Tiga Maha Besar Jilid 18

 
Jilid 18

DENGAN langkah yang lemah gemulai, Giok Teng Hujin berjalan mendekati meja perjamuan, setelah duduk ia tuding ke arah sepasang lilin tesebut dan berkata seraya tertawa, “Malam ini aku menikah untuk pertama kalinya, kau kawin untuk kedua kalinya, biar Che giok jadi mak comblang, Soat-ji jadi saksi, kita mengikat diri jadi suami istri”

“Aah…. cici, janganlah bergurau terus!” seru Hoa Thian- hong sambil duduk pula didepan meja perjamuan, “saat ini kepandaian silat ibuku telah punah, beliau berada dalam keadaan bahaya”

“Tak usah kuatir! tukas Giok Teng Hujin dengan cepat, selama ada toa nio cu yang melindungi, tanggung keselamatannya terjamin!”

Hoa Thiao Hong tertawa getir.

“Pekerjaan yang merepotkan terlalu banyak, baiklah siaute akan temani cici untuk minum beberapa cawan arak sebelum pergi, besok aku pasti akan datang menyambangi diri cici lagi, cici tak usah kuatir, aku pasti tidak akan bohong!”

Giok teng bujin tertawa, menanti Pui Che-giok sudah menuangkan arak bagi mereka, ia baru tunjuk cawan kaca kecil itu dan berkata, “Cawan itu adalah arak pengikat perkawinan nanti saja baru kita minum.”

Hoa Thian-hong tertawa tergelak, ia lirik sekejap arak yang ada dihadapannya, setelah yakin kalau tiada campuran apapun didalamnya, ia lantas angkat cawan tersebut sambil berkata, “Kalau begitu, biarlah siaute yang menghormati cici dengan secawan arak!”

“Aduuh…. sungkan-sungkan segala, emangnya sama tamu agung?” omel Giok Teng Hujin de-ngan alis berkenyit.

Hoa Thian-hong dibikin serba salah, untuk menutupi kejengahan sendiri ia teguk habis isi cawan tersebut, kemudian serunya, “Che giok, penuhi cawanku dengan arak baru!”

“Tidak takut arak itu kucampuri racun?” seru Giok Teng Hujin lagi.

Hoa Thian-hong tertawa.

“Aku percaya penuh pada cici!”

Giok Teng Hujin melirik genit ke arah pemuda itu, tiba-tiba ia letakkan cawan kaca kecil itu dihadapan Hoa Thian-hong, kemudian ujarnya, “Istrimu adalah seorang ahli menggunakan racun, rupanya sudah banyak kepandaian khususnya yang kau pelajari yaa? Sekarang coba periksa dulu, bagaimana dengan arak ini?”

Hoa Thian-hong melirik sekejap ke arah arak dalam cawan kaca kecil itu, ia lihat cairan tersebut berwarna putih bersih seperti susu, baunya amat merangsang dan wangi sekali, sukar untuk diketahui mengandung racun atau tidak.

“Bagaimana? ada racunnya tidak?” seru Giok Teng Hujin lagi.

“Tidak ada!” sahut Hoa Thian-hong sambil tertawa pula.

Giok teng bujin tertawa cekikikan, sambil menuding wajah pemuda itu katanya, “Anggaplah engkau memang sisetan cilik yang pintar, kalau ada racunnya masa digunakan sebagai arak pengikat perkawinan?”

Sesudah berhenti sebentar, sambungnya lagi. Berani diminum tidak? “Tidak berani!” kembali Hoa Thian-hong menggeleng sambil tertawa tergelak.

Dengan gemas Giok Teng Hujin melotot sekejap ke arah pemuda itu.

Terus terang kukatakan kepadamu, isi cawan itu juga arak namanya Seng sian mi atau madu pembuat dewa jadi mendusin, sekalipun dewa atau malaikat yang minum mereka juga akan dibikin mabuk selama tiga hari tiga malam.

Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong mengbela napas panjang, ujarnya dengan gegetun, “Siaute pun bersedia untuk mabuk selama tiga hari tiga malam, sayang ibuku cacad dan tak ada yang melindungi, sebagai seorang putra aku tak bisa melepaskan tanggung jawab ini, kalau tidak aku ingin benar minum secawan arak itu agar bisa tidur nyenyak selama tiga hari.”

Giok Teng Hujin tertawa merdu.

“Bagus sekali! kalau toh engkau hendak jadi seorang anak yang berbakti maka aku ingin tanya, diantara tiga hal yang tidak berbakti, bakti apakah yang terbesar?!”

“Tentu saja tidak punya keturunan adalah kejadian yang paling tidak berbakti!” sahut Hoa Thian-hong sambil tertawa.

“Nah itulah dia! sewaktu kau masih mengidap racun teratai empedu api, tubuhmu tak dapat digunakan untuk mendekati perempuan, andaikata tiada Leng-ci hadiah dariku, bukankah keluarga Hoa kalian akan putus keturunan?”

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong karena jengah. “Budi kebaikan dari cici tak akan kulupakan untuk selamanya!”

“Tak usah kau ungkap tentang soal budi lagi, aku cuma ingin bertanya, adakah Leng-ci kedua di kolong langit ini?”

Hoa Thian-hong segera menggeleng.

“Benda langka yang amat mujarab itu belum tentu bisa ditemui dalam seratus tahun, rasanya sukar untuk temukan lengci kedua di kolong langit dewasa ini”

“Baik! Nah sekalipun binimu pandai dalam ramuan obat, tapi andaikata tiada Leng-ci dari enci, dapatkah ia punahkan racun te ratai empedu api yang bersarang dalam tubuhmu?”

Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya.

“Ia pernah mengatakan kepadaku, menurut hasil penyelidikannya selama ini, teratai racun empadu api adalah racun paling dahsyat yang tiada keduanya di kolong langit, kecuali Leng-ci berusia seribu tahun, tiada obat lain yang bisa digunakan untuk memusnahkan racun tersebut”

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan, “Dia adalah orang yang paling berterima kasih kepada cici, seringkali dia membicarakan tentang kebaikan cici ini”

Tentu saja begitu! ujar Giok Teng Hujin sambil tertawa, sebab dia pula yang merasakan manfaat dari kebaikanku itu, andaikata tiada Leng-ci mustikaku itu, kendatipnn dia sudah kawin dengan dirimu, paling banter cuma hidup menjanda sepanjang masa, kalau tidak berterima kasih kepadaku lantas musti berterima kasih kepada siapa lagi?” Pui Che-giok yang mendengarkan pembicaraan tersebut tak dapat menahan rasa geli lagi, ia segera tertawa cekikikan.

Hoa Thian-hong jadi amat jengah, selembar wajahnya berubah jadi merah padam, akhirnya sambil tundukkan kepala dan tertawa ia gelengkan kepalanya berulang kali.

Giok Teng Hujin sendiripun tak dapat menahan gelinya, ia ikut tertawa cekikikan kemudian sambil berpaling hardiknya ke arah Pui Che-giok, “Enyah dari sini dan menyingkir jauh-jauh!”

Pui Che-giok menutupi bibirnya dengan ujung baju, kemudian ia keluar dari ruangan dan sekalian merapatkan pintu itu.

Sesudah dayang itu berlalu, Giok Teng Hujin baru angkat cawan arak dan bertanya dengan lirih, “Apakah binimu sudah mengandung?”

“Aah! mana bisa secepat itu? toh aku baru kawin sebulan kurang sedikit.”

“Aku masih ingat dengan tepat, lengci itu kau makan sebelum pertemuan besar Kiao ciau tayhwee diselenggarakan, masa sudah selama itu benihmu belum jadi juga?”

“Huss…. cici pandai bergurau!” seru Hoa Thian-hong tertawa, “sebelum diresmikan mana aku berani main pukul sembarangan?”

Giok teng hujio mengangguk tiada hentinya, ia berkata dengan wajah serius, “Sebelum menikah engkau memang tak boleh sembarangan berbuat, dan kini jejakmu sudah hilang, tentunya urusanpun tak usah dianggap terlalu serius bukan?” Mendengar perkataan itu tak tahan lagi Hoa Thian-hong segera bangkit berdiri, sambil goyangkan tangannya berulangkali ia berseru, “Cici engkau terlalu romantis, siaute tak sanggup menghadapinya, biarlah aku mohon diri saja!”

“Engkau berani kabur?!” ancam Giok Teng Hujin pura-pura marah, “kalau kau lari dari sini, aku akan segera mengejar kerumah penginap anmu dan minta orang kepada ibumu serta Chin Wan-hong!”

Melihat jendela yang ada disampingnya, untuk beberapa saat Hoa Thian-hong tak tahu apa yaeg musti dilakukan, dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, untuk berlalu dari situ bukanlah suatu urusan yang sulit dan Giok Teng Hujin tak akan mampu menangkap dirinya.

Akan tetapi ia berhutang budi kepada perempuan agung ini, kedua antara mereka berdua sebetulnya memang sudah tumbuh benih cinta, tentu saja si anak muda itu tak tega meninggalkan sang gadis dengan begitu saja….

Rupanya Giok Teng Hujin sendiripun sudah ambil keputusan untuk menyerahkan kesucian tubuhnya kepada si anak muda itu, dengan langkah yang lembut gemulai ia bangkit dari tempat duduknya dan pindah kesamping si anak muda itu.

Seketika itu juga Hoa Thian-hong merasakan berdebar keras, sambil memandang keluar jendela bisiknya, “Enci, fajar sudah hampir menyingsing!”

Giok Teng Hujin tertawa manis.

“Kentongan kelima ayam mulai berkokok, itulah tandanya fajar hampir menyingsing, ayoh berlutut dan menyembah dulu kepada cici!” “Siaute tidak mengerti!”

“Kau tidak mengerti, biar kuajarkan kepadamu!”

Dia ambil cawan kecil yang terbuat dari kaca itu dan meneguk sedikit arak Cui sian mi tersebut, kemudian sambil di angsurkan ketepi bibir Hoa Thian-hong, ujarnya, “Aku akan menegukkan, lalu engkaupun minum setegukan, perlahan- lahan rasanya akan nikmat!”

Hoa Thian-hong adalah seorang pria yang sudah menikah, boleh dibilang ia sudah berpengalaman dalam bermain cinta, cukup mendengar rayuan manis yang merangsang itu sudah membuat hatinya tak tahan, apalagi tubuh mereka saling menempel dan bau harum semerbak berhembus lewat tiada hentinya, lama kelamaan pemuda itu mulai tak sanggup menahan diri, jantungnya berdebar makin keras.

Dalam keadaan demikian, terpaksa ia minta ampun, “Ooh…. ciciku yang baik, ketika kentongan ketiga hampir lewat tadi baru saja aku bertempur melawan kaucu mu, isi perutku terluka parah dan kini….”

Giok Teng Hujin mengerling genit ke arahnya, lalu sambil tertawa merdu menukas, “Telur busuk cilik, bukankah engkau tidak mengerti, lalu apa artinya perkataanmu itu?”

“Sekarang siaute sudah mengerti!” jawab sang pemuda tertawa.

Giok Teng Hujin tertawa cekikikan, bisiknya, “Tak usah kuatir, masa cici tega untuk mencelakai dirimu? Arak ini mendatangkan banyak manfaat bagimu, minumlah dulu setegukan, nanti akan cici ajarkan cara intuk menyembuhkan luka itu.” Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Hoa Thian-hong minum seteguk arak Cui sian mi itu.

“Bagaimana caranya untuk mengobati luka ku itu?”

Kepandaian tersebut disebut resep melatih diri untuk menghindari kematian, minumlah setegukan lagi, akan kuterangkan dengan lebih jelas lagi.

Dia angkat cawan arak Cui sian mi itu, setelah diteguk satu tegukan barulah dia angsurkan kepada Hoa Thian-hong, sambungnya, “Orang kuno mengatakan, kalau ada Im tentu ada Yang, ada dingin pasti ada panas, ada laki tentu ada perempuan, kalau kedua unsur digabungkan akan mendatangkan kebaikan, kalau dipisahkan membedakin jenis kelamin, mengenai ajaran ini kau tentu sudah mengerti bukan?”

“Emmmm, mengerti!”

“Baik, menurut resep dewa dikatakan, segala macam penyakit bagaimana parahpun hanya ada dua obat yang bisa menyembuhkan, yakni sari hawa panas ditubuh pria dan sari hawa dingin ditubuh wanita, kalau kedua unsur tersebut digabungkan menjadi satu, maka semuanya akan sembuh dan lenyap!”

“Aaah…. ecci ngaco belo, aku ogah untuk mendengarkan, aah!” omel Hoa Thian-hong sambil tertawa.

“Siapa bilang aku ngaco belo tak karuan?!” seru Giok Teng Hujin manja, “inilah resep yang paling jitu dari ilmu penggabungan antara unsur panas dan unsur dingin, jika kepandaian ini bisa dilatih dengan baik, bukan saja semua luka akan sembuh, bahkan hidup manusiapun bisa langgeng dan tak akan tua”

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.

“Kalau sejenis disatukan akan membentuk pedang pengusir setan, kalau dua jenis disatukan jadilah tangga untuk naik kesorga, pernah kau baca syair dari Hu-yu Tee-kuo ini?”

“Aaah pelajaran sesat dari kaum kiri, aku tak pernah membaca syair seperti itu.”

“Telur busuk! Kau berani memaki cici sebagai orang sesat dan golongan kiri? Kau musti dihukum!”

Dia angkat cawan berisi arak Cai sian mi tersebut, setelah meneguk setegukan kemudian ia tekan kepala Hoa Thian- hong kebela kang dan melolobi pemuda itu dengan dua tegukan arak.

Hoa Thian-hong terengahengah dengan nafas memburu, serunya sambil tertawa getir, “Enciku yang baik, siaute tak kuat minum arak…. aku mabuk nanti.”

“Tak usah kuatir, setelah kita habiskan arak pengikat perkawinan ini maka semua budi dan dendam yang kita tanam selama ini akan terhapus sama sekali.”

“Aaai….! ucapan cici terlalu serius.” Giok Teng Hujin mendengus dingin.

“Serius biarlah serius, aku sudah tak ambil peduli!” “Aaai….! Cici…. aah!” Belum sempat pemuda itu mengucapkan sesuatu, tiba-tiba kepalanya ditekan kembali kebelakang oleh Giok Teng Hujin, sisa setengah cawan arak Cui sian mi yang masih ada dicawan setelah dilolobkan semua kedalam mulutnya.

Hoa Thian-hong menggeliat lemas, bisiknya dengan napas terengah-engah seperti kerbau, “Aduh cici…. kepalaku…. kepalaku pusing….”

Giok Teng Hujin yang berbaring dalam pelukan pemuda itu tertawa terkekeh-kekeh, saking gelinya sampai air matapun bercucuran.

Paras muka Hoa Thian-hong berubah jadi merah padam bagaikan buah tho, kelopak matanya tak mampu dibentang kembali, dengan suara tak jelas kembali ia bergumam, “Ooh…. cici, kepalaku pusing…. aduh pusing sekali….!”

“Aaah masa iya? Aku kok tidak pusing? Oh iya, aku lupa, rupanya aku sudah mirum obat penawar lebih dulu”

Hoa Thian-hong sudah tak tahan lagi, ia mendebrak meja dan mengomel lagi, “Aku tak kuat duduk lagi, aku mau berbaring, aku….”

Giok Teng Hujin tertawa makin melengking.

“Eii, telur busuk cilik, engkau sendiri yang minta berbaring lho! Nanti jangan salahkan cici lagi, bukan cici yang memaksa dirimu untuk tidur diranjang”

Sambil merangkul pinggangnya, gadis itu bantu Hoa Thian- hong untut berbaring diatas pembaringan.

ooooOoooo 68

DENGAN mata berkedip-kedip karena mabuk hebat, Hoa Thiau Hong mengomel terus.

“Ooh…. cici yang baik, biarlah aku pergi, aku benar-benar masih ada urusan!”

“Hiih…. hiih…. hiih…. jangan ribut terus ah, bukankah cici juga sedang bekerja?”

Sambil berkata ia lantas melepaskan pedang baja yang tergantung dipinggangnya.

Dengan cepat Hoa Thian-hong putar badan dan menindihi pedang baja itu dengan tubuhnya.

“Jangan kau sentuh benda itu!”

“Aku senang menyentuh senjata itu….!” seru Giok Teng Hujin sambil tertawa cekikikan.

Dengan sepasang tangannya ia tarik bahu orang kemudian memutar balik kembali tubuh Hoa Thian-hong sehingga tidur terlentang, ia lihat sepasang pipi pemuda itu sudah berubah jadi merah padam selembar kepiting rebus, tak tahan lagi gadis itu merangkul tubuh kekasihnya dan mencium dengan mesrah.

Tiba-tiba Hoa Thian-hong merasa pipinya jadi basah, dengan memaksakan diri ia membuka kembali kelopak matanya yang terasa berat, lalu bertanya, “Enci yang manis, kenapa kau menangis?”

Meskipun air mata bercucuran membasahi pipinya, namun senyum manis masih tersungging diujung bibir gadis itu. “Ini hari adalah hari baik buat kita, enci merasa sangat gembira makanya air mataku jatuh bercucuran.”

“Tidak, enci punya rahasia dihati, siaute dapat merasakan akan hal itu.”

Giok Teng Hujin tertawa manis.

“Apa yang cici pikirkan adalah masalah mengenai dirimu, aku takut engkau tak sudi menuruti perkataanku, marilah…. enci akan lepaskan pakaian luarmu.”

Sembari berkata ia lantas ulurkan tangannya bermaksud untuk melepaskan pedang baja itu.

Dengan cepat Hoa Thian-hong menggelinding kesamping dan sekali lagi menindihi pedang baja itu dengan tubuhnya, dengan suara tak jelas ia berkata, “Jangan kau sentuh, diatas pedang itu telah dipolesi racun ganas!”

Giok Teng Hujin tertawa cekikikan.

“Kalau ada racunnya aku semakin gembira, kau tak perlu kuatir!”

Sekali lagi ia membalik tubuh pemuda itu sehingga tidur terlentang.

“Enci, daripada tidur bersama lebih baik biarkanlah aku tidur seorang diri!” gumam sang pemuda dengan kelopak mata hampir terkatup rapat.

“Omong kosong, seorang pria tak boleh kehilangan wanita, seorang wanita tak boleh kekurangan pria, kalau tiada wanita maka pikiran akan melayang, kalau pikiran melayang maka syaraf gampang jadi lelah, kalau syaraf sudah lelah maka akan mengurangi usia, kalau engkau tidur seorang diri, maka umurmu akan berkurang banyak”.

“Kalau tenagaku lipat ganda memang paling baik tidur dengan wanita, kalau tenaga ku loyo dan lemas seperti ini, tidur dengan wanita sama artinya mendekati jalan kes orga…. siaute….”

Kembali pemuda itu mengguling kebelakang dan sekali lagi menindihi pedang bajanya itu.

Giok Teng Hujin selalu berusaha untuk melepaskan pedang bajanya, sedangkan Hoa Thian-hong meskipun sudah mabuk sehingga perkataannya tak jelas, tapi jurstru setiap gerak- geriknya selalu melindungi pedang baja itu dari jangkauan orang.

Demikianlah, kedua orang itupun saling dorong mendorong, tarik menarik tiada hentinya, walaupun sudah berlangsung lama namun apa yang dituju Giok teng bujin tak pernah tercapai.

Lama kelamaan perempuan itu jadi mendongkol bercampur penasaran, dengan suara manja dia lantas mengomel, “Kekasihku yang tolol, sebenarnya kau sudah mabuk belum?”

“Dalam hati aku masih dapat memahami, tapi sekujur badanku tak bertenaga lagi!”

Mendengar jawaban ini, dalam hati kecilnya Giok Teng Hujin segera berpikir, “Aaai….! tenaga dalam yang dimiliki kekasihku ini memang amat sempurna, walaupun secawan arak Coi sian mi telah dihabiskan namun tak sampai membuat dirinya mabuk….” Dalam hati ia berpikir, diluaran ujarnya sambil tertawa merdu, “Kalau engkau tak punya tenaga lagi, biarlah cici yang melayani dirimu, akan kubuat tenagamu sama sekali tak terbuang!”

Seraya berkata dia lantas jatuhkan diri ke atas pembaringan dan berbaring disisi pemuda itu, sambil menuding jidatnya ia melan jutkan, “Kalau engkau tak mau menurut lagi, jangan salahkan kalau kutokok jalan darah mu”

“Jangan cici. jangan sekali-kali kau totok jalan darahku!” “Aah, betul juga! Kalau jalan darahmu itu tertotok,

tentunya hilanglah kegembiraanku”

“Aku tidak maksudkan begitu, ketahuilah pada saat ini Kiu- im Kaucu, Pia Leng-cu serta sekelompok jago lihay lainnya yang tergabung dalam Mo-kauw sedang mengincar nyawaku, andaikata enci totok jalan darahku dan kesempatan baik ini digunakan orang lain untuk celakai jiwaku, bukankah sama artinya enci yang menjerumuskan diriku kedalam lembah kebinasaan?”

Agak tertegun Giok Teng Hujin setelah mendengar perkataan itu, lama sekali ia termenung akbarnya titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

“Cici, kenapa menangis? Apakah ucapan ku keliru?” buru- buru Hoa Thian-hong bertanya dengan hati gelisah.

Giok Teng Hujin gelengkan kepalanya.

“Tahukah kau, apa sebabnya orang-orang itu bendak mencelakai jiwaku?” ia bertanya.

“Mereka hendak merampas pedang bajaku ini!” Air mata jatuh berlinang membasahi pipi Giok Teng Hujin, ia semakin sedih, katanya lagi, “Tahukah engkau, encipun akan merampas pedang baja milikmu itu? Kau anggap tujuanku bikin kau mabuk benar-benar adalah untuk mewujudkan tali perkawinan diantara kita berdua?”

Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, “Tentu saja, kalau engkau masih mencintai aku, berilah pelampiasan bagi cicimu, agar rasa cinta cici terhadap dirimu tidaklah sia-sia belaka.”

“Aaai….! Cici, cintamu terlalu bodoh”

“Begitulah cinta kasih seorang gadis terhadap kekasihnya, aku memang dungu dalam bercinta, tapi apakah kau tidak merasa bahwa hatimu terlalu kejam??”

“Enci, kenapa engkau juga ingin merampas pedang bajaku? apakah Kiu-im Kaucu yang paksa engkau berbuat demikian?, dengan cepat Hoa Thian-hong alihkan pembicaraan kesoal lain.

Giok Teng Hujin segera menggeleng.

“Bukan, ide ini timbul dari benakku sendiri, aku merampas pedang baja bukan karena terdorong maksud lain, aku berbuat demikian karena aku cinta padamu.”

“Tak dapat kutangkap maksud ucapanmu itu!”

Giok Teng Hujin menunduk dan mencium mesrah pemuda itu, lama sekali dia baru berkata dengan sedih, “Tahukah engkau bahwa kitab pusaka Kiam keng hasil karya dari malaikat pedang Gi Ko tersimpan dalam pedang bajamu itu? Semua orang berpendapat demikian, masa engkau tak tahu?!” “Aku tahu, selain itu akupun percaya akan hal ini, tapi yang ku maksudkan adalah dalam hal lain!”

“Kepandaian silatmu sudah mencapai tingkat yang amat tinggi, jika kau latih isi kitab Kiam keng, maka tiada orang yang sanggup menandingi dirimu lagi, engkau dapat mengangkat dirimu sebagai raja tanpa tandingan, pernahkah kau berpikir sampai kesitu?!”

Hoa Thian-hong tertawa.

“Aku sih tak ingin menjadi raja tanpa tandingan di kolong langit, aku cuma berharap agar orang budiman bermunculan kembali didunia kangau, sedang orang jahat yang banyak berbuat onar musnah dari muka bumi, hanya inilah harapanku!”

“Engkau bersedia, apakah orang lain juga bersedia?” “Kalau memang begitu biarlah kita bertarung sampai titik

akhir, aku percaya Thian akan membantu kaum budiman serta menumpa mereka yang suka berbuat kejahatan”

“Dengan dasar apa engkau percaya kalau Thian selalu melindungi orang budiman?!” bisik Giok Teng Hujin dengan murung, “apakah Lo Thian-ya berkata sendiri kepadamu?

Tidakkah kau pernah lihat, banyak orang budiman yang harus menemui ajalnya ditangan orang jahat?”

“Yaah…. kita harus bertempur dengan andalkan kekuatan masing-masing, siapa berumur pendek dialah yang musti gugur, bagaimanapun juga kita toh tak sudi menyerah kalah dengan begitu saja dan membiarkan musuh berbuat sehendak hatinya terhadap diri sendiri tanpa melawan?” Rupanya Giok Teng Hujin merasa murung sekali, dengan gusar ia berteriak, “Orang mati! kau tidak takut mati, justru akulah yang takut kau mati….! kau….”

Walaupun kata-katanya singkat, namun dalam kenyataan mengandung pancaran rasa cinta yang amat mendalam, Hoa Thian-hong merasa terharu sekali, tanpa sadar air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.

“Aku merasa amat berterima kasih sekali atas cinta kasih yang cici limpahkan kepada ku, sepanjang masa akan kuingat selalu cinta cici yang begitu membara!”

Gick teng hujin tertawa getir.

Kalau memang begitu janganlah banyak tingkah, ikuti saja semua perbuatan yang cici lakukan atas dirimu, bagaimanapun juga cici sama sekali tak bermaksud untuk mencelakai dirimu.

“Tak mungkin, hal ini tak mungkin terjadi” dengan cepat Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya, “pedang baja ini diwariskan mendiang ayahku kepada siaute dan untuk memanfaatkan pedang ini beliau telah menciptakan enam belas jurus pedang untukku, diatas pedang inilah mengalir semua pikiran dan keringat mendiang ayahku, jangan dibi lang didalam pedang ini tersimpan kitab pusaka Kiam keng, sekalipun tak adapun tak sudi kubiarkan senjata ini jatuh ketangan musuh”

Dengan gemas Giok Teng Hujin menghela napas panjang. “Aaai….! Pedang baja ini adalah bibit bencana, setelah

kudapatkan pedang akan kuserahkan kepada kaucu kami, sekalipun pedang ini berada ditangannya juga sama sekali tak ada manfaatnya bagi dia. Pia Leng-cu maupun orang-orang Mo-kauw pasti akan alihkan sasarannya untuk merecoki dia, tak seorangpun yang akan datang menyusah kan dirimu lagi, apakah engkau tak akan paham dengan siasatku ini?”

“Aku tak mau ambil perduli siasat apapun, pokoknya selama hayat masih dikandung badan aku akan kerahkan segenap kemampuan yang kumiliki untuk mempertahankan pedang baja ini”

Giok Teng Hujin semakin gelisah.

“Aaai.! engkau harus tahu, sekalipun kitab pusska kiaam keng muncul kembali didunia dan jatuh ketangan orang, engkaupun tak usah kesal karena tak bisa menangkan dia, pokoknya semua orang telah tahu, jika engkau berhasil mendapatkan kitab pusaka kiam keng maka di kolong langit tak ada orang yang mampu menandingi dirimu lagi, dan semua orang pasti tak akan menyetujui tindakanmu itu, semua orang pasti akan menghimpun segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menghalangi dirimu, bahkan menggunakan pelbagai cara yang teren-dah untuk mencelakai dirimu, buat apa engkau musti menyusahkan diri sendiri?”

Antara kaum sesat dan kaum lurus selamanya tak dapat hidup berdampingan, apa boleh buat? Terpaksa aku harus mempertahankan diri demi tegaknya keadilan dan kebenaran. Cici! Kau tak usah kuatirkan diri ku lagi.

Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa lanjutnya, “Bertarirglah disini cici, mari kita bermesraan lagi!”

“Giok Teng Hujin merasa gemas sekali.

“Telur busuk kecil! Kau anggap aku benar-benar tak tega untuk turun tangan terhadap dirimu? Hmm! Keputusan sudah bulat engkau tak dapat kukuh dengan pendirianmu lagi. Seraya berkata, tangannya diayun dan menotok sebuah jalan darah dipinggang pemuda itu.

Hoa Thian-hong jadi amat terperanjat, buru-buru ia tangkap pergelangan tangan Giok Teng Hujin dengan sepasang tangannya, serunya dengan gelisah, “Cici, jangan berbuat demikian!”

Rupanya ia sudah mabuk terpengaruh oleh arak, sehingga seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga, kepandaian silat yang dimiliki pun tak ada yang bisa digunakan lagi.

Dengan yang menyambar kesana kemari tanpa beraturan, dia berusaha untuk menangkap pergelangan tangan dara itu, tapi bagai manapun juga usahanya ini selalu gagal.

Giok Teng Hujin tertawa cekikikan, tiba-tiba pergelangan tangannya berputar dan menyerang kembali jalan darah Siau ci hiat di pinggang pemuda itu, sedang tangan kirinya dengan suatu jurus serangan yang aneh menotok jalan darah diiga kirinya.

Sebenarnya kedua orang itu sedang bergumul jadi satu, ditambah pula ilmu silat yang dimiliki Giok Teng Hujin bukan kepandaian sembarangan, serangan yang dilancarkan secara serentak dari arah yang terang dan gelap ini amatlah sukar untuk dihindari atau ditangkis.

Walaupun begitu ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong pun bukan kepandaian silat biasa, dalam gugupnya dengan cepat ia menggelinding kesamping dan menjatuhkan diri kebawah pembaringan, dengan begitu dua buah serangan tersebutpun bisa dihindari dengan manis. Giok Teng Hujin tertawa cekikikan, telapak tangan kirinya langsung diayun kedepan.

“Ploook!” dengan nyaring ia hantam paha pemuda itu, sementara tangan kanannya berkelebat kemuka merampas pedang baja.

“Cici….! Hoa Thian-hong menjerit kaget.

Belum hatbis dia berteriak, tiba-tiba pintu jendela ditumbuk orang hingga terbuka, sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat menyusup ketepi peramringan, sepuluh jari tangannya dipetangkan lebar-lebar dan langsung menerjang tubuh Hoa Thian-hong.

Betapa terperanjatnya Giok Teng Hujin sewaktu menyaksikan kehadiran orang lain di dalam kamarnya, begitu kagetnya sehingga sukma serasa melayang tinggalkan raganya, cepat-cepat dia menghardik, “Siapa kau?”

Dengan sepasang tangannya menggenggam pedang dia lancarkan sebuah bacokan kedepan.

Bayangan manusia itu sama sekali tidak bersuara, tangan kirinya bergerak kedepan langsung mencengkeram pedang baja itu, serta-merta tangan kanannya laksana sambaran petir mencengkeram perut bagian bawah dari Hoa Thian-hong.

Jelas orang itu sudah memahami sampai dimanakah kelihayan dari Hoa Thian-hong, oleh sebab itu walaupun ia tahu kalau Hoa Thian-hong sudah dibikin mabok oleh arak Cui sian mi namun serangannya yang dilancarkan ke arah pemuda itu sama sekali tak berkurang kehebatannya.

Hoa Thian-hong mendengus dingin, telapak tangan kirinya berputar lalu diayun ke depan sedang lengan kanannya segera diangkat keatas, dengan jurus sakti Kun siuci tau dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras, sementara tangan kanannya dengan suatu gerakan yang aneh menggetar pergi sepasang tangan Giok Teng Hujin, dan tahu- tahu gagang pedang baja itu sudah dicekal kembali dalam genggamanannya.

Seketika itu juga Giok Teng Hujin merasakan sepasang tangannya tergetar keras, tak kuasa lagi badannya berguling kesudut pem baringan.

Sementara itu orang yang melancarka sergapan tadipun tak kalah kejutnya, baru saja ia mendengar si anak muda itu mendengus dingin, tahu-tahu segulung angin pukulan yang maha dahsyat telah menerjang masuk lewat telapak tangannya.

Selama peristiwa itu berlangsung hampir bersamaan waktunya, sejak jendela dipentang orang sampai waktu itu hanya makan waktu sekejap mata, tapi ketiga belah pihak melancarkan serangan mereka dengan kecepatan bagaikan kilat.

Agaknya orang yang melakukan sergapan itu telah menyadari kalau Hoa Thian-hong tidak benar-benar mabuk, menyadari kalau dirinya tertipu, saking kagetnya peluh dingin membasahi tubuhnya, dia kendorkan tangan kirinya melepaskan cekalan pada pedang baja tersebut, sedangkan serangan pada tangan kananpun dibuyarkan, sekali enjot badan tubuhnya meluncur keluar lewat jendela.

Sejak pertarungan sengit diselat Cu-bu-kok serta pertarungan serunya melawan Kiu-im Kaucu, sebagian besar jago persilatan yang ada di kolong langit pada menaruh rasa jeri terhadap diri Hoa Thian-hong, demikian pula dengan penyergapan gelap itu. Setelah menyadari kalau dirinya tertipu, cepat-cepat ia mengundurkan diri dari situ, kecepatan dan kecekatannya menghadapi perubahan situasi benar-benar sangat mengagumkan.

Tampaklah Hoa Thian-hong melejit bangun dari atas tanah, kemudian ia pentang mulutnya dan…. Cuuh! Serentetan pancaran arak berwarna putih langsung menyambar keatas wajah penyergap tadi….

Kiranya meskipun Hoa Thian-hong telah meneguk separuh cawan lebih arak wangi Cui sian mi, namun secara diam-diam dia telah simpan arak tadi kedalam lambungnya dengan menggunakan sejenis ilmu khusus dari wilayah Biau yang biasanya digunakan untuk menghadapi minuman atau makanan beracun.

Dan kini setelah menghadapi serangan musuh, ia lantas kerahkan bawa murninya untuk memaksa sisa arak yang tertampung itu tumpah keluar semua, bahkan memanfaatkannya sebagai senjata rahasia untuk melukai lawan.

Serangan ini benar-benar sangat aneh dan luar biasa, dengan hati terperanjat penyergap itu berpaling kebelakang, dan tak dapat di hindari lagi pancaran senjata arak itu bersarang telak diatas wajah bagian kanannya, bersamaan waktunya pula kaki kanan orang itu merasa amat sakit hingga merasuk ketulang sumsum, rupanya Soat-ji rase berbulu salju itu telah manfaatkan kesempatan baik tadi untuk menggigit kaki tamu tak diundang ini.

Rupanya Soat-ji rase berbulu salju yang selama ini mendekam dibawah jendela telah menyusup keluar tatkala penyergap tadi menyerang masuk kedalam ruangan, tapi berhubung gerak tubuh penyer gap itu sangat cepat sekali, maka walaupun gerak tubuh Soat-ji cepat toh dia masih kalah setindak daripada musuhnya.

Andaikata orang itu tidak dibuat ketakutan setengah mati oleh serangan balasan yang dilancarkan Hoa Thian-hong, niscaya Soat-ji pun tetap gagal untak melukai lawannya.

Kendatipun begitu, ilmu silat yang dimiliki penyergap itu sangat mengejutkan pula, dalam keadaan pipi kanan terluka oleh semburan arak, kaki kanan terpincang karena gigitan Soat-ji, ia masih mampu menahan rasa sakit yang luar biasa itu untuk kabur keluar jendela, dalam waktu singkat tubuhnya sudah jauh diujung jalan sebelah sana.

Hoa Thian-hong telah memburu pula ke tepi jendela, dalam sekejap mata separuh badannya sudah keluar dari ruangan itu….

“Thian-hong! racun….” tiba-tiba Giok Teng Hujin berteriak keras.

Hoa Thian-hong terkesiap, dengan cepat ia teringat kembali kalau diatas pedang bajanya telah dipolesi racun yang keji, teringat pula ketika penyergap tersebut menyerang dirinya.

Giok Teng Hujin jadi begitu panik sehingga mengucurkan air mata, pemuda itu jadi tak tega.

Buru-buru ia kembali kesampingnya, sambil mengeluarkan obat pemunah dari dalam saku ia berkata, “Makanlah obat ini maka racun itu akan punah dengan sendirinya, aku harus segera mengejar penyergap itu!”

Begitu pemuda tersebut menyelesaikan kata-katanya, sambil menangis Giok Teng Hujin telah berteriak, “Sepasang tanganku telah berubah jadi kaku semua!” Kreet….! pintu kamar dibuka orang, Pui Che-giok dengan langkah cepat telah masuk kedalam.

Hoa Thian-hong segera berseru dengan cepat, “Che giok, tolong berikanlah obat pemunah ini kepadanya, aku….”

Sementara itu Giok Teng Hujin sendiripun sedang berpikir….

“Setelah perpisahannya pada hari ini, entah sampai kapan kita baru bisa berjumpa lagi?”

Dalam gelisahnya, dia segera tundukkan kepala dan menggigit lengan pemuda itu keras-keras.

Hoa Thian-hong kesakitan dan menjerit tertahan. “Aduuh…. cepat lepaskan gigitanmu…. orang yang

menyergap diriku tadi adalah Pia Leng-cu, Pek Kun-gie telah terjatuh ketangan…. aduuh!”

Ketika Giok Teng Hujin mengetahui kalau Hoa Hoa Thian- hong mengejar Pia Leng-cu adalah dikarenakan hendak menolong Pek Kun-gie, gadis ini jadi gemas sekali sehingga gigitanpun diperkeras dengan sendirinya pemuda itu sangat kesakitan.

Walaupun begitu Hoa Thjan Hong tak dapat berbuat apa- apa kecuali menahan rasa sakit hingga air matapun bercucuran, ia tak berani mengerahkan hawa murninya untuk melawan, sebab kuatir menggetarkan gigi dara itu, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa ia berbicara, “Cepat-cepatlah kendorkan gigitanmu, aku tak akan pergi, aku akan menyuapi obat untuk mu…. ayohlah, cepat lepaskan gigitanmu!” Giok Teng Hujin sama sekali tidak menggubris permohonannya itu, bahkan gigitannya malah semakin diperkeras.

Pui Che-giok yang menyaksikan kejadian itu diam-diam tertawa geli, ia segera maju kedepan dan menutup kembali jendela yang terpentang, kemudian membersihkan noda darah dan arak yang menodai pemukaan tanah, setelah selesai pintu ditutup kembali dan diapun berlalu.

Sementara itu Hoa Thian-hong telah melihat sepasang tangan Giok Teng Hujin yang putih bersih kini telah berubah jadi hitam gelap, sedang gigitan pada tangannya sama sekali tak mau dilepas, dalam keadaan seperti ini pemuda kita menghela napas, seperti lagi membujuki anak kecil saja katanya, “Baiklah, cepat lepaskan gigitanmu, perkataan seorang pria sejati berat laksana bukit, setelah aku berjanji tak akan pergi-pastilah aku tak akan pergi!”

Racun keji dari wilayah Biau terkenal karena keganasannya, sejak keracunan, Giok Teng Hujin hanya memikirkan tentang kekasihnya dan sama sekali tak mengerahkan tenaga untuk lawan racun, hal ini membuat sepasang tangannya sama sekali jadi kaku, kesadaranpun agak kabur.

Menanti Hoa Thian-hong mengucapkan kata-kata tadi, ia baru lepaskan giginya.

Hoa Thian-hong segera membuka penutup botol dan menyuapi obat tersebut kedalam mulutnya, setelah itu telapak tangannya di tempelkan diatas punggungnya dan salurkan hawa murni untuk membantu daya kerja obat tadi dalam memunahkan racun yang bersarang di tubuhnya.

Lewat beberapa saat kemudian, racun yang bersarang didalam tubuh perempuan itu telah punah. Giok Teng Hujin dapat menggerakkan kembali lengannya dengan leluasa, diapun angkat kedua buah tangannya dan memeluk tubuh Hoa Thian-hong erat-erat, si anak muda itu tertawa getir, bisiknya dengan lembut, “Pek Kun-gie….”

Senyum manis tersungging diujung bibir Giok Teng Hujin, ia gelengkan kepalanya berulang kali, namun pelukannya sama sekali tidak mengendur dan mulutpun membungkam dalam seribu bahasa.

Hoa Thian-hong jadi kebingungan dibuatnya, dengan perasaan tak mengerti ia menegur, “Eeeh! kenapa sih wajahmu kelihatan sangat gembira? Ayoh, dibalik kegembiraanmu itu pasti ada hal-hal yang tak beres!”

Giok Teng Hujin tertawa manis, dengan muka berseri-seri ujarnya.

Lepaskan dulu benda yang ada racunnya itu dan letakkan dibalik pembaringan, kemudian berbaringlah dulu maka akan kubicarakan banyak hal dengan dirimu, kalau engkau bisa menangkan perdebatan ini maka mulai detik ini aku, Ku Ing- ing tak akan merecoki dirimu lagi, dan kau boleh anggap aku sebagai perempuan yang paling rendah di kolong langit dewasa ini.

Perkataan tersebut diucapkan dengan nada serius, mau tak mau terpaksa Hoa Thian-hong harus melaksanakan seperti apa yang dikatakan olehnya, sesudah melepaskan pedang bajanya dan diletakkan dibawah kasur iapun berbaring diatas pembaringan.

“Nah, apa yang hendak kau perdebatkan sekarang boleh kau katakan secara blak-blakan!” Agaknya Giok teng bnjin merasa sangat gembira, ia lemparkan satu senyuman yang amat mesrah kepada pemuda itu, lalu katanya, “Cinta kasih yang diperlihatkan Pek Kun-gie kepadamu telah diketahui oleh khalayak umum, sedangkan rasa cinta dan sayang dari aku, Ku Ing-ing kepadamupun rasanya tak perlu dijelaskan lagi bukan??”

Hoa Thian-hong menghela napas panjang, dengan mulut membungkam dia mengangguk.

Giok Teng Hujin tersenyum, ujarnya lebih jauh, “Dia yang mencintai dirimu lebih dulu? ataukah aku lebih dulu yang mencintai dirimu?”

Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong, sahutnya dengan suara amat lirih, “Susah untuk menentukan siapa yang lebih duluan, tapi aku rasa persoalan ini toh tidak terlalu penting”

Setelah berhenti sebentar, sambungnya kembali, “Cinta kasih yang enci berikan kepadaku disertai dengan pelepasan budi kebaikan yang berlipat ganda, kalau dibicarakan sesungguhnya tentu saja Pek Kun-gie tak dapat dibandingkan dengan dirimu!”

Giok Teng Hujin tertawa.

“Perkawinanmu dengan Chin Wan-hong, perduli atas usul dari siapa, kejadian ini adalah suatu peristiwa yang sangat adil dan jamak, sebaliknya kalau engkau tinggalkan Chin Wan- hong untuk menikah dengan Pek Kun-gie, bukan saja semua orang gagah yang ada di kolong langit akan memandang hina dirimu, merekapun akan memandang rendah pula ibumu, semua orang gagah di kolong langit tentu akan pada membicarakan ketidakbecusan ibumu serta ketidak bijaksanaannya dalam mengambil keputusan” Mendengar perkataan itu, tiba-tiba Hoa Thian-hong merasa peluh dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, dengan gugup ia menimbrung dari samping, “Sampai detik ini, aku dan ibuku belum pernah memikirkan hal-hal seperti apa yang cici katakan barusan!”

Giok Teng Hujin tersenyum, kembali ia menyela, “Benarkah begitu? Kalau rumah tangga sendiri tak dapat mengatur, mana mungkin mengatur suatu negara? Engkau dan ibumu adalah tulang punggung para jago dari golongan lurus, kalau toh urusan rumah tanggapun tak becus untuk mengatur, dengan dasar apakah kalian bisa menegakan keadilan serta kebenaran bagi umat persilatan??”

Sesudah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Dalam kenyataan, meskipun pendapat seperti ini tak pernah kalian pikirkan, dalam hatipun secara lapat-lapat telah merasakan, cuma saja berhubung kata-kata semacam itu diucapkan keluar oleh seorang perempuan jahat seperti aku sekarang ini, maka engkau meneri manya dengan suatu perasaan istimewa pula”

“Selamanya siaute tak pernah memandang enci sebagai orang jabat, dan ibuku juga tak pernah mempunyai pandangan begitu….”

Kembali Giok teng hnjin tertawa.

“Perduli bagaimanapun juga, yang jelas aku berdiri dipihak orang-orang jahat, mungkin engkau sendiripun tak pernah memikirkan bukan, orang baik bukan saja harus dipuji dan disanjung oleh orang baik, selain itu orang jahatpun harus ikut memuji dan menyanjungnya pula, dengan demikian ia baru bisa dianggap seorang yang benar-benar baik sejati!” “Aaah! Mana mungkin ada orang jahat bersedia memuji dan menyanjung orang baik. Kalau sampai begitu dimanakah letak kebu sukan dari orang jahat itu?”

“Bukan begitu, engkau memandang watak manusia terlalu kasar dan gamblang, baik dia seorang kuncu ataupun seorang manusia jahat, bila mereka semua menaruh rasa kagum dan menyanjung, maka penghormatan tersebut barulah dapat dianggap sebagai suatu penghormatan yang sungguh- sungguh dan dari situ pula lahirlah kata-kata yang menyatakan: Sesat selamanya tak bisa menangkan lurus, dan oleh karena pendapat ini pula semakin banyak yang diderita orang baik, semangat dan ambisinya semakin teguh, sebaliknya oOrang jahat yang terkena pukulan batin, jiwanya langsung jadi kerdil dan keberanianpun hancur berantakan…. tentu saja walaupun dalam hati kecil seorang manusia jahat merasa hormat terhadap seorang baik, ia selalu berusaha untuk menghindari pikiran sampai kesitu, apalagi mengumumkan perasaannya itu dihadapan umum”

Hoa Thian-hong berpikir sejenak, kemudian dengan muka serius sahutnya, “Terima kasih atas petunjuk dari cici, mulai hari ini siaute pasti akan berusaha untuk menjadi seorang manusia yang benar-benar baik, sehingga membuat pihak musuhpun mau tak mau terpaksa mesti mengagumi diriku”

Giok Teng Hujin tertawa cekikikan.

“Apa yang sedang kubicarakan hanyalah masalah besar dalam dunia persilatan, masalah tentang muda mudi sih boleh bertindak lebih bebas dan leluasa, tak perlu musti pakai aturan segala”

Hoa Thian-hong tertawa terbahak-bahak, ia merasa dada dan pikirannya jadi lapang sekali. Sebenarnya pembicaraan tentang masa lah baik dan busuk itu hanyalah perkataan melantur dari Giok Teng Hujin, perempuan itu sendiripun tak pernah memikirkannya dihati, tapi bagi pendengaran Hoa Thian-hong telah mendatangkan manfaat yang amat besar.

Sebelum kejadian tersebut, Hoa Thian-hong masih merupakan seorang pemuda yang keras kepala dan berdarah panas tapi mulai detik itu juga segala watak serta perangainya telah mengalami perombakan besar dan jadilah dia seorang lelaki sejati yaog berjiwa ksatria, setiap perkataan maupun perbuatannya tak malu disebut seorang pemimpin dari golongan kaum lurus.

Sudah tentu Giok Teng Hujin sendiripun tak pernah menduga kalau ucapan isengnya telah mendatangkan perubahan besar bagi kekasih hatinya ini.

Sementara itu dipthak lain, Pek Kun-gie yang kemarin malam baru saja lolos dari pengejaran Tio Sam-koh, ketika baru saja ia tiba didepan mulut sebuah gang, tiba-tiba dari balik kegelapan menyusup keluar seorang kakek tua berjenggot putih, begitu munculkan diri dia segera lancarkan sebuah totokan yaog merobohkan gadis itu kemudian mengempitnya di bawah ketiak dan kabur dari situ.

Dari gerakan tubuh kakek tua itulah, Tio Sam-koh segera kenali orang itu sebagai Pia Leng-cu dari perkumpulan Thong- thian-kauw dan karena itu pula dia tidak melanjutkan pengejarannya.

Kakek berbaju putih itu sama sekali tidak berlalu dengan begitu saja, sesudah membawa Pek Kun-gie berputar satu lingkaran akhirnya ia kembali lagi disekitar rumah penginapan tersebut dan menyembunyikan diri ditempat kegelapan sambil menyaksikan pertarungan sengit antara Hoa Thian-hong melawan Kiu-im Kaucu, menanti kedua belah pihak telah buyar barulah dia mengempit tubuh Pek Kun-gie dan menyusup keatas loteng sebuah rumah obat diseberang penginapan tersebut dan bersembunyi disudut gudang obat tadi.

Orang itu memang tak lain dan tak bukan Pia Leng-cu, dengan pedang emas berada dalam sakunya, sambil melarikan diri dari pengejaran Kiu-im Kaucu, dia pun berusaha untuk merampas pedang baja milik Hoa Thian-hong serta mendapatkan kitab kiam keng yang maha dahsyat tersebut.

Apabila orang-orang dari pihak Mo-kauw tidak masuk bilangan, maka dewasa ini ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian Hoag serta Kiu-im Kaucu boleh dibilang nomor satu di kolong langit, meskipun kepandaian silat dari Pia Leng-cu sendiripun sudah mencapai puncak kesempurnaan, akan tetapi kalau dibandingkan dengan kedua orang jago ini, dia masih tetap kalah setingkat,oleh sebab itulah untuk menghadapi kedua orang jago lihay ini menantang secara berhadapan, maka diputuskan untuk bermain gerilya ditempat kegelapan.

Sejak perkumpulan Thong-thian-kauw musnah dari muka bumi, imam tua ini selalu berusaha untuk membalas dendam, dan satu-satunya harapan yang dijagakan dirinya adalah memperoleh kitab Kiam keng tersebut kemudian mempelajari isinya.

Selama ini semua anggota perkumpulan Thong-thian-kauw mempelajari ilmu pedang, dengan dasar ilmu silat serta tenaga dalam yang dimilikinya sekarang, apabila bisa memperoleh kemajuan yang amat pesat, dan asalkan ia sanggup menandingi kepandaian silat dari Hoa Thian-hong serta Kiu-im Kaucu, maka dunia persilatan akan berada dibawah injakan kakinya, dalam keadaan begitu tak sulit untuk membangun kembali perkumpulan Thong-thian-kauw yang telah runtuh.

0000O0000

69

KUNCI UNTUK memperoleh kitab pusaka Kiam keng yaitu pedang emas itu berada ditangannya akan tetapi Kiu-im Kaucu selalu mengejar-ngejar terus membuat dia makan tak enak tidur tak tenang, hal ini membangkitkan niatnya untuk merampas pedang baja milik Hoa Thian-hong dan kemudian kabur jauh-jauh dari situ, asal dia bisa mempela jari isinya niscaya dunia aian menjadi miliknya.

Begitulah, sekembalinya keatas loteng kecil, dia lantas memikirkan pertarungan sengit yang baru saja berlangsung antara Hoa Thian-hong melawan Kiu-im Kaucu, ia tahu sesudah pertarungan tersebut hawa murni mereka berdua pasti mengalami kerugian besar, dalam keadaan begitu tak mungkin Kiu-im Kaucu akan muncul kembali disana, ia lantas merasa bahwa malam ini adalah saat yang paling tepat untuk merebut pedang baja itu.

Pek Kun-gie yang kena dibekuk segera diikatnya dengan tali otot kerbau yang kuat, mulutnya dijejali pula dengan robekan kain sehingga tak dapat berteriak. Kemudian tubuhnya disembunyikan dibawah tumpukan obat-obatan.

Sedangkan ia sendiri menyusup kembali kedaerah sekitar rumah penginapan dimana Hoa Thian-hong berdiam, menurut perkiraannya Pek Kun-gie yang ditotok jalan darah pingsannya tak akan sadar dalam beberapa jam, karenanya tak mungkin juga ia dapat meloloskan diri. Walaupun begitu ia tak berani terlalu mendekati rumah penginapan tersebut, sebab pertarungan sengit antara Hoa Thian-hong melawan Kiu-im Kaucu telah mendatangkan rasa bergidik dalam hatinya, selain itu diapun dapat menyaksikan peristiwa terlukanya orang-orang Mo-kauw yang menyergap rumah penginapan malam itu.

Dalam keadaan ketakutan dan pernah pecah nyali, akhirnya dia ambil keputusan untuk tidak melakukan gerakan apa-apa secara gega bah, tapi mendekam disekitar penginapan sambil menantikan saat yang tepat untuk merampas pedang baja itu

Beberapa saat kemudian ia lihat cahaya lampu dirumah penginapan itu telah padam, ia mengira Hoa Thian-hong sekalian telah naik kepembaringan dan tidur, maka ditunggunya dengan tenang ditempat kegelapan.

Siapa tahu lewat beberapa saat kemudian, mendadak Hoa Thian-hong munculkan diri dari dalam kamarnya dan tinggalkan rumah penginapan tersebut menuju kepintu kota sebelah utara.

Sesudah berpikir sebentar, imam tua ini segera menduga kalau kepergian Hoa Thian-hong saat itu tentulah dikarenakan persoalan Pek Kun-gie, maka ia menguntit dari kejauhan, dia ingin tahu apa yang hendak di lakukan si anak muda itu.

Tak tahunya ditengah jalan Hoa Thian-hong telah berjumpa dengan Giok Teng Hujin, maka dengan sendirinya perjalananpun terhenti ditengah jalan.

Pia Leng-cu adalah seorang jago kawakan yang mempunyai banyak pengalaman dalam dunia persilatan, ia menyadari betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thiian Hong dan betapa tajamnya pendengaran si anak muda itu, salah-salah kurang waspada niscaya jejaknya ketahuan musuh, selain itu dia pun kuatir srigala mengincar kambing, harimau menunggu diarah belakang, dan jejaknya ditempeli eleh Kiu-im Kaucu yang kejam, oleh sebab itulah semua tindak tanduknya dilakukan dengan sangat berhati-hati, sedikitpun tak berani bersikap gegabah.

Posisinya saat ini berada diantara desakan dua kekuatan besar, ibaratnya ular yang kena digebuk, ia tak berani berbuat seenaknya sendiri sehingga dia sendiri malahan jatuh dalam pengawasan orang.

Ketika dilihatnya Hoa Thian-hong sudah masuk kedalam loteng dan jendelapun sudah tertutup, diam-diam ia berputar satu lingkaran kemudian dengan sangat berhati-hati mendekati tempat tersebut.

Setibanya diluar jendela, imam tua ini segera tutup napasnya dan mengamati suasana dalam ruangan dengan seksama, ia temukan Giok Teng Hujin sedang melolob Hoa Thian-hong dengan arak keras, bahkan yang dipergunakan adalah arak Cui sian mi suatu arak yang berkadar tinggi dari perkumpulan Thong-thian-kauw, jadinya ia sangat Kegirangan, diam-diam ia bersyukur kepada sukma cousu ya nya yang sudah menyediakan kesempatan baik kepadanya untuk peroleh pedang baja serta menjadi seorang tokoh tak terkalahkan didunia, dalam hati ia lantas ambil keputusan, asalkan pedang baja itu sudah jatuh ketangan nya dan kitab Kiam keng didapatkan olehnya, maka sambil membawa Pek Kun-gie dia akan kabur jauh dari keramaian dunia dan mencari tempat yang tidak dapat ditemukan Kiu-im Kaucu untuk mempela ari isi kitab Kiam keng tersebut.

Bila ditambah pula dengan ilmu catatan Kiam keng bu kui yang diketahui Pek Kun-gie, jika ia muncul kembali dalam dunia persilatan, siapa lagi yang mampu menandingi dirinya? Terbayang pula betapa nikmat dan hangatnya dia akan mencicipi tubuh Pek Kun-gie yang putih mulus dan padat berisi itu, hatinya jadi sangat kegirangan, ia merasa pengorbanan serta penderitaan yang dialaminya selama ini dia masih belum terhitung seberapa jika dibandingkan dengan apa yang bakal diraih di kemudian hari.

Pia Leng-cu tahu betapa lihaynya madu arak Cui sian mi ini, asalkan Hoa Thian-hong meneguk setengah cawan, seratus persen pemuda itu pasti akan mabuk dan tak sadarkan diri.

Menyusul mana dia dengar pembicaraan yang lirih dari kedua orang itu, meskipun dalam hati merasa amat gelisah akan tetapi berhubung persoalan ini menyangkut masa depan dirinya, maka imam tua ini selalu bersabar diri dan bertindak dengan hati-hati.

Siapa tahu fajar telah menyingsing diufuk sebelah timur, imam itu tahu bila mengintip lewat luar jendela dilanjutkan, meskipun mereka yang berada dalam ruangan tidak sampai mengetahui perbua-tannya, tapi bagi mereka yang lewat dijalan raya sebelah bawah sana pasti akan mengetatui perbuatannya itu dalam sekilas pandangan.

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa ia menggeserkan tubuhnya kembali ke tempat persembunyiannya kesudut bangunan yang sulit diketahui orang, walaupun begitu dengan tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong ternyata ia tak sempat mendengarkan sesuatu tanda yang mencurigakan, bahkan Soat-ji rase salju yang punya penciuman yang melebihi manusia biasapun tidak merasakan sesuatu yang aneh.

Kendatipun Hoa Thian-hong tak tahu kalau diluar jendela telah siap seorang musuh tangguh, namun selama ini dia sendiripun selalu waspada, dia kuatir dirinya disergap musuh secara mendadak sehingga pedang baja itu dirampas orang, selain itu diapun takut kalau imamnya kurang teguh sehingga terjerumus kedalam jaring cinta Giok Teng Hujin, karenanya ia selalu menjaga otaknya atar tetap segar dan dingin.

Demikianlah, ketika Pia Leng-cu merasa saat yang dinantikan telah tiba, maka ia menerjang masuk kedalam ruangan dengan langkah yang berhati-hati serta penuh perhitungan, toh perhitungan itu akhirnya meleset juga bukan saja usahanya gagal total bahkan harus kabur sambil membawa luka yang parah.

Seandainya Giok Teng Hujin tidak memegangi Hoa Thian- hong terus menerus, niscaya imam tua itu akan mampus diujung telapak tangan Hoa Thian-hong yang ampuh.

Dengan kaki berjalan pincang, Pia Leng-cu segera loncat turun dari atas loteng, buru-buru ia telan sebutir pil pemunah racun dan kabur lewat jalanan yang masih sepi.

Setalah kabur, dia masuk kedalam sebuah ruangan dalam suatu pen ginapan kecil, imam ini duduk bersila dan salurkan hawa murninya untuk melawan kekuatan racun yang bekerja dalan tubuhnya.

Racun keji dari Kiu-tok Sianci memang tersoohor karena keganasannya, walaupun dia telah menelan sebutir pil pemunah namun obat tersebut tidak menunjukkan kemanjuran apa-apa, saluran hawa murni yang dimaksudkan untuk mendesak keluar racun itu dari dalam tubuhpun mengalami kegagalan total, untung ia cuma sebentar menangkap pedang baja itu sehingga dia hanya menderita keracunan ringan, dengan andalkan tenaga dalam hasil latihannya selama enam puluh tahun, akhirnya ia berhasil mendesak racun itu ke ujung tiga jari tangan kirinya. Demi untuk selamatnya jiwanya, dalam keadaan begini sambil gertak gigi ia lantas cabut sebilah pisau belati dan menebas kutung ketiga buah jari tangannya itu.

Setelah racun keji itu dapat dimusnahkan, selembar jiwanya selamat pula dari ancaman maut, buru-buru dia ambil keluar obat luka dan dibubuhkan keatas mulut luka diatas tangan serta kakinya, sesudah membalut dengan baik barulah topeng kulit manusia yang ia kenakan dilepaskan.

Semburan arak dari Hoa Thian-hong yang bersarang telak dipipi kanannya terasa amat dahsyat, untung mukanya dilindungi oleh topeng itu sehingga tak sampai terluka parah kendati begitu separuh wajahnya telah membengkak besar, buru-buru ia mengurutinya bebe-rapa saat, kemudian ganti pakaian, menutupi mukanya dengan kain cadar dan berlalu dari rumah penginapan itu.

Dengan hati kebat kebit karena ketakutan, sepanjang perjalanan Pia Leng-cu berjalan seperti maling takut ketangkap polisi, dengan susah payah akhirnya toh dapat kembali keatas loteng kecil rumah obat itu dengan selamat.

Jalan darah Pek Kun-gie yang tertotok, saat itu sudah bebas dengan sendirinya, waktu itu dia sedang menggerakan tubuhnya diba wah tumpukan bahan obat, Pia Leng-cu maju menghampiri dan mengangkat tubuhnya dari bawah tindihan bahan obat-obatan.

Diatas loteng kecil itu, terdapat sebuah jendela kecil yang tepat berhadapan dengan penginapan dimana Hoa Thian-hong menginap, diatas jendela tersebut Pia Leng-cu membuat sebuah lubang kecil yang bisa di gunakan untuk mengintip segala gerak-gerik dipintu luar penginapan tersebut. Suasana dalam ruangan gelap gulita, tapi sinar yang memancar masuk lewat lubang itupun dapat menyinari seluruh ruangan dengan jelas.

Setelah sadar dari pingsannya, Pek Kun-gie temukan kaki dan tangannya dibelenggu orang, sadarlah dara itu bahwa dia telah di tangkap orang, namun ia tak tahu siapakah yang telah menawan dirinya ini.

Kemudian ia alihkan sorot matanya kesamping dan menyaksikan seorang pria berkain cadar hitam dengan bentuk badan persis seperti Pia Leng-cu berdiri dihadapannya, ia baru terkesiap hingga keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Bagaikan sukma gentayangan saja, Pia Leng-cu mengangkat tubuh Pek Kun-gie dan diletakkan disudut ruangan, kemudian perlahan-lahan ia lepaskan kain cadar yang menutupi wajahnya.

Dahulu ia pelihara jenggot pulih yang panjang, tapi untuk melengkapi penyamarannya, jenggot itu sudah dicukur habis, kini dengan muka yang murung bercampur kesal serta bengkak separuh ditambah pula sorot matanya yang memancarkan cahaya kebengisan ke lihatan amat mengerikan sekali sehingga bikin hati orang jadi bergidik.

Dengan pandangan tajam Pek Kun-gie mengawasi pria dihadapannya, setelah merasa yakin kalau orang itu adalah Pia Leng-cu, bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri, tak kuasa lagi titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.

Dengan muka menyeringai seram, Pia Leng-cu mengangkat tangan kirinya dan diperlihatkan dihadapan dara itu sambil ujarnya dengan suara menyeramkan, “Lihatlah dengan cepat, mukaku, tanganku semuanya dilukai oleh Hoa Thian-hong sampai kaki kiriku jadi pincang pula. Hmm! semua hutang darah ini akan kulampiaskan diatas tubuhmu, apalagi hutang perkumpulan Sin-kie-pang atas Thong-thian-kauw sudah menumpuk terlalu banyak, kini akan ku tagih semua dirimu”

Sambil berkata perlahan-lahan dia lepaskan kain handuk dan mengeluarkan pula sumbat kain yang memenuhi mulut Pek Kun-gie.

Berada dalam keadaan begini, dara ayu dari perkumpulan Sin-kie-pang ini segera berpikir di hati, “Setelah aku terjatuh ketangan bangsat ini, tak bisa dibayangkan bagaimana akibatnya, kalau aku tidak cepat-cepat mati maka siksaan serta penderitaan yang kualami akan bertambah parah…. aaai! Thian-hong…. ooh Thian-hong.

Gadis itu kuatir kesempatan yang ada lenyap dengan begitu saja, sehingga akhirnya dia malah tersiksa hebat, maka tanpa berpikir panjang lagi ia menggigit lidahnya keras-keras bermaksud untuk bunuh diri.

Sebagian besar anggota perkumpulans Thong-thian-kauw hidup dalam pelampiasan nafsu seks atas lawan jenisnya, selama hidupnya Pia Leng-cu entah sudah berapa banyak merusak kehormatan dan kesucian anak gadis orang, makin tua makin menjadi dan ia pan ai sekali menyelami perasaan kaum wanita.

Ketika dilihatnya paras muka Pek Kun-gie berubah hebat, secepat sambaran kilat tangan kanannya menjepit sepasang pipi dara itu, membuat mulutnya tak sanggup terkatup kembali. Air mata semakin deras bercucuran membasahi wajah Pek Kun-gie, dengan sorot mata penuh kegusaran ia melototi musuhnya tanpa berkedip.

Pia Leng-cu tertawa seram, sepatah demi sepatah ia berkata dengan nada seram, “Dengarkanlah baik-baik, kalau engkau berani bunuh diri maka segera kunodai jenasah mu, kemudian telanjangi dirimu dan kugantung mayatmu didepan pintu kota sana, agar semua orang yang ada diseantero jagad tahu kalau perempuannya Hoa Thian-hong telah dirusak kehormatannya oleh aku Pia Leng-cu!”

Selesai berkata, ia lepaskan jepitannya.

Sekujur badan Pek Kun-gie gemetar keras, setelah berpikir beberapa saat lamanya, ia benar-benar tak berani untuk bunuh diri, pikirnya dihati, “Baik mati maupun hidup, aku tak boleh bikin malu Thian honh, lebih baik aku pasrah saja pada nasib dan mengikuti perkembangan situasi selanjutnya….”

Setelah ambil kepututan didalam hati, ia berkata, “Kalau mau bunuh aku bunuhlah dengan cepat dan biarkan aku mati dengan tubuh yang suci, anggap saja engkau telah balaskan dendam bagi Thong-thian-kauw, dan perkumpulan Sin-kie- pang kami telah membayar impas hutang berdarah ini, dalam keadaan begini aku Pek Kun-gie akan mati dengan mata meram tanpa mengucapkan separah katapun, Hoa Thian-hong adalah seorang enghiong yang mengutamakan kebijaksanan dan keadilan, ia pasti akan merasakan kebaikan budimu ini, siapa tahu ia malah akan memberikan imbalan yang besar untuk itu”

Hmm! Perkataanmu telah membingungkan, aku Pia Leng- cu sama sekali tak mengerti” tukas imam tua itu dengan ketus. Sesudah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh”

“Setelah urusan berkembang jadi begini, masing-masing pihakpun berjalan menurut seleranya masing-masing, kini aku Pia Leng-cu tinggal sebatang kara, tiada sesuatu apapun yang perlu kutakuti lagi, asal ada keuntungan bagi ku maka pekerjaan itu segera kulakukan. Hmmm! jika engkau membandel terus, jangan salahkan kalau kunodai dulu kesucianmu untuk melampiaskan semua rasa dongkolku, ke mudian baru bikin perhitungan selanjutnya”

Ketika mendengar perkataan tersebut, terutama sekali kata-kata yang berbunyi ‘…. dimana ada keuntungan disana kulakukan perbuatan itu….’ satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya, ia lantas berpikir, “Pedang emas tersebut berada dalam saku bangsat ini, kalau ditinjau dari tindak tanduknya yang selalu mengintil kepergian Hoa Thian- hong, rupa-rupanya diapun bermaksud untuk mendapatken kitab Kiam keng. Asalkan ia punya niat kesitu, berarti pula

diapun takut banyak urusan…. untuk sementara waktu aku tak usah keburu mati, kalau Thian-hong mengetahui akan persoalan ini, dia pasti akan datang menolong diri ku, sampai waktunya kalau bangsat ini hendak celakai jiwa Thian-hong, siapa tabu kalau aku bisa bantu menyelamatkan jiwanya?”