Tiga Maha Besar Jilid 05

 
Jilid 05

HARUSLAH diketahui serangan yang dilancarkan oleh Hoa Thian-hong barusan sama sekali tidak memperlihatkan kesempurnaan dalam tenaga dalam juga bukan keampuhan dalam jurus serangan melainkan kegagahan keberanian serta hasil latihan yang semestinya sudah mencapai puluhan tahun lamanya dan pengalamanya dalam menghadapi ratusan pertarungan itulah yang menggetarkan kesempurnaan tersebut tak dapat diciptakan baik dengan obat-obatan maupun dengan kecerdasan, kematangan itu hanya bisa dihasilkan karena latihan yang lama serta seringnya bertempur.

Diam-diam Pek Siau-thian merasa amat terperanjat, dengan cepat menyingkir kesamping kiri pemuda itu kemudian melancarkan sebuah serangan lagi.

Hoa Thian-hong menggetarkan pedang bajanya kebawah untuk memunahkan serangan tersebut, pikirnya, “Kun Gie sudah mati, dendam kesumat inipun tak dapat dihindari lagi, Pek Siaiu Thian sebagai seorang pemimpin persilatan pasti akan berusaha keras untuk membalas dendam sakit hati akan kematian putrinya itu, tapi aku merasa bersalah meskipun kematiannya membuat aku menyesal namun aku tak dapat mengorbankan jiwaku demi mensukseskan harapan Pek Siau- thian untuk membalas dendam….”

Berpikir sampai disini ia segera membentak keras…. Sreett! sreett! secara beruntun ia lepaskan dua buah serangan dengan kedu dukan menyerang menggantikan posisi lawan dan ia berusaha merebut diatas angin.

Desiran angin pedang menggetarkan telinga Pek Siau-thian, hawa pedang yang terpancar keluar dari senjata tersebut mampu melukai orang tanpa berwujud.

Sementara itu Pek Siau-thian sendiri sambil melayani serangan-serangan lawan, dalam hati diam-diam membuat perhitungan, pikirnya, “Tindak tanduk ini seringkali berada diluar dugaanku, rupanya ia sudah berhasil mencapai kesempurnaan dalam ilmu silatnya dan jelas merupakan ancaman terbesar bagi dunia persilatan, Kun Gie sudah mati dan perduli bagaimanapun juga hari ini aku harus membinasakan bocah keparat ini tapi…. besok pertemuan besar Kian ciau tayhwee bakal diselenggerakan, aku harus menghindari pertempuran-pertempuran yang terlalu membuang tenaga serta berusaha keras untuk menghemat tenaga….”

Berpikir sampai disini secara tiba-tiba ia lancarkan tiga buah serangan berantai kemudian bentaknya keras-keras, “Tahan!”

Hoa Thian-hong menghindar satu langkah kebelakang sambil silangkan pedangnya didepan dada, ia menegur, “Engkau ada urusan apa?”

Wajah Pek Siau-thian Kaku dan sedikitpun tidak menunjukkan perasaan apapun, ujarnya, “Tahukah engkau, kemarin malam ada urusan apa putriku yang tidak berbakti itu datang mencari dirimu?” Dengan penuh perasaan sedih, Hoa Thian-hong menggeleng lalu jawabnya lirih, “Pada saat itu aku sedang berlatih pedang dibelakang bukit, aku tak sempat berjumpa muka dengan dirinya ketika aku menyusul kesini dia….”

Terbayang kembali kejadian tatkala ia di kerubuti orang tempo hari, Pek Kau Gie begitu kuatir, cemas bercampur gelisah memandang ke arahnya membuat ia merasa amat sedih sehingga tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Terdengar Pek Siau-thian tertawa dingin dan berseru, “Orang she Hoa, terus terang kuberitahukan kepadamu, pihak perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie, Thong-thian-kauw untuk sementara waktu telah melupakan perselisihan pribadinya dan telah membentuk persekutuan untuk bersama- sama membentuk jebakan maut disekitar tempat terselenggaranya pertemuan besar itu, asal kalian besok pagi berani menghadiri pertemuan besar Kian ciau tayhwee maka kalian manusia-manusia yang berlagak sok mulia akan dibasmi semua dan dibunuh habis dari muka bumi!”

Walaupun kejadian ini sudah berada dalam dugaan para jago, akan tetapi setelah perkataan itu diutarakan dari mulut Pek Siau-thian sendiri, tak urung membuat Hoa Thian-hong terkesiap juga hingga air mukanya berubah sangat hebat.

Terdengar Pek Siau-thian menghela napas panjang, kemudian menyambung lebih jauh, “Siapa tahu putriku yang tak berbakti itu mencari kematian buat diri sendiri, matanya sudah buta dan menganggap engkau seorang pria yang suka memandang tinggi soal cinta, ia berharap bisa mendampingi dirimu sepanjang hidup setelah dia mengetahui akan rahasia ini dan menyaksikan kalian terancam kepunahan, maka dengan menempuh bahaya ia memohon kepadaku agar memberi petunjuk untuk menghindarkan kalian dari bencana maut, ia telah berlutut satu hari satu malam lamanya. Aaaai…. sungguh menyesal kukabulkan permintaannya”

Berbicara sampai disini seluruh kulit tubuhnya berkerut kencang sambil memandang keangkasa, ia membungkam dalam seribu bahasa, dalam waktu singkat itulah belbagai macam kesedihan berkecamuk dalam benak Pek Siau-thian membuat ia berdiri termangu-mangu.

Hoa Thian-hong tak dapat menahan diri, dua titik air mata jatuh membasahi pipinya diam-diam is berpikir, “Sungguh tak kusangka, tanpa kusadari aku telah berhutang budi yang demikian besarnya terhadap dia. Aaaai….! takdir telah menentukan segala-galanya apa yang dapat kulakukan lagi?”

Tiba-tiba Pek Siau-thian berkata lagi dengan suara keras, “Hoa Thian-hong tahukah engkau tiba-tiba hatiku berubah jadi lunak dan aku bersedia mengkhianati persekutuan dengan pihak lain sebaliknya malah membantu musuh dengan mengabulkan permintaan putriku itu?”

Hoa Thian-hong tertegun kemudian jawabnya, “Sadar akan kesalahan yang dilakukan selama ini dan engkau bermaksud meninggalkan yang sesat kembali kejalan yang benar”

“Kentut!!” bentak Pek Siau-thian dengan penuh kegusaran. Dalam hati Hoa Thian Hoag segera berpikir.

“Rupanya Pek Siau-thian sudah terlanjur tersesat sehingga meskipun sang Budha turun keatas bumi sendiripun belum tentu membu at ia bertobat diri segala dosanya.

Sesudah berpikir sebentar, diapun berkata, “Sejak kecil Kun Gie dibesarkan dibawah perawatanmu, kalian berdua sudah hidup berdampingan selama banyak tahun membuat cinta kasihmu terhadap dirinya dalam bagaikan samudra….”

Makin mendengar, Pek Siau-thian merasa semakin kesal, ia segera ulapkan tangannya memotong perkataannya yang belum selesai itu, serunya, “Engkau jangan menyamkan diri orang lain bagaikan dirimu, engkau adalah seorang anak yang berbakti apa yang diucapkan ibumu selalu kau turuti, engkau tak pernah membangkang perkataan ibumu, sebaliknya putriku itu bukanlah seorang putri yang berbakti, aku melarang dia untuk mencintai dirimu sebaliknya dia malah justru tak mau dengarkan perkataanku, mencari penyakit buat diri sendiri sehingga membuat akupun harus menanggung rasa malu karena ditertawakan oleh setiap orang di kolong langit!”

Hoa Thian-hong merasa tak tega membiarkan Pek Kun-gie yang sudah meninggal dunia dicaci maki oleh ayahnya, tanpa terasa ia segera menimbrung dari samping, “Ucapanmu itu terlalu serius, andaikata keadaan tidak melarang aku untuk membatasi diri dalam pergaulan, siapa tahu kalau aku dapat berhubungan lebih mendalam lagi dengan putrimu hingga membawanya kejenjang perkawinan? siapa yang akan mentertawakan kami?”

Pek Siau-thian tertawa dingin.

“Engkau tak usah mengatakan persoalan itu meskipun engkau berbakti pada orang tuamu belum tentu ibumu bertindak bijaksana, aku bukanlah manusia sembarangan, sekalipun putriku yang tak berbakti itu kupelihara sendiri sampai dewasa akan tetapi aku tak akan mengorbankan keselamatan anggota Sin Kie Hong yang mencapai jumlah seratus laksa orang itu hanya dikerahkan ingin mewujudkan hubungan kalian berdua. “Seratus laksa orang?” seru Hoa Thian-hong dengan hati terperanjat, hampir saja tak percaya dengan pendengaran sendiri.

“Hmm! mimpi pun engkau tak pernah menyangka bukan?” sahut Pek Siau-thian dengan wajah penuh ejekan.

“Aaah….! mungkin ia memperhitungkan pula keluarga mereka semua…. pikir Hoa Thian-hong didalam hati, akan tetapi kalau satu keluarga terdiri dari sepuluh orang itu berati anggota perkumpulan Sin-kie-pang semuanya berjumlah sepuluh laska orang, kemampuan Pek Siau-thian untuk memimpin anggota sebanyak itu memang benar-benar luar biasa serta mengagumkan sekali….

Berpikir Sampai disini, ia lantas berkata, “Caramu bertindak memang amat sukar diduga, sebenarnya apa sih alasanmu sehingga membuat hatimu jadi lemah serta mengabulkan permintaan diri Kun Gie? aku tak dapat menduganya….”

“Aiaai….!” Pek Siau-thian menghela napas panjang, “aku teringat akan keretakan keluarga kami berhubung dengan hidup berpisahnya dengan istriku, sejak kecil Kun Gie sudah kehilangan kasih sayang ibunya, ia dibesarkan dibawah lingkungan para jago yang beraneka ragam watak serta perbuatannya, aku tak tega menyaksikan ia menjadi sedih karena pengaruh cinta, akupan tak ingin membiarkan dia mati karena kesedihan karena itu ditengah jalan aku telah berubah pikiran dan mengijinkan dirinya untuk pergi memberi kabar kepada kalian serta menunjukkan pula satu jalan keluar bagi kamu semua, tapi…. siapa tahu….”

Ia berhenti sebentar, dari balik matanya tiba-tiba memancarkan cahaya berapi-api, sambungnya lebih jauh, “Siapa tahu kalian manusia-manusia yang mengaku sebagai kaum pendekar dari kolong langit ternyata tidak lebih hanya sekawanan manusia yang tak tahu diri manusia yang tak mengenal budi…. bukannya berterima kasih atas jerih payahnya, kalian malah mencelakai jiwa putriku yang tolol itu…. kau…. Hoa Thian-hong, apakah masih punya muka untuk berjumpa dengan para enghiong di kolong langit? kenapa engkau tidak bunuh diri saja untuk menebus dosa- dosamu itu? apakah engkau hendak menunggu sampai aku turun tangan sendiri?”

Air muka Hoa Thian-hong pucat pias bagaikan mayat, ia berdiri kaku dan membungkam seribu bahasa lama…. lama sekali baru jawabnya, “Latar belakang yang sebenarnya aku tak usah terangkan lagi, pokoknya hutangku terhadap Kun Gie dikemudian hari pasti akan kubayar!”

“Tapi dia sudah mati!” bentak Pek Siau-thian dengan mata melotot.

“Apa aku bisa menggunakan kematianku untuk membalas budinya itu? atau juga dalam penitisan yang akan datang aku toh dapat pula membalas budi kebaikannya itu!”

“Perkataan tentang Penitisan yang akan datang terlalu khayal dan kosong, menurut penglihatanku lebih baik engkau balaa saja kebaikan budi Kun Gie dengan satu kematian!”

Hoa Thian-hong agak tertegun, lalu jawabnya dengan sedih, “Sekalipun aku tersedia namun harus menunggu sampai pekerjaanku telah selesai lebih dahulu!”

“Heeeehhh…. heeehhh…. heeehhb engkau bersedia menunggu tapi aku tak bersedia untuk menunggu lebih jauh!” sahut Pei Siau Thiang sambil tertawa dingin. Tubuhnya segera menerjang maju kedepan telapak tangannya lak sana kilat melancarkan sebuah serangan dahsyat kedepan.

Hoa Thian-hong segera putar pedang bajanya untuk mengunci datangnya ancaman tersebut namun Pek Siau-thian adalah seorang manusia yang amat lihay, setelah berhasil menduduki posisi diatas angin sepasang telapaknya segera melancarkan serangan-serangan berantai secepat kilat sampai si anak muda itu sama sekali tak mempunyai kesempatan untuk melakukan pembalasan.

Dengan waktu singkat segulung angin pukulan bagaikan gulungan ombak ditengah samudra membungkus Hoa Thian- hong dalam kepungan, Pek Siau-thian senderi seakan-akan telah berubah jadi gulungan angin pukulan yang maha dahsyat, jejaknya tiba-tiba lenyap tak berbekas.

Hoa Thian-hong dengan sepenuh tenaga memutar pedang bajanya untuk menahan gempuran-gempuran dari lawannya, cahaya hitam tampak meronta diantara angin pukulan sebentar cahaya hitam itu muncul sebentar lagi lenyap seakan-akan permainkan pedangnya sudah terbungkus ditengah gulungan pukulan angin pukulan lawan.

Perkataan yang diucapkan Pek Tiau Thian barusan telah menggetarkan hati Hoa Thian-hong membuat pemuda itu merasa menyesal hingga permainan pedangpun menjadi lunak.

Setelah kehilangan posisi yang menguntungkan, dalam sekejap mata tubuhnya sudah tertelan ditengah gelombang angin pukulan yang dahsyat bagaikan hembusan angin puyuh itu, kendatipun ia telah berusaha untuk meronta dan melakukan perlawanan akan tetapi selalu gagal untuk menemukan kesempatan guna membenahi diri sendiri, ia sadar jika keadaannya begini terus menerus maka pada akhirnya dia bakal menemui ajalnya ditangan lawan.

Pek Siau-thian sendiri berhasrat untuk membinasakan Hoa Thian-hong dalam sebuah se-rangan mautnya, siapa tabu kendatipun sudah melancarkan ratusan jurus serangan dan me-maksa Hoa Thian-hong berada dalam posisi yang sangat berbahaya dan kritis bahkan sering kali jiwanya nyaris melayang namun maksud tujuannya belum pernah bisa tercapai.

Pertempuran ini benar-benar merupakan suatu pertempuran yang sengit dan jarang terjadi di kolong langit.

Makin bertempur Pek Siau-thian merasa makin terperanjat ia tak pernah menyangka kalau di kolong langit masih terdapat seorang jago yang mampu bertahan sebanyak ratusan jurus tanpa menderita kalah dibawah kurungan ilmu pukulan Ceng boan ngo heng sian ong toan hun ciang nya itu.

Sudah terlalu banyak jago lihay di kolong langit yang penrah dihadapi olehnya manusia lihay sebangsa Ciu It-bong dan lain-lainnya asal sudah terjebak dibawah serangan rangkaian ilmu telapak yang jarang sekali dipergunakan olehnya ini, maka dalam seratus jurus pasti akan keok dan menderita kekalahan ditangannya.

Siapa tahu ketika ilmu telapaknya yang ampuh itu dipergunakan untuk menghadapi Hoa Thian-hong, walaupun sudah bertahan sampai ratusan jurus akan tetapi pemuda itu masih belum juga mampu dikalahkan.

Tak tertahan lagi, ia berpikir dalam hati kecilnya, “Kun ji, engkau memang tak punya rejeki dan keluarga Pek kitapun tak punya rejeki andaikata bocah ini dapat menjadi pasanganmu dan aku bisa mendapat bantuannya maka para jago persilatan baik dari go longan putih maupun dari golongan hitam yang ada dilima telaga empat samudra bukankah akan tunduk dan berada dibawah kekuasaan per kumpulan Sin-kie-pang kita.”

Karena terpengaruh emosi, serangan yang dilancarkan semakin dahsyat dan daya tekanan yang terpancar keluar dari ilmu telapak Ceng hoan sian hong toan hun ciang itupun makin menggetarkan seluruh permukaan bumi.

Hoa Thian-hong mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk melindungi keselamatan sendiri, dalam keadaan begini otaknya tak sempat untuk dipakai lagi terpaksa ia harus punahkan jurus bila bertemu jurus, punahkan gerakan bila bertemu gerakan pertarungan diteruskan dengan mengikuti semua gerakan lawan.

Adaikata Pek Siau-thian tidak menghentikan serangannya maka diapun terpaksa harus bertahan terus dengan cara demikian sekalianpun tidak sampai menderita kekalahan diapun tak memiliki kekuatan untuk merebut kemenangan.

Dalam waktu singkat Pek Siau-thian telah melancarkan empat lima puluh jurus serangan lagi, ketika dilihatnya tenaga dalam yang terpancar keluar dari ujung pedang Hoa Thian- hong sama sekali tidak menunjukkan kelemahan, diam-diam ia merasa amat gelisah pikirnya, “Kalau penarungan berlangsung dalam keadaan begini terus, sekalipun bergebrak tiga sampai lima ratus jurus lagipun belum tentu aku mampu untuk melukai bocah keparat ini, apalagi kalau sampai membiarkan dia hapal dengan gerakan ilmu telapakku ini bisa-bisa akan muncul suatu kejadian yang sama sekali tak terduga….”’

Berhubung besok adalah hari pembukaan pertemuan besar Kian ciau tayhwee atau dengan perkataan lain saat terakhir bagi kaum jago untuk menentukan siapa tangguh dan siapa lemah, siapa berkuasa siapa tidak lagi pula mempengaruhi mati hidup perkumpulan Sin-kie-pang maka Pek Siau-thian tidak ingin menggunakan hasil latihannya selama puluhan tahun ini sebelum tiba pada saatnya yang tepat, sebelum pertarungan massal berlangsung ia tak ingin mengorbankan tenaganya dengan percuma hingga mempengaruhi kelangsungan pertemuan besok pagi.

Disamping itu, diapun mengerti setelah Hon Thian-hong dibunuh maka Hoa Hujin pasti bersiap sedia untuk membalaskan dendam bagi kematian putranya, iapun harus bersiap sedia untuk menghadapi pertentangan yang paling berat itu.

Berpikir sampai disana, diapun segera mengambil keputusan untuk merubah siasat, ia berusaha mencari kemenangan dengan andalkan kepandaian yang dimilikinya selama ini.

Terdengar orang she Pek itu mendengus dingin, gerakan telapaknya tiba-tiba berubah, telapak kiri menyapu keatas pinggang musuh sementara kepalan kanannya langsung menghantam dada Hoa Thian-hong.

Perubahan yang sama sekali tak terduga itu membuat jago muda she Hoa itu jadi amat terperanjat, disaat yang kritis pedang bajanya buru-buru berputar dengan gerakan Po goan siu it atau berjaga-jaga dalam satu titik, badannya secepat kilat berputar kencang. 

Menghadapi serangan musuh dengan badan berputar, pedang disilangkan didepan dada merupakan jurus pertama dari antara enam belas jurus pedang yang dipelajari oleh Hoa Thian-hong, gerakan itu mengandung unsur Pat kwa serta Tay kek membuat pihak lawan susah untuk menduga arah manakah yang bakal diancam….

Pek Siau-thian merasa amat kagum sekali ketika menyaksikan kepalannya ketiga menyapu kedepan, tiba-tiba berkelebat cahaya hitam dan tahu-tahu sepasang pergelangannya hampir membentur diatas pedang lawan, ia memuji kelihayan ilmu pedang yang diciptakan oleh Hoa Goan-siu tersebut serta kesempurnaan Hoa Thian-hong didalam permainan pedangnya.

Tetapi setelah berhasil merebut kedudukan diatas angin, ia tak mau membuang kesempatan itu dengan begitu saja, telapak kirinya dengan suatu gerakan yang sangat aneh tiba- tiba menotok jalan darah Ki huo hiat diatas badan Hoa Thian- hong sedangkan tangan kanannya yang mengandung kekuatan inti mendadak diluncurkan kedepan.

Hoa Thian-hong tak sempat berpikir panjang lagi, pedang bajanya dikembangkan dengan jurus Hok lay cing beng atau pekikan bangau membumbung keangkasa, ia balik membabat lengan kiri Pek Siau-thian sedangkan telapak kirinya dengan jurus Kun ciu ci tau menyambut datangnya serangan lawan.

Siau tahu serangan tangan kiri Pek Siau-thian adalah gerak tipu belaka, sedang serangan telapak kanan adalah serangan yang sesungguhnya, terutama sekali gerakan ini merupakan hasil ciptaannya setelah belasan tahun lamanya bertempur melawan Ciu It-bong, bisa dibayangkan betapa jitu dan hebatnya serangan tersebut.

“Ploook….!” sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya menimbulkan suara benturan keras, tubuh kedua orang itu sama sama bergetar keras dan seranganpun terhenti untuk beberapa saat. Terdengar Pek Siau-thian tertawa terbahak-bahak, lengannya berkelebat kedepan melancarkan satu pukulan.

Ketika terjadi bentrokan tersebut kedua duanya berada dalam posisi serangan yang mencapai setengah jalan, dengan begitu serangan susulan yang dilancarkan oleh Pek Siau-thian ini boleh dibilang jauh menyimpang dari kebiasaan dunia persilatan dan siapapun tak akan menduganya.

Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat melihat gelagat tidak menguntungkan itu, keputusan diambil dalam benaknya dia mengepos tenaga kemudian menghimpun segenap kekuatannya diatas bahu dan tubuhnya dengan cepat miring kesamping.

Semua peritiwa itu berjalan dalam sekejap mata ketika serangan dari Pek Siau-thian meluncur datang tiba-tiba, Hoa Thian-hong miringkan badannya kesamping tak sempat untuk mengganti jurus lagi…. Kraaak! telapak tangannya sudah mampir diatas bahu Hoa Thian-hong membuat tubuhnya terpental sejauh dua tombak lebih dari tempat semula.

Pek Siau-thian sendiri ketika telapak tangannya dengan telak bersarang diatas bahu lawan ia merasakan timbulnya tenaga tolakan yang amat besar menggetarkan tangannya hal itu membuat dirinya amat terperanjat.

Ia tak menyangka kalau serangannya yang dilancarkan dengan melanggar kebiasaan Bu Lim itu ternyata sudah disambut oleh Hoa Thian-hong dengan persiapan yang penuh, hal ini membuat luka yang diderita oleh lawan boleh dibilang enteng sekali.

Jago tua she Pek itu jadi penasaran, ia segera berkelebat maju kedepan siap melancarkan serangan berikutnya yang mematikan. Terlihatlah Hoa Thian-hong berdiri angkernya didepan dengan pedang disilangkan didepan dada, sorot matanya memancarkan cahaya kilat dengan tajam, ia awasi gerak-gerik Pek Siau-thian dengan kesiap siagaan penuh, dari sikapnya seakan-akan ia telah bersiap sedia untuk menghadapi serangan musuh sampai dimanapun juga.

Tercekat hati Pek Siau-thian menyaksikan hal itu, ia hentikan gerakan tubuhnya sambil berpikir.

“Aku harus bersikap lebih tenang gerakan yang ngawur dan gegabah tak mungkin berhasil membinasakan bocah itu….”

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong telah berkata dengan nada dingin, “Engkau telah tunjukan kegagahanmu selama beberapa waktu, sayang sekali tujuanmu tak dapat tercapai, sekarang tibalah giliranku untuk menunjukkan kelihayan”

Pek Siau-thian tertawa dingin, “Heeehh…. heehhh…. heehh dengan andalkan sedikit kepandaianmu itu masih belum cukup untuk membinasakan diriku”

“Hmm! kalau bukan engkau yang mati akulah yang binasa, aku akan berusaha sekuat teraga….”

Sambil menerjang maju kedepan, pedangnya segera melancarkan satu babatan.

Pek Siau-thian mengerutkan dahinya, baru saja bisa memunahkan serangan tersebut, Hoa Thian-hong telah tertawa dingin tiada hentinya, pedang bajanya berputar melancarkan serangan berantai bagaikan gulungan ombak sungai Tiang kang ia mengirim serangan-serangan yang mematikan. Setelah permainan pedang bajanya dikembangkan, sekali pun Cui Im taysu bekerja sama dengan Ciong Lian-khek pun merasakan tekanan yang maha berat dan dalam seratus jurus belum tentu bisa merobah posisinya jadi seimbang, apa lagi Pek Sau Thian hanya seorang diri, dalam waktu singkat ia sudah dipaksa dalam situasi yang serba menyulitkan

Makin bertempur makin bersemangat, Hoa Thian-hong membentak berulang kali pedang bajanya disertai deruan angin tajam menggulung diseluruh angkasa, sekalipun Pek Siau-thian sudah berusaha keras untuk mengarahkan pelbagai macam jurus aneh namun ia tak mau membendung rangkaian serangan yang bertubi-tubi itu untuk merebut po sisi yang lebih menguntungkan, sekalipun begitu bukanlah suatu pekerjaan gampang bagi Hoa Thian-hong untuk mengalahkan dirinya.

Ditengah berlangsungnya pertempuran sengit, diam-diam Pek Siau-thian berpikir dalam hatinya, “Perpisahan yang sangat singkat, diri mana bocah ini berhasil melompat jadi jago lihay yang mampu menandingi kepandaian silatku? benar-benar mengherankan….”

Tiba-tiba ia membentak keras, “Tahan!!”

Hoa Thian-hong sendiripun menyadari bahwa sulit baginya untuk merebut kemenangan, mendengar ia berseru keras, terpaksa sambil menghela napas mengundurkan diri kebelakang.

Pek Siau-thian menengadah memandang cuaca, kemudian ujarnya dingin, “Tengah hari sudah hampir tiba kalau racun teratai empedu api yang mengeram di dalam tubuhmu sudah mulai kambuh kita boleh beristirahat lebih dahulu kemudian baru bergebrak kembali” Mendengar perkataan itu Hoa Thian-hong jadi amat terperanjat, ia tak menyangka kalau pertarungan iiu sudah berlangsung setengah harian lamanya dalam hati segera pikirnya, “Ketika aku menuruni jurang ini ibu menunjukkan perasaan kuatir Pek Siau-thian dapat menemukan tempat ini, berarti ibukupun bisa juga berbuat demikian dibalik peristiwa tersebut tentu ada sebab sebabnya….”

Pek Siau-thian jadi girang ketika dilihatnya pemuda itu murung dan sedih, sambil tertawa dingin katanya, “Engkau tak usah bermuram durja, aku akan memberi kesempatan kepadamu untuk beristirahat dahulu kemudian baru melanjutkan kembali pertarungan ini, bagaimanapun toh bala bantuanmu tak mungkin bisa tiba disini, aku dapat suruh engkau mati dengan mata meram.”

Mendengar perkataan itu Hoa Thian-hong merasa semakin gelisah ia mengambil keputusan untuk menyelesaikan pertarungan ini dengan secepatnya hingga diapun bisa cepat- cepat melepaskan diri dari cengkeraman jago tua itu, sambil ayun pedang bajanya ia berseru, “Dalam tubuhku sudah tidak terdapat racun teratai lagi engkau tak usah pura-pura berlagak alim dan baik hati kalau engkau tak mau bertempur lagi maaf kalau aku tak bisa melayani dirimu lebih jauh”

“Jadi kalau begitu racun teratai yang mengeram didalam tubuhmu sudah punah?”

“Engkau kecewa?” jengek Hoa Thian-hong sambil tertawa dingin.

Pek Siau-thian tertawa seram.

“Heeehh…. heehh…. heeeh…. tempo hari aku penuju kepadamu dan ajukan pinangan kepadamu untuk mengawinkan engkau dengan putriku, pada waktu itu engkau mengatakan tubuhmu masih mergeram racun dan tak dapat beristri, kini racun yang mengeram dalam tubuhmu telah punah, rupanya untuk menjaga kemungkinan engkau telah turun keji dahulu dengan membinasakan putriku….”

Hoa Thian-hong jadi amat gusar sehingga sekujur badannya gemetar keras, sehabis mendengar perkataan itu teringat cinta kasih yang ditujukan Pek Kun-gie terhadap dirinya, saking sedihnya dia mencucurkan air mata serunya dengan gemas.

“Pek Siau, putri kandungmu sudah tiada lagi di kolong langit, kenapa engkau memandang begitu rendah akan dirinya?”

“Oooh….! engkau merasa tak tega? aku mengira engkau benar-benar adalah seorang lelaki berhati baik!”

“Sebenarnya apa maksudmu mengucapkan kata-kata yang sama sekali tak ada gunanya itu?”

Senyuman licik yang menyeramkan melintas diujung bibir Pek Siau-thian, pikirnya, “Aku akan membuat pikiranmu jadi kalut dan bingung tak karuan, akan kulenyapkan semangat bertempurmu hingga sebelum ajalnya engkau rasakan lebih dahulu bagaimana rasanya jadi orang gila….”

Sinar matanya berkelebat memandang sekejap ke arah Kuburan pemendam pedang yang telah dihancurkan oleh angin pukulannya itu, tiba-tiba berkelebat lewat satu akal licik, sambil tertawa tergelak segera serunya, “Hoa Thian-hong, tahukah engkau dirimu adalah anak murid siapa?”

Meskipun Hoa Thian-hong cerdik namun ia masih bukan tandingan dari Pek Siau-thian yang licik, mendengar pertanyaan tersebut segera jawabnya, “Siapapun mengetahui kalau ilmu silat aku orang she Hoa adalah kepandaian keluarga buat apa engkau banyak bertanya lagi?”

“Lupa pada soal perguruannya engkau memang seorang manusia lupa budi!”

Tiba-tiba Hoa Thian-hong teringat akan sesuatu tanpa sadar ia berseru, “Katakanlah semestinya aku orang she Hoa adalah anggota perguruan mana….?”

“Kiam seng malaikat pedang Gi Ko!”

Hoa Thian-hong berpaling dan memandang sekejap ke arah kuburan pemendam pedang kemudian pikirnya, “Cianpwee ini selama hidupnya banyak berbuat kebaikan, ilmu pedangnya tiada tandingannya di kolong langit dia memang pantas disebut malaikat pedang sayang aku hanya mendapatkan pedangnya dan gagal menemukan Kiam keng tersebut”

Teringat kalau catatan Kiam keng tersebut telah dihancurkan oleh tenaga pukulan Pek Siau-thian sehingga pusaka yang tak ternilai harganya lenyap tak berbekas, tanpa terasa ia menaruh benci terhadap jago tua itu, sambil menggertak giginya serunya, “Sebenarnya aku tidak berhasrat untuk membinasakan dirimu akan tetapi setelah engkau mengungkap persoalan ini, andaikata aku tidak mencabut selembar jiwamu rasanya sulit untuk melampiskan rasa dendam didalam hatiku….”

Sambil putar senjata, ia segera menerjang maju kedepan.

Tampak Pek Siau-thian mengelus jenggotnya sambil tertawa terbahak-bahak, diantara gelak tertawanya penuh mengandung perasaan bang ga. Bagaimanapun juga Hoa Thian-hong adalah seorang pendekar sejati melihat pihak lawan tiada bermaksud untuk melakukan perlawananan terpaksa ia tarik kembali serangannya sambil berseru dengan nada gemas.

“Pek Siau-thian tingkah lakumu yang licik serta gelak tertawamu yang seram bagaikan setan membuat aku teringat pada seseorang”

“Siapa?” tanya Pek Siau-thian sambil tertawa. “Co Cho!!”

“Haahhh…. haaahhh…. haaahhh…. terima kasih atas sanjunganmu itu aku orang she Pek tak berani menerimanya!”

Haruslah diketahui, dalam pandangan Hoa Thian-hong, manusia yang paling licik dan berbahaya dalam sejarah adalah Co Cho, sebaliknya dalam pandangan Pek Siau-thian maka Co Cho dianggap sebagai seorang pahlawan yang luar biasa, dan dia menganggap orang itu sebagai pahlawan yang paling dikagumi olehnya, karena itu makian Hoa Thian Hoag telah disalah tafsirkan olehnya….

Dengan wajah serius dan penuh penghinaan, Pek Siau- thian berseru membaca isi dari Kiam keng yang telah dihancurkan olehnya itu,

“Peraturan menurut langit, kerugian pasti tersisa, tenaga masih kurang, kekerasan bukanlah kekerasan, keras tapi lincah, lunak bu kanlah lemah….”

Membaca sampai disini mendadak ia membungkam.

Hoa Thian-hong mendengarkan dengan seksama, tetapi ketika ditunggunya sangat lama namun ia tidak meneruskan pembacaannya pemuda itu jadi mendongkol bercampur gusar tentu saja ia tak dapat mengajukan permintaan kepada lawannya untuk meneruskan pembacaan tersebut, dengan hati terbakar oleh hawa amarah ingin sekali ia bacok lawannya sampai mati.

“Bagaimana?” terdengar Pek Siau-thian mengejek sambil tertawa, “meskipun aku tak mampu membaca sepuluh kata dalam sekali pandangan namun tulisan diatas lapisan batu cadas itu telab kubaca sampai selesai, engkau berbakat bagus dan lagi masih muda masa tulisan itr« belum sempat kau baca sampai habis?”

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa menyesal, menyesal karena sudah terpikat oleh masa hidup Gi ko yang tertera diatas lapisan batu itu hingga ketajaman telinganya berkurang dan memberi kesempatan kepada Pek Siau-thian untuk menghapalkan isi dari Kiam Keng sebelum menghancurnya hingga jadi abu.

Haruslah diketahui bagi orang yang belajar ilmu silat, catatan ilmu yang sangat mendalam itu kadangkala dipandang jauh lebih berharga daripada jiwa sendiri apalagi sejak kecil Hoa Thian-hong sudah mempelajari ilmu pedang dengan pedang baja tersebut boleh dibi lang dengan malaikat pedang, Gi Ko mempunyai jodoh karena itu bagi pandangan nya Kiam Keng tersebut jauh lebih berharga daripada apapun juga.

Mula-mula ia tidak berpikir sampai kesitu, semakin setelah dipikir lebih jauh makin lama hatinya semakin mendongkol sehingga akhirnya amarahnya berkobar dalam dadanya, sambil menyeringai seram, segera serunya, “Pek Siau-thian, ini hari kalau bukan engkau yang mati akulah yang binasa kalau aku Hoa Thian-hong yang mati maka pembaca Kiam keng atau tidak bagiku sama saja sebaliknya kalau engkau yang mati….” “Aku akan membawa pergi catatan itu kealam baka,” sahut Pek Siau-thian sambil tertawa terbahak-bahak, “dan sejak kini di kolong langit tiada orang lain mengetahui apa isi dari catatan Kiam keng tersebut….”

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, sambungnya lebih jauh, “Sungguh kasihan Malaikat pedang Gi Ko, dengan usianya sebesar seratus tahun dia harus semedi selama sembilan belas tahun lamanya sebelum berbasil menemukan rahasia ilmu pedaag itu serta menciptakan Kiam keng sayang usahanya itu hanya sia-sia belaka dan akhirnya harus musnah dan muka bumi….”

“Engkau jangan keburu merasa bangga lebih dahulu!” bentak Hoa Thian-hong dengan gusar, “lihat aku akan segera membacok tubuhmu hingga hancur berkeping-keping!”

Sambil menerjang maju kedepan, pedagnya segera dibabat secara gencar.

Menyaksikan pemuda itu mulai dibakar oleh hawa amarah sehingga konsentrasinya buyar, diam-diam Pek Siau-thian merasa bangga, dengan cepat ia bergeser kesamping, lalu sambil tertawa ujarnya, “Hoa Thian-hong malaikat pedang Gi Ko membutuhkan waktu selama sembilan belas tahun untuk menciptakan kelima puluh delapan kata catatan Kiam keng tersebut, coba pikirkanlah sendiri dia membutuhkan waktu berapa lama untuk mendapatkan satu patah kata?”

Mendengar perkataan itu, diam-diam Hoa Thian-hong menghitung, ia merasa malaikat pedang tersebut membutuhkan waktu selama empat lima bulan untuk mendapatkan setiap patah kata tersebut, hal ini membuat hatinya semakin mendongkol, serunya dengan gemas, “Semoga saja engkau jangan sampai terjatuh ditanganku, kalau aku orang she Hoa berhasil menangkap dirimu, aku akan menusukkan pedangku kedalam tubuhmu untuk memperoleh setiap patah kata, suatu ketika aku pasti akan berbasil memaksa engkau untuk mengucapkan kelima puluh delapan patah kata tadi”

Dengan cepat Pek Siau-thian berkelebat delapan depa kesampinag, sesudah berhasil meloloskan diri dari serangan tersebut, katanya sambil tertawa, “Seandainya engkau telah selesai membaca kelima puluh delapan patah kata yang tercantum dalam catatan Kiam Keng tersebut, suatu ketika engkau memang besar kemungkinan bisa menangkap diriku, tapi sayang engkau tidak berhasil menyelesaikan bacaan itu maka sepanjang hiduppun jangan harap akan berhasil untuk menawan aku!”

Hoa Thian-hong merasa amat gusar….

Sreet! Sreet! Sreet! secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan berantai, namun dengan ilmu meringankan tubuh yang sempurna Pek Siau-thian berhasil mundur tiga langkah kebelakang, biji matanya berputar dan secara tiba-tiba ia sengaja memperlihatkan satu titik kelemahan.

Hoa Thian-hong pada saat ini sudah termasuk diantara deretan kaum jago lihay di kolong langit, memperlihatkan titik kelemahan secara sengaja merupakan suatu tindakan yang berbahaya sekali.

Pek Siau-thian mengeluarkan ilmu telapak Im yang ciang untuk memancing musuhnya tujuan yang lebih utama tidak lebih hanyalah untuk mengejek pemuda itu bahkan Hoa Thian- hong jadi amat kegirangan, pedangnya laksana sambaran kilat segera membabat keatas pinggang jago tua itu. Ketika ujung pedangnya menyentuh lawan tiba-tiba dalam benak Hoa Thian-hong terlintas catatan Kiam keng, pedangnya dibabat sejajar dada lalu menabok keatas sedangkan tangan kirinya dengan suatu gerakan secepat kilat melancarkan sebuah totokan.

Pek Siau-thian tertawa ringan, tubuhnya berkelebat delapan depa dari tempat semula, sengaja ia mengambil bahaya ini untuk menilai perasaan hati Hoa Thian-hong, karena ada persiapan lebih dahulu maka ia tidak merasa selalu jeri.

Siapa tau setelah tubuhnya berkelebat kesamping, ia baru merasa terjelos hatinya sehingga air mukanya jadi pucat pias bagaikan mayat.

Kiranya padi saat terakhir ujung pedang si anak muda itu masih berhasil juga menempel diatas pinggangnya, kendatipun sentuhan tersebut enteng sekali akan tetapi cukup mengejutkan hatinya sehingga keringat dingin menguncur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Suatu ingatan berkelebat dalam benak Hoa Thian-hong sekarang ia baru mengerti kalau Pek Siau-thian sengaja memperlihatkan titik kelemahan tersebut kepadanya, hal ini membuat pemuda itu jadi mendongkol dan menyesal, menyesal karena ia tak dapat memanfaatkan kesempatan baik yang sukar ditemukan selama hidupnya itu.

Sambil menjejakan kakinya keatas tanah, karena gemas teriaknya, “Aaaai….! sialan….!”

Sambil putar pedang ia lancarkan kembali satu serangan kilat. Kali ini Pek Siau-thian tidak berani bertindak gegabah lagi, sambil berkeliaran kesana kemari menghindari ancaman musuh otaknya berputar cepat untuk menyusun siasat guna mencari kemenangan….

Bila pertarungan ini sampai diketahui orang dan tersiar luas dalam dunia persilatan maka seluruh sungai telaga pasti akan jadi gempar.

Kedua orang itu sama-sama saling mengadu tenaga serta kecerdikan, kedua belah pihak sama-sama lihaynya, siapapun tidak ingin melepaskan lawannya dengan begitu saja, siapa pun tak bersedia menghentikan pertarungan sampai di situ saja.

Setelah bertempur beberapa saat lagi, tiba-tiba Pek Siau- thian berseru dengan nada dingin, “Hoa Thian-hong catatan Kiam keng semuanya terdiri dari lima puluh delapan kata, pernahkah engkau pikirkan arti dari setiap patah kata itu….? ketahuilah bahwa dalam tiap kata itu terkandung suatu arti yang sangat bermanfaat bagi ilmu silat asal engkau dapat memahaminya maka sepanjang hidup engkau akan menikmati hasilnya….”

“Pikirkan saja dialam baka nanti!” tungkas Hoa Thian-hong dengan penuh kebercian.

Pek Siau Thim mengirimkan satu pukulan keudara kosong lalu melayang mundur kebelakang, serunya, “Pertarungan menurut langit kerugian pasti tersisa…. pernahkah kau bayangkan apa arti yang sebenarnya?”

Satu ingatan berkelebar dalam benak Hoa Thian-hong, segera pikirnya, “Peraturan menurut langit kerugian pasti tersisa….” oooooOooooo 48

Dia adalah seorang jago lihay yang sudah memiliki ilmu silat yang sangat mendalam, hanya saja selama ini tak ada kesempatan untuk menyelaminya, kini setelah dipikir lebih jauh segera terasalah olehnya meskipun beberapa patah kata itu amat sederhana sekali namun arti yang sebenarnya sangat dalam sekali.

Dengan cepat tubuhnya melayang beberapa tombak kebelakang, sambil menatap tajam wajah Pek Siau-thian mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.

Pek Siau-thian sendiri diam-diam merasa amat girang tatkala dilihatnya si anak muda itu mulai terjebak dalam siasatnya, sambil mengelus jenggot ia berkata lebih jauh.

“Tidak salah bukan? daya tekanan yang terpancar dari pedangmu berlebihan, kesalahannya justru terletak pada kekasaran, andai kata engkau dapat menyelami kekerasan tapi lincah maka aku bukan tandinganmu lagi.

Hoa Thian-hong merasa perkataan itu masuk diakal juga, diam-diam ia lantas mengulangi kembali rahasia Kiam keng itu didalam hati.

“Peraturan menurut langit, kerugian pasti tersisa, tenaga masih kurang kekerasan bukanlah kekerasan, keras tapi lincah, lunak bukanlah lemah….”

Sambil berpikir tanpa disadari pedang bajanya segera dibabat ke arah depan dengan hebatnya. Pek Siau-thian tertawa sambil menganguk, sahutnya, “Tepat sekali, serangan pedang bajamu ini kalau tidak disertai suara itu berani bahwa tenaga seranganya sepuluh Kali lipat dari ke adaan biasa dan akupun tak mampu menandingi dirimu lagi….”

Hoa Thian-hong melototkan matanya bulat-bulat sambil menatap tajam wajah Pek Siau-thian, tiba-tiba pedang bajanya melancarkan babatan demi babatan lagi.

Hawa murninya diam-diam dikendalikan, pedang bajanya berputar kencang semakin kecil bawa murninya desingan udarapun Semakin kecil, tiba-tiba ia lancarkan satu babatan keatas tanah.

Traaang….! percikan bunga api menyebar keempat penjuru sebuah, batu cadas yang keras telah terbacok hingga muncul sebuah liang besar, setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ia lancarkan sebuah bacokan kembali, kali ini tenaga yang dipergunakan jauh lebih kecil hingga tak dapat kecil lagi ketika pedang baja itu menusuk diatas batu segera muncullah sebuah celah diatas batu gunung itu hingga mencapai dua depa dalamnya.

Sambil tersenyum Pek Siau-thian menyaksikan kesemuanya itu dengan penuh kegembiraan tiba-tiba ia temukan dari balik mata Hoa Thian-hong memancarkan cahaya aneh, sepasang pipinya berubah jadi merah dan rupanya ia terpengaruh oleh emosi, hal ini membuat hatinya jadi terperanjat hingga tanpa terasa pikirnya, “Aku tak boleh berbuat bodoh sehingga menggali liang kubur untuk mengubur tubuhku sendiri….!”

Berpikir sampai disini ia segera membentak keras, “Lunak bukanlah lemah, rendah diri harus mundur, mundur karena rendah diri, diri untuk diri sendiri!” Hoa Thian-hong merasakan hatinya bergetar keras….

Sreeet!! ia putar pedang melancarkan satu babatan kembali.

“Seranganmu itu menggunakan tenaga terlalu besar!” bentak Pek Siau-thian, sembari berkata sepasang tangannya laksana sambaran petir melancarkan tiga buah serangan gencar.

Hoa Thian-hong tahu bahwa keadaan yang sedang dihadapinya sangat gawat dan bahaya, dalam keadaan begini pikirannya tak boleh bercabang akan tetapi beberapa patah kata yang tercatat dalam Catatan Kiam keng bu kui terlalu menarik hatinya, setiap kata yang tercantum dalam caatan tersebut seakan-akan sebatang jarum yang menusuk perasaan hatinya semuanya tepat menunjukkan penyakit yang dideritanya dalam permainan pedang itu ia tak tahan untuk memecahkan rahsia itu serta menutupi kekurangan yang dideritanya dalam permainan pedang tersebut.

Terdengar Pek Siau-thian membentak nyaring, telapak tangannya melancarkan serangan hebatnya luar biasa.

Hoa Thian-hong terdesak hebat dan mundur kebelakang terus tiada hentinya, dengan jurus Su ku ciong hong atau bunyi senyap diempat penjuru ia lancarkan serangan balasan, pedangnya sebentar menyapu kekiri sebentar menyapu kekanan, semuanya mengancam untuk membabat telapak musuh.

Desingan angin serangan sebentar ringan sebentar berat dan sangat tidak beraturan kekuatan yang terpancar dari senjata itupun seketika berkurang dan sama sekali tak mampu mencapai puncak kehebatannya, hal ini memberi peluang bagi Pek Siau-thian untuk menerjang masuk kedalam lingkaran pertahanannya, jurus demi jurus dilancarkan dengan mantap dan leluasa sedang tenaga pukulanpun berhasil ditingkatkan menjadi dua belas bagian.

Kendatipun begitu, diam-diam Pek Siau-thian merasa terperanjat juga sebab didalam per-tarungan singkat yang sedang berlangsung ke lika itu, rupanya Hoa Thian-hong lelah berhasil mendapatkan sedikit pemecahan rahasia ilmu pedangnya, walaupun jurus permainan pedangnya sudah berubah menjadi tak karuan, tetapi terpancar pula sejenis kekuatan yang luar biasa.

Dendam kematian putrinya membara bagaikan api, rasa iri dan dengki bagaikan minyak, api bercampur minyak mengakibatkan darah panas dalam rongga dada Pek Siau- thian mendidih, watak jahatnya muncul dan menyelimuti seluruh benaknya, dia ingin sekali satu kali menghajar berhasil membinasakan si anak muda itu.

Apa daya, dasar ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong terlalu kokoh dan daya tenaganya luar biasa sekali, serutama ilmu silat yang dimilikinya sekarang bagian besar didapatkan dari hasil latihannya yang tekun dalam menghadapi pertarungan-pertarungan sengit, oleh sebab itulah walaupun kesadaran otaknya sudah mulai samar, namun dengan andalkan kemampuan yang dimilikinya ia masih mampu untuk bergebrak melawan musuh selama setengah harian lamanya.

Pertempuran ini benar-benar merupakan suatu pertarungan yang sengit dan mendebarkan hati, tanpa terasa sang surya sudah condong ke arah barat dan senjapun menjelang tiba, dari arah sebelah Timur muncullah rembulan dengan cahayanya yang samar menyinari kabut yang menyelimuti puncak bukit yang berjejer, suatu pemandangan yang indah sekali. Pada saat itu yang terdengar hanyalah suara tertawa menyeringai dari Pek Siau-thian serta raungan gusar dari Hoa Thian-hong, pukulan demi pukulan dilancarkan tiada hentinya, sementara cahaya hitam menggulung kian kemari melakukan terjangan-terjangan maut. 

Tiba tiba…. Pek Siau-thian membentak keras, “Hoa Thian- hong, tempat ini adalah puncak Ciat in hong, besok adalah hari Tionggoan, ingat baik-baik….”

“Aku bersumpah akan membinasakan dirimu!” teriak Hoa Thian-hong setengah mendesis.

Pek Siau-thian tertawa keras, ditengah gelak tertawanya sepasang tangan secara beruntun melancarkan serangan mematikan, sebentar menghantam sebentar menyodok, jurus- jurus serangan berantai yang dilepaskan memaksa Hoa Thian- hong harus memutar senjatanya sambil mundur terus tujuh delapan belas langkah kebelakang.

“Keras tapi lincah!” tiba-tiba Hoa Thian-hong membentak keras.

Tanpa memperdulikan serangan musuh yang sedang meluncur datang, tiba-tiba ia lancarkan sebuah babatan.

Serangan pedang itu dilancarkan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun ketika mencapai ditengah jalan, tiba-tiba dari balik tubuh pedang itu memperdengarkan suara desingan yang amat tajam, gerakannya miring kesamping dan langsung membabat sisi tubuh lawan,

Pek Siau-thian yang menyaksikan kejadian itu jadi sangat kegirangan sambil putar telapak bentaknya, “Kun ji sedang menantikan kedatanganmu, pergilah!” Bersamaan dengan selesainya perkataan itu…. Blaaam! sebuah pukulan dengan telapak bersarang diatas punggung Hoa Thian-hong.

Terdengar pemuda itu melengking panjang, darah segar muncrat keluar dari mulutnya, tubuhnya terjungkal kebawah puncak dan dalam waktu singkat bersama dengan pedang bajanya lenyap dibalik awan tebal yang menyelimuti punggung bukit.

Suasana diatas bukit pulih kembali dalam kesunyian, sinar mata Pek Siau-thian liar dan kacau, mukanya pucat pias sementara tubuhnya yang tinggi kekar berdiri ditepi tebing dan sempoyongan tiada hentinya, seakan-akan sebatang pohon yang kosong dimakan ulat.

Sebentar kemudian kegelapan telah menyelimuti jagad, udara bersih tak berawan sang rembulan bersinar dengan terangnya membuat suasana jadi terang benderang.

Angin malam menghembus lewat membuat Pek Siau-thian bersin tiada hentinya, sekujur badan bergentar keras dengan ujung bajunya ia menyeka keringat yang membasahi pipinya.

Tiba-tiba berguman seorang diri, “Kalau rejeki bukan bencana, kalau bencana tak akan bisa dihindari, keadaan sudah berlangsung demikian, apa yang musti kuta kuti lagi?”

Ia putar badan dan berjalan menuruni bukit tersebut.

Dalam pada itu, Hoa Hujin masih tetap duduk diatas bukit tersebut, sepanjang hari ia tak pernah bergeser barang setengah langkah pun dari tempat semula. Cu Im taysu, Ciong Lian-khek, Chin Pek-cuan, Biau-nia Sam-sian serta jago-jago lainnya hampir semua duduk disekitar sana, cuma sa ja air muka Hoa Hujin serius dan keren sedikitpun tidak menunjukkan wajah murung sebaliknya mereka yang lain gelisah dan merasa tidak tenang.

Dipihak lain pada, seberang jembatan batu berdiri lautan manusia yang bersenjata lengkap, sekilas memandang cahaya tajam memenuhi seluruh angkasa suasana sunyi sepi menegangkan kecuali ringkikan kuda tiada suara lain yang kedengaran.

Rupanya seluruh pasukan dari perkumpulan Sin-kie-pang telah membuat barisan ditepi seberang jembatan batu walau pun saling berhadapan dengan golongan Hoa Hujin akan tetapi kedua belah pihak belum sampai melakukan bentrokan langsung.

Disamping itu, pada bukit sebelah utara merupakan pasukan besar dari perkumpulan Hon im hwee dibukit sebelah selatan ada para iman dari sekte agama Thong-thian-kauw, rupanya ketiga kekuatan besar dalam dunia persilatan sudah bersatu padu dan siap menghadapi orang-orang dari golongan pendekar.

Waktu berlalu dengan cepat suasana tetap tenang diliputi keheningan yang mencekam hingga mencapai tengah malam dari balik pa sukan besar perkumpulan Sin kie psng tiba-tiba kedengaran demtuman yang amat keras, ditengah-ditengah udara muncullah sebuah bunga api berbentuk sebuah panji yang amat besar.

Mengikuti suara dentuman tadi diri arah bukit sebelah utara terdengar suara peluit yang dibunyikan memekakkan telinga. Ci-wi Siancu yang mendengar suara itu segera menengadah dan bertanya keheranan, “Hujin apakah yang terjadi?”

Hoa Hujin tersenyum.

“Berangkat! jarak tempat ini dengan tempat diselenggarakannya pertemuan besar Kian ciau tayhwee toh tidak dekat!”

Kemudian sambil menyapu sekejap ke arah jago, ujarnya lagi sambil tertawa, “Kitapun harus segera mempersiapkan diri untuk berangkat pula”

“Bagaimana dengan Seng ji?” Sam-koh mendadak berkata dengan penuh kegusaran

Senyuman yang semula menghiasi ujung bibir Hoa Hujin seketika lenyap tak berbekas, jawabnya, “Kalau ia tidak cedera maka besok pasti akan datang sendiri dibukit Thian bok sebelah barat kalau tidak beruntung dan mendapat celaka itulah takdirnya sudah tiba!”

Mendengar perkataan ini, Tio Sam-koh jadi gusar sekali hingga tubuhnya gemetar keras, serunya, “Engkau keja, engkau kejam, akan kulihat engkau bakal mampus ditangan siapa? akan kulihat bagaimana tenangnya engkau menerima kematianmu itu!”

Cu Im taysu menghela napas panjang, hiburnya, “Tio lo tay, urusan toh sudah jadi begini, mengapa engkau harus mengumbar hawa amarah?”

Tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda berkumandang dari tepi seberang, rupanya orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang sudah mulai berangkat tinggalkan tempat itu. Tio Sam-koh masih belum dapat menekam hawa amarah yang berkobar dalam dadanya, dengan gemas kembali dia berseru, “Kalau engkau mencegah dia untuk menuruni jurang ini, tak mungkin ia tinggalkan kita semua, kalau engkau tidak bersikeras untuk melakukan perundingan, kita semua telah berhasil mengurung dirinya dan tidak akan sampai terjadi hal seperti ini….”

Makin berbicara ia semakin mendongkol, ketika sampai ditengah jalan mendadak mulutnya tergagap dan tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.

“Kami semualah yang salah!” tiba tiba Lan-hoa Siancu berkata dengan sedih, “kalau bukan kami yang mencelakai jiwa Pek Kun-gie lebih dahulu, tak mungkin pula bakal terjadi peristiwa tragis seperti ini.”

Hoa Hujin tersenyum.

“Nona tak usah menyalahkan diri sendiri,” katanya, “kehidupan manusia di kolong langit telah ditentukan oleh takdir, siapa yang bisa mempertahankan kehidupannya sampai beberapa ratus tahun? apalagi dewasa ini kaum lurus tak dapat hidup bersama kaum sesat. Siapa tahu kalau sekarang kita masih hidup dan besok malam sudah tinggalkan dunia yang fana ini….?”

“Kalau kita bisa mempertahankan diri sampai diselenggaranya pertemuan besar Kian ciau tayhwee, bagaimanapun juga saat yang dipilih untuk mengorbankan diri jauh lebih tepat, membunuh beberapa orang banditpun sudah dapat menarik kembabli modal sendiri!” seru Tio Sam-koh dengan penuh kemarahan.

Kembali Hoa Hujin tersenyum. “Oleh sebab itulah aku tidak setuju untuk bentrok secara kekerasan pada kesempatan yang tidak benar, dan aku tidak bersedia mengorbankan diri tanpa sebab musabab yang nyata dalam pertarungan massal.”

“Aku maksudkan Seng ji kita!“ tukas Tio Sam-koh marah- marah.

“Darimana engkau tahu kalau Seng ji pasti mati? dan darimana engkau bisa tahu kalau dia mati secara konyol!”

Bicara sampai disitu perempuan she Hoa itu bangkit berdiri dan melanjutkan sambil tertawa, “Mari kitapun berangkat, bagaimanapun juga pertarungan bakal kita temui, lebih cepat tiba ditempat tujuan rasanya jauh lebih baik.”

Semua orang memang sudah merasa tak sabar, mendengar perkataan itu para jago pun segera bangkit berdiri dan melakukan perjalanan.

Gerakan orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang sewaktu datang tadi cepat bagaikan hembusan angin, tapi dalam waktu singkat pula sudah berlalu tanpa bekas, maka dibawah pimpinan Biau-nia Sam-sian yang menyapu bersih racun keji diatas jembatan batu lebih dahulu, berangkatlah para jago untuk menghadiri pertemuan besar yang mempengaruhi mati hidup mereka itu….

Sekte agama Thong-thian-kauw mendirikan pertemuan besar Kian ciau Tayhwee dibukit See thian bok dengan tujuan untuk mendoakan arwah-arwah yang telah tiada serta sukma- sukma gentayangan, meja sembahyang didirikan didalam lembah Cu-bu-kok dan dipimpin langsung oleh kaucu nya yakni Thian Ik-cu sedang ratusan anggota perkumpulannya ikut hadir untuk memeriahkan upacara besar tadi. Sejak pagi hari bulan tujuh tanggal lima belas, lembah Cu- bu-kok telah diterangi oleh cahaya lilin, asap dupa mengepul keudara ba gaikan kabut putih, bunyi alat sembahyangan bertalu-talu memekakan telinga, pada meja altar yang dibangun tiga tingkat dengan bersandar pada sebuah dinding bukit teraturlah berpuluh-puluh buah meja abu kecil yang bertuliskan nama-nama para pahlawan yang telah gugur, sedang tepat ditengah altar berdirilah sebuah meja abu yang luar biasa besarnya sehingga dapat dilihat sejak dari mulut selat.

Pada meja abu itu terpancang papan nama yang lebarnya dua depa dengan tinggi mencapai satu tombak, diluarnya terselubung kain warna kuning, diatas kain kuning terpancang beberapa hurup besar yang berbunyi demikian, “Meja abu para jago yang gugur di medan perang pertempuran Pak beng hwee”

Dibawah meja abu bertumpuklah buah sajian dan bunga, Thong-thian Kaucu sendiri dengan memakai kopiah kebesaran dengan jubah imam berwarna merah bersulam pat kwa dan benang emas dan mantel warna ku ning sedang memimpin anak muridnya membaca doa di meja abu tersebut suasana ramai sekali.

Disamping itu, sepanjang kedua belah dinding bukit telah didirikan tempat berteduh yang berdempet empat, dalam barak tersebut tempat meja dan bangku, air teh, teko, tunggu dan alat untuk memasak semuanya sudah tersedia lengkap.

Perlu diketahui lembab Cu-bu-kok adalah sebuah lembah buntu yang berbentuk gentong dan dalam mulut lembah hanya terdapat sebuah jalan keluar saja yang berhubungan dengan luar, berhubung tempat itu lembah dan kalau siang tidak melihat sang surya kalau malam sunyi menyeramkan karena itu selat tadi disebut orang sebagai lembah Cu-bu-kok.

Kurang lebih antara jam tiga sore, orang-orang dari perkumpulan Hong im bwee masuk ke dalam selat lebih dahulu, Jin Hian dengan sorot matanya yang tajam segera mengawasi kedalam lembah tersebut, ketika melihatnya barak yang didirikan dikedua belah sisi dinding dibagi jadi empat bagian dan pihak sekte agama Thong-thian-kauw sendiri sudah menempati barak sebelah kiri dekat meja sembahyangan, maka dia segera memilih barak sebelah kiri yang dekat mulut lembah walaupun jumlah anak buahnya ada sembilan puluh orang namun setelah masuk kedalamm barak yang lebar itu kelihatannya sedikit dan sepi.

Sebentar kemudian pasukan induk dari perkumpulan Sin- kie-pang pun telah tiba dan bergerak masuk kedalam lembah, mereka segera menempati barak sebelah kanan dekat mulut lembah.

Pek Siau-thian benar-benar seorang ahli setrategi perang, ia tidak memimpin seluruh pasukannya masuk kedalam lembah, melainkan hanya kurang lebih lima ratus orang jago saja yang dipimpin masuk kedalam barak tempat beristirahat, sedangkan sebagian besar lainnya tetap tinggal diluar lembah tersebut, ada yang berjaga-jaga di mulut lembah dan ada pula yang meronda disekitar bukit, tidak selang beberapa saat kemudian diatas purcak bukit yang mengitari selat Cu-bu-kok telah mucul para peronda dari perkumpulan Sin kei pang.

Kurang lebih pukul lima sore, rombongan yang dipimpin Hoa Hujin muucul dimulut lembah, tetapi sebelum mereka memasuki selat tersebut tiba-tiba dari balik tikungan bukit muncul dua belas orang, orang pertama bukan lain adalah Siau yau sian dewa yang suka pelancongan Cu Tong, sambil menggoyangkan kipasnya dan tertawa terbahak-bahak, ia maju menghampiri rombongan yang dipimpin Hoa Hujin kemudian memberi hormat.

Buru-buru Hoa Hujin menyongsong kedepan, sekilas memandang terlihat olehnya bahwa hampir semuanya adalah sahabat-sahabat lama, dengan cepat ia menyapa dan melepaskan rindu diantara mereka, suasana diliputi keharuan dan kegembiraan

Dengan air mata meleleh keluar karena terharu, dewa yang suka pelancongan Cu Tong berkata, “Mungkin semua orang yang masih hidup di kolong langit ini hari telah berdatangan”, semua disini banyak perkataan yang hendak kita bicarakan bagaimana kalau kita masuk dulu kedalam lembah kemudian baru dibicarakan secara perlahan-lahan”

“Cu toako, dandanan maupun potongan wajahmu sama sekali telah berubah….” kata Hoa Hujin sambil tertawa paksa, “andaikata aku tidak mendengar penuturan orang lebih dahulu mungkin aku tak dapat mengenali dirimu kembali, sedang dua orang lainnya aku tak bisa ingat kembali siapakah mereka gerangan?”

Dewa yang suka melancong Cu Tong segera menuding ke arah manusia jelek bertubuh seperti beruk itu, ia memperkenalkan, “Dia adalah Ciu tayhiap dari gunung Huang- san berhubung hatinya selalu gelisah ketika berlatih ilmu, mengakibatkan dia mengalami jalan api menuju neraka dan berubah potongan tubuhnya jadi begini rupa”

“Cui heng….? “seru Hoa Hujin dengan terperanjat “aku masih amat jelas ketika itu engkau….”

Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san segera tertawa. “Ketika itu tubuhku memang sudah termakan oleh enam buah tusukan pedang dan satu buah pukulan berat yang bersarang didada ku membuat aku roboh terkapar diatas genangan darah dan kemudian tertindih pula oleh dua sosok mayat sampai aku sendiripun telah mengira bahwa diriku telah mati, siapa tahu nyawaku ternyata belum putus, lewat dua hari kemudian aku telah hidup kembali di kolong langit”

Mendengar ucapan tersebut Hoa Hujin segera menghela napas panjang.

“Aaaai….!Cui heng tidak mati itu berarti bahwa beberapa orang gembong iblis tersebut sudah tiba pada waktunya untuk mampus”

Sorot matanya segera dialihkan keatas wajah seorang padri berusia empat puluh tahunan.

Padri itu segera merangkap kedua tangannya didepan dada untuk memberi hormat sambil tersenyum katanya, “Ti Kiam Hui yang hujin kenal tempo dahulu, sekarang telah berubah menjadi It sim hweesio!”

“Kiam Hui hen? bagaimana caranya engkau merawat diri hingga awet muda? rupanya semakin latihan muka mu berubah semakin muda dan semakin bercahaya?”

It sim hweesio menghela napas, kemudian ujarnya, “Pahit getir yang kualami selama ini sukar dilukiskan dengan kata- kata, aku harus cukur rambut menjadi pendeta karena itu kuguna kan gelar It sim sebagai pengganti namaku yaitu agar aku selalu ingat untuk membalas dendam selalu ingat pada dendam kesumat yang tertanam dalam hatiku, aku tak bisa bertemu dengan leluhurku tak apa, tak bisa bertemu dengan orang suci juga tak apa, sekalipun harus masuk neraka asal sakit hati ku bisa terbalas hal itu sudah cukup menggirangkan hatiku….!”

Hoa Hujin diam-diam berpikir dalam hatinya, “Walaupun setiap orang mempunyai kesedihannya sendiri-sendiri, tetapi kesediaan yang dialami Ti Kiam hui rupanya jauh lebih dalam daripada siapa pun juga….!”

Tiba-tiba Dewa yang suka melancong Cu Tong tidak menemukan Hoa Thian-hong ada dalam rombongan, dengan dahi berkerut, segera tegur nya, “Hoa Hujin, di manakah putramu?”

“Pek Kun-gie putri Pek Siau-thian dari perkumpulan Sin-kie- pang telah mati, putra itu telah meloncat kedalam jurang untuk menolong tapi akhirnya hingga kini tiada kabar beritanya lagi, aku sendiri pun tak tahu bagaimanakah nasibnya kini….” ujar Hoa Hujin dengan wajah sedih.

Menyengat berita tersebut, air muka Cu Tong sekalian dua belas orang seketika itu juga berubah hebat, Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san dengan cepat bertanya, “Kapan terjadinya peristiwa ini?”

“Tengah malam tanggal tiga belas jadi sudah tiga hari lamanya….!”

“Waktu itu apakah hujin tidak hadir disana” timbrung It sim hweesio dari samping.

Beberapa pertanyaan yang dilontarkan beberapa orang jago itu penuh mengandung nada cemas dan kuatir, hal ini membuat Hoa Hujin terpaksa harus menghela napas berulang kali, jawabnya, “Pada waktu itu aku hadir ditempat kejadian tetapi berhubung jurang tersebut tegak lurus dan dalamnya mencapai ratusan tombak diantara kami hanya ilmu meringankan tubuhnya saja yang secara paksakan diri bisa dipergunakan, karena itu aku biarkan dia untuk menuruni jurang tadi guna memberikan pertolongan. Kemudian para jago dari perkumpulan Sin-kie-pang menyusul disitu, Pek Siau- thian dengan mempergunakan seutas tali menuruni pula jurang tersebut, karena aku kuatir Seng ji menemui bahaya, buru-buru aku menuruni jurang itu dari sisi kiri bukit tadi, tapi semalam suntuk sudah berlalu, didasar jurang tidak nampak sesosok bayangan manusiapun, bahkan jejak Pek Siau-thian pun tidak kelihatan lagi”

Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san mengerutkan dahinya rapat-rapat, dengan nada me-negur katanya, “Manusia terdiri dari darah dan daging, tidak mungkin tubuh mereka bisa lenyap dengan begitu saja, menurut dugaanku dibawah jurang pasti ada jalan tembus lainnya, dengan kepandaian yang hujin miliki seharusnya engkau dapat menyusul mereka”

Tio Sam-koh yang selama ini memang merasa mendongkol terus, tiba-tiba mendengus dingin dan menyindir, “Hmmm! orang lain toh punya semangat gagah yang membubung tinggi kelangit seorang putra apa harganya? mau kejar atau tidak siapa yang dapat mengurusi?”

Hoa Hujin menghela napas panjang.

“Aaaai…. bukannya aku tidak menaruh perhatian atas nasib putraku, tapi dalam kenyataan situasi yang sedang kita hadapi pada saat itu genting sekali setiap saat suatu pertarungan terbuka bakal terjadi menurut pendapatku Pek Siau-thian toh hanya seorang diri sekalipun dapat menyusul Seng ji belum tentu ia dapat melukai jiwanya.” “Dengan kepandaian silat yang dimiliki Pek Siau-thian, ia belum mampu untuk melukai jiwa Seng ji….?” seru It sim Hweesio dengan perasaan hati sangsi.

Hoa Hujin mengangguk.

“Kepandaian silat yang dimiliki Seng ji tidak lemah, bilamana ia ada maksud untuk melarikan diri maka Pek Siau- thian tak mungkin bisa mengapa-apakan dirinya.”

“Orang muda selamanya berdarah panas” sela Ciu Thian- hau dari gunung Huang-san dengan nada tak senang hati, seandainya ia tak sudi untuk melarikan diri, bukankah selembar jiwa dikorbankan dengan percuma….??”

“Dalam pertemuan besar Pak beng hwee tempo hari, kita semua bilamana tidak melarikan diri, siapakah yang mampu hidup hingga ini hari? walaupun Seng ji masih muda belia, tapi aku sudah belasan tahun mempelajari dirinya untuk menahan emosi dan tebalkan iman, andaikata ia masih juga tak tahu diri dan tidak bisa mengambil keputusan yang bijaksana maka keadaannya bagaikan seorang manusia tolol yang tak bisa dibimbing, ini hari kita berhasil melindungi keselamatan jiwanya toh dilain hari kita belum tentu dapat menolong jiwanya!?”

Pandangan perempuan ini terhadap kehidupan manusia boleh dibilang melewati jangkauan daya pikir orang biasa, jalan pikiran semacam itu bukan bisa diterima oleh sekawanan manusia biasa, apalagi diantara Ciu Thian-hau sekalian ada yang didasarkan karena persahabatan, ada yang pada perasaan, dan ada pula yang karena pernah bertemu atau mendengar, semuanya menaruh perasaan sayang dan kagum terhadap diri Hoa Thian-hong, oleh karena itu sehabis mendengar perkataan dari Hoa Hujin, rata-rata mereka menunjukkan wajah tidak puas. Kawanan jago tersebut adalah para pendekar yang berjiwa lurus serta terus terang, dalam hati merasa tak senang perasaan tersebut segera terpancar diatas wajahnya, kalau dilihat gelagatnya nampak jelas bahwa semua orang akan menunjukkan protesnya.

Cu Im Taysu segera memuji keagungan sang Buddba dan berkata setelah menghela napas panjang, “Aaai….! sesungguhnya persoalan ini amat sulit untuk diatasi, hati siapa tidak lara melihat darah daging sendiri terancam bahaya? perasaan hati hujin sudah cukup tersiksa, aku harap saudara sekalian dapatlah bersabar sedikit!”

Hoa Hujin tertawa paksa, sambil membeli hormat dia berkata, “Kejadian telah berlangsung jadi begini, merasa murung juga tak ada gunanya, lebih baik kita segera masuk kelembah Cu-bu-kok untuk menyelesaikan masalah besar yang menyangkut kepentingan dunia persilatan saja!”

Semua orang membungkam dalam seribu bahasa, setelah hening beberapa waktu lamanya, berangkatlah mereka mengikuti Hoa Hujin ma suk kedalam lembah tersebut.

Seorang pemuda baju hijau yang menyoren pedang di pinggangnya tiba-tiba munculkan diri dari rombongan para jago, tegurnya dengan suara dingin, “Enso, kejadian itu berlangsung dimana? siaute bermaksud melakukan pemeriksaan disana”

Hoa Hujin berpaling ketika diketahui bahwa orang itu bukan lain adalah adik angkat mendiang suaminya yang bernama Suma Tiang-cing, ia segera termenung sebentar lalu menjawab. Pulang pergi ada empat ratus li jauhnya, daripada buang waktu dalam perjalanan, lebih baik himpun saja tenagamu untuk membunuh musuh.