Neraka Hitam Jilid 15

Jilid 15

Di tengah pembicaraan tersebut, suara benturan senjata berkumandang berulang kali, dalam waktu singkat kedua orang itu sudah saling menyerang sebanyak empat lima kali.

Dipihak lain, Co Im taysu telah terlibat dalam pertarungan sengit melawan Im san toa koay sedangkan Ciang Pek jin dari Tiam cong siang kiam bertarung melawan ji koay, pertempuran berlangsung amat seru.

Sesungguhnya Im san toa koay (manusia aneh pertama dari buku Im san) Mo Ciang lam bukan tandingan Cu Im taysu, apa mau dikata watak Cu Im taysu belakangan ini semakin lembut dan penuh welas kasih, apabila bukan karena terpaksa dia enggan melukai lawannya, sebab itu mereka berdua bertarung seimbang.

Dalam pada itu, Tam si bin telah mengundurkan diri keluar arena, dengan tangan kirinya mencekal gagang poan koen pit, sambil menahan sakit ia cabut keluar senjata tersebut, betul sudah menggetarkan gigi, namun tak urung mengucur juga peluh sebesar kacang kedelai dari jidatnya, darahpun mengalir keluar dengan amat derasnya…….

Buru buru Pek Soh gi menghampirinya sambil membubuhkan obat luka diatas mulut luka tersebut.

Dengan tewasnya Kui Heng, pertarungan berlangsung makin seru, walaupun sebagian besar kawanan jago dari Hian- beng-kau yang turun ke gelanggang saat ini, namun kekuatan Hian-beng-kau pula yang terhitung paling besar dan tangguh, karena sebagian besar jago lihaynya belum sampai turun tangan.

Kok See-piau yang pandai membawa diri, diam-diam merasa murung juga setelah menyaksikan kekuatan yang sebetulnya dari pihak kaum pendekar, pikirnya, “Pihak keluarga Hoa saja belum menampilkan diri tapi pertarungan sudah demikian sulitnya, jika Hoa Thian-hong dan Bun Siau ih turun serta dalam pertarungan, bukankah kemenangan bagi pihak kami lebih tiada harapan lagi?”

Berpikir sampai disitu, kewaspadaannya makin meningkat, ia merasa jika antara tiga perkumpulan besar masih terdapat saling curiga mencurigai maka hal mana merupakan suatu kerugian besar bagi pihaknya. Maka kepada Tang Bong liang dia berkata “Tang thamcu, kau cepat mengirim utusan untuk menghadap Seng To cu serta Bwe Su-yok…”

“Sinkun ada pesan apa?” tanya Tang Bong liang agak tertegun.

Kok See-piau termenung sejenak, kemudian katanya, “Utus orang untuk menyampaikan kata-kataku, katakan bahwa pun sinkun, beranggapan bahwa keadaan musuh saat ini jauh berbeda dari keadaan dulu, apalagi pihak keluarga Hoa sama sekali tak nampak batang hidungnya, kita butuh suatu kerja sama yang kuat, bila saling curiga mencurigai terus niscaya kita akan ditunggangi orang lain, keadaan tak bisa ditunda lagi, jika setuju harap mereka mengirim jago-jago lihay nya kedalam arena dan bersama-sama membasmi musuh, tanya kepada mereka bagaimana pendapatnya….?”

Selelah berhenti sejenak, terusnya, “Hanya itu saja pesanku, nah sekarang boleh kau sampaikan kepada mereka!” Tang Bong liang segera membungkukkan badannya memberi hormat, dan mengundurkan diri dari mimbar.

Tak selang beberapa saat kemudian, Tang Bong liang muncul kembali dengan wajah berseri, katanya.

“Lapor Sinkun, Seng To cu dan Bwe Su-yok telah menyatakan kesanggupannya untuk mengangkat Sinkun sebagai pimpinan”

Kok See-piau tertawa hambar, katanya kemudian, “Bwe Su- yok serta Seng To cu adalah manusia-manusia pintar, tentu saja mereka dapat mempertimbangkan untung ruginya”

Berpaling kearah Cho Thian hua, dia berkata lagi. “Harap suheng bersedia membantu dengan sepenuh

tenaga!”

Cho Thian hua manggut-manggut. “Tentu saja!” katanya.

“Orang-orang lainnya tak perlu dirisaukan, kuserahkan saja Goan cing si hwesio tua itu untuk suheng”

“Jangan kuatir sute, serahkan saja semuanya kepadaku!” jawab Cho Thian hua dengan angkuh.

Kok See-piau mengalihkan kembali sinar matanya kearah para pendekar dibarak barat, mendadak hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, tiba-tiba ia mendongakan kepalanya dan tertawa seram, serunya seperti orang kalap, “Hoa Thian-hong! Hoa Thian beng Loh” akan ku papas kutung sayap- sayapmu, akan kulihat sekalipun kau berilmu tinggi, dengan cara apa akan kau kuasahi dunia persilatan?

Haaahhh.. .haahhhh… haaahhh…hari ini kalian kawanan

manusia yang munafik, yang berlagak sok suci dan gagah akan kutumpas habis dari muka bumi……!”

Tiba-tiba ia menghentikan gelak tertawanya dan pulih kembali dalam ketenangan semula, sambil mengulapkan tangannya dia berkata, “Harap kalian semua mengikuti pun sinkun!”

Selesai berkata ia berjalan turun lebih dulu dari mimbar diikuti Cho Thian hua, Leng lam it khi sekalian jago.

Seng To cu yang menyaksikan hal itu dari kejahuan segera beranjak, seraya berkata, “Semua murid Sang sut pay dengarkan baik-baik, separuh tinggal disini, separuh yang lain ikut diriku”

“Dengan memimpin Hu yan Kiong, Hong Liong, sekalian enam tujuh puluh orang mereka berjalan menuju ke tengah arena.

Bwe Su-yok yang menyaksikan hal tersebut segera mengangkat pula toya kepala setannya ke udara, Hong Im, Lee Kiu-it sekalian yang berada dalam barak segera munculkan diri ke tengah arena, merekapun meninggalkan separuh bagian anggotanya ditempat semula.

Situasi berubah dengan cepatnya, para pendekar kaum lurus yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat.

Lan hoa siancu segera menyumpah, “Cucu iblis, tampaknya mereka lebih cerdik daripada siapapun!” Dengan suara keras Bong Pay berseru, “Urusan telah berkembang menjadi begini, mari kita beradu jiwa dengan mereka!”

Tubuhnya berdiri kaku ditempat semula, hawa murni segera dihimpun kedalam telapak tangan dan melancarkan serangkaian serangan berantai.

Dalam waktu singkat, angin puyuh menderu-deru, desingan angin tajam yang disertai sambaran guntur lamat-lamat terdengar jelas, sungguh hebat serangan tersebut.

Benq Wi cian kontan terdesak hebat oleh serangan dahsyat dari Pek lek ciang tersebut, tubuhnya mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, darah panas bergolak dalam dadanya ia merasa isi perutnya sudah terluka parah.

Tiba-tiba terdengar Cu Im taysu membentak keras, senjata sekop peraknya memancarkan sinar tajam yang menyilaukan mata, dalam waktu singkat Im sam toa koay Mo Ciong lam terbungkus dibalik kabut cahaya perak yang tebal dan berlapis-lapis itu.

Agaknya beberapa orang itu sudah bertekad untuk menyelesaikan pertarungan secepat mungkin, karena itu serangan-serangan yang dilontarkan semakin dahsyat dan menggila.

Separuh bagian jago-jago dari Kiu-im-kau dan Mo kau sudah terjun kearena sedangkan anak murid Hian-beng-kau dari tingkatan baju biru keatas sebagian besar sudah terjun ke gelanggang pertempuran, jumlah mereka mencapai tiga ratus orang lebih. Serangan gabungan ini ibaratnya air bah yang menggulung datang, sedemikian dahsyatnya sehingga membuat para jago yang bernyali kecil sudah merasa keder dulu sebelum pertarungan berlangsung.

Dari pihak pendekar kaum lurus, dari Tian tay pay, Tiam cong pay serta bekas anak buah Sin-ki-pang bersama-sama sudah terjun ke dalam arena pertarungan.

Sebaliknya Goan cing taysu cuma duduk memejamkan mata seakan-akan tidak melihat akan terjadinya pertarungan tersebut, Coa hu jin menjadi tercengang setelah menyaksikan kejadian itu, dia ingin menegur tapi niat tersebut segera diurungkan, akhirnya tanpa mengucapkan sepatah katapun ia terjun pula dalam arena pertarungan.

Pek Soh gi tidak suka segala macam pertarungan, maka ia hanya bertugas menolong yang terluka dan mengobati mereka dalam barak.

Pihak Thian tay pay meninggalkan pula tiga orang muridnya yang terlemah dalam barak, sedang yang lain hampir sudah terjun semua ke arena pertarungan

Coa Cong gi sekalian kaum muda yang paling bersemangat, mereka saling berebut terjun ke arena dan menyikat musuh yang dijumpainya.

Cahaya golok, hawa pedang serasa menyelimuti angkasa, teriakan dan bentakan keras menggelegar memecahkan kesunyian, suara bentrokan senjata, jeritan ngeri memekikkan telinga, sungguh mengerikan suasana pertempuran waktu itu…… Dalam waktu singkat darah telah berceceran membasahi lantai, tumpukan mayat bergelimpangan di sana sini menambah seramnya suasana disekitar tempat itu.

Tiang heng tokoh selalu berusaha untuk menghindari murid Kiu-im-kau, ia bergerak mendekati orang-orang Hian-beng- kau, tapi saat itulah terdengar Khong Im membentak gusar, “Ku Ing ing, berhenti kau!”

Segulung angin pukulan yang berat bagaikan bukit, langsung menindih keatas kepalanya.

Dengan cepat ia mengegos ke samping, tapi Khong Im menerjang lebih jauh, karena apa boleh buat terpaksa Tiang heng Tokoh mengebaskan senjata hudtimnya dan terlibat dalam pertarungan sengit melawan Khong Im.

Su kong tongcu Ke Thian tok dari Kiu-im-kau yang menyaksikan kejadian itu dengan cepat berpikir, “Bagaimanapun juga, hari ini Ku Ing ing tak boleh dibiarkan pergi dengan selamat!”

Berpikir demikian dia lantas menerjang ke muka sambil melancarkan sebuah pukulan.

Pui Che-giok yang selama ini mengikuti dibelakang Ku Ing ing, segera mengerutkan dahinya setelah melihat kejadian itu, “Criiing!” pedang mustikanya diloloskan dari sarung, kemudian dengan jurus Pat boa hong yu (hujan angin di delapan penjuru) dia sergap diri Kek Thian tok.

Baru saja Kek Thian tok melepaskan serangan-nya, tiba- tiba ia merasakan matanya menjadi silau kemudian bayangan pedang memenuhi angkasa, dalam kagetnya cepat-cepat ia menjejakkan kakinya ke tanah dan melompat ke samping. Pui Che-giok membentak keras, pedangnya kembali diayunkan ke depan melakukan pengejaran.

Kek Thian tok menjadi naik darah, bentaknya, “Perempuan sialan, kau anggap pun tong cu jeri kepadamu?”

Sambil memutar telapak tangannya ia menerjang ke depan, dua orang itu segera terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.

Selama ini yang menjadi titik perhatian pihak Kiu-im-kau tak lain adalah Tiang heng Tokoh, maka begitu terjun ke arena, Le Kiu-it, Seng Yu san dan Huan Tong sekalian segera mengurung perempuan itu rapat-rapat.

Ho Ke sian dan Si Jin kiu yang menjumpai keadaan itu, dengan cepat memimpin para bekas anggota Sin-ki-pang untuk menyerbu kearah situ.

Tiba-tiba terdengar Bong Pay membentak keras, jurus serangannya berubah, deruan angin geledek mendadak terhenti, kemudian tubuhnya maju ke depan, sepasang telapak tangannya diayunkan kemuka dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

Beng Wi cian menggetarkan sepasang bahunya karena tak kuat menahan tekanan lawan, sambil menjejakkan kakinya ke tanah, cepat-cepat dia melompat kesamping untuk menghindarkan diri.

Tujuan Bong pay dengan serangannya itu justru menginginkan musuhnya mundur, maka begitu lawan bergerak kebelakang, dia lantas membentak nyaring, “Kena!”

Sepasang telapak tangannya dibalik, seperti seekor ular lincah, tiba-tiba menerjang ke depan. Keempat buah serangan berantai yang di lancarkan ini tak lain adalah jurus serangan yang tercantum dalam kitab Ci yu jit ciat (tujuh kupasan dari Ci yu) bagian bawah, nama aslinya adalah Liok cu hun dan terdiri dari empat jurus.

Kitab tersebut sudah lama hilang dari peredaran dunia persilatan, tapi dalam penggalian harta diistana Kiu ci kiong, kitab tersebut berhasil ditemukan kembali, bukan saja kekuatannya luar biasa, perubahan jurus nya sakti dan diluar dugaan, jauh lebih he bat dari pada tiga jurus “Menyerang sampai mati”

Sejak mendapatkan ilmu sakti ini, baru pertama kali ini Bong Pay mempergunakannya untuk menghadapi lawan, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya ancaman tersebut.

Ketika bertarung melawan Hoa In-liong di kota Si ciu beberapa bulan berselang, Beng Wi cian kehilangan jarinya justru dalam ketujuh jurus serangan ini, luka itu belum lama sembuh dan kesannya masih mendalam sekali, walaupun ia tahu kalau serangan itu lihay, namun ia toh tak sanggup untuk menahannya juga.

Dalam kejut dan gusarnya, tanpa memperdulikan ancaman musuh lagi, dia membentak gusar, telapak tangan kanannya langsung dibacokkan ke perut Bong Pay dengan tujuan saling beradu jiwa.

Bong Pay sudah memperhitungkan segala sesuatunya dengan tepat, tentu saja ia tak sudi membiarkan musuhnya meraih keuntungan, sambil mendengus, tiba-tiba tubuhnya berputar ke belakang Beng Wi cian, sebuah pukulan segera dilancarkan, Phoh Siu dari Po cu tam jian (tiga manusia cacad dari po cu) yang melihat gelagat tak baik, segera tertawa seram.

Tubuhnya menerjang maju ke belakang Bong Pay, lalu di sambarnya pinggang musuh dengan sebuah cengkeraman maut.

Dengan gerakan tubuhnya yang enteng seperti bayangan setan, ditambah lagi serangannya sedikitpun tidak membawa suara desingan, ancaman dari manusia semacam ini justru merupakan suatu ancaman yang sangat berbahaya, apa lagi dalam pertarungan massal seperti ini.

Tapi pendidikan keras yang diterima Bon Pay selama banyak tahun bukan saja membuat ilmu silatnya sangat lihay, perubahan sikapnya pun cukup hebat, betul ia tidak mendengar suara apa-apa, tapi dengan ke cerdasan otaknya ia bisa menduga bahwa ada seseorang sedang mendekati tubuhnya, maka tanpa berpikir lagi dia mengegos ke samping sambil melanjutkan serangannya.

Beng Wi cian bukan seorang jago sembangan, ketika Bong Pay menggeserkan tubuh sambil melepaskan serangan tadi, ternyata ia telah memanfaatkan peluang yang amat sedikit itu untuk menyusup mundur dari tempat semula…

Selisih waktu yang tersedia memang relatif kecil, betul ia bisa lolos dari serangan yang telak, namun punggungnya tak urung kena disapu juga oleh pinggiran angin pukulan yang tajam.

Dengan tenaga dalam Bong Pay yang begitu sempurna, tak ampun lagi tubuhnya terlempar sejauh beberapa kaki dari tempat semula, kemudian……

“Uaak!” ia muntah darah segar. Detik berikutnya, Bong Pay telah memutar badannya dan terlibat dalam suatu pertarungan sengit melawan Pho Siu.

Tiba-tiba terdengar Im sam toa koay menjerit ngeri, pinggangnya tersambar telak oleh bacokan senjata sekop Co Im taysu sehingga mengakibatkan kematian yang mengerikan baginya.

Len lam it khi yang menyaksikan peristiwa itu menjadi amat gusar, sambil berpekik nyaring ia menerjang ke depan dan secara beruntun melepaskan delapan buah serangan berantai.

Serangan yang tiba secara beruntun dengan kekuatan bagaikan gelombang samudra ini segera mendesak Co Im taysu yang ketinggalan selangkah menjadi keteter hebat.

Para jago bekas anggota Sin-ki-pang, rata-rata adalah jago kawakan yang berpengalaman luas dan terbiasa melakukan pertarungan sengit, meskipun sudah berpisah banyak tahun ternyata kerja sama mereka dimasa silam masih tetap dipertahankan.

Kekuatan gabungan dari sekawanan jago kelas satu ini betul-betul mengerikan hati, begitu pertarungan berlangsung, anak murid tiga perkumpulan segera dibasminya habis- habisan, jerit kesakitan berkumandang silih berganti, dalam waktu singkat banyak diantaranya yang tewas dan terluka parah.

Sebenarnya Cho Thian hua enggan turun tangan, tapi setelah menyaksikan kejadian itu dengan kening berkerut ia berseru, “Bocah-bocah dari Sin-ki-pang, bersiap-siaplah, lohu akan turun tangan terhadap kalian.

Seakan-akan tidak terjadi sesuatu apapun pelan-pelan ia berjalan menghampiri kawanan jago dari Sin-ki-pang tersebut. Para jago dari Sin-ki-pang cukup mengetahui akan kelihayannya, melihat itu mereka jadi amat terkejut, sementara Cho Thian hua masih berada beberapa kaki jauhnya, semua orang telah mengayunkan telapak tangannya bersama………

Segulung tenaga pukulan gabungan yang tak terlukiskan dahsyatnya, dengan cepat menghantam ke depan……..

Cho Thian hua betul-betul memiliki kepandaian yang mengerikan, sebelum semua orang sempat menyaksikan gerakan apa yang dia la kukan, tahu-tahu jago tua itu sudah menghindari serangan dahsyat itu dan tiba didepan dua orang jago, kemudian sepasang tangannya direntangkan, secepat kilat serangan dahsyat dilancarkan.

Buru-buru dua orang jago itu mengangkat tangannya untuk menangkis, tapi jurus serangan belum sampai dilancarkan…….

“Kraaak” jalan darah Thian leng kay di ubun-ubun mereka sudah terhajar telak.

Tak ampun lagi tubuh mereka roboh terjengkang ke tanah dan tewas seketika itu juga.

Para jago dari kaum lurus menjadi terperanjat oleh peristiwa itu. Coa Cong gi yang berangasan dan membenci kejahatan segera membentak dengan penuh kegusaran.

“Setan tua, rasakan pukulanku ini!”

Sepasang telapak tangannya bersama-sama dilontarkan ke depan. Cho Thian hua naik pitam, ia mengentak pula, “Bocah muda, kau pingin mampus!”

Untuk menghadapi anak muda seperti ini, hakekatnya ia tak sudi turun tangan sendiri, tubuhnya segera berdiri tegak tak berkutik ditempat semula.

Bagi Coa Cong gi, jangankan berhasil membunuh Cho Thian hua dengan serangannya, kalau tak sampai dibikin mampus oleh tenaga pantulan yang memancar keluar dari tubuh lawanpun sudah boleh dikatakan mujur sekali.

Coa Wi-wi menjadi amat terperanjat, teriaknya kaget, “Koko…….!”

Mendengar panggilan itu, Cho Thian hua cepat berpikir, “Ooob… rupanya bocah ini adalah kakaknya dayang

tersebut, kalau sampai kubunuh dirinya, sudah pasti dayang cilik itu akan beradu jiwa denganku……!”

Niatnya untuk mengangkat Coa Wi-wi sebagai anak angkatnya masih belum hilang, maka berpikir sampai disitu, mendadak ia cengkeram per gelangan tanggan Coa cong gi kemudian melemparkan tubuhnya ke belakang.

Sekalipun ia tidak berniat mencabut nyawa Coa Cong gi, namun jago tua ini berhasil memberi pelajaran kepada pemuda itu, karenanya bantingan itu dilakukan cukup keras,

Coa Cong gi terlempar sejauh tujuh delapan kaki dari tempat semula, saking kerasnya bantingan itu sampai beberapa waktu ke mudian ia baru bisa bangkit secara paksa.

Sekujur tubuhnya segera terasa sakit melilit, tulang belulangnya seperti terlepas semua tapi dasar bandel dan keras kepala, ketika di liatnya Leng Wi cian ada disampingnya ia lantas menubruk ke depan sambil mengayunkan tinjunya, sedangkan sebuah tendangan menghajar pusat lawan.

Beng Wi cian merasa amat gusar, katanya, “Walaupun lohu sudah terluka, untuk membereskan bajingan cilik seperti kau masih cukup punya tenaga!”

Ia mengegos kesamping menghindarkan diri dari tendangan tersebut kemudian kepalanya diayun ke depan menghantam dada lawan.

Sementara itu Coa hujin sedang bertarung melawan dua orang sutenya Bu liang sinkun, ketika melihat Coa Cong gi tercekam dalam mara bahaya, ia menjadi kuatir sekali sehingga pikirannya bercabang.

Dua orang sutenya Bu liang sinlun itu bernama Bu Beng san dan Khi Tiong kui, ilmu silatnya dimasa lalu hanya selisih setingkat ketimbang Bu liang Sinkun sendiri, kerja sama kedua orang ini cukup tangguh dan berbahaya sekali.

Betul Coa hujin berilmu sangat tinggi namun dia agak kewalahan juga menghadapi ancaman yang berat tersebut, apalagi setelah pikirannya bercabang, dari posisi diatas angin dengan cepat ia terdesak berada dibawah angin.

Setelah membanting Coa Cong gi, Cho Thian hua memutar kembali biji matanya memandang kesana-kemari, lalu dia bersiap sedia kembali untuk melancarkan serangan.

Goan cing taysu yang duduk bersila dalam barak, sepintas lalu ia tampak seperti lagi semedi, padahal semua kejadian dalam arena dapat diikuti olehnya dengan jelas.

Pendeta ini sadar bahwa ia tak bisa berpeluk tangan belaka, maka setelah menghela napas panjang, dia mengebaskan ujung bajunya dan menghadang jalan pergi Cho Thian hua.

Melihat kemunculan pendeta itu, Cho Thian hua melepaskan sebuah totokan sambil tertawa terbahak-bahak.

“Haashh…..haaahhh……haaahhh……lohu memang berniat untuk memaksa kau turun tangan!”

Kelihayan ilmu silat yang dimiliki dua orang ini boleh dibilang jarang sekali bisa dijumpai didunia ini, begitu pertarungan ber kobar, daerah seluas lima kaki disekitar tempat itu segera diliputi oleh hawa tajam yang serasa menyayat badan, bagi orang yang berilmu agak cetek, untuk berdiri saja merasa sulit, tentu saja tiada seorangpun yang berani turut serta dalam pertarungan ini.

Dalam pada itu, Ko Thay telah bertarung melawan Yan Long, sedangkan ling Ji sau dengan sepasang gelang Jit gwat siang huan nya bertarung melawan Pi ci liang, Tam Si bin yang barusan terluka, sambil menahan rasa sakit, bertarung melawan Huyan Kiong, sisanya terlibat dalam suatu pertarungan massal.

Kok See-piau, Go Tang cuan, Bwe Su-yok, Un Yong ciu dan Seng To cu dari pihak Seng-sut-pay hanya menyaksikan jalannya pertarungan dari samping, mereka tidak melibatkan diri dalam pertarungan, sebaliknya dari pihak kaum lurus hampir seluruhnya sudah terjun ke arena.

ooooOoooo 55

Dari barak sebelah tengah, manusia mulai menjadi gaduh, suara bisik-bisik mulai terdengar dari sana sini……. Mendadak muncul beberapa puluh orang dari barak tersebut dan segera terjun pula ke dalam arena pertarungan membantu kaum lurus, cuma sayangnya ilmu silat mereka yang terhitung kelas satu tidak banyak jumlahnya, walau begitu situasi pertempuran menjadi lebih sengit dan ramai.

Tiba-tiba Go Tang cuan berbisik kepada Kok See-piau, Sinkun, menggunakan situasi sedang kalut tadi diam-diam Kiong Hau dan Gui Gi hong telah kabur dari situ, murid kita yang ditugaskan mengawasi mereka kehilangan jejaknya, sekarang mereka sedang menunggu dijatuhinya hukuman”

“Aaaah…..! Benarkah telah terjadi peristiwa ini?” seru Kok See-piau dengan wajah agak berubah.

“Padahal semua lembah sudah berada dibawah pengawasan kita” ucap Go Tang cuan lagi, “sekalipun orang she Kiong dan si buta she Goi be rubah menjad semutpun sukar untuk menghilangkan jejaknya, kejadian ini cukup membuat hamba sendiripun merasa keheranan”

Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan, “Selain itu, sebagian besar manusia yang berkumpul dalam barak tengah lebih condong ke pihak keluarga Hoa, pada akhirnya mereka juga akan membantu pihak mereka, bagaimana kalau sekalian kita basmi saja dari muka bumi?”

“Jangan!” cegah Kok See-piau, “kelompok manusia- manusia tersebut bukan merupakan suatu ancaman ynag serius, kalau dibunuh malahan justru akan mengundang ketidak puasan semua orang, apa lagi menaklukan mereka juga bukan urusan yang sulit, lebih baik dibiarkan saja. Tentang soal lenyapnya Kiong dan Gai berdua perintahkan para petugas untuk mencari sampai ketemu, suruh mereka membuat pahala untuk menebus dosa ini”

Kecerdasan orang ini memang luar biasa sekali, dia tahu kepergian Kiong Hau dan Gui Gi hong secara tiba-tiba ini pasti mengandung rencana busuk, hanya untuk sementara waktu ia tak bisa menduga rencana busuk apakah yang sedang mere•ka lakukan.

Maka setelah termenung sejenak pikirnya, “Sekalipun mereka berdua punya komplotan juga tak mungkin bisa menangkan kekuatan, ku rasa nya tak mungkin mereka bisa melakukan banyak kerugian bagi pihakku. Justru pihak keluarga Hoa merupakan ancaman serius, kekuatan-kekuatan yang berpihak kepadanya ini musti dibasmi secepatnya sampai habis”

Setelah mengambil Keputusan, ia pun berseru dengan suara nyaring.

“Go hu kaucu pimpin murid kita baju ungu ke atas untuk terjun kearena..!”

“Terima perintah!” jawab Go Tang cuan sambi1 memberi hormat.

Dia lantas ulapkan tangannya memberi tanda, dengan memimpin enam tujuh puluh orang anggota baju ungu serta belasan orang kakek berbaju hitam, serentak mereka terjun kearena dan melibatkan diri dalam pertarungan.

Sejak semula para jago dari golongan lurus sudah Kepayahan menghadapi serbuan lawan, apalagi setelah menghadapi serangan massal kali ini, keadaan mereka bertambah runyam. Bagi para jago yang berilmu tinggi, keadaan tersebut masih tidak terasa gawat tapi mereka yang terlibat langsung dalam pertarungan massal, segera keteter berat dan mundur berulang kali.

Menghadapi pertarungan kalut yang ramai dan kacau ini, Biau-nia Sam-sian tak dapat mempergunakan ilmu beracunnya, lama kelamaan hal mana menimbulkan rasa gusar dalam hati mereka.

Tiba-tiba Lan hoa siancu membentak nyaring, “Kawan kawan sealiran harap mundur kebelakang, kalau tidak jangan salahkan jika aku akan pergunakan racun keji kami”

Para pendekar cukup mengerti akan tabiatnya yang tak tahu aturan, apa yang dikatakan bisa dilaksanakan secara sungguh-sungguh, maka begitu mendengar perintah tersebut, serentak para jago yang berada disekelilingnya pada bergeser dan menjauhi tempat itu.

Akan tetapi, para jago dari tiga perkumpulan besarpun bukan orang bodoh, mereka cukup kenal akan kelihayan racun mereka, kewaspadaannya segera dipertingkat, serentak merekapun menempel rapat-rapat disekitar para pendekar dan ikut bergerak menjauhi tempat itu, suasana menjadi kacau balau tak karuan.

Menyaksikan kejadian itu Lan hoa siancu mengernyitkan alis matanya, bagaimanapun juga ia harus bertindak pula dengan hati-hati, maka ketika dilihatnya ada dua orang anggota Hian-beng-kau secara kebetulan berada disampingnya, dengan cepat ia menyentilkan ujung jarinya sembari membentak, “Roboh kamu!” Kedua orang anggota Hian-beng-kau tersebut sedang enak- enaknya bertempur ketika mendadak kepalanya menjadi pusing, gerakan tubuh mereka jadi lamban dan kontan saja pinggangnya terpapas kutung menjadi dua bagian, sedang yang lain lambungnya tertusuk telak hingga ususnya berserakan kemana-mana, keadaannya sungguh mengerikan sekali.

setiap orang yang belajar silat, mereka lebih suka mampus diujung senjata lawan daripada mati akibat keracunan, sebab keja dian seperti ini dianggapnya sebagai suatu kematian yang penasaran.

Para jago Hian-beng-kau, Kui im kau mau pun Mo kau yang melihat kejadian itu menjadi keder dan pecah nyali, mereka segera berusaha untuk menjauhi Biau nia sam siun daripada mendekati tiga perempuan yang cantik tapi amat beracun itu.

Diantara sekian banyak jago yang terlibat dalam pertempuran, para jago dari Hian-beng-kau paling banyak jumlahnya, Biau-nia Sam-sian pun lebih gampang mengincar seragam mereka, sebab itu jumlah korban yang tewas pun paling banyak.

Bila kawanan jago lainnya bertarung mati-matian dengan penuh resiko kematian maka hanya tiga orang perempuan dari suku Biau saja yang bisa bergerak kesana kemari dengan leluasa bahkan selalu duduk diatas angin.

Ketika Go Tang cuan terjun ke arena pertarungan, dari pihak kaum lurus sudah kehabisan jago lihay yang dapat menandingi ke pandaiannya lagi, dalam waktu singkat ia telah membunuh dua orang jago dari Tiam cong pay, untung saja seorang sute dari Tam Si bin segera maju membendung gerak majunya itupun dengan posisi yang amat berbahaya. Kok See-piau memperhatikan sekejap situasi diarena pertarungan, kemudian sambil berpaling kearah Seng To cu serta Bwe Su-yok, teriaknya keras-keras, “Jika kalian berdua tidak turun tangan lagi, hendak menunggu sampai kapan?”

Seng To cu termenung dan herpikir sejenak, ke mudian berjalan ketengah arena.

Tapi sebelum ia sempat melancarkan serangan, mendadak dari balik hutan sana muncul seorang laki-laki berbaju hitam yang kurus Kecil, sambil menyerbu tiba, bentak orang itu, “Ciu Thian hau dari Hong san telah tiba, manusia she Seng!

Berhenti kau!”

Sebetulnya Seng To cu merasa enggan untuk bertarung melawan kawanan jago kelas rendah maka kemunculan Ciu Thian hau justru amat berkenan dihatinya, sambil tertawa dingin ia berseru, “Kebetulan sekali kedatanganmu!” Secepat kilat ia menyongsongg datangnya Ciu Thian hau, ujung bajunya dikebaskan kemuka, segulung angin pukulan berhawa dingin yang merasuk tulang segera menyergap tiba tanpa menimbulkan sedikit suarapun.

Tampak Ciu Thian hau memutar goloknya, membentuk satu lingkaran, kemudian sambil membentak keras, goloknya dibacokkan ketengah udara.

“Sreet!” bagaikan terjadi retak-retak, angin pukulan dilancarkan Seng To cu itu segera membuyar dan lenyap tak berbekas, sedangkan golok tajam tadi melanjutkan sergapannya ke tubuh lawan.

Ilmu golok pembuyar angin pukulan yang dipergunakan ini betul- betul indah dan sempurna, tanpa terasa Seng To cu berseru memuji, “Suatu jurus serangan yang bagus!” Ketika dilihatnya serangan itu amat dahsyat, tubuhnya segera mengegos ke samping menghindarkan diri, lalu sebuah pukulan balasan segera dilancarkan.

Ciu Thian hau mendengus dingin, golok Han si to dalam genggamannya segera di kembangkan, kemudian langsung menyergap tempat kematian dipinggang dan iga Seng To cu.

Menghadapi ancaman tersebut, Seng To cu tertawa rendah, tiba-tiba tangan kanannya menusuk dan menjulur ke depan, dengan paksa ia berusaha merampas golok Han si to tersebut”

Ciu Thian hau segera berpikir didalam hati.

Golok Han si to milikku ini tajamnya luar biasa, rambutpun bisa terhembus putus, dengan dasar kemampuan apa Seng To cu si setan tua ini hendak merampas senjata dengan tangan kosong?”

Berpikir demikian, mendadak goloknya diayunkan ke bawah lebih jauh.

Seng To cu tertawa panjang dengan dinginnya, tangan kirinya diayun menotok jalan darah disikut lawan, sementara tangan kanannya meluncur ke bawah dan tiba-tiba menghantam pusar Ciu Thian hau.

Terkesiap Ciu Thian hau menghadapi ancaman tersebut, secara beruntun golok han si to nya diputar dengan jurus Kiu yu coan lay (sembilan irama pewaris sukma) dan Tok thian im (bayangan segenap langit), cahaya hitam segera menyelimuti seluruh angkasa, desingan angin tajam menderu deru.

Meskipun ilmu silat yang dimiliki Ciu Thian hau terhitung paling top diantara kaum pendekar, akan tetapi Seng To cu justru adalah kakak seperguruannya Tang Kwik-siu, bicara soal ilmu maka dia hanya berada setingkat dibawah Cho Thian hua, sebab itulah meski ia sudah menyerang berulang kali, toh tetap tak berhasil untuk merebut posisi diatas angin …….

Selama ini Bwe Su-yok berdiri dengan hati bimbang, sebaliknya Un Yong ciau yang melihat Haputule dengan pedang emasnya berhasil memaksa Sik Ban-cian keteter hebat, dengan hati terkejut segera membentak keras, tubuhnya menerjang maju ke muka, sebuah pukulan dahsyat segera dilancarkan kearah lawan.

Haputule segera memutar pedangnya dengan cekatan, lalu makinya keras-keras, “Anjing biadab, cucu kura kura, sungguh tak tahu malu!”

Bagaimanapun juga, Un Yong Ciau adalah seorang jago kawakan yang sudah tersohor semenjak puluhan tahun berselang, diam-diam merasa malu juga karena musti mengerubuti seorang dari anggota muda, karena sangsi gerakan tubuhnya menjadi lamban, tahu-tahu cahaya emas berkelebat lewat, pedang emas Haputule sudah menyerbu tiba dengan kecepatan luar biasa.

Meskipun ia putar badan dengan gugup tak untung jubahnya kena tersambar juga sehingga robek beberapa depa, untung ia masih sempat menghindar, coba kalau sedetik terlambat, niscaya pedang musuh sudah menembus ulu hatinya.

Sebagaimana diketahui, pedang emas milik Haputule adalah sebilah pedang mestika yang luar biasa sekali, gerak- geriknya sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun, kalau orang kurang waspada niscaya akan terkecoh oleh senjata itu. Peluh dingin telah membasahi sekujur badan Un Yong ciau, dengan penuh kegusaran dia lantas berpekik nyaring, kemudian sekali lagi menubruk ke depan.

Tenaga dalam mereka berdua sebetulnya jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan kekuatan Haputule, dalam suatu kerja sama yang ketat, pada hakekatnya tiada harapan buat Haputule untuk meraih kemenangan.

Tapi pada dasarnya ia memang pemberani dan tak takut mati, keadaan tersebut justru semakin memancing kepongahannya, pedang emas segera diputar sedemikian rupa, jurus serangan yang digunakan rata-rata adalah jurus serangan beradu jiwa, ini semua membuat posisi mereka untuk sementara tetap dalam keadaan seimbang.

Un Yong ciau dan Sik Ban-cian yang harus menerima kenyataan tersebut, dari malunya mereka jadi marah, setelah bertukar pandangan sekejap, Sik Ban-cian dengan mengandalkan senjata penotok jalan darahnya segera menyerbu ke depan, sedangkan Un Yong ciau telah meloloskan pula ikat pinggangnya melancarkan serangan.

Ikut pinggang itu betul hanya ikat pinggang biasa, tapi dalam genggamannya benda itu justru berubah melebihi senjata mestika macam apapun ditambah lagi ilmu silatnya berasal dari aliran Hu wa im, ini semua membuat gerakan ikat pinggang nya menjadi dahsyat dan lebih berbahaya daripada seekor ular berbisa.

Dalam sistem penyerangan semacam ini tanpaknya tak sampai seratus gebrakan lagi, Haputule akan tewas dibawah kerubutan mereka berdua. Pek Soh gi yang menjumpai keadaan tersebut menjadi gelisah sekali, kepada murid Tiam cong pay yang tinggal dalam barak katanya.

“Harap kalian berdua sudi menjaga diri Cu supek!”

Dua orang anggota Tim cong pay itu rata-rata berusia dua puluh tahunan, tiba-tiba salah seorang diantaranya berseru, “Hujin!”

Pek Soh gi tertegun, sambil berpaling tanyanya, “Ada urusan apa?”

“Boanpwe…….boanpwe ingin turut serta dalam pertarungan itu!” sahut sang pemuda tergagap.

Pek Soh gi segera tersenyum, ujarnya.

“Aku tahu bahwa kalian tak betah untuk duduk sambil menonton terus, cuma perintah guru kalian tak boleh dibantah, apalagi meskipun turut dalam pertarungan juga tak akan bermanfaat banyak, keselamatan Cu locianpwe lebih penting dari segala-galanya, kalian harus tahu bahwa tanggung jawab kalian berdua pun tidak enteng”

Sambil berkata dia lantas berkelebat keluar dari barak dan langsung menghampiri Haputule yang sedang bertarung sengit melawan Un Yong ciau serta Sik Ban-cian itu.

Pergelangan tangan segera digetarkan, serentetan cahaya emas dengan cepat menyergapi punggung Un Yang ciau.

Dalam pertarungan yang sedang berlangsung, tiba-tiba Un Yong ciau merasakan datannya desingan angin tajam dari belakang, tanpa berpikir panjang lagi ikat pinggangnya segera diayunkan ke belakang untuk merontokkan jarum emas tersebut.

Siapa tahu, ilmu yang digunakan Pek Soh gi adalab ilmu Hong hong ceng ciu jiu hoat (burung hong berebut sarang), ketika jarum pertama kena terpukul rontok, jarum kedua menyusul tiba, jarum kedua terpukul rontok, jarum berikutnya menyusul tiba, demikian kejadian itu berlangsung berulang- ulang sehingga dalam waktu singkat seluruh angkasa dipenuhi oleh kilatan cahaya emas yang menyilaukan mata.

“Kepandaiannya dalam permainan jarum emas memang luar biasa sekali, semenjak ia merobohkan delapan belas orang penyamun dari wilayah Lu tang dengan delapan belas batang jarum emas pada sepuluh tahun berselang, namanya semakin dikenal semua orang, setiap jago tahu kalau Cu sim siancu lihay dalam jarum emas, baik dalam ilmu menolong manusia, maupun dalam menaklukan lawan.

Ketika Un Yong ciau mendengar suara desingan itu sangat aneh, ia tak berani menyambut dengan sambaran tangan, walaupun sapuan ikat pinggangnya berhasil juga merontokan jarum-jarum itu, tapi dengan demikian ia jadi tak punya kesempatan lagi untuk menyerang Ha putule.

Menghadapi kenyataan ini, Heputule merasa semangatnya berkobar kembali, pedang emasnya digetarkan mcnciptakan beribu-ribu titik cahaya bintang, secara beruntun dengan tiga jurus serangan, ia paksa mundur Sik Ban-cian sejauh dua langkah kemudian sambil memutar badannya ia melepaskan kembali sebuah tusukan.

Un Yong ciau segera menghentakkan ikat pinggangnya, dengan jurus Wu liong pa wi (naga hitam menggetarkan nadi) ia putar pergelangan tangan musuh. Mendadak desingan angin tajam menyambar lagi dari belakang, sebatang jarum emas lagi-lagi mengancam jalan darah pentingnya. Dengan gugup ia miringkan kepalanya ke samping untuk berkelit, tapi lantaran kurang berhati-hati, ikat pinggang ditangannya kena terpapas kutung sepanjang beberapa depa.

Kenyataan ini sangat menggusarkan hatinya, ia membentak keras, kuningan ikat pinggangnya ditimpuk ke wajah Haputule, kemudian dengan tangan kosong ia maju menyerang.

Sik Ban-cian memutar pula senjatanya sambil maju menyerang, teriaknya tiba-tiba, “Lotoa, kau bereskan perempuan itu lebih dulu!”

Diam-diam Un Yong ciau berpikir, “Setelah muncul kembali dalam dunia persilatan, kalau tak dapat mengharumkan nama Su kiat tak apalah, tapi kalau cuma beberapa orang angkatan muda pun tak sang gup berbuat apa-apa, jika hal ini sampai tersiar didalam Bu lim, akan ditaruh kemana wajah kami semua?”

Berpikir sampai disitu, mencorong sinar buas dari balik matanya, ia lantas meninggalkan Haputule dan langsung menubruk ke arah Pek soh gi.

“Haputule hendak menghalangi kepergiannya tapi tak sempat, buru-buru teriaknya, “Toaci, cepat mundur!”

Pek Son gi sendiripun cukup menyadari bahwa ilmu silatnya masih jauh kalau dibandingkan Un Yong ciau, setelah berpikir sebentar tiba-tiba ia menyelinap ke balik kawanan jago lainnya.

Waktu itu seorang jago dari Kiu-im-kau sedang mengejar seorang jago dari Thian tay pay, ketika dilihatnya Pek Soh gi lari mendekat, pedangnya segera diayunkan menusuk ke punggungnya.

Pek Soh gi miringkan badan menghindarkan diri dari ancaman, kelima jari tangannya segera di ayunkan menyambar pergelangan tangan musuh.

Seketika itu juga jago dari Kiu-im-kau tersebut merasakan pergelangan tangan kanannya menjadi kaku, tahu-tahu pedangnya sudah dirampas oleh Pek Soh gi.

Meskipun ilmu silat yang dimiliki Pek Soh gi masih kalah setingkat bila dibandingkan dengan para jago lihay lainnya, namun ia terhitung pula seorang jago yang tangguh, apalagi ilmu Lan hoa hud hiat jie-nya sangat lihay, untuk menghadapi anggota Kiu-im-kau tersebut sudah berang tentu jauh berlebihan.

Setelah berhasil merampas pedangnya, Pek Soh gi tidak melanjutkan serangan untuk melukai lawan tapi dengan pedang rampasan itu ditimpuknya Un Yong ciau yang sedang menubruk datang itu, kemudian badannya menyelinap kesamping dan menyusup kembali dibalik kawanan jago lainnya.

Menggunakan kesempatan dikala jago dari Kiu-im-kau itu masih tertegun, jago dan Thian tay pay itu segera mengayunkan senjatanya, tak ampun jago dari Kiu-im-kau tersebut segera roboh binasa dengan kepala terpisah dari badan.

Ketika itu, Hoa Ngo sedang bertarung sengit melawan Toan bok See liang, empat lima ratus jurus sudah lewat namun menang kalah masih belum ketahuan, maka ketika dilihatnya Un Yong ciau mengejar Pek Soh gi ia tak kuasa menahan diri lagi, dengan gusar bentaknya, “Hoa Ngo berada disini setan tua! Kau berani bertindak kurang ajar… ?”

Telapak tangannya diayunkan dan segera membacok tubuh Un Yong ciau

Menghadapi datangnya serangan tersebut, Un Yong ciau tak mengalah, dengan cepat telapak tangan kanannya dikibaskan pula untuk menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

“Blaaam……!” suatu benturan keras terjadi, akibatnya Un Yong ciau mundur selangkah, sedang kan Hoa Ngo dengan hawa darah bergolak keras secara beruntun mundur sejauh tiga langkah.

“Sungguh lihay setan tua ini!” pikirnya dihati.

Melihat ada kesempatan bagus, tanpa menimbulkan sedikit suara pun, Toan bok See liang mengayunkan senjata pitnya untuk menotok jalan darah Cing sut biat dan Ci tiong hiat dipunggung Hoa Ngo.

Sebagaimana diketahui Hoa Ngo adalah seorang manusia yang binal dengan tipu muslihat yang amat banyak, tentu saja ia tidak membiarkan dirinya tersergap musuh, kakinya bergeser kesamping, tahu-tahu sudah lepas dari cengkeraman musuh, lain telapak tangannya langsung disodok ke iga Toan bok See liang.

Tiba tiba terdengar Go Tang cuan membentak keras dengan sebuah pukulan dahsyat, ia berhasil

membinasakan adik seperguruannya Tam Si bin, kemudian sorot matanya beralih ke sekitar sana, dengan suatu gerakan cepat ia menubruk ke arah Hoa Ngo. Saat itu Coa hujin, Swan Bun sian sedang bertarung melawan dua orang sute dari Li Bu liang, setelah bertempur sekian lama, a khirnya ia berhasil juga merebut kembali posisinya diatas angin.

Ketika menyaksikan keadaan gawat mengancam Hoa Ngo, ia bergerak cepat melepaskan diri dari kerubutan kedua orang itu, kemudian telapak tangannya diayun ke depan, melancarkan serangan dahsyat ke arah Go Tang cuan, sedangkan tangan kirinya dikebaskan menotok jalan darah kematian seorang anggota Mo kau.

Go Tang cuan tidak menyangka dalam pertarungan seru tersebut, Coa hujin masih sempat meloloskan diri untuk menyerangnya, dalam keadaan gugup buru-buru dia mengegos ke kiri.

Kedua orang sutenya Li Bu liang tertawa seram karena gusar, sambil mergejar ke depan, pukulan dahsyat dilancarkan.

Pada saat yang bersamaan, Ci soat cu dari Hian-beng-kau berhasil pula menebas kutung lengan kiri salah seorang adik seperguruan Tam Si bin yang lain, darah segar segera mengucur keluar dengan derasnya…..

Meski pun ia telah terluka parah, tapi dalam situasi semacam ini terpaksa ia harus mempertahankan diri lebih jauh, meski bahayanya tentu saja kian lama kian bertambah besar.

Selama pertarungan sengit ini berkobar, hanya Kok See- piau serta Bwe Su-yok dua orang yang tidak turut dalam pertempuran itu, mereka hanya mengikuti jalannya pertarungan dari tepi arena. Diri sekian banyak pertarungan yang sedang berlangsung, boleh dibilang pertarungan antara Cho Thian hua melawan Goan cing taysu berlangsung paling seru, daerah sekitar beberapa kaki disekeliling tempat itu boleh dibilang diliputi deruan angin pukulan yang amat tajam.

Sedemikian cepatnya pertempuran itu berlangsung, yang tampak hanya bayangan manusia yang berputar-putar, tak seorangpun dapat melihat jelas jurus serangan apakah yang dipergunakan kedua orang itu, meski demikian agaknya tenaga dalam yang dimiliki kedua belah pihak seperti tiada batasnya, sejak awal sampai akhir pukulan-pu kulan yang dilontarkan selalu berkekuatan dahsyat, dilihat dari keadaan tersebut, tampaknya walaupun bertarung sehari semalam menang kalah sukar diketahui.

Yan Long bersenjata golok bergigi seberat empat puluh kati ditangan kirinya dan ikat pinggang serat emas ditangan kanannya, sa tu keras satu lembek ternyata bisa dikombinasikan secara sempurna dan rapat, kehebatannya tentu saja tak usah dibilang lagi .

Ko Thay yang bertarung melawannya hanya mengandalkan satu jurus Ku im sim ciang belaka, sekalipun keadaannya bahaya tapi menang kalahpun sukar ditentukan.

Bong Pay yang bertarung melawan Phoa Siu berlangsung seimbang. Coa Wi-wi yang melawan dua bersaudara Lenghou pun berjalan seru, siapapun jangan harap bisa mencari kemenangan dalam waktu singkat, Cu Im taysu yang melawan Leng lam it khi pun berlangsung seru, hanya Tiang heng Tokoh yang bertarung melawan Khong Im mulai menunjukkan tanda-tanda kalah. Diam-diam Kok See-piau memeriksa situasi pertarungan, ketika dilihatnya pihak kaum lurus mulai terdesak hebat, diapun berpikir.

“Pada akhirnya musuh-musuhku berhasil juga dibasmi dari muka bumi, betul Goan cing hwesio lihay tapi sekarang tak usah di kuatirkan lagi, seandainya Kiu-im-kau sampai bekerja sama dengan Mo kau pun, kekuatan mereka tak akan sanggup melawan kekuatan perkumpulanku, Hehehe….sejak kini dunia akan menjadi milik Hian-beng-kau… Hoa Thian-hong wahai Hoa Thian-hong, akan kulihat apakah keluarga Hoa kalian masih bisa berkutik lagi? Akan kusuruh kau tahu bahwa jerih payah aku orang she Kok selama dua puluh tahun ini bukan perjuangan yang sia-sia belaka…..”

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa sekulum senyuman bangga yang menyeramkan tersungging diujung bibirnya.

Baru saja dia akan menurunkan perintah, untuk membasmi kaum pendekar dari muka bumi.

Mendadak dari atas tebing sebelah timur berkumandang suara bentakan yang amat keras.

“Tahan!”

Suara itu keras bagaikan guntur membelah bumi, setiap orang yang mendengar bentakan itu segera merasakan telinganya menjadi sakit, meski demikian setiap orang dapat mengenalii suara tersebut sebagai suara Hoa In-liong.

Kok See-piau merasa amat terperanjat mendengar bentakan itu, dengan cepat dia berpaling, ketika dilihatnya Hoa In-liong berdiri angker diatas puncak tebing, sambil tertawa dingin ia lantas berseru. “Hoa Yang, kau sebentar datang sebentar pergi, sebetulnya permainan setan apa yang sedang kau persiapkan? Jika sudah bosan hi dup kenapa tidak segera turun kemari, biar pun- sinkun menggantar nyawamu pulang ke nirwana?”

Hoa In-liong tertawa tergelak dengan nada penuh ejekan dan sindiran, ejeknya, “Kok See-piau, yang sudah bosan hidup adalah kau sendiri tahukah kau apa yang sedang dilakukan olah Jin Hian serta Kiong Hau sekalian?…..”

Baru selesai ia berkata tiba-tiba dari tebing sebelah barat telah berkumandang suara pekikkan nyaring.

Paras muka Hoa In-liong segera berubah hebat dengan cemas serunya, “Jin Hian sudah mulai menyulut obat peledak nya, kenapa kalian masih saja,……”

Belum habis perkataan itu diucapkan mendadak dan arah mulut lembah berkumandang suatu ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh permukaan bumi, menyusul kemudian dari empat penjuru bukit itu lamat-lamat berkumandang suara gemuruh yang sangat keras.

Dalam waktu singkat dunia serasa bergoncang keras, batu karang berbamburan jatuh kebawah, bumi ikut bergetar keras, tanah merekah, bukit bergoyang keras dan batu besar beterbangan bagai hujan badai, dalam waktu singkat seluruh lembah sudah tersumbat oleh batu karang, pasir dan debu beterbangan.

Jeritan-jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul dari dalam lembah, sebagian besar terluka oleh timpaan batu cadas yang terbang dari atas. Banyak diantara mereka yang berilmu silat lemah jatuh bertumbangan karena cemas, sedangkan mereka yang bernyali kecil mulai berteriak-teriak seperti orang kalap.

“Habis sudah riwayat kita….! Hayo cepat melarikan diri dari sini….”

Semua peristiwa ini berlangsung dalam sekejap mata, dalam kaget dan gugupnya semua orang yang berada dalam lembah lari tunggang langgang berusaha menyelamatkan diri, tapi tiada pintu yang bisa digunakan untuk kabur, hal mana persis seperti pemandangan tibanya hari kiamat…..

Dengan terjadinya peristiwa ini, secara otomatis pertarungan yang sedang berlangsung antara pihak lurus dan sesaatpun ikut berhenti ditengah jalan, masing-masing pihak segera menyingkir dari situ dan berusaha menghindarkan diri dari kejatuhan batu cadas.

Dari sekian banyak orang, Kok See-piau boleh dibilang paling terkejut bercampur gusar, sambi mengebaskan ujung baju kirinya untuk mementalkan sebuah batu cadas, teriaknya keras-keras, “Jin Hian!”

Dari atas tebing sebelah barat segera berkumandang suara gelak tertawa yang menyeramkan menyusul kemudian munculnya sekelompok manusia berbaju ringkas.

Dengan kepandaian silat yang dimiliki kawanan jago disekitar situ, dengan cepat mereka dapat melihat jelas tampang-tampang dari mereka yang muncul diatas tebing itu.

Sebagai pemimpinnya adalah seorang lelaki kurus kering berbaju hitam yang berlengan kanan kutung sebatas bahu, mukanya suram tapi matanya tajam, dalam sekilas pandangan saja semua orang segera mengenali orang itu sebagai Jin Hian, bekas ketua Hong im hwe yang bercokol di utara pada dua puluh tahun berselang.

Kecuali rambutnya lebih panjang dari wajahnya lebih seram, sebagian bentuk tubuhnya tidak mengalami perubahan.

Disampingnya berdiri seorang kakek yang bertampang jelek, dia adalah salah seorang di antara empat tonggak penyangga perkumpulan Hong im hwee yang lebih dikenal sebagai Liong bun ji sat (manusia bengis kedua dari liong bun) Sim Ciu adanya, sementara Kiong Hiu dan Gui Gi hong sekalian berdiri disamping kiri kanannya.

Selain daripada itu, tampak pula manusia-manusia lain yang panjangnya mencapai puluhan li memenuhi atas puncak tebing tersebut, ini semua membuat suasana bertambah seram rasanya.

Jin Hian memandang sekejap suasana disekelilingnya, lalu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…haaahh…..haaahhhh,….Kok See-piau, apa lagi yang bisa kau katakan sekarang?”

“Jin Hian!” hardik Kok See pisu dengan marah. “semenjak kau menggabungkan diri dengan perkumpulan kami dan mempunyai jabatan Tianglo, pun-sinkun toh bersikap sangat baik kepadamu, mengapa kau malah berhianat kepada kami semua dengan perbuatan terkutukmu itu?” Apabila kau bersedia menyesali perbuaatanmu itu, pun sinkun bersedia pula untuk mengampuni selembar jiwamu”

Sementara itu, guguran batu cadas telah berhenti, meski masih ada dua tiga buah hancuran batu yang masih berterbangan, namun suasa na mulai pulih kembali dalam ketenangan.

Mereka yang berangasan, kini mulai berkaok-kaok sambil mencaci maki tiada hentinya, sedangkan kawanan jago lihay dari pelbagai kelompok hanya menyabarkan diri sambil menantikan perubahan selanjutnya.

Terdengar Jin Hian tertawa tergelak kembali dengan seramnya. Suara tertawanya dingin dan memilukan hati, begitu keras suaranya tergelak sehingga dalam waktu singkat seluruh angkasa seolah-olah sudah digetarkan oleh gelak tertawanya itu.

“Kok See-piau!” terdengar Hoa In-liong berteriak secara tiba-tiba, “kau telah berbuat untuk membunuh diri sendiri, apakah sampai sekarang belum juga sadar?”

Jin Hian berhenti pula tertawa, katanya dingin, “Bocah keparat she Kok, tahukah kau apa yang selalu kumurungkan dan kupikirkan selama dua puluh tahun terakhir ini?”

Paras muka Kok See-piau telah berubah menjadi hijau membesi mimpipun ia tak mengira kalau obat peledak yang dipersiapkan olehnya sebagai senjata terakhir apabila tidak berhasil mendapat keuntungan apa-apa dalam pertarungan yang bakal berlangsung, kini menjadi senjata makan tuan.

Padahal ia telah berencana, seandainya gagal dengan siasatnya yang pertama, maka mereka akan cepat mengundurkan diri dari situ kemudian ledakkan bahan peledak tersebut untuk menyumbat jalan mundur semua orang dan menjebak semua jago iihay dari seluruh kolong langit dalam lembah tersebut. Nyatanya sekarang, bukan saja siasat kejinya itu mengalami kegagalan total, yang lebih menggemaskan lagi adalah ternyata ren cana rapinya itu justru dipergunakan orang lain untuk menjebak mereka sendiri, ini baru tragis namanya.

Sebagai mana diketahui, sebelum segala sesuatunya dilaksanakan, ia telah mengatur semua persiapannya dengan matang, lembah yang dipilih sebagai tempat pertemuanpun merupakan sebuah lembah yang empat penjuru dikelilingi tebing curam.

Pada puncak tebing meski tumbuh beberapa batang pahon siong, itupun tak bisa membantu banyak bagi kawanan jago yang terkurung didasar lembah untuk melarikan diri, dengan demikian sekalipun seseorang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna juga tak mungkin bisa memanjat dinding tebing itu.

Untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, pada puncak tebing ia persiapkan pula batu dan kayu serta para ahli senjata rahasia, dengan demikian makin tipislah harapan semua jago untuk kabur dari situ.

Diam-diam ia berpikir kembali.

“Lorong rahasia yang kuhubungkan langsung dengan luar lembah pasti telah diledakkan pula oleh bajingan keparat she Jin tersebut, aaii! itu berarti orang-orangku yang ditugaskan disekitar puncak tebingpun tiada harapan bisa hidup lebih jauh…..”

Pelbagai ingatan sudah melintas dalam benaknya, meski ia cerdik, toh untuk sesaat tak ditemukan cara terbaik untuk meloloskan diri dari kurungan tersebut, saking gemas dan jengkelnya dia hanya bisa menggertak giginya keras-keras, kalau bisa dia ingin mencincang tubuh Jin Hian menjadi berkeping keping.

Terdengar Hoa In-liong berkata kembali sambil tertawa, “Jin lo tongkeh, apa sih yang kau pikirkan selama dua puluh tahun terakhir ini? Apa salahnya untuk diutarakan kepada kami semua?”

Jin Hian mengalihkan sinar matanya dan melirik sekejap ke wajah Hoa In-liong dengan dingin kemudian tegurnya, “Kaukah yang bernama Hoa Yang, putra Hoa Thian-hong?”

Hoa In-liong segera tertawa tergelak. “Haaah…….haaahn……haahhh……sungguh tak kusangka Jin

lo tongkeh kenal juga dengan nama kecilku!”

“Kau telah apakan anak buah lohu?”

“Aaai………! Tak usah kuatir lo tongkeh, aku hanya menotok jalan darah mereka saja”

Dengan gemas Jin Hian mendengus dingin, lain berkata, “Sebetulnya lohu akan menunggu sampai kelompok-kelompok manusia bodoh itu saling bertarung sampai mampus semua, baru menyulut obat peledak ini, sayang kau telah memberi peringatan lebih dulu sehingga mau tak mau rencnaku harus diajukan lebih awal. Kalau kulihat dari cara kerjamu yang cekatan kuakui bahwa otakmu memang amat cerdas, lohu merasa amat kagum kepadamu”

Hoa In-liong segera menjura, sahutnya, “Terima kasih banyak atas pujian lo tongkeh, aku merasa malu untuk menerima pujian tersebut”

Jin Hian mendengus gusar. “Hmmm! Beruntung kau bisa lolos dari bencana ini, apa pula artinya kau berkata demikian?”

“Orang bilang, disaat manusia menghadapi musibah, berhasil atau tidak meloloskan diri dari bencana, semuanya telah ditakdirkan oleh Thian, memangnya kau bisa menentukan nasib mereka semua?”

Jin Hian segera tertawa dingin.

“Tentu  saja!”   sahutnya,   “heeehh……heeehh…… heeehh jangankan baru mereka, bapakmu Hoa Thian-

hong pun sama saja akan mampus pula ditanganku!”

Hoa In-liong tertawa hambar, ejeknya, “Takdir sukar ditebak manusia, Lo tongkeh jangan terlampau cepat untuk merasa bangga lebih dulu”

Coa Wi-wi yang melihat Hoa In Hong hanya melulu bercakap-cakap dengan Jin Hian tanpa mcmperdulikan nasib sobat dan rekan-rekannya yang terkurung dalam lembah, hatinya mulai gelisah karena tak tahan, ia berteriak keras, “Jiko!”

Hoa In-liong melongok ke bawah, kemudian jawabannya keras-keras, “Harap sabar sebentar adik Wi, aku segera akan menolong kalian untuk menyelelamatkan diri, para cianpwe, para sobat, harap ka lianpun bersabar sebentar lagi”

“Hmm! Bocah keparat kau tak usah bermimpi disiang hari bolong!” jengek Jin Hian sinis.

Setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh. “Bocah muda dari keluarga Hoa, tahukah kau selama banyak tahun ini apa yang lohu pikirkan siang dan malam?”

Hoa In-liong mengalihkan sinar matanya ke arah orang itu kemudian sambil tersenyum menjawab, “Aku bersedia mendengar semua perkataan mu!”

Jin Hian tertawa seram katanya, “Selama banyak tahun ini, Lohu selalu berpikir bagaimana caranya untuk membantai kalian manusia-manusia yang menganggap dirinya sebagai pendekar sejati satu persatu, aku selalu berpikir bagaimana pula caranya unuk mencincang tubuh Hek Siau-thian, Kiu-im- kaucu dan Tang Kwik-siu sekalian menjadi berkeping-keping, bagaimana pula caranya mencincang tubuh Ku Ing lng dan menyiksanya sampai mampus secara mengenaskan…”

Secara beruntun sampai tiga kali dia mengucapkan kata “bagaimana caranya” nadanya yang menyeramkan semakin mendatangkan perasaan ber gidik bagi siapapun yang mendengarnya, seketika itu juga seluruh tebing Ui gou peng serasa diliputi suasana pembunuhan yang menyeramkan.

Sekalipun Tiang heng Tokoh sudah cukup banyak makan asam garam, tak urung bergetar juga perasaannya setelah mendengar perkataan itu, pikirnya, “Putra Jin Hian mampus diujung belati Pui Che-giok atas perintahku, bisa dimaklumi betapa dendamnya ia kepadaku lantaran kehilangan satu- satunya putra kesayangan-nya itu, tak heran kalau selama banyak tahun dia selalu putar otak dan berusaha menyusun rencana untuk mencelakai orang lain”

Tiba-tiba muncul seorang iman beralis mata putih dari balik tebing, sambil memberi hormat kepada Jin Hian, serunya keras-keras, “Jin sicu, pinto Thian Ik-cu memberi hormat untukmu!” Mencorong sinar tajam dari balik mata Jin Hian, diawasinya wajah Thian Ik-cu sekejap kemudian katanya dengan dingin”.

“Oooh, kiranya tootiang sudah takluk kepada keluarga Hoa!”

“Jin sicu” ujar Thian Ik-cu lembut, “bagaimanapun juga kita adalah manusia yang sudah berusia hampir seabad, sekalipun kita tidak teringat oleh budi kebaikan Hoa tayhiap dalam peristiwa penggalian harta karun dalam istana Kiu ci kiong, sepantasnya kalau kita membayangkan bahwa hidup kita didunia ini sudah tak lama lagi, dalam sisa waktu yang tak seberapa ini sepantasnya bila kita kekang kembali napsu mencari kemenangan yang berkobar dihati, toh akhirnya setelah masuk peti mati dan dikubur dalam liang lahat, segala sesuatunya juga kembali ke nol besar! Apa gunanya menerbitkan kembali badai pembunuhan yang tak ada  artinya. ?”

Mendengar perkataan itu, Jin Hian tertawa dingin tiada hentinya.

“Heehh……heehhh…..heehh……berita menarik! Berita aneh! Tong thian kaucu pintar pula berkhotbah untuk menjual welas kasihnya kepada umat manusia!”

Thian Ik-cu tersenyum, dengan wajah serius ia berkata lagi. “Apa yang pinto ucapkan adalah kata-kata yang muncul

dari hati yang sejujurnya, harap sicu bersedia memikirkan tiga

kali sebelum bertindak lebih lanjut”

“Kentut busuk!” bentak Jin Hian dingin, putra tunggal lohu sudah mati, apa pula yang musti kutakuti? Hukum karma?

Balas dendam? Hmm bedebah semua! “Suhu… !” tiba-tiba terdengar seseorang dengan suara

merdu.

Tampak dari belakang Hoa In-liong muncul seorang gadis berbaju hitam yang berparas muka cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.

Menjumpai kemunculan gadis itu, Jin Hian menjadi tertegun, kemudian serunya, Leng jin, walaupun lohu telah mewariskan ilmu silat kepadamu, aku bukan terhitung gurumu, kalau kau menang lebih suka bergabung dengan pihak lawan, mulai detik ini kita akan anggap asing terhadap masing-masing pihak”

Mengucur keluar titik-titik air mata dari kelopak mata Si Leng jin, ujarnya dengan sedih, “Suhu, bagaimanapun juga kau pernah mewariskan ilmu silat kepadaku, aku merasa berhutang budi kepadamu, bila kau bersedia membatalkan perbuatanmu dan menyingkir jauh dari keramaian dunia untuk hidup mengasingkan diri, tecu bersedia pula untuk menemani kau sepanjang masa”

Ucapan tersebut jauh diluar dugaan Jin Hian, untuk sesaat lamanya ia merasa terharu sekali, hatinya tergerak dan lama sekali mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.

Jit set Sim Ciu merasakan gelagat yang kurang beres dari pemimpinnya, tiba-tiba ia menegur dengan dingin, “Cong tongkeh!”

Sekujur tubuh Jin Hian bergetar keras.

Setelah mendengar panggilan itu, akhirnya sambil menggerak gigi serunya, “Tidak bisa! Hmm, jika aku orang she Jin tidak berhasil mengobrak abrik seluruh dunia sebelum ajalku tiba, aku tidak rela untuk mampus!” Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba ujarnya lagi dengan suara yang lembut.

“Anak Jin, bila kau masih menganggap diriku sebagai gurumu, menyeberanglah ke mari, kujamin hidupmu sepanjang masa akan makmur dan bahagia, akupun bisa melatih ilmu silatmu hingga mencapai tingkatan yang paling tinggi”

Si Leng jin menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil menahan isak tangis, “Terima kasih banyak atas budi kebaikan suhu, sayang bakat tecu jelek dan tidak cocok untuk melatih ilmu silat yang tinggi, aku lebih lebih tidak mengharapkan nama dan kekayaan terpaksa tecu hanya akan mengecewakan harapan suhu belaka”

“Lantas apa yang kau inginkan?” tukas Jin Hian dengan suara dingin.

Si Leng jin menangis tersedu-sedu, sahutnya” “Apabila kau tak mau berbaling, maaf tecu…….tecu

terpaksa harus mengundurkan diri dari sini”

Begitu selesai berkata, ia lantas memutar tubuhnya dan berlalu dari situ sambil menutupi mukanya dengan kedua belah tangan, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik tebing sana.

Jin Hian si jagoan dari Liok lim ini tertunduk dengan wajah yang amat sedih, bibirnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut kemudian diurungkan, dia hanya bergumam seorang diri, “Yaa, begitupun baik juga!” Hoa In-liong mengerutkan dahinya rapat-rapat, dengan cepat dia berseru lantang,