Pukulan Si Kuda Binal Bagian 06

 
Bagian 06

"Mengapa harus membangun To-te-bio?" "Dalam Ni-koh-am jelas tak leluasa bermain cinta dengan lelaki, mungkin dia jeri berbuat mesum di tempat suci, tapi lain di sini, kecuali sepi dan tersembunyi, jelas lebih leluasa untuk berbuat apa saja."

Teng Ting-hou tersenyum, "Sengaja atau tidak agaknya tidak dapat mengelabuimu." Ting Si tidak sungkan, "Memang tidak sedikit persoalan yang kuketahui."

"Tentu kau juga tahu bahwa kau memilki ciri khusus, ciri yang dapat membuatmu bernasib jelek." "Ciri apa, aku tidak tahu."

"Cirimu yang terbesar  adalah otakmu terlalu pandai," Teng Ting-hou  berolok-olok, dengan senyum lebardia menepuk pundak Ting Si, "Perlu  kuperingatkan  padamu,  apa salahnya kalau kau belajar kepada kura-kura tua itu. Suatu ketika kau boleh pura-pura pikun, supaya orang lain menganggap kau ini bodoh. Jika sudah demikian, kau akan sadar dan menemukan sesuatu yang belum pernah kau bayangkan sebelum ini, yaitu dunia ternyata jauh lebih menyenangkan, lebih mengesankan dari apa yang sudah kau saksikan sekarang."

* * * * *

Dalam To-te-bio memang ada kamar bawah tanah, letaknya tepat di bawah altar, di atas altar ada sebuah patung Dewa Bumi kecil dipuja dan disembahyangi.

Mereka membongkar papan batu sebesar meja bundar yang menutupi sebuah lubang segi empat, lalu satu persatu melangkah ke bawah, udara lembab dan apek, terasa merangsang hidung, mereka merunduk sambil memicingkan mata dan menekan hidung.

Setelah beberapa saat berada di kamar bawah tanah itu, pelahan mereka membuka lebarmata, pandangan pertama yang terlihat adalah sebuah ranjang. Luas kamar di bawah tanah ini sedang saja, kalau tak mau dibilang kecil, tapi ranjangnya cukup besar, hampir seluas ruangan, terhitung ranjang nomor satu dengan kasurempukdan kelambu yang mewah, kamar ini tidak kalah  dibanding kamarpengantin putri keluarga kaya, hanya sayang sudah lama kamar ini tidak terawat dan ditempati orang, di depan ranjang ada sebuah meja dan dua buah kursi.

Melihat keadaan kamar ini, Teng Ting-hou membatin, "Dugaan bocah ini ternyata tidak keliru."

Dua hal memang sesuai dugaan Ting Si. Dalam kamar bawah tanah ini memang  betul ada  sebuah ranjang, di atas ranjang betul seorang meringkuk dan orang ini betul adalah So Siau-poh.

Seperti bakcang, sekujur badan So Siau-poh terikat kencang tambang sebesar ibu jari, kedua tangannya terte-likung, matanya terpejam seperti tidur pulas, padahal waktu Ting Si berdua turun ke bawah menimbulkan suara cukup keras, patutnya orang ini mendengar kedatangan mereka,  tapi kenyataan dia tetap memejamkan mata. "Begitu pulas dia tidur, seperti mayat saja." ,"Ya, miripsekali."

Mencelos hati Ting Si, mendadak dia maju sambil mengulurtangan mencengkeram urat nadi di pergelangan tangan So Siau-poh yang tertelikung di belakang.

Mendadak kepala So Siau-poh bergerak, matanya terbuka sambil tersenyum lebar.

Ting Si menghela napas lega, geleng-geleng kepala sambil senyum getir, "Apa kau kira permainanmu menyenangkan?"

"Entah sudah berapa kali kau berbohong, kalau hari ini aku dapat membuatmu gugup, lega dan impaslah sakit hatiku seiama ini," demikian olok So Siau-poh riang.

"Agaknya kau tidak gugup?" tanya Ting Si.

"Soalnya aku tahu, aku tidak akan mati di sini," ujar So Siau-poh tenang. "Karena Gak Ling kakak iparmu dan kau suami adiknya, begitu?"

Kuncup senyum So Siau-poh, desisnya penuh ke-bencian, "Justru karena aku punya iparseperti dirinya, maka aku tertimpa malang seperti ini."

"Jadi saudara iparmu itu yang menyekapmu di sini?" "Yang membelenggu aku juga dia."

Ting Si tertawa geli, sindirnya, "Apa di luar kau punya simpanan perempuan, atau kepergok iparmu waktu kau berada di sarang pelacur, maka dia merasa perlu mewakili adiknya menghajar adat kepadamu?" "Memang kau tidak tahu kalau adiknya itu perempuan histeris, tulang sumsum lututku hampir habis diisap olehnya, mana aku masih punya tenaga untuk jajan di luar."

"Kalau tidak, tanpa suatu alasan, mengapa dia memperlakukan dirimu begini rupa?" "Hanya setan yang tahu," So Siau-poh menggerutu penasaran.

Ting Si mengedipkan mata, mendadak dia tertawa dingin, "Aku tahu, karena kau yang membunuh Ban Thong."

"Kentut busuk," teriak So Siau-poh, mendadak dia beringas, "Waktu Ban Thong terbunuh, aku ada di dapur mencuri semangkuk sop buntut, begitu mendengar teriakannya baru aku lari keluar."

"Lalu?" desak Ting Si.

"Aku terlambat, bagaimana bentuk atau bayangan pembunuh itu tidak terlihat lagi olehku." Bercahaya mata Ting Si, "Pembunuh yang merenggut jiwa Ban Thong maksudmu?"

"Ya, pembunuh yang menerjang keluar jendela kamar Ban Thong."

"Kau tidak melihat bentuk tubuhnya secara persis, tapi bayangannya tentu sempat tertangkap oleh lensa matamu, betul tidak?"

"Ya, hanya samar-samarsaja,"sahut So Siau-poh. "Bagaimana perawakan pembunuh itu?"

"Perawakannya tinggi, Ginkangnya amat hebat, hanya berkelebat sekali di depanku lantas lenyap tak keruan parannya.."

Berkilat mata Ting Si, dia menuding Teng Ting-hou, "Seingatmu apakah perawakannya mirip dia?"

Dari kepala pandangan So Siau-poh turun ke kaki Teng Ting-hou, katanya sesaat kemudian, "Sedikitpun tidak mirip, perawakan orang itu lebih tinggi kira-kira setengah kepala."

Ting Si menatap So Siau-poh, Teng Ting-hou juga balas mengawasi Ting Si, katanya kemudian, "Kiang Sin dan Pek-li Tiang-ceng berperawakan tinggi."

"Sayang sekali," demikian kata Ting Si. "Kedua orang ini tidak patut dicurigai, karena yang seorang ada di Koan-gwa, yang lain sedang sakit hampir mati."

Bola mata Teng Ting-hou juga kemilau, katanya setelah menepekur sesaat, "Orang yang ada di Koan-gwa kan bisa pulang, demikian pula orang juga bisa pura-pura sakit parah atau sekarat."

So Siau-poh mengawasi mereka, tanyanya heran, "Soal apa lagi yang kalian bicarakan?"

Ting Si tertawa, katanya, "Mengapa kau makin bodoh, kalau kau tidak tahu apa maksud pembicaraan kami, memangnya keuntungan orang lain yang diberikan padamu juga tidak kau rasakan?"

"Siapa memberi keuntungan kepadaku?" tanya So Siau-poh. "Siapa lagi kalau bukan saudara iparmu."

So Siau-poh meronta sambil berteriak, "Keparat itu membuatku begini, memangnya aku harus berterima kasih dan berhutang budi kepadanya malah?"

"Kau memang patut berterima kasih kepadanya, cukup setimpal kalau dia mau membunuhmu." So Siau-poh berjingkat. "Mengapa?" serunya terbelalak.

"Apa betul kau tidak tahu? Atau pura-pura pikun?"

"Sungguh aku bingung, aku tidak tahu apa yang kau maksud." "Mengapa tidak lekas keluar bertanya kepadanya."

"Dimana dia sekarang?"

"Di luar, sedang mendampingi sesosok mayat dan tidur dengan dua Nikoh tua."

* * * * *

Magrib telah tiba. Keadaan pekarangan mulai gelap dan lembab, ternyata pelita juga tidak terpasang dalam rumah.

Memang orang mati takkan peduii gelap atau terang, apakah dalam rumah harus ada lampu? Kalau seorang tertotok Hiat-tonya, umpama dia ingin melihat cahaya lampu juga takkan mampu berbuat apa-apa.

So Siau-poh menggumam, "Agaknya saudara iparku itu sedang dimabuk cinta, lampu juga lupa dinyalakan."

Ting Si tersenyum, "Tidurnya pulas mirip orang mati."

Begitu mulutnya mengucap "orang mati". Mendadak jantungnya melonjak, bagai kelinci yang kaget, tiba-tiba Ting Si melompat ke depan, menerjang ke pintu. Kejap lain, keadaannya juga mirip orang mati, Ting Si berdiri kaku, sekujur tubuhnya basah oleh keringat dingin, bulu kuduk berdiri.

Ternyata tiada seorang pun yang masih hidup di rumah itu. Sepasang Jit-gwat-siang-jio   (sepasang tombak matahari dan rembulan) yang terbuat dari baja murni milik Gak Ling, ternyata patah menjadi empat, sepotong menancap di peti mati, dua potong menancap di atas belandar, sepotong lagi menancap di dada pemiliknya, namun kutungan ujung tombak itu bukan penyebab kematiannya, karena dadanya terpukul remuk hingga menimbulkan luka dalam yang amat parah, luka dalam oleh pukulan Siau-lim-sin-kun. Luka bekas pukulan Tay-lik-kim-kong-ciang juga demikian.

Tan Cun dan Tio Tay-ping mati oleh tusukan pedang, sebilah pedang lencir tipis dan sempit. Luka-luka di tengah aiis mereka lebarnya hanya tujuh mili. Kaum persilatan tahu, hanya murid- murid Kiam-lam saja yang menggunakan pedang sempit dan tipis, lebarnya juga hanya satu senti dua mili saja, makin ke ujung makin sempit. Makin sempit batang pedang, umumnya lebih sukar diyakinkan, kecuaii aliran Kiam-lam, kaum persilatan jarang menggunakan pedang sesempit itu.

Mengawasi mayat Gak Ling dan Ngo-hou, Teng Ting-hou menyengir kecut, "Tampaknya kedua orang ini juga menjadi korban pukulan tinjuku."

Ting Si bungkam, dengan penuh perhatian ia mengawasi luka kecil di tengah kedua alis Tan Cun dan Tio Tay-ping.

Teng Ting-hou mendekatinya, "Siapakah pembunuh kedua orang ini?" "Aku," sahut Ting Si pendek.

"Engkau?"Teng  Ting-hou melongo.

Ting Si tertawa, mendadak ia berputar, begitu berdiri tegak, tahu-tahu tangannya sudah memegang sebatang pedang pendak berkilau, pedang dengan panjang satu kaki tiga dim, lebar batang pedang itu hanya tujuh mili.

Setelah melihat pedang pendak milik Ting Si, baru Teng Ting-hou meneliti luka-luka di jidat Tan Cun dan Tio Tay-ping, akhirnya ia paham duduknya perkara, "Keparat itu membunuh orang- orang ini untuk menyegel mulutnya, tapi kami berdua yang dijadikan kambing hitam."

"Ya, tidak kecil resiko yang harus kita pikul dalam kasus ini."

"Ban Thong dibunuhnya lebih dulu, !alu akulah yang difitnah, dengan maksud supaya kau membalas dendam kepadaku."

"Maka kau pun dijerumuskan dalam kasus pembunuhan ini."

"Ya, betapa pun kencang Gak Ling menguasai mulutnya, setelah mati tentu takkan membocorkan rahasia."

"Betul, karena itu, mulut Gak Ling juga harus disegel."

"Pergaulan Gak Ling amat luas, temannya banyak tersebar di berbagai penjuru, yang setia terhadapnya tidak terhitung jumlahnya, kalau mereka tahu kaulah yang membunuh Gak Ling, pasti mereka akan menuntut balas padamu."

"Kalau mereka memusuhi diriku, pasti juga mengincar jiwamu."

Tiba-tiba Ting Si menghela napas, "Di sini kamu seperti anjing berebut tulang, saling cakar dan gigit, sementara pembunuh itu berpeluk tangan menonton dari tempat gelap, biia ada kesempatan akan memungut keuntungan pula." ,

Sejak masuk ke rumah ini, So Siau-poh berdiri terkesima di pojok sana, sekarang ia tidak tahan menekan perasaan, "Siapakah pembunuh yang kalian bicarakan?"

"Seorang jenius. Seorang berbakat yang luar biasa," ujar Ting Si. "Jenius atau berbakat bagaimana?"tanya So Siau-poh tidak mengerti.

"Dia pandai meniru gaya tulisan orang lain, lihai menjiplak llmu silat orang lain, bukan saja mahir menggunakan Siu-tiong-kiam milikku ini, fernyata Siau-lim-sin-kun yang diyakinkan juga lihai,  coba katakan, apakah orang ini tidak patut dianggap jenius?" 

So Siau-poh menghela napas, katanya dengan gegetun, "Pembunuh itu memang jenius kurcaci, pembunuh berbakat." Seperti ingat sesuatu, mendadak ia bertanya. "Mana Siau Ma?"

"Kami sedang mencarinya," sahut Ting Si. "Kami?Apa maksudmu?"tanya So Siau-poh.

"Maksudku kau harus ikut kami mencarinya," Ting Si menegaskan. "Aku tidak mau ikut," bantah So Siau-poh. “Aku harus mengubur jenazah Gak Ling dan kawan- kawan, jelek-jelek dia adalah saudara iparku."

"Tidak bisa,  tidak  ada waktu lagi," tegas suara Ting Si. So Siau-poh tertegun. 'Tidak bisa?" teriaknya penasaran.

"Ya, sejak sekarang, kemana aku pergi kau harus ikut," Ting Si menepuk pundak So S;au-poh, laiu berkata lagi dengan tersenyum, "Mulai saat ini, kami menjadi saudara kandung yang tidak boleh berpisah lagi."

"He, apa kau tidak salah?" teriak So Siau-poh terbelalak. "Aku bukan anak kecil, juga bukan perempuan yang selalu harus meladenimu."

"Anggaplah kau ini anak kecil yang lemah lembut, aku tertarik padamu." "Mengapa aku harus seialu ikut dirimu?"

"Karena jiwamu harus dilindungi." "Kau melindungiku?"

"Orang lain mampus tujuh kali aku boleh tidak peduli, hanya kau yang tidak boleh mati meski hanya sekali saja?"

Lama So Siau-poh menatapnya, lalu menghela napas panjang, "Umpama kau membayangi diriku, kumohon jangan kau terlalu dekat denganku."

"Mengapa?" tanya Ting Si.

"Isteriku pasti cemburu kepadamu," sahut So Siau-poh sambil mengedip mata..

* * * * *

Mereka yang pernah ke Sin-hoa-jun pasti tahu dan kenal Lo-khu, tapi tiada orang tahu asal usulnya. Orang tua yang sudah loyo dimakan usia, pemalas dan tidak mau mencari uang, kerjanya minum arak melulu. Banyak orang tahu bagaimana watak Ong-sin-hoa, bila di rumahnya ada Iaki-laki tua pemalas seperti Lo-khu ini, bukan saja tidak mengusirnya, Ang-sin- hoa malah meladeninya seperti suami sendiri, memberi makan minum. Celakanya, bila iaki-laki kerempeng ini mabuk, Ang-sin-hoa tidak terpandang lagi olehnya, duduktegak menepuk dada, seolah dirinya pahlawan gagah, mulutnya mengomei panjang pendek, bahwa dirinya terpaksa tinggal di warung arak ini untuk menyembunyikan nama dan asal-usulnya, tidak mau turut campur persoaian duniapersilatan.

Konon Iaki-laki tua ini pemah meyakinkan llmu silat, pemah menjadi tentara, berperang di medan laga.  Bila mabuk dia  berkaok-kaok memberi perintah dan membentak bawahan serta menggebrak meja, sebagaimana seorang jenderal layaknya.

Saat itu Lo-khu memang sedang berlagak seperti panglima besar. Sebaliknya Ting Si berdiri di depannya bak seorang tentara, anak buahnya yang keroco.

Sudah satu jam lebih Ting Si berada di warung itu, sikap orang tua ini tetap acuh tak acuh, seenaknya saja tangannya menudingnya sambil berkata keras, "Duduk!"

Kalau jenderal ada perintah, anak buah harus patuh, maka Ting Si pun duduk. Lo-khu menuding poci arak di depannya, "Minum!" Suaranya sumbang dan pendek.

Maka Ting Si pun minum. Dia memang perlu minum, harus minum, syukur dapat minum delapan puluh atau seratus cawan, dia kuatir dirinya bisa gila karena marah.

Waktu Ting Si bertiga tiba di Sin-hoa-jun, Siau Ma sudah pergi, bayangannya sudah tidak kelihatan, perban yang membungkus tubuhnya tertumpuk di pinggir ranjang. Melihat sikap panglima besar Lo-khu itu, Ting Si tahu bertanya kepada orang yang lagi mabuk ini juga takkan mendapat jawaban. Tapi keadaan mendesak maka dia bertanya, "Siau Ma dimana?"

"Apa kuda kecil (Siau Ma)?" panglima besar ini terlongong sesaat lamanya, pandangan kosong lurus ke depan, "Kuda-kuda dikerahkan ke medan perang, kuda besar atau kuda kecil semua dikerahkan untuk perang."

Mendadak Lo-khu menggebrak meja, teriaknya lantang, "Nan dengarkan, tambur perang sudah berdentam, tulang belulang manusia bertumpuk bagai gunung, darah mengalir seperti sungai, aku justru duduk di sini minum arak, sungguh memalukan, sungguh memalukan."

Teng Ting-hou dan So Siau-poh melongo sejak tadi, hati merasa geli dan ingin tertawa, tapi tak bisa tertawa. Sebaliknya Ting Si sudah biasa menyaksikan tingkah lakunya yang aneh dan lucu seperti orang edan.

Mendadak Lo-khu berjingkrak gusar, matanya melotot ke arah mereka, wajahnya beringas,   "Kalian mendapat gaji negara, makan budi pemerintah, masih muda dan gagah kuat, tidak lekas  ke medan laga mendarma baktikan tenagamu untuk nusa dan bangsa, untuk apa kalian berdiri di sini?"

"Situasi amat genting dan gawat, kita sudah kaiah tenaga dan perbekalan habis, senjata juga tidak iengkap, kita kemari untuk mencari bantuan," demikian Ting Si menyeletuk dari pinggir.

"Mencari bantuan apa?" tanya Lo-khu.

"Ada tentara yang merawat luka-lukanya di garis belakang. Luka-lukanya sekarang tentu sudah sembuh, maka dia harus ditarik ke garis depan lagi," ujar Ting Si.

Lo-khu menepekur sesaat lamanya, akhirnya dia memanggut, "Betul, masuk akal, seorang laki- laki asal dia masih bisa bernapas, maka dia harus mempertaruhkan jiwa raganya di medan perang."

Ting Si menghela napas, "Sayang sekali, tentara yang luka itu sudah menghilang entah kemana?"

Lo-khu terpekur lagi sekian lama, seperti sedang mengingat, akhirnya dia berjingkrak girang, "Apakah wakil panglima yang kau maksud?"

"Ya, betul," seru Ting Si bertepuk tangan. "Dia sudah berangkat bersama Nio Ang-giok." "NioAng-giok?"

"Memangnya kau tidak kenal Nio Ang-giok?" panglima besar kerempeng ini kelihatan marah. "Meski perempuan dia sungguh gagah perkasa, entah betapa hebat dan kuat dibanding kalian yang penakut ini, apa kalian tidak malu?" Makin bicara emosinya ma"kin membara, mendadak ia menyambar cawan arak terus dilempar ke arah Ting Si, untung Ting Si sudah siaga dan menyingkir sebelum kena timpuk.

Gerak-gerik Teng Ting-hou dan So Siau-poh juga tidak lambat, sekali lompat mereka sudah berlari keluar pintu. Setelah berada di luar, taktahan lagi mereka menahan geli, terpingkal-pingkal sampai memeluk perut.

Tapi rona muka Ting Si mirip tukang kredit tidak berhasil menagih hutang dari tiga ratus langganannya, wajahnya kaku membesi.

So Siau-poh melihat keganjilan rona mukanya. "Mengapa kau marah? Marah kepada siapa?" tanyanya.

"Kepada NioAng-giok tentunya," ujar Teng Ting-hou..

So Siau-poh membantah, "Ting Si kan bukan Han Si-tiong (panglima besar di zaman Gak Hui), umpama benar NioAng-giok (isteri Han Si-tiong) minggat bersama Siau Ma, apa alasannya marah-marah?"

"Tapi NioAng-giok yang satu ini bukan bini Han Si-tiong." "O, memangnya siapa dia?"

"Siapa lagi kalau bukan genduk Ong-toasiocia."

So Siau-poh keheranan, "Ong-toasiocia pewaris Pa-ong-jio itu?"

Teng Ting-hou memanggut, "Dia tidak suka kepada Ong-toasiocia, sudah selayaknya dia juga tak senang Nio Ang-giok."

"Tapi kenyataan Siau Ma minggat bersama NioAng-giok." "Makanya dia marah."

"Siau Ma mencintai perempuan itu, mengapa dia tidak senang? Mengapa dia harus marah?"

"Lho, masa kau tidak tahu, sejak dilahirkan, bocah ini memang suka mencampuri unjsan orang lain."

Kereta kuda masih menunggu di luar. Sais kereta adalah seorang pemuda yang dipanggil Siau- shoa-tang, walau " wataknya buruk, tapi kalau bekerja tidak pernah lalai, sejak datang tadi dia masih setia dan sabar menunggu di kereta, setengah langkah saja tidak pernah meninggalkan keretanya.

"Sekarang kita harus kemana?" tanya So Siau-poh.

Ting Si tetap merengut. Mendadak dia turun tangan, sekali renggut dia menjinjing sais kereta itu dan diseretnya turun. Bukan tanpa alasan Ting Si bertindak secara kasar begitu.

Setelah Ting Si turun tangan baru Teng Ting-hou sadar dan meiihat jelas perbedaannya, sais kereta-yang satu ini ternyata bukan Siau-shoa-tang yang tadi.

"Siapa kau?" bentak Ting Si.

"Aku bernama Toa-the, seorang kusir kereta” "Siau-shoa-tang dimana?"

"Setelah kuberi tiga ratus tail perak, dia masuk kota, mungkin sekarang sedang memeluk perempuan " Ting Si menyeringai, "Kau menggantikan dia menjadi kusir, membayarnya tiga ratus tail lagi, memangnya kau ini bapaknya?"

"Yang terang, tiga ratus tail perak itu bukan milikku, aku hanya menjalankan tugas saja." "Siapa yang memberi duit kepadamu?"

"Aku disuruh Han-ciangkui pemilik Cong-goan-lau di kota, tugasku mengundang kalian ke Cong- goan-lau untuk makan minum."

Ting Si melirik ke arah So Siau-poh. Yang dilirik segera bersuara, "Aku tidak kenal Han-ciangkui."

Ting Si menoleh ke arah Teng Ting-hou. Teng Ting-hou berkata, "Aku hanya tahu ada dua orang she Han, yaitu Han Si-tong dan Han Sin."

Tanpa bicara sepatah kata pun, Ting Si melepaskan Toa-the terus naik kereta. "Apa betul kita akan ke Cong-goan-lau?"

"Ya, ke Cong-goan-lau."

Setiba di Cong-goan-lau, rona muka Ting Si berubah pula. Mimik mukanya seperti ketiban  sekerat daging dari langit yang tepat mengenai hidungnya, sungguh mimpi pun mereka tidak menduga, orang yang mengundang mereka dengan merogoh tiga ratus tail perak, tak lain tak bukan adalah Ong-toasiocia yang dua hari lalu pernah menghujani anak panah kepada mereka.

Hari ini Ong-toasiocia berganti rupa dan gaya, berubah watak, bukan nona galak yang matanya tumbuh di atas kepala, bukan nona pingitan yang menganggap laki-laki di dunia ini kura-kura. Juga bukan perempuan yang suka meluruk kemana-mana dengan tombak besi menantang duel orang..

Hanya pakaiannya saja yang tidak berubah, pakaian serba putih yang anggun, bukan pakaian model ketat peranti berkelahi, tapi berpakaian secara luwes, dengan gaun panjang baju longgar, terbuat dari kain sari dan sutra, ringan dan lembut, ikat pinggang warna jingga yang memperlihatkan betapa ramping tubuhnya.

Wajahnya tidak bersolek, tidak disentuh bahan-bahan rias, tapi hanya dilapisi pupur tipis yang harum, bola matanya yang bundar jeli tidak lagi memancarkan cahaya tajam membuat laki-laki mengkirik, bila bola matanya mengawasi orang, wajahnya selalu mengulum senyum lembut dan ra-mah.

Perempuan memang harus mirip perempuan. Setiap perempuan pandai harus tahu, kalau ingin menundukkan lelaki, jangan menggunakan tombak, tapi gunakan senyum yang menggiurkan, senyum yang memikat adalah senjata ampuh setiap perempuan. Demikian halnya dengan Ong- toasiocia sekarang, gagal menundukkan lelaki dengan ujung tombak warisan bapaknya, kini dia menyiapkan pula senjatanya yang ampuh, yaitu senyum lebar yang manis, ramah dan anggun, entah siapa yang hendak dia tundukkan?

Teng Ting-hou menatap lekat. Mendadak terbersit di relung hatinya, bahwa Ong-toasiocia sekarang kelihatan lebih cantik dari yang pernah ia bayangkan dulu, gadis ini memang pintar dan cerdik. Oleh karena itu, bila dia menoleh ke arah Ting Si, mimiknya mirip orang menonton ikan yang sudah hampir terpancing.

Sebaliknya sikap Ting Si justru mirip kucing yang mendadak terinjak ekornya, dengan muka dan suara kaku ia menegur, "O, kiranya kau?" Dengan senyum anggun Ong-toasiocia menganggukkan kepala.

Dingin suara Ting Si, "Kalau Ong-toasiocia ingin mengundang kami, dimana saja boleh menggali lubang untuk menjebak kami, mengapa harus membuang ongkos segala?"

Ramah dan lembut suara Ong-toasiocia, "Justru lantaran kejadian tempo hari, hatiku merasa kurang enak, maka hari ini sengaja kuundang kalian untuk minta maaf. Akan kujelaskan mengapa aku terpaksa bertindak sejauh itu."

"Soal apa yang akan kau jelaskan?" tanya Ting Si kaku.

Ong-toasiocia tidak menjawab langsung pertanyaan Ting Si, pelahan ia menyingsing lengan baju, dengan jari jemarinya yang runcing panjang, ia mengangkat poci arak lalu mengisi cawan So Siau-poh, "Tuan ini adalah. "

"Aku yang rendah she  So, bernama Siau-poh."

"O, jadi tuan adalah Siau-so-cin dari Ngo-hou-kang" “Betul, aku yang rendah memang Siau-so-cin."

"Hari itu aku tidak bisa hadir di rumah keluarga Hi, sesungguhnya memang ada kesulitan pribadi yang tidak bisa kujelaskan, harap dimaafkan."

So Siau-poh tertawa, "Kaiau aku berperan sebagai dirimu, aku pun takkan datang." "Lho, kenapa?"

"Perempuan cantik selembut Ong-toasiocia, buat apa main senjata dengan lelaki kasar seperti kami, cukup Ong-toasiocia tersenyum manis dan bicara dengan lembut, aku berani bertaruh, sembilan di antara sepuluh lelaki yang menghadapimu akan bertekuk lutut di hadapanmu."

Ong-toasiocia tertawa sambil menutup mulut dengan lengan bajunya, "So-siansing pandai bicara, tidak malu dijuluki Siau-so-cin."

Ting Si menyeletuk dingin, "Kalau dia tidak pandai bicara, Ji-siocia dari keluarga Gak mana mungkin kecantol dan mau menjadi isterinya?"

Berputar bola mata Ong-toasiocia, "Sejak lama kudengar bahwa nona Gak adalah wanita cantik yang terkenal di Kangouw."

So Siau-poh menghela napas, "Ya, tapi dia juga terkenal sebagai macan betina." "Kalau demikian," ucap Ong-toasiocia.

"Kuanjurkan lekas So-siansing pulang saja. Jangan biarkan isterimu mengharap-harap dan menunggu terlalu lama di rumah." Dengan tertawa lebar ia mengangkat cawan lalu meneguk habis isinya,

"Setelah kuhaturkan secawan arak ini, kuharap So-siansing segera pulang." Walau lembut dan ramah sikapnya bicara, bagi orang yang berpikiran normal tentu merasa secara tidak langsung nona jelita ini tengah mengusir orang dengan halus.

So Siau-poh bukan orang bodoh, otaknya juga encer, tidak linglung. Sekilas ia menatap Ong- toasiocia lalu melirik ke arah Ting Si, katanya dengan tawa getir, "Sebetulnya aku sudah kangen pada isteriku, sayang aku tidak boleh pulang."

"Sekarang orang itu sudah berubah sikap, kau boleh pulang," ujar Ting Si kalem. So Siau-poh mengedip mata, "Mengapa dia berubah sikap?"

"Karena dia ingin mendengar penjelasan Ong-toasio-cia."

So Slau-poh menenggak habis araknya, begitu cawan diletakkan di meja, segera ia angkat langkah dari tempat itu.

"Man kita pergi bersama," mendadak Teng Ting-hou ikut berdiri. "Kau?" So Siau-poh heran.

Teng Ting-hou tertawa, "Di rumah ada seekor macan betina sedang menunggu aku, apa tidak pantas kalau aku segera pulang?"

"Tidak betul," tiba tiba Ting Si menyeletuk.

"Lho, mengapa tidak betul?" tanya Teng Ting-hou.

"Kau dan aku terbelenggu oleh tambang panjang, jika ikatan tambang itu terlepas, kau atau aku jangan harap bisa keluar dari sini."

Teng Ting-hou meninggikan suara berkata sambil bertolak pinggang, "Pembunuh berbakat yang membunuh Ban Thong itu mirip diriku tidak?"

"Sedikitpun tidak mirip," sahut So Siau-poh. "Bukankah perawakannya lebih tinggi dariku?" tanya Teng Ting-hou.

"Ya, Lebih tinggi setengah kepala." "Apa kau tidak salah lihat?"

"Yakin tidak. Mataku belum lamur."

Pelahan-TengTing-hou duduk lagi di kursinya.

"Sekarang apa aku boleh pergi?" tanya So Siau-poh. Teng Ting-hou memanggut, "Boleh, tapi kau harus hati-hati menjaga dirimu."

So Siau-poh tertawa, "Ya, kepalaku hanya satu, jiwaku juga tidak rangkap, jelas aku akan berlaku hati-hati, aku ingin hidup seribu tahun." Waktu melangkah keluar dada dibusungkan, seperti tawanan yang lama disekap di penjara, setelah bebas, hati menjadi riang, enteng dan lega, seolah-olah tidak kuatir dibokong seorang dari belakang.

Sambil memicingkan mata Ting Si memperhatikan gerak-geriknya yang melangkah keluar, bola matanya makin membelalak, sorot matanya menampilkan mimik aneh, seperti ingin cepat mengejarnya. Sayang saat itu Ong-toasiocia sudah mulai bicara sehingga terpaksa tetap duduk  di kursinya.

"Aku yakin kau pasti merasa heran, mengapa aku ingin tahu dimana kau berada pada tanggal 13 bulan 5 yang lalu, betul tidak?"

"Ya, aku tidak mengerti.." "Kau tidak mengerti, mengapa aku mengusut perkara di tanggal itu?" "Ya, coba jelaskan."

"Tanggal 13 adalah hari yang istimewa," Ong-toasio-cia mengangkat cawan araknya, sebelum minum pelahan dia meletakkan pula cawannya, bola matanya yang jeli dan bening mendadak berubah guram seperti berselaput. Cukup lama baru Ong-toasiocia melanjutkan, "Ayahku meninggal pada tanggal 13, mati secara mengenaskan, kematiannya yang aneh dan amat mencurigakan."

"Aneh dan mencurigakan bagaimana?" Teng Ting-hou bertanya.

"Pada zaman dulu hingga sekarang, tombak adalah senjata panjang, gaman seorang panglima perang di medan laga, senjata ampuh dan lihai untuk bertempur jarak jauh di atas kuda. Tokoh silat yang bersenjata tombak di kalangan Kangouw tidak banyak jumlahnya, apalagi yang terkenal sebagai tokoh kosen yang tidak terkalahkan, boleh dikata jarang sekali."

Teng Ting-hou sependapat, "Menurut apa yang aku tahu, ada tiga belas jago kosen yang terkenal di Bulim bersenjata tombak panjang."

"Di antara tiga beias jago kosen itu, iimu tombak ayahku termasuk urutan keberapa?"

"Nomor satu” sahut Teng Ting-hou tanpa pikir, bukan memuji dan bukan tanpa alasan ia berkata demikian, "Selama tiga puluh tahun, jago siiat yang bersenjata tombak di Kangouw, belum ada yang mampu mengalahkan dia."

"Kenyataannya ayah mati di ujung tombak lawan."

Teng Ting-hou melongo, agak lama baru dia menghela napas, "Mati di bawah tombak siapa?"

"Entah, aku tidak tahu," sahut Ong-toasiocia, dia mengangkat cawan, tapi diletakkan lagi, jari- jarinya tampak gemetar. "Malam itu sudah larut, biasanya aku tidur pagi-pagi, waktu mendengarjeritan ngeri beliau ditengah malam, aku terjaga dengan kaget dan gelagapan."

"Waktu kau memburu ke kamar ayahmu, pembunuh itu sudah tidak kelihatan?" tanya Teng Ting- hou.

Sesaat Ong-toasiocia menggigit bibir, "Aku sempat melihat sesosok bayangan melompat keluar dari jendela belakang kamar buku ayah."

"Apakah perawakan bayangan itu tinggi?" tanya Teng Ting-hou pula.

Mata Ong-toasiocia berkedip-kedip, sesaat bimbang, akhirnya mengangguk kepala, "Ginkangnya amat tinggi."

"Maka kau tidak mengejarnya?"

"Ginkangku belum sempuma, umpama kukejar juga tidak akan kecandak, apalagi aku harus menolong ayah."

"Waktu itu, gejala apa yang mencurigakan?"

Ong-toasiocia menunduk sambil berpikir, "Waktu aku masuk kamar buku, ayah sudah rebah dalam genangan darah. " Wajahnya menjadi pucat, bola matanya  terbelalak,  memancarkan

rasa kaget saat membayangkan sesuatu  yang mengerikan.  Terbayang olehnya keadaan  sang ayah pada waktu itu, matanya melotot gusar, heran dan kaget, seperti tidak percaya bahwa dirinya mati di ujung tombak lawan, orang yang sudah dikenalnya dengan baik.

"Tombak emas ayah tergeletak di lantai, sementara kedua tangannya memegang kutungan tombak yang berlepotan darah, darah yang masih segar."

"Apakah kutungan tombak itu masih kau simpan?"

Pelahan Ong-toasiocia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil panjang dari lengan bajunya, dengan kalem ia membuka bungkusan kain putih itu. Tombak mengkilap itu terbuat dari baja murni, tapi gagang tombak terbuat dari rotan biasa, bagian yang putus tidak rata, agaknya begitu tombak menusukdi badannya yang fatal, baru terpegang oleh sang korban, waktu terjadi adu kekuatan karena saling betot, gagang tombak menjadi patah.

Teng Ting-hou mengerut kening. Tombak itu bermutu rendah, tiada sesuatu yang istimewa pada kutungan tombak ini, tombak seperti itu dapat dibeli di setiap toko senjata dimana saja.

"Sejak umur delapan aku mulai belajar ilmu tombak, orang-orang yang meyakinkan ilmu tombak dalam Piau-kiok kami juga tidak sedikit, tapi dari ujung tombak yang patah ini, kami tidak berhasil menemukan bahan untuk membuat penyelidikan."

"Dengan Pa-ong-jio peninggalan ayahmu, kau menantang duel tokoh-tokoh siiat kosen yang bersenjata tombak, maksudmu ingin tahu ilmu tombak siapa yang lebih tinggi dari kemampuan ayahmu?"

Ong-toasiocia menunduk sambil menghela napas, "Akhirnya aku sadar, cara yang kutempuh tidak baik, maklum aku sudah kehabisan akal, aku tidak tahu dengan cara apa aku harus menemukan jejak musuh."

"Setelah kau menyaksikan permainan Ting Si, kau curiga dialah pembunuh ayahmu. Maka kau mengancam dan minta keterangannya, dimana dirinya berada pada tanggal 13 bulan 5 yang lalu?"

Makin rendah kepala Ong-toasiocia menunduk, mulutnya terkancing.

Teng Ting-hou menghela napas, "llmu tombaknya rnemang tinggi, aku berani bertaruh jago kosen yang bersenjata tombak di Bulim sekarang, jarang ada yang bisa mengalahkannya, aku juga berani tanggung bukan dia yang membunuh ayahmu."

"Aku sudah tahu, maka......maka aku. "

"Biasanya ayahmu tidur setelah larut malam?" mendadak Ting Si menukas.

Ong-toasiocia menggeleng kepala, "Ayah berpegang teguh pada tata kehidupan, pagi-pagi sudah bangun, naik ranjang sebelum jam delapan malam."

"Apa betul peristiwa itu terjadi setelah larut malam?" "Waktu itu sudah lewat kentongan ketiga."

"Biasanya tidur pagi-pagi, tapi malam itu justru tidur hingga Iarut malam. Untuk apa dia berada di kamar buku?"

Ong-toasiocia mengerut kening, agaknya hal ini tidak pernah terpikir olehnya, "Ya, sekarang baru aku ingat, malam itu beliau kelihatan berbeda dari biasanya." "Seorang tua yang sudah biasa tidur sore dan bangun pagi-pagi, mengapa harus melanggar kebiasaan?"

Ong-toasiocia mengangkat kepala mengawasi, bola matanya memancarkan sinar terang.

"Apa bukan lantaran dia tahu malam itu dirinya akan kedatangan tamu, maka dia menunggu di kamar buku?"

"Waktu aku masuk ke kamar buku, memang ada dua pasang sumpit dan dua cawan, sekedar hidangan ringan di atas meja."

"Kau seperti melihat? Atau melihat secara nyata?"

"Waktu itu aku bingung, gugup dan takut, keadaan kamar buku tidak sempat kuperhatikan," sahut Ong-toa-siocia.

Ting Si menghela napas panjang, cawan arak diambil  lalu pelahan menghirup isinya hingga  habis. Mendadak ia bertanya, "Pa-ong-jio milik ayahmu, apakah selalu disimpan di kamar buku?"

"Ya, selalu disana."

"Jadi bukan lantaran ada tamu, maka dia menyiapkan senjatanya di sana?" "Ya, begitulah."

"Tapi dia menyiapkan hidangan dan arak."

Tiba-tiba Ong-toasiocia berdiri, "Sekarang kuingat, malam itu waktu aku masuk ke kamar buku, memang betul ada sepasang sumpit dan dua cawan di atas meja."

"Tadi kau bilang tidak memperhatikan keadaan kamar buku, sekarang kau bilang mendadak ingat?"

"Semula aku memang tak memperhatikan, belakangan pembantu ayah ada yang mencekoki aku secawan arak waktu hampir semaput. Dalam keadaan seperti itu sudah tentu aku tidak memperhatikan keadaan."

Ting Si menepekur sesaat lamanya, suasana hening. "Berapa luas kamar buku itu?" tanya Ting Si kemudian.

"Besarsih tidak, kira-kira empat kali lima meter."

"Umpama kamar buku itu amat luas, kalau ada orang berhantam dengan tombak panjang di sana, keadaan tentu porak poranda, perabot tentu tidak sedikit yang hancur."

"Akan tetapi. "

"Waktu kau masuk kamar, piring, mangkuk, poci dan sumpit serta cawan masih rapi di atas meja?"

"Betul," tegas jawaban Ong-toasiocia.

"Ujung tombak ini hanya kutungan saja, gagang tombak mungkin setombak lebih panjangnya, tapi juga mungkin hanya satu dua kaki saja."

"Oleh karena itu. " "Pembunuh ayahmu belum tentu seorang kosen yang bersenjata tombak, apalagi terkenai, tapi aku yakin pembunuh itu pasti kenalan atau sahabat ayahmu."

Ong-toasiocia menunduk diam, sesaat dia mengangkat kepala pula serta mengawasi pemuda di depannya ini. Matanya seperti jnelihat anak kecil mungil yang menyenangkan.

"Karena yang datang adalah sahabat baik, ayahmu menyiapkan hidangan untuk menyamuut kedatangannya dan menunggu di kamar buku, pembunuh itu mendapat kesempatan mengeluarkan tombak yang sudah disiapkan lalu menusuk ayahmu di tempat fatal. Lantaran ayahmu tidak menduga dan tiada kesempatan membela diri atau melawan, maka hidangan di atas meja sedikitpun tidak te.sentuh," demikian Ting Si membuat kesimpulan, pelahan ia menghirup araknya, tenggorokannya sudah gatal hingga suaranya berubah tawar, "Itu hanya sekedar pendapatku yang bodoh, apa yang kupikir belum tentu benar."

Ong-toasiocia masih menatapnya hingga lama, lambat-laun sinar matanya memancar cahaya yang sukar dilukiskan, mirip gadis remaja yang baru pertama kali mengenakan perhiasan dan bercermin di depan kaca.

Teng Ting-hou tertawa, "Sekarang kau mengerti bukan, mengapa dia memperoleh julukan Ting Si yang pintar'."

Tanpa bicara Ong-toasiocia bangkit dari tempat duduknya. Tanpa terasa keadaan di luar menjadi gelap, sinar bintang berkelap-kelip di angkasa, demikianlah sepasang bola mata Ong-toasiocia, mirip bintang kejora. Angin berhembus kencang dari puncak gunung di kejauhan, langit remang- remang, puncak gunung itu hanya kelihatan bentuknya yang hitam raksasa berjongkok di tempat gelap.

Pelahan menuju ke jendela, matanya menatap jauh ke puncak gunung yang gelap itu, akhirnya dia menghela napas panjang, "Tadi aku bilang tanggal 13 bulan 5 adalah hari istimewa, bukan hanya lantaran pada hari itu ayahku mati terbunuh."

"Masih ada keistimewaan lain di hari itu?" tanya Teng Ting-hou.

"Biasanya ayah amat memperhatikan kesehatan dirinya, jarang minum arak tidak pernah menghisap rokok, tapi setiap tahun pada tanggal dan bulan itu, seorang diri dia minum arak dan menghisap rokok untuk menghilangkan kerisauan hatinya hingga larut malam."

"Tidak pernah kau tanya, mengapa beliau berbuat demikian?" tanya Teng Ting-hou. "Sudah tentu pernah aku bertanya kepada  beliau,"  sahut  Ong-toasiocia. "Bagaimana jawabnya?"

"Waktu pertama aku bertanya, beliau menjadi gusar, aku didamprat dan diberi peringatan supaya selanjutnya tidak mencampuri urusan orang tua. Belakangan beliau malah menjelaskan  kepadaku."

"Menjelaskan apa?"

"Menurut adat kebiasaan penduduk Binglam, tanggal 13 bulan 5 adalah hari ulang tahun Thian-te dan Thian-houw (raja langit dan permaisurinya), hari itu, setiap keluarga pasti bersembahyang,  bagi yang punya duit mengundang sanak saudara mengadakan pesta dengan harapan tahun depan mereka akan mengeruk keuntungan yang lebih besar."

"Setahuku ayahmu bukan kelahiran Binglam," ujar Teng Ting-hou. "Tapi almarhumah ibuku kelahiran Bing-lam. Di waktu mudanya, kalau tidak salah, cukup lama ayah menetap di daerah itu."

"Mengapa tidak pernah kudengar tentang ini?"

"Hal ini memang dirahasiakan, jarang diceritakan kepada siapa pun." "Tapi. "

"Yang lebih aneh, setiap tahun bila tiba tanggal dan bulan itu, perangai beliau tentu berubah jelek, pemarah dan suka mengomel, biasanya setiap hari beliau latihan tombak, tapi hari itu kelihatan menjadi malas, sejak pagi bangun tidur hingga larut malam mengeram diri di kamar bukunya."

"Apa kau tidak tahu untuk apa seharian beliau mengeram diri dalam kamar buku?"

"Berapa kali aku mengintip, kulihat beliau selalu duduk melamun, suatu ketika kulihat beliau menggambar sebuah lukisan."

"Lukisan apa  yang digambar?"

"Setelah lukisannya selesai, kelihatan dia akan menyobek atau membakar lukisan itu, tapi setelah dipandang pula beberapa kali, sikapnya berubah seperti merasa sayang, maka dia gulung lukisan itu, disimpan di belakang lemari, dimana ada lemari rahasia lapis dua."

"Kau pernah melihat gambar lukisan itu?"

"Ya, pernah, menurut pendapatku, tidak ada sesuatu yang istimewa pada gambar itu, gambar itu melukiskan sebuah pemandangan gunung dan sungai, ada mega putih terapung di pinggang gunung nan hijau permai, panorama yang amat indah."

Mendadak Ting Si menyeletuk, "Apakah lukisan itu masih ada?" "Sudah hilang."

Ting Si mengerut alis, sikapnya seperti amat kecewa.

"Setelah ayah meninggal, aku pernah membuka lapisan lemari rahasia itu, barang yang tersimpan di sana masih utuh, tiada yang hilang, kecuali lukisan itu. Padahal gambar itu tidak berharga sepeser pun, tapi orang justru mengambil lukisan itu."

"Jadi kau tidak tahu siapa yang mengambii lukisan itu?" tanya Ting Si pula.

Ong-toasiocia menggeleng kepaia, "Secara seksama pernah aku memeriksa lukisan itu di luar tahu ayah. Waktu kecil aku pernah belajar menggambar."

Bercahaya pula sinar mata Ting Si, "Sekarang dapatkah kau menjiplak lukisan itu persis aslinya?"

"Mungkin aku bisa menjiplaknya sekarang," ujar Ong-toasiocia, lekas sekali dari pemilik restoran  ia mendapatkan alat-alat dan kertas gambar, meski bukan ahli temyata Ong-toasiocia mahir menggambar, goresan kuasnya cukup kuat dan tajam.

Langit biru mega putih, di bawah mega terdapat sebuah lereng gunung yang menghijau, lapat- lapat seperti keiihatan ujung sebuah bangunan berloteng. Setelah meletakkan kuas dan mengeringkan tinta, beberapa kejap Ong-toasiocia memperhatikan hasil karyanya, wajahnya kelihatan amat puas.

"Beginilah bentuk lukisan itu, umpama tidak persis seratus persen, delapan puluh hingga sembilan puluh persen kuyakin cukup memadai."

Hanya sekejap Ting Si mengawasi gambar itu lalu melongo ke arah lain, suaranya tawar, "Gambar ini memang tidak istimewa, pemandangan gunung dan air seperti ini, di kolong langit entah berapa banyaknya."

"Tapi lukisan ini dibubuhi beberapa huruf yang istimewa." "Apa bunyi tulisan itu?" tanya Teng Ting-hou.

Ong-toasiocia mengangkat potlot tinta lalu menulis beberapa huruf di ujung atas kanan gambar. "Tanggal 13 bulan 5, menyingkir jauh dari naga hijau."

Ceng-liong adalah naga hijau. Melihat kedua huruf ini, rona muka Teng Ting-hou mendadak berubah jelek, seperti melihat momok yang menakutkan.

Pelahan Ong-toasiocia meletakkan alat tulisnya lalu berputar menghadapinya, matanya menatap tajam, namun suaranya kalem dan lembut, "Waktu ayah masih hidup, beliau sering bilang bahwa  di antara teman-temannya, Sin-kun-siau-cu-kat memiiiki pengetahuan paling luas."

Teng Ting-hou tertawa meringis, bibirnya menghijau, tawa yang dipaksakan. Ong-toasiocia berkata pula, "Aku tahu beliau tidak pernah membual, maka. "

Tiba-tiba Teng Ting-hou menghela napas, "Soal apa yang ingin kau tanyakan padaku?" "Kau tahu tentang Ceng-liong-hwe?" tanya Ong-toasiocia.

Teng Ting-hou berjingkat, agaknya tidak menduga dirinya bakal ditanya tentang hai ini.

Ceng-liong-hwe, sudah tentu Teng Ting-hou tahu apa itu Cang-liong-hwe. Tapi setiap kali telinganya mendengar nama golongan yang satu ini, seperti ada ribuan ular kecil merayap ditengkuknya.

Ong-toasiocia menatapnya, katanya pelahan, "Aku yakin kau tahu. Konon, selama tiga ratus tahun ini, Ceng-liong-hwe merupakan golongan paling ditakuti di kalangan Kangouw."

Teng Ting-hou tidak menyangkal, juga tidak berani menyangkal. Bahwa Ceng-liong-hwe merupakan momok atau dedemit yang menakutkan di kalangan Kangouw memang kenyataan. Tiada orang tahu bagaimana asal-usul golongan Ceng-liong-hwe dan kapan berdirinya, selama ratusan tahun, jarang ada orang luar tahu, siapa yang menjadi ketua atau memegang tampuk pimpinan golongan itu selama beberapa generasi. Orang hanya tahu, betapa kejam dan telengas tindakan mereka, tiada golongan atau aliran silat manapun yang bisa menandinginya.

Ong-toasiocia berkata lebih lanjut, "Konon markas cabang Ceng-liong-hwe secara rahasia tersebar luas ke seluruh pelosok dunia, begitu banyak hingga seluruhnya berjumlah tiga ratus enam puluh lima cabang.."

"Wah, banyak benar."

"Setahun bukankah juga genap tiga ratus enam puluh lima hari? Maka Ceng-liong-hwe menggunakan tanggal dan bulan sebagai kode rahasia untuk mengadakan hubungan satu dengan yang lain. Tanggal 13 bulan 5 mungkin adalah salah satu markas cabang mereka juga."

"Jadi kau berpendapat, kematian ayahmu ada sangkut-pautnya dengan gerakan Ceng-liong- hwe?"

"Beliau sudah lanjut usia, tapi mata kupingnya masih normal. Hari itu, waktu aku mengintip, aku yakin beliau juga tahu, tapi diam dan pura-pura tidak tahu."

"Jadi kau  beranggapan bahwa lukisan itu sengaja ditujukan kepadamu?" . "Ya, mungkin sekali."

"Lalu apa tujuannya?"

"Mungkin waktu beliau berada di Bing-lam, pernah bermusuhan dengan pihak Ceng-liong-hwe, dia tahu suatu saat Ceng-liong-hwe akan mengutus orang mencari dirinya, maka beliau menggunakan cara itu untuk memberi peringatan kepadaku."

"Tapi. "

"Waktu masih hidup beliau tidak mau menjelaskan kepadaku," demikian Ong-toasiocia menukas. "Beliau kuatir aku tersangkut perkara ini. Maka beliau meninggalkan pesan secara tidak langsung lewat lukisan ini, supaya aku tahu orang yang membunuhnya adalah pimpinan cabang markas Ceng-liong-hWe yang menggunakan kode 13 bulan 5 itu, sementara markas besar golongan rahasia itu dibangun di atas lereng gunung hijau ini."

Teng Ting-hou menghela napas panjang, "Umpama benar dugaanmu, tidak pantas dia melupakan huruf-huruf di bawah itu."

Menyingkir jauh dari Ceng-liong (naga hijau)..

Ong-toasiocra menggenggam erat kedua tangannya, air matanya berkaca-kaca di pelupuk mata, "Aku tahu betapa menakutkan Ceng-liong-hwe itu, tapi aku bertekad, apapun yang terjadi aku harus menuntut balas kematian ayahku."

"Kau punya kekuatan dan kemampuan menuntut balas?"

"Tekadku sudah bulat, apapun yang terjadi aku harus berusaha," dengan gemas ia menyeka air mata. "Aku gegetun, mengapa aku tidak tahu dimana letak lereng gunung hijau seperti yang terlukis dalam gambar itu."

"Memangnya persoalan lain sudah kau ketahui?"

"Paling tidak aku sudah tahu siapa pemimpin markas cabang dengan kode tanggal 13 bulan 5 itu."

"Siapa dia?" tanya Teng Ting-hou mengepal tinju, perasaannya mulai tegang.

Ong-toasiocia tak langsung menjawab, suaranya pelan, "Orang itu adalah sahabat ayah, malam   itu ayah sengaja menunggu kedatangannya." Habis bicara matanya menatap Ting Si, "Banyak persoalan belum pernah kupikirkan, tapi dari kata-katamu tadi, banyak yang kusimpulkan, banyak yang kupikirkan."

Suara Ting Si tetap tawar, "Tapi sudah kutandaskan, pemikiranku belum tentu benar."

Ong-toasiocia tertawa getir, mendadak ia bertanya, "Apa kau tahu mengapa aku tidak menepati janji ke rumah keluarga Hi untuk  berduel?"

Dingin dan penuh nada sindiran perkataan Ting Si, "Kalau Toasiocia bilang tidak mau pergi ya tidak pergi, buat apa pakai alasan segala."

"Tapi memang ada alasannya," seperti tidak merasakan sindiran Ting Si, Ong-toasiocia tidak marah, lalu melanjutkan, "Pagi itu, ditengah jalan, aku melihat seorang."

"Hm, dijalan raya banyak orang. Kalau kau melihat setan baru mengherankan," demikian jengek Ting Si kaku.

"Tapi terhadap orang yang satu ini, mimpi pun aku tidak menduga bakal melihatnya di tengah jalan."

"O, bagaimana kejadiannya?"

"Waktu itu masih pagi, cuaca remang-remang, dia mengenakan kedok muka, aku yakin dia tidak menyangka kalau aku mengenalinya. Tapi aku berlaku amat hati-hati."

"Mengapa?" tanya Ting Si.

"Waktu itu aku sudah menduga, ayah mati di tangannya, kalau dia tahu aku mengenalinya, mungkin aku pun sudah dibunuhnya."

"Karena ketakutan, maka janji berduel itu pun segan kau tepati?"

Merah mata Ong-toasiocia hampir menangis, katanya kemudian, "Waktu itu, aku belum yakin seratus persen dugaanku benar."

"Tapi sekarang?"

"Setelah mendengar uraianmu, mendadak aku ingat, di malam kematian ayah, orang yang ditunggu ayah di kamar buku tentu dia."

"Jadi sekarang kau yakin dugaanmu benar?" "Sekarang aku yakin."

"Tapi kau tidak berani berterus terang, siapa dia sebenarnya?" "Soalnya. umpama kujelaskan, kalian pasti tidak percaya."

"Kalau begitu, lebih baik tidak usah dijelaskan," ujar Ting Si, dia isi cawan araknya lalu minum sendiri, sikapnya seolah-olah tidak peduli dan tidak ingin tahu kelanjutan perkara ini.