Pukulan Si Kuda Binal Bagian 07

 
Bagian 07

Ong-toasiocia berkata, "Di kamar itu tercium bau obat waktu aku memburu ke kamar buku ayah, bau obat serupa itu tercium pula olehku waktu melihatnya di tengah jalan."

Betapa pedas sindiran dan dingin sikap Ting Si terhadapnya, ternyata Ong-toasiocia tidak marah dan masih dapat menguasai emosi. "Kemarin pagi waktu aku melihatnya, kebetulan dia baru menggunakan obatnya itu, dari kejauhan aku sudah mencium bau obat yang khas itu, maka tak usah melihat jelas wajahnya, aku sudah tahu siapa dia." Lebih lanjut dia berkata, "Lantaran penyakitnya yang sudah menahun itu, deru napasnya amat berbeda dengan orang biasa, asal  dua kali kau mendengar pernapasannya dengan seksama, lain kali bila bertemu atau mendengarnya, pasti kau dapat mengenalinya."

Teng Ting-hou tidak membuka mulut, tapi mimik mukanya menunjukkan bahwa apa yang  diuraikan Ong-toasiocia memang benar. Sungguh tak pernah terpikir dalam benaknya, gadisjelita yang aleman dan pingitan ini ternyata cukup cerdik dan teliti.

Ong-toasiocia menatapnya, katanya, "Rurasa kalau kau pernah bertemu dia, kau pasti mengenalnya."

Teng Ting-hou hanya menganggukkan kepala.

"Dari tanggal 13 bulan 5 sampai tanggal 1 bulan 7 ada empat puluh hari. Dalam jangka waktu itu orang bisa bertoiak balik ke Koan-gwa, menunggu kau pergi menjemputnya."

"Tapi tahun ini. "

"Aku tahu, dua bulan yang lalu dia keluar perbatasan, tapi jangka waktu selama itu, cukup untuk pulang pergi secara diam-diam."

Teng Ting-hou menarik napas panjang, "Uraianmu bukan tidak masuk akal, tapi kau melupakan satu hal."

"Aku melupakan apa?"

"Hubungan Pek-li Tiang-ceng dengan ayahmu amat intim, apa alasannya membunuh ayahmu?"

"Karena ayah menolak anjurannya dan mengusirnya, itu dianggap tak memberi muka padanya, maka dia membenci dan dendam terhadap ayah, atau mungkin karena dia Tho-cu atau pimpinan cabang Ceng-liong-hwe dengan kode tanggal 13 bulan 5 itu, tak segan dia turun tangan secara keji."

"Jadi kau yakin bahwa dia pembunuh ayahmu?" Tergenggam erat kedua tangan Ong-toasiocia, suaranya mendesis geram, "Tidak ada alasan aku mencurigai orang lain kecuali dia."

"Tapi alasanmu lemah. Ingat, kau tak punya bukti." "Karena itu aku harus mencari bukti." Lalu Ong-toasiocia menambahkan, "untuk mendapatkan bukti, aku harus menemukan Pek-li Tiang- ceng, hanya dialah bukti hidup satu-satunya."

"Kau tahu dimana dia sekarang?" "Pasti di lereng hijau seperti yang terlukis dalam gambar itu." "Kau tahu dimana letak lereng hijau itu?"

"Aku tak tahu," Ong-toasiocia menghela napas. "Apalagi, umpama aku bisa menemukan tempat itu dan  berhasil menemui  Pek-li Tiang-ceng, jelas aku bukan tandingannya, maka. "

"Maka kau mencari teman atau pembantu."

"Ya, pembantu yang berguna, gagah lagi berani." "Kau ingin mengajakku?" Teng Ting-hou bertanya.

"Tidak," jawaban Ong-toasiocia tegas lagi cekak, gadis ini memang periang dan jujur.

Teng Ting-hou menyengir tawa yang dipaksakan. Kasus ini amat ruwet, lebih baik kalau dirinya tidak tersangkut, tapi entah mengapa, lubuk hatinya amat kecewa setelah mendengar jawaban Ong-toasiocia, kecewa karena merasa disepelekan. "Ilmu silat Pek-li Tiang-ceng amat tinggi, laksana rase tua yang licik dan licin."

"Karena itu, kau harus mendapat pembantu yang memiliki llmu silat tinggi dan lebih lihai dari Pek-   Ii Tiang-ceng, malah pembantumu itu harus lebih licin dibanding rase tua itu."

Ong-toasiocia menganggukkan kepala, tapi matanya menatap Ting Si.

Ting Si sedang santai menikmati araknya, bahwasanya seperti tidak mendengar percakapan mereka.

Teng Ting-hou meliriknya sekali, lalu berkata dengan tertawa, "Apalagi orang ini pandai pura- pura dingin."

Mendadak Ong-toasiocia berdiri sambil mengangkat cawan ke hadapan Ting Si, "Setelah terjadi beberapa kasus itu, aku tahu kau takkan mau membantuku, tapi demi keadilan dan kebenaran, aku betui-betul mengharap bantuanmu, aku yakin kau tidak akan menolak permintaanku."

"Aku harus menerima permintaan apa?" tanya Ting Si.

"Bantulah aku mencari Pek-li Tiang-ceng, membongkar kasus ini."

Ting Si tertawa, tiba-tiba ia tertawa lucu, bukan tawa ramah atau simpati, juga bukan tawa yang memikat dan menarik. Sebaliknya tawanya mirip sebatang cundrik yang runcing dan tajam..

Ong-toasiocia menggenggam cawan araknya dengan gemetar, berdiri kaku, bibirnya hampir pecah tergigit. Ting Si berkata tegas, "Kau bukan orang bodoh, kuharap kau tahu satu hal."

"Katakan."

"Sesuatu kejadian yang disaksikan dengan mata kepaia kita sendiri belum tentu benar, apalagi hanya berdasar penciuman hidung, penyelidikanmu yang dangkal begini, kau berani menuduh seorang sebagai pembunuh, kecuali kau, aku yakin tidak ada orang lain di dunia ini yang berani bertindak selancang itu."

Arak dalam  cawan yang dipegang  Ong-toasiocia tercecer keluar, suaranya gagap, "Kau. tidak

percaya kepadaku?"

"Aku hanya percaya kepada diriku sendiri."

"Mengapa tidak kau selidiki duduk perkara yang sebenarnya."

"Karena jiwa ragaku hanya satu, aku belum ingin mati, mengorbankan jiwa ragaku kepada orang lain, mati secara konyol, apalagi menyerahkan jiwaku padamu," sambil bicara ia berdiri, merogoh kantong lalu menaruh sekeping uang perak di atas meja, "Aku minum tujuh cawan, ini uang untuk membayar arak, aku tidak mau berhutang kepada siapa pun." Habis bicara ia putar tubuh lalu melangkah keluar tanpa menoleh lagi.

Membesi hijau muka Ong-toasiocia, sekali renggut ia rain uang perak di atas meja, gelagatnya hendak ia  timpukkan ke arah hidung Ting Si.  Tapi tangannya mendadak terhenti di udara,  sejenak kemudian pelahan diturunkan, dengan kalem ia masukkan uang pe/ak itu ke kantongnya sendiri, lekas sekali wajah yang membesi hijau berubah menjadi merah jengah dan dihiasi   senyum manis.

Sesaat Teng Ting-hou menjublek mengawasi gadis ini, tanyanya kemudian, "Kau tidak marah kepadanya?" "Mengapa harus marah?" Ong-toasiocia balas bertanya. "Mengapa tidak marah?"

"Pek-li Tiang-ceng adalah manusia yang menakutkan, Ceng-liong-hwe lebih menakutkan lagi. Bila aku minta dia melakukan sesuatu yang membahayakan jiwanya, adalah pantas kalau dia mempertimbangkan untung ruginya."

"Tapi sikapnya sudah gamblang, dia tidak mempertimbangkan, tapi menolak secara tegas."

"Biar sekarang dia menolak permintaanku, aku yakin akan datang saatnya dia akan menerimanya."

"Kauyakin?"

Bercahaya bola mata Ong-toasiocia, "Sudan tentu aku yakin, aku tahu dia suka padaku." "An, masa kau tahu?"

"Ya, aku tahu karena aku perempuan, hanya perempuan yang tahu dan merasakan adanya liku- liku cinta dan asmara."

Teng Ting-hou tertawa lebar, "Kalau soal cinta lelaki juga bisa merasakan, bahkan menikmatinya." Di tengah gelak tawanya, Teng Ting-hou berlari keluar menyusul Ting Si.

Ting Si bertanya, "Kau merasakan apa?"

"Kalau di depan ada lubang besar, umpama kau berusaha menghindar, cepat atau lambat, akhirnya kau pasti kecemplung juga."

Ting Si menarik muka, suaranya ketus, "Anggapanmu keliru." "Keliru? Memangnya. "

"Bukan aku yang kecemplung, tapi kau sendiri."

Kereta kuda itu masih ada di luar pintu, tapi kusir kereta sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Ting Si melompat naik dan duduk di tempat kusir, mencabut cemeti yang tertancap di pinggir ternpat duduk, "Tar", cemeti terayun dan menggelegar di udara. Terpaksa Teng Ting-hou ikut melompat ke atas, duduk di sebelahnya.

Sebagai anak gelandangan Ting Si pandai mengendalikan kereta tapi tidak pernah terbayang dalarn benaknya, di saat menjadi sais kereta, Ting Si mirip anak kecil yang kebelet masuk WC.

Kereta itu dibedal kencang, langsung keiuar kota, "Sekarang kita hendak kemana?" "Cari tempat untuk tidur."

"Di luar kota ada tempat untuk tidur?"

"Kabin kereta ini sudah cukup iuas untuk tidur dua orang."

Teng Ting-hou menghela napas, dia enggan bicara lebih banyak. Ada sementara orang, sejak dilahirkan seperti sudah dibekali bakat, hingga orang lain selalu lengket padanya, Ting Si adalah manusia jenis ini. Kalau bertemu dengan manusia sejenis Ting Si, maka harus menemaninya tidur di atas kereta. Setelah tiba di luar kota, lari kereta dibedal lebih kencang. Ting Si merengut kaku, maka Teng Ting-hou juga bungkam seribu basa, perasaan mereka tertekan, banyak persoalan seperti membelit benak rnereka.

Akhirnya Ting Si buka suara lebih dulu, "Mengapa kau tidak bicara?" "Sedang kupikir. "

"Pikir apa?"

"Kabarnya golongan hitam sedang menghimpun kekuatan untuk mendirikan golongan gabungan, tujuan rnereka untuk menghadapi Ngo-hoa-coan-ki."

"Ya, betul, pernah kudengar."

"Setelah Gak Ling meninggal, gerakan rnereka pasti dipercepat." "Betul."

"Kalau gabungan dari golongan hitam ini bentrok dengan pihak kita, dunia pasti geger." "Ya, kalau kijing rebutan makan dengan bangau, nelayan yang akan untung"

"Tapi untuk menjadi nelayan, kurasa bukan pekerjaan yang mudah" "Ya, memang sukar."

"Menurutrhu, siapa yang setimpal dan mampu menjadi nelayan?" .

"Ceng-liong-hwe." - Teng Ting-hou menghela napas, "Ya, hanya Ceng-liong-hwe."

Bercahaya mata Ting Si, "Bukankah kau ingin bilang, hanya Pek-li Tiang-ceng saja yang setimpal menyulut api di atassumbu?" ,

Teng Ting-hou mengheia napas, jawabannya tidak langsung, "Kalau sumbu itu sampai menyala, pasti timbul kebakaran besar. Pihak mana pun akan terjilat api dan menjadi gundul rambut kepalanya, kecuali. "

"Kecuali kita berhasil menyelidik siapa pembunuh jenius itu?" demikian tukas Ting Si.

Teng Ting-hou mengangguk kepala, "Aku berpendapat pembunuh Ong-lothaycu juga adalah pembunuh Ban Thong dan Gak Ling berempat."

"Ya, pengkhianat yang menjual rahasia Ngo-coan-ki juga pasti dia."

"Kematian Ong-iothaucu agaknya ada sangkut-pautnya dengan peristiwa ini. Secara tegas dia menolak ajakan berserikat dalam Piaukok gabungan kita, tentu dia punya alasan untuk menoiak ajakan itu, dan itu merupakan rahasia yang tidak diketahui orang."

"itu perkiraanmu, bukan buah pikiranku."

"Aku orang keroco, pikiran orang keroco tiada gunanya dan tiada sangkut pautnya dengan kasus ini."

"Aku bilang ada sangkut pautnya." "Ah, apa iya?"

Teng Ting-hou menatapnya, "Aku tahu, kau menyembunyikan banyak rahasia da!arn hatimu, jika rahasia itu tidak kau beberkan, peristiwa itu tidak akan menjadi terang, kasus ini tidak akan terbongkar  hingga ajaimu." Lama kelamaan tatapan matanya setajam gurdi yang mengancam  hulu hati Ting Si.

Ting Si tertawa. Bukan tawa sinis setajam gurdi, tapi tawa ramah dan simpatik yang menarik kesan baik orang lain. Kalau gurdi terbentur gurdi tentu menimbulkan percik-an api. Tapi menghadapi senyum ramah yang mengesankan, betapapun tajam sang gurdi juga takkan kuat menusuknya.

Teng Ting-hou juga tersenyum, mendadak dia merubah haluan. "Kau tahu tidak, dimana letak dirimu yang menyenangkan?"

Ting Si menggeleng kepala.

"Dari ujung rambut sampai telapak kakimu, yang menarik hanya bola matamu." Ting Si segera mengucek mata.

Teng Ting-hou bertanya pula, "Tahukah kau, mengapa matamu kelihatan indah dan menyenangkan?"

"Coba jelaskan."

"Karena matamu tidak pandai berbohong. Tidak sepandai mulutmu yang pintar membual, bila mulutmu membual, maka mimik dan rona matamu kelihatan janggal, istimewa dan aneh."

"Kau pernah menyaksikan perubahan rona mataku?" "Sedikitnya ada tiga atau empat kali aku melihatnya." "Tiga atau empat kali, wah cukup banyak."

"Setiap kali aku membicarakan Ong-toasiocia, rona matamu selalu menampilkan sinar yang ganjil."

"O?"

"Waktu kau melihat lereng hijau di atas gambar itu, cahaya matamu ikut berbicara."

"Dalam hati aku menyukainya, dimuiut aku bilang membencinya, aku tahu dimana letak lereng hijau itu, tapi sengaja tidak mau menjelaskan kepadanya, begitu?"

"Syukurlah kalau kau sudah mengaku." Ting Si tertawa menyengir.

"Masjh ada, bila kau menyadari orang lain sedang menipu dirimu, rona matamu pun berubah demikian, berubah aneh,"

"Kau pernah melihat perubahan mataku, karena kau tahu aku ditipu orang?" "Pernah lihat dua kali." "Coba jeiaskan, kapan kedua kali itu'"

"Waktu So Siau-poh beranjak pergi, kau memandangnya dengan rona yang aneh." "Maksudmu aku mencurigainya?"

"Ya, mungkin dialah mata-mata tulen dari Ngo-hou-kang itu. Ban Thong hanya diperalat olehnya, hingga perlu dibunuh untuk mernbugkam mulutnya. Gak Ling juga mengetahui rahasianya, maka dia disekap dalam kamar bawah tanah itu. Walau kau menolongnya, tapi seteiah dia pulang ke Ngo-hou-kang, bukankah dia akan bicara sejujurnya tentang apa yang diketahui pada teman- teman-nya?"

Akhirnya Ting Si menghela napas seteiah menepekur sekian saat, "Bila dia membual, orang  yang sudah mati bisa ditipunya hingga hidup kembali, demikian pula orang hidup bisa ditipunya hingga mampus seketika."

"Oleh karena itu, aku tidak habis mengerti." "Dalam soal apa kau tidak mengerti?"

"Jelas kau mencurigainya, mengapa kau justru melepasnya pergi?" "La!u bagaimana menurut pendapatmu?"

"Dari gerak-geriknya yang aneh kau akan meiacak jejak dan membongkar kedok pembunuh sadis itu? Karena So Siau-poh adalah saksi hidup yang dapat kau gunakan untuk memancing pembunuh laknat itu?"

Ting Si menghela napas, katanya gregetan, "Persoalan apa yang kupikir, kelihatannya kau lebih jelas dari aku sendiri."

"Pernah sekali aku rnelihat rona mata yang ganjil itu. Waktu di Sin-hoa-jun, di kamar dimana Siau Ma seharusnya rebah merawat luka-lukanya."

"Apakah waktu itu aku mengawasi Siau Ma dengan pandangan ganjil?"

Teng Ting-hou mengangguk, "Aku yakin, waktu itu kau tahu atau rnelihat ada sesuatu yang tidak beres di kamar itu."

"Soalnya dia berubah menjadi sabar, jujur dan penurut. Biasanya tidak pernah dia mau tidur tenang merawat luka-lukanya."

"Sejauh dia berbincang-bincang dengan kita, Rata 'Maknya' yang sering terlontar dari mulutnya tidak pernah diucapkan lagi."

"Gunung dan sungai bisa berubah bentuk, namun watak manusia hingga mati susah dirubah. Seorang jika berubah tabiatnya, pasti karena terpengaruh oleh lingkungan atau keadaan."

"Setelah dia minggat bersama Toh Yok-lin, meski marah, ternyata sedikitpun kau tidak kelihatan gugup atau gelisah."

Ting Si menarik muka, suaranya dingin. "Dia dengan suka rela berbuat demikian, mengapa aku harus gelisah?"

"Waktu kau berhadapan dengan Ong-toasiocia, mengapa tidak kau singgung tentang dirinya?" "Kalau dia tidak menyinggung, kenapa aku harus bicara dengannya?"

"Memang.sepatutnya dia tanya kepadamu, dan kau juga harus balas bertanya kepadanya, tapi kalian sama-sama tidak menyinggung hal ini, mengapa demikian?"

"Dia tidak bertanya, karena dia tahu, tidak perlu bertanya padaku." "Maksudmu Siau Ma berada bersama mereka?"

"Ehm, mungkin."

"Meski bocah itu berwatak berangasan dan kasar, tapi hatinya lembut dan mudah ditaklukkan. Kalau Ong-toasiocia lewat Toh Yok-lin minta dia membantu, pasti bocah itu takkan menolak permintaan gadis yang dipujanya itu."

"Kalau dia suka menjadi pahlawan, mengapa aku harus mencampuri urusannya."

"Dalam menyelesaikan persoaian, kadang kala perlu beberapa orang melakukan sesuatu yang bodoh, kaiau semua manusia di dunia ini orang pintar, hidup di dunia juga tiada selera lagi."

"Sayang sekali, di zaman seperti sekarang ini, orang yang betul-betul bodoh justru makin sedikit." "Paling tidak aku tidak akan mengatakan bahwa aku adalah orang bodoh."

"Kau tidak bodoh, demikian pula Ong-toasiocia, dia bukan gadis bodoh." "Lho, mengapa kau bilang demikian?"

"Aku tahu dimana letak lereng hijau itu, kalau kau tahu aku berbohong, memangnya dia tidak tahu?"

"Tapi, mengapa dia tidak tanya atau mendesakmu?"

"Karena dia tidak bodoh, dia tahu tidak perlu bertanya kepadaku." "O, mengapa?"

"Karena dia juga tahu tempat apa lereng hijau itu."

"Karena kau tidak menjelaskan, tentu Siau Ma akan menjelaskan." "Hm."

"Umpama benar Siau Ma orang bodoh, tapi pasti dia tahu bahwa tempat itu adalah Ngo-hou- kang."

"Tar", mendadak Ting Si mengangkat tangan dan menyendal sekali, cemeti di tangannya menggelegar di udara, kereta berlari lebih kencang lagi. Sebetulnya ingin Ting Si menghajar pantat Siau Ma bila bertemu, celaka adalah keempat kuda penarik kereta yang menjadi sasaran pelampiasan rasa dongkolnya. Karena dihajar dan kesakitan, kuda-kuda penarik kereta itu menjadi marah, sambii meringkik mereka lari blingsatan membelok ke dalam hutan yang penuh semak lalu mogok tak mau jalan lagi.

Ternyata Ting Si tidak peduli, seolah kebetulan karena berhenti di sini. Dengan rnenggeliat malas pelahan dia melompat turun, cemeti panjang dia gulung membundar lalu digantung di dahan pohon, mulutnya rnenggumam, "Seorang kalau sudah bertekad melakukan perbuatan bodoh, kan lebih baik dibiarkan saja. Demikian halnya dengan seekor kuda, kalau dia bertekad mogok, tak mau lari lagi, lebih baik kau hentikan dan biarkan begitu saja."

Teng Ting-hou masih bertengger di tempat duduknya sambi! mengawasi gerak-gerik Ting Si, mendadak dia tertawa geli, "Mungkin kau sengaja menghentikan kereta ini di tempat tersembunyi ini."

"Mengapa kau menduga begitu?"

"Ada sementara orang senang berputar kayun sebelum melaksanakan tugasnya, padahal kalau mau, dengan mudah dia dapat menyelesaikan urusannya. Tapi dia justru mengorbankan banyak waktu dan tenaga, terpaksa orang lain harus mengerjakan untuk dirinya."

"Wah, kalau betul demikian, tentu orang itu tidak normal." "Sedikitpun tidak."

"Lalu untuk apa dia berbuat demikian?"

"Karena hanya orang pikun saja yang mau mengerjakan persoalan yang dia tangani. Dia tidak senang orang lain beranggapan bahwa dirinya orang goblok yang baik hati, tapi dia lebih rela orang beranggapan bahwa dia seorang kejam, dingin dan kaku,"

"Kau anggap aku orang sejenis itu?" "Sedikitpun tidak salah."

"Syukurlah, aku justru takut kau anggap aku sebagai orang goblok."

"Kau juga kuatir aku bertanya padamu, di kota besar, seratus hotel besar kecil dari yang paling mewah hingga kelas yang terjorok pasti ada. Mengapa kau tidak mau menginap di hotel, justru datang ketempat ini hanya untuk tidur. Kau tidak takut digigit nyamuk, aku sebaiiknya tidak tahan digigit semut."

"Mengapa kau tidak bertanya kepadaku secara langsung." "Aku tidak perlu bertanya."

"Mengapa?"

"Karena untuk pergi ke Ngo-hou-kang harus lewat jaian ini." "Apalagi yang kau ketahui?"

"Aku tahu kau memperhitungkan, Siau Ma akan menemani Ong-toasiocia ke Ngo-hou-kang, mereka adaiah orang gugupan, orang yang tidak sabaran, bukan mustahil malam nanti mereka akan berangkat ke sana."

"Maka aku menunggu mereka di sini?"

"Kalau orang lain mau menjadi orang bodoh, mungkin kau biarkan saja, tapi Siau Ma bukan orang lain, Siau Ma adaiah teman karibmu, saudaramu yang paling setia," dengan tersenyum lebar Teng Ting-hou rnengulur tangan mengambil cemeti yang tergantung di pohon. "Bila dia datang nanti, bukankah kau sudah siap menjirat lehernya dengan cemeti panjang ini?"

Ting Si mengawasinya, mendadak dia tertawa, "Aku banya ingin tanya sepatah kata." "Kau boleh tanya."

"Kau kira kau ini apa? Cacing dalam perutku?"

Teng Ting-hou ingin tertawa, taps tidak jadi tertawa, karena kulit mukanya mendadak kaku. Angin malam berhembus sepoi-sepoi membawa kumandang lari kuda yang dibedal kencang disertai derak roda kereta di jaian berbatu, suaranya masih lirih dan sayup-sayup, jelas kereta kuda itu masih cukup jauh.

Sigap sekali Ting Si menerobos hutan lalu mendekam di pinggir jaian, dengan sebelah kuping ditempelkan ditanah.

Teng Ting-hou juga mendekam di sampingnya, tanyanya dengan suara berbisik, "Apakah mereka sudah datang?"

"Bukan."

"Bukan, maksudmu bukan mereka yang datang?"

"Kereta kuda yang satu ini kosong, tiada penumpang , seorang pun di dalamnya." "Hanya mendengar dengan caramu itu, kau yakin kereta itu kosong?"

"Ya, aku yakin kereta itu kosong."

Teng Ting-hou menghela napas, "Pendengaran telingamu agaknya lebih tajam dibanding Ong- toasiocia."

Derap kaki kuda dan derak roda kereta makin jelas dan dekat, kadang suara cemeti juga terdengar memecah kesunyian. Kalau benar kereta itu kosong, mengapaburu-buru menempuh perjalanan.

Mendadak Ting Si berkata, "Kereta itu kosong, maksudku bukan ditumpangi orang, tapi memuat sesuatu benda yang berat."

"Berapa beratnya?"

"Sedikitnya tujuh atau delapan puluh kati."

"Darimana kau tahu kalau muatan kereta itu bukan manusia?"

"Kalau penumpangnya manusia, mana mau menumbukkan kepalanya di langit-langit kereta."

Telinga Ting Si masih menempel di tanah, dia mendengar suara benda keras yang menyentuh dinding atau langit-langit kereta. Benda itu beratnya ditaksir delapan puluh kati, diduga kalau tidak besar tinggi, tentu benda itu panjang hingga menyentuh atap kereta.

Bercahaya mata Teng Ting-hou. "Apa tidak mungkin Pa-ong-jio?" tanyanya lirih. "Mungkin sekali."

"Apakah Ong-toasiocia sendiri yang pegang kendali?"

Ting Si tidak bersuara. Sementara itu, jauh di depan sana lapat-lapat terlihat sebuah kereta besar bercat hitam, di tengah malam buta dicongklang dengan kencang, kusir kereta juga berpakaian hitam, mengenakan topi rumput lebar dan runcing yang ditarik turun menutupi mukanya. Kalau kusir kereta betul Ong-toasiocia, perbuatannya itu pasti karena suatu alasan yang   mendesak atau untuk suatu tujuan tertentu. Oleh karena itu, sepak terjangnya pasti dirahasiakan, siapa pun pantang mengetahui jejak atau kedok penyamarannya. Meski ingin buru-buru  menempuh perjalanan dan selekasnya tiba di tempat tujuan,  terpaksa  dia harus naik kereta,  meski menunggang kuda lebih cepatdari kereta, namun dalam kereta dia dapat menyembunyikan Pa-ong-jio.

Mengapa Siau Ma tidak ikut? Apakah mereka sudah berjanji untgk bertemu di suatu tempat di depan sana?

Teng Ting-hou merendahkan suara, "Bagaimana kalau kita kuntit?" "Memangnya ada tontonan yang bisa kau saksikan?"

"Kalau kau tidak mau, biar aku menguntitnya sendiri."

Kejap lain kereta yang berlari kencang itu sudah lewat di depan mereka, kusir kereta seperti ingin lekas sampai tujuan, bahwasanya dia tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya.

Sambil mendekam Teng Ting-hou mengerahkan tenaganya, mendadak kakinya menjejak, tangan menyendal bumi, bagai anak panah tubuhnya melesat  ke depan. Di  tengah udara dia  bersalto dua kali, waktu tubuhnya melorot turun, sebelah tangannya sudah terulur meraih ujung kereta, sehingga tubuhnya terseret ke depan dan bergantung seperti daun menjuntai ke bawah.

Lekas sekali kereta itu meluncur puluhan tombak ke depan, hanya sekejap lenyap ditelan kegelapan. Teng Ting-hou sempat melambaikan tangan ke arah Ting Si.

Menghantar bayangan kereta yang lenyap di kegelapan, mendadak Ting Si menghela napas, gumamnya sendiri, "Kalau di depan ada orang juga mendengar gerak gerik kereta ini, pasti dia merasa heran, mengapa kereta yang semula kosong, mendadak bertambah muatan satu orang?" Ting Si membalik badan lalu rebah telentang menjulurkan kaki dan tangan, sinar matanya tenang mengawasi bintang-bintang. Cahaya bintang menyinari wajahnya, seperti menembus relung hatinya, sorot matanya menyembunyikan banyak rahasia yang tersimpan dalam sanubarinya.

* * * * *

Jauh di sebelah depan, di kegelapan memang ada orang seperti juga Ting Si, mendekam di   tanah,  dengan sebelah telinga mendengar seksama  kedatangan kereta kuda yang berlari kencang itu. Wajahnya kelihatan pucat kelabu, bila diperhatikan orang akan tahu bahwa orang ini mengenakan topeng.

Seorang lagi juga mendekam di sebelahnya, kecuali derap kaki kuda dan derak roda kereta di kejauhan, alam sekelilingnya sunyi senyap, hanya napas mereka yang terdengar, seorang di antara kedua orang itu bernapas lebih berat, napasnya berat memburu.

"Aneh," orang berbaju hitam bertopeng itu menggumam. "Semula kereta itu jelas kosong, mengapa mendadak bertambah satu orang?"

"Mungkin seorang naik kereta di tengah jalan?" "Tapi kereta itu tidak berhenti."

"Mungkin dia naik secara diam-diam, kusir kereta tidak tahu seorang penumpang gelap telah berada di keretanya." Waktu orang ini berbicara, sikap dan suaranya terasa amat takut dan hormat kepada teman di sebelahnya, sepasang matanya jelilatan seperti mata keiinci, kepalanya melongok kian kemari, orang ini ternyata So Siau-poh.

Lalu siapakah temannya yang berkedok itu?

So Siau-poh berkata, "Orang itu dapat naik kereta di luar tahu kusir, Ginkangnya tentu amat tinggi, bukan mustahil orang itu adalah Ting Si."

Orang berkedok itu menyeringai dingin, suaranya dingin kaku, "Kalian berdua memang pantas mampus."

Sejenak So Siau-poh tertegun, setelah menangkap arti perkataan orang, seketika rona mukanya berubah pucat  ketakutan, katanya tergagap, "Kami. kami berdua?"

Si baju hitam berkedok itu berkata pula dengan nada rendah, "Kau cerewet, sebaliknya dia suka mencampuri urusan orang lain."

So Siau-poh segera mengancing mulut, saking takutnya bernapas pun ditahan-tahan.

Mungkin merasa tegang, napas orang berkedok itu terdengar berat memburu, mendadak dia merogoh keluar sebuah botol porselin kecil dari kantong celananya,  membuka  tutup  lalu menuang sebutir pil hitam langsung ditelannya. Begitu tutup botol kecil itu terbuka, bau obat yang aneh dan merangsang segera tertiup angin.

Apa betul orang berkedok ini adalah Pek-li Tiang-ceng? Apa betul Pek-li Tiang-ceng adalah pembunuh kejam itu?

Kereta sudah lebih dekat.

Sekejap si baju hitam menutup mata, saat kelopak matanya terpentang lags, sinar matanya berubah mencorong tajam, katanya tergesa-gesa, "Kau membawa senjata rahasia tidak?"

So Siau-poh tidak berani bersuara, hanya menganggukkan kepala.

"Serang kuda dengan senjata rahasiamu. Aku yang membereskan dua orang di atas kereta," demikian orang berkedok memberi perintah..

So Siau-poh mengangguk lagi. Dia tidak berani bercuit, sepatah kata yang diucapkan sambil lalu  si baju hitam, ternyata lebih menakutkan dari perintah jenderal perang di medan laga.

Berkilat sinar mata orang berkedok, jengeknya dengan suara hidung, "Peduli siapa yang berada  di atas kereta, seorang pun tak boieh lolos."

Bagaimana biia dia salah sasaran? Membunuh orang bukan yang semestinya dia bunuh. Si baju hitam tak peduli, mati hidup orang lain bahwasanya tak terpikir olehnya.

Kereta berlari kencang, angin dingin menyapu muka.

Seenteng daun Teng Ting-hou bergelantung di belakang kereta, biasanya dia amat membanggakan kemampuan sendiri, sangat puas akan Ginkangnya. Sudah beberapa tahun dia berkeluarga dan sudah punya anak, isterinya cukup cantik, pinggangnya ramping, pahanya jenjang mulus, namun dia perempuan yang berwatak keras, setelah hidup bahagia penuh cinta dan mesra sekian tahun, hubungan mereka makin cocok dan akur, sama-sama memenuhi   selera. Selama beberapa tahun, Teng Ting-hou cukup bangga dan senang terhadap pelayanan isterinya, hanya sayang isterinya itu cerewet dan bawel. Umum sudah tahu, kalau perempuan sudah punya anak, kondisi tubuhnya lambat laun akan berubah, makin banyak anak, tubuhnya akan lebih gembrot. Demikian hainya dengan isteri Teng Ting-hou, apalagi beberapa tahun belakangan ini, karena sibuk bekerja sebagai penanggung jawab perusahaan, ia harus sering berada di perjalanan, jelas jarang tidur di rumah, biia kebelet saat kantongnya tebal, dimana saja dia bisa jajan. Perempuan  yang menghibur dirinya di  berbagai kota memang terasa lebih muda dan pandai rnerayu, lebih banyak pengalaman.

Dalam hal ini, sejak lama Teng Ting-hou terkenal sebagai jagoan.

Yang Maha Kuasa seperti amat melindungi dirinya, setelah delapan tahun hidup berfoya-foya di luaran, kondisi badannya ternyata masih kuat dan penuh gairah yang tidak pernah padam, gerak- gerik dan reaksinya tetap cekatan, tangkas dan gesit, meski usianya sudah mendekati setengah urnur, tenaganya tidak kalah dibanding anak muda.

Delapan tahun sejak menikah, isterinya dikaruniai lima anak, wanita yang semula ramping dan menggiurkan, pinggangnya sekarang sudah berubah segede gentong air, sudah tidak memenuhi selera suaminya lagi. Maklum, bila perempuan tidak terpenuhi daya seksnya, sering kehausan tanpa terlampias, maka dia akan menyalurkan ketagihannya dengan cara 'makan' lebih banyak. Demikian pula wataknya pun takkan  mungkin untuk  melampiaskan ketagihannya, seperti kalau dia bergunjing di ranjang dengan suaminya. Meski dia makan enak, berpakaian mahal dan  mewah, tapi persoalan yang mengganjal di relung hatinya sukar tersalur secara wajar.

Terbayang oleh Teng Ting-hou, betapa hangat mesra dan bahagia hidup mereka berdua, waktu baru menikah dulu. Mendadak timbul rasa penyesalan dalam sanubarinya terhadap isterinya  yang setia. Diam-diam ia berkeputusan dalam hati, bila nanti tugasnya selesai, ia akan segera pulang, untuk beberapa lama ia akan tinggal di rumah, siapa tahu isterinya masih dapat menambah satu dua anak untuk dirinya, bukankah semboyan banyak anak banyak rezeki  beriaku sampai sekarang.

Kebetulan kereta berguncang cukup keras, sehingga lamunan Teng Ting-hou terjaga. Seperti terjaga dari mimpi, akhirnya ia tertawa geli sendiri. Dalam keadaan begini mengapa bisa teringat adegan begituan?

Sering terjadi di kala manusia menghadapi keadaan genting atau lucu, teringat sesuatu yang tidak pantas diingat? Soal apa yang mendorong sanubarinya bertobat dan rindu kepada isterinya? Apakah lantaran isterinya juga kelahiran Bing-lam?

Tanggal 13 bulan 5 adalah hari lahir Thian-te (raja langit).

Kalau tidak salah ingat, salah satu teman karibnya kebetulan juga lahir pada tanggal dan bulan yang sama, yaitu tanggal 13 bulan 5. Dalam suatu percakapan, secara tidak sengaja pernah ia mendengar tanggal dan bulan kelahirannya itu.

Siapa temannya?

Kelopak mata Teng Ting-hou mengerut, matanya memicing. Mendadak ia teringat sesuatu.

Pada saat itu pula, kuda penarik kereta mendadak meringkik panjang dan berjingkrak, kereta mendadak serong ke kiri terus menerjang ke pinggir jalan. Kejap lain, kereta itu terjungkir balik dan hancur berantakan.

Begitu merasa gelagat membahayakan dirinya, Teng Ting-hou mengerahkan tenaga di kedua tangannya, sekali sendal tubuhnya melambung tinggi ke udara. Dari semak-semak rumput di pinggir jalan tampak selarik sinar gemerlap melesat dan telak menancap di perut kuda terdepan.

Sesosok bayangan lain juga menerjang dari semak belukar di pinggir jalan yang sama, gerak- geriknya lebih cekatan, enteng dan pesat, lebih cepat dari luncuran senjata rahasia gemerdep itu. Terdengar kusir kereta mengumpat gusar, "Jahanam, kiranya kau. Aku sudah menduga kau pasti akan mencari aku." Suaranya nyaring merdu, siapa lagi kalau bukan Ong-toasiocia. Sigap sekali Ong-toasiocia melompat ke belakang kereta, menarik pintu melolos Pa-ong-jio. Saat itulah si baju hitam tengah berjungkir balik di udara dan menubruk kearahnya.

Sebetulnya Teng Ting-hou masih  sempat  menyingkirkan diri dari  tempat itu, sasaran si baju hitam yang membokong ini jelas bukan dirinya. Tapi dia tak mau menyingkir, bukan saja tidak  tega, dia merasa wajib melindungi keselamatan Ong-toasiocia yang terancam di tangan musuh gelap ini. Apalagi tujuan kedatangannya ini juga bertekad merenggut kedok pembunuh kejam itu.

Si baju hitam menukik seperti elang menerkam kelinci. Ong-toasiocia sedang sibuk mencabut Pa-ong-jio yang terjepit di kereta yang sudah hancur itu, jelas tidak sempat menyingkir atau berkelit, ingin menangkis juga tidak keburu lagi. Serangan keji yang mematikan, sekali kena jiwa pasti amblas.

Di kala kedua tangan si baju hitam hampir menyentuh rambut Ong-toasiocia, mendadak segulung angin pukulan yang menderu deras menerjang dari samping.

Siau-lim-sin-kun, pukuian sakti Siau-lim-pay. Konon bila ilmu pukulan sakti ini diyakinkan mencapai taraf sempurna, dalam jarak seratus langkah dapat memukul mati sasarannya.

Memang tinju sakti Teng Ting-hou belum mencapai taraf setinggi itu, tapi perbawa daya pukulannya cukup mengejutkan orang. Untuk menyelamatkan diri terpaksa si baju hitam harus menarik kedua tangannya, walau serangan dibatalkan, tapi tenaga yang telanjur dikerahkan masih juga melanda ke depan.

"Blang," tubuh Ong-toasiocia terpental oleh serempetan tenaga dahsyat yang mendampar itu dan menumbuk roda kereta, pinggangnya terasa  sakit sekali,  hampir saja ia kelenger.  Untung sebelum musuh bertindak lebih jauh, Teng Ting-hou sudah mengadang di depannya.

Si baju hitam menyeringai seram, suaranya agak sumbang, "Bagus, seorang pelindung kembang, biar aku bereskan kalian bersama, dalam perjalanan ke akhirat supaya ada teman." Jelas suaranya sengaja dibuat kasar dan serak supaya orang tidak mengenal asal-usul dirinya.

Mendadak Teng Ting-hou tertawa, katanya, "Jangan kau lanjutkan seranganmu, nanti ketahuan siapa dirimu."

"Mengapa aku harus menghentikan serangan?" tanya si baju hitam.

"Karena kau mengenalku, aku pun tahu siapa dirimu. Bila kau tetap menyerangku, dalam lima jurus, aku pasti tahu siapa kau sebetulnya."

"Baik, coba kau saksikan," jengek si baju hitam.

Di saat mengucapkan empat patah kata, tangannya sudah menyerang dua jurus. Baru saja Teng Ting-hou berkelit dan balas menyerang satu jurus, lawan sudah melontarkan tiga jurus serangan lagi. Serangan lawan sungguh cepat, gesit lagi keji, perubahannya juga aneh dan sukar diraba, lima jurus serangannya ternyata menggunakan lima aliran perguruan yang berbeda. Waktu menyerang jurus pertama, kelima jarinya ditekuk seperti cakarelang, serangannya menggunakan Tay-lik-eng-jiau-kang dari kelu-arga Ong di Hay-lam. Sebelum jurus pertama dilancarkan sepenuhnya, tubuh si baju hitam mendadak berputar mundur, gerak serangannya ikut berubah menjadi Siau-kim-na-jiu dari Bu-tong-pay yang memiliki tujuh puluh dua jurus.

Begitu Teng Ting-hou balas menyerang satu jurus, kedua tangan si baju hitam mendadak terayun dan menjepit ke tengah menepis sambil balas memukul, itulah jurus Liat-be-hun-cong dari San-jin keluarga Gak, serangan lihai yang ganas. Dalam waktu yang sama, kaki kirinya mendadak terangkat menendang dengan Sau-tong-tui dari Pak-pay.

Gerakannya tangkas dan cepat, hingga susah diikuti pandangan mata. Lalu gerakan itu disambung dengan ju-rus Koa..y-cu-yan-am-tui, memasang kuda-kuda sambil merendahkan pinggarig, sigap sekali dia menempatkan dirinya pada posisi Tiong-kiong, berbareng tinjunya menggenjot dada lawan dengan deru angin yang dahsyat. Jurus ini masih disusui lagi dengan jurus Siau-iim-sin-kun, ilmu pukulan sakti kebanggaan Teng Ting-hou sendiri. Perubahan setiap jurus dari lima kali serangan si baju hitam berkedok ini memang amat menakjubkan, Ong- toasiocia yang menonton dari samping merasa kabur pandangannya.

Dingin serak suara si baju hitam, "Kau sudah tahu siapa diriku?"

Teng Ting-hou menggeleng kepala, ia  tidaktahu siapa lawannya.  Saat itu dia baru  menyadari satu hai, satu ha! yang menakutkan, menciutkan nyali, ia sadar bahwa dirinya bukan tandingan si baju hitam yang ganas ini.

Sudah sekian tahun Sin-kun-siau-cu-kat malang melintang di Kangouw, musuh besardan lihai macam apa pun pernah dihadapi, namun baru sekali ini dia menyadari dan insyaf akan kemampuan dan kelemahan diri sendiri.

Siau-lim-sin-kun harus dimainkan dengan keras dan dilandasi kekuatan besar, kuat menahan napas dan bertekad besar. Kini Teng Ting-hou sudah ciut nyalinya, semangat tempurnya mendadak luluh, sudah tentu daya permainannya menjadi lemah.

Sebaliknya si baju hitam sudah merubah gaya permainan, yang dilancarkan adalah jurus Pi-kwa- ciang dari Pak-pay yang dikombinasikan dengan Tay-cui-pi-jiu, ilmu pukulan yang hebat dan dahsyat. Dengan keras  lawan keras, kuat  ditandingi kuat, hanya tujuh jurus,  Teng Ting-hou sudah terdesak ke sudut yang mematikan.

Roda kereta yang roboh itu masih berputar, ringkik kuda sudah berhenti, dari jendela kereta Ong- toasiocia berhasil menarik keluar tombaknya, tapi belum sempat ia menggerakkan tombak, tiba- tiba terdengar suara "Krek" yang keras, roda kereta yang masih berputar itu ternyata terpukul hancur, menyusul suara "Krek" sekali lagi, namun jeias berbeda dengan suara pertama, suara kedua ini lebih mirip tulang patah.

Waktu Ong-toasiocia menoleh ke arena pertempuran, tampak lengan Teng Ting-hou sudah semampai tak rnampu bergerak. Serangan si baju hitam sebaliknya lebih ganas lagi, agaknya Teng Ting-hou tidak akan diberi ampun.

Keringat sebesar kacang tampak menghiasi wajah Ong-toasiocia, untuk mencabut Pa-ong-jio yang terjepit tadi, dia cukup membuang tenaga untuk menariknya. Kini melihat keadaan Teng Ting-hou yang menguatirkan, tanpa terasa keringat dingin bercucuran.

Lengan Teng Ting-hou sudah lumpuh karena patah tulangnya, tersapu lagi oleh angin pukulan lawan, rasanya seperti dihantam palu godam, saking sakit, keringat juga bercucuran di jidatnya. Tapi rasa sakit ini justru membakar keberanian dan semangat tempurnya, pikiran pun menjadi lebih jernih.

Permainan silatnya dengan tangan sebelah ternyata tidak kalah lihai dari permainan dua tinjunya, ilmu yang diyakinkan memang berbeda dengan iimu silat umumnya. Maklum nama besarnya selama ini, memang diperoleh dengan perjuangan  yang berat, cucuran keringat dan darah,  dengan mempertaruhkan jiwa dan raga, sudah tentu tak mudah dia menyerah dan terima dipukul roboh begitu saja. Selama hayat masih di kandung badan, Teng Ting-hou pantang menyerah dan tak mau roboh sebelum ajal. Pada saat genting itulah, dari tempat gelap berkelebat selarik sinar dingin. Si baju hitam berkelit dengan memiringkan tubuh sambil menarik diri ke belakang. "Trap" sinar gemerdap dingin itu menancap di dinding kereta, ternyata sebilah pedang pendak, pedang yang lencir tipis dan sempit, cahayanya yang gemerdep menyilaukan mata.

Teng Ting-hou menghela napas lega, rasa tegang yang menyesakkan dada Seketika menjadi longgar. Tampak olehnya perubahan yang menyolok pada sinar mata si baju hitam waktu melihat pedang pendek yang menancap di dinding kereta. Kejadian  ini  membakar  semangat  tempur Teng Ting-hou, sambil menghardik serentak tinjunya menjotos tiga kali.

Sambil berkelit mundur, tiba-tiba si baju hitam menjejakkan kaki, tubuhnya melambung tinggi lalu bersalto ke belakang tiga kali. Pada saat yang sama, sinar gemerdep kembali meluncur dari arah pinggir. Ternyata Ong-toasio-cia yang berhasil mencabut tombak emasnya, kebetulan memburu tiba. Teng Ting-hou membalik tubuh, sekali raih ia tangkap gagang tombak yang dibawa lari Ong- toasiocia terus dilontarkan. Tombak emas  yang besar lagi berat  itu meluncur dengan deras, desing suaranya keras, betapa hebat dan dahsyat daya lontaran Teng Ting-hou dengan tombak yang disegani ini.

Saat itu si baju hitam lagi bersalto di udara, mendadak sebelah tangannya menjentik ujung   tombak yang mengincar punggungnya, ujung tombak agak tertekan turun karena jentikan jarinya, dengan sendirinya arah luncuran tombak berat itu membelok ke arah lain, bukan ke depan atau   ke atas, tapi membelok ke bawah.

Jeritan panjang dan mengerikan bergema di tengah malam, itulah jeritan jiwa yang meregang ditembus ujung tombak. Seorang terpantek di tanah oleh tombak emas yang besar, panjang dan berat itu.

Meminjam daya luncur tombak yang dijentiknya ke bawah itu, si baju hitam melejit lebih tinggi, tubuhnya meluncur lebih cepat dan melambung melampaui pucuk pohon hingga belasan tombak jauhnya, begitu menutul pucuk pohon di depannya, tubuhnya lenyap ditelan tabir malam.

Menyaksikan betapa hebat dan menakjubkan gerakan si baju hitam dengan Ginkangnya yang tinggi, Teng Ting-hou berdiri menjublek. Umumnya murid Siau-lim tiada yang mengkhususkan diri berlatih Ginkang, maka jarang ada murid Siau-lim  yang tinggi Ginkangnya, namun berbeda  dengan Teng Ting-hou, murid preman Siau-lim ini biasanya paling membanggakan Ginkang yang diyakinkan. Ginkang yang dia yakinkan memang dipelajari dari orang lain, dengan kemahirannya ini, selalu Teng Ting-hou mengagulkan diri. Tapi setelah menyaksikan Ginkang si baju hitam tadi, diam-diam ia mawas diri. Kalau si baju hitam diumpamakan burung elang, maka dirinya hanyalah burung geraja. Baru sekarang ia sadar,  bahwa kemampuan dirinya juga hanya begitu saja, maka  ia bertekad selanjutnya harus menggembleng diri. Sudah lama ia menghamburkan waktu dan tenaga untuk bermain perempuan di luar, kini ia mulai sadar bahwa hidup selanjutnya harus  banyak menjauhi perempuan kecuali isterinya sendiri, namun mimpi pun tidak terpikir oiehnya, di saat dirinya dalam keadaan payah, perempuan juga yang memapah dan menolong dirinya.

Jari Ong-toasiocia yang gemetar terasa dingin, namun suaranya lembut dan hangat, "Lukamu berat sekali."

Teng Ting-hou menggeleng, tawanya getir. Ada sementara orang selama hidupnya sudah ditakdirkan takkan bisa berpisah dengan perempuan, umpama dia tidak ingin mencari hiburan, justru perempuan yang mencari dirinya. Setelah menghela napas, mendadak ia bertanya, "Mana Ting Si?"

Ong-toasiocia melenggong. "Apa Ting Si datang?" tanyanya heran.

Teng Ting-hou tak perlu menjawab pertanyaan Ong-toasiocia, karena Ting Si sudah melangkah keluar dari kegelapan, langkahnya lambat seperti malas berjalan. Ong-toasiocia mengawasinya sesaat lamanya, akhirnya sorot matanya beralih ke pedang pendek yang menancap di kereta, "Ini pedangmu?" suaranya tinggi.

"Em," Ting Si mengangguk, suaranya tertelan dalam mulut. "Agaknya si baju hitam itu mengenal pedang pendekmu ini?" "O?"

Berkilat sinar mata Ong-toasiocia, katanya menatap lekat, "Apakah dia mengenalmu?"  "Aku tidak tahu apakah dia mengenalku. Aku hanya tahu bahwa aku tidak mengenalnya." "Tampangnya tidak pernah kau lihat, bagaimana kau tahu kalau kau tidak mengenalnya?" "Darimana kau tahu kalau aku tidak pernah melihat tampangnya?"

Berputar bola mata Ong-toasiocia, mendadak ia tertawa cekikikan, "Mungkin kau sempat melihat wajahnya, malah lebih jelas daripada kami, bukankah dia lari ke arah sana?"

Ting Si menggeleng sambil mendengus hidung.

Mendadak Ong-toasiocia menarik muka, katanya sengit, "Dia lari dari arahmu muncul, mengapa tidak kau cegat?"

Ting Si balas menjengek, "Karena tombak emasmu membuka jalan bagi dirinya." Ong-toasiocia terbelalak, mulutnya terkancing rapat.

Ting Si beranjak ke sana, mendekati mayat So Siau-poh lalu mencabut Pa-ong-jio. Mendadak ia menyeringai dingin, "Dia malah harus berterima kasih kepada kalian, sebab dalam posisi yang sudah terdesak tadi, dia tidak mungkin membungkam mulut atau membunuh orang ini.

Kenyataan tombak emas ini telah dipinjam untuk memanteknya di sini."

Teng Ting-hou batuk dua kali, katanya dengan wajah pucat, "Siapakah orang yang dibunuhnya itu?"

"So Siau-poh," ujar Ting Si tenang.

"O, dugaanmu ternyata tidak meleset. So Siau-poh memang bersekongkol dengan dia."

Ting Si beranjak ke kereta dengan langkah lesu, pelahan ia mencabut pedang pendek yang lencir tipis itu dari dinding kereta.

"Pedangmu memang gaman yang bagus," puji Teng Ting-hou. Waktu ia menghampiri dan ingin melihat jelas bentuk pedang itu, Ting Si menggerakkan jarinya, pedang pendek itu mendadak lenyap dari pandangannya.

Teng Ting-hou menghela napas, katanya, "Timpukan pedangmu jelas tidak bertujuan melukai atau membunuh orang, tapi kau telah berhasil menggebahnya."

"Darimana kau berkesimpulan bahwa timpukan pedangku tidak ingin membunuhnya?"

"Pedangmu hanya dua senti menancap di papan kereta, itulah buktinya," demikian ucap Teng Ting-hou. "Padahal dengan kekuatan jari tanganmu, ditambah ketajaman pedang tipis itu, jika kau ada niat membunuhnya, timpukan pedang tadi akan menembus tenggorokannya. Aku tahu, dengan kekuatan jari tanganmu, pedang itu dapat menancap sedalam lima enam senti di batu yang paling keras."

Ting Si menyeringai, "Apa tidak berlebihan kau menilai tenagaku?"

"Bagaimanapun, si baju hitam ngacir setelah melihat pedangmu, ini kenyataan yang tidak bisa dipungkiri," demikian ujar Teng Ting-hou. "Dan bukan pedang pendekmu itu yang ditakuti, tapi dia jeri terhadapmu."

"Mungkin dia pun salah menilai diriku."

"Aku kira dia sudah tahu bahwa pedang pendek itu adalah milikmu, dia juga tahu dan mengenal siapa dirirnu, maka dia lekas menyingkir."

"Apa yang ingin kau katakan?" desak Ting Si sambil menatapnya tajam.

Teng Ting-hou menghela napas, "Sebetulnya banyak persoalan yang ingin kubicarakan denganmu, hanya saja sekarang. "

"Sekarang kenapa?" desak Ting Si.

"Aku hanya ingin tanya satu hal kepadamu." "Mengapa kau masih bertele-tele?"

Teng Ting-hou menatap mata Ting Si, "Rahasia apa yang sedang kau sembunyikan dalam relung hatimu. Mengapa tidak kau bicarakan dengan kami?"

"Kalau kau sudah tahu rahasia apa yang kusembunyikan, mengapa harus kukatakan pula?" "Siapa bilang aku tahu rahasia apa yang kau sembunyikan dalam hatimu?"

"Kalau kau tidak tahu, berdasar apa kau berani bilang aku menyembunyikan rahasia?"

Teng Ting-hou melongo sesaat lamanya, akhirnya menyengir kecut, "Sebetuinya aku sendiri yang menyembunyikan rahasia, namun belum sempat kubicarakan."

"Mengapa tidak sekarang kau beberkan saja?"

"Aku tahu ada seorang yang terkenal dan disegani di luar perbatasan. Tapi tempat kelahirannya justru di Bing-lam."

Ting Si mendengarkan sambil menggendong tangan.

"Bing-lam adalah daerah terpencil di wilayah tenggara. Kalau seorang pemuda berbakat dan pandai ingin menonjolkan diri di daerah terpencil itu tentu tidak gampang, maka dia harus keluar mengembara atau melanglang buana, entah pergi ke Tionggoan atau keluar perbatasan."

"Siapakah pemuda yang kau maksud itu?" sela Ong-toasiocia.

"Yang ingin malang melintang di Kangouw tentunya bukan hanya dia seorang."

Memutih wajah Ong-toasiocia, katanya setelah tertegun beberapa kejap, "Maksudrnu ayahku adalah salah seorang dari pemuda-pemuda itu?" "Yang kubicarakan sekarang hanya satu orang. Dari Bing-lam dia pernah menjunjung tinggi namanya ke seluruh jagad, tapi dia justru terkenal di luar perbatasan, oleh karena itu dia adalah teman karib ayahmu."

Makin pucat wajah Ong-toasiocia, jari-jarinya saling remas, desisnya pelahan, "Maksudrnu, pemuda itu adalah Pek-li Tiang-ceng?"

Teng Ting-hou manggut, "Seorang jago terkenal, setelah namanya jatuh, tentu tidak senang membicarakan pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan. Oleh karena itu, bagaimana pengalaman hidupnya waktu ia masih berada di Bing-lam, jarang kaum persilatan yang tahu."