Pukulan Si Kuda Binal Bagian 10

 
Bagian 10

Di bawah cuaca yang remang-remang, di belakang kuil yang berlapis-lapis, padri tua beralis putih itu duduk bersimpuh memberi wejangan panjang lebar  kepada  pemuda  yang  berlutut didepannya.

Dalam detik-detik yang gawat ini, bayangan masa lalu mendadak terpeta dalam benaknya. Petuah-petuah bak mutiara kata yang tulen dan sejati, laksana baja yang ditempa, kembali terngiang di telinganya, Sayang sekali, sejak lama Teng Ting-hou melupakan wejangan gurunya itu, di saat keadaan sudah gawat baru dia teringat, tapi sudah terlambat.

Akhirnya Teng Ting-hou sadar bahwa sekujur tubuhnya seperti dibelenggu kencang oleh suatu arus yang lunak tapi ulet, selunak otot yang mengering, dipotongpun tidak bisa putus. Umpama macan yang kecemplung di air yang dalam, atau lalat yang tersangkut di sarang laba-laba.

Laksana bayangan raksasa, telapak tangan Pek-li Tiang-ceng yang mirip kipas itu menindih tubuhnya. Jelas Teng Ting-hou tidak mampu mengelak. Bagaimanakah rasanya mati. Teng Ting- hou sudah memejamkan mata. Terbayang olehnya, di kamar pengantin pada malam pertama pemikahannya, betapa lembut isterinya memberi kenikmatan, tubuhnya yang montok kenyal dan paha yang mulus. Entah mengapa dalam sekejap sebelum ajalnya, semua adegan masa lalu terbayang dalam benaknya. Sandang pangan istri dan anak-anakku yang semua perempuan itu tidak  akan kekurangan seumur hidup, tiada persoalan yang perlu dibuat  kuatir, aku dapat  mangkat dengan rasa lega. Apa betul hatinya lega? Sesat tak mungkin mengalahkan kebenaran, keadilan akhirnya pasti menang. Mengapa justru dia yang kalah?

Walau dirinya kalah, namun ia percaya, keadilan dan kebenaran itu tidak akan pernah tumbang. Di saat Teng Ting-hou memejamkan mata, di kala jiwanya terancam elmaut, mendadak segulung angin kencang menyelonong dari samping mematahkan tenaga pukulan Pek-li Tiang-ceng, seumpama sinar mentari mengusir bayangan gelap di balik gunung. Demikian pula tenaga besar itu mirip sinar matahari, walau hangat dan lembut, tapi tak boleh dilawan atau ditahan.

Pek-li Tiang-ceng mundur tiga langkah, matanya terbelalak, dengan kaget dia mengawasi orang yang mendadak menyelonong dari pinggir. Waktu melihat orang ini, setelah Teng Ting-hou membuka mata, dia pun kaget dan terkesima.

Tadi orang ini kelihatan loyo dan reyot, bungkuk lagi, kalau berjalan timpang dan terseok-seok, namun sekarang dia berdiri tegak dan angker, sorot matanya pun tidak redup, tapi berubah garang, gagah dan muda bercahaya.

"Kau bukan Oh-lo-ngo?" teriak Teng Ting-hou. "Ya, bukan."

"Siapa kau?"

Rambut awut-awutan yang sudah beruban itu ternyata rambut palsu, demikian pula kulit muka yang berkerut- merut itu ternyata adalah topeng, setelah rambut palsu dan topeng dikelupas, tampaklah seraut wajah gagah jenaka di balik topeng, wajah yang tidak akan bosan untuk dipandang meski sehari semalam.

Ting Si.

Tanpa kuasa, Teng Ting-hou menjerit kaget, namun girang. "Ting Si?"

Pek-li Tiang-ceng menatapnya nanar. "Jadi kau inilah Ting Si yang pintar itu?"  Ting Si mengangguk, rona aneh terbayang disorot matanya, mimiknya pun ganjil.

"Ilmu silat apa yang barusan kau gunakan?" tanya Pek-li Tiang-ceng sambil menatap tajam.

"Ilmu silat tetap ilmu silat, ilmu silat hanya ada satu jenis, entah ilmu silat untuk membunuh orang atau ilmu silat untuk menolong orang, sama saja."

Bercahaya mata Pek-li Tiang-ceng, tak terduga olehnya pemuda ini bisa mengemukakan falsafat yang mendalam artinya. Seluruh jenis ilmu silat yang ada di dunia ini memang berasal dari satu sumber, semua sama.

Walau makna ini sudah jelas dan gamblang, semua insan persilatan tahu akan hal ini, namun orang yang benar-benar memahami falsafat ini amat jarang, sedikit yang bisa menyelami maknanya.

Siapa dan bagaimana asal-usul pemuda ini? Pek-li Tiang-ceng menatapnya penuh perhatian, tiba-tiba tangannya bergerak menyerang, gerak serangan yang lamban saja, seumpama hembusan angin sepoi yang dapat menenteramkan gelombang pasang di lautan teduh. Bagai aliran air terjun yang mengalir dari bukit yang tinggi, takkan putus meski dipotong dengan apa saja.

Pek-ti Tiang-ceng salah perhitungan, bukan golok baja yang dia hadapi, bukan gelombang pasang di lautan teduh, seluruh tenaga yang dia salurkan untuk menyerang hakikatnya tidak bermanfaat sama sekali.

Pek-li Tiang-ceng terbelalak, kaget dan tercengang, matanya terbeliak, gaya pukulan segera berubah, dari lembut dan lunak berubah keras dan kuat, kalau tadi lamban, kini berganti cepat, gerak tangannya menerbitkan deru angin kencang.

Reaksi Ting Si ternyata ikut berubah.

Terasa oleh Teng Ting-hou yang mundur ke samping, permainan ilmu silat kedua orang tua dan muda ini hakikatnya sama, mirip satu dengan yang lain. Seolah ada satu titik persamaan di  antara kedua orang yang berbeda umur dan perawakan ini. Agaknya Pek-li Tiang-ceng sendiri juga sudah merasakan dan menyadari hal ini, begitu tinjunya menjotos, mendadak dia mundur dua langkah.

Ternyata Ting Si juga menghentikan gerakannya, tidak menyerang lebih lanjut.

Pek-li Tiang-ceng menatapnya sekian lama, lalu bertanya dengan nada tinggi, "Siapa yang mengajarkan ilmu silat kepadamu?"

"Tiada orang yang mengajarkan ilmu silat kepadaku," sahut Ting Si kaku. "Lalu darimana kau memperoleh ilmu silat tadi?"

"Masa kau tak tahu? Apa benar kau tak tahu?" sikap dan mimik Ting Si agak aneh, suaranya juga ganjil, seperti merasa duka dan kecewa, amat menderita lahir batin.

Ternyata sikap dan rona muka Pek-li Tiang-ceng juga berubah aneh, hulu hatinya seperti ditusuk sembilu, entah mengapa mendadak badannya bergetar, dalam waktu singkat, kekuatan dan semangatnya seperti luluh dan buyar, lidahnya menjadi kelu, sepatah kata pun tak terucapkan  lagi. Sebagai tokoh besar yang sudah tergembleng lahir batin, kekuatan dan tekadnya, tak mungkin dalam waktu sesingkat itu luiuh.

Teng Ting-hou mengawasi dengan seksama, lalu menoleh ke arah Ting Si, Mendadak dia merasa kaki tangannya sendiri ikut menjadi dingin dan berkeringat.

Pada saat suasana diliputi duka dan derita, mendadak api lampion padam, keadaan menjadi  gelap gulita. Di saat perubahan terang menjadi gelap itu, seolah ada serumpun desir angin tajam meluncur di udara. Desir angin yang tajam dan runcing, begitu lirih dan enteng, sehingga sukar didengar. Hanya senjata rahasia yang menakutkan, bila disambitkan menimbulkan desir angin seperti itu. Kepada siapa senjata rahasia ini ditujukan? Siapakah sasarannya?

Begitu mendengar desir angin senjata rahasia menyerang, dengan seluruh kekuatan Teng Ting- hou menjejakkan kaki ke lantai, tubuhnya melambung ke atas satu tombak. Padahal keadaan gelap gulita, kelima jari sendiri sukardilihat, apalagi senjata rahasia musuh itu lembut lagi enteng, yang pasti dari desir angin senjata rahasia itu dapat dipastikan senjata rahasia yang disambitkan banyak jumlahnya, sehingga sukar diraba kepada siapa senjata rahasia itu ditimpukkan. Paling penting menyelamatkan diri, maka tanpa ayal Teng Ting-hou melambung tinggi ke udara.

Bagaimana nasib Pek-li Tiang-ceng dan Ting Si? Di saat hati dirundung rasa sedih dan haru, di waktu lahir batin terpukul dan perasaan terpukau, dirangsang oleh gejolak emosi, apakah mereka tetap waspada untuk menyelamatkan diri dari serangan gelap?

Kegelapan tak berujung pangkal.

Begitu Teng Ting-hou melambung tinggi ke udara, perasaannya justru seperti terbenam ke bawah. Di saat tubuhnya melambung dan bersalto di udara, matanya masih sempat melihat ke bawah, padahal sekujur badan ditelan kegelapan, demikian pula keadaan sekeliling, apa yang terjadi di sekitarnya, hakikatnya tidak diketahui sama sekali. Waktu datang tadi, dengan seksama dia sudah memperhatikan keadaan menara ini, keadaan kosong melompong, sejak dari bawah hingga tingkat teratas, tidak pernah ia melepaskan perhatian dan kewaspadaan, yakin Pek-li Tiang-ceng dan Ting Si juga pasti selalu hati-hati.

Kalau ada musuh datang menyergap, seorang di antara mereka pasti tahu. Tapi mereka tidak mendengar apa-apa, itu berarti tidak ada orang datang, lalu darimana datangnya serangan gelap itu? Teng Ting-hou tidak habis pikir.

Sementara itu, hawa murni yang dia himpun tidak mungkin mengangkat atau menahan tubuhnya lebih lama di udara, maka badannya mulai melorot turun ke bawah. Perubahan apa yang terjadi   di bawah? Apakah senjata rahasia ganas yang dapat menamatkan jiwa orang masih menunggunya?

Tinggi seluruhnya dari menara enam tingkat itu ada puluhan tombak, makin ke bawah, akan  terasa makin tinggi puncak menara papak itu. Maka bila berada di puncak menara dan melongok ke bawah, hati akan merasa ngeri dan giris. Dari tempat puluhan tombak tingginya, siapa berani melompat ke bawah, kecuali orang sinting atau seorang yang sudah kecewa hidup dan ingin  bunuh diri.

Di saat tu.buhnya melayang ke bawah, Teng Ting-hou mengertak gigi, dengan sisa tenaga terakhir dia membalik badan, lalu diam membiarkan tubuhnya meluncur ke bawah. Beberapa tombak kemudian, kira-kira berada di tingkat ketiga, dengan tangkas ia mengulur tangan meraih ujung payon.

Untung bangunan payon menara itu cukup kuat menahan daya luncurdan berat badannya, sehingga Teng Ting-hou berhasil menahan tubuhnya di udara dan tidak melayang turun ke bawah lagi, diam-diam ia menghela napas lega, karena dengan Ginkangnya yang tinggi, tubuhnya dapat bergerak seenteng daun. Lebih untung lagi setelah bersalto dua kali, seringan kapas kakinya berhasil menyentuh bumi, berpijak di bumi yang keras dengan selamat. Dalam sekejap itu, perasaannya berubah dua kali, mirip seorang bocah cilik yang lama berpisah, mendadak bertemu dan dipelukdi haribaan ibunda.

Di bawah temyata juga gelap gulita. Malam pekat, matanya tidak bisa melihat keadaan sekelilingnya, suara lirih apapun tidak terdengar.

Apa yang terjadi di tingkat keenam? Entah Ting Si selamat atau celaka oleh serangan musuh?

Teng Ting-hou mengepal tinju, rasa berdosa dan bersalah mendadak merangsang sanubarinya, dia merasa malu dan tidak pantas meninggalkan teman di saat orang menghadapi bahaya, padahal teman ini pernah menyeiamatkan jiwanya. Di saat jiwa penolongnya terancam bahaya, dirinya tidak berusaha menolongnya, sungguh aib dan memalukan.

Kalau di luar gelap, di dalam menara lebih gelap lagi, setiap jengkal mungkin ada perangkap, namun betapapun besar bahaya menunggu dirinya, kini Teng Ting-hou tidak gentar dan takut

!agi. Untuk menolong sahabatnya, dia akan nekad menerjang ke atas. Untunglah sebelum dia menerjang ke dalam menara, bayangan seorang telah menerjang keluar.

Padahal Teng Ting-hou sudah telanjur bergerak, segera dia menghimpun kekuatan, tenaga dikerahkan memberatkan badan, sehingga tubuh yang bergerak ke depan merandek dan anjlok ke bawah. Begitu kaki berpijak ke bumi, berbareng dengan bentakan mengguntur, tinju pun menggenjot ke arah bayangan orang yang melayang keluar.

Itulah Pak-pou-sin-kun, ilmu pukulan Siau-lim-pay yang sakti, tidak pernah luntur meski sudah menggetar Bulim selama tiga ratus tahun lebih. Pukulan tinju dilancarkan dengan landasan tenaga yang dahsyat, jangan kata telak mengenai tubuh, deru anginnya saja cukup membuat seorang pemberani pecah nyalinya. Namun kali ini Teng Ting-hou benar-benar dibuat kaget dan heran serta tidak percaya. Jelas pukulan tinju dahsyat itu dengan telak mengenai sasarannya, namun tidak tampak terjadi reaksi yang mengejutkan. Umpama tombak yang terbuat dari es, meski runcing dan keras, waktu disambitkan tahu-tahu sirna dan mencair tanpa bekas karena ditimpa cahaya matahari.

Tahu bahwa pukulan tinjunya gagal merobohkan sasaran, Teng Ting-hou menghela napas lega malah, segera dia berkata lunak, "Kau Siau Ting?"

Bayangan orang yang meluncur keluar dari menara itu memang betul Ting Si.

Kembali Teng Ting-hou tertawa getir sendiri. Biasanya Teng Ting-hou cukup cermat dan teliti bila melontarkan pukulan tinjunya, tapi hari ini dia gagal, mungkin karena terlalu tegang sehingga tindakannya agak berangasan. Maklum turun tangan lebih dulu memang lebih menguntungkan. Petuah ini belum tentu tepat, karena situasi dan kondisi merupakan penentu yang tidak boleh ditawar lagi.  Menunggu untuk mengunci,  tenang menundukkan kekerasan, bergerak  belakang tiba mendahului lawan, itulah makna mendalam dari berbagai unsur ilmu beta diri yang sejati.

Berbagai macam ilmu silat yang menjadi ajaran tunggal pihak Siau-lim memang patut membuat orang menaruh hormat dan menghargainya. Bukan karena kehebatannya, tapi karena pelajaran ilmu silat itu dapat menyatukan kekuatan intisari ilmu silat dengan ajaran agama yang mereka anut. Ilmu silat dan agama manunggal.

Teng Ting-hou  menghela napas,  mendadak ia  sadar, nama besar dan sukses  bukan jaminan bagi umat manusia untuk tumbuh dan hidup lumrah, malah sebaliknya dapat membuat manusia mundur dan loyo. Karena kebesaran nama dan kesuksesannya, manusia akan lupa daratan, lupa akan hal-hal yang sebetulnya perlu mereka canangkan.  Tapi sekarang bukan saatnya berduka  dan menyesal, Teng Ting-hou mengempos semangat, katanya kemudian, "Kau mendengar sambaran angin senjata rahasia itu?"

"Ehm," Ting Si menjawab dengan suara dalam mulut. "Siapakah pembokong itu?" tanya Teng Ting-hou. "Entah, aku tidak tahu."

"Kalau aku tidak salah duga, senjata rahasia tadi disambitkan dari tingkat kelima, jadi dari bawah menyerang ke atas."

"Ya, mungkin."

"Tapi aku tidak melihat ada orang keluar dari bawah." "Aku juga tidak melihat."

"Aku yakin orang itu bersembunyi dalam menara." "Kenyataan tidak ada."

"Kau tak menemukan jejaknya? Atau memang orangnya tidak ada?" "Kalau ada pasti dapat ditemukan."

"Senjata rahasia jenis apapun, tanpa sebab tidak mungkin menyerang sendiri." "Ya, tidak mungkin." "Kalau senjata rahasia itu disambitkan, tentu dilakukan oleh manusia." "Ya, pasti manusia."

"Kalau benar manusia, tak mungkin bisa lenyap tanpa bekas." "Benar."

"Lalu dimana orang itu? Apa mungkin penyerang gelap itu bukan manusia, tapi setan?" "Kau percaya ada setan di dunia ini?"

"Aku tidak percaya."

"Seharusnya kau sudah tahu siapa penyerang gelap itu, juga tahu bagaimana dia berada di tempat ini? Bagaimana pula dia menyingkir? Tapi kau tidak mau memberi penjelasan kepadaku?"

Ting Si diam saja, tidak menyangkal.

"Mengapa tidak kau jelaskan?" desak Teng Ting-hou.

Ting Si terpekur malah, akhirnya ia menarik napas panjang, "Umpama kujelaskan, kau pasti tidak percaya."

"Mengapa?"

"Karena banyak segi kebetulan dalam peristiwa ini." "Segi apa yang kebetulan?"

"Dalam pelaksanaan kerjanya, rencana sudah diatur rapi dan cermat, tapi kalian masih dapat menemukan berbagai titik kelemahannya, setiap kelemahannya itu, kebetulan dapat menuntun berbagai sumber penyelidikan pula. Secara kebetulan pula seluruh sumber penyelidikan itu cocok dengan pribadi dan kondisi Pek-li Tiang-ceng seorang saja."

- Bertamu tengah malam pada tanggal 13 bulan 5.

- Waktu yang juga kebetulan.

- Ilmu silat yang tinggi tiada tara.

- Dengus napas yang tersengal-sengal dari seorang penderita penyakit asma.

- Obat yang dibuat dari candu.

- Rahasia perusahaan yang tidak mungkin diketahui orang luar.

Teng Ting-hou menghela napas gemas, "Kalau dipikir secara cermat, berbagai kejadian dan persoalan itu memang kebetulan cocok."

"Tapi semua itu bukan paling  kebetulan."

"Jadi ada yang paling kebetulan?" tanya Teng Ting-hou. Suara Ting Si menjadi getir, "Kebetulan aku adalah putra Pek-li Tiang-ceng."

Teng Ting-hou menghela napas panjang, "Jadi Kang Hun-sin adalah ibu kandungmu?" "Kau sudah tahu sebelumnya?" tanya Ting Si.

Teng Ting-hou menggeleng kepala sebagai jawaban. "Kenyataan ini agaknya tidak membuatmu heran."

"Dulu pernah kupikir tentang hal ini, tapi kalau kau tidak menjelaskan, aku tidak berani memastikan."

"Apa yang dapat kau pastikan? Memastikan bahwa Pek-li Tiang-ceng adalah penghiianat? Mata- mata atau pembunuh keji itu?"

"Sebetulnya hampir aku yakin demikian, maka. "

"Maka begitu kau berhadapan dengan Pek-li Tiang-ceng, tanpa tanya duduk persoalannya, kau lantas mengajaknya berduel."

"Dalam keadaan seperti itu, memangnya aku harus tanya apalagi?"

"Sepantasnya kau tanya padanya, mengapa dia berada di tempat itu? Siapa yang dia tunggu di sana."

"Jadi bukan dia yang mengundang kami ke sini?" "Bukan."

"Lalu siapa yang dia tunggu?"

"Seperti engkau, dia pun ditipu orang untuk kemari. Yang ditunggu adalah orang yang sedang kau cari." .

"Jadi dia pun mencari pembunuh itu?" "Kau tidak percaya?"

"Waktu melihatku, apakah dia tak berpendapat, akulah pembunuh itu?" "Waktu kau melihat dia di sini, bukankah kau juga beranggapan demikian?" Teng Ting-hou melongo.

Ting Si menarik napas dalam, "Kelihatannya Ngo-siansing memang seorang cerdik, pandangannya terhadap kalian tidak meleset.."

"Siapa Ngo-siansing?"

"Ngo-siansing adalah pimpinan cabang Ceng-liong-hwe dengan kodetanggal 13 bulan 5, tepatnya pemeran utama atau perencana seluruh peristiwa ini. Jelas dialah biang keladinya."

Teng Ting-hou menjublek.

Kata Ting Si sambil menyeringai dingin, "Ngo-sian-sing sudah memperhitungkan, begitu berhadapan kalian akan saling labrak. Sebagai pendekar besar, orang gagah yang disegani dan berwibawa, kalian selalu beranggapan apa yang kalian pikirdan kerjakan pasti benar, kalau persoalan sudah jelas, buat apa banyak omong lagi. Kalau bertarung dengan sengit, entah mati atau hidup, bukankah menyenangkan."

Teng Ting-hou diam mendengarkan dengan cermat, hatinya mengakui apa yang diucapkan Ting Si memang benar, memang demikianlah penyakit umum setiap tokoh persilatan.

"Menurut rencana, saat ini kalian sudah mampus di menara itu, sayang sekali. "

Akhirnya Teng Ting-hou mengangkat kepala, katanya dengan tertawa, "Sayang sekali, kebetulan kau adalah putra Pek-li Tiang-ceng. Kebetulan pula kau adalah teman baikku, lebih kebetulan   pula kau adalah Ting Si yang cerdik pandai."

Wajah Ting Si kaku, matanya menatap tajam, sinar matanya membayangkan rasa senang dan lega.

Di tengah malam yang hening itu, dari dalam menara tingkat tiga, mendadak berkumandang bentakan keras, menyusu! suara "Blang" yang keras, seperti batu raksasa jatuh dari langit, sehingga menimbuikan getaran keras. Tiba-tiba dinding menara jebol dan bolong. Keadaan dalam lubang itu gelap guiita, lima jari sendiri pun tidak kelihatan.

"Mana Pek-li Tiang-ceng?" seru Teng Ting-hou terkesiap kaget. "Waktu kau keluar, kau melihatnya tidak?"

Ting Si menggeleng kepala.

"Apa dia bentrok dengan Ngo-siansing?" tanyanya gugup.

Ting Si menggeleng kepala lagi, roman mukanya mulai masam, perasaannya berat. "Mengapa kami hanya menonton saja di sini,  apakah tidak. "

Belum habis Teng Ting-hou bicara, dari dalam menara berkumandang lagi bentakan dan caci maki, suaranya berada di tingkat dua. Menyusul terdengar "Blang" sekali iagi, kali ini tembok ambruk, hampir saja Teng Ting-hou dan Ting Si tertimpa.

Walau tidak menyaksikan pertarungan yang terjadi di atas, namun dapat mereka bayangkan betapa tinggi kepandaian dua jago yang berlaga di atas menara, dari tenaga pukulan mereka yang mampu merobohkan dinding.

Ilmu silat Pek-li Tiang-ceng belum terhitung nomor satu di dunia persilatan, namun nama besar   dan kedudukannya, diperoleh karena ilmu silatnya yang tinggi. Sementara kaum Bulim berpendapat, di kalangan Piaukiok gabungan itu, ilmu silat Pek-li  Tiang-ceng  juga  belum termasuk paling top. Tapi orang yang mengenal pribadinya tentu tahu, bahwa Pek-li Tiang-ceng memiliki kekuatan tersembunyi, menyimpan ilmu silat yang tidak diketahui orang, karena ilmunya  itu belum pernah dipertunjukkan di depan umum.. Dirinya bak naga yang bersembunyi di rawa. Latihan Lwekang dan Gwakangnya, boleh dikata sudah mencapai puncak tertinggi, apalagi meski sudah lanjut usia,  dia masih tekun berlatih dan  belajar, selaiu menyeiami  intisari ilmu silat berbagai cabang perguruan yang terkenal. Jarang ada tokoh besar yang bisa menandingi dirinya dalam bidang ini.

Berbagai persoalan yang dikemukakan di atas, tentu sudah diketahui oleh Teng Ting-hou, apalagi barusan dia sudah bergebrak langsung dengan Pek-li Tiang-ceng.

Musuh yang bergebrak melawan Pek-li Tiang-ceng dalam menara, tentu memiliki ilmu silat yang luar biasa, kemampuannya tidak di bawah kepandaian Pek-li Tiang-ceng, lalu siapa Ngo-siansing sebetulnya? Siapakah tokoh kosen yang memiliki ilmu silat tinggi yang mampu menandingi Pek-li Tiang-ceng?

Kaiau Ngo-siansing adalah mata-mata atau pengkhianat yang menjual rahasia perusahaan, pembunuh Ong-loyacu, maka boleh diduga, kalau bukan Kui Tang-king, Kiang Sin, tentu Sebun Seng. Apakah ketiga orang ini patut dicurigai?

Persoalan ruwet ini berkelebat sekejap direlung hati Teng Ting-hou, di saat seperti ini, dia tak sempat merenungkan lebih jauh. Teng Ting-hou siap menerjang ke dalam menara, mendadak terjadi getaran keras, suara gemuruh seperti gempa dahsyat. Menara yang sudah buntung itu mendadak ambruk dan runtuh total rata dengan tanah.

Bagaimana nasib Pek-li Tiang-ceng yang sedang bertarung dengan musuh dalam menara? Apakah mereka terkubur bersama? Debu, pecahan kayu, bata dan genteng laksana gumpalan mega gelap, dengan suara gemuruh menggoncang puncak gunung itu.

Baru saja terbesit pikiran dalam benak Teng Ting-hou untuk melompat mundur, Ting Si sudah bertindak menarik tangannya, begitu tubuhriya terlempar di udara, ia bersalto mundur ke belakang.

Waktu dirinya masih muda dulu, di Siau-lim-si yang kuno dan tua serta angker itu, sering para  padri agung yang berkepandaian tinggi memuji dirinya, 'Watakmu memang handal, tapi gegabah, biasanya anak-anak yang  berwatak seperti dirimu, jarang  yang bisa memperoleh  taraf kepandaian yang kau miliki sekarang, tapi ingat, bila kelak kau bertarung dengan orang, apalagi kepandaiannya lebih tinggi, kalau kau berlaku tabah dan sabar, belum tentu lawan dapat mengalahkanmu, reaksimu cukup cepat untuk mendahului lawan'.

Setiap manusia, bila mendapat pujian dan diagulkan orang lain, dengan mudah akan mengukir peristiwa itu dalam lubuk hatinya. Sebetulnya sudah lama Teng Ting-hou melupakan pujian itu, tapi sekarang dia sadar, bahwa reaksinya sudah tidak secepat dulu, geraknya tidak setangkas waktu mudanya dulu.

Terbukti Ting Si yang lebih muda bergerak lebih cepat, gerakannya lebih cekatan. Apakah usia menjadi penentu gerak manusia? Lebih tua usianya makin lambat gerak-geriknya, apakah 'tua' itu dapat mengundang duka lara bagi umat manusia?

Teng Ting-hou terlempar lima tombak jauhnya, dengan ketangkasannya dia dapat hinggap di tanah dengan berdiri tegak, lalu menjublek di situ tanpa bergerak sekian lama. Debu pasir reruntuhan menara menghujani tubuhnya, namun tidak dirasakan olehnya.

Adalah jamak bila setiap orang menilai tinggi kemampuan diri sendiri, bila suatu ketika seorang menyadari betapa rendah nilai harga dirinya, pasti dia akan merasa kehilangan sesuatu. Itulah salah satu duka lara manusia, duka lara ini jelas takkan bisa dihindarkan.

Keadaan menjadi sunyi, alam semesta seperti beku, seluruh keributan berhenti, kebekuan ini  justru menyadarkan Teng Ting-hou dari lamunannya. Kegelapan tetap terbentang di depan mata. Menara enam  tingkat yang  kelihatan  angker tadi, kini sudah runtuh tinggal puing  yang hampir rata dengan tanah. Kejadian hanya sekejap, semula menara itu mirip raksasa yang berjongkok di atas gunung, memandang hina bumi dengan pohon dan rerumputan di bawah kakinya. Tapi sekarang raksasa itu runtuh, ambruk di atas tanah dan rerumputan yang dia hina, yang dia remehkan.

Ternyata menara juga mirip manusia, makin tinggi manusia merambat ke atas, lebih mudah dia terjungkal, makin tinggi memanjat, jatuhnya pun lebih parah. Akhirnya Teng Ting-hou menghela napas.. Bukankah Pek-li Tiang-ceng dan Ngo-siansing adalah tokoh besar yang sudah merambat cukup tinggi. Teringat Pek-li Tiang-ceng, mendadak Teng Ting-hou berjingkrak kaget, teriaknya, "Mereka sudah keluar belum?"

"Belum," sahut Ting Si.

Kalau menara ambruk dan orang di dalamnya tidak sempat keluar, itu berarti tertindih dan  terkubur di bawah reruntuhan menara yang ambruk. Berubah air muka Teng Ting-hou, bergegas dia melompat ke sana, di tengah kegelapan, di tempat berdirinya menara tadi, batu bata ber- tumpuk mirip sebuah kuburan besar. Manusia yang terkubur di bawah tanah, jangan harap kuat bertahan hidup. Apalagi di bawah reruntuhan sebuah menara enam tingkat.

Tangan Teng Ting-hou dingin berkeringat, lututnya terasa lemas dan goyah. Pek-li Tiang-ceng bukan teman baiknya, namun entah mengapa hatinya amat sedih dan pilu, menyesal karena merasa dirinya bersalah terhadap Pek-li Tiang-ceng.

Ting Si berada di belakangnya, mengawasi tanpa suara, seperti ikut merasakan gejolak yang merangsang hati temannya. Setelah menghadapi kenyataan ini, curiga dan salah paham terhadap Pek-li Tiang-ceng, disadari merupakan kesalahan yang tidak Bisa dipungkiri lagi.

Maka tampak rasa lega dan senang dalam sorot mata Ting Si, kejadian ini memang diharapkan setulus hati.

Kebetulan Teng Ting-hou menoleh, sekilas dia mejihat mimik Ting Si itu, maka dia berkata, "Apa benar Pek-li Tiang-ceng ayahmu?"

"Benar," Ting Si menjawab dengan suara lantang, tegas dan penuh keyakinan.

Teng Ting-hou menarik muka, teriaknya, "Kalau benar dia bapakmu, kini dia terkubur di reruntuhan itu, tapi kau masih enak-enak berdiri, tidak sedih malah senang. Beginikah perilaku seorang anak terhadap ayahnya?"

Ting Si tidak menanggapi luapan amarah Teng Ting-hou, dia malah balas bertanya, "Apa kau tahu, mengapa menara ini mudah ambruk?"

"Karena terlalu tinggi?"

"Banyak menara di dunia ini, yang lebih tinggi juga tidak sedikit, tapi belum pernah aku mendengar ada menara ambruk."

"Mungkin ada seluk beluk yang tidak kuketahui?"

"Ya, karena menara yang satu ini kosong bagian tengahnya."

"Setiap menara tentu ada ruangan atau kamar, sudah tentu kosong bagian dalamnya."

"Yang kumaksud kosong bukan ruangannya, tapi dindingnya, pondasi bangunan menara ini pun kosong bagian dalamnya."

Teng Ting-hou segera paham, "Jadi menara ini dibangun dengan dinding rangkap? Ada lorong bawah tanah maksudmu?"

"Ya, dari tingkat bawah sampai yang paling tinggi."

Teng Ting-hou mengerut kening, "Menara adalah tempat berdoa bagi buat umat Buddha, untuk apa menara ini dibangun dengan dinding rangkap?" "Yang pasti menara ini bukan dibangun oleh umat Buddha." "Memangnya siapa yang membangun menara ini?" "Kawanan berandal."

Bukit hijau di belakang menara ini, dahulu adalah sarang kawanan penyamun  yang berpangkalan di daerah ini.

"Untuk meloloskan diri dari buruan kawanan opas, untuk menghilangkan jejak, mereka sepakat membangun menara di sini, dinding rangkap untuk menyelamatkan diri, lorong sempitdi dalam dinding itu memang sering menyelamatkan kawanan bandit, karena di bawah menara juga dibangun lorong bawah tanah yang tembus ke markas mereka di atas gunung."

Akhirnya Teng Ting-hou paham duduk persoalannya, "Jadi orang itu membokong kita dari balik dinding yang kosong itu?"

"Betul."

"Makanya penduduk di sekitar gunung ini bilang, menara ini dihuni kawanan setan, mungkin karena menara ini berdinding rangkap dengan jalan rahasia di tengah dinding."

Banyak orang yang masuk ke menara ini tahu-tahu lenyap tak keruan paran, hilang secara misterius.

"Supaya rahasia ini tetap abadi, orang yang tahu tentang rahasia ini, entah sengaja atau tidak sengaja, jiwanya harus ditamatkan untuk menyumbat mulutnya. Selama puluhan tahun,  rahasia di balik menara ini memang tidak pernah bocor."

Ting Si tertawa getir, "Betul, rahasia kita sebagai perampok juga tidak diketahui oleh kawanan Piausu dari perusahaan pengawalan manapun."

Teng Ting-hou ikut tertawa getir, waktu Ting Si mengucap "Piausu", segera ia sadar telah salah omong. Apakah karena dalam lubuk hatinya juga menganggap dirinya sebagai perampok?

Perubahan apapun yang terjadi pada dirinya, seperti sudah ditakdirkan menjadi perampok?

Diam-diam Teng Ting-hou bersumpah dan bercita-cita dalam hati. Dia bersumpah selanjutnya dia akan merubah pandangan dan pikiran. Bercita-cita merubah orang lain, merubah tujuan hidup temannya yang satu ini.

Ting Si seperti meraba jalan pikirannya, katanya dengan senyum khasnya, "Bagaimana juga, aku adalah bocah yang dibesarkan dan tumbuh di atas gunung. Sudah selayaknya aku tahu akan rahasia ini."

"Lantaran kau tahu adanya rahasia itu, maka sekarang kau masih hidup," ujar Teng Ting-hou, lalu menghela napas panjang. Agaknya dia sudah paham tentang rencana adu domba yang dirancang Ngo-siansing.

"Sengaja dia mengatur rencananya supaya kita saling labrak, setelah kehabisan tenaga, syukur ada yang terbunuh, baru dia turun tangan keji dari balik dinding, orang lain tentu berpendapat kita gugur bersama setelah duel mati-matian. Selama hidup tiada orang tahu perbuatan jahatnya,  bebas dari tuntutan hukum yang berlaku."

Ting Si menghela napas, katanya dengan tawa getir, "Hanya saja, kalau kau menjadi korban muslihat jahatnya itu, kau terhitung yang paling untung di antara kita." "Mengapa?"

"Orang banyak pasti berpendapat, kau gugur dalam menunaikan tugas, melenyapkan oknum jahat dari perusahaan gabungan itu, gugur karena menuntut balas kematian Ong-loyacu, tak segan kau gugur bersama musuh. Bila kau mati, bukan mustahil, kau akan dipuja dan disanjung sebagai pahlawan, akan tetapi. "

Akan tetapi bila Pek-li Tiang-ceng yang meninggal, nama busuknya takkan tercuci bersih untuk selamanya.

Ting Si berkata lebih lanjut, "Setelah kalian gugur bersama, bukan saja durjana itu bebas dari tuntutan hukum, selanjutnya dia akan memegang tampuk pimpinan dan berkuasa dalam perusahaan pengawalan gabungan itu. Sebagai pimpinan sudah tentu dia menguasai hak dan tanggung jawab besar. Seluruh kaum persilatan di Tiong-goan, entah dari aliran putih atau golongan hitam, semua berada dalam genggamannya."

Mengingat betapa jahat dan rumit serta teliti rencana jahat yang dirancang orang itu, Teng Ting- hou yang sudah kenyang menderita hidup inipun tak urung bergidik dan merinding..

Teng Ting-hou  menyengir, "Untung kami tidak mampus, karena. "

Ting Si juga tertawa, "Karena dia tidak pernah menyangka, Ting Si muncul dan merusak rencananya."

"Lebih tidak terduga lagi, bahwa Ting Si yang pandai adalah putra tunggal Pek-li Tiang-ceng, bocah itupun kawan karib Teng Ting-hou. Kedua hal inilah yang membuatnya gagal total." Kini Teng Ting-hou dapat tertawa bebas, sekarang dia menyadari satu hal, betapapun jahat, kejam dan rumitnya suatu rencana, menghadapi kenyataan hidup, akhirnya pasti gagal dan kalah. Di dunia ini terdapat suatu kekuatan besar, yaitu kepercayaan dan cinta kasih yang menjadi dasar kehidupan setiap manusia.

Ting Si percaya pada diri sendiri, cinta kasih terhadap ayah dan temannya, Siau Ma, demi orang- orang yang dicintai, dia rela dan berani menempuh bahaya. Seorang pembunuh yang berdarah dingin, tentu tidak akan meresapi betapa luhur dan besar arti cinta kasih itu. Karena penjahat itu melalaikan cinta kasih, betapapun sempurna rencana jahatnya, akhirnya pasti gagal dan bubar.

* * * * *

Di bawah tumpukan puing itu, Ting Si dan Teng Ting-hou tidak menemukan jenazah manusia, bangkai tikus pun tidak mereka temukan.

Lega hati Ting Si dan Teng Ting-hou, dua orang yang berhantam itu tidak mati terpendam di bawah reruntuhan menara, berarti mereka berhasil menyelamatkan diri, lewat lorong bawah tanah, temyata mulut lorong bawah tanah itu tersumbat oleh reruntuhan tembok dan genteng.

Teng Ting-hou berkata, "Lawan yang berhantam dengan Pek-li Tiang-ceng di atas menara tadi, mungkin bukan Ngo-siansing?"

"Ya, mungkin sekali."

"Ngo-siansing bukan nama aslinya?" "Ya, bukan." "Dalam melakukan kegiatannya, dia selalu mengenakan kedok muka."

"Ya," Ting Si menjelaskan. "Kedok muka yang dipakai terbuat dari kulit wajah manusia, dibikin sedemikian rupa oleh seorang ahli, mudah dipakai, bersih, bagus dan rajin bikinannya, sedikitnya dia memilki tujuh delapan macam kedok muka. Dalam sekejap mata dia mampu merubah dirinya menjadi ojang lain yang berbeda-beda raut wajahnya."

"Pakaiannya selalu berwama hitam." "Ya, biasanya memang hitam."

"Setelah disergap dengan hamburan senjata rahasia, Pek-li Tiang-ceng menemukan jejak musuh, musuh berkedok yang berpakaian hitam, sudah tentu Pek-li Tiang-ceng tidak melepaskannya begitu saja."

"Apalagi keadaan memaksa dia bertindak."

"Oleh karena itu, bila pembokong itu melarikan diri iewat lorong bawah tanah, kemana pun keparat itu Sari, Pek-li Tiang-ceng pasti mengejarnya."

"Makanya mereka tidak terkubur di sini, juga tidak kelihatan batang hidungnya." "Apa betul lorong bawah tanah ini tembus ke markas besar di atas gunung?" "Ya."

"Ngo-siansing pasti lari ke markas besarnya."

"Setelah masuk lorong panjang itu, tiada jalan lain untuk meloloskan diri."

"Oleh karena itu, dapat diduga bahwa saat ini Pek-li Tiang-ceng tentu berada di markas musuh itu."

Ting Si mengangguk kepala.

"Kau pernah bilang, markas itu bak rawa naga gua harimau, siapa masuk ke sana jarang ada yang bisa keluar."

"Ya, aku pernah bilang demikian."

Teng Ting-hou menatapnya, katanya dengan kalem, "Pek-li Tiang-ceng adalah ayah kandungmu, sekarang dia berada di sarang naga gua harimau, lalu apa yang akan kau lakukan?"

"Bagaimana menurut pendapatmu? Apa yang harus kulakukan?" "Seharusnya kau tahu apa yang harus kau lakukan."

"Maksudmu kita harus bekerja keras, menyingkirkan reruntuhan menara yang menyumbat lorong bawah tanah dalam waktu sesingkat mungkin, lalu meluruk ke sarang musuh untuk dibunuh mereka."

"Mengapa harus menyerahkan jiwa kepada mereka?"

"Sebentar lagi, cuaca akan terang tanah, kita kelelahan setelah bekerja keras, badan basah kuyup oleh keringat, apalagi. " Teng Ting-hou menukas, "Kita tidak perlu lewat lorong, kukira masih ada jalan lain di sekitar gunung ini."

"Ya, memang ada jalan rahasia lain di sini." "Mengapa kau tidak mau ke sana?"

"Aku yakin dia mampu mempertahankan diri, apalagi aku belum ingin mati saat ini." "Kau pernah naik ke atas gunung sana?"

"Waktu itu, keadaan berbeda dengan sekarang." "Dalam hal apa berbeda?"

"Waktu itu aku dapat mencari tempat perlindungan yang bagus." "Oh-lo-ngo yang rela mengadu jiwa itu maksudmu?"

Ting Si mengangguk, "Setiap manusia yang tinggal di atas gunung itu, menganggap dirinya   bukan manusia lumrah, orang buangan yang tidak berguna, memandang wajahnya terasa jijik, apalagi memperhatikan tubuhnya yang bungkuk dengan gaya jalannya mirip bebek. Seorang diri orang jelek ini tinggal di sebuah rumah kecil di belakang gunung, belum pernah ada orang mempedulikan mati hidupnya."

"Jadi kalau kau menyamar menjadi dirinya, pasti dapat mengelabui mata mereka?" Ting Si tertawa, "Kalian pun kukelabui, apalagi orang lain?"

"Menyamar sebagai Oh-lo-ngo, dua kali kau mengantar surat ke warung Lo-shoa-tang?"

"Ya, sudah dua kali aku ke sana," ujar Ting Si. "Aku sudah menduga, kalian akan tertarik oleh munculnya seorang yang bernama Oh-lo-ngo, namun kalian tidak memperhatikan diriku, karena tampang dan bentuk tubuh Oh-lo-ngo, sesungguhnya memang amat jelek dan menjijikkan."

"Namun rahasia penyamaranmu sudah terbongkar, kalau kau naik ke gunung dengan samaran yang sama, tentu kau akan terancam bahaya."

"Oleh karena itu. "

"Meski kau tahu Pek-li Tiang-ceng dan Siau Ma mati di atas gunung, kau tidak akan bekerja dengan gegabah, jiwamu lebih berharga dibanding orang lain."

"Bukan jiwa ragaku lebih berharga, sebagai bekas anak gelandangan, jiwaku justru tidak berharga, umpama aku punya jiwa rangkap, dengan suka rela aku akan menyerahkan kepadamu, walau kau minta untuk umpan anjing sekalipun."

"Sayang jiwa ragamu manunggal, hanya satu." "Ya, sayang sekali."

"Apa betul kau tidak menguatirkan keselamatannya?"

Berubah kelam rona muka Ting Si, agak lama kemudian baru dia berkata dengan sikap dingin, "Sebelum aku lahir, dia sudah minggat. ibuku perempuan biasa, bukan kaum persilatan, kesehatannya sering terganggu lagi, mana kala aku dilahirkan, kondisinya lebih parah lagi, maka sejak usia  tiga tahun,  aku sudah harus bekerja mencari nafkah, tidak jarang aku menjadi pengemis minta sedekah kepada para dermawan, sering puia dengan mangkuk bolong aku minta sesuap nasi di depan restoran. Dalam usia enam tahun, aku sudah mahir mencopet, dalam keadaan mendesak aku berbuat jahat, bila ketahuan dan tertangkap basah, kalau badan hanya babak belur masih mending, aku sudah biasa dicaci maki, ditendang dan dihajar orang, namun   aku tahan uji, hanya ibu yang menaruh kasihan dan kasih saying kepadaku, sampai sebesar ini usiaku, kecuali ibunda, belum pernah ada orang menguatirkan diriku. Lalu mengapa aku harus menguatirkan keselamatan orang lain, memperhatikan orang lain?" suara Ting Si makin kaku dan ketus, wajahnya juga tidak menampakkan perasaan, tapi jari jemarinya tampak gemetar, jeias emosi bergelut dalam sanubarinya.

Lama Teng Ting-hou menatapnya, dia menarik napas panjang, "Untung aku ini temarimu, untung pula aku sudah menyelami jiwamu, tahu luar dalam atau lahir batinmu.. Kalau orang lain tentu menganggap kau seorang yang tidak punya perasaan, orang yang tidak kenal budi pekerti."

"Memangnya sejak kecil aku sudah menjadi orang tidak berbudi, orang yang tidak tahu apa artinya cinta kasih," demikian jengek Ting Si kaku.

"Kalau betul kau tidak bercinta kasih, tidak berbudi, buat apa kau menyerempet bahaya, berusaha menolong jiwa orang iain? Mengapa pula kau berdaya upaya mencuci bersih nama baiknya, kau ingin membuktikan bahwa dia tidak bersalah atau berdosa."

Ting Si bungkam.

"Sebetulnya aku maklum, dalam hatimu ada sesuatu rencana matang, namun kau tidak mau menjelaskan kepadaku,"

Ting Si tetap diam, tidak menyangkai juga tidak mengaku. "Mengapa tidak kau jelaskan?"

Akhirnya Ting Si menarik napas, "Umpama benar ada persoalan yang ingin kubicarakan, tapi persoalan ini tidak mungkin hanya kubicarakan denganmu seorang."

Bersinar mata Teng Ting-hou, "Betul, persoalan harus dibicarakan secara terbuka, dalam hal ini kami tidak boleh mengabaikan Ong-toasiocia."

"Dimana dia sekarang?" tanya Ting Si.

"Di atas pohon mangga di belakang To-te-bio."

Ting Si tertawa ewa, "Tak kusangka, dia mau tunduk dan patuh pada nasehatmu, seorang diri diam di atas pohon."

"Dia tidak sendirian." "Lho, dengan siapa?"

"Lo-shoa-tang menemaninya."

Kaki Ting Si sudah beranjak ke depan, mendadak dia berhenti.tubuhnya tampak gemetar dan mengejang.

"He, mengapa kau berhenti?" tanya Teng Ting-hou.

Cukup lama Ting Si mengancing mulut, pandangannya nanar, setelah menghela napas, dia berkata lirih, "Tak usah ke sana lagi." "Mengapa," tanya Teng Ting-hou bingung.

"Tidak ada orang lagi di atas pohon mangga itu," suara Ting Si dingin, wajahnya tetap tidak menunjuk perubahan perasaan hatinya, namun jari-jari tangannya tampak gemetar.

Teng Ting-hou melihat kejanggalan ini, teriaknya terkesiap, "Apakah Lo-shoa-tang yang itu bukan temanmu?"

Kalem suara Ting Si, "Lo-shoa-tang betul adalah temanku, tapi Lo-shoa-tang yang meladeni kalian di warung bakpao itu bukan Lo-shoa-tang yang asli."

Berubah jelek romah muka Teng Ting-hou. Sekarang. baru dia paham, mengapa dua kali Ting Si berkirim surat kepada dirinya? Meski tahu undangan ke Toa-po-tha itu hanyalah perangkap yang sudah direncanakan lebih dulu. Soalnya dia pantang dirinya dicurigai oleh Lo-shoa-tang, muslihat lawan dihadapi dengan muslihat juga, sekaligus membongkar dan menelanjangi kedok dan  rahasia Ngo-siansing.

Sekarang Teng Ting-hou paham, mengapa Lo-shoa-tang ikut mereka ke Toa-po-tha dan apa tujuannya, begitu gugup dia berangkat sampai pintu rumah sendiri tak sempat ditutupnya.

Seorang berdagang ayam baker selama puluhan tahun dengan warung bakpaonya pula, seorang kikir yang tidak rela menggares sekarat daging paha ayam bakarnya sendiri, mana mungkin rela mengorbankan seluruh harta miliknya begitu saja. Sekarang Teng Ting-hou sadar duduk persoalannya, sayang sekali sadar setelah segala sesuatu telah terjadi. Semua sudah   berkembang dan terlambat untuk bertindak atau mencegah.

Di pohon mangga itu sudah tiada orang, bayangan setan juga tidak kelihatan, yang ada hanya sobekan kain yang tersangkut di dahan pohon. Itulah sobekan kain celana Ong-toasiocia.

Ong-toasiocia tentu diculik Lo-shoa-tang palsu itu ke atas gunung. Siapa pun setelah berada di sarang penyamun, apalagi dia seorang perempuan, jarang ada yang bisa pulang. Demikian pula nasib Ong-toasiocia jika benar diculik ke sarang penyamun itu.

Teng Ting-hou berdiri di tengah kegelapan, dihembus angin malam nan dingin, badan terasa makin dingin dan hampir menggigil, maklum sekujur badannya basah kuyup oleh keringat dingin, dia merasa ngeri membayangkan nasib Ong-toasiocia.

Sejak Teng Ting-hou iulus dari perguruan dan berkecimpung di Kangouw, dipandang dari mata kaum persilatan, dia termasuk seorang yang terpandang, seorang pintar dan berbakat, persoalan yang pelik sekalipun, dapat dia tangani dengan tenang dan mantap, seluruhnya berakhir dengan memuaskan. Dari keberhasilan yang tidak pernah mengalami hambatan atau kesukaran itu,  lambat laun laki-iaki yang suka mengagulkan diri ini merasa bangga dan tinggi hati, menganggap dirinya serba bisa, memang Teng Ting-hou terlalu yakin pada kemampuannya sendiri, percaya kepada diri  sendiri. Akan etapi,  sekarang kenyataan membuatnya sadar bahwa hakikatnya, dirinya tidak lebih hanyalah seorang laki-iaki pikun, teledor dan dungu. Seorang yang pandai bermuka-muka dan congkak, seorang bodoh yang dimabuk keyakinannya sendiri.

Ting Si menepuk pundaknya, "Tak usah kau bersedih, masih ada harapan untuk menolongnya." "Masih ada harapan apa?" tanya Teng Ting-hou.

"Ada harapan untuk menemukan dan menolong Ong-toasiocia." "Kemana kita harus mencarinya?" "Kukira lebih mudah kita mencari ke warung bakpao Lo-shoa-tang."

"Apa Lo-shoa-tang yang bukan Lo-shoa-tang membawanya pulang ke warung bakpao itu?"

"Justru karena dia bukan Lo-shoa-tang yang tulen, maka dia akan kembali ke warung bakpao itu."

"Mengapa?"

"Karena di warung bakpao, selain dapat membuat bakpao, juga dapat melaksanakan apa saja menurut keinginannya."

"Melakukan apa?"

Ting Si menghela napas, "Masa kau tidak tahu?" Teng Ting-hou menggeleng kepala.

"Jika kau kenal pribadi Lo-shoa-tang yang bukan Lo-shoa-tang itu, tentu kau paham mengapa aku bilang demikian."

"Apa kau mengenalnya?" Ting Si mengangguk. "Siapakah dia?"

"Seorang cabul, laki-iaki tua hidung belang."

* * * * *

Mega mulai buyar, bintang-bintang pun berkurang. Malam makin larut.

Sinar lampu masih menyorot keluardari celah-celah dinding papan dari warung bakpao Lo-shoa- tang.

Dari kejauhan Teng Ting-hou sudah melihat lampu itu. Teng Ting-hou tidak tahu, apakah dirinya harus menghela napas atau harus kuatir?

Dalam keadaan seperti ini, umpama Ong-toasiocia belum diculik ke sarang penyamun, sudah tentu dicaplok oleh macan liar yang rakus dan cabul. Perbedaan antara jatuh ke sarang  penyamun dan mulut macan yang cabul itu sebetulnya tidak banyak. Yang pasti kejadian itu hanya berlangsung dalam waktu yang singkat saja, sesuai kekuatan si macan cabul itu. Bila kau nekad menerobos masuk ke sana, kau akan melihat adegan atau tontonan yang tidak ingin kau pandang lebih lama lagi. Tiada macan yang meninggalkan mangsanya setelah sang korban berada di mulutnya.

Teng Ting-hou tidak berani melihat mimik wajah Ting Si, melirik pun tidak berani. Maka Teng Ting-hou menempatkan dirinya di belakang orang, umpama dia ingin tahu bagaimana reaksi Ting Si, orang juga tidak akan memberi kesempatan kepadanya, apalagi malam pekat, gelap berkabut lagi.

Teng Ting-hou tidak bersuara.

Ting Si dudukdi kursi, dian menyala di atas meja, duduk diam mengawasi hidangan yang berserakan di depannya, sejak masuk dan duduk dalam warung bakpao Lo-shoa-tang, Ting Si tidak bersuara, pandangannya pada irisan daging sapi yang sudah mengering.

"Kau ingin minum arak?" kata Ting Si mencoba memecah kesunyian, wajahnya tetap kaku dingin. Memang demikianlah keadaan Ting Si, menghadapi persoalan peiik macam apapun, kalau mau meneliti lahiriahnya saja, tidak akan ditemukan gejala apapun pada dirinya.

Bila diperhatikan dengan seksama, akan ditemukan perbedaan yang tidak kentara pada ujung mulutnya yang sering mengulum senyum, senyum yang menyenangkan, senyum yang mengundang simpati orang lain, senyum yang bisa melegakan ketegangan urat-syaraf. Berbeda dengan keadaan hari ini, secercah senyum pun tidak terlihat menghiasai wajah maupun ujung mulutnya, entah hatinya kuatir dan serius menghadapi persoalan di depan matanya? Entah menguatirkan keselamatan Ong-toasiocia atau menguatirkan dirinya sendiri?

Demikian pula keadaan Teng Ting-hou, sejak berada di warung bakpao ini, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

"Kau kira di warung ini masih ada arak?"

"Pasti ada kalau kau mau minum arak, pasti disediakan." "Masih ada waktu untuk minum arak?"

"Masih ada, kukira masih ada cukup waktu untuk minum sepuasnya." "Kalau begitu aku mau menemani minum sedikit."

"Kalau mau minum harus minum sepuasnya, sebetulnya tidak perlu kau menggunakan istilah 'menemani', kau tahu yang ingin minum bukan hanya aku saja."

"Betul, untuk diriku sendiri aku minum, kalau hanya minum sedikit memang tidak mencukupi selera, tapi untuk minum sepuasnya, apakah masih cukup waktu?"

“Asal kau mau minum, waktu masih cukup panjang."

Teng Ting-hou menduga, bila saat-saat tegang seperti ini masih ada waktu untuk minum, tentu persoalan akan berubah. Maka ia menghela napas lega, teriaknya sambil menggebrak meja, "Arak, keluarkan arak yang paling bagus."

Dalam warung bakpao Lo-shoa-tang itu, tiada orang lain kecuali Teng Ting-hou dan Ting Si.    Jelas Ting Si juga tahu bahwa warung itu kosong tiada orang lain kecuali mereka berdua. Teng Ting-hou yang sudah menginap dan bekerja sehari di warung ini lebih jelas, kecuali Lo-shoa-tang yang menjadi  majikan merangkap pelayan,  tidak ada orang lain lagi.  Tapi mereka tahu arak masih tersedia di warung ini, sudah tentu tiada orang yang meladeni teriakan  Teng Ting-hou   yang lantang itu.

Biasanya arak disimpan di bawah meja, ada beberapa guci dari tanah liat, bau arak terendus wangi, dari bau wangi ini Ting Si dan Teng Ting-hou dapat menilai arak dalam guci kecil ini berkualitas bagus.

Jajan di warung arak, kalau mau minum harus ambil sendiri, aturan macam apa?