Neraka Hitam Jilid 12

Jilid 12

Hoa Ngo tertegun, lalu sahutnya, “Benar! Apakah keliru?

Kan to so yang mengajarkan aku berbuat demikian…..?”

Sebenarnya tidak salah, cuma tenaga dalam yang dimiliki musuh agaknya jauh lebih lihay darinya, pihak lawan tampaknya tidak bermaksud merenggut jiwanya tapi cuma melukai isi perutnya belaka, mengakibatkan peredaran darahnya mengalir balik dengan menyumbat Sau ha pit dan Say yang sam-ciau ji kengnya, coba kalau waktu itu kau paksa darah itu muntah keluar, kemudian menotok jalan darah Han bun dan Thian cwan guna menantikan pengobatan, banyak kesulitan yang tak diinginkan bisa dielakan. Tam Si-bin yang mendengarkan penjelasan itu, diam-diam berpikir, “Kalau didengar dari penuturannya barusan, ilmu pertabiban yang dimilikinya memang sangat hebat.”

Sementara itu Pek Soh-gi telah mengeluarkan sebuah botol porselen dan mengambil tiga biji pil berwarna merah yang harum semerbak, tapi pil itu tidak dimakankan ke Yu Siau lam, sebaliknya sambil mengeluarkan segenggam jarum emas, katanya, “Ngo te, bimbinglah ia bangun, bebaskan jalan darahnya dan tembusi peredaran darah yang menembusi Sau- im-sim-keng dan Cui-im-sim-pao-keng yang ada ditangan kanan-nya, kemudian nantikan perintahku selanjutnya”

Hoa Ngo menurut dan segera membebaskan jalan darah im-bun dan tiong-hu niat ditubuh Yu Siau lam, lalu menggenggam tangan kanannya dan diam-diam menyalurkan hawa murninya ketubuh pemuda itu.

Pek Soh-gi mengayunkan tangannya berulang kali, belasan batang jarum emas itu segera menancap didalam jalan darah pada dada dan lambung Yu Siau lam, kemudian tanpa berpaling ia berkata, “Bukankah Tam locianpwe telah berhasil menguasahi ilmu Kui goan sinkang dari partai anda?”

Sambil tertawa Tam Si-bin gelengkan kepalanya berulang kali.

Yaa, sedikit ilmu simpananku ini tampaknya memang tak bisa dirahasiakan lagi, pepatah bilang: Siapa yang tampaknya hebat dia belum tentu hebat, harap hujin memberi perintah saja.

“Hei, Kui goan sinkang itu termasuk ilmu sakti macam apaan?” tiba tiba Ho Kee-sian berseru sambil tertawa, “wah, agaknya ilmu silat yang dimiliki Tam loji jauh diatas ke pandaian lohu!” Rasa ingin menangnya masih tertera jelas dibalik ucapannya itu.

Terdengar Pek Soh-gi berkata, “Locianpwe, harap kau gunakan hawa murnimu untuk melindungi nadi Yu sauhiap!”

“Ngo te, gunakan tenaga sebesar tiga bagian untuk memukul jalan darah Tiong tay Liatnya, hati-hati, kurang sedikit saja bisa mengakibatkan hilangnya nyawa Yu sauhiap”

Koa Ngo menurut dan menepukkan telapak tangannya diatas jalan darah Tiong tay hi-at…….

Yu Siau lam yang sadarkan diri, tiba-tiba muntahkan segumpal darah kental berwarna merah kehitam-hitaman.

Dengan tanpa menggubris rasa kotor lagi, Pek Soh-gi menjejalkan obat yang telah dipersiapkan itu ke dalam mulutnya, kemudian sambil menghembuskan napas lega katanya, “Setelah darah kental yang menyumbat peredaran darah ini bisa dimuntahkan keluar, keadaan sudah tidak berbahaya lagi, sekarang kalian berdua boleh menarik kembali telapak tangan masing-masing”

Kemudian ia sendiripun mencabuti jarum-jarum emasnya.

Tiba-tiba terdengar Yu Siau lam merintih lalu gumamnya dengan suara yang masih kabur, “Ayah…… ibu… ”

Pek Soh-gi merasa hatinya bergetar! pelan-pelan ia menotok jalan darah tidurnya, maka terlelaplah Yu Siau lam dalam tidur yang amat nyenyak.

Selesai melakukan pengobatan, mereka bertiga membiarkan Yu Siau lam tetap terbaring diatas pembaringan, sementara mereka sendiri kembali kemeja perjamuan. Tiba- tiba Hoa Ngo berseru, “Toa so, ujung bajumu!”

Ketika Pek Soh-gi mengangkat ujung bajunya, maka terlihatlah pada ujung bajunya yang putih bersih telah ternoda oleh darah, saking memusatkan segenap perhatiannya untuk memberi pengobatan, ternyata ia sampai tidak merasakan akan hal itu.

Maka sambil tersenyum ia merobek bajunya itu sambil berkata, “Sekarang kita sebagai tamu orang, yaa, terpaksa hanya bisa berbuat demikian saja” Diam-diam Tam Si-bin merasa kagum, katanya sambil tertawa, “Sebagai sesama rekan sealiran, rasanya lohu pun tak usah berterima kasih lagi kepadamu!”

“Seharusnya memang demikian” kata Pek Soh-gi tertawa, kemudian sambil berpaling ke arah Hoa Ngo katanya lebih jauh, Ngo te aku tebak kaulah yang melepaskan api, ternyata dugaanku tak keliru”

“Aaah…….masa enso masih menganggapku sebagai seorang bocah cilik yang nakal?” ujar Hoa Ngo sambil tertawa.

“Kalau begitu anak Liong?”

Kembali Hoa Ngo gelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Aku sama sekali tak tahu kemana perginya anak Liong.

Enso kau melihat aku pulang dengan membawa seorang yang setengah mati, kenapa tidak kau duga kalau perbuatan ini adalah hasil karyanya?”

Tam Si-bin menghela napas panjang, “Ayah ibu Yu sudah kena culik oleh Hian-beng-kau” ujarnya, “aku pikir ia pasti berusaha menolongnya dengan menggunakan kesempatan ini, maka ia lepas api untuk membakar rumah, aaai…….nyali bocah ini memang terlampau besar”

Hoa Ngo manggut-manggut ujarnya, “Ia beserta beberapa orang anak muda lain yang menamakan dirinya sebagai Kim leng ngo kongcu, dengan membawa beberapa orang pemuda lagi yang bernama Kongsua Peng, Oh Keng bun, sekalian beberapa orang, ternyata dengan amat berani menerbitkan keonaran dalam markas besar perkumpulan Hian-beng-kau, coba kalau bukan pihak Hian-beng-kau ingin menangkap mereka hidup-hidup, sebelum aku dan Ko toako tiba, niscaya mereka sudah tewas semenjak tadi. Mengingat dia adalah seorang anak yang berbakti maka ketika melihat dia terluka aku berusaha untuk menolongnya….”

Kemana perginya pemuda pemuda yang lain?” tukas Pek Soh-gi.

Hoa Ngo menghela napas panjang, sahutnya, “Setelah menahan serangan mereka sejenak aku dan Ko toako lantas memisahkan diri, ditengah jalan aku bertemu dengan Bong toako yang menyuruh aku membopongnya datang kemari untuk minta pengobatan dari toaso, jadi bagaimana kah nasib yang lain, terpaksa harus menunggu sampai Bong toako kembali nanti”

Selesai berkata ia mengangkat cawan dan menegak isinya sampai habis, wajahnya murung dan kesal agaknya seperti lagi menyesali ketidak becusan dirinya.

Dengan wajah sedih, Pek Soh-gi berbisik pula, “Kalau dilihat perjuangan mereka untuk membela teman, jelas pemuda-pemuda itu adalah kawanan pemuda berjiwa ksatria, semoga saja mereka jangan sampai tertimpa musibah” 0000O0000

Setelah berjumpa dengan Hoa Ngo dan menitahkannya berangkat keruang penerima tamu untuk mencari istrinya dan menolong jiwa Yu Siau lam, Bong Pay melanjutkan perjalanannya menuju ketempat kejadian.

Ketika makin mendekati tempat peristiwa, dibawah sinar api yang terang benderang tampaklah para anggota Hian- beng-kau berbaris sepuluh orang satu regu sedang berusaha keras menanggulangi kebakaran yang sedang terjadi.

Yang menyimpan air menyiram, yang membongkar reruntuhan membongkar, semuanya dilakukan secara tertib dan teratur, sedikitpun tidak tampak kalut atau bingung.

Melihat hal mana, kembali ia berpikir, “Hian-beng-kau memang suatu kelompok manusia yang terorganisir, agaknya jika kelompok ini tidak teratasi sebaik-baiknya, dikemudian hari pasti akan merupakan bibit bencana yang besar bagi umat persilatan”

Disekeliling tempat kebakaran itu terjadi, bayangan manusia bagaikan lautan, meteka terdiri dari orang-prang Hian-beng-kau, Mokau, kui im kau serta para jago persilatan yang datang memenuhi undangan, suasana hiruk pikuk dan gaduh sekali.

Tindakan yang dilakukan pihak Hian-beng-kau sungguh amat cepat, apalagi sebagian besar terdiri dari jago-jago lihay, pekerjaan yang mereka lakukan, puluhan kali lebih hebat daripada orang lain.

Ternyata kebakaran itu terjadi diseleretan gudang barang, dengan begitu korban manusia bisa dihindari. Dalam suatu kerja sama yang erat, dalam waktu singkat kebakaran bisa diatasi dan rumah yang belum terbakar pun bisa diselamatkan.

Ditepi tempat kebakaran itu berlangsung berdiri seorang Imam tua berjubah panjang yang memelihara jenggot, disisinya berdiri Toan bok See liang serta sekawanan jago dari Hian-beng-kau, rupanya ia seba gai pemimpin rombongan disitu.

Setelah berpikir sejenak, Bong Pay segera mengenali orang itu sebagai wakil kaucu dari Hian-beng-kau yang bernama Go Tang cuan.

Tampaklah disampingnya menggeletak tiga orang pemuda, rupanya jalan darah mereka sudah tertotok, Bong Pay lantas berpikir.

“Mereka sudah pasti adalah satu komplotan dengan Yu Siau lam, sebetulnya aku harus menolong mereka, tapi sekarang kawanan jago lihay dari Hian-beng-kau perkumpulan semua disini, lebih baik jangan dilakukan tindakan ceroboh yang bisa mengakibatkan melukis harimau tidak jadi malah munculnya anjing.

Bila peristiwa ini berlangsung dimasa lampau, dengan waktunya itu niscaya ia sudah menerjang kemuka kendatipun tahu kalau perbuatan tersebut bisa mengakibatkan kematian, tapi sekarang setelah termenung sebentar, ja bertekad untuk mencari bantuan lebih dulu, kemudian baru memaksa pihak Hian-beng-kau untuk melepaskan orang, bila mana perlu pertarungan sengit pun boleh jadi akan dilangsungkan.

Setelah berpikir sampai disitu, sebenarnya ia siap meninggalkan tempat tersebut, pada saat itulah tiba-tiba muncul seorang pemuda tinggi besar yang bermata gede dari balik hutan. Begitu munculkan diri, dengan suara lantang segera teriaknya, “Hei manusia she Go, hayo kita langsungkan pertarungan lagi!”

Go Tang cuan berpaling, lalu mendengus dingin, jengeknya sinis, “Bocah keparat, dengan susah payah kau berhasil melarikan diri, mau apa datang kemari lagi? Cari mati?”

Toan bok See liang yang berada disampingnya, cepat-cepat berbisik, “Hu kaucu, bocah keparat ini datang kemari pasti dikarenakan ada yang mem “baking” dirinya…..

Go Tang cuan manggut-manggut. “Ehmm, memang bisa jadi demikian” Sementara itu kawanan jago Hian-beng-kau tak ada yang turun tangan karena belum mendapat perintah dari Hu kaucunya.

Dengan langkah lebar, pemuda itu lansung menuju kehadapan Go Tang cuan dan berhenti lima kaki dihadapannya, setelah berhenti, katanya, “Orang she Go, Coa kongcu mu datang kemari khusus mencari kau, berani tidak berduel denganku?”

Go Tang cuan tidak menggubris tantangan tersebut, dengan sorot mata tajam ia menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, ketika menjumpai kehadiran Bong Pay, ia tertawa dingin.

Tiba-tiba muncul seorang pemuda berpakaian ringkas warna hijau dari kerumunan para jago, kemudian bentaknya keras-keras.

“Coa Cong gi, rupanya kau sudah bosan hidup!” Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan. Coa Conggi maju ke depan menyongsong datangnya ancaman tersebut, katanya, “Bagus sekali! Membunuh kau Ciu Hoa lo sam lebih dulupun sama saja!”

Telapak tangannya berputar kencang, dalam waktu singkat kedua orang itu sudah bertarung puluhan jurus banyaknya.

Tiba-tiba Coa Cong gi membentak keras, kepalanya langsung meninju ke depan.

Sodokan tinju yang menyambar ke depan secara tiba-tiba ini, boleh dibilang merupakan suatu serangan yang indah dan luar biasa sekali, karena tak sempat menghindarkan diri, terpaksa Ciu Hoa losam harus menerima serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Coa Cong gi membentak keras, secara beruntun ia lepaskan lima buah pukulan, bahkan pukulan yang satu lebih hebat daripada pukulan yang lain.

Begitu kehilangan posisi baiknya, terpaksa Ciu Hoa losam harus menyambut semua pukulan itu dengan keras lawan keras.

“Blang, blang, blang, Blang!” ditengah benturan-benturan keras yang memekikkan telinga, Ciu Hoa losam terdesak mundur berulang kali, peluh sebesar kacang membasahi jidatnya, ia makin kepayahan untuk menghadapi ancaman tersebut.

Sekeliling gelanggang penuh dengan anggota Hian-beng- kau, tentu saja mereka tak senang melihat Coa Cong gi menunjukkan kehebatannya, maka ketika dilihatnya Ciu Hoa losam terdesak hebat dan sebentar lagi bakal kalah, seorang jago lihay dari Hian-beng-kau segera terjun ke arena sementara beberapa jago-jagonya mengadakan pengepungan.

Coa Cong gi sedikitpun tidak jeri, sambil melangsungkan terus pertarungannya, ia mengejek sambil tertawa, Rupanya pihak Hian-beng-kau mau mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak?

Waktu itu Bong Pay merasa jejaknya sudah konangan, maka dia tampil ke depan secara terang-terangan, Sewaktu dilihatnya Coa Cong gi memiliki watak yang mencocoki seleranya, tak lama lagi segera serunya dengan lantang, Saudara cilik, hantam terus!”

Dalam menghadapi pertarungan sengit semacam itu, Coa Cong gi tak sempat untuk menengok ke samping, maka ia bertanya, “Cianpwe, siapakah kau?”

“Bong Pay dari Hwi im!”

Go Tang cuan mendegus dingin, pelan-pelan ia maju ke depan, lalu sambil ulapkan tangannya ia membentak, “Semuanya mundur!”

Seluruh anggota perkumpulan Hian-beng-kau berikut mereka yang sedang bertempur, bersama-sama mengundurkan diri kebelakang.

“Hu kaucu, apakah kau hendak turun tangan sendiri? Bagus sekali bentak Coa Cong gi dengan suara lantang.

Go Tang cuan tertawa dingin, ia menyapu sekejap sekeliling gelanggang, kemudian katanya, “Kau adalah manuusia rendah yang melepaskan api, manusia pengecut seperti kau kenapa musti membicarakan lagi tentang soal peraturan dunia persiltan?” Ucapan sebut jelas ditunjukkan untuk didengar oleh semua umat persilatan yang ada disekitar sana, setelah berhenti sejenak, katanya kembali.

Hari ini lohu pasti akan membuat kau merasa puas, dalam tiga puluh gebrakan aku akan menangkapmu hidup-hidup, jika kau bisa melewatkan ketiga puluh gebrakan ini, kuanggap nasibmu masih mujur dan kau boleh pergi dari sini.

Hmm! Apa kau bilang?” seru Coa Cong gi sambil melotot besar, sebelum kau lepaskan empek Yu dan sahabat- sahabatku, sekalipun diusir, aku juga tak akan pergi!”

Go Tang cioa tertawa seram.

Hmm…. apa sulitnya jika kau mengingginkan itu, cuma kau musti menyambut dulu tiga puluh jurus seranganku”

“Baik, kita terpaksa dengan sepatah kata ini!” teriak Coa Cong gi dengan lantang.

Bong Pay merasa kagum sekali dengan sang pemuda yang ibaratnya anakan harimau yang tak punya rasa takut ini, tapi iapun cukup mengetahui manusia macam apakah lawannya, maka sambil melangkah ke depan dan terbahak bahak, ia berkata, “Haaahhh….haaahhh……haaahhh……masa Hu kaucu dari Hian-beng-kau yang punya nama besar beraninya cuma menganiaya seorang boanpwe dari angkatan muda!”

Go Tong cuan segera tertawa dingin. “Heehhh…..heehhh….heehhh….. jadi Bong tayhiap juga

ingin melibatkan diri didalam air keruh ini…..” “Anak Gi, besar amat nyalimu, hayo cepat mundur!” tiba- tiba seorang perempuan menegur.

Ketika mendengar suara itu, tanpa terasa semua orang berpaling ke arah mana berasalnya suara tersebut.

Dari balik hutan pohon siong, pelan-pelan muncul seorang perempuan cantik setengah umur, wajahnya ayu dan sikapnya anggun, membuat siapapun tak berani sembarangan memandang kearahnya.

Selintas lalu nyonya setengah umur itu kelihatan seperti lagi berjalan dengan pelan, tapi jarak antara hutan sampai ke arena yang dua puluh kaki lebih itu ternyata hanya dilewati dalam beberapa langkah saja.

Tahu-tahu ia sudah tiba dihadapan Go Tang cuan dengan santai, padahal dengan jelas semua orang melihat perempuan itu melangkah dengan amat lambatnya.

Demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang sangat lihay itu, kontan saja menggetarkan hati setiap orang yang ada dalam arena, suara gaduh seketika sirap dan semua orang sama- sama mengawasi perempuan cantik itu sambil menduga asal usulnya.

Terdengar Coa Cong gi berteriak dengan penuh kegirangan, “Ibu, kenapa sampai sekarang kau baru tiba?”

Nyonya cantik itu hanya tersenyum, lalu memberi hormat kepada Bong Pay, ia tidak berbicara pun tidak menjawab, hanya sepasang matanya yang tajam menatap lekat-lekat wajah Go Tang cuan.

Diam-diam terkesiap juga Go tang cuon setelah bertemu dengan nyonya cantik itu, segera pikirnya, Ternyata dia adalah ibunya Coa Cong gi, keluarga Coa ternyata memang musuh tangguh dari perkumpulan kami, cuma…. Hmm! Sekalipun tenaga dalammu lebih hebatpun, pihak kami tetap punya cara untuk membunuh kalian semua ditempat ini…”

Sementara dalam hati ia berpikir demikian, di luar ujarnya, Oooh…. kiranya Coa hujin yang telah datang, dengan kemunculan dari keturunan Bu seng dalam dunia persilatan, agaknya ada sesuatu karya besar yang hendak dilakukan”

Bersama dengan berkumandangnya ucapan tersebut, suara bisik-bisik segera meramaikan suasana dalam arena, kian lama suara bisik-bisik itu kian bertambah keras sehingga akhirnya berubah menjadi suara pembicaraan yang gaduh.

Dengan suara hambar Coa hujin atau Swan Bun sian segera berkata, Menurut peraturan keluarga, sebenarnya keluarga kami sudah lama mengundurkan diri dari dunia persilatan, kali ini terpaksa kami muncul kembali dalam dunia persilatan, tak lain hanya ingin mencari jejak suami ku yang sudah lama hilang, jadi berbicara sebenarnya, aku tidak bermaksud untuk melakukan apa-apa”

Setelah berhenti sejenak, katanya kembali, “Dengan memberanikan diri Swan Bun sian ingin mengajukan sebuah permohonan kepadamu, entah bersediakah kau untuk mengabulkannya?”

Go Tang cuan melirik sekejap ke arah tiga orang pemuda yang bergeletak ditanah itu, kemudian sahutnya, “Apakah persoalan yang menyangkut beberapa orang pelepas api ini……?”

Sengaka ia mengucapkan kata “si pelepas api” itu dengan suara lantang, jelas ini bermaksud hendak menyindir. Coa Hujin sama sekali tidak memberikan reaksi apa-apa terhadap sindiran tersebut, hanya katanya, “Maaf kalau Swan Bun sian hendak memberi keterangan, bahwasanya mereka sampai berbuat demikian, sesungguhnya disebabkan karena keadaan yang terpaksa….”

Go Tang cuan tidak memberi kesempatan kepada perempuan itu untuk menyinggung masalah diculiknya Yu Siang tek suami istri oleh perkumpulannya, dengan cepat ia menukas, “Baiklah, memandang diatas wajah Coa hujin, dosa mereka dalam membakar gedung kita, tak akan lohu tuntut lebih jauh”

Coa hujin segera membungkukkan badan-nya memberi hormat..

“Kalau begitu, Swan bun sian mengucapkan banyak banyak terima kasih lebih dahulu”

Kemudian sambil berpaling, serunya, “Anak Ci, maju ke depan dan bebaskan jalan darah dari tiga orang engkoh cilik itu”

Tiba-tiba Go Tang cuan berseru, “Tunggu sebentar hujin, perkataan lohu belum selesai” Dengan kening berkerut, Coa hujin ulapkan tangannya mencegah Coa Cong gi maju ke depan, kemudian tanyanya, “Hu kaucu masih ada petunjuk apa lagi?”

“Tolong tanya hujin, apakah gedung-gedung kami ini harus dibakar dengan begitu saja tanpa ada pertanggungan jawab dari mereka?” seru Go Tang cuan dengan ketus.

Tiba-tiba terdengar seseorang tertawa dingin sambil menyindir, “Hemmm……main tipu berotak licik, Hu kaucu macam apaan itu……?” Go Tang cuan segera berpaling ke arah mana berasalnya suara itu, terlihatlah dua orang kakek berjubah abu-abu yang berjenggot panjang dan menyoren pedang dipunggungnya, berdiri angker ditepi arena, orang yang berbicara adalah kakek disebelah kanan.

Para anggota Hian-beng-kau melotot gusar kearahnya, sedang Go Tang cuan berkata sambil tertawa, “Ciang Pek jin, kalian tak usah terburu napsu, dalam upacara tengah hari esok, perkumpulan kami pasti akan memberi kesempatan terhadap partai Thian cong untuk mewujudkan keinginanya”

Dua orang kakek berjenggot perak ini adalah Tiam cong siang kiam (sepasang pedang dari Ti-am cong) yang sulung bernama Lau Gi tiong dan yang terakhir bernama Ciang Pek jin, meskipun bukan saudara sekandung, hubungan mereka melebihi saudara sendiri, selama berkelana dalam dunia persilatan, mereka belum pernah berpisah dengan sepasang pedang bajanya selama tiga puluh tahun, mereka menjaga wilayah Thian lam.

Kami berdua akan menanti datangnya kesempatan itu!” seru Cian Pek jin sinis.

Go Tang cuan tertawa dingin, ia tidak menggubris kedua orang itu lagi, sepasang matanya kembali dialihkan kewajah Coa hujin.

Dengan serius Coa hujin menjawab. Itu mah soal gampang, biar kami keluarga Coa yang membayar kerugian ini.

Walaupun Coa hujin berasal dari keluarga persilatan, tapi keluarga persilatan Kim leng, sejak dari Cing Tong ti sampai anak cucu keturunannya tak ada yang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, merekapun jarang sekali melangkah keluar dari rumah, oleh sebab itu tak heran kalau caranya untuk menghadapi persoalan yang berbau dunia persilatan ini terasa menjadi kaku dan lucu.

Sekalipun kata-kata yang diucapkan itu sesungguhnya merupakan pantangan bagi umat persilatan kenyataannya tak seorangpun berani memandang rendah dirinya, malahan semua orang merasa bahwa keputusannya itu memang tepat sekali.

Untuk sesaat Go Tang cuan menjadi tertegun tapi sebentar kemudian ia telah berkata, “Walaupun perkumpulan kami miskin tapi kerugian sekecil ini masih belum sampai kami pikirkan, kalau sampai Coa hujin musti bayar ganti rugi, apakah perbuatan ini tak akan ditertawakan oleh kawan- kawan persilatan?”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan”

“Begini saja! Sudah lama lohu mengagumi akan kehebatan ilmu silat dari Bu seng, sayang aku dilahirkan terlalu lambat sehingga tidak berjodoh untuk berjumpa dengar mereka, bagaimana kalau hujin unjukkan kepandaianmu sebagai ganti rugi atas dilepaskannya ketiga orang pemuda ini…?”

Baik mereka dari golongan lurus maupun yang berasal dari golongan sesat, sama-sama ingin menyaksikan kehebatan dari ilmu silat peninggalan Bu seng, oleh sebab itu perkataan dari Go Tang cuan segera disambut dergan tempik sorak dari segenap jago, beratus-ratus pasang matapun bersama sama dialihkan ke wajah Coa hujin.

Waktu itu api yang membakar gedung su dah berhasil dipadamkan, para jaga dari Hian-beng-kau pun telah berhenti mengambil air untuk memadamkan api. suasana disekitar tempat itu, jadi terasa lebih tenang dan hening…… Coa hujin memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, ia tahu bila tidak memperlihatkan sedikit kepandaiannya, jelas hal ini tak mungkin.

Sebab itu setelah berpikir sebentar, tiba-tiba ujung bajunya dikebaskan ke arah kanan seraya ujarnya, “Baiklah, kuperlihatkan sedikit kejelekanku!”

Sementara semua orang masih terkejut bercampur keheranan tiba-tiba tiga orang pemuda yang tertotok jalan darahnya itu menghembuskan napas panjang lalu melompat bangun.

Kiranya ia telah mendemonstrasikan ilmu membebaskan jalan darah dengan udara kosong.

Kontan saja tempik sorak berkumandang memecahkan keheningan disekeliling tempat itu.

“Suatu kepandaian yang sangat hebat!” pekik Hong Pay didalam hati.

Haruslah diketahui, walaupun kebasan tersebut kelihatannya amat sederhana, sesungguhnya merupakan suatu serangan yang sulit dilakukan, sang korban bukan cuma berselisih jarak antara tiga kaki lebih, tidak di ketahui juga jalan darah manakah yang tertotok, sebab itu kebasan yang berhasil membebaskan totokan ketiga orang itu sungguh di luar dugaan…..

Go Tang cuan paling terkejut dibandingkan dengan yang lain, sebab totokan atas ketiga orang tersebut dilakukan dengan suatu ilmu totokan tunggal, siapa tahu mereka berhasil ditolong oleh Coa hujin dengan gerakan yang demikian entengnya. Setelah melompat bangun tiga orang pemuda yang berpakaian ringkas itu melirik sekejap ke arah Coa hujin dan Coa Cong gi, lalu dengan langkah lebar menuju ke arah mereka.

Saudara Siong-peng, saudara Keng bu, saudara Kiat kian, kalian tidak terluka bukan?” seru Coa Cong gi dengan suara lantang.

Tiga orang pemuda itu tertawa dan bersama-sama gelengkan kepalanya, kemudian masing-masing orang memberi hormat kepada Coa hujin.

Cepat Coa hujin ulapkan tangannya menyuruh mereka jangan banyak adat, setelah itu katanya, “Jika tak ada urusan lagi, Swan si ingin mohon diri lebih dahulu!”

Go Tang cuan segera menjura.

“Sampai jumpa lagi dalam pertemuan besok!”

Coa hujin tersenyum, lalu ujarnya kepada Bong Pay, “Anakku tak tahu diri, untung memperoleh bantuan saudara…..”

Sungguh menyesal Bong Pay tidak mengeluarkan tenaga barang sedikitpun juga” tukas Bong Pay, justru hujin lah yang sudah menolong mereka dengan ilmu yang maha dahsyat itu…..”

Setelah berhenti sejenak, ia berkata lagi, “Bila hujin tiada urusan penting, kenapa tidak menjumpai dulu rekan-rekan sealiran yang lain?” Sementara Coa hujin masih termenung, Coa Cong gi sudah berseru dengan tak sabar, “ibu……!”

Coa hujin termenung sejenak, ia merasa setelah dirinya tampil didalam dunia persilatan, memang tidak seharusnya menjauhi kawanan jago lainnya, apalagi antara dia dengan kedua orang hujin dari keluarga Hoa sudah ada persetujuan secara diam-diam untuk banyak membujuk rekan-rekan persilatan lainnya,

Ditambah lagi diapun tak tega menampik keinginan Coa Cong gi yang kelihatan antusias sekali itu, maka setelah menghela napas dihati, diapun manggut manggut.

“Kalau begitu, tolong bawalah kami kesitu!

Ia memutar badannya, lalu bersama Bong Pay berlalu dari situ.

Go Tang cuan yang menyaksikan kejadian itu, diam-diam berkerut kening, kemudian pikirnya, “Kalau dilihat dari keadaan ini, tampaknya kedua orang musuh tangguh tersebut memang sudah bekerja sama secara diam-diam” Tiba-tiba serentetan suara bisikan yang lirih seperti suara nyamuk berkumandang disisi telinganya, “Tang cuan, bubarkan anak buahmu dengan cepat, tunggu kedatanganku dipuncak bukit lembah sebelah timur”

Sekalipun ucapan itu diutarakan dengan ilmu menyampaikan suara, tapi begitu mendengar suara tadi, Go Tang cuan segera tahu siapakah dia. Sebab dalam kolong langit de wasa ini, kecuali istri ke sayangannya tak ada orang lain yang menyebut dirinya secara demikian.

Kontan saja hatinya bergolak keras. Tak tahan lagi ia celingukan kesana-kemari, tampaklah kawanan jago persilatan itu telah buyar semua dari situ, tapi bayangan tubuh dari Thian Siok-bi tidak kelihatan juga.

Tentu saja Toan bok See liang menjadi keheranan ketika dilihatnya Hu kaucu yang dihari-hari biasa selalu kelihatan tenang itu, secara tiba-tiba celingukan dengan wajah kebingungan.

Hu kaucu…..! segara panggilnya dengan suara heran.

Go Tang cuan segera ulapkan tangannya sambil menukas. Toan bok thamcu, harap kau perhatikan lembah kita baik-

baik, semua jago lihay kita dikerahkan untuk melakukan penjagaan terutama ditempat-tempat yang sepi, kewaspadaan perlu ditingkatkan, aku harap kejadian seperti ini jangan sampai terulang kali, nah aku pergi sebentar!”

Selesai memberi pesan, tidak menunggu jawaban dari Toan bok See liang lagi buru-buru dia kerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan berlalu dari situ.

Disebelah timur lembah merupakan sebuah telaga seluas beberapa li, pada bagian depan lembah terbuka sebuah mulut dan dari situlah air mengalir turun sebagai sebuah air terjun yang amat besar.

Dengan menelusuri jalan rahasia yang dibuat Hian-beng- kau, Goa Tang cuan bergerak naik ke puncak bukit, sepanjang jalan tiada hentinya ia celingukan kesana-kemari meneliti pepohonan Pak yang dijumpainya di tempat tersebut.

Tak lama kemudian, ia saksikan sesosok bayangan lain sedang bergerak naik ke atas puncak. Dengan ketajaman matanya, dalam sekilas pandangan ia telah melihat bahwa bayangan manusia itu adalah seorang tokoh berusia setengah umur yang berjubah pendeta dan membawaj hud tim.

Siapa lagi tokoh setengah umur itu kalau bukan istrinya yang telah berpisah hampir sepuluh tahun lamanya? Kecuali ia telah mengenakan jubah pendeta, dandanan serta raut wajahnya masih tetap seperti sediakala.

Kontan saja ia merasakan hatinya bergolak keras, teriaknya tanpa terasa, “Siok-bi….-”

Cepat-cepat dia memburu ke depan.

Thia Siok-bi segera mengebaskan hud tim-nya seraya membentak, “Berhenti!”

Bagaikan diguyur dengan air dingin, Go Tang cuan segera menghentikan langkahnya lalu dengan wajah tertegun ia berseru.

“Kau………”

“Lebih baik kita bicarakan dulu secara baik, kalau tidak cocok……”

“Bagaimana kalau tidak cocok?” tukas Go Tang cuan tidak sabar lagi.

“Lebih baik kita putus hubungan sampai disini!” jawab Thia Siok-bi dengan tegas.

Go Tang cuan mengerutkan dahinya, lalu berkata, “Kalau begitu katakanlah!” Thia Siok-bi menggerakkan bibirnya ingin berbicara, tapi niat tersebut kemudian dibatalkan, selang sesaat kemudian, sambil menghela napas katanya, “Apa yang hendak kukatakan, aku pikir kau tentu sudah menduganya, kenapa mesti kukatakan lagi?”

Go Tang cuan tertawa hambar.

Memang, apa yang ingin kau katakan sudah Ih heng tebak delapan sampai sembilan bagian, tapi Ih heng pun ada beberapa patah kata yang ingin kugunakan kesempatan ini untuk membicarakannya secara baik-baik”

Kalau begitu kau saja yang berkata!” Go Tang cuan tersenyum.

Pertama lama Ih heng hendak memberi tahukan kepadamu bahwa sejak esok pagi, seluruh dunia akan menjadi milik Hian- beng-kau!”

“Heeeehh…heeehhh…..heeehh…. apakah bukan siburang pungguk yang merindukan rembulan?”

Senyuman masih menghiasi ujung bibir Go Tang cuan, kembali ia berkata, Aku tahu kalau kau tak akan percaya tapi kau pun musti tahu, jika perkumpulan kami tidak bersuara keadaan tetap tenang tapi begitu bersuara, dunia akan menjadi gempar, tunggu saja sampai esok pagi dunia akan tahu sampai dimanakah kemampuan sesunguhnya yang dimiliki perkumpulan Hian-beng-kau kami!”

Thia Siok-bi segera mendasis dingin.

“Hmm! Jangan dibilang kepandaian silat yang dimiliki Hoa tayhiap tiada tandingannya dikolong langit, apa yang hendak kau lakukan untuk menghadapi keturunan dari Bu seng? Apalagi kalau berbicara dari segitu banyak jago persilatan yang hadir, sekarang kauanggap Hian-beng-kau sanggup untuk menghadapi mereka semua?”

Mendengar ucapan tersebut, Go Tang cuan segera tertawa terbahak-bahak, sampai lama sekali, ia baru berkata dengan lantang, “Haaahh…..haaahh……haaah…..Siok-bi, jangan dikata kawan jago yang menghadiri pertemuan sekarang cuma sebangsa manusia kurcaci yang sekali hantaman lantas hancur, sekalipun Hoa Thian-hong yang kau anggap manusia nomer satu dalam dunia persilatanpun, perkumpulan kami sudah mempunyai orang yang sanggup untuk menghadapinya”

Diam-diam Thia Siok-bi mengamati wajah orang itu, ketika diketahui kalau ucapan tersebut bukan cuma bohong belaka hatinya menjadi tercekat, namun ketika dipikir kembali, diapun tak merasa percaya. Maka akhirnya diam-diam dia berpikir.

“Ketika masih muda dulu, Hoa Thian-hong sudah sanggup mengalahkan Tang Kwik-siu sekalian, selama dua puluh tahun terakhir ini entah sampai dimana pula kemajuan yang berhasil dicapainya dalam kepandaian silat, siapakah dalam dunia dewasa ini yang sanggup menandinginya?”

Berpikir sampai disitu, tak tahan lagi dengan suara menyelidik ia bertanya, “Siapakah orang itu? Apakah dia adalah Sinkun kalian itu?” Go Tang cuan tersenyum.

“Sebenarnya tak jadi soal kalau cuma kuberikan kepadamu, tapi kau pasti akan membocorkan rahasia ini kepada pihak keluarga Hoa, jika sampai kabur, bukankah usaha Sinkun untuk membalas dendam bakal menjumpai banyak kesulitan lagi?” Thia Siok-bi segera tertawa dingin, “Heeehhh……..heeehhh………heeehh aku lihat kau tak

sanggup mengalahkan orang tersebut dalam waktu singkat, makanya sengaja mengarang sekenanya saja”

Go Tang cuan hanya tersenyum tidak menjawab.

Melihat ia tidak menyahut juga, diam-diam Thia Siok-bi merasa semakin terperanjat, tapi diluar wajahnya ia masih tetap tertawa-tawa.

“Kalau kudengar dari nada ucapanmu, tampaknya kau memang tak sudi berpaling kembali” katanya, “Berpaling kenapa?”

“Kau sudah terlanjur terjerumus dalam kesesatan, hawa jahat sudah merongrong pikiran dan perasaanmu, maka sulit untuk diajak kembali lagi ke jalan yang benar” teriak Thia Siok-bi marah.

oooooOoooo 52

Sesungguhnya, tiada perbedaan antara yang lurus dan yang sesat dalam dunia persilatan” kata Go Tang cuan dengan suara hambar, “kalau toh sekarang ada, hal itu hanya buatan dari manusia dunia itu sendiri, bayangkan saja, kalau toh kira berhasil mempelajari serangkaian ilmu yang hebat, apakah kita suka berkumpul jadi satu dengan kawanan manusia kurcaci yang tak berkemampuan apa-apa?”

“Bagaimana pun juga, bersikap ksatria, berjiwa pendekar dan menolong sesama toh lebih baik dari pada merugikan orang lain?” kata Ih Siok-bi lagi dengan kening berkerut.

“Aaai… berbicara pulang pergi kau tetap tidak paham

dengan urusan dunia persilatan, Siok-bi! Kau adalah seorang pendekar dari kaum wanita, tentu saja kau mempunyai pandangan yang berbeda”

Thia Siok-bi merasa gusar sekali, sambil mendengus ia putar badan dan siap berlalu lari situ, tapi secara tiba-tiba ia berhenti lagi seraya bertanya.

“Engkau sudah tahu tertang peristiwa yang menimpa anak Giok?”

Mula-mula Go Tang cuan agak tertegun, menyusul kemudian jawabnya, “Pihak Mokau telah minta maaf kepada ku, Giok ji pun ”

Thia Shiok bi segera tertawa dingin, tukasnya, “Kau tahu Giok ji sebenarnya she apa?”

Go Tang cuan bisa menjabat sebagai wakil ketua dari Hian- beng-kau, tentu saja baik dalam soal ilmu silat maupun dalam hal kecerdasan melebihi orang lain, ketika mendengar kalau dibalik ucapannya masih ada ucapan lain, diam-diam pikirnya, “Wan Hong giok tentu saja she Wan, apa maksudnya… ”

Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan wajah berubah hebat dan suara gemetar ia lantas berseru, Maksudmu… ”

“Giok ji adalah putrimu!”

Seperti disambar geledek disiang hari bolong, kontan saja paras muka Go Tang cuan berubah menjadi pucat pias seperti mayat. Bagaikan seseorang yang baru sembuh dari sakit parah, dengan lemas ia bersandar diatas pohon siong sambil menghembuskan napas panjang, katanya kembali, “Giok-ji tidak She Go, pun tidak she Thia… dapatkah kau terangkan

lebih jelas lagi?”

Jawab Thia Siok-bi sambil tertawa dingin, “Giok ji mengikuti she dari neneknya, maksudku memang agar kau tidak akan tahu tentang dirinya”

“Kau…… kau betul betul berhati kejam!” bisik Go Tang cuan sambil menuding Thia Siok-bi dengan tangan gemetar.

Padahal Thia Siok-bi sendiripun merasakan hatinya sakit seperti diiris-iris, tapi sekuat tenaga ia berusaha mengendalikan diri, kembali katanya, “Yaa, aku memang kejam, tapi ketika aku sedang mengandung, kau telah pergi meninggalkan rumah tanpa memperdulikan nasehatku, apa kau tidak terbilang kejam?”

Go Tang cuan tak sanggup menjawab lagi, dia hanya bisa memandang ke langit dengan air mata bercucuran.

“Oooh…anak Giok, ayah telah berbuat salah kepadamu, dengan dosa ayah, memang pantas mati… ” guman-nya.

kemudian ia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, suaranya lebih tak sedap didengar daripada suara tangisannya, setelah berhenti tertawa ia menggertak gigi seraya serunya.

“Tang Kwik-siu, kalau orang she Go tidak membiarkan kalian orang orang Seng sot pay musnah sebelum ucapan ini lewat, didunia ini tak akan ada manusia yang bernama Go Tang cuan lagi!” “Anak orang lain kau anggap begitu tawar Go Tang cuan, dimanakah Liang sim-mu?”

Tiba-tiba Go Tang cuan berdiri tegak, kemudian dengan sinar mata yang penuh diliputi hawa membunuh katanya, “Siapa yang telah memperkosa Giok ji?”

“Orang itu telah kubunuh!” sahut Thia Siok-bi, setelah berhenti sejenak ia berkata lebih jauh, “Sekalipun kau bunuh habis seluruh anggoto Mokau juga percuma, bagaimana mungkin kau bisa membayar kerugian ini untuk Giok ji?”

“Apapun yang Giok ji minta, sekalipun menginginkan bintang dilangit aku akan pertaruhkan nyawa tua ku ini untuk memenuhi Keinginannya!

Jika Giok ji menginginkan kau mengasingkan diri, apakah kau pun mewajudkan-nya?” ujar Thia Siok-bi dingin.

Go Tang cuan tertegun, lalu sahutnya dengan sangsi, “Selewatnya ucapan besok…..”

Tidak nanti ia menyelesaikan kata-katanya, dengan jengkel Thia Siok-bi segera menukas, “Aku sudah tahu kalau kau tak bisa ditolong lagi, coba kalau tidak memandang diatas wajah Giok ji, pada hakekatnya aku enggan untuk bertemu denganmu lagi, tampaknya aku memang harus beradu jiwa denganmu”

Selesai mengucapkan kata- kata tersebut mendadak ia putar badan dan berlalu dari situ, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya lenyap diatas puncak sana.

Go Tang cuan menggerakkan bibirnya seperti mau memanggil, tapi niat itu tak pernah diwujudkan, dengan termangu-mangu ia berdiri kaku disitu dengan sinar mata sayu, keadaan tersebut tak ubahnya seperti seonggokan kayu kering.

Angin malam berhembus lewat, tiba-tiba ia merasakan tubuhnya kedinginan, baru pertama kau ini ia merasakan hatinya goncang, iapun merasa ragu apakah ambisinya bisa terwujud atau tidak?

Malam mulai luntur, sinar sang surya pun mulai muncul diufuk timur, saat itulah ia baru tersadar kembali dari lamunannya, sambil menghela napas, pelan-pelan ia menuruni bukit tersebut. Ia merasa meski waktu hanya terpaut beberapa jam, tapi usianya sekarang dirasakan jauh lebih tua sepuluh tahun.

000O000 000O000 000O000

Tengah hari belum lewat, istana Kiu Ci piat kiong yang luas dengan barak-barak lebar yang didirikan dikedua belah sampingnya telah penuh dengan kawanan jago dari kolong langit.

Barak sebelah timur dipenuhi oleh para jago dari Kiu-im- kau dan Seng-sut-pay, masing-masing menempati separuh barak dengan bagian tengahnya dibiarkan kosong selembar satu kaki, dengan begitu kedua golongan tersebut terpisahkan secara jelas.

Dibagian sebelah kiri ditempati pihak pihak Kiu-im-kau, Bwe Su-yok dengan tongkat kebesarannya duduk ditengah barak dengan dikedua belah sisinya diapit oleh Sik Ban-cian serta dua orang kakek berambut putih yang telah berusia seratus tahun lebih dan tidak diketahui namanya, setelah itu baru duduk Kek Thian tok, Lei Kiu-it dan sekalian Tiamcu serta tiga orang tongcu nya. Sedangkan dipihak Seng-sut-pay dipimpin oleh Seng Tocu, tapi tidak kelihatan Tang Kwik-siu hadir disitu, selanjutnya hadir dua bersaudara Lenghou, Hu-yan Kiong, Hong Liong dan lain-lainnya.

Jumlah anggota perkumpulan yang hadir dari dua kelompok tersebut di taksir berjumlah dua ratus orang lebih, mereka semua rata-rata bermata tajam, berlangkah tegap dan bertenaga dalam sempurna, jelas bukan manusia manusia sembarangan.

Pada barak disebelah barat, sebagian besar di tempati oleh para jago dari golongan pandekar, mereka dipimpin oleh Bong Pay serta Coa hujin, di tambah dengan jago-jago dari Thian cong serta Thian tay, jumlahnya pun mencapai ratusan orang.

Suasana dibarak bagian tengah yang paling gaduh dan ramai, tidak seperti barak-barak timur maupun barat yang hening, sebagian besar jago yang berada dibarak tengah adalah kawanan jago persilatan biasa, jumlah mereka paling banyak, ditaksir ada dua tiga ribu orang lebih meskipun barak itu cukup besar tapi hampir saja tidak cukup untuk menampung mereka……

Kawanan jago persilatan tersebut sering kali menuding kearah barak timur maupun barak sebelah barat lalu berbisik- bisik seperti membicarakan sesuatu.

Pada bagian utama dari arena, berdiri panggung upacara, waktu itu kain selubung yang menutupi meja upacara telah dibuka sehingga tampaklah ditengah meja terdapat dua tempat abu yang masing-masing tertuliskan, “Tempat abu dari Bu liang san couso Li Bu-liang” Sedang disebelah kanan bertuliskan, “Tempat abu Kiu ci kiong cousu Seng Beng cit”

Selain alat sembahyangan, barang sesaji pun sudah komplet tersedia disana.

Padahal tak seorangpun umat persilatan yang mengetahui nama sebenarnya dari Kiu ci sinkun, maka setelah membaca tempat abu itu mereka baru tahu nama aslinya.

Karena waktu itu adalah hari Toan yang, dari pihak Hian- beng-kau menyediakan pula pelbagai jenis bakeang dan buah- buahan untuk para tamunya tapi kecuali mereka yang berada dibarak tengah boleh dibilang siapapun tidak boleh mencicipinya.

Mendekati lohor, tiba-tiba muncul kembali tiga orang jago yang dipimpin oleh seorang touto berambut panjang dan berjubah pendeta dengan bersenjata sekop.

Dua orang rekannya adalah laki-laki berusia setengah umur, yang satu berkulit tubuh hitam dengan wajah lebar dan bahu lebar, sedang yang lain adalah seorang laki-laki berwajah bersih dan berjubah putih.

Menyaksikan kedatangan mereka, serentak kawanan jago bangkit berdiri sambil menyapa, ternyata mereka adalah Cu Im taysu, Ko Tay dan Haputule…..

Cu Im taysu menyapu sekejap ke arah barak, ketika tidak menjumpai Tiang beng Tokoh hadir disitu, sepasang alis matanya segera berkenyit.

Sambil menjura Bong Pay segera berkata, “Dalam keadaan dan saat seperti ini, taysu terhitung orang yang paling terhormat, sudah sepatas-nya kalau taysu menjadi pemimpin dikelompok kita ini”

Cu Im taysu segera tersenyum.

“Kedatangan pinceng hanya untuk menyelesaikan suatu masalah pembunuhan, tidak sepantasnya kalau tanggung jawab berat ini kalian berikan kepadaku!”

Lalu sambil berpaling ke arah Coa Hujin, kembali ia berkata, “Putrimu pergi bersama Giok teng hujin, apakah sampai sekarang belum tiba disini?”

Coa hujin menjadi tertegun setelah mendengar ucapan tersebut, bukannya menjawab, ia malah balik bertanya, “Lho, anak Wi kok bisa berada bersamanya? Hoa tayhiap suami istri sedang mencari-cari hujin itu!”

Cu Im taysu menghela napas panjang. “Aaai…..! Kalau ia tak datang, itu berarti sudah

mengasingkan diri dari keramaian dunia. Padahal jagad begini luas, kemanakah kita harus menemukan jejaknya?”

Kalau kejadian ini berlangsung dimasa lalu, sudah pasti Coa Hujin hanya akan melongo saja sebab ia tak memahami keadaan dunia persilatan, tapi semenjak kepergiannya ke perkampungan Liok soat san ceng, bukan saja ia mendapat tahu banyak masalah besar dalam dunia persilatan, bahkan soal kejadian-kejadian ia mapun banyak pula diketahui olehnya.

Setelah mendengar perkataan itu, dengan cemas ia berseru, “Musuh-musuh Giok teng hujin dimasa lalu amat banyak, semoga saja jangan sampai berjumpa, entah bagaimana dengan anak Wi?” “Aduh celaka, jangan-jangan Kiu-im-kau yang telah turun tangan lebih duluan?” kata Cu Im taysu sambil berpaling ke arah barak seberang.

Haputule yang menjumpai kedua orang itu yang satu menguatirkan keselamatan putrinya yang lain mencemaskan keselamatan Giok teng hujin, dari tadi sampai sekarang ribut terus tiada hentinya, sambil tertawa segera ia tersenyum, “Taysu tak perlu kuatir, kalau aku tidak melihat kecerdikan nona Coa luar biasa sehingga berhasil menasehati Giok teng hujin untuk berubah pikiran, mana mungkin kubiarkan pergi dengan hati yang lega?” Cu Im taysu manggut manggut.

“Yaa, memang pinceng terlalu gelisah dan tidak sabaran” katanya kemudian, Haputule tersenyum, kepada Coa hujin katanya kemudian, “Dengan ilmu silat yang dimiliki Coa serta Giok teng hujin, rasanya mereka masih sanggup untuk menghadapi pertarungan macam apapun, sekalipun tak bisa memang, untuk mengundurkan diri rasanya masih bukan menjadi persoalan, harap hujin jangan kuatir!”

Sementara Coa Hujin ingin bertanya lebih jauh, tiba-tiba terdengar bunyi tambur dan lonceng berkumandang bersama, rupanya tengah hari tepat menjelang tiba.

Dengan berkumandangnya bunyi tambur dan lonceng, suasana seketika berubah menjadi hening dan serius, semua perhatian ber sama-sama ditujukan ke tengah arena.

Bunyi lonceng dan tambur berkumandang amat memekikkan telinga, lama sekali suara itu baru sirap.

Pelan-pelan pintu istana Kiu ci piat kiong yang indah dan megah itu terbuka lebar lalu mumcul dua baris bocah berbaju putih, ditangan masing-masing bocah itu membawa sebuah dupa emas yang menyiarkan bau harum semerbak.

Mereka berjalan dari pintu istana menuju ke bawah mimbar, melewati beranda depan istana dan menuruni anak tangga batu panjangnya mencapai satu dua kaki lebih.

Setelah semua barisan bocah itu muncul dari pintu istana, mereka bersama-sama berhenti lalu putar badan dan berdiri dikedua belah sisi permadani merah.

Setiap satu kaki berdiri seorang bocah pembawa dupa, padahal jumlah mereka mencapai dua tiga ratus orang lebih, bisa dibayangkan betapa meriahnya suasana ketika itu.

Asap dupa menyebar keempat penjuru terhembus angin, dalam waktu singkat seluruh tempat itu sudah diliputi selapis asap dupa yang tipis.

Bunyi tambur dan lonceng kembali berkumandang, dari dalam istana muncul kembali sekelompok laki-laki kekar berbaju hitam yang berbaris keluar secara teratur, sehabis barissn laki-laki berbaju hitam, menyusul laki-laki berbaju hijau, kemudian disusul laki-laki berbaju putih dan akhirnya laki-laki berbaju ungu, diantara kelompok terakhir ini lebih banyak kakek yang tua-tua daripada kaum mudanya.

Setibanya didepan mimbar upacara, merekapun memisahkan diri kedua belah samping dan bersama sama menghadap kearah mimbar.

Dengan penyusunan kelompok demi kelompok ini, maka yang berada pada lapisan yang paling dalam adalah kelompok baju ungu, menyusul kemudian baju biru, baju putih, baju hijau dan akhirnya baju hitam, jumlah mereka mencapai tujuh delapan ratus orang lebih, hal mana sungguh menggetarkan hati siapapun yang melihatnya.

Dengan kening berkerut Ko Tay segera berbisik, “Golongan Liok lim merupakan golongan manusia yang paling susah diatur apalagi dihimpun ke dalam suatu organisasi dengan disiplin yang tinggi, aku rasa kecuali perkumpulan Sin-ki-pang dimasa lalu, belum pernah ada kelompok lain yang sanggup menandinginya”

Cu Im taysu menghela napas panjang.

“Aaaai…….sungguh tak disangka, dalam kehidupan pinceng ternyata berkesempatan untuk mengikuti pertarungan antara kaum lurus dengan kaum sesat untuk ketiga kalinya”

Dari perkataan itu dapat ditarik kesimpulan bahwa ia sedang mengeluh atas napsu angkara murka manusia yang suka berebut dan bertarung itu.

“Para anggota perkumpulan dari kelompok baju putih ke bawah masih belum merupakan ancaman serius” ucap Bong Pay, “tapi kelompok baju ungu rasanya tak boleh di anggap enteng, sungguh tak disangka sementara Hian-beng-kau menghimpun kekuatan secara diam-diam, kita semua masih terbuai dalam impian”

Dengan dingin Haputule segera berseru, “Yang penting sekarang adalah membangkitkan semangat untuk membunuh beberapa orang manusia busuk lebih banyak, kata-kata keluhan semacam itu lebih baik jangan disinggung kembali!”

Tiba-tiba bunyi lonceng kembali bergema lalu irama musik merdu pun mengalun di udara, dari balik pintu istana muncul dua baris muda mudi berpakaian warna warni. Disebelah kiri adalah kelompok pemuda berbaju kuning yang membawa pedang mustika, sedang disebelah kanan adalah kelompok pemudi berdandan keraton yang rata-rata berwajah cantik, mereka membawa sebuah Pek giok ji gi yang ditempelkan didepan dada.

“Sialan!” sumpah Hoa Ngo, “kaum iblis sesatpun banyak juga lagak tengiknya…….”

“Memang tidak sedikit jumlah manusia didunia yang gemar segala keindahan!” sambung Tam Si-bin sambil tertawa.

Hoa Ngo mendengus dingin, tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu tiba-tiba bunyi irama musik mengalun kembali, kemudian pelan-pelan muncul kembali sekelompok manusia.

Orang dipaling depan mengenakan jubah lebar berwarna merah dengan wajah yang putih dan memelihara jenggot bercambang tiga, itulah Hian-beng-kaucu yang telah menggetarkan dunia persilatan selama ini dan kini telah merubah dirinya sebagai Kia ci sin kun Kok See-piau.

Sesudah tampil ke depan, Kok See-piau sedikit mendongakkan kepalanya lalu melanjutkan langkahnya ke depan.

Dibelakang Kok See-piau, secara tertib menyusul wakil ketuanya, Go Tang cuan, Lau san in siu, Ui Shia ling, Ci Soat cu, Im san siang koay, thamcu markas pusat dan ketiga orang thamcu bagian luarnya serta beberapa orang kakek berwajah aneh yang seluruhnya berjumlah dua puluh lebih.

Tiba-tiba Cu Im taysu menghela napas, lalu mengeluh, “Sungguh tak kusangka, beberapa orang gembong iblis itu belum mati, agaknya dunia persilatan bakal terancam kembali oleh suatu badai pembunuhan yang mengerikan”

Ketika didengarnya perkataan tersebut diucapkan dengan wajah serius, Bong Pay buru-buru bertanya

“Siapa yang taysu maksudkan?”

“Sudah kau lihat orang kedua Serta kelima sampai ketujuh dibelakang Kok See-piau itu?”

Bong Pay segera berpaling, dilihatnya orang dimaksudkan Cu Im taysu adalah kakek kakek bertampang jelek semua, bahkan ada pula diantara mereka yang cacad. Terdengar Cu Im taysu menerangkan. “Orang kedua itu bernama Leng lam it khi, wataknya berada sesat dan lurus, tapi mempunyai hubungan persahabatan yang kental dengan Bu liang sinkun, konon hubungan perahabatan itu dijalin setelah ter jadinya pertarungan diantara merela berdua, mereka berdua bertempur sengit sehari semalam dipuncak Bu liang san sebelum akhirnya Leng-lam it khi (si aneh dari Teng lam) ini kena dikalahkan dengan sebuah totokan”

“Kalau bisa bertarung selama sehari semalam melawan Bu liang sinkun, berarti orang itu luar biasa sekali” pikir Bong Pay.

Dalam hati ia berpikir demikian, diluar tanyanya kembali, “Lantas siapa pula ketiga orang itu?”

“Lantaran ketiga orang itu dilahirkan sudah cacad lagipula mereka memang kejam dan berhati busuk, maka orang menyebutnya sebagai Po cu sam jian (tiga cacad dari Po cu), menurut urutannya mereka adalah Phoa Siu, Pi Ci liang dan Kao Kiat” Dengan penuh perhatian Bong Pay mengawasi orang-orang itu, dilihatnya orang kelima cacad pada sepasang kakinya, ia berjalan berkat tongkatnya, orang keenam tidak berlengan kanan, sedangkan orang ketujuh tidak kelihatan cacad apa- apa, cuma muka tanpa kumis atau jenggot sehingga tampak agak lucu.

Terdengar Cu Im taysu berkata kembali, “Kao Kiat adalah seorang laki laki, alat kelaminnya tidak bisa berfungsi sama sekali, dari tiga orang tersebut ia terhitung paling buas dan jahat. Sementara beberapa orang lainnya tidak kuingat kembali, tapi aku rasa orang-orang itupun tak akan selisih jauh lebih dibandingkan dengan ketiga orang itu”

Tiba-tiba terdengar Tiang Ji-san berkata, “Seingat lohu, ketiga orang dan keempat adalah adik seperguruannya Li Bu liang?”

“Belum pernah kudengar kalau Li Bu liang punya kakak seperguruan atau adik seperguruan” kata Ho Kee-sian sambil berkerut kening.

“Sudah lama mereka saling tak akur, kedua orang sutenya ini selalu bergerak disekitar perbatasan, tentu saja jarang diketahui oleh umat persilatan”

“Sungguh tak disangka gembong-gembong iblis yang dikabarkan sudah mati lama kini bisa muncul semua ditempat ini” kata Tam Si-bin sambil mengernyitkan pula alis matanya, “sedangkan dari pihak keluarga Hoa, tak seorangpun yang datang malah Hoa ji-kongcu pun entah mengapa hingga kini belum juga muncul disini”

Sambil tersenyum Coa hujin segera menukas, “Dengan kecerdasan Hoa tayhiap, sudah pasti ia telah menyusun semua persiapan yang diperlukan, buat apa kalian musti merisaukan dirinya…..?”

Bong Pay merasa murung sekali, pikirnya, “Tak heran kalau Kok See-piau begitu berambisi dan angkuhnya bukan kepalang, ternyata ia berbasil menghimpun kembali semua gembong-gembong iblis lama untuk berpihak semua kepadanya, Tiba-tiba terdengar Pek Soh-gi menghembuskan napas panjang sambil berkata lirih, “Diantara mereka tidak terlihat paman Tiangsun ataupun Jin Hian……

Sementara mereka sedang bercakap-cakap, diiringi irama musik yang merdu dan dibimbing oleh kelompok muda mudi, Kok See-piau sekalian telah menelusuri permadani merah, melangkah turun ke serambi istana dan pelan-pelan menuju ke mimbar upacara.

Para pemuda pembawa pedang dan pemudi pembawa Ji-gi kemala ikut pula naik ke panggung mimbar dan berhenti kedua belah sisi panggung tersebut.

Pada setiap tingkat berdirilah dua belas orang muda mudi, dengan tiga tingkatan pada panggung, itu berarti ada tiga puluh enam orang yang berdiri disana, agaknya lamat-tamat hal itu diartikan sebagai kedudukan Thian kang.

Menanti Kok See-piau sekalian sudah tiba diatas panggung upacara, irama musik segera terhenti dan suasana ditengah lapangan yang luas itu pun segera tercekam dalam suatu keheningan yang luar biasa.

“Menjumpai sinkun!” tiba- tiba anggota Hian-beng-kau yang berada dibawah panggung mimbar bersama-sama memberi hormat sambil berseru. Sebagaimana diketahui jumlah anggota Hian-beng-kau yang hadir saat itu mencapai tujuh delapan ratus orang lebih, padahal tak sedikit diantara mereka yang berilmu tinggi, maka seruan bersama yang gegap gempita itu segera menggeletar di udara dan memekikkan telinga siapapun juga.

Berdiri diatas mimbar Kok See-piau memandang sekejap sekeliling gelanggang dengan sepasang matanya yang tajam.

Walaupun orang-orang ditiga bagian barak berada jauh sekali dari mimbar itu, tak urung tercekat juga oleh ketajaman mata orang itu.

Pelan-pelan Kok See-piau mengulapkan tangan-nya, dan pembawa acara pun berseru, “Para murid perkumpulan Hian- beng-kau tak usah banyak adat”

Serentak semua jago dari Hian-beng-kau mengiyakan dan berdiri kembali, semua gerakan dilakukan bersama-sama sehingga meski beratus orang banyaknya, seolah-olah seperti gerakan dari satu orang saja.

Dalam pada itu, Kok See-piau telah maju ke depan, kemudian setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, katanya, “Kami Hian-beng-kau merasa berterima kasih sekali atas kesudian para enghiong dan orang gagah dari segala penjuru dunia yang sudi datang kemari serta menghadiri upacara peresmian dari perumpulan kam”

Tiba-tiba Bwe Su-yok dari barak timur bangkit dan menjawab, “Diresmikannya perkumpalan Hian-beng-kau dalam dunia persilatan merupakan suatu peristiwa yang luar biasa, seluruh anggota perkumpalan kami menyampaikan selamat dan semoga sejahtera selalu” Kok See-piau segera memberi hormat sambil berseru, “Terima kasih kaucu!”

Menyusul kemudian, Seng Tocu dari Seng sit pay pun berseru, “Partai kami mengucapkan selamat atas diresmikannya perkumpulan anda….!”

Kembali Kok See-piau menjura tanpa banyak bicara, sinar matanya dialihkan ke barak barat dimana para pendekar golongan putih berkumpul….

Bong Pay melirik sekejap kesemua orang, sambil tertawa, Coa hujin segera berkata, “Sudah lama Swan si mengasingkan diri dalam dunia persilatan, aku tidak tahu menahu tentang segala tata cara dunia persilatan, semua keputusan lebih baik kalian saja yang ambil”

Cu Im taysu segera menyambung pula, Betul, kalau memang dari pihak keluarga Hoa tak ada orang, dengan nama dan kepandaian yang kau miliki, memang sudah sepantasnya kalau kau yang tampilkan diri, buat apa musti sungkan- sungkan lagi?”

Pelan-pelan Bong Pay muncul keluar barak, lalu sambil menjura kearah Kok See-piau katanya, “Perayaan semacam ini memang patut dihadiri oleh Bong Pay sekeluarga, sayang sekali kami tidak membawa sesuatu benda sebagai tanda mata, maka ingin sekali kugunakan ujar-ujar sebagai persembahan kami untuk kenang-kenangan kalian semua”

“Aku orang she Kok siap mendengarkannya!”

Kok See-piau segera menjura untuk membalas hormat. “Sudah lama dunia persilatan berada dalam ketenangan, buat apa umat persilatan musti mencari sengsara lagi dengan saling gontok-gontokan?”

“Aku tahu kekuatan perkumpulan anda sangat tangguh, lagipula baru saja didirikan, jika mau berbakti untuk kepentingan umat banyak, hal itu pasti akan disambut oleh segenap masyarakat persilatan dengan riang gembira, pertikaian yang tak berartipun pasti akan tersingkirkan dengan sendirinya”

Ucapan itu diutarakan dengan wajah serius dan nada yang bersungguh- sungguh, banyak orang yang berkenan oleh sikapnya itu, diam-diam banyak diantaranya yang merasa gembira, sebab tidak sia-sia Pek lek sian bisa memiliki seorang murid seperti dia, sukmanya dialam baka pun pasti akun tersenyum setelan melihat hal ini.

Kok See-piau tersenyum.

“Maksud baik Bong tayhiap tentu mengagumkan segenap umat persilatan, sayangnya keluarga Hoa dari Im tiong-san sudah terlam pau lama merajai dunia persilatan, hal mana sungguh tak menyenangkan hati kami”

Jelas sekali kalau perkataan itu merupakan suatu tantangan untuk bertarung.

“Kalau memang demikian, Bong Pay pun tiada perkataan lain yang bisa diucapkan lagi” ujar Bong Pay kemudian dengan serius.

Sambil menjura ia lantas balik kembali ke tempat duduknya. Tiba-tiba terdengar suara yang amat nyaring berkumandang memecahkan keheningan.

“Anak baik, tepat sekali perkataanmu itu. Bagus sekali ucapan itu…….”

Dengan tercengang semua orang mengalihkan sinar matanya kearah mana berasalnya perkataan itu, mereka heran siapa yang menyebut Bong Pay sebagai seorang anak, pada hal usia pendekar itu sudah empat puluh tahun lebih.

Kiranya diatas barak ketika itu berdirilah orang kakek gemuk pendek berkepala botak yang memiliki wajah merah dan bibir yang lebar, ia mengenakan baju pendek dengan membawa sebuah kipas berbentuk bulat.

Begitu mendengar suaranya Bong Pay segera mengetahui siapa orangnya, dengan perasaan terharu ia berseru, “Cu supek! Baik-baikkah kau orang tua selama ini?”

Kok See-piau yang menyaksikan kejadian tersebut, diam- diam iapun berpikir, “Tak nyana kalau setan-setan tua inipun masih hidup semua, kalau sampai terjadi pertarungan nanti, sudah barang tentu sulit pula untuk merobohkan mereka”

Dalam pada itu Si dewa yang suka berpelancongan Cu Thong telah tertawa terbahak-bahak seraya menjawab.

“Haaahh…..haaahh…..haaahh…..masih untung saja aku belum mampus!”