Tiga Maha Besar Jilid 14

 
Jilid 14

SAMBIL menyingsing jubahnya, selangkah demi selangkah berjalan pemilik rumah penginapan itu didepan kereta untuk membawa jalan.

Sang kusirpun menyetak kudanya untuk berjalan amat lambat sambil busungkan dada dan celingukan kesana kemari, gaya sang kusir itu seakan-akan membawa seorang sarjana yang baru lulus ujian untuk berpawai keliling kota.

Hoa Thian-hong dibikin menangis tak bisa tertawapun tak dapat untung sepanjang jalan ia sudah banyak pengalaman menghadapi kejadian semacam ini maka pemuda itu masih dapat menahan sabar.

Setelah berjalan beberapa waktu lamanya kereta itupun berhenti didepan pinta gerbang rumah penginapan Teng hwat. Hoa Thian-hong segera loncat turun dari atas kereta membuka pintu ruangan dan mempersilahkan ibunya untuk turun.

Rupanya pemilik rumah pengiuapan telah menyiarkan berita tentang kedatangan Hoa Thian-hong yang pernah tersohor dikota Cho ciu karena Lari racun nya dan baru-baru ini namanya makin tersohor setelah pertarungan dilembah Co bu kok, ketika rombongan tiba dirumah penginapan Teng hwat, tetangga disekitar tempat itu, beberapa tamu yeng berdiam dirumah penginapan tersebut telah penuh berdesakan disamping ruangan untuk bersama-sama menonton kehadiran sang pahlawan yang amat tersohor itu.

Begitu penuh sesak orang yang berjejal disana membuat pintu masuk rumah penginapan tersumbat dan Hoa Thian- hong tak dapat masuk kedalam.

Terpaksa pemilik rumah penginapan harus menjura memberi hormat dan berteriak-teriak minta jalan kepada para penonton, setelah bersusah payah akhirnya ia baru berhasil menghantar keempat orang tamu terhormatnya ini masuk kamar

Setelah berada dalam kamar, Hoa Hujin menghembuskan napas panjang dan berkata, “Seng jil mulai besok engkau bopong aku untuk melanjutkan perjalanan, kita harus cepat- cepat tiba kembali dirumah”

“Aku takut teriknya matahari akan merusak badan ibu yang masih lemah….” Tiba-tiba terdengar serentetan suara langkah manusia yang tergesa-gesa berkumandang da-tang, disusul suara pemilik rumah penginapan itu bergema, “Hoa ya baru saja tiba dan masuk kamar beliau ada dikamar sana”

Belum babis ucapan itu berkumandang pintu sudah terbuka lebar dan muncullah seorang pemuda berpakaian ringkas langsung berlutut dihadapan Hoa Thian-hong sambil berseru terbata-bata, “Hujin, Tio loo tay, Hoa toako, enci Hoa”

Sekilas memandang Hoa Thian-hong segera kenali kembali pemuda itu sebagai murid termuda dan terkecil dari Siang Tang Lay, ia berasal dari siku Fibulo dan bernama Haputule bukan saja keenam orang murid Siang Tang Lay dia berusia paling kecil, ilmu silat yang dimilikipun paling lihay.

Pada waktu itu dengan air mata bercucuran, keringat membasahi seluruh tubuhnya dan muka penuh kegelisahan berlutut diatas tanah tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Menyaksikan keadaan tersebut, Hoa Hujin jadi amat terperanjat, ia segera berkata, “Nak! ayoh bangun dan bicaralah perlahan-lahan, apakah gurumu menjumpai mara bahaya?”

Haputule mengangguk tiada hentinya, sambil menangis dia menjawab, “Guruku telah dirampas orang!”

“Baga’mana caranya bisa dirampas? dan siapa yang merampas dirinya?” tanya Hoa Hujin keheranan.

“Seorang hweesio, seorang hweesio yang belum pernah kami jumpai sebelumnya….” Dia ingin berbicara dengan lebih jelas lagi, tapi karena kurang lancar bicara dalam bahasa Han dan lagi kalimat yang diketahui pun sangat terbatas maka meskipun hatinya gelisah bercampur cemas, namun tak ada perkataan lain yang dapat diutarakan lagi.

Hoa Thian-hong maju kedepan dan membimbing bangun pemuda suku Fibulo tersebut, kemudian dengan halus katanya, “Saudaraku, duduklah dengann tenang! pusatkan perhatianmu dan ceritakan duduknya persoalan dari permulaan hingga akhir dengan jelas, jangan ada yang kelewatan”

Buru-buru Haputule duduk diatas kursi, Chin Wan-hong menghidangkan air teh, setelah meneguk secawan dan mengusap air mata pemuda itu berkata kembali.

“Dua hari berselang, ketika malam telah menjelang tiba kami telah sampai dikota ok yang dan menginap disebuah rumah penginapan, ketika selesai bersantap….”

Bicara sampai disitu mendadak ia tergagap dan tak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya.

Dengan hati iba Hoa Hujin berkata, “Jadi dalam sehari semalam engkau telah berangkat dari kota Lok yang menuju kemari? Aaah…. engkau benar-benar amat menderita”

Air mata jatuh berlinang membasahi seluruh wajah Haputule, setelah berhenti sebentar ia melanjutkan, “Setiap kali selesai bersantap guru pasti minum air teh dan biasahya daun teh itu kami yang sediakan, begitu selesai bersantap akupun minta seteko air mendidih pada pelayan rumah penginapan itu, setelah membuat air teh maka aku hidangkan kepada suhu, siapa tahu baru saja suhu minum seteguk tiba- tiba ia muntahkan kembali air teh itu sambil berteriak, “Dalam air teh ada setannya, hati-hati sergapan pihak musuh!”

Mendengar sampai disitu, Hoa Hujin mengerutkan dahinya dan menyela, “Bagaimana selanjutnya?”

“Baru saja suhu selesai berteriak, dari depan pintu menerjang masuk sedrang hweesio, sementara badan suhu mulai sempoyongan seperti mau roboh tak sadarkan diri, sekali sambar hweesio itu segera menghempit suhu dibawah ketiaknya, kami suheng te bertiga dengan kalap menerjang kedepan, tapi hweesio itu dengan menggunakan sebuah jurus serangan yang mirip dengan gerakan Raja setan mengebaskan kipas, dalam sekali gebrakan saja telah berhasil pukul roboh dua orang suhengku, diapun melarikan diri dari sana, aku akan mengejar keluar tapi hweesio itu naik keatas atap rumah dan dalam sekejap mata lenyap tak berbekas”

Mendengar sampai disitu, Hoa Hujin, Hoa Thian-hong serta Tio Sam-koh saling berpandangan muka tanpa mengucapkan sepatah katapun, didalam kisah tersebut terlalu banyak hal-hal yang mencurigakan membuat timbulnya kecurigaan dalam hati mereka bertiga.

Setelah termenung beberapa saat lamanya, Hoa Thian- hong segera bertanya, “Saudaraku, coba pikirlah kembali dengan seksama, pernahkah engkau bertemu dengan hweesio itu hari sebelumnya?”

“Engkau harus membayangkan mulai dari orang-orang Kiu- im-kauw” sambung Hoa Hujin, “bayangkan saja paras mukanya, jangan kau perdulikan dia adalah seorang hweesio atau bukan!”

Mendengar perkataan itu Haputule segera membayangkan kembali setiap raut wajah para anggota perkumpulan Kiu-im- kauw yang pernah dijumpainya, tapi dengan cepat ia gelengkan kepalanya berulang kali.

“Bukan, dia sudah pasti bukan orang-orang dari perkumpulan Kiu-im-kauw!”

“Kalau begitu coba bayangkan orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang!” sela Tio Sam-koh.

“Dari pihak perkumpulan Sin-kie-pang hanya Pek Siau-thian seorang dengan dipaksakan dapat merampas orang dengan tangan kiri dan memukul luka dua diantara tiga orang anak muridnya dengan satu jurus pukulan tangan kanannya” kata Hoa Hujin, “namun aku rasa hal itu terlalu dipaksakan sekali, kalau bukan sangat kebetulan sekali tak mungkin ia bisa berhasil”

“Hweesio itu sudah pasti bukan penyaruan dari Pek Siau- thian!” seru Haputule menegaskan.

Bagaimana dari pihak perkumpulan Thong-thian-kauw? mungkinkah Pia Leng-cu? sebab dengan ilmu kepandaian yang dimilikinya ia dapat melakukan perbuatan seperti itu!”

Kembali Haputule gelengkan kepalanya berulang kali. “Bukan, sudah pasti orang itu bukan Pia Leng-cu, Hweesio

itu bermuka runcing sedang Pia Leng-cu bermuka persegi, dan berhidung pesek, sebaliknya hweesio itu bermuka besar, Pia Leng-cu bermata sopit, hweesio itu pendek gemuk sebaliknya Pia Leng-cu jauh lebih tinggi perawakan tubuhnya”

Mendengar penjelasan itu, diam-diam Hoa Hujin kembali berpikir, “Bocah ini benar-benar amat cerdik hingga melebihi orang lain, daya ingatnya pun sangat baik, kalau ditinjau dari penjelasannya mengenai ciri-ciri Pia Leng-cu, ternyata apa yang diuraikan sama sekali tidak keliru, kalau begitu apa yang dia uraikan atas ciri-ciri hweesio tersebut mungkin tak salah lagi, atau berbeda pun terlalu jauh….”

Mendadak terdengar Haputule berkata lagi dengan cemas, “Selama sehari semalam ini aku telah memikirkan persoalan ini beberapa ratus kali banyaknya, aku merasa yakin bahwa hweesio yang sangat asing itu bukan saja tidak mirip orang- orang dari perkumpulan Kiu-im-kauw juga tidak mirip Pek

Siau-thian, tidak mirip Pia Leng-cu pun tidak mirip malaikat kedua Sim Ciu atau mirip siapapun juga po tongan tidak mirip, paras muka tidak mirip ilmu silatpun sama sekali tidak mirip”

0000O0000

61

“KALAU begitu padri tersebut mirip siapa?” tanya Tio Sam- koh, “masa dari atas langit tiba-tiba terjatuh seorang padri macam begitu?”

Haputule jadi amat gelisah, paras mukanya berubah jadi merah padam bagaikan kepiting rebus, sahutnya, “Darimana aku bisa tahu? tapi yang jelas hweesio itu adalah penduduk Tionggoan jelas ia bukan orang yang datang dari wilayah See ih!”

“Diantara persoalan ini terdapat beberapa hal yang amat mencurigakan hati” kala Hoa Hujin, “pertama dimanakah letak maksud dan tujuan hwessio itu menculik pergi gurumu?”

“Tentu saja dikarenakan urusan Malaikat pedang Gi Ko” sahut Hapatule dengan cepat, setiap umat manusia di kolong langit ingin mengetahui rahasia mengenai pedang emas itu dan dimana kitab pusaka Kiam keng disimpan dan diantara berapa juta manusia di kolong langit hanya guruku seorang yang tahu.

Engkau memang amat cerdik, menurut ceritamu tadi hweesio itu berlalu dengan tergesa-gesa dan rupanya tak berani diam terlalu lama dalam rumah penginapan itu, aku rasa dibalik kejadian ini pasti ada sebab-sebab tertentu.

Haputule garuk-garuk kepalanya dengan kebingungan. “Tentang soal ini aku sih belum sampai memikirkan”

katanya, “lalu menurut pendapat hujin apa sebabnya hweesio itu begitu gugup dan tergesa-gesa?”

Hoa Hujin termenung sebentar, lalu menjawab, “Mungkin ia takut bertemu dengan orang lain, mungkin juga ada seseorang sedang mengejar di belakang tubuhnya, tapi semua itu cuma menurut dugaanku belaka bagaimana kenyataan yang sesungguhnya sukar untuk di ketahui.”

“Saudaraku, kini dua orang suhengmu itu berada dimana?” tanya Hoa Thian-hong

“Mereka masih menginap dirumah penginapan kota Lok yang!”

“Bagaimana dengan keadaan lukanya? apakah jiwa mereka terancam bahaya?”

Haputule gelengkan kepalanya.

“Luka yang mereka derita sih tak terlalu parah, toa suheng dihajar oleh hweesio itu dengan ilmu lutut saktinya hingga tulang ke tiaknya terluka, sedangkan ji suheng kena disikut oleh ilmu sikutan raja lalim yang mengakibatkan isi perutnya terluka” Hoa Hujin segera mengerutkan dahinya.

Jurus-jurus serangan yang sangat sederhana, hweosio itu dapat menggunakan jurus serangan yang sederhana untuk melukai Toohan dan Temotay, dari sini bisa diketahui bahwa ilmu silat yang dimilikinya pasti sudah mencapai tingkat yang tak terhingga tingginya, para jago-jago seperti Pek Siau-thian dan malaikat kedua Sim Ciu pun belum tentu bisa menggunakan jurus seperti itu hingga ketingkat yang demikian sempurnanya.

Toohan adalah murid tertua dari Siang Tang Lay, sedangkan Temotay adalah murid kedua, ilmu silat yang mereka miliki pernah disaksikan kelihayannye oleh semua orang apalagi setelah mendengar keterangan dari Hoa Hujin, rata-rata mereka merasa bahwa ucapan tersebut sangat masuk diakal, untuk beberapa saat suasana jadi hening dan semua orang membungkam dalam seribu bahasa.

Ditengah matanya yang terbelalak lebar, air mata jatuh bercucuran membasahi pipi Haputule, sambil memandang ke arah Hoa Thian-hong serunya setengah memohon, “Hoa toako, hanya engkau seorang yang dapat menolong suhuku…. selamatkan jiwanya….”

Hoa Thian-hong menepuk sepasang bahunya dengan lembut, kemudian berkata, “Saudaraku, engkau tak usah gelisah atau pun cemas, bagaimanapun juga kami pasti akan berusaha untuk selamatkan Siang Tang Lay looianpwee dari ancaman mara bahaya”

“Berbicara sampai disitu, sorot matanya tanpa terasa dialihkan keatas wajah ibunya. Hoa Hujin termenung beberapa saat lamanya, lalu kapadi putranya ia berkata, “Siang loocianpwee adalah kawan senasib sependeritaan dengan kita semua, apalagi budi kebaikan yang pernah diberikan kepada mu luar biasa besarnya, bagaimanapun juga persoalan ini harus diurus sampai beres tapi hweesio itu tidak diketahui nama maupun asal usulnya, tanpa tanda-tanda yang bisa memberi petunjuk kepada kita, rasanya untuk mencari orang diantara lautan manusia bukanlah suatu pekerjaan yang gampang….

“Bagaimanapun juga kita harus cari sampai ketemu!” sela Haputule dari samping, keempat anggota badan suhu telah cacad, sedang ilmu pekikan maut Hua hiat hou adalah ilmu silat dari partai Seng sut pay setelah berjanji untuk dipinjam pakai satu kali saja pastilah suhu tak akan mengingkari janji sendiri, lagipula menggunakan ilmu kepan daian tersebut sangat merusak kesehatan badan.

Hoa Hujin tertawa ramah, kepada Hoa Thian-hong serunya, “Segera berangkatlah menuju kota Lok yang, coba lihat bagaimana keadaan luka yang diderita Toohan serta Temotay, apabila ada petunjuk jalan yang menerangkan identitas hweesio asing itu, bertindaklah menurut kemauanmu sendiri, pokoknya yang penting engkau harus cari jejak hweesio itu dan berusaha untuk selamatkan jiwa Siang locianpwee dari mara bahaya….!”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Dalam mengatasi persoalan yang sama sekali tak ada tanda ataupun petunjuk ini, engkau harus bertindak dengan andalkan ke cerdasan otak serta semangat bekerjamu yang besar, tapi engkau harus ingat menolong orang harus menolong sampai pada akhirnya, setelah berhasil engkau tak boleh lepaskan utusan itu ditengah jalan, sekali pun delapan tahun lamanya engkau harus menolong sampai berhasil” “Bagaimana dengan ibu?”

“Kami akan langsung pulang keperkampungan Liok Soat Sanceng, sewaktu lewat dikota Lok yang nanti jika dapat bertemu kita bertemu, kalau tidak maka aku akan lanjutkan perjalanan menuju keutara, setelah berhasil menolong Siang locian pwee, engkau harus menghantarnya sampai ke wilayah See ih, jika semua urusan sudah selesai baru engkau pulang kerumah! mengerti?”

Mendengar perintah itu, dalam hati kecilnya Hoa Thian- hong segera berpikir, “Waah….! kalau begitu, waktu yang kubutuhkan untuk menyelesaikan persoalan ini panjang sekali….”

Pemuda itu adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya, ia merasakan tak tega hati karena ilmu silat yang dimiliki ibunya telah musnah dan tubuhnya lemah kembali, selain itu diapun belum lama menikah, cinta kasih antara suami istri masih amat tebal melekat dalam hatinya, untuk berpisah dalam jangka waktu yang cukup lama tentu saja amat memberatkan hatinya.

Dari perubahan paras mukanya yang berat hati, Hoa Hujin dapat segera menebak suara hatinya, dengan alis mata berkernyit ia segera menegur tajam

“Tugas berat ini tak dapat ditawar lagi, engkau tak boleh sangsi atau ragu-ragu untuk menerimanya!”

Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, dengan cepat ia jatuhkan diri berlutut di atas tanah sambil serunya, “Ibu, semoga engkau bisa baik-baik jaga diri”

“Aku sudah tahu!” sahut Hoa Hujin sambil ulapkan tangannya. Kepada Tio Sam-koh si anak muda itupan jatuhkan diri berlutut, baru saja dia akan buka suara untuk mohon bantuannya agar merawat ibunya, tiba-tiba Tio Sam-koh ulapkan tangannya sambil berseru, “Ayoh enyah dari sini! semangat seorang pria berada ditempat samudra, apakah engkau hendak menjaga bini mu sepanjang masa?”

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong, ia segera bangkit berdiri dari atas tanah.

Buru-buru Chin Wan-hong membungkuskan beberapa setel pakaian dan diangsurkan ke depan.

Hoa Hujin dapat memaklumi kalau putranya belum lama menikah, iapun dapat menyadari kalau pada saat itu rasa cinta di antara mereka berdua sedang berkobar mencapai puncaknya, maka ia perintahkan Chin Wan-hong untuk menghantar Hoa Thian-hong dan Haputule sampai diluar pintu.

Sementara Haputule sedang menerangkan tempat tinggalnya dikota Lok yang, Chin Wan-hong lari kedapur dan buru-buru menyiapkan sebuah bungkusan besar.

Ketika tiba didepan pintu ia serahkan bungkusan tersebut kepada suaminya.

Hoa Thian-hong terima bungkusan tersebut sambil berpesan.

“Kesehatan ibu kurang baik setiap hari harus minum obat, engkau harus hati-hati melayaninya!”

Dengan air mata bercucuran Chin Wan-hong mengangguk. “Dalam bungkusan terdapat dua tahil perak….” titik air mata jatuh berlinang memotong ucapan selanjutnya.

Lama…. lama sekali suasana diliputi keheningan akhirnya Hoa Thian-hong berkata lagi dengan suara lirih, “Mempelajari obat-obatan paling banyak menghisap perhatian dan tenaga, engkau jangan mengesampingkau ilmu silatmu terutama ilmu mengatur pernapasan setiap hari engkau harus berlatih dengan tekun dan jangan berhenti barang seharipun”

Dengan lembut Chio Wan Hong mengangguk.

“Ilmu silatmu terlalu tersohor di kolong langit, hati-hatilah menghadapi segala tipu daya yang licik dan keji, terutama sekali dalam soal minuman dan makanan, kau harus lebih- lebih menaruh perhatian”

Haputule sangat gelisah dan ingin cepat-cepat berangkat, melihat kedua orang itu, tak tahan lagi ia menyela dari samping, “Enso! engkau toh seorang ahli memunahkan racun, siapa berani main setan dihadapan Hoa toako, itu berarti mencari penyakit buat diri sendiri”

Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong tertawa tergelak.

“Ensomu belum lama angkat guru, ilmu kepandaian yang dipelajari pun belum banyak, untuk mencapai tingkatan ahli pemunah racun masih terlampau jauh”

Tahun itu usia Haputule baru mencapai enam tujuh belas tahunan, ia belum mengerti apa artinya cinta muda mudi. Hoa Thian-hong yang harus berpisah lama dengan istrinya merasa ada banyak perkataan hendak disampaikan, tapi disaksikan dengan mata melotot oleh sang pemuda itu tanpa berkedip barang sedikitpun, sedikit banyak ia merasa kaku juga akhirnya setelah berpesan beberapa patah kata dan saling berpandangan dengan perasaan hati berat terpaksa mereka harus saling berpisah.

Setelah keluar dari pintu barat, Hoa Thian-hong membuka makanan itu sambil meneruskan perjalanan, kedua orang itu menyikat semua ransum yang tersedia hingga ludas dan sedikpun tak ada sisanya.

Sambil meraba perutnya yang kenyang Haputule memuji tiada hentinya, “Aaah…. enso memang sangat baik, sejak kecil sampai dewasa belum pernah kujumpai orang yang begitu baiknya seperti enso ini Aaaai….! dia memang sangat baik!”

Hoa Thian-hong segera tersenyum.

“Baik! akan kuperhatikan persoalan ini, andaikata dikemudian hari aku temukan seorang gadis semacam itu yang berusia hampir sebaya dengan engkau, aku harus jadi mak comblang untukmu!”

“Kalau suhu tak dapat diselamatkan selamanya aku tak akan cari bini!”

“Betul!” puji Hoa Thian-hong, “kita memang harus cepat- cepat menyelamatkan Siang locianpwee dari ancaman bahaya maut!”

Ia cengkeram pergelangan tangannya dan segera berlari ke arah depan dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang lihay.

Ketika tempo hari Hoa Thian-hong masih lari racun setiap harinya ia berhasil melatih gerakan tubuhnya hingga mencapai tingkat kecepatan yang sukar ditandingi setiap orang setelah makan rumput mustika Leng-ci sian cho, maka ilmu meringankan tubuhnya jauh melebihi tingkatan yang berhasil mencapai tempo dulu apalagi sekarang tenaga dalamnya setingkat jauh lebih sempurna, bisa dibayangkan betapa sempurna dan luar biasanya gerakan tubuh pemuda itu boleh dibilang ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya saat ini tiada tandingannya di kolong langit.

Haputute yang diseret oleh pemuda itu seketika merasakan sepasang kakinya sama sekali tidak menempel tanah, deruan angin kencang menyambar lewat dari sisi telinganya, begitu tajam hembusan angin dari arah depan membuat ia tak sanggup membuka matanya, diam-daim ia merasa amat kagum dan tunduk seratus persen terhadap kelihayannya.

Ditengah jalan mereka hanya beristirahat sebentar, ketika fajar menyingsing keesokan harinya mereka telah masuk kedalam kota Lok- yang.

Haputule segera berlarian kecang membawa Hoa Thian- hong menuju kerumah penginapan dimana kedua orang suhengnya sedang merawat luka yang mereka derita.

Pada waktu itu rumah penginapan tersebut baru saja buka pintu, ketika kedua orang itu masuk kedalam ruangan mereka telah berpapasan dengan seorang pelayan.

Begitu mengetahui siapa yang sedang di hadapi, dengan gelisah bercampur cemas pelayan itu segera berseru, “Siau ya…. aduuh kalau engkau tidak datang lagi, rumah penginapan kami pasti akan diseret kepengadilan dengan tuduhan menghilangkan nyawa orang….”

“Apa yang telah terjadi?!” seru Haputule dengan hati terperanjat. “Siau ya!” seru pelayan itu sambil menuding keruang belakang, “kemarin sore dua orang rekanmu pergi dari sini, tapi entah bagaimana kemudian ternyata mereka telah dibunuh orang, mayatnya menggeletak diluar tembok kota dan….

Mulai Haputule berdiri menjablak dengan mata terbelalak, kemudian sambil menangis menggerung ia lari menuju keruang belakang rumah penginapan itu.

Buru-buru Hoa Thian-hong memburu dari belakang, ketika masuk kedalam sebuah ruang terlihatlah dialas tikar terkapar dua sosok mayat manusia, mereka bukan lain adalah Toohan serta Temotay.

Haputule segera menjerit sambil menangis tersedu-sedu, teriaknya dengan penuh kesedihan, “Hoa toako! aku mau cari suhu…. aku mau membalas dendam…. aku mau membalas dendam!”

Paras muka Hoa Thian-hong telah berubah jadi hijau membesi, sambil menggigit bibir katanya, “Aku pasti akan temukan kembali suhumu, aku pasti akan balaskan dendam bagimu!!”

Ia berjongkok membuka kain selimut yang menutupi tubuh mayat itu dan periksa keadaan lukanya.

Apa yang dialami Tooban maupun Temotay ternyata sama sekali tak berbeda, kedua orang itu tertusuk dadanya oleh senjata tajam pada ulu hati, masing-masing berbekaslah sebuah mulut luka yang panjangnya beberapa senti dengan lebar dua tiga mili, noda darah membasahi seluruh pakaian mereka tapi karena kejadian itu sudah berlangsung sehari semalam yang lalu noda darah itu sudah kering dan membeku. Sepasang mata Haputule berubah jadi merah berapi-api, giginya saling beradu gemerutukan, tiba-tiba la cengkeram bahu Hoa Thian-hong sambil menjerit, “Hoa toako siapa yang melakukan pembuhan ini? siapa yang turun tangan sekeji ini siapa…. siapa….?”

“Saudaraku, teguhkan imanmu dan hadapilah kenyataan dengan hati tabah” bisik Hoa Thian-hong sedih, “akan kupetaruhkan selembar jiwaku untuk menyelidiki siapakah pembunuh kejam itu dan balaskan dendam bagi kematian dua orang suhengmu!”

“Mereka mati ditusuk oleh pisau belati?” tanya Haputule dengan wajah termangu-mangu.

Hoa Thian-hong mengangguk, ia lanjutkan pemeriksaannya dengan lebih teliti lagi.

Tapi kecuali mulut luka diatas dada serta luka lama yang ditinggalkan hweesio asing, diatas tubuh kedua sosok mayat itu ti dak ditemukan bekas luka lainnya, melihat kenyataan tersebut dalam hati kecilnya ia segera berpikir, “Letak luka yang diderita dua orang ini sama sekali tak berbeda satu sama lainnya, andaikata sang pembunuh bukan turun tangan karena telah berhasil menawan dua orang itu lebih dahulu, maka orang yang melakukan perbuatan ini pastilah memiliki ilmu silat yang amat tinggi dan sangat lihay….”

Sementara itu Haputule sambil menggigit bibir, telah berseru, “Hoa toako, perbuatan ini dilakukan oleh hweesio tersebut? ataukah orang lain?….

Diam-diam Hoa Thian-hong menghela napas panjang, pikirnya, “Rupanya bocah ini sudah menganggap diriku sebagai seorang malaikat yang tahu akan segala-galanya dan bisa melakukan perbuatan macam apapun. Aaai….! ia begitu percaya pada diriku seandainya aku tak berhasil untuk menolong Siang loccianpwee serta balaskan dendam bagi kematian dua orang suhengnya betapa kecewa dan putus asanya bocah ini….”

Berpikir sampai disitu, ia segera berkata, “Bekas luka yang ditinggalkan adalah bekas luka keras dari sini sukarlah untuk meraba ilmu silat dari aliran manakah yang telah dipergunakan sang pembunuh untuk melakukan perbuatan keji ini, untuk sementara waktu anggap saja pembunuh itu adalah hweesio tersebut, kita harus berusaha untuk menemukan dulu orang itu dan selamatkan Siang locianpwee dari mara bahaya kemudian setelah itu baru membicarakan soal balas dendam.”

Dengan air mata bercucuran karena sedih, Haputule menganggukkankan kepalanya.

“Senjata tajam dari kedua orang suhengku sudah tidak berada dalam saku mereka!”

“Pedang perak milik kalian merupakan benda yang sangat berharga sekali, aku rasa senjata tersebut tentu sudah diambil oleh sang pembunuh tersebut.”

Ketika dia angkat kepalanya memandang keluar, tampaklah sang pelayan berdiri di tepi pintu, selain itu masih ada belasan orang berdesakan didepan pintu menonton keramaian.

Diantara manusia-manusia itu, terlibat pula dua orang pria kekar berusia setengah baya, ketika menyaksikan sorot mata Hoa Thian-hong ditunjukkan ke arah mereka, dua orang itu buru-buru menyembunyikan diri kebelakang kerumunan orang banyak. Haputule kebetulan menyaksikan tingkah laku mereka, secepat sambaran kilat ia menerjang kedepan dan sekaligus ia cengkeram bahu dua orang pria itu.

Menyaksikan datangnya tubrukan, dua orang pria setengah baya itu berusaha untuk menghindarkan diri, namun usaha mereka gagal dan tahu-tahu lengan mereka terasa amat sakit dan cengkeraman lawan telah bersarang disana.

Haputule mencengkeram bahu dua orang lawannya kencang-kencang, dengan suara berat hardiknya, “Ayoh cepat jawab, apa yang sedang kalian lakukan?”

Saking sakitnya dua orang pria kekar itu menggigit bibir untuk menahan penderitaan, keringat dingin telah membasahi seluruh tubuh mereka sementara sorot matanya ditujukan ke arah Hoa Thian-hong penuh mohon belas kasihan.

Hoa Thian-hong maju kedepan dan berkata, “Saudaraku lepaskanlah cengkeraman mu itu biar aku yang bertanya kepada mereka. Dengan penuh kebencian dan kebengisan Haputule melotot sekejap ke arah dua orang itu kemudian kendorkan cengke-ramannya dan mundur kebelakang.

Sambil memegang bahunya yang sakit dan linu, dua orang pria berusia setengah baya itu berpaling ke arah Hoa Thian- hong paras muka mereka telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat.

“Kalian berasal dari mana?” tegur Hoa Thian-hong dengan sepasang alis berkenyit

“Hamba sekalian sebetulnya berasal dari perkumpulan Hong-im-hwie….” jawab dua orang pria setengah baya hampir berbareng, “tapi berhubung perkumpulan Hong-im-hwie sudah bubar maka hamba….” “Gerak-gerik kalian sangat mencurigakan, apakah kalian berdua telah melakukan pekerjaan yang melanggar hukum?” tukas Hoa Thian-hong dengan cepat.

“Baru kemarin malam hamba berdua tiba dikota Lok yang” buru-buru dua orang pria itu membantah, hamba bersumpah tak pernah melakukan perbuatan yang melanggar hukum, kalau Hoa ya tak percaya silahkan ta nyakan sendiri kepada pemilik rumah penginapan”

Hoa Thian-hong awasi sekejap paras muka dua orang pria itu, kemudian tanyanya lagi, “Dahulu apakah kalian pernah bertemu dengan aku?”

Dua orang itu gelengkan kepalanya berulang kali, pria yang ada disebelah kiri segera berseru, “Kami belum pernah berjumpa dengan Hoa ya, tapi cuma pernah mendengar tentang potongan badan serta raut wajah Hoa ya dari mulut orang lain, apalagi di pinggang Hoa ya tergantung sebilah pedang baja maka sekali bertemu kami dapat segera mengenali kembali”

“Lalu apa sebabnya kalian bersembunyi dan menghindar dengan gerak-gerik yang mencurigakan?” bentak Haputule dengan gusar.

Dua orang itu memandang sekejap ke arah Hoa Thian- hong, lalu dengan ketakutan sahutnya, “Kami takut berjumpa dengan Hoa ya yang penuh berwibawa, karena itu….”

Hoa Thian-hong tahu bahwa kedua orang pria tersebut pastilah merupakan manusia yang tidak penting dalam perkumpulan Hong-im-hwie, maka ia segera ulapkan tangannya memerintahkan kedua orang itu segera tinggalkan tempat tersebut. Bagaikan mendapat pengampunan, dua orang pria itu buru-buru memberi hormat kemudian ngeloyor pergi dengan tergopoh-gopoh.

Sedangkan para penonton keramaian lainnya kebanyakan terdiri dari kaum pedagang dan saudagar kelilingan, tapi rupanya mereka sudah kenal siapakah Hoa Thian-hong itu, paras muka mereka rata-rata menunjukkan sikap yang sangat menghormat.

Haruslah diketahui keadaan dari Hoa Thian-hong pada saat itu ibarat sang surya yang berada ditengah angkasa, nama besarnya amat tersohor dimana-mana dan menggemparkan seluruh dunia persilatan, dari rakyat jelata sampai para pembesar, dari kuli kasar sampai saudagar kaya hampir tak seorangpun yang tak kenal siapakah Hoa Thian-hong, hal ini disebabkan karena pengaruh tiga bibit bencana dunia persilatan terlalu luas dan dalam membekas dihati setiap orang maka ketika bibit bencana sumber kehancuran itu lenyap dari permukaan bumi, nama Hoa Thian-hong segera membubung setinggi langit dan pemuda itu menjadi pujaan setiap keluarga disegala penjuru dunia.

Semula Hapntule mengira ia telah berhasil menemukan titik terang, siapa tahu kedua orang itu tak ada sangkut pautnya dengan persoalan itu, tak disangka lagi ia jadi amat sedih hingga air mata kembali jatuh bercucuran.

“Hoa loako bagaimana sekarang? apa yang harus kita lakukan….?” tanyanya dengan kebingungan.

“Saudaraku, tak usah gelisah mari bereskan dulu jenasah dari kedua orang kakak seperguruanmu itu kemudian barulah kita berangkat untuk mencari pembunuhnya” Bicara sampai disitu, ia segera berpaling sambil menegur, “Siapakah pemilik rumah penginapan ini?”

Sejak permulaan tadi sang pemilik rumah penginapan sudah menunggu disamping, mendengar seruan tersebut buru-buru ia maju kede-pan sambil membungkuk-bungkuk memberi hormat.

“Hamba yang pemilik rumah penginapan ini, tuan ada perintah apa….?”

Hoa Thian-hong ambil sekeping uang perak dari sakunya, sambil diangsurkan kedepan, katanya, “Ciang kwee, harap kirimlah orang untuk membeli peti mati serta tanah pekuburan, kami akan segera mengembumikan jenasah dari dua orang rekan kami ini, kalau uang tersebut tidak cukup, nanti akan kuberi lagi….!”

“Hamba akan segera melaksanakanaya….!” sahut pemilik rumah penginapan itu dengan gelisah, “sedang uang itu tak berani terima, harap tuan simpan kembali…. harap tuan simpan kembali!”

Dengan badan berbungkuk-bungkuk, pemilik rumah penginapan itu mundur kebelakang.

Hoa Thian-hong mengerutkan dahinya, sambil memandang pelayan rumah penginapan, ujarnya, “Siau jiko, siapa yang menghantar jenasah dari dua orang rekanku ini pulang kepenginapan?”

“Peronda kota berhasil mendapat tahu kalau mereka adalah tamu yang menginap dalam rumah penginapan kami, berhubung mereka adalah tamu asing dan lagi salah seorang diantaranya belum kembali, maka terpaksa…. terpaksa jenasah mereka dikirim kembali kerumah penginapan kami” “Dimanakah peristiwa berdarah ini terjadi? apakah ada orang yang menyaksikan jalannya pertarungan itu?”

Pelayan itu gelengkan kepalanya berulang kali.

“Tak ada orang yang menyaksikan jalannya peristiwa itu, dan tak ada orang yang mengatakan telah menyaksikan sesuatu, kejadian berdarah ini terjadi diluar kota sebelah utara, kurang lebih lima enam puluh tombak dari pintu gerbang kota.”

Hoa Thian-hong berpikir sebentar, kemudian menyusupkan uang perak itu ketangan sang pelayan, setelah itu sambil menarik tangan Haputule, mereka berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Setelah keluar dari rumah penginapan, kedua orang itu langsung berangkat menuju kepintu kota sebelah utara.

Sementara itu fajar baru menyingsing dan belum terlalu banyak orang yang berlalu lalang dijalan raya, belum jauh kedua orang itu melakukan perjalanan, tiba-tiba dari arah belakang terdengar ada orang yang menyusul mereka.

Dengan cepat Hoa Thian-hong berpaling kebelakang, ia lihat dua orang bocah cilik yang berusia empat lima tahun dan seorang bocah berusia sepuluh tahun sedang membuntuti perjalanan mereka dengan kencangnya.

Pakaian yang dikenakan mereka berdua telah compang camping dan dekil sekali, rambutnya kusut dan mukanya penuh berminyak, rupanya dua orang bocah itu adalah pengemis-pengemis cilik kota. Yang berusia agak muda hanya berkaki lelanjang, sedang bocah yang agak besaran memakai sepatu, tapi pada waktu itu bocah tersebut telah melepaskan sepatunya dan berlarian dengan kencangnya.

Hanya sayang gerakan tubuh Hoa Thian-hong dan Haputule terlalu cepat, sehingga kendatipun dua orang bocah itu lari dengan sepenuh tenaga namun kian lama mereka tertinggal semakin jauh.

Hoa Thian-hong sendiri sama sekali tidak pikirkan kejadian itu dalam hatinya, sebab dua orang bocah tersebut tidak lebih hanya dua orang bocah pengemis yang sama sekali tak kenal ilmu silat.

Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba dipintu sebelah utara dan sampai ditempat peristiwa berdarah itu terjadi.

Dialas permukaan tanah hanya tersisa dua gumpalan darah yang telah mengering, kecuali itu tiada tanda-tanda lain yang berhasil di temukan lagi.

Hoa Thian-hong berdua tidak putus asa, mereka mencari lagi di sekitar tempat kejadian itu, namun bagaimanapun juga mereka berusaha senjata tajam milik Toohan dan Temotay tak berhasil ditemukan.

Akhirnya dengan wajah murung bercampur sedih Haputule mengeluh, “Ooh….! Hoa toako, bagaimana sekarang? apa yang harus kita lakukan lagi?”

Hoa Thian-hong termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, setelah itu ujarnya, “Mari kita periksa semua rumah penginapan yang ada dikota ini coba kita cari data, apakah dalam beberapa hari berselang ada kaum padri yang menginap disini kemudian kita cari dan selidiki pula setiap kuil yang ada disekitar kota ini. Cuma…. yaaah! perbuatan kita ini ibaratnya mencari jarum dari dasar samudra”

Mendadak dari balik pintu gerbang kota muncul dua buah batok kepala manusia, setelah melirik sekejap ke arah mereka, kepala kecil itu di tarik kembali dengan cepatnya.

Hoa Thian-hong adalah seorang jago persilatan yang memiliki ketajaman mata yang luar biasa, sekilas menandang ia segera kenali kembali mereka berdua sebagai dua orang pengemis cilik yang mengejar dibelakang tubuhnya tadi.

Sambil tersenyum ia segera menggapeh bocah itu seraya serunya, “Eeeei saudara cilik berdua, kemarilah mari kita bercakap-cakap”

Dua orang pengemis cilik maju beberapa langkah kedepan, tapi dengan cepat mereka berhenti dengan wajah terperangah.

Beberapa detik kemudian mereka putar diri dan kabur ke arah kaki tembok kota sambil memberi tanda kepada Hoa Thian-hong berdua.

Melihat tanda itu, si anak muda itu mengerutkan dahinya rapat-rapat, lalu bisiknya, “Ayoh ikuti mereka, coba lihat apa yang hendak mereka lakukan, sambil berkata ia segera maju kedepan.

Buru-buru Haputule mengejar dari belakang, tanyanya dengan nada kebingungan, “Tahukah engkau dua orang pengemis cilik itu berasal dari aliran mana?”

Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya. “Aku sendiripun kurang begitu jelas!” jawabnya.

“Bagaimana kalau kita kejar dua orang bocah itu kemudian menanyai mereka?”

“Aku rasa kalau sampai bertindak begitu, kurang baik, lebih baik ikuti saja mereka berdua dan coba lihat mereka akan bawa kita pergi kemana?”

Dua orang bocah pengemis itu berlarian didepan, sedangkan Hoa Thian-hong dan Haputule mengikuti dibelakang dengan langkah yang santai, kurang lebih setengah jam kemudian sampailah mereka dibawah sebuah pagoda lama yang telah tak terpakai.

Pagoda itu terdiri dari tujuh tingkat dan berdiri disebuah tanah lapang yang luas serta terpencil letaknya, berhubung dimakan usia bangunan tersebut sudah rusak dan hancur, setiap saat ada kemungkinan untuk tumbang ketanah, sekitar bangunan telah dipagari dengan kayu siap untuk dibongkar, tapi karena belum dikerjakan maka diatas pagar terpancanglah sebuah tulisan yang berbunyi, “Dilarang masuk!”

Ketika empat orang itu sudah tiba disekitar bangunan, dari balik semak belukar tiba-tiba berkumandang suara tepuk tangan yang amat nyaring, pengemis yang berusia empat lima belas tahun ini segera balas menepuk tangan mengikuti irama tertentu.

Dari balik semak belukar muncullah seorang bocah pengemis berbadan hitam yang berusia antara tujuh delapan tahun, dengan cepat ia lari menghampiri rekan-rekannya.

“Siau Ngo-ji, ada orang yang datang kemari?” tegur pengemis yang rada besaran itu. Pengemis hitam itu gelengkan kepalanya sementara sepasang biji matanya yang melotot gede memperhatikan Hoa Thian-hong dari atas sampai kebawah, tiba-tiba ia nampak terperanjat hingga mulutnya ternganga dan tubuhnya berdiri menjublak.

Pengemis yang rada besaran itu segera menuding ke arah Hoa Thian-hong sambil berkata, “Dialah Hoa thian….!”

“Ooooh! tak aneh, kalau sejak pandangan pertama aku sudah merasa kenal….” teriak Siau Ngo-ji.

Hoa Thian Hoag tersenyum.

“Saudara cilik, apa yang sedang kau kerjakan seorang diri berada disini?”

Sambil menuding ke arah puncak pagoda dihadapannya, Siau Ngo-ji menjawab, “Jenasah kakek tua dari wilayah See ih berada diatas pagoda itu, aku sedang menjaga jenasahnya agar tidak dicuri orang”

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, Haputule nampak tergetar keras karena terperanjat bagaikan angin puyuh dia langsung lari menuju ke arah pintu pagoda.

“Hey, berhenti!” teriak Siau Ngo-ji dengan suara lantang. Haputule sama sekali tidak menggubris teriakan itu lagi,

sekali hantam ia hajar pintu pagoda itu sampai terbuka lalu dengan cepat menerjang masuk keruang pigoda.

Hoa Thian-hong sangat menguatirkan keselamatan jiwanya, sekali enjot badan bagaikan sambaran kilat ia merebut lari dihadapan mukanya. “Blaammm!” terdengar ledakan keras bergelegar diudara pintu pagoda yang kena diterjang segera membentang lebar dan menumbuk diatas dinding kayu

Dalam sekejap mata debu dan pasir berterbangan memenuhi seluruh angkasa, empat belah dinding bergetar keras seakan-akan sebentar lagi bakal roboh sama sekali.

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, Haputule sama sekali tidak merasakan hal itu.

Ketika ia menengok keatas, tampaklah enam tingkat dibagian bawah sudah roboh sama sekali, hanya pada tingkat yang terakhir saja masih ada lantai papannya, tapi karena jaraknya dari permukaan tanah terlalu tinggi, Haputule tak mampu untuk melayang naik keatns.

Saat itulah Siau Ngo-ji menengok dari luar pintu, sambil menggape serunya dengan suara lantang, “Hoa toako, cepat keluar! hati-hati kalau sampai pagoda itu roboh dan mengubur kalian berdua didalamnya!”

Hoa Thian Hoag segera menarik tangan Haputule sambil serunya, “Saudaraku, ayoh keluar dulu! aku akan naik keatas puncak terakhir untuk memeriksa keadaan disana!”

“Toako!” teriak Haputule dengan sepasang mata berubah jadi merah berapi-api, “suhu pasti sudah mendapat celaka…. suhu pasti sudah mendapat celaka….”

Hoa Thian-hong sundiripun dapat merasakan pula bahwa situasi tidak beres, ia bawa Haputule sampai keluar dari pagar kayu ke mudian sambil mengepos tenaga tubuhnya segera melayang naik keatas pagoda setinggi enam tujuh tombak, sekali ujung bajunya dikibaskan pemuda itu sudah melayang masuk kedalam ruang pagoda.

Siau Ngo-ji membelalakkan matanya lebar-lebar, tiba-tiba sambil acungkan jempolnya ia berkata kepada dua orang pengemis rekannya, “Hoa toako benar-benar hebat kalau dibandingkan dengan hweesio itu…. huuh! kentutnya saja belum bisa mengejar”

Begitu mendengar tentang kehadiran seorang hweesio Haputule tak dapat menahan diri lagi, sekuat tenaga ia loncat naik keatas pagoda tingkat keempat kemudian sekali enjot badannya loncat naik lebih keatas.

Braak….Bluummm! seketika itu juga dinding pagoda jadi retak dan roboh kebawah, Haputule yang menginjak tempat kosong segera terjatuh kembali kebawah.

Dalam Waktu singkat batu bata dan pasir berguguran diatas tanah dengan hebatnya, bangunan lama itu mulai retak-retak lebar dan agaknya sebentar lagi bangunan tersebut sama sekali akan roboh.

Reaksi dari Siau Ngo-ji paling cepat, menyaksikan keadaan tersebut ia segera berteriak keras, “Hoa toako cepat loncat keluar! pagoda itu bakal roboh keatas tanah!”

Sementara itu Hoa Thian Hoag sudah loncat masuk kedalam ruang pagoda tingkat terakhir, begitu sorot matanya dialihkan keruangan itu, hatinya kontan tercekat, ternyata dalam ruangan diatas sebuah tikar buntut berbaringlah sesosok mayat dan mayat itu bukan lain adalah tubuh dari Siang Tang Lay.

Sebuah lobang besar yang penuh berpelepotan darah muncul pada ulu hati Siang Tang Lay, dadanya penuh noda darah, kematiannya sama sekali tidak berbeda dengan kematian yang dialami oleh Toohan maupun Temotay, hal ini membuktikan bahwa pembunuhnya adalah seorang yang sama.

Belum sempat mayat itu diteliti, pagoda itu sudah roboh keatas tanah, tergopoh-gopoh Hoa Thian-hong bopong mayat tersebut dan loncat keluar lewat jendela.

“Braakk! Braakk! Braaakk!!” pagoda kuno itu roboh sama sekali dan hancur Jadi berkeping-keping, pasir dan debu segera beterbangan menyelimuti seluruh angkasa.

Haputule maupun ketiga orang bocah pengemis itu buru- buru loncat mundur kebelakang sedangkan Hoa Thian-hong yang memiliki ilmu meringankan badan amat sempurna segera berputar setengah lingkaran ditengah udara kemudian melayang turun keatas permukaan jauh dari tempat kejadian.

Haputule masih diliputi rasa kaget yang luar biasa ketika Hoa Thian-hong melayang turun keatas permukaan tanah, tapi begitu ia lihat si anak muda itu membopong jenasah dari gurunya, bagaikan orang kalap ia segera menerjang maju kedepan, sambil mendekap mayat tersebut menangislah bocah itu sejadi-jadinya.

Belasan tahun berselang Siang Ting Lay yang berilmu tinggi datang ke wilayah timur untuk bertarung melawan jago persilatan dari daerah Tionggoan dengan andalkan sebilah pedang emas, ia berhasil mengobrak abrik utara maupun selatan daratan Tionggoan tanpa menjumpai seorang lawanpun yang bisa menandingi kehebatannya.

Tapi kemudian ia disergap oleh gabungan tenaga dari Pek Siau-thian, Jin Hian, Thian Ik-cu, Bu Liang Sinkun serta Ciu It- bong sehingga tertuka parah, untung jiwanya diselamatkan oleh Hoa Goan-siu.

Kendatipun begitu badannya sudah jadi cacad dan ilmu silatnya jauh mengalami kemunduran.

Dalam perjalanannya kedaratan Tionggoan kali ini sekaligus ia berhasil melukai Jin Hian dan Thian Ik-cu boleh dibilang sakit hatinya berhasil dibalas sebagian tapi sayang mereka secara beruntun telah mengalami musibah, dari tujuh orang ada enam orang sudah mati dan sekarang tinggal muridnya yang terkecil Haputule seorang, kalau ditinjau kembali maka nasib yang mereka alami benar-benar amat menyedihkan sekali.

Haputule menangis tersedu-sedu, dengan sedihnya karena begitu berduka menyaksikan gurunya dibunuh orang akhirnya pemuda itu jatuh tak sadarkan diri.

Hoa Thian-hong sendiripun melelehkan air mata karena sedih, tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang pemuda yang sudah banyak pengalaman meskipun rasa sedih yang dialaminya sukar dilukiskan dengan kata-kata namun pikirannya tidak sampai kacau karenanya.

Dengan cekatan ia segera mengurut dada Haputule sehingga membuat pemuda itu sadar kembali dari pingsannya.

Sambil membuka kembali matanya lebar-lebar, Haputule memeluk Hoa Thian-hong seraya menangis tersedu-sedu, teriaknya, “Ooooh, toako aku ingin balaskan dendam untuk suhu dan suheng-suhengku, engkau harus membantu aku!”

“Saudaraku engkau tak usah kuatir” jawab Hoa Thian-hong dengan air mata bercucuran”, sekalipun barus pertaruhkan jiwa, aku pasti akan menangkap pembunuh kejam itu agar engkau bisa membalas dendam sendiri atas sakit hati ini”

“Tapi siapakah pembunuhnya? uuuh…. uuuhh…. uuuhh…. kita harus pergi kemana untuk mencari hweesio yang dilahirkan oleh anjing betina itu?”

“Saudaraku, engkau tak perlu gelisah! selama pembunuh itu belum mati, sekalipun dia sudah lari keujung langit atau dasar samudra, kita pasti akan berhasil menangkapnya kembali!”

“Betul, engkau tak perlu kuatir” sambung Siau Ngo-ji terhadap diri Haputule, “selama janji yang diucapkan Hoa toako kami ini selalu ditepati, apa yang lelah dia janjikan tentu akan dilaksanakan sebagaimana mestinya”

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak Hoa Thian- hong, ia segera berseru, “Saudara-saudara cilik sekalian, dari mana kalian bisa tahu akan peristiwa ini? bersediakah kalian ceritakan kisah tersebut kepadaku?”

“Tentu saja bersedia!” jawab Siang ngo ji dengan cepat, ia ber batuk-batuk sebentar, lalu melanjutkan, “Ceritanya begini….”

“Bagaimana jalan ceritanya?” seru Haputule dengan hati cemas.

“Dua hari berselang ketika malam telah menjelang tiba, aku sedang menangkap jangkerik dibawah pagoda ini, tiba-tiba muncul seo rang hweesio sambil membopong seseorang, sekali loncat hweesio itu terbang keudada dan mencapai tingkat keempat, kemudian dalam sekejap mata ia sudah mencapai tingkat teratas!” 0000O0000

62

MENDENGAR sampai disitu, diam-diam Hoa Thian-hong berpikir dihatinya, “Hweesio itu sambil membopong tubuh seseorang sanggup melayang naik keatas puncak pagoda dengan beberapa enjotan badan, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki tentu luar biasa sekali!”

Terdengar Siau Ngo-ji bercerita lebih jauh.

“Dari tingkah lakunya aku segera merasa bahwa asal usul dari hweesio itu agak kurang beres, dalam hati aku mulai berpikir sekali lompat hweesio itu bisa mencapai ketinggian beberapa tombak itu berarti ilmu silat yang dimilikinya pasti lihay sekali, karenanya terpaksa aku cuma bertiarap dibawah pagoda tanpa berani bergerak barang sedikitpun juga”

“Kemudian bagaimana?” sela Haputule dengan hati amat gelisah, “ayoh cepatlah bercerita”

Siau Ngo-ji segera mengerutkan dahinya.

“Tenangkan hatimu, kenapa musti terburu nafsu?” katanya.

Bocah pengemis itu cuma berusia tujuh delapan tahun, tak bisa ilmu silat, badanpun kecil tapi sikapnya luar biasa sekali gagahnya, terutama gerak-geriknya yang cerdik dan aneh, sangat menarik perhatian orang.

Hoa Thian-hong dibikin serba salah, terpaksa dengan suara yang amit lirih ia berkata, “Saudara cilik, cepatlah kalau bercerita, setelah ada petunjuk yang jelas kami akan segera menangkap pembunuh kejam itu” Siau Ngo-ji mengangguk.

“Aku yang bersembunyi dibawah pagoda sempat mendengar hweesio itu mengajukan beberapa pertanyaan kepada suhu dari saudara ini dan mendesaknya untuk menjawab, hweesio itu antara lain bertanya dimanakah kitab pusaka Kiam keng disembunyikan, tapi suhu dari saudara ini cuma tertawa dingin tiada hentinya tanpa mengucapkan sepatah katapun, sikap yang ketus dan tidak bersahabat dari suhunya saudara ini kontan menggusarkan hweesio tersebut, ia segera turun tangan menyiksa suhu dari saudara ini.”

“Bagaimana selanjutnya?” seru Hoa Thian-hong dengan sepasang alis mata berkenyit.

“Kemudian…. mendadak hweesio itu bertanya, ‘Apakah kitab pusaka Kiam keng itu di simpan dalam pedang bajanya Hoa toako?’”

Biji mata bocah itu segera berputar dan melirik sekejap ke arah pedang baja yang tergantung dipinggang Hoa Thiao Hong.

Diam-diam si anak muda itu merasa amat terperanjat, tanyanya lagi, “Lalu apa yang dijawab oleh Siang locianpwee itu?”

Siang locianpwee itu? sepatah katapun ia tidak berbicara, ia tetap membungkam dalam seribu bahasa, mendadak hweesio tersebut tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya begitu keras suara tertawa itu sehingga hampir saja pagoda itu akan roboh, sesaat kemudian terdengarlah Siang locianpwee itu menjerit kesakitan, rupanya hweesio tersebut telah turun tangan untuk membunuh orang.

“Bagaimana selanjutnya?” Pada saat itulah dari luar pagoda terdengar seorang perempuan berbicara, perempuan itu berkata, “Hey Pia Leng- cu…. Pia Leng-cu, dengarkanlah anjuranku dan cepat-cepatlah takluk kepadaku ber gabunglah dengan perkumpulan Kiu-im- kauw kami….”

“Oooh….! jadi mereka adalah Pia Leng-cu serta Kiu-im Kaucu!” seru Haputule dengan terperanjat.

“Emmm! saudaraku, lanjutkan ceritamu, bagaimana selanjutnya?” sela Hoa Thian-hong.

“Hweesio itu…. aah! bukan, Pia Leng-cu itu segera loncat turun dari atas pagoda, dengan sikap yang garang ia berteriak, “Kiu-im Kaucu, engkau jangan terlalu mendesak orang sehingga terpojok, ketahuilah kalau anjing sedang panik tembok pekarangan pun akan diloncati, kalau engkau paksa aku Pia Leng-cu terus sampai tak ada jalan lagi, terpaksa aku akan serahkan pedang emas ini kepada Hoa Thian-hong”

“Apa yang kemudian diucapkan oleh Kiu-im Kaucu?!” kembali Haputule bertanya dengan suara gelisah.

“Apa yang dia katakan?!” Siau Ngo-ji sengaja berjual mahal, setelah berhenti beberapa saat ia baru melanjutkan.

Kiu-im Kaucu tertawa terbahak-bahak, ujarnya, “Waah, kalau engkau berbuat demikian malah jauh lebih bagus lagi, Hoa Thian-hong pernah berhutang budi kepada perkumpulan Kiu-im-kauw kami, kalau engkau serahkan pedang emas itu kepadanya, maka aku akan mintanya kembali dari tangannya, aku yakin ia pasti tak akan menampik” “Hoa toako!” seru Haputule dengan wajah tercengang, “engkau pernah berhutang budi apa sih dengan pihak perkumpulan Kiu-im-kauw?”

Hoa Thian-hong menghela napas panjang. “Aaai….! nyonya hiolo kumala Ku Ing-ing pernah

menghadiahkan sebatang Leng-ci mustika berusia seribu tahun kepadaku untuk memunahkan racun teratai yang mengeram didalam tubuhku, berkat Leng-ci tersebut beberapa orang toyu yang terlukapun berhasil diselamatkan jiwanya, yang dimaksudkan Kuu im kaucu pastilah persoalan ini.”

“Betul!” seru Siau Ngo-ji membenarkan, “Kiu-im Kaucu juga berkata demikian, semula aku masih mengira kalau dia lagi mengibul dan omong besar!”

“Bagaimana selanjutnya?” tanya Hoa Thian-hong. “Kemudian….” Siau Ngo-ji berhenti sejenak, kemudian baru

terusnya.

“Pia Leng-cu segera mendengus dingin, dengan sikap acuh tak acuh dia berkata, ‘Sekalipun ilmu silat yang kau miliki masih setingkat lebih lihay daripada kepandaianku, namun untuk bereskan nyawa aku Pia Leng-cu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, apalagi toh masih ada seorang to yu yang pasti tak akan setuju dengan tindakanmu itu.’”

“To yu yang mana sih yang dia maksud kan?” tanya Hoa Thian-hong keheranan.

“Pada mulanya aku sendiripun keheranan dan tak habis mengerti, tapi setelah kutenggok ke arah mana asalnya suara pembicaraan itu…. oohh hoohh…. rupanya dari arah lain telah berdiri seorang makhluk yang sangat aneh.” “Makhluk aneh macam apa?” tanya Haputule ikut tercengang bercampur keheranan.

“Keanehan yang terdapat pada diri orang itu sukar dilukiskan dengan kata-kata, pokoknya barang siapapun bertemu dengan orang itu maka sekujur badannya akan merinding dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, lagi pula waktu itu udara gelap aku sendiripun tidak dapat melihat jelas raut wajahnya.”

“Apa yang diucapkan mauusia aneh itu?” kembali Haputule bertanya dengan cepat.

“Manusia aneh itu berkata, ‘Pia Leng-cu, darimana engkau bisa menebak kalau kitab Kiam keng disimpan dalam pedang baja milik Hoa Thian-hong?’”

“Benar, dibalik peristiwa ini pasti ada hal yang diluar dugaan” batin Hoa Thian-hong dihati kecilnya.

Terdengar Siau Ngo-ji melanjutkan kembali kata-katanya, “Pia Leng-cu segera menjawab, ‘Gampang sekali untuk menebak hal itu, coba bayangkan saja kitab pusaka Kiam keng tersebut sudah pasti adalah suatu benda yang bisa dilihat tak dapat diambil.’ Siang Tang Lay pun tak dapat mengambilnya, kalau tidak kenapa ia tidak tidak ambil kitab pusaka Kiam keng itu untuk diwariskan kepada anak muridnya, atau dihadiahkan kepada Hoa Thian-hong”

“Pintar juga anjing bulukan ini!” seru Haputule dengan penuh rasa benci dan mendendam.

“Sementara itu Pia Leng-cu melanjutkan kembali kata- katanya!” sambung Siau Ngo-ji lebih jauh, “dia bilang benda pusaka warisan dari Dewa pedang Gi Ko sudah pasti mempunyai sangkut pautnya antara yang satu dengan yang lain, pedang baja yang berada ditangan Hoa Thian-hong adalah sebilah senjata yang kuat dan keras sekali, sebalik nya pedang emas adalah pedang paling tajam di kolong langit, dua bilah senjata yang saling berlawanan ini pasti bukan kebetulan saja sebaliknya mengandung maksud-maksud tertentu.

Mendengar perkataan itu manusia aneh tersebut segera berseru, “Ucapanmu itu sangat masuk diakal dan….”

“Pia Leng-cu pun kembali berkata, ‘Keponakan muridnya menyembunyikan pedang emas itu didalam pedang pusaka Boan liong poo-kiamnya, perbuatannya itu segera menggerakkan kecerdasannya, kalau didalam pedang itu disimpan sejilid kitab pusaka Kiam keng, rasanya hal ini besar sekali kemungkinannya, apalagi pedang baja itu kuat dan ampuh tak mempan dibacok atau ditebas kutung oleh golok atau pedang mustika biasa, sebaliknya hanya bisa ditebas kutung oleh pedang emas, ditinjau dari rentetan hubungan itu bukankah dapat ditarik kesimpulan kalau pedang emas itu sebenarnya tak lain tak bukan adalah kunci untuk mendapatkan kitab pusaka Kiam keng?’”

Mendengar kisah itu, tanpa terata sambil meraba gagang pedangnya Hoa Thian-hong tertawa dingin.

“Hmmm! bagaimana selanjutnya?” ia bertanya.

Kemudian ketiga orang itu saling memaki dan saling membentak, lama kelamaan dari cekcok mulut akhirnya Kiu-im Kaucu bertempur melawan Pia Leng-cu malah bertempur sengit melawan manusia aneh itu sedangkan Pia Leng-cu mengundurkan diri dari gelanggang pertarungan dan melarikan diri dari tempat kejadian, melihat Pia Leng-cu kabur maka Kiu-im Kaucu dan manusia aneh itupun segera berhenti bertempur kedua orang itu dengan cepatnya mengejar Pia Leng-cu yang sudah kabur lebih dahulu, dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah lenyap dari pandangan mata.

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, ia tak dapat menebak siapakah manusia aneh yang berani bertempur melawan Kiu-im Kaucu itu.

Haputule dengan sepasang mata berubah merah berapi-api segera bertanya, “Saudara cilik, apakah engkau sempat melihat jelas ke arah mana ketiga orang itu berlalu?”

“Pada waktu itu aku tak sempat melihat jelas, tapi kedua orang kakak seperguruanmu kemarin sore baru menemui ajalnya, oleh karena itu aku yakin sampai kemarin sore Pia Leng-cu masih berada dikota Lok yang.”

“Pintar sekal bocah cilik ini” pikir Hoa Thian-hong dengan perasaan terperanjat.

Haputule segera berpaling ke arah Hoaa Thian-hong, kemudian ajaknya dengan suara lirih, “Hoa toako, bagaimana kalau kita lakukan penggeledahan lebih dahulu disekitar kota Lok yang, coba libat apakah kita masih dapat menemukan jejak dari bajingan anjing bulukan itu!”

Siau Ngo-ji segera goyangkan tangannya berulang kali sambil menyela dari samping.

“Tak usah dicari lagi, kami telah melakukan pencarian yang teliti diseluruh kota Lok yang, namun tak berhasil menemukan jejak dari ketiga orang itu. Hoa toako lebih baik segera kembali untuk menyambut kedatangan ibumu.”

“Kenapa?” tanya Hoa Thian-hong dengan sepasang dahi berkerut. Pada waktu itu setelah aku kembali kedalam kota, dan menceriterakan kisah kejadian itu kepada Ko toako….

“Ko toako? siapakah dia?” sela Haputule dengan wajah keheranan.

Oooh yaa! dia adalah toako kami! belum habis aku bercerita tiba-tiba saja toako berteriak. Aduh celaka….! pada saat itu juga dia segera mencuri seekor kuda dan berangkat menuju ke kota Cho Ciu….

“Mau apa Ko toako mau berangkat ke kota Cho ciu?”

Ko toako bilang begini: “ketiga orang gembong iblis itu ada maksud untuk mendapatkan kitab Kiam keng, sedang kitab kiam keng didalam pedang baja milik Hoa toako, mereka bertiga pasti akan menggunakan segala daya upaya untuk mendapatkannya. Mendengar perkataan itu aku lantas membantah: ‘Aaahh! tak mungkin, ilmu silat yang dimiliki Hoa toako lihay sekali dan tiada tandingannya di kolong langit, sudah pasti dia tak akan pikirkan ketiga orang itu dalam hatinya’, namun Ko toako tidak sependapat dengan jalan pikiranku ini”

“Lalu apa yang dikatakan Ko toakomu?”

“Ko toako bilang begini: pertama, serangan yang datang secara menggelap sukar di duga, kedua kemungkinan besar tiga orang gembong iblis itu bakal bersekongkol untuk bersama-sama menghadapi Hoa toako seorang, selain itu kami dengar kabar yang mengatakan ilmu silat yang dimiliki ibunya Hoa toako telah punah, seandainya tiga orang itu secara tiba- tiba turun tangan dan menculik ibu Hoa toako bukankah dalam keadaan demikian Hoa toako serta-merta akan serahkan pedang baja itu kepada mereka tanpa syarat? jika ke  tiga orang itu sampai berhasil mendapatkan kitab kiam keng, waaah…. ilmu silat mereka sudah pasti akan lihay sekali!”

Pucat pasi selembar wajah Hoa Thian-hong karena kaget dan terkesiapnya, sambil membelai kepala Siau Ngo-ji ia segera berseru.

“Saudara cilik engkau memang luar biasa sekali! Ko toako mu juga hebat, kalau dibandingkan dengan aku maka kecerdikan kalian jauh lebih hebat beberapa kali lipat”

“Ko toako seperti juga dengan aku, diantara para jago dan orang gagah yang ada di kolong langit kami cuma kagum terhadap Hoa toako seorang” tukas Siau Ngo-ji dengan cepat.