerti, asal pinto menggerakkan tanganku, niscaya Pek Kun-gie segera akan mati binasa, kalau engkau hendak menggunakan siasat untuk membongi aku, menyesallah engkau nantinya….!” Hoa Thian-hong cabut keluar pedang baja itu dari pinggangnya, lalu berseru dengan dingin, “Setiap patah kata yang telah kuucapkan selamanya tak akan ku jilat kembali, asal engkau biarkan Pek Kun-gie loncat naik keatas perahuku, pedang baja ini segera kuserahkan pula kepada mu, ucapan seorang pria sejati selamanya tak akan disesalkan kembali!”

Pia Leng-cu tidak langsung menjawab, pikirnya, “Berbicara dari tabiat bocah keparat ini, setiap perkataannya memang dapat dipercaya, cuma…. masalah ini menyangkut urusan yang sangat besar, dan lagi….”

Sinar matanya dialihkan sekejap keatas tubuh Pek Kun-gie, timbul perasaan sayang untuk melepaskan gadis itu sebelum sempat mencicipi keperawanan tubuhnya.

Sementara itu Hoa Thian-hong telah berkata lagi dengan suara dingin, “Dalam waktu singkat perahu-perahu armada di bawah pimpinan Kiu-im Kaucu akan tiba disini, ketahuilah aku sudah ambil keputusan yang bulat, kalau engkau tetap ragu- ragu dan lewatkan kesempatan baik ini, janganlah salahkan diriku lagi”

Pia Leng-cu sugera tertawa dingin.

“Heeh…. heeh…. heeh…. kalau sampai terjadi begitu, akan kubunuh Pek Kun-gie, kemudian sambil bertepuk tangan segera berlalu dari sini”

Kalau sampai terjadi begitu maka aku orang she Hoa akan tinggalkan semua urusan yang ada, biar naik kelangit atau masuk kebumi, aku bersumpah akan mencingcang tubuhmu jadi berkeping-keping” Mendengar ancaman tersebut, Pia Leng-cu merasakan hatinya tercekat, tiba-tiba temukan perahu penyeberang itu sedang bergerak mendekati ke arahnya, ia makin terparanjat, cepat-cepat dia gerakan dayung dan membawa sampan itu menyingkir kesamping, hardiknya keras-keras, “Ayoh putar kemudi perahumu!”

Dalam gugupnya tenaga dayungan tersebut terlampau kuat, ketika sampan kecil itu bertumbukan dengan ombak yang menggulung tiba dari arah depan hampir saja mereka terbalik kesungai.

Tubuh Pek Kun-gie terguling kesamping diiringi jeritan tajam karena kaget.

Hoa Thian-hong yang berada diatas perahu penyeberangpun merasa amat terperanjat hampir saja dia ikut menjerit kaget.

Untung Pia Leng-cu pandai mengendalikan diri, dalam gugupnya sepasang tangan bekerja bersamaan waktunya, sampan itu segera dapat terkendali kembali keseimbangannya.

Dalam segala kegugupan dan kerepotan, kakinya menginjak tubuh Pek Kun-gie yang terguling sehingga tidak sampai tercebur kedalam sungai, kendatipun begitu sampan kecil tadi sudah kemasukan air setinggi dua cun lebih sedikit.

Saking terperanjatnya, peluh dingin membasahi seluruh tubuh Pia Leng-cu, sambil memandang ke arah perahu penyeberang dia menyeringai seram katanya, “Kalau engkau berani merapatkan kembali perahu penyeberangmu itu, jangan salahkan kalau kubunuh dulu Pek Kun-gie dihadapanmu” Hoa Thian-hong sendiri setelah hilang rasa kagetnya, segera tertawa dingin tiada hentinya.

“Heehh…. heehh…. heehhh…. akhirnya berjalan juga direl yang benar, kalau toh memang begitu biarlah segalanya pasrah pada takdir….”

Meskipun begitu ia tetap memberi tanda kepada anak buahnya agar jangan terlalu mendekati sampan kecil itu lagi.

Arus sungai didaerah sekitar tempat itu sangat deras, tempat semacam ini paling tidak menguntungkan kalau digunakan untuk penyeberangan, perahu yang besarpun harus mengikuti arus dengan keadaan sangat bahaya, apalagi sampan yang kecil itu, keadaannya jauh lebih mendebarkan.

Semua orang berusaha untuk mentemramkan hatinya padahal dalam hati kecilnya jantung terasa berdebar keras, semua orang berharap agar adegan ini bisa cepat-cepat terselesaikan dan semua orang naik kedaratan dengan selamat.

Hoa Thian-hong tak berani banyak tingkah karena kuatir mencelakai jiwa Pek Kun-gie, sebaliknya Pia Leng-cu menyadari kalau ilmu silatnya bukan tandingan lawan, ia selalu berusaha untuk mencegah penyergapan dari Hoa Thian- hong, karena kedua belah pihak sama menjerikan sesuatu dari musuhnya, maka untuk sesaat suasanapun diliputi dalam keheningan.

Akhirnya Pia Leng-cu buka suara memecahkan kesunyian yang mencekam disekitar tempat itu, “Lemparkan pedang itu kepadaku, aku segera akan tinggalkan sampan ini dan berenang kedaratan, aku jamin Pek Kun-gie tak akan kuganggu barang seujung rambutpun.” “Thian-hong, jangan tertipu, dia telah bilang….” tiba-tiba Pek Kun-gie menghentikan teriakannya.

Pia Leng-cu pernah berkata kepadanya bukan saja pedang itu dia mau, orangnya pun dimaui juga, sebenarnya Pek Kun- gie hendak menyampaikan kata-kata itu tapi setelah ucapan sampai dibibir, mendadak ia merasa malu untuk melanjutkan, maka dia segera membungkam.

Hoa Thian-hong segera tertawa dingin.

“Heeh…. heehhh…. heehh…. Pia Leng-cu, apakah kepercayaan dari Hoa Thian-hong tak dapat melampaui dirimu?”

“Masalah ini menyangkut urusan yang sangat besar, kenapa aku tak boleh menaruh curiga?” teriak Pia Leng-cu dengan gusar.

Hoa Thian-hong tertawa. “Apa yang perlu kau curigai?”

“Masalah ini adalah suatu masalah yang amat besar, apakah engkau dapat memutuskan sendiri? Hmm! dengan menggunakan pedang baja ditukar dengan orang, apakah ibumu menyetujui?”

Hoa Thian-hong segera tertawa tergelak.

“Haah…. haaah…. haaah…. sungguh tak nyana engkau bisa memahami kesulitanku, kalau toh sudah tahu begitu tidak sepantasnya kalau engkau datang kemari?”

Pia Leng-cu menyeringai seram. “Undang ibumu keluar dan biar dia yang berbicara, aku hanya percaya dengan perkataan dari Bun Siau-ih kalau tidak lebih baik pembicaran ini kita batalkan!”

Mendengar perkataan tersebut Hoa Thian-hong segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

“Haahh…. haah…. haaah…. Pia Leng-cu agaknya pikiranmu sudah tersumbat oleh kerakusanmu sehingga kecerdikan yang kau miliki tersapu lenyap, sungguh bikin hatiku jadi geli”

Agak tertegun Pia Leng-cu setelah mendengar perkataan itu, tapi hanya sebentar saja dia lantas menyadari apa yang sudah terjadi.

Seandainya ibu dan istrinya berada diatas perahu mungkinkah Hoa Thian-hong bersikap begitu tenang bahkan menghentikan perahunya ditengah sungai untuk berbicara dengan dirinya? Dan mungkinkah dia bersedia membiarkan ibunya menempuh bahaya karena persoalan Pek Kun-gie?

Setelah menyadari apa yang terjadi diam-diam ia bersuara didalam hati kecilnya, “Ooh, rupanya aku terkena siasat memancing harimau turun gunung, jelas kereta tersebut tiada orangnya!”

Mula-mula ia terkejut, menyusul jadi sangat gembira, sebab andaikata disitu hadir Bun Siau-ih dan Chin Wan-hong, untuk memaksa Hoa Thian-hong menyerahkan pedang bajanya jelas bukan suatu pekerjaan yang gampang, sebaliknya kalau kedua orang itu tidak hadir disana, dengan usia Hoa Thian-hong yang masih muda, dia pasti bersedia untuk menukar pedang bajanya dengan diri Pek Kun-gie….

Sementara dia masih termenung, Hoa Thian-hong telah tertawa terbahak-bahak. “Haah…. haaah…. haaah…. Pia Leng-cu, kenapa tidak kau tenangkan hatimu dan dengarkan dengan seksama? Kiu-im Kaucu telah munculkan diri dibelakang kita berdua, tapi engkau sama sekali tidak merasa, apakah kedaaanmu itu tidak terlalu menggelikan?”

Sekali lagi Pia Leng-cu merasa amat terperanjat, ia merasa kegelapan mencekam seluruh jagad dan lagi angin serta ombak menggulung dengan dahsyatnya, tiada sesuatu yang berhasil ia lihat dan tiada sesuatu yang sempat ia dengar.

Berbicara tentang ketajaman pendengaran serta penglihatan, maka ia masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan Hoa Thian-hong, sebab bukan saja si anak muda itu telah makan Racun teratai empedu api, dia pun menelan

Leng-ci mustika yang berusia seribu tahun, tenaga dalam yang dia miliki sekarang telah mencapai puncak kesempurnaan, tentu saja kehebatan yang dia miliki pun jauh melebihi orang lain.

Ketika itu selisih jarak mereka cuma empat lima rombak, ditengah kegelapan Pia Leng-cu tak lebih hanya sempat memandang bayangan tubuhnya belaka, sebaliknya pemuda itu dapat memperhatikan semua gerak-gerik Pia Leng-cu dengan sangat jelas sekali.

Tatkala dilihatnya paras muka imam tua itu menunjukkan rasa kaget bercampur gelisah, seakan-akan dia tak merasakan suatu apa pun, tak dikuasai lagi dia tertawa geli, katanya, “Suara gulungan ombak memecah dikedua belah tepian pantai, coba bayangkan sendiri, kecuali Kiu-im Kaucu telah munculkan diri, siapa lagi yang telah datang?”

Pia Leng-cu makin terkesiap, ia segera berpikir didalam hati, “Jarak antara sini sampai perahunya tinggal lima tombak belaka, dengan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki keparat cilik itu, sekali loncat maka dia bisa mencapai sampanku ini, lebih baik aku bersikap lebih berhati-hati….!”

Berpikir sampai disitu, dengan suara tajam dia lantas membentak.

“Ujung kakiku sekarang telah menempel diatas jalan darah Leng-thay hiat dari Pek Kun-gie, kalau engkau berani melakukan suatu pergerakan, jangan salahkan kalau aku berhati kejam!”

Hoa Thian-hong tertawa.

“Tujuan dari Kiu-im Kaucu hanya ingin merampas pedang baja itu belaka, lebih baik berjaga-jagalah terhadap dirinya!”

Pia Leng-cu mendengus dingin, dia segera pusatkan semu pikirannya dan periksa keadaan disekeliling tempat itu dengan seksa ma, apa yang kemudian terdengar ternyata membuktikan dengan tepat apa yang telah diucapkan si anak muda itu.

Sepuluh sampai dua puluh kaki dibelakangnya, terdengarlah suara ombak yang memecah ketepian tertumbuk perahu, padahal di daerah sekitar tempat itu tiada perahu lain kecuali Kiu-im Kaucu yang telah munculkan diri, tak mungkin ada orang lain lagi.

Sedikit banyak imam tua ini menjadi panik, ia sadar kepandaian silatnya bukan tandingan orang, untuk malu takut dihadang harimau untuk mundur telah dihadang pula oleh srigala, dalam keadaan demikian ia semakin gugup dan panik, dia mulai menyesal mengapa terlalu pandang enteng musuhnya dan mengejar pula sampai ketengah su ngai. Bila sekarang juga dia mundur ketepian, niscaya perahunya bakal dihadang oleh perahu-perahu dari Kiu-im Kaucu, padahal pedang baja belum sampai jatuh ketangannya bisa dibayangkan betapa gugup dan menyesalnya Pia Leng-cu.

Tiba-tiba terdengar Hoa Thian-hong berseru dengan suara lembut, “Kun Gi!”

“Emmm…. Aku ada disini” dengan cepat Pek Kun-gie menjawab.

Sekilas senyuman sedih menghiasi ujung bibir si anak muda itu, ujarnya lebih lanjut, “Dengarkanlah perkataanku, walaupun manusia dapat hidup seratus tahun lagi, akhirnya dia toh tetap harus mati, usia manusia telah ditentukan oleh Thian, apabila nasib memang menentukan harus mati, lebih baik pasrah saja pada kehendak alam, mengertikah engkau dengan perkataanku ini?”

“Mengerti, aku tak takut mati!” jawab dara itu dengan lembut dan halus.

“Ibuku sangat menaruh perhatian atas dirimu, Wan hong menyayangi pula dirimu, kami berharap agar engkau tetap hidup dalam keadaan segar bugar, ingatlah selalu akan kata- kataku ini!”

“Akan kuingat selalu” sahut Pek Kun-gie dengan air mata bercucuran, “Aku akan menuruti perkataanmu, kalau tak bisa hidup lagi maka aku akan segera habisi nyawaku sendiri”

Air matapun mengembang dikelopak mata Hoa Thian-hong, ia berkata, “Dahulu kami semua menguatirkan diri mu dinodai, tapi sekarang dengan kehadiranku ditempat ini, sekalipun nyawamu tak dapat kuselamatkan, akupun tak akan membiarkan dirimu dibawa pergi lagi, mengertikah kau?” “Aku mengerti, engkau tak usah terlalu merisaukan diriku”

“Andaikata engkau mengalami musibah yang tak dapat dihindari lagi, itu berarti kematianmu lantaran aku, ibuku masih hidup, aku tak bisa mengiringi kematianmu itu, tapi kalau aku sudah mempunyai keturunan, maka aku segera akan cukur rambut menjadi pendeta, aku akan mengasingkan diri sebagai ungkapan rasa terima kasihku kepada mu!”

“Jangan…. aku ingin kau tetap hidup…. hidup seratus tahun lagi!” seru Pek Kun-gie sambil menangis tersedu-sedu.

Pia Leng-cu yang mengikuti jalannya pembicaraan itu makin lama semakin terperanjat, tak tahan lagi akhirnya dia membentak keras, “Hoa Thian-hong, engkau anggap dirimu sebagai seorang pendekar sejati, apakah ucapanmu kau anggap sebagai kentut belaka?”

Setiap perkataan yang telah kuucapkan selamanya tak akan kujilat kembali.

“Engkau telah berjanji akan menukar pedangmu dengan orang!” teriak Pia Leng-cu gusar.

“Biarkan Pek Kun-gie loncat naik keatas perahu penyeberangku, pedang baja ini segera kuserahkan kepadamu!”

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Engkau harus cepat ambil keputusan, kalau tidak sekalipun pedang baja ini berhasil kau peroleh, belum tentu kau bisa lolos dari tempat ini.”

Tahun ini usia Pia Leng-cu sudah mencapai tujuh puluh tahun lebih, walaapun akalnya tidak termasuk panjang, namun pengalaman yang diperolehnya cukup banyak, menyaksikan keterangan dari Hoa Thian-hong dia malah ragu-ragu untuk menerima pertukaran syarat tersebut, bagaimanapun juga dia tak percaya kalau pihak lawan benar-benar berhasrat untuk menukarkan pedangnya dengan dara tersebut.

Berulang kali ia memikirkan persoalan itu, namun toh akhirnya ia tak dapat ambil keputusan, lama-kelamaan ia lantas jadi nekad, dengan suaa yang menyeramkan dia berseru, “Kalau dibalik rencanamu ini terselip maksud-maksud yang tak beres, lebih baik terang kau lebih dahulu mulai sekarang. Kalau tidak….”

“Hmm! Lebih baik adu jiwa daripada terjebak oleh siasat licikmu itu”

Hoa Thian-hong tersenyum.

“Emmm! rupanya jadi orang kau terlalu berhati-hati, padahal sekalipan aku bicara tetus terang engkau juga tak akan mempercayainya, ketahuilah setelah pedang baja ini kuberikan kepadamu dan pertukaran syaratmu sudah berjalan sebagai mestinya, maka akan kuikuti terus jejakmu walau sampai keujung langit atau kedasar samudra pun sampai pedang baja itu akhirnya berhasilku rampas kembali”

Tertegun hati Pia Leng-cu setelah mendengar perkataan itu, untuk beberapa saat lamanya dia membungkam dan tak mau mengucapkan sepatah katapun.

Haruslah diketahui, berbicara tentang ilmu meringankan tubuh, ilmu pedang, ilmu kepalan maupun tenaga dalam, Hoa Thian-hong masih berada diatas kepandaiannya, kalau si anak muda itu sudah ambil keputusan untuk mererut kembali senjata tersebut, sulitlah baginya untuk meelayani kehendak orang. Tiba-tiba dari atas permukaan sungai berkumandang suara terompet yang amat nyaring.

Suara terompet yang dibunyikan dengan sebuah keong ini biasanya hanya digunakan oleh kaum perompak dan bajak laut sebagai pertanda, diatas sungai apalagi daratan hampir boleh dikata tak pernah terdengar suara semacam itu, tanpa sadar beberapa orang itu dibuat tertegun jadinya.

Suara pekikan yang nyaring dan menggetarkan sukma itu berkumandang ditengah kegelapan menembusi udara, tiba- tiba dari permukaan sungai muncullah titik-titik cahaya api.

Dari depan belakang, kiri maupun kanan pada saat yang bersamaan muncullah enam buah perahu besar, diujung setiap perahu berdirilah belasan orang pria berpakaian anti air yangberwarna hitam, ditangan masing-masing mencekal obor ditangan kiri dan senjata ditangan kanan.

Walaupun kedatangan rombongan itu amat cepat dan besar sekali jumlahnya, akan tetapi suasana tetap hening dan tak kedengaran sedikit suara pun.

Pada perahu besar yang ada dipaling belakang duduklah seorang nenek baju hitam yang berambut panjang dan memegang toya kepala setan, orang itu bukan lain adalab Kiu- im Kaucu yang munculkan diri untuk pertama kalinya dalam pertemuan besar Kian ciau tayhwee.

Enam buah perahu itu bergerak maju menembusi gulungan ombak, dalam waktu singkat mereka telah mengepung Hoa Thian-hong dan Pia Leng-cu ditengah gelangang, perahu bagian depan segera bergerak makin lambat sementara perahu dibelakang menyusul ke muka, kian lama kepungan itupuno kian merapat. Hoa Thian-hong sendiripun mempunyai perhitungan yang amat masak, namun dia sama sekali tak menyangka kalau anak buah yang dibawa Kiu-im Kaucu untuk menyergap dirinya berjumlah begitu banyak, setelah menyaksikan kehadiran musuh diam-diam hatinya merasa terperanjat.

Pedang bajanya segera ditarik kembali, setelah merampas sebuah gala yang panjang dia menyingkir kesampmg dan serunya kepada orang-orang yang ada diatas perahu, “Atas bantuan dari kalian semua, kuucapkan banyak-banyak terima kasih, cepatlah kalian terjun kedalam air untuk menyelamatkan diri, kalau terlambat mungkin akan terjatuh ketangan lawan”

Pria yang pegang kemudi perahu itu segera menjura, sahutnya dengan suara nyaring, “Hamba sekalian merasa kalau ilmu silat yang kami miliki sangat cetek, daripada mengganggu perhatian yaya lebih baik ham ba sekalian mohon diri lebih dahulu, semoga yaya baik-baik menjaga diri”

Habis berkala dia segera terjun kedakam air.

Diatas perahu semuanya ada enam orang pria kekar, saat itu mereka semua maju menjura kemudian masing-masing terjun kedalam air untuk menyelamatkan diri.

Mereka berenam adalah penduduk kota Kwaa lok, yang sudah lama hidup diatas sungai, untuk mensukseskan siasatnya memancing per hatian musuh ini sengaja Hoa Thian- hong minta bantuan dari Ko Thay untuk mengaturkan segala sesuatu baginya.

Waktu itu nama besar Hoa Thian-hong telah menggetarkan sungai telaga, ibaratnya sang surya ditengah awan, semua orang kangou yang dimintai bantuannya rata-rata merasa bangga dan bersedia untuk memberikan bantuannya.

Walaupun ilmu silat yang dimiliki beberapa orang itu sangat rendah, akan tetapi mereka lihay dalam ilmu berenang, ditengah gulungan ombak yang amat dahsyar beberapa orang itu segara menyelam kedalam air dan meluncur menuju ketepian, dalam waktu singkat mereka sudah berada puluhan kaki jauhnya dari perahu mereka, dalam keadaan begini anak buah dari Kiu-im Kaucu tak ada yang berani menghalangi, sebab mereka tidak mendapat perintah untuk berbuat demikian.

Sementara itu perahu yang ditumpangi Kiu-im Kaucu sudah bergerak semakin dekat, jarak masing-masing pihak tinggal delapan kaki, tampaklah perahunya bergerak kekanan dan lansung menerjang ke arah sampan kecil yang ditumpangi Pia Leng-cu.

Menyaksikan terjangan tersebut, imam tua itu tercekat hatinya, buru-buru dia mendayung sampannya dan bergerak dua tiga kaki lebih mendekati perahu yang ditumpangi Hoa Thian-hong.

Tiba-tiba ia buang papan kayu itu dan cabut keluar pedang boan liong poo kiam, dengan tangan kiri mengempit Pek Kun- gie, bentak nya keras-keras, “Eh orang she Hoa, engkau inginkan Pek Kun-gie dalam keadaan hidup atau dalam keadaan mati?”

Kiu-im Kaucu segera tertawa tergelak dari kejauhan, cepat dia menanggapi, “Tentu saja mau yang hidup, sebilah pedang baja berapa banyak artinya? Ayoh di tukar saja!”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, perahunya sudah mengejar beberapa kaki lebih kedepan. Sementera itu Hoa Thian-hong berdiri tepat diburitan perahu, dengan kakinya dia menahan kemudi, tangannya mencekal sebuah gala yang panjang, dengsn pandangan tajam mengawasi semua gerak-gerik yang terjadi didepan mata.

Ia telah perhitungkan keadaan dengan jitu dia tahu Pia Leng-cu ibaratnya katak masuk tempurung, tak mungkin ia berani turun tangan keji secara sembarangan, maka sambil tenangkan hatinya, ia sama sekali tidak menggubris teriakan orang.

Pia Leng-cu merasa kejut bercampur gusar ketika dilihatnya perahu yang ditumpangi Kiu-im Kaucu kembali menerjang sampannya, ia tahu kalau sampai tertumbuk niscaya dia bakal tercebur kedalam air.

Dalam gugup dan gelisahnya, bawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dia segera berteriak, “Orang she Hoa, cepat putar kemudi dan hadang….”

Belum habis dia berkata, segulung ombak besar telah menyapu tiba membuat sampannya jadi oleng, buru-buru Pia Leng-cu mengerahkan tenaganya dan menginjak bagian yang oleng dengan kaki kirinya, dengan begitu keseimbangan sampan itupun dapat dipertahankan kembali.

Hoa Thian-hong yang mengikuti jalannya peristiwa itupun diam- diam mengucurkan peluh dingin, ia paksa untuk tenangkan diri lalu ujarnya dengan ketus, “Aku orang she Hoa tak mampu menolong engkau, kalau tahu diri cepatlah loncat naik keatas perahu besar!”

Sementara itu sampan kecil tadi sudah oleng kesana kemari dan kehilangan kendali, setiap saat kemungkinan besar akan terbalik kedalam sungai, padahal perahu yang ditumpangi Pia Leng-cu makin lama semakin mendekat, dalam hati Pia Leng- cu sadar, Pek Kun-gie yang dibuat sandera cuma manjur kalau digunakan untuk menghadapi Hoa Thian-hong, sebaliknya Kiu- im Kaucu justru berharap mengalami kegagalan total.

Setelah mempertimbangkan diri dan menyaksikan pula gelagat makin lama semakin tidak menguntungkan, akhirnya dia ambil keputusan untuk menyingkir dari sampan tersebut, sambil menggertak gigi dia enjotkan badan dan melayang keatas perahu besar.

“Lemparkan gadis itu kemari!” Hoa Thian-hong segera menghardik dengan muka dingin membesi.

Pia Leng-cu terperanjat, sesudah tertegun beberapa saat dengan gusar ia membentak, “Hmm! Kau anggap siapakah cousu ya mu ini? Berani benar main gertak dihadapanku?”

Hoa Thian-hong mendengus dingin, gala panjangnya digetarkan lalu menusuk kedapan.

Jurus yang digunakan adalah ilmu tombak Pat coa yang maha sakti, gala sepanjang dua kaki itu diiringi deruan angin tajam dan ujung gala memancarkan cahaya hitam langsung menusuk tenggorokan imam tua itu.

Pia Leng-cu terkejut bercampur gusar, ia menyingkir selangkah kesamping, pedangnya langkung membabat gala itu.

Pedang mustika Boan liong po kiam ada lah sebilah pedang tajam, dalam perputaran yang kencang, terbislah selapis cahaya hijau yang amat menyilaukan mata. Menyaksikan ketajaman pedang lawan, Hoa Thian-hong segera berpikir.

“Siluman toosu ini rakus dan tamak sekali, kalau tidak kubekuk sekarang juga dia pasti akan balas menggertak aku, kalau sampai begitu aku tentu akan menderita kekalahan total!”

Sementara ia masih berpikir, serangan yang dilancarkan dengan gala itu telah meluncur datang bagaikan hujan gerimis, menyerang secara gencar tanpa menguatirkan sesuatu, seakan-akan pemuda itu sama sekali tidak memikirkan tentang keselamatan jiwa dari Pek Kun-gie.

Sambil mengempit tubuh Pek Kun-gie di bawah ketiak kirinya, tak urung timbul kecurigaan dalam hati Pia Leng-cu, dia putar pedangnya sedemikian rupa untuk menyambut serangan-serangan gencar lawan.

“Sudah lama aku dengar orang berkata kalau Pek Kun-gie mencintai bocah keparat itu, tapi bocah itu sama sekali tidak membalas cintanya” pikir sang imam dihati, jangan-jangan gadis ini memang benar-benar cuma bertepuk sebelah tangan belaka, padahal bocah she Hoa itu sama sekali tidak menaruh hati kepadanya…. waah! kalau sampai begitu, akulah yang bakal berabe!”

“Criing!….” saat itulah perahu yang di tumpangi Kiu-im Kaucu kembali menerjang tiba, jangkar baja yang amat besar tiba-tiba menyambar ke arah sampannya dan tepat mencengkeram diatas geladak sampan kecil itu.

Pia Leng-cu tak lebih cuma sedang prajurit yang pernah menderita kekalahan ditangan Kiu-im Kaucu, ia sangat jeri terhadap nenek tua itu, menyaksikan kehadirannya, dia jadi pecah nyali dan ketakutan setengah mati, menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah tiba-tiba Hoa Thian-hong membentak keras, gala yang dipakai untuk menye rang diputar sedemikian rupa sehingga mirip dengan sebuah tusukan tombak, secepat kilat tahu-tahu menyergap keatas dadanya.

Pertarungan yang berlangsung antara kedua orang itu sebenarnya tidak terhitung sebuah pertarungan yang membahayakan jiwa, sebab masing-masing pihak berdiri diujung perahunya sendiri. Hoa Thian-hong berdiri diujung buritan sementara Pia Leng-cu berdiri diujung geladak.

Walaupun begitu, serangan gaya yang menggunakan jurus tombak itu cukup tangguh, terutama tusukan terakhir yang dilancarkan secara mendadak itu, tampaknya Pia Leng-cu segera akan dipaksa untuk mence burkan diri kedalam sungai….

Untung dia cukup tangguh, reaksinya dalam menghadapi bahayapun cukup baik, dalam gugupnya cepat ia loncat keudara dan loloskan tubuhnya dari tusukan maut tersebut.

Dengan muka penuh nafsu pembunuhan, Hoa Thian-hong membentak keras, “Lemparkan dara itu kemari!”

“Engkau punya muka tidak?” teriak Pin Leng cu dengan marah.

“Hmm!” Hoa Thian-hong mendengus dingin, “berbicara dari keadaan yang terbentang saat ini, aku percaya engkau tak akan mampu melindungi keselamatan sanderamu, hmmm!

Jika engkau tahu diri, cepat lemparkan data itu kepadaku, hitung-hitung kita bikin hubungan persahabatan, siapa tahu dengan perbuatanmu itu, akupun bersedia pertaruhkan selembar jiwaku untuk bantu selamatkan jiwamu dari bencana”