Rahasia Hiolo Kumala Jilid 27

Jilid 27

SELANG sesaat kemudian, kedua orang itu sudah mendekati suatu tempat yang memancarkan cahaya api, secara latap-latap mereka pun mendengar suara pembicaraan manusia. Tanda-tanda tersebut menunjukan bahwa mereka sudah makin dekat dengan tempat berkumputannya kawanan musuh, serta-merta gerak-gerik mereka dilakukan jauh lebih berhati-hati lagi.

Maju ke depan tiga kaki kemudian, terbentanglah sebuah tanah lapang yang luas.

Tanah lapang tersebut luasnya dua tiga puluh kaki, kecuali batu cadas yang berserakan dimana-mana, hampir boleh dibilang tak nampak sedikit rerumputanpun tumbuh di situ.

Ditengah tanah lapang membara, seonggokan api unggul yang amat besar, cahaya api yang memancarkan keempat penjuru menerangi sekeliling tempat itu dengan terangnya.

Disimping kiri kanan api unggul, duduklah bersila dua rombongan manusia berbaju ringkas.

Disebelah kiri duduk kurang lebih lima-enam belas orang, mereka semua berdandan sebagai seorang imam dengan rambut digulung menjadi satu memakai jubah berwarna kuning telur dan berkerah bundar dengan bagian dada terbuka lebar, kaosnya putih setinggi lutut, sepatunya setinggi terbuat dari kulit.

Rombongan tersebut tak usah diragukan lagi merupakan jago-jago tangguh Mo-kauw yang berasal dari Seng sut hay.

Rombongan ini dipimpin oleh seorang imam bertampang jelek, berikat pinggang berwarna emas dengan alis mata dan jenggot berwarna merah darah. Sejak kecil Hoa In-liong sudah sering kali mendengar kisah pengalaman ayahnya dimasa lalu, cerita tersebut sesudah didengarnya, entah berapa puluh kali kecuali masalah yang menyangkut soal hubungan muda mudi, tentang pengalaman lainnya boleh di bilang sudah demikian pahamnya sehingga hapal diluar kepala.

Maka, ketika pandangan pertamanya terbentur dengan wajah orang itu, kontan saja hatinya bergetar keras, seketika itu juga ia menduga orang tersebut sebagai murid pertama dari Tang kwi Siu, yaitu cikal bakal pendiri Mo-kauw. Atau dengan perkataan lain kakek jelek tersebut bukan lain adalah jago tangguh nomor dua dari Mo-kauw yang bernama Hong Liong.

Duduk disamping kanan adalah serombongan manusia berbaju ketat, mereka dipimpin oleh seo sang kakek berjubah hitam yang mempunyai jenggot panjang dan sepasang mata yang sipit.

Dibelakang tubuhnya duduk melingkar empat orang pendekar berbaju ringkas warna hijau polos, bermantel pendek dan menyoren sebilah pe dang antik dipinggangnya.

Keempat orang itu tak lain adalah anak murid Hian-beng Kaucu yang kesemuanya bernama Ciu Hoa. Hoa In-Hong pernah bertemu dengan tiga orang diantaranya.

Sedang lainnya berbaju ungu semua, jumlah mereka mencapai delapan sembilan belas orang, namun Hoa In-liong tak sempat memperhatikan mereka satu per satu.

Semua perhatian dan pendengarannya waktu itu tertuju untuk menyadap pembicaraan antara Hong Liong dengan si kakek berjubah hitam.

Tapi, walaupun ia sudah berusaha mendengarkannya dengan seksama, kecuali beberapa patah kata seperti “kaucu kalian” tidak bisa” dan kata-kata sederhana lainnya, oleh karena terganggu oleh suara gemerisikan peletakan kayu bakar yang di makan api, hampir tak separah kalimat pun yang bisa ditangkap dengan jelas.

Hal ini tentu saja amat menggelisahkan hatinya, diam-diam pikirnya dihati, “Penjagaan dalam lembah sangat ketat sekali, ini berarti perundingan yang sedang mereka selenggarakan adalah untuk merundingkan sesuatu yang Penting, aku harus mendekati tempat psrtemuan itu lebih kedepan”

Dengan mata yang jelalatan dia memeriksa keadaan disekitar tempat itu, tapi apa yang di jumpainya adalah sebuah tanah lapang yang luasnya mencapai tujuh delapan balas kaki tanpa ada sedikit tumbuhan pun yang bersemi disana

Dengan putus asa ia berpaling ke arah Coa-Wi wi, tiba-tiba dilihatnya gadis itu sedang berkerut kening, sikapnya menunjukkan bahwa ia sedang mengikuti pembicaraan tersebut dengan seksama, cepat tegurnya dengan ilmu menyampaikan suara, “Adik wi, apa saja yang sedang mereka bicarakan?”

Coa Wi-wi mengernyitkan alis mainnya, ia tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah berseru, “Jiko, coba libat rombongan manusia yang berbaju kuning itu, oh….betapa jeleknya tampang wajah mereka!”

Hoa In-liong ikut berpaling kembali kearah lapangan, dibawah cahaya api unggun tampaklah orang-orang dari Seng sut pay itu makin lama kelihatan bertambah mengerikan, terutama wajah Hong Liong, sedemikian seramnya sampai- sampai siapapun yang memandangnya merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri. Hanya sekejap ia memandang ke arah mereka, kemudian tanyanya lagi, “Coba perbatikan dengan seksama, perhatikanlah apa yang sedang mereka rundingkan?”

Coa Wi-wi segera pusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan pembicaraan tersebut dengan seksama, selang sesaat kemudian ia baru menyahut dengan lirih, “Agaknya mereka sedang mempersoalkan siapakah yang pantas menjadi pemimpin mereka”

“Berbicaralah dengan lebih jelas lagi!” seru Hoa In-liong penuh kegelisahan.

Coa Wi-wi memperhatikan kembali pembicaan itu, kemudian berkata, “Si jelek berjenggot merah itu berkata begini….

“Orang itu bernama Hong Liong” Hoa In-liong menerangkan, “dia adalah tokoh nomor satu diantara murid muridnya Tang Kwik-siu lainnya!”

“Ooooh….!” Coa Wi-wi berseru tertahan, diapun melanjutkan kembali kata katanya.

“Hong Liong berkata, “Berbicara menurut tingkat kedudukan maupun usia di masa lalu, kaucu kalian sepantasnya menghormati guru kami sebagai Beng Cu!”

Tapi kakek baju hitam itu segera menjawab, “Untuk belajar ilmu tiada tingkatan siapa dulu siapa belakangan, siapa yang berhasil mencapainya terlebih dulu, dialah yang kita hormati, walaupun kaucu kalian adalah seorang jagoan berbakat, memiliki ilmu silat yang tinggi, tapi kaucu kamilah yang lebih lihay saat ini, maka sepantasnya kalau kedudukan Beng cu tersebut diberikan untuk kaucu kami” Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong tertawa dingin tiada hentinya, agaknya ia merasa amat gusar sekali oleh ucapan lawannya….

“Tentang ilmu silat siapa yang lebih unggul apakah Hong Liong memberikan pendebatannya?” tukas Hoa lu-liong.

Coa Wi-wi gelengkan kepalanya berulang kali. “Sama sekali tidak!” jawabnya.

Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan kembali kata- katanya, “Tampaknya ilmu silat yang dimiliki Hian-beng Kaucu memang benar-benar jauh dialas kemampuan Tang kwi Siu!”

Hoa In-liong termenung tidak menjawab, ia merasa terkejut bercampur sangsi.

Yaa, pada hakekatnya dia cukup memaklumi betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki Mo-kauw kaucu Tang Kwik-siu sehingga Kiu-im-kauwcu yang lihay pun hanya mampu bertanding seimbang dengannya atau lebih unggul pun hanya unggul sedikit bahkan dikolong langit dewasa ini kecuali Hoa Thian-hong dan keluarga Coa boleh dibilang tiada seorangpun yang mampu menandinginya.

Dan kini tahu-tahu muncul pula seorang Hian-beng Kaucu yang memiliki ilmu silat jauh di atas kepandaian Mo-kauw kaucu, terbayang kembali peringatan dari pihak Ci li-kau yang mengatakan bahwa api iblis sudah membakar seluruh daratan tak bisa disalahkan kalau hatinya jadi murung campur keras.

Setelah dipikir sebentar namun tidak berhasil juga mengetahui siapa gerangae Hian-beng Kaucu tersebut, diapun bertanya, “Adik Wi, apakah mereka pernah menyebut nama asli dari Hian-beng Kaucu sepanjang pembicaraan yang berlangsung?”

“Coa Wi-wi pasang telinga mendengakannya dengan seksama, lalu menggeleng, “Tidak! Kakek berjubah hitam itu memyebut Hian-beng Kaucu sebagai “Kaucu kami atau kaucu perkumpulan kami sedangkan Hong liong menyebutnya dengan sebutan kaucu kalian atau kadang-kadang hanya membasai dengan sebutan dia tampaknya pembicaraan mereka berdua mengalami cocokan”

Tiba-tiba ia berkata lagi, “Kedua orang itu membicarakan pula tentang diri Kiu-im-kauwcu, kalau diderangar dari nada suaranya tampaknya mereka merasa sangat tidak puas semestinya dalam pertemuau yang diselenggarakan malam ini pihak Kiu-im kau juga ikut hadir tapi kenyataannya Bwe Su- yok tidak mengirim utusannya untuk menghadiri pertemuan itu….”

“Apakah mereka membicarakan juga bagaimana caranya menghapi Bwe Su-yok….?” tanya Hoa liong lebih jauh dengan nada cemas.

Melihat kegelisahan orang, Coa Wi-wi sengaja menjawab, “Yaa mereka sedang berunding bagaimana cara nya mecincang tubuh budak she-Bwe tersebut dan membuang ke kali untuk makanan ikan sakit hati yaa kau!”

Hoa In-liong tertawa geli, tentu saja ia tahu kalau gadis itu sedang menggoda dirinya, karena itu diapun tidak berani banyak bertanya lagi….

“Coba lihat tampangmu itu, hanya begitu saja sudah ketakutan setengah mati” omel Coa Wi-wi dengan bibir dicibirkan, “mereka hanya menyinggung soal itu sebentar saja, kemudian pembicaraan beralih lagi ke persoalan lain” Tiba-tiba ia memasang telinga dan mendengarkannya dengan seksama, setelah itu berkata, “Sekarang mereka membicarakan tentang diri empek Yu!”

“Apa saja yang mereka bicarakan?”

“Agaknya Hian-beng Kaucu memaksa empek Yu untuk buatkan semacam obat obatan mula-mula empek Yu menolak, tapi sekarang entah apa sebenarnya telah menyanggupi permintaan mereka.

“Yaaah….! Tak mungkin, hal ini tak mungkin terjadi!” seru Hoa In-liong tidak percaya, “aku cukup mengenali watak empek Yu, dia lebih suka di siksa dan menderita daripada bertekuk lutut dihadapan musuhnya!”

“Toh bukan aku yang mengatakannya begitu, memangnya aku sedang membohongi engkau?”

Hoa In-liong tersenyum.

“Masih ada yang lain?” tanyanya.

“Kakek berjubah hitam itu berkata bahwa semua bahan yang dibutuhkan telah siap, sekarang tinggal mencari Su bok thian go (kelabang langit bermata empat) serta Sam ciok pek cu (laba-laba hijiu berkaki tiga), ia berharap pihak Seng sut pay mau memberikan bahan tersebut kepadanya, sekarang Hong Liong sedang termenung memikirkan persoalan tersebut….”

Sementara itu, Hoa In-liong sembari mendengarkan penjelasan dari si dara yang merdu dan sedap di dengar itu, sepasang matanya dengan tajam mengawasi pula gerak-gerik kakek berjubah hitam dan Hong Liong. Tiba-tiba dilihatnya ada seorang laki-laki berbaju ungu menghampiri kakek berjubah hitam itu dengan langkah tergesa-gesa, melihat hal tersebut pemuda kita mengeluh, “Aduuh celaka, ketahuan sudah jejak kami!”

Benar juga ketika laki laki berbaju ungu itu selesai membisikkan sesuatu kesisi telinga kakek berbaju hitam itu, kontan saja dengan sorot mata setajam sembilu kakek berjubah hitam itu mengawasi sekeliling tempat itu dengan seksama.

Kemudian sambil tertawa tergelak ia bangkit berdiri. “Sobat dari manakah yang sudah berkunjung kemari?”

tegurnya, “mengapa tidak tampil kedepan agar aku Beng Wi-

cian dapat melayani dengan sebaik-baiknya?”

Gelak tertawa maupun ucapan yang dipancarkan kakek itu langsung menggema di seluruh lembah, membuat dahan dan ranting pohon bergon cang keras, ini membuktikan bahwa tenaga dalam yang dimilikinya sudah mencapai tingkatan yang amat sempurna.

Berbareng dengan dipancarkannya ucapan tadi keempat orang Ciu Hoa serta sekalian laki-laki berbaju ungu serentak bangkit berdiri, kemudian, memeriksa empat penjuru dengan katapan tajam

Dalam keadaan begini, Hoa In-liong tahu bahwa tempat persembunyiannya bakal ketahuan musuh, diapun berbisik lirih, “Adik Wi, bila sampai terjadi pertarungan, aku harap kau suka turun tangan dengan keji, tak usah sungkan-sungkan lagi” “Harus memhunuh orang?” tanya Coa Wi-wi agak gemetar, setelah tertegun sejanak.

Hoa In-liong tidak menjawab, hanya dihati kecilnya ia lantas berpikir, “Adik Wi ramah dan baik hati, aku tidak boleh memaksa dirinya untuk turun tangan keji!”

Pembicaraan tersebut dilangsungkan tanpa menggunakan ilmu menyampaikan suara, otomatis Beng Wi-cian serta Hong Liong yang sedang mencari tempat persembunyian mereka dapat menangkap pula gerakan irama tadi.

Dengan sorot mata setajam sembilu, pandangan mereka segera dialihkan kearah mana mereka berada.

Hoa In-liong tertawa nyaring, pelan-pelan ia munculkan diri dari dalam hutan, lalu berkata, “Setelah Beng cianpwe mempersilahkan kami keluar, sebagai angkatan yang lebih muda, kami tak berani membangkang perintah orang yang lebih tua, terimalah salam hormat kami ini dengan hati yang tenang!”

Seraya berkata, ia benar-benar menjura dan memberi hormat kepada kakek berjubah hitam itu.

Dasar binal, sekalipun berada dihadapan musuh tangguh, sianak muda itu tak dapat meninggalkan kebiasaannya, untuk bersikap santai dan senyum cengar cengir menghiasi bibirnya.

Beberapa orang Ciu Hoa itu berubah wajah, rata-rata mereka unjukkan sikap marah.

Ciu Hoa yang pernah munculkan diri disamping layon Suma Tiang-cing itu maju kedepan dengan wajah menyeringai seram ia berkata, “Eeeeh….bocah keparat….” “Tunggu sebentar toa kongcu!” tiba tiba Beng Wi-cian menghalangi orang itu.

Ciu Hoa lotoa berhenti maju, lalu berpaling.

“Apa yang hendak kau lakukan Beng-lo?” tegurnya.

Beng Wi-cian tetap kalem, jawabnya, “Kaucu telah berpesan, semua urusan yang menyangkut operasi kita di kota Kim leng diserahkan tanggung jawabnya kepadaku, maka aku pula yang berkewajiban menentukan setiap langkah kita”

Mendengar perkataan itu, Ciu Hoa lotoa tertegun. “Soal ini….”

“Harap toa kongcu bersedia memberi sedikit muka kepadaku!” tukas Beng Wi-cian cepat.

Paras muka Ciu Hoa lotoa agak berubah, ia unjukkan sikap keragu-raguan, tapi toh akhirnya mundur juga meski dengan sikap uring-uringan.

Sementara itu Hoa In-litong sudah berada kurang lebih dua kaki dari onggokan api unggun, sedangkan Coa Wi-wi dengan manjanya mengikuti terus disisinya.

“Ji kongcu!” ucap bang Wi cian kemudian sambil menjura, baik-baikkah ayahmu? Kaucu kami titip salam untuk dirinya!”

Hoa In-liong tidak langsung menjawab, sebaliknya ia berpikir dalam hati kecilnya, Sejak tampil ke muka, aku belum pernah melaporkan namaku, ciu Hoa juga tidak mengatakan apa-apa tapi kenyataannya hanya sekilas pandangan saja Beng Wi-cian sudah dapat menebaknya secara jitu, dari sini dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa pihak Hian beng-kau telah menyelididiki semua keadaan keluarga Hoa dengan sejelas-jelasaya, a-tau dengan perkataan lain, sudah semenjak dulu mereka menaruh perhatian khusus terhadap keluarga Hoa.

Sementara ia masih melamun Beng Wi-cian telah menyinggung diri Hoa Thian-hong, maka dengan wajah serius buru-buru ia balas memberi hor mat.

“Ayahku berada dalam keadaan sehat Wal’afiat tanpa kekurangan sesuatu apapun, terimakasih untuk perhatian itu!”

“Cuma saja belakang ini beliau kurang nyenyak tidurnya kurang nikmat daharnya lantaran harus memikirkan beberapa persoalan yang bikin pusing kepalanya!”

Ucapan itu penuh mengandung nada sindiran, sebagai seorang jago yang berpengalaman tentu saja Beng Wi-cian dapat merasakannya diapun segera tertawa.

“Haaahh…. haaahh…. haaahh….ji-kongcu pandai sekali bergurau, ayahmu adalah seorang pendekar gagah perkasa yang tak akan berubah wajahnya kendatipun Thay-san ambruk dihadapannya, masala jadi pusing kepala hanya dikarenakan persoalan yang tak ada artinya?”

Kemudian ia berpaling kearah Coa Wi-wi dan ujarnya kembali, “Kecantikan wajah nona ini bak bidadari dari kahyangan, lohu merasa beruntung sekali dapat menjumpainya, bolehkan kutanyakan siapa namamu nona manis?”

Beberapa patah perkataan itu diucapkan dari hati sanubarinya yang jujur. Hal ini dikarenakan kecantikan Coa Wi-wi ibaratnya sekuntum bunga mawar yang baru mekar, siapapun yang memandangnya segera timbul rasa suka dan menyayanginya tidak terkecuali juga diri Beng Wi-cian meskipun ia sudah Lanjut usianya.

Berseri wajah Coa Wi-wi maadengar pujian itu, ia merasa senang hati dengan kata kata tersebut.

“Aku bernama Coa Wi-wi!” sahutnya. Kemudiaa setelah tertawa manis, terusnya, “Aku lihat engkau adalah seorang yang baik hati, buat apa mesti pergaulan dengan kawan manusia jahat itu?”

Dengan wataknya yang polos dan manja timbul kesan baiknya terhadap Beng Wi-cian, karena kata-kata pujiannya tadi terutama kata-katanya yang terakhir, boleh dibilang diucapkan dengan nada manja sekali, tentu saja kata-kata tersebut membuat Beng Wi-cian harus meringis menahan perasaannya

Sementara pembicaran itu berlangsung, para jago dari pihak Mo-kauw tetap duduk sila ditempat selalu tanpa mengucapkan sepatah katapun, rupanya mereka berperinsip: Sambil berpeluk tangan melihat harimau berkelahi.

Ditengah kebeningan yang mencekam seluruhnya jagad, tiba-tiba Hong Liong berkata dengan wajah menyenangi seram, “Bocah cilik dari keluarga Hoa mungkin engkaulah si anak jadah yang dipelihara Hoa Thian-hong dengan Pek Kung gie?”

Hoa In-liong berwajah tampak dan menarik dipandang kebagusan rupanya kebanyakanya diwaris dari type wajah ibunya karena itu bagi mereka yang pernah berjumpa dengan Hoa Thian-hong serta Pek Kun gie, tidak sulit untuk menebak indentitasnya.

Tak terkirakan rasa gusar Hoa In-liong mendengar ayah ibunya dicemooh orang dengan ucapan yang menghina dan tak sedap di dengar, tapi ia tidak membalas kemarahan tersebut dengan makian langsung, sebaliknya sambil celingukan kesana kemari seperti lagi mencari sesuatu serunya keheranan, “Aneh…. benar-benar sangat aneh, barusan kudengar dengan amat jelasnya gonggongan seekor anjing budukan yang aneh, kenapa disekitar tempat ini tidak kutemukan seekor anjingpun?”

Coa Wi-wi tertawa cekikikan.

“Hiiihh…. hiiihh…. hiiihh…. kalau anjing itu memakai kulit manusia, sudah tentu jiko tak akan menemukannya!”

Tak terkirakan rasa gusar Hong Liong ketika dirinya dimaki sebagai seekor anjing budukan yang gila, sambil menyeringai seram teriaknya penuh kegusaran, “Bajingan, kau pingin mampus!”

Dengan sepuluh jari tangannya direntangkan lebar-lebar, dari jari yang menekuk bagaikan kaitan, membawa deruan angin pukulan sekencang geledek ia lancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah dada Hoaln-liong dari tempat kejauhan.

Coa Wi-wi mendengus dingin, sambil melangkah setindak ke depan, telapak tangannya digetarkan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Orang lain menyaksikan kejadian itu diam-diam merasa sayang, sebab sedemikian dahsyatnya pukulan tersebut tak mungkin bisa disambut oleh seorang gadis semuda itu, bukankah ini sama dengan menghantar nyawa si nona itu dengan sia-sia?

Yaa, didalam gusarnya Hong-liong telah menggunakan tenaga sebesar sembilan bagian dalam serangannya itu, tak seorang pun percaya kalau Coa Wi-wi sanggup menerima ancaman tersebut.

Malahan ada diantara mereka yang diam-diam memakai kepengecutan Hoa In-liong yang telah mengobarkan nyawa seorang gadis demi keselamatan diri sendiri, bukankah perbuatan tersebut sama dengan mencoreng nama baik keluarga Hoa?

Hong Liong sendiri meski merasa agak sayang, tapi luapan marah yang berkecamuk dalam benaknya betul-betul tak terbendung lagi, pukulan daysyat tersebut tetap dilontarkan ke depan.

“Blaaang….! dua gulung tenaga pukulan yang sama dahsyatnya saling bertemu satu sama lainnya menimbulkan suatu ledakan yang memekikkan telinga.

Apa yang terjadi kemudian? Oleh hasil tenaga benturan tersebut, tubuh Coa Wi-wi hanya bergetar sedikit saja, tapi kemudian badannya tetap tegap sekokoh batu karang.

Sebaliknya Hong Liong yang menyerang dengan tenaga besar, malahan kena dipaksa mundur selangkah kebelakang, itupun dengan susah payah dia musti menjaga keseimbangan badannya agar tidak terdorong mundur lebih ke belakang.

Dengan kejadiannya bentrokan ini, kontan saja kawanan jago dari Hian-beng-kauw mau pun Mo-kauw jadi terkejut dan berdiri terbelalak. Perlu diterangkan disini, tenaga dalam yang di miliki Hong Liong sedemikian tingginya sehingga Pek Siau-thian, San ki pangcu tempo dulupun belum tentu dapat mengunggulinya, tapi kenyataannya sekarang, jago tangguh tersebut harus menelan kekalahan ditangan Coa Wi-wi, sudah tahu kenyataan tersebut sangat menggemparkan hati semua orang.

Beng Wi-cian ikut merasa terkesiap, ia lantas berpikir, “Kalau dilihat usianya, paling-paling budak ini baru berumur enam tujuh belas tahunan, heran, kenapa tenaga dalamnya bisa mencapai ke tingkatan yang demikian sempurnanya?

Kalau dia saja sudah selihay ini apalagi gurunya dibelakang layar, ooouw, entah sampai dimana ketangguhannya?

Celaka…. kalau dilihat sikap mesra dayang ini terhadap bocah dari keluarga Hoa itu, cepat atau lambat mereka pasti akan berpasangan, kalau orang tua mereka ikut bersatu dalam satu wadah, bukankah Hian-beng-kauw cuma kebagian kekalahan yang berulang-ulang?”

Sementara itu Hong Liong sudah berhasil mengendalikan perasaannya, meski rasa ngerinya masih menyelimuti dada, dengan nada keras ia lantas membentak nyaring, “Wahai budak cilik, siapakah gurumu?”

“Huuhh…. kau tidak pantas untuk mengetahuinya!” jawab Coa Wi-wi sambil mencibirkan bibirnya.

Hong Liong semakin naik darah, hanya saja meski dia adalah seorang yang berangasan namun bukanlah manusia yang tidak mempunyai perhitungan, dia mengerti, seandainya terjadi pertarungan, niscaya dialah kebagian yang kalah.

“Masa didunia ini benar-benar masih ada sim-hoat tenaga dalam yang jauh lebih tangguh dari pada keluarga Hoa dari im-tiong-san?” demikian pikirnya, “andaikata….” Berpikir sampai disini, tak terasa lagi dia berpaling ke arah Beng Wi-cian.

Kebetulan Beng Wi-cian sedang memandang pula ke arahnya, kedua orang itu segera tersenyum, walaupun tidak berkata kata namun dari senyuman tersebut dapat diketahui bahwa perasaan maupun jalan pikiran mereka tidaklah jauh berbeda.

Sekarang kedua orang itu mempunyai tujuaa yang sama, mereka hendak menggunakan kesempatan pada malam ini untuk menangkap kedua orang itu walau dengan cara apapun jua, atau paling tidak Hoa In-liong harus ditangkap hidup- hidup agar dikemudian hari memberi kesempatan baginya untuk mundur teratur.

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh anggota, tiba-tiba Hoa In-liong bukan memecahkan kesunyian, “Beng cianpwe, tolong tanya apa jabatanmu dalam perkumpulan Hian-beng-kauw?”

“Apa salahnya hal ini kukatakan kepada si bocah keparat tersebut….?” pikir Beng Wi-cin.

Ia lantas terbawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh….sekalipun lohu tidak becus, rupanya mendapat perhatian khusus dari kaucu kami, sekarang menjabat sebagai Thamcu dari ruang Thian-ki kedudukan yang sangat tentu akan membuat kau jadi kecewa”

“Ooouw…. aku rasa kedudukan tersebut tentulah hanya dibawah seseorang tapi diatas selaksa orang, bukan demikian?” “Oooh….bukan, bukan, kawanan jago yang bergabung dalam perkumpulan kami tak terhitung banyaknya, banyak diantara mereka yang mempunyai jabatan jauh diatas diriku”

Hoa In-liong tertawa.

“Oooh…. masa iya? Sekalipun demikian, dari kekuasaan yang kau miliki saat ini di mana murid tertua dari sang kaucu pun harus tunduk dibawah perintahmu, dapat diketahui sampai dimanakah kekuasaan yang kau miliki….”

Diam diam Beng Wi-cian menyumpah dihati, “Sialan, bocah ini benar-benar licik sekali, belum juga aku buka suara, ia sudah mulai memancing diriku!”

Sambil mengelus jenggotnya diapun menyahut, “Keliru besar jika Hoa kongcu berkata demikian, kalau toh pada saat ini lohu dapat memberi perintah kepada murid-muridnya kaucu, hal ini disebabkan karena perintah langsung dari kaucu.

Oleh karena tugas yang musti kuselesaikan, mau tak mau yaa harus begitulah”

Ketika Hoa In-liong mengucapkan kata-katanya untuk pertama kali tadi, paras muka ke empat Ciu Hoa itu berubah hebat, tetapi setelah Beng Wi-cian memberikan penjelasannya, mereka baru menjadi tenang kembali.

Hoa In-liong yang berpandangan tajam dapat mengikuti semua kejadian itu dengan seksama, diam-diam semua kejadian tersebut dicatat didalam hati, ia merasa kalau toh kedua belah pibak sama-sama mempunyai penyakit hati berarti keretakan diantara mereka dapat ia manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Setelah berpikir sebentar, Hoa In-liong berkata lagi, “Ooooh….jadi tingkat kedudukan dalam perkumpulan kalian ditentukan oleh pembagian sektor, lantas dibawah sektor- sektor tersebut apakah terdapat juga kedudukan seperti Tongcu, Tuo cu dan sebangsanya?”

“Tidak ada, perkumpulan kami berbeda dengan perkumpulan perkumpulan lain, karena itu tiada pula jabatan- jabatan sejenis itu dalam perkumpulan Hian-beng-kauw!”

“Apakah terdapat pula bagian penerimaan anggota baru seperti yang terdapat di perkumpulan Kiu-im-kauw?” tanya Hoa In-liong lagi.

Ciu Hoa lo san yang bermuka kuda tiba-tiba menimbrung dari samping, “Barang siapa berani memusuhi perkumpulan kami, kecuali kcmatian tiada jalan lainnya, karena itu tak perlu ada bagian semacam itu!”

Dengan gusar Beng Wi-cian melotot sekejap ke arahnya, kemudian sambil tertawa katanya, “Perkataan dari sam kong perkumpulan kami hanya kata-kata gurauan belaka, harap Hoa kongcu jangan menganggap serius”

Kemudian setelah termenung sebentar, katanya lebih lanjut, “Walaupun perkumpulan kami tidak memiliki bidang pencarian anggota baru, tapi seandainya Hoa kongcu ada niat masuk perkumpulan kami, lohu bersedia menjadi perantara bagimu. Mengingat kau adalah keturunan dari sahabat lamanya dan lagi memandang kemampuan Hoa kongcu disegala bidang…. haaahh…. haaahhh…. haaahhh….siapa tahu kalau kaucu kami akan memberi jabatan di bawah satu Orang di atas selaksa orang bagi diri kongcu?”

Hoa In-liong memang menantikan ucapannya itu, buru- buru katanya kembali, “Sebenarnya tokoh persilatan dari manakah kaucu kalian itu? Harap Beng thamcu bersedia memberitahukan kepadaku, agar aku Hoa Yang pun tak sampai bersikap kurang sopan”

Beng Wi-cian agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, segera jawabnya, “Asal kocgcu telah bertemu dengannya, kau akan segera mengetahui siapakah kaucu kami itu, maaf, sebelum mendapat perintah, lohu tak berani lancang untuk memberitahukannya kepadamu”

Pandai amat si tua bangka ini menjaga rahasia, pikir Hoa In-liong dalam hati, “agaknya untuk menyelidiki siapa gerangan Hian-beng Kaucu itu, aku harus mengambil tindakan yang secepat-cepatnya, sebab malam yaag panjang akan menimbulkan impian yang banyak!” 

Setelah mengambil keputusan, dengan wajah yang membesi diapun berkata kembali, “Jikalau memang demikian, Hoa yang tak berani menyusahkan diri Beng Thamcu lagi, harap Beng Thamcu memberikan penyelesaian seadil adilnya atas terjidinya peristiwa di pesanggrahan pertabiban”

Begitu mengatakan, dia lantas berubah wajah, sampai- sampai Beng Wi-cian pun ikut merasa diluar dugaan, segera pikirnya, “Keteguhan dan kegagahan bocah ini mirip Hoa Thian-hong, kebinalan dan kelicikannya mirip Pek Kun-gie, dia adalah seorang manusia yang paling susah dihadapi, heeh…. heehh…. heehh…. kalau membiarkan dia tumbuh jadi dewasa, sudah pasti akan menjadi Hoa Thian-hong kedua, manusia semacam ini tak boleh dibiarkan hidup di-dunia ini….”

Berpikir sampai disitu, timballah nafsu membunuh dalam hatinya, ia memutuskan bila malam ini gagal menawan Hoa In-liong dalam keadaan hidup, maka pemuda itu harus dibunuh sampai mati. Hanya saja, lantaran orang lain termasuk seorang manusia yang licik dan banyak akal muslihatnya, maka sekalipun dihati kecilnya sudah mengambil keputusan, hal tersebut tidak sampai diperlihatkan diatas wajahnya.

Dalam pada itu Hong Liong sudah ulapkan tangannya, serentak belasan orang anggota Seng sut pay yang berada dibelakangnya bangkit berdiri dan menyebar keempat penjuru untuk menghadang jalan mundur Hoa In-liong serta Coa Wi- wi.

“Bocah cilik dari keluarga Hoa!” teriaknya dengan lantang, “engkau ibaratnya pausat lumpur yang menyeberangi sungai. Menyelamatkan diri sendiri saja sulit, lebih baik janganlah mencampu ri urusan orang lain!”

Hoa In-liong sadar bahwa keadaan sudah gawat, melihat ada kesempatan baik segera bisiknya, “Adik Wi, serbu!”

Sambil meloloskan pedang mustikanya, dia ayun tangannya ke depan dan menerjang musuh-musuhnya.

Kebetulan dihadapannya berdiri dua orang imam berjubah kuning, seorang bersenjata ruyung Thian ong-pian, sedang yang lain bersenjata sepasang palu tembaga Siang oh tong tui, kedua duanya merupakan senjata berat, terutama pula tembaga itu besarnya bagaikan cawan arak, bila seseorang tidak memiliki tenaga sebesar ribuan kati jangan harap ia dapat mainkan kedua buah senjata tersebut dengan leluasa.

Dalam pada itu kendatipun mereka saksikan betapa dahsyatnya serangan yang dilancarkan Hoa In-liong ternyata kedua orang itu tidak bermaksud untuk menghindari atau berkelit. Imam berjubah kuning yang mainkan ruyung Thian ong pian itu segera putar senjatanya dan menghajar iga kanan Hoa In-liong.

Sebaliknya orang yang bersenjata sepasang palu tembaga satu dari kiri yang lain dari kanan segera menangkis pedang dan menyerang lawan dengan jurus Siang hong kuan lo (Sepasang angin menembusi telinga.)

Hoa In-liong menjengek sinis, badannya mengegos ke samping begitu terhindar dari babatan ruyung Thian ong pian yang mengancam iga kanan nya pedang itu diputar ke muka mencukil sepasang palu tembaga dan balas membabat sepasang pergelangan tangannya.

Gerakan tersebut boleh dibilang merupakan tindakan mengangkat yang berat bagaikan melakukan yang ringan, dibalik serangan terselip pula gerakan untuk menyelamatkan diri, bukan saja membuat orang yang bersenjatakan sepasang palu itu harus berkelit ke samping, bahkan membuat posisi mereka berbahaya sekali.

Hoa In-liong sedikitpun tidak menghentikan gerakan tubuhnya, dalam sekejap mata ia menyerempet lewat disisi mereka lalu menerjang keluar dari kepungan.

Tiba-tiba dari atas kepalanya terasa ada sambaran angin tajam, begitu tajamnya daya tekanan tersebut membuat anak itu tak sanggup mengangkat kepalanya.

Hoa In-liong jadi kaget, dalam gugupnya ia gunakan jurus Pau goan sio it (menghimpun tenaga menjadi satu) untuk melindungi sekujur badannya dari ancaman musuh, kemudian dengan gerakan Hok-tok han thong (bangau putih menyeberangi kolam dingin) badannya melayang dua kaki jauhnya dari tempat semula. Orang yang barusan melancarkan serangan tak lain adalah Hong Liong, semula ia bermaksud melancarkan sergapan secara tiba-tiba dan berusaha menangkap Hoa In-liong dalam keadaan hidup-hidup….

Siapa tahu kedua jurus gerakan yang digunakan anak muda itu kesemuanya merupakan jurus melindungi badan serta menghindari serangan musuh yang amat tangguh dari rangkaian Hoa si ci-ong kiam cap lak sin cau (enam belas jurus sakti pedang bebat keluarga Hoa), bukan saja gerakan nya amat lihay, bahkan tenaga dalam yang terpancar keluar ibaratnya dinding baja yang tak tembus, mau tak mau gagallah ancaman yang telah dipersiapkan dengan seksama itu.

Tapi Hong Liong bukan manusia sembarangan, ia tak mau sudahi ancamannya dengan begitu saja begitu ancamannya gagal, serentak badannya menerjang lebih jauh, serangan- serangan mematikan pun dilontarkan secara bertubi-tubi.

Kontan saja Hoa In-liong merasakan datangnya daya tekanan seberat bukit karang, dalam keadaan demikian, ia tak berani berayal lagi pedang mustikanya diputar secara sedemikian rupa hingga menimbulkan desingan tajam yang memekikkan telinga.

“Sreeet….! seeeet….! seeeet…. secara beruntung ia keluarkan jurus-jurus tangguh dari Hoa si ciong kiam cap lak sin cau untuk menghalau ancaman yang datang dari pihak lawan, jurus-jurus itu adalah Kiu thian ci lay (sembilan langit penuh seruling), Su ku-ciong mong (keheningan menyeli muti empat penjuru) serta Im yang ji-khek (im-yang dua kubut)….

Seketika itu juga Hoa Liong berbalik kena didesak sehingga harus mundur berulang kali ke belakang. Kenyataan ini sangat menggusarkan Hong Liong kemarahannya meluap-luap, pikirnya, “Kalau cuma anak jadahnya Hoa Thian-hong dengan Pek Kun gie pun tak mampuku kukalahkan, betapa malu aku?”

Ia jadi kalap serangannya makin gencar, kali ini ia menyerang dengan menggunakan ilmu ngo kui im hong jiau (cakar angin dingin lima setan), tampaklah lima gulung waha hitam yang membawa bau amis memancar keluar dari ujung jari tangannya, dengan membawa desingan angin tajam, ia melepaskan ancamannya secara bertubi-tubi.

Berbicara sesungguhnya, tenaga dalan yang dimilikinya jauh lebih unggul daripada Hoa In-liong, dengan dilancarkannya serangan secara gencar, kendatipun ilmu Hoa si ciong kiam cap lak sin ciau tiada tandingannya dikolong langit, namun dengan tenaga dalam yang belum sempurna, sulitlah bagi Hoa In-liong untuk membendung serangan musuh, secara beruntun ia kena di desak sampai mundur berulang kali.

Walaupun keadaan sudah berubah, akan tetapi bila Hong Liong ingin merobohkan Hoa In-liong dalam delapan sepuluh jurus belaka, hal ini masih merupakan suatu hal yang tak mungkin bisa terjadi.

Ketika Hoa In-liong berteriak “Serbu!” tadi , CoaWi-wi segera menjajakkan kakinya ke tanah, bagaikan seekor burung walet tubuhnya melambung di udara dan menerjang musuhnya dengn kecepatan yang luar biasa.

Dua orang imam berjubah kuning yang kebetulan berada dihadapannya, cepat menggerakkan ke empat buah telapak tangan mereka melepaskah sebuah pukulan dahsyat ke tubuh Coa Wi-wi. Sudah tentu gadis tersebut tak pandang sebelah matapun terhadap mereka, merasakan tibanya ancaman, telapak tangannya segera di getarkan kemuka melepaskan pukulan yang tak kalah dahsyatnya.

“Blaaang….! Dalam waktu singkat, dua orang imam baju kuning itu merasa datangnya tenaga tekanan yang maha dahsyat menindih dada mereka, sedemikian beratnya tekanan tersebut membuat kuda-kuda mereka jadi rapuh dan tergempur.

Darah panas bergolak dalam dadanya, kepala terasa pusing, mata berkunang-kunang, dada terasa mual dan badannya harus mundur lima enam langkah sebelum bisa berdiri tegak, dari tanda-tanda tersebut jelaslah sudah bahwa isi perut mereka sudah terluka.

Masih untung Coa Wi-wi tidak menyerang secara keji, kalau tidak, niscaya dua lembar nyawa mereka sudah terlepas dari raga masing-masing….

Meminjam daya pantulan dari tenaga serangan mereka, Coa Wi-wi melambung kembali ke udara tangannya mendayung dan menepuk berulang kali di udara, dengan entengnya ia sudah melayang sejauh tujuh kaki dari tempat semula.

Seandainya ia ingin berlalu dari situ, hal mana dapat dilakukan dengan sangat mudahnya, dan siapapun jangan harap bisa menghalang-halangi kepergiannya.

Akan tetapi, sewaktu ia berpaling dan dilihatnya Hoa In- liong sedang dihadang oleh Hong Liong dengan serangan- serangannya yang gencar, gadis iiu membatalkan niatnya untuk pergi, ia putar badan dan menerjang kembali ke dalam gelanggang.

Hal inipun merupakan perhitungan dari Hong Liong, dia tahu asal Hoa In-liong dapat dihalangi kepergiannya, niscaya Coa Wi-wi tak akan pergi dengan begitu saja, karenanya dia hanya pusatkan segenap perhatiannya untuk menghadapi Hoa In-liong seorang.

Beng Wi-cian telah mengadakan persiapan semenjak tadi, cepat ia menuju ke muka menyongsong datangnya gadis tersebut.

Tenaga dalamnya tidak berada dibawah kekuatan Hong Liong, dengan sendirinya seraDgan yang ia lancarkan juga teramat tangguh, seketika itu juga jalan pergi Coa Wi-wi terhadang

Secara berturut turut gadis itu mengganti gerakannya untuk melepaskan diri dari penghadangan lawan, namun semua usahanya gagal, lama kelamaan mendongkol juga hati dara itu.

Dengan dahi berkerut, ia berseru penuh kemarahan, “Hmmm….! Tadinya kukira kau adalah seorang manusia baik- baik, tak tahunya kau juga sama saja. Baik, akupun tak akan berlaku sungkan-sungkan terhadap dirimu lagi”

Beng Wi-cian tertawa.

“Maafkanlah daku nona, yaa, apa mau dikata, tugaslah yang mewajibkan lohu untuk bertindak begitu “katanya.

Sembari berkata, dengan sepenuh tenaga dia lancarkan serangan dengan menggunakan ilmu Sing eng pat ciang (Delapan Pukulan Elang Sakti) yang di tekuninya selama ini. Demikian dahsyatnya serangan yang kemudian dilancarkan, ibaratnya seekor burung elang yang menyambar-nyambar dari udara.

Coa Wi-wi mendengus dingin, telapak tangan kanannya melancarkan serangan tipuan, lalu kedua jari telunjuk dan jari tengahnya ditegangkan bagaikan tombak, dalam ayunannya kesana kemari, belasan buah jalan darah penting disebelah kanan tubah lawan terkurung dibawah ancamannya.

Itulah jurus Pian tong put ki (berubah tanpa bergerak), gerakan pertama dari ilmu Su siu huan heng ciang (pukulan empat gajah berubah bantuk) yang diciptakan Bu seng (malaikat ilmu silat) Im-Ceng.

Terkesiap hati Beng Wi-cian menghadapi ancaman yang maha dahsyat itu, ia sadar bahwa kemampuannya tak sanggup untuk menghadapi serangan sedahsyat itu.

Buru-buru ia keluarkan jurus Sim eng ti leng (elang sakti rentangkan sayap) untuk menyelamatkan diri.

Sepasang telapak tangan direntangkan ke samping, lalu bagaikan menepuk seperti juga membabat, sambil putar badan ia lancarkan serangan, dengan memaksakan diri disambutnya juga datangnya ancaman tersebut.

Kendatipun demikian, toh bahu kanannya kena diserempet juga oleh sapuan jari tangan Coa Wi-wi

Rasa sakit yang merasuk ke tulang sumsum timbul dari bahu kanannya, membuat separuh badannnya jadi kaku bagaikan lumpur, dalam gelisahnya cepat dia berteriak, “Kiu coan liong si (lidah naga berputar sembilan kali)!” Coa Wi-wi sama sekali tidak manfaatkan kesempatan itu untuk melanjutkan serangannya secepat gasingan badannya berputar kemudian meneruskan kembali terjangannya ke arah gelanggang dimana Hoa In-liong sedang terlibat dalam suatu pertarungan amat seru melawan Hoa Liong.

Sementara itu perintah dari Beng Wi-ciang untuk membentuk barisan telah dilaksanakan segera, anggota Hian- beng-kauw serentak meloloskan senjatanya masing-masing, dibawah cahanya api obor terasalah hawa pedang menyengat badan.

Menunggu perintahnya diturunkan, kilatan cahaya pelangi membumbung tinggi di angkasa, selapis kabut pedang yang menggidikan hati tiba-tiba saja menggulung ke arah Coa Wi- wi.

Menghadapi ancaman yang tak terkirakan hebatnya itu, Coa Wi-wi merasa amat terperanjat, ia hentikan gerakan tubuhnya dan melepaskan pukulan dahsyat ke depan.

Betapa dahsyatnya tenaga dalam yang dimilikinya, meskipun serangan itu tidak dilancarkan dengan sepenuh tenaga, namun ke dahsyatannya tak seorangpun yang mampu menghadapinya.

Akan tetapi, barisan Kiu coan liong si kiam tin itupun segera unjukkan keampuhannya, begitu badan si nona bergerak untuk meloloskan diri dari kurungan, beberapa pulung desingan angin tajam segera menyergap kearah beberapa buah jalan darah penting di punggungnya.

Menghadapi ancaman tersebut, gadis itu harus melindungi keselamatan jiwanya lebih dulu, mau tak mau terpaksa ia harus berhenti dan melayani ancaman musuh. Kedua belah pihak sama-sama melakukan pertarungan dengan gerakan cepat, sekejap mata kemudian tujuh delapan jurus sudah lewat.

Coa-Wi-wi selalu memperhatikan keadaan Hoa In-liong, ia tahu pemuda itu masih terpengaruh oleh racun ular sakti, penggunaan tenaga yang berlebihan tidak menguntungkan bagi posisinya, apalagi melangsungkan pertarungan dalam waktu lama.

Dalam gelisahnya, dia lantas membentak nyaring, “Eeeh….! Jika kalian menghalangi diriku lagi, jangan salahkan kalau aku akan mulai melancarkan serangan-serangan mematikan, hayo cepat mundur semua!”

Bukannya mundur kebelakarg, setelah mendengar teiiakan tadi, kawaran jago itu malahan memperketat serangan mereka, lapisan kabut pedang berlapis-lapis, ibaratnya selembar baja yang sangat kuat, muncul secara bersamaan waktunya dari tempat penjuru.

Coa Wi-wi semakin naik pitam, terutama setelah dilihatnya tak seorang manusiapun yang menggubris peringatannya, apalagi teringat oleh Hoa In-liong yang terancam bahaya, gadis itu segera menggigit bibir dan mengerahkan tenaganya semakin besar.

Secara beruntun dia keluarkan jurus serangan Hui yau siu cin (kunci beraneka liku meliku) serta Jit gwat siang tui (matahari rembulan saling berdorongan), seketika itu juga terdengarlah dua ka li dengusan tertahan berkumandang memecahkan kesunyian, dua orang laki-laki berbaju ungu yang berada dihadapannya masing-masing terkena sebuah pukulan, sambil muntah darah segar, tubuh mereka mencelat sejauh beberapa kali dari tempat mereka semula dan tewas seketika itu juga. Kedua jurus serangan tersebut kesemuanya menggunakan jurus serangan yang tercantum dalam ilmu Su siu hus heng ciang, bayangkan saja betapa dahsyatnya ancaman itu. Kendalipun kawan laki-laki berbaju ungu itu bukan manusia sembarangan meskipun tenaga dalam mereka rata-rata sangat lihay dan walaupun barisan Kiu coan liong-si kim tin tak terkirakan hebatnya, tapi mana mereka sanggup menghadapi ancaman yang maha tangguh itu….

Dengan tewasnya dua orang laki-laki tersebut, untuk sesaat kekosongan dalam barisan belum bisa terisi, suasanapun jadi kacau, ditambah lagi, sisa jago lainnya dibuat tertegun lantaran kaget dan ngeri, maka keampuhan barisan itu terhenti untuk sejenak.

Coa Wi-wi sendiri juga kaget dan ngeri, karena baru pertama kali ini dia membunuh orang, hanya saja karena semua perhatiannya terjatuh pada Hoa In-liong seorang, maka sesudah termangu sesaat, cepat ia lanjutkan kembali gerakannya untuk menyusup lebih ke depan.

Sementara pertarungan berlangsung, kawanan jago dari Seng-sut-pay hanya mengurung Hoa In-liong dan Hong Liong di tengah gelanggang, mereka hanya mengikuti jalannya pertarungan dengan mata melotot, tak seorangpun diantara mereka yang turut campur dalam pertempuran tersebut.

Walau agak terperanjat ketika Coa Wi-wi menerjang masuk ke dalam arena, ternyata hanya tiga orang yang majukan diri untuk menyongsong kedatangan lawan.

Ketiga orang itu masing masing mempunyai kemampuan yang berbeda, orang yang di tengah menggunakan ilmu totokan sian ki ci lek, yang di sebelah kanan mainkan ilmu Thian mo ciang, sebaliknya orang yang disebelah kiri mainkan ilmu Hoa kut sin kun (pukulan sakti peremuk tulang). Walaupun berbeda dalam kepandaian, akan tetapi gabungan dari ketiga orang itu justru meliputi ilmu pukulan, ilmu telapak tangan serta ilmu totokan jari.

Mengalirlah pelbagai jurus serangan yang dilancarkan bagaikan amukan angin puyuh, perubahan demi perubahan mengalir keluar tiada hentinya.

Mereka bertiga mengira asal serangan gabungan dilarcarkan secara bersamaan, niscaya musuh dapat ditaklukan, atau sedikitnya walaupun Coa Wi-wi berilmu tinggi untuk menahannya selama tujuh delapan puluh jurus tentunya bukan menjadi persoalan.

Siapa tahu, setelah menghadapi rintangan demi rintangan, hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajah Coa W wi, ketika menyaksikan dirinya diserang kembali, dengan amat gusarnya ia membentak, “Keparat, rupanya kalian sudah bosan hidup!”

Dengan penuh tenaga ia lancarkan serangan dengan jurus Pian-tong put ki segera disusul dengan jurus Hui-yan-siu ciu.

Orang yang berada di tengah itu baru saja akan menyodokkan jari tangannya ke muka, ketika secara tiba-tiba pandangan matanya jadi kabur, tahu-tahu sebuah telapak tangan yang putih mulus sudah menghantam badan….

Ia menjerit lengking kesakitan, isi perutnya hancur lumur seketika itu juga, begitu mencelat ke udara, tewaslah orang itu dalam keadaan mengerikan, darah kental berwarna hitam meleleh dari ke tujuh lubang indranya.

Orang yang sebelah kiri berusaha untuk meloloskan diri dari ancaman maut, tapi Coa Wi-wi yang sudah mata gelap mengejarnya lebih kedepan, sebuah sodokan kilat tetap menghajar jalan darah Tiong-bu-hiat nya, tak ampun orang itu roboh terjengkang.

Masih berutung Coa Wi-wi jadi tak tega setelah menyaksikan kematian orang pertama dalam keadaan mengerikan, coba serangan totokan itu dirubah menjadi serangan telapak tangan niscaya jiwanya ikut kabur ke alam baka.

Berhasil dengan serangan-serangannya, gadis itu semakin tidak ragu-ragu lagi dengan kemampuannya, dengan suatu gerakan cepat badannya bergerak ke depan dan langsung menghantam punggung Hong Liong

Merasa punggungnya diserang orang, Hong Liong terperanjat, cepat-cepat ia berkelit ke samping kiri.

Gerakan yang dilakukan Coa Wi-wi ini dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, menanti para anggota

Mo-kauw membentak marah dan siap menghalanginya, semua kejadian telah berlangsung.

Sesaat kemudian pertarungan terhenti untuk sejenak, tampaklah Hoa In-liong berdiri dengan napas tersengkal- sengkal, sekujur badannya gemetar keras dan basah oleh keringat, untuk berdiripun terpaksa ia harus menggunakan pedangnya sebagai tonggak penyanggah.

Buru-buru Coa Wi-wi menghampiri dan membimbingnya, dengan penuh kecemasan ia berseru, “Jiko, kau…. kau….baik baik bukan?”

“Aku…. aku masih bisa….” Kata-kata dari Hoa In-liong ini kedengaran agak gemetar, meski senyuman menghiasi bibirnya namun peluh dingin telah membasahi sekujur tubuhnya. Coa Wi-wi makin gelisah, air mata jatuh berlinang membasahi seluruh pipinya.

“Jiko, kau….”

“Adik Wi, aku hendak menyalurkan tenaga dalamku untuk mendesak racun….” tukas pemuda itu kembali.

Tiba-tiba ia membungkam, sementara hawa sakti Bu kek teng heng-toa hoat segera disalurkan untuk menguasahi bekerjanya sari racun dalam tubuhnya.

Berada dalam keadaan demikian, ternyata anak muda itu memutuskan untuk mengerahkan tenaga dalamnya guna mendesak sari racun dari tubuhnya, dari sini dapat diketahui betapa seriusnya keadaan pada waktu itu, meski Coa Wi-wi lihay dalam ilmu silat, ia dibikin gelagapan juga menghadapi keadaan tersebut.

Sebagaimana diketahui, dalam pertarungannya barusan, Hoa In-liong telah bertarung dengan mengandalkan keampuhan ilmu pedang Hoa si ciong kiam cap lak sin ciau.

Memang dalam soal pertahanan dan ketahuan ilmu pedang itu boleh diandalkan, sayangnya justru kejadian tersebut sangat besar menyerap kekuatan seseorang.

Dalam keadaan demikian, otomatis sari racun ular sakti yang berasil didesak Hoa In-liong ke dalam jalan darah Gi lam dan Gi-pinya jadi kambuh kembali dan menyerang isi perutnya.

Jikalau racun yang sudah terlanjur menyebar kembali ke dalam isi perutnya itu dibiarkan saja menghadapi tekanan dari luar maupun dalam, seseorang pasti tak akan tahan. Untunglah Hoa In-liong memiliki semangat bertempur yang tinggi, sekalipun harus mengalami penderitaan yang luar biasa, ia masih sanggup bertahan sampai saat terakhir.

Yaa, pada hakekatnya pertarungan yang singkat itu, bagi dari Hoa In-liong ibaratnya suatu pertarungan jarak panjang yang berlangsung selama tiga hari tiga malam tanpa berheti.

Dengan manik matanya yang indah Coa Wi-wi melirik sekejap sekeliling tempat itu, ia lihat seluruh jago Hian-beng- kauw telah mengepung mereka rapat-rapat, barisan Kiu coan liong si kiam tin yang maha tangguhpun sudah dipersiapkan sebanyak tiga lapis.

Beng Wi-cian dengan sebilah pedang mustika yang terhunus di tangan bukan saja langsung terjun sendiri ke gelanggang untuk memimpin gerakan barisan tersebut, malah keempat orang Ciu Hoa pun ikut menggabungkan diri dalam barisan itu.

Pada lapisan yang terdepan berjejerlah kawanan jago dari Seng sut pay, mereka membentuk lapisan kepungan yang sangat tangguh, rupanya pihak lawan telah berkeputusan untuk menahan mereka berdua walau dengan cara apapun jua.

Dalam sekejap mata situasi dalam arena mengalami perubahan yang dratis.

Mengetahui posisinya lebih unggul, Beng-Wi-cian tertawa terbahak bahak, katanya, “Nona Coa, lohu anjurkan kepadamu untuk lebih baik menyerah saja, percayalah, perkumpulan kami nanti akan melayani dirimu sebagai seorang tamu agung!” “Huuuhh….jangan bermimpi disiang hari bolong!” teriak Coa Wi-wi sambil berusaha untuk mengendalikan perasaannya yang kalut.

Bene wi cian tertawa mengejek.

“Heeehhh…. heeehhh…. heeehh….tentu saja aku tahu bahwa nona Coa tak akan takut menghadapi keadaan saat ini, tapi…. apakah engkau tidak memikirkan buat keselamatan Hoa kongcu?”

Ucapan tersebut dengan tepatnya mengena dihati Coa Wi- wi justru persoalan inilah yang dia kuatirkan.

Cepat ia berpaling sekejap, dilihatnya Hoa In-liong masih berdiri tegak sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengusir racun dari dalam tubuhnya, melihat itu dia lantas berpikir, “Apa dayaku sekarang? Entah sampai kapan semedi jiko baru selesai? Untuk melindungi keselamatanku sendiri jelas tak ada persoalan, tapi untuk melindungi pula diri jiko….

Saking kalut dan murungnya gadis itu, sehingga untuk sesaat lamanya lupa untuk menjawab pertanyaan lawan.

Sementara itu, Hong Liong yang berada diluar gelanggang telah berseru sambil menyeringai seram, “Beng heng, buat apa kau musti banyak cing-cong lagi dengan budak tersebut? Mau atau tidak, suruh saja dia tentukan dalam sepatah kata!”

Beng Wi-cian tertawa seram.

“Sudah kau dengar nona manis?” serunya kemudian. “Kalau sudah mendengar lantas kenapa?” Coa Wi-wi

mengejek dengan wajah sinis. “Mau atau tidak mau, harap nona putuskan dengan sepatah kata!”

“Kalau aku mau lantas kenapa, kalau mau lalu bagaimana?” kata gadis itu lagi.

Dia memarg bertujuan mengulur waktu sebisa mungkin, maka di usahannya untuk berbicara apa saja yang mungkin dapat dibicarakan.

Beng Wi-cian bukan manusia sembarangan, sudah tentu taktik semacam itu tak dapat mengelabuhi dirinya.

Terdengarlah ia tertawa tergelak, kemudian berkata, “Haaahh…. haashh…. haaahh…. jika nona bermaksud untuk mengulur waktu, maka jangan salahkan kalau lohu tidak akan berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu!”

Coa Wi-wi jadi murung, kesal dan panik, ia benar-benar kehabisan akal, gadis itu tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk mengatasi keadaan tersebut.

Ditengah suasana yang amat kritis itulah, mendadak dari tempat kejauhan berkumandang suara nyanyian yang nyaring dan lantang:

“Tanggul pohon liu, selokan pohon bambu. Bayangan surya menyinari rerumputan nan kuning. Dengan langkah perlahan kudekati dermaga nelayan.

Kulihat burung bangau dan burung manyar saling bercanda. Bapak petani paman nelayan, banting tulang untuk menyambung hidup.

Mereka tak sadar hidup dalam lukisan.

Memandang semua pemandangan yang tertera didepan mata.

Walau tak ada arakpun orang akan mabok di buatnya….”

Suara nyanyian itu nyaring, lantang, penuh tenaga dan memekikkan telinga, siapapun yang mendengar, siapapun tahu bahwa nyanyian tersebut berasal dari seorang tokoh silat yang berilmu tinggi.

Berbareng dengan selesainya nyanyian tersebut, tiba-tiba terdengar, seseorang berseru dengan suara nya yang lantang, “Cu loji besar amat seleramu untuk berannyi! Hmm bila Liong- ji sampai menemui seauatu yang tak besar, akau kulihat sebesar wajahmu yang tua itu akan kau taruh dimana?”

Kemudian terdengarlah Cu loji tertawa terbahak-bahak. “Haaahh…. haaahhh…. haaahhh…. ayoh keluar, ayoh! Aku

tahu kalau engkau sedang menguatirkan keselamatan cucu luar, alasannya saja untuk melindurgi mukaku, hahhh…. haaahhh….

Dengan menggemanya suara pembicaraan dari kedua orang itu, sekalipun orangnya belum muncul kebanyakan orang hadir dalam gelanggang telah mengetahui bahwa mereka adalah Pek Siau thian, Sin-ki pangcu yang lalu serta si dewa yang suka kelayaban Cu Thong.

Perlahan-lahan dari balik hutan munculan, dua orang manusia. Seorang diantaranya bertubuh tegap bagaikan batu karang, beralis mata putih dan berjenggot putih, ia mengenakan jubah berwarna ungu, siapa lagi kalau bukan Pek Siau thian….

Disampingnya mengikuti seorang kakek cebol berbadan gemuk, kepalanya botak dengan pipi yang montok, mukanya merah berminyak seperti muka bayi, ditanganya membawa sebuah kipas model kecubong, kecuali si dewa yang suka kelayapan Cu Thong memang tiada orang kedua yang berbentuk seperti ini.

Tiba-tiba terdengar Hoa In-liong berteriak penuh kegembiraan, “Gwakong! Cu yaya! Kalian sudah datang semua?”

Mula-mula Coa Wi-wi agak tertegun, tiba-tiba ia putar badan dan jatuhkan diri kedalam pelukan Hoa In-liong.

“Jiko, baik-baiklah kau?” saking terharunya air mata tanpa terasa jatuh berlinang.

Walaupun ia memiliki ilmu silat yang amat tangguh, tapi sebagai gadis ia tetap memiliki perasaan sebagai seorang dara, apalagi setelah dicekam rasa kuatir selama ini serta- merta rasa kangen dan manjanya segera dilampiaskan kepada pemuda pujaannya begitu keadaan jadi aman kembali.

“Adik Wi, aku telah membuat kau risau!” bisik Iloa-ln-Iiong dengan penuh rasa sayang.

Sesudah berhenti sebentar, ujarnya kembali, “Racun ular sakti berhasil kusudutkan untuk sementara waktu, tapi jika dipakai untuk bertarung lagi, racun itu akan segera kambuh kembali….” Mendengar pengakuan itu, air muka Coa Wi-wi kontan berubah jadi pucat pias kembali.

“Lalu apa yang musti kita lakukan?” tanyanya cemas. Hoa In-liong tertawa.

“Yaaa, biarlah kesemuanya berkembang menurut keadaan!”

Sebetulnya Beng Wi-cian bermaksud untuk manfaatkan kesempatan sebelum Pek Siau thian dan Cu Thong munculkan diri untuk menaklukan Hoa In-liong, dalam perkiraannya semula, dengan pengepungan yang berlapis-lapis, kendatipun Pek Siau thian dan Cu Tong memiliki tenaga dalam yang maha dahsyat pun tak mungkin mereka sanggup menerobosi kepungan tersebut dalam waktu singkat.

Padahal saat itu Hoi In liong sudah lemah dan tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan lagi, dalam keadaan demikian tidaklah sulit baginya untuk membekuk si anak muda itu.

Siapa tahu dalam waktu yang amat singkat, Hoa In-liong telah berhasil mendesak racunnya, kehilangan kesempatan yang sangat baik itu, ia merasa benar-benar amat menyesal.

000000O000000

29

BOCAH keparat ini licik sekali” demikian Beng Wi-cian berpikir, “andaikata ia benar-benar tak mampu untuk melakukan pertarungan lagi, masa rahasianya diutarakan dengan begitu saja? Aku musti bersikap hati-hati daripada dipecundangi oleh seorang bocah muda!” Sementara ia masih termenung, tiba-tiba Hong-Liong membentak dengan suara nyaring, “Pek loji!”

“Mau apa kau panggil panggil nama loya mu?” sela Cu Thong sambil menyengir.

“Kunyuk, siapa yang ajak kau orang she Cu berbicara?” teriak Hong Liong marah marah, setajam sembilu sorot matanya.

Dalam penggalian harta karun dibukit Kiu ci san, meski Cu Thong datang agak terlambat sehingga tak sempat berjumpa muka dengan Hong liong, akan tetapi semua sanak keluarga maupun sahabat baik keluarga Hoa telah mereka selidiki satu per satu dengan jelasnya, dengan tampang serta bentuk badan Cu Thong yang istimewa, sudah tentu ia dapat mengenalinya dengan segar.

Pek Siau thian sama sekali tidak menggubris panggilan itu, dengan suara nyaring dia malah berkata, “Liong-ji, gwakong toh pernah berkata kepadamu, ilmu silat yang kau miliki sekarang masih belum cukup bagimu untuk malang melintang dalam dunia persilatan, sekarang telah merasakan sedikit pelajaran, tentunya kau sudah percaya bukan?”

Walaupun ucapan tersebut diutarkan dengan tegas dan tajam, akan tetapi nada manja sayangnya masih amat kentara.

Hoa In-liong tertawa.

“Apa yang gwakong ucapkan, selamanya didalam hati, kapan aku tidak percaya kata-kata gwakong?” Setelah berhenti sebentar, ia berkata lagi, “Cuma orang kuno pernah bilang: Siapa yang telah merasakan pahit getirnya kehidupan, dialah seorang manusia yang berpengalaman, Liong-ji rasa penderitaan yang aku alami selama ini merupakan suatu penderitaan yang amat berharga”

Berbicara pulang pergi, ia tetap memegang prinsip bahwasanya perbuatannya selama ini tak salah, sikap serta pandangannya sama sekali tidak mengalami perubahan.

Pek Siau thian mendengus marah, pikirnya, “Kurangajar, teringat kemampuan aku orang she Pek tempo dulu, perkumpulan Sin ki pang yang begitu besarpun dapat kuatur dengan baik dan penuh kedisiplinan, heeehh…. hehehh…. sungguh tak nyana menjelang tuaku sudah muncul seorang cucu luar yang tak bisa di didik, benar-benar kejadian yang ada diluar dugaan!”

Sebenarnya dia ingin menegur anak muda itu dengan beberapa patah kata, tapi hatinya merasa tak tega, akhirnya kepada Coa Wi-wi dia berkata dengan lembut, “Nona Coa, berkat bantuanmu, cucuku itu tak sampai berbuat malu disini, untuk budi kebaikan mu itu terlebih dulu lohu ucapkan banyak banyak terima kasih”

Mendengar perkataan itu, diam-diam Hoa In-liong merasa geli, pikirnya di hati, “Tampak-tampaknya gwakong memang sengaja ada maksud menyusahkan diriku….”

Didorongnya Coa-Wi-wi, kemudian bisiknya lirih, “Gwakong lagi ajak kau berbicara itu lho….masa diam saja?”

Cu Thong ikut terbahak-bahak.

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh….Mempunyai tulang dewa, mempunyai wajah menawan, di tambah lagi memiliki tenaga dalam yang cukup sempurna, benar-benar jarang ditemui dikolong langit dan tiada keduanya di atas bumi”

“Gwakong! Cu Yaya! Panggil saja aku Wi-ji!” tiba-tiba Coa Wi-wi berteriak, “kita semua ‘kan berasal dari satu keluarga, kenapa musti sungkan-sungkan?”

Mendadak ia merasa amat jengah sehingga kepalanya ditundukkan rendah-rendah.

Dalam gugupnya dia mengikuti sebutan yang di pakai Hoa In-liong, tapi setelah itu ia baru terbayang kembali ada sesuatu yang tak beres, kontan saja pipinya berubah jadi merah lantaran malu.

Sejak bersembunyi didalam hutan, baik Pek Siau-thian maupun Cu-Thong sama-sama telah mengawasi gerak gerik Coa Wi-wi yang begitu mesra terhadap Hoa In-liong, maka ketika dilihatnya gadis itu tundukan kepala dengan wajah semu merah hingga menambah kecantikannya, tak kuasa lagi mereka berpikir kembali, “Perempuan ini memperlihatkan rasa cintanya tanpa tedeng aling-aling, berada dihadapan banyak orangpun sikapnya begitu mesra, ini membutikan bahwa rasa cintanya terhadap Liong-ji tak bisa diragukan kembali…. berbicara tentang kecantikan, ia tak kalah dari Kun-gie heeehhh…. heeeeh…. heeehhh…. memangnya semua gadis cantik didunia ini hanya dimiliki oleh keluarga Hoa semua?”