Rahasia Hiolo Kumala Jilid 06

 
Jilid 06

SEBUAH lentera Lian-hun-teng (lentera peleleh sukma) yang khusus terbuat dari hawa racun katak paru. racun phospor itu akan dihisap sedetik demi sedetik, setelah menjalankan siksaan terbakar perlahan-lahan selama tujuh hari tujuh malam sang korban akan mati karena hawa racun menyerang jantungnya, Liong-ji coba bayangkan, sebelum mati orang yang tersiksa akan mengalami penderitaan yang amat hebat, betapa kejam dan ngerinya keadaan tersebut ?"

Hoa In- liong membungkam dalam seribu bahasa, hawa gusar dan jengkel jelas tercermin diatas wajahnya.

Sekali lagi Pek Siau-thian menghela napas panjang, ujarnya lebih jauh: "Siksaan tersebut betul-betul amat keji dan tak berperikemanusiaan, tentu saja ayahmu amat gusar setelah menyaksikan kejadian itu, tapi berulangkali Glok-teng hujin berpesan kepada ayahmu agar jangan mau tunduk pada perintah orang, tak boleh mandah diperintah orang, kalau tidak maka sekalipun ia bisa ditolong dalam keadaan hidup^ tapi dia akan bunuh diri, Liong-ji coba pikir lah betapa bergolaknya perasaan ayahmu pada waktu itu.

Mendengar ucapan tersebut, mencorong sepasang mata Hoa ln- liong sinar mata itu setajam sembilu dan mengerikan sekali, melihat hal itu Pek Siau thian segera berseru: "Liong-ji. dengarkan baik-baik, aku hendak membicarakan tentang soal yang pokok"

Hoa- In- liong tersentak kaget ia segera menyahut:

" Katakanlah Gwa-kong, Liong-ji akan mendengarkan dengan sungguh-sungguh "

"Pada waktu itu ayahmu merasa hatinya remuk rendam, dalam gusar bercampur emosi, ia berhasrat untuk membunuh habis semua anak buah perkumpulan Kiu-im-kau, kemudian akan beradu jiwa dengan Kiu-im-kaucu. Cu-in taysu yang berhati welas jadi kasihan dan tak tega, ia tak ingin menyaksikan anak buah perkumpulan Kiu im kau bergelimpangan menjadi mayat maka cepat ia perintah ayahmu untuk memusatkan pikiran dan tenangkan hati padahal ayahmu sedang emosi dan diliputi kemarahan, dia pun tak berani membangkang perintah angkatan yang lebih tua, seperti harimau terluka ia lantas berteriak keras: "Taysu berwelas kasih, boanpwe menanggung benci"

sampai disini ia berhenti sebentar, ditatapnya Hoa In- liong lekat-lekat kemudian melanjutkan:

" Liong-ji tahukah engkau kata " benci" itu bagaimana mungkin bisa diucapkan keluar?" Hoa In- liong memutar biji matanya lalu menjawab:

"Tentu saja patut dibenci." Kiu-im kaucu mengancam dengan menyandera orang, sedang ayah harus menolong orang terlepas dari siksaan, namun ia tak dapat membalas cinta kasih Giok teng hujin tak dapat pula menukar sandera dengan kiam-keng sekalipun membunuh orang mengadu jiwapun tak dapat menolong keadaan tersebut, sebaliknya orangnya harus ditolong, dalam keadaan begini tentu saja ia merasa benci sekali"

"Jadi kalau begitu, kau juga memiliki perasaan yang sama seperti ayahmu tempo dulu?" selidik Pek siau-thian.

Dengan terus terang dan blak-blakan Hoa In- liong menjawab:

"setelah menerima setitik budi kebaikan dari orang, sepantasnya membayar budi itu dengan cara apapun, bila liong-ji yang menghadapi peristiwa itu, mungkin rasa benci Liong-ji berlipat kali akan lebih hebat daripada ayahku" Pek siau-thian menghela napas panjang.

"Aaai meski manusia mempunyai perasaan yang sama

dan perasaan yang sama disadari oleh alasan yang sama, tapi toh belum tentu diterima oleh masyarakat luas sebagai tindakan yang benar."

Tiba-tiba paras mukanya jadi serius, dengan keren sambungnya lebih lanjut:

"Liong-ji, tentunya pada saat ini kau sudah memahami bukan apa sebabnya ibumu mengukir huruf " benci" diatas telapak tanganmu?" Hoa In- liong mengerutkan dahinya, lalu bertanya keheranan: " Kenapa? Masa huruf " benci" itu timbul lantaran ayah?"

Telapak tangan kirinya direntangkan lebar-lebar lalu diamatinya huruf "benci" itu sekali demi sekali, tapi makin dilihat ia merasa semakin bingung dan tidak mengerti, ia benar-benar tak berbasil menemukan jawaban yang menunjukkan bahwa huruf "benci" yang berwarna biru tua ini mempunyai hubungan yang erat dengan perbuatan ayahnya dimasa lampau.

Ketika Pek-siau-thian melihat anak muia itu masih juga bingung dan tak habis mengerti, ia lantas menghela napas panjang. "Aaaa pada hakekatnya huruf " benci" yang dialami ayahmu dimasa silam timbul lantaran cinta, Andaikata Giok-teng hujin tidak menaruh rasa cinta, ia tak akan begitu sayang dan membantu ayahmu, dan iapun tak akan bersedia menerima siksaan, daripada menyaksikan ayahmu harus tunduk pada perintah orang dan mendapat penghinaan, sebaliknya ayahmu jika tidak menaruh rasa cinta pada Giok-teng- hujin, sekalipun demi keadilan dan kebenaran, kegusaran dan kepedihan hatinya tak akan mencapai pada puncaknya, diapun tak akan mencari orang untuk mengadu jiwa, dan ketika didesak sampai posisi apa boleh buat diapun tak akan mengucapkan kata-kata " menanggung benci", dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa cinta antara muda mudi, kadang kala mudah mendatangkan kerepotan dan kesulitan bagi diri sendiri"

Hoa In-liong mengedip2kan matanya, dengan sikap setengah mengerti setengah tidak, ia mengerutkan dahinya.

"Liong-ji apakah kau belum juga mengerti?" tiba-tiba Pek siau-thian bertanya lagi dengan wajah serius " nenekmu memaksa ibumu untuk mengukir huruf " benci" diatas telapak tanganmu, lantaran dia tahu bahwa kau terlampau romantis, sejak kecil suka main perempuan dan bertukar pacar maka dengan ukiran tersebut ia berharap agar engkau bisa mawas diri dan menjaga diri baik-baik sehingga tidak ikut terjerumus seperti apa yang pernah dialami ayahmu dimasa lalu, sebab kalau sampai terjerumus dalam kesulitan, saat itu mau menyesalpun sudah tak berguna"

Berhubung masalahnya menyangkut tentang kegemaran jeleknya, Hoa ln- liong merasa pipinya jadi merah padam karena jengah, serunya terbata-bata. "Tentang soal ini....tentang soal ini..."

"Tak usah ini itu lagi" tukas Pek Siau thian sambil ulapkan tangannya, " nenekmu berwatak keras dan sangat disiplin, ia tak ingin menyaksikan engkau mengalami kejadian seperti yang dialami ayahmu namun merasa tidak leluasa untuk memberitahukan kejadian ayahmu dimasa lampau, oleh sebab itu ia mengukir huruf " benci" diatas telapak tanganmu itu, apa tujuannya sekalipun tak usah diterangkan sudahlah jelas. Bila engkau tak dapat meresapi harapan dari orang tuamu dengan merubah kebiasaan busukmu, maka sia-sialah engkau hidup sebagai putra manusia, engkau akan dicap sebagai anak yang tidak berbakti"

"Gwa-kong, apakah engkau orang tua juga mempunyai pandangan yang sama seperti nenek?" tanya Hoa In liong ketakutan-Pek siau thian tersenyum.

"Mengharapkan engkau jadi naga diantara manusia adalah harapan kita semua, tentu saja Gwakong maupun nenekmu mempunyai pendapat serta pandangan yang sama"

Hoa In liong membungkam dan tak bisa berbicara lagi, dengan dahi berkerut dia tundukkan kepalanya rendah- rendah.

Bagi Pek siau thianpun, sebenarnya persoalan ini memang sangat mengena dihatinya. ketika ia kurang akur dengan istrinya tempo dulu, sampai manakah rasa rindunya terhadap Kho-Hong-bwe boleh dibilang hanya dia seorang yang tahu, kemudian putri bungsunya Pek-Kun-gi mencintai Hoa-Thian- hong. sebelum berhasil menjadi istrinya yang kedua, banyak penderitaan dan siksaan yang harus dialaminya, meski hanya putrinya namun kejadian itu seakan-akan dia sendiri yang mengalami, kemudian diapun pernah mendengar tentang kasih cinta Hoa-Thian-hong dengan Giok-teng hujin-

Ia beranggapan bahwa semua peristiwa itu bisa terjadi lantaran gara-gara soal " cinta", maka setelah sekarang ia saksikan cucunya yang binal dan romantis ternyata membawa huruf " benci" diatas telapak tangannya, otomatis diapun dapat menebak maksud hati Bun-Taykun, tentu saja dia sendiripun berharap agar cucunya jadi naga diantara manusia, maka menumpang kesempatan ini dia lantas memperingatkan pemuda itu agar merubah wataknya yang jelek sehingga jangan sampai mengalami peristiwa pula yang menyangkut soal " kebencian". Bagaimana dengan Hoa In liong sendiri? Ia tundukkan kepalanya sambil termenung, sementara dalam hati berpikir: "Benar demikian? Benahkah begitu artinya.."

Tatkala dilihatnya sianak muda itu termenung seperti menemui kesulitan, timbul kembali perasaan sayang dihati Pek siau-thian, kembali ia berkata:

"Liong-ji, engkau tak usah bmyak berpikir lagi pokoknya baik gwa-kong, maupun ibumu dan nenekmu semuanya berharap agar engkau selamat dari bencana, selamat dari penderitaan dan selalu aman sentausa, asal engkau tahu bahwa "benci" tumbuh karena "cinta" dan bersikap waspada serta mawas diri, itu sudah lebih dari cukup," Tiba-tiba Hoa In- liong menengadah, lalu ujarnya dengan dahi berkerut:

" Gwa-kong, aku lihat belum tentu demikian maksudnya" Pek siau-thian agak terkejut, ia lantas berpikir:

"Ada apa ini? Masakan ucapanku sepatah kata pun tak dapat ditangkap olehnya?" Mesti kaget ia bertanya juga.

"Lalu bagaimana menurut pendapatmu?"

"Aku rasa huruf " benci" ini, kemungkinan besar ada sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah ini" kata Hoa ln- liong sambil mempertajam ujung bibirnya.

Ia membuka kembali telapak tangannya, lalu memperlihatkan huruf itu dihadapan Pek siau-thian, kemudian ujarnya lebih jauh:

"Tentu saja dibalik kesemuanya itu baik ibu maupun nenek juga bermaksud agar Liong-ji selalu mawas diri dan merubah sedikit perangai yang jelek, tapi setelah Liong-ji pikir lebih jauh liong-ji rasa persoalannya belum tentu sesederhana itu"

"oooh iya? Bagaimana tidak sederhana itu?" seru Pek siau- thian tercengang, sepasang mata yang tajam mencorong keluar dari balik matanya itu.

"Menurut dugaanku kemungkinan besar anak buah perkumpulan Kiu-im kau sebagian besar adalah kaum perempuan?"

"Kalau perempuan lantas bagaimana?" Pek siau thian balik bertanya dengan dahi berkerut. " Cukup banyak kejadian yang telah berlangsung misalnya saja kaburnya Yu-beng tiamcu secara diam-diam untuk menikah dengan suma siok-ya, kemudian rasa cinta kasih Giok-teng hujin terhadap ayah yang dibelainya mati-matian..."

"Kurang ajar, tidak tahu aturan masa urusan orang yang lebih tuapun boleh kau bicarakan seenaknya?" tukas Pek siau- thian sambil membentak dengan wajah serius.

"Liong-ji bukan tidak menaruh hormat terhadap angkatan yang lebih tua, Liong-ji hanya membahas menurut kejadian yang sebenarnya." kata Hoa In- liong dengan alis mata berkenyit.

Melihat gerak gerik kebocahannya masih melekat ditubuh cucunya, Pek-siau-thian tak tega untuk menegur lebih jauh, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dia ulapkan tangannya sambil membentak:

"Kalau begitu bicarakan secara singkatnya saja. tak usah diputar balikkan lebih jauh lagi "

"Yaa gwa-kong" sahut Hoa- In- liong, "kalau toh anak buah perkumpulan Kiu-im-kau lebih banyak perempuannya, sedangkan Liong-ji bertanggung jawab untuk menyelidiki latar belakang pembunuhan berdarah ini, pastilah nenek dan ibu kuatir kalau aku sampai terjerumus pula dalam jaring cinta sehingga membuat persoalan antara "cinta" dan "dendam" tak bisa dipisah pisahan, sedang merekapun. tak dapat menyelesaikan masalah ini sebagaimana mestinya, maka nenek lantas mengukir sebuah huruf "benci" pada telapak tangan Liong-ji dengan maksud agar Liong-ji melalu mawas diri dan waspada" Ia tertawa sebentar lalu meneruskan.

"Padahal bicara yang sesungguhnya tindakan tersebut sebetulnya terlalu berlebihan meskipun Liong-ji tak tega melukai hati perempuan, toh tak sampai keblinger tanpa membedakan mana yang benar dan mana yang salahpun tak mampu"

Mendengar ucapan cucunya ini seketika Pek siau-thian merasa murung, diapun merasa cukup girang, karena Hoa In- liong disamping dia menerima peringatan dan nasehatnya, malahan pengertiannya atas masalah yang pelik itu setingkat lebih mendalam daripada pemecahan menurut jalan pikirannya, ini menunjukan bahwa hatinya lebih halus pikirannya lebih teliti dan sikapnya lebih waspada daripada diri sendiri, dengan bekal itu tak nanti ia akan menderita kerugian selama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan.

sebaliknya dia murung karena dilihatnya Hoa In- liong tak dapat melepaskan kegemarannya untuk bermain perempuan, dari sini dapat diketahui bahwa soal cinta ia sudah terlampau mendalam dan entah sampai kapan baru bisa bertobat.

sebab itu dengan wajah keren dan pura-pura, tak senang hati bekas ketua dari perkumpulan sin-kipang ini berkata:

"Berapa besar toh usiamu sekarang? Berani benar mengatakan bahwa soal cinta dan dendam bisa kau bedakan dengan jelas? HmmBila kau anggap sepi maksud hati dari kaum angkatan tua bukankah itu berarti bahwa engkau telah menganggap perkataanku tadi sebagai angin berlalu belaka?"

"Liong-ji tak berani berpikiran demikian, Liong ji masih cukup tahu diri" sahut Hoa In- liong cepat, " Gwa-kong, coba analisalah, benarkah perkumpulan Hian-beng-kau yang membuat keonaran sekarang benar-benar adalah jelmaan dari perkumpulan Kiu-im kau dimasa lalu?"

Tak dapat diragukan lagi bahwa semua perhatian dan tenaganya telah dicurahkan untuk memecahkan misteri terbunuhnya suma Tiang- cing, tapi bagi pendengaran Pek siau-thian, tak lebih sama artinya bahwa pemuda itu sengaja mengalihkan pembicaraan kesoal lain sehingga telinganya tak sampai " dikoreki" lebih lanjut.

Dengan perasaan apa boleh buat dia gelengkan kepalanya berulang kali sambil menggerutu:

"Aaaaai..,. Kau bocah ini..."

"Gwa-kong tak usah kuatir" sela si anak muda itu dengan cepat, "perkataan kau orang tua akan kuingat selalu dalam hati, tapi dewasa ini masalah yang terpenting adalah bagaimana menemukan sipembunuh itu, bila kau orang tua tahu harap beritahukan kepada Liong-ji" Jelas sekali ucapan tersebut, bahwa ia sudah tak sabar lagi untuk mendengarkan persoalan lain yang tetek bengek.

Pak siau-thian amat memanjakan cucunya, ia ada maksud memberi teguran tapi tak tega akhirnya sambil menghela napas ia berpikir:

"Bukit dan sungai gampang dirubah, tapi watak manusia sukar dirubah, bocah ini terlampau acuh tak acuh, agaknya sebelum merasakan sedikit penderitaan ia tak akan kapok"

setelah mengetahui bahwa banyak bicara tak ada gunanya, diapun pasrah, katanya kemudian-

"Aku sendiripun, kurang begitu jelas, antara Kiu-im Hian- beng meski beda tulisannya namun mempunyai arti yang tak jauh berbeda semestinya mempunyai hubungan yang erat"

"Liong-ji sendiripun berpendapat demikian" kata Hoa In- liong pula sambil menyahut. "Gwa kong Apakah engkau tahu, di manakah Kiu-im kau mendirikan markas besarnya dimasa lalu?"

Pek siau-thian berpikir sebentar, lalu menjawab:

"Lima puluh tahun berselang, perkumpulan Kiu-im kau tak dapat menancapkan diri dalam dunia persilatan dan terdesak untuk mengasingkan diri, mereka baru muncul kembali dalam dunia persilatan setelah terjadinya pertarungan sengit di selat ou-bu-kok, anak buah mereka sangat banyak dan terutama menguasahi ilmu berperang dalam perahu. Sejak pembagian harta karun di- bukit Kiu-ci-san, ayahmu mendapat sanjungan dan dukungan dari segenap umat persilatan yang kemudian diangkat menjadi Bu-lim bengcu, sejak itu pula Kiu-im kau jauh mengasingkan diri dari keramaian dan tak kedengaran kabar beritanya lagi, jadi di manakah mereka mendirikan markas besarnya, boleh dibilang tak seorangpun yang mengatahuinya" Hoa In- liong mengerutkan dahinya.

"Pandai sekali mengemudikan perahu dan berperang diatas air? Itu berarti mereka mengasingkan diri disebelah selatan" katanya.

"Benar Benar" sahut Pek Siau-thian cepat, "Suma siok-ya mu memang berjumpa dengan siok-cubo mu disebelah selatan, aku pikir tentu mereka mengasingkan diri pula disebelah selatan"

Hoa In- liong menganggukkan kepalanya berulang kali, sesudah termenung sebentar tiba-tiba ia bertanya lagi:

"Gwa-kong, sepeninggal dari kota Lok-yang ini, engkau bermaksud akan pergi ke mana?" Pek Siau-thian tertegun, lalu menjawab:

"Aku tak pernah terikat oleh pikiranku, kemana akan pergi disitu aku tuju, sebetulnya aku ada keinginan untuk berkunjung ke bukit Im-tiong-san dan menjenguk kalian semua. Ada apa? Apakah engkau suruh Gwa-kong menemani engkau berkunjung kewilayah Kang- lam?"

Dengan cepat Hoa In- liong gelengkan kepalanya.

"Aku tak berani merepotkan gwa-kong" sahut nya, " lebih baik engkau menyambangi ibu saja setelah berjumpa dengan ibu tolong gwa-kong mewakili Liong-ji untuk menyampaikan salam kepadanya, bukanlah bahwa Liong-ji tahu akan mawas diri dan sekarang telah berkunjung ke wilayah selatan..."

"Berkunjung kesitupun boleh-boleh saja, cuma benarkah engkau akan menuju keselatan?" tanya Pek siau-thian, alis matanya yang memutih tampak berkenyit.

" Kalau toh suma siok-cubo adalah Yu-beng Tiancu dari perkumpulan Kiu-im- kau yang kabur secara diam-diam maka besar kemungkinan peristiwa berdarah ini ada sangkut pautnya dengan Kiu-im kau cu, dan sama sekali tak ada hubungannya dengan Giok-teng hujin-Lagipula antara kata Kiu-im dan Hian-beng toh mempunyai maksud yang sama?

Liong-ji bertekal untuk mengunjungi Kang lam dan baik atau buruk persoalan ini harus kuselidiki sampai jelas."

Tahun ini Pek siau-thian sudah berusia lanjut, kegagahan dan ambisi besarnya sudah hampir boleh dibilang lenyap tak membekas, ia jadi kuatir sekali setelah mengetahui bahwa Hoa In- liong akan berkunjung kewilayah Kang lam, tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang bekas ketua perkumpulan besar yang pernah menguasahi separuh jagad, walaupun tidak lega hatinya namun diapun tidak mencegah niat anak muda itu.

setelah berpikir sebentar diapun menjawab: "Baiklah,sesampainya dibukit Im-tiong-san, aku akan suruh anak see datang membantu dirimu" Mendengar perkataan itu, Hoa- In- liong segera goyangkan tangannya berulang kali.

"Jangan...jangan...jangan sekali-kali gwa-kong suruh toako meninggalkan rumah."

"Eeeh kamu ini kenapa tak tahu berat entengnya

urusan?" omel Pek-siau-thian serius, "menurut keteranganmu sendiri, katanya dunia persilatan sudah berada diambang pintu kekacauan, hawa pembunuhan mengincar dari segala penjuru tempat dan kematian suma-siok-ya mu tak lebih cuma permulaan dari kekacauan ini, padahal engkau toh tahu bahwa tenaga kekuatanmu seorang sangat terbatas, dari mana kau bisa memikul tugas seberat ini "

"Gwa-kong, kau tak usah berbicara lagi" Hoa In- liong cepat menukas, "bayangkanlah bagaimana keadaan gwa-kong dimasa lalu? Bagaimana pula dengan ayah? sekarang Liong-ji telah dewasa, sepantasnya kalau dia kuhadapi sendiri masalah itu dengan segala kemampuan yang kumiliki."

"Ngaco belo" bentak Pek siau-tian- "masa kau tidak tahu kalau gwa-kong mu mengalami kekalahan total yang sangat mengenaskan? sekalipun ayahmu berjiwa keras dan gagah perkasa, itupun karena ditunjang oleh nenekmu, sebaliknya kau masih muda tapi sikapmu terlalu sok hebat dan jumawa."

sebelum engkongnya menyelesaikan kata-kata itu, Hoa In- liong telah menukas kembali:

"Gwa-kong, mengapa kau bisa mengalami kekalahan total?

Liong-ji adalah seorang laki-laki sejati, bila ayah bisa melakukan segala sesuatunya itu dengan baik, mengapa Liong-ji tak dapat melakukannya?"

selama berada dirumah, baik terhadap nenek. maupun terhadap ayahnya, Hoa In- liong tak berani membantah barang sekejappun, hanya terhadap Pek siau-thian yang memanjakannya semenjak kecil ia berani membantah tanpa meninggalkan batas-batas kesopanan, sebaliknya Pek siau- thian yang amat menyayangi cucunya tak bisa berbuat lain kecuali meringis.

Demikianlah, ketika Hoa In-liong menyelesaikan kata- katanya, Pek siau-thian benar-benar dibikin mati kutunya, dia hanya bisa meringis sambil meneguk habis isi cawannya, kemudian mengomel:

"Kurang ajar? Betul-betul kurang ajar, makin hari kau si bocah nakal berkembang makin tak- karuan, baiklah Aku tak akan mengurusi dirimu-lagi, sesampainya dirumah pasti akan kuceritakan semua yang kulihat dan kudengar kepada ayahmu" Meskipun geli dihati, diluaran anak muda itu berkata pula:

"Akupun tak mau ambil perduli, pokoknya aku tidak akan membiarkan gwa-kong untuk berbicara"

" Kalau begitu kuberitahukan kepada nenekmu-?" seru Pek siau-thian sambil memukul-meja " Kalau- nenek lantas- kena

...."

Mendadak anak muda itu merasa bahwa perkataannya kurang, sopan, seketika itu juga ia membungkam dan memandang kakeknya dengan- wajah termangu- mangu.

Pek siau-thian sendiri, sewaktu dilihatnya bocah itu tertegun, ia mengira cucunya dibuat ketakutan oleh karenanya sang nenek. dia jadi tak tega, setelah menghela nafas panjang, dengan nada yang lebih halus ia berkata lagi:

"Liong-ji, dengarkan perkataanku, kalau benar bahwa dunia persilatan telah diselimuti oleh hawa pembunuhan yang tebal, lagipula mereka khusus memusuhi keluarga Hoa kalian, lebih baik persoalan ini laporkan saja kepada ayah dan nenekmu sebab bila sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, yang terkena celaka bukan hanya keluarga Hoa saja melainkan segenap umat persilatan didunia ini, sekalipun engkau gagah dan berjiwa ksatria, tidak seharusnya memandang enteng masalah yang menyangkut keselamatan dan kepentingan orang banyak ..." Ketika Hoa In- liong mendengar bahwa nada suara gwa- kongnya sudah jauh lebih lunak, buru-buru diapun berkata:

"Gwa-kong, dengarkan dulu penjelasanku, persoalan ini toh baru merupakan berita sensasi yang Liong-ji dengar ditengah jalan, bagaimanakah kejadian yang sesungguhnya sampai sekarang masih merupakan tanda tanya besar, yaa kalau kenyataannya begitu, seandainya kemudian terjadi jauh menyimpang dari keadaan tersebut, padahal gwa-kong sudah memberi tahukan kepada ayah dan nenek. bukan saja Liong-ji akan ditegur bahkan dicaci maki, engkau orang tua pun akan di anggap orang sebagai manusia yang kurang teliti, bukankah dosa Liong-ji akan semakin menumpuk-numpuk?"

setelah mendengar penjelasan itu, sekarang Pek siau-thian malahan yang dibuat termangu. Kendati ia tahu bahwa alasan itu sengaja dibuat-buat oleh Hoa In- liong, tapi bila dipikirkan kembali memang ada benarnya juga, sebab itu jago tua ini jadi terbungkam dan tak sanggup membantah lagi. setelah berhenti sebentar, Hoa ln- liong berkata lagi.

"Lagipula, sekalipun Liong-ji gegabah dan tak tahu keadaan, rasanya tak sampai kalau Liong-ji menjadi seorang manusia yang tak tahu diri, sampai waktunya bila benar-benar terjadi peristiwa seperti itu, tentu saja dengan segala daya upaya Liong-ji akan memohon bala bantuan, tak nanti Liong-ji biarkan bibit itu berkembang jadi semakin besar sehingga merugikan umat persilatan pada umumnya dan keluarga Hoa pada khususnya, Gwa-kong yang baik, turutilah kehendak Liong-ji- mu Dapatkah Liong-ji menanggulangi masalah ini seorang diri, sudilah kiranya gwa kong memberi kesempatan kepadaku agar Liong-ji dapat mencoba dan membuktikan kemampuanku"

Hoa in liong memang pandai merayu, mula-mula ia memberikan penjelasan menurut suara hatinya, menyusul kemudian memohon dengan setengah merengek-rengek seperti anak kecil, tentu saja Pek-siau-thian tak dapat berkutik lagi, terpaksa dia berpikir: "Walaupun bocah ini berambisi besar, tapi maklumlah kalau anak muda bercita-cita tinggi kalau tidak demikian tentu dia akan tenggelam dan tak bisa bangkit lagi. Baiklah Lebih baik kuperingatkan saja dirinya kemudian biarkan ia pergi, siapa tahu dengan andalkan kecerdikan serta kehebatannya, ia malahan bisa mendapat nama dalam dunia persilatan?"

Berpikir sampai disini, akhirnya dengan pura-pura berlagak kehabisan akal diapun menyahut:

"Baiklah untuk sementara waktu boleh saja kalau tak ingin kulaparkan kepada nenek dan ayah mu, tapi engkaupun harus menuruti beberapa patah kataku" Diam-diam Hoa In-liong merasa amat girang, cepat sahutnya:

"Tentu saja gwa-kong yang baik, pesan gwa-kong pasti akan Liong-ji perhatikan baik-baik"

serius air muka Pek siau-thian, katanya dengan nada bersungguh-sungguh:

"Pertama, engkau harus menghilangkan kebiasaanmu yang suka mengunggulkan diri dan meninggikan derajat sendiri Ketahuilah dalam dunia persilatan banyak terdapat jago-jago yang berilmu tinggi, dengan kepandaian yang kau miliki sekarang sebetulnya belum terhitung seberapa bila dibandingkan dengan mereka"

"Yaa gwa-kong Liong-ji pasti akan mengingat selalu peringatan ini, lain kali Liong-ji tentu tak berani mengunggulkan diri lagi" sahut Hoa- In-liong sambil anggukkan kepalanya berulang kali. Pek siau-thian berkata lebih jauh:

" Kedua, sebagai seorang manusia yang jujur, engkau harus mengutamakan keberhasilan di kemudian hari, jangan berlagak sok pintar, apalagi menggunakan akal dan tipu muslihat busuk untuk mencari keuntungan disaat itu. Tentang soal ini gwa-kong dan ayahmu adalah contoh yang paling jelas engkau harus mengguruinya baik-baik"

"Yaa gwa-kong. "jawab Hoa In-liong dengan hormat, "Liong-ji pasti akan mengutamakan kemantapan sebelum melakukan perubahan lain dalam menghadapi setiap persoalan"

Ketiga ibumu hanya melahirkan kau seorang, perduli dalam keadaan bahaya macam apapun engkau harus mengingat selalu akan ibumu, jangan bertindak terlalu gegabah sehingga mendatangkan kepedihan dan kemurungan bagi ibumu"

"Liong-ji akan mengingatnya selalu."

"Bagus." seru Pek siau-thian, tiba-tiba ia bangkit berdiri, "aku rasa banyak bicara tak ada gunanya asal ketiga hal itu bisa kau perhatikan dan laksanakan dengan sebaik-baiknya, aku rasa itu sudah lebih dari cukup, Terutama dalam hal yang ke tiga, asal tiap perbuatanmu tak sampai melupakan orang tua, berarti engkau berbakti kepada orang tuamu, dan ketahuilah menteri yang jujur adalah anak yang berbakti, Nah, aku akan segera berangkat engkau harus baik-baik menjaga diri."

Hoa In- liong merasa terperanjat, sekarang ia baru merasakan bahwa melakukan perbuatan tanpa melupakan orang tua meski gampang diucapkan namun susah untuk dilaksanakan, ketika dilihatnya Pek siau-thian sudah keluar pintu, tanpa berpikir panjang lagi ia menyusul dari belakangnya seraya bertanya: "Malam sudah larut, Gwa-kong akan pergi ke mana?"

"Aku akan berkunjung kekuil Pek ma-si, setelah mengatur layon dari Suma Tiang- cing suami istri aku akan langsung menuju bukit Im-tiong-san- Engkau pun segera berangkatlah Kalau toh sudah mengambil keputusan untuk berangkat keselatan, lebih baik segera lanjutkan perjalanan, tak usah membuang waktu lagi di kota Lok- yang ini."

Berulang kali Hoa In-liong mengiakan, dia mengantar Pek siau thian sampai dipintu depan, kemudian setelah berpisah baru kembali kekamarnya untuk beristirahat.

Keesokan harinya, selesai membereskan rekening berangkatlah Hoa- In- liong menuju selatan dengan melalui lam- yang dan menyeberangi wilayah Keng ou. sepanjang perjalanan tidak terjadi suatu kejadian penting, suatu senja akhirnya sampailah pemuda itu di Keng-bun.

Tiba-tiba ia mendengar suara derap kaki kuda yang sangat ramai berkumandang dari belakang, sewaktu ia berpaling tampaklah debu mengepul setinggi langit, delapan sembilan ekor kuda dengan membawa penumpangnya berpakaian ringkas semua bergerak dengan cepatnya mendekat ke arahnya, dalam waktu singkat mereka sudah tiba dibela kang tubuhnya.

Anak muda ini masih ingat dengan pesan ibunya, ia tak ingin menimbulkan banyak urusan, maka tali les kudanya ditarik dan menjalankan kuda nya ketepi jalan.

Ketika rombongan itu sudah lewat dan Hoa- In liong berhasil menyaksikan warna pakaian yang di kenakan orang- orang itu, mendadak hatinya terperanjat, ia lantas berpikir:

"Sungguh aneh Beberapa orang ini semuanya berbaju ungu, menyoreng pedang dari berusia sebaya, lagi pula mengenakan mantel berwarna hijau pupus, jangan-jangan mereka berasal satu rombongan dengan ciu Hoa?"

Berhubung debu beterbangan dengan tebalnya menyelimuti angkasa, dia tidak berhasil melihat jelas tampang dari beberapa orang itu.

sebagaimana telah diketahui, Ciu Hoa mengakui dirinya sebagai otak dari pembunuhan berdarah atas keluarga suma, lagipula diapun murid tertua- dari Hian-beng kaucu, setelah timbul kecurigaannya, tentu saja anak muda itu tak sudi melepaskan sasarannya dengan begitu saja.

Kudanya lantas dicemplak dan menguntit di dibelakang beberapa kuda itu dari kejauhan, sebentar kemudian mereka sudah memasuki pintu barat kota Keng-bun-

setelah masuk pintu kota, beberapa orang itu masih juga menghentak kudanya dengan kencang, mereka tak ambil perduli apakah jalan raya itu ramai dengan manusia yang berlalu lalang atau tidak, sesaat kemudian tampaklah banyak penduduk yang kabur pontang panting untuk menyelamatkan diri dari tubrukan- Menyaksikan kesemuanya itu, timbul perasaan antipati dihati Hoa In-liong diam-diam ia menyumpah dihati:

"Sialan benar orang-orang itu, mereka bukan anak buah perkumpulan Hian-beng-kiau, dengan perbuatan mereka yang semena-mena itu aku Hoa leji patut memberi pendidikan kepadanya, kalau tidak begini, bukankah rakyat kecil akan sengsara sepanjang tahun?"

sementara ia masih menyumpah, rombongan itu sudah tiba didepan sebuah rumah yang megah dan mentereng, orang yang bermantel hijau pupus tadi lantas melongok sekejap kedalam ruang penginapan itu kemudian sambil melompat turun dari atas pelana teriaknya lantang:

"Aaaah, dia benar-benar ada disini."

Dengan langkah lebar orang itu lantas berjalan masuk kedalam ruang penginapan.

Melihat pemimpinnya sudah masuk orang-orang yang lainpun segera turun dari kudanya dan menyusul dari belakang.

Tatkala Hoa In- liong mengejar sampai didepan pintu, ia temukan sebuah kereta kuda yang megah dan mewah diparkir dibalik pekarangan rumah penginapan itu, kereta tersebut berdinding kuning mas kecil mungil tapi mentereng, sudah jelas merupakan kendaraan dari kaum wanita, pada waktu itu orang pelayan sedang mengurusi kuda-kuda yang tertinggal di depan pintu, sedangkan manusia bermantel hijau pupus beserta rombongannya sudah tak kelihatan lagi.

sementara, sianak muda itu menjadi termangu- mangu, seorang pelayan munculkan diri dan menyambut dan berkata:

"Kongcu-ya mau menginap dalam rumah penginapan kami paling bersih, paling megah dan pelayanan paling memuaskan dalam kota Keng-bun sukar untuk menemukan keduanya" Hoa In-liong tidak segera menjawab, dalam hati-pikirnya:

"Ditinjau dari gerak gerik mereka tampaknya orang-orang itu tidak bermaksud baik, agaknya mereka sedang mengincar pemilik kereta- kuda ini, lain cerita- kalau aku tidak menjumpainya, sekarang setelah masalah ini kutemui, bagaimanapun juga tidak akan kubiarkan mereka untuk bertingkah semaunya sendiri"

Karena berpendapat demikian, dia pun mengangguk dan melompat turun dari atas punggung kudanya.

"Rawat kudaku ini baik-baik, besar ongkos nya dihitung dalam rekening besok" serunya berlagak royal.

Dengan kebiasaannya dilayani banyak orang, pemuda ini memang memiliki potongan sebagai keturunan orang besar atau bangsawan, gagah dan mentereng, ini membuat para pelayan mengira kalau mereka telah kedatangan seorang " cukong" kelas kakap. cepat mereka sambut tali les kudanya, kemudian sambil munduk-munduk mengantar pemuda itu masuk ruang tengah, katanya lagi dengan nada dibuat-buat:

"Heeehh... heeehhh... Kongcu-ya suka tempat yang ramai ataukah tempat yang agak sepi? Kalau suka tempat yang sepi, di ruang belakang sana ada kamar-kamar yang bersih, sebalikya kalau suka tempat yang ramai di ruang tengah terdapat kamar kelas satu, kamar termasuk air teh dan arak sudah tersedia komplit, kongcu-ya "

Agak bosan Hoa In-liong mendengar ocehan propaganda dari pelayan itu, cepat dia ulapkan tangan nya sambil menukas:

"Beberapa orang laki-laki berbaju ringkas tadi tinggal disebelah mana??" Pelayan itu agak tertegun, lalu menyahut:

"Mereka berada dihalaman tengah, tapi belum memutuskan mau menginap atau tidak, kongcu-ya "

"Sedang pemilik kereta Kuda yang parkir didepan pintu itu?

Dia tinggal dimana?" Pelayan itu seperti orang yang baru sadar, dia lantas berseru:

"ooooh.,..Jadi kongcu-ya satujalan dengan nona itu, ia tinggal dihalaman tengah, hamba segera akan hantar kongcu- ya "

"Kalau begitu aku akan tinggal diruang tengah persis disebelah kamar nona itu" Kembali pelayan itu tertegun, pikirnya dihati: "Aneh benar kongcu-ya ini, kalau toh berasal dari satu rombongan, kenapa musti menginap dikamar sebelah??"

Tiba-tiba terdengar seseorang menegur dengan suara yang merdu dan halus seperti suara keleningan:

"siapa disana? siapa yang ingin menginap dikamar sebelahku??"

Kiranya ruang sebelah depan dari rumah penginapan itu adalah rumah makan, kedua belah sisi ruangan merupakah ruangan-ruangan mungil yang ditutup dengan tirai horden, waktu itu kebetulan Hoa In-liong sedang lewat di depan salah satu ruangan, dan suara teguran yang merdu itu muncul dibalik ruangan tirai tersebut.

Hoa In-liong yang romantis dan suka main perempuan, kontan dibuat terkesima oleh suara teguran yang merdu dan mengandung daya tarik yang hebat itu, ia merasa sekujur tulangnya jadi kaku dan linu tak kuasa lagi dia berhenti seranya menyahut dengan girang.

"Aku yang berdiam dikamar sebelah, cayhe.. cayhe.." sebetulnya dia akan menyebutkan namanya, mendadak

timbul rasa was-wasnya, maka ucapan pun jadi gelagapan dan untuk sesaat tak sanggup dilanjutkan lebih jauh.

Menyaksikan sikapnya yang serba konyol itu sang pelayan cepat melengos sambil menahan rasa gelinya, sedangkan nona di dalam ruanganpun ikut tertawa cekikikan seraya berkata:

"Cayhe? siapakah cayhe in-ji, coba kau tengok keluar,

siapakah cayhe itu?"

Tirai disingkap orang menyusul seorang dayang cantik berusia empat lima belas tahunan munculkan diri, setelah memandang wajah In-liong sekejap ia lantas menyahut dengan nyaring:

"Lapor siocia, dia adalah seorang kongcu yang masih muda"

"oooh, seorang kongcu yang masih muda?" suara merdu itu berkumandang lagi sambil tertawa cekikikan, "kalau begitu suruh dia tak usah memesan kamar lagi, ruangan depan yang kita pakai toh kosong dan tak ada orangnya. In-ji undang dia segera masuk kedalam."

Keadaan yang terpapar didepan matanya sekarang membuat Hoa-In-liong jadi tercengang dengan alis berkerut ia berpikir:

"Siaucia dari manakah itu? Kenapa sikap dan perbuatannya begitu-jalang ?"

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, budak yang bernama- In-ji telah berkata- lagi sambil tersenyum:

"Kongcu, silahkan masuk Nona kami ada undangan-...,."

Timbul perasaan ingin tahu di hati Hoa- In liong, diapun tidak ambil perduli kecengangan yang tertera di wajah pelayan itu, setelah membereskan pakaiannya ia masuk ke dalam ruangan seraya berkata:

"setelah diundang oleh siocia mu, tentu saja cayhe harus memenuhinya, nona in-ji silahkan"

setelah masuk kedalam ruangan Hoa- In liong merasa matanya jelalatan dan terasa lebih terang bahkan untuk sesaat ia berdiri tertegun dengan mata terbelalak dan mulut melongo.

Cantik nian dara yang berada dalam ruangan itu nona itu mempunyai sepasang mata yang jeli, hidung yang mancung dan bibir yang kecil mungil dari atas sampai ke bawah tidak nampak cacad bahkan menyiarkan daya pesona yang amat tebal ketika itu dengan senyum manis dikulum sedang memandang kearahnya tanpa berkedip. meski belum mencicipinya Hoa- In- liong sudah merasa terpikat dan hampir mabok rasanya.

Nona cantik itu memandang sekejap kearah pemuda itu, lalu sambil tersenyum katanya: "silahkan duduk"

seperti baru sadar dari lamunannya, Hoa In-liong segera tertawa paksa sambil menyahut:

"silahkan duduk silahkan duduk" Ia menarik sebuah kursi dan segera duduk.

Nona cantik itu mengerling kembali dengan genit, kemudian sambil menutupi bibirnya ia berbisik:

"Aku merasa amat beruntung dan berbangga hati bisa mendapat perhatian dan kasih sayang dari kong-cu, terimalah penghormatanku ini"

Seraya berkata dia lantas bangkit memberi hormat.

Hoa In-liong ikut bangkit seraya menjura membalas hormat, sahutnya:

"Kecantikan nona bak bidadari dari khayangan cayhe bisa mendapat kesempatan untuk berkenalan dan minum arak bersama, hal ini merupakan suatu keberuntungan pula bagiku"

Perempuan cantik itu tidak merendahkan diri-lagi, ia lantas berpaling kearah In-ji seraya menegur:

"Eeeh, In-ji Kenapa melongo saja ? Hayo penuhi cawan kongcu dengan arak."

Mendadak In-ji seperti sadar akan kesilafannya-sambil tertawa cekikikan, ia menyahut:

"Kongcu ini terlampau tampan, in-ji sampai- ke semsem rasanya dibuat..."

Ia mengambil poci arak dari atas meja, memenuhi cawan dihadapan kedua orang itu, lalu melirik sekejap lagi kearah wajah Hoa- In- liong.

Terhadap tingkah laku maupun perbuatan in-ji yang genit, nona cantik itu sama sekali tidak melarang, bahkan seakan- akan tidak pernah dilihatnya sambil angkat cawan araknya dan melirik lagi ke-arah pemuda itu ia memperkenalkan diri:

"Aku-she cia bernama In, terimalah penghormatan secawan arak dari aku yang rendah" Sekali teguk dia lantas menghabiskan isi cawan tersebut.

Hoa-In-liong pun angkat cawan sendiri dan meneguknya sampai habis, kemudian berkata pula:

"cayhe-she she Pek, Pek dari kata Hek pek (hitam putih) dan bernama Khi"

Meskipun ia sudah kesemsem, namun kewaspadaannya masih tetap ada dan nama yang dilaparkan pun nama palsu. Agaknya Cia-In mengira kalau pemuda itu jadi gugup lantaran baru pertama kali bertemu dengan gadis, ia tidak memikirkannya dihati, sambil tertawa katanya pula:

"Bila didengar dari logat kongcu agaknya engkau bukan penduduk wilayah sini, apakah engkau sedang mengembara sebagai seorang pendekar...?"

Hoa ln- liong sangat terperanjat, terutama setelah mendengar kata-kata yang terakhir, kesadaran yang sudah mulai terbuai oleh kecantikan wajah nona itu serta merta menjadi sadar kembali, cepat sahutnya:

"Cayhe berasal dari wilayah Cing- pak, kebetulan aku lewat diwilayah Kang-ouw karena bermaksud untuk berpesiar kewilayah Kang- lam, sungguh tak disangka telah berjumpa dengan nona, inilah yang dinamakan apa mau dikata kalau sudah berjodoh, tak kenalpun akhirnya harus bertemu"

sekalipun jawabannya sudah lebih waspada dan hati-hati, toh sifat romantisnya tak ketinggalan sehingga tanpa disadari terutarakan juga dibalik-kata-kata itu.

sekilas rasa kaget dan tercengang menghiasi wajah Cia-In setelah mendengar ucapan itu, tapi- hanya sebentar saja sikap itu telah lenyap kembali, katanya kemudian sambil tertawa getir:

"Aku yang rendah numpang tinggal dikota Kim-leng, baru saja kami pulang diri sembahyang di bukit Go-bi. Kongcu Bila kau bermaksud untuk berpesiar ke selatan, kita bisa melakukan perjalanan bersama-sama, bila tidak menampik akupun bisa untuk menjadi petunjuk jalan bagi kongcu"

Sementara itu Hoa ln- liong sudah dapat menguasai diri, kewaspadaannya makin dipertingkat, tak kuasa lagi iapun berpikir:

" Entah nona ini perawan dari keluarga mana? Dan siapa dia yang sebenarnya? Kalau toh naik ke bukit Go-bi untuk sembahyangan kenapa tak ada laki-laki yang mengiringi? Ia bilang numpang tinggal dikota Kim-leng, lalu di manakah asal tempat tinggal yang sebenarnya?" sebelum pelbagai persoalan itu dapat dipecahkan, In-jisi dayang itu sudah memenuhi cawannya kembali dengan arak. kemudian berkata sambil tertawa:

" Kongcu- ya, hayo minum arak Kalau toh kita sudah berjodoh dan ditakdirkan bertemu apa salahnya kalau melanjutkan perjalanan bersama-sama, siapa tahu jodoh ini makin lama semakin dalam? Kalau sikapmu masih sangsi terus, bukankah itu berarti memandang asing diri kami? Hari- hari esok masih panjang..."

setelah mendengar perkataan itu, meski rasa curiga mencekam perasaannya dan d iapun merasa bahwa tingkah laku dia orang itu terlampau aneh, toh anak muda ini tak berhasrat untuk memikirkan lebih jauh.

Dia lantas mengangkat cawan arak sendiri dan berkata sambil tertawa nyaring:

"Benar Ucapanmu memang benar Kalau masih sangsi dan bertindak tanduk kaku. itu namanya memandang asing. Nona Cia, kuhormati engkau dengan secawan arak" sekali teguk. Ia menghabiskan isi cawannya.

Pemuda ini memang berlapang dada, kebiasaan nya yang romantispun serta merta diperlihatkan dengan nyata, maka cawan demi cawan air kata-katapun mengalir masuk ke dalam perutnya, pembicaraan berlangsung dari barat sampai ke timur bahkan ia mulai main mata dengan cia In, saling mengerling saling menggoda dengan bebasnya.

Yang lebih hebat lagi, akhirnya yang satu memanggil "engkoh Khi" sedang yang lain menyebut "enci In", seakan- akan mereka merasa kecewa mengapa tidak berjumpa sejak dulu kata, saking terbuainya kedua orang itu sampai lupa waktu.

Entah sampai kapan senda gurau itu berlangsung, akhirnya Cia In tak kuat menahan pengaruhnya alkohol, dengan sempoyongan ia bangkit berdiri seraya berkata:

"Engkoh Khi, besok pagi pagi aku harus melanjutkan perjalanan lagi, maafkanlah daku, aku tak dapat menemani kau minum lagi" sepasang lengannya diluruskan ke depan dan tubuhnya roboh kemuka, persis jatuh dihadapan tubuh Hoa In-liong.

Cepat sianak muda bertindak dengan merangkul pinggangnya erat-erat, serunya pula: "Benar Benar Waktu dihari esok, masih banyak, kita memang harus pergi beristirahat."

Begitulah sambil berpeluk pelukan dengan dipimpin dayang In-ji mereka kembali kedalam kamar meski dengan langkah sempoyongan-.

Waktu itu Cia In entah benar-benar sudah mabok atau hanya berlagak belaka, sekalipun sudah berada dalam kamar, ia masih memeluk tubuh Hoa In-liong kencang-kencang.

Hoa In-Iiong sendiri walaupun belum mabok. dasar suka main perempuan tentu saja ia segan untuk melepaskan rangkulannya dari tubuh sang nona yang lembut, halus harum baunya itu.

In-ji si dayang itu lebih hebat lagi, ternyata ia segera menutup pintu, memasang lentera dan dengan senyum dikulum ia mengawasi atraksi yang hot dihadapannya itu dengan mata melotot besar, seakan-akan ia sedang menikmati suatu pertunjukan indah yang amat mempersonakan hatinya.

Selang sesaat kemudian, terdengar Cia In mengeluh lirih kemudian telapak tangannya pelahan-lahan bergeser ke bawah, mula-mula meraba lengan Hoa In-liong yang keras, lalu dadanya yang bidang dan akhirnya turun kearah pinggangnya,......

Mendadak. telapak tanganrya itu secepat kilat meraba

punggungnya, dengan jari tangan yang ditekuk seperti kaitan ia totok jalan darah Leng tay-hiat ditubuh anak muda itu.

Hoa In-liong masih belum merasa akan tibanya ancaman yang membahayakan jiwanya itu, bila totokan tersebut bersarang telak, niscaya anak muda itu akan tewas atau paling sedikit terluka parah. Untunglah disaat yang kritis, tiba- tiba pintu kamar, ditendang orang sampai lebar "Blaaaaang........!" menyusul munculnya seseorang berdiri didepan pintu sambil bertolak pinggang.

"Bagus! Bagus!" teriak orang itu dengan marah "kiranya engkau siperempuan anjing pandai berpura-pura suci, tak tahunya engkaupun suka bermain main dengan laki-laki.

Hmm! Aku orang she-Ciu ingin bertanya kepadamu, bagian yang manakah dari kongcu mu yang tak dapat memadahi bocah keparat tersebut? "

Bentakan tersebut seketika mengejutkan dua orang muda- mudi yang sedang bermesraan itu sehingga tersadar kembali. Hoa In-liong memutar badannya menghadang di depan Cia

In, kemudian bertanya dengan tercengang: "Engkau she-Ciu?"

"Kongcumu bernama Ciu Hoa, jalan tidak berganti marga, duduk tidak berganti nama, bila engkau tahu diri, cepat, menyingkir kesamping situ, kongcumu bukan datang untuk mencari gara-gara dengan engkau!" teriak orang itu marah marah.

Hoa In liong semakin tertegun dan mengawasi orang itu tanpa berkedip, tapi makin dilihat semakin tak percaya dengan telinga sendiri. makin dipandang ia semakin merasa bahwa orang yang berada dihadapannya sekarang bukan Ciu Hoa.

Tapi.,, mengapa ia mengaku dirinya sebagai Ciu Hoa? Kalau toh dia benar Ciu Hoa, mengapa tampang wajahnya dapat berubah? Untuk sesaat ia jadi tertegun dan tak tahu apa yang mesti dilakukan, pelbagai kecurigaan berkecamuk dalam benaknya.

Berbicara tentang dandanan, pakaian serta senjatanya, orang yang mengaku bernama "Ciu Hoa" ini mempunyai kemiripan dengan Ciu Hoa yang dijumpainya dikota Lok-yang, bahkan usia merekapun sebaya, hanya raut Wajahnya berbeda, watak dan tingkah lakunyapun tak sama, jelas mereka bukan seorang manusia yang sama.

000000O000000

TANPA terasa Hoa In-liong lantas berpikir "Orang ini beralis panjang bermata sipit, hidung lebar dan mulut besar, tampangnya model kuda berwarna hijau menyeramkan, sinar matanya cabul, kelopak matanya lebih banyak putih daripada hitamnya, jelas dia adalah seorang manusia yang keji dan lagi cabul, jelas dia bukan Ciu Hoa yang kujumpainya dikota Lok- yang. Tapi sekali pun nama bisa sama. masa dandanan,

senjata sampai anak buah yang mengiringi pun mempunyai corak yang tak berbeda? Sungguh aneh "

Sementara itu dengan langkah yang gemulai Cia In sudah maju kedepan, ia berdiri dekat sekali dengan Hoa In-liong, setelah membereskan rambut-nyu yang terurai kebawah, sapanya sambil tertawa genit.

"Kongcu. kita tak pernah bertemu yaa?"

Cia In adalah seorang nona yang cnatik jelita bak bidadari dari kahyangan, setiap tingkah laku dan gerak geriknya gampang menimbulkan rangsangan bagi yang memandang, maka kendati "Ciu Hoa" itu datang marah-marah, tetapi setelah menyaksikan senyum manisnya yang menawan hati padamlah hawa amarahnya itu, semua rasa mendongkol dan khekinya mendadak seperti tersumbat didalam dada, sukar untuk dilampiaskan keluar lagi....

Setelah tertegun sesaat, tiba-tiba ia berteriak lagi: " Tidak pernah bertemu? Hmmnn Kongcu mu dari

keresidenan Han-sian telah mengejar sampai kekota Keng- bun, hari yang manakah aku tak pernah berjumpa denganmu?"

"Aduuh mak, kalau begitu bukankah kita suiah pernah berjumpa enam sampai tujuh kali?" seru Cia In sambil melirik genit.

Kemudian sambil berpaling kearah In-ji,serunya pula; "Eeeh In-ji, pernahkah engkau berjumpa dengan kongcu

ini?" In-ji. cekikikan,

"Setiap hari sebelum kentongan keempat kita sudah berangkat, sebelum senja menjelang kita sudah beristirahat kapan bertemu dengan kongcu ini

"Aaai " Cia In menghela napas panjang, seperti lagi

menggerutu ia bergumam sendiri: "Memang begitulah penyakit yang kuderita semenjak kecil, aaai, penyakit itu membuat aku jadi sengsara, kalau tidak demikian, kami tak akan berani menimbulkan kemarahan dari Ciu kongcu"

Setelah terhenti sebentar, ia mengerling sekejap kearah "Ciu Hoa" itu dengan genit, lalu melanjut kan kata-katanya;

"Ciu kongcu, kau tidak tahu, aku mempunyai penyakit aneh yakni penyakit takut melihat setan terutama sekali bila ditengah hari bolong tiba-tiba berjumpa dengan setan jelek bermuka hijau bergigi taring.....Hiiiiih...!Niscaya selembar jiwaku akan kabur kembali keakhirat. oleh karena itu..."

"Karena ita kalian berangkat setiap kentongan keempat, dan beristirahat sebelum, tiap hari selalu berusaha untuk menghindari kongcu-ya mu ?"

sela Ciu Hoa dengan kemarahan yang masih berkobar. Sekalipun kemarahan masih membakar hatinya adapun merupakan teguran namun terdengar jelas bahwa suaranya

lebih lembut dan halus, ini menunjukan bahwa gerak-gerik Ciu In yang genit dan mempersonakan hari itu telah mendatangkan hasil yang mujur,

Tampaklah Ciu In mengedipkan matanya yang lentik, lalu mengirim sebuah kerlingan maut kearah lawannya, satelah itu dengan sedih itu dengan sedih ia berkata:

"Kongcu-ya, engkau benar-benar msnuduh orang hingga hatiku jadi penasaran. dengan keberanian apa apa aku berani menghindari diri kongcu? Aku hanya terbiasa berangkat pagi istirahat agak pagian saja, dan kebiasaanku ini sedikit diluar dugaan kongcu, kalau toh selama ini kita tak pernah berjumpa, hal ini bukanlah suatu kejadian yang disengaja "

Setelah berhenti sebsntar, tiba-tiba sambil tertawa ujarnya lagi:

"Kongcu-ya, aku mempunyai sepatah kata yang rasanya tidak pantas untuk diucapkan keluar boleh ku utarakan kepadamu?"

Ciu Hoa dapat menyusul nona itu sepanjang jalan, sudah jelas ia telah tergiur oleh kecantikan Ciu In, sebelum kejadian ini ini ia selalu mengira Cia In memandang dirinya terlampau jelek maka sengaja menghindarkan diri pertemuan, maka rasa penasaran, mendongkol dan gusarnya berkecamuk didalam dada.

Tapi setelah Cia In menunjukkan sikap yang aleman, genit dan merangsang dan lagi diapun sudah memberikan "penjelasan", api gusar yang Semula membakar hatinya kini sudah lenyap tak berbekas,

Maka setelah mendengar perkataan itu, ia lantas tertawa terbahak-bahak, serunya dengan girang:

" Haaahh haaahhhwhaaahhhl..,katakan saja terus terang-

ucapan tanpa tedeng aling-aling, sekalipun ada hal-hal yang tak pantas, kongcumu tak akan menyalahkan engkau"

Hoa In liong yang menyaksikan kesemuanya itu merasa geli juga didalam hati, ia lantas berpikir;

"Ciu Hoa memang sudah tergila-gila benar dengan nona itu sampai makian dari Cia In pun tidak dirasakan olehnya, malahan dia merasa sangat bangga....haaahhh...haaahhh....haaaahhh......

muka hijau gigi taring, meski tidak persis sama sekali, kemiripan tetap ada....haaahhh...haaahhh dasar tolol!"

Cia In sendiripun sedang tertawa cekikikan, lalu ujarnya kepada dayangnya In-ji:

"Jn-ji, pergilah keluar dan undang masuk beberapa orang tuan itu, jangan suruh mereka berdiri terlampau lama, nanti kita lagi yang disalahkan kurang hormat melayani tetamu"

"Baik nona" sahut In-ji. dia lantas berjalan ke luar dari ruangan tersebut.

Ciu Hoa semakin gembira hatinya, mendadak ia tertawa terbahak-bahak seraya berkata

"Engkau tak usah undang mereka ligi, orang-orang itu adalah anak buah kongcumu, biar berdiri sebentar tak apa- apa"

Mendengar perkataan itu In-ji lantas mutar badan dan membantah dengan merdu: "Sekalipun mereka adalah anak buah kongcu toh tidak pantas kalau engkau suruh anak buahmu menderita kedinginan diluaran sedangkan Kongcu ya mencari kesenangan disini?"

Cia In pura-pura menunjukan wajah tak senang hati, lalu menegur:

"Aaah, kamu ini benar-benar dayang tak tahu aturan,masa engkau berani membangkang perintah dari kongcu-ya?"

"Ciu Hoa" semakin nyaman lagi hatinya sehabis mendengar perkataan itu saking girangnya dia sampai terbahak-bahak.

"Haaaabhh....., .haaaaahhh.......haaaalili h apa

yang dia ucapkan memang ada benarnya juga baiklah! Aku akan suruh mereka pergi dari sini saja"

Ia lantas berpaling kepintu luar dan berseru lantang. "Eeeh kalian boleh bubar, aku tidak membutuhkan kalian

lagi ditempat ini!"

"Baik!" sahutan nyaring berkumandang dari luar pintu, diikuti suara langkah kaki yang ramai memecahkan kesunyian dalam waktu singkat suasana lelah pulih kembali dalam kesunyian.

Menggunakan kesempatan dikala "Ciu Hoa" berpaling, Cia In saling berpandangan sekejap dengan In-ji sambil tertawa gerak-gerik mereka misterius sekali.

Hoa In-liong yang dapat menyaksikan kejadian Itu, dalam hati kembali menggerutu pikirnya;

"Apa yang sebenarnya telah terjadi? Diam-diam perempuan ini hendak menotok jalan darahku caranya untuk turun tangan lihay sekali, dan sekarang diapun tahu kalau diluar pintu ada orangnya ini menunjukan kalau tenaga dalamnya luar biasa kalau toh benar ia membenci tampang Ciu Hoa yang jelek, apa salahnya untuk menggebah pergi secara terang-terangan?

Mengapa ia gunakau segala macam tipu muslihat untuk berpura-pura berlagak misterius? Jangan-jangan pandangankulah yang keliru, dia benar-benar adalah seorang perempuan binal?" Sementara itu Ciu Hoa telah selesai mengundurkan anak buahnya, ia lantas berpaling, sinar cabul dan tengik memancar keluar dari mata tikusnya, lalu sambil tertawa cekikikan katanya:

"Nona manis, sekalipun engkau tidak bermaksud menghindari aku, tapi perbuatanmu selama enam hari ini telah menyiksa perasaanku, setelah kutemukan kembali jejakmu, tak nanti akan kubiarkan engkau kabur dari cengkeramanku"

"Aaaaah Koagcu ini memang kebangetan" omel Cia In

sambil menggerutu tak tenang hati "aku toh tidak bermaksud untuk kabur dari tempat ini..,.,?"

"Haaaahh....haaaahh.v,.,,haaaflh.,,.., benar.. perkataanmu memang benar, lebih baik memang jangan kabur. Nah, kalau ingin mengucapkan sesuatu cepatlah katakan, aku telah bersiap sedia untuk mendengarkannya"

"Benar?Kau suka mendengarkan perkataanku" kata Cia In pula sambil tertawa manis, "begitu baru menurut namanya!"

Ia mengerling kearah Ciu Hoa kemudian sambil memberi hormat katanya:;

"Kongcu, silahkaa duduk"

Ciu Hoa tertawa terbahak-bahak tiada hentinya seakan- akan sukmanya telah digaet pergi, katanya pula:

" Duduk....duduk. engkaupun silahkan duduk!"

Dengan langkah lebar ia maju kedepan, menyeret sebuah kursi dan langsung duduk.

Cia In sendiri sambil merangkul lengan Hoa In Liong dengan mesra, selangkah demi selangkah maju ke depan.

Menghadapi keadaan begini, Hoa In-liong merasakan hatinya serba kacau, ia tak tahu bagaimanakah perasaan hatinya disaat itu, dalam hati ia berpikir.

"Sebenarnya permainan apakah yang sedang di rencanakan Cia In ini? Memangnya ia suruh aku dan Ciu Hoa ribut karena soal perempuan, sedang ia sendiri menonton dengan gembira? Hmmm! Kau anggap Hoa loji adalah manusia macam apa? Tak nanti akan membiarkan harapanmu itu terpenuhi"

Betul juga, paras muka Ciu Hoa seketika, berubah hebat. Pada mulanya, mungkin ia sudah terbiasa berbuat semena- mena, mungkin juga menganggap kepandaian sendiri amat tinggi, ia tak pandang sebelah matapun terhadap Hoa In- Liong, maka sejak awal sampai akhir ia tak menaruh perhatian terhadap pemuda itu,

Tapi sekarang setelah menyaksikan dua orang itu bermesrahan dan saling berpelukan, karena merasa cemburu dan panas hatinya, ia mulai memperhatikan pemuda itu dengan seksama.

Sekarang baru diketahui olehnya bahwa Hoa In Liong memang seorang penuda yang amat tampan-dan dikolong langit jarang ditemui laki-laki ganteng semacam ini, kontan api cemburunya berkobar, sinar bengis- memancar keluar dari balik matanya, ditatapnya sianak muda itu tanpa berkedip, kalau bisa dia ingin menerkam kemuka dan menggigit musuh cintanya itu,

Cia In sama sekali tidak memperhatikan kebengisan dan kemarahan orang itu, malahan seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa, dihadapan muka nya masih bermesrahan dengan Hoa In-liong ia berkata sambil tertawa

"Ciu kongcu. aku ingin menanyakan satu hal kepadamu apa benar engkau telah mengejar aku mulai dari keresiden-an Ban-sian sampai di kota Keng-bun ini?"

"Aaaah omong melulu, memangnya kau anggap kongcu

mu sedang membohongi kau?" sahut Ciu Hoa tidak sabaran, ia tarik kembali tatapan matanya yang tajam itu.

Setelah hatinya dibakar oleh api cemburu dan rasa penasaran, kehalusan serta serta keramah tamahannya sudah lenyap tak berbekas, sebagai gantinya ia mulai menyeringai seram, matanya bengis dan napsu membunuh terlintas diantara alis matanya,

Cia In masih juga tidak ambil perduli, malahan senyum manis masih dikulum.

"Kalau begitu, kongcu tertarik oleh kecantikan paras mukaku bukan..?" ujarnya lagi. Pertanyaan ini terlampau blak-blakan dan tanpa tedeng aling-aling, dalam suasana begini seharusnya "Ciu Hoa" sendiripun belum tentu bisa bersikap demikiam tapi nona itu dengan tanpa ragu-ragu telah mengucapkannya keluar, hal ini menyebabkan "Ciu Hua" jadi gelagapan dan berdiri tertegun dengan mata terbelalak, untuk sesaat ia tak mampu memberikan jawabannya lagi.

Cia In tertawa cekikikan, merdu amat suaranya ibaratnya burung nuri yang berkicau dipagi hari, sambil gelengkan kepalanya berulang kali ia berkata lagi:

"Menurut pendapatku, kongcu masih kurang bersungguh- sungguh, rasa tertarikmu hanya sambil lalu dan tak muncul dari sanubari yang bersih, betul bukan?"

"Hey, sebenarnya apa yang lagi kau katakan? Mengapa tidak kau terangkan saja secara blak-biak kan?" tukas Ciu Hoa tidak sabar, dahinya berkerut kencang, "engkau adalah nona paling cantik di dunia, meski kongcu mu sudah banyak bertemu orang, belum pernah kutemui nona secantik engkau bersungguh hati atau tidak buat apa kau tanyakan lagi?

Andaikata kongcu tidak menyukai dirimu, tak nanti kukejar engkau dari Ban-sian sampai kekota Keng bun"

"Aaah, belum tentu begitu?" seru Cia In sambil mencibirkan bibirnya, "kau tidak bersungguh hati hanya mulutmu saja pandai bicara manis. Andai kata kau benar-benar menyukai diriku, semestinya setiap kali sesudah mencari rumah penginapan, sebelum naik pembaringan toh tersedia waktu yang panjang dan berlebihan? Mengapa selama ini aku tak pernah menjumpai kongcu?"

Mendengar pertanyaan itu, "Ciu Hoa" tergagap, biji mata tikusnya jelalatan memandang kesana kemari, bibirnya bergetar seperti mau membantah namun tak sepatah katapun mampu diucapkan keluar, rasa heran, tercengang Cia In mengerutkan kening, kemudian menghela napas panjang

"Aaaai... Kalian orang laki-laki..."

"Eeeh..i,.! tidak betul..,.." mendadak "Ciu-Hoa" menjerit lengking, keras dan tajam suaranya. Jeritannya yang melengking ini bukan saja keras bahkan diluar dugaan, Cia In benar-benar di bikin terperanjat.

"Apanya yang tidak betul?" cepat ia bertanya.

"Ciu Hoa" mengeratkan dahinya rapat-rapat, matanya dipicingkan dan ia bergumam tak hentinya:

"Heran, Tanpa kuketahui jelas apa -sebabnya tiba-tiba aku merasa sangat mengantuk lalu terlelap tidur- betulkah aku amat lelah sehingga perlu beristirahat?"

Lama sekali ia terbungkam, agaknya orang itu sudah terjerumus dalam pemikiran yang mendalam dan bersungguh- sungguh, suasana jadi sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun,.

Sekilas senyum aneh terlintas diatas wajah Cia In, hanya sebentar saja senyum itu lenyap kembali. terdengar ia berkata lagi:

"Tidak diketahui sebabnya tiba-tiba mengantuk lantas tertidur? Aneh! Belum pernah kujumpai keadaan seaneh ini! Kenapa tidak kau lanjutkan perkataanmu itu?"

"Ciu Hoa" segera menengadah, dengan tak kalah herannya ia berkata pula:

"Memang aneh sekali kejadian ini! Tiap senja menjelang tiba, setelah bersusah payah menemukan tempat tinggalmu, dan setiap kali aku selesai membersihkan badan dan berdandanan. tiba-tiba aku diserang rasa mengantuk yang hebat kemudian terjatuh dipembaringan dan tertidur pulas sampai keesokan harinya ini "

"Aaah! Kau tak usah ini itu lagi" tukas Cia In marah-marah sebelum orang itu sempai menyelesaikan kata-katanya, "dari sini dapat dibuktikan sekarang. bahkan kongcu sesungguhnya tidak berniat serius, engkau cuma iseng dan pakai bicara manis!"

"Kau....kau jangan kau tuduh aku demikian!" bantah "Ciu

Hoa" dengan gelisah.

"Kalau tidak begitu, lantas apa yang harus ku katakan?

Bukankah setiap hari katanya kau selalu mengejar aku? Kenapa setiap kali kau berhasil susul diriku, bukan datang berkunjung melainkan malahan tertidur pulas ?

Bukankah ini membuktikan bahwa kau tidak berniat serius?" "Aku....aku " Ciu Hoa semakin gelagapan.

"Engkau tak perlu aku aku malulu" kata Cia-In cepat, "biar aku saja yang mewakili kongcu untuk memberi keterangan! Aku sama sekali tak berhasrat untuk tidur, tapi oleh karena setiap hari harus melakukan perjalanan jauh, maka badan ku benar-benar merasa penat dan perlu istirahat, bukankah begitu?"

"Tak mungkin badanku penat" bantah Ciu Hoa dengan wajah bersungguh-sungguh, "dengan ilmu silat yang kongcu miliki sekarang, sekalipun harus melakukan perjalanan,siang malam selama tiga hari juga tak akan merasa penat atau kehabisan tenaga.."

"Oooh ,! Kiranya kongcu adalah seorang jago persilatan,

tadinya aku mangira kongcu menggempol pedang hanya sebagai hiasan belaka seperti juga halnya dengan engkoh Pek Khi ini, biasa kan orang muda sekarang sok pamer"

Menyinggung soal Hoa In-liong! Ciu Hoa segera menunjukkan sikap muak dan benci, dengan bengis ia melotot sekejap kearah sianak muda itu,- kemudian tegurnya:

"Engkau bernama Pek Khi?"

"Benar, aku bernama Pek Khi!" Hoa In-liong mengangguk.

Ciu Hoa memutar biji mata tikusnya, kemudian sambil mendelik ia membentak lagi:

"Apa                    pekerjaanmu?" "Haaahhh....haahhh haaahhh.„. Ciu kongcu. caramu

mengajukan pertanyaan kurang sopan dan tak tahu adat, lantas kau sendiri apa pekerjaannya?"

Kontan Ciu-Hoa bangkit berdiri, teriaknya dengan marah: "Bagus! Bagus sekali perbuatanmu! Engkau berani bersikap

kurang adat kepada kongcumu?"

Hoa In-liong tetap tertawa ia menyahut,

"Soal ini tergantung pada Ciu kongcu sendiri, jika kau kurang adat maka akupun tak perlu bersikap sungkan- sungkan terhadap dirimu!" "Bagus! Bagus! Nyalimu memang terhitung besar " teriak

Ciu Hoa sambil tertawa seram, ia benar-benar naik darah.

Hoa In-liong jaga tak mau mengalah, cepat ia menukas sembari berseru:

"Engkau pernah membaca ajaran dari para Nabi dan pujangga belum? Bukankah disana dikatakan, bila orang tahu adat dan sopan santun, maka peluruh jagat dapat dikunjungi, sebaliknya kalau orang tak tahu adat dan sopan santun maka setengah jengkal tanahpun sukar didatangi, Cia kongcu kalau toh engkau mengakui sebagai orang persilatan, rasanya ajaran itu itu pasti sudah pernah diberikan oleh sesepuh perguruan kepadamu bukan ? Aku merasa tak pernah melanggar adat

dan tata kesopanan, tentu saja aku berani menghadapi keadaan macam apapun, apa sangkut paut nya antara nyali besar dan kecil?"

Beberapa patah kata itu diutarakan dengan senyum dikulum, sedikitpun tidak emosi atau marah, meski begitu dibalik kehalusan tetselip ketajaman, nada ucapannya jelas merupakan suatu nasehat juga suatu teguran yang keras"

Sebagai orang yang pintar tentu saja Ciu Hoa dapat menerka arti kata dari ucapan tersebut sontak ia naik darah, dengan muka menyeringai "Bocah keparat! Engkau berani mencari gara-gara dengan kongcumu? Hmm! Agaknya memang engkau sudah bosan hidup"

Hoa In-Liong berbuat demikian karena ia mempunyai tujuan tertentu, bergiranglah hatinya setelah melihat orang itu naik darah, sambil tertawa ujarnya lagi:

"Sekarang kita sedang berada dirumah penginapan, aku tidak percaya kalau Ciu kongcu berani membunuh orang dengan semena-mena, memangnya dianggap hukum negara salah tidak berlaku lagi "