Rahasia Hiolo Kumala Jilid 32

Jilid 32

THIA SIOK BI menengadah dan memandang cuaca sejenak, dia lihat sisa rembulan sudah hampir lenyap, sebentar lagi fajarpun akan menyingsing, kenyataan ini membuat hatinya rada lega, dia tahu asal waktu bisa diulur sebentar lagi maka mara bahaya bisa dihindari.

Maka dengan suara dingin ia berkata, “Aku dengar perkumpulanmu sudah membentuk perserikatan dengan pihak Mo-kauw, benarkah kejadian ini?”

Beng Wi-cian bukan bodoh, kecerdasan otaknya melebihi orang lain, ketika ia saksikan To koh tersebut memeriksa keadaan cuaca lalu wajahnya menunjukkan senyum berseri, dalam hati kecilnya diapun berpikir, “Aaaah….jangan-jangan didalam gua ada seorang jago lihay yang sedang bersemedi?”

Dia segera merasa bahwa waktu tak boleh ditunda-tunda lagi, sebab itu sambil mengelus jenggotnya dia tertawa tergelak.

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh….benar sekali, memang apa yang hujin dengar tidak keliru, kalau toh sudah tahu, bagaimana kalau hujin menyingkir dulu kesamping? Aku pasti akan memberi keterangan sejelas-jelasnya….” Sementara pembicaraan masih berlangsung, diam-diam ia memberi tanda kepada anak buahnya segera keempat orang kakek berbaju hitam itu berjalan menuju ke mulut gua.

“Berhenti!” bentak Thia Siok bi sambil mempersiapkan senjata kaitan kemalanya.

Empat ora ng kakek berbaju hitam itu tidak berhenti, salah seorang diantaranya, seorang kakek yang kurus kering segera berkata, “Go hujin, biasanya kau hidup sebagai burung bangau liar, kenapa musti bersikeras untuk melibatkan diri dalam air keruh ini?”

ooooooooooooo 33

THIA SIOK BI tidak berbicara apa-apa, dia malah berpikir, “Siapa yang turun tandan lebih dulu biasanya dia akan menang posisi, siapa turun tangan belakangan dia akan ketimpa bencana, bagaimanapun juga hubungan toh sudah retak….”

Karena berpendapat demikian, ia tidak ragu-ragu lagi, sambil menggigit bibir, senjata Hud tim nya disapu ke muka, sementara senjata kaitannya mengurung tubuh keempat orang itu dengan jurus Yu ta lei hoa (hujan deras menerpa bunga li).

“Go hujin!” seru kakek knrus itu lagi, “jadi kau tetap pada pendirianmu yang keras kepala?”

Dengan jurus sin liong cia ka (naga sakti melepaskan sisik), ia sambut datangnya ancaman tersebut. Serentak dua orang kakek berbaju hitam yang ada disebelah kanan menganyunkan pula keempat buah telapak tangan mereka, hembusan angin puyuh segera menggulung kemuka dengan hebatnya.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik itu, kakek berwajah kaku yang ada disebelah kiri segera menyingkir kesamping begitu terhindar dari ancaman musuh, dengan suatu gerakan cepat ia menyelinap masuk kedalam gua.

Dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa empat orang kakek itu sudah mengambil persetujuan secara diam-diam bahwa tiga orang diantara mereka akan membendung serangan Thia Siok bi, sedang seorang diantaranya menyelinap ke dalam gua dengan menggunakan peluang itu.

Thia Siok bi juga bukan orang bodoh, sudah barang tentu tak sudi ia memberi kesempatan kepada musuhnya untuk menyusup masuk ke dalam gua, ia tertawa dingin.

“Hmmm….! Bangsat, rupanya kau pingin mampus!”

Dengan jurus serangan yang tak berubah, ia putar senjatanya lalu dengan gagah Hud tim dia sodok jalan darah Jit kan hiat diwajah kakek bermuka kaku itu.

Tercekat orang itu menghadapi ancaman maut tersebut, dalam keadaan kaget ia lepaskan sebuah pukulan lalu melompat mundur ke belakang.

Dalam waktu singkat Thia Siok bi sudah melancarkan belasan buah serangan berantai.

Sudah dua tiga kali keempat orang kakek berbaju hitam itu mencoba untuk menyerbu kedalam gua, namun setiap kali usaha mereka selalu berhasil digagalkan, hal ini membuat mereka jadi mendongkol dan gusar sekali.

Dalam keadaan demikian, cepat diputuskan untuk meringkus Thian Siok bi lebih dahulu sebelum menyerbu ke dalam gua, maka taktik merekapun berubah, sekarang mereka tidak berusaha masuk ke gua lagi, tapi menyerang Thia Siok bi dengan sekuat tenaga.

Dalam sekejap mata angin, pukulan menderu-deru, cahaya tajam menyilaukan mata, suatu pertarungan berdarah yang benar-benar amat sengit segera berlangsung dimulut gua.

Berbicara soal ilmu silat, andaikata keempat orang kakek baju hitam itu harus menghadapi Thia Siok bi satu demi satu, maka tak seorangpun diantara mereka yang akan sanggup menerima seratus serangannya, tapi sekarang setelah mereka turun tangan bersama, Thia siok bi lah yang merasakan tekanan tekanan berat.

Sekalipun begitu, To koh berbaju abu-abu itu tetap bertahan dengan punggung menghadap ke gua, senjata kaitan maupun senjata hud timnya diputar sedemikian rupa untuk mempertahankan diri dengan ketat.

Ditinjau dari keadaan itu, rasanya sulit dan tak mungkin bagi keempat orang kakek itu untuk menyingkirkan lawannya dalam beberapa ratus gebrakan mendatang.

Mengikuti jalannya pertarungan itu, Beng Wi-cian berkerut kening. Oleh karena mulut gua terlampau sempit, dan lagi kelima orang itu turun tangan bersama, hampir boleh dibilang seluruh mulut gua telah tersumbat penuh, dalam keadaan begini, tak mungkin baginya untuk mengirim orang lagi guna melibatkan diri dalam pertarungan tersebut. Ketika perhatiannya dialihkan ke arah yang lain, terlihatlah pertarungan antara Coa Wi-wi melawan dua bersaudara Leng hou makin lama bergeser semakin dekat dengan mulut gua, jaraknya tingal lima kaki saja. Ini membuat angin pukulan yang dihasilkan dari pertarungan mereka menyebabkan berkibarnya ujung baju beberapa orang.

Kiranya pada waktu itu Coa Wi-wi ingin mendekati gua tersebut agar setiap saat bisa memberi bantuan kepada Hoa In-liong serta Goan cing taysu, kebetulan dua bersaudara Leng hou juga punya keinginan untuk mencari peluang untuk menyusup ke dalam gua. Karena itu, meski berbeda dalam tujuan, mereka mempunyai niat yang sama itulah sebabnya langkah mereka makin lama semakin bergeser mendekati gua itu.

Sebagai seorang jago kawakan yang pandai, tentu saja Beng Wi-cian memahami akan jalan pikiran mereka, segera pikirnya, “Budak busuk, kalau engkau berani mendekat aku pasti akan menghajar dirimu sampai kalang kabut”

Dia lantas memberi tanda kepada empat orang kakek berbaju hitam yang ada disampingnya untuk bersiap siaga melancarkan serangan, sedang ia sendiri diam-diam menghimpun tenaga dalamnya, dengan begitu perhatiannya terhadap jalannya pertarungan antara Thia Siok bi melawan keempat kakek baju hitam pun terkesampingkan.

Dikala semua pihak berpikir dengan rencananya masing- masing mendadak cuaca menjadi gelap ternyata saat menjelang fajar telah tiba….

Memang kawanan jago yang sedang bertempur waktu itu rata-rata adalah kawanan jago kelas satu dalam dunia persilatan, akan tetapi dalam suasana yang amat gelap itu, ketajaman mata mereka menjadi jauh berkurang…. Tiba-tiba Thia Siok bi mendengus dingin, ujung bajunya dikebaskan berulang kali, berpuluh-puluh batang jarum emas yang beracun bagaikan hujan gerimis berhamburan ke empat penjuru.

Dalam keadaan yang sama sekali diluar dugaan ini, dua orang kakek baju hitam diantaranya serentak menggerakkan sepasang telapak tangannya untuk melancarkan serangan.

Hembusan angin tajam memekikkan telinga, maksud mereka dengan mengandalkan tenaga pukulan yang amat dahsyat itu niscaya ancaman dapat di halau….

Sayang perhitungan mereka meleset sama sekali, bukan saja jarum beracun itu lembut bentuknya lagipula dilepaskan Thia Siok bi dengan cara yang unik, maka tak ampuh lagi kedua orang itu segera merasakan kaki kiri dan bahu kanannnva menja di kaku, tahu-tahu mereka sudah mendapat persen sebatang jarum.

Kakek baju hitam yang berada di sebelah kanan mencoba meloloskan diri dengan cara melompat mundur, sayang tindaknya itupun terlambat satu langkah, dada kirinya mendapat persen sebatang jarum.

Hanya kakek baju hitam yang berwajah kaku saja yang berhasil meloloskan diri dari ancaman itu, sepasang telapak tangannya didorong kemuka melepaskan sebuah pukulan sementara badannya cepat cepat melompat mundur kebelakang, kendatipun demikian, jarum emas itu sempat menyambar disisi telinganya, membuat ia mengucurkan peluh dingin saking kagetnya.

Empat orang kakek berbaju hitam itu dinamakan delapan sesudah pelindung markas, bukan saja ilmu silat mereka lihay, ketajaman matanya juga luar biasa hebatnya. Andaikata Thia Siok bi ingin mencari kemenangan hanya dengan mengandalkan permainan senjata kaitannya saja, hal ini belum tentu akan mendatangkan hasil.

Tapi kini Thia Siok bi berkuat cerdik, bukan saja ia manfaatkan cuaca yang sedang gelap untuk melepaskan senjata rahasianya, perbuatan itu terlindung pula oleh putaran senjata Hud tim serta bayangan senjata kaitannya, dalam keadaan demikian terkecohlah musuh-musuhnya itu.

Luka jarum itu tidak sakit, hanya terasa sedikit kaku dan kesemutan, tapi beberapa orang kakek berbaju hitam itu tahu bahwa mereka telah keracunan hebat.

Dengan suatu lompatan tergesa-gesa mereka mundur dua kaki ke belakang, kemudian secara beruntun menotok beberapa buah jalan darah mereka untuk menutup aliran darah yang bercampur racun menyerang ke jantung.

Dengan demikian, walaupun jiwa mereka untuk sementara waktu tidak terancam tapi dengan begitu mereka jadi tak mampu untuk turun tangan lagi….

Kakek baju hitam yang terluka kaki kirinya tertawa seram tiba-tiba ia membentak, “Bukan ingusan, aku akan beradu jiwa denganmu”

Tanpa menghiraukan luka beracun yang dideritanya, bagaikan harimau kelaparan ia menerkam ke muka.

Tercekat juga perasaan Thia Siok bi menyaksikan orang itu melancarkan serangan sambil menggigit bibir, ejeknya dengan dingin, “Huuuh….belum pantas kau berbuat demikian” Sreeet….! Sreeet….! Secara beruntun senjata Hud-timnya melancarkan dua buah serangan kilat ke dada kakek baju hitam itu maksudnya hendak memaksanya mau tak mau harus mundur ke belakang.

Siapa tahu kakek berbaju hitam itu sudah berniat untuk beradu jiwa, tanpa mengindahkan sapuan senjata Hud tim yang mengancam dadanya sambil meraung keras sepasang telapak tangannya melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga.

Agak tercengang Thia Siok bi menghadapi ancaman yang mengajak saling beradu jiwa itu, cepat ia bergeser tiga depa ke samping untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut.

Hawa amarah yang berkobar dalam dadanya ikut memuncak, dengan senjata hud tim ia bendung serangan dari kakek berwajah kaku yang tidak terkena jarum emas itu, sementara kaitan kemalanya membacok ke bawah sekeras- kerasnya dengan maksud membinasakan kakek baju hitam itu.

Tapi sebelum serangannya mencapai sasarar, tiba-tiba tampak kakek berbaju hitam itu mundur dengan sempoyongan, bahkan nyaris terjatuh ketanah, wajahnya menunjukkan penderitaan yang luar biasa.

Menghadapi kenyataan tersebut, ia segera berubah rencana, dengan ujung jarinya ia totok jalan darah Cian keng hiat ditubuh orang itu.

Rupanya racun yang mengeram dalam tubuh kakek itu sudah mulai bekerja, sekalipun dia masih sanggup mempertahankan diri dengan andalkan tenaga dalamnya yang sempurna, toh ancaman itu gagal dihindari, jalan darahnya segera tertotok dan tubuhnya langsung terjungkal ke tanah. Sejak Thia Siok bi melepaskan senjata rahasia sampai kakek baju hitam itu roboh tertotok, waktu yang dibutuhkan cuma setarikan napas belaka, mimpipun Bwe Wi cian tidak menduga kalau situasi bakal berubah secepat ini, dalam cemas dan gusarnya tiba-tiba ia membentak keras, “Tio Hu tham (Fio pelindung markas), harap segera mundur!”

Kakek bermuka kaku itu segera melepaskan sebuah serangan tipuan, lalu mengundurkan diri.

“Wahai budak busuk!” tiba-tiba kedengaran Leng hou Ki berseru pula, “beranikah engkau sudah ogah dengan jiwa anjingmu.

“Silahkan saja maju!” jawab Coa Wi-wi setengah mengejek.

Leng hou Ki marah sekali, sambil membentak keras dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat.

“Aku tak percaya kalau pukulanmu sangat dahsyat” pikir Coa Wi-wi dalam hati, “akan kugunakan tenaga sebesar dua belas bagian, paling sedikit aku harus bikin isi perutmu jadi terluka….”

Ketika telapak tangannya diayun ke muka, maka segulung tenaga pukulan ibaratnya tindihan bukit karang menggulung ke muka.

Gadis itu terlalu cepat memperhitungkan keuntungan bagi diri sendiri, dianggapnya setelah Leng hou Ki berhasil dibinasakan, niscaya sisanya Leng hou Yu lebih mudah dibereskan, dan asal kedua orang musuhnya telah disingkirkan, kemenangan sudah pasti diraih olehnya.

Tapi dia lupa akan sesuatu, dia lupa bahwa dua bersaudara Leng hou adalah manusia-manusia yang licik, mungkinkah mereka membiarkan gadis itu mengambil keuntungan bagi diri sendiri? Padahal kedua orang itu tahu bahwa tenaga dalamnya kalah bila dibandingkan lawan, dengan kelemahan semacam ini, menerima serangan musuh dengan keras lawan keras bukankah merupakan suatu perbuatan bodoh?

Tiba-tiba Leng hou Ki tertawa nyaring, tubuhnya menyusup ke belakang, lalu dengan meminjam tenaga pukulan dari Coa Wi-wi, secepat sambaran kilat dia menerobos masuk ke dalam gua.

Ternyata secara diam-diam orang itu sudab menghitung dengan tetap bahwa jaraknya dengan mulut gua tinggal lima- enam kaki, setelah merebut kemenangan, menurut perhitungannya penjaga serta kewaspadaan Thia Siok bi pasti akan mengendor padahal kakek baju hitam yang kena dirobohkan tergeletak tetap ditengah gua, bila ia tetap berjaga ditengah niscaya kakinya akan menginjak di tubuh kakek baju hitam itu. Maka dengan bergesernya perempuan itu ke tepi gua, sama artinya pula dengan memberi peluang baginya untak menerobos masuk ke gua.

Thia Siok bi kaget sekali, buru-buru ia membacok dengan senjata kaitan kemalanya.

Sebelum bertindak, Leng bou Ki telah memperhitungkan semua kemungkinan dengan tepat, sebab itu ketika bacokan tiba, dengan jurus Hok lei cing ming (pekikkan bangau menembusi awan) ia paksa Thia Siok bi bergeser tiga langkah ke samping, sementara tangan kirinya dikebaskan untuk menyingkap tumbuan rotan yang menutupi mulut gua.

Thia Siok bi tahu bahwa ia bukan tandingan dari Leng hou Ki, tapi andai kata ia biarkan Leng hou Ki menerjang masuk ke gua, bukan saja selembar nyawa jago muda akan dikorbankan, mungkin seorang gadis cantik jelitapun ikut berkorban, terutama kematian dari Hoa In-liong, peristiwa itu akan mengakibatkan Wan Hong giok kesedihan hingga akhirnya mati secara menggemaskan.

Jika hal ini sampai terjadi, kecuali menggorok leher untuk bunuh diri, rasanya tiada jalan kedua yang bisa ia tempuh lagi.

Atas dasar pertimbangan tersebut, To koh berjubah abu- abu itu jadi nekad, dengan senjata hud timnya ia serang punggung Leng hou Ki, sementara senjata kaitan kemalanya dengan jurus Gwat in see shia (bayangan rembulan condong ke barat) membacok ubun-ubun lawan.

Serangan semacam itu pada hakekatnya hanya membuka penjagaan atas tubuh sendiri, bila Leng hou Ki balik badan sambil melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga, niscaya dia akan mampus secara mengerikan, tapi sudah barang tentu Leng hou Ki harus mengorbankan pula jiwanya.

Leng hou Ki sama sekali tak semepat untuk melirik keadaan gua itu walau hanya sekejap saja, tahu-tahu desingan tajam sudah menyergap batok kepalanya.

Gembong iblis yang maha lihay macam dia, tentu saja tak akan terkecoh oleh serangan tersebut dari angin serangan yang dihasilkan dia sudah tahu bahwa ancaman dari Thia Siok bi itu tak boleh dianggap enteng.

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa dia urungkan niatnya untuk masuk ke dalam gua, tubuhnya berputar seperti gasingan, satu tangan membabat secara datar telapak tangan yang lain dipakai untuk membendung ancaman, kemudian ejeknya dengan wajah menyeringai, “To koh busuk, rupanya kau memang sudah bosan biiup!” “Hmm….! Siapa yang bosan hidup masih belum tahu, buat apa engkau banyak bicara?” jawab Thia Siok bi hambar.

Dimulut ia berbicara demikian, sementara serangannya sama sekali tidak mengendor, seluruh jurus serangan yang digunakan adalah jurus-jurus paling ganas dan ampuh.

Tenaga dalam yang dimiliki Leng hou Ki memang jauh lebih tinggi, tapi dia kewalahan juga setelah harus menghadapi serangan semalam itu, seketika ia terdesak hebat, jangan toh melanjutkan terobosannya masuk ke dalam gua, untuk mengundurkan diripun sukar.

Pengalaman Coa Wi-wi dalam menghadapi musuh terlampau cetek, dia tidak menyangka kalau Leng hou Ki bakal menggunakan cara itu untuk mengibuli dirinya, ketika gembong iblis itu menerjang ke mulut gua, ia jadi panik bercampur marah, tanpa memperdulikan Leng hou Yu lagi, dengan kecepatan tinggi gadis itu berusaha menyusul di belakangnya.

Tentu saja Leng hou Yu tak akan membiarkan gadis tersebut berlalu dengan begitu saja, dari tempat kejauhan dia lepaskan sebuah pukulan ke punggungnya, kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh….budak busuk, tidak segampang itu untuk meloloskan diri dari cengkeramanku!”

Ketika Coa Wi-wi merasakan tibanya deruan angin tajam dari belakang, dengan cepat dia berpikir, “Bila aku musti putar badan untuk menyambut serangannya itu, niscaya aku bakal terbelenggu kembali dalam pertarungan, jika sampai demikian, bukankah Leng hou Ki akan manfaatkan kesempatan itu untuk menerobos masuk ke dalam gua?” Sambil menggigit bibir dia lantas menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya keatas punggung, rupanya gadis itu bermaksud menerima serangan tersebut dengan kekerasan agar tepat pada waktunya ia dapat mencegah Leng hou Ki masuk ke gua.

“Duuk….” dengan telak serangan tersebut bersarang dipunggung Coa Wi-wi, sambil mendengus tertahan gadis itu malah mempercepat gerakan tubuhnya menerobos ke muka.

Mimpipun Leng hou Yu tak mengira kalau gadis tersebut berani menyambut serangannya dengan kekerasan, ia jadi menyesal setengah mati.

“Aaai….sayang, benar-benar sayang!” demikian pikirnya.” asal kulancarkan serangan tadi dengan sepenuh tenaga, niscaya budak itu akan mampus atau paling sedikit terluka parah”

Tiba-tiba terdengar Beng wi-cian membentak keras, “Cepat menyerang!”

Tampaklah dia bersama keempat orang kakek baju hitam membentak keras, lalu sambil mengayunkan telapak tangan, mereka lepaskan serangan maut ketubuh Coa Wi-wi.

Walaupun Coa Wi-wi merasa gelisah bercampur marah, tapi ia tak berani gegabah, sebab dia tahu bahwa tenaga dalam yang dimiliki Beng Wi-cian sekalipun amat tinggi, serangan gabungan yang mereka lancarkan tentu jauh lebih mengerikan.

Padahal baru saja ia menyambut sebuah serangan dari Leng hou Yu dengan kekerasan, meskipun tak sampai terhajar telak, dan ia manfaatkan tenaga pukulan itu untuk mempercepat gerakan tubuhnya, baryak tenaga yang telah hilang akibat perbuatannya itu, dalam keadaan hawa darah didadanya tergolak keras, gadis itu tak berani menyambut lagi serangan tersebut dingin kekerasan.

Dalam situasi yang amat gawat toh gadis itu masih menyempatkan diri untuk melirik sekejap ke adaan Thia Siok bi. Ia jadi lega setelah menyaksikan musuh terbendung untuk sementara waktu.

Cepat-cepat hawa murninya ditarik panjang-panjang, tubuhnya yang sedang meluncur ke bawahpun tiba-tiba meluncur jauh lebih cepat dari keadaan pada umumnya. Baru saja kakinya menempel tanah, angin pukulan dari Beng Wi- cian sekalian yang maha dahsyat itu sudah menyambar lewat dari atas kepalanya, untung tak sampai melukai.

Setelah lolos dari ancaman, Coa Wi-wi tak dapat langsung melancarkan serangan, dia musti mengumpulkan dulu hawa murninya untuk mengendalikan golakan hawa darah didalam dada.

Leng hou Yu paling gembira dengan kejadian itu, dia menyusul kedepan seraya melancarkan serangan.

“Haaahh…. haaahh….haaahh…. budak ingusan” katanya sambil tertawa tergelak, “aku ingin berduel seorang lawan seorang dengan dirimu, beranikah engkau menyambut sebuah pukulan lagi?”

Waktu itu pergolakan hawa darah didada Coa Wi-wi belum mereda, ia tak berani menerima datangnya ancaman dengan keras lawan keras, dengan suatu gerakan tubuh yang lindah dia mengegos kesamping, kemudian jari tangannya membalik menotok jalan darah siau tay hiat ditubuh lawan. “Nona Coa!” tiba-tiba Beng wi-cian membentak lagi, “bolehkah lohu ikut ambil bagian dalam pertarungan itu?”

Sekalipun dibibir dia mengajukan permintaan, tubuhnya telah beranjak dari tempat semula dan terjun ke gelanggang, bahkan sebuah serangan dilancarkan pula ke tubuh gadis itu.

Mendengar akan tibanya gulungan angin pukulan yang dahysat, Coa Wi-wi menggeserkan tubuhnya kesamping, menggunakan kesempatan itu tangan kirirya menyambar iga lawan.

“Kalau aku tidak setuju, bagaimana?” sahutnya dingin. Beng Wi-cian tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…. kalau nona tak setuju, terpaksa aku harus tebalkan muka!” sahutnya.

Kembali sebuah pukulan dilancarkan.

Gusar dan mendongkol Coa Wi-wi menghadapi kelicikan musuh-musuhnya, dia lantas berteriak, “Leng hou Yu, inikah yang kau maksudkan dengan berduel satu lawan satu….?

Memalukan!”

Kagum juga Leng hou Yu atas ketangguhan musuhnya, apalagi dalam keadaan terluka gadis itu masih mampu bertahan sambil menyerang tanpa menunjukkan gejala akan menderita kalah, dia mulai berpikir, “Tenaga dalam yang dimiliki dayang ini sangat hebat, kalau cuma mengandalkan tenagaku seorang, sudah pasti aku tak akan mampu membereskan nyawanya!”

Karena berpikir demikian, dia lantas tertawa seram. “Heehhh…. heeehh…. heeehhh….maaf, gerak-gerik Beng thamcu adalah merupakan hak pribadinya sendiri, aku tak dapat ikut campur dalam urusan pribadinya”

Kemarahan Coa Wi-wi semakin memuncak, ia berpikir pula, “Percuma rasanya mengajak kawanan iblis dari golongan sesat ini, untuk membicarakan soal cengli….”

Dia lantas mendengus, lalu dengan jurus Ji yong bu wi (dua kegunaan tiada tempat) telapak tangan kanannya membentuk gerakan satu lingkaran busur didepan dada, kemudian secara tiba-tiba dihantamkan ke pinggang Leng hou Yu.

Toan bok See liang mengikuti jalannya pertarungan dari tempat kejauhan, ketika menyaksikan Coa Wi-wi menggunakan kembali jurus serangan yang pernah membuat dirinya jadi keok dia lantas pasang mata dan memperhatikannya secara istimewa.

Setelah itu pikirnya dihati, “Jurus serangan itu mengambang tak menentu, seolah-olah serangan tipuan seolah-olah juga serangan sungguhan, betul-betul merupakan suatu jurus serangan yang hebat. Bila ilmu pedang keluarga Hoa disebut ilmu pedang nomor satu dalam dunia persilatan, maka ilmu pukulan yang digunakan dayang she Coa ini pantas disebut ilmu puku lan yang tiada keduanya di dunia”

Dia berpikir keras serta mencoba untuk memecahkan serangan itu, namun setelah pikir punya pikir, ia merasa kecuali menghindarkan diri rasanya tiada cara lain yang bisa dipakai lagi untuk memecahkan serangan tersebut, andaikata cara itu membutuhkan dasar tenaga dalam yang mengungguli tenaga dalam Coa Wi-wi, sebab satu satunya cara adalah membalas serangan dengan serangan. Ketika ia menengadah kembali, betul juga Leng hou Yu berkelit ke samping untuk menghindarkan diri.

Dalam serangannya itu, meski tenaga dalam dari Beng Wi- cian jauh lebih lemah bila dibandingkan dengan Leng hou Yu, lagipula kerja sama itu kalah jauh bila dibandingkan dengan kerja sama antara dua bersaudara Leng hou, tapi lantaran Coa Wi-wi sudah terlanjur terluka, lagipula dia sangat menguatirkan hasil pertarungan dari Thia Siok bi melawan Leng hou Ki, maka sekalipun tak sampai kalah, susah juga baginya untuk merebut kedudukan diatas angin.

Demikianlah, dua kelompok manusia saling bertarung dengan sengitnya, andaikata Coa Wi-wi berani mengorbankan isi perutnya terluka parah, sebetulnya ia masih mampu untuk mengobrak-abrik kerja sama dari Leng hou Yu dengan Beng Wi-cian, tapi ia tak berani berbuat demikan, maka untuk sementara waktu keadaan tetap seimbang.

Pertarungan antara Thia Siok bi melawan Leng hou Ki berlangsung paling sengit, pertempuran itu telah berlangsung hingga mencapai puncaknya, setiap saat jiwa mereka bisa terancam.

Fajar mulai menyingsing, sinar matahari yang berwarna keemas emasan mulai memancar dari balik bukit.

Kabut tipis pelan-pelan melayang datang dan menyelubungi permukaan tanah, mendatangkan kesuraman ditengah fajar itu, ibaratnya pula suasana dunia persilatan waktu itu, kabut kesesatan menyelubungi terbitnya keadilan dan kebenaran.

Hanya saja, semua orang yang hadir dalam gelanggang waktu itu hanya pusatkan seluruh perhatian mereka pada jalannya pertarungan, siapa pua tidak menaruh perhatian bahwa malam yang panjang sudah lewat dan fajar telah menyingsing.

Tiba-tiba kakek baju hitam berwajah kaku itu berkata, “Thia Siok bi, engkau benar-benar seorang manusia yang tak tahu diri, berapa banyak sudah jago Hian-beng-kauw yang roboh ditanganmu…. hmm…. Mulai hari ini kau sudah menjidi musuh bebuyutan kami, jangan salahkan kalau aku akan bertindak kurang sopan”

Sambil menyerbu ke muka, jari tangannya yang kaku seperti tombak menyodok jalan darah Leng tay hiat di tubuh Thia Siok bi.

Sebenarnya Thia siok bi berjaga-jaga dimulut■gua, tapi sekarang ia sudah dihadang oleh Leng hou Ki diluar gua, dengan begitu dia musti bertarung melawan Leng hou Ki dengan punggung menghadap luar.

Sebagai jago yang berpengalaman, To koh itu juga tahu bahwa posisi semacam itu sangat tidak menguntungkan, sebab setiap waktu setiap saat ia bisa disergap lawannya.

Tapi keadaan amat kritis, mau tak mau dia musti menggunakan cara semacam ini untuk menjaga diri, otomatis diapun tak sempat berpikir lebih jauh lagi.

Dan kini dia hsrus menghadapi serangan dahsyat dari kakek she Tio itu, dengan cepat To koh tersebut berpikir, “Jika aku berkelit dari serangannya niscaya Leng hou Ki akan menggunakan kesempatan ini untuk masuk ke gua….”

Berpikir sampai di sini, dia jadi nekad. To koh berbaju abu- abu itu mengambil keputusan untuk beradu jiwa. Dengan cekatan badannya miring ke samping begitu jalan darah Leng tay hiatnya lolos dari ancaman, senjata kaitan kemalanya bagaikan sambaran petir menyambar dada dan lambung Leng hou Ki, kemudian tanpa dilihat bagaimana hasilnya, senjata Hud timnya kembali melepaskan sebuah sapuan cepat.

Kedua gerakan itu semuanya merupakan jurus-jurus beradu jiwa, sebab baik dihajar punggung-nya atau dihajar iganya, sudah pasti Thia Siok bi bakal menemui ajalnya.

Tapi sayang dia terlalu memandang rendah diri Leng hou Ki, baru saja serangan itu dilancarkan, Leng hou Ki sudah tertawa terbahak-bahak. Mendadak ia menarik kembali serangannya, sepasang kaki menjejak tanah keras keras lalu dengan kecepatan luar biasa ia menyusup masuk ke dalam gua.

Menyaksikan tindakan tersebut, kakek she Tio itu menyumpah dalam hatinya;

“To koh busuk, aku tak sudi beradu jiwa dengan dirimu….”

Badannya berputar cepat, dari serangan totokan jari dia lantas merubahnya menjadi serangan telapak tangan, dihajarnya bahu kanan Thia Siok bi keras-keras.

Mendadak terdengar Beng Wi-cian membentak keras, “Tio hu tham, cepat menyingkir!”

Tapi belum habis perkataan itu, secepat anak panah yang terlepas dari musuhnya, Coa Wi-wi sudah menyusup ke belakang kakek she Tio itu, kemudian tanpa menimbulkan sedikit suarapun dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat ke punggung kakek itu. Gelisah dan gusar Coa Wi-wi ketika menyaksikan Leng hou Ki berhasil menyelundup masuk ke dalam gua, rasa kagetnya sukar dilukiskan dengan kata-kata. Secara spontan hawa napsu membunuh nya ikut membara, ia tak dapat mengendalikan emosinya lagi, dan tanpa sadar jurus serangan paling ganas segera digunakan.

Sudah dua tiga kali usaha Coa Wi-wi untuk mendekati mulut gua digagalkan lawan, maka untuk tindakannya kali ini dia sudah mengaturkan masak-masak, begitu meluncurkan ke mulut gua, segenap kekuatannya dihimpun menjadi satu untuk bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.

Benar juga, begitu dia melayang ke bawah, Leng hou Yu berserta sisa empat orang kakek baju hitam itu segera maju menghadang.

Menunggu peringatan dari Beng Wi-cian diucapkan, serangan dari Coa Wi-wi sudah dilepaskan.

Tak sempat lagi kakek she Tio itu menghindarkan diri, ia mendengus tertahan, tubuhnya mencelat sejauh beberapa kaki dari tempat semula, kemudian setelah menggelinding beberapa kali, badannya membujur tak berkutik lagi.

Berbareng dengan peristiwa itu, tiba-tiba dari balik gua berkumandang suara lirih seperti suara nyamuk tapi tajam menggidikkan hati, sekalipun lembut, namun bagi pendengaran siapapun suara tadi tak enak didengar, seperti ada beratus-ratus batang jarum yang menusuk telinga mereka.

Coa Wi-wi sekalian segera mengenali suara aneh itu sebagai hawa pedang tingkat tinggi, kontan saja semua orang tertegun. Ditengah keheningan yang mencekam seluruh angkasa, tiba-tiba kedengaran Leng hou Ki berpekik kaget dari balik gua, “Haaaah….! Bocah cilik dari keluarga Hoa….!”

Nada dari ucapan itu sedemikian paniknya hingga siapapun tahu bahwa orang itu telah menemukan sesuatu yang hebat di sana.

Bayangan kuning tiba-tiba berkelebat lewat, dan tahu-tahu sudah menerobos keluar dari balik gua

Padahal Coa Wi-wi maupun Thia siok bi berdiri ditepi gua, sayang mereka dibuat tertegun oleh kejadian tersebut hingga tak sempat untuk turun tangan.

“Aduuuh sayang….!” pekik Thia Siok bi sangat menyesal.

Tampak Leng hou Ki telah muncul kembali dengan wajah hijau membesi, ujung bajunya sebatas siku sudah terpapas kutung hingga keadaannya tampak sangat mengenaskan.

Dari keadaan itu, semua orang segera tahu bahwa jago yang tersohor karena kegarangannya itu sudah menderita kerugian besar, kenyataan tersebut kontan disambut dengan perasaan tercekat oleh ka wanan jago baik dari golongan Mo- kauw maupun dari rombongan Hian-beng-kauw.

Gelak tertawa nyaring menggelegar dari dalam gua, disusul kemudian Hoa In-liong sambil membawa pedang antiknya yang terhunus melangkah keluar dari balik gua, tampaknya yang ganteng dan gagah perkasa justru memberikan gambaran yang bertolak belakang dengan keadaan Leng hou Ki.

Kejut dan girang Coa Wi-wi menyaksikan kemunculan anak muda itu. “Jiko, engkau sudah selesai dengan semadimu?” serunya tak tahan.

Hoa In-liong melirik sekejap ke arahnya, dengan sinar mata penuh kemesraan, kehangatan serta kasih sayang.

Dia masukkan pedangnya ke dalam sarung, kemudian sambii menjura kepada Thia Siok bi katanya, “Bantuan yang telah cianpwe berikan kepada kami, sungguh membuat boanpwe merasa….”

“Tak usah membicarakan kata-kata yang tak berguna” tukas Thia siok bi sambil mengulapkan senjata Hud timnya, “engkau tahu, siapakah pinto ini?”

Hca In liong melirik sekejap senjata kaitan kemalanya yang bersinar hijau itu, kemudian jawabnya dengan serius, “Bila dugaan boanpwe tidak keliru, tentu cianpwe adalah gurunya Wan Hong giok, bukankah begitu?”

Thia Siok bi mendengus dingin.

“Cerdik benar engkau ini, tapi….engkau tahu kenapa pinto datang mencarimu?”

Dari kerutan dahi To koh tersebut, secara lapat-lapat Hoa In-liong dapat menangkap perasaan tak senang hatinya, dia lantas menduga kalau hal tersebut disebabkan musibah yang menimpa diri Wan Hong-giok. Maka pikirnya dihati, “Berbicara sesungguhnya, aku ikut bertanggung jawab atas musibah yang menimpa diri Wan Hong giok, kalau dilihat dari cara cianpwe ini mengajukan pertanyaannya, mungkin ia datang untuk mintai pertanggungan jawabku….” Untuk sesaat lamanya pelbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya, ia jadi kebingungan dan tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan tersebut.

Tiba tiba Leng hou Ki berseru dengan wajah menyeringai seram, “Bocah keparat dari keluarga Hoa, beranikah engkau bertarung melawan lohu?”

Cepat Hoa In-liong merangkap tangannya didepan dada dan memberi hormat kepada Thia Siok bi, lalu ujarnya, “Mengenai persoalan Hong giok, ijinkanlah kepada boanpwe menerima semua teguran itu nanti setelah urusan disini terselesaikan!”

Thia Siok bi kembali berpikir setelah ia dengar anak muda itu menyebut langsung nama Wan Hong giok, “Tampaknya ia memang menaruh benih cinta terhadap anak Giok, ya….moga- moga saja demikian, sehingga urusan pun lebih mudah diselesaikan”

Dia tidak banyak berbicara lagi, tubuhpun lantas mundur selangkah.

Setelah mengundurkan To koh berjubah abu-abu itu, Hoa In-liong baru berpaling dan sahutnya kepada Leng hou Ki, “Baiklah, jika engkau masih kurang puas mencicipi kelihayan ilmu pedang dari keluarga Hoa, aku Hoa loji pun tak akan menjadi orang kikir, mari akan kuberikan kepadamu sampai puas”

Lengan kanannya kembali bergerak pedang antik yang panjangnya mencapai empat depa itu segera diloloskan kembali.

“Jiko!” tiba-tiba Coa Wi-wi berseru kuatir, Hoa In-liong berpaling, dari sinar mata sang gadis yang jeli, dia sempat menangkap kegelisahan dan kekuatirannya, pemuda itu tahu bahwa gadis tersebut kuatir bila dia bukan tandingan dari Leng hou Ki. Maka diapun tertawa nyaring.

“Haaa…. haaahh…. haaahh…. adik Wi tak perlu kuatir, lihat saja kuringkus iblis tua dari Seng sut hay ini dengan pedang antikku….!”

Sampai disitu, mendadak ia berkata kembali, cuma kali ini kata katanya disampaikan dengan ilmu menyampaikan suara, “Berjaga-jagalah dimulut gua, Kongkong sudah banyak kehilangan tenaga murninya, sekarang beliau sedang bersemedi!”

Coa Wi-wi terkesiap mendengar keterangan itu, sebenarnya dia ingin menengok keadaan kongkong-nya, tapi niat tersebut segera diurungkan, pikirnya dalam hati, “Orang-orang Hian- beng-kauw dan Mo-kauw tentu mengira isi gua tersebut hanya Hoa jiko seorang, bila aku masuk kedalam sekarang, perbuatanku ini pasti akan mengundang kecurigaan orang”

Berpikir sampai disitu, dengan biji matanya yang jeli dia mulai memeriksa keadaan disekitar sana, tampak dua bersaudara Leng hou berdiri berjajar kurang lebih dua kaki dihadapannya, beberapa lang kah kemudian berdiri Beng Wi- cian beserta keempat orang kakek berbaju hitam.

Kurang lebih sepuluh kaki dari mereka adalah Toan bok See liang, ke empat orang Ciu Hoa serta tujuh puluh orang anggota Hian-beng-kauw, selain itu masih terdapat juga belasan orang jago Mo-kauw yang mengurung tempat itu rapat-rapat.

Beratus-ratus pasangan mata tersebut, semuanya tertuju keatas tubuh Hoa In-liong, ternyata tak seorangpun diantara mereka yang menengok ke arah gua. Tiba-tiba empat orang Ciu Hoa saling bsrpandangan sekejap, kemudian serentak tampil ke depan,

Toan bok See liang agak mengerutkan dahinya melihat kejadian itu namun ia tidak berusaha untuk menghalangi kepergian mereka.

“Bocah keparat!” terdengar Leng hou Ki berseru dengan wajah menyeringai seram, “karena terlalu gegabah, hampir saja aku jatuh kecundang ditanganmu. Hmm! Cuma…. kau tak usah tekebur dulu, lihat saja hasilnya nanti, siapa yang lebih jagoan diantara kita”

Hoa In-liong tertawa nyaring, tiba-tiba dia melancarkan sebuah tendangan ke arah kakek baju hitam yan tergeletak dimulut gua tanpa dihetahui mati hidupnya itu.

“Beng thamcu, sambutlah orangmu ini!” serunya.

Si kakek baju hitam yang berat badannya mencapai seratus kaki lebih itu seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, segera meluncur kehadapan Beng Wi-cian.

Diam-diam Beng Wi-cian mengerahkan tenaga dalamnya, ia putar lengan kanannya lalu menyambut tiba tubuh tersebut.

Apa yang dijumpai? Tubuh itu meluncur datang tanpa membawa daya tekanan apapun jua sekarang dia baru tahu jika tendangan yang dilancarkan Hoa In-liong barusan, pada hakekatnya hanya sebuah tendangan kosong belaka.

Tentu saja, kalau tendangan tersebut disertai tenaga yang amat besar, paling sedikit si kakek baju hitam yang terkena tendangan tadi bakal terluka parah atau paling sedikit tulang iganya akan patah dua tiga biji. “Hebat benar tenaga dalam si bocah keparat ini pikirnya kemudian dengan hati terkejut, “wah, kalau lwekangnya terus mendapat kemajuan sepesat ini, lama kelamaan dia pasti akan merupakan bibit bencana bagi kita semua”

Buru-buru dia periksa keadaan luka yang diderita kakek berbaju hitam tadi. Ketika itu seluruh wajahnya sudah dilapisi hawa hitam yang tebal, napasnya amat lemah, untung tenada dalamya cukup sempurna hingga masih tersisa sedikit hawa mumi yang melindungi denyutan jantungnya.

Kenyataan itu segera membuat paras muka Beng W i cian berubah jadi hijau membesi, dengan penuh kebencian diliriknya sekejap Thia Siok bi, namun tak sepatah katapun diucapkan.

Secara beruntun ia menotok jalan darah Gi bu Sin hong serta beberapa buah jalan darah penting lainnya didada kakek baju hitam itu, kemudian ia serahkan tubuh anak buahnya itu kepada seorang kakek yang ada disampingnya.

“Salurkan hawa murnimu ke tubuhnya, kita harus menunggu sampai diperolehnya obat penawar untuk menawarkan racun itu” demikian pesannya.

Kakek berbaju hitam itu mengiakan, lalu menyambut tubuh rekannya.

Dengan demikian dari pihak Hian-beng-kauw telah jatuh korban satu tewas tiga terluka parah, di tambah pula cemoohan serta ejekan dari Thia siok bi, kesemuanya itu membuat Beng Wi-cian merasa benci bercampur dendam, cuma sebagai seorang yang licik, panjang akalnya dan pandai menyembunyikan perasaan, semua perasaaa tersebut hanya disimpan dalam hati kecilnya saja. Dengan langkah lebar Hoa In-liong maju ke depan, ia baru berhenti kurang lebih beberapa tombak dihadapan dua bersaudara Leng-hou, setelah menyapu sekejap wajah kedua orang itu, katanya, “Kalian berdua akan maju bersama atau seorang demi seorang?”

“Bajingan cilik yang tak tahu diri….” maki Beng Wi-cian dalam hatinya, Tapi diluar ia tertawa tergelak, “Haaahh…. haaahhh…. haaahhh…. Hoa yang, ketahuilah ilmu silat yang dimiliki dua bersaudara Leng hou sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, tak mungkin kau bisa menandinginya.

Tidakkah kau merasa bahwa caramu yang sok dan mengibul hanya akan menurunkan derajat serta martabat keluarga Hoa?”

Ucapan itu mengandung hasutan dan berharap bisa mengadu domba musuhnya, sebagai jago yang berpengalaman tentu saja dua bersaudara Leng hou dapat merasakan hal itu, tapi mereka tidak menggubris….

Tiba-tiba Leng hou Ki berbisik kepada saudaranya dengan ilmu menyampaikan suara, “Loji, berjaga-jagalah terhadap ikut campurnya budak busuk she-Coa tersebut, aku hendak menggunakan kesempatan ini untuk membinasakan bangsat cilik she Hoa ini untuk melampiaskan rasa den dam yang sudah tak terbundung”

“Lotoa, apakah dalam gua masih ada orang lain?” tanya Leng hou Yu kemudian dengan ilmu menyampaikan suara pula.

Sambil berkata matanya seperti sengaja tak sengaja melirik sekejap kearah mulut gua yang tertutup oleh tumbuhan rotan.

Leng hou Ki termenung sebentar, kemudian menjawab “Ketika aku masuk kedalam gua tadi, sibangsat cilik dari keluarga Hoa segera menghadiahkan sebuah bacokan ketubuhku, hingga waktu itu aku tak sempat memperhatikan dengan lebih jelas lagi, ta pi aku rasa didalam gua masih ada seorang lagi, tapi kau tak usah kuatir, kecuali Hoa Thian-hong, siapa lagi yang perlu kita kuatirkan?”

Yaa, bagaimanapun pongah dan tinggi hatinya dua bersaudara Leng-hou, mereka tetap menaruh tiga bagian rasa segannya terhadap Hoa Thian-hong, terutama sejak pertarungan dipuncak Kiu ci san untuk memperebutkan harta karun, kelihayan kungfu yang dimiliki Hoa Thian-hong telah memecahkan nyali semua orang dari Seng sut pay.

Hoa In-liong yang cerdik sempat menyaksikan pula gerakan bibir kedua orang itu, dia tahu kedua orang manusia durjana tersebut sedang bercakap-cakap dengan ilmu menyampaikan suara, apa lagi setelah menyaksikan sorot mata mereka melirik sekejap ke mulut gua, kontan saja sianak muda itu tertawa tergelak.

“Haaahh…. haaahhh…. haaahh…. kalian tak usah melirik- lirik lagi didalam gua memang masih terdapat seorang tokoh persilatan yang maha lihay. Cuma jago silat itu enggan untuk turun tangan terhadap kamu berdua jadi kalianpun tak perlu kuatir

Sejak dulu Ciu Hoa lotoa paling benci menyaksikan sikap santai dari Hoa In-liong, rasa dendam dan sakit hatinya terhadap anak muda itu selalu menjadi ganjalan hatinya selama ini maka sehabis mendengar ucapan tersebut, ia tertawa dingin tiada hentinya. “Heeehhh…. heeehhh…. heeehhh….tokoh persilatan macam apakah itu?” ejeknya, “kongcu ya mu tidak percaya kalau dia begitu hebat!”

Sambil meloloskan pedang, selangkah demi selangkah dia maju menuju ke mulut gua.

Paras muka Hoa In-liong segera berubah membesi, dengan sekali lompatan tahu-tahu dia sudah menghadang dihadapan Ciu hoa lotoa.

“Ciu toa kongcu!” tegurnya, “disini masih hadir sekian banyak jago persilatan yang jauh lebih lihay daripadamu darimu!”

Ucapan tersebut ditanggapi sebagai suatu penghinaan oleh Ciu Hoa lotoa, kemarahannya kontan saja memuncak, sambil bersuit nyaring tiba-tiba ia lancarkan bacokan maut ke depan.

Sedetik miringkan tubuhnya, Hoa In-liong berhasil memunahkan datangnya ancaman tersebut, kembali dia mengejek, “Kalau cuma seorang diri, sudah jelas kau bukan tandinganku, lebih baik suruh saja saudara-saudara seperguruanmu untuk maju bersama-sama!”

Kalau cuma diejek saja masih mendingan, Ciu Hoa Lotoa merasa lebih sakit hati lagi karena sikap anak muda itu yang santai dan sedikitpun tidak pandang sebelah mata kepadanya.

Namun diapun sadar bahwa kepandaian silat yang dimilikinya memang bukan tandingan lawan, sebab itu ucapan tersebut segera ditanggapi dengan cepat.

“Lo sam, hayo kalian maju bersama!” teriaknya. Semenjak tadi ketiga orang Ciu Hoa yang lain memang telah bersiap sedia untuk turun tangan, mendengar panggilan itu serentak mereka loloskan pedang sambil maju ke muka.

Beng wi-cian menggetarkan bibirnya seperti hendak menghalangi perbuatan mereka, tapi niat tersebut tiba-tiba diurungkan kembali.

Tiba-tiba Leng hou Yu berteriak dengan nada dingin, “Kurangajar, kalian bocah bocah yang tak tahu diri berani benar mencampuri urusan dari kami berdua!”

Dengan marah dia kebaskan lengan kanannya, pukulan itu dimaksudkan untuk melemparkan Ciu Hoa berempat dari gelanggang pertarungan.

Leng hou Ki yang jauh lebih licik segera berpikir, “Bila ditinjau dari tenaga dalam yang dimiliki bangsat cilik dari keluarga Hoa ini, agaknya jaub berbeda sekali dengan apa yang tersiar dalam dunia persilatan, Ong sute mengatakan bahwa dia sudah terkena racun ular keji, kenapa paras mukanya tampak segar bugar? Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak beres?”

Berpikir sampai disitu, timbullah niatnya untuk menyelidiki lebih dulu sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki Hoa In-liong. Maka diapun berseru, “Loji jangan terburu napsu! Biarkan saja mereka menjajaki lebih dulu kepandaian silat yang di miliki bocah keparat dari keluarga Hoa itu, kemudian kita baru membereskan dirinya”

Sementara pembicaraan itu berlangsung, keempat orang Ciu Hoa telah mengepung Hoa In-liong rapat-rapat. Tanpa banyak berbicara Ciu Hoa lotoa menggetarkan pedang mustikanya lalu ditusukkan langsung ke dada Hoa In- liong, bentaknya, “Hoa loji, serahkan nyawa anjingmu!”

Dengan suatu tangkisan seenaknya, Hoa In-liong mematahkan serangan tersebut, kemudian tertawa nyaring.

“Haah…. haahh…. haahh…. jangan tekabur kawan, nyawa milik Hoa loji tidak gampang kau renggut dengan begitu saja!”

“Siapa bilang sukar? Lihat saja serangan ini!” bentak Ciu Hoa kelima sambil membacok punggung anak muda itu.

Hoa In-liong mengtgos kesamping kemudian memutar badannya melepaskan diri dari ancaman.

“Masa gampang?” kembali dia mengejek,” aku lihat kepandaian yang kalian miliki masih tertinggal jauh”

Begitu Ciu Hoa lotoa dan Coa Hoa longo turun tangan, Lo sam serta Lolak ikut menggerakkan pula senjatanya untuk melancarkan serangan.

Pada hakekatnya, tenaga dalam yang dimiliki empat orang Ciu Hoa itu cukup sempurna, terutama kerja sama mereka dalam melakukan pengepungan, maju mundur menghindar maupun menyerang semua dilakukan dengan sangat beraturan, atau dengan perkataan lain mereka sudah terbiasa melatih kerja sama tersebut tiap harinya. Cahaya pedang hawa serangan yang dihasilkan kelihatan amat mengerikan.

Seluruh senyuman manis tetap menghiasi ujung bibir Hoa In-liong, sekalipun dia harus menghadapi tekanan dari empat bilah pedang mustika, tapi tubuhnya masih tetap berkelebat kesana kemari dengan entengnya, jangankan melukainya, untuk menjawil ujung bajunya saja sudah sukarnya bukan kepalang.

Berkenyit sepasang alis mata Beng Wi-cian, segera pikirnya, “Walaupun dihari-hari biasa beberapa orang bocah keparat itu sombong dan tinggi hati, ternyata ilmu silat mereka memang cukup tangguh, terutama kerja sama mereka berempat, aku sendiripua belum tentu bisa menghadapi secara gampang tapi bocah keparat dari keluarga Hoa itu….”

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa hatinya jadi tercekat.

Lain halnya dengan Coa Wi-wi, dia sangat gembira dengan kejadian tersebut, pikirnya, “Tak kusangka tenaga dalam jiko telah mendapat kemajuan sepesat ini, entah dengan cara apa kongkong membantu dirinya….?”

Setengah harian masalah itu ia lamunkan, akhirnya gadis itu berkesimpulan kecuali minum obat Yau ti wan rasanya tiada cara lain yaug bisa menghasilkan manfaat sebesar ini.

Lama kelamaan dia enggan untuk berpikir lebih lanjut, pokoknya semakin tinggi ilmu silat yang di miliki Hoa In-liong semakin senang pula dirinya.

Pelan-pelan dia alihkan kembali perhatiannya ketengah gelangang, mengawasi ujung baju Hoa In-liong yang berkibar terhembus angin dan tubuhnya yang bergerak maju mundur tak menentu.

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh jagad, tiba- tiba berkumandang suara merdu yang empuk dan penuh daya pikat, “Toako ini, bersedia memberi jalan lewat untuk ku bukan?” Kecuali lima orang yang sedang terlibat dalam pertarungan, hampir semua yang lain paling kepalanya kearah mana berasalnya suara itu.

Entah sendiri kapan, diluar kepungan orang orang Hian- beng-kauw dan Mo-kauw telah kedatangan serombongan anak dara yang rata-rata berparas cantik jelita.

Ada yang berbaju kuning telor, ada yang memakai baju merah membara, ada juga yang memakai baju warna hijau pupus, pakaian yang berwarna warni serta paras muka yang cantik jelita menambah semaraknya suasana disekitar tempat itu.

Rombongan anak anak dara itu dipimpin oleh seorang gadis berbaju ungu, dia mempunyai mata yang memikat, hidung yang mancung dan bibir yang kecil mungil, meski cantik, sayang dara itu genit. Dialah yang buka suara barusan.

Sebetulnya kawanan jago Hian-beng-kauw yang berada disekitar sana hendak menghalangi jalan pergi mereka, tapi setelah dikerling sekejap oleh nona berbaju ungu itu, entah apa sebabnya perasaan mereka jadi kebat kebit tak karuan, dan tanpa disadari pula serentak mereka mengundurkan diri serta memberi jalan lewat bagi rombongan gadis-gadis itu.

Bau harum semerbak serasa menusuk hidung, di antara gaun-gaun yang bergesek badan, serombongan gadis gadis cantik itu sudah melewati mereka.

Setengah jalan sudah dilewati ketika seorang anggota Hian- beng-kauw tiba-tiba menjadi sadar kembali dari lamunan, dia membentak keras lalu melarcarkan sebuah pukulan ke tubuh seorang dara berbaju kuning. Dengan gesit nona berbaju kuning itu berkelit kesamping, lalu tertawa cekikikan.

“Hiiihh…. hiiihh…. hiiih…. jahat betul toako ini, jadi seorang semestinya berjiwa besar, masa rumpang lewat saja tak boleh?”

Saputangan berwarna kuaing telor yang ada ditangannya itu segera diayun kemuka….

“Aaaah….” jago Hian-beng-kauw itu mengeluh, tahu-tahu tubuhnya sudah roboh terkulai ditanah, terkulai lemas.

Peristiwa ini mendatangkan kebebohan ditempat itu, kawanan jago Hian-beng-kauw lainnya sama-sama membentak marah, dilihat gelagatnya mereka hendak turun tangan bersama.

“Biarkan mereka masuk!” tiba tiba Toan bok See liang membentak.

Dengan genit nona cantik berbaju ungu yang merupakan kepala rombongan itu mengerling sekejap kearah Toan bok See liang, kemudian tertawa merdu.

“Ehmm….! Toan bok cianpwe memang tak malu menjadi Thamcu markas besar Hian-beng-kauw, baik kebesaran jiwanya maupun ketegasannya memang cukup mengagumkan hati orang”

“Hmmm….!” Toan bok See liang mendengus, hawa murninya dikerahkan untuk bersiap sedia melancarkan serangan, “nona tak usah memuji, aku tidak berjiwa besar, justru engkaulah terlalu keji, nah nona, hati-hatilah!” “Aduuh mak….” nona berbaju ungu itu cekikikan, “garang amat ucapan Toan bok thamcu, sampai siau-li jadi ketakutan setengah mati, untung nyawaku tak sampai rontok, coba tidak…. aku bisa ambil langkah seribu….”

“Hmm….! Mau mengambil langkah seribu? Terlambat!” tukas Toan bok See liang ketus, “ku anjurkan kepada nona, lebih baik menunggu saja disini dengan tenang!”

Setelah berhenti sebentar ia bertanya lagi, “Engkau berasal dari perguruan mana? Siapa namamu? Hayo cepat akui terus terang, kalau tidak…. awas kamu!”

Nona berbaju ungu itu memutar sepasang biji matanya, tiba-tiba sambil menutupi mulut sendiri dia cekikikan.

“Hiiihh…. hiiihh…. hiiih…. aku tak punya perguruan juga tak punya partai, soal nama….”

Kata itu sengaja ditarik panjang, kemudian tertawa cekikikan lagi, “Hiihhh…. hiiihhh…. hiiihh….soal nama sih ada dua. Entah Toan bok toa thamcu ingiu mengetahui yang mana?”

“Siapa gerangan perempuan-perempuan itu?…. Toan bok See liang mulai berpikir, tampaknya sesat amat…. Hmm! Aku tak percaya kalau beberapa orang dayang cilik itu bisa menimbulkan obat tanpa berhembusnya angin….”

Berpikir sampai disitu, dia lantas mendengus dingin dan tidak berbicara lagi.

Sementara itu kawanan nona-nona tadi sudah memasuki gelanggang, sedangkan para jago dari Hian-beng-kauw dengan cepat menutup kembali pergepungan mereka yang terbuka itu. Terhadap gerakan orang-orang Hian-beng-kauw, nona berbaju ungu itu tidak ambil perduli, malah melirikpun tidak, dengan langkah yang santai dia mendekati Beng Wi-cian berlima dan berhenti dua kali dihapannya….

Beng Wi-cian tak berani memandang enteng mereka, dengan cepat ia mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak inginkan kemudian ujarnya dengan ketus, “Nona, sebetulnya engkau adalah sahabat atau musuh kami? Tolong berilah penjelasan, daripada lohu sampai menyalahi orang sendiri, akhirnya kan sama-sama tak enaknya”

Nona berbaju ungu itu tertawa.

“Terus terang kami katakan, sebenarnya siau-li ingin menyanjung kelompok yang dipimpin keluarga Hoa, sayang manusia semacam kami ini tak pantas untuk bergabung dengan mereka!”

“Hmm, kata-kata ini ada benarnya juga” pikir Beng wician, “diantara kelompok kaum pendekar yang menganggap dirinya adalah golongan lurus, tentu saja tak mungkin ada manusia manusia genit yang jalang seperti mereka….”

Karena berpendapat demikian, tanpa terasa ia bertanya lagi, “Jadi, kalau begitu nona sekalian adalah sahabat-sahabat perkumpulan kami?”

Nona berbaju ungu itu tertawa cekikikan.

“Sayang, kamipun tak sudi bergerombol dengan manusia- manusia macam setan seperti kalian” “Budak keparat!” kontan saja Beng Wi-cian membentak marah.

Telapak tangannya segera diayun siap melancarkan serangan, tapi ingatan lain dengan cepat mengurungkan niatnya itu.

“Beberapa orang dayang itu tak perlu terlampau dikuatirkan” demikian pikirnya,” yang mengherankan justru munculnya perkumpulan mereka itu, kenapa kami tak tahu menahu tentang organisasi tersebut? Seperti juga keluarga Coa, suatu keluarga yang tak kedengaran namanya tapi berpihak kepada lawan, aku musti waspada…. “

Sementara itu, Coa Wi-wi sudah menaruh perhatian juga kepada beberapa orang gadis itu, dia lihat diantara mereka terdapat pula ketiga orang nona yang pernah dijumpai dirumah makan Cwan seng lo tempo hari, waktu itu mereka tersenyum kearahnya tapi tidak menyapa.

Mengertilah Coa Wi-wi bahwa orang-orang Cian Li kau memang sengaja munculkan diri dengan membawa maksud- maksud tertentu, maka dia sendiripun berpura-pura tidak kenal, tapi kepada Thia Siok bi nona itu berbisik lirih, “Cianpwe, mereka adalah orang orang Cian li kau, sahabat kami bukan musuh!”

“Thia Siok bi melirik sekejap kearah rombongan gadis-gadis itu, lalu menjawab, “Aku lihat gadis-gadis itu semuanya bertampang genit dan jalang, sudah pasti bukan berasal dari golongan lurus, mana bisa menjadi sahabat kita?”

“Apa salahnya?” seru Coa Wi-wi dengan gelisah, kaucu mereka adalah seorang perempuan yang berwatak baik hati dan setia dalam cinta” Pada dasarnya gadis itu memang cantik bak bidadari dari kahyangan, waktu bicara membawa kemanjaan yang membuat orang jadi gemas, sekalipun Thia Siok bi menaruh maksud tertentu kepadanya, tak urung juga semua ketidak kesenangan hatinya tersapu lenyap, ia tersenyum lirih.

“Nak, jalan pikiranmu terlalu sederhana, jangan toh seorang guru yang budiman sukar mencegah munculnya murid yang jahat, sekalipun seorang yang setia pada cintanya, belum tentu mewakilkan kesetiaannya kepada orang lain….”

Tiba-tiba ia menghela napas dan membungkam.

“Jadi tidak baikkah orang yang berwatak terbuka dan setia pada cintanya?” tanya Coa Wi-wi sambil membelalakan sepasang matanya.

“Aaai….bocah ini terlampau polos?” pikir Thia Siok bi didalam hati, aku tak boleh mempengaruhi hatinya yang suci dan bersih itu….”

Maka sambil tersenyum katanya” “Pinto kan tidak bilang tak baik!”

Setelah berhenti sebentar, ketika dilihatnya Coa Wi-wi masih berniat untuk bertanya lebih lanjut, maka ia berkata kembali, “Coba lihatlah, jikomu sebenarnya masih mempunyai tenaga lebih, entah mengapa ternyata ia tak mau cepat-cepat meringkus keempat orang bocah keparat itu”

“Yaa, siapa yang tahu?” sahut Coa Wi-wi seraya berpaling sekejap kearah anak muda itu.

Dalam pada itu, si nona baju ungu yang berada dikejauhan sedang mengawasi Coa Wi-wi dari atas kepala sampai ke kakinya dengan pandangan mata yang jeli, kemudian gumamnya dengan suara lirih, “Yaa…. dia betul-betul seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, aku si kuntum bunga yang sudah ternoda ketinggalan sangat jauh bila dibandingkan dirinya”

Kegenitan dan kejalangannya hampir tersapu lenyap, malah matanya berkaca-kaca seperti mau menangis, tampaknya ia merasa amat menyesal dengan keadaan pribadinya.

Si nona baju hijau yang ada disisinya ikut menghela napas. “Toa cici!” bisiknya, “kau….”

“Ji sumoay tak usah banyak bicara, aku mempunyai perhitungan sendiri” jawab nona baju ungu itu tiba-tiba.

Ucapan tersebut menyebabkan si nona baju hijau menjadi tertegun, tapi dia tak berani berbicara lagi dan segera membungkam diri.

Nona baju ungu itu menghela napas ringan, mendadak keseriusan wajahnya lenyap dan kebinalan serta kejaiangannya muncul kembali.

“Hoa kongcu….” panggilnya dengan lirih.

Waktu itu Hoa In-liong sedang bertarung melawan kerubutan empat bilah pedang antik, walaupun dikerubuti banyak orang, ia masih bisa bergerak kesana kemari dengan tenangnya.

Sejak munculnya rombongan anak-anak dara itu, dia sudah mengetahui kalau si nona berbaju ungu adalah Cian In, murid pertama dari Pui Che-giok. Tersenyumlah dia setelah mendengar panggilan tadi. “Baik-baiklah engkau nona Cia!” sapanya pula.

Pedang antiknya dibabat kedepan, bentrokan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, secara beruntun ia telah singkirkan pedang dari Ciu Hoa lo sam dan Ciu Hoa Lo liok.

Setelah itu ujarnya lagi, “Nona Cia, panggilan itu rasanya kurang mesra, bagaimana kalau kita kembali saja pada panggilan pertama ketika baru berkenalan dulu?”

Cia In tertawa cekikikan, tiba-tiba panggilnya, “Engkoh Khi!”

“Yaa, enci In!” sahut pemuda itu.

Setelah berhenti dia berkata lagi, “Kau toh sudah tahu jika aku tidak bernama Pek Khi, kenapa nama itu juga yang kau pakai?”

Pembicaraan berlangsung santai diiringi gelak tertawa yang riang, keadaan semacam ini mana mirip suatu keadaan pertarungan yang sengit? Merasa dianggap enteng oleh musuhnya, keempat orang Ciu Hoa itu naik darah dan marah- marah besar, tapi percuma saja kemarahan itu karena tidak membantu keadaan.

Cia In tertawa cekikikan.

“Anggap saja sebagai suatu kenangan!” sahutnya.

Beng wi-cian yang mengikuti berlangsungnya adegan itu diam-diam mulai berpikir, “Dua orang muda mudi itu, yang satu adalah jago perempuan yang berpengalaman luas sedang yang lain adalah perempuan jalang dari golongan rendah…. heeeh…. heehh…. heeehh…. dilihat dari cara mereka bergaul, tampaknya sebelum ini sudah terjalin suatu hubungan yang cukup hangat. Kendatipun demikian, berbicara dari kedudukan serta nama baik keluarga Hoa adalah dunia persilatan, tak mungkin mereka bersedia menerima perempuan macam begitu sebagai menantu nya…. akhirnya lantaran cinta tentu akan menimbulkan dendam, haaahh…. haahh…. haaahh….peristiwa tersebut tentu akan merup-akan suatu tontonan yang amat menarik!”

Rupanya Thia Siok bi juga mempunyai pandangan yang jelek atas diri Cia In, alis matanya tampak berkenyit setelah menyaksikan adegan mesra itu diam-diam ia menyumpah dihati, “Telur busuk, bocah keparat dimana-mana main perempuan bikin tak sedap pandangan saja….”

Kepada Coa Wi-wi yang berada disisinya ia lantas berkata, “Bukan ingusan, mengapa tidak kau urus si bocah keparat telur busuk itu?”

“Siapa?” seru Coa Wi-wi setelah tertegun sejenak. Tapi ucapan itu segera dipahami, katanya pula.

Cianpwe maksudmu jiko ku? Kenapa aku musti urusi jiko?

Apa yang jiko suka akupun ikut menyukai, apa yang dia senangi aku ikut pula senang, aku tahu jiko amat cerdik, tindakan secara perbuatannya pasti tak akau keliru”

“Bodoh amat engkau si budak ingusan!” pikir Thia Siok bi.

Tapi ia merasa kagum dan tertarik juga oleh ketulusan cinta serta kejujuran dan kepolosan waktu dara itu, ini membuat rasa sayangnya terhadap gadis itu makin bertambah. Terbayang kembali keadaan muridnya, satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya.

“Andaikata pinto berharap agar muridku bisa hidup bersama dengan kalian, apakah kau dapat menerimanya dengan senang hati?”

“Cianpwe maksudkan enci Wan?” sorak Coa Wi-wi kegirangan, “sejak semula aku sudah memaksa enci Wan agar tetap tinggal bersama kami, tapi dia tak mau. Tentu saja gembira hatiku bila enci Wan mau berkumpul bersama kami”

Diam-diam Thia Siok bi merasa girang setelah mendengar perkataan itu, harapannya timbul kembali, tapi terbayang kembali keadaan Wan Hong giok sekarang, dia berpikir lagi, “Hati manusia gampang berubah, siapa tahu pikirannya dikemudian hari akan berubah, aaai…. sudah pasti anak Giok yang berada di pihak yang kalah. Hmm! Jika sampai begitu, bukankah dia akan bertambah tersiksa….?”

Untuk sesaat dia gembira karena muridnya masih ada harapan, tapi terbayang kembali betapa Wan Hong giok telah ternoda, ia merasa murung, kesal dan bersedih hati.

Tiba-tiba keheningan dipecahkan oleh teriakan Leng hou Yu yang tak sabar lagi, “Hei empat bocah keparat dari Hian-beng- kauw, kepandaian silat kalian sangat terbatas, apa gunanya musti bersusah payah memaksakan diri? Hayo cepat mundur, daripada menjual malu saja disitu!”

Malu dan gusar bercampur aduk dalam perasaan keempat orang Ciu Hoa itu, Ciu Hoa lotoa segera membentak keras, “Lo sam, Lo ngo, kita tak usah sungkan-sungkan lagi, bunuh saja keparat itu!” Tubuhnya segera berputar kencang, permainan pedangnya ikut berubah juga, tampaklah cahaya tajam berkilauan memenuhi seluruh angkasa sebentar muncul disebelah kiri sebentar lagi muncul disebelah kanan, ibaratnya ular yang sedang berjalan berliuk-liuk, sungguh hebat dan membingungkan hati.

Menyaksikan kelihayan tersebut, semua penonton mulai tertarik dan wajah mereka rata-rata berubah hebat, demikian pula keadaannya dengan Coa Wi-wi serta Thia Siok bi, jantung mereka terasa berdebar keras saking kagetnya.

Hoa In-liong yang harus menghadapi serangan sedahsyat itu, dalam hati segera berpikir, “Ilmu pedang yang mereka gunakan amat ganas tajam dan luar biasa, berbeda sekali dengan permainan ilmu pedang pada umumnya, masih untung tenaga dalam mereka amat lemah hingga kepandaian yang maha dahsyat itu masih belum bisa mengapa-apakan diriku, tapi kalau sampai bertemu sendiri dengan Hian-beng Kaucu…. waaah, tentu berbahaya sekali!”

Berpikir sampai disitu, timbullah niatnya untuk memperhatikan sumber aliran dari permainan ilmu pedang itu, agar sedikit banyak dalam hatinya sudah mempunyai gambaran tentang permainan ilmu pedang tadi. Asal sudah ada gambarannya, bila sampai bertemu lagi dikemudian hari, diapun tak usah kuatir terjerumus ke dalam jebakan musuh….