Pukulan Si Kuda Binal Bagian 04

 
Bagian 04

Sambil bertolak pinggang Ang-sin-hoa menuding dan memaki, "Mengapa tidak kau periksa lukanya, memangnya kau ingin melihat kakinya cacad, merangkak di belakangmu seperti kura- kura?"

Ting Si hanya menyengir getir.

Ang-sin-hoa menuding hidungnya, serunya gemas, "Kalau kau ingin enyah, lekas enyah, lebih cepat lebih baik, tapi kura-kura ini harus tetap di atas ranjang, biar aku yang merawat luka- lukanya, siapa berani membawa dia pergi, akan kupatahkan kedua kakinya."

"Tapi aku. "Ting Si gelagapan.

"Kau mengapa?" tukas Ang-sin-hoa. "Kau enyah tidak?" Tangannya bergerak lagi.

Ting Si kapok, lekas dia berlari keluar sambil tertawa, ujamya, "Baiklah, aku enyah, segera aku pergi."

Keruan Siau Ma gugup, teriaknya, "He, kau tidak mau membawaku?" Belum habis dia bicara, pipinya juga kena tarn pa ran keras.

"Setan, jangan memanggilnya?" bentak Ang-sin-hoa melotot. "Apa perlu kujahit mulutmu?" Dengan menyengir Siau Ma menggeleng, ujarnya "Tidak, aku tidak mau."

"Nah, tidurlah, jangan banyak bertingkah, kalau cere-wet biar kujahit mulutmu."

Siau Ma merebahkan diri tak berani bersuara lagi. Di hadapan Ang-sin-hoa, si Kuda Binal menjadi anak kambing yangjinak.

"Masih tidak lekas enyah? Ingin kuserampang kaki-mu?" dia menyambarsapu dan memburu ke arah Ting Si.

Ting Si lari ke pekarangan, segera naik kereta yang menunggudi pinggirsana, setelah duduk di atas kereta, lega rasanya, katanya tertawa getir, "Nenek tua itu terlalu galak."

Teng Ting-hou ikut mengeluyur keluar, ia pun menghela napas, katanya, "Ya, galak setengah mati."

"Pernah kau melihat nenek segalak itu?" "Tidak, belum pernah."

"Belum pernah aku melihat yang kedua." "Apa betul kau takut kepadanya."

"Ah, pura-purasaja."

Teng Ting-hou tertawa lebar, katanya, "Agaknya dia bukan nenekmu sesungguhnya." "Memang bukan."

"Jadiapamu. "

"Waktu aku lapar, hanya dia yang memberi nasi kepadaku, bila pakaianku robek, dia yang menjahit dan menambalnya, bila aku dihajar orang, terluka, dia yang merawatku, asal aku ingat kepadanya, derita akan kulupakan sama sekali."

"Bila kau kemari, kau akan mendapat perawatannya."

Ting Si mengangguk, katanya tersenyum, "Sayang usianya sudah tua, kalau masih muda pasti kuambil jadi biniku."

Sekian lama Teng Ting-hou menatapnya, mendadak bertanya, "Apa betul kau tak pernah berpikir untuk mencari jodoh?"

"Memangnya kau ingin menjadi comblangnya?"

"Aku punya pitihan, dia adalah pasanganmu yang setimpal." "Siapa?"

"Ong-toasiocia."

Mendadak sirna tawa Ting Si, katanya dengan muka muram, "Kalau kau suka dia, mengapa tidak kau saja yang kawin dengannya."

Teng Ting-hou tertawa, katanya, "Bukan aku tidak pernah berpikir, sayang usiaku sudah tua apalagi di rumah aku sudah memelihara seekor macan betioa yang galak."

Wajah Ting Si membeku, jengeknya, "Lucu, lucu, mengapa kau makin lama berubah makin lucu." "Karena. " belum habis dia bicara, terjadi goncangan keras disertai suara gemuruh, kereta

besar yang mereka naiki, termasuk kudanya terperosok ke dalam lubang besar.

Ting Si maiah tertawa lebar, tertawa geli.

Ternyata Teng Ting-hou juga tetap duduk ditempatnya, tanpa bergerak, sikapnya wajar, tidak kaget atau heran, tenang-tenang saja.

Ting Si berkata dengan tertawa, "Menjebak kuda masuk lubang adalah salah satu keahlianku, siapa nyana orang lain juga menggunakah cara ini untuk menjebakku."

"Darimana kau tahu perangkap ini ditujukan kepadamu?" tanya Teng Ting-hou. Ting Si menyengir, katanya, "Aku tahu, karena inilah yang dinamakan karma."

Di luar, seorang mengetuk atap kereta dengan keras, katanya lantang, "Hayo keluar, juragan ada urusan ingin bicara dengan kalian."

Ting Si menoleh ke arah Teng Ting-hou, katanya, "Apa kau tahu, didaerah ini ada juragan besar?"

Teng Ting-hou berkata, "Tempat ini tidakjauh dari Loan-ciok-kang, wilayah kekuasaanmu, pantasnya kau lebih jelas dariku."

"Menurut hematku, daerah ini, juragan paling besar hanya kau seorang."

Orang di luar itu berkoar lebih keras, mendesak mereka keluar, atap kereta hampir jebol dipukul pentung.

"Kau mau keluar atau tidak?" tanya Ting Si.

"Tidak keluar, apa bisa?" Teng Ting-hou balas bertanya. "Tidak bisa.."

Teng Ting-hou tertawa getir, katanya, "Ya, kurasa memang tidak bisa." Ting Si mendorong pintu kereta, katanya, "Silakan."

"Kau dulu silakan, kau kan tamuku."

"Tapl usiamu lebih tua, selama hidup aku paling hormat kepada orang yang lebih tua." "Sejak kapan kau berubah sungkan."

"Tadi kudengar di luar ada suara gendewa yang siap membidikkan panah, maka aku berkeputusan untuk bersikap ramah kepadamu."

Teng Ting-hou tertawa, sudah tentu ia pun mendengar gendewa ditarik siap dibidikkan.

Kereta dikepung, panah siap membidik, bila mereka keluar dari kereta, badan akan terpanah seperti landak. Tapi mereka masih berkelakar dan tertawa wajar, tertawa riang.

Teng Ting-hou berkata, "Setelah aku keluar, bila badanku terbidik panah, bagaimana denganmu?"

"Aku akan menjadi kura-kura saja, bersembunyi dalam kereta, umpama mereka menyembah padaku seperti mereka menyembah kakek moyangnya, aku tetap takkan keluar."

Teng Ting-hou tergelak-gelak, serunya, "Bagus, akal bagus."

"Jangan lupa, aku ini Ting Si yang terkenal cerdik pandai, akal yang kupikir pasti karya terbesar dan terbaik."

Di tengah gelak tawanya, Teng Ting-hou melangkah keluar, cukup lama dia berdiri di luar, ternyata badannya tidak kurang sesuatu apa, tetap segar bugar.

Seorang berdiri di hadapannya, di tempat yang lebih tinggi, dari dalam kereta hanya terlihat sepasang kaki saja. Sepasang kaki yang halus dan jenjang, kaki yang dibung-kus kaos kaki putih dengan sepatu sulam burung walet, sepasang kaki perempuan.

Laki-laki jelas tak memiliki kaki perempuan, apakah juragan besar itu seorang perempuan? Dari dalam kereta Ting Si bertanya lantang, "Bagaimana keadaan di luar?"

"Cuaca cerah ceria, tidak dingin juga tidak terlalu panas," sahut Teng Ting-hou. "Kalau begitu, aku tidak akan keluar."

"Lho, mengapa?"

"Aku taktahan hidup di udara seperti itu, bila aku berada di luar, aku bisa jadi gila." "Tapi cuaca mulai berubah, mega mendung, kelihatannya akan hujan."

"Kau takut kehujanan?" "Takut sekali."

"Tapi sekarang hujan belum turun."

"Maksudmu aku harus berdiri di luar menunggu hujan?"

Teng Ting-hou menghela napas, tertawa getir mengawasi juragan besar yang berdiri didepannya, katanya, "Agaknya bocah ini bertekad tidak mau keluar."

Toa-laupan atau juragan besar menyeringai, "Mau atau tidak, dia harus keluar." "Kau punya akal untuk memaksanya keluar?"

"Kalau tidak mau keluar, akan kubakar kereta ini."

Teng Ting-hou bertepuk tangan, katanya menghela napas, "Aku tahu, kalau di dunia ini ada orang yang dapat menghadapi Ting Si, orang itu adalah Ong-toasiocia."

Juragan besar itu ternyata Ong-toasiocia.

Empat laki-laki berdiri di belakangnya, memanggui po (tombak), deiapan laki-laki lain berkeliling membentang busur siap membidik dengan panah.

Toh Yok-hn tampak duduk di bawah pohon di kejauhan sana, duduk menyisir rambut dengan sebuah sisir besar terbuat dari tanduk kerbau.

Ong-toasiocia berkata dingin, "Orang-orang ini adalah petugas Piaukiok kami, kalau kusuruh mereka menyulut api, mereka akan membakar kereta, kalau kuberi aba-aba, panah mereka akan minta korban, aku tidak main gertak."

"Ya, aku tahu," sah'ut Teng  Ting-hou.

"Lekas kau suruh bocah she Ting itu menggelundung keluar," desak Ong-toasiocia. "Bagaimana setelah keluar?" tanya Teng Ting-hou.

"Dia harus menjawab pertanyaanku secara jujur, aku pasti tidak akan mencari perkara padanya." "Baiklah, biar aku masuk dan berunding dengannya," demikian ucap Teng Ting-Hou. Baru saja dia membungkuk hendak menyelinap ke dalam kereta, atap kereta mendadak jebol dengan suaranya yang keras, seperti diseruduk banteng atap kereta belong. Bayangan seorang tampak menerobos keluar, gerak-geriknya cepat dan tangkas, kekuatannya mampu membuat tubuhnya terbang tiga tornbak tingginya. Tapi paling tinggi dia hanya melesat tiga kaki saja.

Di atas lubang besarternyata ditutup jaring ikan yang besardan ulet.

Teng Ting-hou menghela napas gegetun, katanya, "Kan sudah kubilang, bila berhadapan dengan Ong-toasio-cia, kau akan masuk ke dalam jaring perangkapnya."

Ting Si menarik muka, sambil duduk di atas kereta dia berkata dingin, "Aneh dan lucu, kau kelihatannya makin lucu saja." Menghadapi persoalan pelik sekalipun biasanya dia tetap tertawa wajar, tapi sekarang dia tidak bisa tertawa. Entah karena apa, setiap kali bertemu atau berhadapan dengan Ong-toasiocia, dia tidak bisa tertawa lagi.

Ong-toasiocia tidak tertawa, ia cemberut, katanya, "Meski hanya delapan busur yang siap membidik, namun sekali kau bergelak, mereka mampu membidikkan lima puluh enam batang panah ketubuhmu."

Ting Si tidak bergerak. Dia tahu delapan orang itu adalah ahli panah yang tak boleh dianggap enteng.

Ong-toasiocia menjengek, "He, mengapa kau tidak bergerak?" "Karena aku sedang menunggu," sahut Ting Si.

"Menunggu apa?" Ong-toasiocia menegas.

"Kutunggu pertanyaan apa yang hendak kau ajukan kepadaku?"

Ong-toasiocia menggigit bibir, bila tegang dia selalu menggigit bibir. Persoalan apa yang hendak dia tanyakan kepada Ting Si? Mengapa harus setegang itu?

Teng Ting-hou tidak habis mengerti.

Akhirnya Ong-toasiocia bersuara dingin, "Sudah banyak urusan kau selesaikan dengan kurang ajar, memandang muka Teng Ting-hou, aku malas membuat perhitungan denganmu. Tapi ada satu hal ingin aku bertanya kepa-damu supaya jelas duduk persoalannya."

"Boleh kau tanyakan," ucap Ting Si.

Rona muka Ong-toasiocia mendadak berubah hijau kelam, kedua jari tangannya saling remas, dia menggigit bibir, setelah gejolak hatinya tenang baru dia bertanya, "Pada tanggal tiga belas bulan lima yang lalu, kau berada dimana?"

"Tanggal tiga belas bulan lima tahun ini maksudmu?" tanya Ting Si. "Betul, tanggal tiga belas bulan lima yang lalu."

"Kau membuang tenaga dan pikiran, menggali lubang besar ini, tujuanmu hanya untuk mengajukan pertanyaan ini kepadaku?"

"Betul, soal itu ingin kutanya kepadamu, kuharap kau tahu diri, jawablah sejujurnya." Tampaknya dia bukan saja tegang, tetapi juga haru dan sedih, saking emosi suaranya pun gemetar.

Tanggal tiga belas bulan lima, dimanakah Ting Si? Ada sangkut-paut apa dengannya? Mengapa sikapnya setegang itu? Teng Ting-hou makin bingung.

Ting Si juga heran, mendadak dia menghela napas, katanya, "Untung yang kau tanyakan adalah tanggal tiga belas bulan lima, agaknya nasibku masih mujur."

"Mengapa?" tanya Ong-toasiocia.

"Kalau kau tanya tanggal lain, sudah kulupakan, aku tak bisa memberi penjelasan." "Tapi kejadian tanggal tiga belas bulan lima itu, kau tidak bisa melupakannya?"

Ting Si memanggut, ujarnya, "Ya, hari itu aku mela-kukan sesuatu yang menggembirakan hati."

"Sesuatu apa yang kau lakukan?" sepasang tangan Ong-toasiocia saling genggam, sekujur badan bergetar.

Ting Si malah menoleh, tanyanya kepada Teng Ting-hou, "Kau tahu tidak, apa yang kulakukan pada tanggal 13 bulan 5?"

Teng Ting-hou tertawa getir, ujarnya, "Sudah tentu aku tahu, aku tahu jelas sekali." "Apa yang telah dia lakukan hari itu?" bentak Ong-toasiocia dengan nada tinggi.  "Dia membegal barang kawalan kita," sahut Teng Ting-hou.

"Jelas tidak, dimana dia turun tangan?" "Di sekitar Thay-goan."

"Kau tidak salah ingat?"

"Kejadian lain mungkin bisa kulupakan, tapi peristiwa yang satu ini, sampai mati juga takkan lupa."

"Mengapa?" desak Ong-toasiocia.

"Sedikitnya aku punya seratus tiga puluh lima ribu alasan." Ong-toasiocia melenggong, tidak paham.

Teng Ting-hou tertawa getir, katanya, "Karena kasus itu, aku harus membayar ganti rugi seratus tiga puluh lima ribu tail perak, setiap tail perak cukup membuatku ingat peristiwa ini."

102

Ong-toasiocia tak bisa bicara, mimik wajahnya kelihatan merasa lega, tapi juga seperti kecewa. "Ada persoalan lain yang ingin kau ajukan lagi?" tanya Ting Si.

"Sudah tentu ada," sahut Ong-toasiocia. "Masih ada?" Ting Si heran. "Jawab pertanyaanku. Aku berduel dengan orang she Ji, apa sangkut pautnya dengan kalian? Berdasar apa kalian mencampuri urusanku?"

"Kalau tidak salah tadi kau bilang, tidak akan membicarakan persoalan lain denganku." "Sekarang aku justru ingin tahu."

"Siau Ma hendak membantumu," ujar Ting Si. "Membantu aku?"

"Dia takut kalau kau kalah dan mati."

Ong-toasiocia gusar, serunya, "Memangnya dia tidak tahu dalam dua puluh jurus aku mampu merobohkan Ji Sam?"

"Dia memang tidaktahu." "Memangnya dia orang buta?"

"Bila matanya melihat jelas sesuatu, mana mungkin dia beraggapan bahwa nona Toh lemah lembut dan aleman, malah bersikap baik terhadapnya?"

"Peduli amat gadis macam apa dia, kau tak perlu mengurus." "Memang aku tidak mau mengurus."

"Sampaikan kepada bocah she Ma itu, dia harus menyingkir jauh, selama hidupnya jangan sampai kami melihatnya lagi."

"Akan kusampaikan kepadanya."

"Umpama laki-lakii di dunia ini mampus seluruhnya, akan kutentang Siau Lin kawin dengannya." "Terima kasih, banyak terima kasih."

Ong-toasiocia menggigit bibir, matanya melotot gusar, katanya, "Cukup sampai di sini, sekarang kau boleh turun dan berlutut."

"Apa? Berlutut?" Ting Si menegas.

"Bukan saja harus berlutut, kau harus menyembah tiga kali kepadaku." "Mengapa aku harus berlutut dan menyembah kepadamu?"

"Karena aku yang memberi perintah."

"Karena orang-orangmu pandai membidik panah beruntun begitu?" "Memangnya kau ingin mencobanya?"

Ting Si tertawa. Ada beberapa macam gaya tertawa Ting Si, yang terang tertawanya sekarang membuat orang merasa dongkol atau benci.

"Ong-toa-sio-cia melotot, dengusnya, "Kau memandang rendah panah berantai mereka?" TawarsuaraTing Si, "Bahwasanya panah berantai kalian panjang atau pendek? Runcing atau bundar? Aku kan belum pernah menjajal atau merasakan."

"Jadi kau ingin menjajal dan merasakan?" "Ya, ingin sekali."

"Sebetulnya aku tak ingin membuatmu pendek umur, setelah mampus jangan kau salahkan aku."

"Jangan kuatir, aku pasti tidak mati," mendadak Ting Si berdiri, dengan kedua tangannya dia tarik kanan sendal kiri, kedua tangan terus digentak seperti orang menyobek kain. Jala ikan itu kokoh kuat, ikan hiu puntakkan lolos bila terjaring, hanya sekali sendal ternyata jebol dan bolong oleh gentakan tangan Ting Si.

Berubah air muka Ong-toasiocia, serunya sengit, "Jangan biarkan dia pergi, tahan dia." Begitu aba-aba dikeluarkan, delapan gendewa segera menjepret beruntun, tiap gendewa membidikkan tujuh batang panah, ujung panah yang runcing mendesing memecah udara, anak panan berhamburan seperti laron terbang menerjang api.

Tangan Ting Si laksana burung gereja yang senang makan laron. Sebatang panah membidik datang, dia sambut sebatang, sepuluh batang menerjang bersama, diatangkap sepuluh batang, dalam sekejap lima puluh enam batang panah telah berada di tangannya.

Kejap lain lima puluh enam batang panah itu laksana seutas benang meluncur dari tangannya, semua menancap di atas pohon besar tak jauh di samping Toh Yok-lin.

Mendadak Ting Si menghardik, "Putus."

Lima puluh enam batang panah yang menancap di pohon satu demi satu rontok berhamburan, tinggal mata panahnya saja yang kemilau masih menancap di dahan pohon.

Ting Si bertepuk tangan, katanya tersenyum, "Kurasa panah berantai apa, babi pun takkan mati terpanah."

Membesi hijau muka Ong-toasiocia, bibirnya gemetar, suaranya tertelan dalam tenggorokan.

Ting Si bertepuk tangan lagi, katanya riang, "Aku tetap berada di  sini, karena  aku  ingin mendengar persoalan yang ingin kau tanyakan padaku, panah berantai seperti tadi ada ribuan   juga jangan harap dapat merintangi langkahku, mau pergi boleh pergi, siapa dapat merintangiku."

Ong-toasiocia menggigit bibir, desisnya geram, "Bagus, memang bagus." "Sekarang kau masih menyuruhku berlutut dan menyembah?"

"Sekarang apa kehendakmu?" "Kau bisa membaca tidak?"

Ong-toasiocia menatapnya lekat, seolah ingin mengetuk bolong dua lubang dijidat orang.

"Kalau kau kenal huruf dan pandai membaca, kenapa kau tak menoleh dan memeriksa dengan seksama?"

Terpaksa Ong-toasiocia membalik badan pelahan, dilihatnya lima puluh batang panah yang ditimpuknya di atas pohon itu berbaris menjadi dua huruf yang berbunyi, "Selamat bertemu." Gaya dan gerak apakah yang dilakukan Ting Si tadi? Tenaga apa pula yang dia gunakan? Pelahan Ong-toa-siocia menarik napas panjang, badannya kaku dan tak mampu membalik lagi. Sungguh dia kehabisan akal, bagaimana harus menghadapi Ting Si?

"Kau tahu apa arti kedua huruf itu?" tanya Ting Si.

Ong-toasiocia membanting kaki, sambil melengos segera dia hengkang dari tempat itu.

Ting Si berkata dingin, "Aku bilang selamat bertemu, sebenarnya aku harap selama hidup kita jangan bertemu lagi."

Gng-toasiocia tetap menggigit bibir, dia melompat ke punggung seekor kuda lalu dibedal dengan kencang. Terdengar suara berkumandang dari kejauhan, "Siapa yang ingin bertemu denganmu, maka dia adalah kura-kura."

Hari menjelang magrib, sang surya masih memancarkan cahayanya yang kekuning-kuningan.

Ting Si dan Teng Ting-hou sedang beranjak di bawah sinar surya itu, keringat sudah membasahi sekujur badan, pakaian lengket dengan badan mereka.

Kereta mereka rusak, kuda juga patah kakinya, kusir kereta disuruh pulang oleh Teng Ting-hou setelah diberi sangu, terpaksa mereka berjalan kaki.

Jalan raya lengang, sebuah kereta kosong pun tiada yang lewat.

Setelah menghela napas Teng Ting-hou mengeluh, "Cahaya surya menjelang magrib indah cemerlang, terutama sinar surya di musim panas, aku selalu senang me-nikmatinya."

"Tapi sekarang kau tahu, meski di bawah pancaran sinar surya yang paling cemerlang sekalipun, bila harus menempuh perjalanan jauh dengan kedua kaki, rasanya tentu cukup menyiksa."

Teng Ting-hou menyeka keringat, sambil tertawa getir, "Ya, memang tersiksa."

Ting Si memandang jauh ke depan, boia matanya membayangkan rona gelap, katanya pelahan, "Kalau kau keluyuran dengan kedua kakimu sendiri, pasti akan kau temukan banyak kejadian yang sebelumnya tak pernah terbayang."

"Ah, apa benar?"

"Sebetulnya ingin kubawa kau ke Loan-ciok-kang un-tuk merasakan sendiri." "Loan-ciok-kang?"

"Di sana ada puluhan perempuan dan anak-anak, setiap hari bekerja keras memeras keringat, namun tiap kali makan tidak pernah kenyang."

"Lho, mengapa?"

"Sehafusnya kau tahu mengapa mereka tak pernah makan kenyang," dingin suara Ting Si. "Maksudmu mereka adalah para janda dan anak yatim dari keluarga Soa bersaudara?"

"Lantaran mereka membegal barang hantaran yang dilindungi Ngo-coan-ki, maka mereka mati dengan konyol, para janda dan anak yatim itu dari keiuarga Soa, maka pantas dan patut mereka bekerja beratdan kelaparan, orang-orang persilatan jelas takkan ada yang simpatik terhadap  nasib mereka, siapa yang mau menampilkan diri demi kesejahteraan hidup mereka." Akhirnya Teng Ting-hou mengerti juga, katanya kecut, "Jadi kau membegal barang hantaran kita untuk membebaskan mereka dari penderitaan?"

"Memangnya mereka bukan manusia?" jengek Ting Si.

"Apakah kau tidak bisa menggunakan cara lain untuk membantu mereka?"

"Cara apa yang harus kugunakan? Apa anak-anak itu bisa diangkat menjadi Piausu? Sementara janda-janda muda itu menerima tamu, mengtiibur laki-laki hidung belang?"

Terkancing mulut Teng Ting-hou.

Ting Si juga tidak bersuara lagi, mereka terus beranjak ke depan, pelan langkah mereka, masing- masing seperti dirundung banyak persoalan.

Apa yang telah dilakukannya pantas menurut anggapan mereka, tapi sekarang mereka pun bingung dan susah membedakan, siapa benar dan pihak mana yang salah? Mungkin di tengah perbedaan antara betul dan salah itu, sukar ditemukan garis yang tegas.

Di saat mentari hampir tenggelam, derap lari kuda berkumandang di kejauhan, kejap lain tiga ekor kuda berlari kencang lewat di samping mereka.

Ketiga penunggang kuda mengayun cemetinya bersama, "Tar", sambil membusungkan dada, mereka mencongklang kuda lebih kencang, hakikatnya tidak menghiraukan kedua orang yang lagi menempuh perjalanan dan menyingkir di pinggir jalan saat mereka lewat.

Melihat ketiga orang penunggang kuda itu, mendadak Teng Ting-hou tertawa, katanya," Tahukah kau siapa ketiga orang itu?"

"Mereka adalah Piausu kelas tiga dari Piaukiok Kui Tang-king, dalam keadaan biasa begitu melihat aku, pada jarak tiga tombak, mereka sudah membungkuk setengah badan."

Ting Si tertawa, katanya, "Sayang, sekarang kau sedang bernasib jelek."

Begitulah kehidupan manusia, seorang ada kalanya senang, puas dan bahagia, tapi ada kalanya ketiban sial, bemasib jelek, tiada perbedaan apakah dia seorang raja atau rakyat jelata, laki atau perempuan, setiap manusia pasti punya giliran yang sama.

Teng Ting-hou tertawa, ujarnya, "Oleh karena itu sedikitpun aku tidak marah."

Setelah ketiga ekor kuda itu pergi jauh, di tengah kepulan debu yang membubung tinggi di udara, melayang secarik kertas tepat jatuh di depan mereka.

Ting Si sudah melangkah pergi, mendadak dia putar balik serta memungut kertas itu, sorot matanya memancarkan cahaya.

Teng Ting-hou berkata, "Kertas itu jatuh dari badan mereka.." "Ya, benar," sahut Ting Si.

"Coba kuperiksa," ucap Teng Ting-hou, tapi hanya sekilas dia memandang tulisan di atas kertas itu, rona mukanya lantas mengunjuk mimik lucu, huruf hitam itu menyolok pandangan, "Duel Siang-jio-kek melawan Pa-ong-jio."

Lebih lanjut dia membaca, "Jit-gwat-siang-jio (sepasang tombak rembulan dan matahari) Gak. Tombak matahari berat 20 kati, panjang 4 kaki 5 dim, tombak rembulan berat 17,5 kati, panjang 3 kaki 9 dim. Pa-ong-jio Ong, panjang 1 tombak 3 kaki 7 dim, berat 73 kati.

Waktu duel tanggal 5 bulan 7, tepat lohor.

Tempat di pekarangan keluarga Hi terletak di karesidenan Tang-yang.

Wasit Hi-kiu Thayya. Saksi Hwe-tan-ping Tan Cun dan Lip-te-hun-kim Tio Tay-ping.

Juri Siau-so-cin So Siau-poh. Pengawas gelanggang Tay-lik-kim-kong Ong Hou dan Siau-sian- ling Ban Thong.

Banjirilah! Saksikanlah! Ditanggung ramai, seru dan tegang. Harga karcis setiap orang 10 tail perak."

Melihat baris terakhir, Teng Ting-hou tertawa geli. Ting Si memang sudah tertawa sejak tadi.

Teng Ting-hou menggeleng kepala, katanya, "Apa artinya duel tokoh Bulim? Kalau begini tak ubahnya penjual koyo yang mengamen di tengah alun-alun."

"He, benar, bukankah Ban Thong kelahiran penjual koyo kulit anjing." "O, apa betul?"

"Dia malah punya julukan lain, Bu-khong-put-jip (tanpa lubang takkan masuk), setiap kali ada kesempatan mendapat uang, pasti tidak diabaikan, kukira ini ulahnya pula untuk menggaruk uang sebanyak mungkin."

"Agaknya kau sudah kenal?"tanya Teng Ting-hou. "Nama-nama yang tercantum di sini, aku kenal seluruhnya."

' "O, begitu?"

"Yang betul-betul harimau di atas Ngo-hou-kang (bukit harimau lapar) sebetulnya hanya ada dua ekor, sisanya yang lain, kalau bukan kucing tentu tikus, seorang pun tiada yang pandai membuat lubang."

"Maksudmu mereka adalah orang-orang Ngo-hou-kang?" "Di antara sekian banyak orang ini, hanya Jit-gwat-siang-jio Gak Ling saja yang boleh dianggap seekor harimau," demikian Ting Si menjelaskan.

"Aku pernah mendengar nama orang ini, dengan kedudukannya, mengapa dia membiarkan Siau- sian-ling melakukan perbuatan brutal begini?"

"Ban Thong memang seekor kucing, dia boleh dianggap rase juga, bukankah harimau sering dibuat bingung oleh tingkah si rase?"

"Tapi bagaimana dengan Hi Kiu. "

"Hi Kiu terhitung iaki-laki, tapi kalau orang menyanjung puji serta menjilat pantatnya, otaknya akan tumpul dan bebal."

"Ya, Siau-so-cin adalah orang yang pandai menyanjung puji dan menjilat pantat orang!" "Memang tugasnya menyambut tamu yang datang ! Ngo-hou-kang, Tan Gun, Tio Tay-ping dan aku juga terin tugasdan mendapat bagian rata, demikian puia Ong Hou tukang pukul, padahal kalau kau membeset kulit merek takkan menemukan sesuatu dalam badan mereka."

"Kelihatannya kau amat sebal dan kurang senang te hadap mereka?" tanya Teng Ting-hou..  Ting Si diam, dia tidak menyangkai. "Padahal kau pun terhitung warga Ngo-hou-kang," des Teng Ting- hou.

Ting Si tertawa, ujarnya, "Rase belum tentu sena bergaul dengan rase, demikian pula tikus atau kucing, t lum tentu suka dengan tikus atau kucing."

Teng Ting-hou menatapnya, tanyanya, "Jadi kau juga tikus?"

"Kalau aku tikus, bukankah kau menjadi anjing ya suka  mencampuri urusan orang lain?"  Teng Ting-hou tertawa, tawa getir. Anjing menangk tikus tugas yang semestinya dia lakukan.

Baru sekarang Teng Ting-hou sadar, dirinya memang terlalu banyak mencampuri urusan orang lain. "Betul, persoalan inipun seharusnya patut aku tahu," dia remas selebaran itu lalu dibuang. "Duel antara sepasang tombak melawan tombak tunggal atau harimau jantan melawan macan betina tiada sangkut pautnya denganku."

"Ada sangkut pautnya," kata Ting Si tegas. "Ada?" Teng Ting-hou berjingkat. "Ngo-hou-kang bukan tempat setiap orang boleh keluar masuk seenaknya sendiri, dari pos terdepan sampai belakang gunung, seluruhnya ada tiga puluh enam pos jaga dan delapan belas kelompok peronda, terus terang aku tidak yakin dapat membawamu ke sana."

"Apakah sekarang kau sudah yakin dapat membawaku ke sana?" tanya Teng Ting-hou.

Ting Si memanggut, katanya tertawa, "Harimau akan turun gunung duel dengan macan betina, maka kawanan rase, kucing atau tikus tentu tak mau ketinggalan, semua pasti ingin menonton keramaian."

Bercahaya mata Teng Ting-hou, katanya, "Oleh karena itu, pada tanggal 5 bulan 7 nanti, penjagaan di Ngo-hou-kang pasti tidak seketat dan sekeras biasanya."

"Ya, pasti."

"Mumpung ada kesempatan, maka saat itu kita menyelundup ke atas gunung." "Sedikitpun tidak salah."

"Siapa pun tak nyana Ong-toasiocia meiakukan sesuatu kebaikan untuk kita berdua."

Mendadak Ting Si bersikap serius, katanya dingin, "Sayang sekali peristiwa ini justru tidak membawa kebaikan atau manfaat untuk dirinya."

"Kau kira dia bukan tandingan Gak Ling?" tanya Teng Ting-hou

"Jelas, dia bukan tandingannya," Ting Si berkuatir, katanya lebih lanjut, "Kalau dia tahu diri, pantasnya dia sadar dirinya belum setimpal menantang duel Gak Ling."

"Aku tak mengerti, mengapa dia justru mencari jago-jago tombak kosen yang punya nama di Bulim?" "Kau tidak tahu, aku paham."

"Kau paham? Paham apa? Coba jelaskan, mengapa dia berbuat demikian?" "Karena dia gila."

Mau tidak mau Teng Ting-hou ikut merasakan juga, katanya, "Ya, umpama dia belum gila mungkin otaknya sudah sinting."

"Jika kau bertemu macan betina gila, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan menyingkiratau bersembunyi ketempatjauh." "Tepat, cara yang bagus."

* * * * * *

Bila Ting Si sudah memperhitungkan langkah kerjanya, jarang meleset tugas yang dilaksanakannya. Oleh karena itu dia diberi julukan Ting Si yang cerdik.

Dia yakin tanggal 5 bulan 7 penjagaan atau pertananan yang biasanya keras dan ketat di Ngo- hou-kang akan kendor dan kosong, mereka naik dari jalan gunung yang berlika-liku di belakang gunung, sepanjang jalan mereka tidak menemukan rintangan apapun. Maklum jarang ada orang tahu adanya jalan rahasia ini.

Jalan gunung yang kecil berliku-liku di lereng dan di semak-semak rumput di tengah pepohonan itu, bagi yang belum pernah mengenalnya pasti akan kesasardan takkan kenal jalan. Karena di belakang lereng gunung, adatanah pekuburan yang sudah lama telantar.

"Orang yang menjadi pelindung barang (Popiau), ta hu bahwa Po-piau sering atau banyak yang mati di tangan para penjahat alias perampok, di luar tahu mereka, kawanan perampok pun tidak sedikit yang mati di tangan pelindung barang."

Teng Ting-hou diam saja, mulutnya bungkam. Meng-hadapi tanah kuburan di lereng bukit ini, tanpa terasa dia bertanya dalam hati, "Apa benar seluruh kawanan perampok itu pantas mendapat ganjaran mati?"

"Mayat-mayat yang dikebumikan di sini, seluruhnya perampok atau begal, maka tidak pantas aku mengebumikan keenam orang itu di sini."

"Karena mereka bukan perampok atau begal?"

"Karena mereka lebih hina, lebih kotor dari perampok, lebih tidak tahu malu dari begal, yang pasti perampok atau begal tidak mau menjual kawan sendiri."

"Jadi kau beranggapan kami dijual kawan sendiri?"

"Kecuali kau, siapa lagi yang tahu rahasia pemberangkatan barang hantaran gelap itu?" "Masih ada empat orang."

"Pek-li Tiang-ceng, Kui Tang-kin, Kiang Sin dan Se-bun Seng." "Betul, memang mereka."

"Bukankah mereka temanmu?"

"Jika kau menduga seorang di antara keempat orang itu adalah pengkhianat, terus terang aku tidark percaya."

"Kalau bukan keempat orang ini, pasti ada seorang yang lain." "Siapakah seorang lain itu?"

"Siapa lagi, engkau!"

Teng Ting-hou menyengir. Yang tahu rahasia ini memang hanya mereka berlima, tiada orang keenam.

Mulut bicara, ternyata tangan Ting Si tidak menganggur, kalau ucapannya bernada menyindir, tangannya memegang cangkul. Cangkul bekerja lebih cepat dari lidahnya sendiri.

Enam peti mati sudah dibongkar keluar seluruhnya dari liang lahat. Setiap peti mati berisi satu mayat.

Dengan lengan bajunya Ting Si menyeka keringat, katanya, "Mengapa tidak lekas kau buka dan periksa satu persatu?"

Teng Ting-hou juga sibuk menyeka keringat dengan lengan bajunya, keringatnya lebih banyak dari Ting Si, tubuhnya basah kuyup.

"Apa kau tidak berani melihat mayat?" desak Ting Si. "Mengapa tidak berani?"

"Karena kau takut aku menemukan pengkhianat itu, mungkin dia adalah temanmu yang paling baik."

Teng Ting-hou menghela napas, ujarnya,  "Aku agak takut, karena  aku, aku. " Dia tidak

melanjutkan.

Peti pertama sudah dibuka, dia berdiri tertegun. Dengan mendelong dia mengawasi mayat di dalam peti mati, mayat dalam peti mati seperti balas menatap dirinya dengan melotot.

"Kau kenal orang ini?" tanya Ting Si.

Teng Ting-hou memanggut, sahutnya, "Orang ini she Ci, pembantu terpercaya dari Tin-wi Piaukiok."

"Bukankah Tin-wi Piaukiok milik Kui Tang-kin?" "Ya, betul."

"Apakah kau taktahu bahwa Piaukioknya kehilangan orang?" Teng Ting-hou menggeleng kepala.

Peti kedua sudah terbuka. Teng Ting-hou tertegun pula, "Orang ini bernama Ah Bong." "Siapa itu Ah Bong?" ,.

"Tukang kebon di rumahku."

"Kau pun tidak tahu kalau tukang kebonmu lenyap?" kata Ting Si tertawa getir. Orang ketiga adalah kusir kereta Tiang-ceng Piau-kiok. Orang keempat adalah koki keluarga Kiang, orang kelima adalah kuli panggul Wi-khing, orang keenam tukang memandikan kuda milik Sebun Seng.

"Kau sudah menyaksikan keenam mayat ini, semua kau kenal baik." "Ehm, betul."

"Sayang sekali, sia-sia kau meluruk kemari untuk menyaksikan mereka, kenyataan kedatanganmu kemari tiada gunanya."

"Tapi untung masih ada enam pucuk surat."

"Apa betul enam pucuk surat ini tulisan satu orang?" "Ehm, aku yakin."

"Kau kenal gaya tulisan siapa?"

"Ehm, begitulah." Bercahaya mata Ting Si.

Mendadak Teng Ting-hou tertawa, tawa yang aneh, katanya, "Gaya tulisan orang ini, bukan saja berubah bagus, malah ada beberapa goresan kelihatan aneh, umpama orang lain ingin meniru atau menjiplak, sukar untuk mempelajarinya." "Siapakah orang itu?" tanya Ting Si. Makin lucu mimik tawa Teng Ting-hou, pelahan dia mengulur jari telunjuk menuding hidung sendiri, katanya tegas, "Orang itu adalah aku."

"Jadi kau penulis surat ini?" Ting Si ingin berteriak, tetapi suaranya tidak keluar, ingin terpingkai- pingkal tapi tidak bisa tertawa. Maklum kasus ini tidak menggelikan, sedikitpun tidak lucu.

Sebetulnya kasus ini dapat menyebabkan orang geli, hingga mencucurkan air mata dan keluar ingus.

Demikian keadaan Teng Ting-hou, mimik tawanya tidak lebih bagus dibanding seorang berwajah sedih.

Ting Si menatapnya, dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, berulang kali dia mengawasi orang, mendadak dia bertanya, "Apa kau bisa menjual dirimu sendiri?"

"Tidak, tidak bisa."

"Apakah keenam pucuk surat ini kau yang menulis?" "Tentu bukan."

Tanpa bicara lagi, Ting Si memutar badan lalu beranjak pergi. Terpaksa Teng Ting-hou mengikut  di belakangnya. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, pakaian mereka sudah basah dan lengket oleh keringat. Akhirnya Ting Si menghela  napas  panjang, katanya, "Sebetulnya perjalanan jauh dan jerih-payah kali ini, bukan sama sekali tidak membawa hasil."

"O, lalu apa hasilnya?"

"Paling sedikit aku memperoleh satu pelajaran." "Pelajaran apa?" "Lain kali kalau disuruh menempuh perjalanan jauh dalam cuaca seperti ini, mencari mayat orang  di tempat jauh, aku akan. "

"Kau akan menendang dan menggebahnya pergi?"

"Aku bukan keledai, juga bukan kuda kecil, aku tidak mau ditendang, juga belum pemah menendang orang."

"Lalu kau mau apa?"

"Aku akan memberi sesuatu kepadanya."

"Setelah dia menyiksamu dalam perjalanan jauh di bawah terik matahari, kau akan memberi hadiah kepadanya?"

Ting  Si memanggut.

"Barang apa yang akan kau berikan kepadanya?" "Menyerahkan seorang kepadanya."

"Seorang?" Teng Ting-hou menjerit heran.

"Ya,"sahut Ting Si. "Seorang perempuan yang dia puja, tapi mulutnya tak berani menyatakan cinta."

"Perempuan yang kau maksudkan Ong-toasiocia."

"Betul," Ting Si bertepuk tangan lucu. "Sedikitpun tidak salah." "Karena Ong-toasiocia sudah gila."

Ting Si tertawa, katanya, "Orang ini menyuruh aku bekerja begini, mungkin otaknya ada cirinya, kalau yang seorang sinting yang lain gila, bukankah mereka pasangan yang serasi?"

Teng Ting-hou bergelaktawa, serunya, "Orang yang kau maksud adalah aku?"

Sengaja Ting Si menghela napas, katanya, "Bila kau sudah mengaku, yah, apa boleh buat." "Umpama mulutku tidak bicara, kau sudah tahu aku kasmaran padanya."

"Jawaban tepat."

"Tapi aku masih menguatirkan satu hal." "Satu hal apa?"

"Kalau benar ada orang yang menyerahkan Ong-toasiocia kepadaku, kau sendiri bagaimana?"

Ting Si menarik muka, katanya merengut, "Jangan kuatir, perempuan di dunia belum mampus seluruhnya, aku pasti tidak akan menjadi Hwesio, aku tidak suka makan sayuran."

"Sayuran mungkin tidak suka, tapi cuka kan pernah makan sedikit? (maksudnya cemburu)." Ting Si melirik kepadanya, katanya, "Aku heran akan satu hal?" "Soal apa?"

"Mengapa kaum Bulim tiada orang memanggil kau Lo-teng sang jenaka?"

Waktu mereka turun gunung, juga tidak kepergok seorang pun, Ngo-hou-kang biasa ditakuti orang, hari ini kosong dan sepi tanpa penjagaan, mirip daerah wisata, dimana orang boleh bertamasya sesuka hati.

Sayangnya, bertamasya di daerah ini akan percuma dan membuang waktu serta tenaga belaka.

"Kecuali pelajaran seperti yang kau katakan," kata Teng Ting-hou. "Coba katakan, apakah masih ada hasil yang lain?"

"Masih ada rasa penasaran dan mendongkol, Iebih celaka lagi badan kita bau keringat dan kotor."

"Kalau demikian," ujarTeng Ting-hou. "Sekarang aku masih dapat memperoleh pelajaran lain lagi."

"Pelajaran apa?" tanya Ting Si.

"Kelak bila kau mendengar orang bicara, lebih baik kau perhatikan, jangan mendengar separoh." Ting.Si tidak mengerti.

"Tadi aku bilang gaya tulisanku jarang ada orang bisa meniru, kan tidak kubilang orang lain pasti dan yakin takkan mampu menjiplaknya."

Bercahaya sinar mata Ting Si.

"Soalnya aku sudah tahu ada seorang yang mampu dan pandai meniru atau menjiplak gaya tulisanku, hampir aku sendiri tak bisa membedakan jiplakannya."

"Siapakah orang ini?"

"Siapa lagi jika bukan Kui-toa laupan Kui Tang-king." "Ha, dia?" Ting Si tertawa lebar.

"Lahirnya orang ini kelihatan linglung atau bodoh, sikapnya jujur dan bajik, padahal dia pandai menggunakan otak, aku pun pernah ditipunya."

"Ha, kau pernah tertipunya?" Ting Si geli.

"Suatu ketika dia meniru gaya tulisanku, perempuan-perempuan yang pernah kukenal diundang ke rumahku. Begitu aku masuk pintu, kulihat ada tujuh atau delapan pu-luh perempuan dengan berbagai corak ragam dandanan yang serba molek berkumpul di ruang tamu rumahku, biniku marah-marah hingga lehernya hampir kaku, selama tiga bulan tidak mau bicara denganku."

Ting Si menahan geli, katanya, "Mengapa dia berkelakar dan menggodamu sedemikian rupa?"

Teng Ting-hou berkata gemas, "Kura-kura tua selama hidup memang suka mempermainkan orang, sejak dilahirkan suka melihat orang lain menderita dan susah."

Tak tahan lagi Ting Si tertawa lebar, katanya, "Tapi kenyataan perempuan yang kau kenal terlalu banyak."

Teng Ting-hou juga tak kuat menahan geli, katanya, "Bukan saja banyak, jenisnya juga beraneka ragam, diantara mereka ada juga perempuan yang biasa menghibur orang, tak sedikit pula wanita-wanita pandai di bidang sastra, mereka tiada yang bisa membedakan tulisanku, dari peristiwa ini membuktikan bahwa gaya tiruannya hakikatnya bisa mengaburkan keaslianku  sendiri."

"Oleh karena itu meski dia membikin kau rikuh dan runyam, tapi kenyataan dia pun telah membantumu."

"Ya, membantu aku dalam dua hal." "O?"

"Karena ulahnya aku bisa hidup tenteram tiga bulan, tak pernah mendengar omelan, gerutu atau caci maki macan betina yang galak itu."

"Ya, bantuannya amat besar artinya," berkilat bola mata Ting Si, katanya lebih lanjut, "Dalam perkongsian kalian itu, ada berapa orang yang menjadi juragan?"

"Empat setengah," sahut Teng Ting-hou.. "He, he, empat setengah?"

"Modal kita digabung dalam jumlah yang rata, hasil keuntungan dibagi rata menjadi sembilan, Pek-li Tiang-ceng, Kui Tang-king, Kiang Sin dan aku masing-masing mendapat dua bagian, sementara Sebun Seng hanya dapat satu bagian."

"Oleh karena itu dalam perusahaan ini, Kui Tang-king juga termasuk salah satu juragan." "Ya, betul. Dia memang berhak."

"Mengapa dia mau menjual diri sendiri?"

Teng Ting-hou menepekur sejenak, lalu berkata, "Setiap kita melindungi barang hantaran yang nilainya selaksa tail perak, kita hanya memasang tarif tiga ribu tail perak."

"Dipotong pengeluaran dan lain-lain, sisanya kira-kira seribu tail lebih sedikit, maka hasil pembagiannya hanya sekitar tiga ratusan tail perak saja," demikian Teng Ting-hou menjelaskan lebih lanjut.

"Tapi setelah aku berhasil merampas barang hantaran kali ini, umpama hasilnya tidak sepenuhnya, dia tetap memperoleh selaksa tail perak," demikian ujar Ting Si.

"Bagaimanapun juga selaksa tail kan jauh lebih banyak dari tiga ratus tail perak, kan masih lebih menguntungkan. Aku percaya dia bisa menghitung, beberapa tahun belakangan ini, dia sudah termasuk salah seorang terkaya di Bulim, kekayaan yang dimilikinya itu jelas tak mungkin jatuh sendiri dari atas langit."

"Dia pernah bilang, apapun dia tidak takut, uang jelas dia tidak takut kebanyakan, demikian pula perempuan, makin banyak makin baik."

"Aku juga tidak takut," ucapTing Si tertawa. "Aku malah agak takut," ujar Teng Ting-hou.. "Takut apa?" tanya Ting Si.

"Kasus ini sukar ditemukan bukti yang nyata, aku kuatir dia tetap ingkar, aku tidak mampu memaksa dia bicara jujur."

"Aku punya akal." "Akal apa?"

"Pukul dulu supaya dua gigi depannya rontok, baru pelintir sebelah kupingnya biar copot." "Kedengarannya caramu mudah dilaksanakan."

"Memang akal bagus, aku jamin pasti manjur." "Kapan harus bertindak?"

"Sekarangjuga."

"Siapa yang turun tangan?"

Berkedip bola mata Ting Si, tanyanya, "Bagaimana ilmu silat kura-kura tua itu?" "Tidak terhitung baik, tapi sedikit lebih baik dibanding Kim-jio-ji."

"Lebifj baik sedikit, berapa sedikit yang kau maksud?"

"Sedikit yang kumaksud adalah, biladia menggunakan jari tangannya menotok, Kim-jio-ji akan rebah tak berkutik."

Kini Ting Si betul-betul tak bisa tertawa.

Tejig Ting-hou berkata pula, "Konon dia juga meyakinkan ilmu kebal sejenis Cap-sha-thay-po, namun latihannya belum matang, suatu ketika pernah aku menyaksikan seorang membacok tiga kali di punggungnya, ternyata dia tidak tahan."

"Kalau tidak tahan bagaimana?"

"Dia merebut golok orang itu, sekaligus membabat tubuh orang itu menjadi delapan potong." "Selanjutnya?"

"Kami minum arak di  rumah  makan  mutiara." "Kena tiga bacokan golok masih bisa minum arak?"

"Minumnya tidak banyak, dia ikut karena ingin menyuruh Siau tin-cu menggaruk dirinya." "Menggaruk? Menggaruk bagian apa?"

"Sudan tentu menggaruk punggungnya."

Sesaat lamanya Ting Si melenggong, mendadak dia tertawa, "Aku tahu." "Kau tahu apa?" "Aku tahu siapa yang harus turun tangan." "Siapa?"

"Engkau."

Naik gunung mudah, turun gunung tentu tidak sukar. Sebelum matahari terbenam, mereka sudah berada di kaki gunung. Di  bawah gunung ada sebuah  jalan kecil,  drpinggir jalan ada pohon  besar, di bawah pohon besar ini berhenti sebuah kereta, kusir  kereta  adalah anak  muda, telanjang dada, berjongkok di sana sambil menggoyang goyang topi rumputnya berjemur diri di bawah sinar matahari.

Angin menghembus membawa bau arak yang harum, itulah Cu-yap-ceng.yang paling enak. Di sekitar sini tiada rumah penduduk, tempat satu-satunya yang menyimpan arak adalah kereta besar itu. Anak itu berjongkok di luar, arak yang harum itu dia biarkan tertiup angin.

Ting Si menghela napas, mendadak dia sadar tidak sedikit jumlah manusia di dunia ini yang tidak normal.

Teng Ting-hou mengawasinya, tanyanya,"Kau ingin minum arak, tidak?" "Tidak," sahut Ting Si tegas.

Teng Ting-hou melengak heran, tanyanya, "Mengapa?"

"Karena aku perampok, tapi belum pernah aku merebut arak orang lain." "Kita kan bisa membelinya."

"Aku ingin beli, kedai arak macam apapun pernah ku-lihat, tapi belum pernah kulihat kedai arak dalam kereta."

"Dulu belum pernah lihat, sekarang sudah kau saksi-kan." Memang Ting Si sudah melihat.

Anak muda yang menjadi sais kereta itu mendadak berdiri, dari belakang kereta dia menarik keluar selembar kain hijau, di atas kain tertulis beberapa huruf, "Cu-yap-ceng kelas satu, sedia daging sapi rebus."

Kalau di dunia masih ada sesuatu yang dapat mem-bangkitkan rasa senang Ting Si dan Teng Ting-hou, hanya arak dan daging sapi saja yang memenuhi selera mereka.

"Kura-kura tua itu memang sukar dilayani, mungkin sebelum aku berhasil menjewer copot kupingnya, kuping-ku sendiri yang dia robek."

"Oleh karena itu sekarang kau mulai masgul dan ku-atir," goda Ting Si. "Karena masgul aku harus minum untuk menghilangkan rasa kuatir." "Akal bagus," seru Ting Si.

Dengan langkah lebar mereka menghampiri kereta. "Hidangkan sepuluh kati daging sapi dan dua puluh kati arak." "Baik," sahut anak muda itu. Mulut menjawab, tetapi anak muda itu malah berjongkok, topi rumput bergoyang mengibas-ibas badannya.

Mereka menunggu dan mengawasinya mendelong sekian saat, ternyata bocah itu tetap berjongkok dengan santai, seolah-olah segan berdiri lagi..

Tak tahan Ting Si bertanya, "Apakah arak dan daging sapimu bisa berjalan sendiri?"

"Mana bisa," sahut anak muda itu. Tanpa menggerakkan kepala dia berkata pula, "Daging dan arak tidak bisa jalan, tapi kalian kan bisa jalan."

Ting Si tertawa.

Anak muda itu berkata, "Aku hanya menjual arak, tidak menjual tenaga, maka "

"Maka kami harus mengambil sendiri kalau ingin minum dan gegares daging sapi." "Setelah mengambil dan makan kenyang, boleh kau membayar kepadaku."

* * * * *

Kereta itu tidak baru lagi, tapi pintu dan jendela dipasangi kerai bambu yang rapat, ketika mereka tiba di depan kereta, bau arak makin merangsang hidung.

"Keliatannya bocah itu biasa saja, tapi arak yang dia jual ternyata bermutu tinggi." "Ya, asal arak bagus, yang lain boleh tidak usah menuntut terlalu tinggi."

Teng Ting-hou beranjak lebih dulu, pelahan dia menyingkap kerai, seketika dia berdiri menjublek. Ting Si di belakangnya, waktu dia melongok ke kabin kereta, seketika dia pun menjublek.

Seorang tampak duduk santai, nyaman dan segar di dalam kabin, tangannya memegang mangkuk arak besar, mulutnya terbuka lebar, dengan senyum lebar dia mengawasi mereka. Bentuk mulut orang ini sungguh beraneka ragam banyaknya. Orang dalam kereta ini ternyata bukan lain adajah Hok-sing-ko-cau Kui Tang-king adanya.

Kabin kereta ini luas dan lebar, dilembari kasur empuk, sudah tentu segar dan nyaman..

Ting Si dan Teng Ting-hou berdiri kaku, orang itu mengawasi mereka, sekejap tersenyurn sambil membuka lebar mulutnya, kejap lain mulutnya terkancing, namun wajahnya masih dihiasi senyum lebar, akhirnya dia berkata, "Kura-kura yang kalian bicarakan tadi siapa?"

"Kalau menurut dugaanmu siapa?" Teng Ting-hou balas bertanya. "Sepertinya aku," sahut Kui Tang-king.

"Tepat," ujar Teng Ting-hou. "Kau siap merobek kupingku?"

"Pukul mulut merontokkan dua gigi dulu baru merobek telinga," Teng Ting-hou melucu.

Kui Tang-ting menghela napas, katanya, "Kalian mau minum dan makan daging sampai mabuk, baru merontokkan gigi dan menyobek telingaku?" Teng Ting-hou melirik kepada Ting Si. Ting Si menjawab, "Betul."

Maka mereka makan minum, sedikit minum tapi banyak makan, tiga porsi daging sapi yang disuguhkan sekejap saja telah berpindah ke dalam perut.

Kui Tang-king menghela napas, katanya, "Kapan kalian akan turun tangan?"

"Setelah kau membaca enam pucuk surat ini," ujarTeng Ting-hou, lalu dia mengeluarkan enam pucuk surat.

Kui Tang-king hanya membaca sepucuk surat lalu berkata, "Surat ini jelas bukan engkau yang menulis."

"Jelas bukan."

"Kalau bukan engkau yang menulis, maka dugaanmu pasti aku yang menulis." "Kau mengaku?"

Kui Tang-king menghela napas, ujarnya, "Kelihatannya kalau aku tak mengaku, keadaan akan menjadi onar."

"Siapa bilang kau harus mengaku?" sela Ting Si. "Tidak usah mengaku maksudmu?"