Neraka Hitam Jilid 18

Jilid 18

Dengan suara lantang Lan hoa siancu segera berseru, “Bagus sekali Rupanya Tang Kwik-siu mengandung maksud sekeji ini, sobat-sobat sekalian, hayo kita bereskan dulu nyawa bajingan-bajingan ini, kemudian menyerbu ke Cong hay dan membumi ratakan sarang Seng-sut-pay dengan tanah, biar anak cucu iblis itu tersapu bersih dari muka bumi…..”

Seketika itu juga seruan itu mendapat tanggapan dari semua orang, caci maki dan dampratan sinis berkumandang dari mana-mana, semua jago dari Seng-sut-pay dikepung rapat-rapat, suara senjata yang beradu memecahkan keheningan, rupanya ada orang yang sudah mulai turun tangan.

Tiba-tiba terdengar Bwe Su-yok berseru setelah tertawa dingin.

“Kiranya pihak Seng-sut-pay ada niat unuk menyapu rata daratan Tionggoan, kalau begitu maaf” Sementara itu semua jago dari pihak Kiu-im-kau telah naik keatas tebing, mereka lantas menyingkir ketepi arena dan bersikap masa bodoh…

Seng To cu yaa kaget yaa marah setelah mengetahui kejadian ini, ia melotot sekejap ke arah dua bersaudara Lenghou serta Hong Liong kemudian serunya dengan gusar, “Kenapa tidak berunding dulu dengan aku?”

Toa suheng suka ketenangan maka…maka….” Lenghou Ku menjadi gelagapan.

Semua usaha dan perjuangan perkumpulan kami hancur berantakan di tangan kalian semua teriak Seng To cu dengan gemas.

Saking gemasnya sulit baginya untuk berbicara lebih lanjut, tapi dia tahu bahwa Seng-sut-pay telah menjadi incaran setiap orang, sekali salah bertindak bisa jadi semua anggotanya akan tertumpas, bahkan lebih payah cousu-nya di daerah Cing hay pun kemungkinan akan tersapu lenyap.

Maka ia tak tempat untuk menegur dua bersaudara Lenghou serta Hong Liong lagi, sambil berpaling katanya dengan suara dalam, “Hoa Yang, partai kami mengaku kalah, jika kau hendak berduel, aku orang she Seng pasti akan memberi keputusan untuk kalian, Hoa In-liong tertawa, dengan lantang ia berseru, “Sobat-sobat sekalian, harap jangan turun tangan lebih dulu, dengarkanlah perkataanku”

Didalam menghadapi serangan api dari Jin Huan kali ini, seandainya tiada pertolongan dari Hoa In-liong, mungkin tak seo rangpun diantara mereka yang bisa hidup sampai sekarang, maka setelah ia membuka suara, serentak semua orang menghentikan gerakkannya, hanya tiga empat orang pemuda diantaranya yang belum juga mau berhenti. Seorang kakek segera menyambar pergelangan tangan salah seorang diantaranya, lalu berkata, Hoa kongcu pasti dapat mencarikan keadilan untuk kita semua, kalian tak usah turun tangan”

Tiga orang lainnya yang menyaksikan kejadian itu terpaksa menghentikan pula tindakan mereka sambil mengundurkan diri.

Setelah dilihatnya tiada orang yang bertarung lagi, dengan suara lantang Hoa In-liong berkata, “Kalian semua tak usah kuatir, Tang Kwik-siu dengan anak buahnya yang melancarkan sergapan telah dihadang oleh jago-jago lihay, mereka tak akan mampu melaksanakan niat busuknya lagi,

tiba-tiba terdengar seseorang berseru lantang”

“Hoa kongcu, tolong tanya apakah ayahmu telah turun gunung?”

Hoa In-liong berpaling, sewaktu dilihatnya orang itu adalah rekan sekampungnya Tio Ceng tang, sambil menjuara dia lantas tertawa.

“Oooh…..rupanya Tio lo enghiong telah datang, selama banyak tahun belakangan ini kepandaian silatmu tentu sudah mendapat banyak kemajuan bukan?”

Tio Ceng tang buru-buru membalas hormat dengan rasa kaget, Oh, rupanya Hoa kongcu masih teringat dengan lohu, di masa lalu berkat kebaikan Hoa locianpwe aku berhasil memperoleh resep rahasia dan memperoleh badan yang sehat serta kemajuan yang pesat, tetapi soal anakku… ” “Bila urusan telah selesai nanti pasti akan kusambangi kalian lagi” tukas Hoa In-liong sambil tertawa, “sebagai seorang putra, sudah sepantasnya kalau membantu ayah untuk menyelesaikan kesulitan, aku tak becus dan mendapat perintah untuk menyelesaikan persoalan ini, bagaimana mungkin berani kuganggu ketenangan dia orang tua”

Tio Ceng tang segera mengiakan berulang kali. Terdengar seseorang yang lain berkata kembali, “Aku rasa Hoa kongcu pasti mempunyai persiapan yang matang, dapatkah kau jelaskan jago-jago lihay siapa saja yang telah menghalangi perbuatan Tang Kwik-siu itu?”

Hoa In-liong tertawa.

“Mereka adalah keturunan dari Bu seng Coa tayhiap beserta sekawanan Bu lim cianpwe yang sebenarnya sudah dikendalikan oleh racun jahat pihak Seng-sut-pay, diantaranya terdapat Giok suan ni (singa kemala) Can Ki an long, ciangbunjin keluarga Wi dari Seng ciu, Chia san it siu dan lain- lainnya, tentang soal ini kalian boleh berlega hati!”

“Hmm! Tok liong wan memabukkan perasaan Sin hui si sim (ular berbisa menggigit hati) menguasahi badan, Kiu tok sian ci pun di bikin kelabakan, dengan kemampuan kau si bangsat cilik mana dapat memusnahkan kedua macam racun jahat itu!” seru Hong Liong dengan nada seram.

Lan hoa siancu yang berada ditempat ke jauhan segera tertawa dingin, serunya, “Orang she Hong, dengan ketololanmu macam babi itu kauanggap kemampuan yang dimiliki orang-orang Hu hiang kok bisa diduga dengan begitu saja? Huuh …kepandaian beracun dari pihak Mo kau tak lebih cuma permainan kanak-kanak” Lenghou Yu segera tertawa seram, katanya pula, “Sekalipun kau berhasil menyelamatkan setan-setan tua yang sudah macam mayat hidup itu bila ingin menghalangi kekuatan dari jaga-jago partai kami ibaratnya walang hendak menahan pedati……hancur sendiri…..

“Bukan aku orang she Hoa terlalu pandang rendah ciangbunjin kalian, seandainya Coa tayhiap tidak terlalu memegang teguh perintah leluhurnya sehingga tidak melakukan perlawanan, tak mungkin ia bisa disekap oleh kalian bila sampai sungguh-sungguh terjadi pertarungan mungkin hanya toa suhengmu seorang yang masih sanggup menghadapinya asal dia yang memimpin jago-jago kelas satu itu, Tang Kwik-siu sudah pasti akan menderita kekalahan total”

“Kentut” dengus Hong liong amat gusar.

Sebelum hari ini, nama Coa Goan hau tak dikenal orang sebaliknya kelihaiyan Tang Kwik-siu diketahui oleh setiap orang.

Sekalipun demikian, nama besar Bu seng tampil hari ini masih dikenal orang apalagi ditinjau dari kepandaian silat yang dimiliki Coa hujin dan putrinya, bisa diketahui kalau kelihaiyan Coa Goan hau tak boleh dipandang remeh.

Sedangkan Cian sat it siu, Giok suan ni, Cau kiau long sekalian adalah nama dari jago-jago yang sudah tenar semenjak dulu, tentu orang kenal dengan mereka.

Disamping semuanya itu, Hoa In juga mustahil kalau berani bicara sembarangan dalam menghadapi persoalan besar ini, maka setelah mendengar jaminan darinya, diam-diam mereka menghembuskan napas lega. Orang-orang Seng-sut-pay hanya mengatakan tak percaya dibibir, padahal hati kecil nya sudah kemat-kemit tak karuan.

Sesungguhnya mereka beranggapan meski dalam pertemuan besar ini menderita kekalahan total, asal Tang Kwik-siu berhasil dengan operasinya, mereka masih tetap bisa bercokol dalam dunia persilatan beradu kekuatan dengan keluarga Hoa, tapi selalu urusan menjadi begini mereka jadi putus asa dan murung sekali.

Dalam pada itu, dari pihak kaum pendekar telah tiba, pada giliran kaum muda untuk naik ke atas tebing.

00000O00000

58

Secara lamat-lamat Coa Wi-wi ikut mendengar pembicaraan tersebut, ketika menyinggung soal ayahnya ia menjadi berdebar, memanjat pun dipercepat, ketika masih berada enam tujuh kaki dari puncak tebing, tak sabar lagi dia menarik tali dan melambung keudara, dari situ segera serunya, “Jiko kau telah bertemu dengan ayahku?”

Bagaikan seekor burung walet dia melayang turun disisi tubuh Hoa In-liong.

Semua orang hanya merasakan pandangan matanya silau tahu-tahu seorang gadis cantik telah muncul didepan mata.

Diam-diam semua orang membandingkannya dengan Bwe Su-yok segera terasa oleh semua orang bahwa kecantikan mereka berdua seimbang meski yang satu lincah sedang yang lain dingin. Gadis itu sama sekali tidak menggubris hal-hal yang lain, dengan sepasang biji matanya yang jeli dia perhatikan Hoa In- liong dari atas sampai kebawah, wajahnya menampilkan perasaan yang kuatir sekali.

Hoa In-liong memutar biji matanya dan memandang gadis itu sekejap, lalu sambil tersenyum berkata, “Adik Wi tak usah kuatir, empok dalam keadaan sehat wal’afiat, beberapa hari lagi kalian tentu akan saling bersama kembali”

Mereka saling berpandangan dan tertawa, semua rasa rindu dan kangen yang tak akan habis diutarakan dengan beribu kata-kata, ternyata telah tertebus dalam pandangan tertebut.

Tiba-tiba Bwe Su-yok mendengus, biji matanya yang jeli segera dialihkan ke arah lain.

Sementara itu, Coa Cong gi, Kongsun peng dan lain-lainnya secara beruntun telah naik ke atas dan berkumpul semua disekeliling Hoa In-liong.

Kongsun peng sembari menyapa Hoa In-liong, tak tahan dia berpaling uatuk mencari Kiong Gwat hui, kebetulan waktu itu Kiong Gwat hui juga sedang memandang kearahnya, pandangan mereka segera saling gemetar.

Dengan girang Kongsun Peng berseru, “Nona Kiong…..” Kiong Gwat hui mendengus dingin lalu melengos.

Merah padam selembar wajah Kongsun Peng lantaran jengah, dengan wajah tersipu-sipu dia berjalan kembali ke sisi Hoa In-liong. Hoa In-liong menyaksikan kejadian itu, hatinya lantas tergerak, segera pikirnya.

Saudara Kongsun memang merupakan pasangan yang ideal untuk Kiong ji moay, sekalipun di wajahnya Kiong ji moay bersikap tak ambil perduli, jelas hatinya sudah setuju, bukan mustahil gara-gara pertarungan di kota Si ciu, mereka mengikat diri menjadi suami istri, aku musti mencari kesempatan untuk menjodohkan mereka, kalau tidak bukanlah terlalu sayang?”

Berpikir sampai disini, dia lantas berpaling ke arah Seng To cu seraya berkata, “Harap saudara mau tunggu sebentar: Kemudian sambil memberi hormat kepada Bong pay yang berada dibelakanugnya ia berkata, “Paman…….”

Aku tidak ada usul lain, terserah apa yang hendak kau lakukan!” tukas Bong Pay sambil tertawa.

“Keponakan bermaksud menunggu sampai semua cianpwe telah berkumpul semua, kemudian baru minta usul mereka dalam tindakan selanjutnya”

Diam-diam Bong Pay berpikir, Bocah ini masih muda tapi berjiwa besar, kalau aku berdiam diri saja mungkin dia akan menunjukkan sikap tinggi hati, tapi kalau aku turut campur dia akan ragu-ragu untuk bertindak……yaa, Thian hong bisa mempunyai seorang putra semacam dia, sesungguhnya tak sia-sia belaka hidup didunia”

Berpikir demikian segera ujarnya. “Persoalan ini boleh kau putuskan sendiri, aku pikir para cianpwe lainnya tak akan ada usul lain cuma memang ada baiknya kalau menunggu sampai semua orang naik keatas.

“Baik!” jawab Hoa In-liong dengan wajah serius. Dia lantas berpaling kearah Seng To cu seraya berkata, “Bagaimana pendapatmu?”

“Terserah keinginanmu!” jawab Seng To cu hambar.

Orang-orang Seng-sut-pay tahu bahwa usaha mereka untuk menyerang pelbagai partai mengalami kegagalan total, dalam keadaan demikian, Kok Se piau serta Bwe Su-yok pasti akan berpeluk tangan belaka membiarkan piaknya dibasmi oleh para pendekar.

Oleh sebab itu mereka bermaksud untuk menunggu saja sambil berharap bisa terjadi perubahan situasi untuk mereka.

Dalam waktu singkat para jago dari pihak golongan putih maupun dari golongan Hian-beng-kau telah tiba semua diatas tebing.

Pertemuan besar yang diadakan Hian-beng-kau kali ini berlangsung pada tengah hari Pek cun, pertemuan itu diadakan setelah lewat tengah hari sampai malam, lalu dari pagi sampai senja, maka saat ini waktu kembali menunjukan tanggal tujuh bulan lima, tengah malam buta.

Setelah mengalami pelbagai musibah, dari terserang oleh api sampai diserang air bah, pakaian yang dipakai semua orang boleh dibilang telah basah kuyup, keadaannya mengenaskan sekali, ada yang bajunya koyak, ada yang mukanya hitam kena hangus, jangan di bilang lagi mereka yang terluka…..

Demikianlah setelah keluar dari lembah, pemandangan terasa lebih segar dan nyaman, timbul kembali rasa gembira dalam hati masing- masing, napsu membunuh dalam hati mereka jauh berkurang sekali. Dibawah sinar rembulan, terlihatlah manusia yang berdesakan memenuhi puncak tebing.

Para jago dari golongan putih telah mengepung rapat-rapat para jago dari pihak Seng-sut-pay, sebelah timur penuh berkumpul para jago dari Hian-beng-kau, waktu itu Kok See- piau, Cho Thian hua dan Co Tang cuan sekalian sedang berbisik-bisik merunding kan sesuatu, sebaliknya anak murid Kiu-im-kau berada disebelah barat.

Banyak perubahan diluar dugaan yang terjadi dalam pertemuan kali ini, mula-mula Jin Hian meledakkan bukit untuk menyumbat mulut lembah, lalu melepaskan panah Lui hwe Ciam untuk mengurung para jago dengan api, setelah terjadi pertarungan sengit antara golongan putih dengan golongan hitam yang mengakibatkan jatuh banyak korban, banyak pula diantara kawanan jago yang tewas diserang oleh batu-batu karang dan api.

Dari sekian banyak jago, anak murid baju putih dari Hian- beng-kau serta para jago yang datang menonton meramaikan terhitung paling lemah, korban diantara merekapun paling parah, setiap orang boleh dibilang menaruh perasaan benci yang merasuk tulang terhadap diri Jin Hian.

Cian pek jin dari Tiam cong pay serta Im san ji koay dari pihak Hian-beng-kau telah tewas bersama. Lau Ik liong dengan membopong jenasah sutenya berdiri dengan wajah sedih, Yau Tiong in yang bertarung melawan Tang Bong liang, sebuah pukulan kipasnya telah ditukar dengan sebuah pukulan tangan, tak enteng pula luka parah yang dideritanya, ditambah lagi hampir separuh bagian anak muridnya mati atau terluka dalam pertarungan tersebut. Sute dari Cia Bu liang yang bertarung bersama Coa hujin pada saat yang terakhir termakan sebuah pukulan yarg cukup dahsyat, akibatnya sekalipun tak sampai mampus paling tidak dia baru beristirahat selama tiga empat bulan lamanya, ia dibopong oleh Bu Beng san.

Para bekas anggota Sin-ki-pang rata-rata berilmu tinggi dan berpengalaman luas setelah terjadi pertarungan sengit yang mati tak sampai sepuluh orang sedang yang terluka pun baru dua puluh orang lebih.

Diri pihak Kim Leng ngo congcu, Si Siong-peng dan Li Po- seng paling parah menderita luka, mereka ditolong oleh Coa Cong gi serta Yu Siau lam setelah membunuh belasan orang musuh, mereka masih tetap tidur, hal mana benar-benar merupakan suata kemujuran.

Coa hujin dan Goan cing taysu telah naik pula ke atas tebing, Coa Wi-wi segera melaporkan tentang ayahnya kepada mereka.

Sekalipun Goan cing taysu adalah seorang pendeta yang berilmu tebal, tak urung terpengaruh juga oleh berita itu sehingga hatinya mengalami gejala keras.

Dengan air mata bercucuran. Coa hujin berkata, “Gwakong, anak Sian ingin segera membawa Gi dan Wi untuk pergi berjumpa dengan Goan hau”

Goan cing taysu segera tersenyum, sahutnya, “Cepat atau lambat kalian pasti akan saling bersua, buat apa dan musti gelisah?”

“Tapi anak Sian sudah tak kuasa untuk menahan diri, hatinya sama gelisah susah terkendali” seru Coa Hujin sambil menangis sesenggukan. “Anak Sian!” tukas Goan cing taysu, ajaran leluhur kita menganjurkan agar kita lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, selesai persoalan di sini belum terlambat bagi kita untuk ke sana.

Dalam keadaan demikian, terpaksa Coa hujin harus mengendalikan perasaannya yang gelisah untuk menunggu selesainya persoalan disini.

Sementara itu Hoa In-liong telah berpaling kepada Seng To cu setelah meninggalkan beberapa pesan kepada para cianpwe, katanya, “Coa tayhiap adalah seorang ksatria yang berjiwa besar, sekalipun hampir belasan tahun ia tersekap didalam perkumpulan kalian, dendam sakit hati ini tak pernah dipikirkannya dalam hati, adapun maksudnya menghalangi Tang Kwik-siu dan murid-muridnya tak lebih hanya ingin memberi peringatan agar mereka jangan meneruskan perbuatannya itu, sudah barang tentu terhadap sampah masyarakat dari daratan Tionggoan, mereka tak akan bertindak sungkan-sungkan”

Sementara itu Kok See-piau serta Bwe Su-yok dengan memimpin masing-masing anak buahnya berkumpul disamping arena tanpa turut campur dalam persoalan itu, namun mereka tidak bermaksud pergi meninggalkan tempat itu, agaknya mereka hanya ingin menyaksikan jalannya pertarungan antara pihak pendekar dengan golongan Seng- sut-pay.

Ci wi siancu yang mendengar perkataan dari Hoa In-liong itu segera berpikir dalam hati, “Tidak beres, kalau didengar dari pembicaraan tersebut, tampaknya dia bermaksud hendak melepaskan kawanan iblis ini” Berpikir demikian, dengan gusar dia lantas berseru, “Liong ji, bagaimana dengan janji kita tadi?”

“Janji apa?” tanya Hoa In-liong tertegun

“Kita harus membasmi mereka sampai seakar-akarnya, jangan menjadi bibit bencana lagi dikemudian hari”

Mendengar itu Hoa In-liong mengerutkan dahinya lalu tertawa, jawabnya, “Kokoh bertiga buat apa kita musti berbuat demikian, mengejar orang tak lebih hanya seratus langkah”

“Cis, kau suka mengampuni orang, apakah orang lain bersedia menggampuni dirimu” seru Ci Wi siancu dengan gusar, “kalau perbuatan tolol semacam itu mah aku tak sudi untuk melakukannya”

Li hoa siancu segera menyambung.

Jika kau enggan untuk turun tangan, biar kami melakukannya bagimu!”

Dia lantas berjalan lebih dulu menghampiri para jago dari Seng-sut-pay.

Semuaa orang segera menyingkir ke samping memberi jalan lewat, tanpa terlibat apa yang di lakukan olehnya, tahu- tahu dua orang anggota Mo kau yang mendengus tertahan, lalu roboh ke tanah.

Menyaksikan kejadian itu paras muka Seng To cu sekalian berubah hebat, mereka mau menuruti perkataan orang karena didesak oleh keadaan, tapi bukan berarti mereka sudah tiada kekuatan lagi untuk memberi perlawanan desakan dari Biau- nia Sam-sian yang bertubi-tubi ini membuat mereka menjadi nekad.

Para jago dari pihak Mo kau segera bersiap-siap untuk turun tangan agaknya mereka berniat untuk beradu jiwa.

Gelisah sekali Hoa In-liong menyaksikan keadaan tersebut, segera pikirnya dalam hati, “Sekalipun anggota Mo kau banyak melakukan kejahatan namun mereka bukan manusia sembarangan jika dibasmi seluruhnya hal mana itu, memang harus dihadapkan pada seorang yang tak tahu aturan pula.

Setelah Biau-nia Sam-sian diajak pergi, diam-diam ia menghembuskan napas lega, katanya kemudian, “Seng To cu, apa yang hendak kau katakan? Apakah berharap Tang Kwik- siu bisa merubah keadaan ini?”

Seng To cu berpaling dan memandang sekejap kearah dua bersaudara Lenghou serta Hong Liong, lalu katanya, “Dalam urusan ini, ciang hujin yang berkuasa ataukah aku yang memutuskan?”

Tentu saja toa suheng!” sahut Lenghou bersaudara dengan cepat dan lantang.

Hong Liong agak termenung sejenak, kemudian dengan perasaan apa boleh buat dia berkata, Selama suhu tidak berada, memang seharusnya toa supek yang mengambil keputusan.

Dengan pandangan dingin Seng To ci memandang sekejap kearah Hong Liong, lalu katanya, “Sekarang aku bisa saja mengambilkan keputusan, tapi setelah peristiwa ini apakah suhumu mau mengikutinya?”

“Soal ini sulit, tak berani menjamin!” “Kalau memang demikian, bukan semua perkataan itu hanya ucapan yang tak berguna” seru Seng To cu dengan suara keras.

Hong Liong menundukkan kepalanya rendah-rendah dan tidak berbicara lagi.

Seng To cu mendengus dingin, dia lantas berpaling seraya katanya, “Sejak kini partai kami mengundurkan diri dari dunia persilatan, mulai sekarang, selama keluarga Hoa masih berada dalam dunia persilatan orang-orang Seng-sut-pay tak akan melangkah masuk ke daratan Tionggoan, Hoa Yang, puaskah kau dengan janjiku ini?

Ucapan tersebut kontan saja membuat para jago Seng-sut- pay merasa terperanjat, dua bersaudara Lenghou menggetarkan bibirnya seperti mau mengucapkan sesuatu tapi segera dibatalkan kembali.

“Toa supek, hal ini terlampau berat buat kita!” teriak Hoa liong cepat dengan suara Keras.

Bersamaan itu pula, dari kawanan jago lainnya terdengar pula teriakan-teriakan yang amat gaduh.

Terdengar Tio Ceng tang berseru, “Kalau berbuat demikian, hal mana terlalu keenakan buat mereka, Hoa Kongcu, kau tak boleh menerimanya!”

Huan Tong berseru pula dengan lantang, “Apa yang diucapkan Seng To cu belum tentu akan diakui oleh Tang Kwik-siu, Hoa kongcu harus meminta jaminan darinya!”

“Malah ada pula yang berteriak dengan lantang, “Orang- orang Mo kau paling tak pegang janji, ucapan mereka ibaratnya kentut busuk lebih baik dibunuh saja sampai mampus!”

Menyaksikan kemarahan dari masa banyak, para jago dari Seng sit pay menjadi murung dengan perasaan tak tenang, meski Hong Liong terkenal karena buasnya namun dalam keadaan demikian diapun tak berani banyak berbicara.

Seng To cu berusaha keras menenangkan hatinya, lalu berkata, “Orang she Hoa, apakah pihak pendekar pun bisa melakukan perbuatan rendah dengan melakukan pembantaian secara besar-besaran?”

“Selamanya keluarga Hoa melakukan pekerjaan atas dasar kebaikan, kami tak akan memperdulikan soal nama atau tidak!” jawab Hoa In-liong dengan nada hambar.

Perasaan Seng To cu menjadi berat sekali, serunya. “Kalau begitu…..

“Harap Seng ciampwe memberi jaminan dulu” tukas Hoa In-liong, apakah janjimu” akan dituruti pula oleh Tang Kwik- siu?”

Seng To cu termenung agak lama, setelah menghela napas, jawabnya, “Aaaai,.. . meskipun lohu sebagai Suhengnya, tapi dia adalah seorang ciangbunjin, maaf kalau aku tak bisa memutuskannya”

Hoa In-liong cuakup mengetahui akan keadaannya yang serba susah, dia tak ingin menyaksikan kekuatan Seng-sut-pay tertumpas disini, tapi perbuatan dari Tang Kwik-siu juga tak bisa dikekang olehnya, maka setelah berpikir beberara kali, dia mendongakkan kepalanya dan berkata dengan wajah serius, Aku rasa dipihak sutemu itu juga tak mungkin bisa melakukan banyak perbuatan lagi, memandang diatas wajah saudara, Hoa Yang bersedia menerima usulmu itu, cuma terhadap para jago yang sudah lama kalian sekap, paling tidak partai kalian harus memberikan pertanggungan jawab……”

Setelah ucapan tersebut diucapkan, baik golongan putih maupun golongan hitam sama-sama dibuat tercengang, sebab keputusan tersebut jauh di luar dugaan mereka.

Seng To cu sendiripun agak tertegun lama lalu dia mengganguk.

“Kalau Hoa kongcu memang bersedia mengabulkan permohonanku itu, partai kami pasti akan memberikan pertanggungan jawab yang secukupnya”

Dengan serius Hoa In-liong berkata lagi.

“Bila partai anda bersedia untuk melepaskan soal dendam dan sakit hati serta memikirkan soal kepentingan umat banyak, aku rasa kalian pun tak perlu mengurung diri,…..”

“Terima kasih banyak atas maksud baikmu, tukas Seng To cu sambil menggoyangkan tangannya berulang kali, sayang sekali anggota kami terlampau bodoh dan liar, sulit rasanya untuk menerima maksud baikmu itu”

“Yaa, tiap manusia memang ada cita-cita sendiri, aku tak ingin terlalu memaksakan ke hendakku”

Setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh dengan suara dalam, “Bila partai kalian merasa tak puas, setiap saat pintu gerbang keluarga Hoa di bukit In tiong san terbuka untuk kalian, silahkan saja datang untuk mengadu kekuatan, baik menang atau kalah keluarga Hoa menjamin tak akan mencelakai jiwanya, tetapi bila partai kalian sampai menimbulkan kembali badai darah yang mengerikan, demi te tegaknya keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan, terpaksa keluarga Hoa akan berkunjung langsung ke Seng- sut-pay untuk minta pertanggungan jawab”

“Soal ini, Seng To cu tentu akan berusaha keras untuk memperingatkan anggota kami”

Hoa In-liong lalu memandang sekejap sekeliling arena, kemudian pelan-pelan berkata.

Hoa Yang telah memberi keputusan terhadap pihak Seng- sut-pay, harap para enghiong dan cianpwe suka memaklumi, entah adakah diantara kalian yang merasa tidak puas?”

Sekalipun semua orang merasa bahwa tindakan itu terlalu menguntungkan orang-orang Mo kau, tapi penampilan Hoa In- liong yang mencerminkan kegagahan serta kebijaksanaannya ini membuat banyak orang merasa sungkan untuk mengajukan keberatannya.

Apalagi membasmi rumput seakarnya merupakan perbuatan yang bertentangan dengan semangat seorang ksatria, maka oleh karena semua orang tiada cara lain yang lebih baik lagi, tak seorangpun yang buka suara.

Untuk sesaat suasana menjadi hening dan tak terdengar sedikit suarapun.

Hoa In-liong dapat membaca suara hati semua orang, dia menghela napas panjang, lalu berkata, “Para enghiong, cianpwe sekalian, aku rasa kalian pasti sudah menyaksikan sendiri bukan bagaimanakah perbuatan ksatria dari Thian Ik locianpwe, bekas Tong thian kaucu yang baru saja meninggal dunia itu? Siapa yang menduga kalau Thian Ik locianpwe bersedia me-ngorbankan jiwanya demi menyelamatkan jiwa orang banyak? Sebelum ajalnya tiba, Thian Ik loci anpwe pun masih tak lupanya berharap agar semua orang jahat didunia ini mau bertobat atas dosa-dosanya, oleb sebab itu aku bertindak demikian kepada pihak Mo kau agar merekapun bisa mencontoh diri Thian Ik locianpwe dengan bertobat dari semua kesalahannya. Aaai……! Tapi jika kalian belum juga mau mengerti, akupun tak bisa berbuat apa-apa lagi”

Mendengar perkataan itu hati semua orang agak tergerak, bahkan tak sedikit anggota dari tiga pekumpulan besar yang diam-diam merasa amat terharu.

Ayah Kongsun Peng, Kongsun Yong cu dengan suara gemetar segera berseru;

“Hoa kongcu kenapa berkata demikian? Yang ada dalam hati kami cuma perasaan kagum, mana berani memperlihatkan perasaan tak puas atas keputusan kongcu itu?”

Setelah ia buka suara semua orangpun segera memberikan tanggapan pula sehingga suasana menjadi amat ramai.

Hoa In-liong segera menjura ke empat penjuru, katanya dengan serius, “Terima kasih banyak atas kasih sayang dari saudara sekalian, kalau memang kalian bersedia melepaskan pihak Seng-sut-pay maka bagaimana kalau kalian memberi jalan lewat agar mereka bisa meninggalkan tempat ini?”

Mendengar perkataan itu semua orang yang mengepung disekeliling arena segera menyingkir ke samping memberi jalan lewat.

Bagaikan memperoleh pengampunan besar semua anggota Seng-sut-pay segera angkat kaki dan melarikan diri cepat- cepat, rupanya mereka kuatir kalau para jago berubah pikiran. Sebelum pergi, dengan ganas Hong Liong melotot sekejap ke arah Hoa In-liong jelas terlihat betapa dendam dan bencinya orang itu.

Seng To cu mendongakkan kepalanya lalu berkata, “Hoa Yang, selama hidupku persoalan yaag paling menyesalkan hatiku adalah bermusuhan dengan keluarga Hoa kalian”

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan. Tapi perisalan yang paling menggembirakan hatiku juga bermusuhan dengan keluarga Hoa kalian.

Ucapan ini membuat semua orang tertegun, mereka merasa ucapannya yang pertama dengan kedua saling bertentangan satu sama lainnya atau jangan-jangan pikirannya sudah menjadi sinting atau kurang waras setelah menderita kekalahan total?

Hoa In-liong segera menjura, sahutnya sambil tertawa, “Akupun mempunyai perasaan yang sama, baik-baik dijalan, maaf kalau aku tidak menghantarmu!”

Seng To cu memandang sekejap sekeliling tempat itu, setelah menghela napas panjang dia mengebaskan ujung bajunya dan beranjak dari sana untuk menyusul Hong Liong sekalian.

Pada saat pihak Mo kau pergi meninggalkan tempat itu, Kok See-piau serta Bwe Su-yok masing-masing memimpin pula anak buahnya meninggalkan tempat tersebut.

Dengan kecepatan gerak mereka, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dibalik kegelapan. Oleh karena Hoi In liong telah menjamin keselamatan mereka semua, maka semua orang tidak ada yang menghalangi kepergian mereka, apalagi kekuatan dari kedua perkumpulan itu masih utuh dan tangguh, di tambah lagi hadirnya Cho Thian hua dipihak Hian-beng-kau, maka semakin tak berani bertindak secara gegabah.

Pertemuan besar ini sudah mendekati akhir, semua orangpun merasa sudah tiba waktunya bagi mereka untuk pulang ke rumah.

Tiba-tiba dari tebing seberang sana terdengar suara teriakan dari Kok See-piau, “Hey bocah muda dari keluarga Hoa!”

Dengan alis mata berkenyit Hoa In-liong berseru lantang, “Mau apa Kau memanggil Hoa jiya mu?” Sambil berdiri diatas tebing seberang, Kok See-piau berseru lagi, “Orang she Hoa, meskipun kau yang menurunkan tali untuk menolong orang, dan meledakkan telaga untuk memadamkan api tapi perbuatan itupun setengahnya demi selamatkan sanak keluargamu, coba kalau pun sinkun tidak memberitahukan tempat disembunyikannya sumbu bahan peledak, belum tentu kau bisa meledakkan telaga untuk memadamkan api, seharusnya pun sinkun tidak berhutang apa-apa kepadamu bukan?”

“Kok See-piau kau betul-betul seorang manusia yang tak tahu malu!” teriak Hoa Ngo dengan mendongkol.

Dengan suara lantang Hoa In-liong menjawab, “Yaa kau memang tak berhutang apa-apa ke pada aku orang she Hoa, tapi ingat kau masih hu tang seorang dengan selembar nyawa” Kok See-piau sepera tertawa. “Selama hidupku sudah terlalu banyak nyawa yang pun sinkun hutangkan, tak menjadi soal untuk berhutang selembar nyawa lagi, tapi coba katakan dulu siapa yang kau maksudkan?”

“Thian Ik-cu!”

Gelak tertawa Kok See-piau segera terhenti, sesudah termenung sejenak ia baru berkata, “Dendam sakit hati pun sinkun dengan keluarga Hoa kalian lebih dalam dari samudra, sudah sepantasnya kalau diatur jebakan untuk menggebuk dirimu, jika kau sampai mati maka hal ini cuma bisa dibilang kau kurang waspada, Thian Ik-cu telah mewakilimu mati, hal ini tak bisa menyalahkan orang lain, tapi kalau hendak mencatat dendam ini atas diriku juga tak apa!”

Ko Thay segera tertawa dingin tiada hentinya. “Heeehhh..

..heehh…..heeehhh…. memutar balikkan persoalan yang sebetulnya, mencari menangnya sendiri, apa-apaan itu?”

Kok See-piau berlagak tidak mendengar, dengan suara keras dia berseru, “Bocah cilik dari keluarga Hoa, kalau kau beranggapan setelah markas besar perkumpulan kami musnah maka pun sinkun ikut kehi langan pamornya, maka dugaanmu itu keliru besar.

“Kalau begitu, kau masih hendak menciptakan bencana buat umat persilatan dan melakukan kejahatan lagi?” sambung Hoa In-liong dengan suara lantang.

“Heeehhh….heeehhh…..heeehhh…..itu kan ucapan dari kalian orang-orang keluarga Hoa dengan komplotannya, Pun sinkun tak pernah merasa bersalah, sampai matipun aku tak akan menyesal”

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan. Terus terang kukatakan kantor kantor cabang perkumpulan kami telah tersebar di mana-mana dan kini sudah didirikan semua asal pun sinkun menurunkan perintah, dari gelap- gelapan mereka akan beralih menjadi terang terangan, dalam waku yang bersamaan mereka bisa membuat keonaran dimana-mana, Hmmm! Sekalipun tak mampu melenyapkan manusia-manusia munafik macam kalian, paling tidak dunia persilatan pasti akan kacau balau tak karuan………heehh…….heeehh…… heeeh……. waktu itu kewibawaan bapakmu pasti akan sangat merosot”

“Terkesiap juga Hoa In-liong setelah mendengar perkataan itu, pikirnya dengan cepat, “Sudah hampir belasan tahun lamanya Kok See-piau menghimpun kekuatannya, jelas kekuatan yang dimilikinya tidak cuma dihimpun dalam markas besarnya ditebing Ui gou peng ini, bisa jadi apa yang dikatakan bukan cuma gertak sambal belaka”

Dalam hati ia berpikir demikian, di mulut sahutnya, “Aku orang she Hoa bisa mengundang rekan-rekan persilatan untuk serentak menghancurkan kantor-kantor cabangmu itu, akan kulihat apakah kalian masih sanggup menerbitkan keonaran atau, tidak?”

“Haaahh. …haaahhh. …haaahhh….kalau ingin menumpas, silahkan saja menumpas” ejek Kok See-piau sambil tertawa tergelak. “Kantor cabang Hian-beng-kau tidak terhitung jumlahnya, aku yakin kalian tak akan bernasil menemukan jejak mereka dalam waktu singkat, tapi suatu ketika mereka melakukan sergapan mendadak, tanggung kalian lah yang akan di buat kalang kabut sendiri”

“Kok See-piau sesungguhnya apa maksudmu itu dengan mengucapkan kata-kata itu?” Kok See-piau tertawa dingin. “Sama sekali tiada maksud apa-apa, aku cuma memberi tahu saja kepada kalian. Kini Jin Hian sudah melarikan diri terbirit-birit setelah menghinah kami, barat selatan luasnya mencapai puluhan laksa li dengan rakyat yang amat banyak, jejaknya sukar ditemukan kembali. Sedang di San see ada keluargamu, di Cing hay ada Mo kau, di lain tempat ada Hu hang kok dan Kiu-im-kau, ia sudah menerbitkan kemarahan orang.

Mana berani mencari jalan kematian sendiri, menurut dugaan pun sinkun, hanya ada dua jalan saja yang bisa dia tempuh”

“Dua jalan yang mana?” tanya Hoi In liong dengan kening berkerut.

“Yan im merupakan bekas markas besar Hong im hwee, Jin Hian pasti masih mempunyai komplotan yang menetap disitu dan lagi bersembunyi disitu jauh lebih leluasa daripada ditempat lain, apalagi dari sanapun bisa langsung kabur keluar perbatasan, sedang jalan kedua adalah menuju ke Ci san, lantas kelaut bebas, jarak dari situ hanya dua ratus li, besar juga kemungkinan nya dia lari ke tengah samudra.

“Bila Jin Hian memilih naik perahu menuju samudra bebas dan selamanya tak akan kembali lagi, apakah kau juga akan mengikuti jejaknya?” tanya Hoa In-liong.

Kok See-piau kembali tertawa dingin.

“Pun-sinkun duga dia tak akan berbuat demikian, sudah pasti dengan melalui samudra, dia menuju ke Liau tang”

“Kalau toh saudara begitu yakin dengan dugaanmu, mengapa tidak segara melakukan pengejaran?” Tiba-tiba bayangan tubuh Bwe Su-yok yang ramping muncul ditebing seberang sana, terdengar ia berkata dengan suara sedingin es, “Perkumpulan kami akan segera melakukan pengejaran bersama Kok sinkun, Hoa In-liong! Hu hoat perkumpulan kami telah menangkap Si Leng jin dan pelayannya, bila kau masih mengharapkan kedua orang ini harap segera menyusul datang di Teng cin, pun-kaucu akan meninggalkan sebuah perahu untukmu”

Mendengar seruan tersebut Hoa In-liong naik pitam, segera bentaknya keras-keras, “Bwe Su-yok, apakah kau benar-benar hendak mencari gara-gara terus..?”

“Kalau benar mau apa kau?”

Kemarahan Hoa In-liong makin berkobar, tapi setelah berpikir sejenak kemarahan itu segera di padamkan, dia segera mengangguk.

“Baiklah sampai waktunya aku orang she Hoa pasti datang!” “Akan kutunggu kedatanganmu!” Kemudian sambil membalikkan badan bersama Kok See-piau lenyap dibalik tebing sana.

Tiba-tiba terdengar suara Cho Thian hua berkumandang datang, “Goan cing taysu, aku ingin sekali beradu kekuatan denganmu, tak ada salahnya kalau kau juga ikut datang, sedang bocah dari keluarga Hoa, kau cukup pantas untuk bertarung melawan lohu, tapi lebih baik lagi jika kau datang bersama bapakmu”

Suara itu makin lama semakin jauh, dengan tenaga dalam yang dimilikinya sepanjang mengucapkan beberapa patah kata itu, mungkin tubuhnya sudah berada beberapa li jauhnya, “Pinto pasti akan memenuhi harapan mu!” sahut Goan cing taysu dengan ilmu menyampaikan suara.

Waktu itu Hoa In-liong telah membalikkan badan, setelah menjura kepada semua orang, katanya.

“Saudara sekalian, walaupun kita harus berjaga-jaga terhadap orang orang Mo kau yang mungkin akan mengingkari janji, pasti kekua tan mereka sudah tak perlu dirisaukan, itu pun tak lebih cuma gertak sambal, dia pasti akan membenahi tubuh organisasinya lebih dulu. Sedang maksudnya untuk membunuh Jin Hian rasanya bukan omong kosong belaka, aku harus segera menyusul kesana. Bila saudara kalian tiada urusan lain, silahkan untuk pulang ke rumah masing-masing, mungkin juga perkataan Kok See-piau bukan gertak sambal, maka aku mohon saudara sekalian dan Coa tahiap bisa saling membantu untuk mencari letak kantor- kantor cabang Hian-beng-kau dipelbagai tempat”

Selesai berkata, dia lantas memberi hormat kepada semua jago.

Tak seorangpun diantara kawanan jago itu yang bersedia pergi, terdengar Tio Ceng tang berkata dengan lantang.

“Setiap orang kewajiban untuk membasmi iblis melindungi kebenaran, jika Kok See-piau dan Bwe Su-yok tak mau bertobat dan kem bali ke jalan yang benar, sepantasnya kalau kita kejar mereka dan melenyapkannya dan muka bumi”

“Benar!” sambung Cia Yu cong keras, “bila pohon tumbang, kera pun bubar, asal Kok See-piau kita bunuh, niscaya kantor- kantor cabangnya akan bubar dengan sendirinya” Dalam waktu singkat pelbagai seruan berkumandang dalam arena, banyak orang yang setuju untuk mengadakan pengejaran guna membasmi kedua perkempulan itu.

Akan tetapi Hoa In-liong tidak setuju dengan pendapat orang-orang itu, dengan perasaan menyesal dia berkata.

“Aku rasa Kok See-piau dan Bwe Su-yok bisa bersikap demikian karena ingin mencari gara-gara dengan keluarga  Hoa kami, aku pikir sudah sepantasnya kalau persoalan ini pun diselesaikan sendiri oleh keluarga Hoa, aku tak berani mengganggu kalian lagi”

Belum habis ia berkata, suasana kembali menjadi gaduh, semua orang menuduh Hoa In-liong menganggap asing diri mereka, ada pula yang mengatakan bahwa persoalan dari keluarga Hoa adalah persoalan dunia persilatan yang tak bisa dipisah-pisahkan.

Tapi Ko Thay, Bong Pay dan Pek Soh gi tidak setuju dengan pendapat tersebut, sebaliknya Tiang heng Tokoh, Pui Che- giok, Cia giok bersama Cia lu, Hek Lotio dan anggota Cian li kau sekalian menyingkir ke samping sambil berbisik- bisik sendiri, mereka tidak terlalu memperdulikan urusan disana.

Dengan susah payah akhirnya Hoa In-liong berhasil juga untuk menenangkan suasana, kemudian dia lantas berkata, “Kesedihan saudara sekalian untuk memberi bantuan sungguh membuat aku orang she Hoa merasa amat berterima kasih, baiklah kita bagi saja menjadi dua rombongan yang satu melalui Yae im sedang yang lain mengikuti samudra untuk akhirnya kita berkumpul kembali di…..”

Tiba-tiba ia berhenti sejenak sambil melirik kearah Goan cing taysu yang berada disisinya. Goan cing taysu merenung sebentar kemudian berkata, “Lolap pernah keluar perbatasan sekali, kota yang paling besar diwilayah itu boleh dibilang adalah Teng liau dan Tiong wi”

Hoa In-liong segera berpaling kembali, katanya lantang, “Kalau begitu kita akan bersua kembali dikota Teng liau, cuma aku minta untuk rombongan yang melalui samudra harus pandai berenang atau paling tidak pandai berjalan diatas permukaan air sebab mara bahayanya jauh lebih besar daripada melalui darat”

Mendengar perkataan itu, dari sekian ribu orang yang berkumpul disitu segera saIing berpandangan. Mereka yang datang dari pesisir laut boleh dibilang sedikit sekali jumlahnya, apalagi kalau disebut pandai didalam ilmu berenang, boleh dibilang sedikit sekali, sedangkan orang yang bisa berjalan di airpun hanya jago-jago kelas satu, dari antara dua ratus orang mungkin sulit ditemukan seorang.

Tiba-tiba Ko Thay berkata, “Liong ji, kau berani menjamin kalau Kok See-piau bukan sedang melaksanakan siasat suara ditimur menyergap ke barat?”

Di hari-hari biasa dia jarang sekali berbicara tapi otaknya amat cerdas, setiap perkataannya pasti amat mengena sasaran.

Maka dari itu Hoa In-liong segera memikirkan kembali semua persoalan yang dihadapinya setelah mendengar perkataan itu, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia berkata, “Siautit pikir, kebanyakan Kok See-piau tentu hendak menantang kita untuk berduel diatas lautan, bila dia melakukan siasat suara ditimur menyerang ke barat, di daratan Tionggoan ada nenek serta ayahku, jangan dilihat ayah cuma berdiam diri belaka, sesungguhnya dia orang tua sudah melakukan persiapan yang seksama, aku pikir sulit buat Kok See-piau untuk bertingkah disitu, bila kita urusi pihak itu, sudah pasti lebih banyak kecelenya daripada berhasil”

Ko Thay lantas manggut- manggut! “Kau hendak menghimpun segenap kekuatan di Liau tang, itu berarti kau percaya penuh dengan perkataan dari Kok See-piau bahwa Jin Hiau berada disana?”

“Soal ini siautit telah mempertimbangkannya berulang kali” jawab Hoa In-liong setelah termenung sejenak, “aku rasa perkataan dari Kok See-piau ini bisa dipercaya”

“Dengan dasar apa kau berani mengatakan begitu?” tanya Ko Thay sambil mengernyitkan alis matanya yang tebal.

“Pertama, Jin Hian bila ingin menyembunyikan diri hanya tersedia dua jalan saja, sedang jalan manapun yang bakal dia pilih akhirnya pasti akan melalui Liau tang.

Seorang jago yang bernama Nyo Ki ho tiba-tiba menyela, “Pengetahuan Hoa kongcu amat luas, sudah barang tentu kami tak bisa menyamainya, cuma dari Yan tio menuju keutara, kau bisa sampai di Liau tang, bisa juga langsung menuju ke gurun pasir”

Hoa In-liong mengalihkan sorot matanya ke wajah orang itu, kemudian sambil mengulapkan tangannya dia berkata, “Perkataan saudara Nyo memang ada betulnya, tapi bila Jin Hian kabur melalui selatan, dalam tergesa gesanya sulit bagi mereka untuk mendapat perahu, sudah barang tentu anak buahnya tak mungkin bisa kabur semua melalui laut, itu berarti mereka pasti berjanji akan berkumpul di Liau tang, kemudian baru meneruskan perjalanan menuju keluar perbatasan atau gurun pasir guna menyembunyikan diri, itu berarti bagaimanapun juga sudah pasti mereka akan berkumpul juga diwilayah Liau tang” “Terima kasih atas petunjuk kongcu! Nyo Ki ho buru-buru menjura.

“Hmm! Sok pintar, tukas Ko Thay tiba-tiba, “darimana kau bisa tahu kalau Jin Hian pasti melalui lautan? Hong im hwee adalah kelompok jago yang berasal dari utara”

“Siautit rasa Kok See-piau sudah pasti jauh lebih memahami kebiasaan Jin Hian daripada kita, dugaannya kebanyakan tak bakal salah lagi, sedang Kok See-piau termaksud memancing kita menuju ke samudra dan berencana hendak merebut kemenangan dari situ padahal diapun enggan melepaskan Jin Hian, siapa tahu keputusan Jia Hian kabur melalui lautan karena diantara anak buahnya terdapat jago lihay dari atas air?”

“Menebak secara sembarangan, sudah pasti akan menemui kegagalan total…..” kata Ko Thay.

Tiba-tiba terdengar seseorang menimbrung dengan suara nyaring, “Hoa kongcu, dari tujuh orang kakek yang bertarung melawan kongcu diatas tebing tadi diantaranya terdapat manusia-manusia yang menamakan dirinya Pak hay sam hioag (tiga oraag gagah dari lautan utara) ketiga orang ini sudah puluhan tahun lamanya malang melintang diatas samudra sekitar wilayah Gi dan Liau”

Hoa In-liong segera berpaling, dia kenali orang yang berbicara itu adalah seorang jago dari sungai Huang hoa yang bernama Huang ho ciau (ular sakti dari sungai huang ho) Cing Siau siang.

Dulu sewaktu Hoa Thian bong mendapat perintah dari ibunya untuk turun gunung dan bertarung melawan orang- orang Kiu-im-kau di sungai Huang ho, Cing Su siang pernah membantunya dengan mati-matian, kemudian Hoa Thian-hong pun pernah memberi petunjuk ilmu silat kepadanya sehingga kepandaiannya mendapat kemajuan pesat, semenjak itu hubungannya dengan keluarga Hoa boleh dibilang cukup akrab.

Hoa In-liong segera menjura seraya berkata. Terima kasih banyak atas petunjuk locianpwe.

“Aaaah ….mana mana……” buru-buru si ular sakti dari sungai Huang ho ini balas memberi hormat.

“Baiklah, anggap saja jalan pemikiranmu itu benar” ujar Ko Thay lagi sambil tertawa, “tapi menurut pendapatanmu tadi, semua jago lihay dari pihak kita akan melalui jalan air, beranikah kau menjamin bahwa pihak lawan tiada jago tangguh yang melalui jalan darat?”

Hoa In-liong menjadi tertegun.

Siautit hanya menduga bahwa kekuatan inti lawan pasti akan melalui jalan air, bukan berarti aku berani menjamin tiada jago lihay yang melalui jalan darat”

Ko Thay segeta menarik muka, katanya, “Nah, ini membuktikan kalau usiamu masih muda, pengalamanmu cetek dan rencana mu kurang matang, kau masih belum mampu untuk menanggung tanggung jawab sebesar ini, kini semua rekan persilatan percaya padamu, tapi bila kau sampai salah mengatur hingga terjadi kesalahan besar, dapatkah hatimu menjadi tenteram?”

Semenjak dulu, Ko Thay gemar bersikap demikian, dalam menghadapi setiap masalah dia selalu meneliti cara kerja Hoa In-liong sejelas jelasnya, tapi belum pernah menegur secara begini rupa, apalagi dihadapan jago-jago dari seluruh dunia, tak bisa disangkal lagi dia memang bermaksud untuk menegur pemuda itu agar lebih bersikap berhati-hati.

Hoa In-liong dapat memahami maksud pamannya, maka dia hanya manggut-manggut menerima dampratan itu.

Dari sekian banyak jago yang hadir di arena, kecuali mereka mengagumi didikan keluarga dari keluarga Hoa, tak seorang pun yang berbicara lagi.

Sejak awal sampai sekarang Coa hujin memperhatikan terus semua gerak-gerik dan tindak tanduk Hoa In-liong, setelah melihat kesemuanya itu, diam-diam ia lantas berpikir, “Enci Chin dan enci Pek semuanya mengatakan dia binal, tapi aku rasa ia tidak binal seperti apa yang dikatakan……”

Dari kakek luarnya nyonya ini pernah mendengar puji- pujiannya atas kehebatan Hoa In-liong, dengan keluarga Hoa pun dia mempunyai hubungan yang akrab, apalagi setelah menyaksikan hubungan pemuda itu dengan putrinya, dalam hati kecilnya, nyonya Coa diam-diam sudah menganggap Hoa In-liong sebagai bakal menantunya.

Tiba-tiba Yau Tiong in menjura kepada Hoa In-liong seraya berkata, “Mengejar musuh adalah suatu tugas yang paling penting, Hoa kongcu aku orang she Yau hendak mohon diri lebih dulu, kita sampai berjumpa lagi di Liau tang”

Bersama Liau Ik tiong dan sekalian murid Tiam cong pay berangkatlah mereka meninggalkan tempat itu.

Kawanan jago yang hadir sekarang, sebagian besar adalah jago-jago yang suka berterus terang maka mereka yang tak ingin melakukan perjalanan melalui samudra, berduyun-duyun mohon diri untuk berangkat lebih dahulu. Tiba-tiba Pek Soh gi berteriak, “Saudara sekalian, bila ada yang terluka harap tetap tinggal disini, biar Pek Soh gi memberi perawatan seperlunya”

Sekalipun Pek Soh gi berkata demikian, akan tetapi kawanan jago itu kebanyakan adalah jago-jago yang perkasa, hanya sedikit luka yang diderita, sudah barang tentu mereka enggan merepotkan orang, kecuali lukanya terlalu parah, kebanyakan sudah angkat kaki meninggalkan tempat itu.

Dalam waktu singkat sudah sebagian besar jago yang telah berangkat meninggalkan tempat itu.

Pek Soh gi segera turun tangan merawat para jago yang terluka parah di bantu oleh Bong Pay dan Biau-nia Sam-sian, sekalipun demikian mereka dibikin repot juga hingga tiada waktu untuk beristirahat.

Tiba-tiba Ko Thay berpaling kearah Hoa Ngo, kemudian katanya.

“Ngo te, mari kita juga lewat jalan darat”

Sekalipun dihati kecilnya Hoa Ngo enggan, namun ia tak berani membantah, maka dia cuma mendengus dan sama sekali tidak beranjak.

Sambil tersenyum Haputule lantas berkata, “Aku paling takut kalau melihat air, biar Ngo te bersama mereka, sedang aku akan me nemanimu untuk melakukan perjalanan bersama”

Kedua orang itupun tidak banyak berbicara lagi, mereka lantas berlalu meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba Hoa In-liong menyaksikan Tiang heng Tokoh dan Pui Che-giok diiringi para jago dari Cian Ii kau secara diam- diam meninggalkan tempat itu, Cia In liong mengikuti dibelakangnya tapi secara diam-diam berpaling sambil mengerdipkan matanya berulang kali.

Pemudi itu menjadi amat gelisah, dengan cepat ia menghadang dihadapan Tiang heng Tokoh Kemudian katanya sambil tertawa paksa.

“Bibi ku, Liong ji sedang membutuhkan bantuanmu, kau tak boleh pergi dulu”

“Ilmu silat pinto sekalian amat cekak, tetapi tinggal disinipun tak ada gunanya” kata Thiang heng Tokoh dingin.

Mendengar itu, Hoa In-liong lantas berpikir.

“Aku harus mencari suatu akal untuk menahan disini, paling tidak sampai kedatangan ayah dan ibu”

Berpikir demikian, dengan cepat dia lantas berkata, “Bibi Ku, tolong tanya bagaimana dengan kepandaian cici sekalian dalam air?”

“Bukannya kami sengaja menyombongkan diri” timbrung Cia In tiba- tiba, “kalau soal kepandaian dalam air mah kami terhitung nomor satu, apalagi suhu dan supek, mereka tak usah dibicarakan lagi”

“In ji, jangan banyak bicara” bentak Tiang heng Tokoh dengan nada tak senang.

Cia In tersenyum dan segera membungkam. Seorang sumoaynya yang bernama Le ji segera mendekatinya sambil berbisik, “Suci, kenapa kau membantunya? Bukankah suhu selalu berkata bahwa orang keluarga Hoa paling menggemaskan?”

Cia In tertawa hambar, sahutnya lirih. “Aku sedang membantu supek, bukan membantunya”

“Aku tidak percaya!” seru Le ji sambil tertawa”

“Setan licik” tumpah Cia In dihati, “cerewet amat kau, kalau caramu bicara melulu, urusan bisa bertambah berabe ”

Dalam pada itu Tiong heng Tokoh telah berkata dengan dingin.

“Terus terang kukatakan kepadamu, pinto tak akan mengijinkan mereka untuk melibatkan kembali diri mereka dalam masalah dunia persilatan”

Sesudah berhenti sejenak, tiba-tiba ia memperlunak nada suaranya dan berkata lebih jauh.

“Lioig ji, bila kau benar-benar menganggap diriku sebagai bibi Ku, sudah sepantasnya jika kau pun dapat memahami kesulitan yang sedang dihadapi bibi Ku sekarang”

Hoa In-liong segera berlagak ikut sedih, katanya. “Liong ji tidak berani, cuma ”

“Cuma kenapa?” seru Tiang heng tokoh tanpa terasa.

Dangan dahi berkerut Hoa In-liong menghela napas panjang. “Aaaai. …. Liong ji sudah tahu kalau urusan belum selesai, tapi tidak kusangka kalau urusan nya begini susah untuk di selesaikan”

Kebetulan Lan Hoa siancu sedang selesai mengobati seseorang, mendengar perkataan itu dengan gemas dia berseru.

“Semuanya ini salahmu, kenapa tidak manfaatkan kesempatan itu untuk turun tangan? Kalau kau menuruti anjuran kami, mana mungkin akan kau jumpai begini banyak kesulitan?”

Pek Soh gi yang sedang mengoleskan obat luka dilengan seorang yang kutung lengannya, segera menimbrung, “Enci Lan, apa yang dilakukan Liong ji sesungguhnya tepat sekali, bagaimanapun juga sudah sepantasnya kalau kita memberi kesempatan kepada orang lain untuk bertobat”

“Hmm…..memang tidak malu orang lain menyebut dirimu sebagai Cu sim siancu (si dewi yang welas kasih)” dengus Lan Hoa siancu, kalau bersikap sungkan kepada musuh, sama artinya dengan mencelakai diri sendiri, kau tahu apa akibatnya jika melepaskan harimau pulang ke gunung? Akhirnya yang rugi juga kita sendiri”

“Omintohud!” sela Cu Im taysu, “Buddha adalah maha pengasih, sekalipun menghadapi seorang yang jahatnya bukan kepalang asal dia mau bertobat kita wajib memberi kesempatan kepadanya untuk memperbaiki diri, mengerti nona besar?”

“Biar Buddha maha pengasih, yang pasti aku tak akan berbelas kekasihan kepada siapapun, jerit Lan Hoa siancu penasaran. Cu Im taysu tergelak sehabis mendengar perkataan itu, semua orang juga tak tahan untuk tertawa terbahak-bahak.

Setelah Pek Soh gi mengambil alih pembicaraan, Hoa In- liong menjadi gembira sekali karena tak usah buka suara lagi, diam-diam dia mengatur siasat untuk menghadapi Tiang heng Tokoh.

Sementara itu, Tiang heng tokoh sudah berkata kembali sesudah termenung sebentar.

“Keadaannya tidak terlalu jelek, sekali pun bakal terdapat beberapa kesulitan, rasanya juga tidak terlampau menyulitkan!” Hoa In-liong tertawa getir.

“Bibi Ku, mana kau tahu? Aaai, tapi bibi Ku memang sudah bertekad tidak mencampuri urusan ini lagi, lebih baik tak usah ku bicarakan lagi”

Betul juga Tiang heng Tokoh segera tertipu oleh siasatnya itu, sambil tertawa dingin katanya, “Kau tak usah tersendat- sendat kalau berbicara asal kau bisa mengemukakan alasan yang kuat, pinto pasti akan menuruti per kataanmu’”

Diam-diam Hoa In-liong merasa girang setelah mendengar perkataan itu, buru-buru serunya.

“Bibi Ku, tentunya kau juga mengerti, setelah berada diatas air, itu berarti Kiu-im-kau yang pegang kuasa, siapapun jangan harap bisa menandingi kehebatan mereka”

“Ciau li kau juga tak mampu menghadapi mereka!” Hoa In-liong segera tertawa. “Bibi Ku, kau jangan mengelabuhi diriku, kau dan bibi Pui adalah orang yang punya tujuan, apalagi selama banyak tahun belakangan ini melatih diri secara tekun, melatih anak murid secara cepat, aku tahu kalau kalian sudah mempunyai rencara yang masak”

Pui Che-giok segera mengeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.

“Bocah, kau betul-betul cerdik dan licin, rupanya dalam persoalan apapun kita tak sanggup untuk mengelabuhi dirimu”

Dari kata-kata itu, Hoa In-liong tahu kalau Pui Che-giok bersedia membantunya, buru-buru ia memberi hormat”

“Bibi Pui terlalu memuji!”

Sesudah berhenti sejenak, ketika dilihatnya Tiang heng Tokoh masih membungkam diri, terpaksa sambungnya lebih jauh, “Kok See-piau secara terang-terangan membeberkan jejaknya, memancing kita untuk melakukan pengejaran, sedang Bwe Su-yok menawan Si Leng jin dan pelayannya memaksa aku menyusul ke situ….”

“Liong ji!” tiba-tiba Hoa Ngo menukas sambil tertawa, “yang diculik oleh Bwe Su-yok kan si dayang tersebut, darimana ia bisa tahu kalau kita pasti akan memberi pertolongan? Bukankah budak itu mempunyai hubungan yang erat sekali dengan Jin Hian?”

Hoa In-liong pura-pura tidak mendengar perkataan itu, lanjutnya.

“Jelaslah sudah bahwa tujuan mereka tak lain adalah ingin menghadang siautit ditengah jalan serta membunuhnya” Tidak menanti pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, sambil tertawa Tiang beng Tokoh telah menukas, “Aku rasa dayang itu tak akan tega untuk berbuat demikian!”

Merah padam selembar wajah Hoa In-liong karena jengah, tukasnya, “Cobalah bibi Ku berpikir, dalam usaha mereka membunuh Jin Hian, tentunya semakin rahasia semakin baik, bila kulakukan pengejaran, para cianpwe dan sahabat pasti tak akan berpeluk tangan belaka, mereka tentu akan membantu diriku, padahal Kok See-piau dan Bwe Su-yok tahu bahwa mereka tak akan berhasil meraih kemenangan dengan pertarungan diatas daratan, maka mereka bermaksud memindahkan medan pertempuran ke tengah lautan, menurut dugaanku, bukan saja Bwe Su-yok sanggup membereskan kami maupun Jin Hian, bahkan Kok See-piau pun sudah termasuk dalam perhitungannya. Bukan Liong ji sombong, jika orang-orang dari ke tiga kelompok ini terbasmi, sama artinya dengan hilangnya separuh kekuatan dunia persilatan, apabila jika berhasil menawan kami, dia pasti akan memaksa ayahku untuk bertukar syarat, hal ini lebih mengerikan sekali kalau dipikirkan, justru lantaran kau hadir disini, Liong ji tidak terlalu kuatir terhadap mereka, jika kau tidak mau tahu dengan persoalan ini, bukankah Liong ji bakal kelabakan dan tak tahu apa yang musti dilakukan?”

Sebenarnya perkataan itu cuma diucapkan secara ngawur saja, tapi semakin berbicara semakin beralasan dan masuk diakal, membuat paras muka semua orangpun ikut berubah.

Pui Che-giok tertawa cekikikan setelah mendengar ucapan itu, dia lantas berpaling sambil tertawa, “No……tootiang, coba lihatlah! Sungguh mengenaskan bocah ini, bagaimana kalau kita membantunya?”

Bagaimana mungkin Tiang heng Tokoh tidak memahami maksud hati Hoa In-liong? Tapi ketika dilihatnya Pui Che-giok ke bawah semuanya telah setuju, apalagi hal itupun demi kebaikan keluarga Hoa, ia merasa terdesak dan tak dapat menghindarkan diri lagi dari kenyataan tersebut.

Karena itu, setelah termenung lama sekali, dengan kening berkerut dia mengangguk.

“Baiklah!”

Tak terlukiskan rasa girang Hoa In-liong mendengar hal itu, buru-buru ia memberi hormat.

“Terima kasih banyak Bibi Ku atas kesediaanmu!”

Cu Im taysu dan Hoa Ngo sekalian yang lebih rapat hubungannya dengan keluarga Hoa, merasa amat berlaga hati setelah dilihatnya Hoa In-liong berhasil menahan Tiang heng Tokoh.

Tiba-tiba Coa Cong gi berkata dengan suara lantang, “Adik In liong, aku adalah seekor itik darat, mana tak pandai berenang juga tak memiliki ilmu meringankan tubuh sebangsa Teng peng tok sui, tapi justru ingin sekali mencicipi bagaimana rasanya naik perahu menentang ombak, bagaimana baiknya menurut pendapatmu?”

“Aku sendiri juga tak tahu” jawab Hoa In-liong sambil berpaling dan tertawa.