Tiga Maha Besar Jilid 09

 
Jilid 09

Ciu It-bong hendak menerima obat itu dengan tangannya tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera berpikir, “Gadis dari suku Biau ini nampaknya saja berparas muka cantik jelita padahal sekujur badannya penuh dengan racun, aku tak boleh sampai menyentuh setiap benda miliknya.”

Berpikir sampai disitu, dengan suara dingin ia lantas berkata, “Aku hanya minta obat penawar dari Siang Tang Lay, kebaikan hati orang lain tidak sudi kuterima dengan begitu saja.”

Mendengar perkataan itu, Lan-hoa siancu segera mengernyitkan sepasang alis matanya, ia berkata, “Aku sih tak mau tahu apakah yang dinamakan kitab Kiam keng, obat penawar hanya ada sebutir kalau kau tak sudi menerimanya aku akan berikan kepada orang lain agar engkau terpaksa musti tunduk dibawah perintah dan gertakannya!”

“Bagus….! bagus sekali….!” sambung Tong tiang kaucu sambil tertawa, “kalau memang begitu, harap nona serahkan obat pemunah tersebut kepada pinto!”

“Bagus! aku memang punya maksud untuk berbuat begitu”

Ciu It-bong jadi sangat terperanjat, ia segera membuka mulutnya dan mengisap ke tanah, obat penawar yang masih berada dalam genggaman Lan-hoa Siancu itu dengan cepat meluncur kedepan dan masuk kedalam perutnya.

Tapi, setelah obat itu masuk ke perut, ia baru teringat kembali bahwa perempuan dari suku Biau itu sangat beracun, andaikata pil itu mengandung racun yang jauh lebih keji, bukankah selembar jiwanya bakal mampus dengan lebih cepat? Teringat akan mara bahaya yang mengancam jiwanya, jadi gugup dan gelagapan sendiri, paras mukanya berubah sangat hebat.

“Nona, kembali ketempat dudukmu!” tiba-tiba Hoa Hujin berseru kembali dengan suara lantang.

Hoa Hujin sama sekali tidak menunjukkan sikap marah tapi wibawanya besar sekali, kendatipun Biau-nia Sam-sian tiga dewi dari wilayah Biau termasuk manusia-manusia berwatak tinggi hati dan tak sudi tunduk kepada orang lain, namun mereka tak berani membangkang maksud hati perempuan berwajah agung itu.

Ketika mendengar namanya dipanggil, tanpa mengucapkan sepatah katapun Lan-hoa Siancu tergesa-gesa kembali ke baraknya.

Obat racun dari perguruan Kiu-tok Sianci memang tersohor akan kelihaiannya, namun seteleh menelan obat penawar itu,racun tersebut pun menyurut dengan cepatnya.

Setelah Ciu It-bong menelan obat penawar tadi, beberapa saat kemudian racun keji yang bersarang dalam tubuhnya telah lenyap tak berbekas, diam-diam ia bersyukur karena hal itu.

Setelah meletakkan kotak emas tadi didepan tubuhnya, dengan suara lantang kakek cacad ini berseru, “Siang loo te, sebenarnya bagaimana sih caranya untuk membuka kotak emas ini?”

“Oooh….! baru saja engkau menyebut aku sebagai Looji atau tua bangka, sekarang engkau telah menyebut aku dengan panggilan Loo te, dingin panasnya perasaan manusia selalu memang begitu, aaai….! apa tidak membuat hati orang jadi bergidik?”

Ciu It-bong tertawa terbahak-bahak….Haahhh…. haahh…. haahhh…. itulah yang dinamakan harga barang pagi dan malam jauh berbeda, sudah! engkau tak usah banyak bicara lagi cepatlah kita bicarakan persoalan pokok!”

Siang Tang Lay tersenyum, paras mukanya berubah jadi serius dan serunya, “Dalam kotak emas itu sama sekali tidak terdapat alat rahasia apa-apa, benda itu merupakan satu kesatuan yang bulat dan tiada cara untuk membukanya!”

“Kentut busuk!” tukas Ciu It-bong dengan mendongkol, “kalau benda itu merupakan satu kesatuan yang bulat, bagaimana caranya kitab Kiam keng itu bisa menerobos masuk kedalamnya?”

Bukannya gusar Siang Tang Lay malah tertawa. “Benda ini merupakan hasil karya dari seorang

cendekiawan pada jaman dahulu kala, sudah tentu aku sendiripun tidak tahu bagaimana caranya kitab tersebut bisa masuk ke dalam kotak tersebut!!”

“Jadi sebetulnya engkau sudah pernah membaca isi kitab Kiam keng itu atau tidak?”

“Aku belum pernah membaca isinya!” jawab Siang Tang Lay sambil menggeleng.

“Kalau engkau tak pernah melihat kitab tersebut darimana engkau bisa tahu kalau isi kotak ini adalah kitab Kitam keng? bukankah itu berarti bahwa engkau sedang mempermainkan diriku?” teriak Ciu It-bong marah. Pek Siau-thian yang berdiri disampingnya segera berkata dengan suara ketus, “Diatas kotak emas itu bukankah terang- terangan sudah terukir tulisan besar yang berbunyi Kiam keng? engkau buta huruf ataukah sepasang matamu memang sudah buta?”

Ciu It-bong naik darah, ia menerjang maju kedepan sambil melepaskan suatu pukulan dahsyat.

Dengan jurus Hoo Suo lip wi atau berdiri tegak diujung sungai, Pek Siau-thian memunahkan datangnya ancaman itu lengan panjangnya ditekuk keluar dan iapun melancarkan sebuah serangan balasan.

Sudah sepuluh tahun lamanya dua orang itu saling bertempur sengit, kedua belah pihak sama-sama sudah hapal dengan jurus serang an pihak lawannya, kini setelah saling bentrok kembali maka keadaannya menjadi amat hebat ibarat tanggul sungai yang ambrol, serangan demi serangan laksana sambaran petir saling meluncur kepihak lawan, pukulan demi pukulan dilepaskan secara berantai, meskipun diantara para penonton di sisi kalangan terdapat jago-jago yang memiliki ilmu silat jauh lebih tinggi dari kedua orang itu, namun tak urung mereka dibikin kabur juga pandangannya hingga sukar untuk mengikuti jalannya pertarungan itu dengan seksama.

Tiba-tiba Pek Siau-thian membebaskan ujung baju kirinya, segulung angin pukulan yang maha dahsyat meluncur keluar dari balik kebutan tadi, sementara telapak kanannya dengan gerakan hun hoa hud liu atau memisah bunga mengayun pohon itu melepaskan satu pukulan.

Bukan begitu saja, pada saat yang bersamaan kaki kirinya melepaskan pula satu tendangan menghajar batok kepala Ciu It-bong. Ketiga buah jurus serangan itu dilepaskan pada saat yang bersamaan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, kedahsyatannya luar biasa sekali.

Kalau berganti dengan orang lain, mungkin ancaman itu sukar untuk dihadapi, tapi bagi Cui It bong yang sudah hapal gerakan lawan ancaman itu masih terhitung seberapa, sebab dahulu ia pernah merasakan kelihayan dari pukulan semacam ini.

Ditengah berlangsungnya pertarungan yang maha seru itu, tanpa berpikir panjang badannya segera miring sambil membalik ke atas muka pertama ia menghindar dahulu serangan musuh kemudian dengan dengan jurus pukulan Kun sin ci tau in melancarkan satu pukulan yang tak kalah hebatnya.

Serangan itu ditujukan ke arah iga kanan lawan badan bergerak mengikuti serangan tadi dan hebatnya luar biasa terhadap ancaman pukulan telapat dari Pek Siau-thiang ternyata ia ambil sikap tak ambil perduli.

Inilah siasat mengepung Gui menolong Tio suatu siasat bertempur untuk menolong diri yang amat lihay.

Bluuuummmm!! sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya menimbulkan suara benturan yang memekikan telinga.

Pek Siau-thian seketika itu juga terdorong mundur satu langkah kebelakang sedang kan Ciu It-bong sendiripun sama saja, tak mampu menahan getaran pukulan tadi, namun ia tak usah mempersoalkan masalah gengsi, dalam keadaan begini buru-buru ia mengepos tenaga dan menggunakan kesempatan itu untuk meloloskan diri. Setelah berhasil lolos dari jangkauan angin pukulan Pek Siau-thian, jaigo tua she Ciu itu dengan cepat hentikan serangan dan ber diri tak berkutik lagi.

Diam-diam Pek Siau-thian berpikir dalam hati kecilnya, “Pada hari ini seluruh jago dan orang gagah dari kolong langit berkumpul disini, siapa menang siapa kalah masih sukar untuk diduga, kalau aku selisih terus dengan manusia cacad ini, bukan saja aku tak bisa cari kemenangan dalam soal ilmu silat hingga bakal di terta wakan orang, akupun harus membuang tenaga dengan percuma, apa gunanya pertempuran semacam ini dilanjutkan?”

Berpikir sampai disini, diapun segera hentikan kejarannya dan tidak melakukan serangan lebih jauh.

Dipihak lain, Ciu It-bong sendiripun diam-diam sedang berpikir, “Kekuatanku minim sekali dan lagi aku hanya sebatang kara belaka, yang ada hanya musuh tanpa teman, menghadapi situasi seperti ini buang tenaga dengan percuma bukanlah suatu tindakan yang cerdas….”

Karena berpikir begitu, maka diapun tak berani meneruskan pertarungan itu lebih jauh.

Thong-thian Kaucu sendiri ketika dilihatnya pertarungan harus berakhir hanya sampai ditengah jalan belaka, diam-diam merasa kecewa dan sayang, biji matanya segera berputar kemudian sambil tertawa nyaring ia berseru, “Siang sicu, sebaenaruya bagaimana sih caranya untuk membuka kotak emas itu serta ambil keluar kitab kiam keng? harap engkau suka memberi keterangan!”

Mendengar tentang soal kotak emas, Ciu It-bong buru-buru berpaling keatas tanah, ia temukan kotak tersebut masih tetap bera da di tempat semula menubruk kedepan. “Bangsat! enyah kamu dari sini….!” bentak Jin Hian dengan suara dingin.

Telapaknya segera diayun kedepan melepaskan satu pukulan dahsyat.

Ciu It-bong teramat gusar, ia membeatak nyaring dan menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

“Blaamm! ditengah benturan keras yang memekikan telinga, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur kebelakang.

Jin Hian yang berdiri dengan kaki menginjak tanah hanya berhasil dipaksa mundur satu langkah belaka untuk kemudian berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya.

Lain halnya dengan Ciu It-bong yang cuma memiliki sebuah lengan tunggal, apalagi bertempur dengan tubuh mengambang di tengah angkasa ia tidak memiliki daya tahan yang cukup kuat, dalam benturan tadi tubuhnya mencelat kebelakang dan harus bersalto beberapa kali untuk memunahkan tenaga getaran itu sebelum dapat melayang kembali ketanah dengan selamat.

Sementara itu kotak emas tadi masih tetap berada ditempat semula, empat orang delapan buah mata saling menatap dengan ma ta melotot, namun siapapun tidak berhasil menyelesaikan persengketaan itu.

Thong-thian Kaucu sebagai tuan rumah dalam pertemuan itu segera tertawa terbahak-bahak, ujarnya, “Haahh…. haahh…. haahh…. Ciu heng, aku harap engkau jangan mengacau lebih lanjut, kita toh sama-sama merupakan sahabat karib yang sudah berlangsung banyak tahun, bagaimana kalau kira bagi ki tab kiam keng tersebut jadi empat bagian dan kita masing-masing pihak mendapatkan satu bagian?”

“Hmm! perkataan semacam ini masih bisa dianggap suatu perun dingan yang masuk akal jawab Ciu It-bong ketus, “lebih baik kita menunggang keledai sambil membaca buku, lihat saja bagaimana nantinya….

Thong-thian Kaucu tersenyum sorot matanya perlahan- lahan dialihkan kembali kaatas wajah Siang Tang Lay.

Menyaksikan imam tua itu, pedang sakti yang menyapu daratan Tionggoan ini segera mendehem ringan lalu tertawa, katanya, “Meskipun kotak emas itu keras melebihi baja dan tidak mempan dibacok oleh pelbagai senjata mustika namun hanya satu benda yang mampu mengalahkan kerasnya kotak emas itu!”

“Oohh….! benda apakah itu?” tanya Tong tiang kaucu dengan wajah tercengang.

Siang Tang Lay tersenyum.

“Benda itu bukan lain adalab pedang emas yang pernah kugunakan sebagai senjata andalan, hanya pedang emas yang kecil iti saja yang mampu membuka kotak emas itu, oleh sebab itulah jika kalian ingin mendapatkan kitab Kiam keng yang berada dalam kotak emas itu dengan gampang dan tanpa membuang banyak tenaga satu-satunya jalan hanyalah menemukan pedang emas tersebut.

Setelah ucapan itu diutarakan keluar maka tanpa sadar Thong-thian Kaucu , Pek Siau-thian serta Ciu It-bong alihkan sorot mata mereka yang tajam bagaikan pisau menatap wajan Jin Hian, sementara ribuan orang jago lainnya yang berada diempat penjuru juga bersama-sama dialihkan keatas wajah sang ketua dan perkumpulan Hong-im-hwie ini.

“Tua bangka she Jin!!” tiba-tiba terdengar Ciu It-bong membentak nyaring, “ayoh cepat kembalikan pedang emas milikku itu kalau tidak maka engkau bakal mampus ditempat ini tanpa tempat mengubur mayatmu!”

“Hmm! sayang sekali engkau punya hasrat namun tenaga kurang engkau tak akan mampu mengganggu seujung rambutku” jawab Jin Hian sinis.

00000O00000

54

KEMARAHAN Ciu It-bong benar-benar memuncak dan sukar dikendalikan lagi, diam-diam ia himpun tenaga dalamnya kedalam tela pak ia bermaksud melakukan suatu sergapan tiba-tiba dikala pihak lawan tidak siap.

Namun Jin Hian sendiri bukanlah seorang manusia tolol, kendatipun diluaran ia tidak nampak siap bahkan ambil perhatianpun tidak, padahal dalam kenyataannya ia sudah bersiap siaga penuh dan sedikitpun tidak berani bertindak gegabah.

“Jin heng….!” tiba-tiba terdengar Thong-thian Kaucu berkata, “sudah belasan tehun lamanya kita gagal untuk mengungkapkan rahasia yang menyelimuti pedang emas tersebut, akhirnya hari ini rahasia mengenai pedang emas itu terungkap juga.

“Hmm! mungkin hanya too beng seorang yang mengerti, aku sih tetap tidak mengerti,” jawab Jin Hian ketus. Tong tian kaucu menengadah keatas dan tertawa terbahak- bahak.

“Haahh…. haahh…. haahh…. kenapa sih Jin heng musti berlagak pilon dan pura-pura bodoh? pedang emas itu merupakan kunci dari kitab pusaka Kiam keng, tanpa pedang emas itu berarti kitab emas tersebut tak mungkin bisa dibelah, tanpa membelah kotak emas itu maka kitab kiam keng ibarat rembulan diatas permukaan air, bunga dibalik cermin, bisa dilihat tidak bisa dijamah bukankah sama sekali tak ada gunanya?”

“Benar juga perkataan ini” pikir Jin Hian dalam hati, bayangkan saja bagaimana tajamnya pedang mustika Boan liong poo kiam, ternyata kotak emas itu sama sekali tidak gumpil atau cedera, dari sini dapat dibuktikan bahwa pedang mustika atau golok mustika biasa tak mungkin bisa membelah kotak emas itu….”

Setelah termenung sejenak, ia berpikir lebih jauh, “Pedang emas milikku sudah dicuri orang, bahkan jiwa Bong ji pun harus ikut dikorbankan, bila kuceritakan tentang pencurinya pedang emas ini kepada umum, secuali pembunuh yang telah mencuri pedang itu, orang lain pasti tak akan percaya dengan perkataanku, sebaik nya kalau tidak kukatakan keluar maka tindakanku ini pasti akan menggusarkan semua pihak, akulah yang bakal jadi sasaran utama kemarahan mereka itu….”

Makin berpikir ia makin bingung tanpa terasa keringat dingin mengucur keluar membasahi tubuhnya.

Terdengar Thong-thian Kaucu dengan nada dingin perlahan-lahan berkata kembali, “Karena persoalan pedang emas itu perselisihan antara Jin heng, Pek heng din Ciu heng berlangsung tiada hentinya, pertarungan secara terang- terangan atau perebutan secara diam-diam berlangsung terus tiada habisnya, keadaan semacam ini bukan saja merusak rasa persaudaraan dan rasa setia kawan antara sesama umat persilatan, bahkan sangat melemahkan kekuatan kita untuk bersatu padu bagaimanapun juga persoalan mengenai pedang emas harus dibikin terang hari ini juga, kita tak boleh meniru kegagalan-kegagalan kita yang telah lalu sehingga jatuh kecundang kembali ditangan lawan.

“Keterangan dan pendapat too heng luar biasa dan sangat mengagumkan hatiku,” jawab Jin Hian ketus, “sayang seribu sayang, pedang emas milikku itu sudah dicuri orang, karena itu kendatipun too heng bicara lebih jauh juga tak ada gunanya!”

“Kentut busuk!” maki Ciu It-bong gusar, “sekalipun bocah umur tiga tahun juga tak mempercayai obrolan omong kosongmu itu!”

Nafsu membunuh yang sangat tebal melintas dialas wajah Jin Hian, ia berkata dengan suara menyeramkan.

“Tua bangka sialan, kalau engkau tak mempercayai omonganku lantas engkau mau apa?”

Ciu It-bong adalah seorang jago tua yang berwatak berangasan, mendengar tantangan yang kasar ini, kKontan ia naik pitam, tubuhnya siap melakukan tubrukan kedepan.

“Eeeei nanti dulu nanti dulu!” cegah Thong-thian Kaucu sambil goyangkan lengannya berulang kali, “pinto mempunyai satu cara untuk membuktikan apakah peristiwa hilangnya pedang emas itu dari saku Jin heng adalah kejadian yang benar atau cuma omong kosong belaka”

“Apa caramu itu?” hardik Jin Hian. Thong-thian Kaucu tersenyum.

“Andaikata peiang emas itu masih berada ditangan Jin heng dan sana sekali tidak pernah hilang tercuri, kemudian kotak emas ini berhasil didapitkaa pula oleh Jin heng dan ilmu silat maha sakti dari Malaikat pedang Gi Ko didapatkan juga oleh Jin heng, maka….”

Berbicara sampai disini ia tertawa dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya, “Maka sepasang mata too heng akan berubah merah karena iri, bukan begitu?!” sambung Jin Hian dengan seram.

Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak.

“Haahh…. haahh…. haaah…. pinto sih belum tentu bermata merah, cuma pada waktu itu ilmu silat yang Jin heng miliki akan menjadi nomor satu di kolong langit, pinto sekalian tidak akan mampu mengejar ketinggalan itu, hal ini menyebabkan Jin heng sekalipun berhasil mendapatkan ilmu tapi kehilangan teman, bukankah kejadian ini sangat tidak berharga bagimu?”

“Hmm! sempurna amat jalan pikiran Too heng!” ejek Jin Hian sambil mendengus dingin.

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Menurut penglihatan t o-heng, bagaimana cara yang terbaik untuk memecahkan masalah ini?”

Thong-thian Kaucu tertawa, dengan sikap yang santai ia menjawab, “Menurut pendapat pinto yang bodoh, kalau toh Jin heng sudah kehilangan pedang emas itu, kendatipun kotak emas ini berhasil kau dapatkan juga sama sekali tak ada gunanya, untuk membuktikan bahwa peristiwa hilangnya pedang emas itu dicuri orang bukan berita isapan jempol belaka, pinto persilahkan Jin beng untuk segera mengundurkan diri dari perebutan kotak emas ini!”

“Betul!” teriak Ciu It-bong dengan suara keras, tua bangka she Jin! jika engkau masih mengincar kotak emas itu, maka itu berarti bahwa peristiwa hilangnya pedang emas karena dicuri orang adalah berita kosong belaka, siapa tahu berita tentang kematian putramu juga merupakan berita sensasi belaka!”

Karena amat mendongkol bercampur marah, Jin Hian tertawa keras, paras mukanya berubah jadi hijau membesi.

“Bagus! bagus! bagus!” jeritnya dengan suara lengking, aku orang she Jin akan segera mengundurkan diri dari perbuatan kitab Kiam keng, akan kulihat bagaimana caranya kalian akan membagi kotak emas tersebut….?”

Thong-thian Kaucu seketika alihkan sorot matanya menyapu sekejap para jago disekeliling arena, setelah itu ujarnya, “Pek heng, pedang emas itu sudah lama lenyap tak berbekas untuk beberapa waktu lamanya tak mungkin bisa ditemukan, menurut pendapat pinto lebih baik kotak emas tersebut untuk sementara waktu kita berdua yang menyimpan”

“Perkaraan Too heng sedikitpun tidak salah” jawab Pek Siau-thian dengan suara tawa.

Thong-thian Kaucu kembali tersenyum.

“Pek heng adalah satu-satunya orang yang pernah membaca isi catatan kitab pedang Kiam keng bu kui secara komplit, asal engkau suka meneliti dan mempelajari isinya dengan seksama kendatipun tak bisa disebut orang paling lihay di kolong langit paling sedikit engkau bisa melatih diri hingga mencapai taraf ilmu silat yang pernah dimiliki Siang sicu, aku rasa kitab Kiam keng ini sudah ti dak memiliki banyak kegunaan lagi bagimu.

“Kalau memang begitu biarlah aku saja yang menanggung resiko dengan menyimpan kotak emas ini untuk sementara!” seru Pek Siau-thian cepat.

Ia segera maju kedepan dan hendak pungut kotak emas itu.

“Huuuh! jangan mimpi disiang hari bolong bentak Ciu It- bong sambil melepaskan satu pukulan.

Pek Siau-thian melancarkan satu pukulan juga untuk pukul mundur angin pukulan dari Ciu It-bong, sambil tertawa dingin katanya, “Tua bangka yang sudah cacad engkau berani menghalangi persoalan yang telah diputuskan bersama oleh orang-orang dari Thong-thian-kauw dan Hong-im-hwie?

Hmmm! rupanya engkau sudah bosan hidup.

“Heeeh…. hheeeehh…. heeeh…. tua bangka she Pek kalau engkau dilahirkan oleh ibumu dan dibuat oleh bapakmu maka sekarang sepantasnya berani berduel satu lawan satu dengan diriku sebelum mati jangan berhenti…. ini hari juga kita tetapkan siapa yang berhak untuk hidup lebih jauh!”

Pek Siau-thian tidak langsung melayani tantangan dan Ciu It-bong itu dalam hati ia berpikir, “Catatan kitab peding kiam keng bu kui benar-benar merupakan kunci dasar dari suatu ilmu silat tingkat tinggi, Hoa Thian-hong bocah keparat itu hanya sempat mendengar beberapa patah kata saja kehebatan ilmu pedangnya telah berlipat ganda, sayang aliran ilmu silat yang kupelajari jauh berbeda dengan kunci ilmu silat tersebut hingga untuk beberapa waktu tak mungkin bisa menghisap kebaikan dan manfaatnya, kalau tidak binatang tua yang sudah cacad ini pasti akan kubereskan dulu riwayat hidupnya.”

Berpikir sampai disini, ia merasa mendongkol bercampur gusar sorot matanya segera dialihkan ke arah Siang Tang Lay dan berkata dengan suara ketus, “Baik pedang emas maupun kotak erras itu pernah bersama-sama jatuh ketanganmu, mengapa engkau tak ambil keluar kitab Kiam keng tersebut? kejadian ini benar-benar mencurigakan sekali!”

“Betul!” teriak Ciu It-bong pula, tua bangka she Siang, “sebetulnya permainan setan apakah yang sedang kau lakukan?”

Siang Tang Lay tersenyum.

“Aku hanya melatih catatan ilmu pedang Kiam keng bu kui, sejak kalian berempat sudah tidak mampu menangkan diriku, apa gunanya melatih ilmu silat yang jauh lebih tinggi?”

Paras muka Thong-thian Kaucu, Pek Siau-thian, Jin Hian serta Ciu It-bong segera berubah jadi merah padam, bicara sesungguhnya dalam kenyataan memang terbukti begitu, maka tak seorangpun ddiantara keempat orang itu yang buka suara.

Diam-diam Pek Siau-thian berpikir, “Jika ilmu silatnya berhasil dilatih hingga mencapai taraf yang begitu tinggnya seseorang memang tidak terburu nafsu untuk melatih isi dari kitab kiam keng, mungkin apa yang diucapkan ada benarnya juga”

Berpikir sampai disitu ambisinya untuk mendapatkan kitab pusaka kiam keng mekin besar tapi diapun tahu bahwa Thian Ik-cu maupun Jin Hian sekalian tak akan berhati sosial dengan menyerahkan kitab pusaka itu Untuk dimiliki sendiri, untuk menyelesaikan pertikaian tersebut hanya ada satu jalan saja yang dapat ditempuh yaitu penyelesaian dengan jalan kekerasan.

Terdengar Thong-thian Kaucu berkata, “Pek heng, engkau pernah menjebloskan Ciu heng kedalam penjara selama sepuluh tahun lamanya, jika kitab pusaka kiam keng itu disimpan olehmu tentu saja ia tidak akan terima.”

Melihat imam tua dari perkumpulan Thong-thian-kauw itu berusaha mengungkit soal lama, Pek Siau-thian segera tertawa dingin.

“Heehh…. heeeehh…. heeehh…. kalau memang begitu biarlah kitab kiam keng tersebut untuk sementara waktu disimpan oleh too heng!”

“Baiklah, pinto sebagai tuan rumah memang sudah sepantasnya untuk memberikan bantuan kepada siapapun!”

Ia kebaskan ujung bajunya dan mengulung kotak emas yang berada diatas tanah.

Tiba-tiba Jin Hian berteriak deugan suara menyeramkan, “Barang siapa berani mengambil kotak emas itu maka dialah yang telah mencuri pedang emas dan dia juga yans telah mencelakai jiwa putraku, semua saudara dari perkumpulan Hong-im-hwie akan bersama-sama bikin perhitungan dengan dirinya, kami tak akan memperhitungkan mana hitam mana putih sebelum salah satu pihak hancur, pertempuran tidak akan dihentikan.”

Paras muka Tong tiang kauau berubah hebat, serunya dengan gusar, “Jin heng, kita semua adalah orang-orang yang sudah punya umur, jika engkau main fitnah belaka, jangan salahkan kalau pinto tak mampu menahan diri lagi!” Jin Hian tertawa dingin.

“Heehh…. heehh…. heehh…. yang bisa menahan diri harus menahan diri, yang tak bisa menahan diripun harus menahan diri”

Dari balik barak ditepi gelanggang, tiba-tiba berkumandang keluar suara teriakan Hian Leng cu yang amat nyaring, “Dalam pertikaian mengenai kitab pusala Kiam keng, perkumpulan kami mengundurkan diri!”

Tenaga dalam yang dimiliki imam tua ini sukar diukur dengan kata-kata, walaupun hanya sepatah kata yang ringan namun semua orang yang hadir dalam lembah itu merasakan bahwa ucapan tersebut seakan-akan dipancarkan dari sisi tubuh mereka, begitu nyaring dan tajam hingga kelihatannya seolah-olah sama sekali tidak menggunakan tenaga.

Hoa Hujin memang sudah tahu kalau imam tua itu adalah seorang musuh tangguh, kini setelah mendengar ucapannya yang nyaring maka tanpa sadar kewaspadaannya makin dipertingkat.

Dalam pada itu, Thong-thian Kaucu yang berada ditengah gelanggang mula-mula tertegun, kemudian ia berpikir lebih jauh, “Benar juga perkataan dari paman guru, perduli siapa yang mengambil kotak emas itu, toh kotak tersebut hanya disimpan untuk sementara waktu, bilamana ada minat selesai pertemuan besar ini toh masih ada banyak keempatan untuk merampasnya kembali….”

Karena berpikir demikian, maka ia segera ulapkan tangannya sambil berseru, “Perkumpulan Thong-thian-kauw mengundurkan diri dari perbuatan kotak emas tersebut, siapa ada kegembiraan silahkan untuk mengambilnya!” Mendengar seruan tersebut, Ciu It-bong berusaha untuk merampas kotak emas itu, tapi Pek Siau-thian yang berdiri lebih dekat segera putar pergelangan melepaskan satu babatan kilat. Kedua orang jago itu secepat kilat saling bertempur sebanyak tiga gebrakan, siapapun tak berani menggunakan tenaga yang berle bihan, karenanya setelah lewat tiga gebrakan mereka berhenti dengan sendirinya.

Terdengar Jin Hian berkata dengan suara dalam, “Tua bangka she Ciu, engkau tidak lebih hanya setan gentayangan yang berdiri sendiri, kitab pusaka Kiam keng tersebut tidak mungkin bisa terjatuh ketanganmu, menurut penglihatan aku orang she Jin, lebih baik benda itu untuk sementara waktu disimpan oleh manusia yang punya rumah dan harta saja!”

Tertegun Ciu It-bong mendengar perkataan itu, ia tahu yang dimaksudkan orang yang punya rumah dan harta bukan lain adalah Pek Siau-thian, tapi ia tak habis mengerti mengapa secara tiba-tiba Jin Hian bisa berubah pikiran dan memutuskan begitu?

Sudah tentu Pek Siau-thian sendiripun tahu, kendatipun kotak emas tersebut berhasil didapatkan olehnya namun persoalan belum beres sampai disitu saja, sekalipun begitu setelah kitab pusaka berhasil didapatkan, ia tak sudi melepaskannya dengan begitu saja. 

Ujung bajunya dikebas kemuka dan kotak emas itu sudah terjatuh ketangannya.

Sepasang mata Ciu It-bong berapi-api dan hampir saja melotot keluar, tapi ia tahu bahwa anggota perkumpulan Sin- kie-pang banyak sekali jika Thong-thian Kaucu dan Jin Hian tidak menghalang-halangi usaha itu maka dengan andalkan kekuatannya seorang bukan tandingan dari Pek Siau-thian.

Oleh karena itulah meskipun dengan mata terbelalak ia saksikan Pek Siau-thian mengambil kotak emas itu namun sendiri tak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba terdengar Thong-thian Kaucu berseru kembali dengan suara lantang, “Siang sicu masalah kitab pusaka Kiam keng sudah lewat dan teka teki yang menyelimuti pedang emas juga sudah selesai, sekarang masih ada urusan lagi yang hendak kau utarakan?”

Siang Tang Lay tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…. haah…. haah…. urusan yang masih tertinggal hanyalah membalas dendam untuk menyelesaikan sakit hati yang masih tersisa!”

Sorot matanya segera dialihkan ke arah muridnya yang berada disamping, sambungnya lebih jauh, “Kalian segera atur barisan pedang dan mintalah petunjuk dari beberapa orang cianpwee itu!”

“Tecu sekalian mentaati perintah dari suhu!” jawab enam orang pemuda berpakaian ringkas itu sambil memberi hormat.

Dua orang dianteranya buru-buru mendorong kereta beroda itu menghantar Siang Tang Lay mendekati mimbar kehormatan, kemudian mereka ikut maju ketengah gelanggang.

Enam orang menempati posisi yang berbeda, dalam waktu singkat mereka sudah mengurung tiga orang pemimpin diri tiga kekuatan besar serta Ciu It-bong ditengah kepungan. Thong-thian Kaucu sekalipun saling berpandangan sekejap lalu tertawa terbahak-bahak, empat orang itu merupakan gembong iblis yang menguasai suatu bagian dunia, barisan yang dibentuk oleh Siang Tang Lay dihadapan mereka ini tentu saja amat menggelikan hati orang-orang itu.

Ciu It-bong yang berwatak paling berangasan segera menuding salah seorang pemuda dihadapannya sambil berseru, “Siang Tang Lay, engkau hendak suruh enam orang bocah ingusan itu uatuk membunuh kami empat orang tua bangka?”

Siang Tang Lay tertawa.

“Aku memang mempunyai niat untuk berbuat begitu tapi seandainya gagal aku harap kalian semua jangan menertawakan!”

“Hmm! aku tidak percaya!” bentak Ciu It-bong.

Ia putar telapaknya dan segera melepaskan satu pukulan dahsyat ke arah seorang pemuda berpakaian ringkas yang berada disampingnya.

Pemuda itu membentak nyaring dia ayun tangannya dan serentetan cahaya perak segera meluncur kedepan balas menyergap tubuh Ciu It-bong, meskipun serangan dilepaskan belakangan tapi tiba lebih awal kedahysatannya benar-benar menganggumkan.

Ciu It-bong terperanjat, ia segera mengepos tenaga dan melayang beberapa depa ke samping.

Terdengar serentetan bentakan keras memenuhi angkasa, enam orang pemuda berpakaian ringkas itu dengan cepat menggerakan tubuh mereka mengitari arena, makin berputar gerakannya semakin cepat sehingga akhirnya yang nampak hanyalah kilatan-kilatan cahaya perak yang menggulung ketempat orang itu.

Pek Siau-thian mengernyitkan sepasang alis matanya yang putih dalam hati ia berpikir.

Yang datang pasti tidak membawa maksud baik, yang bermaksud baik tidak akan datang, kalau tua bangka she Siang itu tidak yakin bisa menangkan pertarungan ini, tak mungkin ia berani muncul kembali dalam daratan Tionggoan untuk jual kejelekan bahkan menghantar pula jiwanya.

Kotak emas itu mengandung racun keji dan tak mungkin bisa disimpan dalam saku karenanya ia berusaha untuK mengundurkan diri kedalam barak serta menyembunyikan benda tersebut.

Dengan cepat ia lepaskan bajunya dan membungkus kotak emas itu kemudian dipindahkan ketangan kiri dalam keadaan demikian ia langsung menerjang keluar dari kepungan.

Bentakan nyaring berkumandang di angkasa, serentetan cahaya perak bagaikan seekor naga berputar di angkasa tiba- tiba mengancam dadanya.

Pek Siau-thian merasa amat terperanjat, pikirnya, “Benarkah kawanan bocah ingusan itu sudah berhasil mendapatkan seluruh warisan dari Siang Tang Lay? sungguh lihay serangan itu!”

Ia mengegos kesamping dan melancarkan sebuah pukulan balasan.

Cahaya perak itu mundur kembali kebelakang sesudah mencapai tengah jalan, baru saja Pek Siau-thian tertegun, mendadak hawa pedang yang menyengat badan sudah mangancam punggungnya, ketika ia berpaling sebuag cahaya perak telah berada didepan mata.

Diam-diam Thong-thian Kaucu yang menyaksikan kejadian itu merasa terkesiap, pikirnya, “Cepat sekali gerakan pedang bocah itu, ibaratnya naga sakti yang kelihatan kepala tak nampak ekornya, sukar diraba oleh sia papun.

Belum habis ia berpikir, cahaya perak menyambar tiba dan amat menyilaukan mata, ia merasa datangnya sergapan dari belakang yang sangat lihay.

Buru-buru imam tua itu loncat maju kedepan untuk menghindarkan diri dan ancaman pedang itu.

Dengan tingkat kedudukan beberapa orang itu, sebenarnya mereka segan untuk melayani beberapa orang pemuda ingusan tersebut, akan tetapi setelah enam orang pemuda berpakaian ringkas itu membentangkan barisan pedangnya, seketika itu juga seluruh arena dipenuhi oleh cahaya perak yang menyilaukan mata, desiran angin tajam menyambar silih berganti, hal ini memaksa Pek Siau-thian berempat mau tak mau terpaksa harus melakukan perlawanan.

Baik Thong-thian Kaucu maupun Pek Siau-thian mereka berdua sama-sama mempunyai pikiran untuk meloloskan diri dari kepunggan barisan pedang kecil itu dan kemudian akan memerintahkan anak buahnya untuk menggantikan kedudukan mereka, siapa tahu terjangan yang mereka lakukan beberapa kali semuanya mengalami kegagalan total, ken datipun sudah dicoba dengan cara apapun terjangan tersebut masih tetap gagal.

Berada dalam kepungan enam orang pemuda itu, walaupun Thong-thian Kaucu sekalian tak mampu menerjang keluar dari kurungan itu, merekapun tak bisa berteriak pula untuk memerintahkan anak buah mereka yang ada diluar barisan untuk menyerang secara serentak, karena itulah untuk beberapa saat lamanya terpaksa mereka harus melangsungkan pertarungan sengit dalam barisan tadi.

Haruslah diketahui bagimanapun lihaynya suatu barisan, meskipun orang yang terkurung dalam barisan itu mengalami keadaan yang kritis dan berbahaya, tapi di lihat dari luar barisan maka pertarungan itu hanya berlangsung secara datar dan biasa saja.

Karena itulah Thong-thian Kaucu berempat yang sedang bertempur sengit kendatipun mereka sudah mengerahkan hampir segenap kekuatan yang dimiliki tapi bagi orang-orang yang ada diluar barisan kecuali beberapa orang yang mengerti akan ilmu barisan, rata-rata berpendapat bahwa Thong-thian Kaucu sekalian sengaja sedang mempermainkan lawannya dengan tujuan untuk mengamati perubahan-perubahan dalam barisan itu kemudian baru menghancurkan dalam sekali serangan, siapapun tak ada yang menyangka kalau empat orang gembong iblis yang tersohor akan kelihayannya itu sebetulnya sudah terkurung rapat oleh beberapa orang pemuda ingusan yang tidak bernama sama sekali.

Bagaimanapun juga keempat orang itu andalah kawakan yang sangat berpengalaman, sudah banyak pertarungan besar atau pertarungan kecil yang mereka hadapi, setelah bertempur beberapa saat mereka berhasil menemukan sumber kelihayan dan ilmu barisan itu mereka tahu bahwa enam orang pemuda itu memiliki ilmu silat yang amat lihay jika mereka bermaksud meloloskan diri dari kepungan barisan itu dengan jalan jujur maka hal ini merupakan suatu pekerjaan yang amat susah. Setelah mereka berempat dapat menyaksikan keadaan yang sebenarnya dangan cepat perhatian dan kosentrasinya dipusatkan jadi satu untuk mengamati perubahan-perubahan barisan pedang itu selain dari pada itu, merekapun mulai mengamaii gerakan ilmu pedang dari beberapa orang pemuda tersebut.

Setelah keempat orang itu menenangkan hatinya, daya pukulan yang dilepaskan pun berlipat ganda, enam orang pemuda itu seketika merasakan daya serangan yang dilancarkan pihak musuh makin berat mereka tak dapat melakukan terkaman dan terjangan lagi seperti keadaan permulaan tadi.

Pemuda yang menjadi pimpinan dalam barisan itu segera menyadari pula akan keadaan tersebut, ia segera membentak nyaring dan dalam waktu singkat keadaan kembali terjadi perubahan.

Sepasang mata Pek Siau-thian yang tajam mengikuti terus perubahan barisan itu dengan seksama, ia lihat keenam orang pemuda itu berputar mengitari barisan dengan langkah yang teratur mereka selalu menyergap dan menyerang dari lingkaran luar dalam ayunan tangan cahaya perak segera meluncur datang dan gerakan tubuh beberapa orang itupun ikut berputar mengikuti kilatan cahava perak tadi, berhubung cepatnya gerakan dan barisan yang selalu berputar maka sekilas pandangan keadaan tersebut bagaikan beberapa ekor naga perak yang sedang berputar mempermainkan empat orang korbannya yang ada ditengah kepungan.

Ilmu barisan itu luar biasa sekali dan indah dipandang, empat orang yang terkepung merasakan jantung mereka berdebar keras, dengan andalkan ilmu silat mereka yang lihay dan pengalaman yang luas, untuk sementara waktu keselamatan mereka masih dapat terjamin karena itu siapapun tidak ingin menempuh bahaya untuk menerobos keluar dari kepungan.

Ci-wi Siancu yang berada dalam barak segera dibikin terpesona oleh pertarungan itu, ia lihat enam orang pemuda itu bertempur sambil berputar, pedang perak mereka berputar dan berkelebat selalu mengancam tempat-tempat penting di tubuh lawan, sebaliknya Thong-thian Kaucu sekalian mematahkan setiap arcaman datang, kadangkala ma ju kadang kala mundur, kedua belah pihak seolah-olah tidak menyerang sepenuh tenaga dan pertarungan itu tidak mirip pertarungan mati-matikan, hal ini lama kelamaan mencengangkan hatinya.

Diam-diam ia lantas mencowel ujung baju Hoa Hujin, bisiknya dengan lirih, “Hujin, kalau pertarungan tersebut harus dilangsungkan dalam keadaan seperti ini bagaimana mungkin dendam sakit hatinya bisa terbalas? kalau dikatakan beradu lenaga dalam rasanya Pek Siau-thian sekalian pasti tak akan lebih lemah dari beberapa orang pemuda itu bukan?”

Hoa Hujin termenung sebentar, kemudian jawabnya, “Kesaktian dari barisan pedang itu memang amat luar biasa, sekali memandang siapapun akan tahu bahwa barisan itu memiliki asal usul yang luar biasa namun perkataanmu ada benarnya juga, bila hendak mengandalkan tenaga dalam dari keenam orang itu untuk melukai jiwa Pek Siau-thian sekalian rasanya cara ini masih sukar untuk diwujudkan, aku benar- benar tidak habis mengerti apa maksud dan tujuan dari Siang locianpwee untuk melakukan kesemuanya itu”

Tiba-tiba terdengar Thong-thian Kaucu berseru keras, “Siang sicu, barisan pedang ini memang luar biasa sekali, bolehkah aku mengetahui nama diri ilmu barisanmu ini?” Pada waktu itu Siang Tong Lay sedang pusatkan seluruh perhatiannya untuk mengikuti jalannya pertarungan ditengah gelang gang, mendengar pertanyaan itu ia tertawa dan menjawab, “Ilmu barisan ini merupakan ilmu warisan dan Malaikat pedang Gi Ko dan dinamakan Lak liong gi thian kiam tin atau barisan pedang enam naga terbang dilangit, sayang tenaga dalam yang dimiliki murid-murid ku masih terlalu cetek sehingga tak mampu menunjukkan kelihayan yang sebenarnya”

Jin Hian yang mendengar perkataan itu, diam-diam berpikir dalam hati kecilnya, “Hmmm, untung empat orang tua bangka bersama-sama terjerumus dalam barisan ini, kalau cuma seorang diri…. entah apa yang terjadi?”

Pek Siau-thian pun sedang berpikir didalam hatinya, “Jangan dikata daya serangan belum mencapai sebagaimana mestinya, sekalipun engkau hendak tukar kitab kiam keng dengan keenam orang bocah itupun dengan sukarela akan kulayani….”

Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, mendadak telinganya berhasil menangkap serentetan suara yang amat lembut dan sukar dibedakan dengan suara lainnya.

Sura itu begitu lembut dau halus seakan-akan ada dan seakan-akan tidak, hal ini membuat Pek Siau-thian sendiri tak dapat membedakan apakah suara itu berasal dari telinganya atau muncul dari dalam hati.

Ia adalah seorang jago tua yang sangat teliti, setelah menemukan tanda yang mencurigakan, sudah tentu ia tak sudi melepaskannya dengan begitu saja, ia segera pusatkan s luruh perhatiannya untuk mencari sumbar dari suara itu. Tiba-tiba terdengarlah pemuda yang memimpin barisan itu membentak keras, dalam sekejap mata barisan itu berputar dengan cepatnya, cahaya perak menyilaukan mata, hawa desiran tajam memekikan telinga, hal ini memaksa Thong- thian Kaucu sekalian terpaksa harus memperketat serangan mereka untuk membela diri.

Dalam waktu singkat, pertarungan yang berlangsung ditengah gelanggang telah mencapai pada puncaknya, enam orang pemuda itu putar pedangnya sambil melancarkan serangan bertubi-tubi, keadaan makin seru….

Semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata, Pek Siau-thian yang harus meayani serangan musuh dengan tangan kanan memegang kotak emas dengan tangan kiri terpaksa harus pusatkan kembali perhatiannya untuk bertempur, dengan begitu sumber dari munculnya suara aneh itupun makin sulit ditemukan.

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak ketua perkumpulan Sin-kie-pang ini, pikirnya, “Keadaan yang kuhadapi pada hari ini sungguh aneh, andaikata tujuan kedatangan dari Siang Tang Lay untuk membalas dendam, maka ia tak akan menyerahkan kitab pusaka Kiam keng kepada musuhnya dengan begitu saja, bagaimanapun aku toh sudah pernah membaca isi catatan pedang Kiam keng bu kui secara lengkap, kendatipun kitab Kiam keng ini harus musnah juga tak apa yang penting jiwaku harus selamat…. aku harus bertindak dengan lebih berhati-hati.

Ketika berpikir sampai disitu, pemuda yang memimpin barisan kebetulan sedang berputar kehadapan mukanya, Pek Siau-thian segera membentak keras, ia gunakan kotak emas itu sebagai senjata rahasia dan segera disambit ke arah depan sementara tubuhnya ikut menerjang kemuka sambil melepaskan sebuah pukulan. Pemuda itu merasa terkesiap, buru-buru pedang peraknya diputar untuk menangkis sambitan tadi.

“Traaang….!” benturan nyaring yang menimbulkan percikan bunga api muncul di angkasa termakan oleh tangkisan pedang sang pemuda, kotak emas tadi segera mencelat kembali ke arah Ciu It-bong.

“Mundur….!” tiba-tiba terdengar Siang Tang Lay membentak dengan suara keras.

Sejak keempat anggota badannya lumpuh dan tak dapat dipergunakan lagi, tenaga dalam yang dimiliki Siang Tang Lay mengalami kemero-sotan yang hebat, bentakan yang muncul dari pusar ini berkumandang di angkasa dan jauh menembusi awan, begitu dahsyat dan kerasnya membuat semua orang rasakan telinganya mendengung keras.

Bentakan tadi menggunakan sejenis ilmu sesat yang disebut hua hiat hoo pekikan pembawa maut, ilmu sesat itu merupakan suatu ilmu rahasia dari perguruan Seng sut hay yang tidak pernah diturunkan kepada siapapun, setelah Siang Tang Lay menderita kalah didaratan Tionggoan dan kembali ke wilayah See ih, dengan sebuah kaus kutang berserat emas yang tahan api dan tahan bacokan serta sebuah senjata kaitan kumala yang amat berharga ia mengajak iblis tua ketua perguruan Seng sut hay untuk melakukan barter dengan ilmu tadi.

Iblis tua dari perguruan Seng sut hay adalah seorang manusia yang rakus, melihat mustika, kedua kalinya ia tahu bahwa Siang Tang Lay adalah orang wilayah See ih yang memusuhi umat persilatan didaratan Tionggoan, hal ini sesuai dengan kehendak hatinya, karena itu barter tersebut disetujui dan ilmu pekikan pembawa maut pun diturunkan kepadanya. Ilmu pekikan membawa maut merupakan kepandaian sakti yang setaraf dengan Ilmu Sam cing hoa it lie dari kalangan agama Too atau ilmu pekikan singa dari kalangan Buddha hanya saja kepandaian ini lebih keji dan telengas.

Siang Tang Lay menghimpun tenaga dalamnya dan membentak dengan ilmu sesat pekikan pembawa maut itu tujuannya ialah untuk menyerang empat orang musuh bebuyutan yang sedang bertempur ditengah gelanggang.

Thong-thian Kaucu d»n Pek Siau-thian sekalian yang sedang bertempur seketika itu juga merasakan gendang telinganya jadi amat sakit dalam waktu singkat isi perutnya terbalik ia merasa amat mual dan darah panas seperti mau keluar.

Keempat orang itu adalah jago-jago kawakan yang memiliki pengalaman sangat luas, setelah berpikir sebentar mereka segera mengetahui bahwa isi perut sudah terluka terserang oleh pekikan lawan, dalam waktu singkat keempat orang itu menunjukkan reaksi yang berbeda-beda.

Pek Siau-thian dan Jin Hian bersama-sama meluncur ke arah mulut lembah dengan harapan bisa menjebolkan lingkaran pengepungan, sedangkan Thong-thian Kaucu dan Ciu It-bong bersama-sama loncat ketengah udara dengan harapan bisa melewati batok kepala beberapa orang pemuda itu dan kabur keluar barisan.

Pada saat yang bersamaan, ketika enam orang pemuda itu mendengar gurunya mengeluarkan pekikan pembawa maut, bukannya menubruk kedalam arena untuk melukai lawan, sebaliknya mereka malah mengundurkan diri kesamping arena, pedang perak ditanaan mereka berputar kencang melindungi bagian-bagian penting diseluruh tubuhnya. Semua kejadian itu berlangsung pada saat yang hampir bersamaan, keempat orang gembong iblis ini sama-sama cekatannya, begitu merasa isi perutnya sudah terluka mereka segera berusaha menorobos keluar dari kepungan, sementara itu kotak emas yang terpental keudara oleh tangkisan pedang perak pemuda itu baru saja meluncur jatuh kebawah.

Ciu It-bong yang kebetulan berada disampingnya, sewaktu menyaksikan kotak emas itu berada kurang lebih empat lima depa disisinya,dengan sebat menyambarnya dan dicekal dalam genggaman, meskipun tangannya bergerak menyambar kotak namun gerakan tubuhnya yang sedang meluncur kedepan meskipun tidak terganggu.

Siapa tahu baru saja kotak emas itu terjatuh kedalam genggaman Ciu It-bong tiba-tiba terjadilah suatu ledakan yang maha dahsyat….

“Blaamm….!” percikan cahaya api menyebar keempat penjuru, asap hitam yang tebal membumbung tinggi keangkasa, diiringi pecahan logam, daerah sekeliling tempat itu semuanya terbungkus oleh jilatan api.

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memecahkan kesunyian, hancuran daging dan percikan darah berceceran diatas tanah membuat pemandangan disekitar sana sampak mengerikan sekali.

Peristiwa yang berlangsung ditempat itu benar-benar mengejutkan hati, pemandangannya menyeramkan membuat bulu kuduk pada bangun berdiri, Ciu It-bong yang membawa kotak emas itu mati dengan tubuh hancur berantakan, mayatnya tersayat-sayat dan tidak dapat ditemukan lagi. Thong-thian Kaucu yang berada disampingnya kehilangan kaki kirinya sebatas paha, kaki kanannya sebatas lutut, sepasang kaki imam tua ini hancur tak tertolong lagi.

Sedang Jin Hian kehilangan lengan kanannya sebatas bahu, yang paling beruntung adalah Pek Siau-thian ia hanya menderita luka pada punggung dan tengkuknya sementara keempat anggota badannya masih utuh dan jiwanya sama sekali tidak terancam.

Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, sejak Siang Tang Lay mengeluarkan pekikan pembawa mautnya, kemudian empat jago lihay yang sedang bertempur melarikan diri terbirit-birit, para jago yang berada didalam barak sudah dibikin terperanjat dan sama-sama bangkit berdiri, menanti kotak emas itu meledak dan terjadilah peristiwa yang lebih tragis semua orang semakin tertegun karena kagetnya.

Suasana hening untuk sesaat lamanya, menanti Thong- thian Kaucu , Pek Siau-thian dan Jin Hian roboh terkapar diatas tanah, suasana jadi kalut. Pek Soh-gieper-tama-tama yang menangkis sambil menerjang ketengah gelanggang disusul para jago dari pelbagai golonganpun menerjang kedalam gelanggang, jeritan dan teriakan bercampur baur membuat suasana amat riuh.

Hoa Hujin yang menyaksikaa peristiwa itu merasa amat terperanjat ia segera ulapkan tangannya dan menerjang masuk kedalam gelanggang lebih dahulu. Ciu Thian-hau, It sim hweesio, Cu im taysu, Suma Tiang-cing dan sekalian jago dan golongan lurus dengan cepat membuntuti dari belakang dan melindungi keselamatan Siang Tang Lay beserta anak muridnya.

Pada waktu yang bersamaan Hing Leng cu, Pia Leng-cu serta Cing Leng cu dari perkumpulan Thong-thian-kauw dengan tubuh yang cepat bagaikan sambaran kilat telah menerjang pula kedalam gelanggang rupanya mereka hendak membereskan dulu jiwa Siang Tang Lay beserta anak muridnya tetapi setelah menyaksikan Hoa Hujin sekalian ber gerak pula kesitu dengan cepat mereka batalkan niatnya itu.

Kutungan lengan, kutungan kaki dan hancuran daging berceceran diatas tanah, darah segar mengalir bagaikan sungai, sekali memandang keadaan ditengah gelanggang benar-benar mengerikan sekali membuat bu lu kuduk semua orang pada bangun berdiri.

Tiga orang imam tua dari perkumpulan Thong-thian-kauw tiba dulu ditempat kejadian, Cing Leng cu segera membopong tubuh Thong-thian Kaucu , Pia Leng-cu menotok seluruh jalan darah penting disekeliling kakinya yang kutung hingga darah seketika berhenti mengalir.

Hoa Hujin yang menyaksikan ketepatan dan kehebatan imam tua itu dalam melepaskan totokan, benar-benar sudah mencapai puncak kesempurnaan, diam-diam ia merasa kagum, so-rot matanya segera dialihkan ke arah Siang Tang Lay.

Paras muka jago lihay dari wilayah See ih ini berubah jadi hijau membesi, sepasang matanya terpejam rapat dan ketika itu dia sedang mengatur pernapasan.

Melihat keadaan tersebut, dalam hati kecilnya perempuan itu lantas berpikir, “Ternyata penggunaan ilmu pekikan pembawa mautnya persis seperti tenaga pukulan sewaktu dipergunakan pula selembar jiwa sendiri!”

Dalam pada itu, terdengarlah Thong-thian Kaucu berbisik dengan suara terbata-bata, “Susiok bertiga luka pada sepasang kaki ku tidak menjadi soal tecu sudah terkena pekikan pembawa maut dari iblis tua Seng sut hay”

“Aku mengerti” jawab Hiang Leng cu dengan suara berat. Ia tempelkan telapak tangannya diatas punggung Thong-

thian Kaucu kemudian sambil berpaling hardiknya, “Semua

anggota perkumpulan Thong-thian-kauw segera mengundurkan diri kedalam barak, jaga tata tertib dan jangan kalut!”

Mendengar teriakan itu para anggota perkumpulan Thong- thian-kauw secara tertib segera mengundurkan diri kedalam barak, Cing Leng cu sambil membopong Thong-thian Kaucu pun ikut mengundurkan diri kedalam barak.

Dipihak lain, orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie masing-masing telah menolong pemimpin mereka meskipun Jin Hiang kehilangan lengan kanannya dan punggung Pek Siau-thian penuh luka yang merekah namun keadaan mereka berdua tidak jauh berbeda dengan keadan dari Thong-thian Kaucu meskipun luka luar yang diderita cukup parah namun tidak sampai mempengaruhi keselamatan jiwa justru luka dalam yang ditimbulkan akibat pekikan pembawa maut itulah yang mengancam keselamatan mereka.

Kelompok tiga maha besar dalam dunia persilatan ini adalah perkumpulan-perkumpulan yang mempunyai tata tertib serta organisasi yang sangat ketat meskipun pemimpin mereka sudah mendalami musibah yang diluar dugaan, setelah suasana kacau sebentar keadaanpun menjadi tenang kembali.

Pek Siau-thian seria Jin Hian yang secara beruntun telah sadar dari pingsannya segera menurunkan perintah untuk menarik semua anggotanya kembali kedalam barak serta melakukan perundingan lebih jauh.

Kendatipun begitu, semua anak buah dari Thong-thian- kauw, Hong-im-hwie maupun Sin-kie-pang telah menaruh rasa benci yang bukan kepalang terhadap diri Siang Tang Lay, mereka semua merasa gusar dan benci, siapa pun bermaksud membunuh jago dari wilayah See ih itu untuk melampiskan rasa dendam tersebut.

Dipihak para jago dari kalangan lurus meskipun mereka merasa gembira dan lega karena pertarungan babak pertama mereka berhasil rebut kemenangan tapi semua orang pun tahu bahwa peristiwa itu hanya merupakan suatu permulaan belaka, pertarungan berdarah yang sesungguhnya masih berada di belakaang.

Maausia-manusia sebangsa Tio Sam-koh sekalian yang berwatak polos dan terbuka kelihatan gembira dan riang sekali mereka tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya, ada yang mengatakan sayang karena Pek Siau-thian tidak sampai mampus, ada yang memaki Ciu It-bong karena serakah hingga harus menemui ajalnya dalam keadaan mengenaskan pokoknya suasana amat cerah dan gembira.

Peristiwa besar yang terjadi ditengah gelanggang boleh dibilang telah menggoncangkan seluruh lembah Cu bo koh tapi ada sekelompok manusia lain yang tetap tenang dan bersikap acuh tak acuh, mereka bukan lain adalah gerombolan makhluk aneh yang menyerupai sukma-sukma gentayangan itu, yang berdiri tetap berdiri, yang duduk tetap duduk mereka semua tak ada yang berkutik dari tempat semula, terhadap kejadian yang berlangsung didepan mata tak seorangpun yang ambil perduli. Yang lebih hebat lagi adalah bayi yang berada dalam pelukan setan perempuan itu, sambil menghisap puting susu perempuan setan itu sang bayi masih tidur dengan nyenyaknya seolah-olah sama sekali tidak terganggu oleh suara-suaradiluar barak,

Tiba-tiba dari balik barak sebelah timur muncul seorang pria bermuka putih berjenggot hijau dan berlengan tunggal.

Para jago di empat penjuru sebagian besar kenal dengan pria berlengan tunggal ini sebagai manusia nomor tiga dalam perkumpulan Hong-im-hwie yaitu Pat pit siu lo atau malaikat berlengan delapan Cia Kim.

Semua orang mulai bertanya apa gerangan maksudnya munculkan diri ditengah arena seorang diri? apa yang hendak ia lakukan?

Sementara itu Malaikat berlengan delapan Cia Kim sudah tiba dihadapan barak yang dihuni para jago dari kalangan lurus, dengan alis berkernyit ia berseru ketus, “Bagaimana? apakah harus menunggu sampai diundang oleh aku orang she Cia?”

Dari dalam barak para jago dengan cepat melayang keluar sesosok bayangan manusia, dia berlengan tunggal menyoren pedang dan berwajah penuh cambang, orang itu bukan lain adalah musuh bebuyutan dari Cia Kim yakni Ciong Lian-khek.

00000O00000

55

MALAIKAT berlengan delapan Cia Kim tertawa dingin tiada hentinya, dengan suara menyeramkan, ia berkata, “Ciong Lian-khek dendam permusuhan di antara kita sudah mencapai tingkat sedalam lautan aku rasa tak usah banyak bicara lagi tentang soal ini.

“Mati hidup antara golongan hitam dan putihpun bakal ditentukan pada hari ini juga karena itu ada baiknya kalau kita tentukan da hulu siapakah yang berhak untuk hidup lebih lanjut diantara kita berdua”

Ciong Lian-khek lintangkan pedangnya didepan dada, dengan serius ia menjawab.

“Hmm….! engkau masih terhitung seorang lelaki sejati!”

Manusia bercambang ini memang paling segan banyak bicara, namun setiap patah kata yang diutarakan keluar mempunyai bobot yang sangat berat.

Haruslah diketahui selama puluhan tahun belakangan ini, hampir boleh dibilang peraturan dalam dunia persilatan sudah lenyap tak berbekas, setiap kali terjadi pertempuran maka seringkali orang mengandalkan jumlah yang lebih besar untuk rebut kemenangan bahkan seringkali menggunakan cara yang memalukan untuk rebut kemenangan.

Cia Kim sebagai seorang jago yang menduduki kursi nomor tiga dalam perkumpulan Hong-im-hwie ternyata bersedia melakukan duel satu lawan satu, tindakannya ini terhitung suatu hal yang boleh dibanggakan oleh setiap orang, maka dari itu pujian dari Ciong Lian-khek tadi menunjukkan bahwa diapun mengagumi akan sifat lawannya yang jantan.

Terdengar Cia Kim mendengus dingin, sambil menubruk maju kedepan ia lancarkan sebuah pukulan.

Nama besar Malaikat berlengan delapan betul-betul bukan nama kosong belaka, setelah telapaknya berkelebat kemuka maka seketika itu juga lengannya itu berubah jadi tujuh delapan buah, tujuh delapan buah telapak itu menyerang secara bersama-sama, masing-masing mengancam tiga bagian jalan darah penting ditubuh Ciong Lian-khek.

Menyaksikan datangnya ancaman itu, Ciong Lian-khek segera berpikir dalam hatinya, “Keparat sialan, meskipun sudah kehilangan sebuah lengan ternyata ilmu silat yang dimilikinya malah memperoleh kemajuan yang lebih pesat…. ia memang hebat!”

Bayangan telapak berkelebat bagai kabut mana yang sungguhan mana yang kosong sukar dibedakan lagi, jika ia ambil tindakan untuk menangkis dan punahkan serangan itu lebih dahulu maka posisinya masih akan terdesak.

Dalam keadaan begini Ciong Lian-khek segera putar pedangnya menyongsong datangnya ancaman itu dengan gunakan jurus Siau Ci lam thian atau sambil tertawa menunjuk langit selatan, pedangnya langsung menusuk pelipis Cia Kim.

Jurus serangan ini merupakan suatu gerakan menyerang sambil bertahan, dan penuh mengandung keuntungan bagi permainan pedangnya, kendatipun pukulan telapak dari Cia Kim sangat dahsyat namun karena kalah panjang maka diapun jadi terdesar malahan.

Melihat serangannya digagalkan secara mudah, diam-diam Malaikat berlengan delapan Cia Kim merasa amat gusar, tubuhnya berkelebat kedepan dan berbalik mengancam rusuk kiri Ciong Lian-khek, mengikuti gerakan telapak tadi badannya ikut menerjang kemuka, dengan keras lawan keras ia berusaha mematahkan pertahanan musuh.

Ciong Lian-khek bukan orang bodoh, ia segera putar pedang balas menyerang titik kelemahan lawan, jurus demi jurus dilepaskan secara berantai, serangan dibalas dengan serangan, semua babatan pedangnya ganas dan keji, sedikitpun tidak memberi peluang bagi lawannya untuk menguasai keadaan.

Sejak bertemu muka, dua orang yang saling bermusuhan ini sudah dipengaruhi oleh rasa dendam kesumat, mata mereka sudah merah membara, karena itu begitu bertempur maka kedua belah pihak sama-sama mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, bukan saja bertempur mengenai ilmu silat merekapun mengadu semangat.

Kedua belah pihak sama-sama merupakan orang yang cemerlang dan punya nama besar dalam dunia persilatan, karena saling bersumpah untuk tidak hidup berdampingan membuat pertarungan itu berlangsung jauh lebih seru.

Dalam pada itu, jalan dibelakang barak telah dipenuhi oleh berkelebatnya bayangan manusia, kurir dari kelompok tiga besar saling berhubungan satu sama lainnya, rupanya mereka sedang merundingkan suatu masalah yang besar dan gawat.

Dalam barak yang dihuni para pendekar dari kalangan luruspun sedang berlangsung perundingan untuk menentukan siasat dalam menghadapi pertempuran terakhir, meskipun pertempuran diluar gelanggang berlangsung sengit dan tegang namun situasi dalam pe-rundingan itu jauh lebih tegang dan serius.

Tiba-tiba terdengar Ciong Lian-khek membenak keras, dalam sekejap mata desiran pedang menderu-deru, cahaya tajam berkilauan di angkasa, bayangan senjata berlapis-lapis dan mengurung Malaikat berlengan delapan Ciu Kim semakin ketat. Terdengar angin pukulan menderu-deru, tenaga pukulan yang terpancar keluar dari telapak Malaikat berlengan delapan Ciu Kim pun segera tiba makin menghebat, pukulan demi pukulan yang gencar berusaha menembusi kepungan lapisan pedang yang berlapis hingga menyiarkan suara tajam yang memekikkan telinga.

Ilmu silat memang sukar diukur dengan kata-kata, sepanjang hidupnya Ciong Lian-khek selalu meyakinkan permainan pedangnya, sewak tu menemani Hoa Thian-hong berlatih pedang, secara tidak sadar ia telah melatih pula kepandaian sendiri secara tekun dan rajin membuat permainan ilmu pedang Seng too tui hun kiam hoatnya mencapai puncak kesempurnaan yang tiada taranya, sedang tenaga dalam yang dimilikipun mendapat kemajuan yang pesat, hal ini membuat daya serangan yang terpancar dalam permainan pedangnya betul-betul mengerikan.

Dipihak lain, Malaikat berlengan delapan Cia Kim pun sepanjang hidupnya selalu tekun mendalami ilmu telapak Siu lo ciang hoat nya. Inti sari dari ilmu pukulan itu sudah dikuasai penuh, ditambah pula tenaga dalamnya yang sudah dilatih selama dua puluh tahun membuat pukulan-pukulannya sangat terlatih dan sempurna.

Oleh karena itulah, kendatipun serangan pedang Seng lo tui hun kiam hoat dari Ciong Lian-khek amat keji dan telengas namun selalu gagal untuk menembusi perlahanannya.

Tidak terasi setengah jam sudah lewat. Jua orang itu sudah bertempur banyak tiga iratus gebrakan lebih.

Pertarungan ini merupakan suatu pertarungan yang amat sengit, dendam yang telah berlangsung lama, rasa benci yang sedalam lautan memaksa kedua belah pihak merasa tak puas sebelum berhasil membinasakan lawannya, oleh sebab itulah pertarungan berlangsung semakin lama, keadaan makin seru dan ramai hingga akhirnya kedua bilah pihak sama-sama mempertaruhkan keselamatan jiwanya untuk berusaha merubuhkan lawannya.

Suana dalam barak tiba-tiba berubah jada sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara pun, semua orang telah mengetahui bahwa salah satu diantara dua orang yang sedang berempur sengit itu pasti ada yang bakal mati.

Malaikat berlengan delapan Cia Kim yang terkurung dalam lapisan cahaya pedang Ciong Lian-khek, kelihatan terdesak hebat dan berada dibawah angin, karena itu orang-orang dari perkumpulan Hong-im-hwie merasa jauh lebih tegang dan serius daripada pihak lain. 

Jin Hian yang kehilangan sebuah lenganya baru saja mendapat perawatan dan menyelesaikan semedinya, setelah meninjau sebentar situasi dalam gelanggang, dengan dahi berkerut ia berpaling ke arah Cu Goan Kek yang berada dibelakananya sambil berkata, “Ji te, engkau segera menantang perang! berpura-puralah seperti akan menggantikan kedudukan dari Sim te, jika pihak lawan ada yang berani menghalangi maka kita akan utus orang uutuk menghadapi pertarungan itu, seandainya pihak Thong-thian- kauw memberi tanggapan atas kejadian itu maka kita korban perang massal dan bergerak sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan”

“Siaute terima perintah!” jawab Cu Goan Kek sambil bangkit berdiri, ia keluar dari barak dan menerjang kedalam gelanggang.

Hoa Hujin yang membayang-bayangi keadaan gelanggang dari tempat kejauhan, segera berseru dengan suara berat setelah menyaksikan keadaan tersebut, “Sam te, turun kegelanggang dan hadang orang itu!”

Sejak tadi Suma Tiang-cing sudah mengharapkan datangnya perintah, tanpa banyak bicara ia segera terjun kegelanggang dan menghadang jalan pergi dari Cu Goan Kek.

Ketika Cu Goan Kek melihat orang yang muncul untuk menghadapi dirinya adalah pedang sembilan nyawa Suma Tian Cing hatinya terjelos. Tapi rupanya perkuuipilan Hong-im- hwie sudah punya rencana, baru saja pemuda Suma terjunkan diri dengan cepat Yan-san It-koay pun terjun pula kedalam gelanggang.

Tio Sam-koh yang menyaksikan tindakan musuh jadi naik pitam ia ketukan tongkat besinya keatas tanah dan siap terjun kedalam gelanggang, Hoa Hujin segera menarik lengan bajunya sambil berbisik, “Pihak lawan berjumlah sangat banyak sedangkan kekuatan kita sedikit sekali bilamana keadaan tidak terlalu memaksa lebih baik menghemat tenaga”

Sementara pembicaraan itu masih berlangsung, Suma Tiang-cing telah meloloskan pedangnya dan menyenril senjata itu dengan sentilan jari, cahaya hijau berkilauan diiringi suara dentingan yang memekikkan telinga terhadap kehadiran musuh dari arah depan ia sama sekali tidak memandang barang sekejappun.

Dafri pergelanggan tangannya, Yan-san It-koay melepaskan pula gelangnya yang bercahaya hitam, dengan tangan dikepalkan dan menyilang didepan dada ia melirik sekejap ke arah Cu Goan Kek.

Orang kedua dari perkumpulan Hong-im-hwie itu mengerti apa yang dimaksudkan sahabatnya, ia segera membentak keras, tubuhnya menerkam kedepan sambil melepaskan satu pukulan yang maha dahsyat.

Paras muka Suma Tiang-cing menunjukkan sikap menghina dan pandang rendah musuhnya, sepasang matanya yang memancarkan cahaya kesombongan menyapu sekejap ke arah Yan-san It-koay dan Cu Goan Kek dengan ketus, walaupun ia tahu serangan yang dilancarkan orang she Ciu itu sudah hampir mengenai ditubuhnya, akan tetapi si anak muda itu masih tetap berdiri tak berkutik.