Tiga Maha Besar Jilid 06

 
Jilid 06

Air muka Suma Tiang Ciang berubah jadi hijau membesi, katanya, “Pek Siau-thian telah memasuki selat ini, apa bila Seng ji tidak menemui musibah, sepantasnya kalau iapun sudah sampai disini.

“Apakah engkau punya rencana untuk keluar dari lembah Cu-bu-kok ini dalam keadaan hidup?” seru Hoa Hujin secara tiba-tiba dengan wajah yang berat.

“Selama hidup siaute tak pernah melarikan diri untuk kedua kalinya….!”

“Kalau memang begitu apa yang hendak kukatakan lagi?” kata Hoa Hujin dengan sepasang matanya memancarkan cahaya berkilat, “sekalipun engkau berhasil menemukan Seng ji belum tentu ia dapat lolos dari lembah Co bu kok dalam keadaan hidup, kalau memang di mana-mana pun jiwanya terancam bahaya kematian apa gunanya engkau cari dirinya?”

Suma Tiang Cin adalah saudara angkat dari Hoa Goan-siu, dia merupakan satu-satunya orang yang berusia paling muda diantara angkatan yang setaraf dengan Hoa Hujin, wataknya berangasan dan kasar dalam menghadapi musuh, tindakannya selalu keji dan telengas karena kekejamannya dan sikapnya yang sama sekali tidak kenal ampun di tambah pula kepandaian silat yang dimiliki sangat lihay maka beberapa gembong iblis tidak bersedia untuk melakukan pertempuran melawan dirinya oleh sebab itulah dalam beberapa kali pertarungan sengit jiwanya selalu selamat dari kematian.

Karena keistimewaannya itu, orang-orang kangcu memberi julukan Kiu mia kiam kek atau jago pedang bernyawa rangkap sembilan kepada orang ini, selama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan dia merupakan momok yang paling memusingkan kepala bagi orang-orang kalangan hitam dan oleh karena wataknya yang sukar diatur itulah Hoa Hujin dengan kedudukannya sebagai kakak ipar selalu bersikap tegas dan keras terhadap dirinya.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, semua orang telah memasuk kedalam lembah tersebut.

Suma Tiang Ting merasa sangat tidak puas, belum sempat ia berbicara tiba-tiba sorot matanya yang tajam telah menangkap tulisan besar yang terpancang diatas meja abu pada panggung persembahan, air matanya kontan berubah hebat dan darahnya mendidih.

Sesaat kemudian semuajagopun dapat melihat tulisan tadi, air muka mereka semua kontan berubah sangat hebat.

Terdengar Chin Pek-cuan sambil menggertak gigi berseru, “Anjing bangsat…. manusia laknat….!Rupanya tujuan mereka menyelenggarakan pertemuan besar Kian ciau tayhwee adalah untuk mendoakan arwah-arwah yang telah berpulang dalam pertemuan Pak beng Tay bwee tempo hari….”

Baru saja perkataan itu selesai diutarakan keluar, Thong- thian Kaucu dengan memimpin anak muridnya telah turun dari panggung persembahan dan menyambut kedatangan mereka. Ketika Hoa Hujin menyaksikan Suma Tiangg Cing telah meraba gagang pedangnya siap menerjang kedepan, ia segera menyapu sekejap wajah para jago dan menegur dengan suara berat, “Siapa yang akan munculkan diri untuk berbicara?”

“Berada dihadapan musuh tangguh, hujin jangan mengacaukan barisan sendiri, engkau saja yang buka suara” kata Cu Tong dewa yang suka pelancongan dengan gelisah.

It Sim hweesio yang berada disisinya segera menimbung pula, “Pinceng tidak ada komentar apa-apa, aku bersedia menerima perintah….” seraya berkata ia menggeserkan badannya mundur selang-kah ke arah belakang.

Cu Im taysu yang melihat sikap rekannya segera ikut pula mundur kebelakang sedang Ciu Thian Huu dari gunung Huang-san bergeser tiga depa kebelakang.

Suma Thian Cing amat membenci terhadap diri Thian Ik-cu, dia ingin sesaki membinasakan imam tua tersebut dalam satu tusukan kilat akan tetapi setalah dilihatnya para jago yang berjalan disamping Hoa Hujin telah mengundurkan diri semua kebelakang terpaksa diapun ikut melangka mundur setindak kebelakang, sepasang matanya yang tajam dengan memancarkan cahaya penuh nafsuh membunuh menatap wajah Thong-thian Kaucu tanpa berkedip.

Thong-thian Kaucu buru-buru maju kedepan, sesudah memberi hormat serunya dengan lantang, “Kehadiran Hujin dan para tayhiap lainnya sungguh merupakan suatu kehormatan bagi perkumpulan Tiong Thian Kau kami dan merupakan kebanggaan pula bagi umat persilatan di kolong langit….” Sementara itu suasana dalam lembah Cu-bu-kok diliputi keheningan dan kesunyian, suara bunyi-bunyian alat sembahyang telah berhenti berdenting dan suara pembicaraan manusiapun telah sirap dalam lembah seluas itu, hanya kedengaran suara lantang dari Thian Ik-cu seorang….

Dari balik mata Hoa Hujin memancar keluar cahaya kilat yang menggidikkan hati, membuat wajahnya yang keren dan penuh berwibawa kelihatan semakin gagah dan menyeramkan membuat siapapun tak berani memandang enteng perempuan ini.

Ia balas memberi hormat kemudian menjawab dengan suara yang keras dan tegas, “Tujuan dari pertemuan besar Kian ciau tayhwee adalah untuk mengenang kembali arwah- arwah para jago persilatan yang sudah tiada, aku orang she Bun sekalian termasuk anggota persilatan, sudah sepantasnya kalau kami semua ikut menghadiri upacara besar seperti ini.”

Sesudah berhenti sebentar, sorot matanya dialihkan sekejap ke arah meja abu yang berjajar diatas panggung persembahan, setelah itu sambungnya lebih jauh, “Mendiang suamiku dan rekan-rekan kami lainnya telah mati binasa dalam pertemuan besar Pak beng tayhwee tempo dulu, atas kebaikan ha ti kaucu untuk mendoakan arwah-arwah mereka yang sudah tiada, aku orang she Bun sekalian mengucapkan banyak terima kasih lebih dahulu”

Perkumpulan Thong-thian-kauw adalah sekte agama yang didirikan diatas kehendak Thian, tujuan kami adalah mendoakan arwah-arwah yang telah tiada agar segera masuk ke nirwana dan mendapat ketenangan untuk selamanya, tugas berdoa adalah pekerjaan kami, buat apa engkau musti berterima kasih kepada kami? sahut Thong-thian Kaucu dengan wajah serius. Kegagahan Hoa Hujin membuat Thong-thian Kaucu diam- diam merasa kecil hati dan malu, karena itu setelah mengucapkan kata-kata yang merendah dan saling memberi hormat, ia segera mengiringi Hoa Hujin memasuki lembah dan ambil tempat dibarak sebelah kanan.

Setelah masuk kedalam barak, Hoa Hujin pun lantas bertanya, “Pertemuan besar Kian ciau tayhwee akan diselenggarakan mulai kapan….? dapatkah kaucu memberi keterangan?”

“Jam sebelas malam upacara dimulai dan jam dua belas tengah malam pintu akhirat akan terbuka, pada saat itulah upacara penghormatan untuk arwah-arwah yang telah tiada dalam pertemuan Pak beng hwee akan diselenggarakan!”

Hoa Hujin mengangguk.

Upacara sudah akan diselenggarakan, dalam keadaan demikian kaucu pasti repot sekali, silahkan engkau menyelesaikan pekerjaanmu, tolong saja apabila waktunya sudah tiba engkau bersedia memberi kabar agar aku orang she Bun sekalian dapat memberi hormat untuk arwah rekan- rekan kami”

“Tak usah kuatir….!” setelah memberi hormat kaucu dari Thong-thian-kauw itu segera mengundurkan diri.

Beberapa saat kemudian alat tetabuhan berkumandang kembali dan pembacaan doa pun dimulai lagi, dari balik barak- barak disisi kanan dan kiri ramai pula oleh suara pembicaraan manusia.

Pertemuan ini adalah suatu pertemuan besar yang jarang terjatdi di kolong langit, suatu saat sebelum datangnya hujan badai. Sebentar lagi pembunuhan besar-besaran akan dimulai namun pada saat ini suasana sama sekali tidak diliputi oleh bentrokan, tidak tercium pula nafsu membunuh yang menyelimuti angkasa….

Perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie, Thong-thian- kauw dan para pendekar dari golOngan lurus salingmenempati suatu barak yang berbeda, walaupun tiada hubungan namun suasana tetap tenang dan damai, bahkan sorot mata yang memancarkan sinar bengis pun tertutup untuk sementara, yang ada hanya sikap yang dingin serta dugaan-dugaan yang tersembunyi untuk menilai kekuatan pihak lawan.

Waktu berlalu dengan cepatnya, tanpa terasa senja telah menjelang tiba, sang surya telah lenyap dibalik bukit dan kegelapan mulai menyelimuti seluruh jagad.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari luar lembah Cu-bu-kok berkumandang datang suara tangisan setan yang mendirikan bulu roma, pekikan dan jeritan yang memilukan hati itu bergema tidak menentu, sebentar ke kiri sebenar kekanan seakan-akan diluar lembah telah berkumpul berpuluh-puluh sosok arwah gertayangan yang sedang menangis dan menjerit….

Begitu suara tangisan setan itu berkumandang, suara tetabuhan dan pembacaan doa seketika tertumpuk lenyap, suara pembicaraan dalam barak-barak pun tak kedengaran lagi.

Dalam lembah Cu-bu-kok, semua bagian telah ditutup oleh kain putih sebagai tanda berkabung, rumah-rumahan dari kertas, kuda-kudaan dari kertas telah bersusun dibawah meja sembahyang, ditambah pula dengan meja abu yang berpuluh- puluh banyaknya menambah seram nya suasana disitu, kini ditambah pula dengan suara jeritan dan tangisan setan yang menggidikkan hati membuat suasana bertambah seram, hawa setan menyelimuti seluruh lembah membuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri.

Tiba-tiba segulung angin dingin menghembus lewat, membuat udara jadi dingin dan menusuk tulang, bunyi desiran tajam menambah seramnya isak tangis sukma gentayangan tersebut.

Ci-wi Siancu paling takut dengan setan, ia jadi ketakutan setengah mati hingga keringat dingin mengucur tiada hentinya, tanpa terasa ia menggenggam tangan Hoa Hujin sambil bisiknya dengan suara gemetar.

“Hujin….! buu…. bukankah pintu gerbang akhirat baa…. baru dibuka selewatnya jam dua belas tengah malam….??”

Melihat gadis itu ketakutan setengah mati sehingga air mukanya pucat pias dan bibirnya membiru, buru-buru Hoa Hujin menghibur sambil berkata, “Engkau tak usah takut…. pastilah hal ini merupakan permainan setan dari pihak Thong- thian-kauw, di kolong langit tidak mungkin ada setan benar- benar….”

“Tidak, setan itu pasti ada!” seru Ci-wi Siancu dengan hati amat gelisah.

Hoa Hujin tersenyum.

“Kalau begitu duduklah disisiku!”

Dalam pada itu…. tiba-tiba terdengar Dewa yang suka melancong Cu Tong berseru tertahan. “Aaah! sungguh aneh, kenapa siluman-siluman tosu itu pada gugup semua….??”

Hoa Hujin segera menengok ke arah depan, sedikitpun tidak salah tampaklah Thian Ik-cu dengan wajah gusar sedang membisikkan sesuatu kesisi telinga dua orang muridnya, dua orang imam tersebut buru-buru lari keluar lembah dengan wajah aagk gugup.

Pada saat itulah orang-orang perkumpulan Sin-kie-pang dan Hong-im-hwie yang berada dimulut lembah tiba-tiba memperdengarkan seruan kaget dan sama-sama bangkit berdiri untuk menengok ke arah luar lembah tersebut….

ooooOoooo 49

DALAM sekejap mata, dari mulut lembah Cu-bu-kok muncul segerombolan setan berwajah menyeringai seram dengan rambut yang awut-awutan terurai kebawah.

Setan-setan bermuka seram itu ada yang tua ada yang muda ada yang wanita ada pula yang pria, dandanan seta pakaian yang mereka pakai berbeda-beda satu sama lainnya ada yang memakai baju model sekarang ada yang berdandan seperti orang pada masa Tong tiau atau pula yang mamakai baju model Han semuanya menjerit-jerit dan menangis menggerung dengan suara yang keras mereka saling dorong mendorong membuat suasana jadi ribut….

Dua orang imam dari perkumpulan Thong-thian-kauw yang mendapat perintah untuk melakukan pemeriksaan Keluar lembah telah berpapasan dengan rombongan setan penasaran itu, untuk sesaat mereka jadi gugup…. pedangnya buru-buru dicabut keluar. Terdengar diantara rombongan setan-setan penasaran itu, tiba-tiba terdengar keluhan seram yang menggidikkan hati, “Oooh…. anakku!”

Seorang setan perempuan yang bermuka seram dan berlidah menjulur keluar melewati rombongannya dan langsung menubruk ke arah tosu tersebut.

Pada waktu itu kegelapan telah mencekam seluruh jagad, dibawah remang-remangnya cuaca sulit bagi para jago untuk memeriksa apakah setan-setan itu adalah setan asli atau gadungan, keadaan mereka benar-benar mengerikan sekali.

Dua orang imam tersebut ketakutan setengah mati, dengan jantung berdebar keras mereka membentak keras kemudian melancarkan sebuah serangan dahsyat kedepan.

Tetapi…. sebelum serangan itu mencapai sasarannya, mendadak mereka rasakan geng-gamannya jadi enteng dan tahu-tahu kedua batang pedang tersebut telah lenyap tak berbekas.

Setan perempuan yang lidahnya menjulur keluar bagaikan setan gantung itu segera berpekik nyaring, “Ooooh…. anakku!” sambil rentangkan sepasang tangannya, ia segera memeluk salah satu diantara dua orang imam itu.

Dua orang tosu tersebut semakin ketakutan hingga serasa sukma melayang tinggalkan raganya, mereka sipat telinga dan melarikan diri terbirit-birit.

“Criing….! tiba-tiba kaki mereka disapu oleh seorang setan pria dengan rantai yang membelenggu tangannya hingga jatuh tersungkur diatas tanah, sedang seorang lainnya yang melarikan diri agak lambat kena dipeluk oleh setan tua berambut putih.

Dalam waktu singkat imam tersebut dibikin bulanbulanan oleh rombongan setan penasaran tersebut, kau rebut aku rampas jeritan isak tangis menggema memenuhi angkasa, seluruh jubah yang dikenakan tosu itu jadi koyak tak ada juntrungnya karena ketakutan akhirnya imam tadi jatuh tak sadarkan diri.

Semua peristiwa tersebut berlangsung dalam sekejap mata, para jago yang hadir dalam lembah Cu-bu-kok dan rata-rata merupakan jago kangou berkepandaian lihay dan membunuh orang tak berkedip itu seketika dibuat berubah wajahnya dan merasa amat terperanjat.

Thong-thian Kaucu yang berada diatas panggung persembahan dapat menyaksikan jalannya peristiwa tersebut dengan amat jelas, mulutnya yang membaca doa segera diperkeras, tangan kiri berputar-putar diudara sedang pedang ditangan kanannya menepuk meja keras-keras.

Anak murid diatas pangguug sama-sama jadi gugup dan gelagapan, suara pembacaan doa semakin nyaring dan tetabuhan alat sembah yang pun semakin memekikkan telinga.

Thian Seng cu dengan wajah penuh kegusaran segera loncat keluar dari dari dalam barak, hardiknya keras-keras, “Hian cing, tenangkan hatimu!”

Imam yang bergelar Hian cing itu sambil mengguling dan merangkak sedang melarikan diri dari kejaran setan-setan penasaran itu, mendengar bentakan dan Thian Seng cu, ia jadi semakin gugup sehingga sepasang kakinya jadi lemas.

Terdengarlah jeritan dan tangisan setan makin memekikkan telinga, orang itu kena ditumbuk oleh rombongan setan tadi hingga jatuh terjungkal keatas tahan.

Rombongan setan penasaran itu bergerak bagaikan hembusan angin, diiringi jeritan dan pekikan ngeri mereka lari menuju kebawah panggung persembahan, kemudian sambil depak kaki memukul dada menangis mengerang-erang….

Air muka Thian Seng cu berubah jadi hijau membesi, dia ulapkan tangannya, dari balik barak segera berlompatan puluhan orang jago berbaju merah, dengan senjata terhunus mereka mengurung rombongan setan penasaran itu rapat- rapat.

Rombongan setan penasaran itu tetap tidak menggubris atas kepungan tersebut, mereka sama-sama menengadah memandang Thong-thian Kaucu yang berada diatas panggung, isak tangis bergema tiada hentinya membuat hati orang semakin kalut.

Ci-wi Siancu paling ketakutan, sekujur badannya gemetar keras dan giginya saling beradu keras, lengannya memeluk tubuh Hoa Hujin kencang-kencang.

Hoa Hujin merasa tak tega, bisiknya dengan suara lirih, “Jangan takut, mereka adalah menusia dan jumlahnya tujuh puluh dua orang….”

Sementara itu Thian Seng cu telah membentak dengan suara keras, “Kalian kawanan setan darimana? siapa pemimpin kalian? ayoh jawab!”

Kawanan setan penasaran itu tetap melompat dan menangis tersedu-sedu tiada hentinya. Li-hoa Siancu segera mendekati tubuh Hoa Hujin dan berbisik dengan gemetar, “Hujin rombongan itu benar-benar adalah setan asli, kalau manusia yang menyaru jadi setan kenapa tujuh delapan puluh orang loncat bersama sedikitpun tidak menimbulkan suara.

“Aduuuh…. sungguh tak enak didengar suara tangisan mereka seru Ci-wi Siancu pula, suara mereka sedikitpun tidak mirip suara manusia….”

Tiba-tiba Thong-thian Kaucu yang berada diatas panggung menepukkan pedangnya keras-keras dan membentak keras, “Pertemuan Kian ciau tayhwee adalah untuk mendoakan arwah-arwah yang telah tiada, kawanan setan penasaran tiada tempat disini enyah kalian dari tempat ini”

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu mendadak kawanan setan penasaran itu menengadah dan mengeluh, dalam waktu singkat dari tujuh lobang indera mereka mengucur keluar darah segar dan setan-setan itupun roboh terkapar diatas tanah tak berkutik lagi.

Suasana dalam lembah Cu-bu-kok segera diselimuti oleh suasana yang menyeramkan.

Pembacaan doa, suara tetabuhan berhenti berdentang, suasana diliputi keheningan dan kesunyian….

Pemandangan yang terpapar didepan mata pada saat itu benar-benar mengerikan dan mendebarkah hati, diatas tanah penuh berserakan tubuh makhluk-makhluk setan berambut panjang dan menyeringai seram, darah yang mengalir ke luar dari tujuh lobang indera mereka membuat wajah setan-setan itu bertambah mengerikan, jangan dikata setan, sekalipun manusia pun cukup mendirikan bulu roma dan menggidikkan hati orang. Perubahan yang terjadi sangat tiba-tiba ini jauh diluar dugaan semua orang dan cukup mengejutkan hati para jago, Thong-thian Kaucu yang berada diatas mimbar pun berdiri kaku bagaikan patung, karena terperanjat air mukanya berubah jadi amat jelek.

Tetapi, bagaimanapun juga dia adalah seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, sesudah tertegun beberapa saat lamanya, ia segera tersadar kembali dari lamunannya.

“Ploook….”pedang mustikanya dipukulkan keatas meja keras-keras kemudian lanjutkan pembacaan doanya dengan suara lantang.

Para anak murid perkumpulan Thong-thian-kauw yang berada di mimbar nampak tertegun, diikuti suara tetabuhan dan pembacaan doapun dilanjutkan lebih jauh, mula-mula suaranya masih lirih dan terpotong-potong, tapi sebentar kemudian suasana berubah jadi ramai kembali.

Thian Seng cu mendekati makhluk-makhluk aneh yang tidak mirip manusia dan setan itu, setelah mengetahui bahwa tubuh mereka telah mendingin dan napasnya telah putus, buru-buru ia perintahkan anak muridnya untuk menggotong mayat tadi keluar dari lembah, noda darah diatus tanahpun segera dibersihkan.

Thong-thian Kaucu yang berdasarkan ajaran agamanya pada soal kebatinan seringkali menyaru jadi setan atau malaikat untuk menakut nakuti kaum rakyat kecil yang bodoh, sekarang setelah benar-benar menghadapi kejadian semacam itu, walaupun sudah tahu bahwa setan itu adalah setan gadungan semua namun ia tidak membongkar rahasia tersebut. Sekalipun demikian, kedatangan makhluk aneh yang tiba- tiba dan kematiannya secara mengerikan menimbulkan kecurigaan dalam hati semua orang, tak seorangpun yang berani unjukkan sikap mengejek atau mentertawakan atas terjadinya peristiwa itu.

Setelah kejadian yang menegangkan telah lewat, suara hiruk pikuk manusia berbicara pun mulai muncul dari barak- barak dikiri maupun kanan, rata-rata mereka semua membicarakan peristiwa aneh yang barusan berlangsung itu.

Siau yau siau Cu Tong dengan penuh semangat berkata, “Kalau dilihat dari sikap Thian Ik-cu yang jengah dan tersipu- sipu, rupanya apa yang terjadi tadi bukanlah permainan setan dari pihak perkumpulan Thong-thian-kauw sendiri, ditinjau dari hal ini dapat diketahui bahwa diantara tiga bibit bencana dunia persilatan masih terdapat perselisihan yang belum dapat diselesaikan, itu berarti belum tentu mereka benar-benar bisa bekerja sama untuk meghadapi kita!”

Hoa Hujin mengerutkan dahinya rapat-rapat.

“Aku rasa perbuatan semacam ini tidak mirip perbuatan dari Sin-kie-pang ataupun Hong-im-hwie!” katanya.

“Perkataan hujin sedikitpun tidak salah” Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san mengangguk tanda membenarkan, “kawanan makhluk aneh itu sudah jelas bukan berasal dari orang-orang gabungan tiga kekuatan besar tersebut, kalau dilihat dari ilmu meringankan tubuh mereka yang aneh dan ampuh, sudah jelas orang-orang tadi berasal dari satu golongan yang sama, tidak mungkin perkumpulan Sin-kie- pang dan Hong im bwee mampu melatih manusia aneh sebanyak itu!” “Kecuali tiga bibit, bencana dari dunia persilatan dan golongan kita, masa dalam dunia persilatan masih terdapat kelompok kelima?” seru Im sim hweesio dengan wajah tercengang.

Beberapa orang ini semuanya merupakan jago-jago persilatan yang berkelana dalam Bu lim sejak muda sampai tua, boleh dibilang situasi persilatan sepanjang puluhan tahun diketahui mereka dengan jelas sekali, bahkan merekapun sempat mengalaminya sendiri, kalau dibilang diluar empat kelompok besar dalam dunia kangkou masih ada kekuatan lainnya lagi, siapapun merasa tidak percaya akan kenyataan tersebut.

Terdengar Cu Im taysu menghela napas panjang dan berkata, “Yang paling aneh lagi, ternyata kawanan manusia aneh itu pada saat bersamaan sama-sama menemui ajalnya dengan darah mengalir keluar dari ketujuh lubang indera mereka, bagaimana penjelasannya tentang peristiwa ini?”

“Kalau dilihat keadaan mereka, semestinya mati lantaran keracunan hebat….!” sambung Li-hoa Siancu dari samping, “cuma tidak diketahui siapakah yang melepaskan racun keji tersebut?”

Cu Im taysu segera berpaling ke arah Ci-wi Siancu dan bertanya, “Nona ketiga racun itu semestinya bukan engkau yang melepaskan bukan….?”

Ci-wi Siancu terttegun lalu menggeleng. “Bukan aku yang melepaskan!!” jawabnya.

Tiba-tiba ia menggertak gigi dan berseru dengan gemas, “Tadi aku sudah lupa kalau aku membawa racun. Hmm! kalau makhluk-makhluk aneh semacam itu berani munculkan diri lagi, perduli dia adalah manusia atau setan akan kusuruh mereka merasakan lebih dulu kelihayan dari kabut sembilan bisa!”

Tiba-tiba dari mulut lembah muncul cahaya lampu, dua orang dayang berdandan rapi dengan membawa lampu lentera berjalan, dipa ling depan seorang gadis baju putih yang berdandan agung bagaikan gadis keraton, berjalan dibelakangnya seorang gadis baju hijau mengikuti dibelakang gadis agung tadi dan bersama-sama masuk kedalam lembah tadi.

“Siapakah dia?” tanya Ci-wi Siancu dengan alis mata berkernyit.

“Perempuan yang agung dan berdandan keraton itu bukan lain adalah Giok Teng Hujin dari perkumpulan Thong-thian- kauw, gadis yang mengikuti dibelakangnya itu bernama Pui Che-giok, dia adalah dayang kepercayaan dari perempuan tersebut,” Cu Tong menerangkan. 

Berhubung semua jago telah mengetahui bahwa Giok Teng Hujin bernama Siang Hoa dan merupakan putri dari It Kiam kay Tionggoan ‘pedang sakti yang menyapu Tionggon’ Siang Tang Lay, maka ketika mendengar akan kehadirannya, semua orang segera alihkan sorot matanya ke arah tengah gelanggang.

Dengan wajah yang agung, Giok Teng Hujin masuk gelanggang, biji matanya yang jeli ketika itu mengawasi barak yang dihuni para pendekar dengan tajam, ketika tidak menjumpai Hoa Thian-hong hadir disitu, air mukanya tampak berubah hebat.

Ci-wi Siancu segera mendengus dingin, sambil menarik ujung baju Hoa Hujin, katanya, “Hujin, usia Giok Teng Hujin paling sedikit sudah mencapai dua puluh tahunan, sedang siau long baru berumur sembilan belas tahun, kedua orang itu sama sekali cocok satu sama lainnya!”

Mendengar perkataan itu diam-diam Hoa Hujin berpikir, “Aaai….!sampai sekarang jejak Seng ji masih belum ketahuan, mati atau hidup sukar diramalkan, nona ini masih memikirkan tentang soal perkawinannya, benar-benar tak tahu keadaan….”

Ia segera tertawa paksa dan menjawab, “Malam ini seluruh pikiran dan perhatian kita diputuskan untuk membunuh musuh, persoalan yang lain dibicarakan dilain waktu saja”

Tiba-tiba Cu Tong dengan wajah murung berkata, “Hujin, aku hendak mencari Pek Siau-thian untuk menanyakan jejak dari Seng ji, entah bagaimanakah pendapat hujin itu.

“Biar aku saja yang pergi!” seru Ci-wi Siancu sambil bangkit berdiri dan siap berlalu.

Hoa Hujin segera menarik pergelangan tangannya sambil berseru, “Tunggu sebentar, biar aku yang menanyakan sendiri!”

Tiba-tiba suara genta yang ada diatas mimbar berdentang nyaring, diikuti suara tetabuhan dan pembacaan doa berhenti sama sekali, ha nya Thong-thian Kaucu seorang yang masih membaca doa tiada hentinya sambil membakar Lenghu, satu demi satu hingga akhirnya setelah membakar tiga belas lembar Lenghu ia baru berhenti. Kemudian memerintahkan anak muridnya untuk pasang hio ganti lilin dan membakar uang kertas perak dan kertas emas.

Pada waktu itulah, puluhan orang imam berjubah kuning dengan lukisan pat kwa dam menyoren pedang dipunggung berjalan masuk kedalam lembah, usia para imam tersebut rata-rata empat puluh tahun keatas, tiga orang membentuk satu barisan berjalan masuk dengan teratur sekali, paling belakang berjalanlah tiga orang imam tua yang usianya sudah mencapai delapan puluh tahunan dengan rambut yang berwarna keperak-perakan, Cin Leng-cinjin berada dtantara ketiga orang itu.

Thong-thian Kaucu segera loncat turun dari atas mimbar dan lari menuju kemulut lembah untuk menyambut kedatangan ketiga orang imam tua tersebut dengan sikap sangat menghormat, ia mempersilahkan orang-orang tua tadi masuk kebarak untuk beristirahat.

Hoa Hujin takut orang-orang dipihaknya tidak mengenal akan kelihayan dari ketiga orang imam tua tersebut sehingga dalam pertarungan massal nanti salah mencari sasaran, maka segera ujarnya, “Imam tua yang ada ditengah adalah Hian Leng, yang ada disebelah kiri bernama Pia Leng, sedang imam yang kecil dan kurus itu bernama Cin Leng-cinjin, ketiga orang itu merupakan paman guru dari Thian Ik-cu dan sudah puluhan tahun lamanya tak pernah munculkan diri didalam dania persilatan!”

Mendengar penjelasan itu, wajah para jago agak berubah, mereka tahu ketiga orang imam tua yang sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia, ini pasti memiliki ilmu silat yang sangat mengerikan, tapi mereka sama sekali tidak merasa gentar atau takut, sebab mereka sudan menyadari bahwa keadaan pada saat itu pihak lawan jauh lebih tangguh kekuatannya daripada pihak sendiri, kecuali Biau-nia Sam-sian, rata-rata para pendekar yang lain sudah ambil keputusan untuk berjuang sampai titik darah penghabisan.

Tiba-tiba suasana dibarak bagian depan berubah jadi hening dan sepi, hal ini segera memancing perhatian orang- orang dari golongan pendekar dan perkumpulan Thong-thian- kauw untuk bersama-sama menengok kedepan.

Terdengar Cu Tong berkata dengan suara berat, “Bu liang loo ji telah datang!”

Tampaklah seorang kakek tua berperawakan kekar, berikat kepala warna tua dan berjenggot perak sepanjang dada berjalan masuk kedalam lembah tersebut….

Bu Liang Sinkun dari gunung Buliang san sejak belasan tahun berselang telah dianggap umum sebegai jago lihay nomor satu dalam kalangan hek to tetapi sejak ia dikalahkan oleh Hoa Goan-siu ketika diselenggaranya pertemuan Pak beng hwee, dengan menahan rasa malu ia segera mengundurkan diri dan sepuluh tahun lamanya mengasingkan diri. Ini hari telah muncul kembali dalam pertemuan besar Kian ciau tayhwee orang itu masih tetap dianggap sebagai seorang tokoh sakti dalam dunia persilatan.

Kok See-piauw murid ahli warisnya dengan kencang mengikuti disamping gurunya.

Thong-thian Kaucu dengan memimpin para anak muridnya buru-buru menyambut kedatangannya, sambil tertawa katanya, “Kunjungan sinkun benar-benar merupakan suatu kehormatan bagi kami, apabila sambutan kami kurang memuaskan, harap siokun suka memberi maaf yang sebesar- besarnya”

Dengan sorot matanya yang tajam bagaikan kilat, Bu Liang Sinkun menyapu sekejap seluruh lembah lalu sambil tertawa, jawabnya, “Aku bisa ikut menghadiri pertemuan ini sudah merupakan suatu kebanggaan, kaucu tak usah sungkan- sungkan!” Kemudian tertawa tergelak dengan suara nyaring, suaranya keras bagaikan genta hingga mendengung dalam lembah tersebut.

Yan-san It-koay dan Liong bun siang san dari perkumpulan Hong-im-hwie segera menyapa sambil tersenyum dari tempat duduknya hanya Jin Hian seorang yang munculkan diri dari barak, sambil memberi hormat.

“Sinkun selamat berjumpa kembali!” sapanya.

“Jin heng, baik-baik kah selama ini?”, kemudian kakek tua itupun menjura ke arah Yan-san It-koay sekalian.

Thong-thian Kaucu tertawa nyaring, serunya, “Kunjungan Sinkun kedalam pertemuan ini boleh dibilang merupakan seorang tamu terhormat, bagaimana kalau pinto khusus si apkan meja perjamuan untuk menghormati dirimu?”

“Tujuan diselenggarakannya pertemuan Kian ciau tayhwee adalah untuk menghormati arwah yang telah tiada, lebih baik orang yang hadir dalam pertemuan ini tak usah dilayani secara istimewa….!”

Kedua orang itu saling pandangan dan tertawa, Bu Liang Sinkun segera memberi hormat oan meneruskan perjalanannya menuju kebarak dari perkumpulan Sin-kie-pang.

Sedari permulaan tadi, Pek Siau-thian telah keluar dari baraknya untuk menyambut kedatangannya orang itu, setelah saling me-ngucapkan kata-kata merendah, merekapun segera masuk kedalam barak untuk ambil tempat duduk.

Kok See-piauw maju memberi hormat, sapanya, “Paman Pek!” Sorot matanya dengan tajam menyapu sekeliling tempat itu untuk mencari Pek Kun-gie, ketika sinar matanya membentur wajah Pek Soh-gie pemuda itu agak tertegun.

Satu ingatan berkelebat dalam benak Bu lian sinkun, tegurnya, “Eeei…. kenapa keponakan Kun Gie tidak nampak?”

Dengan sedih Pek Siau-thian menghela papas panjang. “Aaai…. bocah itu berumur pendek, ia sudah tiada lagi di

kolong langit….!”

Mendengar berita itu sekujur badan Kok See-piauw gemetar keras, dengan wajah berubah hebat, serunya, “Kenapa dia bisa mati?”

Diam-diam Pek Siau-thian berpikir dalam hatinya, “Walaupun orang ini kalah jauh kalau dibandingkan dengan binatang cilik dari keluarga Hoa, namun rasa cintanya terhadap Kun Gie sudah mendalam sekali, aaai! sayang keadaan tidak mengijinkan….!!”

Dalam hati ia berpikir dsmikian, diluar jawabnya dengan hambar.

“Ia mati ditangan Hoa Thian-hong, bagaimanakah duduknya perkara yang sebenarnya aku sendipun kurang begitu jelas….”

“Hoa Thian-hong, putra Hoa Goan-siu?!” seru Bu Liang Sinkun dengan sepasang alis mata berkenyit, dengan sorot mata tajam ia segera mengawasi para jago dibarak sebelah depan. “Bajingan cilik itu sudah kuhajar masuk kedalam jurang setinggi sepuluh ribu tombak hingga kini masih belum ada kabar beritanya, aku rasa dia pasti sudah mampus!”

“Bagus! ini hari kita harus babat rumput sampai seakar- akarnya, kalau berkerja harus sempurna daripada dalam dunia persilatan selalu terbagi antara golongan hitam dan putih.”

Pek Siau-thian tersenyum, ia berpaling ke arah Pek Soh-gie yang berada disisinya dan berkata, “Soh-gie, kemarilah! cepat memberi hormat untuk empek Lie dan Kok toako!”

Sepasang mata Pek Soh-gie masih merah membengkak dan basah oleh air mata, mendengar perkataan itu ia segera menghampiri kedua orang itu dan memberi hormat.

Bu Liang Sinkun segera berpaling ke arah Pek Siau-thian dan berseru dengan wajah tercengang, “Dia adalah putri sulungmu?”

Pek Siau-thian menganguk.

“Ia bernama Soh-gie, jauh lebih jujur, dia polos daripada Kun Gie, budak liar yang sukar dikendalikan itu….”

Dengan pandangan tajam Bu Liang Sinkun memperhatikan sekejap wajah Pak Soh-gie, kemudian pikirnya, “Ditengah kecantikan wajah gadis ini terpancar suatu daya tarik yang memikat hati, keayuannya tidak berada dibawah adiknya….”

Berbicara sampai disitu, sambil tersenyum segera ujarnya, “Gadis yang mengutamakan kehalusan dan kelembutan memang sukar ditemukan di kolong langit, apalagi berwajah begini cantik….” Ia menghela napas panjang, setelah berhenti sebentar sambungnya lebih jauh, “Kita adalah sahabat lama, sedangkan See Piau dan keponakan Kun Gie juga boleh dibilang mempunyai hubungan yang erat antara yang satu dengan yang lain, sayang takdir menghendaki lain sehingga terjadi perubahan seperti ini. Aaai….! seandainya keponakan Kun Gie masih hidup di kolong langit dan kita bisa menjodohkan mereka berdua hingga kita saling berbesar, bukankah hal ini bagus sekali….??”

Mendengar perkataan ini, satu ingatan segera berkelebat dalam benak Pek Siau-thian, pikirnya, “Ucapannya ini bukankah berarti bahwa ia sedang mengajukan pinangan kepadaku dan mengharapkan aku menjodohkan Soh-gie kepada muridnya.

Sesudah berhenti sebentar, ia berpikir lebih jauh, “Dalam pertempuran yang bakal langsung kali ini, melenyapkan kawanan pendekar dari golongan putih merupakan suatu pekerjaan gampang, tetapi kalau hendak menggunakan kesempatan ini untuk menumpas kekuatan golongan Hong-im- hwie dan Thong-thian-kauw bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, tapi seandainya aku bisa mendapat bantuan dari Bu Liang Sinkun, maka harapannya untuk mendapat kemenangan bukankah jauh lebih besar?”

Berpikir sampai disini, pikirannya segera bekerja, diam- diam ia memperhatikan sekejap diri Kok See-piauw, kemulian pikirnya, “Paras muka orang ini tidak jelek, ilmu silat yang dimilikipun sangat bagus, memang tak ada salahnya kalau dijodohkan kepada Soh-gie. Dalam koiong langit dewasa ini tiada ada seberapa orang yang pantas mempersunting putri keluarga Pek, biar kuterima saja pinangannya ini….”

3 Setelah mengambil keputusan, ia segera tersenyum dan berkata, “Keponakan See Piau memang tampan dan manusia hebat yang sukar didapati dalam kolong langit dewasa ini, sayang Kun Gie budak itu tidak punya rejeki baik. Aaai….!”

Dia menghela napas panjang dan tiba-tiba membungkam.

Ketika Bu Liang Sinkun mendengar Pek Siau-thian memuji anak muridnya, ia tahu bahwa urusan berjalan lancar, sambil mengelus jenggot dan tertawa segera ujarnya lagi, “Pek Loo te, apakah Soh-gie bocah ini sudah dijodohkan kepada orang lain?”

Kembali Pek Siau-thian menghela napas panjang. “Aaaiii….! sebenarnyaa ia selalu mendampingi ibunya hidup

menyendiri sedangkan akupun sibuk dengan urusan perkumpulanku, sampai sekarang masih belum ada kesempatan untuk memikirkan soal jodoh mereka!”

Bu Liang Sinkun jadi sangat kegirangan.

“Kalau memang begitu, siau Leng ingin sekali mempererat hubunganku dengan diri Lo te, cuma sayang muridku See Piau mungkin terlalu jelek dan bodoh sehingga tidak dapat menerimanya?”

“Kita toh sahabat lama kenapa harus sungkan-sungkan” jawab Pek Siau-thian sambil tertawa, “mungkin putriku yang tidak memadahi untuk mendampingi keponakan See Piau.

“Haahh…. haahh…. haaahhh” Bu Liang Sinkun tertawa terbahak-bahak, “ayoh cepat cepat memberi hormat kepada ayah mertuamu!” Kok See Pitu jadi amat terperanjat.

“Suhu….” teriaknya. Bu Liang Sinkun jadi gusar, dengan ilmu menyampaikan suara buru-buru bisiknya, “Goblok! budak ini sepuluh kali lipat lebih hebat daripada Pek Kun-gie, kalau engkau mengawini dirinya sebagai istrimu maka per kumpulan Sin-kie-pang merupakan hadiah bagi perkawinan itu, cepat atau lambat Pek loo ji akan mengundurkan diri dan ketika itu dunia persilatan akan menjadi kekuasaanmu”

Mula-mula Kok See-piauw merasa terperanjat kemudian tertegun dan akhirnya kegirangan, buru-buru ia bangkit berdiri dan berjalan kehadapan Pek Siau-thian lalu menjalankah penghoramatan besar.

“Ayah….” tiba-tiba terdengar Pek Soh-gie berseru sambil menangis.

Pek Siau-thian merasakan hatinya bergetar keras, dengan rasa kejut bercampur gusar, serunya, “Ada apa?”

Dengan air mata bercucuran, Pek Soh Gei berkata, “Siau li telah bersumpah antuk menemani ibu sepanjang hidup, selamanya aku tak akan membicarakan tentang….”

Pek Siau-thian semakin gusar bentaknya, “Kurang ajar, aku….”

Dengan sorot matanya yang tajam Bu Liang Sinkun segera mengamati wajah Pek Soh-gie, ia lihat wajahnya bersungguh- sungguh dan sedikit pun tidak nampak berpura-pura, karena takut urusan jadi berabe dan malahan tidak karuan, buru-buru ia menukas sambil tertawa, “Loo te tak usah marah, bocah ini meskipun bodoh tapi rasa baktinya kepada orang tua amat besar, engkau tak usah menegur di rinya lebih jauh….” Sesudah berhenti sebentar, dengan ilmu menyampaikan suara segera ujarnya lagi, “Hati kaum muda paling gampang berubah, paling bander sikapnya itu hanya berlangsung untuk sementara waktu belaka, biarlah mereka berdua bergaul lebih lama sehingga timbul perasaan yang mendalam da lam hati mereka masing-masing, setelah selesai menghadiri pertemuan besar Kian ciau tayhwee ini, aku dengan mengajak muridku akan berkunjung sendiri kegunung Hoan keng san, asalkan Hong hwee menyatakan persetujuannya dalam soal perkawinan ini, bukanlah urusan besar?”

Pek Siau-thian menghela napas panjang, ia segera teringat kembali akan keadaan dirinya yang telah berpisah deagan istrinya, putri bungsu Kun Gie yatg berada dibawah bimbingannya ternyata mendapat bencana dimasa muda, terhadap putri sulungnya yang jauh lebih luhur ia merasa tak tega untuk menggunakan cara yang keras.

Setelah termenung beberapa saat lamanya ia segera membangunkan Kok See-piauw yang sedang berlutut dihadapannya dengan muka merah padam, katanya, “Ini hari seluruh orang gagah dari penjuru dunia berkumpul disini, inilah kesempatan ynng paling baik buat setiap pria sejati untuk unjukkan kehebatan, Hian tit! duduklah disisiku dan soal perkawinan kita bicarakan lagi di kemudian hari”

“Terima kasih atas perhatian dari paman!” jawab Kok See- piauw sambil memberi hormat.

Ia segera maju kedepan dan duduk disamping Pek Soh-gie.

Tiba-tiba…. dari mulut lembah muncullah empat orang pemuda berbaju ringsas yang menggotong sebuah tandu berwarna hitam. Paras muka keempat orang pemuda itu bersih dan tampan, usianya diantara lima enam belas tahunan, gerak-geriknya enteng dan cepat, sesudah memasuki mulut lembah tersebut tandu tadi langsung menuju kebawah persembahan.

Seorang murid perkumpulan Thong-thian-kauw segera maju menyongsong sambil bertanya, “Yang datang adalah orang gagah dari mana?”

Empat orang pemuda berpakaian ringkas itu menurunkan tandunya keatas tanah, kemudian salah seorang yang berada dipaling depan menjawab dengan suara lantang, “Siang Tang Lay dari wilayah See ih!”

Jawaban tersebut laksana guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, menggetarkan hati semua jago yang hadir dalam lembah Cu bu-kok tersebut, seketika itu juga suasana jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Thong-thian Kaucu , Pek Siau-thian, Jin Hian, Bu Liang Sinkun dan para jago lainnya sama-sama merasa terperanjat, mereka semua segera bangkit berdiri tinggalkan tempat duduk.

Pedang sakti yang menyapa daratan Tionggoan, Siang Tang Lay adalah seorang tokoh sakti yang sudah tersohor namanya sejak dua puluh tahun berselang kemunculannya yang secara tiba-tiba sebelum pertemuan besar Kian ciau tayhwee diselenggarakan benar-benar sa ngat menggetarkan hati setiap orang.

Seorang pemuda berpakaian ringkas maju kedepan menyingkap horden yang menutupi tandu tersebut, dua orang lainnya segera maju kedepan dan mendorong keluar sebuah kursi beroda dari dalam tandu tadi, diatas kursi beroda duduk seorang pria bangsa Han yang memakai jubah putih, sepatu tebal dan kaos putih yang tinggi, sedikitpun tidak nampak dandanannya sebagai seorang suku Oh.

Rambut putih orang itu panjang terurai kepundak, jenggot peraknya sepanjang dada, menurut keadaan semestinya orang itu adalah seorang kakek tua, terapi mukanya ternyata masih kencang dan sedikitpun tidak nampak kerutan-kerutan, sekilas pandangan bahwa menyerupai seorang lelaki yang baru berusia tiga puluh tahunan.

Thong-thian Kaucu berada paling dekat dengan orang itu, ketika wajah orang itu diamatinya dengan lebih seksama maka kecuali rambut putih serta Jenggot putih yang telah tumpuh subur diwajah orang itu, paras mukanya sama sekali tidak berbeda, dia bukan lain adalah manusia aneh yang pernah mengobrak abrik dunia persilatan dengan an dalkan sebilah pedang emas kecil.

Untuk beberapa saat lamanya jantung terasa berdebar keras, ia tak dapat mengutarakan hatinya merasa terkejut atau takut, murung atau gembira.

Dalam sekejap mata dari dalam barak muncullah Pek Siau- thian, Bu Liang Sinkun, Jin Hian dan lainnya, melihat hal itu Thong-thian Kaucu buru-buru maju pula kedepan.

Pedang sakti yang menyapu daratan Tionggoan Siang Tang Lay masih tetap duduk diatas kursi, sepasang tangannya diletakan di atas lutut dan membawa sebuah kotak kecil setengah depa lebarnya yang memancarkan sinar keemas- emassan ketika itu dengan sorot matanya yang tajam, ia sedang menyapu empat orang jago yang sedang mendekati dirinya kemudian tegurnya dengan suara lantang, “Dimanakah Ciu It-bong?”

Thong-thian-kauwca segera tertawa terbahak-babak. “Haaahh…. haaahbh…. haaahhh…. kepergian Siang sicu telah meninggalkan bencana karena sebilah pedang emas itu, Ciu It-bong telah berangkat menuju neraka!”

“Hidung kerbau bau, engkau berani menyumpai diriku?” mendadak diri mulut lembah berkumandang teriakan seseorang.

Diiringi suara ketakutan yang nyaring tahu-tahu ditengah gelanggang telah bertambah dengan seorang marusia.

Ketika semua orang alihkan sorot matanya, maka tampaklah Ciu It-bong dengan andalkan sebuah lengan kirinya sambil membawa sebuah tongkat besi sepanjang lima depa sedang meluncur datang dari tengah udara, walaupun badannya sudah cacad namun semangat orang itu masih tinggi, hal ini membuat semua orang diam-diam merasa kagum.

Siang Tang Lay segera tersenyum, tanyanya, “Ciu It-bong, senjata e«masku itu apakah masih berada ditanganmu?”

“Haaahh…. hahhh…. haaahhh…. tentang soal ini tanyakan saja kepada Jin Hian tua bangka tersebut karena sudah diambil olehnya,” jawab Ciu It-bong sambil tertawa tergelak, dengan alis berkenyit ia melirik sekejap ke arah pemimpin perkumpulan Hong-im-hwie tersebut.

Siang Tang Lay alihkan pandangnya ke arah Jin Hian dan ia bertanya kembali.

“Apakah pedang emas itu berada ditanganmu?”

Dalam hati Jin Hian segera berpikir, “Tempo dulu kami semua telah memotong kutung seluruh otot dan sendi penting dari Siang Tang Lay, kalau dilihat dari kursi roda yang digunakan untuk mengganti kakinya, hal ini jelas menunjukkan bahwa badannya memang telah cacad, dengan badan yang cacad ia masih punya kemampuan apalagi yang bisa diandalkan?”

Berpikir sampai disitu ia segera mendengus dingin dan menjawab.

“Pedang emas memang berada ditangan aku orang she Jin, engkau mau apa?”

“Bagus sekali” teriak Cui It Bong dengan cepat “Jin loo ji dicuri orang, ternyata engkau sengaja melepaskan asap untuk membo hongi orang?”

“Heeehhh…. heeehhh…. heehhh…. kalau benar engkau mau apa?” jawab Jin Hian sambil tertawa dingin.

Haruslah diketahui, lantaran pedang emas tersebut putra tunggal Jin Hian telah dibunuh orang bahkan hingga saat ini pembunuhnya masih belum ketahuan, karena itulah kendatipun dalam kenyataan pedang emas tersebut telah dicuri orang tetapi ia mengakui masih berada disakunya untuk memanaskan hati orang.

Tetapi rahasia tentang Pedang emas adalah rahasia besar yang tak dapat dipecahkan oleh semua orang dalam persilatan, pedang emas justru merupakan titik perhatian semua orang, pada dasarnya para jago memang sudah menaruh curiga akan persoalan itu, setelah Jin Hian berkata demikian maka situasi pun seketika berubah.

Pek Siau-thian dengan sepasang matanya memancarkan cahaya tajam segera berseru, “Jin heng, kalau memang pedang emas itu masih berada ditanganmu kenapa tidak engkau ambil keluar? mumpung sahabat Siang masih berada disini, kita bisa minta bantuanny untuk memecahkan teka teki mengenai pedang emas ini, agar dunia persilatanpun tak usah selalu diliputi pertikaian karena masalah tersebut!”

“Benar!” teriak Ciu It-bong, “kalau rahasia pedang emas belum terbongkar aku tak alan mati dangan mata terpejam”

Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak.

“Haahh…. haah…. haahh…. Siang Sicu, engkau bersusah payah melakukan perjalanan sejauh sepuluh laksa li datang kemari, apakah tujuanmu adalah untuk melagukan duel sengit lagi dengan para orang gagah dari daratan Tioaggoan?” tegurnya.

Siang Tang Lay berpaling dan memandang sekejap meja abu para orang gagah yang telah gugur dalam pertemuan Pak beng bwee diatas panggung persembahan, lalu menghela napas panjang, sahutnya, “Dari mulut seseorang, aku pernah mendengar bahwa para orang gagah dari daratan Tionggoan kebanyakan sudan menemui ajalnya dalam pertemuan besar Pak beng hwee, kedatanganku ke Timur kali ini sama sekali bukan bermaksud untuk melakukan pertarungan melawan orang-orang persilatan daratan Tionggoan….!”

“Maksud dari perkataan itu sudah jelas sekali, yakni dalam pandangannya kelima orang jago lihay yang berada dihadapan mukanya sekarang ini sama sekali tidak terhitung sebagai manusia gagah dari daratan Tionggoan.”

Mendengar sindiran tersebut, merah jengah selembar wajah Thong-thian Kaucu berlima.

“Haruslah diketahui sewaktu tempo hari, Siang Tang Lay mengacau daratan Tionggoan akhirnya ia telah menderita kekalahan ditangan tenaga gabungan dari kelima orang ini bahkan kelima orang tersebut telah menggunakan siasat licin, oleh sebab itulah sesudah mendengar sindiran yang amat pedas itu mereka semua merasa tersipu dan malu!”

Bu Liang Sinkun dari malu menjadi gusar dengan suara berat ia segera menukas, “Walaupun semua orang gagah didaratan Tionggoan telah mampus, manusia-manusia bodoh yang masih hidup masih ada banyak sekali, akulah yang pertama-tama akan minta petunjuk darimu”

Sambil ayun telapaknya dari kejauhan dia lancarkan satu pukulan gencar ke arah depan.

Gulungan angin puyuh menderu-deru menembusi angkasa, begitu hebat serangan yang dilepaskan membuat orang-orang yang ada dibarak-barak kiri dan kanan merasakan telinganya mendengung keras.

Kekuatan tenaga pukulan yang dipancarkan Bu Liang Sinkun betul-betul luar biasa sekali, meskipun semua orang terperanjat namun mereka tidak merasa keheranan sebab dibawah nama besar tak mungkin ada manusia yang tak becus, semua orang hanya ingin tahu Siang Tang Lay yang sudah cacad akan menghadapi serangan tersebut dengan cara apa.

Terdengar bentakan keras menggeletar di angkasa, empat orang pemuda berpakaian ringkas yang berdiri dikedua belah sisi kursi roda tiba-tiba ayunkan tangannya, serentetan cahaya perak laksana sambaran petir berkelebat ke arah depan, seketika itu juga angin pukulan Bu liang Sinkun yang maha dahsyat itu terbagi menjadi dua dan menggulung lewat dari kedua belah sisi kursi roda itu…. Dengan ketajaman mata Bu Liang Sinkun, walaupun cahaya perak hanya berkelebat dalam waktu singkat, namun ia sempat melihat bahwa ditangan keempat orang pemuda itu masing-masing membawa sebilah pedang kecl berwarna perak, pedang kecil itu panjangnya lima cun dan tiada berbeda jauh antara yang satu dengan lainnya, hanya warnanya berbeda dan cahaya yang memancar keluar nampak aneh sekali.

Keempat orang pemuda berpakaian ringkas itu setelah menahan ancaman yang meluncur tadi segera turunkan kembali tangannya kebawah, pedang kecil yang berada digenggamannyapun seketika lenyap tak berbekas, sikap mereka tenang seolah-olah tak terjadi sesuatu apa pun, untuk beberapa saat lamanya keadaan iu menegunkan hati beberapa orang gembong iblis tersebnut.

Thong-thian Kaucu yang bisa membawa diri, setelah tertegun beberapa saat lamanya ia segera tergelak, serunya, “Kiong hi…. kiong ni….!ilmu silat ampuh yang dimiliki Siang sincu telah mendapatkan ahli waris, sekarang sahabat-sahabat persilatan dapat membuka matanya kembali!”

Siang Tang Lay tersenyum dan gelengkan kepalanya, ia berkata, “Dengan andalkan ilmu silat mereka yang tidak seberapa itu masih selisih jauh kalau ingin adu kekuatan dengan para jago lihay dan daratan Tionggoan”

Hmm! engkau berani datang kembali ke wilayah Timur sudah tentu tiada sesuatu yang kau segani bukan? apa yang kau andalkan lagi? ayoh cepat perlihatkan keluar!” seru Bu Liang Sinkun dengan suara dingin.

Bukannya gusar, Siang Tang Lay malah tertawa, jawabnya, “Aku tidak lebih hanya seorang manusia cacad yang sudah tak berguna lagi, ambisiku sudah lenyap tak berbekas sejak dahulu kala, kedatanganku ke wilayah timur kali ini tidak lebih hanyalah hendak menyelesaikan beberapa macamm persoalan kecil, soal arti nama dan kedudukan sudah tidak masuk dalam pikiranku lagi”

Mula-mula Bu Liang Sinkun nampak tertegun, kemudian pikirnya lebih lanjut.

“Meskipun beberapa orang bocah cilikmu tidak terlalu menarik perhatian, nampaknya kepandaian silat mereka cukup tangguh dan sulit dihadapi, sekalipun aku berhasil menang juga tidak gagah, aku harus baik-baik menjaga diri agar nama besarku yang dipupuk secara susah payah selama ini tidak hancur berantakan dengan begitu saja”

Karena berpikir demikian, diapun membungkam dan segera meagundurkan diri dari situ.

Terdengar Thong-thian Kaucu berkata lagi, “Siang sicu kalau memang engkau tidak berhasrat untuk cari nama dan kedudukan dalam dunia persilatan, itu berarti bahwa engkau adalah tamu terhormat dari perkumpulan kami, entah persoalan apakah yang hendak kau selesaikan? apabila membutuhkan bantuan, pinto bersedia untuk menyumbangkan tenagaku, Siang Tang Lay tertawa, sahutnya dengan suara lantang, “Pertama aku hendak membongkar rahasia yang menyangkut tentang soal pedang emas, daripada kepandaian silat yang maha sakti itu ikut lenyap kedalam perut bumi bersama aku manusia cacad ini….”

“Mengutamakan kependekaran daripada keuntungan pribadi tindakanmu ini memang patut dipuji oleh setiap manusia di kolong langit, apakah persoalan kedua yang akan Siang sicu lakukan?” seru Thong-thian Kaucu dengan suara lantang. “Dalam peti yang kubawa ini tersimpan suatu benda mustika yang tak ternilai harganya dan merupakan benda langka yang diimpikan oleh setiap umat persilatan dalam kolong langit, aku hendak mencari seseorang yang berjodoh serta menghadiahkan benda ini kepadanya”

Makin bicara orang itu semakin aneh membuat orang yang hadir dalam lembah itu merasakan jantungnya berdebar keras dan wajahnya berubah jadi merah padam, mereka menjadi tak sabar dan ingin cepat-cepat mengetahui rahasia yang menyulubunni pedang emas itu disamping juga ingin mengetahui benda apakah yang berada dalam peti itu.

Terdengar Jin Hiag menjengek dingin dan berkata, “Sebuah pedang emas sudah cukup termasuk aneh dan luar biasa, aku tidak percaya kalau di kolong langit masih terdapat benda mustika lainnya yang jauh lebih aneh dan luar biasa”

Siang Tang Lay tersenyum.

“Kolong langit selebar ini siapa bilang tiada keanehan yang terdapat didalamnya? asal orang ada rejeki maka ia dapat merasa kannya dengan gembira”

“Siang Tang Lay,” seru Ciu It-bong pula, “kita semua boleh dibilang bersikap kurang begitu baik terhadap dirimu, kenapa benda mustika yang begitu berharga engkau berikan kepada orang lain?”

“Dari mana engkau tahu benda mustika itu akan kuhadiahkan kepada siapa….? siapa tahu aku hendak menghadiahkan kepada seorang sahabat karibku atau keturunannya sebagai tanda penghargaan atas budi yang pernah diberikan kepadaku dimasa lampau”

Setelah perkataan itu diutarakan keluar, mau tak mau semua orang jadi mempercayainya, dalam sekejap mata meluruh pandangan mata yang tajam bersama-sama dialihkan ke arah kotak emas yang berada ditangan orang she Siang itu, seakan-akan hendak mengetahui apa isi kotak yang sebenarnya….

Thong-thian Kaucu diam-diam berpikir, “Hoa Goan-siu pernah melepaskan budi kepadanya, dimana selembar jiwanya telah diselamatkan dari kematian, apabila dia memiliki benda mustika yang tak ternilai harganya, benda itu tentu akan dihadiahkan kepada keluarga Hoa, aaai! sayang peristiwa ini terjadi didepan umum, tak mungkin aku bisa merampas benda tersebut dengan keke rasan….”

Jin Hian telah kehilangan nyawa putra tunggalnya lantaran ia menyimpan benda mustika, atas terjadinya peristiwa tersebut ia merasa amat membenci terhadap pedang emasnya Siang Tang Lay, sekarang mendengar ada benda mustika yang akan dihadiahkan kepada orang lagi, timbullah rasa benci dalam hatinya.

Dengan penuh kegusaran ia membentak keras, “Siang Tong Lay, engkau tak usah bermain licik, andaika masih ada persoalan yang ketiga, ayoh cepat diutarakan keluar kalau tidak perkumpulan Hong-im-hwie akan segera mengirim engkau untuk pulang keakhirat.

“Tentu saja masih ada masalah yang ketiga,” jawab Siang Tang Lay perlahan-lahan.

“Apakah persoalan itu?” bentak Jin Hian dengan kasar.

Air muka Siang Tang Lay berubah jadi serius, dengan nada ber suagguh-sungguh ia berkata, “Persoalanku yang ketiga adalah hendak menyambangi arwah-arwah yang telah tiada dalam pertemuan besar Kian ciau tayhwee ini, disamping itu aku akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk balaskan dendam bagi sababat-sahabat lamaku yang telah meninggal!” Mendengar sampai disitu, Bu Liang Sinkun segera menengadah kea tas dan tertawa terbahak-bahak, sejenak kemudian dengan wajah menyeringai ia berkata, “Haahh…. haahh…. haahh…. jadi kalau begitu bicara pulang pergi, kedatanganmu adalah mengandung maksud-maksud tertentu?”

Sorot matanya segera dialihkan keatas wajah Thong-thian Kaucu dan melanjutkan, “Too teng, apakah upacara dalam pertemuan Kian ciau tayhwee ini telah selesai atau belum? jikalau tiada upacara lainnya lagi maka kami semua akan segera menyelesaikan perselisihan tentang urusan dunia persilatan”

ooooOoooo 50

MENDENGAR ucapan tersebut, Thong-thian Kaucu jadi amat terperanjat, buru-buru katanya, “Pinto beran-benar pikun, tengah malam sudah lewat tapi upacara resmi masih belum juga dimulai….”

Setelah memberi hormat, buru-buru ia balik lagi kedalam barak, setelah mengenakan pakaian upacara ia segera loncat naik keatas mimbar.

Terdengar suara genta kembali bergema nyaring, suara pembacaan doa berkumandang kembali memecahkan kesunyian.

Dengan kerdipan mata, Siang Tang Lay memberi tanda kepada keempat orang muridnya, mereka segera mendorong kursi beroda itu masuk Kedalam tandu lalu berjalan menuju kebarak yang dihuni para pendekar dari kalangan lurus. Pek Siau-thian, Bu Liang Sinkun dan Jin Hiang kembali kebaraknya masing-masing, hanya Ciu It-bong seorang yang loncat keangkasa dan seorang diri duduk diatap barak.

Setelah semua orang mungundurkan diri, segerombolan imam dengan membawa orang-orangan kertas, kuda-kudaan kertas berjalan masuk ke dalam gelanggang, sambil berputar mengelilingi arena, mereka membaca doa tiada hentinya.

Tiba-tiba muncul kembali tiga orang imam cilik baju merah, ditangan mereka masing-masing membawa sebuah Leng pay berwarna putih dan naik keatas panggung persembahan, kemudian ketiga leng pay berwarna putih tadi di letakkan dibawah meja abu yang sangat be-sar ditengah panggung tersebut.

Dalam sekejap mata suasana dalam lembah jadi sangat gaduh, suara bisikan bergema jadi pembicaraan yang ramai, suasana benar-benar amat ramai dan ribut.

Ternyata ketiga buah leng pay warna putih yang terpancang diatas panggung itu yang tengah bertuliskan,

“Tempat abu dari Hoa Thian-hong kepala kampung muda perkampungan Liok Soat Sanceng”

Yang kiri bertuliskan,

“Tempat abu Jin Bong pimpinan muda perkumpulan Hong- im-hwie”

Sedangkan yang ada disebelah kanan bertuliskan, “Tempat abu dari Pek Kun-gie ketua muda perkumpulan

Sin-kie-pang.” Siang Tang Lay setelah masuk kedalam barak baru saja sempat ber cakap-cakap beberapa patah kata dengan Hoa Hujin ketika menyaksikan munculnya tempat abu dari Hoa Thian-hong sekujur badannya bergetar keras, ia segera menegur, “Hoa Hujin, sebenarnya apa yang telah terjadi?”

Hoa Hujin sendiri pun terbelalak matanya dengan mulut melongo, bagaikan disambar petir disiang hari bolong ia berdiri mendelong, beberapa saat kemudian ia mendusin dari lamunannya dan menggerakkan bibir seperti sedang mengucapkan sesuatu.

Tiba-tiba tampaklah bayangan manusia berkelebat lewat, Tio Sam-koh, Hoa In, Biau-nia Sam-sian dan tiga harimau dari keluarga Tiong bersama-sama loncat keluar dari dalam barak

Menyaksikan kejadian itu, Hoa Hujin merasa amat terperanjat, dengan cepat tangannya bekerja menyambar lengan Tio Sam-koh, hardiknya dengan suara keras, “Semuanya berhenti!”

Semua orang merasa terkesiap dan segera menghentikan langkah kakinya dan berdiri tertegun.

Sepasang mata Tio Sam-koh berubah jadi merah membara, sambil mengetukkan toyanya diatas tanah, teriaknya dengan suara lantang, “Pek Siua Thian! apakah Hoa Thian-hong mati karena kau bunuh?”

“Kecuali aku yang lakukan, siapa lagi yang mampu membinasakan dirinya….?” jawab Pek Siau-thian dengan suara dingin.

“Bluuk….!” tiba-tiba Chin Wan-hong yang duduk dikursi roboh keatas tanah dan jatuh tak sadarkan diri. Hoa Hujin merasakan hatinya amat sakit bagaikan diiris dengan pisau, tetapi ia masih tetap menaban diri, sepatah demi sepatah katanya dengan suara tegas, “Manusia yang mana tidak dikandung selama sembilan bulan sepuluh hari sebelum dilahirkan? manusia semuanya dipelihara oleh ayah dan ibu, Seng ji tak akan mati dengan siasia, tetapi untuk membalas dendam kita harus menilai dahulu kekuatan kita masing-masing.”

Tio Sam-koh berusaha meronta dengan sekuat tenaga tetapi ia tak behasil melepaskan diri dari cekalan lawan akhirnya dengan suara gamas serunya, “Engkau mau menilai, nilailah tenagamu sendiri dan aku akan melakukan pekerjaan sendiri, masing-masing melakukan tugasnya sendiri dan tidak saling bersangkutan”

“Hmmm! Hoa Goan-siu adalah ayah dan Hoa Thian-hong adalan putra, sebelum dendam sakit angkatan sebelumnya dibalas, dendam angkatan yang lebih muda tak dapat dilakukan lebih dahulu!” seru Hoa Hujin dengan suara tegas.

“Tio lo thay!” Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san segera menimbrung dengan suara serak, “seribu hutang piutang jadi satu per hitungan, belasan tahunpun kita dapat menunggu mengapa untuk sesaat saja engkau tak mampu?”

Dari atas panggung persembahan tiba-tiba berkumandang suara seruan seseorang dengan suara lantang.

“Thong-thian Kaucu telah resmikan pembukaan upacara pertemuan Kian ciau tayhwee, para enghiong dan orang gagah yang akan menghormati arwah-arwah dari perkampungan Liok Soat Sanceng dipersilahkan maju kedepan….” Buru-buru Hoa Hujin menentramkan hatinya dan maju kedepan lebih dahulu, semua orang yang menyaksikan kejadian itu segera menyusul dari belakang dan bersama- sama menuju kebawah panggung persembahan.

Terdengar panitia yang ada diatas panggung kembali berseru lantang, “Persembahan untuk Hoa Goan-siu lo cung cu dari perkampungan Liok Soat Sanceng”

Hoa Hujin menahan air mata yang hampir meleleh keluar dan buru-buru jatuhkan diri berlutut didepan meja abu, Chin Wan-hong yang baru saja mendusin dari pingsannya dibawah bimbingan Tiong Lo poo cu ikut maju kedepan panggung.

Gadis itu sudah menganggap dirinya sebagai menantu keluarga Hoa, dalam sedihnya diapun tak kenal arti malu lagi, melihat Hoa Hujin berlutut keatas tanah diapun ikut berlutut memberi hormat, Hoa In sebagai pelayan keluarga Hoa, segera mengikuti majikannya belutut pula keatas tanah.

Selesai menjalankan penghormatan, ketiga orang itu menyingkir kesamping, para jagopun maju memberi hormat sedang ketiga orang tadi berlutut membalas hormat.

Ditengah dentingan alat tetabuhan, panitia kembaii berseru lantang, “Persembahan untuk Oh Thian Siau ketua angkatan ketujuh perguruan keluarga Wi dari kota Wanciu….”

“Persembahan untuk In beng sam hiap Giu Huan Tiat Sio dan Ko Sau Po….”

“Persembahan untuk Dewa geledek Chin Goan Tay….” Pek lek sian dewa geledak adalah guru dari Bong Pay,

sebagai seorang lelaki berjiwa polos ketika mendengar nama guruaya disebut ia tak dapat menahan kesedihan hatinya lagi dan meledaklah isak tangis yang ramai.