Pukulan Si Kuda Binal Bagian 02

 
Bagian 02

Tempat itu adalah penginapan, hotel yang tidak begitu besar, ternyata dikepung rapat oleh kawanan Piausu dengan panah siapterbidik. Sebuah kereta besarwama hitam berhenti di luar pintu, sais kereta sudah slap mengayun cambuk bila sang majikan naik kereta. Agaknya pihak Ngo-coan-ki yakin Ting Si dan Siau Ma takkan melarikan diri di tengah jalan.

SikapTing Si dan Siau Ma tidak mencurigakan, dengan langkah mantap mereka beranjak keluar langsung naik kereta, seolah-olah diundang Teng Ting-hou yang akan mengajaknya ke pesta.

Sebun Seng bermuka masam, Teng Ting-hou me-ngawasi gerak-gerik Ting Si, setelah mereka naik kereta dan duduk, kereta segera bergerak, Teng Ting-hou menghela napas lagi, "Bagus patut dipuji."

"Maksudmu aku patut dipuji?" tanya Ting Si.

Teng Ting-hou mengangguk, "Sebetulnya tidak pernah terpikir olehku, ternyata kau punya kemampuan luar biasa."

Ting Si tertawa, "Tidak, aku tidak punya kemampuan apa-apa." "Tapi kau berani menghadapi kenyataan, berani me-ngaku kalah."

"Aku mengaku kalah, aku sadartelah meiakukan kesalahan fatal, tiap kesalahan patut dihukum." "O, kesalahan apa?"

"Seharusnya aku menduga, kau akan menghubungi Thio Kim-keng." "Mengapa aku harus menghubunginya?"

"Karena kau tahu aku butuh uang, aku harus menjual mustika itu, orang yang mampu membayar kontan hanya Thio Kim-keng."

Siau Ma tertawa dingin, "Kura-kura she Thio itu memang anak haram yang sudi menjual ibu kandungnya sendiri demi mengejar keuntungan lima tail perak."

Teng Ting-hou sependapat, "Ya, betul, dia memang anak haram." "Dan kau?" Siau Ma melotot.

Teng Ting-hou tertawa, "Yang pasti aku berani beradu tinjudenganmu."

Ternyata Siau Ma sependapat, "Ya, dalam hal ini kau memang lebih tangguh dibanding anak haram itu."

"Dalam pandanganmu, orang-orang yang mengawa! barang adalah anak haram?" "Terutama kalian berlima."

"Kalau begitu kau akan bertemu dengan saiah seo-rang diantaranya." "Siapa?"

"Hok-sing-ko-cau (si rezeki nomplok) Kui Tang-kin."

Usia Kui Tang-kin beium begitu tua seperti yang di-bayangkan orang, baru berusia tiga puluh lima atau tiga puluh enam. Sekali pandang, orang akan memperhatikan mulutnya. Padahal mulutnya tidak istimewa, namun rona wajahnya sering berubah mengikuti gerak mulutnya.

Dia pandai melakukan bermacam-macam mimik yang lucu, jenaka, seram, marah, tawa, tangis, pendeknya dia pandai menunjukkan perubahan wajah yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Tampang beberapa mimik itu belum tentu enak dipandang, namunjuga tidak menyebalkan, berani tanggung, selama hidup takkan pernah melihat, terutama mulut laki-laki yang bisa menampilkan berbagai perubahan yang berbeda danmenarik.

Inilah faktor pertama dari keganjilan yang dimiliki Kui Tang-kin.

Bentuk wajahnya persegi, jenggotnya lebat lagi kasar, namun selalu dicukur kelimis. Kaum persilatan yang suka memelihara jenggot ratusan kali lebih banyak dibanding mereka yang suka mencukur jenggot, oleh karena itu, faktor ini boleh dianggap sebagai keganjilannya yang kedua.

Demikian pula bentuk tubuhnya, kelihatan persegi se-perti patung, kaki dan tangan sekujur badan kecuali perut, tiada bentuk tubuhnya yang bundar. Inilah faktor ketiga dari keganjilan Kui Tang-kin.

Kui Tang-kin adalah simbol pahlawan kalangan Piau-kiok di Tionggoan, cukong besaryang mengusahakan pertenunan besardi wilayah dua sungai besar, kekayaannya tak habis untuk makan tujuh turunan, dari kelima serikat kerja yang tergabung dalam Ngo-coan-ki, dia paling kaya, tapi bentuk tubuh, tampang dan tindak tanduknya tidak mirip cukong. Orang yang tidak kenal akan menganggap dia sebagai pekerja tampang yang kasar, pekerja kasar biasanya tidak perlu menggunakan otak.

Padahal otaknya tidak bodoh, kecerdikannya tidak kalah dibanding orang pandai manapun, kalau orang lain bisa melakukan, dia yakin  dapat menyelesaikan dengan baik,  janji sudah  disetujui, tidak pernah dipungkiri.

Bila menghadapi persoalan pelik yang tak berkenan di hati, dia akan menyatakan 'tidak setuju' lebih cepat dari orang lain. Nadanya pun tegas dan mantap, orang lain tidak diberi peluang untuk berpikir. Umpama saudara atau anak kandung sendiri memohon sesuatu kepadanya, bila tidak senang, tidak pernah dia memberi pengecualian.

Kui Tang-kin memang mempunyai beberapa segi keganjilan, tapi siapa pun yang berhadapan dengan dia akan beranggapan bahwa dia seorang bijaksana, seorang jujur, setia kawan.

Bukankah watak laki-laki seperti itu merupakan simbol utama kaum persilatan? Maka seperti juga mereka yang sukses dalam bidang pekerjaannya, ia pun memiliki ciri kelemahan yang umumnya dimiliki laki-laki lain, yaitu perempuan.

Di tempat itu tidak ada perempuan, luar dalam Cin-wi Piaukiok tidak ada perempuan. Hal ini menjadi pedoman hidup dan dasar kerja Kui Tang-kin. Memang perempuan adaiah ciri kelemahannya, perempuan adalah kegemarannya, bukan pekerjaannya.

Laki-laki kalau tekun bekerja, pantang berdekatan dengan perempuan, inipun salah satu dasar kerja Kui Tang-kin.

Sejak bertatap muka dengan orang ini, Ting Si men-dapat firasat bahwa laki-laki ini jauh lebih sukar dihadapi dibanding orang-orang yang pernah dihadapinya.

Mungkin demikian pula perasaan Kui Tang-kin waktu berhadapan dengan pemuda ini, sejak berhadapan, pan-dangannya penuh selidik.

"Selamat bertemu," Ting Si menyapa lebih dulu. Kui Tang-kin tertawa, "Kaukah Ting Si yang selalu menyenangkan orang lain?" "Ya, aku adalah Ting Si."

"Kelihatannya kau memang menarikdan menyenangkan." Siau Ma mendadak menimbrung, "Kau ini Kui Tang-kin?" "Ya, aku she Kui," sahut Kui Tang-kin.

"Lho, kau ini kan Lo-ok-ji (bulus tua), mengapa mau menjadi anjing?"

Siau Ma bersikap kurang ajar, tapi Kui Tang-kin tidak marah, "Pertanyaan bagus, patut diberi persen."

Teng Ting-hou tertawa, "Persen apa yang kau berikan?" "Arak," sahut Kui Tang-kin tegas.

Arak yang bagus, arak keras. Arak bagus biasanya amat keras, Kui Tang-kin adalah pecandu arak, ukuran Sebun Seng juga besar, kekuatan minum Teng Ting-hou juga tidak asor dibanding mereka.

Tiga cukong perusahaan pengawalan menjamu Ting Si dan Siau Ma minum sepuasnya, padahai Ting Si dan Siau Ma pemah membegal barang kawaian Ngo-coan-ki, tapi sikap mereka sekarang tak ubahnya seperti menjamu teman yang lama tidak bertemu.

Setelah menghabiskan enam cawan arak, mendadak Ting Si meletakkan cawan. "Kalian tentu sudah menduga," demikian katanya. "Kasus perampasan barang kawalan kalian yang terdahulu adalah perbuatan kami?"

Teng Ting-hou tertawa, "Setelah kami tahu kau adalah Ting Si yang selalu menyenangkan orang iain, maka kau pun dipanggil Ting Si si pintar."

Ting Si menjadi rikuh, "Kalian tentu tahu bahwa tindakan kami sengaja ditujukan kepada Ngo- coan-ki?"

"Ehm," Teng Ting-hou bersuara dalam mulut sambil memanggut. Ting Si mengawasi mereka satu persatu, "Apa kalian waras?" "Tentu, segar bugar," ucap Teng Ting-hou.

"Tidak gila?" tanya Ting Si terbeliak. "Ah, tidak."

"Kalian waras, tidak gila, dua kali kami merampok barang kawalan kalian, mengapa kalian malah menjamu kami?"

Kui Tang-kin menatapnya tajam, "Pernahkah kau ditipu orang?" "Siapa saja pasti pernah ditipu orang, aku kan juga manusia." "Kapan kau ditipu orang?" "Kalau tidak salah, waktu aku berusia dua belas." "Tahun ini berapa usiamu?"

"Duapuluh dua."

"Selama sepuluh tahun ini, pernah kau tertipu lagi?" "Kurasa tidak pemah."

Kui Tang-kin menatapnya pula, namun mulutnya ter-kancing.

Ting Si balas menatapnya sambil tersenyum, "Sekali ditipu orang kurasa sudah lebih dari cukup." Mendadak  Kui Tang-kin bergelaktawa, "Kalau demi-kian tidak  perlu kami beriktiar menipumu." "Ya, lebih baik terusterang saja."

"Kebetulan, aku memang ingin blak-blakan," "Setuju."

"Baiklah, biar kujeiaskan kepadamu, kami mengajak-mu minum, karena kami ingin mencekokimu sampai mabuk."

"Lho, mengapa?"

"Karena kami ingin mengorek keteranganmu." "Soal apa?"

"Tentang barang gelap yang kami kawal, padahai segala sesuatunya kami rahasiakan, umpamanya hari dan waktu berangkat, jalur perjalanan, dimana barang dimuat dan akan dikirim kemana, para Piausu pengiring pun tidak ada yang tahu."

"O, tentang itu, ya aku mengerti."

"Rahasia ini yakin tidak diketabui orang lain kecuali kami beriima, tapi kenyataannya rahasia ini bocor, kami ingin tahu darimana kau tahu rahasia ini,"

Ting Si tersenyum.

"Siapa yang membocorkan rahasia itu?" desak Kui Tang-kin.

"Kalian memaksa aku menjeiaskan soal ini?" "Ya, hanya soai itu saja." "Kalian mengira setelah aku mabuk, aku akan memberi keterangan?"

"Orang mabuk bicara jujur, umumnya orang mabuk lebih gampang diajak bicara." "Tapi dalam kasus ini, terhadapku kalian menggunakan cara yang salah."

"O?" Kui Tang-kin melenggong.

"Hanya satu hal bisa kuiakukan setelah aku mabuk." "Apa yang kau lakukan?" desak Kui Tang-kin. "Tidur," sahut Ting Si menyengir.

Kui Tang-kin tertawa geli, "Cirimu hampir sama de-nganku." "Ada satu hal yang tidak sarna."

"Apa?"

"Kau tidur memeluk perempuan, sebaliknya memeluk  guling pun  aku tidak pernah, setiap menclum bantal di ranjang aku lantas mendengkur seperti babi, suara tambur dan gembreng juga takkan bisa mernbangunkan aku."

"Karena setelah kau mabuk, bukan saja tidak mengo-ceh atau mengigau, apalagi bicara, mernbual pun tidak."

"Betul, memang demikian."

"Tapi kami punya akal untuk memaksamu bicara?" "Akal apa?"

"Caranya sudah kami gunakan." "Lho,kapan?"

"Masa kau tidak tahu?" . "Kalau orang bicara jujur, blak-blakan denganku, aku pun bicara setulus hati," Ting Si tersenyum sambil men-puk pundak Kui Tang-kin..

"Tadi kau sudah berterus-terang, kurasa kau sudah mengerti, kalau kau ingin orang jujur kepadamu, maka kau hams jujur pula kepadanya. Dulu aku tidak mengerti, mengapa nasibmu selalu baik, rezeki selalu nomplok kepadamu, baru sekarang aku paham, mengapa nasib baik itu selalu datang kepadamu."

Rezeki memang tidak pernah jatuh dari iangit.

Kui Tang-kin tertawa iebar, "Aku orang kasar, aku tidak mengerti omonganmu yang puitis, tapi syukurlah aku sudah paham satu hal."

"Kau tahu bahwa aku siap bicara blak-blakan?"

Kui Tang-kin memanggut, "Aku siap mendengarkan."

"Yang membocorkan rahasia  ini kepadaku adalah. orang mati."

Ruang besardalam Cin-wiPiaukiok mendadakmenjadi hening ielap tanpa suara sedikitpun. Kui Tang-kin, Teng Ting-hou dan Sebun Seng bermuka masam. Mata mereka melotot mengawasi Ting Si.

Ting Si bersikap wajar, tenang, senyumannya me-mang menarik sirnpati orang, Mendadak ia merasakan, bila Kui Tang-kin tidak tertawa, apalagi kalau sedang marah, tampangnya ternyata amat menakutkan, amat jelek, seolah-olah berubah menjadi orang lain.

"Kalian minta aku bicara jujur, aku sudah bicara sejujurnya." Kui Tang-kin menyeringai dingin.

"Semula orang itu belum mati, tapi sekarang sudah menjadi mayat." "Siapa pembunuhnya?" tanya Teng Ting-hou.

"Aku," sahut Ting Si.

"Dia membocorkan rahasia kami kepadamu, mengapa kau membunuhnya malah?" "Ya, karena terpaksa."

"Terpaksa bagaimana?" desak Teng Ting-hou. "Itulah syaratnya untuk aku menerirna rahasia itu." "Syarat apa yang kau maksud?"

"Begini ceritanya, tiga bulan yang lalu seorang me-ngirim surat kepadaku, dia biiang akan membocorkan rahasia Ngo-coan-ki kepadaku, syaratnya ialah setelah aku berhasil merampas barang kalian, aku harus membagi tiga puluh persen dari hasilku kepadanya, kalau aku menerirna syaratnya, pembawa surat itu harus kubunuh supaya persekongkolan kami tidak bocor."

"Kau terima syaratnya itu?"

Ting Si mengangguk, "Tidak lama kemudian, daiang orang kedua, dia juga mengantar surat untukku."

Teng Ting-hou menyeletuk, "Surat itu membocorkan rahasia barang kawalan kami dari Kay-hong ke kotaraja?"

"Betul."

"Lalu kau membuat rencana dan berhasil merampok barang kawalan itu?" "Ya, terpaksa kubunuh juga pembawa surat itu."

"Apakah kau benar-benar membagi tiga puluh persen hasil rampokanmu kepada pemberi rahasia itu?"

"Semula aku keberatan, tidak rela, namun untuk kerja selanjutnya, terpaksa aku menuruti kemauannya."

"Dengan cara bagaimana kau berikan bagiannya?"

"Setelah kami berhasil, dia menyuruh orang mengirim surat ketiga, dalam surat itu dia memberi petunjuk dimana aku harus mengantar bagiannya, dia memberi peringatan kepadaku supaya segera menyingkirdan dilarang-mengin-tip, bila ketahuan aku berbuat curang, selanjutnya dia tidak akan memberi rencana kerja kepadaku."

"Terpaksa kau t.unduk pada petunjuknya?" "Ya, terpaksa." "Sampai detik ini kau tidak tahu siapa dia?"

"Ya, dia laki-Saki atau perempuan, tua atau muda juga tidak tahu."

"Hingga sekarang, bukankah sudah mengirim enam pucuksurat kepadamu?"tanya Kui Tang-kin. Ting Si mengangguk sambil tertawa, "Agaknya kau pandai menghitung."

"Jadi enam orang pembawa surat itu kau bunuh supaya persekongkolan kalian tidak diketahui orang?"

"Walau bukan aku sendiri yang membunuh mereka, tapi mereka mati lantaran aku." Kui Tang-kin menoieh ke arah Siau Ma.

Siau Ma menyeringai dingin, "Tak usah kau meiirikku, tak sudi aku membunuh orang-orang seperti mereka."

Jelilatan mata Teng Ting-hou, "Naga-naganya penulis surat itu amat jelas tentang langkah kerja dan seluk-beluk kita, kalau tidak salah, gerak-gerik kami berlima juga selalu dalam pengawasannya."

Ting Si berkata, "Biasanya kami berdua bergelan-dangan tiada tempat tinggal tetap, tapi dimana pun kami berada, surat itu sampai ke alamatnya."

Teng Ting-hou mengerut kening, sukar menebak siapa tokoh misterius di balik kasus ini? Sudah tentu Kui Tang-kin dan Sebun Seng juga sukar menebaknya..

Dengan tertawa Ting Si berkata, "Sekian keterangan-ku, banyak arak telah kuhabiskan, sebetulnya tidak perlu boros "

"Masih ada satu hal yang kami belum paham,"Teng Ting-hou menukas. "O,soal apa?"

"Dimana kau kuburkeenam orang itu?" Ting Si bungkam.

"Dimana pula keenam pucuk surat itu?"

"Suratnya ada di liang kubur bersama mayat-mayat itu." "Dimana?"

"Kau ingin melrhat mayat-mayat itu?"

Teng Ting-hou tertawa, "Setiap insan persilatan kawakan tentu tahu, orang mati kadang kaia bisa memberi petunjuk yang tidak mungkin diberikan oieh orang hidup. Dari mayat-mayat itu mungkin kami bisa menyingkap tabir rahasia ini."

"Kau minta aku menunjukkan tempat itu?"

Bercahaya mata Teng Ting-hou, "Apa kau tidak mau menunjukkan kuburan itu?" "Siapa bilang aku tidak mau, hanya saja. "

"Hanya bagaimana?"

"Umpama aku mau membawa kalian ke sana, aku justru. kuatir kalian tidak berani ke sana." Teng Ting-hou tertawa iebar, "Apakah tempat itu sarang nagagua harimau?"

"Bukan sarang naga, tapi betul adaiah gua harimau." "Maksudmu di tempat itu ada harimau?"

"Bukan saja ada harimau, malah semua harimau lapar." Teng Ting-hou tertawa lepas, "Ngo-hou-kang mak-sudmu?" "Betul, kuburan itu di Ngo-hou-kang (Bukit harimau lapar)."

Keadaan rumah itu menjadi sunyi, banyak orang tahu, Ngo-hou-kang adaiah daerah yang berbahaya, bukit harimau yang menakutkan.

Konon jago-jago kosen dari aliran hitam yang ditakuti kaum persilatan dari utara maupun selatan dan dua sungai •besar, hampirseluruhnya bermukim di bukit harimau lapar itu. Kabarnya mereka sudah membentuk serikat gabungan untuk menghadapi Ngo-coan-ki yang berbunga merah itu.

Bila pihak Ngo-coan-ki ada yang meluruk ke sana, berarti babi gemuk masukjagal atau iaron menubruk api lilin.

Rona muka Sebun Seng jarang menunjukkan perasaan hatinya, namun bote matanya memicing, ujung matanya kedutan. Sementara Kui Tang-kin berjingkrak  berdiri, sambi!  menggendong tangan dia mondar-mandir mengeli-lingi meja. Teng Ting-hou mengangkat cawan menenggak arak, ternyata cawannya sudah kosong.

Mengawasi ketiga orang ini, Ting Si berkata, "Bila kalian berani ke sana, kapan saja aku siap menunjukkan ja-lan."

Mendadak Kui Tang-kin tertawa, "Bukan kami tidak berani ke sana, tapi tidak perlu ke sana." "Tidak perlu?" Ting Si menegas.

"Terhadap orang mati aku tidak punya selera, peduli dia laki atau perempuan, kalau sudah mati buat apa kami melihatnya?"

"O," Sebun Seng bersuara pendek.

Kui Tang-kin menghampiri serta menepuk pundak re-kannya, "Kau tidak perlu ke sana, tidak boieh ke sana."

"Mengapa?" tanya Sebun Seng.

"Karena ada tugas besar yang hams Rita kerjakan, tugas ini cukup penting artinya untuk kelanjutan usaha gabungan kita, besokjuga harusdikerjakan,"dengan kalem Kui Tang-kin menepuk pundak Sebun Seng. "Perusahaan pengawalanku ini hanya bergantung pada tenagamu saja, kalau kau pergi, bagaimana aku harus bekerja?"

Mendadak Teng Ting-hou berjingkrak bangun, "Aku bisa pergi, biar aku saja yang ke sana." * * * * *

Bila kaum persilatan menggiring tawanan, umumnya tidak memakai borgol atau rantai, di kaki mau pun tangan.

Kaum persilatan memiliki aiat yang lebih efektif, yaitu totokan jalan darah yang melumpuhkan. Menotok jalan darah ada yang berat dan ringan, demikian pu!a Ietak dan posisi jalan darah mana yang menjadi sasaran, kalau totokan berat dapat membahayakan jiwa, yang ringan hanya membatasi gerak-geriknya saja. Tapi peduli berat atau ringan, bi!a seorang tertotok Hiat-tonya (jalan darah), jelas rasanya cukup menderita.

Siau Ma biasa hidup bebas, saat itu ia merasa menderita karena gerak-geriknya dibatasi. Siau Ma suka cere-wet dan suka memaki, tapi mulutnya tidak mampu bersu-ara, ingin memukul atau menendang, tapi kaki tangan se-perti dibelenggu, dapat bergerak lamban tapi tidak mampu mengerahkantenaga. Betapajengkelnya, dada seperti hampir meledak.

Teng Ting-hou mengawasinya dengan tersenyum, "Apa kau tidak pernah ditotok Hiat-tomu?"

Siau Ma mengertak gigi, ingin rasanya dia memukul hancurkepala orang ini, pikimya, "Kura-kura initahu aku tidak bisa bicara, dia justru menggodaku."

Teng Ting-hou menggoda pula, "Kurasa mernang demikian, kelihatannya kau menderita, berang lagi, tapi kalau sudah biasa, perasaanmu akan tonggar dan lebih segar."

Ingin rasanya Siau Ma menggigit hidung orang biarputus. Terhadap sesuatu yang baik atau buruk, mernang tiada jeleknya kita membiasakan diri, namun apa yang diaiami Siau Ma sekarang, sekali juga sudah terlalu banyak.

"Sebun Seng yang menotok Hiat-to kalian,  ilmu me-notok Hiat-ho yang diyakinkan berbeda  dengan ilmu totok perguruan  lain, orang lain  jangan harap dapat membebaskan totokannya,"  Teng Ting-hou mengoceh dengan tertawa. "Untung aku bukan orang lain, kebetulan aku ini murid Siau-lim-pay."

Murid Siau-lim diajari agama yang mengutamakan bijaksana, weias asih dan arif terhadap sesama, menghadapi segaia persoalan harus berpedoman menolong sesama dari penderitaan hidup. Ilmu totok Siau-lim memang tidak lihai, namun murid Siau-lim banyak yang menguasai ilmu totok perguruan atau aiiran lain."

Maklum Siau-lim-pay adalah puncak persilatan di seluruh jagad.

Teng Ting-hou tertawa, katanya menyengir, "Mungkin kalian tidak percaya bahwa aku bisa membebaskan totokan Hiat-to kalian, soalnya aku bukan tandingan bila kalian keroyok, kalau kalian dapat bergerak bebas, salah-salah jiwaku melayang."

Siau Ma tidak percaya, seribu kali atau selaksa kali tak percaya. Tapi di saat ia ingin menggigit hidung orang, Teng Ting-hou membebaskan Hiat-tonya yang tertotok.

Ting Si tetap diam, tidak bergerak, berdiri tegak mengawasinya. Siau Ma juga tidak bergerak,  orang baru saja membebaskan Hiat-tonya, rasanya rikuh melayangkan tinju ke muka orang. "Apa yang ingin kau lakukan?" tak tahan dia bertanya.

Tawar suara Teng Ting-hou, "Tidak ingin apa-apa. Seorang diri aku menjadi kesepian, aku ingin berbicara dengan kalian.

Siau Ma melotot, "Kau tidak takut kami membetot tu langmu” "Apa kau tega berbuat demikian?" Siau Ma bungkam.

"Sebagai begal besar kalian tentu pernah membunuh orang, merampas barang milik orang lain. Tapi aku tahu kalian tidak pernah menjilat ludah sendiri, ingkar janji, tidak kenal budi pantang kalian lakukan," dengan tersenyum mengawasi Ting Si, lalu menambahkan, "Aku yakin, kau berjanji aka mengantarku mencari mayat dan surat itu, kau pasti menepa janji."

Siau Ma menatapnya, mendadak dia menghela napas gegetun, gumamnya, "Kelihatannya tua bangka cilik ini memang pandai bermuka-muka."

Ting Si menimbrung. "Kukira tidak hanya bermuka-muka saja." Teng Ting-hou tertawa lebar.

Mereka berada di daiam kereta kuda yang disiapkan Kui Tang-kin. Dalam hal makarrdan berpakaian, Kui Tang-kin tidak ter!a!u royal, kecuali perempuan, yang dia perhatikan hanyalah kereta kudanya ini, kereta kuda yang dipakai pasti paiing empuk, paling mewab dan nikrriat, perabot dalam kabin kereta serba mewah dan iengkap.

Sambii bergelaktawaTeng Ting-hou menekan sebuah tombol, terbukalah sebuah pintu rahasia di sisi tempat duciuk, dari balik pintu rahasia ia mengeluarkan seguci arak. Arak yang   disembunyikan dalam kereta mewah ini, sudah tentu arak yang paiing bagus.

Teng Ting-hou menjentik segel guci yang terbuat dari tanah Nat, begitu sumbat terbuka, bau harum merangsang hidung.

Siau Ma bertepuk tangan, "He, ini arak Toa-bian dari Lok-ciu." Biasanya si Kuda Blna! tidak pernah mengguna-kan mata dan kuping, tapi daya cium hidungnya ternyata amat peka dan manjur, terutama bau arak.

Teng Ting-hou mengacungkan jempol, "Betul, perjalanan jauh dan sunyi, arakdapat menghllangkan resah, hayo kita minum duacawan."

"Baik," Siau Ma menyambut gembira. "Tidak baik," ucap Ting Si.

"Mengapa tidak baik?" tanya Teng Ting-hou.

"Biasanya kalau aku minum arak, orangnya hams, betul, araknya betul, tempatnya juga betul." "Di daerah pedalaman seperti ini, mana ada tempat untuk memenuhi seleramu?"

"Ada. Di Sin-hoa-jun," sahut Ting Si.

Sin-hoa-jun terletak di kaki gunung di kejauhan sana, tepatnya di depan hutan karma yang sedang berbuah, di sisi sungai kecii yang jauh terpencil dari rumah penduduk. Di sana tiada bunga mekar, sekuntum kembang liar pun tiada, namun warung arak itu memang bernama Sin- hoa-jun (kembang mekar di musim semi).

Sin-hoa-jun adalah warung arak kecil, bagian luar di-pagari bambu kuning, dengan pekarangan tidak luas, bagian dalam terdapat sebuah pintu kecil dengan ruang yang sedang saja, tungku menyala arak pun selalu panas, yang menghadapi pembeli adalah perempuan bermata kecil sipit, hidung cilik dengan mulut mungil. Usia perempuan ini tidak muda lagi, dari keriput di wajahnya, orang dapat menaksir usianya sudah enam puluh lebih.

Dimana saja dapat dilihat perempuan yang berusia enam puluhan. Tapi berbeda dengan perempuan enam puluhan yang lumpuh, perempuan yang satu ini masih mengenakan pakaian warna merah dengan hiasan kembang warna ungu, pupur di wajahnya amat tebal, pakai gincu segala", demikian pula kuku jarinya diwamai, yakin jarang terlihat perempuan setua ini masih bersolek tak mau kalah dengan gadis remaja masa kini.

Waktu Ting Si melangkah masuk ke pekarangan, perempuan tua ini lantas menyongsong keluar dengan langkah lembut, seperti kucing aleman menyongsong kedatangan sang majikan, dia menubrukdan memeluk Ting Si.

Teng Ting-hou berdiri melongo, Ting Si memperkenalkan, "Inilah juragan warung arak ini, bernama Ang-sin-hoa." Terpaksa Teng Ting-hou tertawa meringis sambil mengangguk. Mendadak dia tertawa geli, Ting Si yang serba pintar ini, dalam memilih perempuan ternyata tidak sepintar memilih arak.

Ting Si berkata, "Pernah kau  mendengar nama Ang-sin-hoa?" •

"Tidak pernah," sahut Teng Ting-hou. Bukan dia tak pandai berbohong, bukan tidak pernah berbohong di depan perempuan, dia tidak mau berbohong karena dia menganggap perempuan ini sudah terlalu tua.

Ting Si tertawa, katanya, "Kau tidak pernah mendengar namanya, mungkin karena dua sebab." "Dua sebab apa?"

"Jika bukan karena kau terlalujujur, mungkin karena kau terlalu muda."; "Aku. aku tidak pernah jujur," padahal dia bicarajujur.

Di hadapan perempuan yang satu ini, mendadak dia merasa dirihya seperti masih muda, amat muda. Selama dua puiuhan tahun ini, baru pertama kali ini dia punya perasaan ganjil ini.

"Kalau kau dilahirkan beberapa tahun iebih dins, kau akan tahu delapan ratus li sekitar Po-ting, siapakah perempuan yang paling tenar dan dipuja."

Teng Ting-hou hanya menyengir getir. Betapapun dia tidak percaya bahwa nenek di depannya  ini, dahulu adalah perempuan yang rnembikin geger dunia. Perempuan yang dulu kenamaan ini sedang melirik genit kepadanya, tingkah lakunya masih genit seperti gadis hiburan yang jalang.

Tak tahan, Teng Ting-hou bertanya, "Nona Ang-sin-hoa ini adalah teman lamamu?" "Belum terhitung teman lama," sahut Ting Si.

"Mungkin kenalan baikmu?" "Apalagi kenalan baik juga bukan." "Lalu siapa dia sebenamya?"

"Dia adalah nenekku." . Teng Ting-hou tertegun. Kalau Teng Ting-hou sedang duduk di punggung kuda mungkin terjungkal jatuh, kalau dia sedang minum arak mungkin menyemburdari mulutnya.Tapi keadaannya seperti orang yang jungkir balik delapan belas kali, perutnya mulas karena minum delapan guci arak.

Ang-sin-hoa memeluk perut, saking geli dia terpingkal-pingkal sambil menungging. Di tengah tawanya yang bingar dia menuding Teng Ting-hou, katanya, "Siapakah dia?"

"Dia berjuluk Sin-kun-siau-cu-kat," sahut Ting Si. "O, seorang di antara Ngo-coan-kay-hoa itu?" "Ya, "sahut Ting si mengangguk.

Mendadak Ang-sin-hoa berhenti tertawa, lalu menarik muka, mendadaktelapaktangan terbalik"plak"diagampar muka Ting Si, gamparannya cukup keras dan berat.

Ting Si masih juga tertawa.

Kembali Ang-sin-hoa menggamparmukanya yang lain, serunya keras, "Sejak kapan kau anggap orang macam ini sebagaitemanmu?"

"selamanya belum pernah." "Jadi dia bukan temanmu?"

"Aku memang bukan temannya." "Lalu pernah apa kau dengannya?" "Akutawanannya."

Ang-sin-hoa mengawasinya dari atas ke bawah, dari kaki mengawasi ke kepala, katanya kemudian, "He, sejak kapan kau menjadi tawanan orang?"

Ting Si menghela napas, katanya dengan tertawa ge-tir, "Manusia pernah lena, kuda juga pernah terpeleset."

"Hm," Ang-sin-hoa mendengus, mendadak tinjunya menggenjot perut, makinya gusar, "Kau kura- kura kecil ini memang tidak berguna."

Ting Si hanya meringis saja.

"Kau sudah menjadi tawanannya, untuk apa kau ke-mari?" "Mau minum arak."

"Enyah dari sini."

"Aku mengundangtamusupayaarakmu laris, umparna benar kau adalah nenekku, tak pantas kau mengusirku."

"Justru karena kau adalah cucuku, maka ku usir kau." "Mengapa?" tanya Ting-Si.

Ang-si-hoa meiirik sejenak ke daiam, serunya, "Kusuruh enyah, lebih baik lekas kau pergi dari sini."

Berputar bola mata Ting Si, katanya, "Apakah di daiam ada seorang yang tak boleh kuhadapi?" "Bukan orang," ujarAng-sin-hoa.

"Bukan orang? Memangnya binatang?" "Seorang pun tiada di daiam."

"Lalu ada apa di daiam?" "Sebatang tombak."

"Tombak? Sebatang tombak apa?" "Pa-ong-jio (raja tombak raksasa)."

Pa-ong, kekuatannya dapat menjungkir sungai mem-balik gunung. Jio atau tombak adalah nenek moyang ber-bagai jenissenjatasejakzamandahulu. -

Tombak mempunyai berbagaijenisdan ragam, adaAng-ing-jio, kau-coan-jio, ada tombak panjang, tombak pendek, sepasang tombak, ada juga tombak berantai. Tapi tombak yang satu ini adalah rajanya tombak.

Panjang Pa-ong-jio ada satu tombak tiga kaki tujuh dim, beratnya tujuh puluh tiga Rati setengah. Ujung Pa-ong-jio terbuat dari baja murni, demikian pula gagang tombak juga terbikin dari baja. Kal.au ujung tombak raksasa ini menusuk badan manusia, jiwanya pasti melayang, umpama gagang tombak memukul orang, lawan juga pasti terluka muntah darah.

Kaum persilatan  yang biasa mengembara di kalang-an  Kangouw, jarangmelihat sendiri Pa-ong- jio ini. Tapi setiap insan persilatan tahu, ada tujuh jenis senjata yang paling menakutkan dan  ganas di dunia ini, satu di antaranya adalah Pa-ong-jio.  Satu-satunya Pa-ong-jio tia-da keduanya di dunia ini.

Sekarang Pa-ong-jio tergeletak di atas meja di depan Ting Si.

Sin-hoa-jun adalah warung arak kecil, memberi peia-yanan dengan semboyan kalau belum  mabuk tidak akan pulang, tempatnya temyata tidak kecil. Tiga meja di dekat dinding sana sudah dijajar rangkap memanjang, di atasnya dilapisi taplak beludru merah dengan bantal bundar bersulam, di sekeliling meja ditaburi bunga.

Tombak besar panjang setombak tiga kaki tujuh dim itu menggeletakseperti pajangan di atas meja, seperti patung berhala yang dipuja orang layaknya.

Ujung tombak tampak berkilat, runcing dan tajam, na-mun bentuk lekuk pinggirnya begitu halus dan lembut, gagang tombak yang seialu bersih kelihatan mengkilap ber-cahaya, menimbulkan perasaan takjub dan segan tetapi hormat seperti bidadari cantikyang bangga dan sombong, bermalas-malasan di sana siap dipuja dan disembah oleh manusia.

Ting Si maju menghampiri, dirabanya taplak meja beludru dengan bantalan yang empuk, diciumnya kembang yang bertaburan, lalu menghela napas pelahan, gumam-nya, "Tombak ini seperti hidup lebih nikmat dibanding ma-nusia umumnya."

Ang-sin-hoa meiotot kepadanya, katanya dingin, "Ke-nyataan tombak ini lebih berguna dibanding kebanyakan orang." Ting Si mengangkat kelopak matanya, katanya getir, "Maksudmu tombak ini lebih berguna ketimbang aku?"

"Huh," Ang-sin-hoa mendengus.

"Dapatkah dia memijat punggungmu, bisa menyuguh secawan teh pagi untukmu?" Ting Si tertawa.

Walau masih merenggut, akhirnya Ang-sin-hoatertawa pula.

Di saat dia tertawa, sepasang bola matanya berkelap-kelip seperti sinar pelita di tengah halimun pegunungan, mendadak berubah terang dan muda hingga orang sukar membayangkan, bagaimana bisa terjadi perubahan gaib ini. Dalam waktu sekejap, Teng Ting-hou hampir lupa bahwa nenek berbaju kembang merah ini adalah perempuan berusia enampuluh.

Ting Si menepuk gagang tombak yang mengkilap itu, katanya, "Betapapun nikmat dan senang hidupmu, aku tidak akan iri." Dia berputar balik ke meja menuang arak ke cawannya, sekali tenggak dia habiskan, lalu dengan tersenyum berkata, "Betapapun kau tak bisa berdiri, me- nuang arak dan minim sendiri."

MendadakAng-sin-hoa menghela napas, katanya, "Oleh karena itu, dia tidak akan melakukan perbuatan yang lebih goblok dibanding babi yang paling dungu sekalipun."

"Maksudmu kau telah melakukan perbuatan yang lebih dungu dari babi?" "Pernah kuperingatkan kepadamu, supaya kau tidak masuk kemari." "Sekarang aku sudah masuk, tiada peristiwa apapun terjadi di sini."

Kembali Ang-sin-hoa menghela napas, katanya, "Sekarang memang belum terjadi apa-apa, tetapi kelak kau akan menyesal."

"Mengapa?" tanya Ting Si.

Ang-sin-hoa mengisi cawannya, sekali tenggak ia pun habiskan, cara dan kecepatannya minum tidak kalah dibandingkan Ting Si. Sekaiigus dia menghabiskan tiga cawan, lalu bertanya, "Tahukah kau siapa pemilik tombak ini?"

"Aku pernah mendengar."

"Pemilik Pa-ong-jio she Ong, yaitu pemilik To-ong Piaukiok yang bergelar It-jio-king-thian Ong Ban-bu. Konon tabiat orang ini keras dan kukuh, pedasnya seperti jahe, melebihi lombok, walau gabungan Piaukioktelah berdiri, lima orang tergabung dalam kongsi itu, namun dia tak mau bergabung, bilang tidak mau tetap tidak sudi, malah tak segan dia bertengkar dengan teman iamanya, Pek~li Tiang-ceng."

Mendadak Teng Ting-hou menghela napas, dari samping dia rnenimbrung," Ya, dia menggebrak meja, mengusir Pek-li Tiang-ceng enyah dari rumahnya."

Ting Si tertawa, katanya, "Betapa buruk watak. Ong-lothau, memang sudah terkenal di seluruh jagad, namun sikap dan tindakannya dalam persoalan ini memang benar, aku salut."

"Tapi kau keliru," ujar Ang-sin-hoa.

"Aku keliru? Dalam ha! apa aku keliru?" tanya Ting Si. "Kau salah ucap."

"Memangnya tombak ini bukan milik Ong Ban-bu?" "Dulu memang miliknya."

"Sekarang bukan?"

Ang-sin-hoa menuang arak lagi, agaknya dia ingin menyumbat mulutnya dengan arak. Seolah- olah dia ingin menyembunyikan suatu rahasia yang pantang diketahui orang lain?

Setiap orang punya hak mempertahankan rahasianyc sendiri, asal rahasia ini tidak merugikan khalayak ramai, siappun tiada hak memaksa membeberkan rahasia itu.

Sejak Ting Si masih kecil, Ang-sin-hoa selalu berpesat kepadanya tentang dasar kehidupan ini. Sekarang dia tidal berani bertanya lagi.

Tapi Teng Ting-hou tak tahan, dia bertanya, "Mengapa tombak ini berada di sini?"

Ang-sin-hoa meliriknya sekali, katanya dingin, "Karena pemiliknya akan segera kemari." "Kemari? Kemari untuk apa?"

"Memangnya untuk apa kau kemari?" "Aku datang mencari arak."

Ang-sin-hoa menjengek dingin, "Kalau kau boleh mencari arak, memangnya orang lain tidak boleh?"

Teng Ting-hou menatapnya sejenak, mendadak dia tertawa. Entah mengapa mendadak timbul kesan dalam benaknya bahwa watak nenek ini bukan saja mirip, malah merupakan pasangan setimpal dengan Ong-lothau itu. Tersimpul dalam benaknya, kalau nenek ini tidak mau mernbicarakan sesuatu, meski baginda raja memaksanya juga dia akan tetap bungkam. Maka terpaksa dia duduk di-amdan minum arak.

Setelah mereka duduk, baru mereka sadar, selama ini Siau Ma tidak pernah ikut bicara. Ternyata Siau Ma sedang sibuk menghirup arak. Seguci arak yang baru dibuka hampir habis dia minum,   kini sorot matanya sudah tampak pudar.

Pelahan Teng Ting-hou berkata, "Bisakah kau mem-bujuknya supaya tidak minum lagi, jangan minum sampai mabuk?"

"Tidak bisa," sahut Ting Si.

"Kau senang temanmu mabuk?" desakTeng Ting-hou. "Tidak senang."

"Mengapa tidak kau cegah?"

"Di waktu dia sadar, bila kularang dia minum, dia pa-tuh dan pantang minum, tapi sekarang. "

di.a mengawasi Siau

Ma, lalu tertawa getir, katanya pula, "Raja yang berkuasa pun jangan harap bisa meiarangnya." Teng Ting-hou menghela napas sambii tertawa meringis. Sungguh dia tidak mengerti, mengapa berhadapan dengan orang-orang yang berani melanggar larangan raja.

Guci kedua juga sudah habis, isi guci arak sudah ber-pindah ke perut mereka, Ang-sin-hoa bertolak pinggang, mengawasi dari samping, katanya, "Tombaksudah kalian lihat, arak juga sudah puas kalian minum, sekarang tiba saatnya kalian pergi."

"Kau mengusirku?" tanya Ting Si.

Dingin nada Ang-sin-hoa, "Memangnya kau ingin menyaksikan Siau Ma mabuk  dan bergulingan di sini?"

Sebelum Ting Si membuka suara, Teng Ting-hou sudah berdiri, katanya tertawa, "Kami memang hams berangkat, kalau minum terlalu banyak, mungkin aku pun akan mabuk dan bergulingan di tanah."

Baru saja dia mengulur tangan menarik Siau Ma, mendadak masuk tujuh delapan belas orang. Dari dandanan mereka, orang tahu bukan saja mereka biasa hidup dalam dunia persilatan, pengalaman pun tidak cetek. Begitu masuk pintu, orang-orang itu bertanya, "Duel sudah dimulai belum?"

Terbeliak mata Ang-sin-hoa,  tanyanya gusar,  "Duel apa?"

Seorang iaki-laki gede bergolok tebal berkata, "Kim-jio-gin-so Ji-samya, hari ini akan berduel melawan Pa-ong~jio di sini, memangnya kau tidak tahu?"

Ang-sin-hoa melotot gusar kepada pembicara ini, sebelum dia bicara, orang lain sudah berteriak, "He, tombak ini pasti Pa-ong-jioitu."

"Kalau tombaknya masih di sini, pasti kita belum ter-lambat."

"Kabarnya arak warung ini cukup baik, hayolah kita minum beberapa cawan, menghabiskan waktu sambii me-nonton keramaian."

"Apapun yang terjadi, duel sengit ini tak boleh kita abaikan, umparna harus menunggu tiga hari tiga malam juga tidakmenjadisoal."

Teng Ting-hou mengawasiTing Si, Ting Si menatapTeng Ting-hou, akhirnya kedua orang ini duduk pula di tempatnya.

Sambil bertolak pinggang Ang-sin-hoa menghampiri, mendadak dia menghela napas, katanya, "Gelagatnya kalian harus berangkatsaat ini."

Ting Si tertawa, katanya, "Umparna kau mengusir ka-mi sekarang, kami pun takkan pergi." "Betul, dihajardengan pecut juga tidak mau pergi," ujar Teng Ting-hou tertawa.

Ang-sin-hoa melotot kepada Teng Ting-hou, lalu melirik padaTing Si, mendadak dia tertawa, "Terusterang sa-ja, kalau aku menjadi kalian, dibacok golok juga aku tidak mau pergi." Akhirnya dia duduksemeja dengan mereka, gumamnya, "Tapi aku tidak mengerti; para kurcaci sebanyak itu, bagaimana mereka tahu akan persoalan di sini?"

Orang-orang yang masuktadi sudah mulai minum arak. Bila belasan lelaki sudah getol minum arak, umparna berdiri di pinggirnya juga tidak akan menarikperhatian mereka. Sekilas Ting Si melirik ke arah mereka, katanya, "Ku-rasa mereka sengaja dipanggil Kim-jio-ji kemari."

"O, alasanmu?" tanya Ang-sin-hoa.

"Orang yang berani mengajak Pa-ong-jio berduel, pe-duli kalah atau menang, dia patut  dipuji,    aku salut kepa-danya. Sepatutnya kalau Kim-jio-ji mengundang beberapa.teman untuk menonton dan memberi semangat padanya, dari mulut orang-orang itulah dia perlu menguarkan keberaniannya ke seluruh dunia.."

"Oleh karena itu aku heran," ujar Teng Ting-hou. "Soal apa yang membuatmu heran?"

"Aku tak habis mengerti, sekarang Kim-jio-ji bernyali besar, berani  menantang Pa-ong-jio berduel di sini?"

"Mungkin nyaiinya memang besar, mungkin beberapa tahun ini mendadak dia memperoleh sejilid Bu-kang-pit-kip (pedoman ajaran silat  kelas tinggi),  berhasil meyakinkan ilmu tombak  tunggal yang tiada tandingan."

Teng Ting-hou tertawa, katanya, "Kukira terlalu banyak kau membaca legenda para pendekar di zaman dulu, darimana datangnya Bu-kang-pit-kip, kau kira dapat dite-mukan dengan mudah?

Mengapa setua ini belum pernah aku mendengar seorang menemukan Bu-kang-pit-kip." Ting Si tertawa geli, ujarnya, "Ya, aku pun tak pernah mendengar."

Kedua orang ini tertawa bersama, namun berhenti bersama pula, karena sorot mata mereka tertuju keluarpintu, pandangan mereka melotot besar.

Dua joli berhenti di luar pintu.

Dua joli baru dengan pajangan yang indah dan bagus. Namun betapapun bagus dan mewah joli itu, pasti tak enak dipandang lama-lama, yang mereka pandang adalah dua orang.

Dua orang yang baru turun dari joli, yang pasti adalah perempuan, yang cantik dan nikmat dipandang.

* * * *

Di atas meja ditaruh sepoci teh dan sepoci arak.

Dua perempuan yang turun dari joli tadi kini sudah duduk dalam warung itu, seorang minum teh, yang lain minum arak.

Yang minum arak adalah gadis pendiam yang ayu je-lita, lemah lembut dan pemalu, bila dipandang dua kali oleh lelaki, wajahnya lantas jengah. Ada sementara perempuan mirip barang antik, hanya boleh dipandang dan dinikmati dari jauh,   serta   dipuji   pelahan,   bila   disentuh atau diraba secara gegabah, dia bisa pecah dan hancur. Demi-kian pula gadis yang satu ini, dia termasukjenis barang antik yang boleh dipandang tidak boleh dipegang.

Gadis yang minum teh kelihatannya juga pendiam, juga cantik, malah lebih ayu dan rupawan dibanding temannya. Tapi kecantikannya termasukjenis lain. Kalautemannya itu ibarat cahaya rembulan, maka kecantikannya laksana sinar matahari, begitu cantik hingga tiap lelaki yang memandangnya akan merasa panas dan gerah tubuhnya, begitu jelita gadis ini hingga orang yang melihat berdetakjantungnya. Pakaian mereka serba putih, bersih laksana salju, bu-kan saja tidak berdandan juga tidak merias diri, apalagi mengenakan perhiasan.

Kalau gadis yang minum arak wajahnya kelihatan pu-cat, wajah gadis yang minum teh justru tampak bersemu merah.

Seluruh laki-laki yang ada dalam ruang itu sedang melotot ke arah mereka. Demikian pula Ting Si juga tidak terkecuali.

Teng Ting-hou menghela napas, gumamnya, "Tak heran banyak perempuan berpendapat, mata laki-laki di kolong iangit pantas dicolok biar buta."

Ting Si tertawa, katanya, "Yang benar, perempuan yang berkata demikian, senang kalau lelaki mengawasinya."

"Agaknya kau paham jiwa perempuan?" ejekTeng Ting-hou.

"Lelaki yang beranggapan dirinya paham perempuan, kalau dia bukan orang gila, pasti seorang dungu," demikian ujarTingSi.

"Jadi kau bukan gila juga tidak dungu." "Ya."

Teng Ting-hou menoleh ke sana mengawasi kedua gadis itu, mendadak dia tertawa. "Mengapa kau tertawa?" tanya Ting Si.

"Aku geli meiihat mereka," sahut Teng Ting-hou, laiu dia merendahkan suaranya, "Kedua gadis itu berbeda, yang minum arak seperti minum teh."

Ting Si tertawa lebar. Mereka bicara dengan suara lirih, tapi gelaktawa mereka amat keras.

Gadis yang minum teh menunduk makin rendah, gadis yang minum arak malah mengangkat kepala dan melotot ke arah mereka. Susah orang melukiskan keindahan matanya.

Melihat gadis itu melotot kepadanya, Ting Si merasa sekujur badan menjadi panas, jantung berdetak keras.

Tahun ini Ting Si berusia 22, tidak sedikit perempuan yang pernah dilihatnya, namun belum pernah dia mempu-nyai perasaan ganjil. Lekas dia menenggak habis araknya.

Sekarang Siau Ma justru tidak minum lagi. Orang banyak mengawasi kedua gadis itu, namun yang terpandang hanya satu wajah di antaranya. Karena ditatap selekat itu oleh Siau Ma, wajah gadis yang minum teh kelihatan jengah dan malu-malu kucing.

Setiap lelaki senang mengawasi perempuan, jarang ada lelaki yang memandang perempuan seperti Siau Ma sekarang. Siau Ma bukan hanya memandang tapi juga mengawasi dengan  penuh perhatian, seolah sedang mengawasi bidadari yang pernah diimpikan waktu kecil, seperti sedang mengawasi kekasih yang sudah lama dirindukan, kekasih yang sudah lama tidak  bertemu.

Bagaimana perasaan seorang gadis bila ditatap dan diawasi sedemikian rupa oleh seorang laki- laki cakap dan ganteng, laki-laki gagah dan tampan? Laki-laki gede yang menyanding golok tebal dan duduk di sebelah sana mendadak berdiri, dengan cengar-cengir menghampiri serta mengadang di depan Siau Ma.

Karena pandangan terhalang, Siau Ma mengangkat kepala, melotot kepadanya.

Dengan menyengir lelaki gede ini mengawasi Siau Ma, dari sorot matanya orang akan tahu bahwa laki-iaki gede ini sudah mabuk, katanya, "Kau tidak mengenalku?"Telunjuknya menuding hidung sendiri.

Siau Ma menggeleng kepala.

Lelaki gede berkata, "Aku she Kwe, bernama Thong." "Aku tidak perriah kenal Kwe Thong," ujar Siau Ma. "Aku juga tidak mengenalmu," jengek lelaki gede itu. "Untuk apa kau kemari?" tanya Siau Ma. "Untukmelihatmu," ujar Kwe Thong.

"Melihatku?" tanya Siau Ma.

Kwe Thong tertawa, katanya, "Belum pernah aku melihat laki-laki mata keranjang sepertimu, memandang pe-rempuan seperti melihat setan, melihat tampangmu, ingin kutahu apakah kau pernah kena sakit syaraf?"

Di sana teman-temannya tertawa riuh.

Sebaliknya Ting Si mengheia napas. Kwe Thong sengaja rnencari gara-gara, tidaksadardengansiapa dia berhadapan, maka berani bertingkah.

Kwe Thong tertawa lebar, tawa senang, puas dan bangga. Laki-laki kalau bisa rnenghinadan mempermainkan laki-laki lain di depan perempuan, pasti merasa bangga, menganggap dirinya luar biasa, dirinya adalah jagoan. Perempuan itu akan tertarik dan simpatik padanya. Lantaran itu, banyak perempuan berpendapat umumnya lelaki bodoh dan menggelikan.

Kwe Thong masih tertawa lebar, belum puas tertawa, mendadak dia merasa, mukanya berkembang, badannya mencelat terbang. Terbang tiga empat tombak, melayang di atas kepala kedua gadis itu, "Blang", jatuh di atas mejanya sendiri, kebetulan di atas meja dihidangkan   kepala babi panggang yang masih panas, pantatnya tepat menindihnya, hingga gepeng dan hancur. Bentuk mukanya beru-bah lebih jelek dibanding kepala babi panggang itu.

Tiada yang melihat jelas mengapa tubuhnya mendadak mencelat terbang, tiada yang melihat bagaimana Siau Ma turun tangan. Siau Ma masih berdiri terlongong di tempatnya, duduk seperti bocah pikun mengawasi gadis yang minum teh itu.

Cukup lama teman-teman Kwe Thong menjublek dan terkesima, akhirnya serempak mereka berjingkrak berdiri, ada yang menggulung lengan baju, mencabutsenjata, ada pula yang mengepaltinju,

"Bocah ini berani memukul orang, hayo colok matanya biar buta." Belasan orang mencaci-maki, ada yang mendorong kursi membalikkan meja, siap mengerubut.

Tiada yang mencegah atau merintangi mereka. Siau Ma sadar, masih ada orang lain di dunia ini, tetapi ternyata Ang-sin-hoa menghilang entah kemana. Sejak gadis jelita itu masuk ke warungnya, bayangan nenek pesolek itu lantas lenyap tak keruan paran.

Ting Si menghela napas, tanyanya pada Teng Ting-hau, "Kau ingin berkelahi tidak?" "Tidak," sahut TengTing-hou. .

"Sayang sekali, gelagatnya kita hams berkelahi," kata Ting Si.

"Wut", suara menjadi ribut, sebelum orang-orang itu menerjang tiba, empat buah mangkuk  terbang melayang. Sebelum.fing Si turun tangan, mendadak terdengar suara "ting, ting, ting" tiga kali, tiga mangkuk terpukul pecah dan hancurditengah udara.

Pecahan mangkuk bersama tiga bjji Am-gi (senjata rahasia) yang memukul jatuh ketiga mangkuk itu berham-buran di tanah, ternyata tiga biji garu perak yang mengkilap.

"He, Kim-jio-gin-so Ji-samya datang," entah siapa yang berteriak.

Seorang laki-laki setengah baya berperawakan kurus tinggi berkepala panjang, dengan tulang pipi menonjol, hidung bengkok seperti paruh kakaktua, namun sikap dan dandanannya tampak angkuh dan perlente, sambil menggendong tangan, beranjak lebar ke dalam, sikapnya yang kereng memang membuat orang keder.

Dua laki-laki kekarberpakaian ketat, memikul buntalan panjang berdiri di belakangnya. Bobot buntalan kain panjang itu tampaknya amat berat, yang dibuntal jelas adalah Kim-jio atau tombak emas miliknya.

Orang-orang kasar itu sudah siap mengganyang Siau Ma, meiihat kedatangan laki-laki ini, semua berdiri diam, tidak berani membuat keributan lagi.

Sudah lama Kim-jio-ji mengangkat nama, ketenarannya amat luas dan disegani, apalagi di  wilayah kekuasaannya, dengan sebatang tombak emas itu, bersama sekantong garu perak,   entah berapa jago kosen berilmu tinggi jatuh di tangannya, selama malang melintang belum per- nah ketemu tandingan.

Dalam pandangan orang-orang Kangouw yang kasar itu, Kim-jio-ji adalah tokoh yang dihormati dan ditakuti. "Setelah Ji-samya datang, kejadian ini lebih mudah diselesaikan."

Kim-jio-ji menarik muka, katanya dingin, "Kejadian apa? Kalian kemari mau meiihat aku berduel? Atau kalian yang akan berkelahi buat kutonton?"

Seorang pemuda bertubuh kekar berteriak, "Kami tidak ingin berkelahi, tapi kami tidak akan berpeluk tangan menyaksikan Kwe-lotoa dihina orang." Pemuda ini bernama Coh Hou, putra saudara Kwe Thong, melihat Kwe Thong dihajar orang, dia amat penasaran.

"Apakah kau ingin menuntut balas sakit hati Kwe Thong?" tanya Kim-jio-ji.