Rahasia Hiolo Kumala Jilid 35

Jilid 35

KEMBALI pelayan itu membungkukkan badan sambil mengundurkan diri dari sana. Tak lama kemudian, kain putih yang dipesan, bahan pakaian serta alat menulis sudah dihantar masuk ke dalam kamar.

Hoa In-liong merobek kain putih itu menjadi ukuran dua kaki lebih tujuh delapan depa sebanyak empat lembar, lalu diletakkan dimeja dan dia mulai menulis.

Beberapa saat kemudian, keempat lembar kain putih itu sudah selesai di tulis, sambil meletakkan penanya ke meja, dia menghela napas panjang, gumamnya, “Aaai….jika cara iinipun tidak mendatangkan hasil, untuk menemukan Wan Hong giok berdua rasanya akan sulit kembali….”

Setelah berganti pakaian dan tulisan diatas kain putih itu sudah kering, dia menggulung kain tadi menjadi satu dan meninggalkan rumah penginapan, meski bahunya pernah terluka, sekarang telah sembuh kembali jadi tidak terlalu mengganggu. Waktu itu magrib sudah menjelang tiba, lampu sudah memancar dimana-mana, banyak orang berlalu lalang dijalanan, pasar malam baru dimulai dan suasananya amat ramai.

Hoa In-liong mendatangi keempat buah pintu kota, dibawah tontonan banyak orang, dia mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya dan menggantungkan kain putih berisi tulisan tersebut diatas loteng kota, terhadap perhatian banyak orang, ia sama sekali tak ambil perduli.

Begitu kain digantung, orangpun berkerumun di sekitarnya untuk membaca isi tulisan tersebut.

Pada kain putih tadi, tertera beberapa huruf besar yang menyolok, tulisan itu berbunyi, “HOA YANG DARI IM TIONG SAN SEDANG MENCARI ORANG”.

Disini tulisan itu tertera lukisan wajah dari dua orang perempuan, lalu disertai pula nama serta senjata yang mereka gunakan. Diterangkan juga barang siapa menemukan kedua orang itu harap memberi kabar ke rumah penginapan Thian hok dan diberi hadiah yang sepantasnya.

Setelah kain itu tergantung disetiap pelosok pintu kota, seluruh kota Si Ciu menjadi gempar, mereka bukan gempar karena akan diberi hadiah besar melainkan Hoa In-liong adalah keturunan Im tiong san.

Sebagaimana diketahui, nama Hoa Thian-hong sudah tersohor sampai dimana-mana, ibaratnya sang surya ditengah hari, bukan jago persilatan saja yang mengenalnya, bahkan rakyat kecilpun mengagumi nama besar pendekar tersebut.

Dan sekarang, keturunan keluarga Hoa hendak mencari orang, setiap orang segera menaruh perhatian, setiap orang berusaha untuk membantunya kegemparan yang menyelimuti kota Si Ciu boleh di bilang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sementara itu Hoa In-liong kembali ke rumah penginapan setelah menggantungkan kain putih itu, betapa bangganya dia ketika dilihatnya perbuatan tersebut mendatangkan hasil.

“Sekarang aku tinggal duduk sambil menanti berita” demikian pikirnya, “beginikan lebih enak, aku tak usah bersusah payah tapi hasil yang mungkin dicapai malah justru jauh lebih besar….”

Sejak itu hari, dia menutup diri dalam kamar, semua pengagum yang berkunjung datang ditampik secara halus.

Tiga hari sudah lawat, tapi belum juga ada kabar beritanya, seakan-akan Thia Siok bi tak pernah melewati kota Si ciu, melainnya hanya melintas dari sekitarnya.

Hari keempat pagi, diatas pintu kota tiba-tiba muncul kembali selembar kain besar.

Diatas kain putih itu tertera pula bsberapi huruf besar, tulisan itu berbunyi demikian,

“HOA IN-LIONG MENANTANG PERANG KEPADA HIAN- BENG-KAUW, MO KAU SERTA KIU IM KAU”.

Munculnya kembali Kiu im kau dan Mo kau dalam dunia persilatan tidak diketahui banyak orang, apalagi pertikaian antara Hian-beng-kauw dengan Hoa In-liong, kecuali orang yaag berurusan langsung, boleh dibilang orang lain tak ada yang tahu, bahkan nama perkumpulan itupun belum pernah mereka dengar. Maka setelah kain putih yang berisi tantangan itu muncul didepan umum, semua orang mulai berbisik-bisik membicarakan persoalan itu, mereka mulai bertanya: ‘Hian- beng-kauw adalah suatu perkumpulan macam apa?’

Diantara mereka, ada pula yang mengusulkan agar mendatangi Hoa In-liong serta menanyakan sendiri tentang persoalan itu.

Tentu saja mereka hanya berani berbicara dibibir dan tak berani melakukan secara sungguh-sungguh.

Berapa bulan sudah lewat tanpa terasa, suasana dalam dunia persilatan mengalami pergolakan yang sangat hebat.

Kawanan jago persilatan dari pelbagai penjuru negara berdatangan kekota Si ciu, diantara mereka ada yang ingin memberi bantuan, ada pula yang ingin menonton keramaian saja, perduli apapun tujuan mereka, pokoknya dalam kota Si ciu telah di penuhi oleh manusia manusia berpakaian ringkas ynng membawa senjata lengkap.

Rumah-rumah makan, warung arak, rumah penginapan telah dipenuhi oleh tamu-tamu tersebut, mereka amat berterima kasih kepada Hoa-jiya, sebab kehadiran Hoa In- liong telah mendapatkan banyak rejeki serta keuntungan bagi usaha mereka.

Apalagi tamu tamunya itu kebanyakan royal. Setiap hari kerja mereka hanya makan minum dan keluyuran, sudah barang tentu keuntungan yang di berikan makan minum mereka juga ikut berlimpah ruah.

Tapi ada satu hal yang merisaukan mereka, yaitu sikap mereka yang kasar dan berangasan, sedikit salah berbicara bisa menga-kibatkan terjadinya pertumpahan darah yang mengerikan.

Pokoknya, akibat dari ulah Hoa In-liong itu, banyak pengusaha yang berhasil memetik hasil keuntungan, tapi ada pula yang ketimpa malang. Kota Si ciu terasa bertambah semarak dan ramai.

oooooOooooo 36

KALAU ditempat luar mengalami kesibukan yang luar biasa, lain halnya dengan Hoa In tiong, dia menutup diri didalam kamar dan menggunakan keheningan yang mencekam sekelilingnya pemuda itu melatih diri dengan tekun.

Makanan dan minuman telah tersedia karena setiap hari, pelayan menghantar langsung ke kamarnya, meski begitu, kadangkala makanan itu sama sekali tak disentuh, dari sini dapat diketahui betapa rajinnya pemuda tersebut melatih diri.

Dengan munculnya kembali hawa siluman menyelimuti dunia persilatan, secara lamat-lamat hu an badai segera akan berlangsung. Hingga kini kontak senjata secara langsung memang belum pernah terjadi, tapi bahaya besar kian hari kian mengancam kesejahteraan hidup manusia dalam dunia persilatan.

Ditinjau dari pembicaraan nenek dan ayahnya, tampak kalau mereka mempunyai sesuatu kesulitan sehingga tak mungkin untuk terjun kembali ke dalam dunia persilatan, itu berarti beban berat tersebut telah terjatuh diatas bahunya. Bayangkan saja, dengan beban dan tanggung jawab sebesar ini, darimana mungkin ia bisa berbuat seenaknya sendiri?

Pagi itu Hoa In-liong sedang berlatih ilmu pedang ditengah halaman depan.

Pada mulanya setiap gerakan pedang yang dilakukan tentu menimbulkan deruan angin tajam yang memekikkan telinga, banyak gunung-gunungan, pepohonan dan bebuahan yang rusak dan porak-poranda termakan hawa pedang itu, untunglah sebelum kejadian ia telah mengatakan kepada pemilik rumah penginapan itu bahwa dia bersedia membayar semua kerugian yang terjadi, jadi terhadap kerusakan yang kemudian timbul, pemilik penginapan tidak ambil perduli.

Belakangan ini pemuda tersebut dapat menggunakan hawa murninya jauh lebih sempurna, setiap gerakan pedangnya tidak menimbulkan suara tapi hasilnya luar biasa, sedemikian pesatnya kemajuan yang berhasil dicapai sehingga dia sendiripun merasa rada diluar dugaan.

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk orang, disusul kemudian suara teriakan dari sang pelayan, “Tuan Hoa, Tuan Hoa….!”

Hoa In-liong menarik kembali gerak jurusnya sambil menegur dengan nada tak senang hati, “Hei pelayan, bagaimana kupesan kepadamu? Ada urusan apa….”

“Tuan Hoa!” pelayan itu berkata lagi, “kain-kain yang kau gantung diloteng pintu gerbang telah hilang semua!”

Hoa In-liong terkejut, segera pikirnya, “Waah….rupanya sudah datang!” Maka sambil membuka pintu dia bertanya lebih jauh, “Kapan terjadinya peristiwa itu? Dan siapa yang melakukan?”

Pelayan tersebut menjadi gugup dan gelagapan. “Tentang soal ini….”

Padahal Hoa In-liong sudah menduga bahwa manusia semacam ini tidak mungkin bisa memberi jawaban yang memuaskan. Apa yang ditanyakan pun tak lebih hanya pertanyaan sambil lalu, maka ketika pelayan itu gelagapan, dia melemparkan sekeping remukan perak seraya berkata lagi, “Ini hadiah untuk laporanmu!”

Kedatangan pelayan itu memang sengaja mencari persen, cepat cepat dia pungut uang itu dan mengundurkan diri dengan wajah berseri.

Sepeninggal pelayan itu, Hoa In-liong lantas berpikir, “Kalau perbuatan ini dilakukan oleh pihak Hian-beng-kauw atau Tang kwik Siu, jelas mereka akan secara langsung mencari aku, tak mungkin tanpa melakukan reaksi apa-apa, hanya kain itu saja yang dibawa pergi. Yaa, kalau begitu pastilah Bwe Su yok yang melakukan perbuatan ini”

Berbicara sampai disitu, dia merasa tak bisa berdiam diri lagi sesudah orang lain merima tantangannya. Maka dia keluar dari halaman tersebut dan menuju kepintu rumah penginapan.

Depan penginapan adalah warung makan, semua tamu yang bersantap sebagian besar mengetahui kalau dia adalah

ji-kongcu dari perkampungan Liok soat san ceng, maka semua perhatian orang ditujukan kepadanya.

Tiba-tiba terdengar sang pemilik penginapan berseru, “Tuan Hoa!” “Ada apa?” tanya Hoa In-liong sambil berhenti, Dari dalam lacinya, pemilik penginapan itu mengeluarkan setumpuk kartu nama, lalu katanya, “Selama satu bulan ini, entah berapa ratus tamu yang telah datang untuk menyampaikan Hoa-ya, tapi lantaran Hoa-ya sudah berpesan maka semua tamu kami tampik secara halus, pula pertama memang tak mengapa, tapi lama kelamaan kurang enak juga jadinya, malah ada tamu yang berangasan menjadi marah-marah, nyaris rumah pe nginapan ini akan dibongkar olehnya”

Hoa In-liong segera tertawa dingin.

“Heeehhh…. heeehh…. heeehhh….penginapanmu merupakan sumber perhatian orang banyak masa keuntungan yang kau peroleh masih terasa kurang….?”

“Aaah, mana ada kejadian seperti itu?” pemilik penginapan itu menjadi semakin riku.

Kiranya selama sebulan ini, banyak sudah tamu yang berkunjung kesitu, tapi karena mereka tak dapat berjumpa dengan Hoa In-liong, dan lagi merekapun tak berani mengawasi gerak geriknya sehingga nantinya disangka musuh, banyak diantara mereka yang mengeluarkan uang sambil berpesan kepada palayan rumah penginapan agar ikut mem perhatikannya.

Dalam persoalan ini bukan saja tak dapat mengelabuhi Hoa In-liong yang binal dai aneh, berbicara soal tenaga dalam yang dimilikinya, tak sulit baginya untuk mengawasi setiap gerak gerik yang terjadi diluar penginapan tersebut.

Pemilik penginapan itu tak tahu darimana tamunya bisa mendapat tahu tentang persoalan ini, dia menjadi ketakutan, dia takut Hoa In- liong menjadi marah karena persoalan ini. Hoa In-liong menerima tumpukan kartu nama itu dan memeriksanya, pada lembaran yang pertama terbaca olehnya akan nama “Cia Yu cong dari Wi lam”, dia berpikir sebentar, nama itu rasanya memang pernah terdengar, katanya merupakan seorang pentolan Bu lim bagi wilayah sekitar Wi lam, tentu saja lain pula menurut pandangan orang-orang keluarga Hoa.

Dari lembaran kedua, terbaca nama dari “Tu Cing san dari See siok”. Dia berpikir kembali, “Oooh….rupanya wilayah Cuan tiong pun sudah digemparkan oleh peristiwa ini, sungguh cepat tersiarnya berita dalam dunia persilatan!”

Kemudian dari lembaran-lembaran berikutnya, terbaca juga nama-nama dari pelbagai jago lainnya yang meliputi daerah Soat say, Hok-kian dan lain-lainnya.

“Ooooh….jadi perbuatanku ini sudah menggemparkan seluruh kolong langit!” pekiknya di hati.

Kartu nama itu seluruhnya berjumlah seratus dua tiga puluh lembar, maka sambil tersenyum ia tidak meneruskan pemeriksaannya, sambil diletakkan kembali dihadapan pemilik penginapan itu dia berseru, “Hei, ciang-kwee!”

Pemilik penginapan itu mengira kesalahannya hendak disinggung, saking takutnya paras mukanya sampai berubah jadi pucat pias, bisiknya gelagapan, “Tuan Hoa….”

Hoa In-liong tersenyum, katanya dengan cepat, “Wakililah aku untuk membalaskan setiap kartu nama itu dengan sebuah undangan, tulis dalam undangan itu, besok tengah hari aku hendak menjamu mereka diloteng Kwong koan lo di sebelah barat kota, dan mohon kehadiran mereka semua” “Baik! Baik!” sahut pemilik penginapan dengan perasaan cemas.

“Masih sempat?”

“Masih sempat! Masih sempat!” jawab pemilik penginapan lagi dengan perasaan semakin kalut, Hoa In-liong segera mengangguk.

“Baik! Kalau sampai kurang satu saja, aku akan menanyakan kepadamu….”katanya.

Lalu dengan langkah lebar dia keluar dari penginapan itu.

Hoa In-liong dengan santainya berjalan jalan mengelilingi kota Si ciu, disepanjang jalan dia temui banyak jago persilatan yang bersenjata lengkap mondar-mandir kian kemari, rata-rata mereka memandang kearahnya dengan pandangan keheranan.

Menyaksikan kesemuanya itu, diam-diam dia lantas berpikir, “Rupanya semua orang sudah tahu kalau ada orang datang menyatroni diriku, maka sekarang tinggal menunggu tanggal mainnya saja”

Padahal, dalam kota Si ciu tersebut, mungkin Hoa In-liong sendirilah yang mengetahui kejadian tersebut paling akhir.

Sepanjang perjalanan mengitari kota, rata-rata yang dijumpai hanya manusia manusia kelas dua-tiga saja, tak seorang jago lihaypun yang dia temui, otomatis orang yang ingin dijumpaipun tak ada yang tampak pula….

“Kalau orang-orang dari ketiga perkumpulan besar itu tidak mencari aku, hal ini sudah lumrah dan tak ada yang perlu diherankan, dari pihak keluargaku tak ada yang turut campur atau munculkan diri, kejadian inipun berada dalam dugaanku tapi yang mengherankan adalah gwakong, adik Wi mereka semua, kenapa tak seorangpun yang datang? Jangan-jangan sudah terjadi suatu peristiwa?”

Mendadak dari depan saja muncul seorang lelaki setengah umur yang bermuka kuning, sambil memberi hormat dia lantas menyapa, “Tolong tanya, apakah saudara adalah Hoa kongcu?”

“Yaa betul” jawab Hoa In-liong sambil balas memberi bormat, “dan saudara sendiri….”

“Siaute bernama Tu Cing san!” cepat-cepat lelaki setengah umur itu memperkenalkan diri.

Hoa In-liong masih ingat, orang ini adalah salah seorang diantara pengirim kartu nama yang pernah dilihatnya, maka katanya, “Oooh….! Rupanya saudara Tu, jauh-jauh dari wilayah Cuan tiong datang kemari, siaute tak sempat menyambutnya, harap kau bersedia memberi maaf!”

Betapa girangnya Tu Cing san ketika dilihatnya Hoa In-liong kenal dengannya, cepat-cepat dia berseru, “Aaaah, mana!

Mana!”

Setelah berhenti sebentar, lalu dia, menambahkan, “Ini hari aku dapat bertemu dengan Hoa kongcu, hal ini merupakan suatu peristiwa….”

Tampaknya dia hendak mengucapkan beberapa patah kata umpakan, tapi apa boleh buat lidahnya terasa kaku, dia menjadi galagapan dan tak tahu apa yang musti dikatakan.

Ketika dilihatnya kawanan jago persilatan mulai mengerubungi dirinya, Hoa In-liong segera berpikir, “Waaah….celaka, kalau setiap orang mengajak aku berbicara, tak ada habis-habisnya pertemukan hari ini!”

Berpikir demikian, diapun cepat menukas, “Besok tengah hari, siaute hendak mengadakan perjamuan di loteng Kwang koan lo, apakah saudara Tu bersedia memberi muka kepadaku?”

“Siaute pasti datang, siaute pasti datang!” jawab Tu cing san berulang kali.

Hoa In-liong tersenyum dia menjura kesekeliling tempat itu dan ujarnya kembali.

“Para cianpwe, enghiong sekalian, bila ada waktu harap besok siang ikut hadir di rumah makan Kwang koan lo!”

Semua orang yang berada disekeliling tempat itu mengiakan. Jawaban dari beratus ratus orang yang diucapkan bersama waktunya itu sungguh luar biasa sekali, ibaratnya guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong….

“Kalau begitu kunantikan kedatangan saudara sekalian!” seru Hoa In-lioag lagi sambil menjura keempat penjuru.

Kemudian cepat-cepat dia berlalu dari sana.

Pemuda itu langsung menuju loteng Kwang koan lo yang berada disebelah barat kota, dengan empat butir mutiara loteng itu dipesan olehnya untuk menjamu sekitar seratus meja, setelah itu dia baru pulang kepenginapan.

Kembali kekamar bacanya di penginapan, tampak setumpuk gulungan kain putih tergeletak diatas meja, dibawah kain tumpukan itu tampak secarik kertas, tanpa terssa pemuda kita mengerutkan dahinya sambil tertawa dingin. Kain putih itu tak diperiksa lagi, sebab sekilas pandangan saja dia sudah tahu kalau kain itu adalah ke delapan kain putih yang digantungkan diloteng gerbang kota.

Surat itu diambil, ternyata tulisannya masih basah, hurufnya indah dan cuma bertuliskan, “Berita yang tersiar ditempat luaran ternyata bohong semua, kenyataannya cuma begitu saja”

Dibawah kertas tak kelihatan tanda tangan penulisnya.

Selesai membaca tulisan itu, semua kemarahan yang semula menyelimuti Hoa In-liong, kini malah sama sekali lenyap tak berbekas.

“Kalau perbuatan ini dilakukan Bwe Su-yok, setelah melarikan kain-kain tersebut, tak mungkin dia akan berbuat begini lagi” demikian pikirnya dihati, “ehm….mungkinkah kecuali pihak Hian-beng-kauw, Mo kau dan Kiu im kau, masih ada musuh lain?”

Surat itu sekali lagi diperiksa dengan teliti, meskipun tulisannya bagus dan bertenaga tapi toh masih membawa kelembutan dan kehalusan, jelas ditulis seorang perempuan.

Ia menjadi termenung sambil berpikir keras, ia tak dapat menebak siapa gerangan perempuan tersebut….

Coa Wi-wi? Jelas dia tak akan berbuat demikian. Cian li kau? Perkumpulan ini tak akan menodai kewibawaannya. Kemudian dia berpikir pula tentang nona berbaju ungu? Tapi dia juga tak mungkin, sebab dari nada tulisannya, jelas dia baru pertama kali bertemu dengannya. Pikir punya pikir, akhirnya dia tertawa sendiri, gumamnya, “Buat apa aku musti putar otak memikirkan persoalan ini.

Akhirnya toh pasti akan ketahuan dengan sendirinya?”

Surat itu akan dirobek-robek, tapi situ ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya. Surat itu didekatkan pada hidungnya dan dicium, ternyata ada bau harum yang ketinggalan pada kertas itu, ma ka surat tersebutpun disampaikan kembali kedalam sakunya.

“Kurangajar, entah budak darimana yang begitu bernyali sehingga berani memandang hina Hoa-jiya, demikian dia berpikir, “kalau sampai berjumpa lagi lain waktu, aku pasti akan membuat kau menangis tak bisa tertawapun tak dapat, akan kusuruh kau rasakan bahwa Jiya dari keluarga Hoa….”

Setelah termenung sebentar, gulungan kain putih itu dibakar sampai habis, lalu seluruh kamarnya diperiksa dengan seksama, setelah yakin kalau tiada bareng lain yang digeledah musuh, ia duduk sambil bertopang dagu, otaknya berputar keras merencanakan langkah-langkah selanjutnya….

Tengah hari keesokannya, rumah makan Kwang koan lo yang mentereng dan megah di sebelah barat kota itu sudah penuh dibanjiri tamu dari pelbagai tempat, bukan saja ruangan atas penuh berjejal, ruang bawahpun sudah tak ada tempat kosong, entah berapa ratus orang yang hadir dalam perjamuan bersejarah ini.

Bahkan diantara mereka yang datang agak terlambat, hanya kebagian kursi dipinggir jalan diluar gedung rumah makan, dari situ bisa dibayangkan betapa banyaknya tamu yang hadir.

Sebagian besar tamu-tamu yang hadir waktu itu adalah mereka yang pernah mengirim kartu nama. Hoa In-liong melayani tamu-tamunya dengan ramah. Oleh karena keadaan bisa berkembang dengan lancar, maka setiap langkah setiap tindakannya menjadi jauh lebih tenang dan mantap, seakan-akan dialah orang yang bakal menyelamatkan daratan Tionggoan dari ancaman bahaya maut.

Tiba-tiba seorang kakek tinggi kekar berjenggot sepanjang dada yang berada dimeja utama bangkit berdiri, sambil mengangkat cawannya dia berkata, “Hoa kongcu, lohu sudah lama berdiam dikota Si ciu, kalau dipaksakan maka aku terhitung pula sebagai separuh tuan rumah. Seharusnya akulah yang menyelenggarakan perjamuan ini untuk menyambut kedatangan kongcu serta para enghiong sekalian, tapi sekarang Hoa kongcu lah yang musti merogoh saku sendiri”

Orang ini bukan lain adalah pentolan dari Wi lam, Cia Yu cong!

Dalam perjamuan yang diselenggarakan hari ini, sebenarnya dia belum pantas untuk menempati kursi utama. Tapi karena kesatu dia adalah pentolan untuk wilayah sekitar sana dan kedua bagi para enghiong tak berlaku istilah tunduk kepada orang lain, maka secara otomatis kursi tersebut dialah yang menempati.

Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong segera bangkit berdiri seraya menjawab, “Hanya jumlah yang kecil bukan suatu masalah yang perlu dipersoalkan, Cia lo enghiong! Kalau engkau bersedia memandang wajahku, harap persoalan ini jangan dibicarakan lagi”

Beberapa patah katanya itu diucapkan tidak dengan suara yang keras, tapi semua tamu yang berada diatas loteng maupun dibawah loteng, bahkan mereka yang berada diluar jalan pun bisa men dengarnya dengan jelas, seakan akan Hoa In-liong sedang berbicara dari sisi mereka.

Diantara sekian banyak orang, terdapat pula jago-jago kelas satu yang berilmu tinggi, setelah menyaksikan kehebatannya, mereka tak berani lagi memandang pemuda itu sebagai seorang anak muda yang menyombongkan diri karena mengandalkan pamor orang tuanya.

Bagi jago-jago kelas dua apalagi kelas tiga, sekalipun mereka juga merasakan sesuatu yang aneh tapi tidak sampai kaget, alasannya mereka memang selalu menganggap orang orang dari keluarga Hoa adalah jago-jago lihay yang tak terkalahkan

Sambil mengelus jenggotnya Cia Yu cong tertawa. “Ayah naga putranya selalu memang naga” katanya,

“beberapa patah kata Hoa kongcu benar benar gagah perkasa, tak malu menjadi keturunan dari Hoa tayhiap, lohu tak berani untuk membangkang”

Setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, kembali ujarnya lebih jauh, “Sudah lama keluarga Hoa dari Im tiong san merupakan tulang punggung bagi dunia persilatan, ayahmu Hoa tayhiap juga merupakan ja rum penenang samudra bagi dunia kangou bukannya lohu mengumpak, ketenangan serta kedamaian yang melanda dunia persilatan kita selama dua puluh tahun belakangan ini tak lebih adalah pemberian dari Hoa tayhiap. Aku rasa kawan-kawan sekalian tentu setuju bukan dengan ucapan ini?”

Mendengar perkataan itu, semua orang segera mengiakan berbareng, malah mereka yang tak jelas mendengar perkataan itu bertepuk tangan juga, suasana menjadi gaduh dan memekikkan telinga. Tiba-tiba terdengar serentetan suara yang merdu merayu menukas dari samping, “Mengangkat bahu sambil berpura- pura tertawa, huuuh! Sekawanan manusia penjilat!”

Sekalipun ucapan itn merdu dan lembut, namun suara gaduh dari ratusan orang itu tak dapat mengatasinya, bisa dilihat kalau orang itu mempunyai tenaga dalam yang amat sempurna.

Serentak puluhan orang melompat bangun sambil memandang sekeliling tempat itu dengan wajah gusar, tapi suara tadi telah sirap dan lenyap kembali, karena siapapun tidak memperhatikan maka sulitlah untuk menentukan siapa orangnya yang telah mengucapkan kata kata tersebut.

Sejak awal sampai akhir paras muka Hoa In-liong tetap tenang, dia tidak menunjukkan perasaan sombong atau bangga, setelah mendengar ejekan itu diapun tidak menunjukkan perasaan marah, tak sedikit diantara para jago yang diam-diam anggukkan kepalanya.

Tiba-tiba seorang lelaki setengah berteriak dengan suara dingin, “Hoa kongcu, para cianpwe dan enghiong, ditinjau dari cara sobat itu mengucapkan kata-katanya tapi tak berani munculkan diri, sudah jelas orang itu adalah seorang manusia yang rendah martabatnya, kenapa kita semua harus bersikap sungkan-sungkan kepadanya?”

Hoa In-liong sendiri sebenarnya juga tak tahu darimana suara tadi berasal, tapi setelah laki-laki setengah umur itu berkata demikian, sebagai seorang pemuda yang berotak cerdas, segenap tenaga dalamnya dikerahkan kedalam telinga.

Betul juga, ia segera mendengar suara tertawa dingin berkumandang datang dari rumah makan seberang jalan sana, suara tertawa dingin itu sangat lembut dan halus, kalau berganti orang biasa tak mungkin suara sepelan itu dapat didengar.

Sebenarnya dia sudah akan menggerakkan tubuhnya untuk menyeberangi jalan serta menangkap orang itu, tiba-tiba ingatan lain melintas dalam benaknya, dia segera berpikir, “Kalau didengar dari suaranya, jelas dia adalah seorang nona muda. Yaa, jika seorang perempuan sampai ketangkap dihadapan umum, dia pasti akan malu sekali. Apa gunanya lantaran urusan sekecil ini aku harus membuat dia menjadi malu?”

Berpikir sampai disini, dia lantas menduga bahwa perempuan yang barusan berbicara itu adalah orang yang sama dengan orang yang meninggalkan surat kepadanya, kembali ia berpikir, “Dia selalu berusaha untuk menghasut serta memanaskan suasana, berarti pula sebelum perjamuan disini bubar, dia tak akan meninggalkan tempatnya, kenapa tidak kubereskan perempuan itu setelah perjamuan disini selesai?”

Berpikir sampai disitu diapun tertawa nyaring, “Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…. Para Cianpwe, para enghiong, apa yang dikatakan saudara ini memang benar, aku rasa si pengacau itu tak lebih cuma seorang siaujin yang berani berbuat tak berani bertanggung jawab, paling-paling cuma seorang budak ingusan yang menyisir rambut sendiripun tak mampu, buat apa kita musti membesarkan persoalan kecil ini? Apakah kita senang kalau dia menjadi bangga karena ulahnya kita tanggapi secara serius?”

Karena dia telah berkata demikian, maka kawanan jago yang telah bangkit itu duduk kembali. Tiba tiba Hoa In-liong berkata lagi, “Cia lo enghiong, aku lihat rupanya kau masih ada perkataan yang belum selesai diutarakan, silahkan kau utarakan”

Sementara waktu itu Cia Yu cong sedang membatin, “Ketika aku tahu bahwa dia hendak membuat kekalutan dikota Si-ciu, mulanya kukira dia hanya ingin mencari nama karena menganggap dirinya keturunan orang ternama, tapi setelah melihat kenyataannya sekarang, tampiknya dugaanku itu keliru!”

Maka dia lantas terbahak bahak, “Haaahhh….haaahhh…. haaahhh…. kebesaran jiwa Hoa kongcu, sungguh membuat lohu merasa kagum!”

Hoa In-liong sendiri juga sedang membatin, “Memangnya kalian anggap aku tidak tahu kalau kamu semua menganggap aku sedang mengandalkan nama ayahku untuk mencari nama?”

Sambil tersenyum sahutnya, “Aku tahu bahwa aku masih muda dan berangasan, soal kebesaran jiwa…. wah, masih ketinggalan jauh.

“Hoa kongcu!” kata Cia Yu cong dengan wajah serius, “dengan membonceng pada kedudukanku sebagai tuan rumah kota ini, atas desakan kawan-kawan persilatan aku telah ditunjuk menjadi wakil mereka semua untuk menyampaikan doa se ta harapan agar kesehatan Lo Tay kun, ayah dan ibumu selalu baik”

Kembali Hoa In-liong berpikir, “Jika dilihat dari sikap hormat mereka yang bersungguh-sungguh, rupanya kebajikan dari ayah benar-benar sudah tertanam dihati mereka!”

Cepat-cepat dia menjawab dengan serius. “Berkat doa restu dari para cianpwe para enghiong, nenek, ayah dan ibuku sekalian selalu berada dalam sehat walafiat tanpa kekurangan sesuatu apapun”

“Yaa, setelah mengetahui keadaan keluargamu, seluruh enghiong didunia pun dapat merasa lega hati”

Setelah berhenti sebentar, dia angkat cawan arak nya dan berkata lebih juh, “Untuk selanjutnya, demi kegagahan dan kehebatan Hoa kongcu mendampingi tantangan berat yang mengancam dunia persilatan, atas nama semua cianpwe semua enghiong yang hadir disini, kami hormati Hoa kongcu dengan secawan arak!”

“Tidak berani, tidak berani” kata Hoa In-liong sambil tertawa, “aku masih muda, kepandaian silatku amat cetek dan pengalamanku amat dangkal, tak berani kuterima penghormatan sebesar ini, sepantasnya Hoa Yang lah yang harus menghormati cianpwe dan enghiong sekalian dengan secawan arak”

“Dia meneguk isi cawannya sampai habis, lalu disodorkan ke empat penjuru sebagai tanda bahwa dia minum arak itu untuk menghormati semua orang yang hadir.

Serentak semua jago bangkit berdiri, dan meneguk habis isi cawannya sendiri.

Setelah itu, Cia Yu cong kembali berkata, “Hoa kongcu telah memasang kain untuk menantang perang kepada tiga perkumpulan besar, tindakan ini sangat gagah dan berani, semua enghiong merasa kagum deagan kehebatanmu itu….” Mendengar perkataanmu itu, Hoa In-liong segera berpikir, “Rupanya dia mau mengumpak aku, coba akan kudengar, umpakan apa lagi yang bakal dia lontarkan kepadaku”

Sambil tersenyum dia menantikan perkataan orang lebih lanjut.

Terdengarlah Cia Yu cong kembali berkata, “Tentang kemunculan kembali Mo kau dan Kiu im kau yang akan meracuni dunia persilatan, semua orang rasanya sudah cukup memaklumi perbuatan mereka itu, tapi mengenai Hian-beng- kauw, kami benar-benar merasa tidak paham, perguruan macam apakah itu? Sudikah kiranya Hoa kongcu untuK menerangkau kepada kami? Semua enghiong hohan yang ada di kolong langit siap menunggu perintah untuk mengusir kaum iblis dari daratan kita, tapi jika musuh yang kita hadapi masih belum jelas, rasanya sulitlah bagi kami semua untuk ikut membantu”

Hoa In-liong berpikir kembali sesudah mendengar perkataan itu, “Tampaknya mereka terlalu memandang enteng kekuatan tiga perkumpulan tersebut, mereka rupanya tidak menyangka meski nama dari tiga perkumpulan sekarang jauh kalau dibandingkan kemashursn Tiga maha besar tempo dulu, namun kekuatan yang mereka miliki justru tidak selisih terlalu jauh”

Berpikir demikian, dia lantas tersenyum sambi1 berkata, “Aku merasa sangat terharu atas kesediaan saudara sekalian untuk mengembangkan jiwa pendekarnya untuk menumpas kejahatan dan menegakkan keadilan di bumi ini, cuma…. aku tidak lebih hanya seorang anak muda yang baru terjun kedunia persilatan, sepantasnya kalau pucuk pimpinan dipegang oleh seorang cianpwe yang berkedudukan tinggi dalam mata masyarakat, bagaimanapun juga, tak pantas kalau akulah yang menempatinya….” Seorang pemuda berpakaian ringkas yang duduk dimeja bawah, tiba tiba bangkit berdiri seraya berseru, “Hoa kongcu, kenapa kau musti menampik lagi? Ketika Hoa tayhiap memimpin para jago dari seluruh kolong langit tempo dulu, usianya juga sebaya dengan usia Hoa kongcu sekarang, jika Hoa kongcu tak mau menduduki pucuk pimpinan, lalu siapakah yang pantas untuk menempati kedudukan itu?”

Orang muda biasanya memang berdarah panas, demikian pula dengan pemuda pemuda lain yang kebetulan berada disitu, ucapan tadi segera disambut dengan tempik sorak yang gegap gempita, suasana menjadi agak gaduh, sementara mereka yang telah berusia lanjut cuma duduk dengan mulut membungkam.

Diam-diam Hoa In-liong mengerutkan dahinya, dia lantas berpikir, “Orang-orang ini hanya mempunyai emosi yang me1uap-luap, tiada rencana yang tersusun, tiada pula ilmu silat yang tinggi, kalau begini caranya sistim kerja mereka, hanya kekalahan saja yang bakal diraih oleh pihak kita….”

Sorot matanya segera dialihkan ke samping dan melirik sekejap ke arah Cia Yu cong.

Buru-buru Cia Yu cong menuding pemuda berpakaian ringkas itu, lalu memperkenalkan, “Saudara ini adalah keturunan dari It ci hui kiam (pedang satu huruf) yang tersohor di kota Koy hong, dia bernama Kongsun Peng, keponakan Kongsun!”

Hoa In-liong menjura ke arahnya.

“Atas kasih sayang saudara Kongsun, siaute merasa amat berterima kasih sekali” katanya, “soal itu lebih baik tak usah kita bicarakan, justru siaute mempunyai beberapa persoalan tentang ketiga perkumpulan besar itu untuk dijelaskan kepada saudara sekalian, apakah saudara Kongsun bersedia menunggu sebentar lagi?”

Mendengar ucapan tersebut, dengan perasaan yang berat terpaksa Kongsun Peng kembali ke tempat duduknya.

Hoa In-liong termenung sejenak, lalu setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu dia berkata, “Aku rasa kalian pasti sudah tahu bukan, Suma Siok-ya ku yang lebih dikenal dengan sebutan Kiu mia kiam khek (jago pedang bernyawa sembilan) telah mati dibunuh orang?”

Sambil menghela napas sedih Cia Yu cong manggut- manggut.

“Yaa, semua orang ikut berduka cita atas wafatnya Suma tayhiap dibunuh orang!”

“Nah, perbuatan keji ini dilakukan oleh orang-orang Hian- beng-kauw, mereka lah dalangnya!”

Suasana dalam ruang rumah makan kembali menjadi gempar, Kongsun-Perg nyelutuk, “Hoa kongcu, bagaimana ceritanya? Harap dikisahkan dengan lebih jelas lagi!”

Hoa In-liong kembali berpikir, “Dalam peristiwa ini, pihak Kiu Im kau juga terlihat secara langsung, aku rasa lebih baik jangan terlalu mengeluarkan kisah ini secara terang-terangan sebelum pembunuh yang sebenarnya berhasil dilacaki.

Untunglah setelah kuterangkan kejadian tersebut, mereka telah menarik kembali sikap pandang entengnya terhadap lawan”

Berpikir sampai disitu, kembali dia berkata, “Peristiwa terbunuhnya Suma-siok ya tak lama lagi akan terbongkar, sampai waktunya aku pasti akan memberi keterangan lagi kepada rekan-rekan semua. Kini terlampau pagi kalau ku katakan lebih dulu, harap saudara Kongsun bersedia memakluminya”

Tanpa menunggu orang lain berbicara, setelah berhenti sebentar dia berkata lagi.

“Masih ada beberapa persoalan penting lagi yang hendak kusampaikan kepada rekan-rekan sekalian, harap rekan semua bersedia untuk memperhatikan!”

Sebenarnya semua orang hendak mengajukan pertanyaan sekitar pembunuhan atas diri SumaTiang cing, akan tetapi karena didahulu pemuda tersebut, maka terpaksa mereka pasang telinga baik-baik dan mendengarkan dengan seksama.

Dengan suara dalam Hoa In-liong berkata, “Kiu im kaucu yang sekarang adalah murid dari kaucu generasi lalu, dia seorang perempuan yang bernama Bwe Su-yok, meskipun usianya masih muda tapi ilmu silatnya sangat tinggi, aku harap rekan semua mau memperhatikan hal ini. Kemudian dari pihak Mo kau yang menyerbu kedaratan Tionggoan secara besar-besaran, terdapat seorang yang bernama Seng To cu adalah kakak seperguruan Tang kwik Siu, tenaga dalamnya jauh diatas Tang kwik Siu sendiri, orang ini merupakan orang kedua yang harus rekan semua perhatikan. Sedang mengenai perkumpulan Hian-beng-kauw, oleh karena struktur organisasi tersebut sangat rahasia, sampai sekarang belum kuketahui siapa kaucu nya tapi yang pasti jago-jago mereka sangat banyak dan rata-rata berilmu tinggi, diantaranya seperti Thamcu markas besar mereka adalah Beng Wi cian serta murid-muridnya yang bernama Ciu Hoa, Dari nama tersebut sudab dapat diduga kalau cita-cita mereka adalah musuhi keluarga Hoa kami. Markas besarnya berada dibukit Gi hong-san!” Berbicara sampai disitu, dia menyapu sekejap sekeliling tempat itu. lalu bertanya lagi, “Apakah ada pertanyaan diantara rekan sekalian? Jika kurang terang, silahkan ditanyakan!”

Seorang pemuda berpakaian ringkas warna hitam segera bangkit, tanyanya dengan lantang, “Bagaimanakah ilmu silat Bwe Su-yok jika dibandingkan dengan Hoa kongcu….?”

Hoa In-liong, membatin, “Kalau dibandingkan sekarang tentu saja tenaga dalamku jauh melebihi dirinya!”

Tapi diluar dia menyahut, “Siaute pernah beradu kekuatan dengan perempuan ini ketika berada dikota Kim-leng, rasanya ilmu silat kami seimbang!”

Tiba-tiba Tu Cing san bertanya pula, “Hoa kongcu, Seng To cu yang dikatakan sebagai kakak seperguruannya Tang kwik Siu itu macam apa orangnya? Sampai dimana taraf ilmu silat yang dimiliki? Dan kenapa sewaktu mencari harta di Kiu ci san tempo dulu, orang ini tidak kelihatan?”

“Orang itu raempuuyai ilmu silat yang luar biasa lihaynya, jika rekan sekalian bertemu dengan orang ini, lebih baik menyingkir saja….!”

Setelah berhenti sebentar, dia berkata lagi, “Menurut dugaanku ketidak munculannya dalam penggalian harta di bukit Kiu ci san tempo dulu, mungkin disebabkan waktu itu Seng To cu sedang menutup diri”

Banyak orang yang merasa tidak puas dengan perkataan itu, malah ada diantara mereka yang bermaksud mencari Seng To cu untuk diajak beradu kepandaian, mereka semua adalah jago-jago persilatan, apa yang dipikirkan sebera terlihat pula diatas wajahnya, melihat itu Hoa In-liong mengeluh dan tidak berkata apa-apa lagi.

Tiba-tiba terdengar Cia Yu cong berkata, “Hoa kongcu, bersediakah engkau untuk melukiskan tampang dari Seng To cu itu, agar kawan-kawan persilatan dapat menghindarinya jika secara kebetulan mereka sampai bertemu!”

“Orang yang usianya sndah lanjut memang jauh lebih dapat menggunakan otak daripada orang muda” pikir Hoa In- liong.

Dia lantas tersenyum, jawabnya, “Gampang sekali untuk mengenali Seng To cu, asal saudara sekalian bertemu dengan seorang kakek yang memakai ikat pinggang naga perak bermuka kaku menyeramkan seperti mayat yang baru bangkit dari liang kuburnya, itulah orangnya!”

Tiba-tiba Kongsun Peng menimbrung kembali. “Menurut pembicaraan Hoa kongcu, semua murid Hian-

beng-kauw diberi nama Ciu Hoa (Mendendam kepada keluarga Hoa), boleh aku tahu sebetulnya dendam sakit hati apakah yang sudah terjadi antara Hian-beng Kaucu itu dengan keluarga Hoa?”

Hoa In-liong tidak langsung menjawab, kembali dia berpikir, “Meskipun Thia Lo cianpwe menerangkan bahwa Hian-beng Kaucu mempunyai dendam sakit hati dengan pihak kami lantaran gurunya dibunuh ayah, tapi aku sendiripun kurang jelas tentang soal ini, rasanya mereka juga tak akan dapat menduganya”

Ia merasa ada baiknya kalau persoalan itu jangan dibicarakan dulu, maka katanya, “Tentang soal ini, terpaksa kita harus menanyakan secara langsung setelah bertemu dengan Hian-beng Kaucu dilain waktu!”

“Hoa kongcu!” Cia Yu-Cong kembali berkata, “hawa siluman telah muncul kembali menyelimuti seluruh dunia persilatan, kekuatan mereka tak boleh dianggap enteng, tolong tanya kapan ayahmu baru akan munculkan diri antuk menyapu hawa siluman tersebut?”

Kembali Hoa In-liong berpikir, “Nenek dan ayah telah melimpahkan tanggung jawab yang sangat berat ini ke atas pundakku, itu berarti mereka tak akan terjun kembali kedalam dunia persilatan, jika ucapan terlalu jujur, orang orang ini pasti akan kecewa karena memandang usiaku yang muda, kepandaianku yang terbatas dan pengetahuanku yang cetek mereka pasti berpendapat bahwa aku tak akan mampu….”

Karena berpendapat demikian, pelan-pelan dia berkata, “Bagaimanakah rencana ayah, sebagai putranya aku tak berani menduga secara sembarangan, tapi saudara sekalian tak usah kuatir, sebagai bagian dari masyarakat dunia persilatan, keluarga Hoa kami pasti tak akan berpeluk tangan belaka, dalam usaha melenyapkan kaum iblis dan durjana dari muka bumi, kami pasti akan menyumbangkan pula tenaga kami!”

Perkataan ini mengambang sifatnya dan tidak menentu, banyak orang tidak puas, tapi tak seorangpun yang berani membuka suara untuk bertanya lagi….

Tiba-tiba seorang kakek kekar yang duduk dimeja utama bangkit berdiri seraya berkata, “Hoa kongcu, dilihat dari keberanian kongcu untuk menantang tiga perkumpulan tersebut, mungkinkah kongcu sudah mengetahui jelas kekuatan mereka sebenarnya? Dan mungkinkah kongcu sudah menyusun suatu rencana yang masak untuk menghadapi mereka?”

Hoa In-liong menarik kembali sorot matanya, semua orang yang duduk dimeja utama dikenalnya dengan jelas diapun mengenali kakek tersebut sebagai Huan Tong, seorang jago yang merajai wilayah Lam-cong dengan ilmu Poh ka sinkun (ilmu pukulan sakti pemecah perisai)nya.

Dia lantas tersenyum, katanya, “Mempunyai rencana yang masak sih tidak, cuma berbicara menurut situasi sekarang ini, dengan mundurnya Kiu im kaucu dan kedudukannya digantikan oleh Bwe Su-yok yang masih muda, kendatipun dia mempunyai bakat yang bagus dan kecerdasan otak yang luar biasa, tak mungkin kehebatannya bisa melampaui iblis tua itu, ini berarti Kiu im kau merupakan perkumpulan terlemah diantara tiga perkumkulau yang ada. Sedang pihak Mo kau mempunyai Tang kwik Siu dan kakek seperguruannya untuk bersama menghadapi musuh, kekuatan mereka cukup tangguh. Sementara Hian-beng-kauw tak diketahui kekuatan yang sebenarnya, menurut pendapatku, mungkin kekuatan mereka jauh diatas kemampuan Mo kau”

“Jadi kalau begitu seandainya terjadi bentrokan kekerasan, maka kita akan membasmi Kiu im kau lebih dulu?” tanya Huan Thong.

“Tidak!” dengan cepat Hoa In-liong menggeleng, “tiga perkumpulan telah membentuk perserikatan, jika seujung rambut mereka diganggu seluruh badan perserikatan akan maju bersama, tak mungkin mereka akan membiarkan kita untuk menghancurkan mereka satu demi satu”

Setelah berhenti sebentar, kembali katanya, “Apalagi yang lemah belum tentu lemah, yang tangguh belum tentu tangguh, siapa tahu kalau sampai akhirnya Kiu im kau lah merupakan perkumpulan yang paling tangguh?”

“Perkataan dari Hoa kongcu memang benar” sahut Huan Thong sambil mengangguk, “sudah menjadi kebiasaan bagi kaum durjana, sebelum sam pai akhirnya siapapun tak mau mengerahkan segenap kemampuannya”

Tiba-tiba Cia Yu cong menimbrung, “Tentang mundurnya Kiu im kaucu secara tiba-tiba, menurut Hoa kongcu hal itu pertanda baik atau jelek buat kita?”

“Hoa In-liong termenung sebentar, kemudian jawabnya, “Kiu im kaucu adalah seorang manusia yang licik, lihay dan banyak tipu muslihatnya, aku rasa tindakannya itu pasti mengandung maksud-maksud tertentu. Berbicara dari segi baiknya, mungkin saja dia mengandung maksud untuk merubah keadaan permusuhan menjadi persahabatan.

Berbicara dari segi jeleknya dia hendak mengundurkan diri kebelakang layar dan dari sana menyusun rencana jahat untuk menghancurkan kita. Pokoknya baik itu bermaksud baik atau jelek, akhirnya pasti akan berkembang dan diketahui umum, dan aku rasa tak ada manfaatnya untuk kita duga mulai sekarang”

Dalam perjamuan yang diselenggarakan kali ini, semua orang jarang menggerakkan sumpitnya untuk mengambil sayur, kebanyakan mereka cuma memegang cawan sambil mendengarkan pembicaraan yang sedang berlangsung, meski Hoa In-liong tidak mempersilahkan mereka minum, para jago persilatan itupun tidak terlalu menaruh perhatian.

Perjamuan itu berlangsung hampir dua jam lamanya, sampai lohor perjamuan baru bubar, tentu saja Hoa In-liong tak dapat menghantar semua tamunya, banyak terhadap belasan orang tamunya yang berada dimeja utama, dia tak berani berayal dan menghantarnya sampai didepan pintu.

Sebelum pergi, Huan Thong sempat berkata dengan suara lantang, “Hoa kongcu bila teringat kembali pada peristiwa penggalian harta mustika di bukit Kiu ci san, seandainya tak ada ayahmu, belum tentu kitab pusaka keluarga kami dapat didapatkan kembali. Aku tahu ilmu silat ayahmu sangat lihay, tak mungkin dia akan mengharapkan balas budiku, maka setelah berjumpa sendiri dengan kegagahan Hoa-kongcu hari ini, aku jadi terbayang kembali akan kegagahan ayahmu dimasa lalu. Mulai saat ini, bila kongcu membutuhkan bantuanku, katakan saja berterus terang, tak usah sungkan- sungkan, lohu pasti akan menyumbangkan tenagaku”

“Locianpwe ini gagah dan memahami perasaan orang, dia memang seorang sahabat yang dapat di percaya” pikir Hoa In- liong.

Dengan perasaan berterima kasih dia lantas tertawa nyaring, katanya, “Dalam pencarian harta dibukit Kiu ci san tempo hari, ayahku berbuat demi kepentingan umum, cianpwe mengambil barang milik cianpwe sendiri, darimana bisa dikatakan sebagai suatu hutang budi?”

Lalu dengan wajah serius dia berkata lebih lanjut, “Kalau toh cianpwe sudah berkata demikian, boanpwe pun tak akan bertedeng aling-aling lagi, bila berbicara soal balas budi, sama artinya dengan cianpwe memandang keluarga Hoa kami sebagai sekawanan manusia rendah”

Mula-mula Huan Thong agak tertegun, menyusul kemudian tertawa terbahak-bahak, diapun tidak banyak berbicara lagi, setelah berpamitan lalu mohon diri. Cia Yu cong pun merasa kagum atas tindak-tanduk Hoa In- liong yang cekatan serta penuh rasa percaya pada diri sendiri itu, sambil mengelus jenggotnya dia tertawa.

“Sebagai tuan tanah disini, lohu memang tak becus dibidang lain, namun soal anak buah sih masih punya beberapa orang, untuk mencari berita, sebagai pesuruh, mereka masih dapat melakukannya. Maka bila Hoa kongcu membutuhkan mereka, harap kau tak usah sungkan-sungkan untuk mengutarakannya keluar”

Hoa In-liong tidak sungkan-sungkan lagi, sambil menjura dia lantas berkata, “Kesediaan Cia lo enghiong untuk menyumbangkan tenaga sangat mengharukan hatiku, aku tidak memohon apa-apa, hanya seandainya dikota Si ciu telah kedatangan manusia yang berwajah atau berbadan aneh, tolonglah memberi kabar kepadaku”

“Aaah…. kalau cuma urusan sekecil itu sih tak menjadi soal, Hoa kongcu tak usah kuatir” kata Cia Yu cong sambil tertawa, maka diapun berpamitan.

Sesudah perjamuan bubar dan semua tamu telah mengundurKan diri, rumah makan Kwang koan lo yang luas terasa menjadi hening, lenggang dan sepi.

Hoa In-liong tidak berdiam lama disitu, setelah berpesan sepatah dua patah kata dengan pemilik rumah makan, diapun ikut meninggalkan tempat itu dan lenyap di perapatan jalan sana.

Lama setelah keheningan mencekam sekeliling tempat itu, tiba tiba dari depan rumah makan itu melompat turun seorang perempuan berbaju putih yang menyoren pedang di punggungnya. Dia naik keloteng Kwang koan lo dan memeriksa sekejap, disana kecuali beberapa orang pelayan yang sedang membereskan sisa sayur, tak seorang jago persilatanpun yang masih tertinggal disana.

Berdiri diruangan yang lenggang, peremouan itu bergumam seorang diri dengan suara yang lirih.

“Hmm….! Sekembalinya ke markas besar, empek Beng, Empek-Toan bok dan suheng sekalian telah mengatakan putranya Hoa Thian-hong begini begitu….Huuuh, padahal sepersenpun tak ada harganya, buktinya dia toh tak bisa berbuat apa-apa terhadapku?”

Sambil tertawa ringan dia lantas melompat turun dari atas loteng dan bergerak menuju ke luar kota, dalam ruangan hanya tertinggal bau harum badannya yang semerbak.

Ketika kawanan pelayan yang sedang mengumpulkan sisa sayur itu mendengar suara tertawa, serta merta mereka menengok ke sekeliling situ, namun karena tak sesosok bayangan manusiapun yang tampak mereka jadi merinding karena ngeri.

Sementara itu, nona tadi sudah tiba diluar kota tiba-tiba suara bentakan memecahkan keheningan, “Harap berhenti nona!”

Perempuan itu tertegun, sebelum ia sempat berbuat sesuatu, angin berhembus lewat dan tahu-tahu kain cadar penutup mukanya sudah dibuka orang….

Ia kaget dan cepat mundur, seorang pemuda tampan yang gagah perkasa tahu-tahu sudah berdiri dihadapannya, anak muda itu menggoyangkan kipasnya dengan tangan kiri, sedang ditangan kanan nya menenteng sebilah pedang mustika dan jari tangannya menjepit selembar kain cadar, dia berdiri dergan senyuman dikulum.

Orang itu bukan lain adalah Hoa In-liong….

Sementara itu Hoa In-liong masih berdiri dengan senyuman dikulum, setelah berhasil membuka kain cadar yang menutupi wajah nona itu, ia dapat menjumpai seraut wajah yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.

Tapi anehnya, gadis itu mempunyai raut waajah yang tujuh puluh persen mirip dengan wajah ibunya yaitu Pek Kun gie.

Dengan perasaan tercengang dia lantas berpikir, “Seandainya aku tidak mengetahui lebih dulu kalau paman Bong hanya mempunyai seorang putra saja, dan usianya sebaya dengan adik Wi, mungkin aku bisa mengira perempuan ini sebagai familiku sendiri”

Nona berbaju putih itu tampak tertegun pula, tiba-tiba dia merasa pedang yang ditangan Hoa In-liong sangat dikenal, tangannya segera meraba kebelakang bahu, ternyata entah sedari kapan pedang nya sudah lenyap tak berbekas.

Dalam malu bercampur gusar, dia lantas berteriak keras, “Hayo cepat kembalikan kepadaku!”

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh….baik, aku akan menurut perintah nona.

Sambil terbahak-bahak Hoa In-liong masukkan kipasnya kedalam saku, lalu pedang yang berada ditangan kanannya itu diangsurkan ke hadapan sang nona.

Rupanya nona berbaju putih itu tak menyangka dia berani berbuat demikian, sebab dengan ujung pedang tertuju pada dada sendiri sedang gagang pedang diberikan kepada musuhnya, tindakan ini merupakan suatu tindakan yang berbahaya sekali, seandainya musuh berhasil memegang gagang pedang itu lalu mendorongnya ke depan, maka walaupun seseorang memiliki ilmu silat yang tinggi, belum tentu dia dapat meloloskan diri dari ancaman dengan mudah.

Rupanya nona itu menyangka Hoa In-liong hendak menipunya, untuk sesaat dia tak berani menerima angsuran pedangnya itu.

Tunggu punya tunggu ketika dilihatnya nona itu tidak berani untuk menerima pedangnya juga, Hoa In-liong segera menggelengkan kepalanya, samhil menghela napas, “Aaaai….benar-benar tak kusangka kalau nona adalah seorang manusia bernyali tikus!”

Nona berbaju putih itu tak tahan mendengar hasutan, ia tertawa dingin, lalu dengan cepat merebut kembali pedangnya, ternyata senjata tersebut dapat di ambil kembali dengan sangat mudah.

Mula-mula ia rada tertegun, kemudian sambil menggetarkan pedangnya ia melancarkan sebuah tusukan ke dada Hoa In-liong.

Sejak semula Hoa In-liong memang telah bersiap sedia, sambil tertawa terbahak-bahak dia menyentil dengan jari tangan kirinya.

Secara tiba-tiba saja jalan darah Ci ti hiat di lengan kanan nona berbaju putih itu menjadi kaku, pedangnya tak mampu dicekal lagi dan segera terjatuh ke tanah. Dengan suatu kecepatan luar biasa, Hoa In-liong menggerakkan lengan kanannya, tahu-tahu pedang itu kembali sudah berpindah tangan.

Kejut dan ngeri si nona baju putih itu menghadapi kejadian didepan mata, untuk sesaat dia tak tahu apa yang musti dilakukan.

“Kalau berhati busuk dan jahat kedengaran Hoa In-liong membentak dengan marah, “orang semacam kau tak bisa dibiarkan hidup terus!”

Cahaya putih berkelebat lewat, tahu-tahu pedang itu sudah menyambar dihadapannya.

Keadaan si nona baju putih itu boleh di bilang tersudut, dia tak mampu melakukan perlawanan lagi, menghadapi kejadian semacam itu, dia hanya bisa pasrah, memejamkan matanya dan menunggu saat kematian merenggut nyawanya.

Tapi…. ternyata tunggu punya tunggu tiada rasa sakit yang dirasakan, cepat dia membuka matanya kembali, tampak Hoa In-liong berdiri dihadapannya dengan senyuman dikulum, kipasnya sudah berada ditangannya kembali bahkan digoyangkan dengan santai, sementara pedang mustika itu sendiri sudah lenyap tak berbekas, entah kemana larinya?

Sekali lagi dia meraba kepunggungnya, ternyata pedang tersebut sudah tersoien kembali di dalam sarungnya.

Rupanya Hoa In-liong cuma ingin menakut-nakuti lawannya dengan gertakan sambal, padahal maksud sebenarnya hanya ingin mengembalikan pedang itu ke dalam sarungnya.

Sekarang, si nona baju putih itu baru keder, dia merasa bulu kuduknya pada berdiri semua. Kendatipun pedangnya berhasil direbut kembali, akan tetapi ia tak berani sembarangan bergerak, ditatap nya Hoa In-liong dengan sinar mata ketakutan, jelas kelihatan kalau dia gugup, panik dan sedikit gelagapan.

Padahal, berbicara yang sesungguhnya, ilmu silat yang dimiliki gadis itu terhitung kelas satu, seandainya Hoa In-liong tidak mempersiapkan diri lebih dulu, sekalipun dia tak becus, juga tak akan sampai menderita kekalahan sedemikian rupa.

Hoa In-liong mendekatkan kain cadar yang berhasil dirampasnya itu ketepi hidung, lantas dibau nya sebentar, lalu dia mengeluarkan kertas dari sakunya dan dibau pula, akhirnya dia bergumam, “Yaaa, tak salah lagi, baunya memang serupa!”

Nona berbaju putih itu dapat mengenali kertas tadi sebagai surat yang ia tinggalkan dalam kamar penginapan, rasa malu dan marah segera bercampur aduk dalam perasaannya.

“Tak kusangka keturunan keluarga Hoa adalah manusia rendah yang tak tahu malu!” teriaknya.

Hoa In-liong tersenyum, pikirnya, “Rasain sekarang, baru tahu kalau aku orang she Hoa bukan manusia yang bisa dipermainkan seenaknya sendiri….”

Kertas dan kain cadar itu dimasukkan kembali ke sakunya, lalu sambil memberi hormat kepada si nona berbaju putih itu katanya, “Harap nona jangan marah, secara tiba-tiba saja aku teringat dengan seorang sahabat karibku, maka bila ada perbuatanku yang kurang hormat, harap nona bersedia memaafkan!”

Meskipun si nona baju putih itu tahu kalau lawannya hendak main setan dihadapannya, toh tak tahan dia bertanya juga, “Sahabat karibmu itu bernama siapa? Macam apakah orangnya?”

“Aku sendiripun kurang begitu tahu tentang nama sahabat karibku itu” jawab Hoa In-liong dengan wajah serius, “tapi….”

“Aaah…. kalau namanya saja tidak tahu, dari mana bisa dikatakan sebagai sahabat karib?” tukas nona berbaju putih itu dingin.

“Yaa, aku memang tak tahu siapa namanya, tapi aku hanya tahu kalau dia adalah seorang nona yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan!”

Merah padam selembar wajah si nona berbaju putih itu saking jengahnya, dengan marah dia membentak, “Tutup mulut!”

Hoa In-liong pura-pura tertegun, lantas bertanya, “Eeeh…. aneh benar nona ini, apa yang menyebabkan kau menjadi marah marah besar?”

Nona berbaju putih itu merenung sejenak, lalu katanya dengan dingin dan kaku, Eeeh…. mau bunuh mau cincang silahkan kau lakukan dengan segera atas diriku, tapi kalau Cuma mengumbar kata-kata yang tidak senonoh…. hmm! Tidak takutkah kau kalau perbuatan ini akan menurunkan martabat dari keluarga Hoa sendiri?”

“Pintar betul perempuan ini bersilat lidah” pikir Hoa In- liong, “dia memang seorang musuh yang tangguh!”

Maka sambil tertawa tergelak dia lantas menjura, ujarnya, “Teguran nona memang betul sekali, bolehkah aku tahu siapa nama nona….?” Nona berbaju putih itu termenung sebentar, kemudian jawabnya dengan dingin, “Dengarkan baik-baik, aku bernama Gie Pek (rindu dengan Pek)!”

Terperanjat Hoa In-liong setelah mendengar nama itu, segera dia berpikir kembali, “Menurut Gwakong, Hian-beng Kaucu kenal dengan mama, ooh…. jadi rupanya begitu!

Sayang ayah tak pernah menceritakan soal tersebut kepadaku, coha kalau tidak, mungkin dari kejadian-kejadian masa lalu aku bisa meraba siapa gerangan Hian-beng Kaucu itu!”

Dalam hati dia berpikir demikian, diluar katanya lagi, “Lantas kau mengikuti nama marga yang mana?”

“Nama margaku sama dengan nama guruku!” jawab nona itu ketus.

Hoa In-liong tertawa.

“Tolong tanya apakah gurumu berasal dari marga Cia?” desaknya.

Nona berbaju putih itu menggigit bibirnya kencang- kencang, dia membungkam dalam seribu bahasa, Karena nora itu enggan menjawab, Hoa In-liong tidak mendesak lebih jauh, diapun berkata, “Nona tempat seliar ini bukan tempat yang serasi untuk bercakap cakap, bagaimana kalau kita kembali kerumah penginapan dan melanjutkan pembicaraan disana?”

“Dari sini menuju kerumah penginapan tersebut terlampau jauh, aku rasa tak usah?”

Hoa In-liong tersenyum.

“Tuan rumah yang baik akan berusaha memenuhi keinginan tamunya, baiklah, terserah kemauan nona” Kontan saja nona berbaju putih itu tertawa dingin.

“Heeehhh…. heeehhh…. heeehhh…. kalau kau ingin menjadi tuan rumah yang baik serta berusaha memenuhi keinginan tamunya, biarkan siau li meninggalkan tempat ini”

Selesai berkata dia putar badan dan siap berlalu dari sana.

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, sekali lagi dia menghadang dihadapan nona itu.

“Tunggu sebentar nona!” serunya.

Nona berbaju putih itu memang sudah menduga kalau Hoa In-liong tak akan membiarkan dia pergi dengan begitu saja, sambil menggigit bibir, tiba-tiba ia melancarkan serangan kilat untuk menotok jalan darah Thian tee ditubuh anak muda itu.

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahh…. nona memang kelewat kejam” ujar Hoa In-liong sambil tertawa tergelak, “masa setiap serangan yang dilancarkan, tentu mengarah jiwa manusia!”

Dengan cekatan lengan kanannya diputar kebawah. Nona berbaju putih itu segera merasa pergelangan tangannya mengencang dan tahu tahu sudah berada dalam cengkeraman Hoa In-liong.

Dia berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman tersebut, sayang makin dia meronta cengkeraman tersebut semakin mengencang hingga akhirnya ibarat jepitan besi, bagaimanapun dia meronta, toh tak berhasil untuk melepaskan diri.

Merah padam selembar wajahnya karena jengah, dia lantas membentak dengan marah, “Lepas tangan!” Hoa In-liong terbahak-bahak, serunya, “Nona, engkau terlampau liar, kalau tak dikasih sedikit pelajaran, bisa membahayakan jiwaku. Yaa, apa boleh buat, terpaksa aku harus menyiksa sebentar diri nona,

Saking gemasnya, kalau bisa nona berbaju putih itu hendak menghadiahkan sebuah tendangan ke tubuh lawan, tapi dia kuatir bila sampai berbuat demikian maka Hoa In-liong akan semakin membuat dia malu….

Terbayang kembali semua kejadian yang dialaminya, nona itu mulai menyesal, dia menyesal kenapa tak mau menuruti nasehat gurunya, coba dia mau menuruti perkataan gurunya dan tidak bersikeras datang kemari untuk mencoba kekuatan Hoa In-liong, tak mungkin dirinya akan dipermalukan oleh anak muda tersebut.

Tiba-tiba Hoa In-liong melepaskan tangannya, lalu berkata, “Nona, bagaimana kalau kita membicarakan persoalan ini secara baik-baik saja tanpa menggunakan kekerasan?”

“Huuuh….siapa yang kesudian disebut kita bersama manusia macam kau?” protes nona itu marah.

Hoa In-liong tertawa tergelak .

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…. baik, baiklah, bagaimana kalau kau dan aku berbicara secara baik-baik?”

Nona berbaju putih itu mendengus, sambil meraba pergelangannya yang bekas dicengkeram itu dia ambil sikap acuh tak acuh.

Diam diam Hoa In-liong tertawa geli, dari sakunya dia mengeluarkan selembar saputangan, lalu ditebarkan diatas sebuah batu yang bidang, sesudah itu sambil menggerakkan tangannya membuat gerakan mempersilahkan dia berkata, “Silahkan duduk nona manis!”

Setelah berulang kali menemui kegagalan, hilang sudah kepercayaan nona itu terhadap kemampuan sendiri, dia tahu kaburpun tak ada gunanya, maka tanpa membantah dia duduk diatas batu tersebut.

Hoi In liong sendiri juga mencari sebuah batu dan duduk seadanya.

Menyaksikan sikap sianak muda tersebut, walaupun dihati kecilnya nona itu tertawa dingin, toh hatinya tergerak juga.

Dalam pada itu, Hoa In-liong telah berkata kembali setelah berpikir sebentar, “Ketika berada di kota Lam-yang tempo hari aku pernah berjumpa dengan seorang nona yang usianya hambir sebaya dengan nona, dia mengenakan baju warna ungu dan membawa sebilah pedang pendek, kemauapun dia pergi, pelayannya yang bernama Si Nio selalu mendampinginya….”

“Oooh…. kau maksudkan Siau Leng jin si budak ingusan itu?” tukas si nona tak sabaran.

Sungguh gembira hati Hoa In-liong setelah tanpa sengaja mendapat tahu nama dari nona baju ungu itu, dia tertawa.

“Mungkin memang dia orangnya, apakah nona kenal baik dengan dia?” kembali dia mendesak

Rupanya si nona berbaju putih menyadari kalau ia salah berbicara, cepat serunya dengan ketus, “Maaf, aku tak dapat memberitahukan kepadamu!” “Wah, kalau didengar dari nadanya, jangan-jangan diantara mereka mempunyai permusuhan?” pikir Hoa In-liong.

Tentu saja ingatan tersebut tidak diutarakan keluar, sambil tertawa katanya kemudian, “Kalau dugaanku tidak keliru, suhu nona pastilah Hian-beng Kaucu si ketua dari perguruan neraka itu, boleh aku tahu siapa nama gurumu?”

“Tidak boleh!” jawaban nona itu lebih ketus.

Keketusan yang berulang kali tidak merubah sikap Hoa In- liong yang ramah, sekulum senyuman tetap menghiasi bibirnya.

“Konon perkumpulan Hian-beng-kauw mempunyai jago silat yang tak terhitung jumlahnya, apakah kau bersedia menyebutkan satu dua orang di antaranya sehingga menambah pengetahuanku?” kembali pintanya.

“Hmm! Jangan mimpi!” tukas si nona sambil mencibirkan bibir.

“Boleh aku tahu permusuhan apa yang terikat antara suhumu dengan keluarga Hoa kami?”

Ketika mendengar pertanyaan tersebut, tiba-tiba hawa napsu membunuh memancar keluar dari mata nona baju putih itu cuma mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

“Waaah….celaka ini!” lagi-lagi Hoa In-liong berpikir, “dilihat dari cemberutnya, jelas rasa benci mereka sudah merasuk sampai ke tulang sumsum, cuma herannya dendam apakah itu? Kenapa mereka bisa mengikat dendam sedalam lautan dengan keluarga Hoa?” Berpikir sampai disitu, maka dia mengalihkan kembali pokok pembicaraan….

“Nona, beberapa orang Ciu Hoa yang berkeliaran dalam dunia persilatan apakah merupakan kakak seperguruanmu?” ia bertanya.

Si nona baju putih tertawa dingin.

“Heeehhh…. heeehh…. heeehhh…. sayang kau tak sampai mampus dibunuh mereka!”