Rahasia Hiolo Kumala Jilid 29

Jilid 29

KAU suruh ibu terjun kembali ke dalam dunia persilatan, apakah perbuatan itu tidak melanggar pesan leluhur? Apalagi dalam pesannya cousu hanya mengatakan bahwa pil itu tak boleh digunakan jikalau tidak berada dalam keadaan antara mati dan hidup, beliau kan tidak menyinggung soal lainnya. Kini jiko terkena racun ular sakti yang amat keji, keadaannya boleh dibilang sudah mencapai keadaan yang amat kritis!”

Kok Hong seng selama ini hanya membungkam saja, kini tunjunkan pula perasaan sangsinya.

Hoa In-liong sendiri agak tertegun, tapi sesaat kemudian ia telah memahami keadaan yang sebenarnya.

“Liong-ji percaya hatiku tulus dan jujur, aku berani bersumpah dihadapan langit dan bumi, buat apa kongkong menolaknya terus? Ataukah meski Yau it wan dapat punahkan racun ular sakti, namun akan mendatangkan juga kerugian?” katanya.

Diam-diam Goan-cing taysu memuji akan kecerdasanya serta kecepatannya dalam bereaksi. Ia tersenyum.

“Bagaimanakah keadan yang sebenarnya, aku belum dapat mengatakanya secara pasti, hal ini harus kuketahui lebih dahulu dari keadaan dikala racun tersebut mulai kambuh”

Hoa In-liong tahu bahwa hal tersebut tentu benar, maka jawabnya, “Ketika kambuh, isi perutku terasa sakit sekali, seakan-akan digigit oleh ular beracun yang tak terhitung jumlahnya!”

Mendenar jawaban tersebut, Goan cing taysu menujukkan perasaan kecewanya.

“Hanya begitu saja?” ia bertanya.

“Kongkong tampaknya kau merasa penderitaan yang dialaminya itu kurang payah yaa?” seru Coa Wi-wi dengan dahi berkerut.

Hoa In-liong yang menangkap kekecewaan orang lantas berpikir, “Tampaknya aku tak bisa berbohong lagi, semuanya harus kukatakan secara sejujurnya!”

Setelah merenung sebentar katanya kemudian seakan-akan tak pernah menderita, “Aku hanya merasa hawa murni dalam nadi-nadiku berjalan tak lancar, seperti ada seperti juga tak ada, tersendat-sendat seperti mau putus, hawa darah bahkan mengalir secara terbalik, justru ilmu Bu kek teng heng sim hoat paling serasi untuk keadaan semacam ini, maka itu ketika Liong-ji menekan racun tersebut dengan menggunakan kepadaian itu, sama sekali tidak merasakan gangguan apa- apa”

“Jiko, mengapa tidak kau katakan keadaan seperti itu kepadaku?” jerit Coa Wi-wi.

Hoa In-liong tersenyum.

“Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak apa-apa?

Urusan sepele semacam itu tak ada perlunya untuk dikatakan kepadamu” Sekalipun ucapan tersebut diutarakan dengan nada yang enteng, Coa Wi-wi bukan orang bodoh, sudah tentu ia mengetahui betapa seriusnya keadaan, tanpa terasa air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya, kepada Goan cing taysu pintanya, “Gwakong, sudah tentu kau punya cara baik untuk mengatasi keadaan semacam itu bukan?”

Betapapun sempurnanya tenaga dalam yang di miliki Goan cing taysu, betapapun teguhnya imam pendeta tersebut, tak urung rasa girangnya tercermin juga diatas wajahnya.

“Anak bodoh, wahai anak bodoh” ia berbisik, “tahukah kau, lantaran bencana jikomu mendapat rejeki, untuk gembirapun tak sempat masa kau malah bersedih hati?”

Coa Wi-wi merasa setengah percaya setengah tidak. “Tiada bencanapun sudah merupakan suatu keruntungan

yang luar biasa, darimana datangnya rejeki? Kongkong

bukanya lagi membohongi orang kan….?”

Ketika dilihatnya paras muka Hoa In-liong tetap tenang tanpa perubahan, kembali Goan cing taysu menghela napas.

“Bocah ini betul-betul seorang manusia yang berbakat, bagaimanapun jua harus kucarikan sebuah akal yang bagus untuk mengubah waktu romantisnya yang berlebihan, agar ia menjadi seorang pemuda yang benar-benar sempurna”

Harus diketahui Goan cing taysu adalah seroang laki-laki yang jujur dan memegang teguh tradisi, ia merupakan seorang manusia yang tak berani melanggar batas-batas sosial, karena itu melihat Hoa In-liong yang gemar bermain perempuan, nomor satu ia merasa paling tak betah. Kendatipun ia pintar ia berpengalaman dan punya banyak akal, pikiran punya pikir toh tak berhasil menemukan cara yang tetap, maka sewaktu dilihatnya Coa Wi-wi lagi uring- uringan karena pertanyaannya tidak dijawab, tertawa pendeta ini.

“Anak bodoh, buat apa kongkong membohongi dirimu?”katanya.

“Tapi bagaimana mungkin lantaran bencana mendapat rejeki, Kongkong, cepat terangkan kepada ku!”

Berbicara sampai disitu, ia berpaling dan melotot sekejap kearah Hoa In-liong dengan gemas, seakan-akan ia tunjukkan ketidak senangnya lantaran pemuda tersebut telah mengelabuhi dirinya dalam soal yang maha penting itu.

Pelan-pelan Goan cing-taysu berkata, “Hal ini justru menyangkut tentang ilmu Bu khek teng beng sim hoat dari keluarga kita, kepandaian tersebut mempunyai aliran yang bertolak belakang dengan kepandaian pada umumnya, lagipula cara berlatihnya juga kebalikan….”

Sebetulnya pendeta itu hendak memberi keterangan yang terperinci, namun Coa Wi-wi tidak sabaran, ia segera menukas dengan aleman, “Sudahlah, sudahlah, kongkong tak perlu berkuliah panjang lebar lagi, jiko telah mengatakah kesemuanya itu kepadaku”

Goan cing taysu benar-benar pusing dibuatnya, dengan perasaan apa boleh buat dia hanya bisa mengeluh, “Yaaa, ibumu terlalu memanjakan engkau sehingga terciptalah tabiat yang jelek!”

Sesudah tarik napas, ia berkata kembali, “Singkatnya saja, Bu kek teng heng sim hoat terbagi dalam tiga tingkatan, tingkat pertama adalah Ni khi heng kang yakni mengalirkan hawa murni berkebalikan dengan aliran darah, bila hawa murni sudah dapat dikuasai sehingga berjalan balik dengan arah aliran darah, orang baru dapat meningkat kepelajaran kedua yang disebut Huay hi-an pau tin (menyimpan hitam memeluk asli) tingkat ketiga merupakan pelajaran tersulit tingkat ini disebut Ji khek bun lun (dua kutuh bersatu padu) dalam tingkatan ini aliran yang searah dari aliran yang berlawanan arah harus mengalir dalam perpaduan yang sama dalam keadaan demikianlah Bu khek teng heng baru dikatakan telah mencapai pada puncaknya”

“Tanpa anak Wi musti katakan, semua orang juga tahu, kau orang tua tentu berhasil mencapai tingkatan yang tak terhingga ini pada tingkat pelajaran yang kedua bukan?” ujar Coa Wi-wi.

Goan cing taysu tersenyum.

“Lautan pelajaran tak bertepian, ilmu silat tiada ujung batasnya, siapakah yang sanggup mencapai tingkatan tertinggi yang tak terhingga? Yang dinamakan Tay khek, tiada yang tidak paling tinggi, tiada yang tidak paling rendah, anak Wi! Mengertikah engkau?” 

“Anak Wi tidak mengerti” Coa Wi-wi gelengkan kepalanya berulang kaii, “anak Wi cuma ingin bertanya kepada dua orang tua, sampai ketingkatan berapakah kau orang tua melatih ilmumu? Buat apa kau katakan ujar-ujar yang maknanya susah dimengerti itu?”

“Kongkong sendiri belum pernah berhasil menembusi tingkatan Ji-khek hun lun untuk mencapai tingkatan Bu khek teng neng, tapi jikomu….dalam waktu yang amat singkat akan berhasil mencapai tingkatan tersebut….” “Aaah….! Mana mungkin?” kontan Hoa In-liong membantah, “kongkong yang memiliki tenaga dalam hasil latihan selama tujuh-delapan puluh tahun saja belum bisa mecapai tingkatan itu, apa lagi Liong-ji yang tak becus ini?”

“Waktu Say-yang kehilangan kudanya, apa dia tahu bakal mendapat rejeki?”

“Kunci terutama dalam hal ini justru terletak pada racun ular keki yang kau idap itu”

“Waaah…. kalau memang begitu gampang sekali!” seru Coa Wi-wi dengan wajah barseri, “lain kali akan kucari racun ular sakti dan akan kubiarkan badanku terkena, dengan demikian bukankah aku juga dapat melihat diri hingga mencapai tingkatan Ji khek hun lun”

Goan-cing taysu tertawa lebar lalu gelengkan kepalanya berulang kali.

“Aaaah….! Masa segampang itu? Kalau sungguh demikian, kongkong juga pingin melatih diri hingga mencapai ke tingkatan yang amat tinggi! Kenapa tidak mencari racun ular sakti kemudian melatih diri….?”

Sesudah berhenti sebentar, dengan wajah serius katanya lebih jauh, “Liong-ji, walaupun begitu soal berhasil atau tidak masih sukar untuk dibicarakan, dan lagi untuk menembusi rintangan tersebut harus mengalami siksaan serta penderitaan yang tak terhingga, bagaimana pendapatmu….?”

Hoa In-liong sendiri meskipun merasa gembira bercampur terharu setelah mengetahui bahwa lantaran bencana mengakibatkan datangnya rejeki baginya, namun paras mukanya tetap tenang seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apapun, apalagi setelah mendengar perkataannya yang terakhir, kendatipun gembira juga karena tenaga dalamnya bisa mencapai tingkatan yang tak terhingga, diapun takut sebab menurut Goan cing taysu akan mengalami siksaan serta penderitaan yang tak terkirakan.

Setelah berpikir sejenak, dengan penuh rasa hormat ia menyahut, “Liong-ji siap mendengarkan keputusan dari kongkong!”

“Bagus! Soal ini tak perlu ditunda lagi, sekarang juga kita berangkat ke bukit Mo san!”

Seraya berkata dia lantas bangkit berdiri dan bersiap sedia untuk berangkat.

Waktu itu sudah kentongan kelima, fajar baru menyingsing diufuk timur, baru saja si dayang Huan-ji memadamkan lampu lentera ketika Goan cing taysu siap berangkat.

Kok Hong seng menggerakkan bibirnya seperti mau menghalangi kepergian majikan tuanya, tapi ia tak berani berkata apa-apa, niatnya segera dibatalkan.

Coa Wi-wi paling tidak ambil gubris segala tata cara, dicekalnya ujung baju Goan cing taysu dan rengeknya dengan wajah memelas, “Oooh…. kongkong yang baik, kenapa tidak kau latih jiko dirumahku ini saja?”

“Tidak bisa!” jawab Goan cing taysu sambil gelengkan kepalanya, “tempat ini merupakan kota besar yang ramai dengan segala macam manusia, kebanyakan iblis dan kaum gembong perkumpulan sesat terhimpun disini, tempat seperti itu bukan tempat yang cocok untuk berlatih silat”

“Kalau begitu anak Wi boleh ikut bukan?” desak si nona. “Siapa saja boleh ikut pergi, cuma kau seorang yang tak boleh!” tukas Goan cing-taysu.

“Kenapa?” Coa Wi-wi kontan saja melototkan matanya lebar-lebar.

Goan cing-taysu menggerakkan bibirnya seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi ia tidak memberi penjelasan apa- apa.

Yang terutama ditakuti paderi ini adalah membiarkan gadis itu menyaksikan penderitaan serta siksaan yang dialami Hoa In-liong sewaktu berlatih ilmu, ia kuatir gadis itu tega dan mengakibatkan kerugian bagi Hoa In-liong.

Hoa In-liong yang ikut bangkit bersamaan dengan berdirinya Goan-cing taysu tadi, saat itu mendadak berseru, “Kongkong….”

Goan cing taysu berpaling kearahnya, alis matanya yang putih tampak berkerut, kemudian sahutnya, “Kulihat kau ada sesuatu yang hendak diutarakanu, Nah, katakan terus terang!”

Hoa In-liong tertawa jengah,

“Malam nanti Liong-ji masih mempunyai janji dengan Bwee Su-yok Kiu-im-kauwcu yang berkuasa saat ini, perempuan itu sedianya akan diadakan di kantor cabangnya untuk kota Kim- leng….”

“Yang paling penting buatmu sekarang adalah menambah kesempurnaan tenaga dalammu” tukas Goan cing-taysu, “lebih baik janji itu dibatalkan saja!” Hoa In-liong berpikir sebentar, lalu berkata lagi, “Liong-ji pikir, hidup sebagai manusia yang paling penting adalah pegang janji….”

Coa Wi-wi juga ingin berkumpul lebih lama lagi dengan pemuda itu, meskipun ia tak setuju kalau Hoa In-liong penuhi janji tersebut, toh saat ini katanya juga, “Kongkong, waktu tak akan terbuang dengan begitu saja, sekalipun tertunda satu dua hari toh ilmu tersebut dapat dilatih juga?”

Goan ciog taysu menyapu sekejap wajah kedua orang itu, kemudian dengan senyum penuh berarti jawabnya, “Baiklah, aku saja yang mengalah! Nah, anak Liong tengah malam nanti kunantikan kedatangan mu di pagoda Yu hoa tay, lolap pergi dulu!”

Begitu ucapan terakhir diutarakan, semua orang merasa pandangan matanya jadi kabur dan tahu-tahu Goan cing taysu sudah lenyap dari hadapan mereka.

Waktu datang tidak menimbulkan suara, waktu pergi tidak meninggalkan jejak, ilmu meringankan tubuh semacam ini sungguh merupakan suatu kepandaian yang mengerikan.

Setelah tidak tidur semalaman, Coa Wi-wi yang kuatir kesehatan Hoa In-liong terganggu apa lagi senja nanti masih ada janji dengan Bwe Su-yok, segera memerintahkan Kok Hong seng untuk mundur, dan ia hantar sendiri anak muda itu kehalaman belakang untuk beristirahat.

Ruangan yang disediakan bagi Hoa In-liong adalah kamar tidur yang pernah dipakai ayah Coa Wi-wi yakni Coa Goan-hau sebelum hilang.

Gedung yang tersendiri itu terdiri dari kamar baca, kamar tidur serta sebuah ruang tamu kecil ysng bersih dan nyaman. Meskipun sudah lama tak terpakai namun karena sering dibersihkan maka suasana tetap nyaman dan bersih.

Kata Coa Wi-wi. Ibunya Kwan Bun-sian memerintahkan agar tempat itu diatur sesuai dengan aslinya, agar Coa Goan hau bila pulang akan merasa kaget bercampur girang.

Dari sini dapat diketahui betapa tebalnya perasaan kasih sayang antara suami isteri berdua.

Setelah masuk kedalam ruangan, Hoa In-liong saksikan ruangan tersebut diatur dengan begitu indahnya, disana sini penuh berisi benda antik yang indah dan tak ternilai harganya. Sepintas lalu ruangan itu indah bagaikan rumah seorang raja muda, tapi mirip pula ruangan yang dihuni seorang seniman.

Setelah menghantar pemuda itu masuk ke ruang tidur, Coa Wi-wi siap tinggalkan tempat itu.

Tapi sebelum gadis itu melangkah pergi, tiba-tiba Hoa In- liong merangkul pinggangnya dan mengecup bibirnya,

“Jangan begitu” seru Coa Wi-wi gelisah, “kalau sampai ketahuan para dayang….”

Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, bibirnya yang mungil telah dikecup mesra bibir anak muda itu, dengan begitu kata selanjutnya otomatis tak sempat diutarakan keluar.

Meskipun malu tapi rangkulannya Hoa In-liong yang panas melumerkan itu segera meluluhkan hatinya, badan jadi lemas, bukan saja ia balas memeluk tubuh Hoa In-liong yang keras bahkan membalas pukul ciuman itu dengan lebih mesra. Entah berapan lama sudah lewat, suasana yang penuh kesyaduhan itu tiba-tiba dicaukan oleh teriakan Huan-ji, “Nona, Hoa kongcu, apakah sarapan perlu dibawa masuk?”

Dengan perasaan kaget Coa Wi-wi meronta dari pelukan Hoa In-liong, tampak Huan-ji berdiri diluar ruang depan, sekalipun selisih jaraknya agak jauh, namun dalam keadaan demikian disangkanya bayangan itu berada dekat dengan meraka.

Setelah rasa kagetnya berhasil ditengahkan, gadis itu baru marah-marah, “Aku kan sudah bilang, sarapan tidak usah disiapkan, sebelumnya kau ini lupa atau sengaja memang hendak mengacau?”

“Nona…. sahut Hoan-ji.

“Enyah dari sini!” teriak Coa Wi-wi lagi dengan gusar, “jiko ku perlu beristirahat dengan tenang!”

Yaa, siapa yang tidak mendongkol bila sedang asyik berciuman, tiba-tiba kesyaduhan tersebut diganggu orang? Siapa yang tidak marah kalau suasana mesra jadi bubar gara- gara kemunculan seseorang yang tak dikehendaki?

Tak salah lagi kalau nona itu jadi naik pitam dan marah- marah saking malu dan jengkelnya.

Huan-ji yang terbentur batunya jadi melongo, ia mencibirkan bibirnya tinggi-tinggi dari luar ruangan, lalu dengan wajah tak senang hati berlalu dari sana.

Sepeninggal dayang itu, Hoa In-liong kembali merangkul pinggangnya yang ramping.

“Adik Wi….” bisiknya mesra. Merah dadu sepasang pipi Coa Wi-wi karena malu, ia meronta dan melepaskan diri dari rangkulan orang, lalu serunya aleman, “Aaaah…. kamu ini….”

Sesudah termenung sebentar, katanya lagi, “Cepatlah pergi beristirahat! Siapa tahu senja nanti masih harus melangsungkan suatu pertarungan sengit? Sampai kini racun ularmu belum lenyap, tak boleh sembarangan kau turun tangan, baik-baik sajalah menghimpun tenaga. Tengah hari nanti aku datang lagi untuk mengajak kau bersantap siang”

Habis berkata, ditatapnya sekejap pemuda itu dengan pandangan mesra, kemudian dengan perasaan berat hati meninggalkan ruang itu.

Memandang bayang punggungnya yang lenyap dibalik ruang, Hoa In-liong tersenyum ia tutup pintu dan masuk kedalam ruang.

Pemuda itu tidak pergi tidur tapi mengampiri kursi besar didekat pembaringan dan duduk bersamadi disitu.

Yaa, walaupun pemuda ini romantis dan suka main perempuan, pada hakekatnya dia adalah seorang yang tahu kewajiban. Sekalipun hanya tersedia kesempatan beberapa jam yang amat singkat waktu yang luang itu tak pernah dia abaikan untuk melatih diri.

Mula-mula diulangnya tenaga sim hoat aliran Hoa setelah itu dia baru melatih ilmu Bu khek teng heng sim hoat sebanyak dua kali.

“Menurut Goan cing taysu aku dapat melatih ilmu sim hoat ini mencapai ketingkatan yang paling tinggi dengan perantara racun ular tersebut, sebenarnya bagaimanakah caranya itu?” Pikir punya pikir tiada jawaban juga yang ditemuinya, tiba tiba timbullah kebinalannya, dia lantas membatin, “Kalau ilmu sim hoat keluarga Hoa kulihat bersamaan waktunya dengan ilmu Bu khek teng heng sim hoat, lantas apa jadinya?”

Dasar masih berjiwa muda, apa yang dipikir segera dilaksanakan tanpa memikirkan apa akibatnya bila hal tersebut dilakukan.

Perlu diketahui disini, bila satu hati bercabang dua, sering kali akan mengakibatkan orang yang berlatih diri itu mengalami penyesatan dalam aliran. Dan penyesatan tersebut akhirnya akan menga kibatkan keadaan yang dinamakan jalan api menuju neraka.

Dasar memang masih kebocah-bocahan, pemuda itu membayangkan yang aneh-aneh, dianggapnya untuk menggabungkan dua kekuatan yang berbeda itu sama gampangnya dengan mencampurkan lumpur dengar air.

Akibat dari perbuatannya itu, jika berhasil memang lumayan, tapi kalau gagal? Akhirnya akan mengalami jalan api menuju neraka, masih mendingan kalau separoh badannya jadi lumpah, jika hawa murni yang tersesat sampai menembusi nadi-nadi lain? Siksaan tersebut bukan bisa diterima oleh manusia biasa, karena lebih baik mati daripada mengalami siksaan semacam itu.

Andaikata keadaan baik dan keadaan jelek berbanding lima puluh dengan lima puluh, orang masih berani menyerempet bahaya. Tapi perbandingan untuk keadaan tersebut adalah sembilan puluh sembilan berbanding satu, kecuali dia memang bernasib sangat baik, sulit rasanya untuk lolos dalam keadaan hidup. Sebab itulah, selihay-lihaynya seorang jago silat, seaneh anehnya watak orang itu, tak pernah diantara mereka berani berbuat sewenang-wenang dengan mempertaruhkan nyawanya sebagai barang mainan.

Masih mendingan kalau ilmu yang dilatih ilmu kampungan, sebagaimana diketahui, baik Sim hot, dari keluarga Hoa maupun Bu-khek teng heng sim hoat kedua duanya merupakan ilmu tenaga dalam tingkat tinggi yang berbeda aliran, selihay apapun kepandaian seseorang, tak mungkin mereka akan temukan persamaan diantara kedua jenis sim hoat tersebut yang memungkinkan kedua ilmu tersebut dilebur menjadi satu.

Meskipun Hoa Inliong sebagai keturunan orang lihay mengetahui juga akan bahaya yang membayangi perbuatannya itu, namun karena sifatnya memang gemar menyerempet bahaya, kedua diapun belum tahu sampai sedalam manakah bahaya yang bakal dialaminya, maka didesak oleh perasaan ingin tahunya yang besar, tanpa berpikir panjang lagi apa yang dipikirkan segera dilakukan dengan begitu saja.

Pada mulanya, oleh karena dia sudah begitu hapal dengan Sim hoat keluarganya, setiap kali ia berusaha bersamadi, serta-merta sim hoat tersebutlah yang digunakan.

Tapi kemudian, anak muda itu bertindak lebih berhati-hati setiap kali ada kesempatan, Bu khek teng heng sim hoat ikut disalurkan juga bersamaan waktunya.

Dalam waktu singkat dua gulung aliran hawa sakti yang saling bertentangan mulai saling gontok-gontokan dalam urat nadinya, semakin besar niat pemuda itu untuk mengendalikan goncangan tersebut, semakin kalut kedua gulung hawa murni itu menggulung tubuhnya, ia segera sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan.

Tapi sayang, pada waktu itu kedua gulung hawa murni tersebut sudah lepas dari kontrolnya lagi, ibaratnya air bah yang menjebolkan bendungan, dengan dahsyatnya menyapu apa saja yang dapat dilanda.

Yang paling seram lagi, justru dalam keadaan begitu racun ular sakti yang mengeram dalam tubuhnya kambuh secara bersamaan, isi perutnya seketika itu juga terasa amat sakit bagaikan digigit berjuta juta ekor binatang, ditambah pula hawa murni yang bergolak dibadannya menusuk-nusuk isi perut bagaikan tusukan gunting, penderitaan semacam itu mungkin tak akan tahan dirasakan oleh siapapun.

Seperminum teh kemudian, seluruh wajah anak muda itu telah berubah jadi merah padam, peluh yang membasahi dadannya sebesar kacang.

Sebentar saja badannya sudah basah kuyup bagaikan baru keluar dari bak mandi.

Dalam keadaan seperti ini, anak muda itu hanya bisa pasrah pada nasib, ia benar-benar tak mampu mengendalikan hawa murninya lagi.

“Habis riwayatku!” pekiknya dihati.

Tiba-tiba kepalanya seperti kena dihantam dengan benda berat….” biang!” pigsanlah pemuda itu.

Entah berapa lama sudah lewat ketika ia membuka kembali matanya, pemuda itu merasa seakan-akan baru sadar dari impian, apalagi terbayang kejadian yang baru dialaminya, ia cuma bisa teriak syukur, syukur berulang kaki. Ia merasa sekujur badannya jadi segera dan enak, butiran keringat mendatangkan kehangatan yang terasa nikmat, apalagi setelah hawa murni yang mengalir dalam nadinya diperiksa, pemuda itu merasa bingung dan tak bisa mengerti ia tak tahu rejekikah? Atau bencanakah?

Ternyata ia merasa hawa murni yang mengalir dalam nadinya itu dibalik kebalikan terdapat kelurusan dan dibalik aliran yang lurus terkandung keterbalikan, seperti lurus seperti juga berbalik, seperti juga bukan lurus bukan juga terbalik, sampai-sampai dia sendiripun tak tahu apa gerangan yang sebenarnya terjadi….

Tapi ada satu hal yang pasti, yakni hawa murni itu mengalir sendiri secara otomatis tanpa rintangan, diapun tidak menemukan tanda-tanda yang menunjukan bahwa bencana sudah diambang pintu.

Kali ini ia tak berani terlalu gegabah lagi, pemuda itu bermaksud meneruskan kembali latihannya setelah mendapat petunjuk dari Goan cing taysu….

Sebetulnya itu semua merupakan gejala yang menunjukkan bahwa tenaga dalam yang dimilikinya telah mendapat kemajuan yang amat pesat, sayang pemuda itu kalau sudah tidak serius, betul-betul terlampau tidak serius, tapi kalau sudah sungguh-sungguh, sungguh sungguh kelewat batas, begitulah kalau dia memang dasarnya mempunyai bakat yang baik dan rejeki yang baik pula….

Sementara dia masih termenung sambil melamun mendadak dari arah pintu terdengar serentetan suara yang amat lirih, dengan lantang ia lantas membentak, “Siapa disitu?” Pintu dibuka orang, dan sesosok bayangan merah yang menyiarkan bau harum melintas masuk kedalam ruangan.

“Jiko, jahat amat sih kamu ini bikin jantung orang hampir rontok saja….” tegur suara merdu menggema di udara.

Hoa in-liong segera tersenyum.

“Aaaah. Siapa suruh kau seperti setan pengacau?”

Waktu itu Coa Wi-wi sudah berganti dengan satu stel gaun berwarna merah menyala, ia tampak jauh lebih cantik, jauh lebih menawan dan jauh lebih mempesona hati, ibaratnya sinar emas sang surya yang baru terbit dipagi hari.

“Hei, kenapa kamu jiko? Sudah tidak kenal lagi dengan aku?” seru nona itu sambil tertawa manja.

Dengan tatapan mata seperti elang yang mengincar kelinci, anak muda itu mengamati gadis tersebut dari atas hingga kebawah, kemudian baru gelengkan kepalanya sambil menghela napas.

“Yaa, aku memang sudah tidak kenal lagi!”

Sesudah berhenti sebentar, ujarnya lagi, “Setiap kali adik Wi bertukar dengan satu stel pakaian, hampir saja aku tak dapat mengenali dirimu lagi”

“Aaaah…. kamu ini, masa cuma kenali pakaian tidak kenal orangnya!” omel Coa Wi-wi manja.

Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali.

“Bukan, bukan begitu, aku hanya merasa setiap kali adik Wi tukar dengan satu stel pakaian, engkau selalu tampil dengan corak dan gaya yang berlainan, apa mau dikata setiap corak dan gaya mu itu menampilkan pula kecantikan yang membuat seluruh wanita didunia ini seolah-olah kehilangan keayuan mereka semua, padahal selama hidup aku tak percaya kalau dunia ini terdapat perempuan yang demikian cantiknya, maka jangan heran kalau aku lantas curiga, benarkah perempuan yang kujumpai itu adalah adik Wi ku yang manis!”

Dasar play-boy yang pintar putar lidah, entah sungguh entah tidak rayuan tersebut, tapi yang pasti kata-kata semanis madu itu cukup membuat hati sekeras bajapun menjadi leleh.

Tentu saja Coa Wi-wi merasa senang dengan pujian anak muda itu, walau begitu toh ia mengomel lagi, “Hmmm….! Aku tak percaya, kata-katamu itu, sudah pasti adalah kata-kata rayuan gombal!”

Kemudian matanya celingukan kesana kemari dengan tajamnya, setelah sambil berseru tertahan ia berkata lagi, “Oooh…. rupanya kau belum tidur, kalau kulihat dari keadaan disini, pembaringan tersebut jelas belum terpakai…. Ehm, jadi kau baru berlatih ilmu silat? Waah kagum, kagum aku sangat kagum dengan ketekunanmu”

“Oooh…. aku sih tak akan memiliki ketekunan seperti itu” Hoa In-liong tertawa, “lagi memuji atau lagi menyindir!”

“Aaah…. terserah apa yang kau pikir!”

Setelah berhenti sebentar, kemudian katanya lebih jauh, “Hayo bangun dan makan siang! Atau kau masih ingin berlatih terus ilmu silatmu?”

“Aku memang bermaksud demikian, maka jika adik Wi belum lapar, bagaimana kalau kau turunkan dulu rahasia Su siu hua heng ciang kepadaku? Mau bukan?” Kalau anak muda itu berpikir demikian, tidak begitu dengan jalan pikiran Coa Wi-wi, dia tak mau pemuda itu lupa makan lupa tidur hanya gara-gara ingin berlatih ilmu silat. Maka bibirnya segera dicibirkan.

“Kau boleh saja kalau ingin mati kelaparan, kalau aku sih ogah untuk temani kau mati karena kelaparan, hayo makan dulu!”

Tapi sewaktu dilihatnya pemuda itu masih duduk, ia lantas maju dan menyeretnya sampai bangun.

“Kenapa belum bangun juga?”teriaknya.

Hoa In-liong benar-benar dibikin apa boleh buat, terpaksa ia bangkit sambil gelengkan kepalanya.

“Baik! Baik! Jangan mengomel, mari kita bersantap!”

Makan siang itu diselenggarakan dalam ruang kecil di halaman yang tersendiri itu, dayang cilik Huan-ji melayani mereka berdua, meski cuma dua orang yang bersantap namun sayur dan hidangan yang tersedia begitu melimpah ruah sehingga sepuluh oranpun belum tentu dapat menghabiskan semua hidangan tersebut.

Dalam bersantap sekali lagi Hoa In-liong menanyakan rahasia ilmu pukulan Su siu hua heng ciang. Coa Wi-wi tak tega untuk menolak permintaan orang, maka ilmu sakti itu pun diturunkan pemuda tersebut.

Ilmu pukul Si sau hua heng ciang itu terdiri dari delapan gerakan yang mengandung makna Su si pat kwa, dibalik gerakan mengandung pula gerakan yang saling bertautan satu sama lainnya, dengan perubahan yang tak terhingga banyaknya.

Hoa In-liong dapat merasakan bahwa ilmu Ci yu jit ciat meskipun sakti dan keji hebatnya bukan kepalang, namun tak mampu melebihi kehebatan dari ilmu pukul Su siu hu heng ciang tersebut, yaa, pada hakekatnya ilmu sakti warisan dari Bu seng (malaikat silat) Im Ceng memang bukan sembarang ilmu.

Rahasia ilmu pukul Su siu huan heng ciang amat singkat dan sederhana, paling banter juga terdiri dari ratusan huruf namun makna yang lebih dalam dari tulisan-tulisan itu sudah tentu tidak sesederhana kata-kata tersebut, bahkan tidak berada di bawah catatan ringkas Kiam keng bu kiu yang pernah diperoleh Hoa Thian-hong dimasa lalu.

Sambil bersantap Hoa In-liong sembari putar otaknya mendalami inti sari ilmu pukul itu, mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, sumpit yang sebenarnya sedang menjepit seekor ikan leihi seketika terhenti ditengah udara, lama sekali dia membungkam dalam seribu bahasa.

Huan-ji yang ada disampingnya dan menyaksikan adegan itu jadi merasa geli, cepat dia menutupi bibirnya dengan sapu tangan lalu tertawa cekikikan.

Coa Wi-wi sendiri meski waktu itu juga merasa geli, tapi saat-saat terpenting bagi anak muda itu sebelum ilmu silatnya mendapat kemajuan yang pesat maka matanya lantas melotot ke arah Huan-ji sambil melarang dayangnya lebih lanjut.

“Adik Wi, sambutlah sebuah pukulanku ini!” tiba-tiba Hoa In-liong membentak nyaring. Cepat ia letakkan sumpitnya ke meja, kemudian telapak tangan kanannya dijulurkan kedepan seperti menekuk, jari tangannya di tegakkan sekaku baja, kemudian diserangnya Coa Wi-wi dengan jurus Pian tong put ki (berubah tidak tetap).

Coa Wi-wi merasa terperanjat menghadapi serangan tersebut, tapi dengan cepat ia melancarkan pula sebuah serangan balasan dengan jurus Pian tong put ki yang sama, teriaknya, “Jiko, aku tak percaya kalau engkau lebih cerdik daripada aku dalam menggunakan jurus serangan tersebut!”

Ucapan itu ada benarnya juga, sekalipun serangan yang dilancarkan Hoa In-liong serangan mengandung perubahan yang maha hebat, akan tetapi mana mungkin ia dapat menandingi Coa Wi-wi yang sudah melatih ilmunya selama sepuluh tahun lebih?

Akan tetapi, apa yang kemudian terjadi ternyata sama sekali diluar dugaan, begitu sepasang telapak tangan saling beradu, Coa Wi-wi lah yang berada di pihak yang rugi, pergelangan tangannya tahu-tahu memekuk kebawah, badannya terjungkal ke belakang dan hampir saja ia jatuh terjengkang kebelakang berikut kursi yang didudukinya.

Kiranya Coa Wi-wi sudah mengetahui sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang dimiliki Hoa In-liong, maka dalam menyambut serangan anak muda tadi, ia telah menggunakan pula tenaga yang seimbang.

Siapa tahu tenaga dalam yang dimiliki Hoa In-liong mendapat kemajuan yang amat pesat, maka begitu telapak tangan mereka bersentuhan, meski ia menyadari bahwa keadaan tidak menguntungkan, toh dalam keadaan begitu tak sempat lagi baginya untuk menambahi tenaga dalamnya. Dengan wajah cemberut gadis itu merangkak bangun dari atas lantai, lalu serunya manja, “Bagus! Bagus! Rupanya kau menyembunyikan kekuatanmu yang sebenarnya…. kau jahat, kau jahat!”

Nanun Hoa In-liong tidak menjawab, sebab setelah melancarkan serangannya tadi kembali pemuda itu terjerumus dalam pemikiran yang serius, tampak sepasang alis matanya berkenyit, matanya mendelong memandang ke arah depan dan mulutnya terkatup rapat, ternyata ia tak mendengar apa yang barusan diteriakkan gadis itu.

Saking gemasnya meskipun Coa Wi-wi ingin menggigit anak muda itu, namua ia tak berani lantaran menuruti napsu sendiri menyebabkan ilmu silat nya terbengkalai, maka dengan kesal gadis itu duduk membungkam.

Tiba-tiba didengarnya suara tertawa cekikikan menusuk telinga dari arah samping, dasar lagi mangkel dan rasa mendongkol tak terlampiaskan maka bertemu dengan sasaran kontan saja matanya melotot besar.

“Hayo tertawa…. hayo terus sampai tua! teriaknya dengan marah “apa yang kau gelikan? Enyah ayoh cepat enyah jauh- jauh dari hadapanku!”

Huan-ji meski kedudukannya cuman seorang dayang tapi sejak kecil sampai dewasa ia hidup bersama nonanya ini, maka boleh dibilang waktu majikannya cukup dia kuasahi.

Meski melihat nonanya marah ia tidak jadi gemetar karena takut.

“Yaa, nona!” sahutnya malah. Tapi baru saja ia sampai di depan pintu ruangan, Coa Wi-wi sudah berterak kembali, “Hayo kembali apa yang kau gelisahkan? Takut kutelan tubuhmu bulat-bulat hei?”

Sambil tertawa Huan-ji berjalan kembali kedalam ruangan.

Tapi Coa Wi-wi sekali lagi ulapkan tangannya sambil berseru, “Enyah! Enyah dari sini! Melihat tampangmu saja aku sudah bosan”

Huan ji tertawa cekikikan, sekarang baru betul-betul lari keluar ruangan itu.

Selang sesaat kemudian Hoa In-liong baru menghembuskan napas panjang bisiknya kemudian, Oooh….rupanya begitu!”

Coa Wi-wi yang paling senang dengan kejadian itu, cepat serunya dari samping, “Jiko, berapa banyak sudah yang berhasil kau pahami?”

Barusan ketika pemuda itu masih terjerumus dalam lamunannya, ia merasa sempat mengawasi tampang sianak muda itu sepuas-puasnya bukan saja Hoa In-liong tanpan dan romatis, kecerdikannya juga hebat, terutama sikap serta tingkah lakunya yaug menyenangkan hati, sejak tadi-tadi semua rasa kesal dan murungnya sudah tersapu lenyap entah kemana….

Tiba-tiba ia merasa tidak semestinya menyelesaikan urusan itu dengan begitu saja, sebab bagaima napun juga kalau dibekukan sampai disitu, hal ini menyangkut soal gengsinya sebagai seorang gadis remaja.

Maka sebelum Hoa In-liong menjawab pertanyaannya itu, dia sudah membentak lebih jauh, “Sambutlah serangan ini!” Telapak tangannya yang mulus langsung diayun kemuka melepaskan sebuah pukulan dengan jurus Pian tong put ki.

Hoa In-liong tertawa nyaring, dengan jurus Pian tong put ki yang sama ia songsong datangnya ancaman tersebut.

“Serangan bagus!” serunya.

Ketika dua buah telapak tangan saling bertemu, kali ini Coa Wi-wi sudah membuat persiapan, tentu saja tubuhnya sama sekali tidak bergeming dari posisinya semula.

Selain itu, rupanya nona tersebut ingin pula membalas kesalahan yang dia alaminya barusan, sebab itu diapun ingin memberi sedikit pelajaran untuk Hoa In-liong, dalam serangannya kemudian tenaga dalam yang dipakai mencapai delapan bagian lebih.

Apa yang terjadi? Sekalipun nona itu sudah menggunakan tenaga dalam yang sangat besar, akan tetapi dikala sepasang telapak tangan itu saling bertemu, tiba-tiba dari balik telapak tangan Hoa In-liong memancar keluar segulung tenaga pukulan yang sifatnya aneh sekali, bukan saja pukulannya tidak berhasil menembusi pertahanan lawan, malahan tenaga serangannya itu seperti ditarik oleh suatu kekuatan lain hingga mengalir kearah gang sama, ini membuat hati nona itu jadi kaget bercampur curiga,

“Hei jiko apakah sudah telan pil Yau ti-wan tersebut?” tegurnya kemudian dengan keheranan,” kalau tidak kenapa tenaga dalammu bisa peroleh kemajuan seperti ini? Dan lagi aku merasa hawa murni yang terpancar keluar dari tubuhmu itu sangat aneh”

“Aaaah, siapa bilang kalau aku makan pil ti wan?” Tapi setelah dipikir sebentar, pemuda itupun lantas menuturkan pengalamannya ketika ia mencoba-coba untuk menggabungkan tenaga sim-hoat keluarga Hoa-nya dengan Bu kek teng heng sim hoat.

Selesai mendengar penuturan tersebut, Coa Wi-wi jadi mencak mencak saking gembiranya. Hoa In-liong ikut tertawa.

“Adik Wi!” katanya, “bencanakah? Atau rejekikah? Hingga kini masih merupakan suatu tanda tanya besar, kalau dibilang terkena racun ular sakti ibaratnya Say-ang yang kehilangan kudanya, siapa tahu kalau aku bakal mendapat rejeki.

Sebaliknya kalau dibilang Say-an mendapat kuda, siapa tahu kalau kejadian itu justru akan membawa bencana”

“Aaaah….! Janganlah mengucapkan kata-kata yang mendatangkan perasaan tak enak semacam itu?” keluh Coa Wi-wi.

Demikianlah, percakapan itu mereka langsungkan hingga tengah hari lewat, dan akhirnya merekapun menyinggung soal janjinya dengan Bwe Su-yok.

Pada mulanya Hoa In-liong bersikeras ingin memenuhi janji seorang diri, sebab dia yakin dengan kemajuan pesat yang diperolehnya dalam tenaga dalam, niscaya Bwe Su-yok bukan tandingan nya lagi, maka sekalipun dia harus memenuhi sendiri janji itu, rasanya juga tiada bahaya yang mengancam.

Tapi Coa Wi-wi bersikeras memaksa ikut, alasannya walaupun tenaga dalam yang dimiliki Hoa In-liong sudah mengalami kemajuan yang pesat, tapi racun ular sakti itu toh belum punah, bagaimana kalau racun ular itu kambuh lagi dikala pertarungan sedang berlangsung? Apalagi semua orang juga tahu, Kiu-im-kauw merupakan sarangnya jago-jago tangguh, terutama sebagai ketua perkumpulan sesat yang tak mengikuti peraturan dunia persilatan, andaikata mereka sampai main kerubut, sekalipun tenaga dalam Hoa In-liong lebih tinggipun percuma saja.

Setelah berdebat setengah harian, akhirnya diputuskan Hoa In-liong memenuhi sendiri janji itu, sementara Coa Wi-wi mengikutinya secara diam-diam.

“Yaa, pada hakekatnya santapan siang itu baru berakhir setelah makan waktu yang berlarut-larut.

Selesai bersantap, mereka memperdebatkan kembali keampuan ilmu pukulan Su siu hua heng ciang, tidak berbicara soal kemajuan Hoa In-liong yang amat pesat, keanehan tenaga dalam dari anak muda itulah yang justru membuat Coa Wi-wi jadi kaget bercampur keheranan.

Ketika ditanyakan bagaimana caranya mengerahkan tenaga aneh itu, bahkan Hoa In-liong sendiripun tidak mengerti, ia cuma merasa tanaga tersebut terlontar keluar secara spontan.

Tatkala sore sudah menjelang tiba dan sang surya sudah tenggelam dikaki langit sebelah barat, berangkatlah dua orang itu menuju keluar rumah….

Karena Coa Wi-wi harus melakukan pengiutitan secara diam-diam, ia merasa warna merah yang terlalu menyolok, maka sebulam berangkat ia tukar dengan satu stel pakaian berwarna putih.

Hoa In-ling sendiri berdandan seperti seorang kongcu yang perlente, pedang tersoren dipinggang, kipas digenggam dalam tangan, kipas yang dibawa dari rumah sebetulnya sudah hilang, maka kipas yang dipakai sekarang adalah kipas hadiah Coa Wi-wi.

Dengan kecepatan langkah anak muda itu, jarak antara rumah keluarga Coa sampai dikaki bukit Ciong-san sebelah barat bisa ditempuh dalam waktu singkat.

Masih jauh ia berada di depan bangunan rumah yang mewah itu, ketika pintu gerbang tiba-tiba di buka orang dan Seng Sin sam yang kecil pendek memimpin serombongan anggota Kiu-im-kauw menyambut kedatangannya diluar bangunan rumah.

Menyaksikan keadaan seperti itu, Hoa In-liong malahan memperlambat langkah kakinya, sambil menggoyang- goyangkan kipasnya dia menuju kepintu gerbang.

Begitu santai lagaknya, seakan-akan kedatangannya kesitu bukan untuk memenuhi suatu perjanjian yang menyangkut mati hidupnya, melainnya khusus datang untuk menghadiri suatu pesta ulang tahun teman akrabnya.

Menanti ia sudah berjalan mendekat, dengan tak sabaran Seng Sin-sam merangkap tangannya memberi hormat, kemudian berkata, “Hoa kongcu benar-benar seorang pegang janji, kaucu kami mempersilahkan kongcu masuk ke dalami”

Hoa In-liong segera melipat kipasnya dan disimpan kedalam saku tegurnya kemudian, “Eeeh, dimana kaucumu? Kenapa tidak menyambut sendiri kedatanganku….?”

Seng Sin sam tertawa seram.

“Hahaha…. apakah Hoa kongcu dapat mewakili ayahmu?” dia balik bertanya. Maksud dari perkataannya itu sudah amat jelas, yakin Hoa In-liong masih belum cukup bergerak untuk mendapat penyambutan dari Bwe Su-yok.

“Bukan demikian maksudku….” kata Hoa In-liong sambil membentangkan kembali kipasnya dan digoyang-goyangkan beberapa kali.

“Lalu Hoa kongcu ada petunjuk apa?” tukas Seng Sin sam tak sabar lagi.

Diam-diam Hoa In-liong mentertawakan ketidak sabaran orang namun diluaran ia tetap bersikap serius, jawabnya, “Bagaimanapun juga aku orang she Hoa masih terhitung sahabat karib kaucu kalian, memandang pada hubungan persahabatan ini sudah sepantasnya kalau ia memang mengadakan penyambutan sendiri atas kedatanganku atau mungkin karena kedudukannya sekarang sudah terhormat, maka ia pandang remeh sahabatnya dimasa lalu?”

Pemuda itu memang sengaja menjual kecap dengan tujuan memecahkan perhatian semua jago yang hadir disekeliling bangunan itu, dengan demikian aku cukup memberi kesempatan bagi Coa Wi-wi untuk menyusup ke dalam bangunan rumah itu.

Seng sin sam kontan saja tertawa dingin sesudah mendengar kata-kata itu.

“Heeehh…. heeehh…. heeeh….jadi, bila kaucu tidak menyambut sendiri kedatangan Hoa kong cu maka engkau tak sudi masuk ke dalam perkara pungan?”

“Oooh….tentu saja tidak tentu saja tidak! Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali, sekarang kaucu kalian sudah merupakan seorang pemimpin dari suatu perkumpulan besar, sudah mestinya kalau ia pegang gengsi dengan berlangkah jual mahal!”

Sambil menggoyangkan kipasnya, pelan-pelan ia lanjutkan kembali langkahnya menuju kedalam ruangan.

Teng Sin sam betul-betul dibikin serba salah oleh tingkah laku pemuda itu, cepat-cepat ia memburu ke muka seraya berseru, “Biar aku membawakan jalan untukmu!”

Meskipun rasa bencinya kepada Hoa In-liong sudah merasuk ketulang sumsum, namun ketika di lihatnya anak muda itu berdandan perlente dengan pedang tersoren dipinggang dan kipas digenggam dalam tangan, diam-diam ia memuji juga akan kekerenan anak muda itu.

“Emmm….! Dia memang tak malu menjadi putranya Thian cu-kiam!”

Setibanya didepan ruang mewah yang megah dengan lapisan emas meliputi tiang-tiang penyangga dalam ruangan itu, tampaklah Bwe-Su-yok yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan dengan memegang tongkat kebesaran berkepala setan menyambut kedatangan diluar pintu, dibelakang nona itu mengikuti pula Tiamcu ruang siksa Le Kiu it, tongcu bagian tata tertib Kek Thian tok serta Tongcu bagian proganda Huan- Tong.

Agak tertegun juga Hoa In-liong sewaktu dilihatnya Bwe Su-yok bersedia menyambut kedatangannya dipintu ruangan, sebab menurut dugaannya semula kemungkinan besar Bwe Su-yok akan berlagak angkuh dengan maksud menghina serta mencemooh dirinya habis-habisan. Setelah berpikir sebentar, dia lantas maju kedepan sambil memberi hormat, katanya, “Apabila kedatangan Hoa Yang agak terlambat harap Bwe kaucu bersedia memaafkan!”

Bwe Su-yok balas memberi hormat, kemudian katanya pula dengan tertawa, “Bila Bwee Su-yok tidak menyambut kedatanganmu dari jauh, harap Hoa kongcu bersedia memaklumi!”

Agak heran juga perasaan Hoa In-liong waktu itu, sebab meski nada pembicaraan nona itu dingin dan hambar, namun tidak mengandung hawa napsu membunuh, sikap seperti ini boleh dibilang jauh berbeda dengan sikapnya kemarin malam.

Setelah masuk kedalam ruangan, masing-masing pun mengambil tempat duduk.

Hoa In-liong menyaksikan dalam ruangan itu tersedia sebuah meja perjamuan, tak usah disebutkan lagi tentu saja hidangannya terdiri dari hidangan yang lezat-lezat, mangkuk, baki yang dipakai pun terdiri dari bahan-bahan perak yang berukiran indah.

Waktu itu disamping meja perjamuan berdiri tiga orang dayang, mereka tak lain adalah dayang-dayang kepercayaan Bwe Su-yok yang terdiri dari Siau bi, Siau kian dan Siau peng.

Walaupun senja sudah menjelang tiba, namun delapan buah lentera keraton yang indah telah memancarkan pula cahayanya.

Bwe Su-yok yang duduk dimeja perjamuan tidak menawari tamunya minum arak, juga tiada perselisihan atau perang mulut yang ramai, yang berlangsung hanya cawan yang saling beradu serta suara sumpit yang membentur mangkok, tiada suara pembicaraan, semua orang bersantap tanpa berbicara. Tentu saja kejadian ini diluar dugaan Hoa In-liong, segera pikirnya, “Baik, akan kulihat kau si dayang busuk hendak bermain setan apa dengan diriku!”

Berpikir demikian, dia lantas menahan diri sambil mengikuti perkembangan yang barlangsung didepan mata.

Pemuda itu memiliki badan yang kebal terhadap segala macam racun, dengan tak usah kualir keracunan, dia makan minum dengan bebasnya.

Selesai bersantap, tiba-tiba Bwu Su-yok berkata, “Hoa kungcu, apakah kau ingin tahu keadaan dari Kanglam Ji-gi?”

“Aaah, sudah tahu pura-pura bertanya!” pikir Hoa In-liong, Namun segera jawabnya juga, “Yaa, dengan segala kerendahan hati aku mohon agar Bwe kaucu bersedia memberi petunjuk dimanakah empek Yu itu kini berada?”

“Heeehh…. heeehh…. heeeh…. kau anggap aku mau menjawab?” ejek Bwe Su-yok sambil tertawa dingin.

“Nah, sudah mulai!” batin Hoa In-liong, dia lantas tersenyum.

“Aku memang datang tanpa membawa harapan yang terlalu besar!” sahutnya cepat.

Bwe Su-yok tertegun.

“Lantas karena urusan apa kau datang kemari?”

Hoa In-liong tak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah balik bertanya, “Aku ingin mengajukan satu pertanyaan kepada Bwe kaucu, kendatipun Hian-beng-kauw sudah berkomplot dengan Kiu-im-kauw, masa perbuatan dari orang- orang Hian-beng-kauw bisa kaucu ketahui semua? Dan aku tahu bahwa orang-orang Hian-beng-kauw memandang penting soal empek Yu ku itu, betulkah kaucu benar-benar mengetahui jejak dia orang tua?”

Bwee Su-yok cuma tertawa dingin tanpa menjawab.

Hoa In-liong segera berkata lebih jauh, “Menurut dugaanku, belum tentu kaucu mengetahui hal itu”

“Sementara waktu jangan kita persoalkan apakah aku tahu atau tidak” kata Bwee Su-yok pelan, “kalau toh engkau menganggap aku belum tentu tahu, buat apa pula kau dataag memenuhi janji?”

“Tiada karena soal lain, kecuali demi kepercayaan” jawab anak muda itu sambil tersenyum.

“Ooou…. benarkah kau pandang begitu penting soal kepercayaan?” ejek Bwe Su-yok lagi dengan nada menyindir.

“Ketat amat dayang ini menjaga rahasianya” pikir Hoa In- liong kemudian, “rupanya ia pandai menduga suara hati orang, aku tak boleh pandang enteng dirinya….”

Begitu rencana sudah tersusun, ia baru menjawab, “Tentunya Bwe kaucu tahu bukan, sejak dulu sampai sekarang, tanpa kepercayaan manusia itu tak bisa hidup?”

Bwe Su-yok segera tertawa ringan.

“Ooou….mungkin Hoa kongcu ingin mengandalkan ilmu silatmu yang maha tinggi?” Dengan kerlingan mata yang jeli, ia melirik sekejap Le Kiu-it berempat, kemudian berkata lebih lanjut, “Menurut pandangan Hoa Kongcu, bagaimana perdapatmu mengenai tenaga dalam yang dimiliki kelima orang anak buahku itu?”

“Tak seorang pun yang bukan jago tangguh!”

Raut wajah Bwe Su-yok ysng sebetulnya sedingin es, tiba- tiba berubah jadi hangat, sekulum senyuman cerah menghiasi bibirnya ibarat angin musim semi yang mencairkan salju, seluruh keketusan dan sikap dinginnya tersapu lenyap.

Tapi justru karena itu wajahnya tampak semakin cantik dan menarik, ini membuat Hoa In-liong jadi melongo saking terpesonanya. Namun kewaspadaannya juga semakin meningkat.

“Hoa kongcu!” kembali Bwe Su-yok berkata, andaikata aku dan ke empat orang anggota perkumpulanku turun tangan bersama-sama, mampukah Kongcu lolos dari cengkeraman kami?”

Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong merasa terkesiap, tapi diluar wajahnya ia tepat tenang, seolah-olah hal itu sudah menjadi bahan dugaannya.

“Kaucu, pandai amat kau berbicara!” katanya sambil tertawa.

Yaa, pada hakekatnya orang yang hadir daiam perjamuan saat itu merupakan inti kekuatan vang sebetulnya dari perkumpulan Kiu-im-kauw, meski sedikit jumlahnya, tapi kalau mereka sampai menyerang bersama, kendatipun Hoa In-liong merasa ilmu silatnya sudah memperolah kemajuan yang pesat, jagan harap bisa lolos dari situ dengan selamat. Bwe Su-yok kembali tertawa ringan. “Apakah Hoa kongcu menduga kalau aku cuma bergurau belaka?” ia balik bertanya.

Sikapnya yang berkebalikan dengan sikap-sikap dingin diwaktu-waktu biasanya ini kembali membuat Hoa In-liong jadi kaget bercampur curiga, sekalipun dia pintar toh tidak berhasil juga untuk menebak obat apakah yang dijual dalam cupu- cupunya itu?

Dengan sorot mata tajam ia berpaling kearah Kek Thian tok berempat dan diamatinya ratu wajah mereka, tapi orang- orang itu tetap bersikap dingin dan hambar ini membuat anak muda itu kembali gagal untuk menemukan suatu pertanda yang sensitip.

Maka setelah termenung sebentar, dia tertawa hambar. “Kaucu, Hoa yang adalah seorang anak bodoh, maaf kalau

aku tak mampu menebak isi hatimu yang sebenarnya”

Mimik wajah Bwe-yok yang semula cerah tiba-tiba berubah lagi jadi dingin dan kaku, Hoa In-liong mengira dia mau melancarkan serangan dengan perasaan tegang segenap tenaga dalamnya segera dihimpun untuk menjaga segala sesuatu yang tidak diinginkan.

Benarkah Kiu-im kaucu yang muda itu hendak melancarkan serangannya? Ternyata tidak, dengan biji matanya yang jeli Bwe Su-yok mengerling sekejap ke arah Le Kiu it, kerlingan itu mengandung arti yang sukar ditebak, bisa bermaksud baik bisa pula berniat jelek.

Begitu dikerling, Le Kiu-it segera bangkit berdiri, lalu sambil memberi hormat kepada kaucu-nya ia berkata, “Hamba masih ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, harap kaucu sudi memaafkan diri hamba yang terpaksa minta diri ditengah perjamuan”

“Silahkan Le tiamcu!” sahut Bwe Su-yok hambar. Le Kiu it lantas menjura pula ke arah Hoa In-liong.

“Aku orang she Le tak bisa menemani lebih lama, harap Hoa kongcu sudi memberi maaf!” katanya.

Hoa In-liong cepat bangkit seraya balas memberi hormat. “Untuk menghimpun prajurit memanggil panglima, Le

Tiamcu tentu butuh banyak tenaga dan pikiran, silahkan?”

Dia mengira kepergian Le Kiu-it tentu untuk menghimpun kekuatan Kiu-im-kauw guna mencegah niatnya untuk melarikan diri, maka sengaja ia sindir niat jagoan tersebut.

Le Kiu it tidak memberi komentar apa-apa, dia cuma tertawa lalu mengundurkan diri dari ruangan itu.

“Ai, entah adik Wi bersembunyi dimana?” pikir Hoa In-liong kemudian.

Selang sesaat kemudian, Huan Tong yang merupakan Tongcu bagian propaganda mohon diri pula untuk mengundurkan diri, disusul kemudian Kek Thian tok si tongcu bagian tata tertib dan Seng Sin sam tongcu bagian penerima tamu ikut mundur dari situ.

Sekejap kemudian kecuali tiga orang dayang kecil, dalam ruang perjamuan itu tinggal Hoa In-liong dan Bwee Su-yok dua orang. Kejadian semacam ini benar-benar diluar dugaan Hoa In- liong, sekalipun dia pintar dan berotak encer, toh dalam keadaan seperti ini ia tak mampu untuk menebak rencana apakah yang sedang disusun Bwee Su-yok.

Setelah suasana menjadi hening sekian waktu, akhirnya Bwe Su-yok buka suara lebih dulu, ujarnya dengan suara yang merdu tapi bernada dingin dan kaku, “Hoa kongcu, hingga kini bagaimanakah perasaanmu?”

Hoa In-liong tidak langsung menjawab, ia berpikir lebih dulu, “Watak perempuan ini sangat aneh, ia bisa marah sebentar lalu girang sebentar, aku musti menghadapinya dengan hati-hati”

Berpendapat demikian, sambil tertawa ia lantas goyangkan kipasnya seraya menjawab, “Aku rasa keadaan pada saat ini sangat baik, penuh rasa persahabatan!”

Kemudian sambil melipat kipasnya, ia menambahkan, “Kalau bisa bercakap-cakap dalam suasana begini, tentu saja lebih baik lagi, bagaimana menurut pandangan nona Bwe?”

Dari sebutan kaucu tiba tiba ia dirubah panggilannya jadi nona, begitu selesai berkata, cepat cepat diawasinya raut wajah Bwe Su-yok yang cantik jelita itu, dia ingin tahu bagaimanakah reaksinya….

Ternyata Bwe Su-yok tidak menjadi jengah ataupun marah, bahkan seolah-olah tak pernah mendengar perkataan itu.

Lama sekali ia merenung, sebelum akhirnya berkata lagi, “Sewaktu masih berada diluar perkampungan tadi, kau pernah berkata bahwa aku adalah sahabatmu, apakah engkau tak akan bermusuhan lagi dengan pihak Kiu-im-kauw?” “Ooh….jadi tadi dia sembunyi disekitar situ!” kembali Hoa In-liong membatin.

Setelah termenung sebentar, ujarnya dengan wa jah bersungguh-sungguh, “Aku mempunyai beberapa patah kata kurang sedap yang ingin diutarakan, apakah nona Bwe….”

“Hei, kalau ucapanmu kurang sedap didengar, lebih baik jangan disinggung-singgung, daripada nonaku jadi marah!” tiba tiba Siau bi yang berdiri di belakang majikannya menyela.

Bwe Su-yok segera berpaling dan melotot sekejap ke arahnya, lalu sambil menatap kembali wajah In liong katanya, “Nah, kalau ingin mengucapkan sesuatu cepat katakan!”

Hoa In-liong tertawa.

“Jika Kiu-im-kauwcu bisa bertobat dan meninggalkan jalan sesat untuk kembali ke jalan yang benar….”

“Dalam bagian manakah perkumpulan kami ini sesat?” tukas Bwe Su-yok sambil tertawa dingin, “dan mengapa kami musti kembali ke jalan yang benar?”

“Jadi menurut pandanganmu, sudah sewajarnya kalau seluruh dunia persilatan menjadi wilayah kekuasaan tunggal dari keluarga Hoa kalian?”

000000O000000

31

“NONA BWE, apa maksudmu dengan perkataan semacam itu?” tegur si anak muda dengan dahi berkerut.

Bwe Su-yok tertawa dingin. “Golongan pendekar dan kaum lurus menyanjung keluarga Hoa sebagai pimpinannya, dan sekarang kau anjurkan dirimu untuk meninggalkan kaum sesat kembali ke jalan yang benar, apa lagi yang musti kujelaskan dengan perkataanku itu?”

Hoa In-liong tertawa.

“Kalau nona berbicara demikian maka kelirulah anggapanmu, orang-orang golongan pendekar saling berhubungan dengan dasar persaudaraan, kita tak pernah membedakan tingkat kedudukan, dan siapapun tidak lebih atas dari yang lain, darimana bisa muncul tingkat kedudukan sebagai seorang pemimpin? Apa lagi ayahku sama sekali tak berambisi untuk menguasahi dunia persilatan”

“Kalau begitu bagus sekali, perkumpulan kami akan segera tinggalkan jalan sesat untuk kembali ke jalan yang benar, bagaimana kalau golongan lurus mengangkat perkumpulan kami sebagai pemimpinnya?”

Setelah nona itu mengajukan usul seperti ini, tentu saja Hoa In-liong tak bisa mungkir lagi, maka dia tersenyum dan menjawab dengan serius.

“Jika nona Bwe benar-benar bertujuan membahagiakan umat manusia dari segala bentak kelaliman dan penindasan, ada salahnya kalau kami semua menuruti kehendak nona?”

Bwe Su-yok tertawa dingin.

“Heehhh…. heehh…. heehhh….enak benar perkataanmu itu, apakah kau dapat mewakili ayah serta seluruh pendekar dan golongan putih untuk mengambil keputusan?”

Hoa In-liong tertawa. “Nona Bwe, meskipun aku Hoa Yang adalah keturunan keluarga Hoa, meski ilmu silatnya maupun nama besarku tidak seujung jari orang o-rang lain, apalagi dalam soal watak, boleh dibilang jelek dan tak pantas disinggung-singgung”

Bwe Su-yok mendengus.

Hoa In-liong pura-pura tidak mendengar ujarnya lebih jauh, “Tapi aku yakin bukan saja perkataanku tadi pasti akan disetujui ayahku, bahkan paman-paman dan cianpwe-cianpwe lainnya juga akan menyetujui pula secara seratus persen”

“Dengan dasar apakah kau yakin jika mereka pasti akan setuju?” ejek Bwe Su-yok dengan nada menyindir.

“Orang akan mengutamakan dukungannya demi kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, itulah dasar yang kuanut!”

Jangan dilihat sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut sikapnya sangat hambar, tapi nadinya begitu serius dan wajahnya begitu keren, membuat orang musti memperhitungkan pula kata-Katanya itu.

Bwe Su-yok seperti kena dihantam dengan tongkat besar, mukanya yang semula dingin tiba-tiba berubah jadi hambar.

Sebagaimana diketahui, gadis itu hidup dalam lingkungan perkumpulan sesat, sekalipun amat disayang Kiu-im-kauwcu, tapi semua pendidikan yang diberikan kepadanya kalau bukan berupa siasat-siasat busuk yang licik, tentulah cara-cara untuk mencelakai orang, sikap jujur seperti yang diperlihatkan Hoa In-liong barusan, pada hakehatnya seperti kentut anjing yang paling busuk bagi pandangan orang-orang Kiu-im-kauw, sebab perbuatan seperti itu mereka nilai sama artinya dengan mencari kematian bagi diri sendiri, sudah pasti ajaran seperti itu tak pernah diwariskan kepada anak didiknya.

Untunglah watak yang asli dari gadis itu adalah watak yang baik, dan watak yang baik itu belum tertutup sama sekali oleh pendidikan yang salah, itulah sebabnya kenapa ia jadi bingung dan untuk sesaat lamanya seperti kehilangan pegangan.

Ia merasa walaupun Hoa In-liong memiliki sifat menggampangkan pendapat orang dan tidak serius, tapi jiwanya besar dan mulia kebijaksanaan dan kegagahannya sebagai seorang pendekar sedikit pun tidak luntur.

Sesaat memang tak bisa menangkap lurus, sekalipun dia itu seorang ketua dari suatu perkumpulan besar toh muncul juga perasaan rendah hatinya, tapi kemudian setelah watak angkuh dan ingin menang gaya muncul kembali gadis itu kembali jadi jengkel.

“Huuuh…. kalau orang she Hoa lantas apanya yang luar biasa?” pikirnya.

Cepat dia menenangkan hatinya dan katanya.

“Banyak membicarakan soal ini tak akan ada gunanya lebih baik tak usah disinggung lagi.

Diam-diam Hoa In-liong mengerutkan dahinya. “Waaah….payah, kalau dilihat cara dayang itu bersikap dan

berbicara tampaknya ia sudah terlalu dalam dicekoki ajaran yang salah, sulit, sulit rasa nya untuk menyadarkan kembali dirinya”

Terbayang betapa akhirnya dia musti menyelesaikan sengketa tersebut diujung senjata dengan gadis secantik itu, Hoa In-liong menghela napas panjang, ia merasa kejadian itu adalah suatu kejadian yang akan membuat hatinya menyesal sepanjang masa.

“Hei, kenapa kau menghela napas panjang pendek? Merasa takut?” tegur Bwe Su-yok tiba-tiba.

Hoa In-liong tertawa nyaring.

“Haaahh…. haaahh…. haaahh…. anak keturunan keluarga Hoa tak pernah kenal rasa kaget atau jeri!”

Setelah berhenti sebentar, dengan nada bersungguh- sungguh ia berkata lebih jauh, “Perduli bagaimanapun sikap nona Bwe dikemudian hari, bagaimana kalau untuk sementara waktu jangan kita singgung-singgung dulu masalah tersebut”

Aku pikir suasana semacam sekarang ini pantas diisi dengan acara minum arak dan membicarakan soal-soal yang enteng!”

Mendengar perkataan itu, Bwe Su-yok termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba dia angkat cawan peraknya dan meneguk setegukan isi cawannya, kemudian dengan perasaan berat cawan itu di letakkan kembali ke atas meja.

Melihat itu Hoa In-liong lantas berpikir, “Meskipun ia tidak berkata-kata tapi dari tindakan yang diambil jelas sudah menetujuinya.

Maka diapun angkat cawan serta meneguk habis pula isinya.

“Sian kian!” ujar Bwe Su-yok kemudian, “penuhi cawan Hoa kongcu!” “Siau kian mengiakan, dia ambil poci dan memenuhi cawannya, menggunakan kesempatan itu ia berbisik disamping telinga pemuda kita sambil tertawa, “Tempo hari kau pingin minum secawan air putih saja tak keturutan, kali ini kau merasa gembira bukan? Bukan ada arak wangi dan hidangan lezat, bahkan nona sendiri yang menemani dirimu”