Neraka Hitam Jilid 13

Jilid 13

Di tengah jawaban itu dia melayang turun kebawah dan langsung menyeberangi tanah lapang tersebut, dengan melawati diatas kepala para anggota Hian-beng-kau yang berada dibawah mimbar tersebut. Tindakannya yang demonstratif dan sama sekali tidak menganggap orang lain sebagai manusia ini, kontan saja menimbulkan kemarahan yang meluap-luap bagi segenap anggota Hian-beng-kau, tapi lantaran peraturan perkumpulan yang ketat, sebelum ada perintah dari Kok See-piau maka tak seorangpun juga yang turun tangan menghalanginya.

Tiba-tiba terdengar seseorang membentak dengan suara yang tinggi melengking tak sedap didengar.

“Setan cebol, kau anggap ditempat seperti ini kau boleh berbuat semaunya?”

Tampaklah dari atas panggung mimbar yang delapan sembilan kaki tingginya itu melayang turun sesosok bayangan manusia yang secepat kilat telah menghadang jalan pergi Cu Thong.

Orang itu bukan lain adalah Mao Kiat dari Po cu sam jian (tiga manusia cacad dari Po cu).

Ketika para jago menyaksikan gerakan tubuhnya itu, diam- diam mereka merata terperanjat, sebab terbukti sekarang kalau nama besar tiga manusia cacad memang bukan nama kosong belaka.

Siau yau sian Cu Thong segera menghentikan gerakan tubuhnya, kemudian tertawa terbahak bahak.

“Haaah…… haaah…… hahahh… kukira siapa yang

datang, eeeeh…… kiranya kau si orang cacad haaah…..

haaah… panjang amat usiamu!” Mao Kiat yang menderita cacad pada alat kelaminnya, paling benci kalau mendengar ada orang menyebutnya sebagai orang cacad, tak heran ia menjadi geram sehingga menggertak gigi keras-keras sesudah mendengar perkataan itu.

“Setan tua she Cu!” sumpahnya, “kau jangan keburu bangga lebih dulu, lohu bersumpah akan menyuruh kau rasakan bagaimana jika empat anggota badanmu kutung dan mati tak bisa hidup pun menderita”

“Hanya dengan mengandalkan kekuatan seorang cacad seperti kau?” ejek Cu Thong.

Ucapan yang cacad, cacad terus menerus ini kontan aaja mengobarkan sifat buas dari Mao Kiat, sudah sejak tadi ia tak sanggup mengendalikan diri, maka sambil tertawa seram ia pentangkan ke sepuluh jari tangannya, kemudian dengan ganas menerjang ke arah Cu Thong.

Po cu sam jian sudah tersohor karena kebuasan nya, ilmu silat yang dimilikipun amat lihay, ke tika kedua belah tangannya masih berada tujuh delapan depa dari ujung jarinya segera terasa munculnya desingan angin tajam yang amat dahsyat, bahkan sekeliling tempat itu segera terendus bau busuk mayat yang sangat memuakkan.

Jelaskan sekarang bahwa dibalik serangan jari dari Mao Kiat tersebut, terseliplah suatu hawa racun yang amat jahat.

Cu Thong memang telah bersiap sedia semenjak tadi, sambil tertawa terbahak-bahak kipasnya segera dikebaskan ke arah Mao Kiat.

Walaupun hanya kebasan dari sebuah kipas, namun dalam genggaman Cu Thong yang berilmu tinggi, hekekatnya benda itu telah berubah menjadi senjata penyerang yang luar biasa dahsyat nya.

Orang lain mengira dengan serangannya itu, Mio Kiat tentu akan buyarkan serangan untuk berganti jurus.

Siapa sangka Mao Kiat yang jumawa dan kasar, apa lagi memang ada dasar-dasar perselisihan lasa diantara mereka berdua, dengan cepat segera berpikir, Ilmu Hu si ci (jari mayat membusuk) mungkin akan mematikan korban dalam tiga perempat menit jika tidak segera diberi obat pemunah, hmmm… lebih baik aku menderita luka dalam dari pada membiarkan setan tua ini berlagak terus dalam dunia persilatan…..”

Karena berpendapat demikian, ia sama sekali tidak menggubris terhadap tibanya ancaman dari serangan kipas lawas, malahan sepasang tangannya menyambar ke tubuh Cu Thong dengan kecepatan yang lebih hebat.

Sudah puluhan tahun lamanya Sian yau sian Cu Thong berkelana dalam dunia persilatan, tentu saja ia dapat menebak maksud hati Mao Kiat, maka iapun dapat menghindar ataupun berkelit, kipasnya segera dibuang, lalu jari tangan kanan-nya ditegangkan bagaikan tombak dan menggunakan jurus “menyerang sampai mati” ia melepaskan sebuah serangan balasan yang mematikan.

Berbareng dengan dilancarkannya serangan tersebut, hawa murninya disalurkan pula keseluruh badan untuk menutup segenap jalan darah yang berada dalam tubuhnya.

Dengusan tertahan dan pekikan keras segera berkumandang bersama tubuh Siau yau sian Cu Thong mencelat beberapa kaki jauhnya kemudian mundur dua tiga langkah sambil muntah darah segar. Sebaliknya Mao Kiat tetap berdiri tegak ditempat semula, cuma sorot matanya telah tak bersinar lagi sambil melotot kearah Cu Thong, ia tertawa sedih, katanya, “Setan tua” kau yang menang!”

Siau yau sian Cu Thong pun tertawa terpaksa. Jawabnya, Mao Kiat, kau memang cukup keji, aku Cu Thong takluk kepadamu….”

Mo Kiat kembali tertawa paksa, ia tertawa lebih jauh, “Sekalipun aku orang she Mao harus mati ditanganmu, aku mati dengan tidak menyesal…….”

Berbicara sampai disitu, tiba-tiba ia muntah darah segar, tubuhnya bergoncang keras, kemudian roboh terjengkang ke tanah.

Peristiwa ini terjadinya sungguh amat tiba-tiba. Kedua belah pihak sama-sama tahu, bila berbicara dari kepandaian silat yang di miliki kedua belah pihak, maka menang kalah baru bisa ditentukan setelah bertarung dua tiga ratus jurus kemudian.

Siapa tahu, baru didalam satu gebrakan saja, kedua belah pihak telah melakukan suatu pertarungan adu jiwa yang berakibat sama-sama terluka, kejadian ini sedemikian cepatnya berlangsung sehingga sama sekali tiada kesempatan bagi orang lain untuk memberikan bantuannya.

Dalam kejut dan terkesiapnya, dari atas mimbar maupun dari barak sebelah barat segera bermunculan bayangan manusia yang langsung menghampiri Cu Thong maupun Mao Kiat. Bong Pay yang memang sudah keluar barak untuk menyambut kedatangan kakek cebol itu, segera tiba lebih dulu ditempat ke jadian, cepat ia menyambar tubuh Cu Thong.

Pho Siu dan Pi Ci liang dari Pa cu sam jian amat menguatirkan keselamatan saudaranya, merekapun menyusul tiba disitu dengan kecepatan tinggi.

Pi Ci-liang segera berjongkok untuk memeriksa denyut nadi Moa kiat dengan lengan tunggalnya, setelah itu dengan wajah berubah hebat serunya, “Sam-to sudah tamat riwayatnya!”

Paras muka Phoa Siau berubah menjadi hijau membesi, kemudian ia tertawa dingin dengan suara yang mendirikan bulu roma, sepasang tongkatnya ditekannya pada permukaan tanah, tubuhnya segera melambung ke udara dan menerjang ke arah Bong Pay serta Cu Thong dengan kecepatan luar biasa, ketika masih diudara, tongkat sebelah kanannya langsung diayun kebawah membacok ubun-ubun Cu Thong.

Bong Pay mengeryitkan alis matanya, baru saja akan bertindak, Coa hujin telah keburu tiba, perempuan itu segera membentak keras, ujung bajunya dikebaskan ke depan…….

Seperti terkena suatu serangan yang maha berat, Phoa Siu kembali berjumpalitan diudara dan melayang turun tiga kaki jauhnya dari gelanggang…..

Pi Ci liang bangkit berdiri, setelah mendengus penuh kegusaran, lengan tunggalnya diayunkan ke depan menghajar tubuh Cu Thong.

Dengan lengan kirinya Bong Pay memayang tubuh supeknya, sementara telapak tangan kanannya dengan mengandung tenaga geledek yang sangat dahsyat diayunkan kemuka untuk menyongsong datangnya ancaman. “Blaaaang!” suatu ledakan keras menggelegar diudara, Pi Ci liang kontan merasakan tubuhnya bergoncang keras, kakinya sampai melesak dalam-dalam diatas ubin hijau yang keras itu,

Bong Pay kuatir tenaga serangannya akan mempengaruhi Cu Thong. iapun tak berani menyambut dengan keras lawan keras, secara beruntun tubuhnya mundur lima langkah ke beakang untuk punahkan sisa kekuatan yang masih ada, tiap mundur selangkah, di atas ubinpun segera muncul bekas telapak kaki yang beberapa inci dalamnya.

Pi Ci liang amat terperanjat, semula ia masih tidak pandang sebelah matapun terhadap Bong Pay, siapa tahu ilmu silat yang di miliki lelaki itu ternyata, masih sanggup untuk menandingi kepandaian yang dimilikinya.

Dalam detik yang amat singkat itulah, Cu Im taysu, Leng lam it-khi, Haputule, Ko Tay Im-san siang-koay dan lain lainnya dari kedua belah pihak telah saling berhadapan dengan wajah bermusuhan, jelas suatu pertarungan sengit bakal segera berlangsung.

Tiba-tiba Kok See-piau berseru dengan lantang, “Harap para tianglo kembali dulu kemari, dendam baru permusuhan lama kita selesaikan bersama sehabis upacara nanti!”

Begitu seruan diutarakan, pertama-tama Leng lam it khi yang pulang dulu ke mimbar. Phoa Siu dan Pi Ci liang meotot sekejap ke arah Cu Thong dengan, penuh kebencian, lalu sambil membopong mayat Mo Kiat, mere ka kembali ke mimbar dengan uring-uringan.

Para jago kembali dibuat tertegun oleh kejadian ini, siapapun tahu kalau Po cu sam jian adalah manusia-manusia bengis yang jarang bisa ditundukkan, tapi sekarang, hanya dengan sepatah kata yang ri ngan ternyata Kok See-piau berhasil menangguhkan niat mereka untuk membalaskan dendam bagi kematian saudaranya.

Sementara itu Siau yau sian Cu Thong dengan hawa hitam menyelimuti wajahnya telah berada dalam keadaan tak sadar, dipayang oleh Bong Pay, para jago dari golongan luruspun kembali ke barak mereka.

Pek Soh-gi muncul menyongsong kedatangan suaminya, kata Bong Pay kemudian, “Soh-gi, coba lihatlah bagaimana dengan luka yang diderita Cu supek……?”

Pek Soh-gi memandang sekejap ke wajah Cu Thong, lalu menjawab, “Meskipun isi perutnya terluka parah, luka itu tidak terlalu merisaukan, justru yang mencemaskan adalah racun dari ilmu jari la wan”

“Bagaimana dengan racun itu?” tanya Bong Pay cemas.

Pek Soh-gi termenung sambil berpikir sejenak, setelah itu jawabnya pelan, “Agaknya racun jari tangannya diperoleh dengan menghisap racun pembusukan yang berada di tubuh sesosok mayat, bila orang biasa yang terkena maka sekejap mata kemudian sang korban akan tewas, kini aku tidak membawa obat-obatan, yang ada hanya jarum emas untuk mencegah menjalarnya racun, aku pikir dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Cu supek, ia masih bisa bertahan satu hari setengah lagi.”

Bong Pay menghela napas panjang. “Aaai…….terpaksapun kita musti berbuat demikian, kalau

begitu cepatlah turun tangan!” Pek Soh-gi manggut-manggut, cepat ia mengeluarkan jarum emas dan segera ditusukkan ke dada Cu Thong.

Walaupun Bong Pay amat risau, dalam keadaan demikianpun terpaksa harus menyingkirkan dulu persoalan itu dari benaknya, ia mengalihkan kembali sorot matanya ke arah mimbar.

Sementara itu asap dupa telah mengebul dari atas mimbar, diiringi alunan musik yang merdu, Kok See-piau bersembahyang dimeja abu dan membaca naskah sumpah, setelah tu ia meneteskan beberapa titik darah dalam sebuah hiolo emas.

Yang lain pun segera mengikuti dibelakangnya melakukan sumpah kesetiaan dan meneteskan darah untuk mengikat tali persaudaraan.

Diantaranya tampak pula kehadiran seorang kakek berbaju hijau, dia hanya memberi hormat kepada meja abu Kiu ci sinkun sedangkan terhadap yang lain-lainnya hampir tidak dipandangnya barang sekejap pun.

Semua orang yang menyaksikan kejadian itu merasa terkejut sekali, sebab didalam barisan yang muncul dan istana tadi jelas tidak nampak adanya kakek berjubah hijau itu, dan kenyataannya seka rang tak seorang jago pun yang mengetahui sejak kapan dan dengan cara apakah ia muncul diatas mimbar terus.

Dengan cepat kehadiran orang itu menimbulkan kegemparan, masing-masing orang segera memper hatikannya dengan seksama. Dia adalah seorang kakek berambut putih yang memelihara jenggot sepanjang dada, matanya tajam seperti pisau, usianya paling tidak sudah diatas seratus tahun lebih.

Siapa yang tahu siapa gerangan kakek berjubah hijau itu?” tanya Cu Im taysu.

Para jago saling berpandangan dengan mulut membungkam, ternyata tak seorangpun diantara mereka yang tahu.

Sesudah heing sejenak, tiba-tiba Ho Kee-sian berseru, “Coba lihat!”

Agaknya pihak Kiu-im-kau dan Mokau juga dibuat terkejut oleh kehadiran orang itu”

Ketika semua orang berpaling, betul juga waktu itu Seng Tocu serta Bwe Su-yok sekalian sedang melirik ke arah mimbar dengan wajah aneh, lalu berbisik-bisik membicarakan sesuatu, bahkan ada pula diantara mereka yang menunjuk ke arah kakek berjubah hijau tersebut.

Tiba-tiba Coa hujin berkata, “Tenaga dalam yang dimiliki orang itu tampaknya jelas diatas kepandaian Kok See-piau!”

“Menurut taksiran hujin, tenaga dalam yang di milikinya itu sudah mencapai ke tingkatan yang bagaimana tingginya…….?” tanya Ko Tay dengan suara dalam.

Coa hujin termenung sambil berpikir sejenak, setelah itu jawabnya dengan serius, “Swan si tak dapat menduganya, tapi dapat ku katakan bahwa kepandaian silat orang itu jauh di atas kepandaian Swan si!” Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan, “Agaknya hanya Hoa tayhiap atau kakek luar ku yang sanggup menandingi kelihayannya!”

Paras muka semua orang segera berubah hebat, malah ada pula yang menunjukkan rasa tak percaya.

Ketika semua orang mengalihkan kembali sinar matanya ke arah mimbar, terlihatlah Kok See-piau sedang memberi hormat kepada kakek berjubah hijau itu, kemudian membisikkan sesuatu dengan suara lirih. Kakek berjubah hijau itu manggut-manggut, dia mengambil hiolo emas tersebut dari atas meja dan membawanya menuju ke depan mimbar, setelah memandang sekejap keseluruh gelanggang, pelan- pelan katanya!

“Segenap anggota perkumpulan harap dengarkan baik- baik, mulai hari ini Hian-beng-kau secara resmi dibuka, mulai sekarang pintu perguruan kami terbuka lebar-lebar untuk menerima murid baru serta mendirikan cabang disegenap penjuru dunia, barang siapa yang ingin bersatu dengan kami dengan senang hati kami akan ulurkan tangan untuk menerimanya……”

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba suaranya berubah menjadi amat keren dan tegas, katanya lebih jauh, “Atas permintaan dari kaucu, hari ini akan diadakan pengambilan darah untuk mengangkat sumpah, segenap murid Hian-beng- kau akan berbakti sampai mati demi perkumpulan, barang siapa berani timbul pi kiran menyeleweng, dia akan dibunuh secara mengerikan!”

Sungguh dahsyat tenaga dalam yang dimiliki orang ini, sekalipun musti berbicara untuk khalayak banyak, tanpa berteriak pun bahkan hanya berbicara seperti orang biasa segenap orang dapat mendengar ucapan tersebut bagaikan sang pembicara berada disisinya saja.

Selesai berkata, hiolo emas yang berada ditangannya itu tiba-tiba melesat keudara dan melayang sejauh dua kaki dari atas mimbar, kemudian hiolo itu berbalik menuangkan isinya yaitu arak bercampur darah kedalam sebuah hiolo lain yang amat besar ditengah lapangan, ketika arak darah itu sudah tertuang habis, tangan kanannya kembali di gerakkan dan hiolo emas itupun melayang balik ketangan-nya.

Demonstrasi tenaga dalam yang dilakukan olehnya ini benar-benar mengejutkan para jago baik dari golongan lurus, maupun dari golongan Kiu-im-kau, Seng-sut-pay serta para jago persilatan lainnya.

Sedangkan anggota Hian-beng-kau segera bersorak sorai memuji kehebatan kakek berjubah hijau itu, begitu kerasnya suara tempik sorak mereka hingga menggetarkan seluruh bumi rasanya.

Lau gi tiong dari Thiam cong siang kiam yang melihat itu tiba-tiba menghela napas sambil berkata, “Siapakah manusia didunia ini yang sanggup menyalurkan hawa murninya ke dalam benda lain serta mengendalikannya menuruti ke-inginan hati sendiri……”

Hoa Ngo yang kebetulan mendengar keluhan tersebut segera mencibirkan bibirnya.

“Huuuh…..apanya yang aneh?” ia berseru, “buat Hoa toako, itu mah cuma permainan kanak-kanak!”

“Yaa, meskipun demikian, toh Hoa tayhiap tidak datang kemari!” kata Ciang Pek jin dengan cepat. Hoa Ngo kembali mendengus. “Hmmm! Kenapa musti Hoa toako yang tu run tangan? Sebentar aku Hoa Ngo yang pertama-tama akan menghadapi setan tua itu”

“Banyak bicara apa pula artinya?” sela Ko Thay dengan hambar, “yang penting datang serangan prajurit, kita bendung dengan Prajurit, datang air bah kita bendung dengan tanah, tak bisa dikarenakan musuh terlalu lihay maka kita mundur terbirit birit”

“Aaai……Thian bong kenapa begitu gegabah sehingga sama sekali tidak memandang serius atas berdirinya Hian-beng-kau dalam dunia persilatan……?” keluh Cu Im taysu.

Ia berpaling ke arah Coa hujin, lalu tanyanya, “Bukankah hujin datang dari Im tiong san? Apakah hujin tahu apa rencana Bun Tay kun serta Thian hong…….”

Sambil tertawa getir Coa hujin menukas, “Sewaktu akan berpisah, dua orang Hoa hujin pernah berkata bahwa Hoa tayhiap itu dan anaknya telah mempunyai rencana lain, hanya apakah rencana tersebut tidak dijelaskan, oleh karena boanpwe merasa hal ini tak penting, waktu itupun tidak ku tanyakan lebih jauh”

Tiba-tiba terdengar Bong Pay berpekik heran, “Wwwouuuw……aneh benar!”

Ketika semua orang berpaling, hampir seluruhya segera tertawa tergelak karena kegelian.

Kiranya setelah kakek berjubah hijau itu menuang arak darah dalam hiolo emas ke dalam hiolo raksasa tersebut, karena dalam hiolo raksasa memang sudah disiapkan arak sebagai arak darah pengangkatan sumpah oleh para petugas arak itu diisikan ke dalam berpuluh puluh cawan perak dan dibagikan kepada para anggotanya.

Siapa tahu baru saja isi arak tersebut diteguk, mendadak mereka yang meneguk arak tersebut segera roboh ketanah dan tak bisa bangun lagi.

Mendekati perintah penghentian minum arak darah diturunkan, sudah ada tujuh delapan puluh orang jago yang tergeletak tak berkutik, tentu saja hal ini segera mengejutkan semua anggota Hian-beng-kau.

Go Tang cuan yang menyaksikan kejadian itu segera membentak keras, Tenang, tenang! Petugas baju biru, segera gotong semua murid kita yang jatuh korban ke dalam istana!”

Peraturan Hian-beng-kau memang cukup ketat, lagi pula terdisiplin tinggi sekalipun terjadi peristiwa dan kalut untuk sesaat, tapi sesaat kemudian suasana telah tenang kembali.

Dari bawah mimbar segera bermunculan puluhan orang laki-laki baju biru yang dengan cepat menggotong pergi rekan-rekan mereka yang pingsan.

Cara kerja mereka ternyata gesit dan tertib, dalam waktu singkat suasana telah pulih kembali seperti sedia kala.

Dengan wajah penuh kegusaran Kok See-piau segera berteriak, “Wahai jago-jago lihay dari Biau nia, kalau memang sudah datang, kenapa tidak segera unjukkan diri?”

Semula semua orang masih sangsi tapi setelah mendengar seruan tersebut jadi sadar kembali, memang kecuali orang- orang Biau, tak ada orang manusiapun yang memiliki kepandaian racun lihay seperti mereka, lebih-lebih lagi punya nyali seperti mereka. Terdengar dari depan istana, tiba-tiba berkumandang suara teriakan yang amat nyaring “Orang she Kok, kami berada disini, mau apa kau?”

Sebenarnya perhatian semua orang tertuju ke mulut lembah, siapa tahu justru tiga orang perempuan suku Biau yang cantik dan bertangan telanjang itu muncul dari pintu istana, seketika suasana menjadi gempar.

Ternyata ketiga orang itu adalah Biau-nia Sam-sian (tiga dewi dari wilayah Piau).

“Sambil tertawa, Ci wi siacu segera berkata

“Kok See-piau, istana Kiu ci siat kiong mu ini sungguh dibangun sangat indah dan megah, sebenarnya hendak kami persembahkan untuk dewa api, namun kamipun merasa tak tega untuk turun tangan”

“Apa yang telah kau lakukan terhadap anggota perkumpulan kami?” bentak Kok See-piau.

“Aku lihat mereka sudah terlampau letih dalam bertugas, maka sengaja kusulutkan sebatang hio Ui-liang hio agar mereka dapat beristirahat sebenar” kata Lam Soa siancu sambil tertawa-tawa.

Setelah berhenti sebentar, ia berkata kembali, “Mungkin kau merasa heran, kenapa dengan jarak sejauh ini kami bisa meracuni arak darah itu? Terus terung saja kuberitahukan kepadamu, sejak semalam kami telah polesi dinding sebelah dalam dari hiolo emas itu dengan selapis obat beracun yang tak berwarna dan tak berbau” Tak terlukiskan rasa gusar Kok See-piau menghadapi kejadian ini, pikirnya, “Semua jago perkumpulan telah datang disini, tak kusangka tiga orang perempuan rendah ini berani bertingkah dihadapanku.

Berpikir demikian, dia lantas mengulapkan tangannya, tiga orang kakek yang ada disampingnya segera melompat turun dari mimbar, kemudian secepat kilat melompat ke atas anak tangga istana.

Dengan cemas Pek Soh-gi segera berseru, “Toako, perbuatan Biau nia san sian mengacau ucapan pembukaan ini sudah merupakan suatu pelanggaran terhadap peraturan dunia persilatan. Kok See-piau pasti akan turun tangan kejam terhadapnya, kita tak boleh berpeluk tangan belaka”

Bong Pay memandang sekejap ke arah tiga orang kakek itu, lalu ujarnya, “Ilmu melepaskan racun dari wilayah Biau sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan, belum tentu Kok See-piau bisa berbuat banyak terhadap mereka, dalam posisi demikian, lebih baik kita bertindak menurut keadaan, jangan sampai karena salah bertindak mengakibatkan terjadinya hal-hal yang justru akan merugikan pihak kita sendiri”

Sementara itu, belum sampai ke tiga orang kakek itu menaiki tangga istana, mendadak kepala mereka serasa pusing tujuh keliling, saat itulah mereka baru terperanjat.

Sadarlah ketiga orang itu bahwa mereka sudah terkena racun keji dari wilayah Biau, untuk mundur sudah tak sempat, dua orang diantaranya segera roboh terjengkang ke tanah, hanya kakek disebelah tengah yang berhasil mundur sejauh tiga kaki dan berdiri kaku sambil berusaha mendesak keluar hawa racun dari tubuhnya. Berbicara dari kepandaian silat yang dimiliki ketiga orang itu, sesungguhnya mereka sudah terhitung jagoan kelas satu dalam dunia persilatan, bila terjadi pertarungan sungguhan, belum tentu Biau-nia Sam-sian dapat menandingi mereka, tapi belum lewat segebrakan mereka sudah roboh dua orang dari sini terbuktikan sudah bahwa ilmu meracun dari wilayah Biau memang betul betul sangat Iihay.

Terdapat peristiwa itu, ternyata Biau-nia Sam-sian berlagak seakan akan tidak melihatnya.

Li hoa siancu berkata kemudian sambil tertawa merdu, “Kok See-piau, kami telah mempersiapkan delapan belas lapis barisan racun disekitar tangga istana ini, ingin ku buktikan sampai dimanakah taraf kepandaian silat dari para jago dewasa ini, Nah, terbukti sudah kalau ketiga orang anak manusia itu tak becus, belum sampai lima lapis barisan yang ditembusi, mereka sudah roboh, aku lihat lebih baik kau turun tangan sendiri, coba di lihat berapa lapis barisan yang berhasil kau tembusi”

Paras muka Kok See-piau telah berubah menjadi hijau membesi dengan nada menyeramkan dia berkata, “Jika hari ini aku orang she Kok tidak berhasil menangkap kalian dan mencincangnya menjadi berkeping-keping, perkumpulan Hian- beng-kau segera akan kububarkan!”

Tampaknya kemarahan yang menyelimuti hatinya sekarang sudah mencapai pada puncaknya.

Haruslah diketahui, bahwasanya Biau-nia Sam-sian telah mengacau upacara peresmian perkumpulan Hian-beng-kau, hal ini berarti telah mengikat tali permusuhan yang mendalam sekali dengan beribu-ribu anggota perkumpulannya, apalagi mereka dihadapan umum, hal ini semakin menyakitkan hati semua orang. Sebagaimana telah diketahui tujuan Kok See-piau dengan perkumpulannya adalah mempersatukan seluruh umat persilatan dibawah komandonya, sudah barang tentu dia tak ingin kehilangan pamornya didepan para jago dari seluruh penjuru dunia.

Maka, kepada kakek berjubah hijau yang berdiri disampingnya, ia berkata pelan.

“Suheng, terpaksa harus merepotkan dirimu untuk membekuk ketiga orang perempuan rendah itu!”

Kakek berjubah hijau itu manggut-manggut, dengan langkah yang pelan ia menuruni mimbar dan menuju kearah tangga istana, gerakan tubuhnya sangat enteng, dalam waktu singkat ia telah tiba di serambi panjang.

Para jago yang menyaksikan kelihayan kakek itu sama- sama merasa terperanjat, Bong Pay, Coa hujin, Cu Im taysu serta Haputule bersama sama lari keluar dari barak dan bergerak menuju ke tangga istana.

Kok See-piau tertawa dingin, ia memberi tanda kepada anak buahnya, dua orang dari Po cu sam jian, Im sau siang koay, Ui Sia ling serta sekalian jago lihay lainnya segera melompat turun dari mimbar dan menghadang jalan pergi kawanan jago itu.

Coa hujin yang menyaksikan kejadian itu segera mengerutkan dahinya, kemudian berbisik, “Perlukah kita menerjang rintangan tersebut dengan kekerasan…….?”

“Dalam keadaan seperti ini, aku pikir Biau-nia Sam-sian masih mampu untuk menghindarkan ke dalam istana bilamana gelagat tidak mengijinkan, aku rasa lebih baik kita jangan bertindak dulu dengan gegabah”

Sementara itu kakek berjubah hijau itu telah menatap tajam-tajam wajah Biau-nia Sam-sian, kemudian tegurnya dengan dingin, “Kalian lebih suka menyerahkan diri ataukah ingin mencicipi dulu sedikit penderitaan?”

Selama hidup belum pernah Biau-nia Sam-sian jeri kepada orang lain, dengan kening berkerut, Lan hoa siancu segera berseru, “Hei setan tua, siapakah kau?”

Hmm, jika nama lohu kusebutkan, sudah pasti kalian akan mati karena kaget, lebih baik kusebutkan saja”

Huuuh….! Mengibul dengan kata-kata sombong, apakah tidak takut lidahmu tersambar oleh angin gunung? Paling- paling kau hanya siluman kayu atau siluman rumput yang telah mencapai masa pertapaannya”

Kakek berjubah hijau itu merasa amat gusar, ia mendengus dingin kemudian tubuhnya berkelebat maju ke depan.

Semua orang hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur, tahu-tahu ia sudah melewati tangga batu dan berdiri dimuka istana, kecepatan gerakan tubuhnya sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Betul, racun jahat dari wilayah biau sangat lihay, namun kenyataanya racun-racun itu sama sekali tidak bermanfaat terhadanya.

Sekalipun Bian nia san sian sudah tahu kalau kakek berbaju hijau itu luar biasa lihaynya, mereka tak menyangka kalau kelihayannya telah mencapai taraf sehebat ini, dalam kagetnya, tiga orang dengan geram, tangan segera diayunkan bersama kemuka melepaskan selapis kabut beracun Kiu-tok- ciang yang tak berwarna dan tak berbau.

Kakek berjubah hijau itu segera mengebaskan ujung bajunya ke depan, segulung angin pukulan yang maha dashyat seketika itu juga membuyarkan kabut Kiu-tok-ciang ke tengah udara.

Untuk pertama kalinya ilmu beracun dari wilayah Biau tidak menghasilkan apa-apa dalam penggunaanya.

Bian nia san sian menjadi amat kaget oleh peristiwa tersebut, belum sempat mereka berpikir lebih jauh, sambil tertawa dingin kakek berjubah hijau itu telah berkata, “Sekarang tiba giliran buat kalian untuk merasakan kelihayanku ini!”

Ketika telapak tangannya diayunkan ke depan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera mengurung sekujur badan Biau nia san sian.

Dalam keadaan tergopoh-gopoh, Biau-nia Sam-sian tak sempat lagi untuk menghindarkan diri, tampaknya mereka segera akan terluka diujung telapak lengan kakek berbaju hijau itu.

Kelihayan ilmu silat yang dimiliki kakek berjubah hijau itu sungguh sukar dilukiskan dengan kata-kata, Bong Pay sekalian menjadi terperanjat, sekalipun mereka sadar dibantupun tak sempat lagi, mereka tak bisa tidak harus berusaha dengan sekuat tenaga.

Dipimpin langsung oleh Bong Pay, mereka segera menerjang kemuka, sebuah pukulan segera dilancarkan ke arah Ui Shia ling dari bukit Lau san, tapi pihak musuhpun segera memberikan perlawanan, pertarungan sengit segera berkobar.

Sekalipun para jago dari golongan lurus memiliki tenaga dalam yang sempurna, akan tetapi pihak penghadang pun merupakan jago-jago pilihan, usaha mereka untuk memberi pertolongan segera terbendung, jangankan untuk menolong jiwa Biau-nia Sam-sian, untuk menembusi pertahanan pun sudah sulitnya bukan kepalang.

Untunglah disaat yang kritis inilah tiba-tiba terdengar suara pujian kepada sang Buddha berkuman dang memecahkan kebeningan, menyusul kemudian dari arah belakang istana muncul selapis tenaga pukulan yang amat lunak…..

Dalam waktu singkat, pukulan kakek berjubah hijau yang berat bagaikan bukit karang itu sudah terpancing kesamping, kemudian…. “Blang! menghantam diatas permukaan tanah.

Debu dan pasir segera beterbangan memenuhi seluruh angkasa, pada lapangan batu yang belasan kaki luarnya didepan istana Kiu ci kiong itu segera muncul sebuah liang yang sangat besar.

Sekalipun secara beruntung Biau-nia Sam-sian berhasil meloloskan diri dari ancaman maut, toh mereka merasakan juga getaran keras yang menga kibatkan darah dalam tubuhnya bergolak keras, dengan sempoyongan mereka sama-sama mundur sejauh beberapa langkah.

Kakek berjubah hijau itu sesungguhnya menganggap dirinya sebagai jago nomor satu didunia ini, betapa herannya dia setelah mengetahui ada orang yang sanggup menyingkirkan kekuatan pukulannya itu, sambil berseru tertahan ia lantas berpaling ke samping. Dari balik pintu istana pelan-pelan berjalan ke luar Coan cing taysu yang berjubah pendeta dengan tangan membawa tasbeh.

Dibelakangnya mengikuti seorang gadis cantik yang rupawan, dia bukan lain adalah Coa Wi-wi.

Ketika para jago dari golongan lurus dan para jago dari Hian-beng-kau menyaksikan situasi diatas tangga istana telah mengalami perubahan, serentak merekapun menghentikan pertarungan dan sama-sama mengalihkan pandangan matanya ketengah istana.

Coa hujin yang menyaksikan putrinya muncul bersama kakeknya, dengan cepat merasakan hatinya lega tapi ia tahu tak baik menyapa anaknya dalam keadaan seperti ini, maka diapun hanya berdiam diri.

Terdengar kakek berjubah hijau itu mendengus dingin, lalu menegur, “Apakah kau adalah Goan cing siau hwsesio?” Ucapannya kasar dan sombong sedikitpun tidak mengindahkan sopan santun….

Ternyata Coan cing taysu tidak menjadi marah oleh sikap kasar lawannya, sambil tersenyum ia menjawab, “Yaa, benar memang pinto adanya. Jika aku terpaksa turun tangan secara keras, harap sicu sudilah memaafkan”

Coa Wi-wi yang berada disampingnya segera mengomel.

“Hei, tahun ini kongkongku sudah berusia sembilan puluh tahun lebih! Siapakah kau si setan tua? Berani betul bersikap kurang ajar terhadap kongkongku, jika tidak kau rubah sebutanmu itu, hmm! Hmm….. Wajahnya yang cantik, tindak tanduknya yang lincah membuat kata-kata yang bengis itu justru tampak menyenangkan, hal ini membuat semua orang menjadi terkesima dibuatnya.

Bukannya menjadi gusar, kakek berbaju hijau itu malah tertawa “Haahah….. haahhh…….. haahah……. nona cilik! Kalau kongkong mu paling banter berusia sembilan puluh tahun, maka tahun ini lohu sudah berusia seratus empat puluh tahun, itu berarti aku lebih tua empat puluh sembilan tahun dari kongkongmu, coba bayangkan sendiri, pantaskah kupanggil dirinya sebagai hwesio cilik?”

Waktu itu semua jago yang terada diarena sudah dibikin terperanjat oleh keampuhan ilmu silat yang dimiliki kakek berjubah hijau itu, beribu-ribu pasang mata bersama-sama dialihkan kearahnya tanpa berkedip. Maka ketika mendengar ucapan tersebut, serentak semua orang mulai berbisik-bisik.

Seorang manusia bisa hidup sampai setua itu, hakekatnya sulit untuk dipercaya oleh siapapun, tapi kalau dilihat dari kelihayan kakek tersebut, merekapun tak bisa tidak, harus mempercayainya juga.

Haruslah diketahui, jika seorang dapat hidup sampai berusia seratus tahun lebih, dan ia berlatih ilmu silatnya terus- menerus, ma ka kelihayan ilmu silat yang dimiliki orang itu pasti tak terlukiskan hebatnya.

Coa Wi-wi segera membelalakkan matanya lebar-lebar, kemudian serunya, “Masa sepanjang itu usiamu?”

Sambil menggelengkan kepalanya tanda tak percaya, ia berkata kembali, “Omong kosong! Hanya setan yang percaya dengan perkataanmu itu!” Kakek berjubah hijau itu segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…..haaahhh haaaahhh bocah cilik tak tahu

urusan, lohu akan berbicara dengan kongkongmu!” Kemudian sambil berpaling ke arah Goan cing, ia berkata, “Goan cing, apakah kaupun tak percaya?”

“Pinceng mana berani tak percaya?” jawab Goan cing taysu dengan serius, “hanya saja, apakah aku boleh tahu siapakah nama lo sicu?”

“Asal kau mengetahui diriku sebagai Liok tee sin sian (dewa daratan), itu sudah lebih dari cukup, soal lain lebih baik tak usah kau tanyakan lagi” jawab kakek berjubah hijau dengan angkuh.

Kakek berjubah hijau itu menyebut dirinya sebagai Liok tee sin sian, si dewa daratan, sesungguhnya sebutan itu terlampau jumawa dan takabur, akan tetapi oleh karena semua orang yang hadir di arena sudah menyaksikan sendiri kelihayan ilmu silatnya, maka tak seorangpun diantara mereka berani mengejek.

Tiba-tiba terdengar Coa Wi-wi mendengus dingin, sambil mencibirkan bibirnya ia berseru, “Hmm! Liok tee sin sian apaan? Aku lihat, kau lebih cocok kalau disebut sebagai si tua bangka celaka!”

Kakek berjubah hitam itu pura-pura tidak mendengar ejekan tersebut, kembali ia berkata, “Goan cing kau anggap ilmu silat yang kumiliki itu sudah cukup dikatakan sebagai hebat tidak?”

Goan cing taysu termenung sebentar, kemudian jawabnya, “Kalau dilihat dari kesempurnaan ilmu silat yang dimiliki lo si cu, memang pantas kalau dika takan sebagai hebat, cuma ada satu hal yang masih pinceng bingungkan, bolehkah aku bertanya kepada diri situ?”

“Katakan!”

“Menurut pendapat pinceng yang bodoh, kehidupan seorang dewa adalah suatu kehidupan yang bebas merdeka dan terlepas dari segala urusan ke duniawan, biasanya mereka hanya berpesiar dan mendekati keindahan alam….

Belum habis pendeta itu berkata, kakek berjubah hijau itu telah menukas.

“Lohu sudah berusia seratus tahun lebih kalau hanya kata- kata semacam itu, buat apa aku musti mendengarkan-nya dari mulutmu?”

00000O0O00

53

Goan Cing Taysu segera merangkap tangannya didepan dada seraya berseru, “Asal sicu sudah mengerti, itu tandanya bagus” Kakek berjubah hijau itu kembali mendengus. “Hmmm! Kata-kata yang tak berguna lebih baik tak usah dibicarakan lagi, sudah lama lohu de ngar tentang kelihayan Malaikat ilmu silat, sayang selama ini tak berjodoh untuk menjumpainya sendiri, hari ini aku pasti akan manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik baiknya”

Setelah berhenti sejenak, ia membentak, “Berhati-hatilah!” Telapak tangan kanannya diayunkan ke bawah lalu pelan-

pelan didorong ke depan. Serangan ini tampaknya sederhana dan tiada sesuatu yang aneh, tapi dengan wajah berubah menjadi serius, Goan-cing taysu mengebaskan ujung bajunya, secara tiba-tiba melompat mundur sejauh tiga kaki dari posisi semula.

“Manusia dengan usia seperti sicu sudah langka dijumpai didunia ini, buat apa kau musti menceburkan diri lagi ke dunia ini serta menodai tubuh sendiri dengan amisnya darah?”

Dengan gerakan tak berubah dan tak nampak sesuatu gerakan pun seperti sesosok bayangan, kakek berjubah hijau itu sudah menyusul ke depan, serunya, “Jika ingin mengucapkan sesuatu, tunggu saja setelah menyambut sepuluh jurus seranganku ini!”

Goan cing taysu segera mundur kebelakang, serunya dengan suara dalam. “Sicu…..

Dengan tak sabar kakek berjubah hijau itu menukas! “Apakah keturunan dari Malaikat ilmu silat adalah manusia

lemah seperti ini? kenapa tidak kau balas seranganku ini?”

“Kongkong!” Coa Wi-wi yang berada disampingngnya segera berteriak dengan tak sabar, “beri saja sedikit pelajaran kepada tua bangka yang tak tahu diri itu”

Walaupun ilmu silat yang dimiliki kakek berjubah hijau itu sangat lihay, tentu saja Goan cing taysu tak akan gentar mengha dapinya, ketika mendengar ucapan lawan yang mendesaknya terus menerus, pendeta yang berjiwa besar ini segera berpikir, “Dalam suatu pertarungan yang dicari orang adalah kemenangan, walaupun kemenangan itu bakal diraih dengan kecerdasan otak, yaa, apa boleh buat, kini persoalannya sudah menyangkut nama baik leluhur, bagaimanapun juga aku tak bisa mengalah terus-menerus. Berpikir demikian, ia lantas berdiri sekokoh batu karang, kemudian ujarnya.

“Maaf jika pinceng terpaksa harus melepaskan serangan balasan!”

Ditengah pembicaraan tersebut, telapak tangan kanannya segera disilangkan didepan dada, lalu dengan jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya, ia totok jalan darah kematian di kening kakek berjubah hijau itu dari tempat kejauhan.

Kakek berjubah hijau itu segera merasa bahwa posisi ini betul-betul sempurna dalam penyerangan maupun pertahanan, sama sekali tak dijumpai titik kelemahan barang secuwilpun yang bisa dimanfaatkan, ibaratnya sebuah dinding yang terbuat dari baja, pertahanan itu sungguh-sungguh amat sulit untuk ditembusi.

Melihat itu, sambil tertawa segera katanya.

“Aku lihat hanya kau serta Hoa Thian-hong, dua orang yang masih sanggup menerima beberapa jurus seranganku!”

Telapak tangan kanannya segera di dorong ke depan, belum mencapai setengah jalan tiba-tiba ditarik kembali, tangan kirinya berputar kencang, berbarengan dengan gerakan telapak tangan kanannya segera dibacok ke bawah dengan kecepatan luar biasa.

Terdengar suara retakan keras yang memekikkan telinga berkumandabg memecahkan keheningan, belum lagi serangannya di lancarkan, kekuatannya sudah cukup menghancurkan batu karang, hawa pembunuhan yang menyelimuti angkasa sungguh menciutkan hati orang. “Omintohud………!” Goan cing taysu berseru memuji keagungan sang Buddha, tanpa merubah gerakan tangan kanannya, telapak tangan kirinya dibalik lalu dilontar kan ke depan.

Berbicara soal taraf kepandaian silat, maka kepandaian yang dimiliki kedua orang ini boleh dikata sudah mencapai puncak yang tertinggi, belum tentu bisa ditemukan dua tiga orang di dunia ini yang sanggup manandingi kehebatan mereka, tanpa terasa semua orang memusatkan segenap perhatiannya untuk mengikuti jalannya pertarungan itn, siapa tahu dari sana dapat menarik manfaat yang berguna bagi diri sendiri.

Namun dalam kenyataannya, ternyata serangan serangan yang dilancarkan kedua orang itu tidak sama seperti jago lihay lainnya yang bergerak secepat kilat, semua gerakan yang mereka gunakan pada hakekatnya seperti orang yang baru belajar ilmu silat, bukan saja tiada sesuatu yang hebat, tidak pula mengandung kekuatan yang luar biasa, sebagian jago yang berilmu cetek diam-diam merasa kecewa sekali, dianggapnya pertarungan itu tidak lebih jelek dari pertarungan kampungan.

Hanya beberapa bagian saja dari kawanan jago tersebut yang betul-betul menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki kedua orang ini telah mencapai tingkatan yang tak terhingga.

Justru dibalik sederhanaan kebiasaan dari gerakan mereka, tersimpan sesuatu perubahan yang luar biasa.

Jangan dianggap jurus-jurus serangan mereka sederhana dan tiada sesuatu yang bagus dilihat, padahal ppertarungan semacam ini ini justru amat sulit dilakukan oleh setiap manusia. Sebab disamping harus berjaga-jaga terhadap perubahan jurus serangan berikutnya dari lawan, merekapun harus mencari titik kelemahan ditubuh musuh untuk mempersiapkan serangan berikutnya, akal pikiran mereka sedikit saja bercabang maka akibatnya akan menyangkut keselamatan jiwa mereka, itu berarti selain beradu pengetahuan dalam ilmu silat, merekapun beradu tenaga dalam, kecer dasan serta pengalaman.

Ketika pertarungan mencapai jurus yang ke sembilan, seperminum teh sudah lewat tanpa terasa.

Mendadak terlihatlah kakek berjubah hijau itu melepaskan sebuah pukulan ke udara, kemudian dengan cepat mundur kebelakang.

Semua orang menjadi keheranan mereka tak habis mengerti kenapa sebelum genap sepuluh jurus ia telah menarik serangannya sambil mundur?”

Tiba-tiba Goan cing tasyu berkata, “Selama ini kita tiada perselisihan apa-apa, mengapa sicu begitu kemaruk ingin mencari kemenangan?”

Kakek berjubah hijau itu hanya membungkam diri dalam seribu bahasa, tubuhnya tegak sekokoh karang, rambutnya dan jubahnya tanpa angin mulai bergerak-gerak, lalu kian lama kian menggembung menjadi sangat besar….

Ketika memperhatikan kembali keadaan Goan cing taysu, tampaklah pendeta itupun berdiri dengan wajah serius, tubuhnya secepat angin bergerak kian kemari mengambil langkah Lak cap si kwa, makin bergerak semakin cepat sehingga pada akhirnya hampir seluruh bayangan tubuhnya tak tampak jelas, yang ada hanya seekor naga berwarna abu- abu yang berputar tiada hentinya. Semua orang tahu bahwa perbuatan kedua orang itu bukan cuma bergurau belaka, melainkan merupakan suatu pertarungan terakhir yang telah mengerahkan segenap kepan daian yang dimiliki.

Suasana menjadi tegang, semua orang mengalihkan perhatiannya ke tengah arena dan melotot dengan mata terbelalak serta mulut melongo.

Coa hujin serta Coa Wi-wi paling tegang dibandingkan dengan yang lain, hampir saja jantung mereka melompat keluar dari dalam rongga dadanya….

Siapa tahu, setelah saling bertahan sekian waktu, tiba-tiba kakek berjubah hijau itu menghela napas panjang, gelembung pada ju bahnya makin lama semakin mengimpis dan akhirnya pulih kembali seperti sedia kala, belum lagi helaan napasnya habis, mendadak ia tertawa terbahak-bahak pula.

Mendadak Goan cing taysu menghentikan pula gerakan tubuhnya, kemudiann sambil merangkap tangannya memberi hormat ia berkata, Atas kesediaan Lo sicu menarik kembali serangannya disaat mara bahaya telah mengancam, terlebih dulu pinceng ucapkan banyak-banyak terima kasih.

Kau tak usah berterima kasih!! jawab kakek berjubah hijau itu dengan dingin, “oleh karena lohu tak yakin untuk membunuhmu dalam sebuah serangan yang terakhir ini, maka sengaja kubatalkan niatku tersebut……”

Setelah berhenti sebentar, ia menambahkan, “Memandang pada kemampuanmu untuk menyambut sepuluh jurus seranganku ini apa yang ingin kau katakan sekarang boleh kau utarakan!! Diam-diam Goan cing taysu berpikir.

“Bila Kok See-piau mempunyai orang ini sebagai tulang punggungnya, ibarat harimau yang tumbuh sayap, tak heran ia berani menantang keluarga Hoa, aai…..! Lolap saja tak sanggup menaklukan dirinya, terpaksa aku musti mencari akal lain……”

“Berpikir sampai disini, pelan-pelan iapun berkata, “Sebenarnya disebabkan karena apakah Lo sicu muncul kembali didalam dunia persilatan?”

Sambil tertawa jawab kakek berjubah hijau itu berkata.

Adapun kemunculan lohu kali ini adalah khusus untuk mencari gara-gara dengan keluarga Hoa dan sekarang ditambah pula dengan keluarga Coa kalian. Nah hwesio cilik, sudah puas?”

Goan cing taysu segera mengerutkan dahi nya rapat-rapat. “Sebetulnya ada dendam atau sakit hati apakah yang

pernah terikat antara lo sicu dengan keluarga Hoa serta keluarga Coa kami?

Haaahh…haahh….haaahhh…lohu datang ke mari oleh karena mendapat undangan dari orang, walaupun sampai pecah bibirmu berbicara, jangan harap bisa merubah jalan pemikiranku, sebab percuma saja……”

Goan cing taysu menjadi kewalahan dan tak bisa berbuat apa-apa, mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, katanya kemudian, “Baiklah urusan itu lebih baik tak usah disinggung kembali, sekarang pinceng ingin mencoba untuk menebak asal usul lo sicu!” Kakek berjubah hijau itu segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…..haaahh……haaah……masa kau bisa menebak asal usulku? Lohu tidak percaya!”

“Apa salahnya kalau sicu mendengarkan dugaanku ini?” Kakek berjubah hijau itu segera tersenyum.

“Baiklah, katakan! Akan lohu dengarkan… ”

Setelah termenung sebentar, Goan cing taysu berkata, “Jurus pertama yang sicu pergunakan agaknya adalah perubahan gerak dari ilmu Ji im jiu (tangan sakti pembuyar awan) dari bukit Mao san, hanya gerakan tersebut jauh lebih disempurnakan”

Kakek berjubah hijau itu segera manggut-manggut. “Ehmm!, kau bisa melihat asal dari kepandaianku, betul-

betul tajam penglihatanmu itu”

Goan cing taysu tersenyum, kembali katanya, “Gerakan kedua adalah ilmu Kim kong ciat eng, jurus ketiga adalah… ”

“Kau bisa mengenali kepandaianku, hal ini sudah merupakan suatu hal wajar” tukas kakek berjubah hijau itu, “tapi jika kau ingin menebak asal usul lohu dengan cara demikian, hmm! Jangan mimpi disiang hari bolong……”

Goan cing taysu tersenyum, kembali ia berkata. “Semua kepandaian yang sicu gunakan, sebagian besar

justru merupakan ilmu paling lihay diri pelbagai perguruan, dari sini lah dapat diketahui asal usul sicu yang sebenarnya, cuma saja……. “Cuma saja kenapa?”

Dengan wajah serius Goan cing taysu berkata, “Setelah mengalami penyempurnaan pada jurus yang pertama, maka jurus itu boleh dibilang sudah termasuk ilmu silat aliran Kiu ci kiong, apalagi sejak jurus keatas, hakekatnya semua gerak serangan itu merupakan jurus jurus ciptaan terbaru dari aliran Kiu ci kiong”

Mendengar perkataan itu, mencorong sinar tajam dari balik mata kakek berjubah hijau itu ditatapnya wajah Goan cing taysu lekat-lekat, kemudian tegurnya, “Masih ada yang lain?”

“Pinceng terlalu bodoh, yang lain aku tak berhasil untuk mengenalinya dengan tepat”

Mendengar sampai disitu, diam-diam kakek berjubah hijau itu berpikir, “Ilmu silat aliran Kiu ci kiong belum pernah diwariskan ke dunia luar, darimana keledai gundul ini bisa mengetahui? Sekalipun jurus kesembilan tidak ia kenali, namun prestasinya sudah cukup mengejutkan hati………”

Dalam hati ia berpikir demikian, diluar ujarnya sambil tertawa, “Ehmm… tampaknya keturunan dari malaikat

silat memang tak sampai mengecewakan diriku” Kakek berjubah hijau itu tertawa.

“Hwesio cilik, anggap saja matamu cukup tajam”,

setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Tapi, menurut anggapanmu siapakah lohu?”

Pertanyaan ini segera membungkamkan diri Goan cing taysu, ia bisa mengenali aliran jurus serangan yang digunakan kakek berjubah hijau itu, lantaran ia pernah membaca isi dari tulisan yang tercantum diatas Pek giok siau ciam (batas buku batu kemala) dari istana Kiu si kiong milik Hoa In-liong.

Betul isi catatan itu hanya dilihat sepintas lalu, namun dengan dasar kesempurnaan ilmu silat yang dimilikinya, hal mana sudah terlebih dari cukup, itulah sebabnya ia kenal betul gerakan silat aliran Kiu ci kiong….

Sebaliknya tentang keadaan dari istana Kiu cing kiong sendiri, ia merasa gelap dan tak tahu, sudah barang tentu iapun tak bisa menebak asal usul dari kakek berjubah hijau itu.

Ketika dilihatnya Goan cing tasyu dibuat terbungkam, kakek berjubah hijau itu menjadi amat gembira, ia tertawa terbahak- bahak dengan kerasnya, baru saja dia akan berbicara……

Tiba-tiba terdengar Cu Im taysu yang berada dibawah telah berseru dengan lantang, “Pada dua puluh tahun berselang, pinceng pernah mendengar Ui san su hau (empat tua dari Ui san) membicarakan tentang sejarah Ciu ci sinkun serta keadaan dalam istana Kiu ci kiong, konon harta karun yang terdapat dalam istana tersebut tak terhitung jumlahnya, para jago lihay yang berada disana pun rata-rata berilmu tinggi……”

Kakek berjubah hijau itu mengalihkan sinar matanya memandang sekejap ke arah Cu Im taysu, ketika mendengar ia berkata sampai disitu. tiba-tiba menambahkan, “Jumlah seluruhnya adalah lima ratus tujuh puluh tiga orang”

Mendengar jawaban tersebut, Cu Im taysu segera berpikir, “Kalau dilihat dari kehapalannya terhadap segala sesuatu tentang istana Kiu ci ki ong, tak bisa diragukan lagi, orang ini sudah pasti salah seorang diantaranya” Berpikir demikian, diapun berkata, “Waktu itu, Kiu ci sinkun semuanya menerima tiga puluh enam orang murid, tiga puluh lima orang diantaranya ternyata berani bekerja sama untuk membunuh…..”

“Tutup mulut!” tiba-tiba kakek berbaju hijau itu membentak keras.

Dengan tenaga dalam yang dimiliki kakek berjubah hijau itu, bentakan tersebut sungguh ibaratnya guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong, mereka yang berilmu cetek seketika merasakan telinganya sakit seperti ditusuk- tusuk, setengah harian lamanya tak bisa mendengar kembali, sebaliknya mereka yang berilmu tinggi, merasakan hatinya amat tersiksa.

Semua orang tahu, kata-kata selanjutnya sudah pasti adalah, “membunuh guru sendiri menghianati perguruan”, dari sikap gusar kakek berjubah hijau sekarang itu membuktikan bahwa kakek itu sudah pasti datang dari istana Kiu ci kiong, hanya beberapa orang yang mengetahui latar belakang persoalan ini saja yang lamat-lamat mulai menebak siapa gerangan kakek berjubah hijau ini, sedang lainnya masih tetap tidak habis mengerti…..

Cu Im taysu tertawa-tawa, katanya kembali, “Seratus tahun kemudian istana Kiu ci kiong telah muncul kembali, saat itulah baru diketahui bahwa semua anggota istana telah tewas, tapi Cho Thian-hua yang merupakan murid terbuncit dari tiga puluh enam murid lainnya tak tampak ada disitu, konon Cho Thian-hua telah mampus pada usia dua puluh tahun…….”

“Keledai gundul busuk, kau berani menyumpai lohu?” teriak kakek berjubah hijau itu sambil tertawa dingin. Walaupun secara lamat-lamat Cu Im taysu telah menduga sampai kesitu, tapi pengakuan langsung dari kakek berjubah hijau itu toh sempat menggetarkan kembali hatinya.

“Jadi Lo sicu benar-benar adalah Cho Thian-hua?” tanyanya.

Kakek berjubah hijau itu tertawa angkuh. “Setiap manusia didunia ini mengatakan lohu sudah mati muda, haaahh…..haaahh…… haaahh…..siapa tahu usia lohu justru jauh lebih panjang dari siapapun juga”

Kecuali para anggota Hian-beng-kau sejak dari Seng-sut- pay, Kiu-im-kau sampai para jago dari golongan Hiap gi, tak seorangpun yang tidak merasa terkejut oleh kenyataan ini.

Haruslah diketahui, dalam anggapan umat persilatan, Cho Thian-hua adalah seseorang yang sudah mati lama sekali, tapi sekarang tahu-tahu sudah munculkan diri dihadapan umum, sudah barang tentu kejadian ini segera menggemparkan seluruh gelanggang.

Tapi hal itu masih merupakan masalah yang kedua masalah yang terutama adalah pada masa lalu oleh karena Tang Kwik- siu berhasil memperoleh kitab pusaka Thian hua cha ki milik Cho Thian-hua, tiba-tiba namanya menjadi menjadi amat tenar dalam dunia persilatan dan kini pencipta buku itu telah muncul sendiri disini, rasa curiga dan ragu-ragu tentu saja tak bisa dihindari.

Mendadak Bwe yok berbisik kepada kakek bercambang yang berada disampinrgnya, dengan ilmu menyampaikan suara.

“Ua huhoat, Kok See-piau telah merahasiakan sebagaian besar keku atan perkumpulan Hian-beng-kau yang sebenarnya, ini menandakan kalau ia tidak berhati ikhlas dalam persekutuan ini”

Kakek bercambang itu bukan lain adalah pemimpin dari Kiu im su-ciat (empat manusia sakti dari Kiu-im) yang bernama Un Yong ciau, dibawah urutan namanya adalah Tu Cu yu, Khong im serta Sik Ban cuan. Diantara empat orang ini, hanya Tu Cu yu seorang yang tidak nampak.

Dengan kening berkerut Un Yong ciau segera berbisik pula dengan ilmu menyampaikan suara.

“Lantas bagaimanakah pendapat kaucu?”

“Menurut pendapatanku, baik atau buruk kita harus bersiap sedia untuk menghadapi segala sesuatu yang tak diinginkan dari pihaknya”

“Jite telah membawa orang berjaga-jaga diluar lembah, antara Mokau dengan kitapun sudah ada persetujuan diam- diam, aku rasa sekalipun Kok See-piau mempunyai rencana busuk, tak nanti ia bisa laksanakan seperti apa yang diharapkan”

“Orang-orang Mokau tak bisa dipercaya janjinya” kata Bwe Su-yok dengan nada dingin, “apalagi menanggulangi kesusahan bersama-sama, betul Lu butoat berada diluar lembah, tapi bisakah dia mencegah begitu banyak pekerjaan?”

“Agaknya kaucu sudah memiliki keputusan yang mantap, silahkan diutarakan kepada hamba!”

Dengan sepasang matanya yang jeli, Bwe Su-yok memperhatikan terus ke barak para pendekar, ketika dilihatnya Hoa In-liong belum nampak juga, diam-diam ia lantas berpikir, “Pertemuan besar ini sangat mempengaruhi situasi dunia persilatan pada puluhan tahun selanjutnya, saat ini pula antara yang lurus dan yang sesat saling beradu kekuatan, sebagai orang yang memikul beban berat atas persoalan ini, tak mungkin ia tak datang ke sini, jangan- jangan ia sudah ketimpa musibah yang tak diharapkan?”

Saking kelamaan-nya berpikir akan hal itu, dia sampai lupa memberi jawaban.

Un Yong ciau menjadi tertegun, dia ulangi sekali lagi pertanyaan tersebut, saat itulah bwe Su-yok baru sadar dari lamunannya dan buru-buru menentramkan pikirannya.

“Bersiap-siap sajalah kalian untuk turun tangan, katanya kemudian dengan dingin.

Setelah berhenti sejenak, dia menambahkan, “Sebelum ada perintah dariku, dalam keadaan yang bagaimanapun, kalian dilarang turun tangan secara sembarangan”

“Kaucu!” kata Un Yong ciau dengan perasaan bimbang, merurut hasil persekutuan, kita tiga perkumpulan akan bekerja sama untuk membasmi para jago dari golongan Hiap gi lebih dulu, dengan demikian sisa lainnya yang menyerah akan menyerah, yang harus dibunuhpun akan dibunuh, setelah kekuasaan dunia persilatan jatuh kepihak kita, kekuatan keluarga Hoa pasti akan makin lemah, apakah menurut pendapat kaucu dalam pembasmian nanti pihak perkumpulan kita hanya akan berpeluk tangan menonton keramaian belaka?”

“Tentu saja tidak” jawab Bwe Su-yok hambar, pokoknya kalian lakukan saja setiap perintahku” Setelah mereka mengambil keputusan secara diam-diam, tampaklah Seng Tocu dan dua bersaudara Leng bou sekalian juga sedang berunding dengan suara berbisik-bisik.

Tampak Leng hou Ki berpaling sambil berkata, “Toa suheng, setelah Kok See-piau bajingan itu mempunyai tulang punggung sebebat ini, tak heran ambisinya begitu besar dan berani berniat untuk mencaplok seluruh dunia persilatan”

Seng Tocu mengalihkan sinar matanya untuk melirik sekejap Kiu im su ciat, kemudian ujarnya, “Siapa bilang cuma pihak Hian-beng-kau belaka? Semenjak perempuan bajingan dari Kiu-im-kau mengundurkan diri, sebetulnya kukira pihak mereka merupakan pihak yang terlemah, siapa tahu diantara yang kuat masih ada pula yang lebih kuat, ditinjau dari keaadaannya sekarang, sebagai pihak yang paling lemah justru adalah pihak kita sendiri”

Dengan perasaan penasaran Leng hou Ki mendengus. “Hmm, memangnya pihak kita masih lebih lemah dari pada

pikak Kiu-im-kau………?” serunya.

“Dalam persoalan ini, janganlah kau nilai sesuatu keadaan dengan emosi……” kata Seng Tocu dengan nada berat, “sebab bila kita berani bertindak secara gegabah, maka mungkin sekali hanya ada satu dua orang saja dari pihak kita yang bisa pulang kembali ke Seng-sut-pay. Makanya bila sampai terjadi pertarungan nanti pihak kita tak boleh menempatkan diri pada barisan paling depan!”

“Jadi kalau begitu, soal pembalasan dendam juga tak boleh disinggung kembali” seru Hong Liong dengan kening berkerut.

“Yaa, aku pikir hal itu memang sulit untuk dilaksanakan!” Agaknya Hong Liong serasa amat tidak puas, bibirnya sudah bergerak siap berbicara.

Tapi pada saat itulah, terdengar Cho Thian-hua telah berkata kembali, “Hwesio cilik, bila tiada urusan lain lohu akan mulai turun tangan…..!”

“Tunggu sebentar sicu!” cegah Goan cing taysu “pinceng masih ingin mengajukan sebuah pertanyaan lagi”

“Cepat diajukan! Lohu sudah amat gelisah sekali hingga seluruh badanku terasa mulai gatal!” Goan cing taysu tersenyum, katanya, “Ketua menghentikan pertarungan tadi, kenapa sicu menghela napas lebih dulu kemudian baru tertawa?”

Cho Thian-hua berpikir sebentar, lalu jawabnya, “Memberitahukan soal ini kepadamu juga tak mengapa, ketika munculkan diri untuk kedua kalinya ini, sebetulnya lohu mengira sudah tiada tandingannya lagi didunia ini, siapa tahu kau si hwesio cilik masih sanggup menandingi diriku, kejadian ini sangat diluar dugaanku, sebab itulah aku menghela napas…..”

“Tapi jika berbicara dari orang-orang yang lain didunia ini, ternyata mereka tak mampu menahan sebuah pukulanmu, hal ini sangat menggembirakan hatimu, maka kau tertawa terbahak-bahak, bukankah demikian?” sambung Goan cing taysu dengan cepat.

Mendengar perkataan itu, Cho Thian-hua segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Haahh……haaahhh…….haaahhh……bagus, bagus sekali, Goan cing, kau memang pantas menjadi tandinganku” “Terima kasih atas pujian dari sicu!”

Tiba-tiba Cho Thian-hua mandengus dengan suara dalam, katanya lagi, “Goan cing, kau jangan keburu merasa bangga lebih dahulu, bila berlangsung suatu pertarungan jarak lama, sudah dapat dipastikan kemenangan berada dipihakku.”

Goan cing taysu tertawa hambar.

“Sicu memiliki ilmu silat yang luar biasa hebatnya, tentu saja pinceng ketinggalan jauh sekali, tapi didunia ini masih ada orang yang sanggup menandingi kepandaian itu”

“Hmmm, kau maksudkan Hoa Thian-hong?” jengek Cho Thian-hua sinis, ketika muncul kembali ke dalam dunia persilatan kali ini, akupun mendengar setiap orang menyanjung-nyanjung dirinya setinggi langit, padahal dasar terpenting dari ilmu silat adalah kesempurnaan dalam tenaga dalam yang sudah mencapai seratus dua puluh tahun hasil latihan ini…….? Hmm!”

Tiba-tiba Coa Wi-wi mendengus dingin.

“Hmm….!” Berlagak sok, tidak pandang sebelah mata kepada orang lain, rasain kalau dikeokkan orang”

Cho Thian-hua segera mengalihkan sorot matanya dan memperhatikan beberapa kejap diri Coa Wi-wi, sekalipun dia adalah seorang gembong iblis yang lihay, bagaimanapun juga usianya sudah terlalu lanjut, dia sendiri pun tak tahu sampai kapan kehidupannya ini akan berlangsung.

Dalam suasana begini, ia merasakan juga dirinya yang sebatang kara dan hidup tanpa sanak keluarga itu. Betul selama ini, rasa kesepian tersebut masih dapat diatasi, akan tetapi setelah bertemu dengan Coa Wi-wi yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, terutama sikap polosnya yang manja dan menyenang kan itu, dengan cepat mendatangkan perasaan simpatik dan senang dihatinya yang tua, sebab itulah bukan saja ia tidak menjadi gurar oleh sindiran-sindiran si nona, sebaliknya makin dilihat semakin tertarik dan senang.

Akhirnya karena tak tahan, diapun berkata dengan lembut, “Coa Wi-wi, jika kau bersedia menganggap lohu sebagai ayah angkatmu, lohu jamin kau pasti akan menjadi seorang jago paling lihay dalam dunia ini”

“Huuh… ! Kau sendiri saja bukan seorang jago lihay yang

tiada tandingannya di kolong langit, mana mungkin bisa mendidik orang lain menjadi seorang jagoan yang paling hebat didunia?” ejek Coa Wi-wi sambil mencibirkan bibirnya.

Mendengar perkataan itu, Cho Thian-hua segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…..haaahhh……..haah… jika kau tak percaya,

tanya saja kepada kongkong mu!”

Dengan wajah serius Goan cing taysu berkata, “Pinceng mengakui bahwa diriku memang bukan tandingan mu. Hoa tayhiap berbakat bagus dan berilmu jauh diatas diri pinceng, belum tentu sicu dapat menandinginya, cuma yang pinceng maksudkan bukanlah Hoa tayhiap, melainkan sesorang yang lain”

“Siapa?” tanya Cho Thian-hua dengan sepasang alis matanya berkenyit. “Menurut dugaan pinceng hari ini orang tersebut pasti akan tiba disini, jika lo sicu mempunyai kegembiraan, silahkan saja menunggu beberapa waktu lagi”

Cho Thian-hua kembali tertawa.

“Sebenarnya lohu ingin segera turun tangan melawanmu tapi setelah mendengar perkataanmu itu timbul rasa ingin tahu dalam hatiku, ingin kukelahui malaikat darimanakah yang kau maksudkan itu? Heeeh…..heeeh……heeeh……sekalipun perbuatanmu itu hanya suatu siasat untuk menunda waktu, akupun merasa rela”

Lalu kepada Coa Wi-wi katanya pula sambil tartawa, “Budak cilik, persoalan kita lebih baik dibicarakan pula nanti saja!”

“Bagaimana jika kau yang kalah!” seru Coa Wi-wi.  Cho Thian-hua tertegun, lalu sahutnya sambil tertawa,

“Aaah…! Hal ini tak mungkin terjadi” Coa Wi-wi gelengkan kepalanya berulang kali. “Suatu kejadian kemungkinan besar bisa terjadi manapun, aku lihat lebih baik kau mengambil keputusana lebih dulu, dari pada sampai waktunya malu untuk turun dari panggung!”

“Baiklah” kata Cho Thian-hua kemudian sambil tertawa, “asal ada orang sanggup bertarung seimbang denganku, soal penerimaan murid tentu saja tak akan dibicarakan lagi, selain itu lohu akan menghadiahkan pula sebuah benda untukmu”

“Kalau sudah kalah bertarung nanti jangan mungkir lho!” teriak gadis itu keras-keras.

Cho Thian hoa mengerutkan dahinya, ia hendak marah rupanya, tapi senyum getir segera tersungging diujung bibirnya. “Budak cilik, kau anggap aku sebagai manusia apa?

Memangnya seperti bocah cilik saja seperti kau?”

Seraya berkata ia putar badan dan melayang turun dari tangga istana…..

Mendadak terdengar Ci wi siancu tertawa dingin, kemudian serunya, “Cho loji, sekarang ku suruh kau merasakan kelihaiyan dari kami anggota perguruan Kiu tok sian ci!”

Waktu itu Cho Thian-hua sudah sampai ditengah jalan, mendadak paras mukanya berubah hebat, cepat-cepat tubuhnya menyingkir sejauh enam tujuh kaki dari posisi semula, setelah melirik sekejap ke arah Biau-nia Sam-sian dengan perasaan gemas, ia pejamkan matanya dan berdiri ditempat sambil mengatur pernapasan.

Sebagai manusia-manusia yang sudah terbiasa berwatak tinggi hati, apalagi selama mengandalkan ilmu beracun dari wilayah Biau belum pernah mengalami kegagalan, peristiwa memalukan yang hampir saja merenggut nyawa mereka bertiga ini membuat Biau-nia Sam-sian menjadi malu bercampur gusar.

Semenjak tadi mereka sudah bertekad untuk membalas dendam atas sakit hati itu, tapi sayang tenaga dalam yang dimiliki Cho Thian-hua terlampau tinggi, bukan suatu pekerjaan yang gampang buat mereka untuk meracuni jago tersebut.

Lan hoa siancu yang cerdik segera mendapat akal bagus, secara diam-diam ia memasang kembali tiga lapis racun jahat disekitar beranda istana, ia menduga Cho Thian-hua yang bisa masuk ke istana dengan gampang, pasti akan berlalu pula dari situ dengan gegabah, betul juga ternyata kakek sakti itu segera termakan oleh siasat mereka.

Apa yang dikatakan Lan hoa siancu sebagai delapan belas lapis racun seperti yang diucapkan tadi, sebetulnya hanya omong kosong belaka tapi dalam kenyataan ia memang sudah memasang lima lapis racun disana, walaupun tidak sehebat racun Kiu-tok-ciang, namun termasuk juga racun-racun yang luar biasa hebatnya.

Siapa tahu dengan sangat mudahnya Cho Thian-hua berhasil melewati tempat itu secara gampang, maka ketiga macam racun yang disebarkan kali ini semuanya merupakan racun-racun yang diciptakan belakangan ini. kehebatannya tidak berada dibawah kehebatan racun Kiu-tok-ciang, apalagi dipergunakan bersama, kelihayannya benar-benar mengerikan.