Tiga Maha Besar Jilid 03

 
Jilid 03

SEMUA orang menganggut dengan mulut membungkam, mereka menantikan perkataan pemuda itu lebih jauh.

Dengan sorot mata yang tajam, Hoa Thian-hong menyapu sekejap wajah para jaga, kemudian katanya lebih jauh, “Menurut pendapat boanpwce, lebih baik sebelum kejadian kita tentukan lebih dahulu seseorang, sebelum pertarungan massal berkobar kita tantang Thian Ik-cu lebih dahulu serta berusaha keras untuk menggetar kutungkan pedang Poan liong Poo kiam miliknya itu!” Mendengar perkataan ini semua orang segera saling berpandangan dengan mulut membungkam, dalam hati mereka pun memikirkan siapakah orang yang cocok untuk maju pada babak pertama ini serta mengambil oper tugas tersebut.

Tiba-tiba Cu Im taysu berkata, “Hoa Hujin, pekerjaan itu merupakan suatu pekerjaan yang berat dan maha penting, aku lihat terpaksa hujin harus turun tangan sendiri”

Hoa Hujin termenung beberapa saat lamanya, kemudian sambil menghela napas, ia gelengkan kepalanya berulang kali.

“Sejak permulaan sampai sekarang, aku orang Bun Siau-ih tak pernah menggunakan senjata, kalau dikatakan untuk membereskan jiwa Thian Ik-cu memang gampang sekali, tapi untuk menggetarkan pedang mustikanya sampai kuntung pekerjaan ini terlalu sulit”

“Aneh benar!” teriak Tio Sam-koh dengan dahi berkerut, “kalau memang untuk membereskan jiwa Thian Ik-cu gampang sekali, apa salahnya kalau sekali hantam kau bereskan saja bajingan-bajingan itu?”

Hoa Hujin tertawa getir.

“Sam-koh, terus terang saja kukatakan bahwa tenaga pukulan yang kumiliki pada saat ini mungkin tak akan mampu ditahan oleh siapapun juga di kolong langit dewasa ini”

“Bagus sekali, kalau memang begtu kenapa engkau harus sungkan-sungkan lagi?”

“Aaai….! Sam-koh dengarkan dahulu perkataanku!” “Katakanlah! aku nenek tua akan mendengarkan.”

Hoa Hujin menghela nafas panjang ujarnya, “Tenaga pukulan yang kumiliki bagaikan air dalam gentong saja lebih banyak serangan yang dipergunakan makin berkurang tenaga pukulanku jumlah pukulan yang bisa kupergunakanpun tertentu sekali jumlahnya”

“Lalu berapa banyak pukulan yang mampu kau lancarkan?” tanya Tio Sam-koh dengan hati tercengang.

“Itu sih tidak menentu, tenaga pukulanku bisa digunakan dalam satu kali pukulan belaka dapat pula dipergunakan secara menghemat dan sampai beberapa puluh pukulan”

“Heeehh…. heeehh…. heeehhh….selamanya engkau memang paling suka memperhatikan segala macam keanehan!” seru Tio Sam-koh sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

“Ibu!” tiba-tiba Hoa Thian-hong berseru, “bila tenaga pukulanmu telah habis dipergunakan maka bagaimanakah dengan kesehatan badanmu?”

Cu Im taysu menghela napas panjang, pikirnya, “Kebaktian bocah ini terhadap ibunya benar-benar tak dapat dibandingkan dengan orang lain”

Tampak Hoa Hujin tersanyum, sambil memandang ke arah putra kesayangannya, ia berkata, “Semua harapan pada saat ini terletak di atas pundak kita, sudah sepantasnya kalau kita berusaha untuk menghindarkan diri dari pertanyaan itu, timbullah perasaan curiga dalam hati Hoa Thian-hong, tanyanya lebih jauh, “Bagaimana dengan luka lama yang ibu derita? dan pukulan beracun itu….” “Engkau tak usah banyak bertanya!” tukas Hoa Hujin cepat.

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ujarnya lagi dengan suara lembut, “Akupun tak akan mengelabuhi dirimu, luka racun yang kuderita akibat serangan tempo hari berhasil kusanding dengan tenaga da lamku, jikala tenaga murniku habis digunakan maka luka racun itu akan kambuh kembali”

Hoa Thian-hong jadi amat terperanjat.

“Bukankah pada waktu itu keadaan jadi payah sekali….!”

Tiba-tiba ia temukan wajah ibunya diliputi perasaan tak senang hati, buru-buru ia tutup mulut tidak berbicara lagi.

“Hujin, ilmu pukulan apa sih yang kau pelajari? kenapa gejalanya sama sekali bertolak belakang dalam keadaan pada umumnya?” tanya Cu Im taysu kemudian, “apakah engkau dapat memberi keterangan sehingga pin ceng sekalipun dapat menambah pengetahuan?”

“Ilmu telapak yang aku pelajari adalah peleburan antara ilmu telapak Thian lui ciang pukulan geledek dengan Hek sat ciang ilmu pukulan malaikat hitam ilmu sesat aliran kiri bukanlah suatu kepandaian yang patut dibanggakan”

Cu Im taysu mengerutkan dahinya mendengar ucapan tersebut katanya, “Seringkali aku dengar orang berkata bahwa ilmu Thian lui ciang ialah ilmu pukulan yang paling keras di kolong langit sebaliknya ilmu pukulan Hek sat ciang adalah….”

Hoa Hujin menangkap tangannya dan tertawa.

“Ilmu pukulan Hek sat ciang terdiri dari banyak ragamnya, sifat racun yang d√¨gunungpun berbeda-beda, dan yang mengandalkan racun bangkai, racun ular, racun tumbuh- tumbuhan dan juga racun yang bersipat dingin, meskipun begitu kebanyakan racun yang dipakai adalah racun yang ada dalam jagad, dengan dilatih secara tekun maka racun itu mencampur baur dengan angin pukulan, siapa yang terhantam isi perutnya pasti luka keracunan, sebaliknya racun yang kugunakan adalah racun batu yang ada didaftar perut bumi!”

Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa getir sambungnya lagi, “Racun ini ganas sekali, siapa yang terkena pasti mati…. Harimau ganas mengandalkan air sungai…. kalau dibicarakan benar-benar memalukan sekali!”

Tanpa sadar sorot mata semua orang dialihkan ke arah telapak tangannya yang putih mulus itu, tampaklah sekilas gumpalan hitam tercekat pada telapak tangannya, gumpalan hitam itu melompat-lompat seperti mau loncat keluar, membuat orang yang melihat jadi ngeri rasanya.

Setelah suasana hening beberapa saat lamanya, tiba-tiba Ciong Lian-khek berkata kembali dengan suara lantang.

“Taysu, engkau gunakan senjata sekop menggantikan senjata toya, setelah berlatih sepuluh tahun pasti sudah mendapatkan kemajuan yang pesat bukan….? bagaimana kalau tugas berat pada pertarungan babak pertama ini kubebankan kepadamu?”

Mendengar pertanyaan tersebut, mula-mula Cu Im taysu nampak agak tertegun kemudian dengan kepala tertunduk termenung beberapa saat lamanya.

Seperminum teh kemudian dia angkat kepala dan menjura, “Sejak kekalahan dalam pertemuan besar Pak beng hwee, pinceng telah mengasingkan diri selama sepuluh tahun lamanya tanpa seharipun berani angkat kepala, dalam pertemuan Kian ciau tayhwee nanti, walaupun aku masih belum mampu untuk membebaskan jiwa Thian Ik-cu, namun untuk mempertaruhkan jiwa guna menggetar kutung pedang mustika milik imam tua itu, pinceng yakin masih mampu untuk melakukannya”

“Luar biasa! apakah engkau ingin melatih dirimu jadi Budha dan selamanya tidak mati?” teriak Tio Sam-koh

“Demi keadilan serta kebenaran pinceng tidak takut mengorbankan jiwa ragaku, cuma saja Thian Ik-cu adalah seorang ketua perkumpulan besar, lagi pula tuan rumah penyelenggaraan pertemuan besar Kian ciau tayhwee, sedangkan pinceng bukan seorang jagoan yang kenamaan, berada dihadapan para jago dari seluruh jagad, kendatipun pinceng mengajukan tantangan untuk berduel, belum tentu Thian Ik-cu bersedia untuk melayaninya”

“Kau maki saja nenek moyang delapan belas turunanya, masa dia tetap tidak akan ambil perduli!” seru Tio Sam-koh dengan gusar.

Cu Im taysu agak tertegun mendengar perkataan itu, sambil tertawa segera ujarnya, “Thian Ik-cu adalah seorang pemimpin tertinggi dari perkumpulannya, ia pasti akan mengutus jago lihay lainnya untuk melayani tantanganku itu, aku lihat ilmu silat yang dimiliki Tio lo tay jauh lebih tinggi daripada kepandaian pinceng….”

Lihay atau tidak kenapa!” seru Tio Sam-koh dengan mata melotot besar, apakah aku nenek tua kalah dengan dirimu?”

Hoa Hujin segera goyangkan tangannya berulang kali, serunya agak keras, “Sam-koh, buat apa sih musii bersilat lidah? persoalan ini amat serius sekali.” “Thian Ik-cu sebagai tuan rumah bagi diselenggaranya pertemuan besar Kian ciau tayhwee, sebelum mencapai babak terakhir tak mungkin ia bersedia untuk turun tangan sendiri….”

“Kalau memang begitu, apa itu pedang emas pedang perak, bukankah kita sudah bicarakan persoalan itu dengan percuma saja?” teriak Tio Sam-koh kembali.

“Engkau tak usah terburu nafsu, sebodoh-bodohnya manusia pasti akan berhasil juga, mari kita berunding kembali persoalan ini secara masak, akhirnya kita pasti akan berhasil mendapatkan suatu cara yang baik!”

“Siau long, mampukah engkau menangkan Thong-thian- kauwcu?” tiba-tiba Li hoa siancu bertanya.

“Aku sama sekali tak becus!” jawab Hoa Thian-hong dengan wajah agak jengah, “bicara yang sesungguhnya aku masih bukan tandingan dari Thian Ik-cu….”

Li hoa siancu segera menghela napas panjang, ujarnya, “Thian Ik-cu adalah salah seorang diantara musuh-musuh besar pembunuh ayahmu, jikalau engkau menggunakan dalih hendak menuntut balas bagi kematian ayahmu, berada dihadapan umum mungkin saja Thian Ik-cu terpaksa harus munculkan diri untuk melayani dirimu, lagipula engkau masih muda dan merupakan angkatan yang lebih muda, siapa tahu kalau Thian Ik-cu merasa yakin dapat menangkan dirimu dan segera turun tangan melayani tantanganmu itu….”

“Perkataan ji suci sedikitpun tidak salah” sahut Hoa Thian- hong. Sambil menggertak gigi, ujarnya kembali, “Sebenarnya aku ingin sekali mengatakan imam siluman itu untuk berduel satu lawan satu, aku hanya kuatir kekalahanku bakal mempengaruhi semua keadaan!”

Tio Sam-koh yang semakin berpikir semakin kesal, tiba-tiba loncat bangun dari atas tanah dan beteriak sambil menghantamkan tongkat besinya keatas tanah, “Perahu yang tiba diujung jembatan tentu akan lurus sendiri! siapa kalau berani bicara tidak keruan lagi, jangan salahkan kalau aku nenek tua segera akan memberi hadiah satu pukulan yang keras”

ooooOoooo 44

“PERKATAAN dari Tio lo tay tidak salah!” seru Chin Pek- cuan pula dengan suara keras, “daripada duduk sambil berbicara lebih baik kita gunakan kesempatan ini untuk berlatih ilmu silatnya sendiri-sendiri….”

Pada saat itu fajar telah menyingsing diufuk sebelah timur, diatas bukit tampaklah jago-jago dari kalangan lurus itu sedang melatih ilmu silatnya masing-masing dengan tekun dan rajin.

Hoa Hujin duduk diatas batu gunung sambil menyaksikan putranya berlatih ilmu pedang, Hoa Thian-hong sendiri dengan gerak naga langkah harimau memainkan pedang bajanya dengan penuh bersemangat, dibawah sinar matahari tampaklah cahaya tajam memancar keempat penjuru menyilaukan mata orang, angin pedang menderu-deru amat memekikkan telinga. Li hoa siancu maju mendekati, lalu berkata sambil tertawa, “Sewaktu masih berada diselat Bu hiang kok tahun berselang, ilmu silat yang dimiliki siau long masih belum dapat menangkan diriku, tapi sekarang agaknya lima puluh gebrakanpun aku sudah tak mampu untuk melayani dirinya….”

Tiga dewi dari wilayah Biau adalah tamu terhormat, Hoa Hujin tak berani bersikap ayal, segera ia tersenyum sambil menjawab, “Nona memiliki kepandaian ahli dibidang lain, tentu saja kemajuan yang diperoleh dalam bidang ilmu silat agak lambat!”

Ci wi siancu pun berjalan mendekat, lalu menimbrung dari samping, “Hujin, ilmu pedang siau long meskipun hanya terdiri dari enam belas jurus belaka akan tetapi setiap kali tampaklah muncul gerakan-gerakan baru yang serba aneh dan belum pernah terlihat sebelumnya, setelah kuamati dengan lebih seksama terasa olehku bahwasanya keenam belas jurus ilmu pedang itu merupakan serangkaian garis besar dari suatu kepandaian belaka, sedangkan isinya sebenar nya amat luas dan memiliki perubahan yang tak terhitung banyaknya”

Hoa Hujin menghela napas panjang katanya, “Rangkaian ilmu pedang itu sebenarnya merupakan hasil ciptaan dari mediang ayahku, sayang sekali waktu berlatih terlalu singkat sehingga seng ji tak mampu untuk melatih inti sari yang sebenarnya”

Ditengah pembicaraan, Hoa Thian-hong telah selesai memainkan jurus pedangnya, baru saja tarik kembali senjatanya untuk minta petunjuk pada ibunya, tiba-tiba terdengar Ciong liang kek membentak keras, “Thian Hong, lihat pedang!”

Hoa Thian-hong tertegun, bayangan manusia berkelebat dan cahaya tajam pun tahu-tahu sudah muncul didepan mata, membuat si anak muda itu terpaksa harus cepat-cepat menggerakkan pedangnya untuk menyambut datangnya serangan tersebut.

“Lihat pedang, lihat pedang!” bentak Ciong liang kek berulang kali.

Ditengah bentakan keras pedangnya laksana sambaran dan ledakan guntur berkilauan memenuhi angkasa, serangan- serangan gencar yang dilancarkan semuanya ditujukan ke arah jalan darah penting diseluruh badan Hoa Thian-hong.

Dalam keadaan begitu, terpaksa pemria she Hoa itu harus putar pedangnya untuk menyambut serangan musuh namun lama kelamaan ia merasa kepayahan, segera pikirnya, “Locianpwee turun tangan begini gencar, aku mana sanggup untuk melayaninya….?”

“Ayolah menyarang secara benar-benar….!” tiba-tibaa Ciong Lian-khek membentak dengan penuh kegusaran.

Hoa Hujin termenung sebentar, kemudian iapun ikut berseru dengan suara lantang, “Ciong lian cianpwee ada maksud untuk menggembleng dirimu Seng ji! layanilah dengan sepenuh tenaga”

Hoa Thian-hong merasakan semangatnya berkobar, ia membentak keras dan pedangnya segera disapu kedepan untuk menolong posisinya.

“Bukankah engkau berhasrat untuk menggetarkan pedang pusaka Poan liong poo kian milik Thian Ik-cu sewaktu diselenggarakannya pertemuan besar Hian ciau tayhwee? Nah! layani dulu serangan pedangku ini!” seru Ciong Lian-khek dengan suara lantang. “Boanpwee tak berani bertindak kurang ajar” sahut Hoa Thian-hong sambil putar senjata untuk menyambut datangnya ancaman musuh.

“Hmm! tak usah bicara begitu, belum tentu engkau mampu untuk menggetarkan pedang ku ini….”

“Sungguh gagah dan bersemangat locianpwee ini” pikir Hoa Thian-hong didalam hati, “kalau aku bertindak sungkan- sungkan terus, justru tindakanku ini malahan akan bangkitkan kemarahannya….”

Berpikir demikian, ia segera menggetarkan pedangnya dan langsung menerjang ke arah pedang lawan.

“Kurang ajar!” bentak Ciong Lian-khek.

Ujung pedangnya segera menggetarkan berpuluh-puluh bunga perak yang menyiliaukan mata, dengan suatu gerakan cepat, ia serang dada pemuda itu.

Hoa Thian-hong terkesiap, sekuat tenaga ia loncat kebelakang sejauh beberapa tombak dari tempat semula, ketika ia menengok ke atas dadanya maka tampaklah pakaian yang dia kenakan telah bertambah dengan dua puluh buah lubang kecil yang rumit dan rapi.

Hoa Hujin segera tertawa dan memuji, “Suatu jurus Cu sian tiau keng atau para dewa menghadap atasan yang sangat indah, aku rasa kesempurnaan ilmu pedang yang dimiliki Thian Ik-cu tak akan jauh lebih ampuh daripada serangan tersebut, “Hujin memahami bukan, bahwa kepandaian yang dimiliki bajingan Thian Ik-cu bukan hanya terbatas pada jurus pedang belaka?” kata Ciong Lian-khek dengan nada tertawa. “Untuk menggetarkan pedang lawan hingga patah, engkau harus menyerang ke arah bagian tubuh lawan yang penting dan lemah, kalau menyerang pedang lawan secara ngawur begitu, bukan sama artinya mencari jalan kematian buat diri sendiri?”

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong setelah mendengar perkiraan itu, sahutnya kemudian, “Boanpwee memang sangat bodoh, sekarang aku telah mengerti!”

Tiba-tiba Cu Im taysu maju menghampiri dan berkata, “Hoa Hujin, setelah pinceng berpikir pulang pergi, aku segera merasa kendatipun setiap saat dan setiap detik kita melatih ilmu silat kita secara tekun dan rajin setetes demi setetes dikumpulkan hal itu tidaklah mendatangkan manfaat yang terlalu banyak, lain halnya dengan Thian Hong, mula-mula tenaga dalamnya memperoleh kemajuan pesat karena pengaruh racun teratai empedu api kemudian badannya jadi enteng karena pengaruh Leng-ci berusia seribu tahun, hal ini membuat dia memiliki dasar kekuatan yang benar-benar sangat tangguh, sepantasnya kalau kita gembleng dirinya secara tekun dan rajin sebab dialah satu-satunya kekuatan yang bisa kita harapkan serta andalkan”

“Budi kebaikan taysu sangat mengharukan hati kami berdua” ujar Hoa Hujin dengan serius.

Setelah termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia berpaling ke arah Hoa Thian-hong dan berseru, “Seng Ji, berlutut!!”

Buru-buru Hoa Thian-hong maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut diatas tanah, katanya, “Ananda siap mendengarkan nasihat ibu!” Dengan suara dalam Hoa Hujin segera berkata, “Cu Im taysu serta Ciong lian cianpwee adalah sahabat karib mendiang ayahmu, setelah cianpwee berdua maksud untuk menggembleng engkau jadi naga maka engkau harus berjuang secara tekun dan rajin untuk mencapai tingkat seperti yang diharapkan, janganlah sampai engkau menyia- nyiakan maksud baik dari kedua orang cianpwee itu”

Hoa Thian-hong mengiakan, ia segera memberi hormat kepada Cu Im taysu serta Ciong Lian-khek sambil berkata, “Terima kasih banyak atas kesediaan locianpwee untuk membimbing seria membina diriku”

“Tak usah banyak adat!” seru Ciong lian-kek sambil ulapkan tangannya, “keluarkan segenap kepandaian yang kau miliki, lebih cepat ia mampu mengalahkan kami berarti kekuatan bagi rombongan kita jauh lebih kuat dan ini berarti harapan kita untuk melanjutkan hidupun semakin besar!”

Hoa Thian segera bangkit berdiri, sambil memberi hormat, serunya kembali, “Boanpwee akan berusaha dengan sepenuh tenaga, aku tak akan berani bermalas-malasan!”

Air muka Ciong Lian-khek tetap hambar, pedangnya direntangkan kedepan menerjang maju kedepan.

Buru-buru Hoa Thian-hong putar pedang menyambut datangnya serangan, seluruh perhatiannya dicurahkan jadi satu untuk mengha dapi pertempuran itu, sedikitpun ia tak berani berayal. Ilmu pedang yang dimiliki Ciong Lian-khek mengutamakan keganasan serta ketelengasan, dengan bantuan tenaga dalamnya yang amat sempurna, boleh dibilang setiap serangannya disertai desingan angin tajam.

Sebaliknya ilmu pedang yang dipergunakan Hoa Thian- hong lebih bersifat terbuka namun kokoh dalam pertahanan dan tajam dalam serangan, meskipun sudah bertempur lima enam puluh jurus lebih, namun kedua belah pihak masih tetap bertahan dalam posisi seimbang.

Hoa Hujin yang mengikuti jalannya pertempuran dari sisi arena, tiba-tiba berseru dengan suara berat, “Keluar dari posisi Bu wong menuju ke tempat kedudukan Kui wi, gunakan jurus Hang hui ciy thian atau pelangi melayang diangkasa serta Liong Can ek ya atau naga bertarung ditanah liat”

Beberapa patah kata itu diutarakan amat cepat, Hoa Thian- hong tak sempat berpikir panjang lagi segera geserkan langkahnya dua tindak kesamping, pedang digetarkan keatas dan…. Sreeeet! Sreeet! secara beruntun melancarkan dua babatan kilat.

Kedua jurus serangan tersehat merupakan jurus kesebelas dan kedua belas dari rangkaian ilmu pedang yang dipelajari Hoa Thian-hong serta entah berapa ribu kali, sekali bergerak serangannya secara otomatis meluncur keluar dengan sedirinya.

Ciong Lian-khek sendiri ketika mendengar Hoa Hujin memberi petunjuk kepada putranya, satu ingatan segera berkelebat dalam benaknya, pedang panjang dengan cepat menerjang maju kedepan.

Tampaklah pedang baja Hoa Thian-hong mencuak keatas, mula-mula memunahkan serangan yang dilancarkan olehnya, baru saja dia akan berubah jurus serangan mendadak pedang si anak muda itu dengan jurus Liong can ek ya telah membabat pinggangnya. Dalam keadaan begini, bagi Ciong Lian-khek kecuali menangkis datangnya ancaman tersebut satu-satunya jalan loncat mundur keluar gelanggang.

Namun rupanya ia sudah mempunyai perhitungan, disaat yang kritis pedangnya segera di ayun kesamping dan berpapasan dengan pedang baja Hoan Thian Hong, meskipun begitu senjatanya sama sekali tidak terbentur olehnya.

Cu Im taysu segera tertawa dan berseru, “Hujin benar- benar sangat lihay, Cong liang heng pun hebat sekali!”

Sambil siapkan senjata sekopnya, ia segera berseru, “Bersiap-siaplah, pinceng akan turut terjun ke dalam gelanggang!”

Setelah mendapat petunjuk dari ibunya, Hoa Thian-hong berhasil memperbaiki posisinya tetapi baru saja menghembuskan napas lega mendadak terasalah cahaya perak berkilauan diangkasa, segulung desiran angin tajam tahu-tahu sudah menghantam batok kepalanya.

Ia sudah pernah merasakan kelihayan dari Cu Im laysu dan mengetahui pula kalau di balik senjata sekopnya itu tersimpan tenaga raksasa seberat ribuan kali, ia tak menerima keras lawan keras, badannya segera berkelit kesamping dan menerjang Ciong Lian-khek. 

Terdengar Co Im taysu membentak keras, angin tajam berhembus lewat sekali lagi, senjata sekop yang berat meluncur datang kembali, sedangkan Ciong Lian-khek pun ambil kesempatan itu mengirim satu pukulan kembali ke arah depan. Dengan kerja sama dari kedua orang ini, boleh dibilang serangan-serangan yang dilancarkan termasuk kuat dan ampuh, Hoa Thitan Hong yang harus menghadapi serangan dua orang sekaligus jadi keteter hebat.

“Criiing….! senjata sekop Cu Im taysu menyambar lewat menggetarkan pedang baja dari Hoa Thian-hong hingga mencelat keang kasa, sementara Ciong Lian-khek dengan tak kenal ampun segera melancatkan satu tusukan kilat ke arah tubuhnya.

Hoa Thian-hong malu bercampur cemas, sekuat tenaga ia loncat ke tengah udara dan menyambar kembali pedang bajanya.

“Hmm! engkau begitu tak becus, namun ambisinya besar sekali” seru Ciong Lian-khek dengan ketus, “dengan andalkan kepandaian seperti itu engkau ingin merebut kekuasaan dengan Thian Ik imam? bajingan itu. Heeh….heeh….heeh. benar-benar omong kosong”

“Dalam menghadapi pertarungan seseorang tidak boleh mempunyai perasaan mengalah, kepandaian silat apa saja yang kau miliki? ayoh keluarkan semua….!”

“Maaf kalau boanpwee tak tahu adat!” seru Hoa Thian- hong dengan wajah jengah.

Ia segera menerjang maju kedepan, pedar nya langsung menerjang tubuh Cu Im taysu.

“Hmm! kalau engkau tak mampu menangkan taysu serta diriku, dalam pertemuan besar Kian ciau tayhwee, engkau tak ada kesempatan untuk tampil kedepan!” seru Ciong Lian-khek kembali dengan dingin. Sembari berkata, pedangnya berputar kencang, dalam waktu singkat ia sudah melancarkan tujuh buah serangan kilat.

Hoa Thian-hong segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk menangkis datangnya serangan- serangan kilat dari Cu Im taysu serta Ciong Lian-khek, walaupun begitu posisinya masih tetap terdesak dan kalang kabut.

Tiba-tiba terdengar Li hoa siansu berkata sambil tertawa, “Hoa Hujin, usia siaulong masih terlalu muda, mana dia mampu untuk menghadapi serangan gabungan dari dua orang cianpwee? lebih baik biarlah kami kakak beradik yang melayani dirinya saja, sedang hujin memberi petunjuk dari samping, dengan begitu mungkin hal ini akan jauh lebih bermanfaat bagi dirinya.”

“Bagus sekali!” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati,

“sampai-sampai Li hoa cicipun tidak pandang sebelah matapun terhadap diriku!”

Meskipun pendidikan yang diberikan Hoa Hujin terhadap putranya sangat keras, akan tetapi Hoa Thian-hong sebagai pemuda yang berdarah panas, ia tak tahan mendengar rangsangan dan akhirnya timbullah perasaan ingin menang dalam hati kecilnya, tanpa sadar pula semangat bertempurpun semakin meningkat, tidak menggubris apa yang diucapkan oleh Hoa Hujin lagi, ia segera membentak keras berulang kali dan pedang bajanya melancarkan serangan balasan dengan sepenuh tenaga.

Dalam sekejap mata, cahaya tajam membumbung tinggi diangkasa, dari posisi bertahan ia berubah jadi posisi menyerang. Sekalipun begitu, namun sayang sekali dalam beberapa saat kemudian ia sudah terdesak kembali oleh serangan- serangan gabungan sekop dan pedang itu hingga terdesak diatas tanah.

Dengan saksama Hoa Hujin mengikuti terus jalannya pertarungan antara ketiga orang itu, melihat Hoa Thian-hong sudah lemah tak bertenaga lagi ia segera berseru, “Gunakan jurus Hok tok han tong bangau sakti terbang dikolam, Sa in cion bong em empat penjuru sunyi senyap, Im yang ji kek dua kekuatan Im yang serta Po goan siu it pusat pikiran jadi satu!”

Keempat jurus tersebut merupakan jurus-jurus ampuh dalam ilmu pedang yang dipelajari Hoa Thian-hong begitu cepatnya Hoa Hujin menyebutkan nama dari jurus-jurus serangan itu membuat orang yang berada disampingnya boleh dibilang sama sekali tak sempat mendengar dengan jelas.

Tetapi bagi Hoa Thian-hong yang mempelajari ilmu silat tersebut dari Hoa Hujin, boleh dibilang antara kedua orang itu sudah memiliki ikatan batin yang kuat, mendengar seruan tersebut pedang baja ditangan Hoa Thian-hong segera berputar cepat dalam waktu singkat keempat buah jurus serangan tersebut sudah dikerahkan keluar semua.

Ketika ia gunakan jurus Im yang ji kek, pedang ditangannya berputar dari arah kiri menuju ke arah kanan, begitu tepat dan manis penggunaan jurus pedang tersebut membuat dua orang lawannya terdesak mundur satu langkah kebelakang.

Ciong Lian-khek yang berada disebelah kiri, setelah mundur segera maju kembali kedepan, pedangpun ikut menyerang kedepan. Siapa tahu, setelah melancarkan tiga jurus serangan tadi, mendadak Hoa Thian-hong silangkan pedangnya didepan dada, tubuhnya berputar kencang dan pedangnya menerjang kedepan, nampaknya pedang baja itu segera akan saling membentur dengan senjata lawan.

Selama hidup Ciong Lian-khek membenamkan diri untuk mendalami ilmu pedangnya, tenaga dalam yang dimilili boleh dibilang sudah mencapai kesempurnaan yang luar biasa, ketika menyaksikan gelagat kurang baik, dia segera buyarkan serangan sambil menahan diri.

Hoa Hujin yantg menyaksikan kejadian itu, bersiap untuk memberi perintah kepada Hoa Thian-hong untuk menggunakan jurus Lak hoo kui it atau enam bergabung satu untuk mengobrak-abrik pertahanan.

Ciong Lian-khek mendadak teringat olehnya bahwa tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong belum mencapai puncaknya serangan yang dilancarkan secara paksa belum tentu mampu hasilkan tenaga sebesar sepuluh bagian, maka ingatan lain berkelebat dalam benaknya, ia segera membentak keras, “Gunakan jurus Kiu thian cu lay atau sembilan langit menutup seruling serta Kun siu ci tau!”

Sementara itu, ketika menyaksikan datangnya ancaman sekop yang dilancarkan Cu im taysu, Hoa Thian-hong memang berhasrat untuk mempergunakan jurus serangan Kiu thian cu lay, mendengar seruan tersebut ia jadi semakin bersemangat, pedang bajanya segera diayun kedepan membabat sepasang lengan Cu Im taysu sedangkan telapak kirinya menghajar Ciong Lian-khek.

Traaang….! Pedang baja saling membentur dengan senjata sekop hingga menimbulkan suara dentingan yang amat nyaring, tubuh Cu Im taysu terbendung kebelakang sebaliknya Hoa Thian-hong terdorong mundur satu langkah kebelakang dengan sempoyongan.

Meskipun pedang bajamerupakan benda yang keras namun senjata sekop dari Cu Im taysu pun merupakan tenaga raksasa yang luar biasa, dalam bentrokan tersebut sama sekali tak cedera sebaliknya tubuh Hoa Thiang Hong malahan tergetar keras.

Dengan termakannya oleh getaran tersebut, serangan yang dilancarkan dengan tangan kirinya pun melesat…. Kraaak! serangan tadi menghajar diatas bahu Ciong Lian-khek.

Ketika ujang telapaknya menempel diatas pakaian, buru- buru Hoa Thian-hong menarik kembali serangannya dengan perasaan tak tenang, Cu Im taysu sendiripun menarik kembali senjatanya dan berhenti menyerang hanya Ciong Lian-khek yang membentak kembali, “Ayo teruskan seranganmu!”

Pedang panjangnya laksana kilat melancarkan serangan kembali.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah terlibat kembali dalam suatu pertempuran yang amat sengit.

Diam-diam Hoa Thian-hong berpikir, “Orang lain tak dapat maju karena susah mendapat bimbingan guru pandai serta kesempatan untuk memperdalam ilmunya, sedangkan aku sudah mendapatkan kasih sayang dari orang tuaku, bisa mempelajari il mu silat tangguh dan lagi ada pula para cianpwee yang bersedia mengobankan waktu serta tenaga untuk menggembleng diriku, kalau aku tidak dapat memanfaatkan kesempatan ini serta mencapai tingkat ilmu silat yang tinggi, bukankah kemampuanku ini ibaratnya kentut anjing yang busuk dan sama sekali tak ada gunanya?” Berpikir sampai disini, semangatnya segera berkobar, pedang bajanya berputar makin kencang dan berusaha untuk menyerobot posisi yang menguntungkan, hal ini memancing berkobarnya semangar Cu Im taysu serta Ciong Lian-khek untuk lebih memusatkan perhatiannya pada permainsn senjata, jurus demi jurus dilancarkan semakin gencar dan sedikitpun tiada maksud untuk mengendorkan serangan.

Hoa Hujin sendiripan lebih bersemangat serta lebih sering memberi petunjuk kepada putranya, hal ini membuat Hoa Thian-hong tak bisa menang juga tak dapat kalah, pertarungan sengit berlangsung terus dengan ramainya.

Ditengah berlangsungnya pertarungan sengit, tiba-tiba senjata sekop dari Cu Im taysu menggunakan jurus-jurus ampuh yang paling rahasia, secara beruntun ia memaksa Thian Hong jadi gugup dan kalang Kabut tak karuan, terdesak hebat hingga kacau dalam pertahanan.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik itu, Ciong Lian-khek segera menyerang dengan serangan-serangan ampuh, memaksa Hoa Thian-hong harus merghindar berulangkali, tanpa sadar ia mundur semakin mendekati ibunya.

Tiba-tiba terdengar Cu Im taysu membentak keras, cahaya perak berkilauan memenuhi seluruh angkasa, dan tahu-tahu senjata sekop itu sudah muncul diatas pinggang Hoa Thian- hong memaksa si anak muda itu sama sekali tak berkutik lagi.

Sambil menarik kembali senjata sekopnya, Cu Im taysu berkata, “Untuk menyaksikan jurus Budbi bertanya soal agama, pinceng harus membutuhkan waktu selama dua bulan lebih sebelum berhasil menggunakan serangan itu dengan leluasa, coba pikirkanlah dengan seksama, apakah engkau mempunyai kepandaian untuk mencegah jurus serangan tersebut?”

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong setelah mendengar pekataan itu, sambil menyeka air keringat yang membasahi keningnya ia berkata, “Boanpwee tak dapat memikirkan dengan jurus serangan apakah aku baru bisa memecahkan jurus seranaan tersebut….”

Bicara sampai disini, sorot matanya segera dialihkan ke arah ibunya.

Hoa Hujin termenung dan berpikir beberapa saat kemudian, kemudian ujarnya dengan lirih, “Jurus serangan Budhi menanyakan soal agama dari taysu memang betul-betul hebat dan luar biasa sekali, akupun tak mampu untuk menemukan jurus pemecahan yang jitu”

“Haahhh….haahah….haaahh…. kita toh sesama kawan sealiran, kenapa hujin musti merendahkan diri?” seru Ciu Im taysu sambil tertawa terbahak-bahak.

Mendadak seperti menyadari akan sesuatu sambil menatap tajam wajah Hoa Thian-hong, katanya, “Nak, keenam belas jurus ilmu pelang yang kau miliki merupakan kepandaian silat maha ampuh yang ada di kolong langit, engkau harus merubahnya secara teliti dan seksama, janganlah selalu menggantung-kan pada kecerdasan ibumu”

Tiba-tiba terdengar Han In menimbrung dari samping arena, “Sekarang tengah hari sudah menjelang tiba, bagaimana kalau kalian beristirahat lebih dahulu? setelah bersantap nanti latihan baru dilanjutkan kembali!” Li hoa siansu pun memandang cuaca sebentar, kemudian teriaknya, “Sian long, apakah ini hari engkau sudah tidak merasakan lagi gejalagejala mau kambuhnya racun teratai?”

Hoa Thian-hong segera gelengkan kepalanya berulang kali. “Sama sekali tidak merasakan apa-apa, aku rasa racun

teratai itu sudah dicairkan oleh getah Leng-ci berusia seribu tahun”

Mendengar jawab n tersebut, semua orang jadi sangat gembira dan merekapun bersantap siang.

Ternyata latihan pertarungan yang dilangsungkan oleh ketiga orang itu sudah menarik perhatian para jago lainnya sehingga ber sama-sama berkumpul disekitar arena, tanpa terasa setengah hari sudah lewat dengan cepatnya.

Selesai bersantap, Hoa Thian-hong segera menyambar kembali pedang bajanya dan loncat bangun dari atas tanah, serunya sambil memberi hormat, “Locianpwee berdua, bagaimana kalau kita lanjutkan pertarungan ini?”

“Apakah engkau telah berhasil menemukan bagaimana caranya untuk memunahkan jurus serangan Budhi menanyakan soal agama dari Cu Im taysu itu?”

“Setelah boanpwee berpikir beberapa saat, boanpwee rasa untuk menghadapi jurus serangan Budhi menanyakan soal agama dari taysu, aku dapat mempergunakan jurus Hi Cweng ciu atau ikan lompat ke-dalam sungai untuk mempertahankan diri, cuma saja tenaga dalamku terlalu cetek, gerakan selanjutnya susah untuk dikerjakan, oleh sebab itulah jikalau pedang panjang dari cianpwee menyerang tiba tepat pada waktunya, boanpwee masih tetap tak mampu mempertahankan diri” “Kalau memang begitu, bukankah engkau sudah pasti bakal menderita luka kekalahan?” kata Ciong Lian-khek dengan nada tawar.

“Seandainya benar-benar sedang menghadapi serangan musuh, maka boanpwee akan mempergunakan jurus Thian hoo seng San atau bintang buyar disungai langit untuk mengadu jiwa dengan taysu, sebaliknya andaikata taysu buyarkan serangan maka pedang baja dari boanpwee akan berputar mengancam cianpwee”

“Bintang buyar sungai adalah jurus yang keberapa?” tanya Ciong Lian-khek dengan dahi berkerut.

“Jurus terakhir dalam ilmu pedangku” jawab Hoa Thian- hong, setelah berhenti sebentar sambungnya lebih jauh, “Cuma saja, berada dihadapan taysu serta cianpwee yang berkepandaian tinggi, dalam keadaan tenaga dalam tak cukup tentu saja sukar untuk mewujudkan harapanku itu”

Rasa sedih melintas diatas wajah Ciong Lian-khek, keluhnya, “Bicara pulang pergi yang paling penting adalah tenaga dalammu tidak mencukupi, aaai….! seratus hari berlatih golok, seribu hari berlatih pedang, sebenarnya hanya suatu pekerjaan yang terlalu dipaksakan….”

“Boanpwee akan berlatih dengan tekun!” “Engkau tidak lelah?”

“Tidak, boanpwee sama sekali tidak merasa lelah….” jawab Hoa Thian-hong sambil gelengkan kepalanya.

Cu Im taysu yang berada disisinya segera tertawa. “Kalau dilihat keadaan yang begitu semangat, agaknya tenagamu memang betul-betul luar biasa sekali” serunya.

Ia segera bangkit berdiri dan menyambung lebih jauh, “Ciong lian heng! membakar dupa bakar sampai habis, mengantar Buddha mengantar sampai langit, kitapun tak boleh menunjukkan sikap lelah!”

Ciong Lian-khek adalah seorang manusia Varg bersemangat baja, sebelum suatu pekerjaan berhasil dilesaikan, ia bersumpah tak akan berhenti, sekarang setelah dilihatnya Hoa Thian-hong masih mempunyai kekuatan untuk bertempur lebih jauh, dia segera mempersiapkan pedangnya dan berjalan menuju ketengah gelanggang.

Tiba-tiba Hoa Hujin berpaling ke arah Chin Giok-liong serta Bong Pay lalu ujarnya, “Hian tit berdua bagaimana dengan hasil latihan kalian selama belakangan ini?”

Buru-buru Chin Giok-liong memberi hormat dan menjawab, “Sebenarnya boanpwee sedang mengikuti Ciong lian cianpwee belajar ilmu pedang, dan belakangan ini mendapatkan pula serangkaian ilmu langkah dari ayahku, cuma sayang bakatnya kurang baik sehingga kemajuan yang berhasil dicapai pun lambat sekali”

Hoa Hujin mengangguk.

“Dalam soal ilmu silat, memang tak dapat menghiasi dalam satu dua hari belaka, meskipun aku mempunyai hasrat untuk membimbing dirimu, sayang sekali aliran ilmu silat yang kita anut sama sekali berbeda, sekalipun kuwariskan kepada hian tit juga sama sekali tak ada manfaatnya

“Bibi demikian memperhatikan boanpwee, membuat hian tit merasa amat berierima kasih sekali. Hoa Hujin menghela napas panjang, serunya kemudian, “Bagaimana dengan Bong hian tit?”

“Boanpwee tetap mempelajari ilmu pukulan Pek lek ciang warisan dari mendiang guruku!”

“Ehmm! guruku adalah seorang pendekar besar yang namanya amat tersohor di kolong langit” kata Hoa Hujin sambil manggut, “asalkan engkau dapat meneruskan cita-cita gurumu serta menegakkan terus garis hidup yang telah diterapkan oleh mendiang gurumu, bila mana suka gurumu dialam baka mengetahui akan hal ini, dia pasti akan merasa amat gembira sekali.”

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Dewa yang suka melancong dengan mendiang gurumu adalah sahabat yang sangat akrab, ia sangat mengharapkan akan kesuksesanmu dalam mewujudkan cita-cita mendiang gurumu, karena itu separoh dari jilid kitab ilmu silat telah ia serahkan kepadaku dengan harapan aku bisa mewariskannya kepadamu kalau berhasrat untuk maju, sekarang juga a kan kuwariskan kepandaian itu padamu”

Bong Pay tertegun mendengar perkataan itu, dia melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong kemudian jawabnya dengan kepala ter tunduk, “Kepandian silat yang boanpwee miliki sangat cetek, setiap kali bertempur pasti kalah, jikalau bibi bersedia untuk memberi pelajaran tentu, saja boanpwee pun bersedia untuk mempelajarinya”

Hoa Hujin menghela napas panjang, katanya, “Kami semua adalah bekas panglima perang yang kalah tempur ditangan musuh namun tetap semangat, maka suatu saat semua sakit hati dan dendam kesumat akan berhasil kita tuntut balas” Bong Pay segera mengangguk.

“Asalkan boanpwee dapat membalaskan dendam bagi kematian guruku, perbuatan macam apapun aku bersedia untuk melakukannya”

Mendengar ucapan itu, Hoa Hujin pun berpikir dalam hati kecilnya, “Meskipun orang ini kasar dan berangasan namun dia adalah seorang manusia yang berperasaan….”

Ia segera bangkit berdiri dan membawa Bong Pay menuju ke puncak bukit dimana ilmu sakti Cu yu jit ciat segera diwariskan padanya.

Siapa sangka, sisa laskar golongan lurus yang berjumlah kecil ini benar-benar berhasrat sekali untuk menggunakan kekuatan mereka yang kecil untuk menumbangkan tiga kekuatan besar yang ada di kolong langit dewasa itu, setiap orang berlatih diri dengan tekun dan semua orang mengharap kemajuan yang pesat dalam kepandaian silatnya masing- masing.

Dalam waktu singkat, tiga hari sudah lewat tanpa terasa dan haripun sudah menunjukkan bulan tujuh tanggal tujuh belas malam, berhubung usaha mati-matian dari Hoa Hujin serta Cu Im taysu sekalian, dalam tiga hari yang penuh dengan latihan itu tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong telah memperoleh kemajuan yang pesat dan permainan pedang boleh dibilang hampir melampui beberapa orang jago tua itu.

Sekarang ia mampu bertempur melawan Cu Im taysu serta Ciong Lian-khek sebanyak ribuan gebrakkan tanpa kalah, cuma saja ke dua orang tokoh silat itupun sudah memahami ilmu pedangnya maka pemuda itu sendiripun tak mampu untuk merebut kemenangan Tio Sam-koh serta Hoa In segera ikut menerjunkan diri pula kedalam arena untuk bertarung melawan Hoa Thian-hong, namun pertempuran selama setengah harian akhirnya tetap seri.

Adakalanya empat orang jago itu turun tangan bersama- sama untuk mengerubuti pemuda itu selama setengah harian lamanya membuat pemuda itu kehabisan tenaga dan lelah, namun posisi masih masih tetap dipertahankan dalam keadaan seimbang.

Keempat orang jago itu bagaikan sebuah tungku api yang menggembleng serta menempa tubuh Hoa Thian-hong dengan ketatnya, latihan demi latihan yang berat serta melelahkan membuat langsung berhasil dicapai benar-benar menakjubkan, sayang waktunya tidak terlalu banyak lagi sebab waktu sudah menunjukkan tanggal tiga belas malam, besok malam adalah saat diselenggarakannya pertemuan besar itu.

Selesai bersantap malam, sambil membawa pedangnya, Hoa Thian-hong segera memberi hormat kepada Cu Im taysu sekalian sambil ujarnya, “Besok kita harus memelihara tenaga secara baik-baik dan beristirahat semalam suntuk, menggunakan kesempatan yang terakhir pa da malam ini, harap para cianpwee sekalian suka bersusah payah lagi….”

“Aaaai….! apa itu soal susah payah? asal engkau mampu untuk meningkat lebih tinggi setaraf, aku rasa Thian Ik-cu pun tidak akan mampu untuk menahan pedang bajamu” kata Cu Im taysu dengan cepat.

Ciong Lian-khek, Tio Sam-koh maupun Hoa In sama-sama membungkam dalam seribu bahasa, Cu Im taysu serta Hoa Thian-hong, lima orang mereka bersama-sama menuju keatas bukit. Sementara kemudian, Chin Pek-cuan pun membawa Chin Giok-liong berlalu dari situ. Sedang Bong Pay seorang diri menuju keatas puncak bukit.

Pertemuan besar Kian cian tayhwee sudah kian lama kian semakin dekat, perasaan hati semua orangpun tersadar bertambah tegang, gelak tertawa sudah jarang kedengaran lagi.

Ci wi siancu menengadah memandang rembulan, kemudian kepada Hoa Hujin ujarnya, “Hujin, ketiga jurus ilmu jari itu bilamana dilatih Siau long pada tangan sebelah kiri dan diimbangi dengan permainan jurus pedang, bukankah daya tekanannya akas bertambah kuat?”

Sejak permulaan ia sudah melatih kepandaian tersebut dengan tangan kanan, sekarang sudah tiada waktu lagi untuk merubahnya”

“Ciu It-bong dapat mengandalkau jurus Kun siu ci tau yang terdiri hanya satu jurus sebagai kepandaian andalannya, hal ini membuktikan kalau dibalik permainan jurus itu terkandung perubahan yang sakti serta daya kekuatan yang luar biasa” sela Lam hoa siancu dari samping, “tetapi berhubung ilmu pedang serta telapak dari Siau long belum berhasil mencapai pada puncaknya maka ia susah untuk menggabungkan permainan kedua macam kepandaian itu menjadi satu, seandainya ilmu itu sudah mencapai puncak kesempurnaan dan bisa dipergunakan menurut kehendak hati, aku rasa kalau dibandingkan dengan kekuatan ilmu jari Ci yu jit ciat pun akan jauh lebih tangguh lagi”

“Perkataan nona sedikitpun tidak salah” sahut Hoa Hujin sambil mengangguk, tombak panjang golok pendek, itu bukan berarti golok tak dapat menangkan tombak, melainkan kesempurnaan dalam kepandaian silatlah yang lebih diutamakan”

Lam hoa siancu tersenyum, setelah berhenti sebentar katanya lagi, “Hujin, lebih baik engkau mengurusi tentang dari Sian long saja, biarlah kami beberapa orang yang berjaga-jaga dijembatan batu ini, dan aku rasa tak mungkin akan terjadi suatu kesalahan, andaikata terjadi peristiwa yang tidak diinginkan biarlah kami akan suruh Tiong Hau untuk memberi laporan kepada nyonya!”

Hoa Hujin berpikir sebentar, kemudian jawabnya, “Kalau memang begitu, terpaksa aku harus merepotkan nona bertiga….!”

Setelah berjalan maju beberapa langkah, tiba-tiba ia berpaling dan berkata kembali, “Saat dibukanya pertemuan Kian ciau tayhwee sudah semakin dekat, mungkin saja ada sahabat dari satu aliran yang akan menyusul kemari, harap nona bertiga jangan sampai berayal menyambut kedatangan sahabat- sahabat kita itu….!”

Tiga dewi dari wilayah Biau mengiakan dan Hoa Hujin pun segera meneruskan perjalanannya menuju kebelakang bukit dan lenyap dibalik bebatuan.

Li Hoa siancu memandang sekejap ke arah Chin Wan-hong, lalu sambil mengerdipkan matanya ia tertawa dan berkata, “Hong ji, bukanlah engkau ingin melihat siau long? kenapa tidak ikut serta bersama sama hujin?”

“Siapa sih yang mengatakan kalau aku hendak meliat Siau long? dia sedang berlatih ilmu silat, aku tak ingin mengganggu ketenangannya selama latihan!” jawab Chin Wan-hong sambil tertawa. “Hong ji!” seru Ci wi siancu pula sambil tertawa, aku lihat sesudah tak berjumpa selama satu tahun, sikap siau long terhadap dirimu sudah tidak menyerupai keadaannya pada tempo dulu, coba lihatlah selama beberapa hari ini, dia sama sekali tak mengucapkan sepatah katapun terhadap dirimu.

Chin Wan-hong tertawa, jawabnya, “Pertemuan besar Kian ciau tayhwee sudah hampir tiba, perasaan hatinya sedang berat, murung dan lagi pula sibuk berlatih ilmu silat, mana dia punya waktu untuk bercakap-cakap dengan aku?”

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ujarnya lagi dengan nada sedih, “Selama ini dia selalu memikirkan tentang dendam kematian ayahnya, cuma perasaan tersebut selamanya tak pernah diutarakan keluar, dalam penemuan Kian ciau tayhwee nanti dia bakal bertemu dengan musuh besarnya, pertarungan sengitpun tak mungkin bisa dihindari lagi”

“Dengan kesumat atas kematian ayahnya adalah suatu dendam yang dalamnya melebihi samudra, kenapa ia tak berani mengutarakannya keluar?” kata Ci wi siancu.

“Hujin melarang dirinya untuk mengatakan soal dendam karena takut melemahkan semangat persatuan diantara para pendekar serta melemahkan daya pikiran setiap orang dalam menghadapi masalah besar ini”

“Kenapa?”

“Suci coba bayangkan seadainya yang dipikirkan terus olehnya hanyalah membalas dendam, manusia-manusia gagah seperti Cu Im taysu sekalian yang sama sekali tidak mengutamakan soal dendam pribadi bukankah bakal putus asa dan seandainya sampai terjadi keadaan seperti ini bukankah akan mematahkan semangat tempur mereka sendiri? “Ooooh….! rupanya terdapat juga masalah yang demikian peliknya seru Ci wi siansu sambil tertawa, yang akan kita bantu hanya lah siau long seorang diri perduli amat siapa lurus siapa sesat mau bertempur kita turun tangan dan mau bunuh kita bunuh saja bukankah lebih beres?”

Tiba-tiba Li hoa siancu tertawa dan berkata, “Hong ji, engkau mengatakan bahwa Siau long selalu memikirkan tentang dendam kematian ayahnya, apakah secara diam-diam ia berita-hukan kepadamu?”

Chin Wan-hong segera menggeleng.

“Dia adalah seorang anak yang berbakti, setelah ibunya melarang dia untuk berbuat demikian maka sekalipin hanya mencuri untuk berpikirpun, tak akan berani apalagi mengutarakannya keluar, cuma saja…. ia bisa berbakti terhadap ibunya masa tidak berbakti terhadap ayahnya? dan masa ia dapat melupakan soal kematian ayahnya?”

Li hoa siancu mengangguk tanda membenarkan, tiba-tiba ia berpaling dan serunya, “Tong Long, engkau mengatakan bagaimana hubungan antara siau long dengan Giok Teng Hujin dari sekte agama Thong-thian-kauw?”

“Oooh…. aku hanya secara kebetulan saja mendengar percakapan antara dua orang imam cilik ketika masih berada didalam kuil It goan hoan tempo hari….” kata Harimau bisu Tong Long.

“Apa yang dia katakan?”

Harimau bisu Tong Long itu agak tertegun sebentar, kemudian jawabnya, “Kedua orang imam cilik itu membicarakan tentang bagaimanakah hubungan yang intim antara Hoa kongcu dengan Giok Teng Hujin, kemudian membicarakan pula bagaimana Thong-thian-kauwcu cemburu!”

“Sebenarnya bagaimana sih yang tepatnya?” tanya Li hoa siancu dengan wajah cemberut.

“Aku sendiripun kurang begitu jelas”

Sesudah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Kedua orang imam cilik itu tidak membicarakan sampai jelas, tentu saja aku sendiripun kurang begitu jelas.”

“Persoalan ini toh menyangkut tentang nona Hong, masa engkau tidak bisa menanyai mereka?” seru Li hoa siancu dengan marah.

Chin Wan-hong yang berada disampingnya segera menimbrung, “Pada saat itu dia adalah seorang tawanan, sedangkan kedua orang imam cilik itu pun membicarakannya secara diam-diam, Ji sicu! coba engkau suruh dia bagaimana caranya untuk mengajukan pertanyaan tersebut, padahal tak usah ditanyakan lagipula urusan sudah sangat jelas” kata Lam hoa siancu dengan cepat, “perempuan itu toh bersedia menghadiahkan Leng-ci berusia seribu tahun kepada Siau long, apa yang harus dibicarakan lagi….?”

Tiba-tiba terdengar Harimau ompong Tiong Lo poo cu berkata, “Perempuan itu benar-benar ibarat pungguk merindukan bulan, Hoa sauya masih muda dan gampang terpengaruh oleh nafsu birahi…. tentu saja ia gampang mempengaruhi sauya kita. Hmmm! Siancu, dalam pertemuan besar Kian ciau tayhwee besok pagi engkau harus mengeluarkan sedikit kepandaian dan racuni perempuan itu sampai mampus!” Dalam pandangan tiga harimau dari keluarga Tiong, Hoa Thian-hong serta Chin Wan-hong adalah pasangan yang paling ideal dan lagi ke dua-duanya merupakan majikan mereka tentu saja dalam pandangan ketiga orang itu mereka tak rela membiarkan orang ketiga turut campur dalam hubungan tersebut, sekali pun Hoa Thian-hong serta Chin Wan-hong bersedia, tiga harimau dari keluarga Tiong tetap tidak setuju.

Cin wi siancu yang mendengar perkataan itu segera menimbrung, “Toa Suci, ide ini sangat bagus sekali! Hong ji jadi orang terlalu jujur dan lagi tak bersedia melatih ilmu silat bukan saja sekarang tidak merasa iri atau cemburu sebaliknya malah dipermainkan oleh perempuan lain, aku rasa untuk berjaga terhadap segala kemungkinan yang tidak diinginkan lebih baik kita cepat-cepat bikin mampus perempuan itu lebih dahulu….!”

“Suci bertiga, janganlah bikin huru hara yang sama sekali tak ada artinya” seru Chin Wan-hong dengan gelisah, Giok Teng Hujin adalah putri kesayangan dari Siang Tang Lay dan lagi kitapun sedang menghadap musuh yang amat tangguh….”

“Bikin huru hara apa omel Ci wi siansu, budak yang tak berguna, pembaringan yang hanya muat ditiduri dua orang masa kau biarkan orang lain untuk menidurinya? kami bersusah payah untuk membantu engkau malah bicara seenaknya…. benar-benar bodoh!”

Gadis suku Biau paling tebal rasa cemburunya, sering mereka lepaskan racun jahat untuk mempengaruhi perasaan kekasihnya, apabila ada musuh dalam cinta merekapun tak segan-segan untuk turun tangan keji guna menyingkirkan saingannya itu, seringkali apa yang dibicarakan dilakukan dengan segera, karena itulah sesudah mereka mengancam akan bikin mati Giok Teng Hujin maka ancaman itu pasti akan dilakukannya pada suatu ketika.

Sebaliknya Chin Wan-hong adalah seorang gadis yang berbudi luhur serta memahami keadaan situasi, dan lagi diapun jerih sekali terhadap wibawa dari Hoa Hujin, karena itulah meski pun perbuatan dari ketiga orang sucinya itu adalah demi kebaikan dirinya, namun sang hati merasa ngeri dan kuatir.

ooooooooo 45

DALAM pada itu, dari tepi pantai seberang berkelebat datang sesosok bayangan manusia yang ramping, disorot sinar rembulan tampaklah gerakan tubuh orang itu cepat bagaikan kilat dan tergesa-gesa sekali, dalam beberapa kali lompatan ia sudah berada dibelakang batu peringatan tersebut.

Tatkala tiba didepan batu peringatan itu, bayangan manusia yang ramping tadi nampak tertegun dan segera membaca tulisan yang tertera disana.

Ia termenung sambil memandang keangkasa, lama sekali…. kemudian baru bergumam dengan suara sedih, “Apakah aku terhitung sebagai sahabat mereka….? kalau aku mengaku sebagai sahabatnya, apakah ia bersedia untuk menerimanya? dan orang lain apakah bersedia pula untuk menerimanya? apakah tiada orang lain yang akan mentertawakan diriku?”

Lama sekali ia berdiri termangu-mangu, kemudian alihkan kembali rorot matanya ke arah tepi seberang. Dibawah sorot rembulan, secara lapat-lapat ia temukan pula ada beberapa orang sedang duduk diatas bukit, dan orang-orang itu bukan lain adalah sekawanan perempuan.

Bayangan ramping itu kembali tertegun, akhirnya sambil menggertak gigi ia loncat naik seatas jembatan batu dan bergerak ke depan.

Tiga dewi dari wilayah Biau sekalian yang berada diatas bukitpun sudah mengetahui kalau ditepi seberang telah kedatangan seseorang, hanya saja berhubung jaraknya masih jauh dan lagi membelakangi cahaya rembulan maka raut wajahnya tidak terlibat jelas.

Tiba-tiba Li hoa siancu tertawa dan berbisik lirih, “Bagus sekali, baru saja kita bicarakan soal Co Cho, eei….! tak tahunya Co Cho sudah tiba, rupanya Giok Teng Hujin itu sudah tidak sabar menunggu sampai diselenggarakannya pertemuan besar Kian ciau tayhwee dan datang menghantar kematiannya lebih dahulu”

“Tidak aneh kalau siau long terpikat oleh dirinya” ujar Lan hoa siancu pula sambil tertawa, “cukup ditinjau dari potongannya badannya memang sudah cukup membuat orang tergiur”

“Lebih baik kita binasakan dirinya dengan bubuk racun pemabok ataukah ditangkap dulu dalam keadaan hidup-hidup setelah disiksa ba ru dibunuh mati?” tanya Ci wi siancu.

“Kalau berbuat begitu rasanya kurang baik tungkas harimau ompong Tiong lo po cu secara tiba-tiba, perempuan ini adalah putrinya Siong Tang Lay dan lagi telah meluaskan budi terhadap sauya kita, seandainya kita hukum mati setelah berhasil menangkapnya hidup-hidup bila Hoa Hujin akan mengetahui peristiwa ini, lain kali dia akan menyalahkan kita, sedang Hoa sauya yang sudah tergila-gila oleh kecantikannya….”

“Hmm! bicara tanpa bukti tukas harimau pelarian Toang Lian dengan cepat, dengan alasan apa engkau mengatakan kalau Siau Koan-jin telah tergila-gila oleh kecantikannya?”

“Peduli bagaimanapun, kaum pria memang suka sekali mengganti yang baru dan bosan terhadap yang lama, kata Harimau ompong Tiong Lo Po cu dengan perasaan tak puas, dari julukan yang dipergunakan perempuan itu sudah dapat diketahui kalau dia bukan manusia baik-baik, lebih baik kita pura-pura tidak tahu saja, agar ia tercebur ke dalam jurang dan mati dengan badan hancur”

“Cara berpikir Lo popo memang jauh lebih tepat!” seru Lan hoa si ancu kemudian sambil tertawa, “kematian manusia bagaikan padamnya lampu, sekalipua Siau long merasa bersedih itupun hanya bersifat sementara untuk kemudian akan melupakan untuk selamanya, dan asal kita tidak turun tangan maka Hoa Hujin pun tak dapat menyalahkan kita”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, gadis yang tinggi semampai dan amat ramping itu sudah melewati batu peringatan dan meluncur ketengah jembatan.

Li Hoa siancu segera tertawa dan berkata lagi, “Coba kalian liat gerak-geriknya yang tersipu-sipu dan diliputi rasa malu, bukan saja tak mau sebutkan nama bahkan menganggap dirinya sebagai kekasih siau long, dengan langkah lebar ia berjalan kedepan tanpa perasaan takut barang sedikitpun juga”

Berbicara sampai di situ, perempuan tadi sudah tiba pada lapisan batu pertama dimana Ci wi siancu melepaskan racunnya pada pos pertahanan yang pertama. Berhubung semakin dekatnya dengan hari diadakannya pertemuan besar, penjagaan diatas jembatan batu itu sudah diperbaharui, dan tiga dewi dari wilayah Biau pun belum lama berselang menaburkan kembali bubuk racunnya, baru saja ujung kaki perempuan itu menginjak diatas lapisan batu yang pertama, lubang hidungnya telah mencium bau racun pemabok yang lihay dari perguruan Kiu-tok Sianci tersebut.

Meskipun obat pemabok itu tidak lebih lihay dari Mi hun san yang berada pada pos pertahanan kedua, akan tetapi perempuan itu sudah tak tahan, tubuhnya gontai dan hampir saja roboh kedalam jurang.

Menyaksikan kejadian itu Chin Wan-hong segera menjerit kaget, ketika terbayang kembali oleh jeritan ngeri yang pernah didengarnya beberapa hari berselang, ia tak tega dan buru- buru serunya, “Suci bertiga, mari kita kesana dan memeriksa keadaannya, setelah menanyakan maksud tujuannya lebih baik kita usir dirinya pergi saja”

“Budak bodoh, apa yang perlu kita tanyakan lagi? apakah engkau bersedia untuk angkat saudara dengan dirinya serta menjadi istri seorang suami yang sama?”

Chin Wan-hong terbungkam dan menunduk.

Tiba-tiba Lan hoa siancu berseru keras, “Eeeei….! Giok Teng Hujin itu benar-benar luar biasa…. coba lihatlah!”

Ternyata gadis berbadan ramping itu berhasil menguasai diri, setelah masukkan sebutir obat kedalam mulutnya dan mengatur pernafasan sebentar, ia lanjutkan perjalanannya menuju kedepan. “Aaih!” teriak Li hoa siancu dencan gemas, “kalau engkau mampu untuk melawan bubuk Mi hun san milikku itu maka aku akan takluk kepadamu”

Chin Wan-hong membelalakan matanya dan menatap wajah perempuan itu tanpa berkedip barang sedikitpun jua, ketika ia saksikan perempuan itu sudah tiba dipunggung jembatan dan teringat kembali akan kelihayan bubuk mi hun san milik ji suci nya itu ia jadi sangat gugup dan segera teriaknya keras-keras, “Giok Teng Hujin, cepat berhenti!”

Mendengar teriakan tersebut perempuan itu benar-benar berhenti dan segera menengadah keatas.

Li hoa siancu jadi gemas, sambil menuding dahi Chin Wan- hong serunya dengan nada getun, “Budak bodoh, rupanya engkau lebih suka mencari penyakit buat diri sendiri….!”

Sedangkan Lam hoa siancu sambil tertawa cekikikan segera menggandeng tangan Chin Wan-hong seraya berkata, “Ayoh jalan, mari kita saksikan sampai dimanakah kecantikan wajah dari hujin ini, mari kita kesana bersama-sama.”

Semua orang segera loncat turun dari atas bukit dan menuju ketepi jembatan itu.

Baru saja mereka tiba ditempat tujuan, tiba-tiba Chin Wan- hong celah menjerit tertahan, “Oooh….! dia….”

“Siapa?” tanya Lam hoa siancu. “Pek Kun-gie!”

“Pucuk dicinta ulam tiba, kebetulan sekalii!” seru Li hoa siancu dengan alis berkerut. Ia segera menjejakkan kakinya dan bergerak lebih dahulu menuju kedepan, sedangkan Lam hoa siancu serta Ci wi siancu pun segera berkelebat kedepan setelah mengetahui bahwa perempuan yang munculkan diri itu bukan lain adalah Pek Kun-gie.

Tiba-tiba terdengar harimau ompong Tiong lo po cu lantang, “Sian cu bertiga, malam ini sekalian langit bakal ambruk jangan kita lepaskan perempuan rendah itu dalam keadaan hidup”

“Kau tak usah bicara, kami sudah tahu,” jawab Li hoa siancu.

Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah tiba di tengah jembatan batu dan berdiri saling berhadapan dengan Pek Kun- gie dalam jarak hanya tiga tombak belaka.

Dibawah sorot rembulan, Pek Kun-gie yang angkuh dan agung berdiri dengan angkernya diatas jembatan, pakaiannya yang berwarna putih salju terhembus angin gunung, membuat wajahnya nampak begitu cantik jelita hingga ibaratnya bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Pek Kun-gie memang sangat cantik, begitu cantiknya sehingga menimbulkan perasaan iri dan cemburu dalam hati kecil Biau nia sam sian, Pek Kun-gie terlalu angkuh sehingga menimbulkan kesan yang jelek dalam ketiga dewi dari wilayah Biau itu.

Dalam waktu singkat seluruh udara diliputi oleh nafsu pembunuh yang amat tebal, suasana jadi tegang dan setiap saat pertumpahan yang bakal terjadi. Terdengar Li hoa siancu bertanya dengan nada dingin bagaikan es, “Apakah engkau putri dari Sin-kie-pangcu yang bernama Pek Kun-gie….”

“Ucapanmu sedikitpun tidak salah” jawaban dari Pek Kun- gie lebih dingin begitu dinginnya hingga menggidikan hati orang, kalau kulihat dari dandananmu yang menyerupai orang dari suku Biau, aku rasa kalian tentulah anak murid dari Kiu- tok Sianci bukan?”

“Tiga dewi dari wilayah Biau suatu nama yang tak dikenal di kolong langit” jawab Li hoa siancu dengan hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.

Setelah berhenti sebentar sambil tertawa dingin, sambungnya lebih jauh, “Engkau bukannya berdiam dilindungan ayahmu mau apa seorang diri datang kemari?”

“Manusia liar yang belum beradab, buat apa menyampuri urusan orang lain?” ejek Pek Kun-gie sinis.

Ia segera menengadah dan berteriak keras, “Chin Wan- hong mengapa engkau tak berani datang kemari untuk berjumpa dengan aku?”

“Perempuan bajingan!” seru harimau ompong Tiong lo po cu dengan penuh kebencian, engkau sendiri manusia macam apa? kenapa nona kami harus berjumpa dengan dirimu?”

Chin Wan-hong sendiri mengerdipkan matanya lalu melayang turun diatas jembatan batu dan berkelebat ke arah depan.

Luas jembatan batu amat sempit, tiga dewi dari wilayah Biau pun secara memaksakan diri bisa berdiri sejajar, setelah Chin Wan-hong menyusul maju kedepan maka diapun hanya dapat berdiri di belakang tubuh ketiga orang sucinya belaka.

“Pek Kun-gie ada urusan apa engkau mencari aku?” serunya.

“Hmm! engkau tak usah terlalu meninggikan kedudukanmu sendiri, sekalipun aku ada urusan tidak mungkin aku bakal datang sendiri untuk mencari dirimu”

Setelah berhenti sebentar, tambahnya, “Undangan Thing Hong untuk berbicara dengan aku, ada rahasia penting yang hendak disampaikan sendiri kepadanya”

Chin Wan-hong maupun Biau nia sam san sama-sama berdiri tertegun, Li hoa siancu kuatir pendengarannya keliru, dengan wajah tercengang ia segera berkata, “Thian Hong? engkau sedang memanggil siapa? engkau anggap nama Thian Hong boleh kau sebut dengan seenaknya?”

Haruslah diketahui, dalam pandangan Pek Kun-gie, musuh cintanya yang terutama adalah Chin Wan-hong dan selamanya dia menaruh rasa permusuhan yang amat besar terhadap dirinya.

Sedangkan dalam pandangin Chin Wan-hong serta Bau nia sam sian, mereka menganggap Pek Kun-gie sudah berulang kali mencelakai jiwa Hoa Thian-hong membuat pemuda itu menderita rasa malu dan penghi naan, membuat pemuda itu harus merasakan jarum racun Soh hun tok ciam dari Pek Siau- thian serta memaksa dia untuk menelan Racun teratai empedu api.

Tetapi setelah, Hoa Thian-hong berubah muka serta munculkan diri kembali dalam dunia persilatan, dari bencinya Pek Kun-gie malahan jatuh cinta dan tergila-gila terhadap Hoa Thian-hong, tentu persoalan belakangan ini baik Chin Wan- hong maupun Biau nia sam sian sama sekali tidak mengetahuinya, apalagi selama beberapa hari ini tiada orang yang menganggap tentang persoalan itu maka merekapun semakin tak tahu.

Dalam pada itu dengan pandangan dingin Pek Kun-gie melirik sekejap ke arah Li hoa siancu, kemudian ia menatap wajah Chin Wan-hong sambil katanya, “Aku suruh engkau mengundang datang Thian Hong, sudah kau dengar belum?”