Si Pisau Terbang Pulang Bab 5 : Sinar Bulan Seperti Salju, Sinar Bulan Seperti Darah (Tamat)

 
Bab 5. Sinar Bulan Seperti Salju, Sinar Bulan Seperti Darah (Tamat)

Rumah itu terletak di tengah kota. Letaknya di sebuah loteng.

Orang-orang yang tinggal di kota itu, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa di loteng itu ada yang tinggal.

Siapakah yang tinggal di Lotengitu ?

Di bawah loteng, dulunya adalah sebuah toko kain sutra, mereka adalah pedagang yang jujur, tidak pernah menipu pembeli. Tiba-tiba saja toko itu bangkrut.

Di atas toko kain itu dulu ditinggali oleh orang dari piaokiok dan istrinya yang masih muda. Katanya erang itu hanya bertugas mengantarkan barang, tetapi karena sangat dipercaya oleh piaokiok, maka dia sering ditugaskan ke luar kota dan jarang tinggal di rumah.

Istrinya yang masih muda, sekitar dua atau tiga bulan kemudian tiba-tiba saja menghilang.

Menurut orang-orang dia melarikan diri dengan pelayan yang bekerja di rumah makan yang berada di seberang tempat tinggalnya.

Loteng itu sebenarnya adalah gudang untuk menyimpan kain-kain, tidak ada yang tinggal di sana. Tapi selama beberapa bulan ini bila asa orang yang tidak bisa tidur selalu terdengar tangisan bayi yang baru lahir dari tempat itu.

— Apakah di sana sudah ada seseorang yang tinggal? Siapakah yang tinggal di sana?

Ada orang yang ingin mencari tahu, mereka sengaja ke sana ingin melihat keadaaannya. tapi toko itu sudah ditempeli dengan segel pemerintah.

Loteng yang paling atas memiliki 3 kamar, kamar yang paling besar dahulu digunakan untuk gudang kain. Kamar yang lainnya untuk tempat tinggal para pegawai.

Tapi sekarang ini tempat itu sudah berubah menjadi tempat yang serba putih dan bersih.

Dari jendela belakang bisa melihat pekarangan keluarga Li, bisa melihat turunan ketiga dari keluarga Li yang tinggal di sana.

Di belakang rumah keluarga Li ada sebuah kamar. Rumah keluarga Li yang selalu terlihat gelap, hanya lampu di kamar ini yang tidak dipadamkan hingga hari terang.

Orang yang sudah tinggal lama di daerah sana, pasti sudah tahu bahwa kamar itu adalah perpustakaan milik Siao Li TamHoa, begitu Siao Li Tam Hoa meninggalkan rumah, kamar itu menjadi kamar dari kekasihnya, Lim Su In.

Sekarang kamar itu ditempati oleh keturunan ketiga dari keluarga Li yaitu Li Boan Ceng, dia menjadikan tempat itu sebagai tempat beristirahatnya.

Tadinya gang itu adalah gang yang sederhana, karena nama besar Siao Lie Tam Hoa, banyak orang yang datang untuk melihat, lama kelamaan tempat itu menjadi ramai. Pisau terbang sudah tidak ada, begitu pula dengan orang-orangnya, tapi nama mereka masih terkenal.

Dan tempat itu semakin hari semakin ramai, tapi sudah beberapa tahun ini keramaian di sana sudah mulai berkurang.

Karena alasan itu pula maka toko kain itu menjadi bangkrut.

Di tempat seperti itu dan di sebuah toko kain yang sudah ditutup, mengapa ada orang yang sengaja tinggal di sana? Mengapa mereka menghiasi ketiga kamar itu menjadi seperti istana yang terbuat dari salju dan es?

Rumah itu hanya ada warna putih, dinding yang berwarna putih, langit-langit yang berwarna putih, selimut yang terbuat dari kain sutra putih, di lantai masih terbentang kulit rubah yang berwarna putih, di atas meja hias, semua alat-alat hias pun berwarna putih.

Bila lampu dinyalakan, cahayanya akan lembut seperti cahaya bulan.

Di luar tidak ada bulan, hanya ada seorang perempuan yang mengenakan jubah putih duduk di bawah sinar lampu, wajahnya yang pucat disinari oleh cahaya lampu dan terlihat lebih pucat lagi, lebih pucat dibandingkan dengan hiasan yang berada di rumah ini.

Tapi dari kamar sebelah terdengar tangisan bayi, dan sekarang tangisan itu sudah berhenti. Setelah lama dari luar pintu ada yang memanggil, "Nona."

Seorang gadis yang mengenakan jubah putih dengan rambut yang dijalin, dengan pelan-pelan masuk.

"Nona, adik sudah tertidur dengan nyenyak, aku datang untuk melihat keadaan Nona," kata gadis itu.

"Melihatku? Untuk apa melihatku, apa yang bisa dilihat dari diriku?" jawab nona itu dengan dingin.

Mata gadis itu sarat dengan kesedihan, tapi rasa kasihan lebih kental dibandingkan dengan rasa sedihnya, dia berkata lagi,

"Nona, aku tahu kau banyak pikiran, tapi dalam beberapa seperti itu? Mengapa Nona terus menyiksa diri Nona?"

Perempuan selalu banyak pikiran, tapi nona ini sepertinya mempunyai lebih banyak pikiran.

Jendela terbuka, di luar jendela kecuali angin yang berhembus dan ada bintang-bintang, tidak ada apapun disana. Tapi dari dalam kegelapan terdengar suara petasan yang dibunyikan, dan petasan itu terus berbunyi.

Nona yang sejak tadi merasa seddih, seperti masuk ke alam mimpi lama yang indah tapi sedih.

Sepertinya dia baru tersadar karena mendengar suara petasan, tiba-tiba dia bertanya kepada gadis berkepang itu.

"Siao Heng, hari ini hari apa? Mengapa begitu banyak orang memasang petasan?" "Hari ini bulan 1 tanggal 6, hari ini adalah hari untuk

tnpnvflfnfint rlntsinornvsi He«ra rei*»U"i " iaurah Sino Hpno Kata gadis itu lagi,

"Malam ini semua keluarga harus bersembayang, menyambut dewa rejeki, bagaimana dengan kita?"

Nona itu melihat ke arah kegelapan di luar, suara petasan menggetarkan telinga yang sudah lama tidak didengar olehnya, setelah lama dia baru membuka suara,

"Yang akan kita sambut bukan dewa rejeki." "Bila bukan dewa rejeki, lalu dewa apa?"

Siao Heng berusaha membuat wajahnya menjadi gembira, dan berkata lagi ”Siapakah itu Goat Sin? Apakah Goat Sin (dewa bulan) yang memiliki pisau seperti cahaya bulan ?

Nona yang berpakaian seputih salju itu, tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah jendela, melihat gunung yang terlihat dari luar jendela, kemudian berkata,

”Benar aku ingin menyambut Goat Sin, karena ada legenda kuno yang menyebutkan bulan melambangkan kematian," dia berkata lagi, "matahari melambangkan kehidupan, bulan melambangkan kematian." Di luar jendela tidak tampak bulan, tidak jauh dari sana di sebuah kamar aeperti ada caknya lampu yang kelap kelip

"Aku percaya, sekarang ini di sebuah kamar, di bawah lampu ada seseorang yang sedang menunggu bulan dan kematian," suaranya terdengar dingin dan tidak ada perasaan. Dia berkata lagi,

"Karena jarak malam mi dengan malam bulan 1 tanggal 15, masih ada 9 hari lagi." Pada saat itu tiba-tiba terdengar tangisan bayi lagi.

0-0-0

Rumah itu sangat tua.

Orang yang tinggal di rumah itu karena selalu merasa kesepian dan sedih, atau bahkan karena kesombongannya, pergi meninggalkan tempat itu.

Sekarang orang yang tinggal di sana pun sedang merasa lelah hati, lelah badan, dia pun merasa kesepian, kapan pun dia siap untuk mati.

Dia belum mati, karena dia adalah anak dan cucu dari keluarga Li, dia boleh mati, tapi kemuliaan keluarga Li tidak boleh mati di tangannya.

— Di dunia ini ada berapa orang yang mengetahui bahwa kesepian lebih menyedihkan dari pada kematian.

Dia pernah mendengar dari seorang teman yang memberitahu kepadanya bahwa:

— Hal yang paling dibenci adalah kesepian, pada saat seseoramg sedang merasa bahagia, memiliki keluarga, putra, putri, memiliki teman, dan dalam keadaan sehat.

Bila istrinya membawa anak-anaknya pulang ke rumah ibunya, pada saat itu dia sedang senggang dan tidak mempunyai teman, dia memilih diam seorang diri di rumah.

Dia diam seorang diri di pekarangan rumahnya yang sepi, membawa secangkir arak, mendengarkan bunyi arak yang bergoyang di dalam cangkir. Kau bisa berkata seperti ini:

"Kita menikmati rasa sepi ini."

Li Boan Ceng melihat tangannya, tangannya bersih tidak ada kotoran apa pun, hanya ada keringat dingin.

0-0-0

Siao Heng melihat dari kejauhan kamar yang masih dipasangi lampu itu, lalu dengan sikap yang keras dia berkata:

"Nona, pada saat bulan 1 tanggal 15 nanti, aku akan menemani Nona ke sana, karena aku ingin melihat Li Boan Ceng orang seperti apa. Mengapa dulu beliau bisa membuat Tuan Besar mati dengan begitu menyedihkan."

Dia berkata lagi,

"Sewaktu ibuku memberitahukan hal ini kepadaku, aku selalu berharap bisa melihat dan bertemu dengan Li Boan Ceng yang akan mati ditangan nona”

Nona yang seperti dewa angin dan bulan ini, juga tertawa kecil. "Li Boan Ceng tidak akan mati di tanganku," jawab nona itu.

Kemudian dia berkata lagi, "Karena pada saat bulan 1 tanggal 15 nanti dia tak akan bertarung ” "Mengapa?" tanya Siao Heng.

"Apakah dia seseorang yang takut akan kematian?"

"Dia tidak takut mati, tapi dia takut kalah," jawab Goat Sin. Dia berkata lagi,

"Dia. adalah keturunan Siao Li Tam Hoa, dia tidak boleh kalah."

Siao Heng terdiam, wajahnya yang memerah sekarang menjadi pucat, setelah lama dia bertanya, "Nona, bila Li Hoay Kongcu, apakah dia benar-benar keturunan keluarga Li” "Benar, dia adalah keturunan keluarga Li."

"Kalau begitu, apakah dia tahu bahwa yang mengirim surat dan mengajak ayahnya bertarung adalah Nona?"

"Dia tahu," jawab Goat Sin. Goat Sin berkata lagi,

"Dia adalah orang yang sangat pintar, sekarang dia pasti sudah tahu." Siao Heng menggigit bibirnya, karena itu suaranya menjadi tidak jelas,

"Bila dia benar-benar sudah mengetahuinya, pada bulan 1 tanggal 15 nanti, lawannya adalah Nona, dia harus lari jauh dari tempat ini."

Siao Heng berkata lagi,

"Apakah dia tega menyerangmu, Nona?" "Karena dia tidak mempunyai pilihan lain." "Mengapa?"

"Bagaimana pun dia adalah anak cucu dari keluarga Li, dia tidak akan membiarkan kemuliaan keluarga Li mati di tangannya,"

Goat Sin berkata lagi,

"Aku juga tahu lawanku adalah dia, aku pun tidak mau kemuliaan keluarga Soat musnah di tanganku."

Dengan suara yang tenang tapi kejam, dia berkata lagi,

"Di dunia ini banyak hal yang membuat kita tidak berdaya. Kadang kala kita tahu kita salah bila melakukannya, tapi keadaan kita yang mengharuskan kita untuk melakukannya."

Suara petasan sudah berhenti, bumi dan langit kembali sepi, tapi dalam keadaan sepi seperti itu, ada suara seseorang yang tidak terdengar, hanya mereka yang bisa mendengarnya. Suara tangisan bayi.

Kata Siao Heng, "Nona, mengapa Nona tidak memberitahu kepada Li Hoay bahwa kau sudah melahirkan anaknya?" Dia berkata lagi.

"Aku tahu aku melahirkan anaknya, bukan karena ingin melahirkan generasi penerus keluarga Li, aku melahirkan anak Li Hoay karena dia pun mempunyai tugas untuk melanjutkan keturunan keluarga Li, tapi anakku juga menjadi penerus keluarga Soat, karena alasan ini pula aku rela melahirkan putraku, mengapa aku harus memberitahukan kepada Li Hoay?"

"Bila kau memberitahu kepada Li Hoay, dia pasti tidak akan mau bertarung."

"Bila aku memberitahu kepadanya, dia tidak akan tega membunuhku, tapi aku harus tetap membunuhnya, aku harus memenangkan pertarungan ini, menang berarti hidup, kalah berarti mati."

Siao Heng menggigit bibirnya, air mata menetes dari wajahnya yang pucat. "Nona, aku ingin menanyakan satu hal kepada Nona."

"Katakanlah," kata Goat Sin.

"Apa pun yang ingin kau tanyakan, tanyakanlah," dia berkata lagi.

"Bila tiba hari itu, untuk hidup atau mati, untuk menang atau kalah, apakah dia akan tega membunuhmu?"

"Aku tidak tahu."

"Kalau begitu, pada saat itu, apakah kau akan tega membunuhnya? " Goat Sin terdiam, setelah lama dia baru menjawab, "Aku juga tidak tahu."

****

Di dunia ini memang banyak hal yang harus terjadi seperti itu. Harus tiba saatnya menentukan hidup atau mati, menang atau kalah. Kau baru akan mengetahuinya kemudian.

Hidup atau mati hanya terjadi dalam waktu yang singkat. Bagaimana bila Li Hoay kalah?

Jika Li Hoay memenangkan pertarungan, bagaimana juga? Hidup dan mati hanya terjadi dalam sekejap saja. Tapi perasaan mereka akan tetap abadi.

Walaupun Li Hoay hidup atau mati, menang atau kalah, bagi Li Hoay itu adalah suatu kesedihan.

Walaupun Goat Sin hidup atau mati, menang atau kalah, dampaknya bagi Goat Sin sama saja diapun akan merasakan kesedihan.

Kelahiran, masa tua, sakit, dan mati, selalu melalui kesedihan. Kesedihan di dunia ini sudah cukup banyak. Seseorang yang senang tertawa, tidak senang menangis, mengapa harus menambah kesedihan di dunia ini?

Setiap kesedihan pasti ada suatu cara untuk menghindarinya. Aku berharap setiap orang jangan suka menangis, tapi memikirkan suatu cara untuk menghindari kesedihan ini.

Tamat