Neraka Hitam Jilid 17

Jilid 17

Biau-nia Sam-sian paling tidak puas dengan keadaan itu, mereka berteriak keras bersama-sama, “Anak Liong kenapa musti sungkan-sungkan? Sikat saja sampai ludes……”

Sementara itu, ketika Hoa In-liong menyaksikan Sim Ciu masih melakukan perlawanan dengan ganas, diam-diam pikirnya dihati, “Tenaga dalam yang dimiliki orang ini sudah mencapai puncak kesempurnaan, sekalipun bibi Jin berlatih sepuluh tahun lagi juga belum tentu bisa menandinginya, apalagi di masa lampau ia telah mencelakai kakekku, lebih baik kubunuh saja bangsat ini!” Berpikir sampai disitu, pedangnya segera diputar dan…… “Sreet!” sebuah tusukan dengan telak bersarang didada Sim Ciu.

Termakan oleh totokan tersebut, Sim Ciu mendengus tertahan, dalam keadaan terluka parah ini sifat buasnya berkobar kembali, denpan sepuluh jari tangan terpentang lebar ia menubruk ke depan sambil melepaskan cengkeraman dengan dua belas bagian tenaga serangan Tay im ain jiau miliknya.

Hoa In-liong mendengus dingin, tubuhnya miring ke samping, kaki kanannya segera menyambar ke muka.

Sreeet……! Sreeet…..! Steeet…….! Tay im sin jiau dari Sim Ciu tersebut menimbulkan sepuluh buah lubang besar diatas tanah, tapi tubuhnya terlempar ke jurang dan terjatuh ke dalam lautan api.

Manusia kejam yang sudah banyak melakukan kejahatan ini, pada akhirnya tewas ditangan Hoa In-liong, dendam sakit hati terbunuhnya sang kakek pun berhasil dituntut pula oleh pemuda tersebut.

Coa Wi-wi paling bersemangat diantara sekian banyak orang, mulutnya bercuwit-cuwit tiada hentinya menerangkan situasi pertarungan seakan-akan kuatir kalau orang lain tidak mengetahui akan kelihayan dari Hoa In-liong.

Coa Cong gi sekalian anak-anak muda pun menuding kesana-kemari sambil berteriak-teriak memberi semangat.

Keadaan para jago di tebing sebelah timur yang paling kocak, dasar bersifat perempuan, para jago dari Cian li kau serta Kiong Gwat lan paling repot, sekali sebentar mereka mengejek Jin Hian yang ada ditebing seberang, sebentar memperhatikan keadaan para jago didasar lembah, sebentar kemudian mencaci maki Hoa In-liong yang dikatakan tolol sehingga salah memiliki tempat yang mengakibatkan mereka tak dapat mengikuti jalannya pertarungan tersebut.

Mereka ingin pula menyusul ke medan pertarungan tapi kuatir dihadang oleh Jin Hian dan komplotannya, sehingga untuk sesaat mereka menjadi serba salah dibuatnya.

Cia In berusaha menasehati mereka agar tetap tenang, ketika anjuran tersebut tidak digubris, terpaksa diapun hanya tersenyum belaka sambil menyaksikan tingkah laku mereka.

Perasaan Bwe Su-yok paling serba salah, ketika menyaksikan kelihayan Hoa In-liong ia merasa girang sekali, tapi bila terbayang kembali akan tugas yang dibebankan gurunya, dadanya kembali bergolak, ini membuat paras mukanya berubah berulang kali.

Beribu-ribu orang jago persilatan mulai menari-nari dengan riang gembira sedangkan para jago dari Kiu-im-kau, Hian- beng-kau dan Seng-sut-pay hanya berdiri dengan wajah terkejut.

Kok See-piau merasa dendam bercampur marah, diam- diam ia menyumpah dihati,

“Bocah busuk!”

Tapi ingatan lain segera melintas kembali dalam benaknya, dia berpikir lagi.

Kehebatan keluarga Hoa apakah benar benar melebihi aku Kok See-piau? Thian sungguh tidak adil…….heee……heee…..heeehh tapi aku orang she Kok tak akan menyerah sampai disini saja!”

Berpikir sampai disini ia menggertak giginya kencang- kencang untuk mengendalikan golakan emosinya, rasa benci dan dendamnya ternyata jauh melebihi Jin Hian.

Satu-satunya orang yang tidak terpengaruh oleh kemunculan Hoa In-liong mungkin hanya Go Tang cuan seorang, ketika dilihatnya Thia Siok-bi munculkan diri diatas tebing, ia merasa sedih bercampur girang.

Ia gembira karena istrinya telah muncul kembali disitu, sedih karena terbayang kembali akan musibah yang menimpa putrinya Wan Hong giok, dengan penuh kepedihan ia berpikir.

“Anak Giok…. aku telah berbuat salah kepadamu, aku telah membuat kau menderita.. ..

Makin dipikir ia merasa makin sedih, sehingga akhirnya ia menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Semua orang baik yang berada diatas tebing maupun mereka yang berada dibawah tebing seakan akan lupa dengan kobaran api yang sedang membara dengan hebatnya itu.

Mendadak terdengar ledakan dahyat yang memekakkan telinga berkumandang memecahkan kesunyian, lamat-lamat terdengar pula beberapa jeritan ngeri mengikuti ledakan tersebut.

Dalam keadaan seperti ini, siapapun tak ada yang memperhatikan suara jeritan tersebut hanya Kok See-piau seorang yang segera menyumpah dihati, “Setan-setan sialan, mampus kau!” Pada tebing sebelah tenggara tampak muncul sebuah celah sebesar puluhan kaki yang merekah lebar, air telaga berikut batu kerikil segera mengalir ke bawah dengan derasnya menciptakan sebuah air terjun yang sangat lebar.

Tonjolan tebing dimana Hoa In-liong sedang bertarung melawan Kiong Hau sekalian, tiba-tiba retak dan gugur ke bawah akibat terkena getaran oleh gempa yang dihasilkan oleh ledakan tersebut.

Dalam keadaan demikian, baik musuh mau pun teman sama-sama menjerit tertahan karena kaget.

Jika orang biasa yang mengalami musibah semacam itu, tipis harapan mereka untuk meloloskan diri, berbeda dengan kawanan jago yang berada di atas tebing sekarang, kecuali murid murid Thian Ik-cu yang terhitung lemah, semuanya rata-rata terhitung jagoan kelas satu dalam dunia persilatan.

Dalam keadaan kritis, serentak mereka berlompatan keudara dan mendaki keatas tebing baru yang tidak ikut gugur…..

Bu tim tojin serta dua orang sutenya berdiri dipaling ujung di tebing tersebut, mereka agak terlambat untuk bertindak, sekalipun sudah melonpat sejauh tiga empat kaki jauhnya, jarak dengan tebing lain masih cukup jauh.

Melihat hal ini, mereka sama-sama menjerit kaget, sambil memejamkan matanya bisiknya dihati!”

“Habis sudah riwayatku!”

Ketika itu Hoa In-liong sedang menghempit tubuh Thian Ik- cu yang berpelepotan darah dengan napas yaug lemah, ketika menyaksikan kejadian itu, dia lantas berpikir, “Demi menyelamatkan umat persilatan, Thian Ik-cu telah mengorbankan dirinya, aku harus melindungi keselamatan anak muridnya.

Berpikir demikian, tiba- tiba ia melemparkan tubuh Thian Ik-cu ke atas tebing sambil berseru, “Sambutlah ini!”

“Seorang murid Thian Ik-cu segera bertindak cepat dengan menerima tubuh gurunya.

Dengan suatu gerakan cepat Hoa In-liong segera memutar badan dan melayang ke arah tojin lainnya.

Tindakannya yang menyerempet bahaya ini segera menimbulkan rasa gelisah dan cemas bagi semua orang yang ada diatas tebing maupun dibawah lembah.

Murid-muridnya Thian Ik-cu yang selamat buru-buru berteriak, “Hoa kongcu, cepat naik keatas!”

Sekalipun mereka menyadari akan bahaya yang mengancam saudara seperguruannya, namun mereka lebih rela mengorbankan rekan-rekannya daripada mengorbankan pemuda itu. Biau-nia Sam-sian serta Hoa Ngo yang berada didasar lembahpun ikut berteriak, “Jangan urusi persoalan orang lain!”

Sayangnya teriakan mereka tak ada yang terdengar oleh Hoa In lioag, sebab air telaga yang mengalir kebawah itu menimbulkan suara gemuruh yang memekikkan telinga.

Dimana air itu melanda, kobaran api segera padam seluruhnya.

Kiu ci piat kiong, istana yang megah itu sudah terbakar hangus sebagian besar ketika terjadi kebakaran tadi, sekarang setelah diterjang oleh air bah tak bisa dicegah lagi ambruklah bangunan yang berjuta-juta tail perak harganya itu hingga hancur tak ber bekas.

Air bah turun dengan dahsyatnya, dalam waktu singkat tinggi air sudah makin meningkat keatas.

Dalam keadaan demikian para jago dari golongan Hek to maupun Pek to sama-sama bertahan diri dari gempuran air, tapi sebagian besar masih mengikuti jalannya peristiwa diudara dengan seksama, seakan-akan mereka tidak menyadari akan datangnya air bah tersebut.

Tampaklah tubuh Hoa In-liong bagaikan seekor burung raksasa menyambar ke belakang tubuh tosu itu, dengan sebuah pukulan ia hantam kaki orang tersebut.

Ketika terdorong oleh segulung tenaga pukulan yang kuat, tojin itu segera terlempar lagi keudara dan meluncur keatas tebing.

Hoa In-liong putar badannya mendekati orang kedua, ia sambar tumit orang itu dan melemparkannya lagi keudara, dengan tenaga lemparan yang kuat iman itupun berhasil mencapai daratan dengan selamat.

Kini Hoa In-liong menyambar bahu kanan Bu tim lojin sambil melemparkan pula tubuhnya ke udara, ia membentak, “Naik!”

Tubuh Bu tim lojin yang tinggi besar itu bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya segera meluncur ke depan yang mana segera ditolong oleh rekan- rekan seperguruan nya. Hoa In-liong sendiri, akibat dari usahanya menolong ketiga orang itu, dengan sangat cepat badannya meluncur kebawah.

Sementara itu tubuhnya sudah berada sepuluh kaki lebih dibawah permukaan tebing semua orang tahu, dengan tenaga yang dimilikinya, tak mungkin pemuda itu akan menderita luka meski terjatuh kebawah, tapi jika ia tidak berada diatas tebing, maka Jin Hian pasti akan mempergunakan segala tipu  dayanya untuk mencelakai mereka semua.

Itulah sebabnya dengan perasaan kuatir dan cemas, mereka sama-sama menantikan perkembangan selanjutnya.

Tiba-tiba Hoa In-liong mambuang pedangnya kebawah, ujung kakinya dengan menutul diatas tubuh pedang itu, sambil berpekik nyaring segera melambung kembali keudara.

Kejadian ini tidak seperti yang terdahulu setiap orang dapat menyaksikannya dengan amat jelas. Mereka hanya menyaksikan sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu pemuda itu sudah berada kembali diatas tebing.

Peristiwa ini hanya berlangsung dalam waktu singkat, setelah Hoa In-liong tiba diatas tebing, semua orang baru menghembuskan napas lega.

Sementara itu air bah telah menggenangi seluruh lembah tersebut, banyak diantara mereka yang hingga terseret jauh dari tempat semula, hanya mereka yang berilmu tinggi saja tetap berdiri ditempat.

Untung lembah tersebut adalah lembah bebatu, sehingga meski terseret air hingga membentur dinding, kecuali luka lecet mereka tak sampai menderita luka parah atau kematian, meski keadaan boleh dibilang mengenaskan sekali. Berada dalam keadaan begini, sudah barang tentu ada yang bersorak sorai, beberapa orang yang ingin bersorak pun mengalami nasib yang mengenaskan, karena begitu mulut dibuka, air segera masuk kemulut.

Dalam pada itu, Siu sim jiu (tangan sakti peng hancur hati) Gui Gi bong yang berada ditebing telah bertindak nekad, ketika tubuh Hoa In-liong masih berada diudara, mendadak dia mengayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan.

“Bajingan laknat!” bentak Thia Siok-bi dengan gusar, Senjata kaitan kemalanya segera disambit ke depan, dengan membawa kilatan cahaya hijau senjata tersebut kontan saja menyambar punggung Gui Gi hong.

Siapa tahu Gui Gi hong sudah bertekad untuk beradu jiwa, ia sama sekali tidak ambil perduli terhadap datangnya sergapan tersebut, sepasang telapak tangannya didorong kemuka, gulungan angin pukulan berhawa dingin yang dahsyat dengan cepat menghantam tubuh Hoa In-liong.

Sesungguhnya, tanpa membuang senjata pun Hoa In-liong masih sanggup untuk naik keatas, ia sengaja berbuat begitu karena memang berjaga-jaga atas terjadinya peristiwa ini.

Cepat sepasang telapak tangannya ditekan kemuka, tubuhnya kembali berjumpalitan dan melayang turun setelah melewati kepala Gui Gi hong.

Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecahkan keheningan, kaitan kemala yang tajam itu tahu- tahu sudah menembusi punggungnya hingga tembus di ulu hatinya, dengan darah bercucuran tubuhnya segera roboh terkapar ditanah. Jin Hian yang berada ditebing seberang, segera menyadari bahwa kesempatan baik baginya sudah hilang, dengan penuh kebencian ia mendepakkan kakinya ke tanah.

Batu cadas segera berhamburan kemana-mana, sebuah bekas telapak kaki sedalam empat lima inci segera muncul disana dengan jelasnya.

Ia berpekik nyaring memanggil kembali semua anak buahnya, kemudian dengan penuh kebencian berseru, “Orang she Hoa, ku anggap kau yang menang kali ini, tapi persoalan tak akan selesai sampai di sini, kita lihat saja perkembangan selanjutnya….”

Sambil mengulapkan tangannya dengan memimpin sisa anak buahnya buru- buru kabur meninggalkan tempat itu.

Hoa In-liong menghela napas panjang, ketika ia berpaling kembali kesekeliling tempat itu dilihatnya Kiong Hau sekalian sudah kabur tak berbekas.

Thian Ik-cu berbaring dibawah sebatang pohon, semua muridnya sedang berdiri disekelilingnya sambil mengucurkan air mata, melihat itu Hoa In-liong segera menjura kepada Thia Siok-bi, kemudian tanpa mengucapkan sepatuh katapun dia membangunkan Thian Ik-cu, menempelkan telapak tangannya pada jalan darah Mia bun hiat serta me nyalurkan tenaga dalam ketubuhnya.

Dengan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang Thian Ik- cu yang sesungguhnya sudah amat lemah itu dapat bernapas kembali dengan lancar serta membuka kelopak matanya.

Bu tim totiang sekalian yang menyaksikan kejadian itu segera bersorak-sorai, mereka mengira gurunya bakal tertolong. Sebaliknya Hoa In-liong sadar kalau nadi Thian Ik-cu sudah putus, sekalipun ada Leng ci berusia seribu tahun atau benda mestika lainnya, jangan harap jiwanya bisa tertolong, seandainya tiada bantuan tenaga dalamnya, mungkin jiwanya tak dapat diperpanjang beberapa saat lagi.

Maka ketika dilihatnya Thian Ik-cu telah membuka matanya, dengan suara dalam ia lantas oerkata, “Cianpwe, kau ada pesan apa?”

Wajah Thian lk cu ketika itu sudah berubah menjadi kuning kepucat-pucatan, matanya redup tak bersinar, setelah memperhatikan keadaan disitu sekian lama, pelan-pelan dia baru dapat mengenali kembali orang-orang disekitar sana.

“Hoa kongcu!” bisiknya parau.

Bu tim tootiang sekali yang menyaksikan suhunya menjadi begini lemah dan tak bertenaga, padahal dulunya begitu hebat dan berilmu tinggi, tak bisa membendung air matanya lagi, titik-titik air mata segera jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Napas Thian Ik-cu kembali memburu, agaknya ia sedang menahan suatu penderitaan hebat, tapi senyunan segera tersungging kembali dibibirnya, ia berkata, “Demi menolong umat manusia, aku bersedia berkorban apapun, seharusnya kalian ikut bergembira atas keberhasilanku ini, apalagi yang musti ditangisi?”

“Suhu………!” bisik Bu tim tojin dengan sedih.

Ia merasa tenggorokannya seperti tersumbat sehingga kata-kata selanjutnya tak sanggup diutarakan lagi. Ketika Thian Ik-cu menyaksikan muridnya menangis melulu, sambil menarik muka segera berkata, “Apakah murid Thian Ik-cu begini tak berguna?”

Dia adalah bekas seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, kewibawaannya memang melebihi siapapun, sekalipun sudah terluka parah dan bicaranya lemah, namun dalam menghadapi ajalnya tersebut ia masih mampu memperlihatkan ke wibawaannya hingga membuat orang tak berani membangkangnya…..

Buru-buru semua anak muridnya menyeka air mata dan berusaha menahan isak tangisnya namun kadangkala masih terdengar juga suara sesenggukan yang menambah harunya suasana.

Dengan perasaan apa boleh buat Thian Ik-cu menghela napas panjang, katanya sambil berpaling, “Murid-murid pinto memang berjiwa perempuan, harap Hoa kongcu dan toyu ini jangan mentertawakan-nya”

Thian Siok-bi yang menyaksikan adegan tersebut tak kuasa menahan rasa haru dihatinya, sambil tertawa paksa, ia berkata, “Berpisah dikala masih hidup… . hal itu sudah lumrah!”

Sebetulnya ia hendak mengatakan kalau “perpisahan untuk selama lamanya memang suatu hal yang berat”, ketika dirasakan perkataan itu kurang cocok, buru-buru ia menutup kembali mulutnya.

Dengan air mata bercucuran Hoa In-liong berkata, Sebenarnya orang yang hendak dicelakai Kok See-piau adalah boanpwe, tidak seharusnya boanpwe suruh cingpwe yang pergi menyulut sumbu bahan peledak tersebut, Thian Ik-cu segara tertawa. Mati atau hidup sudah digariskan oleh takdir, rejeki atau nasib semua ada ditangan Thi an, buat apa Hoa kongcu harus menyalahkan diri sendiri?”

Setelah berhenti sejenak, dia lanjutkan, “Pinto dengan tubuh yang lemah ini dapat mewakili konsen yang bermasa depan cemerlang dan berjuang demi kepentingan umat manusia untuk menerima kesemuanya itu, pinto justru merasa amat bangga!”

Ketika mendengar perkataan itu, Hoa In-liong tak dapat membendung air matanya lagi, Bu tim tojin sekalipun menangis tersedu-sedu dengan sedihnya.

Thia Siok-bi dengan air mata mengembang dalam kelopak matanya, diam-diam berpikir, “Beginilah Thong tian kaucu yang pada dua puluh tahun berselang mempunyai nama paling busuk dan jahat dalam dunia persilatan!”

Terdengar Thian Ik-cu telah berkata kembali. “Hoa kongcu ada suatu hal ingin memohon bantuan mu”

“Katakan saja cianpwe, boanpwe pasti akan melaksanakannya dengan bersungguh hati” jawabpe muda itu serius.

Mendengar perkataan itu, Thia Siok-bi kembali berpikir, “Aiaaah… ternyata Thian Ik-cu mengharapkan sesuatu,

jiwa kaum sesatnya ternyata belum hilang seratus persen… ”

Sementara Thia Siok-bi masih termenung, Thian Ik-cu telah mendongakkan kepalanya memandang langit nan biru sambil menghem buskan napas panjang, lama, lama sekali, ia baru berkata, Kejadian masa lalu sudah lewat bagaikan asap, semuanya tak akan kembali lagi, meski demikian pinto tak pernah tak dapat melupakannya, setiap kali teringat akan perbuatan keji vang pernah dilakukan perkumpulan Tong thian kau, pinto merasa hatinya bagaikan dipagut oleh ular berbisa, sungguh, tersiksa hatiku.

Perbuatan cianpwe pada hari ini telah melenyapkan semua kebusukan yang lama!” kata Hoa In-liong Serius, “apalagi atas pertolonganmu, beribu-ribu lembar jiwa manusia dapat diselamatkan, jasamu tak terlukiskan dengan kata hati.

Thian Ik-cu tertawa hambar, tukasnya, “Semuanya ini adalah Hoa kongcu seorang, pinto tak lebih hanya melaksakan apa yang telah ada, siapa bilang aku yang berjasa”

Ia berhenti sejenak dengan napas tersenggal.

Sebetulnya Hoa In-liong ingin mencegah tosu itu berbicara lebih banyak lagi, tapi bila teringat kalau nyawanya sudah berada ditepi liang kubur, ia merasa tak tega untuk memotong pesan-pesan terakhirnya itu.

Ia hanya merasa gemas kenapa obat Yau ti wan yang mustajab itu tinggal sebutir belaka dan itupun telah dipakai untuk mengobati para jago yang keracunan, kalau tidak, jiwa Thian Ik-cu pasti akan tertolong.

Telapak tangannya segera ditempelkan kembali ke atas jalan darah Leng tay hiat ditubuh Thian Ik-cu dan menyalurkan tenaga dalam ketubuhnya.

Setelah menerima tenaga dalam itu, Thian Ik-cu merasakan semangatnya berkobar kembali, pelan-pelan ia berkata, “Hoa kongcu, ilmu silat ayahmu lihay sekali, nama besarnya bagaikan matahari disiang hari, dialah tulang punggung dari dunia persilatan… ”

ooooOoooo 57

Bu Tim tojin tidak tega membiarkan gurunya berbicara terus, tak tahan ia lantas menukas, “Setelah menyaksikan kehebatan kongcu hari ini, bisa dipastikan kaulah harapan dunia persilatan yang akan menegakkan keadilan dan kebenaran di dunia ini”

“Aku tak bisa apa-apa, tootiang tak perlu membicarakan lagi” tukas Hoa In-liong.

Thian Ik-cu menggelengkan kepalanya berulang kali. “Inilah permintaan pinto”, harap Hoa kongcu

mendengarkan dengan bersungguh-sungguh!”

Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan, “Dalam mengadakan pertemuan kali ini rupanya Kok See-piau berniat membasmi semua umat persilatan yang ada di dunia ini, siapa tahu hal tersebut telah dimanfaatkan Jin Hian, sedangkan Jin Hian sendiri setelah kegagalan yang dihadapinya, ia pasti akan kabur ke tempat terpencil untuk menyembunyikan diri, pihak Kiu-im-kau dan Mo kau sukar melawan kekuatan para pendekar.

Hian-beng-kau meski tangguh, namun setelah kekalahan yang dideritanya hari ini tentu mengalami pukulan berat yang mengakibatkan mereka bubar sendiri, mulai sekarang selama ayahmu masih hidup, gembong iblis yang bagaimanapun lihaynya tak akan berani berkutik, sehari keluarga Hoa bercokol dalam dunia persilatan, sehari pula dunia akan damai, anak cucu keluarga Hoa pas ti dapat selalu memimpin dunia persilatan untuk selamanya” Setelah mengucapkan sekian banyak kata-kata, meskipun ditunjang oleh hawa murni yang disalurkan Hoa ln liong, lelah juga tosu tua itu hingga napasnya tersengkal.

Semua perkataannya yang panjang lebar, diutarakan secara beraturan, jelas sudah lama disusun olehnya tapi orang yang mendengarkannya menjadi kurang begitu mengerti dengan maksud dan tujuan yaag sebenarnya…….

Tapi Hoa In-liong memang cerdik, setelah berpikir sebentar, ia segera memahami apa pemintaan Thian lk cu, dengan sikap yang hormat dia berkata, “Jangan kuatir cianpwe sejak kini asal boanpwe bertemu dengan orang jahat, bila bukan orang yang betul-betul laknat, pasti akan kuberi tiga kali kesempatan baginya untuk bertobat, ajaran tootiang tak akan kulupakan untuk selamanya”

Berbicara sampai disitu, dia lantas menyembah dengan penuh rasa hormat, katanya nyaring, “Sejak kecil aku orang she Hoa memang binal dan berjiwa sempit, bila sejak kini ada kemajuan, semuanya ini berkat pelajaran dari cianpwe, harap cianpwe bersedia menerima sebuah hormatku”

“Seharusnya pinto yang musti berterima kasih kepadi kongcu atas kebijaksanaanmu” cepat-cepat Thian Ik-cu menjawab.

Sayang tubuhnya terlampau parah, karena ingin meronta bangun, sekujur tubuhnya menjadi sakit sekali.

Dalam keadaan begini, tepaksa dia harus berpaling kearah Bu tim tojin sambil berkata, “Cing lian, wakililah gurumu untuk berterima kasih kepada Hoa kongcu… !”

“Baik!” jawab Bu tim tojin dengan hormat, ia segera menjatuhkan diri berlutut keatas tanah. Buru-buru Hoa In-liong membimbingnya bangun sambil berseru, “Tootiang, kau tak boleh berbuat begini!”

Thia Siok-bi tidak menyangka kalau persoalan inilah yang diminta oleh Thian Ik-cu, diam-diam ia lantas berpikir, “Tak kusangka aku Thia Siok-bi telah menilai kebajikan seorang kuncu dengan jalan pikiran orang siaujin”

Karena merasa malu sendiri, tiba-tiba ia maju ke depan sambil memberi hormat kepada tosu itu, katanya dengan serius, “Tootiang bisa meninggalkan kejahatan untuk kembali kejalan benar, inilah keberuntungan buat kita umat persilatan, silahkan menerima pula sebuah hormatku!”

Karena tak bisa membalas hormat, buru-buru Thian Ik-cu berseru kembali, “Cing lian cepat wakili gurumu untuk membalas hormat!”

Sekali lagi Bu tim tootiang memberi hormat ke pada Thia Siok-bi.

Dengan kening berkerut Hoa In-liong lantas berkata, “Tootiang dengan perbuatanmu ini bukankah…” Belum habis dia berkata, tiba-tiba sambil berpaling bentaknya, “Siapa?”

Baru saja semua orang merasa terkejut, terdengar gelak tertawa berkumandang memecahkan keheningan, lalu seorang berkata dengan suara parau tapi keras, “Liong ji, tenaga dalammu benar-benar telah memperoleh kemajuan yang amat pesat, sehingga kedatanganku pun tak berhasil mengelabuhi dirimu…….”

Ditengah pembicaraan tersebut seseorang munculkan diri dari balik sebatang pohon. Orang itu adalah seorang kakek berjubah ungu dan berambut uban, tapi wajahnya segar dan tampan dengan sepasang mata yang memancarkan sinar tajam, tidak dijumpai kerutan pada wajahnya hingga sepintas lalu seperti seseorang yang baru berusia tiga puluh tahunan

Hoa In-liong segera berteriak kegirangan sambil menyembah, serunya keras-keras, “Gwakong!”

Sampai disini, meskipun orang yang belum pernah berjumpa dengan Sin-ki-pang kaucu dimasa lalu pun akan segera mengetahui kalau pen datang tersebut adalah Pek si hujin, atau kakek luar Hoa In-liong yang merupakan salah seorang tokoh termashur dalam dunia persilatan, Pek Siau- thian adanya.

Sambil tersenyum Pek Siau-thian munculkan dirinya sambil memayang bangun Hoa In-liong, katanya, “Hayo bangun, bangun, kaupun terhitung juga jago kenamaan, kenapa masih bersifat kekanak-kanakan?”

Sinar matanya pelan-pelan dialiakan kewajah Thian Ik-cu kemudian berjalan menghampirinya.

Thian Ik-cu segera merasakan semangatnya berkobar kembali, sambil tertawa katanya, “Saudara Pek, selamat bertemu kembali!”

Ia lantas meronta dan berduduk dengan punggung menyandar pada batang pohon, muridnya ingin membimbingnya bangun tapi mesti sudah kritis keadaannya, keangkuhan Thian Ik-cu masih utuh, ia segera mendorong mereka ke samping.

Menyaksikan kejadian tersebut Pek Siau-thian tahu bahwa saat ajalnya sudah hampir tiba, diam-diam ia berkerut kening lalu katanya sambil tertawa, Hidung kerbau, sebelum bicara sudah tertawa duluan, tampang kelicikanmu masih tetap seperti sedia kala”

“Haaahhh…..haaa hhh…..hsaahhh……ucapan Pek heng selalu menyudutkan orang, kau memang pantas menjadi pentolan bajingan” sahut Thian Ik-cu sambil tertawa terbahak- bahak.

Setelah saling mengejek dan mencemooh, kedua orang itu sama-sama bertepuk tangan sambil tertawa tergelak.

Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian itu diam-diam ikut tersenyum dihati, sedangkang Thia Siok-bi dan Bu tim tojin sekalian malah dibikin tertegun kebingungan.

Selang sesaat kemudian Thian Ik-cu baru berkata lagi dengan wajah bersedih hati, “Bila dalam hidupnya seorang manusia bisa mendapatkan seorang teman akrab, maka sekalipun mati juga tak menyesal, sudah setengah abad kita saling bermusuhan, tak disangka Pek heng adalah sahabat pinto, sayang disini tiada arak, kalau tidak tentu akan kuajak Pek heng untuk minum sampai mabuk”

Pek Siau-thian ikut merasa sedih, tapi diluaran katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…….haaahh…….haaahh… hidung kerbau, orang

bilang tahu diri sendiri tahu orang lain maka setiap pertarungan akan berhasil dimenangkan, aku orang she Pek kalau memang menjadi musuh bebuyutanmu masa tidak mengetahui tentang dirimu?”

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Baru begitu kau sudah menantang aku untuk minum arak, tampaknya sekalipun kau sudah bertapa menyucikan diri, kesucianmu masih belum bisa dipertanggung jawabkan”

Thian Ik-cu tertawa geli oleh perkataan tersebut. “Ucapan saudara Pek memang benar, sungguh

mengagumkan, sungguh mengagumkan!” Tiba-tiba diatas

wajahnya terlintas rasa kesakitan hebat.

In liong segera mengerutkan dahinya dan buru-buru maju ke depan, telapak tangan nya dengan cepat ditempelkan diatas jalan darah Hoa kay hiat ditubuh Thian Ik-cu sambil mengerahkan kembali tenaga dalamnya.

Dengan suara lirih Thian Ik-cu segera berkata, “Pinto sudah pasti mati, Hoa kongcu tak perlu menghamburkan tenaga dalam dengan percuma”

“Tapi Hoa In-liong berlagak seakan-akan tidak mendengar, hawa murninya pelan-pelan disalurkan kedalam tubun Thian Ik-cu tanpa berhenti….

Mengunakan tenaga dalam untuk menyambung usia orang sesungguhnya merupakan suatu perbuatan yang sangat merugikan tenaga dalamnya, tapi dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang, ia tak perlu menguatirkan hal tersebut.

Tapi kenyataannya, sekalipun tenaga dalamnya sudah tersalur ke dalam tubuhnya, seakan-akan batu yang tenggelam didasar samudra, kekuatan tersebut seolah-olah lenyap dengan begitu saja.

Sadarlah pemuda itu kalau Thian Ik-cu sudah tiada harapan untuk hidup lagi, atau dengan perkataan lain, asal ia menghentikan penyaluran hawa murninya, nyawa tosu tua itu pasti akan melayang meninggalkan raganya. Tak terlukiskan rasa sedih yang mencekam perasaan Hoa In-liong ketika itu, sebab bagaimanapun juga keadaan yang dialami Thian Ik-cu sekarang sebagian besar ada lah akibat dari perintahnya.

Sementara itu terdengar Thian Ik-cu telah berkata kembali, “Cing Lian, kalian tak boleh membalaskan dendam bagi kematianku. kaupun tak boleh pergi mencari Kok See-piau!”

Ucapan tersebut segera membuat para murid Thian Ik-cu sama-sama berdiri tertegun kemudian saling berpandangan tanpa mengetahui bagaimana musti menjawab, malahan mereka menaruh curiga kalau jalan pikiran suhunya sudah tidak terang karena hampir mendekati ajalnya.

“Sudah jelas?” tanya Thian Ik-cu kembali.

Seorang murid Thian Ik-cu yang bernama It Tin tojin dengan itu memberanikan diri segera bertanya, “Suhu, tecu sekalian masih kurang begitu jelas!”

Thian Ik-cu menghela napas panjang, katanya, Sudah banyak tahun kita bertapa mengasingkan diri rupanya kalian masih juga tak dapat memahami jalan pikiranku.

Aaai……kematian gurumu adalah karma, jika lantaran persoalan ini sampai kalian melakukan pembalasan dendam, coba sayangkan sendiri berapa banyak pula korban yang telah mati dengan perkumpulan kita selama ini? Dosaku ini tak bisa dibayar dengan apapun, meski tubuhku tercincang sampai hancur juga belum bisa membayarnya…bila bunuh membunuh di langsungkan terus-menerus, sampai kapankah hal ini baru berakhir?”

Setelah berhenti sejenak dan mengatur napas, ia menambahkan, “Tapi jika Kok See-piau masih melakukan kejahatan terus, kalian boleh mendampingi Hoa kongcu untuk membasmi kaum laknat, dari muka bumi, mengerti?”

“Tecu mengerti!” semua murid Thian Ik-cu segera menyahut, Thian Ik-cu manggut pelan, sambil berpaling katanya kemudian kepada Hoa In-liong.

“Setelah pinco meninggal nanti, jika diantara anggota perguruanku ada yang berbuat kejahatan, harap kongcu bersedia mewakiliku untuk menghukumnya”

“Locianpwe tak usah kuatir” jawab Hoa In-liong sedih, “urusan yang dihadapi muridmu sama halnya dengan urusan boanpwe”

Thian Ik-cu merasa lega sekali setelah mendengar janji itu. kekuatannya menjadi buyar dan tubuhnya makin melemah, seketika itu juga daya tahannya menurun secara dratis, napasnya kian melemah dan matanya mulai memejam.

Tapi secara tiba-tiba ia membuka matanya kembali, seakan-akan teringat kembali suatu hal, serunya, “Hoa kongcu!”

“Boanpwe siap menerima petunjukmu”

Dengan kepayahan Thian Ik-cu berkata, “Pinto merasa berterima kasih sekali kepada ayahmu yang mana telah……. telah memberi ke….. kesempatan bua….. buat pinto untuk ber….. bertobat, pinto…. pinto merasa bersyukur sekali daaa…. dapat…. per….pergi den ….. dengan hati yang tee …. tenang…..”

Tiba-tiba sepasang matanya terpejam, kepalanya terkulai dan berangkat meninggalkan alam semesta dengan sekulum senyuman dibibir. Suara pembicaraannya itu kian lama kian bertambah lirih apa lagi ucapan yang terakhir, boleh dibilang bagaikan bisikan nyamuk, coba Hoa In-liong tidak memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa, tak mungkin perkataan itu bisa didengar.

Air mata bercucuran membasahi pipi Hoa In-liong, dengan sangat berhati-hati ia membaringkan jenasah Thian Ik-cu diatas sebuah batu hijau, lalu setelah memberi hormat ia mengundurkan diri ke samping.

Bu tiam tojin sekalian tertegun untuk sesaat, setelah tersadar kembali dari lamunan, mereka segera mendekam ditanah dan menangis tersedu-sedu, ada pula yang memukul dada dan menyepak-nyepakkan kakinya ketanah, suasana penuh diliputi keharuan.

Pek Siau-thian berdiri dengan wajah murung, sedang Thia Siok-bi ikut melelehkan air mata seketika itu juga suasana kesedihan menyelimuti hati setiap orang.

Tong thian kuncu, salah seorang dari tiga besar yarg banyak melakukan kejahatan pada dua puluh tahun berselang, akhirnya ia bertobat pada akhir usianya, bagaimanapun juga akhirnya ia berhasil menebus dosa-dosanya yang telah diperbuat pada dua puluh tahun yang lalu, boleh dibilang kematiannya ini dilalui dengan perasaan yang tenang dan puas.

Setelah termenung sesaat lamanya, tiba-tiba Pek Siau-thian berkata, “Hey hidung kerbau, melepaskan golok pembunuh kembali menjadi murid Buddha, kau betul-betul berhasil menebus dosa-dosamu, hari ini aku orang she Pek berdua takluk kepadamu, kau pantas menerima penghormatanku!” Jago lihay dari Sin-ki-pang ini segera berlutut didepan jenasah Thian Ik-cu dan memberi penghormatan besar.

“Semua murid Thian Ik-cu buru-buru balas memberi hormat.

Dengar, air mata bercucuran Bu tim tojin berkata. “Pemberian dari locianpwe sungguh merupakan suatu

kebanggaan buat perkumpulan kami.

Perlu diketahui, kedudukan Pek Siau-thian didalam dunia persilatan tinggi sekali, orangnya tinggi hati dan tak pernah tunduk kepada siapa pun, hampir setengah abad lamanya ia bersama Thian Ik-cu dan Jin Hian menguasahi dunia serta saling bermusuhan, kini se telah Thian Ik-cu wafat ternyata ia mau berbuat demikian, meski dibilang yang mati adalah yang besar, namun peristiwa semacam ini boleh dibilang merupakan suatu kejadian aneh yang diluar dugaan.

Thian Siok-bi maju memberi hormat pula, murid-murid Thian Ik-cu buru-buru balas memberi hormat lagi, tiba-tiba ia mengebaskan hudtimnya dan membalikkan badan siap pergi dari situ.

Hoa In-liong segera berpikir

“Dengan kepergiannya, dikemudian hari pasti akan sulit untuk menemukan jejaknya kembali”

Berpikir demikian, ia lantas berseru, “Cianpwe, harap tunggu sebentar!”

Sambil menarik muka, dengan dingin Thia Siok-bi menegur, “Ada urusan apa?” Hoa In-liong agak termenung sejenak, kemudian ujarnya, “Senjata kemala milik cianpwe telah hilang, harap tunggu sejenak, boanpwe akan suruh orang untuk mencarikan kembali

“Tidak usah” tukas Thia Siok-bi, setelah kehilangan senjata hari ini, pinni ada niat untuk meninggalkan dunia persilatan, disimpan juga tak berguna, lebih baik hilang saja”

Jawaban ini diluar dugaan Hoa In Iiong, ia menjadi tertegun ketika dilihat perempuan itu kembali bersiap-siap akan pergi, segera serunya lagi dengan cemas, “Cianpwe, bagaimana keadaan Hong giok sekarang?”

Thia Siok-bi tertawa dingin.

“Hmm! Kalian keluarga Hoa suka mempermainkan cinta dan perasaan orang, buat apa kau menanyakan dirinya”

“Siapa bilang keluarga Hoa suka mempermainkan cinta dan perasaan orang…..?” tiba-tiba Pek Siau-thian menegur.

Pelan-pelan Thia Siok-bi mengalihkan sinar matanya, lalu menjawab dengan dingin.”

“Aku yang berkata, Pek lo pangcu bermaksud hendak membuat apa?”

Sambil mengelus jenggotnya Pek Siau-thian tertawa tergelak.

“Haaahhh ….haaahhh …haaahh….tampaknya kau masih berangas sekali” katanya, aku lihat kau dengan Thian kiam sin kau (pedang baja kaitan sakti) Thia Tay ci yang pernah menggetarkan Tionggoan pada tiga puluh tahun berselang sama-sama dari satu aliran, tolong tanya apa hubunganmu dengannya?”

Sebenarnya Thia Siok-bi bermaksud melayani perkataan itu, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan angkuh sahutnya, “Dia adalah mendiang ayahku!”

“Mendiang ayahmu?” Pek Siau-thian mengerutkan dahinya, apakah Thia toako sudah berpulang kealam baka?”

Sesungguhnya Thia Siok-bi juga seorang perempuan yang tinggi hati dan berangasan, ia sudah tak senang hati ketika Pek Siau-thian muncul tanpa memandang sekejap pun kepadanya, seandainya tidak memandang diatas wajah Hoa In-liong dan kematian Thian Ik-cu, mungkin ia sudah angkat kaki semenjak tadi.

Apalagi setelah mendengar perkataan Pek Siau-thian yang angkuh, hampir meledak hawa amarah didalam dadanya.

Namun setelah mendengar ucapan yang terakhir, ia menjadi terperanjat, pikirnya dengan cepat, “Apakah dia adalah sahabat karib dari ayah?” Dalam hati ia berpikir demikian, diluar ujarnya, “Mendiang ayahku belum pernah menyinggungsoal Pek………cianpwe adakah sesuatu yang bisa kau gunakan sebagai bukti?”

Nada ucapan dibalik perkataan itu dengan sendirinya telah berubah menjadi lebih lunak.

Pek Siau-thian segera tertawa tergelak. “Haaahh………haaahh……..haaahh………tak kusangka suatu

ketika aku orang she Pek dianggap juga oleh orang lain sebagai seorang penipu…. “ Merah padam selembar wajah Thian Siok-bi karena jengah, padahal diapun tahu, dengan kedudukan serta nama baik Pek Siau-thian, tak mungkin dia akan mengaku kenal kepada orang lain apalagi tiada suatu kepentingan baginya untuk berbuat demikian, yang benar adalah untuk sesaat ia merasa malu untuk mengakui orang itu sebagai sahabat ayahnya.

Terdengar Pek Siau-thian berkata kembali. “Mungkin Thian heng terlalu dalam menyimpan rasa

sesalnya kepadaku, maka sampai mati ia tidak memberitahukan kepadamu bahwa ia masih mempunyai seorang sahabat semacam aku ini”

Setelah berhenti sejenak dan termenung, lanjutnya, “Sesungguhnya tiada benda berharga yang tertinggal dari hubungan persahabatan kami dua keluarga, yang ada cuma sebuah giok bei belaka yang diberikan ayahku kepadanya setelah ayahmu menolong jiwaku, aku pernah berpesan kepadanya, bila dikemudian hari menjumpai kesulitan, asal mengutus orang dengan membawa benda itu, sekalipun harus terjun kelautan api aku pasti akan menyusul kesana, mungkin benda itu belum hilang…..?”

“Macam apakah bentuk giok bei tersebut?”

Pek Siau lhian mengernyitkan alis matanya, lalu jawabnya setelah tertawa, “Dipermukaan depan berlukiskan burung hong dan kilin, sedangkan pada permukaan dibaliknya tertera delapan huruf yang berbunyi Tong-sim ji lan, Ci lip toan kim. Kau masih ada pertanyaan lain?”

Thia Siok-bi tak berani kurang hormat lagi, buru-buru serunya sambil memberi hormat, “Tit li tidak tahu, harap paman Pek bersedia memaafkan kesalahanku” Selama ini Hoa In-liong hanya berdiri disamping tanpa ikut berbicara, setelah melibatnya perempuan itu mengakui teman ayahnya, diam-diam ia merasa bergirang hati.

Tiba-tiba Pek Siau-thian mengulapkan tangannya sambil berseru.

“Liong ji, tak ada gunanya kau tetap bercokol disini, yang paling penting adalah selamatkan orang-orang itu”

Hoa In-liong tertegun, setelah memandang sekejap jenasah Thian Ik-cu serta murid-muridnya yang sedang menangis kesedihan, dia berkata agak sangsi, “Gwakong, Thian Ik cianpwe……”

“Aku yang akan menyelesaikan persoalan disini, hayo cepat pergi! tukas Pek Siau-thian.

Hoa In-liong segera berpikir lagi.

“Dengan kehadiran gwakong disini, tak mungkin Thia Siok- bi akan pergi tanpa pamit

Maka cepat-cepat dia memberi hormat dan segera berlalu dari situ.

Dalam waktu singkat dia sudah tiba ditempat tujuan, tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya tertegun.

Sebenarnya dia mengira setelah lewat sekian lama, sebagian orang orang yang terkurung dalam lembah sudah naik ke atas tebing, siapa tahu kecuali para anggota Cian li kau, dan bersaudara Kiong dan huan Tong sekalian yang sudah berada dipuncak tersebut, tak seorang manusiapun yang naik kesitu. Hoa In-liong segera menyelinap kesamping Huan Tong seraya bertanya.

“Huan lo enghiong, apa yang terjadi?”

Huan Tong sekalian sedang memandang ke tengah lembah dengan perasaan apa boleh buat, mendengar teguran itu ia berpaling, betapa girangnya setelah mengetahui kalau Hoa In- liong yang muncul.

Kiong Gwat hui cepat cepat berseru lebih dulu, “Ketika kami lihat api telah padam, maka tali-tali kami turunkan, siapa tahu mereka yang berkumpul dibawah tebing sama-sama ingin naik tapi tak tega bila orang lain naik lebih dulu, akibatnya merekapun saling menunggu disitu”

“Pada mulanya masih ada bebera orang yang berbuat untuk naik ke atas… .” demikian Huan Tong menyambung, tapi baru sampai di tengah jalan, mereka sudah ditimpuk dengan senjata rahasia sehingga terjatuh dengan demikian, orang semakin takut untuk naik ke atas”

“Kami pun sudah menganjurkan, tapi orang tidak menggubris perkataan kami, tak seorangpun yang menurut” ujar Cia Yu cong pula.

“Sungguh berbahaya!” pikir Hoa In-liong dalam hatinya, “seandainya Jin Hian memanfaatkan kesempatan ini untuk melancarkan serangan, akibat dari keteledoranku niscaya akan banyak korban yang kembali berjatuhan… ”

Salah seorang yang bernama Yu Cing san segera menyambung, “Kini Hoa kongcu telah datang, hal ini jauh lebih baik lagi” “Biar aku mencoba untuk membujuk mereka!” kata Hoa In- liong kemudian sambil tersenyum.

Ia berjalan ke tepi tebing dan berseru dengan lantang, “Saudara-saudara sekalian, marabahaya hingga kini belum hilang, saat ini bukan waktu yang tepat untuk melangsungkan percekcokan, persoalan terutama adalah cepat-cepat meninggalkan lembah ini, aku orang she Hoa menjamin, sekalipun ada seorang manusia yang berhati busuk, atau mempunyai dendam sakit hati dengan kami tak akan kami lancarkan sergapan untuk mencelakainya, menunggu semuanya sudah lolos dari mara bahaya, saat itulah bila ada permusuhan bisa di selesaikan disini atau berjanji untuk ketemu disaat lain, aku harap kalian suka berpikir dulu tiga kali sebelum bertindak”

Oleh karena luas lembah itu jaub melebihi luat telaga diatas tebing, maka sampai kering air telaga tersebut, dalamnya permukaan air dalam lembah masih belum seberapa, apalagi daerah sekitar dinding tebing cukup tinggi, air hanya merendam sedada mereka, dengan demikian meski seseorang tak pandai ilmu berenang juga tak akan kuatir mati tenggelam.

Waktu itu beribu-ribu orang jago dari golongan hitam maupun putih yang bekumpul di bawah tebing, suasana yang sebenarnya amat gaduh, seketika menjadi hening setelah mendengar ucapan dari Hoa In-liong itu.

Bong Pay mengangkat tubuh Cu Tong yang terluka tinggi- tinggi ke atas sehingga tak sampai terendam didalam air, diam-diam ia berpikir, “Luka yang diderita supek amat parah tak boleh terlalu lama berada disini”

Berpikir demikian, dia lantas berseru, “Saudara sekalian, maaf aku orang she Hong tak bisa menunggu terlalu lama, aku harus naik lebih dulu untuk menghantar yang terluka naik ke atas”

Sekali melompat tubuhnya sudah berada lima enam kaki tingginya ke udara, dengan cepat ia menyambar tali yang tergantung ke bawah, mengempit tubuh Cu Tong dengan tangan kiri dan mulai merambat naik ke atas.

Tanpa berpikir panjang lagi, Pek Soh gi segera menyusul dari belakangnya.

Ketika Biau-nia Sam-sian melihat ada orang sudah mulai naik, tanpa berpikir panjang lagi mereka segera melompat ke atas, masing-masing dengan menyambar seutas tali mulai merambat pula naik ke atas.

Orang orang Hian-beng-kau, Kiu-im-kau serta Mo kau mengetahui bahwa mereka adalah keluarga dekat dari keluarga Hoa, apalagi Hoa In-liong berada diatas, tak seorangpun diantara mereka yang berani turun tangan melakukan sergapan.

Dalam waktu singkat suasana disana menjadi amat ramai, orang pada berteriak dan saling berebut untuk bisa naik ke atas.

Tiba-tiba Goan cing taysu berseru memuji keagungan sang Buddha, lalu serunya, “Saudara sekalian, harap memberi jalan buat mereka yang terluka dan rendah ilmu silatnya untuk naik keatas lebih dahulu”

“Betul, yang terluka harus didahulukan” sambung Cu Im taysu.

Dengan suara nyaring Bwe Su-yok segera berseru, “Semua murid Kiu-im-kau perhatikan baik-baik, yang terluka boleh naik lebih dahulu, bila tak bertenaga boleh minta bantuan seorang rekannya untuk menggendong ke atas, tak usah saling berebut, naik secara teratur pun-kaucu dan para huhoat serta Tongcu akan naik belakangan, siapa berani melanggar akan dihukum sebagai pembangkang!”

Setelah melirik sekejap sekeliling arena dengan biji matanya yang jeli, ia berkata lebih jauh.

“Tali-tali itu jumlah seluruhnya ada tiga puluh sembilan buah, pihak kami hanya ber jumlah sedikit, akan kami gunakan lima buah tali dipaling kiri, ada usul lain dari k lian?”

Cara ini memang paling baik” seru Ciu Thian hau dengan lantang, jumlah kami banyak sekali maaf kami butuh lima belas buah tali yang berada disebelah kanan”

Para pemimpin golongan berpikir sejenak ketika dirasakan kalau cara ini sangat baik, masing-masing jago lantas setuju.

Seng-sut-pay mendapat bagian empat buah tali ditengah, sedangkan pihak Hian-beng-kau mendapat lima belas buah tali disamping golongan para pendekar.

Setelah pembagian jatah dilakukan, orang-orang dari keempat pihakpun mulai mengirim anggotanya yang terluka naik keatas tebing,

Tiba-tiba Ko Thay berseru, “Siapa tahu dalam lembah masih ada mereka yang terluka parah dan belum mati, mungkin juga mereka tak mampu datang sendiri kemari, lebih baik kalian mengutus orang untuk pergi mencarinya daripada mati penasaran disini”

Hong Liong mendengus dingin. “Hmm, orang she Ko, ucapanmu itu seperti anak kecil saja, jangankan sudah diterjang air bah sekalipun tidak mati juga telah mati, berbicara dari luasnya lembah ini kemana kita harus mencari?”

Hoa Ngo tertawa dingin, serunya cepat. Ko toako, buat apa kau musti berbicara dengan kawanan iblis? Pokoknya masing- masing pihak mencari rekannya sendirikan beres, mereka enggan mencari biarkan saja rekan mereka mati penasaran”

Setelah berhenti sejenak, dengan suara lantang dia lantas berseru, “Siapa yang bersedia untuk bersama-sama mencari?”‘

Yu Siau lam, Coa Cong gi dan Kongpeng sekalian segera menyahut bersama, Kami bersedia!”

Setelah muncul pemimpin, maka para jago dari golongan putih menyatakan bersedia, malah jago-jago seperti Tam Si bin sekalian yang terluka parahpun bersedia turut serta.

Tapi hasil perundingan kemudian memutuskan bahwa mereka yang terluka dilarang turut, mereka yang berilmu juga tak boleh turut semua, untuk mencegah pemainan buruk dari pihak tiga perkumpulan.

Itupun sisanya tinggal dua ratus orang lebih, maka dipimpin oleh Cuin taysu, mereka menetapkan setengah jam kemudian harus sudah kembali kesitu.

Dengan Suara lantang Kok See-piau berseru, “Anggota perkumpulan kami lebih hapal dengan daerah disekitar sini, dari sini sampai ujung selatan lembah biar dicari oleh anggota perkumpulan kami”

Ia berlagak sosial padahal sebetulnya mempunyai maksud pribadi, dengan menggeledah separuh bagian lembah tersebut, berarti tempat itu mencakup pula tempat bekas istana Kiu ci piat kiong berada.

Bwe Su-yok menanti sejenak, ketika dilihatnya pihak Seng- sut-pay tetap membungkam, sambil tertawa dingin ia mengetuk tongkat kepala setannya, kemudian berseru kepada Kek Thian tok, “Kek tengcu, kau pimpin anak murid kita menggeledah lembah sebelah utara, bagai manapun hasilnya sepertanak nasi kemudian harus sudah kembali ke sini”

Untuk sementara waktu pihak golongan putih dan golongan hitam menghilangkan rasa permusuhan untuk menjadi sahabat dan bersama-sama bekerja keras, Hanya pihak Seng- sut-pay tetap berada ditempat semula tanpa mengirim utusan untuk turut dalam operasi ini.

Sudah barang tentu tindakan mereka ini segera memancing caci makian banyak orang.

Kini suasana jauh lebih tertib dan teratur, suasana kalut dimasa yang lalupun bisa teratasi.

Para jago lihay bersama-sama berdiri dibarisan belakang, siapapun enggan untuk naik keatas lebih duluan.

Ketika Biau-nia Sam-sian berhasl mencapai atas tebing, dilihatnya pek Soh gi sedang mempergunakan jarum-jarum emasnya untuk mengeluarkan racun ditubuh Siau yau sian Cu Tong sedangkan para gadis berkerumun disana sembari menonton sembari melakukan pelindungan.

Sementara Hoa In-liong, Bong pay, Huan Tong dan Ciu Yu cong sekalian berjaga-jaga ditepi tebing.

“Kokon bertiga baik-baikkah?” Hoa In-liong segera menyapa. “Apanya yang baik?” seru Ci wi siancu dingin “hampir saja nyawa kami lenyap tak berbekas”

“Li hoa, Ci wi kalian berjaga-jaga diatas tebing” teriak Lan hoa siancu lantang, “gembong iblis dari manapun yang berani naik keatas, kita beri hadiah kabut kiu tok ciang untuk mereka”

“Bagus sekali!” sahut Li hoa siancu “kita mampusi Cho Thian hua dan Kok See-piau, agar dunia aman sentosa”

“Itu masih belum cukup” seru Ci wi siancu. “pokoknya semua anggota Hian-beng-kau, Kiu-im-kau dan Mo kau tak boleh dibiarkan hidup, walau cuma seorangpun”

Lan hoa siancu segera tertawa terkekeh-kekeh

“Ucapan Ci wi memang tepat, bibit penyakit tersebut mesti dibasmi seakar akarnya, Li hoa! Kau hadapi orang orang Kiu- im-kau, aku dan Ci wi akan melayani Hian-beng-kau serta Mo kau”

Hoa In-liong menjadi terkejut sekali setelah mendengar perkataan itu, segera teriaknya, “Kokoh bertiga kalian tak boleh berbuat demikian!”

“Aah, kau tak usah banyak ributt” tukas Ci wi siancu “pokoknya kau membantu untuk menyikat musuh!”

Kebetulan seorang anggota Hian-beng-kau telah mencapai atas tebing, sambil tertawa terkekeh- kekeh, Bi hoa siancu segera berseru, “Ini dia orang pertama yang akan menghantar kematiannya. Jari tangannya segera menyentil ke depan melancarkan bubuk Mi hun san yang memabukkan.

Anggota Hian-beng-kau itu segera menjerit kaget, dalam keadaan tak sadar ia lepas tangan dan terjatuh ke belakang.

Untung saja pada saat yang amit kritis itu, Hoa In-liong melompat ke depan dan menyambar tubuh orang itu sehingga tak sampai terjatuh kembali ke dalam jurang.

Kok See-piau yang mendengar suara itu segera mendongakkan kepalanya, kemudian teriaknya dengan lantang, “Orang she Hoa, ucapanmu sebagai kentut busuk atau bukan?

“Kok See-piau, pokoknya aku orang she Hoa menjamin keselamatan kalian, tak usah kuatir.

Suara apa tadi?” bentak Kok See-piau.

“Seorang anggotamu terpeleset dan hampir jatuh, aku orang she Hosa telah menyelamatkan jiwanya, apa keliru?”

Sekalipun Kok See-piau agak curiga, tapi keadaan yang dihadapinya membuat ia tak banyak berkutik, maka setelah berpikir sejenak, katanya ssambil tertawa dingin, “Moga-moga saja kau belum lupa bahwa kalianpun masih ada orang dibawah sini”

“Aku orang she Hoa juga berharap kalian bisa naik dengan hati-hati!” jawab Hoa In-liong di ngin.

Mendadak terdengar Li hoa siancu membentak keras, “Hey, mau apa kau? Mau mengacau permainan kami?” Sambil membaringkan anggota Hian-beng-kau yang semaput itu keatas tanah, Hoa In-liong berkata sambil tertawa dingin, “Keponakan mana berani berbuat lancang, cuma keponakan sudah terlanjur memberi jaminan kepada Kok See- piau untuk tidak melukai orang-orangnya, aku mana boleh melanggar janji?”

“Yang memberi jaminan toh kau sendiri apa sangkut- pautnya dengan kami…..?” kata Ci wi siancu.

Mendengar ucapan itu, para gadis dari Ciaw li kau segera tertawa cekikikan karena geli, sedang yang lainpun ikut tersenyum.

Hoa In-liong betul-betul dibikin menangis tak bisa tertawa pun sungkan, pikirnya, “Kokoh bertiga memang manusia yarg paling tak tahu aturan didunia ini …. payah untuk berdebat dengan mereka. Berpikir demikian, dia lantas berkata:

“Kitapun masih ada orang yang tertinggal dibawah lembah, apakah kokoh bertiga menginginnkan mereka beradu jiwa dengan lawan?”

“Ngaco belo, telur busuk!” damprat Lan hoa siancu.

Kepandaian beracun dari kokoh bertiga tiada tandingannya didunia ini, siapapun tak akan mampu untuk menghindarkan diri”

“Tak usah mengumpak. Kenapa tidak bicara terus terang saja?” Hoa In-liong tersenyum, katanya, “Coba kokoh bertiga pikirkan, jika pihak lawan mengetahui bahwa naik keataspun tiada harapan untuk hidup apakah mereka bersedia untuk naik keatas dan mengantar kematian” “Bukankah hal ini lebih baik, kita kurung mereka sampai mampus” kata Ci wi siancu.

Kembali Hoa In-liong tersenyum.

“Tapi Kok See-piau, Seng To cu dan Bwe Su-yok sekalian tak mungkin mau mati dengan begitu saja, mereka pasti akan menghalangi orang-orang kita untuk naik ke atas, merekapun akan menghalangi bantuan dari atas, dengan demikian bukankah kita akan sama-sama menderita kerugian besar?”

Biau-nia Sam-sian segera terbungkam dalam seribu bahasa, setelah termenung sekian lama, tiba-tiba Ci wi siancu berkata, “Liong ji, ilmu meringankan tubuhmu masih terhitung lumayan, lebih baik setiap kali kita meracuni seorang, kau menyeretnya naik ke tebing, asal orang dibawah sana tidak merasa, bukankah hal ini bagus sekali?”

Hoa In-liong segera tertawa geli, sambil menggelengkan kepalanya dia berseru, “Cara ini tidak baik. Kok See-piau sekalian bukan orang bodoh, cara ini tak mungkin bisa mengelabuhi mereka”

Li hoa siancu segera menggerutkan dahinya kencang- kencang, serunya kemudian, “Lantas menurut anggapanmu, bagaimana baiknya?”

Hoa In-liong tersenyum dengan wajah serius dia berkata. “Menurut pendapat keponakan, lebih baik biar kan saja

mereka naik kemari dengan selamat jika mereka masih mencoba untuk melakukan kejahatan, aku rasa mereka tak akan lolos dari tangan kita, entah bagaimana menurut pendapat kokoh bertiga?” Sementara pembicaraan berlangsung secara beruntun para jago sudah mulai melompat naik keatas tebing.

Setelah dilihatnya tiada kemungkinan lagi bagi mereka untuk turun tangan, dengan uring-uringan Lan hoa siancu lantas berkata.

“Baik, kami menuruti perkataanmu, tapi kalau sampai telur busuk itu mencelakai orang lagi setelah lolos dari sini akan kulihat bagaimana pertanggungan jawabmu?”

Seraya berpaling serunya.

“Li hoa Ci wi mari kita pergi, lebih baik kita berpeluk tangan belaka!”

Buru-buru Hoa In-liong memberi hormat kepada ketiga orang itu, lalu sambil tertawa paksa, ujarnya, “Kokoh bertiga harap beristirahat sebentar nanti keponakan tentu akan datang lagi untuk memohon maaf”

Biau-nia Sam-sian tidak ambil peduli, dengan mendongkol mereka segera berjalan keluar dari arena.

Dari beberapa rombongan itu pihak Seng-sut-pay paling sedikit jumlah anggotanya, tak lama kemudian mereka telah berkumpul semua diatas tebing.

Seng To cu melompat naik paling belakangan setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba ia mendengus dan melancarkan sebuah sergapan kepunggung Hoa In-liong.

Semua orang yang berada diatas tebing serentak menjerit kaget. Selama ini Hoa In-liong cuma berdiri terus ditepi tebing untuk melihat keadaan, mendengar datangnya serangan tanpa berpaling telapak tanganya segera ditolak ke belakang.

Serangan ini tampaknya enteng seperti sama sekali tak bertenaga, tapi serangan Seng To cu yang begitu dahsyatnya seperti gulungan ombak ditengah samudra itu seakan-akan terhadang oleh semacam kekuatan yang sangat aneh, yang membuat tenaga serangannya terhisap dan terguling kesamping sehingga menerjang ke arah Lenghou ber saudara serta Hong Liong…..

Tiga orang jago itu segera membentak keras, enam buah telapak tangan diayunkan bersama untuk menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.

Ujung baju Hoa In-liong berkibar terhembus angin, seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun. Pelan-pelan ia membalikkan badan.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Seng To cu, ditatapnya Hoa In-liong lekat-lekat, kemudian selang sejenak kemudian katanya, ” Bocah muda apa nama ilmu pukulan yang kau pergunakan itu?”

Sambil tersenyum Hoa In-liong menjawab.

“Jurus serangan ini sudah pernah kau saksikan di kota Kim leng, itulah jurus kedelapan dan ilmu pukulan Su siu huang heng ci ang warisan Bu seng (malaikat ilmu silat) Im locianpwe, yang dinamakan Ban wu kui kun (selaksa benda berasal dari bumi)… ”

“Tapi Goan cing tidak mempergunakannya dengan gerakan semacam ini!” seru Seng To cu agak tertegun. “Yaa, itulah dikarenakan aku telah melakukan perubahan dalam jurus serangan itu sahut Hoa In-liong sambil tersenyum lagi.

Sinar mata Seng To cu segera menjadi redup, setelah termenung sekian lama, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang.

“Aai…..sudahlah! Sudahlah!”

Secara tiba-tiba usianya bagaikan lebih tua sepuluh tahun, ia seperti merasa putus asa dan lenyap semua kegembiraannya, sambil membalikkan badan ia memberi tanda kepada jago-jago Seng-sut-pay seraya berkata, “Mari kita pergi!”

Walaupun Hong Liong dan dua bersaudara Lenghau masih tidak puas, tapi sebuas-buasnya mereka masih bukan terhitung bodoh, mereka tahu bahwa tiada keuntungan yang bisa diraih dalam keadaan seperti ini, maka setelah melotot sekejap kearah Hoa In-liong dengan gemas, mereka berlalu dari sana mengikuti dibelakang Seng To Cu.

“Song To cu, harap tunggu sebentar” tiba-tiba Hoa In-liong berteriak keras,

Hong Liong membalikan badannya, kemudian berseru dengan gusar, “Orang she Hoa, kau anggap Loya sekalian benar-benar jeri kepadamu…..”

Hoa In-liong tersenyum, jawabnya.

“Yang kucari bukan kau, buat apa musti gelisah?”

Pelan-pelan Seng To cu memutar badan lalu menegur dengan suara dingin, “Ada apa kau mencari lohu?” “Seng To cu, jumlah anggota Seng sat pay yang masuk kedaratan Tionggoan berjumlah ribuan orang, tapi menghadiri pertemuan ini cuma seratus dua ratus orang belaka, aku tidak percaya kalau kau tak ta hu kemana perginya Tang Kwik-siu dengan membawa jago-jago lainnya?”

“Kau bilang apa?” Seng To cu melototkan sepasang majanya bulat bulat.

Hoa In-liong agak tertegun, kemudian katanya lagi, Kalau benar-benar tak tahu, anggap saja Hoa In-liong sudah salah berbicara, tanya sendiri kepada sutemu nanti!

Hong Liong yang mendengar perkataan itu menjadi terkejut, diam-diam pikirnya, “Anak jadah ini betul- betul berpendengaran tajam, tampaknya persoalan itupun berhasil diselidiki olehnya, wah, gelagatnya kurang baik…”

Tampaklah Seng To cu dengan sorot mata tajam berpaling ke arahnya, lalu dengan suara lantang membentak, “Hong liong, apa yang dilakukan oleh gurumu?”

Hong Liong tak berani berbohong, setelah sangsi sejenak sahutnya, “Toa supek, sebentar tecu akan melaporkan segala sesuatunya kepadamu, mari kita pergi dulu”

“Hoa In-liong tertawa dingin, segera ujarnya.

“Kau enggan bicara, biar aku orang she Hoa yang berkata, rupanya sudah semenjak lama sekali kalian menyelidiki keadaan dalam dunia persilatan sejelas jelasnya, siapa-siapa yang berada dalam tiap partai pun sekalian selidiki dengan jelas, menggunakan kesempatan dikala semua enghiong dari kolong langit menghadiri pertemuan disini, Tang Kwik-siu telah memimpin anak buahnya untuk menyergap partai-partai besar didunia, pertama bertujuan agar mereka yang kembali dari pertemuan tiduk punya tempat tinggal lagi, kedua merekapun ingin menyandera anggota keluarganya sebagai jaminan untuk memaksa mereka takluk.

Wahai orang she Hong, perkataanku tidak salah bukan?”

Begitu ucapan tersebut diutarakan, suasana segera menjadi gempar.