Rahasia Hiolo Kumala Jilid 07

 
Jilid 07

BELUM habis ia berkata, kemarahan ciu Hoa sudah tak terkendalikan lagi sambil tertawa seram katanya, “Heeehhh….heeeahh….heeehhh….engkau betul-betul punya mata tak berbiji, akan kongcu-ya cungkil dulu sepasang biji matamu sebelum membicarakan soal hukum negara….”

Secepat kilat lengan kanannya ditonjok ke muka, dengan ibu jari dan jari tengah yang ditekuk seperti kaitan, ia ancam sepasang mata Hoa In-liong.

Sekalipun lengan kanannya itu bergerak tidak lambat pun tidak cepat, namun si anak muda itu mengerti bahwa perubahan dibalik serangan jari tangannya itu banyak. rumit dan tak terhingga, lagipula ganas dan keji, bagi jago persilatan pada umumnya, sulit untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut.

Namun bagi Hoa In-liong yang berilmu tinggi dan bernyali besar, rupanya ia sudah mempunyai perhitungan sendiri yang jauh lebih matang. Bukannya berkelit atau coba menangkis, dia malahan pura-pura berlagak tidak melihatnya sama sekali, menggubrispun tidak. 

Lambat memang untuk diceritakan, namun cepatnya luar biasa, kejadian itu berlangsung, dalam sekejap mata serangan jari tangan dari Ciu-Hoa itu sudah berada di depan mata, disaat yang kritis itulah mendadak Cia in menjulurkan tangannya ke muka dan mendorong sikut Ciu Hoa sehingga tergeser ke samping.

“Ciu kongcu,” omelnya dengan merdu, “apa-apaan kamu ini? Engkoh Pek Khi toh tidak menyalahi apa-apa terhadap dirimu….” Dalam pada itu, In-ji si dayang telah masuk sambil membawa air teh, ia berkata pula, “Ciu kongcu, engkau datang kemari kan hendak mencari nona kami dan mencari kesenangan? Apa gunanya marah-marah kepada orang lain? silahkan duduk. biarlah In-ji suguhkan air teh untukmu.”

Lengan ciu Hoa yang terhenti ditengah udara, saat itu baru ditarik kembali, dengan mata terbelalak dia awasi Cia In sekejap. kemudian ujarnya dengan suara berat, “Kau…. siapa kau? sebetulnya apa… apa pekerjaanmu?”

In-ji mengambil secawan air teh dan diletakkan dihadapannya, seperti heran seperti pula tak disengaja, ia berseru, “Ada apa? Masa kau tidak tahu….”

Untuk kesekian kalinya dengan hati mendongkol Ciu Hoa duduk kembali ke atas kursinya, lalu mendengus.

“Hmm Dalam mata yang jeli tak akan kemasukan pasir, sebenarnya apa kerja kalian? Hayo cepat jawab dengan terus terang”

Sementara itu In-ji sudah meletakkan secawan air teh pula dihadapan Hoa In-liong kemudian sahutnya sambil tertawa, “Peduli amat kemasukan pasir atau tidak. kami tak paham dengan kata-kata macam begituan, kami hanya tahu nona kami bernama Cia In. dengan nama sebutan In ci-ji, dia adalah Hong-koan-jin (pelacur paling top) yang tiada taranya dikota Kim-leng…”

“Budak sialan pingin mampus?” tiba-tiba Cia In berteriak dengan suara melengking, “memangnya lantaran engkau adalah Cing-koan-jin maka kau merasa bangga untuk menyiarkannya kepada umum.” Perlu diterangkan disini, baik Hong-koan-jin maupun cing- koan-jin adalah sebutan-sebutan khas bagi rumah pelacuran.

Yang dinamakan Hong-koan-ji adalah para pelacur yang sudah tidak perawan lagi, sebaliknya Cing-koan-jin adalah para pelacur yang masih perawan suci, tentu saja dengan adanya tingkatan kedudukan maka hargapun bermacam- macam, lagi kaum lelaki yang suka bermain pelacur, istilah seperti itu pasti akan diketahui dengan jelas.

Hoa In-liong masih muda dan lagi merupakan keturunan orang kenamaan, sekalipun dia romantis dan gemar main perempuan, lagipula tidak terikat oleh pelbagai peraturan, namun anak muda ini masih bersih, dalam arti kata belum pernah menginjakkan kakinya dirumah pelacuran untuk berbuat mesum.

Oleh karena itu, setelah mendengar ucapan tersebut ia jadi tercengang, heran dan merasa tidak habis mengerti, sepasang matanya dibelalakkan lebar-lebar, sebentar memandang kesini sebentar lagi memandang kesana, agaknya dia ingin mencari jawabannya diantara perubahan wajah Cia In dan In-ji.

Lain halnya dengan ciu Hoa, ia gemar bermain perempuan dasarnya memang berwatak cabul dan tengik, memetik bunga adalah pekerjaannya yang boleh dibilang rutin, dan selamanya tak pernah ambil perduli perempuan macam apakah lawan mainnya itu, otomatis diapun mengetahui jelas tentang segala macam istilah yang berlaku dikalangan rumah pelacuran.

Tak heran kalau matanya terbelalak besar sehabis mendengar ucapan tersebut, ditatapnya wajah Cia In dengan rasa heran, agaknya ia masih kurang percaya dengan pengakuan itu. Tampak In-ji meleletkan lidahnya serta menunjukkan mata setan, lalu berkata, “Yaa.. benar, nona maafkan akulah yang salah bicara, nona kami adalah Hong-ji (orang yang top) dari kota Kim-leng, bukan Hong-koan-ji.”

“Masa diulangi lagi?” bentak Cia In.

“Hiiihh….. hiiiiihhhh…… hiiiihhh….. ampun nona yang baik, aku bicara lagi Aku tak akan bicara lagi….” cepat In-ji menambahkan sambil tertawa cekikikan.

Ia lantas berpaling, kepada Ciu Hoa ujarnya, “Kongcu-ya, minumlah air tehmu, kenapa masih melongo- longo?”

Ciu Hoa tersentak bangun dari lamunannya, ia lantas berseru dengan suara dingin, “Hmm Keanehan dari peristiwa yang menimpa diriku tentu asalnya dari kalian berdua.

Ketahuilah, kongcu mu bukan manusia sembarangan, kalian tak usah berlagak pilon dan ingin mengelabuhi diriku lagi.

Hayo bicara, sebenarnya permainan busuk apakah yang telah kalian lakukan sehingga membuat kongcu mu tertidur pulas?” Cia In mencibirkan bibirnya, sepasang alis matanya berkenyit.

“Ciu kongcu, kalau ingin bicara aku harap bicaralah sedikit tahu diri, kau mengantuk dan ingin tidur toh karena badanmu kurang sehat dan terlalu penat karena melakukan perjalanan jauh, apa sangkut pautnya hal itu dengan kami? Dan permainan busuk apa yang bisa kami lakukan? Barusan toh In- ji telah menerangkan adanya tamu semacam Ciu kongcu justru merupakan apa yang kuharap- harapkan selama ini, anehkan rasanya kalau aku sengaja membuat engkau teridap tidur hingga tak bisa bangun lagi.”

Selain daripada itu, aku toh cuma seorang pelacur biasa, darimana datangnya kepandaian sehebat itu untuk mempermainkan engkau? Aku tahu Ciu kongcu adalah seorang manusia yang pandai, tentunya kau mengerti bukan bahwa ucapanku ini bukan sengaja kubuat- buat?”

Nada ucapannya itu penuh dengan kehalusan, kelembutan dan kepedihan hati, persis seperti permohonan dari kaum pelacur yang ingin minta belas kasihan dari orang lain.

Hoa In-liong yang berdiri disamping mengawasi perempuan itu lekat-lekat, kemudian berpikir, “Tak kusangka kalau perempuan ini ternyata adalah seorang pelacur, tak aneh kalau ia pandai merayu dan mempunyai daya pikat yang luar biasa, tapi…. tapi tidak betul Jelas kuketahui bahwa ia berilmu silat, mengapa harus jadi pelacur? Ataukah mungkin dibalik kesemuanya ini, tersembunyi tipu muslihat yang lain?”

Tampaknya manusia yang bernama “Ciu Hoa” itupun tidak bodoh, sekarang ia sudah mempunyai suatu perasaan was- was terhadap Cia In, terdengar ia berkata dengan dingin.

“Bila tak ingin orang tahu, kecuali diri sendiri tak pernah berbuat.Tiap senja kongcu mu mencari rumah penginapan kemudian terlelap tidur dengan begitu saja, jelas dibalik kesemuanya ini bukan tanpa alasan, kemudian ditinjau dari gaya serangan Thian-ong-to-tha (raja langit membawa pagoda

) yang kau gunakan untuk menangkis sikut kongcumu, jelas menunjukkan bahwa engkau berilmu silat tinggi. HHm Merayu dengan kata-kata manis hendak menutupi bayangan sendiri

..jangan mimpi Hayo jawab, sebenarnya apa kerja kalian berdua?”

Mula-mula Cia In agak tertegun, namun kemudian ucapnya dengan suara pedih, ” Kalau toh Ciu kongcu berkata demikian, aku tak dapat berbuat apa-apa lagi, In-ji Wakili aku untuk mengantar tamu,” seraya berkata, ia kebutkan ujung bajanya dan siap masuk ke dalam ruang dalam. “Menghantar tamu?” jengek ciu Hoa sambil tertawa seram, “Heheeehh..,.heehh….tidak gampang untuk mengusir aku dari sini.”

Cia In hentikan kembali langkahnya,, dengan dahi berkerut dia lantas menegur, “Sebenarnya apa yang kau inginkan?

Maksudku semula, aku hendak merubah suasana yang serba kaku menjadi labih halus dan lembut, maka tiada bahan pembicaraan sengaja kuadakan bahan pembicaraan dan sengaja menggoda dirimu, siapa tahu hasilnya malahan kebalikan, kongcu malahan menuduh aku telah menggunakan pelbagai macam tipu muslihat untuk mencelakai dirimu sehingga tertidur pulas. Kongcu-ya, mengapa tidak kau pikirkan, andaikata aku benar-benar bermaksud jelek kepadamu, dan akupun mampunyai kepandaian yang hebat untuk membuat engkau terlelap tidur, apa sebabnya sampai sckarangpun aku tidak bertindak apa-apa terhadapmu dia membiarkan engkau ribut serta mengumbar hawa amarahnya terus menerus?”

Ucapan tersebut kedengarannya lunak namun hakekatnya keras sekali dan alasannya juga sangat kuat, ini membuat Ciu Hoa untuk sesaat jadi terbelalak dan tak mampu memberi jawaban.

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba Cia In menghela napas panjang, kemudian melanjutkan, “Pepatah kuno pernah berkata: ‘Bila bertemu sahabat cocok dengan hati, minum seribu cawan pun rasanya kurang, tapi bila menjumpai ketidakcocokan hati maka setengah kecappun rasanya terlalu banyak.’ Sebelum mengucapkan sesuatu aku toh sudah terangkan dulu bahwa ucapanku rada kurang sesuai, sedang kongcu-ya sendiripun sudah setuju untuk tidak marah, tapi akhirnya engkau tetap marah dan memusuhi diriku. Kalau toh memang begitu, sekalipun suasana ini dilanjutkan lebih jauh juga akan sama dinginnya seperti es. daripada terjadi hal-hal yang tak diinginkan lagi, kongcu-ya Lebih baik engkau berlalu saja dari sini.”

Berbicara demikian, ia lantas menarik ujung baju Hoa In- liong sambil menambahkan, “Engkoh Khi, mari kita duduk didalam saja.”

Dari keadaan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa nona itu sudah mengambil keputusan untuk mengusir tamunya.

Tentu saja Ciu Hoa tak sudi diusir dengan begitu saja, sambil memukul bangku teriaknya, “Berhenti!”

“Ada apa?” tanya Cia In sambil berhenti, “sebetulnya kongcu-ya tahu aturan tidak? Engkau musti tahu bahwa tempat ini bukan rumah pelacuran dikota Kim-leng, tempat ini adalah rumah penginapan, terima tamu atau tidak aku bisa mengambil keputusan sendiri.”

Ciu Hoa betul-betul naik darah setelah didesak oleh perkataan yang tajam dan tak enak didengar itu, saking gusarnya bukan saja sekujur badannya jadi gemetar, otot-otot hijaunya pada keluar, sinar mata tikusnya memancarkan cahaya bengis, agaknya ia siap melancarkan tubrukan ke arah depan.

Siau In-ji menengok kekiri kekanan dengan bingung, kemudian ia coba melerai sambil berkata, “Kongcu-ya, jangan marah-marah dulu, nona, engkaupun duduklah dengan hati sabar”

“Huuh mau apa duduk lagi?” kata Cia In dengan sinis, “meskipun badan kita rendah, namun cengli tetap cengli dan di manapun cengli itu tetap sama. Kalau ada tamu yang menyenangkan boleh saja kita terima, kalau toh tamunya tidak menyenangkan hati, buat apa kita musti memandang rendah diri sendiri dan susah-susah menerima kemarahan orang?”

In-ji itu memang kecil orangnya tapi besar akal muslihatnya, sambil berkerut kening ia berkata lagi, “Ooh…. siocia, kita harus berdagang dengan hati yang ramah dan suasana yang damai, Ciu kongcu telah mengejar jauh-jauh dari Ban-sian sampai Keng-bun, ini menunjukkan bahwa ia berniat keras terhadap diri siocia. Cukup kita tinjau dari tindakannya itu, sekalipun harus menerima sedikit kemarahan rasanya juga tak terhitung seberapa…….”

Kemudian ia berpaling ke arah Ciu Hoa dan katanya lagi, “Kongcu-ya, jangan marah lagi siapa berlapang dada dia akan mendapat rejeki besar, kau tak usah ribut dengan nona kami lagi. Nah Minumlah secawan air teh dulu, marahmu pasti lenyap”

Dia lantas mengambil cawan air teh dari atas meja dan diangsurkan kehadapan ciu Hoa.

Tadi Ciu Hoa bisa marah karena berulang kali ia dibuat tak mampu menjawab perkataan orang, namun tuduhan yang dilontarkan tadi hakekatnya cuma tuduhan yang memang tanpa dasar bukti yang kuat, maka setelah mendengar ucapan in-ji, ia semakin tak beralasan lagi untuk mengumbar amarahnya, selain- itu ia merasa berat hati untuk meninggalkan si nona cantik yang berada di depan matanya dengan begitu saja.

Dengan berdasarkan alasan itulah, meski dengan sikap yang masih kaku, ia ambil cawan air teh itu, setelah diminum satu tegukan, katanya lagi, “Hmm Aku lihat kalian berdua memiliki ilmu silat yang tangguh, asal usul pun sangat mencurigakan hati, sebenarnya ada rencana busuk apakah yang hendak kalian lakukan? Menurut penglihatanku, lebih baik mengaku saja terus terang, kalau tidak Hmm Hmm”

Tiada kelanjutan dibalik kata-katanya itu, dari sini dapat diketahui bahwa ia hendak menggunakan kata-kata tadi untuk melepaskan diri dari suasana yang serba runyam baginya itu.

Siau In-ji memang cerdik pandai sekali membawa diri setelah mendengar perkataan itu ia lantas berkata lagi dengan serius, “Kongcu-ya disinilah letak kesalahanmu, masa kami berdua mempunyai rencana tertentu? sekali-pun ada rencana tertentu paiing banter rencana itu menyangkut bagaimana caranya untuk menggaet beberapa tahil perak lebih banyak dari diri kongcu. Kongcu-ya Minum dulu air teh mu, kurangilah ucapan yang tak perlu, budak akan coba membujuk pula nona kami.”

“Benarkah kalau rencana kalian ingin mengincar beberapa tahil perak belaka?” tanya Ciu Hoa.

“Kongcu-ya, kami toh sudah menerangkan kedudukan kami yang sebenarnya kepadamu? sebagai pelacur apa lagi yang ingin kami cari kecuali beberapa tahil perak? siapakah didunia ini yang bersedia dipermainkan orang tanpa mendapat imbalan.”

“Kalau memang begitu gampang sekali!” seru Ciu Hoa ketus, “malam ini kongcu menginap di sini dan sepuluh tahil perak ini boleh kau terima dulu.”

Dia lantas merogoh sakunya dan mengambil keluar sekeping perak yang beratnya mencapai sepuluh kati kemudian ‘plok’ dibanting ke atas permukaan meja.

“Waaah tii…. tidak bisa!” tiba-tiba cia In berteriak lagi dengan gelisah. “Kenapa tidak bisa?” sahut Ciu Hoa sambil mendelik “apakah engkau sudah lupa akan apa profesimu yang sebenarnya?”

“Sekalipun begitu, untuk berjual beli toh perlu ada siapa yang datang lebih dahulu? Malam ini Pek kongcu telah membayar diriku, maka lebih baik kau….”

“Telur busuk!” tukas Ciu Hoa sambil membentak, “bagiku tidak berlaku siapa datang duluan, lohu..eeeh…..?”

Ia coba menggoncangkan kepalanya keras-keras, tapi sudah terlambat, sebelum jeritan itu selesai di ucapkan, ia sudah roboh terjengkang ke atas tanah dan jatuh tak sadarkan diri

Ketika Ciu Hoa roboh terjungkal Cia In lantas menjerit ketakutan, “Aduuh mak, apa yang telah terjadi?Jangan- jangan… jangan-jangan orang ini mengidap penyakit ayan?”

Hoa In-liong bukan orang bodoh, apalagi ia mengikuti kejadian itu dari samping, tentu saja ia tahu kalau Cia In sedang berpura-pura main sandiwara dan iapun tahu kalau penyakitnya terletak di dalam air teh yang disuguhkan itu.

Sebagai pemuda yang cerdik, cukup hebat pula reaksinya, ia tidak menunjukkan wajah kaget, malahan seperti orang yang gembira karena melihat lawannya roboh, dia tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhhh….. haaahhhh…… haaaaah…… hah jangan gugup….. Jangan gugup, orang yang mengidap penyakit ayan tak bakal mampus, sekalipun mampus itu juga kesalahan sendiri, siapa suruh ia marah-marah dan mengumbar napsu setelah tahu kalau mengidap penyakit aneh.” sengaja dia mengambil cawan air tehnya dan menghirup satu tegukan.

“Aaah, enak benar kalau bicara!” seru Cia In pura-pura serius, ” kalau ia benar-benar sakit dan tak dapat bangun lagi, wah…. bisa jiwanya akan melayang”

“Mau melayang biar melayang Bila ia mampus lantaran marah-marah, kalau sampai pengadilan mencari dirimu, biar akulah yang akan menjadi saksi bagi enci In.”

Diam-diam Cia In merasa geli. tapi diluaran ujarnya, “Hoa kongcu memang berbeda jauh bila di bandingkan orang lain, biarlah kuucapkan banyak terima kasih dulu kepadamu.”

Betapa terkejutnya Hoa In-liong ketika secara tiba-tiba mendengar ia mengubah sebutannya, sontak ia berteriak, “Apa? Engkau tahu…?”

“Siapa yang tidak kenal dengan Hoa kongcu dari Im tiong- san? Hiiiihhh hihihi….” Cia In tertawa cekikikan.

Hoa In-liong sejera bangkit berdiri, serunya agak gugup, “Kau… kau…”

Cepat Cia In menyingkir kesamping untuk menghindarkan diri lalu katanya, “Hoa kongcu jangan marah-marah, kalau marah nanti akan ikut roboh juga…”

“Sebenarnya siapa engkau?” bentak Hoa ln-Iiong dengan kaget, “obat apa yang telah kau campurkan ke dalam air teh itu?”

“Tidak apa-apa, cuma sedikit obat pemabok Jit-jit-im-hun- san (bubuk pemabok tujuh hari) obat itu tak akan mencabut nyawa kongcu!” Hoa In-liong marah sekali, sambil menggigit bibir katanya, “Obat pemabok dari kalangan penyamun juga kalian gunakan? Hmm Sebenarnya apa tujuanmu…..!”

Belum habis ia berkata, mendadak tubuhnya jadi sempoyongan dan….

“Blaang!” diapun roboh terjengkang ke atas tanah.

Cia In benar-benar amat bangga, sambil tertawa cekikikan katanya lagi, “Tadinya aku mengira keturunan dari keluarga Hoa tidak takut dengan sebala macam obat pemabok, Huuh Tak tahunya engkau juga tak tahan terhadap obat tersebut.

In-ji Cepat gusur si setan jelek itu kekolong ranjang, kemudian suruh Hao Ie menyiapkan kereta, kita segera lanjutkan perjalanan”

In-ji mengiakan, ia lantas menyeret tubuh Ciu Hoa dan disembunyikan di bawah pembaringan, setelah itu tanyanya dengan ragu, “Suci, benarkah dia adalah kongcu dari keluarga Hoa?”

Sebutannya bukan nona lagi, sekarang ia sebut Cia In sebagai “suci” atau kakak seperguruan.

Cia In sendiri tampak agak gelisah, dengan kurang sabaran ia menjawab, “Ia sendiripun tidak membantah, apa gunanya engkau turut menguatirkan dirinya? Cepatan suruh Hao lo-tia siapkan kereta, kalau sampai anak buahnya si setan jelek menyadari akan keadaan ini, kita bakal menghadapi bahaya kerepotan lagi.”

Hakekatnya waktu itu Hoa In-liong tidak semaput, ia cuma berlagak pingsan belaka, Dengan tubuhnya yang tidak mempan terhadap racun, jangankan cuma obat pemabok. sekalipun racun yang bisa memutuskan usus juga tak dapat berkutik terhadap dirinya.

Sekarang sambil berpura-pura, tiap kali ia picingkan sepasang matanya untuk mengawasi gerak gerik cialn berdua secara diam-diam.

Sementara itu In-ji telah menyembunyikan tubuh Ciu Hoa dibawah kolong ranjang, sambil bangkit berdiri ia bertanya lagi, “Aku lihat orang she-ciu ini mempunyai asal usul yang besar, apa salahnya kalau sekalian kita bawa pergi?”

“Apa gunanya membawa manusia keroco seperti orang itu?

Bila orang itu penting artinya buat kita, semenjak tadi suci sudah turun tangan untuk membekuknya.”

“Makin banyak yang kita peroleh semakin menguntungkan, bagaimanapun toh kereta kita masih muat untuk ranjang angkut mereka berdua sekaligus!” seru In-ji

“Aaaah, kamu ini tahu apa?” bentak Cia In, “kita bisa menangkap anak cucunya sekeluarga Hoa- boleh dibilang sudah sangat beruntung, engkau tahu berapa besar jasa kita dengan hasil yang kita peroleh ini? Cepat siapkan kereta, jangan menunda waktu pemberangkatan lagi.”

Kali ini In-ji benar-benar membungkam dalam seribu bahasa, ia lantas berlalu dari ruangan itu.

Sepeninggal In-ji, cia In bungkukkan badan untuk membopong tubuh Hoa In-liong. kemudian sambil mencium dipipinya ia bergumam,

“Pemuda tampan, jangan marah kepadaku Bila bukan terpaksa, dengan tampangmu yang ganteng dan tubuhmu yang kekar, aku tak akan tega- membiarkan engkau menderita siksaan lahir dan batin”

Sambil bergumam ia membopong pemuda itu dan dibaringkan diatas pembaringan, kemudian jari tangannya bergerak dan mendadak ia totok jalan darah Ki-ciat di atas dada pemuda itu.

Jalan darah Ki-ciat-hiat disebut pula Huan-hun hiat (jalan darah pembalik sukma), hiat-to tersebut termasuk salah satu diantara delapan buah jalan darah pingsan yang terdapat ditubuh manusia.

Kejadian ini berlangsung amat mendadak dan sama sekali di luar dugaan, sekalipun anak cucu keluarga Hoa belajar kepandaian menggeser jalan darah, walaupun Hoa loji binal dan cerdik, tapi la tak pernah menyangka kalau Cia in bakal menotok jalan darah pingsannya walaupun sudah diberi obat pemabok.

Sebab itulah, ketika totokan tersebut bersarang telak diatas dada Hoa In-liong, si anak muda itu seketika jatuh pingsan dan kali ini benar-benar tidak sadarkan diri

Selang sesaat kemudian in-ji telah muncul kembali dalam ruangan, cia In sendiripun telah selesai membenahi perbekalannya, dua orang perempuan itupun satu ke kiri yang lain di kanan lantas memayang Hoa jiya yang mirip orang mabok itu keluar dari rumah penginapan, naik ke atas kereta dan melanjutkan perjalanan menuju kearah timur.

Beberapa hari sudah lewat tanpa terasa, suatu tengah hari sampailah kereta kuda yang kecil mungil itu diluar pintu barat kota Kim-leng. Bila ditinjau dari kemunculannya di kota tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa ucapan cia in ada beberapa bagian memang boleh dipercaya sebab ia benar-benar menuju kekota Kim-leng seperti yang dikatakan.

Ketika itu kereta mereka sudah berada dua panahan dari pintu kota sebelah barat, Hou lo-tia yang bertindak sebagai kusir telah bermandikan keringat karena lelah, ia mencambuk kudanya keras-keras dan melarikan keretanya lebih cepat lagi untuk menerobos masuk ke dalam kota.

Mendadak dari balik semak belukar, ditepi telaga Mo-chiu- ouw muncul lima ekor kuda jempolan, pada-kuda yang pertama duduklah seorang pemuda perlente yang memakai jubah sutera halus.

Terdengar kongcu itu menuding kearah depan sambil berseru nyaring, “Hey… coba lihat siapa yang datang?” Kemudian teriaknya lagi dengan lebih keras.

“Hou lo-tia, apakah nona Cia telah pulang?” Sebelum Hou Lo-tia sempat menjawab, cia-In yang berada didalam kereta telah berbisik lirih. “Jangan perdulikan mereka, cepat kita kabur masuk ke dalam kota.”

Tentu saja Hoa lo-tia tidak berani membantah, ia mencambuk kudanya semakin kencang lagi sehingga kereta itu lari masuk ke dalam kota dengan lebih cepat pula.

Ketika kongcu muda itu melihat tegurannya tidak digubris oleh Hou Lo-tia, ia lantas membedal pula kudanya untuk mengejar, dengan wajah penuh kemarahan pemuda itu menyusul kesamping kereta lalu membentak dengan suara berat. “Hoa lo-tia, sebenarnya apa maksudmu? Apakah aku Sa beng Siang (Beng siang saku) Yu-Siau-lam tidak pantas untuk berkenalan dengan dirimu…”

Kudanya dicamplak kemuka dan menghadang jalan pergi kereta tersebut, karena ia berdiri ditengah jalan serta merta Hou lo-tia tak dapat meneruskan pula perjalanaannya.

Padahal kereta itu sedang dilarikan dengan kencangnya, karena mendadak jalan lebatnya terhadang, terpaksa ia harus menarik tali les kudanya kencang-kencang.

Diiringi ringkikan panjang, kuda menghela kereta itu mengangkat sepasang kakinya keangkasa, dan keratapun seketika itu juga terhenti.

Selang sesaat kemudian beberapa ekor kuda yang ada dibelakang telah menyusul datang pula mereka lantas berdiri berjajar dibelakang Yu Siau-lam.

Karena jalan perginya sudah terhadang, mau tak mau Cia In harus pura-pura melongok keluar dari jendela sambil menegur dengan lagak tak habis mengerti.

“Hou lo-tia, ada urusan apa?” sesudah berheti sebentar ia baru menambahkan, “oooh Rupanya Yu-ya yang telah datang…”

Ya Siau-lam tampak sangat gembira setelah bertemu dengan Nona Cia, ia segera melompat turun dari atas kuda dan memburu kedepan, katanya, “Rupanya nona Cia benar- benar telah pulang, nona Cia sejak engkau berangkat ke barat. setiap hari aku sangat mengharap- harapkan kedatanganmu, kami rasakan seakan-akan sedang menghadapi musim kemarau yang panjang. Haahhh haaaaahhh …haaaaahhh akhirnya kau kembali juga hari ini.” Meski gelisah sekali perasaan hati Cia In waktu itu, ia tak dapat menunjukkan sikapnya itu di luaran, terpaksa sahutnya dengan kata-kata merendah, “Aduuh…aku tak berani menerima kata-katamu itu, begini saja, Malam nanti aku akan mengadakan perjamuan dalam kamarku, harap Yu-ya untuk memberi muka dan menghadirinya.”

Yu Siau-lam tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…… haaaaahhh…. haaaahh untuk mengadakan perjamuan guna menyambut kedatanganmu tidak pantas kalau engkau yang selenggarakan, sebab kamilah yang wajib mengadakan bagimu, biar kutemani nona Cia masuk ke dalam kota.”

Seraya berkata ia lantas menarik pintu kereta dan melangkah marak ke dalam ruangan kereta tersebut.

Cia In tak menduga kalau pemuda itu bakal bertindak demikian, dengan gelisah ia lantas mendorongnya keluar sambil berseru, “Ruangan kereta amat kotor, kita berjumpa saja malam nanti.”

Ruangan kereta itu luasnya cuma delapan, setelah pintu kereta terbuka maka semua benda yang berada dalam keretapun terlihat jelas, Hoa In-liong berbaring diatas lantai permadani tepat di hadapan cia In, tentu saja dapat terlihat dari luar dengan jelas.

Pada mulanya Yu Siau-lam tampak agak tertegun, menyusul kemudian ia tertawa terbahak-bahak

“Haaaaahhhh….haaaaahhhhh, haaaaahhh aku masih merasa heran, kenapa Hou lo-tia tak sudi menghentikan keretanya, ternyata nona Cia pulang dengan membawa seorang laki-laki.”

Ia lantas mencengkeram pakaian Hoa In liong bagian dadanya dan mengangkat keluar dari kereta.

Cia Ia semakin gelisah lagi, ia menubruk kedepan untuk mengejar.

“Cepat lepaskan orang itu!” teriaknya cemas, “orang itu adalah….”

Tapi sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, Yu Siau-lam telah melemparkan tubuh Hoa In-liong ke tangan rekannya.

“Saudara Ek hong, harap membawa bocah itu kerumahku, siau-te akan menemani nona Cia masuk ke dalam kota!” serunya.

Sudah tentu Cia In tak memperkenankan orang itu membawa pergi Hoa In-liong, sepasang kakinya menjejak permukaan tanah dan segera menubruk kedepan.

“Tidak boleh Tidak boleh Kalian tak boleh membawa pergi orang itu…. hayo cepat kembalikan kepadaku!” teriaknya cemas.

Agak terkejut Yu Siau-lam menyaksikan kegesitan nona cantik itu, serta merta ia berkelebat ke muka dan menghadang jalan pergi Cia In, bentaknya dengan suara dalam, “Berhenti..Tak kusangka kalau nona Cia juga merupakan seorang pendekar perempuan dari kalangan dunia persilatan, kalau begitu mata ku telah kau lamuri selama ini.”

Cia In semakin gugup dan gelagapan, ia tak menyangka kalau saking paniknya tanpa disadari ilmu meringankan tubuhnya telah dipergunakan, setelah ditegur oleh Yu Siau- lam ia baru kaget dan termangu-mangu.

Setajam sembilu sepasang mata Yu Siau-lam, ditatapnya perempuan itu tanpa berkedip. kemudian ujarnya lebih jauh, “Nona Cia memiliki ilmu silat yang sangat lihay, akan tetapi selama ini harus menyembunyikan diri dalam sarang pelacur, aku rasa dibalik kesemuanya itu pasti ada sebab-sebabnya bukan? Yu Siau-lam memberanikan diri untuk minta penjelasan dari nona, andai kata engkau mempunyai kesulitan, kamipun bersedia membantu kau untuk menyelesaikannya … “

Setelah termangu- mangu beberapa waktu, Cia In dapat menenangkan kembali perasaannya yang panik ia berkata, “Tuan Yu, buat apa kau musti mencampuri urusan orang lain? Lebih baik serahkan kembali orang itu kepadaku.”

Yu Siau-lam tertawa dingin.

“Heehhh heeehhh….heeehhh ….kau anggap julukan ku sebagai Say-beng-siang kudapatkan dengan gampang?

Berbicara dari soal hubungan, maka dengan persahabatan antara nona dengan diriku, maka kesulitan yang nona hadapi sama pula dengan persoalanku, bila aku mencampurinya maka tak bisa dikatakan bahwa aku sedang mencampuri urusan orang lain, aku kira lebih baik nona terangkan saja kepadaku secara berterus terang…”

Cia in benar-benar amat gelisah bercampur panik, saking bingung, dan gugupnya ia sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Selang sesaat kemudian setelah ia berhasil menguasai pergolakan hatinya, nona itu baru berkata- lagi dengan lembut, “Sudah lama aku dengar orang berkata tentang kebesaran jiwa tuan Yu yang suka menolong orang, akupun merasa berterima kasih dan berhutang budi atas perhatian dan bantuan yang telah Tuan Yu berikan kepadaku selama ini cuma…cuma terus terang kukatakan bahwa aku mempunyai kesulitan yang tak dapat diutarakan kepada orang lain, harap tuan Yu sudi memaklumi keadaanku dan memaafkan diriku ini.”

Yu Siau-lam sama sekali tidak terpengaruh oleh bujuk rayunya, yang lemah lembut itu, ia malahan mendengus.

“Hmm Kalau kau telah mengetahui bahwa aku suka menolong orang, tentunya engkau tahu bukan bahwa aku sangat membenci terhadap segala macam tindak kejahatan? sekarang terbukti sudah bahwa engkau pandai bersilat, dan lagi menyembunyikan diri dalam rumah pelacuran, bila tiada kesulitan apa-apa, berarti engkau mempunyai rencana busuk. Maka bila tidak kau terangkan sekarang juga, terpaksa aku harus memaksa dirimu dengan memakai kekerasan”

Tercekat hati Cia In sesudah mendengar ucapan itu, kembali ia berusaha memohon dengan lemah lembut, “Tuan Yu, kenapa kau musti menyusahkan diriku? Keuntungan dan manfaat apakah yang bakal, tuan Yu dapatkan dari perbuatanmu itu?”

“Selamanya aku bertindak sesuatu tanpa memikirkan soal untung ruginya, yang lebih kuutamakan adalah soal pantas atau tidaknya urusan itu kucampuri…” tukas Yu Siau-lam.

“Memaksa orang untuk membicarakan soal yang merupakan kesulitan bagi dirinya, apakah ini juga terhitung perbuatan yang pantas?” “Nona Cia Tak ada gunanya kau membela diri dengan pelbagai alasan, aku lihat bicara sajalah secara terus terang, daripada hubungan kita jadi retak dan tak enak”

Diam-diam Cia In memeriksa situasi yang dihadapinya, ia lantas sadar bahwa persoalan ini tak dapat diselesaikan secara damai lagi, maka sambil menarik muka ia berkata, “Tuan Yu, jika engkau bersikeras untuk mencampuri urusan ini, itu berarti hubungan kita sudah retak”

“Haaabhh….haaahhh….haaahhh….tadinya aku masih menduga-duga kenapa kau pulang dengan membawa seorang Laki-laki, tampaknya dugaanku memang tidak keliru, agaknya engkau mempunyai rencana busuk dan tujuan tertentu!” seru Yu Siau-lam sambil terbahak-bahak, setajam sembilu sorot matanya.

Sementara itu paras muka Cia In telah berubah jadi hijau membesi, dingin dan kaku bagaikan balok es.

“Tuan Yu!” hardiknya lantang, “cepat serahkan kembali orang itu kepadaku, kalau tidak, heehh.. heeehhh….heeehhh… jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji dan tak kenal ampun”

Yu Siau-lam terbahak-bahak semakin keras, ia tidak menggubris ancaman itu, sebaliknya sambil berpaling tanyanya.

“Saudara Ek-hong, apakah orang itu juga seorang jago persilatan? Apakah jalan darahnya tertotok?”

“Paras muka orang ini rasanya sangat kukenal seakan- akan pernah kujumpai disuatu tempat” sahut laki-laki yang bernama Ek-hong itu dengan nyaring, “jalan darahnya telah kubebaskan, tapi ia masih juga tak sadarkan diri.” Yu Siau-lam jadi tertegun.

“Kalau begitu dia pasti sudah dikerjai dengan cara-cara yang lain, saudara Ek-hong Tolong bawa pulang dulu orang itu kerumahku, mintalah kepada ayahku untuk memeriksa kesehatan badannya.”

Sebelum laki-laki yang bernama “Ek-hong” itu bergerak, cia In telah berteriak lagi dengan gelisah, “Hou lo tia In ji Hadang orang itu jangan biarkan mereka pergi, jangan mereka kabur dengan membawa serta orang itu.”

Baik In-ji maupun kakek si kusir kereta serentak bergerak ke depan dan menghadang jalan pergi keempat penunggang kuda lainnya, gerak tubuh mereka enteng, lincah dan cepat bagaikan sambaran kilat, jelas orang-orang itu merupakan jago kelas satu dalam dunia persilatan-

Tak terkirakan rasa kagetnya yang dialami Yu Siau-lam setelah menjumpai keadaan tersebut, sambil putar badan bentaknya, “Nona Cia, sebelum duduknya persoalan dibikin jelas, aku tak ingin menyalahi dirimu, katakan saja siapa orang itu? Mengapa kau bekuk dia kemari?”

Cia In yang sekarang tidak nampak genit lagi ia sudah menarik kembali semua senyum dan kegenitan yang dibuat- buat, wajahnya nampak dingin menyeramkan, bukan saja kaku reperti patung ukiran bahkan penuh diliputi hawa napsu membunuh, siapapun tak akan menyangka kalau perempuan secantik ini sebenarnya adalah seorang pelacur.

Dengan tatapan mata tajam, dan muka bengis nona itu berkata sepatah demi sepatah kata, “Tuan Yu, sekalipun aku masih bukan tandinganmu, akan tetapi setelah engkau bersikeras untuk mencampuri urusanku, terpaksa akupun tak akan berpikir panjang lagi, sebelum kau serahkan kembali orang itu kepadaku, tak nanti akan kusudahi persoalan ini.”

Sambil berkata ia lantas merogoh ke dalam sakunya dan mencabut keluar sebilah pisau belati yang tajam dan memancarkan cahaya berkilat yang menyilaukan mata.

Yu Siau-lam semakin terkejut menghadapi kejadian tersebut, meski demikian ia berusaha untuk menyimpan rasa kagetnya di hati, ujarnya kembali dengan tenang, “Nona Cia sekalipun engkau coba menggunakan kekerasan, jangankan dianggap bahwa gertakanmu itu akan membuat aku jadi takut, aku orang she-Yu tak akan mengenal apa artinya takut dan selamanya aku tak pernah meninggalkan sesuatu pekerjaan ditengah jalan.”

Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, Cia In telah menukas lagi dengan ketus, “Engkau tak usah banyak bicara lagi, bila aku tak dapat menandingi kelihayanmu, orang itu segera kau bawa pergi.”

“Saudara Siau-lam!” tiba-tiba Ek-hong berteriak, “aku sudah teringat sekarang, orang ini mirip Hoa tayhiap dari In- tiong-san.”

Mendengar perkataan itu, Yu Siau-lam sangat terperanjat. “Apa? “jeritnya sambit putar badan, mukanya penuh

perasaan kaget yang tak terkirakan, “Kau maksudkan Hoa tayhiap?”

“Bukan….. Bukan….. Hoa tayhiap pribadi, dia adalah putranya Hoa tayhiap”

Wan Ek-hong membenarkan keterangannya. Yu Siau-lam telah memutar badannya kembali, kini mukanya makin keren, sinar matanya tajam dan sikapnya amat bersungguh-sungguh.

“Ayoh katakan!” dia menghardik, “Benarkah orang ini adalah Hoa kongcu, putra Hoa tayhiap?”

“Hmm, semenjak tadi toh aku sudah terangkan,” kata Cia In ketus, “jika aku bukan tandinganmu, orang itu boleh kau bawa pergi Buat apa banyak bicara lagi?”

Perbagai ingatan berkecamuk dalam benak Yu Siau-lam, setelah mempertimbangkan untung ruginya, akhirnya pemuda itu memutuskan untuk mengendalikan hawa amarah yang semakin berkobar itu

“Budi kebaikan yang telah diperbuat Hoa tayhiap bagi umat persilatan besar sekali, kami orang-orang dari keluarga Yu merasa berhutang budi kepadanya, tentu saja tak nanti kubiarkan anak cucu nya diganggu oleh orang walau hanya seujung rambutpun, kau tak lebih hanya seorang perempuan, sejahat-jahatnya juga ada batasnya, akupun tak ingin bergebrak melawanmu, lebih baik berlalulah dari sini,” kata pemuda itu.

“Pergi?” jengek Cia In sambil tertawa dingin, “tinggalkan dulu orang itu disini!”

Pisau belatinya langsung diayun kemuka dan menyapu pinggang si anak muda itu.

Serangan itu sepintas lalu kelihatannya lambat sekali, pada hakekatnya begitu cepat hingga sukar dilukiskan dengan kata- kata, terlihatlah cahaya kilat menyambar di udara, tahu-tahu segulung hawa pedang yang tajamnya luar biasa telah menyergap tubuh Yu Siau-lam. Waktu itu Yu Siau-lam baru saja memutar badannya, ketika merasakan munculnya hawa pedang yang menyerang badan, tanpa berpaling cambuknya segera diputar ke belakang, sementara kakinya melanjutkan perjalanan menuju ke depan.

“Saudara Ek-hong ayoh kita cepat pergi!” teriaknya lantang.

Gerakan tubuh dari si anak muda itu betul-betul cepatnya luar biasa, lagi pula serangan cambuknya itu penuh berisikan bawa serangan yang tajam dan kuat, hal ini bukan saja menyebabkan serangan dari Cia In terbendung, bahkan ketika gadis itu akan mengejar lebih jauh, Yu Siau-lam telah duduk dialas pelana kudanya dan membedal binatang itu ke dalam kota.

Empat orang rekannya tidak berayal lagi, masing-masing membedal pula kudanya dan menyusul dari belakang.

Tinggi sekali kepandaian kelima orang itu dalam ilmu penunggang kuda, dan lagi gerakan mereka pun terlampau cepat, menanti In-ji dan kakek she-Hek menyadari keadaan itu dan siap menghadang, yang tertinggal hanya debu yang mengepul di angkasa, mau dihadangpun tidak ada gunanya.

Siau In-ji tampaknya tidak puas, dia lantas menjejakkan kakinya ketanah dan siap memburu ke-depan, namun cia In segera menghalanginya.

“Aaaai…. In-ji, tak usah kau kejar lagi,” katanya sambil menghela nafas panjang, “sungguh tak kusangka seorang laki- laki romantis yang suka main perempuan pun memiliki ilmu silat yang tak terkirakan lihaynya, aaaai…. sekalipun berhasil kita kejar, tapi apa yang dapat kita lakukan terhadap mereka?” “Lantas, apakah kita harus berpeluk tangan belaka?” seru In-ji tidak puas.

“Tidak berpeluk tangan lalu kita musti berbuat apa lagi?

Ayolah naik ke atas kereta Persoalan yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya menghadapi mereka jika orang-orang itu mencari gara-gara lagi.”

Diiringi helaan napas panjang perempuan itu naik ke dalam keretanya, Hek-Lotia pun mencambuk kudanya dan cepat- cepat melarikannya ke dalam kota Kim-leng.

000000000000

KOTA Kim-leng disebut juga Kang-ning, disinilah letak bekas kerajaan dari enam pahala yang silam.

Kota Kim-leng yang sekarang adalah sebuah kota besar yang ramai dan paling sibuk dalam perdagangan, bukan saja penduduknya padat, banyak pula terdapat tempat rekreasi dan tempat-tempat bersejarah yang banyak dikunjungi kaum pelancong. Yaaa, kota Kim-leng memang merupakan kota yang paling termashur di wilayah Kanglam.

Tepi sungai Chin-hway, samping kuil Hu-cu-bio penuh dikunjungi kaum pelancong dipagi hari, penuh irama nyanyian dan aneka warna lampu di malam hari, tempat-tempat yang termashur itu boleh dibilang sibuk siang ataupun malam, merupakan tempat paling ramai yang dikunjungi orang tiap harinya.

Sebuah gedung besar yang megah dan mentereng berdiri menghadap jalan besar dengan membelakangi sungai Chin- hway, letaknya hanya kira-kira satu panahan dari kuil Hu-cu- bio. Gedung mentereng itu berdinding merah dengan atap warna hijau, bangunan lotengnya tinggi dan kokoh, beberapa sampan mungil bertengger ditepi sungai Chin-hway dibelakang bangunan tersebut, lentera teng-liong yang besar dengan lilin merah yang memancarkan sinar berkedip tergantung disisi pintu yang lebar, menyinari tulisan “Gi-sim-wan” merupakan rumah pelacuran paling termashur dalam kota Kim-leng, bukan saja disana tersedia koki-koki kenamaan, tersedia sampan mungil untuk berpesiar, tersedia juga gadis-gadis cantik jelita yang akan siap melayani tetamu-tetamunya untuk makan minum serta mencari kesegaran hidup.

Banyak sekali langganan rumah pelacuran Gi-sim-wan, mereka bukan saja terdiri diri kaum pedagang besar, pembesar-pembesar kenamaanpun kebanyakan mengenal rumah bordil ini.

Kereta kuda yang ditumpangi Cia In telah berbelok-belok sekian lama dalam kota Kim-leng akhirnya setelah tiba ditepi sungai Chin-hway, kereta itu meluncur masuk ke dalam rumah pelacuran Gi-sim-wan.

Gadis itu pernah mengaku sebagai pelacur dari kota Kim- leng, tampaknya pengakuan itu memang benar.

Tapi begitu kereta kuda itu masuk ke halaman Gi-sim-wan, tiba-tiba seluruh isi rumah pelacuran itu jadi gaduh dan tidak tenang, lama sekali suasana itu baru pulih kembali dalam keheningan. Apa yang terjadi? Mengapa demikian?

Sayang pagar dinding rumah pelacuran itu terlampau tinggi, apalagi bukan waktunya menerima tamu, tentu orang lain tak ada yang tahu apa gerangan yang telah terjadi disana. Kalau pihak Cia in kelihatan panik, maka keadaan Yu Siau- lam yang sedang kabur masuk ke dalam kota pun tak kalah tegangnya.

Mereka merasa kurang leluasa untuk membedal kudanya ditengah jalan raya yang ramai, maka kelima orang itu sengaja mencari jalan-jalan lorong yang sempit untuk memotong jalan.

Setelah melewati loteng, tambur, keluar dari pintu Hian-bu- hun, kuda-kuda mereka dilarikan terus menuju ke sebuah gedung besar yang megah dan kokoh diteti telaga.

Sebelum pindah di tempat tujuan, dari atas kudanya Yu Siau-lam telah berteriak keras-keras, “Siapa yang giliran ronda hari ini? Cepat undang Lo-tay-ya, katakan ada urusan penting”

Seorang Laki-laki kekar muncul dari balik pintu, sambil bungkukkan badan memberi hormat sahutnya, “Lapor kongcu, hari ini giliran hamba Yu Bi yang meronda.”

“Cepat! Cepat undang Lo tay-ya!” teriak Yu Siau-lam dari kejauhan sambil ulapkan tangannya, “katakan kalau Hoa kongcu dari Im-tiong-san datang berkunjung!”

Yu Bo tampak agak tertegun, tapi cepat dia mengiakan. “Baik,” dengan langkah cepat dia putar badan dan lari

masuk ke dalam gedung megah itu.

Yu Siau-lam sekalian larikan kuda mereka menerobos masuk ke dalam halaman dan berhenti tepat di depan ruang tengah.

Setelah melakukan perjalanan cepat dalam suasana tegang, peluh telah membasahi sekujur badan orang-orang itu, tapi pikiran Yu Siau-lam waktu itu diliputi kegelisahan dan rasa cemas, tentu saja tak sempat baginya untuk memperdulikan keringat bau yang membasahi badannya itu.

“Saudara Ek-hong!” teriaknya setelah melompat turun dari kuda, “apakah keadaan Hoa kong cu terjadi perubahan?”

Pemuda yang disebut “saudara Ek-hong” juga seorang pemuda tampan yang bertubuh tegap dan kekar, sambil membopong Hoa In-liong dia melangkah naik ke undak- undakan batu di depan ruangan, ketika mendengar pertanyaan itu, dia berpaling.

“Hoa kongcu masih pingsan seperti sedia kala,” sahutnya, “rupanya goncangan dijalan tadi sama sekali tidak menyebabkan dia menjadi sadar kembali.”

“Eeeh…… jangan-jangan isi perutnya terluka parah, makanya dia tak sadarkah diri sampai kini?” tiba-tiba seorang pemuda kekar beralis tebal bermata besar yang ada dibela kang menimbrung.

“Aaah, tak mungkin,” kata seorang pemuda jangkung dengan mata yang jeli di sisi pemuda tadi, “coba kau lihat air muka Hoa kongcu tetap segar dan napasnya teratur bukan begini macam orang yang terluka parah isi perutnya.”

Pemuda bermuka persegi yang berjidat lebar disamping mereka menyela pula dengan cepat, “Huuss, kalian jangan ngawur seenaknya, itulah tanda-tandanya orang yang tertotok jalan darahnya, saudara Ek-hong Cepat baringkan Hoa kongcu di kursi, kita periksa lagi keadaannya dengan lebih teliti, siapa tahu kalau kita temukan tanda-tanda lain yang bisa kita jadikan petunjuk? “ Diiringi pelbagai suara yang mengemukakan pendapatnya, pemuda-pemuda itu mengiringi “saudara Ek-hong” masuk ke ruang tengah, Ek-hong membaringkan tubuh Hoa ln- liong diatas sebuah meja besar, kemudian sambil menyeka peluh yang membasahi jidatnya dia berkata, “Menurut pendapat siau-te, kemungkinan besar Hoa kongcu telah dicekoki sejenis obat yang hebat sekali daya kerjanya.”

“Aaaah…. masuk diakal!” teriak pemuda kekar yang ada disampingnya sambil bertepuk tangan, “hahaha….haaaahhh……haaaahhh… memang harus diakui, diantara kita berlima, ilmu silat saudara Ek-hong lah yang paling tinggi, andaikata cuma jalan darahnya yang tertotok saudara Ek-hong tentu akan mengetahuinya, betul Aku yakin delapan puluh persen Hoa kongcu sudah dicekoki obat racun yang lihay”

“Cong-gi te jangan berkaok-kaok macam kunyuk penasaran,” tegur Yu Siau-lam dengan dahi berkerut, “bagaimanapun toh sebentar lagi ayahku bakal sampai disini. asal ayahku tiba, semua persoalan akan beres dengan sendirinya.”

Sementara itu seorang pelayan masuk ke dalam ruangan dengan membawa sebuah baki, di atas baki terletak beberapa cawan air teh panas.

“Letakkan air teh itu dimeja, dan cepat lapor kepada lotay- ya!” seru Yu Siau-lam sambil ulapkan tangannya, “katakan kalau Hoa kongcu dari perkampungan Liok-soat-san-ceng berada dalam keadaan pingsan, kini berada diruang depan, harap Lotay-ya cepat-cepat datang kemari, minta agak cepatan sedikit.”

“Baik” pelayan itu mengiakan, setelah meletakan baki air teh ke atas meja, dia lari keluar dari ruangan. Sepeninggal pelayan itu, Yu Siau-lam memandang sekejap- kearah Hoa In-liong tiba-tiba ia menghela napas panjang.

“Aaai….. saudara-saudaraku dan sobat-sobatku menghargai diriku sebagai Say-beng-siang (Beng siang sakti), tapi kalau kutinjau dari keadaan yang kuhadapi sekarang, yaa… sekalipun tak sampai mengganggu khalayak umum sebetulnya julukanku itu terlalu berlebihan”

“Hey, saudara Siau-lam Kenapa tiba-tiba kau berkeluh kesah?” tegur cong-gi si pemuda kekar beralis tebal itu sambil berkenyit, “Kim-leng ngo kongcu (lima tuan muda dari kota Kim-leng) adalah saudara angkat yang saling hormat menghormati, cinta mencintai, siapa yang tak tahu kalau kita adalah sahabat karib? orang bilang daripada punya satu sahabat, lebih baik punya tiga teman, apa salahnya kalau kita punya banyak sahabat? Kan banyak teman banyak pula faedahnya.”

Perlu diterangkan disini, saudara Cong-gi itu bernama Coa Cong-gi, saudara Ek-hong bernama Wan Ek-hong, pemuda yang bertubuh jangkung tadi bernama Li Pa-se sedang yang berwajah persegi itu bernama Ko siong-peng, ditambah Yu Siau-lam seorang mereka disebut Kim-leng-ngo kongcu lima tuan muda dari kota Kim-leng.

Kelima orang itu semuanya merupakan keturunan dari keluarga persilatan, usia mereka hampir sebaya, jiwa dan semangat mereka sama-sama gagahnya, berjiwa pendekar dan suka menolong yang lemah menindas yang kuat.

Dihari-hari biasa mereka paling suka berpesiar ke tempat yang indah dan minum arak menikmati hidup, apalagi ilmu silat yang mereka miliki sangat lihay, bukan saja banyak teman bahkan sering kali suka mencampiri urusan orang lain. Sebab itulah hampir setiap penduduk kota itu mengenal siapakah Kim-leng-ngo kongcu, sebagai pemuda-pemuda yang gemar nama besar, tentu saja tindak tanduk mereka semakin dipelihara.

Tapi sekarang, tiba-tiba saja Yu Siau-lam berkeluh kesah, bukan saja Coa Cong-gi seorang yang dibuat keheranan, rekan-rekan yang lainpun sama-sama memandang rekannya dengan muka tertegun, mereka ingin tahu apa sebabnya saudara tua mereka ini berkeluh-kesah. Yu Siau-lam menjawab..

“Yaa. dalam hal ini tak aneh kalau saudara Cong-gi merasa tercengang,” katanya, “malahan aku sendiripun merasa sedikit bingung dan tak habis mengerti. Aai, bagaimanapun juga, dihari-hari biasa aku memang terlalu suka bermain sehingga menghadapi urusan serius seperti hari ini tiba-tiba saja sikapku jadi gugup dan gelagapan, tidak pantaskan kalau aku selalu menggantungkan kemampuan ayahku?”

“Oooh…. jadi maksud saudara Siau-lam, dimasa lalu kau hanya tahu bermain dan menghambur-hamburkan waktu, sehingga kepandaian dari empek Yu tak dapat kau warisi dengan sempurna?” tanya Po-seng, si anak muda yang jangkung itu dengan dahi berkerut. Yu Siau-lam mengangguk.

“Konon kepandaian ayahku dalam soal ilmu pertabiban dan kepandaian mengenali racun, memunahkan racun, kecuali masih kalah bila dibandingkan dengan kemampuan dari Kiu- tok-sian-ci yang bercokol di wilayah Biau, boleh dibilang di dunia saat ini tak ada yang bisa menandingi lagi tapi siau- te….yaa, siau-te paling banter cuma berhasil mempelajari sedikit kulit luar dari kepandaian ayahku, tidak pantaskah kalau hatiku jadi risau karena soal ini? Tidak seharuskah aku berkeluh kesah?” Coa Cong-gi yarg kekar dan berotot adalah pemuda kasar yang selamanya tak mau berpikir dengan otaknya, mendengar perkataan itu sontak dia menjawab, “Aaaah, kalau cuma soal itu apa susahnya? saudara Siau-lam tak usah berkeluh kesah lagi, aku lihat usiamu juga masih muda, kalau ingin belajar dengan tekun, sekarang toh masih belum terlambat?”

Yu Siau-lam kembali tertawa getir.

“Tak salah memang ucapan itu, belum terlambat bila aku ingin belajar mulai sekarang, tapi bagaimana dengan keadaan Hoa kongcu ini? seandainya dia sampai terjadi sesuatu, kendatipun dikemudian hari ilmu pertabibanku lihay, lalu apa gunanya? Akhirnya toh siau-te harus menanggung rasa menyesal sampai akhir hayat?”

Coa Cong-gi melotot besar-besar.

“Apa?” teriaknya dingin dan cemas bercampur kaget, “maksudmu Hoa kongcu…”

“Engkau toh bisa melihat sendiri keadaan Hoa kongcu pada saat ini?” tukas Yu Siau-lam sambil tertawa getir, “coba lihatlah, keadaannya seperti terluka parah tapi tidak terluka, seperti keracunan tapi bukan keracunan, kalau dibilang jalan darahnya yang tertotok, kita tak tahu jalan darah yang manakah yang telah tertotok, bila kita abaikan kesempatan yang sangat baik ini untuk mengobati lukanya, kalau sampai terjadi apa-apa atas dirinya, bukankah kita semua akan menyesal sampat akhir hayat? sebaliknya bila aku sudah berhasil menguasai ilmu pertabiban dari ayahku, sekalipun mungkin sikapku masih kelabakan, toh perasaan hatiku jauh lebih baikan daripada sekarang. Adik Cong-gi, ketahuilah pada saat ini aku bukan lagi berkeluh-kesah, hakekatnya aku sedang menyesal, menyesal kenapa tidak sedari dulu baik-baik mempelajari ilmu pertabiban tersebut dari ayahku.”

Ketika perkataan itu berakhir, tanpa terasa semua orang mengalihkan sinar matanya ke atas wajah Hoa In-liong, tampaklah air mukanya masih tetap segar seperti sedia kala, napasnya sangat teratur dan gejala macam begini memang bukan gejala dari orang yang keracunan atau menderita luka dalam yang parah, karenanya kelima orang pemuda dari Kim- leng itupun berdiri membungkam dengan dahi berkerut. selang sesaat kemudian, tiba-tiba Coa Cong-gi berseru dengan suara lantang, “Saudara Siau-lam, kalau dibicarakan lagi, kesemuanya ini adalah salahmu, mengapa pada saat itu tidak kau tanyakan duduknya persoalan kepada Cia In sampai jelas?”

“Aaai memangnya Cia In bersedia untuk memberi keterangan kepada kita? selain itu yaaa, waktu itu aku sendiripun sedang gelisah bercampur panik, tak sampai pikiranku untuk berpikir sampai kesitu.”

“Huuuh, dengan andalkan apa dia berani tak menjawab?” Coa Cong-gi masih juga melotot dengan mata mendelik,

“Hmm….. sekarang juga aku akan ke sana untuk bertanya kepadanya.”

Dengan langkah lebar dia beranjak dari tempatnya semula dan melangkah ke pintu luar. Ko siong-peng cepat melangkah ke depan menghadang jalan perginya.

“Kau tak usah cari tahu,” katanya “Hoa kongcu toh berhasil kita rampas dari tangannya? Itu berarti pada saat ini kita berhadapan sebagai musuh dengannya tak nanti perempuan itu bersedia untuk memberi keterangan kepada kita-kita.” “Hmm…… Masa dia berani membungkam?” dengus Co Cong-gi dengan rasa penasaran.

Dia ingin melewati Ko siong-peng dan keluar dari ruangan itu, tapi baru beberapa tindak ia berjalan, tiba-tiba terdengar suara yang serak-serak tua berkumandang dari ruangan belakang, “Anak Lan, bagaimana keadaan Hoa kongcu?”

Berbareng dengan berkumandangnya ucapan tadi, dari balik pintu masuklah seorang kakek yang berjenggot panjang berambut putih, dibelakangnya mengikuti seorang bocah laki- laki yang membawa kotak berisi obat-obatan.

Kakek itu bernama Kanglam Ji-gi (Tabib sosial dari Kang- lam) Yu siang-tek. dia tak lain adalah ayah Siau-lam seorang dermawan yang paling dikagumi dikota Kim-leng.

Coa Cong-gi segera membatalkan niatnya untuk keluar, bersama Yu Siau-lam sekalian mereka sambut kedatangan kakek itu.

“Orang ini mirip sekali dengan Hoa tayhiap.” kata Yu Siau- lam menerangkan “ananda rasa tentulah dia adalah putranya Hoa tayhiap.”

Sementara itu si Tabib sakti dari Kanglam telah melihat tubuh Hoa In-liong yang berbaring dimeja, dia ulapkan tangannya dan menghampiri meja tersebut. “Apakah selama ini dia pingsan terus?” tanyanya kemudian.

“Benar ayah, sampai sekarang dia tak sadarkan diri terus”

Kanglam Ji-gi menghampiri anak muda itu, dengan dahi berkerut diamatinya roman mukanya lalu dia bergumam, “Dilihat dari roman mukanya, dia mirip sekali dengan Hoa tayhiap. tapi alis matanya, bibirnya dan hidungnya mirip Pek hujin, aku rasa dia tentulah Ji kongcu dari keluarga Hoa.”

Kakek itu membungkukkan badannya memeriksa lidah dan kelopak mata Hoa In-liong kemudian mencekal urat nadinya dia memeriksa denyutan jantung anak muda itu.

Tiba-tiba paras muka kakek itu kian lama berubah kian serius, kurang lebih setengah perminum teh kemudian cengkeramannya pada nadi anak muda itu baru dilepaskan.

“Hoa kongcu telah dicekoki obat pemabok,” katanya kemudian, jalan darah Ci-kan-hiat nya belum lama tersumbat”

Tiba-tiba ia berpaling, ditatapnya Yu Siau-lam tajam-tajam kemudian bertanya, “Anak lam, dari mana engkau temukan Hoa kongcu ini?”

” Waktu itu ananda sedang berpesiar diluar kota sebelah barat, ketika tiba diluar pintu sui-see-bun, kami telah bertemu dengan telah bertemu dengan…”

Cia In adalah seorang pelacur kenamaan, tentu saja anak muda itu jengah untuk menerangkan hubungannya selama ini dengan seorang pelacur, tak heran kalau dia jadi gelagapan di hadapan ayahnya dan tak mampu melanjutkan keterangannya

“Anak lam, kalau bicara kenapa musti ragu-ragu?” tegur tabib sosial itu dengan alis berkenyit, “kau telah berjumpa dengan siapa? Ayoh lanjutkan keteranganmu itu.”

Yu Siau-lam tersipu-sipu, namun dia tahu tak mungkin keterangan tersebut dirahasiakan terus, akhirnya sambil tebalkan muka ia terangkan semua yang dialaminya diluar pintu Sui-see-bun tadi. Ketika selesai mendengarkan penuturan itu, Si tabib sosial dari Kanglam sama sekali tiada maksud untuk menegur putranya, dengan tenang diamatinya wajah Hoa In-liong tajam-tajam, seakan-akan ada satu persoalan yang sedang dipikirkannya persoalan apakah itu? Tak seorangpun tahu.

Bukan saja Kim-leng Ngo kongcu tak berani bergerak. bahkan sibocah laki-laki yang membawa kotak obat pun tak berani menghembuskan napasnya terlalu keras, mereka kuatir suara-suara yang mereka timbulkan akan mengganggu jalannya pikiran Kanglam Ji-gi, otomatis suasana dalam ruang tengah itupun jadi sunyi sepi dan tak terdengar sedikit suarapun, semua orang menanti dengan hati yang tegang dan detakan jantung berdebar dengan kerasnya.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya si Tabib sosial dari Kanglam itu berseru tertahan sambil manggut-manggut.

“Oooh kiranya begitu,” gumamnya, “aku mengerti ehm, aku sekarang sudah mengerti suatu kepandaian yang sakti, hebat dan di luar dugaan… sungguh mengagumkan.”

Berbicara sampat disitu dia lantas membungkukkan badannya dan pelan-pelan mengangkat batok kepala Hoa In- liong kemudian dengan hati-hati dirabanya jalan darah Giok- tin hiat di bagian belakang batok kepala itu.

Tiba-tiba wajahnya berseri, serta-merta digendongnya tubuh Hoa In-liong dari atas meja.

“Aaai… Hoa kongcu memang rejeki besar dan bernasib baik.” katanya “sekalipun dia sudah kalian bawa lari naik kuda, kemudian dilempar kesana kemari, toh jarum perak pembingung sukma yang menancap diatas jalan darah Giok- tin-hiatnya sama sekali tak bergeser, anak lam Kalian semua ikutilah diriku.” Dengan sikap yang amat berhati-hati ia berlalu dari ruangan itu dan menuju ke belakang.

Kim leng ngo kongcu saling berpandangan dengan hati terperanjat, dengan mulut membungkam mereka mengikuti dibelakangnya dengan langkah lebar..

Setelah melewati beranda, si tabib sosial dari Kanglam kembali berkata, “Aku lihat Hoa kongcu mempunyai kondisi badan yang istimewa sekali, tampaknya obat pemabok sama sekali tidak bereaksi apa-apa atas dirinya, aku pikir asal jarum perak itu sudah dicabut niscaya keadaannya akan pulih kembali seperti sedia kala, anak Lam Kau berangkatlah lebih duluan dan beri kabar kepada ibumu, kemudian datanglah ke kamar baca, aku ada persoalan yang hendak dibicarakan dengan kalian”

Setelah mendengar perkataan itu, semua orang merasa hatinya jadi lega, Yu Siau-lam pun mengiakan dan masuk ke ruang paling belakang lebih dahulu.

Selang sesaat kemudian, si Tabib sosial dari Kanglam telah membawa empat orang kongcu lain nya masuk ke ruang baca.

Ruangan baca itu sangat bersih dan semua perabotnya diatur sangat rapi dan terawat, di sudut ruangan dekat jendela membujur sebuah pembaringan, dia membaringkan Hoa In- liong diatas pembaringan tersebut, setelah mengambil kotak obatnya dari tangan bocah laki-laki itu, ia siapkan barang- barang yang dibutuhkan, lalu mulai mencabut jarum perak itu.

Kendatipun sumber penyakitnya sudah ketahuan, ternyata untuk mencabut jarum perak itu bukanlah suata pekerjaan yang gampang. Ketika obat-obatan yang diperlukan sudah siap, si Tabib sosial dari Kanglam meletakkan telapak tangan kanannya diatas jalan darah Leng-tay-hiat dari Hoa In-liong, sementara tangan kirinya mencekal sebuah besi semberani, besi magnit itu tertuju diatas jalan darah Giok tin-hiat dibelakang batok kepala, kemudian ditekannya besi magnit itu pelan-pelan ditempat yang tertuju.

Selang sesaat kemudian, besi magnit itu lambat-lambat ditariknya ke atas, semua orang lantas melihat bahwa diatas besi magnit tadi tertempel sebatang jarum perak kecil yang lembut dan panjangnya setengah inci, setelah membuang jarum tadi, diapun mengambil sebuah bungkusan berisi bubuk obat warna kuning dan dibubuhkan disekitar lubang jarum tadi.

Semula dari bekas lubang jarum itu meleleh darah kental, tapi sesudah dibubuhi bubuk obat warna kuning tadi, darah itupun menggumpal dan berhenti meleleh.

Operasi itu tampaknya sederhana dan tidak makan banyak waktu, namun repotnya bukan kepalang, ketika tugas itu telah selesai, keadaan si Tabib sosial dari Kanglam ibaratnya orang yang baru saja melangsungkan suatu pertarungan sengit, peluh sebesar kacang kedelai membasahi jidatnya, malahan empat orang kongcu yang mengikuti jalannya operasi pertolongan itupun ikut tegang dan berdiri dengan jantung berdebar keras. selesai membubuhi obat di mulut luka, Tabib sosial itu menghembuskan napas panjang.

“Huuh….. Untung, sungguh beruntung andaikata sedikit saja miring ke samping, niscaya sepanjang hidup aku Yu siang-tek akan menanggung penyesalan yang tak terkirakan,” gumamnya. “Pek-hu!” Coa Cong-gi yang kasar dan tak pernah pakai otaknya itu tiba-tiba menyela, “aku lihat, mencabut jarum perak dengan magnit bukanlah suatu pekerjaan yang merepotkan.”

“Aaaai, dasar bocah, dasar bocah, pendapatnya selalu memang lucu dan menggelikan.”

Tabib sosial dari Kanglam gelengkan kepalanya berulang kali, dibereskannya alat-alat pengobatan nya dan diserahkan kepada bocah laki-laki itu, kemudian dengan wajah bersungguh-sungguh dia melanjutkan, “Ketahuilah nak, jalan darah giok-tin-hiat merupakan salah satu jalan darah kematian dari tiga puluh enam buah jalan darah yang berada di tubuh manusia, jalan darah itu merupakan pintu gerbang dari Ni- wan, kunci utama dari pusat, tok-meh dan jalan penembus dari tiga belas urat penting lainnya, coba bayangkan betapa pentingnya kedudukan jalan darah tersebut? Mana aku boleh bertindak main-main? Aku merasa tenaga dalamku tak mampu untuk menghisap keluar jarum perak itu dari dalam badan, maka terpaksa harus kubantu dengan besi magnit, sekalipun demikian bahaya dan resikonya tetap sangat besar.”

“Apa resikonya?” kembali Coa Cong-gi bertanya keheranan. “Resikonya? Aaai.. Coba bayangkan saja daya tarik yang

terpancar dari besi magnit terletak di seluruh permulaan besi

itu. padahal untuk menghisap keluar jarum peraknya, maka jarum itu harus keluar dari lubang luka yang sebenarnya, bukan saja cara kerja kita harus tenang, mantap dan lurus, bahkan sedikit saja menggetarkan jarum perak itu akan segera mengakibatkan luka pada urat syarafnya, kau tahu apa akibatnya jika urat syaraf seseorang terluka andaikata tidak tewaspun akan lumpuh selama hidupnya, bayangkan sendiri besar atau tidak resikonya?” Sekarang semua orang baru mengerti mengapa si Tabib sosial dari Kanglam harus bekerja dengan begitu tegap, kaku, hati-hati dan bersungguh-sungguh, ternyata resikonya luar biasa besarnya.

Lebih-lebih Coa Cong-gi, dia sampai terbelalak lebar-lebar dengan mulut melongo, kadet dan ngerinya bukan kepalang.

“Aduuuh mak. jadi resikonya sebesar itu?” serunya sambil menjulurkan lidah, “tak heran kalau empek sampai bermandikan keringat”

Kanglam Ji gi tersenyum.

“Untunglah urusan sudah lewat, sekarang keadaan Hoa kongcu sudah tidak merisaukan lagi seperti tadi!” serunya.

Setelah berhenti sejenak, ia memandang sekejap empat orang pemuda yang berada di depannya, kemudian katanya lebih jauh, “Keponakanku semua, duduklah Ada sesuatu persoalan yang selama ini mengganjal dalam hatiku, menggunakan kesempatan yang baik ini hendak kubicarakan persoalan itu dengan kalian semua.”

Semua orang tak tahu apa yang hendak dibicarakan kakek itu, dengan pelbagai pikiran berkecamuk dalam benak mereka, masing-masingpun mengambil tempat duduk.

Suasana hening untuk sesaat, dari luar ruangan tiba-tiba terdengar suara tongkat membentur lantai, mula-mula suara itu kedengaran masih jauh tapi sesaat kemudian sudah berada di depan ruangan.

Kanglam Ji-gi lantas berpaling kepada bocah laki-laki itu seraya berkata, “Hujin telah datang, pergilah suruh orang siapkan sayur dan arak, menanti Hoa kongcu telah sadar nanti, siapkan meja perjamuan untuk menghormatinya.”

“Baik…” bocah laki-laki itu mengiakan dan mengundurkan diri dari ruangan itu.

Yu Siau-lam dengan menemani ibunya masuk ke dalam kamar baca, empat kongcu lainnya cepat berdiri dan menyambut kedatangan pe-bo mereka.

Yu lo-hujin melirik sekejap ke arah Hoa In-liong yang masih belum sadar itu setibanya dalam kamar lalu kepada suaminya ia bertanya, “Lo-yacu, keadaan Hoa kongcu tidak menguatirkan bukan?”

Nyonya tua ini rambutnya telah beruban semua, pada dadanya tergantung sebuah tasbeh, sedang ditangan kanannya memegang sebuah tongkat berukir naga, sekilas pandangan orang akan merasa bahwa tongkat itu berat sekali, ditambah pula sinar matanya sangat tajam, siapapun akan tahu bahwa nenek tua ini memiliki ilmu silat yang tinggi.

“Keadaan Hoa kongcu sudah tidak menguatirkan lagi,” sahut Kanglam Ji-gi cepat, “jarum perak itu telah kucabut keluar, sepertanak kemudian dia pasti akan sadar kembali, Hujin, silahkan duduk Menggunakan kesempatan yang sangat baik ini aku hendak bercakap-cakap dengan anak Lam sekalian.

“Apa yang hendak dibicarakan?” sambil bertanya Yu lo- hujin mengambil tempat duduk “apakah menyangkut perbuatan anak Lam yang suka bermain perempuan ditempat luaran?”

“Persoalan main perempuan akan dibicarakan, urusan lainpun akan sekalian dibahas”