Rahasia Hiolo Kumala Jilid 14

Jilid 14

SEPASANG kaki dan tangannya terikat kencang. Badan di gantung dengan kepala dibawah kaki di atas. Bila ada angin berhembus lewat dan ranting pohon mulai bergoyang kesana kemari, pemuda itu betul-betul merasakan jantungnya berdebar-debar. Sebab setiap saat dirasakan bahwa ranting pohon itu akan patah jadi dua. Dia pernah mengatakan bahwa kecuali hati tiada kesusahan yang lebih besar, semangat yang gagah perkasa dan bersifat jantan ini tak perlu disinggung lagi. Yang menyiksa justru adalah mengalirnya darah dalam tubuhnya berjalan terbalik.

Dia merasa isi perutnya serasa menyumbat tenggorokannya dan seakan-akan setiap saat akan keluar dari lubang hidung dan lubang mulutnya. Bukan saja kepala jadi pusing tujuh keliling bahkan diapun merasakan perutnya jadi mual dan ingin dan ingin tumpah-tumpah.

Tapi ia tahu dalam keadaan demikian jangan sekali-kali sampai tumpah, sebab sekali isi perutnya tumpah keluar semua maka yang sisa hanya air dan bila air itu ikut tumpah keluar maka akhirnya darah yang akan tumpah keluar. Jika darah sudah mulai tumpah sampai habis, jiwanya ikut melayang tinggalkan raganya.

Sebab itu dia berusaha keras untuk mempertahankan diri sekuat tenaga. Ia buang jauh-jauh semua pikiran yang berkecamuk dalam benaknya bahkan siksaan yang dirasakan ditubuhnya juga berusaha dibuang jauh-jauh dari perasaannya.

Tentu saja pekerjaan semacam itu bukanlah suatu pekerjaan yang terlampau gampang….

Orang bilang, luka kecil diatas kulit saja sakitnya bukan kepalang apalagi penderitaan yang dirasakan Hoa In-liong sekarang datangnya dari dalam badan, bisa dibayangkan betapa tersiksanya dan menderitanya pemuda itu.

Sinar sang surya pelan-pelan mulai condong kebarat.

Rembulan yang kaburpun mulai muncul dari sela-sela dedaunan yarg menyinari tubuh Hoa In-liong. Waktu itu dia merasa seakan-akan ada beribu-ribu batang anak panah yang menancap didalam hatinya. Makin lama siksaan dan penderitaan yang dialaminya terasa semakin menghebat dan berat.

Mukanya hijau membesi, bulu kuduknya pada berdiri semua. Pakaiannya basah kuyup oleh keringat dan dengusan napasnya sudah seperti kerbau, padahal baru tiga jam dia mengalami siksaan itu. Bagaimana mungkin ia bisa bertahan sampai tiga puluh tiga jam mendatang?

Lambat laun napasnya tidak tersengkal lagi, keringat juga tidak mengucur keluar. Tapi paras mukanya dari hijau berubah jadi semu biru, dari biru berubah jadi pucat pasi, warna darah sama sekali lenyap dari wajahnya dan akhirnya pemuda itu jatuh tak sadarkan diri.

Entah sejak kapan Bwee Su-yok sudah mengundurkan diri dari situ. Suasana dalam bangunan rumah mungil itu gelap gulita, sedikitpun tiada cahaya lampu. Tapi pancaran cahaya, rembulan ditengah awang-awang terasa makin lama semakin terang.

Tiba-tiba dari arah timur muncul dua sosok bayangan manusia, kedua sosok bayangan itu bergerak dengan cepatnya dibawah cahaya rembulan yang terang benderang.

Ketika mencapai sepukh kaki dari bangunan tersebut, terlihatlah sekarang bahwa dua sosok bayangan itu tak lain adalah Goan-cing Taysu serta Coa Cong-gi yang berangasan.

“Bangunan rumah itu sangat besar, megah dan agung” bisik Goan-cing Taysu setelah memandang sekejap sekitar tempat itu. “Lagipula terletak jauh dari keramaian kota. Bila ditinjau dari letaknya yang serba rahasia, aku rasa tujuan kita kali ini tak bakal keliru lagi, pasti inilah sasaran kita” “Perduli amat benar atau tidak” sahut Coi Cong-gi dengan berangasannya, “Anak Gi serta beberapa orang saudara lainnya sudah memeriksa seluruh penjuru kota Kim-leng, tapi bayangan dari orang orang Kiu-im kau tidak juga kami temukan. Malam ini telah kami putuskan masing-masing mencari ke satu arah yang berlawanan. Seandainya anak Gi tak ada janji dengan kong-kong, sejak tadi-tadi niscaya anak Gi sudah kabur keluar dari kota Kim-leng. Ayoh masuk! Kita geledah saja rumah ini, kemudian baru mengambil keputusan” 

“Jangan berbuat gegabah, bagaimanapun lolap kan seorang paderi dari agama Buddha” bisik Goan ling-taysu lirih.

Mendengar ucapan tersebut, Coa Cong-gi makin gelisah. “Memangnya kenapa kalau seorang paderi agama Buddha?” serunya, “Masa kongkong akan berpeluk tangan belaka menyaksikan saudara Hoa tertimpa bencana?”

“Tahun ini lolap sudah barusia delapan puluh sembilan tahun, mengikuti ajaran buddhapun sudah banyak tahun. Tentu saja tak banyak yang akan kugubris”

“Kalau memang bukan begitu, lalu….” Coa Gong-gi semakin tertegun.

“Sstt, jangan terlalu keras! Lolap hanya merasa bahwa pembunuhan telah menyelimuti hampir seluruh dunia persilatan. Suasana demikian tidak akan mendatangkan ketenteraman bagi umat manusia. Akan semakin kudesak ibumu agar cepat turun gunung dan menyumbangkan segenap kemampuan yang dimilikinya demi umat manusia”

“Ibu adalah ibu, Hoa Yang adalah Hoa Yang. Anak Gi rasa masih bisa membedakannya dengan jelas. Perhatian yang Kongkong tunjukan terhadap saudara Hoa….” “Itulah yang dinamakan jodoh” tukas Goan-cing Taysu dengan cepat, “Lolap hanya merasa punya jodoh dengan bocah itu. Aku ingin berkumpul dengan dirinya titik. Tentang masalah mati hidup, kejayaan dan martabat baik maka semuanya itu harus ditentukan sendiri oleh kalian masing- masing!”

Nada ucapan diri paderi tersebut selalu rendah, datar, hambar serta tanpa emosi. Padahal bagi Coa Cong-gi saat ini, keselamatan jiwa Hoa In-liong merupakan titik perhatian yang nomor satu. Ia menganggap persoalan lain bisa dibicarakan dilain waktu. Tapi perbuatan yang harus dilakukan sekarang adalah menyelamatkan pemuda itu dari ancaman bahaya maut.

Sebagaimana diketahui, Coa Cong-gi merupakan seorang pemuda yang setia kawan. Ia merasa setia kawan adalah merupakan suatu persoalan yang maha penting, apalagi hubungannya dengan Hoa In-liong boleh dibilang sangat akrab meski berkenalan belum lama. Tak kuasa lagi dia menukas, “Kong-kong, soal lain tak mau kuurusi dulu! Yang penting sekarang adalah masuk ke dalam dan lakukan pemeriksaan!”

Bicara sampai disitu, kembali ia maju kedepan siap menyusup masuk ke dalam ruangan.

Siapa tahu baru saja ia melangkah, tiba-tiba tangannya sudah dicekal kembali oleh Goan-cing Taysu. “Tunggu sebentar” seru Goan-cing setengah berbisik “Coba lihatlah dulu, apa itu?”

“Apa?” tanya Coa Cong-gi seraya berpaling dengan wajah tertegun. Goan-cing Taysu menuding kemuka. “’Coba lihat, diatas dahan tergantung sesosok bayangan. Tampaknya bayangan manusia” Ia berbisik.

Cepat Coa Cong-gi berpaling dan menengok ke arah mana yang ditunjuk kongkong-nya.

Seperti diketahui, tenaga dalam yang dimiliki Goan-cing Taysu sudah mencapai puncak kesempurnaan. Tentu saja dengan kemampuan seperti itu otomatis ketajaman matanya sepuluh kali lipat lebih tajam dari manusia biasa.

Tubuh Hoa In-liong tergantung diantara ranting dan daun yang lebat. Tapi oleh sebab sinar rembulan amat tajam, lagi pula angin berhembus lewat menggoyangkan ranting dan daun, serta-merta tubuh Hoa In-liong yang tergantung ikut bergoyang pula kesana kemari.

Waktu itu, Gong-cing Taysu memang lagi bercakap-cakap.

Namun sembari berbicara matanya yang tajam bagaikan sembilu itu justru mengawasi terus sekeliling bangunan rumah tadi. Tak heran kalau bayangan pemuda tersebut akhirnya ditemukan juga.

Ketajaman mata Coa Cong-gi tidak memadai kelihayan Kongkong-nya, walaupun setengah harian dia melotot bulat- bulat kedepan, tak tiada sesuatu apapun yang bisa ia lihat, meski demikian ia berkata juga, “Mari kita masuk dan memeriksanya, siapa tahu kalau orang itu bukan lain adalah saudara kita dari keluarga Hoa?”

Sementara ucapannya baru selesai, tiba-tiba Goan-cing Taysu menyambar lengannya dan diajak melayang mundur sejauh sepuluh kaki lebih kebelakang, kemudian menyembunyikan diri dibelakang sebuah batu besar. “Jangan bercakap cakap!” bisiknya dengan ilmu menyampaikan suara, “Ada orang yang keluar dari bangunan rumah itu”

Benar juga perkataan itu. Ujung baju tersampok angin terdengar berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul kemudian seseorang melompat naik keatas tembok pekarangan dan memeriksa sekeliling tempat itu.

Untung tenaga lweekang yang dimiliki Goan-cing Taysu cukup sempurna dan keburu menyembunyikan diri lebih dahulu. Terlambat selangkah saja niscaya jejak mereka akan ketahuan.

Orang yang baru saja munculkan diri itu bukan lain adalah Bwee Su-yok, tiancu Istana Neraka dari perkumpulan Kiu-im kau.

Tampaknya Bwee Su-yok tidur tak tenang. Kebetulan suara pembicaraan dari Coa Cong-gi sedikit keras sehingga terdengar olehnya. Cepat-cepat dia melompat keluar dari tempat persembunyiannya dan melakukan pemeriksaan disekitar tempai itu.

Namun ia gagal untuk menyaksikan sesuatu. Setelah diperiksanya sesaat, akhirnya pelan-pelan ia mengundurkan diri kembali dari tempat tersebut.

Ketika lewat di bawah pohon, dia menengadah dan melirik sekejap ke arah Hoa In-liong. Waktu itu paras muka anak muda tersebut sudah berubah hebat, mukanya tampak layu. Yang pasti ia berada dalam keadaan tak sadar.

Paras muka gadis itu sedikit berubah, lalu mendengus dingin dan putar badan masuk ke dalam rumah. Sementara itu, Goan-cing Taysu telab menggunakan telinganya sebagai pengganti mata. Setiap gerak-gerik yang membawa suara dapat dipahami olehnya dengan jelas sekali.

Ketika Bwee Su-yok sudah masuk kembali ke rumahnya, dia baru berbisik dengan suara lirih, “Tampaknya bayangan yang di gantung pada dahan pohon itu memang bukan lain adalah bocah she Hoa itu”

“Sungguh!” Coa Cong-pi merasa sangat tegang, tak kuasa lagi ia berseru tertahan.

Tiba tiba ia merasa bahwa keadaan gawat dan ini tak boleh bersuara, sebelum perkataan itu selesai diucapkan tiba-tiba saja dia terbungkam diri.

“Jangan gugup, tak usah tegang!” bujuk Goan-cing Taysu dengan lembut. “Asal kita sudah tahu bahwa orangnya berada disini, urusan bisa diselesaikan lebih gampang lagi”

“Lalu apa daya kita?” Seru Coa Cong-gi dengan ilmu menyampaikan suaranya, “Aku lihat si penjaga gedung itu cukup lihay dan berperasaan tajam. Kecuali merampas dengan kekerasan, apa lagi yang bisa kita lakukan?”

Pemuda ini memang berangasan wataknya, tapi setelah menghadapi urusan gawat, sikap maupun tindak-tanduknya sama sekali tidak gegabah ataupun terburu nafsu.

“Tentu saja lolap mempunyai cara lain yang lebih bagus, ayoh, Sementara waktu kita mundur dulu dari sini” kata Goan- cing Taysu sambil manggut-manggut.

Tentu saja Coa Cong-gi amat mempercayai kemampuan yang dimiliki kongkongnya, kendati begitu ia jadi gelisah setelah disuruh mengundurkan diri dari sana. “Kongkong, ini…. ini…. Kenapa kita musti mengundurkan diri dari sini?” serunya amat cemas.

“Bila seorang berada dalam keadaan tidak sadar, keadaan kondisi badannya sangat lemah. Apalagi jika sedang menderita siksaan karena peredaran darah yang mengalir secara terbalik. Aku lihat bocah ini memang luar biasa. Dia memiliki daya ketahanan tubuh yang lain dari pada yang lain. Agaknya ia berusaha meronta dengan sepenuh tenaga. Hawa murni sekuat tenaga dihimpun jadi satu untuk menekan daya edar darahnya yang mengalir terbalik agar bergerak lebih lambat.

Tapi justru dingan keadaan seperti ini, lebih besar penderitaan yang akan dialaminya”

Tak terkirakan rasa gelisah Coa Cong-gi sehabis mendengar perkataan itu. “Mengapa peredaran dalam tubuhnya bisa berjalan terbalik? Kenapa ia berada dalam keadaan tak sadar? Kenapa….”

“Tubuhnya kan digantung secara terbalik pada dahan pohon. Tentu saja peredaran darahnya berjalan terbalik!”

“Kong-kong…. kau…. kenapa kau orang tua tidak berusaha untuk menyelamatkan jiwanya?”

“Lolap justru sedang bersiap-siap untuk menyumbangkan sedikit kemampuan yang kumiliki untuk menolong dirinya.

Janganlah ribut lebih dulu. Ayoh kita mundur agak jauh dari sini”

Tidak menanti jawaban dari anak muda itu lagi, dengan gerakan tubuh yang sangat enteng, paderi itu berkelebat mundur beberapa kaki jauhnya dari tempat tersebut. Pelbagai kecurigaan berkecamuk dalam benak Coa Cong-gi.

Meskipun demikian, tentu saja ia tak dapat bertanya dengan suara teriakannya. Terpaksa dengan langkah cepat dia menyusul dibelakangnya.

Begitulah, dalam waktu singkat kedua orang itu sudah mundur keatas gundukan bukit kecil. Gong-cing Taysu diam- diam mengukur jarak serta meneliti keadaan medan, kemudian dengan mata terpejam, tangan dirangkap didepan dada ia duduk bersila.

Coa Cong-gi hanya bisa berdiri termanggu disampingnya dengan pelbagai kecurigaan berkecamuk di dalam benak. Dia mengawasi gerak-gerik kongkongnya tanpa mengucapkan sepatah-katapun.

Lama sudah Coa Cong-gi menunggu, namun tiada sesuatu gerakan apa-apa yang dilakukan paderi tersebut. Akhirnya habislah kesabarannya. Pemuda itu buka suara hendak bertanya. Tapi sebelum sesuatu terutarakan keluar, tiba-tiba dilihatnya jenggot Goan-cing Taysu yang putih panjang bergerak tanpa terhembus angin. Sewaktu diamati lebih seksama lagi, ternyata bibirnya sedang berkemak-kemik mengucapkan sesuatu.

Coa Cong-gi benar-benar kaget, tercengang dan tak habis mengerti. Tanpa sadar ia melirik sekejap ke arah perkampungan itu, kemudian pikirnya dalam hati, “Mungkin ia sedang bercakap-cakap dengan Hoa lote? Tapi selisih jarak dari sini sampai ke

situ ada lima puluh kaki jauhnya, masa ilmu menyampaikan suara masih bisa digunakan dengan sempurna….?” Disatu pihak pemuda itu keheranan disamping tidak percaya, di pihak lain Hoa In-liong dapat menangkap suara bisikan tersebut dengan amat jelasnya.

Suara itu lembut dan halus seperti suara bisikan nyamuk, tapi ramah dan penuh kehangatan itulah suara yang dipancarkan oleh Goan-cing Taysu.

“Nak, tak usah gugup atau gelisah” Demikian ia berbisik “lolap datang untuk membantu dirimu. Sekarang buyarkan dulu himpunan hawa murnimu, tapi harus perlahan. Buyarkan sedikit demi sedikti sampai akhirnya habis. Lalu ikutilah cara menyalurkan hawa murni seperti apa yang akan lolap katakan berikut ini. Asal kau laksanakan petunjukku dengan seksama maka semua penderitaan yang kau alami akan berkurang sebelum akhirnya lenyap tak berbekas”

Keadaan Hoa In-liong waktu itu, baik dipandang diri sudut manapun jua, tentu orang akan menganggapnya sudah berada dalam keadaan tak sadarkan diri. Padahal dalam kenyataannya ia memang sudah setengah sadar setengah tidak. Meskipun pembicaraan manusia masih dapat didengar dengan jelas.

Tentu saja apa yang dikatakan Goan-cing Taysu barusan dapat terdengar pula olehnya tanpa tertinggal satu hurufpun.

Itulah hasil dari keteguhan hati Hoa In-liong untuk mempertahankan diri meski harus mengalami siksaan.

Perlu diterangkan dlsini, meskipun Hoa In-liong itu orangnya romantis. Sekalipun dia tak mau kehilangan kegagahannya didepan Bwee Su-yok bukan berarti ia sama sekali tak tahu betapa menderitanya kalau orang digantung secara terbalik dalam waktu tiga hari tiga malam. Tapi berhubung wataknya yang keras hati tak takut menghadapi kesusahan, lagipula dalam usahanya menyelidiki latar belakang pembunuhan berdarah tersebut, hasil yang didapatkan menunjukkan betapa rumitnya masalah itu. Maka begitu membuktikan bahwa penyelidikan yang dimulai dari pihak Kiu-im kaucu lebih gampang dan lebih terang ia semakin segan meninggalkan tempat itu sebelum penyelidikannya berhasil.

Sebab itulah dengan sikap acuh tak acuh, seakan-akan sama sekali tak takut dibelenggu, ia pasrahkan diri dan membiarkan tubuhnya digantung secara terbalik oleh Bwee Su-yok.

Waktu itu ia sama sekali tidak merasa kuatir atau takut. Dalam anggapannya dengan mengandalkan sim hoat tenaga dalam dari Hoa mereka, asal segeiap hawa murni dihimpun menjidi satu, kendatipun ada pendetitaan yang bagaimanapun besarnya, ia pasti masih mampu untuk mempertahankan diri.

Siapa tahu tidak demikian kenyataannya, penderitaan akibat darah yang mengalit secara terbalikk jauh lebih berat sepuluh kali lipat daripada apa yang dibayangkan. Apalagi isi perutnya yang terbalik terasa bagaikan dililit, akhirnya toh ia setengah tidak sadar juga dibuatnya.

Namun, soal tidak sadar adalah masalah lain, andaikata ia tidak menghimpun lebih dulu tenaga murninya, meskipun dalam keadaan sakit dan tersiksa ia masih dapat mengendalikan hawa murninya agar tidak sampai buyar dan mengandalkan keteguhan hatinya ia berusaha mempertahankan diri. Jangankan menangkap perkataan Goan-cing Taysu dalam keadaan setengah sadar, mungkin waktu itu dia sudah muntah darah tiada hentinya. Teraga dalam yang dimiliki Goan-cing Taysu sangat sempurna. Bisikannya memang lirih, tapi dalam pendengaran Hoa In-liong ibaratnya gentingan genta di pagi hari cukup menggetarkan seluruh perasaan hatinya dan menimbulkan suatu kekuatan yang makin memperkokoh daya tahannya.

Mendengar bisikan tersehat, walau kesadarannya belum pulih kenbali namun tanpa disadari, Hoa In-liong telah menuruti perkataan dari paderi itu dan pelan-pelan membuyarkan tenaga dalam yang dihimpunnya itu, membiarkan tenaganya berputar secara bebas.

Makin buyar tenaga murni yang diihimpunnya, penderitaan yang dideritanyapun berlipat ganda lebih dahsyat.

Saat itulah ucapan dari Goan-cing Taysu kembali berkumandang disisi telinganya, “Perhatikan baik-baik nak!” Kemudian sepatah demi sepatah kata paderi itu mulai berbisik, “Badan kita bukan untuk kita. Perasaan kita bukan milik kita.

Tapi datang dari alam semesta. Kelapangan dan kebebasan yang tiada bertepian. Ketenangan mendatangkan keheningan semesta. Aliran yang terbalik menimbulkan hawa. Kumpulan hawa nendatangkan kekuatan….”

Itulah rangkaian ilmu semedi aliran terbalik. Suatu inti kekuatan ilmu tenaga dalam yang tiada taranya. Bukan saja setiap patah kata mengandung arti yang dalam. Rangkaian kalimat tersebut merupakan suatu ledakan kekuatan jang luar biasa.

Kepandaian ini terhitung salah satu kepandaian ampuh andalan dari Buseng (malaikat ilmu silat) Im Ceng.

Perlu diterangkan disini, dimasa lampau Im Ceng telah mempelajari ilmu silat tingkat tinggi dari aliran Buddha maupun aliran Tao. Kemudian mendapat pendidikan pula dan Ko Hoa. Ketika mencapai usia tua ia berhasil pula mencapai ke tingkatan yang disebut Sam hoat ci-teng (gumpalan tiga bunga berkumpul dipuncak), Ngo-ki-tiau-goan (lima hawa berpusat pada kekuatan), ini menyebabkan kemampuannya mencapai ke tingkatan yang tak terhingga untuk takaran masa itu.

Sayang ia tak punya anak keturunan sehingga kepandaian yang berhasil dimilikinya tak dapat diwariskan semua. Maka akhir hayatnya diapun menciptakan serangkaian ilmu semedi aliran terbalik yang luar biasa untuk disebarkan kepada orang- orang dari generasi yang akan datang.

Atau tegasnya, rahasia ilmu tenaga dalam itu sudah meliputi segenap inti sari kepandaian yang dimiliki Im-Ceng sepanjang hidupnya. Barang siapa mempelajari kepandaian tersebut, sama keadaannya dengan seorang jago silat yang jalan darah penting Jin dan toknya sudah tertembus. Tenaga dalamnya akan peroleh kemajuan yang amat pesat sekali dalam waktu yang amat singkat.

Walau begitu, andaikata seseorang tidak memiliki bakat yang bagus serta kecerdasan yang luar biasa, bukan pekerjaan yang gampang untuk melatih diri meskipun rahasia manteranya telah diketahui sebab ilmu aliran darah terbalik ini berbeda jauh dengan kepandaian pada umumnya. Kalau bukan demikian kenapa Goan-cing Taysu tidak mewariskan kepandaian tersebut untuk Coa Cong-gi?”

Dan jelasnya sekarang apa sebabnya Goan-cing Taysu hanya tersenyum belaka sewaktu menyaksikan keadaan Hoa In-liong. Itulah karena ia melihat ada kesempatan yang baik untuk mewariskan ilmu maha sakti tersebut kepada pemuda itu. Waktu itu Coa Cong-gi tidak melihat diri Hoa In-liong tapi menyaksikan bibir Goan-cing-taysu berkomat-kamit tiada hentinya, dia ingin bertanya tapi tak tahu apa yang sedang dibicarakan kong-kongnya. Dia kuatir mengganggu konsentrasi orang tua tersebut akan meninggalkan ketidak- beresan bagi Hoa In-liong.

Maka ia cuma bisa memandang dengan mata melotot dan hati penuh kegelisahan, kalut benar perasaannya waktu itu.

Selang sesaat kemudian, Goan-cing Taysu baru menghentikan komat-komitnya, Coa Gong-gi yang sudah tidak sabaran semenjak tadi cepat menghampiri kongkongnya dan menegur, “Kongkong! Apa yang kau bicarakan? Baik-baikkah keadaan saudara Hoa?”

Goan cing-Taysu menengadah lalu tersenyum. “Ia baik-baik saja!”

“Bicaralah yang jelas lagi” pinta Coa Cong-si dengah alis mata berkenyit, “Sebenarnya bagaimanakah keadaan dari saudara Hoa?”

“Bocah itu memang sebuah bakat bagus yang sulit dijumpai daiam seratus tahun terakhir. Yaa ilmu silat keluarga kita sekarang sudah mendapat pewaris yang cocok!”

Meskipun dia adalah seorang paderi yang hidup terkekang, toh waktu itu tak sanggup mengendalikan luapan rasa gembiranya. Serta-merta dalam pembicaraan pun seperti menjawab tapi tidak menjawab. Ini menunjukkan bahwa ia merasa betapa pentingnya peristiwa yang barusan dialaminya. Bagi paderi ini menemukan pewaris ilmu silat yang cocok adalah lebih berharga daripada soal apapun jua. “Ah, bagaimana sih kongkong ini?” seru Coa Cong-gi tidak puas, “Anak Gi kan sedang menanyakan bagaimana keadaan dari saudara Hoa! Siapa yang menanyakan soal lain?”

Goan-cing Taysu agak tertegun, kemudian baru jawabnya, “Oooh…. soal itu? Dia tidak apa-apa, lolap telah mewariskan ilmu simhoat tenaga dalam Bu-khek-teng-heng-sim-hoat kepadanya, biarlah di digantung beberapa hari lagi”

Agak lega juga perasaan Coa Cong-gi sehabis mendengar perkataan itu. Tapi dengan perasaan tak paham kembali ia bertanya, “Apa toh yang dimaksudkan Bu-khek-teng-heng- sim- hoat itu?”

“Yang dimaksud Bu-khek-teng-heng adalah suutu keadaan tubuh yang bebas tak terikat, tapi dapat memusatkan semua pikiran dan perasaan menjadi satu. Sayang bakatmu kurang bagus, kalau tidak sim-hoat tenaga dalam yang tak ternilai harganya dari leluhur kita ini pasti akan kuwariskan pula kepadamu”

Perasaan Coa Cong-gi waktu itu hanya memikirkan keselamatan Hoa In-liong. Soal diwariskan atau tidaknya sim- hoat tenaga dalam leluhurnya boleh di bilang ia tak ambil pusing. Dengan dahi berkerut terdengar ia bertanya lagi, “Kalau…. kalau memang begitu, kenapa kongkong tidak tolong saja saudara Hoa? Kenapa dia musti digantung beberapa hari lagi?”

“Sim hoat tenaga dalam dari leluhur kita ini diciprakan secara luar biasa. Sebelum berlatih kepandaian maka peredaran darah seseorang harus dibiarkan mengalir secara terbalik lebih dulu. Kemudian baru masuk kedalam tahap kedua, pokoknya tegasnya saja untuk melatih sim-hoat ini dari tingkat pertama orang harus digantung secara terbalik….” “Apa susahnya itu ? Saudara Hoa kita bawa pulang lalu digantung pula secara terbalik, bukankah sama saja keadaannya?”

Tertawalah Goan-cing Taysu setelah mendengar perkataan itu. “Haa…. haaa…. haaa…. Kalau segampang itu tentu kaupun bisa melatihnya juga”

“Lalu…. lalu…. dimana letak kesulitannya?” Coa Cong-gi agak tertegun.

“Sulitnya justru terlelak pada kewajaran dan keluwesannya!”

“Ah, kalau orang digantung secara terbalik, otomatis darah akan mengalir secara terbalik, lantas dimana letak kewajaran dan keluwesannya?”

“Digantung secara terbalik sehingga mengakibatkan darah mengalir secara terbalik bukan termasuk suatu kewajaran.

Karenanya untuk melatih sim-hoat aliran kita ini, seseorang bukan saja harus cerdik dan berbakat. Pikiran dan perasaannya juga harus kosong. Bocah itu berbakat sangat bagus, digantung pula oleh orang secara terbalik. Dalam keadaan demikian, apa yang dia pikirkan hanyalah bagaimana caranya mengurangi rasa sakit yang dideritanya tanpa embel- embel pikiran yang lain. Meski dalam keadaan setengah sadar ia dapat pula menerima pelajaran dari lolap serta melakukannya tanpa paksaan. Nah, disinilah terletak kewajaran yang kumaksudkan itu”

Setelah diberi penjelasan, Coa Cong-gi baru mengerti. “Oooh! Makanya kau orang tua membiarkan dia digantung beberapa hari lagi, rupanya koag-kong takut merusak kejernihan pikirannya sehingga mengganggu kewajarannya itu. Bukan demikian?” Goan-cing taysu mengangguk sambil memuji tiada hentinya. “Ehmm, anak Gi menang cerdik! Meski bocah ini berpikir kosong dan pusatkan semua perasaan dan pikirannya menjadi satu, asal tidak kita rubah posisinya sekarang, lama kelamaan akan menimbulkan kebiasaan bagi kondisi badannya dan itulah yarg penting bagi seseorang untuk mempelajari kepandaian tersebut. Percayalah keadaan ini tak akan merugikan dirinya! Mari kita pergi, mumpung ada kesempatan bagus, lolap hendak mewariskan kepandaian silat lainnya kepadamu!”

Sehabis berkata ia lantas bangkit berdiri dan berlalu lebih dulu dari situ.

Semua kecurigaan yang masih menyelimuti benak Coa Cong-gi seketika tersapu lenyap hatipun jadi lega. Apalagi setelah didengarnya ada kepandaian silat yang lain hendak diwariskan kepadanya, dengan perasaan yang lapang dan gembira berangkatlah pemuda itu menuju ke kota Kim leng….

Tiga bari lewat dengan cepatnya.

Hari itu dikala senja telah menjelang tiba, Bwee Su-yok masuk kedalam halaman dari ruang depan. Siau-kian dan Siau-bi mengikuti di belakangnya.

Ketika lewat di bawah pohon, serta-merta ketiga orang itu menghentikan langkahnya sambil menengadah dan memandang ke arah Hoa In-liong yang di gantung.

Agaknya hal ini sulih menjadi kebiasaan bagi mereka.

Selama tiga hari belakangan ini, setiap kali mereka berempat lewat dibawah pohon, tentu berhenti sebentar sambil menengok keadaan dari Hoa In-liong. Keadaan Hoa Hoa In-liong tidak mengalami banyak perobahan. Ia masih tetap tergantung diatas dahan pohon dengan kepala dibawali kaki diatas. Bila di bilang ada perubahan maka perubahan tersebut berkisar pada perubahan air mukanya belaka.

Bila dihari pertama mukanya tampak layu pucat pias dan bentuknya seperti orang terserang penyakit parah, malam harinya sudah tampak perubahan. Bahkan kemudian terjadi perubahan yang makin membaik, sampai kini bukan saja paras mukanya sudah menjadi merah lagi, kondisi badannya juga makin stabil. Sekilas pandangan orang akan menyangka kalau ia sedang tertidur nyenyak.

Tentu saja perubahan tersebut tak akan mengelabui ketajaman mata Bwee Su-yok berempat.

Paras muka Bwee Su-yok saat ini amat dingin dan hambar. Dia melirik sekejap ke arah Hoa In-liong kemudian mendengus dingin. Tanpa mengucapkan sepatah katapun melanjutkan langkahnya naik kepelataran rumah.

“Siocia….” tiba-tiba Siau-bi berbisik agak takut-takut. “Ada urusan apa?” tanya Bwee Su-yok seraya berpaling. “Ssuuuu…. Sudah tiga hari!”

Tiba-tiba Bwee Su-yok memutar badannya. “Kalau sudah tiga bari lantas kenapa?” bentaknya.

Setajam sembilu sorot matanya, hawa gusar memancar dibalik wajahnya yang cantik. ini membuat Siau-bi jadi ketakutan sehingga buru-buru menundukkan kepalanya. Siau-kian paling tua usinya diantara yang lain, diapun paling pemberani diantara mereka, tiba-tiba selanya, “Siocia kan berjanji akan mengantungnya selama tiga hari? Apakah kita perlu melepaskannya dari ikatan?”

“Hmmm….! Jadi kau kasihan kepadanya?” dengus Bwee Su-yok dengan nada dingin.

Siau kian agak tertegun, tapi cepat dia tundukkan kepalanya. “Buuu…. bukannya kasihan!”

“Lalu buat apa kau singgung tentang persoalan itu?” bentak gadis itu semakin marah.

“Huuh!…. sudah tahu pura bertanya!” batin Siau-kian.

Tentu saja apa yang di batin tak berani diutarakan secara terus terang, sesudah termenung sejenak dia baru menjawab, “Apa yang telah kita janjikan harus ditepati dengan sebaik- baiknya, maka budak minta petunjuk dari nona untuk….”

“Tidak akan kulepas!” tiba-tiba Bwee Su-yok menukas.

Selesai berkata dia putar badan dan masuk ke dalam ruangan dengan wajah marah.

Selama tiga hari belakangan ini, sikap marah-marahnya itu sudah menjadi suatu kebiasaan dan beberapa orang dayangnya sudah terbiasa menyaksikan tingkah polahnya.

Tak heran kalau Siau-kian sama sekali tidak kaget atau terkejut melihat keadaan tersebut. Sambil menjulurkan lidahnya, ia alihkan kembali sinar matanya ke arah Hoa In- liong.

Tiba-tiba wajahnya tampak tertegun, dengan suara setengah menjerit teriaknya. “Nona….! Nona….!” Secepat angin Bwee Su-yok melayang kembali ketempat semula, gesit dan lincah seperti burung walet. “Kau pingin mampus bentaknya dengan merah.

“Dia…. dia telah sadar kembali” kata Siau-kian sambil menuding ke depan.

“Sadar atau tidak apa urusannya dengan dirimu?” bentak Bwee Su-yok lagi, “Siapa suruh berteriak macam kesetanan?”

Walaupan ia berkata demikian, sinar matanya toh dialihkan juga ke wajah Hoa In-liong.

Tampaklah paras muka anak muda itu segar bugar.

Senyuman manis tersungging di ujung bibirnya. Waktu itu diapun sedang memandang ke arahnya dengan pandangan mengejek.

Mula-mula ia tertegun, menyusul kemudian rasa malu dan mendongkol melintas dalam benaknya. Tanpa sadar diapun balas melotot sekejap ke arah Hoa In-liong dengan pandangan gemas.

Hoa In-liong tersenyum lebar.

“Nona Bwe, bolehkah aku minta secawan air?” pintanya. “Tidak!” jawab Bwee Su-yok ketus.

“Aku lapar sekali” kembali Hoa In-liong mencibirkan bibirnya, “Apakah nona sudah menyiapkan arak dan sayur bagiku?”

Tubuhnya yang jungkir balik membuit pancaindranya tampak aneh. Apalagi waktu berbicara, mirip sekali dengan makhluk yang aneh dia lucu. Serta-merta dua orang dayang yang berdiri disisinya tertawa cekikikan menahan geli.

“Kau bilang suruh siapa yang menyiapkan arak dan nasi?” kembali Bwee Su-yok membentak nyaring.

Hoa In-liong mengernyitkan alis matanya lalu tertawa lebar lagi. “Sebetulnya aku minta bantuan nona, tapi lebih baik tak usah kukatakan lagi. Harap lepaskan aku turun!” katanya.

“Tidak, kau tak akan kulepas!” teriak Bwee Su-yok makin mendongkol “Kau mau apa?”

Hoa In-liong tertawa.

“Kalau tak salah hari ini kan sudah hari yang ketiga?” “Hmm, kau akan kugantung tujuh hari lagi!” kata gadis itu

dengan nadanya yang dingin.

“Sebagai seorang manusia, janganlah mengingkar janji dan menjilat perkataan sendiri. Apalagi nona sebagai seorang tiancu dari perkumpulan Kiu-im-kauw….”

“Tidak akan kulepas! Tidak akan kulepas! Tidak akan kulepas….!” jerit Bwee Su-yok setengah melengking.

Tapi belum habis teriakan tersebut, tiba-tiba…. “Kraaak….! kraaak….”

Diiringi suara yang amat nyaring Hoa In-liong telah mematahkan semua tali yang membelenggu tubuhnya, kemudian seenteng kapas dia melayang turun kepermukaan persis dihadapan mukanya. Seketika itu juga keempat orang dayang itu menjerit kaget, demikian pula dengan Bwee Su-yok tanpa sadar dia mundur selangkah dengan mulut melongo lebar.

Wajah Hoa In-liong cerah dan bersinar, senyum manis tersungging diujung bibirnya, orang tak akan percaya kalau dia sudah tiga hari digantung tanpa makan dan minum.

“Batas waktu selama tiga hari sudah lewat,” demikian ia berkata, “Aku rasa digantung secara terbalik itu tak sedap dirasakan lebih lama. Maka jika nona segan melepas aku, terpaksa kuambil keputusan untuk memutus sendiri tali-tali yang membelenggu badanku” 

Keadaan Bwee Su-yok waktu itu yaa kaget, yaa malu, yaa mendongkol, hawa amarah kontan saja menyelimuti seluruh benaknya.

“Kau tak usah sok berlagak dihadapankul!” bentaknya. Bagaikan harimau kelaparan ia menerkam ke muka,

sepasang telapak tangannya berputar kencang. Dengan sepuluh jari tangannya yang runcing ia cengkeram dada Hoa In-liong.

Desingan angin jari menderu-deru. Sungguh dahsyat serangan tersebut. Dalam keadaan demikian terpaksa Hoa In- liong miringkan badannya dan buru buru mengigos ke samping. “Eeeeeh…. nanti dulu Nona!” teriaknya, “Aku berbuat demikian toh demi menjaga nama baik nona? Kenapa nona malahan….”

Belum habis perkataan itu tiba-tiba desingan angin tajam kembali menyerang tiba dari arah belakang. Terpaksa ia telah kembali perkataan berikutnya, lengan diputar dan sebuah serangan balasan segera dilontarkan ke depan.

Tak salah lagi kalau serangan tersebut dilancarkan dalam keadaan tergesa-gesa, kekuatan yang di pakai juga tak sampai lima depa. Meski demikian keampuhan yang tersembunyi dibalik serangan tersebut benar-benar luar biasa. Meski hanya satu serangan namun mengandung balasan macam perubahan yang tak terduga, bukan sembarangan jago lihay yang sanggup membendung ancaman semacam itu.

Bwee Su-yok segera menyingkir ke samping dan menghindarkan diri dari ancaman tersebut. Tubuhnya berputar cepat ke samping kanan Hoa In-liong. Tiba-tiba dengan jari tangannya yang kaku bagaikan tombak ia tusuk jalan darah Ki bun hiat di iga kanan anak muda itu.

“Hmm….! Justru nonamu sengaja tak mau pegang janji. Akan kugantung kau selama tujuh hari lagi, akan kulihat apa yang bisa kaulakukan….?” katanya ketus.

Indah nian gerakan tubuhnya, ganas, keji dan berat pula ancaman serangannya. Andaikata serangan tersebut bersarang telak pada sasarannya, meski tubah Hoa In-liong terlindung oleh kaos kotang pelindung badan, toh dia tetap akan roboh juga.

Hoa In-liong tidak panik. Ia tarik badannya hingga cekung ke dalam, kemudian dengan entengnya anak muda itu mundur delapan depa ke belakang.

“Nona!” ujarnya dengan dahi berkerut, “Gurumu kan bermaksud menahan aku secara baik-baik?”

“Tak usah banyak cerewet!” tukas Bwee Su-yok sambil mengejar sasarannya bagaikan bayangan. “Sengaja mau gantung kau selama tujuh hari, mau apa kau? kalau dilepaspun harus tunggu tujuh hari kemudian”

“Oooh…. jadi kau hendak melepaskan aku pergi?” seru Hoa In-liong dengan wajah tercengang.

“Ya!” jawaban dari Bwee Su-yok sungguh-sungguh, serius dan tak nampak kalau cuma bergurau belaka.

Setajam sembilu sorot mata Hoa In-liong yang mengawasi wajah Bwee Su-yok, tiba-tiba ia tertawa. “Haa…. haa…. haa…. Diantara anak cucu keluarga Hoa, hanya aku yang suka berbohong. Haa…. haa…. haa…. Sungguh tak kusangka….”

“Apa kau bilang?” bentak Bwee Su-yok dengan sorot mata yang luar biasa tajamnya.

Hoa In-liong masih tergelak-gelak. “Haa…. haa…. haa….

Sekalipun nona tidak bohong, aku yakin ucapanmu kau utarakan karena emosi belaka. Bila kau lepaskan aku pergi dari sini, lantas bagaimanakah pertanggungan jawabmu dibadapan gurumu nanti?”

Benar juga perkataan ini! Bila anak muda itu dilepaskan secara pribadi, lantas bagaimanakah pertanggung jawabnya dihadapan Kiu-im kaucu nanti? Kalau bukan begitu, bukankah berarti bahwa nona itu sedang berbohong?

Tampaknya karena malu Bwee Su-yok jadi marah merah padam selembar wajahnya. Sinar mata yang menyambar kesana kemari setajam pisau, menggidikkan keadaannya. “Kalau memang begitu, lebih baik kau mampus saja!” teriaknya kemudian dengan lantang.

Berbareng itu juga sepasang telapak tangannya diayun ke depan deugan dahsyat. Kalau dilihat dari gaya Bwee Su-yok melepaskan serangannya, dapat ditarik kesimpulan kalau hati nona itu sedang gundah dan diliputi hawa amarah. Andaikata serangan tersebut bersarang telak, dengan kekuatan yang terkandung dibalik pukulan itu, sedikit banyak akan binasa juga Hoa In- liong bila terhantam.

Tak terkirakan rasa kaget dari dua orang dayang cilik itu sampai-sanpai mereka berteriak keras, “Nona….!”

Bukan saja lengking suaranya, diantara kelengkingan tersebut terbawa pula nada gemetar yang jelas kedengaran.

Agak tertegun Bwee Su-yok mendengar jeritan tersebut, ia menunda serangannya sambil membentak, “Apa-apaan kalian? Kenapa menjerit jerit macam orang edan?”

Sebelum dayang-dayang itu menjawab, Hoa In-liong telah menimbrung dari samping, “Aku hendak berbicara nona!”

Oooo OOO oooo

“HUUUUH! Kau anggap nonamu sudi mendengarkan segala ocehanmu yarg tak genah?” Jengek Bwe-su yok seraya menatap lawannya dengan pandangan dingin.

“Mau mendengarkan atau tidak tentu saja urusan nona sendir. Aku hanya merasa tak enak rasanya bila perkataan yang menyumbat tenggorokanku tidak kuutarakan keluar. Terus terang kuberitahukan kepadamu nona, sebetulnya aku tak ingin pergi dari sini. Tapi setelah dapat kupahami jalan pemikiran nona, maka aku merasa, andaikata aku tetap berdiam diri disini malah justru akan menjerumuskan nona pada keadaan yang tidak berbudi, oleh sebab itu….” “Hmm….! Nonamu berbudi atau tidak, kenapa musti kau risaukan?” tukas Bwee Su-yok sangat mendongkol.

Hoa In-liong tertawa ewa. “Bila persoalan ini sama sekali tak ada hubungannya dengan diriku, tentu saja tak usah kurisaukan tapi berhubung persoalan ini timbulnya justru lantaran aku. Jika nona sampai melakukan perbuatan- perbuatan yang tak berbudi, bukankah semuanya itu adalah berkat dari dosa dan kesalahanku?”

Kembali Bwee Su-yok mendengus dingin. “Hmm…. Usil mulut pandai menjilat, rupanya engkau sedang berusaha untuk membersihkan diri dari segala dosa dan kesalahan! Begitupun bolehlah, ayoh cepat menyerah dan biarkan tubuhmu di ikat, kau musti digantung selama tujuh hari lagi”

“Aaah….! Bicara pulang pergi, nona toh bersikeras akan menggantung aku selama tujuh hari lagi!”

“Kalau tidak, maka engkau harus mampus!” sambung Bwee Su-yok dengan suara yang menyeramkan.

Paras muka Hoa In-liong tiba-tiba saja berubah jadi amat serius, dengan sungguh-sungguh dia berkata, “Nona Bwee, engkau terlalu picik pikirannya, terlalu sempit jiwanya, watak semacam ini patut segera dirubah!”

Kalau dihari-hari biasa Hoa In-liong selalu tertawa haha hihi dengan sikap yang santai dan acuh tak acuh, sehingga orang menganggap dirinya sebagai laki-laki hidung bangor, atau kalau serius pun wajahnya tetap tenang tanpa pancaran hawa gusar. Maka setelah air mukanya menjadi serius dan nada pembicaraannya tiba-tiba berubah ber-sungguh-sungguh, kontan saja Bwee Su-yok dibikin tertegun olehnya. Hoa In-liong berhenti sebentar, kemudian sambangnya lebih jauh, “Dengarkanlah perkataanku selanjutnya.

Pantangan paling besar bagi seorang manusia adalah tak tahu diri dan kelewat sombong. Bagaimanapun juga aku kan sudah kau gantung selama tiga hari tanpa melawan. Semestinya nona sudah harus puas dengan hasil tersebut. Tapi sekarang, lantaran kau lihat keadaanku tak kekurangan sesuatu apapun, hatimu jadi panas. Maka dengan alasan yang dibuat-buat kau ingin memancing aku masuk perangkap. Sekalipun aku percaya dengan perkataanmu itu, bukankah soal kepercayaan bagi nona akan mengalami kerugian? Sebaliknya bila pegang janji, setelah kau gantung aku selama tujuh hari lantas melepaskan aku pergi, tidakkah engkau merasa bahwa perbuatanmu itu telah melanggar perintah dari gurumu?

Meskipun budi dan dendam yang kau lakukan bukan dilakukan dengan tujuan tertentu, tapi akibat yang dihasilkan semuanya merupakan suatu tindakan yang tidak berbudi. Nah, nona!

Terus terang kukatakan kepadamu, tak mungkin kaudapat menggantung aku selama tujuh hari lagi tanpa perlawanan dariku. Padahal nafsu membunuh sudah menyelimuti wajah nona, bayangkan sendiri, dengan kemampuan yang nona miliki, mampukah engkau untuk melaksanakan kesemuanya itu?”

Setiap perkataan yarg diutarakan anak muda itu boleh dibilang diucapkan dengan nada yang tegas dan alasan yang tepat. Meskipun selama ini Bwee Su-yok bermaksud membantah, ia tak tahu bagaimana harus membantahnya.

Tiba-tiba saja paras muka Hoa In-liong berubah semakin cerah, sambil tertawa nyaring ujarnya kembali, “Nona Bwe, terus terang kukatakan, raut wajah serta keanggunan nona amat mengagumkan aku Hoa Yang. Sayang kedudukan kita jauh berbeda, kita harus berdiri pada posisi yang saling bermusuhan. lagipula nona sombong dingin dan tak berperasaan. Kalau tidak demikian, mungkin kita bisa menjadi sahabat yang karib. Oleh sebab itu, bila lantaran aku akan mengakibatkan nona terjerumus dalam keadaan yang tidak berbudi, sampai matipun aku Hoa Yang tidak akan melakukannya. Maka setelah kupikir lebih jauh, aku rasa satu- satunya jalan yang bisa kita tempuh sekarang adalah mohon diri darinu, kita putuskan dahulu gejala “ketidak berbudi” tersebut, agar nona tak sampai rugi karenanya. Nona Bwee, aku ingin mohon diri kepadamu, dihadapan gurumu nanti tolong sampaikan permintaan maafku yang mana telah pergi tanpa pamit, semoga nona bisa jaga diri baik-baik!”

Selesai berkata dia menjura, putar badan dan berjalan menuju ke dinding pekarangin dihalaman belakang. Selang sesaat kemudian ia sudah melewati dinding pekarangan dan lenyap dari pandangan mata.

Ia bilang pergi lantas pergi. Perkataannya terus terang dan blak-blakkan. Sikapnya gagah perkasa, sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda berat hati atau segan pergi.

Memandang bayangan punggungnya yang kekar dan lenyap dari pandangan mata, Bwee Su-yok hanya bisa berdiri termangu dengan mata terbelalak dan mulut melongo. Dia lupa menjawab, lupa menegur. Untuk sesaat hanya berdiri kaku bagaikan sebuah patung arca.

Sepintas lalu keadaan tersebut seakan-akan suatu kejadian yang diluar dugaan, padahal memang demikianlah keadaan pada umumnya.

Perlu diterangkan disini, bahwasanya Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang tampan. Hal ini sudah terbukti jelas, manusia dengan tampang gagah seperti inilah merupakan idaman dan incaran dari setiap gadis kaum remaja.

Meskipun Bwee Su-yok itu dingin dan kaku hatinya, bagaimanapun dia adalah seorang gadis yang berwajah cantik. Dan selama manusia punya perasaan, tentu perasaan mereka tak jauh berbeda, begitu pula dengan keadaan dara tersebut.

Sebelum itu, dia selalu barusaha menyusahkan Hoa In- liong, hal ini disebabkan karena pertama hasil pendidikannya yang bertahun-tahun, kedua rasa dongkolnya terhadap Hoa In-liong yang sama sekali tidak tergiur oleh kecantikan wajahnya.

Kedua hal tersebut diatas segera menimbulkan perasaan tak puas, perasaan mendongkolnya atas diri pemuda itu, padahal terus terang dalam hati kecilnya diapun menaruh rasa simpatik terhadap Hoa In-liong. Apalagi rasa simpatiknya lebih mendekati sebagai benih-benih cinta. Bisa dibayangkan bagaimanakah perasaannya ketika itu.

Sekarang, dengan begitu terus terang, dengan begitu blak- blakan Hoa In-liong telah mengutarakan perasaan cinta dan kagumnya terhadap dirinya. Tapi lantaran dia tak ingin menjerumuskan dirinya dalam keadaan tak berbudi, dia rela pergi meski dengan perasaan berat. Betapa terus terangnya pengakuan pemuda itu atas rasa cinta dan kagumnya? Betapa dalamnya perasaan kuatir dan perhatiannya terhadap segala hal yang ncenyang-kut dirinya? Tidak heran kalau Bwee Su- yok dibuat tertegun tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan.

Malam semakin kelam, rembulan sudah muncul dari arah timur, secepat sambaran kilat Hoa In-liong bergerak menuju ke kota Kim-leng.

Anak muda itu langsung berkunjung ke pesanggrahan pertabiban dan menyambangi Kang-lam Ji-gi (Tabib Sosial dari Kanglam) Yu Siang-tek suami istri. Dari mulut kedua orang tua inilah dia baru tahu bahwa Yu Siau-lam beserta Kim-leng ngo-kongcu nya telah menyebarkan diri untuk mencari jejaknya semenjak ia tertangkap musuh.

Coa Cong-gi sendiri walaupun bertugas menjaga dikota Kim- leng, tapi sudah tiga hari Kang-lam Ji-gi tidak menjunpai jejaknya.

Setelah mengetahui tentang gerakan yang dilakukan oleh Kim-leng ngo-kongcu, selain Hoa In-liong merasa berterima kasih atas perhatian serta simpatik Kim-leng ngo-kongcu yang sudi mencari jejaknya dengan susah payah, diapun merasa kuatir atas keselamatan dari Coa Cong-gi. Dia kuatir Coa Cong-gi telah berjumpa dengan orang-orang dari Kiu-im kau dan kena ditangkap juga oleh mereka.

Karena itu setelah buru-buru bersantap, dia mengambil senjata, menanyakan tempat tinggal dari Coa Cong-gi, kemudian baru berpamitan dengan Yu Siang-tek suami istri dan lari menuju kejalan raya sebelah timur

Tempat tinggal Coa Cong-gi terletak di istana raja muda Kim-leng, meskipun Ko Hoa sudah melepaskan diri dari jabatan tersebut, namun tempat tinggal itu masih ditempati oleh anak keturunannya baik kewibawaan maupun keangkerannya tak jauh berbeda seperti dulu.

Sayang para pelayan yang ada dirumah tak ada yang tahu kemana perginya Coa Cong-gi. Menurut seorang pengurus rumah tangga she-Kok, sudah tiga hari majikan mudanya tidak pulang ke

rumah. Sedang majikan perempuannya beserta nona telah melakukan perjalanan jauh pada tiga hari berselang….

Tentu saja Hoa In-liong tidak tahu kalau kesemuanya itu adalah hasil perbuatan dari Goan-cing Taysu. Sepeninggalnya dari gedung Coa dijalan raya sebelah timur, perasaannya jadi gundah, gelisah dan sangat tidak tenang.

Sekalipun demikian ia tidak merasa gelisah, karena setelah meninggalkan gedung perkampungan yang misterius itu, ia telah mengambil keputusan akan menyelidiki kembali gerak- gerik dari Kiu-im kau tengah malam nanti. Seandainya Coa Cong-gi memang terbukti sudah diculik orang-orang Kiu-im kau, waktu itu kabar tersebut tentu akan diperoleh juga dan rasanya melakukan pertolongan pada waktu itupun belum terlambat.

Karenanya setelah termenung dan berpikir sejenak, dia memutuskan untuk berkunjung lebih dulu ke rumah pelacuran Gi-sim-wan untnk menemui Cia In.

Pemuda ini memang dasarnya suka bermain perempuan. Dimana saja ia berada, disanalah ia pasti berkenalan dengan perempuan. Baru beberapa hari berkenalan dalam dunia persilatan, sudah beberapa orang gadis yang selalu terkenang dalam benaknya.

Diantara sekian banyak gadis, Cia In terhitung perempuan yang istimewa bagi pandangannya. Sejak ia membocorkan jejaknya dihadapan Ciu Hoa kemudian pada tiga hari berselang dia menyaksikan kereta kudanya muncul dari daerah loteng sambur menuju keramaian kota. Maka meskipun hatinya kangen, diapun sedikit curiga. Tanpa sadar langkah kakinya telah bergerak menuju ke arah kuil Hu cu-bio.

Setelah memasuki sebuah lorong, sampailah pemuda itu disebelah barat rumah pelacuran Gi-sim-wan. Dengan matanya yang jeli dia menengok kekiri kekanan. Setelah yakin kalau disekitar tempat itu tak ada orang, ia baru melompati pagar pekarangan dan masuk kedalam. Setelah melewati beberapa bangunan akhirnya tibalah dia didepan loteng tempat tinggal Cia In.

Ruangan loteng itu terang benderang, dari kejauhan ia saksikan In-ji berdiri ditepi pagar sambil memandang sekelling sana. Ketika ia pandang lebih seksama lagi, ternyata tidak tampak bayangan tubuh dari Cia In. Diatas lotengpun tak kelihatan ada orang yang berlalu lalang, meski sudah ditunggu beberapa saat lagi, ternyata keada-annya masin tetap dan tidak berubah.

Menyaksikan kesemuanya itu, Hoa In-liong mengerutkan dahinya seraya berpikir, “Kemana perginya Cia In? Mengapa ia tidak tampak? Kalau pergi memenuhi undangan orang kenapa In-ji tidak ikut? In-ji jelas ada diatas loteng, tapi disitu tak nampak ada tamu, masa…. masa….”

Belum habis kecurigaan tersebut terlintas dalam benaknya, tiba tiba serentetan bisikan lirih berkumandang ke dalam telinganya, “Anak Liong kah disitu? Cepat kemari!”

Mula-mula Hoa In-liong agak terkejut, tapi segera ia kegirangan, dengan ilmu menyampaikan suara pula sahutnya, “Ngo-siok, paman Ngo, engkau berada dimana?”

Ternyata orang yang membisiknya dengan ilmu menyampaikan suara itu bukan lain adalah seorang murid Bun Tay-kun yang diterimanya ketika ia telah lanjut usia.

Muridnya ini dianggap sebagai murid juga dianggap sebagai putra sendiri, ia bernama Hoa Ngo dan nama aslinya “Siau- ngo-ji”

Bocah itu tak berayah tak beribu, dulunya adalah seorang berandal kecil pimpinan Ko Thay dari kota Lok-yang dan pernah menyumbangkan tenaganya bagi keluarga Hoa. Bun Tay-kun yang kasihan atas kehidupan bocah itu dan lagi senang akan kecerdasannya, kemudian Ko Thay dan Ngo- ji diterimanya menjadi murid serta diwarisi ilmu silat yang tinggi.

Sejak Ko Thay ditetapkan menjadi satu-satunya pewaris dari Ciu It-bong dan memperoleh pelajaran silat Hu im-ciang- hoat, dia telah meninggalkan perkampungan Liok-soat-san- ceng dan mendirikan perguruan sendiri, sebaliknya Hoa Ngo tetap berdiam di perkampungan Liok-soat-san-ceng dan menjadi salah satu kekuatan dari keluarga Hoa. (untuk mengetahui peristiwa diatas, silahkan membaca: Bara- maharani).

Sejak kecil Hoa Ngo sudah pintar, diapun termasuk seorang laki-laki yang binal dan sukar diikat dengan segala peraturan, sejak berhasil memiliki ilmu silat yang tinggi, ia seringkali berkelana diluaran, tapi bila berada di rumah Hoa In-liong lah yang paling disayang, kebinalan dan kelicikan Hoa In-liong justru sebagian besar adalah berkat ajaran dan pengaruh dari paman Ngo-nya ini.

Tidaklah heran kalau ia jadi sangat gembira setelah mengetahui babvva orang yang mengirim suara kepadanya itu bukan lain adalah paman Ngo siok nya.

“Hati-hati….!” Suara dari Hoa-Ngo kembali berkumandang dengan nada serius, “Aku ada disini. Disebelah sini ada sebuah ruangan mungil, kurang lebih satu panahan sebelah tenggara bangunan loteng, kau harus menyusup kemari dengan pelan- pelan, jangan sampai bersuara!”

“Harus menyusup kesitu?” pikir Hoa In-liong kemudian dengan perasaan tegang, “Benarkah dalam rumah pelacuran Gim-sim-wan terdapat hal hal yang aneh dan mencurigakan?” Tapi dalam keadaan demikian, tidak sempat lagi baginya untuk berpikir lebih jauh, buru buru ia menyusup ke arah tenggara seperti apa yang di perintahkan Paman Ngo nya.

Benar juga, disebelah tenggara terdapat sebuah bangunan mungil. Letaknya berada dihalaman yang berbeda, hingga sepintas lalu orang akan mengira bangunan tersebut tidak berhubungan sama sekali dengan rumah pelacuran Gi-sim- wan. Meski ada pintu yang menghubungkan halaman yang satu dengan halaman lainnya.

Ia menyusup masuk kedalam halaman tersebut lewar pintu yang setengah tertutup. Begitu keluar dari balik pintu, terlihatlah sebuah kereta kuda yang berwarna emas dan mungil berhenti didepan pintu bangunan mungil itu, sebagai kusir keretanya adalah Hek lo-tia.

Sementara hatinya merasa terkesiap, tiba-tiba terdengar suara dari Cia In berkumandang nyaring, “Hek lo-tia, sudah kau siapkan keretanya?”

“Lapor nona, kuda dan kereta telah siap menanti nona naik kedalam kereta”

Diantara cahaya lentera yang bergoyang terhembus angin, seorang dayang muncul dipaling depan membawa alat penerangan. Cia In dengan mendampingi seorang perempuan cantik berbaju ungu menyusul dari belakangnya, mereka semua muncul dari ruangan tersebut.

Perempuan cantik berbaju ungu itu memakai gaun sepanjang lantai. Rambutnya disanggul tinggi dan berparas cantik jelita. sepintas lalu mirip seorang perempuan berusia tiga puluh tahunan, mirip juga berusia dua puluh lima enam tahunan, berapa umurnya yang pasti sukar rasanya untuk ditentukan.

Hoa In-liong menyaksikan kesemuanya itu dengan wajah termangu mangu. Sebelum ia tahu apa yang musti dilakukan, dayang itu sudah membuka pintu kereta dan mempersilahkan Cia In berdua masuk ke dalam kereta.

“Anak Liong, cepat….” tiba-tiba bisikan dari Hoa-Ngo kembali berkumandang datang.

Belum habis ia berkata, Hek lo-tia sudah ayun cambuknya dan kereta itu pun mulai bergerak meninggalkan tempat tersebut.

Meskipun tidak lengkap yang didengar Hoa In-liong, tapi ia mengerti bahwa paman Ngo-siok nya memerintahkan dia untuk “membonceng kereta dan mengikuti kemana perginya orang-orang itu.”

Dalam keadaan demikian, ia tak sempat untuk berpikir panjang lagi. Dengan gerakan hampir menempel diatas permukaan tanah, dia menyusul ke belakang kereta lalu menerobos ke bawah lantai kereta yang sedang berjalan itu.

Seenteng burung walet gerakan tubuhnya, selincah kucing terkamannya. Gerakannya ini bukan saja tidak menggerakkan daun atau rumput, tidak mengejutkan dayang yang ada didepan bangunan, bahkan orang yang berada dalam keretapun tidak akan merasa bahwa ada seseorang telah membonceng kereta mereka.

Dengan berpegangan pada dasar ruang kereta, Hoa In- liong bergelantungan terus sepanjang jalan. Ia cuma mendengar berputarnya roda kereta tanpa diketahui kemana kereta itu akan pergi dan dimanakah paman Ngo-siok nya menyembunyikan diri.

Meski demikian, ia tahu bahwa kereta itu sudah melalui sebuah jalanan berbatu datar yang sangat panjang, lalu bergerak dijalanan berlumpur, kurang lebih setengah jam kemudian kereta mulai mendaki ditanah perbukitan, dan sepertanak nasi kemudian baru berhenti disuatu tempat.

Dengan tenangnya Hoa In-liong menunggu di bawah lantai kereta, setelah yakin kalau orang-orang diatas kereta sudah meninggalkan kereta tersebut, pelan-pelan ia baru menerobos keluar dari tempat persembunyiannya.

Waktu itu sudah mendekati tengah malam, bintang bertaburan di angkasa. Dibawah sinar rembulan yang redup terlihatlah sebuah to koan (kuil kaum beragama To) berdiri anggun didepan sana sementara Hek lo-tia dengan kesiap- siagaan penuh duduk diatas keretanya sambil memandang ke sana kemari. Rupanya ia bertugas mengawasi kea-manan sekitar wilayah tersebut.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Hoa In-liong menyusup masuk ke dalam semak belukar. Kemudian setelah berputar ke arah lain, ia baru membersihkan debu yang mengotori bajunya. “Wah, tak sempat lagi bila aku hendak selidiki gerak-gerik dari orang orang Kiu-im kau” pikirnya dalam hati.

Sementara otaknya berputar, tubuhnya dengan enteng melayang kedepan menghampiri To koan tersebut, cahaya lampau menyinari ruang tersebut terang benderang, dengan menghindari cahaya lampu pemuda itu meryusup dikegelapan dan mendekati bangunan itu. Saat itulah tiba-tiba ia dengar suara helaan napas seseorang yang amat nyaring, “Aaai….! Che giok, tidak seharusnya engkau datang kemari….”

Begitu mendengar disebutnya nama “Che-giok” mendadak sontak Hoa In-liong merasakan hatinya bergetar keras. “Oooh…. Sekarang aku baru tahu” pikirnya, “Jadi perempuan cantik tadi adalah Pui Che-giok!”

Dengan perasaan kaget bercampur curiga, pemuda itu mendekati dinding jendela dan menyembunyikan diri baik- baik. Ia membuat sebuah lubang kecil pada kertas penutup jendela itu, lalu menempelkan mata kanannya dilubang itu dan mengintip ke dalam ruangan.

Ruangan tersebut adalah sebuah ruangan yang sederhana dan jelek. Seorang Tookoh (rahib perempuan) berwajah cantik dan berkulit putih bersih duduk bersila diatas pembaringan.

Seorang Tookoh berusia lanjut yang berwajah bersih mendampingi disisinya.

Waktu itu Cia In berlutut diatas tanah, sedangkan perempuan cantik berbaju ungu itu berdiri di hadapan Tookoh berwajah cantik tersebut dengan sikap menghormat.

“Heng tooyu!” terdengar Tookoh tua ilu berkata setelah mendehem periahan “Bagaimanapun jua nona Pui sudah sampai disini, marilah persilahkan dia duduk dan berbicara dengan sebaik-baiknya!”

“Bicara pulang pergi, yang dibicarakan toh tetap masalah keduniawian belaka” sahut Too-koh cantik yang disebut Heng tooyu itu dengan suara hambar, “Tiang-heng telah mengasingkan diri dari keramaian duaia, hidup mengasingkan diri sebagai pendeta, perasaan hatiku saat ini sangat tawar dan tenang, persoalan apalagi yang hendak dibicarakan dengan diriku?”

“Nona….” seru Pui Che-giok agak emosi.

“Pin-ni Tiang heng, sudah lama bukan nonamu lagi!” tukas Heng tooyu cepat.

“Yaa, tootiang!” sahut Pui Che-giok sedih.

To-koh yang bernama “Tiang-heng” itu memberi kode tangan mempersilahkan tamunya untuk duduk, lalu katanya, “Silahkan duduk, asal tidak menyinggung soal lampau, kita boleh saja bercakap-cakap sebentar!”

“Yaa, tootiang!” kembali Pui Che-giok mengangguk, air mata bercucuran membasahi wajahnya, hampir saja ia menangis tersedu.

“Jangan terlalu memikirkan satu masalah yang sama melulu” kata Tiang-heng Tookoh hambar “Kejadian masa lampau sudah lewat bagaikan asap yang buyar di angkasa, buat apa kau menangis dan bersedih hati? Silahkan duduk, lebih baik katakan apa yang hendak kau ucapkan pada saat ini?”

Kepada Cia In, diapun berkata lebih jauh, “Anak In, silahkan bangun! Pinni tak berani menerima sembahmu yang berkepanjangan!”

Sambil masih sesenggukan Pui Che-giok duduk sedang Cia In menyembah lagi beberapa kali di depan Tookoh cantik itu sebelum berdiri dibelakang Pui Che-giok dengan wajah sedih dan murung.

Untuk sesaat suasana jadi hening dan sepi…. Entah berapa saat kemudian, Pui Che-giok baru menyeka air matanya dengan ujung baju, kemudian ia berkata , “Totiang, soal perkumpulan Cha-li-kau yang Che-giok dirikan, tidak lama kemudian akan diresmikan dan diumumkan secara meluas keseluruh dunia persilatan. Untuk keperluan itu sengaja Che-giok datang kemari mohon petunjuk dari totiang”

Mendengar perkataan tersebut, Hoa In-liong merasa amat terperanjat, ia semakin pusatkan perhatiannya untuk mendengarkan semua pembicaan tersebut dengan lebih seksama.

“Kalau hanya soal meresmikan perkumpulan saja, kenapa kau musti minta petunjuk pinto?” kata Tiang hengto koh dengan dahi berkerut.

“Sejak kecil Che-giok sudah dipelihara oleh totiang, kemudian mendapat pula warisan Cha-li sim keng dari totiang. Segala sesuatu yang Che-giok miliki sekarang adalah pemberian dari Totiang. Tak ternilai tebalnya budi yang Che- giok terima, sebelum ada persetujuan dari totiang, darimana Cbe giok berani sembarangan ambil keputusan?”

Tiang-heng to koh menghela napas panjang. “Aaaai…. bila pinto belum jadi pendeta, sudah pasti pinto tak akan terlalu setuju dengan tindakanmu mendirikan perkumpulan. Tapi sekarang pikiran dan perhatian pinto hanya tertuju pada pelajaran agama To, dengan sendirinya soal-soal ke duniawian pun tak akan terlalu banyak yang kuurusi”

“Harap Hoo…. tootiang berlega hati” tiba-tiba Pui Che giok berseru dengan cemas, “Che-giok tidak akan melakukan segala tindakan yang menyusahkan keluarga Hoa” “Kau….” Tiang heng Tookoh tiba-tiba berseru dengan wajah amat serius.

“Che-giok patut mampus!” seru Pui Che-giok lagi dengan takut, “Karena terlampau emosi sehingga Che-giok melupakan peringatan dari diri totiang”

Tiang heng to koh menghela napas panjang. “Aaaaai…. Perkataan dari pinto memang sedikit kelewat batas. Padahal kejadian sudah lewat, sekalipun disinggung kembali, rasanya juga tak akan sampai menimbulkan pergolakan didalam hati”

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya lebih jauh, “Secara tiba-tiba kau terburu nafsu untuk mendirikan perkumpulanmu, apakah hal ini ada hubungannya dengan keluarga Hoa?”

“Benar! Oh, bukan…. bukan….” Pui Che giok gelagapan sekali menghadapi pertanyaan tersebut.

Melihat jawaban yang saling bertentangan itu, sekali lagi Tiang heng To koh mengerutkan dahinya. “Jika engkau hendak mengucapkan sesuatu, katakanlah secara terus terang, apa yang perlu kau takuti lagi?”

Pui Che-giok berusaha keras untuk menenangkan hatinya, kemudian ia baru berkata, “Totiang, kau tidak tahu, Suma tayhiap suami istri telah dibunuh orang secara keji”

Mendengar kabar tersebut, sekujur badan Tiang heng Tookoh bergetar keras. Rupanya ia merasa amat terkejut oleh kejadian tersebnt, tapi selang sesaat kemudian ia berhasil menguasai perasaan hatinya itu. “Kau maksudkan Suma Tiang-cing suami isteri yang disebut orang sebagai Kiu-mia- kiam-kek itu?” “Yaa, Suma Tiang-cing tayhiap suami istri itulah yang kumaksudkan” sahut Pui Che-giok seraya mengangguk, “Mereka berdua mati dirumahnya di kota Lok-yang. Menurut hasil menyelidikan luka mematikan yang ditemukan ditubuh korban letaknya diatas tenggorokan, tampaknya mati tergigit oleh binatang buas. Selain itu pembunuh tersebut juga meninggalkan tanda yang biasanya digunakan totiang dimasa lalu”

Sebelum ucapan itu selesai diutarakan, paras muka Tiang- heng Tookoh sudah berubah bebat, si nar matanya setajam sembilu. “Kau maksudkan hiolo kecil terbuat dari batu kemala hijau?” teriaknya tertahan.

Ketika Tiang-heng Tookoh mengucapkan kata-kata tersebut, maka Hoa In-liong yang curi dengar pembicaraan itupun hampir saja menjerit tertahan.

“Gio-teng hujin? Yaa, dialah perempuan yang bernama Giok-teng hujin itu….”

Padahal sewaktu Pui Che-giok menyebut Tiang heng Tookoh sebagai “nona” tadi, pemuda ini sudah curiga kesitu. Tapi oleh karena menurut pengertiannya Giok Teng Hujin sudah wafat, apalagi surat wasiatnya masih berada disakunya, maka ia tak berani mempercayai seratus persen.

Dan sekarang setelah kenyataan membuktikan bahwa apa yang diduganya itu tidak keliru. Tak terkendalikan golakan perasaan hatinya, telapak tangan kanannya segera diangkat keatas, hampir saja ia menerobos masuk kedalam ruangan lewat jendela.

“Liong-ji. Jangan terburu nafsu!” untunglah pada saat itu suara peringatan dari Hoa Ngo kembali berkumandang, “Dengarlah lebih lanjut apa yang mereka bicarakan!” Tercekat hati Hoa In-liong. Cepat ia berpaling ke arah mana berasalnya suara peringatan itu. Betul juga, dibawah jendela yang lain tampak sesosok bayangan manusia sedang

manggut-manggut ke arahnya.

Karena itu, ia segera mengendalikan golakan perasaan dalam hatinya, dengan ilmu menyampaikan suara bisiknya pula, “Ngo siok, benarkah Tookoh itu adalah Giok-teng hujin yang kita cari?”

“Jangan banyak bertanya, dengarkan lebih lanjut apa yang mereka bicarakan!”

Sementara itu, suara dari Tiang-heng Tookoh telah berkumandang kembali dari ruangan, “Hubungan Suma Tayhiap dengan keluarga Hoa dibukit Im-tiong-san bukan hubungan persahabatan yang umum. Dengan terbunuhnya mereka berdua secara bersama, entah tindakan apa yang telah dilakukan oleh pihak perkampungan Liok-soat san- ceng?”

Bila didengar dari pembicaraan tersebut, Hoa In-liong tahu bahwa diantara pembicaraan mereka ada sepotong pembicaraan yang tak sempat terdengar olehnya, tentu saja ia makin tak berani memecahkan perhatiannya.

Cepat kepalanya ditempelkan kembali diatas jendela, dari situ dia mengintip kembali kedalam kamar.

Tampaklah Pui Che-giok dengan wajah yang iba sedang berkata, “Oleh karena hiolo kecil kumala hijau itu, pihak Liok- soat-san-ceng telah mencurigai bahwa otak dari pembunuhan ini adalah totiang, Dewasa ini putra Pek Kun-gi yang bernama Hoa Yang telah ditugaskan turun kedunia persilatan untuk menyelidiki peristiwa pembunuhan berdarah itu!” “Ehmmm…. Ternyata memang begitulah tindakannya! Kenapa Hoa Thian-hong tidak turun tangan sendiri?” ucap Tiang-heng Tookoh agak dipengaruhi emosi.

Waktu itu, Tiang-heng totiang tidak berusaha untuk menyangkal pembunuhan itu adalah hasi| perbuatannya, tapi malah bertanya dengan emosi mengapa Hoa Thian-hong tidak turun tangan sendiri. Mendengar kesemuanya itu, Hoa In-liong merasa makin bingung dan tidak habis mengerti.

“Sekarang Hoa tayhiap sudah merasakan nikmat dan bahagianya kehidupan manusia didunia. Siapa tahu kalau ia sudah melupakan sama sekali atas semua kejadian dimasa lampau?” sambung Pui Che-giok dengan gemas bercampur marah.

Dibalik kegemasan dan kejengkelannya dalam pembicaraan tersebut, terselip pula nada sedih dan murung yang menggenaskan. Sebagai pemuda yang berjiwa romantis Hoa In-liong dapat merasakan pula suatu kelainan yang istimewa dibalik kata-katanya itu.

Tak aneh kalau matanya terbelalak semakin lebar, ia makin memperhatikan semua pembicaraan tersebut.

Sementara itu sepasang mata Tiang-heng Tookoh pun memancarkan sinar yang terang, tapi hanya sebentar, katanya kemudian, “Aaaai….! Benih cinta dalam hati pinto sukar rasanya untuk dipadamkan. Setiap saat tanpa kusadari suutu harapan untuk bertemu kembali dengan dirinya selalu timbul didalam hati. Padahal usiaku makin lama makin lanjut, kenangan lama tak mungkin bisa terwujud kembali, daripada berjumpa kembali bukankah lebih baik tak usah bertemu lagi untuk selamanya….” “Bagaimanapun juga Che-giok tetap penasaran karena persoalan ini” tukas Pui Che-giok dengan cepat, “Bayangkan saja betapa besar dan tebalnya perasaan cinta totiang terhadapnya. Bila tiada bimbingan dan bantuan dari totiang dimasa lampau, mungkinkah Hoa tayhiap bisa memiliki keberhasilan seperti sekarang ini? Jangan kita bicarakan kalau Suma tayhiap itu adalah angkatan tuanya, cukup berbicara dari tanda kepercayaan totiang, bertemu dengan bendanya sama seperti bertemu dengan orangnya sendiri, seharusnya Hoa tayhiap turun tangan sendiri untuk bertemu dengan lotiang serta menanyakan duduknya persoalan ini sampai menjadi jelas”

“Kau keliru besar Che-giok!” kata Tiang-heng Tookoh seraya gelengkan kepalanya berulang kali, “Dia adalah seorang anak yang berbakti. Seandainya Lo-tay kun tidak menurunkan perintah, sekali pun hasratnya untuk membalaskan dendam bagi kematian paman angkatnya amat besar, tak nanti ia berani turun gunung dengan begitu saja”

“Meski demikian, Lo tay kun bukannya tidak tahu kalau budi dan cinta yang pernah totiang limpahkan kepada keluarga Hoa setinggi langit” bantah Pui Che-giok lagi, “Terutama dalam peristiwa ini menyangkut kematian yang menimpa Suma tayhiap suami isteri. Menurut pendapat Che- giok, sepantasnya kalau Hoa-tayhiap turun gunung sendiri untuk menyelidiki persoalan ini, terutama setelah bertemu dengan benda milik totiang!”

Kembali Tiang heng Tookoh menghela napas panjang. “Aaai….! selama hidupnya Lo tay kun selalu disiplin pun bertindak cekatan. Andaikata persoalan ini tidak menyangkut diri Suma tayhiap dan lagi tidak melihat pula hiolo kecil kumala hijau tersebut mungkin ia akan memerintahkan Hoa tayhiap untuk turun gunung mencari pinto. Tapi sekarang, persoalan ini menyangkut peristiwa pembunuhan berdarah. Budi dendam pinto dengan keluarga Hoa pun sukar dibedakan. Tindakan dia orang tua mengutus cucunya untuk menyelidiki persoalan ini adalah suatu tindakan yang sangat bijaksana. Kalau tidak begitu, bayangkan saja bagaimana mungkin Hoa tayhiap bisa mengatasi persoalan yang serba pelik ini?”