Rahasia Hiolo Kumala Jilid 19

Jilid 19

SEMENTARA pemuda itu telah berkata kembali, “Kalau diingat kembali, maka perkataan ibuku memang tak salah. Beliau berkata orang yang bekerja sebagai kusir, sebagai tukang perahu, sebagai pelayan, sebagai kuli dan sebagai Hamba negara paling pandai putar kemudi mengikuti hembusan angin manusia-manusia begini paling licik dan busuk. Ternyata bukti memang begitulah, betul tidak anak Leng?”

“Yaa betul,” Kacung buku itu mengangguk sambil tertawa, “Pelayan ini memang licik sekali. Mungkin dia memang termasuk type manusia pelayan seperti yang dimaksudkan hujin!”

Begitulah, kedua orang itu saling berbicara saling menanggapi. Mereka Berbicara dan tertawa, membuat air muka pelayan itu berubah jadi merah membara, mau menangis tak bisa mau tertawa tak dapat, mau gusar pun tak berani. Keadaannya benar-benar mengenaskan.

Akhirnya karena apa boleh buat, terpaksa dengan wajah yang memelaskan dia memohon, “Oooh….kongcu ya! Seorang laki laki budiman tak akan mengingat ingat kesalahan seorang siau-jin. Hamba….”

“Memangnya kau anggap aku selalu mengingat dirimu?” pemuda tampan itu balik bertanya dengan senyum dikulum. Pelayan tersebut semakin membungkukkan badannya. “Yaa…. Yaa…. Hamba memang terlalu gegabah, bekerja teledor sehingga terlalu lambat melayani kongcu. Harap engkau suka memaafkan kesalahan hamba dan tidak menyusahkan diri hamba lagi…. Apa yang kongcu pesan segera akan hamba kerjakan dengan baik….”

Pelayan itu memang berlidah tajam serta pandai menjilat pantat. Setiap perkataannya begitu menarik hati membuat hati pemuda itu jadi lembek kembali. Akhirnya diapun mengangguk. “Baiklah! Siapkan sayur dan arak yang paling lezat!”

Bagaimana mendapat pengampunan, cepat-cepat pelayan itu mengiakan lalu mengambil langkah seribu.

Baru beberapa langkah pelayan itu kabur, ketika pemuda tampan itu berseru kembali, “Eee…. Pelayan! Tunggu sebentar!”

Dengan hati bergetar keras pelayan itu berhenti, meski ada engkau tapi ia balik juga kehadapan tamunya.

“Engkau tahu sayur apa yang hendak kupesan?” Tanya pemuda tampan itu sambil tersenyum.

Pelayan itu sudah setengah dibikin mabok setelah dikocok habis habisan oleh tamunya, maka ia pun tertegun setelah mendengar pertanyaan tersebut.

“Sayur apa yang hendak kongcu pesan?” akhirnya setelah sangsi sebentar ia balik bertanya.

Pemuda tampan itu langsung menuding kearah meja Hoa In-liong seraya menyahut, “Buatkan persis seperti apa yang dia makan, tak boleh terlalu banyak juga jangan terlalu kurang. Bila terlalu banyak atau terlalu sedikit, engkaulah yang musti tanggung jawab!”

Terkejut bercampur heran Hoa In-liong ketika mendengar ucapan itu, ia segera berpikir, “Nah…. Si pencari gara-gara sudah datang. Rupanya dia berbicara kesana kemari tujuannya adalah untuk mencari gara-gara dengan aku….”

Tentu saja pemuda kita bukan seorang laki-laki yang takut urusan, malahan justru karena adanya urusan, ia tampak semakin segar dan bersemangat.

Sambil tertawa terbahak-bahak ia bangkit berdiri, lalu memberi hormat dari kejauhan. “Kita bisa bertemu muka, itu tandanya kalau kita ada jodoh” Demikian ujarnya. “Tak kunyana kalau heng-tay memiliki selera yang persis seperti seleraku, sampai sekarang sayur dan arak yang kupesan belum disentuh. Jika tidak keberatan bagaimana kalau anda berpindah kemari untuk saling pererat hubungan?”

Walaupun di mulut ia berkata demikian, dalam hati kecilnya iapun menyusun perhitungan, pikirnya, “Sampai dimanapun kebinalan dan kelicikanmu aku tidak percaya kalau Hoa loji tak mampu mengalahkan dirimu. Hmm! Paling sedikit aku Hoa loji harus berusaha untuk menyelidiki usulmu hingga jelas dan terang!”

Rupanya kedatangan pemuda tampan itu memang bertujuan kepadanya, tampak ia mengerlingkan matanya kemudian menjawab, “Lama aku dengar orang berkata bahwa engkau supel dan gagah. Setelah perjumpaan hari ini terbuktilah sudah bahwa kabar yang tersiar diluaran memang bukan berita kosong belaka” Ia lantas bangkit berdiri, kepada kacung bukunya dia menambahkan lebih jauh, “Leng-ji, mari kita pindah dan mengganggunya sejenak!”

Dengan langkah yang tegap dia berjalan lebih dulu pindah kemeja Hoa In-liong.

Sementara itu Hoa In-liong sendiripun sudah menyusun perhitungan yang masak. Ia telah memutuskan untuk menghadapi setiap perubahan dengan kepala dingin. Akan disaksikan permainan busuk apakah yang hendak dilakukan mereka terhadapnya.

Karena itu sambil berpesan kepada pelayan untuk menambah sayur dan arak, ia mempersilahkan tamunya mengambil tempat duduk.

Kali ini pelayan tersebut bertindak lebih cerdik, begitu mendapat pesanan, secepat terbang ia berlalu.

Selang sesaat kemudian apa yang dipesan telah dihidangkan.

Kacung buku yang bernama “Leng-ji” itu segera mengangkat poci arak dan memenuhi cawan mereka berdua.

Sebenarnya Hoa In-liong masih ingin mengucapkan kata- kata sopan santun. Siapa tahu sambit meletakkan poci araknya kemeja, terdengar “Leng ji” Berkata dengan serius, “Eeeh…. Sio…. sauya kami tidak pandai minum arak, kau harus memaklumi keadaannya”

“Leng-ji!” bentak pemuda tampan itu tiba-tiba dengan wajah serius, “Kembali kau sudah melupakan peraturanku, tahukah kau? Dia adalah ji-kongcu….!” Leng-ji menjulurkan lidahnya sambil menunjukkan muka setan, kemudian ia baru memanggil, “Ji-kongcu!”

Setelah itu dengan mulut membungkam dia duduk kembali ditempat duduknya.

Hoa In-liong yang selama ini mengawasi terus mimik wajah orang dengan teliti, segera menemukan bahwa sikap dari pemuda tampan itu bukan sikap yang sengaja dilakukan. Ini membuat hatinya semakin keheranan, pikirnya, “Apa artinya kesemuanya ini sebentar berpura-pura sebentar sungguhan, sebenarnya apa maksud hatinya?”

Walaupun dihati berpikir demikian, hal tersebut tak sampai diutarakan keluar. Dia mengangkat cawan arak lalu tersenyum. “Kalau memang begitu, aku tak berani terlalu memaksa” katanya. “Akan kukeringkan secawan arak ini sebagai penghormatanku padamu. Selanjutnya bila heng-tay tak keberatan, minum secawan arakpun bolehlah”

Habis berbicara, sekali teguk dia habiskan dulu isi cawan sendiri.

Pemuda tampan itu berdiri hanya mengangkat cawannya dan menempelkan saja dibibirnya sebagai pertanda rasa hormatnya, kemudian sambil tertawa ia berkata, “Ji kongcu, engkau memang sangat supel dan ramah, cuma aku menganggap dirimu sedikit keterlaluan”

Begitu buka suara, kata-katanya hanya melukai orang, mimpipun Hoa In-liong tidak menduga sampai kesitu. Untuk sesaat dia tak bisa menanggapi kecuali duduk tertegun.

Melihat pemuda itu tertegun, tiba-tiba dengan suara yang lembut pemuda tampan itu berkata lagi, “Betapa tidak bagaimanapun juga kita baru berkenalan untuk pertama kalinya. Padahal kaupun tahu kalau kedatanganku mengandung maksud tertentu, tahukah engkau aku sehabat atau musuh? Aku yakin kau belum bisa mengetahuinya dengan jelas? Tapi kenyataannya sekarang, bukan saja engkau tidak menanyakan maksud kedatanganku, juga tidak menanyakan siapa namaku. Begitu angkat cawan lantas meneguk habis isinya, padahal arak itu disuguhkan oleh Leng- ji. Seandainya aku adalah musuhmu dan Leng-ji telah mencampuri arak itu dengan racun, bukankah sekarang kau sudah keracunan hebat? Kau memang supel dan menarik, tapi tidak seharusnya bertindak begitu ceroboh dan gegabah!”

Kalau dipikir dengan sungguh-sungguh, maka apa yang dikatakan pemuda itu memang masuk diakal, lagipula bernada tajam, sedikitpun tidak memberi muka kepada lawannya….

Diam-diam Hoa In-liong mendengus, pikirnya, “Sialan! Toh engkau tahu kalau kita baru saja berkenalan, memangnya kau anggap ucapan semacam itu tidak keterlaluan? Jika aku Hoa loji takut dipecundangi olehmu, tak nanti kuundang dirimu datang kemari dan duduk semeja dengan diriku”

Pikir tinggal pikir, mulut tak dapat membungkam terus menerus, maka diputuskan siasat tersebut akan dibalas dengan siasat, tersenyumlah pemuda kita. “Nasehat saudara memang tepat dan benar, bolehkah aku tahu siapa namamu?”

Tampaknya pemuda tampan itu puas dengan sikap lawannya yang sangat penurut, dengan wajah berseri dia tertawa. Tapi begitu dia tertawa. Hoa In-liong maka terperangah hingga untuk sesaat melongo-longo seperti orang bodoh.

Ternyata tertawanya itu begitu polos, begitu genit dan menawan hati, jelas merupakan senyuman seorang gadis cantik. Sementara anak muda itu masih melamun, pemuda tampan tersebut telah memperkenalkan namanya, “Aku berasal dari marga Cwan, Cwan dari kata Cwan-poh (pengundang), Cwan- yang (propaganda), Cwan-si (bersumpah), Cwan-cau (mengudang). She tersebut adalah she dari ibuku karena aku mengikuti marga ibu dan namaku adalah Wi. Lengkapnya Cwan Wi. Sudah jelas?”

Bagaimanapun jua dasar anak muda yang sudah bertele- tele, untuk menerangkan nama sendiripun diperlukan waktu hampir setengah harian lamanya. Seakan akan dia takut kalau pemuda itu tak sempat mendengar namanya dengan jelas.

Diam diam Hoa In-liong mengerutkan dahinya tapi untuk sopan santun diapun mengangguk. “Aku yang muda bernama Hoa yang, nama kecil In”.

“Yaa aku sudah tahu, kau punya nama kecil yang di sebut In-liong. Tak usah diterangkan lagi” Tukas Cwan Wi tiba-tiba sebelum anak muda itu sempat menyelesaikan kata katanya.

Sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba ujarnya lagi. “Kenapa tidak kau tanyakan kepadaku, mengapa aku datang kemari mencarimu?”

Menyaksikan keanehan rekannya, Hoa In-liong tertawa geli, “Aku memang sedang siap-siap bertanya!” Katanya kemudian.

“Aku mendapat perintah dari toako. Toako yang mengutus aku datang kemari!” jawab Cwan Wi dengan nyaring.

“Toako?” ulang Hoa In-liong dengan wajah tertegun karena heran dan tidak habis mengerti. Cwan Wi manggut manggut. “Ya, toako yang suruh aku kemari. Toako suruh aku menyampaikan pesan kepadamu. Katanya kau jangan pergi ke bukit Yan-san untuk penuhi janji itu”

Hoa In-liong semakin terkejut, rasa tertegunnya makin menjadi-jadi, setelah melongo sesaat dia baru bertanya, “Siapakah toakomu? Kenapa aku tak boleh memenuhi janji di bukit Yan-san….?”

“Toako siapa lagi?” Cwan Wi mengerdipkan matanya, “Tentu saja toakomu sendiri! Tentang alasannya kenapa kau tak boleh pergi memenuhi janji, Waah…. Aku sendiripun tak tahu”

Hoa In-liong mengerutkan dahinya rapat-rapat, makin lama ia semakin melongo. “Toako ku?” kembali gumamnya dengan keheranan, “Kau maksudkan toakoku Hoa Si?”

“Huuuh…. Tolol amat kamu ini! Semua orang mengatakan kau cerdik, kau pintar. Tapi nyatanya kau adalah orang paling goblok yang pernah kujumpa. Kalau bukan toakomu Hoa Si, memangnya kau punya berapa banyak toako lagi?”

Tanpa sadar Hoa In-liong menghembuskan nafas panjang. “Ooooh…. Rupanya kakakku yang minta engkau datang kemari. Jadi kalau begitu kita bukan orang luar”

“Sekalipun bukan orang luar, aku juga bukan orang dari keluargamu” cepat Cwan Wi menambahkan dengan serius.

Hoa In-liong tertawa tergelak karena geli. “Kau memang binal, nakal dan suka menggoda orang” pikirnya dalam hati, “Kalau toh toako yang minta kedatanganmu kesini, kenapa tidak kau sampaikan maksud kedatangannya sejak tadi tadi? Lagakmu yang pura- pura bersikap serius, sok rahasia rupanya cuma bertujuan untuk bikin tegangnya urat syaraf saja. Aaai…. Dasar bocah yang sering dimanja, dalam keadaan seperti inipun masih bisa bisanya bergurau!”

Meskipun mengeluh dalam hati, tidak berarti ada perasaan tak senang di hati kecilnya. Setelah termenung sebentar, dia angkat poci arak dan memenuhi cawan sendiri, lalu menambahkan pula cawan Cwan Wi dengan setetes arak.

Setelah itu sambil mengangkat cawannya, ia berkata sambil tersenyum ramah, “Pepatah kuno bilang: Empat samudra adalah saudara sendiri. Asal pandangan hidup kita sama cita- cita kita sama dan tujuan kita sama, walaupun bukan keluarga sendiri juga tidak menjadi soal. Kau sebut kakakku sebagai “toako,” padahal akupun lebih tua beberapa tahun daripada dirimu, maaf bila kuberanikan diri untuk memanggilmu sebagai saudara Cwan. Marilah saudara Cwan, siau-heng hormati secawan arak untukmu sebagai rasa terima kasihku atas perjalanan yang kau tempuh demi dirimu”

Cwan Wi memang polos dan lincah, sambil kerutkan kening dia berseru, “Barusan toh kau sudah menghormati secawan arak kepadaku?”

Hoa In-liong tertawa tergelak. “Haa…. haa…. Itulah yang dikatakan adat yang banyak bikin orang tidak aneh, kuteguk dulu isi cawan ini!”

Begitu selesai berkata, dia lantas teguk habis isi cawan sendiri.

Cwan Wi kehabisan kata-kata untuk berbicara terpaksa sambil kerutkan kening dia ikut mencicipi setegukan arak. “Baiklah!” kata Hoa In-liong kemudian, “Anggaplah kita telah bersahabat setelah meneguk secawan arak tadi. Saudara Cwan, tolong tanya kau telah berjumpa dengan kakakku dimana?”

Cwan Wi sedang mengurut tenggorokannya untuk menelan arak dalam mulutnya ke dalam perut. Mendengar pertanyaan tersebut diapun menyahut, “Di kota Im-ciu!”

“Aneh betul!” Seru Hoa In-liong kemudian dengan tercengang, “Im-ciu letaknya di sebelah barat propinsi An-gui. Dari mana kakakku bisa tahu kalau aku mempunyai janji di bukit Yan-san?”

“Kami bertamu saudara Yu Siau-lam di kota Ciu-sin.

Saudara Siau-lam lah yang memberitahukan soal janji Yan-san itu kepada toako!”

Hoa In-liong termenung beberapa saat lamanya tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya-cepat dia bertanya lagi, “Sudah berapa hari engkau melakukan perjalanan bersama- sama kakakku….?

“Dua hari!”

“Dua hari?” Hoa In-liong makin tercekat, “Dalam dua hari kalian bila menempuh perjalanan dari kota Im-ciu sampai kota Cin-sian?”

“Toako bilang ada urusan penting hendak mencari dirimu, tentu saja dalam dua hari jarak tersebut dapat kami lampaui”

“Hanya kakakku seorang?” kembali Hoa In-liong bertanya setelah tertegun sejenak. “Sebetulnya toako datang bersama empek Hoa”

Sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan kata-katanya, dengan hati sangat terkejut In-liong telah menukas, “Apa?

Ayahku juga ikut datang?”

“Masih ada lagi seorang lo-koan-keh. Cuma saat ini mereka sudah pulang ke Im Tiong-san”

Timbul kecurigaan dihati Hoa In-liong setelah penjelasan tersebut, cepat tanyanya lagi, “Kenapa ayahku pulang ke rumah lagi setelah sampai ditengah jalan? Sebenarnya peristiwa basar apakah yang telah terjadi selama ini….?”

“Ayahmu pulang kembali ke Im Tiong-san lantaran ditengah jalan telah bertemu dengan kami ibu dan….ibu dan anak. Empek Hoa lama sekali bercakap cakap dengan ibuku. Kemudian beliau bersama ibumu pulang kembali ke Im Tiong- san sedang apa yang sebenarnya telah terjadi, aku tak sempat mengetahuinya”

Hoa In-liong berpikir kembali, ia merasa kehadiran ayahnya dalam dunia persilatan menunjukkan semakin seriusnya peristiwa dalam dunia persilatan. Sebab bila dunia persilatan tidak mengalami suatu perubahan besar tak nanti ayahnya akan munculkan diri dengan begitu saja.

Meski demikian, anak muda itu tak ingin banyak berbicara, maka setelah termenung sejenak ia bertanya pula, “Lalu sekarang kemana perginya kakakku?”

“Toako pergi ke kota Kim-leng! Sebelum berpisah toako secara khusus menitip pesan kepadaku agar disampaikan kepadamu. Katanya sekarang juga itu harus berangkat ke kota Kim-leng untuk berkumpul dengannya, sebab ada urusan penting yang hendak dibicarakan” Setelah pembicaraan berlangsung sampai disitu garis besar keadaan yang sebenarnya pun dapat di pahami Hoa In-liong.

Ia tahu, jika toakonya begitu terburu-buru ingin berjumpa dengannya, itu berarti bahwa ada urusan penting yang telah terjadi.

Tapi dia pun tak dapat ingkar janji, sehingga membiarkan Wan Hong giok menanti dengan percuma.

Maka setelah mempertimbangkan enteng beratnya persoalan, akhirnya dia berkata, “Baiklah! Kalau begitu besok pagi-pagi kita berangkat!”

Hoa In-liong mengambil keputusan demikian lantaran keadaanlah yang memaksa dia harus berbuat begini.

Betapapun juga dia sangat ingin berjumpa dengan Hoa Si secepat mungkin dan mencari tahu peristiwa apa yang telah terjadi, hingga sampai ayahnya ikut terbawa-bawa masuk kembali ke dalam dunia persilatan.

Namun Cwan Wi tak bisa memahami perasaannya waktu itu, tampak ia rada tertegun, kemudian berseru nyaring, “Kenapa? Jadi kau masih ingat memenuhi janjimu di bukit Yan-san?”

“Selisih satu malam rasanya juga tak terlalu lambat. Asal perjalanan kita tempuh lebih cepat lagi, waktu yang silang rasanya masih dapat disusul kembali”

“Selisih waktu semalam?” Teriak Cwan Wi dengan marah, “Engkau tahu meski hanya selisih waktu semalam, peristiwa besar apalagi yang bakal terjadi?” “Yaaa….Tapi apa boleh buat?” Kata Hoa In-liong dengan nada minta maaf, “Sebagai seorang laki-laki sejati, kita tak boleh ingkar janji. Sekalipun ada urusan lain…. Ya….

Bagaimana lagi? Janji tetap janji. Walaupun ada urusan yang lebih penting, janji tetap tak dapat diingkari dengan begitu saja”.

Tampaknya Cwan Wi semakin naik darah, setelah merenung sebentar katanya lagi dengan ketus, “Aku tahu orang she Wan itu adalah seorang cantik. Aku tahu gadis she Wan itu mencintai dirimu dan kau keberatan untuk meninggalkan dirinya. Hmmm! Orang lain mengatakan kau bajul buntung, kau romantis dan suka main perempuan, dulu aku masih belum percaya, tapi sekarang…. sekarang aku….”

Sebelum pemuda tampan itu sempat menyelesaikan kata katanya Hoa In-liong sambil tertawa getir telah menukas, “Saudara Cwan….”

Cwan Wi mendelik besar. Dengan penuh kemarahan ia menyemprot, “Siapa yang sudi menjidi saudaramu? Panggilan dari saudara sendiri yang disampaikan dengan mengirim seorang utusan ternyata kalah pentingnya dengan janji seorang perempuan lewat usang. Hmmm! Terhadap manusia macam begini….aku jadi segan untuk banyak berbicara lagi!”

Hoa In-liong benar-benar dibikin serba salah, tertawa tak bisa menangispun sungkan. ia gelengkan kepalanya berulang kali sambil mengeluh lirih, “Saudara Cwan, kau bikin orang penasaran…. kau bikin orang jadi penasaran”

“Aku membuat kau menjadi penasaran?” Teriak Cwan Wi makin gusar, “Baik! Aku mohon diri lebih dulu. Aku tak akan mengganggu engkau lebih jauh….”

Dia lantas bangkit berdiri dan siap pergi. “Saudara Cwan….! Saudara Cwan….! Jangan pergi dulu.

Jangan pergi dulu!” cegah Hoa In-liong sedang gelisah, “Dengarkan dulu penjelasanku”

“Bukankah aku telah membuat engkau penasaran? “kata Cwan Wi dengan mendongkol, “Kalau toh akan membuat kau jadi penasaran, kenapa tidak kau perbolehkan aku pergi saja dari sini?”

Hoa In-liong menghela napas panjang, ia termenung sebentar untuk berpikir, kemudian baru ujarnya lagi dengan suara yang perlahan dan lembut, “Antara aku dengan Wan Hong-giok hanya punya jodoh bertemu muka satu kali saja. Sekalipun ada benih-benih cinta yang tumbuh dihati kita masing-masing, itupun masih terbatas pada cinta permulaan, tak nanti sudah mencapai taraf yang kau ibaratnya tak bisa berpisah lagi. Yaaa…. Kenangan masa lampau ada baiknya tak usah kita bicarakan lagi. Siau-heng akan perlihatkan surat dari nona Wan kepadamu. Selesai membaca surat tersebut, engkau akan segera memahami alasan lain yang membuat siau-heng bersikap demikian. Kau pasti akan mengerti bahwa siau-heng tidak gampang terpikat oleh seorang perempuan”

Sambil berkata ia merogoh sakunya dan mengeluarkan secarik kertas butut yang segera diserahkan kepada Cwan Wi.

“Aaaah….Ogah aku membaca surat cintamu” tampik Cwan Wi sambil palingkan kepalanya, “Kalau ingin menerangkan, lebih baik terangkan saja dengan mulut!”

Sambil membungkukkan badannya setengah memohon Hoa In-liong membentangkan surat kumal tersebut dihadapan mukanya, lalu berkata kembali, “Aku tak dapat menerangkan dengan mulut, sebab dibalik surat ini masih terdapat suatu rahasia yang sangat besar. Rahasia ini tak boleh sampai ketahuan orang lain, maka alangkah baiknya kalau saudara Cwan membaca langsung dari kertas ini!”

Cwan Wi dapat menangkap keseriusan orang sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, tanpa sadar ia berpaling memandang kearah Hoa In-liong.

Dengan wajah setengah memohon Hoa In-liong segera mendesak kembali rekannya agar membaca surat itu sendiri.

Rupanya Cwan Wi tak tega, akhirnya ia menundu kan kepalanya juga untuk membaca surat itu.

Selesai membaca surat tadi, ia baru menengadah sambil katanya dengan suara yang lebih ramah, “Jadi kalau begitu, gadis-gadis she Wan itulah

yang terlalu romantis sehingga diam-diam ia mencintaimu tanpa kau sendiri menyadari akan hal ini….”

“Tak bisa kau katakan demikian” sahut Hoa In-liong dengan wajah tersipu-sipu.

Cwan Wi berpaling dengan alis mata berkenyit. “Lalu….

Bagaimana yang betul?” dia balik bertanya.

Sikap Hoa In-liong makin rikuh, dengan muka merah jengah katanya tergagap, “Aku…. aku sendiripun tak dapat menerangkan dengan jelas”

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba lanjutnya kembali dengan wajah serius, “Pokoknya peristiwa ini mungkin menyangkut suatu masalah yang amat besar dan yang pasti ke adaan nona Wan sesudah terjatuh ke tangan kaum iblis sesat pasti mengenaskan sekali. Sebagai umat persilatan yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, apabila setelah mengetahui jelas keadaan yang sebenarnya, masa kita harus berpeluk tangan belaka membiarkan orang lain tersiksa?

Saudara Cwan, tentunya tidak demikian bukan?”

Mungkin apa yang diucapkan Hoa In-liong memang benar dan masuk diakal. Untuk sesaat lamanya Cwan Wi tak mampu berkata maupun berbicara. Dengan mulut membungkam dia angsurkan kembali kertas itu kepada rekannya.

Sambil menerima surat itu dan disusupkan kembali ke dalam sakunya, kembali Hoa In-liong meminta, “Saudara Cwan, apakah engkau dapat memahami keadaanku?

Bagaimana kalau kita berangkat besok pagi saja?”

“Tentang soal ini…. tentang soal ini….” Demikian sangsinya Cwan Wi sampai dia tak mampu melanjutkan kembali kata- katanya.

“Bagaimana kalau demikian saja?” sambung Hoa In-liong lagi, “Saudara Cwan berangkat duluan dan Siau-heng akan segera berangkat selewatnya tengah malam nanti? Aku percaya kita bisa berjumpa muka lagi setibanya di dermaga penyeberang Boh-ko. Dengan demikian bukankah kita tak usah membuang waktu lagi dengan percuma?”

Tiba-tiba Cwan Wi menghela nafas panjang. “Aaaai…. Engkau telah salah mengartikan maksudku. Sebenarnya akulah yang sengaja telah membohongi dirimu dalam keteranganku tadi”

“Bagaimana maksudmu?” tanya Hoa In-liong dengan wajah setengah tertegun.

“Latar belakang janji dibukit Yan-san telah ku ketahui semua dengan amat jelasnya. Saudara Siau-lam lah yang menceritakan kesemuanya itu kepadaku. Barusan aku sengaja menuduh engkau terpikat oleh perempuan, maksudku adalah untuk memanasi hatimu dengan tuduhan tadi dan tujuanku berbuat demikian tak lain adalah berharap agar engkau tidak pergi memenuhi janji tersebut”

Mendengar keterangan tersebut, Hoa In-liong merasa marah bercampur mendongkol, dengan kesal teriaknya, “Kau….kau…. Aaaai….! Apa gunanya engkau berbuat kesemuanya itu atas diriku?”

Bagaimanapun juga, si anak muda ini segan menegur Cwan Wi, maka sambil menghela nafas panjang dia hanya gelengkan kepalanya berulang kali sebagai tanda rasa kesalnya.

Cwan Wi sendiripun agak kikuk, tiba-tiba panggilnya dengan suara tergagap, “Ji…. Ji-ko….”

Mula-mula Hoa In-liong agak tertegun, menyusul kemudian ia bersorak gembira, “Betul! Kau musti panggil jiko kepadaku, ayoh panggillah sekali lagi….!”

Sebagai seorang laki laki yang berjiwa besar dan berhati jujur, tak pernah suatu kesalahan atau suatu kejengkelan disimpan terus dalam hati, maka dari itu setelah mendengar panggilan “jiko” dari Cwan Wi yang diucapkan dengan nada takut-takut, semua kemurungan dan kekesalan yang semula menyelimuti benaknya seketika tersapu lenyap dari dalam benaknya.

Entah apa sebabnya tiba-tiba paras muka Cwan Wi berubah jadi merah padam seperti kepiting rebus. Bukan saja ia tidak melanjutkan panggilan tersebut, malah sebaliknya menundukkan kepalanya rendah-rendah. Hoa In-liong segera tertawa tergelak. “Haa…. haa…. Coba lihat tampangmu, apanya yang perlu kau malui? Bukankah kau sebut toako kepada kakakku? Maka semestinya kau memang harus sebut Jiko kepadaku! Terus terang kuberitahukan kepadamu, aku Jiko paling romantis dan paling hangat dalam pergaulan. Asal aku sebut Jiko kepadaku, selama hidup aku tak bakalan menderita kerugian”

Ketika selesai mendengar upacara tersebut paras muka Cwan Wi berubah semakin marah lagi dan kepalanya juga tertunduk semakin rendah, hingga sekarang jelas terlihat betapa merahnya semua tengkuk dan telinga gadis itu.

Rupanya Hoa In-liong agak terlena menyaksikan keadaan dari rekannya, dengan perasaan apadaya dia gelengkan kepalanya berulang kali. “Yaa…. Bagaimanapun juga masih seorang bocah” gumamnya dengan kening berkerut, “Takut mula, tak berani angkat kepala…. Yaa…. Bagaimana lagi?

Pokoknya lain kali kau musti sebut Jiko terus kepadaku….”

Sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya kembali, “Mungkin engkau hendak mengucapkan sesuatu kepadaku, bukankah begitu….? Cepat katakan!”

Cwan Wi manggut-manggut tanda membenarkan setelah merenung sejenak hingga warna merah yang menghiasi wajahnya lenyap semua, dia baru menengadah seraya berkata, “Jiko, tentunya kau tak akan memenuhi janjimu dibukit Yan-san bukan….?”

Hoa In-liong mengernyitkan alis matanya, diam diam ia berpikir didalam hati, “Barusan saja pembicaraan berlangsung baik sekali, kenapa begitu cepat pikirannya berubah?”

Meski dalam hati berpikir demikian, diluaran dia pun bertanya dengan nada keheranan, “Kenapa?” “Tidak karena apa-apa. Anggaplah sebagai suatu permohonan dariku, tentunya engkau bersedia mengabulkan permintaanku itu bukan?”

Hoa In-liong tertegun. “Saudaraku dengarkan dulu perkataanku” katanya kemudian, “Cinta adalah ciita, setia kawan adalah setia kawan. Aku menyanggupi dirimu adalah karena cinta. Sedang kupenuhi janjiku dibukit Yan-san adalah setia kawan. Sebagai manusia yang hidup diantara masyarakat, kita harus dapat membedakan antara cinta dan setia kawan dengan jelas. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, apakah engkau masih hendak memohon kepadaku agar membatalkan janjiku dibukit Yan-san?”

Sekali lagi Cwan Wi tersudut hingga tak mampu memberikan jawaban yang tepat, ia semakin gelisah. “Bukan demikian…. Hal ini adalah maksud hati dari Toako. Toako berkata begini….”

“Siau…. sauya!” Tiba-tiba Leng-ji berteriak lengking.

Cwan Wi segera menyadari kembali kesilapannya sehingga hampir saja bicara telanjur, cepat-cepat ia menutup mulutnya kembali membatalkan niatnya untuk berbicara lebih jauh.

Betapa heran dan tercengangnya Hoa In-liong melihat sikap rekannya. Sebentar ia memandang kearah Leng-ji, sebentar lagi memandang kearah Cwan Wi, kemudian bertanya, “Sebetulnya apa yang telah terjadi, apa yang sebenarnya telah dikatakan oleh Toako?”

“Toako…. Toako….” Cwan Wi semakin tergagap sampai tak mampu melanjutkan kata katanya. Leng-ji yang berada disamping dengan cepat menyambung kata-kata tersebut, “Toa kongcu bilang, jikalau Ji-koancu tetap bersikeras dengan pendiriannya, tak dapat diajak berbicara yang benar, maka kami diperintahkan sagera kembali kekota Kim-leng dan jang….” 

“Leng-ji….!” bentak Cwan Wi dengan suara yang nyaring.

Leng ji berpaling serta melemparkan sebuah kerlingan yang penuh mengandung arti, lalu melanjutkan kembali kata katanya, “Apa yang Leng-ji ucapkan adalah kata-kata yang sejujurnya! Sauya, lebih baik kita kembali dulu ke kota Kim- leng!”

Hoa In-liong tidak sempat memperhatikan kerlingan mata dari kacung buku itu. Ketika didengar Leng-ji membantu dia menganjurkan Cwan Wi agar pulang dulu ke kota Kim-leng, cepat-cepat dia menambahkan pula, “Betul! Lebih baik kita ikuti saja rencana semula. Kalian berangkat lebih duluan dan aku akan menyusul dari belakang”

Leng-ji lah pertama-tama yaog bangkit berdiri lebih dahulu, katanya kembali, “Sauya, mari kita berangkat! Banyak bicara juga tak ada gunanya, buat apa kita musti bercokol terus tanpa hasil disini?”

Cwan Wi merenung sebentar, sepertinya ia merasa bahwa perkataan Leng-ji memang masuk di akal, akhirnya diapun ikut bangkit berdiri. “Baiklah, mari kita berangkat lebih duluan!” ka tanya.

Ia berpaling ke arah Hoa In-liong. Sambil menatap wajahnya kembali ia berkata dengan nyaring, “Jiko, aku akan berangkat lebih duluan. Aku harap engkau suka berhati-hati dalam perjalananmu memenuhi janji di bukit Yan-san” Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, sikap jengah dan rikuhnya sudah tersapu lenyap tak membekas, sebagaimana semula sikapnya kembali supel, gagah dan menawan.

Hoa In-liong jadi rada lega setelah mengetahui tak ada orang menghalangi niatnya lagi. Ia bangkit berdiri derigan wajah berseri, katanya sewaktu menghantar kepergian orang, “Saudara Cwan memang tak malu disebut seorang manusia yang tahu diri. Siau heng merasa sangat beruntung dapat berkenalan dengan dirimu! Bicara terus terangnya saja, andaikata perjumpaan kita tidak berada dalam suasana yang kurang menguntungkan, siau heng benar-benar merasa sedikit berat hati untuk berpisah dengan dirimu”

Paras muka Cwan Wi secara aneh terhias kembali oleh warna semu merah. Cuma waktu itu dia sudah memutar tubuhnya sambil beranjak pergi. Dengan demikian Hoa In- liong tak sempat menyaksikan perubahan wajahnya itu.

Terdengar ia berkata dengan suara yang merdu dan nada yang nyaring, “Kita bukan putra-putri masyarakat biasa. Aku rasa kata-kata sungkan juga tak perlu diutarakan lagi. Terus terangnya saja kukatakan, aku selalu mengkuatirkan kelicikan, kebuasan serta kebuasan orang-orang Mo-kauw. Sedang Jiko adalah seorang kuncu, seorang lelaki sejati yang jujur dan polos. Kuatirnya jika kau bertindak sedikit gegabah, yaa…. akibatnya kau akan menyesal sepanjang jaman!”

Hoa In-liong tertawa tergelak. “Haa…. haa…. Selama hidup siau-heng belum pernah menjumpai kejadian yang membuat hatiku menyesal harap saudara Cwan bersedia melegakan hatimu”

“Tapi lebih berhati-hati toh ada baiknya juga?” “Terima kasih banyak atas perhatian saudara Cwan. Siau- heng akan mengingat pesanmu itu” Sahut Hoa In-liong sambil mengangguk berulang kali.

Begitulah, mereka berdua sambil berjalan sambil berbicara, siapapun tidak menyinggung kata-kata “selamat tinggal” atau “tak usah dihantar lebih jauh”. Meski hanya berpisah untuk sementara waktu, namun perasaan berat hati yang terpancar diwajah kedua belah pihak terlihat amat tebal, cuma rasa berat hatinya itu tidak sampai diutarakan keluar lewat kata- kata.

Sesaat kemudian mereka sudah tiba diluar pintu gerbang rumah makan Cwan-seng-lo, Leng-ji rada tidak sabaran lagi, tiba-tiba selanya, “Ji-kongcu, harap kau kembali! Daripada menghantar terus menerus, kenapa tidak melakukan perjalanan bersama-sama saja?”

Dengan wajah tertegun Hoa In-liong menghentikan langkahnya, kemudian tertawa terbahak-bahak. “Haa. Haa…. haa…. Baik…. Baik…. Tidak akan menghantar lagi…. Tidak akan menghantar lagi. Baik-baik dijalan saudara Cwan, jaga diri baik-baik!”

Dengan agak tersipu Cwan Wi melambaikan tangannya sambil berbisik, “Selamat tinggal!”

Kemudian dengan langkah lebar ia berlalu dari kota Ci-tin tersebut.

Sepeninggal Cwan Wi berdua, Hoa In-liong menengadah memandang cuaca. Ia lihat sang surya sudah tenggelam dibalik bukit, senjapun telah menjelang tiba, maka ia naik kembali keloteng dan buru buru bersantap untuk mengisi perut. Selesai membereskan rekening pemuda inipun berangkat meninggalkan kota Ci-tin.

Disuatu tempat yang sepi dihukit utara gunung Yan-san, anak muda itu duduk bersemedi untuk menyusun kembali kekuatannya. Tatkala hari sudah gelap, ia baru melakukan perjalanan cepat mendaki bukit Yan-san….

Bekas markas Tong thian-kau tempo dulu letaknya berdekatan dengan puncak bukit. Hoa In-liong membutuhkan waktu selama satu setengah jam untuk mencapai tempat tersebut.

Markas itu boleh disebut luas dan lebar. Tapi lantaran sudah banyak tahun tidak dihuni manusia, sebagian besar bangunan itu sudah roboh dan berubah jadi puing-puing yang berserakan. Apalagi bila malam menjelang tiba, tikus berlarian ke sana kemari mencari makanan. Suasana yang sepi, dan gelap itu mendatangkan perasaan yang seram bagi siapapun yang melihatnya, bahkan bulu romapun tanpa terasa ikut berdiri tegak.

Semula Hoa In-liong menduga Hong Seng sekalian pasti bercokol dibekas markas itu untuk melepaskan lelahnya. Siapa tahu meski puing-puing bekas gedung itu sudah diperiksa beberapa kali dengan hati-hati, tak sesuatu apapun berhasil ditemukan. Bahkan bekas pernah disinggahi orang pun tidak nampak.

Oleh sebab itu, ia mulai sangsi dan ragu-ragu….

Waktu itu, ia berdiri ditengah sebuah ruangan kuil yang atapnya telah ambruk. Sambil memandang puncak bukit yang gelap nun jauh diujung sana, diam-diam anak muda itu berpikir, “Masa mereka tidak datang kemari? Atau mungkin akulah yang salah datang….? Kalau tidak, tentulah Wan Hong- giok bertindak sangat cermat dan rahasia, karena itu dia sudah mengatur segala sesuatunya hinga tempat ini sunyi senyap….?”

Pelbagai kecurigaan dan rasa sangsi berkecamuk dalam benaknya, ia kuatir kalau salah tempat.

Sebentar dia berharap Hong Seng sekalian tidak mengetahui kejadian ini, sehingga Wan Hong giok dengan leluasa dapat meloloskan diri dari pengawasan mereka dan seorang diri datang memenuhi janjinya dengan dia.

Bahkan dia pun menaruh curiga bahwa Wan Hong-giok sudah tertimpa nasib malang hingga tak dapat memenuhi janjinya lagi.

Puncak bukit yang gelap di ujung depan sana seakan akan berubah jadi sebuah pintu besi dari sebuah kurungan yang siap menanti kedatangannya untuk masuk jebakan.

Berpikir sejenak kemudian, tiba-tiba ia bergumam seorang diri, “Aaaai….perduli amat! Kalau itu rejeki sudah pasti bukan bencana, kalau itu bencana dihindar, juga tak mungkin bisa….”

Gumamnya terpotong setengah jalan, secepat sambaran petir ia meluncur maju ke depan.

Bagaimanapun juga Hoa In-liong adalah seorang keturunan pendekar besar. Seorang laki laki yang tidak mengenal arti takut. Seorang pemuda yang tidak mengenal jiwa pengecut.

Akhirnya dengan suatu kecepatan yang luar biasa ia meluncur ke arah puncak bukit. Meski demikian, pemuda itu tidak bertindak gegabah. Ia sama sekali tidak mengurangi rasa was-wasnya meski benaknya dipenuhi oleh keraguan dan kecurigaan.

Waktu itu tengah malam baru saja lewat, ia manfaatkan sisa waktu yang masih tersedia untuk melakukan pemeriksaan yang seksama dengan menelusuri sekitar tanah perbukitan tersebut.

Makin lama puncak bukit itu semakin dekat, akkhirnya sampailah pemuda itu di puncak tersebut,

Tempat itu adalah sebuah tanah berumput yang datar, rumputnya amat jarang sehingga susah bagi seseorang untuk menyembunyikan diri dibalik semak belukar tersebut. Meski begitu bayangan tubuh dari Hong Seng sekalian masih belum juga kelihatan, apalagi bayangan tubuh dari Wan Hong-giok.

Kembali pemuda itu menelusuri tanah lapang itu dengan penuh kesabaran sambil melakukan pemeriksaan pikirnya, “Tiada kesempatan untuk melepaskan diri ataukah ia sudah ketahuan jejaknya sehingga ditahan mereka? Kalau tidak begitu kenapa belum tampak juga bayangan tubuhnya disekitar sini?”

Pikir punya dikir, tiba-tiba satu ingatan yang sangat menakutkan melintas dalam benaknya, tak kuasa lagi dia menjerit kaget, “Aduuh celaka!”

Dengan suatu gerakan tuhan yang cekatan ia memutar tubuhnya ke belakang dan siap melayang pergi dari situ.

Sayang seribu kali sayang, meskipun Hoa In-liong cekatan dan pintar, tindaknya ini dilakukan selangkah lebih terlambat. Terdengarlah suara tertawa seram yang mengerikan berkumandang silih berganti dari sekeliling tempat itu. Suara tersebut keras dan memekakkan telinga ini membuat Hoa In- liong berpaling ke empat penjuru dengan hati yang bergetar keras.

Delapan-sembilan sosok bayangan manusia pelan-pelan munculkan diri dari tepi tanah lapang berumput itu.

Kebetulan pula waktu itu tengah malam baru menjelang, lagipula tanggal sembilan belas, rembulan yang purnama baru saja muncul dari arah timur dan menerangi seluruh jagad, ia terjebak….

Diantara delapan-sembilan orang itu, tiga orang diantaranya adalah orang tionggoan. Siau Khi-gi adalah salah satu diantara ketiga orang itu.

Sisanya adalah laki-laki yang berdandan pendeta bukan pendeta, imam bukan imam dengan jubah lebar warna kuning. Mereka semua adalah orang-orang Mo-kauw. Hong Seng berada disudut paling barat.

Siang tadi Hoa In-liong pernah berkata, “Selama hidup tak pernah merasakan menyesal”. Meski sekarang dia rada kaget dengan kejadian yang dihadapinya, tidak berarti dia menyesal. Diapun tidak menunjukkan rasa gugup atau kelabakan.

Setelah mengamati keadaan yang sebenarnya, diam-diam ia mempertimbangkan situasi dan mengambil keputusan. Ia tahu saat itu Hoa Seng sudah bukan menjadi pemimpin dari rombongan itu. Pemimpin rombongan yang sekarang adalah kakek jangkung, kurus dan bermuka menyeramkan itu, sebab ikat pinggang yang dikenakan kakek itu paling istimewa.

Bentuknya berbeda sekali jika dibandingkan ikat pinggang orang lain. Ia memakai sebuah ikat pinggang perak yang berukiran seekor naga perkasa.

Bukan panik atau bingung, pemuda itu merasakan suatu ketenangan yang luar biasa, pikirnya dalam hati, “Ya, sekarang aku tahu, semula mereka terdiri dari tiga rombongan. Tapi untuk menghadapi diriku, disaat terakhir telah bergabung jadi satu dengan kakek berwajah seram ini memang pucuk pimpinan. Kalau begitu ilmu silat yang dimiliki kakek itu pasti jauh lebih lihay jika di bandingkan Hong Seng sekalian. Kali ini aku tak boleh bertindak gegabah sehingga kena dipecundangi mereka!”

Berpikir sampai disitu, rombongan musuh sudah makin dekat menghampiri dirinya. Mereka membentuk posisi mengurung dan ia sebagai sasaran pengepungan tersebut.

Hong Seng tertawa seram, tampak sambil menyeringai dia mengejsk sinis, “Hee…. hee…. hee…. Hoa kongcu konon aku dengar engkau adalah seorang pemuda yang romantis, dimana saja menaburkan bibit cinta. Setelah kubuktikan sendiri, ternyata memang kuakui bahwa kabar tersebut bukan kabar kosong belaka”

Laki-laki berjubah kuning yang pernah dikutungi pergelangan tangannya berseru pula dengan penuh kebencian, “Hmm….! Sayang datangnya gampang perginya susah. Sekalipun mempunyai birahi cinta setinggi bukit juga tak ada gunanya, buat apa musti diributkan lagi?”

Siau Khi-gi memutar biji matanya yang licik dan ikut menimbrung dari samping, “Itulah yang disebut orang mampus dibawah bunga Botan, jadi setanpun setan romantis. Sepanjang hidup bermain cinta terus, jadi setanpun watak itu tak akan berubah” Ejekan demi ejekan yang dilontarkan tiga orang musuhnya itu sama sekali tak digubris Hoa In-liong. Ia malah berpaling kearah kakek bermuka seram itu dan memberi hormat kepadanya. “Boleh aku tahu siapakah nama saudara?” sapanya.

“Aku adalah Hu-yan Kiong!”

Hoa In-liong manggut-manggut. “Tolong tanya, Wan Hong- giok sekarang berada dimana?”

Seperti juga tampang wajahnya yang sinis, jawaban Hu-yan Kiong tak sedap didengar, “Untuk sementara waktu, jiwanya tak sampai kabur ke akhirat!”

Diam-diam tercekat juga hati Hoa In-liong sehabis mendengar jawaban tersebut, segera pikirnya, “Orang ini betul-betul seorang musuh yang hebat dan lihay. Yaa, tampaknya pertempuran sengit tak dapat kuhindari lagi”

Dalam hatu berpikir demikian, diluar katanya “Dapatkah aku berjumpa, muka dengan dirinya? Hu-yan Kiong tidak menjawab, ia cuma bertepuk tangan tiga kali. Tiba-tiba dari balik tanah lapang muncul dua orang manusia. Kedua orang itu menggotong sebuah tandu. Diatas tandu berbaringlah seseorang yang tubuhnya ditutupi secarik kain hitam segingga kelihatanlah rambutnya yang awut-awutan. Ketika diamati lebih seksama, ternyata orang itu adalah Wang-giok.

“Letakkan keatas tanah dan singkirkan kain hitam yang menutupi badannya” Perintah Hu-yan Kiong tengah membentak.

Dua orang itu segera membaringkan tandu itu ke tanah dan menyingkap kain hitam yang menutupi diatasnya. Begitu kain hitam tersingkap. Hoa In-liong amat terkejut sehingga hampir saja menjerit kaget

Ternyata Wan Hong-giok berbaring diatas tandu dengar mata terpejam rapat, muka pucat pias. Tubuhnya hanya mengerakan kutang merah dan cawat kecil menutupi bagian kewanitaannya.

Tubuh yang dulunya begitu putih, begitu montok sekarang tinggal kulit pembungkus tulang. Bahkan diatas dada dan pahanya ditempeli makhluk-makhluk beracun seperti ular, kalajengking, kelabang, laba-laba dan aneka macam makhluk lain yang bentuknya aneh dan tak diketahui apa namanya.

Yang pasti semuanya berbentuk aneh, berbentuk seram dan bikin bulu roma pada bangun berdiri.

Hal ini benar-benar suatu kejadian yang mengerikan, suatu siksaan kejam yang tak mengenal peri kemanusiaan.

Merah berapi-api sepasang mata Hoa In-liong menyaksikan kejadian itu. Darah panas serasa mendidih dalam tubuhnya.

Begitu gusarnya pemuda itu sehingga dia menengadah dan tertawa seram. Suaranya bergetar sampai ke ujung langit, tapi suara itu lebih mirip kalau dikatakan sebagai suara tangisan yang memilukan hati.

Hu-yan Kiong segera mendengus dingin. “Hmmmm!

Engkau tak usah jual lagak lagi dihadapanku, mau apa tertawa terus macam orang edan?”

“Sungguh keji hati kalian semua! Sungguh buas dan busuk hati kamu semua! Siksaan semacam ini suatu ketika pasti akan kalian alami sendiri” teriak Hoa In-liong dengan nada yang memilukan hati. “Wan Hong-giok sudah kenyang disiksa dan dihina, masih belum cukupkah penderitaan yang harus dia alami? Kenapa kalian tidak mengenal peri kemanusiaan? Kenapa kalian hukum dirinya dengan cara yang begitu kejam?”

Hu-yan Kiong mengejek dingin. “Hmmm…. Perempuan ini pura-pura takluk kepada kami, tapi nyatanya ia jadi mata- mata. Ia menyelidiki rahasia perkumpulan kami jangan kau anggap “Pek-seng-siau-goan” (seratus malaikat menyembah yang mulia) adalah siksaan kejam. Perkumpulan kami, masih mempunyai siksaan lain yang jauh lebih keji dari itu. Lebih baik engkau sedikit tahu diri dan segera menyerahkan diri.

Ikutilah lohu berkunjung ke Seng-sut-hay…. Ketahuilah jika engkau tak tahu diri, maka siksaan kejam yang kau saksikan itu akan segera menimpa dirimu”

Setajam sembilu Hoa In-liong menatap wajah lawannya, kembali ia menjerit, “Ayohlah, lakukan padaku! Kau anggap aku orang she Hoa takut? Sudah lama aku orang she Hoa mendengar tentang ilmu Hiat-teng-toh-hoat mu itu, ayohlah! Lakukan kepadaku”

Hu-yan Kiong tertawa angkuh. “Yaa memang hiat-teng-toh- hun adalah ilmu maha sakti dari perkumpulan kami. Tapi dengan kepandaian yang kau miliki, rasanya kepandaian tersebut tak perlu kulakukan atas dirimu”

Sementara itu Hoa In-liong telah sadar. Setelah ia terjatuh ke dalam perangkap lawan, untuk suatu penyelesaian secara damai jelas tak mungkin. Dalam keadaan demikian, satu- satunya jalan yang dapat ditempuhnya adalah mengandalkan ilmu silat masing masing untuk menentukan siapa lebih tangguh.

Sebagaimana lazimnya, dengan cepat pemuda itu mengambil keputusan, katanya dengan suara berat, “Bila aku orang she Hoa suruh kalian menarik kembali makhluk-makhluk beracun dan lepaskan Wan Hong-giok, keadaan tersebut ibaratnya aku sedang berbicara dengan kerbau, sama sekali tak ada gunanya. lebih baik turun tangan saja cepat-cepat!”

Tak dapat diragukan lagi Hu-yan Kiong adalah seorang manusia yang angkuh dan tinggi hati. Mendengar jawaban tersebut, dia lantas berpaling dan ulapkan tangannya kepada Hoag Seng seraya berseru, “Tangkap dia!”

Hong Seng mengiakan, ia lantas melepaskan ikat pinggangnya dan maju kedepan dengan langkah lebar, katanya, “Tempo hari kau berhasil kabur lantaran Wan Hong- giok telah membantu dirimu. Tapi kali ini kau tidak akan memperoleh kesempatan macam seperti itu lagi. Berhati- hatilah, daripada lengan dan tulang kakimu jadi luka”

Dalam pada itu Hoa In-liong sendiri telah mengambil keputusan untuk menyelesaikan persoalan itu dengan suatu pertempuran kilat. Ia sendiripun segan banyak bicara. Pedang yang tersoren dipinggang segera dicabut keluar. Kemudian sambil melangkah maju, pedangnya berputar kesamping kiri dan menusuk ke depan.

Serangan tersebut mantap dan berat. Jurus yang digunakan adalah salah satu dari Hoa-si ciong-kiam-cap-lak- sin-cau (enam belas jurus sakti pedang berat keluarga Hoa). Desingan angin serangannya tajam, kuat dan menggetarkan sukma.

Hong Seng tak berani berayal, seketika itu juga dia membalas membentak. Ikat pinggangnya digetlarkan sekeras tongkat, kemudian membacok ke muka melepaskan serangkaian serangan balasan.

Hong Seng adalah saudara kandung dari Hong Liong, murid tertua dari Tang Kwik-siu itu cikal bakal dari Mo-kauw. Meski demikian, ilmu silatnya juga hasil didikan langsung dari Tang Kwik-siu pribadi.

Sejak pertarungannya dikuil Cing-siu-koan tempo hari itu, dimana nyaris dia dikalahkan oleh Hoa In-liong, sampai sekarang rasa dendam dan gusarnya masih belum lenyap.

Maka ketika mendapat perintah untuk melenyapkan Hoa In-liong dalam pertarungan saat ini, selain melaksanakan tugasnya, diapun hendak membentak musuhnya untuk dibikin perhitungan. Tak heran kalau begitu terjun kedalam gelanggang dia lantas melakukan serangan dengan jurus serangan terampuh dan terdahsyat.

Pertarungan antara jago-jago tangguh biasanya berlangsung dengan kecepatan luar biasa. Dalam waktu singkat kedua belah pihak telah saling bergebrak sebanyak belasan jurus.

Sekalipun baru belasan gebrakan, tapi menang kalah dengan cepat dapat terlihat dengan jelas.

Haruslah diketahui, ilmu Hoa-si-ciong-kiam-cap lak-sin-cau tersebut merupakan seatu hasil ciptaan ilmu pedang tinggi dari Hoa Thian-hong setelah ia berhasil melebur isi dari kiam keng suatu kitab pedang yang luar biasa saktinya dengan rumus kiam-keng-bu-kui.

Hoa In-liong berniat melangsungkan pertarungan cepat, maka begitu turun tangan ia gunakan ilmu pedang yang paling sakti dan paling ampuh untuk meneter musuhnya.

Hong Seng sendiri, walaupun dia adalah murid Tang Kwik- siu. Walaupun ia berjuang dengan segala kemampuan yang dimilikinya, tapi waktu itu tampaklah jelas betapa terdesaknya dia di bawah serangan musuh. Dia kelihatan keteter hebat dan repot untuk menangkisi setiap serangan yang ditujukan kearahnya….

Hu-yan Kiong berdiri di tepi gelanggang sambil mengikuti jalannya pertarungan itu, ketika disaksikan bagaimana lihaynya Hoa In-liong melancarkan serangannya dengan tenaga dalam yang sempurna, hingga membuat mata serasa berkunang-kunang, hatinya jadi tercekat dan bergidik keras….

Lain halnya dengan jalan pikiran Hoa In-liong ketika itu.

Sembari melepaskan serangkaian serangan yang gennesr, dia mulai berpikir dalam hati, “Mereka berjumlah banyak, jika aku harus melayani belasan jurus untuk setiap orangnya, sampai kapan pertempuran ini baru selesai?”

Berpikir demikian, serangan pedangnya tiba-tiba dikendorkan, sengaja ia tunjukkan titik kelemahannya dan membiarkan musuh manfaatkan kesempatan tersebut.

Waktu itu Hong Seng sedang terdesak hebat dan cuma bisa bergerak kekiri dan kanan untuk menghindarkan diri.

Menyaksikan kejadian tersebut ia jadi terkejut bercampur gembira, segera bentaknya, “Kena!”

Ikat pinggangnya diputar kencang lalu menyapu ke depan, langsung membacok dada Hoa In-liong.

Hu-yan Kiong yang menjumpai keadaan tersebut jadi tercekat hatinya, ia menjerit kaget, lalu secepat sambaran petir menerjang masuk kedalam arena.

Maksudnya dia mau menyelamatkan jiwa Hong Seng. Apa mau dibilang perubahan itu terjadinya sangat mendadak, apalagi gerakan pedang dari Hoa In-liong melintas dengan kecepatan luar biasa, jelas usahanya itu tak sempat lagi. Terdengar Hong Seng menjerit ngeri, darah segar berhamburan memenuhi seluruh udara. Tahu-tahu batok kepalanya sudah berpisah dari tengkuknya dan menggelinding jauh sekali dari arena. Diiringi semburan darah segar tewaslah iblis tersebut.

Sebetulnya Hoa In-liong tidak berniat membunuh orang, ia kuatir perbuatannya akan merupakan “memukul rumput mengejutkan ular” dan membangkitkan sifat buas dari orang- orang Mo-kauw akan mengakibatkan terciptanya badai pembunuhan yang jauh lebih keji.

Tapi setelah kenyataan berada didepan mata, ia tak dapat mengendalikan perasaannya lagi. Akhirnya ia bunuh juga tokoh sakit dari perkumpulan Mo-kauw itu,

Baru pertama kali ini dia membunuh orang sejak dilahirkan didunia. Jeritan lengking yang menyayatkan hati itu seketika membuat dia jadi tertegun dan berdiri melongo. Pada hakekatnya siksaan keji yang dialami Wan Hong-giok lah yang membangkitkan rasa dendamnya itu. Coba sekujur badan gadis itu tidak dirambati oleh pelbagai jenis makhluk bercampur hingga membuat keadaannya betul-betul mengerikan, mungkin ia tak sampai metigambil tindakan tersebut.

Waktu itu kebetulan Hu-yan Kiong yang sedang berusaha menyelamatkan jiwa rekannya menerkam datang.

Menyaksikan kejadian itu darah panas, kembali bergolak dalam benak anak muda kita. Pedangnya segera diayun ke atas menyongsong datangnya serudukan tersebut.

Semenjak dilarikan didunia, belum pernah Hoa In-liong menjadi gusar dan kalap seperti apa yang dialaminya sekarang. Waktu itu dia hanya merasa hawa amarah bergolak dalam benaknya. Darah dalam tubuhnya serasa mendidih, sambil putar pedangnya ia membentak lagi, “Mampus kau manusia terkutuk!”

Bacokan tersebut menggunakan jurus Lek-pit-hoa-san (membacok gugur bukit Hoa-san). Walau hanya satu jurus serangan biasa, tapi hawa pedang yang terpancar keluar ibaratnya cahaya kilat yang menyambar-nyambar, begitu cepat, begitu berat bikin hati orang mengkirik.

Hu-yan Kiong cukup mengetahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki musuhnya amat lihay, apalagi setelah menyaksikan bacokan pedangnya yang begitu bertenaga, ia semakin sadar bahwa kepandaian yang dimiliki anak muda itu tak boleh dianggap enteng.

Dalam gugupnya, ikat pinggang berwarna perak itu dilontarkan kemuka untuk menghalau datangnya ancaman tersebut.

“Criiing….!”

Ditengah dentingan nyaring yang memekakkan telinga, pedang dan ikat pinggang itu saling membentur satu sama lainnya hingga menimbulkan percikan bunga api. Kedua orang itu sama-sama bergetar keras dan masing-masing mundur satu langkah lebar ke belakang.

Dalam gusar dan mendongkolnya, kecerdikan otak Hoa In- liong tidak menjadi berkurang. Ia sudah berpikir, kematian Hong Seng berarti membuat ikatan dendam diantara mereka semakin dalam atau mungkin keadaannya sudah mencapai ibaratnya api dan air yang tak mungkin bisa akur

Maka setelah berpikir sebentar, ia merasa keadaan tersebut harus diatasi dengan siasat “membasmi bajingan, bekuk pemimpinnya lebih dulu.” Bukannya mundur ke belakang, dia malah menerjang maju lebih ke depan, sekali lagi ia lancarkan sebuah bacokan maut.

“Mampus kau! Mampus kau! Mampus kau!” “Criing! Criiing! Criiing!”

Secara beruntun benturan demi benturan nyaring berkumandang memekakkan telinga. Suatu benturan itu bergabung dengan suara bentakan demi bentakan macam orang kalap itu mencabik-cabik keheningan malam yang mencekam bukit itu. Suaranya betul-betul mengerikan hati, membuat perasaan orang bergetar keras.

Serangkaian serangan berantai yang mendesak secara beruntun ini seketika itu juga mendesak Hu-yan Kiong sampai mundur berulang kali dengan bulu kuduk pada bangun berdiri.

Berbicara soal tenaga dalam, mungkin Hoa In-liong masih bukan tandingannya. Tapi bacokan demi bacokan pedangnya yang dilancarkan secara beruntun membuat dia kehilangan posisi yang baik. Ini menyebabkan ia kehilangan sama sekali daya kemampuannya untuk melancarkan serangan balasan.

Tiba-tiba kakinya tergaet oleh sepotong batu gunung yang mengakibatkan tubuhnya terjengkang dan robob terlentang diatas tanah.

Hoa In-liong maju kemuka seraya melepaskan sebuah bacokan lagi. Ini membuat hatinya jadi ketakutan setengah mati, cepat-cepat ia menggelinding kesamping untuk menghindarkan diri.

“Tahan!” bentaknya keras-keras. Bentakan tersebut diutarakan dengan suara yang nyaring bagaikan guntur membelah bumi disiang hari bolong. Seketika itu juga Hoa In-liong dibikin tertegun dan menarik kembali pedang antiknya.

Keadaan Hu-yan Kiong betul-betul mengenaskan sekali.

Mukanya menyeringai seram, matanya melotot sebesar gundu dengan sinar buas yang bikin orang berkidik, kembali bentaknya, “Lohu toh tidak bermaksud membunuh engkau kenapa kau begitu nekad untuk bikin susah diriku?

Memangnya kau sudah bosan hidup di dunia ini?”.

Hoa In-liong sudah bermandi peluh, tapi sahutnya juga dengan nada berat, “Mati atau bidup manusia berada ditangan Thian, kenapa aku musti takut mati? Tarik kembali semua makhluk-makhluk beracunmu, lepaskan Wan Hong-giok, akupun akan biarkan kau pergi dari sini. Tapi kalau kau menampik, terpaksa aku orang she Hoa harus pertaruhkan selembar nyawaku untuk mencabut jiwa anjingmu”

Hu-yan Kiong menyeringai makin seram bentaknya, “Engkau sendiri yang mencari penyakit, jangan salahkan lohu bertindak keji, lihat serangan!”

Telapak tangan kanannya segera di ayun ke muka, seakan- akan ada senjata rahasia sedang ditimpuk ke arahnya.

Hoa In-liong terkesiap, diamatinya serangan musuh dengan seksama, namun tak sesuatu apapun yang tampak.

Mula-mula dia agak tertegun, menyusul kemudian sambil tertawa tergelak dia berkata, “Haa…. haa…. haa….

Tampangnya saja sudah tua, tak tahunya berhati kekanak kanakan, main tipu juga seperti bocah” Tapi sebelum kata-kata itu sempat di utarakan sampai selesai, ia sudah menguap beberapa kali.

Ketika dilihatnya pemuda itu menguap beberapa kali, Hu- yan Kiong menyeringai makin seram, pelan-pelan dia menuju ke depan sambil katanya kembali, “Bocah muda, kau terlampau binal dan sukar diatur. Lohu segan untuk bertarung melawan dirimu, ayoh ikuti lohu dengan tenang!”

Hoa In-liong kembali menguap beberapa kali, tiba-tiba ia merasa dadanyaamat sakit, menyusul kemudian kepalanya pusing tujuh keliling, hampir saja roboh terjengkang.

Keyataan ini membuat anak muda tersebut merasa amat terperanjat, dengan gusar teriaknya, “Kau…. kau…. Permainan gila apa yang telah kau lakukan terhadap diriku?”

Hu-yan kiong tertawa dingin. “Itulah siksaan Sin-hui-sim (ular sakti menggigit) perkumpulan kami. Jika engkau tak mau ikuti lohu dengan rela, maka kau akan merasakan suatu penderitaan yang luar biasa hebatnya”

Hoa In-liong betul-betul naik darah. Pedangnya langsung diayunkan kemuka melancarkan sebuah bacokan maut.

Siapa tahu sebelum serangan tersebut mencapai pada sasarannya, ia merasakan datangnya teramat sakit sehingga badannya jadi sempoyongan. Akhirnya ia tak kuasa menahan diri lagi dan roboh tak sadarkan diri diatas tanah.

Hu-yan Kiong tertawa seram, ia maju ke muka, lengan kanannya digetarkan ke depan mencengkeram pada anak muda itu.

Tampaknya anak muda tersebut segera akan terjatuh ke tangan musuh…. Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring yang penuh dengan kegusaran berkumandang datang dari tengah udara, “Tahan!”

Bersamaan dengan menggelegarnya bentakan itu, seorang sastrawan muda berbaju putih melayang turun di atas puncak itu dengan kecepatan luar biasa, ia langsung menerjang diri Hu-yan Kiong.

Sastrawan muda berbaju putih itu bukan lain adalah Cwan Wi yang telah berpisah di rumah makan dalam kota Kim-leng siang tadi.

Bukankah Cwan Wi telah berpamitan akan pulang ke kota Kim-leng? Mengapa dia bisa muncul kembali dipuncak bukit Yan-san?

Duri sini dapatlah kita ketahui bahwa kepergiannya tadi hanya sebagai alasan belaka. Nyatanya secara diam-diam ia telah menguntil terus dibelakang pemuda kita.

Kemunculannya benar-benar dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa. Kecepatan tersebut jarang dijumpai dalam dunia persilatan dewasa ini. Ketika Hu-yan Kiong menyadari akan datangnya sergapan tersebut, tahu-tahu segulung angin pukulan yang maha dahsyat telah tiba dibelakang punggungnya.

oooOOOooo

HU-YAN KIONG betul-betul terperanjat oleh datangnya ancaman tersebut. Tak sempat berpaling lagi, cepat-cepat ia menutul permukaan tanah dan kabur ke muka untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut, kemudian bentaknya, “Siapa disitu?” Cwan Wi tidak menggubris teguran tadi, diapun tidak menyusul musuhnya, tapi segera menubruk diri Hoa In-liong sambil panggilnya dengan nada kuatir, “Ji-ko”

Mendengar panggilan itu, diam-diam Hu-yan Kiong merasa terperanjat, cepat pikirnya, “Masa ilmu silat dari putra putri keluarga Hoa rata rata sudah mencapai taraf yang demikian tingginya?”

Berpikir sampai disitu, dia lantas putar badan sambil menyeringai seram. “Hee…. he…. hee…. Lohu masih mengira jago lihay dari manakah yang telah berkunjung kemari.

Huuuh….! Tak tahunya engkau juga kurcaci dari keluarga Hoa. Bagus sekali! Apakah engkau juga hendak ikut lohu pulang?”

Baru saja kata-kata tersebut selesai diutarakan tiba-tiba suara seorang bocah berkumandang kembali dari belakang setelah mendengus dingin. “Hmmmm….! Makhluk tua, angin gunung berhembus kencang sekali, kau tidak takut lidahmu kena tersambar sampai putus?”

Sekali lagi Hu-yan Kiong merasa hatinya terperanjat, untuk kesekian kalinya dia menghindar sejauh delapan depa dari tempat semula, kemudian baru putar badan sambil memandang kearah mana berasalnya suara itu dengan pandangan seram.

Namun apa yang kemudian terlihat, seketika membuat paras mukanya berubah jadi merah padam seperti babi panggang. Ia betul-betul ketenggor batunya sampai-sampai mau menangis sungkan mau tertawapun susah.

Kiranya kecepatan langkah Leng-ji masih kalah jauh dari Cwan Wi, maka ia sampai ditempat tujuan selangkah lebih terlambat. Sekalipun suaranya nyaring, tapi mukanya masih kekanak-kanakan, apalagi waktu itu dia berdiri beberapa kaki jauhnya dari kalangan dengan mata melotot besar, hal ini semakin menunjukkan betapa masih kecilnya dia.

Perlu diterangkan disini, Leng-ji adalah seorang bocah yang masih ingusan, sedang Hu-yan Kiong merupakan seorang jago tua yang sudah kawakan. Tapi kenyataannya ia sudah dibuat gugup dan buru buru menghindarkan diri dengan gelagapan, tentu saja hal ini sangat menurunkan gengsi sebagai seorang pemimpin.

Tak heran kalau wajahnya kontan berubah jadi merah padam, sikapnya juga ikut tersipu-sipu.

Sementara itu Cwan Wi telah berteriak lagi dengan cemas, “Leng-ji, cepat tanya kepadanya, dimana obat pemunah tersebut!”

Dengan dahi berkerut Leng-ji segera berpaling ke arah Hu- yan Kiong, dan bentaknya kembali, “Sudah mendengar belum? Ayoh keluarkan obat pemunahnya dan serahkan kepadaku!”

Perkataan kacung buku itu sungguh takabur dan besar nadanya. Sebagai seorang jago tua yang mempunyai kedudukan terhormat tentu saja Hu-yan Kiong tersinggung oleh ucapan tersebut.

Ia tertawa dingin tiada hentinya. “Mau obat pemunah?

Obat itu berada dalam sakuku, apa salahnya jika engkoh cilik mengambilnya sendiri?”

“Huuh….! Memangnya kau anggap aku takut untuk mengambilnya sendiri?” jengek Leng-ji ketus.