Neraka Hitam Jilid 07

Jilid 07

Sambil menunjuk ke arah rangkaian bangunan rumah dibawah sana, jawab Thian Ik-cu, “Dibelakang bangunan rumah itu terdapat sebuah gua yang tembus ke lambung bukit, didalam gua itulah kawanan jago tersebut di sekap, dalam gua terdapat dua buah pintu masuk”

Meminjam sinar fajar yang hampir menyingsing, Hoa In- liong mencoba untuk memeriksa keadaan disana, sekalipun ketajaman matanya melebihi orang lain, sayang gua itu tidak tertampak karena tertutup oleh bangunan rumah, maka diam- diam pikirnya, “Kalau dilihat dari penjaga yang berlapis-lapis, rasanya bukan suatu pekerjaan yang gampang bila ingin menolong orang dalam gua tanpa diketahui para penjaga”

Sementara ia masih termenung, Thian Ik-cu telah berkata lagi, “Ketika tempo hari pinto berhasil menyusul ke dalam gua, hal itu sesungguhnya lantaran nasibku yang sedang mujur dan akhirnya pada pintu gerbang kedua jejakku ketahuan, setelah berlangsungnya suatu pertarungan seru, akhirnya aku baru berhasil kabur dengan selamat”

Hoa In-liong mengerutkan dahinya rapat-rapat, katanya kemudian, “Kalau toh totiang berhasil mengetahui rahasia mereka, mungkinkah Tang Kwik-siu masih akan menyembunyikan tawanannya disini?”

Thian Ik-cu kembali termenung sejenak, lalu sahutnya, “Menurut dugaan pinto, bangunan markas semacam ini bukan bisa dibangun dalam sehari semalam, tidak mungkin Tang Kwik-siu akan melepaskan bangunan tersebut dengan begitu saja, karena pernah munculnya jejak musuh disitu, aaai……….

kalau Tang Kwik-siu benar-benar telah mengangkut pergi semua orang orang itu, hingga kedatangan kita hanya sia-sia belaka, pintolah yang akan menjadi orang berdosa”

“Tidak perlu totiang terlalu menyesali diri sendiri, bila kedatangan kita hanya sia-sia belaka, anggap saja hal ini sebagai nasib, maka kalau ingin menyalahkan, kita hanya bisa menyalahkan akan kelicikan Tang Kwik-siu”

Lalu setelah memeriksa sekali lagi seluruh lembah tersebut, ia berkata lebih jauh, “Entah jago-jago lihay darimana saja yang berada dalam lembah ini……”

“Sekalipun ada jago lihay disitu, dengan andalkan kekuatan kita berdua rasanya masih cukup untuk menghadapinya, yang kutakuti justru adalah kelicikan orang-orang Mokau bila mereka tahu bukan tandinganmu lalu menutup pintu gua dan melawan secara nekad, kitalah yang bakal kesulitan bahkan yang lebih ku kuatirkan lagi adalah seandainya mereka bunuh jago-jago yang terkurung itu…..”

Ketika berbicara sampai disitu, mendadak ia membungkam.

Agaknya Hoa In-liong juga mendengar suara yang mencurigakan, ia lantas berbisik, “Hayo kita menyingkir dulu”

Thian Ik-cu mengangguk, dengan posisi tak berubah mereka melompat keatas dan mencari tempat persembunyian.

Hoa In-liong melompat naik ke atas sebuah batang pohon yang lebar, sementara Thian Ik-cu bersembunyi diatas pohon siong.

Tak selang beberapa saat kemudian, muncul dua orang imam setengah umur yang mengenakan jubah kuning, mereka langsung berjalan lewat sambil membicarakan sesuatu dengan suara rendah.

Dari sorot mata mereka berdua yang tajam dan berkilat, Hoa In-liong tahu bahwa tenaga dalam mereka tidak lemah, diam-diam segera pikirnya dalam hati, “Yang meronda gunung saja sudah merupakan jago-jago sehebat ini, apalagi yang menjaga gua… tampaknya urusan ini memang rada

gawat… aku musti lebih berhati-hati.”

Karena berpikir demikian maka diapun pasang telinga baik- baik untuk menyadap pembicaraan kedua orang itu.

Terdengar anggota Mokau yang ada di sebelah kiri itu sedang berkata dengan suara nyaring, “Ciu suheng, siaute rasa cingnbun suhu terlalu bertindak hati-hati, padahal toa- supek sudah selesai dengan semedinya, dengan tiga perkumpulan besarpun kita sudah bersekutu, menjagoi dunia persilatan hanya soal gampang untuk kita dewasa ini, kenapa musti jeri terhadap seorang manusia yang bernama Hoa Thian-hong?”

Terdengar Ciu suheng menjawab dengan suara dalam. “Wan sute, lantaran kau tidak turut serta dalam peristiwa

penggalian harta di bukit Kiu ci san, maka kau tidak tahu akan kehe batan dari Hoa Thian-hong… ”

Tiba-tiba ia rasakan ucapannya terlalu menyanjung kehebatan orang dengan merendahkan kedudukan sendiri, maka cepat-cepat ujarnya lagi, “Selama dua puluh tahun belakangan ini, pengaruh dan daya kekuasaan keluarga Hoa sudah mengakar dan mendarah daging dalam dunia persilatan, cukup dengan perbuatan putra Hoa Thian-hong di kota Si-ciu pun segera berdatangan begitu banyak orang yang bersedia menjual nyawa kepadanya, dari pada terjadi sesuatu yang tidak dingin kan kita memang musti bersiap lebih hati- hati”

Tampaknya Wan sute seperti dapat merasakan pula makna dari ucapan itu, segera ujarnya pula. “Hwesio tua yang kita jumpai sewaktu di kota Kim Leng dulu juga hebat sekali, ilmu silatnya tiada tandingan bahkan toa supek sendiripun dipaksa berada dibawah angin, apa mau dibilang sampai ini hari Coa Goan hau belum juga mau tunduk, kalau ia sampai bekerja sama dengan keluarga Hoa, wah! Semakin silit untuk menghadapi mere ka”

Hoa In-liong semakin menaruh perhatian lagi setelah mendengar orang orang itu membicarakan soal Coa Goan hau.

Terdengar Ciu suheng berkata dengan dingin, “Aaah…… belum tentu demikian, asal Tok liong wan (pil naga beracun) berhasil dibuat, hemm…..hemm….. lihat saja hasilnya nanti……!”

“Ciu suheng, benarkah Tok liong wan itu manjur sekali?” Wan sute bertanya.

Co suheng tertawa angkuh.

“Resep yang diwariskan Cosu ya mana mungkin bisa salah, asal orang-orang yang bandel itu sudah dicekoki, ditanggung mereka akan tunduk seratus persen dibawah perintah Kita” Mendengar ucapan tersebut, Hoa In-liong merasa amat tercekat, hampir saja dia hendak turun tangan untuk membekuk kedua orang itu, tapi niat tersebut kemudian ditahan, ia merasa bukan kesempatan yang baik baginya untuk melakukan segala tindakan yang diluar perhitungan.

Sementara itu, kedua orang anggota Mokau itu makin lama sudah semakin jauh dari sana, akhirnya bayangan tubuh mereka lenyap dibalik tikungan jalan sana.

Dengan seksama Hoa In-liong mengawasi kembali sekeliling tempat itu, setelah ia yakin kalau sepuluh kaki disekeliling tempat itu tiada seorangpun, ia baru memanggil Thian Ik-cu untuk turun dari atas pohon.

Ketika Thian Ik-cu sudah berada disisi Hoa In-liong, dengan perasaan tak sabar pemuda itu lantas bertanya, “Totiang, tahukah kau benda apakah Tok liang wan itu?”

Dengan wajah serius Thian Ik-cu menggelengkan kepalanya.

“Belum pernah kudengar tentang obat tersebut, tapi kalau didengar dari nada pembicaraan mereka berdua, jelas obat itu merupakan sejenis obot pemabuk yang membuat orang hilang pikiran, aaai… kalau dibicarakan kembali sungguh memalukan, tempo dulu perkumpulan kamipun pernah membuat orang semacam itu……”

“Kalau begitu, bukan terhitung satu hal yang aneh” tukas Hoa In-liong kemudian. Thian Ik-cu tertawa.

“Hoa kongcu, kau musti tahu bahwa obat penghilang pikiran itu beraneka ragam banyaknya, obat pemabuk biasa hanya bikin orang hilang ingatan tapi ilmu silat yang dimikilinya bagaimanapun hebat dan tingginya tak bisa dipergunakan lagi, para korban biasanya menjadi lambat dalam gerak-gerik, sama sekali tak berpendirian dan pada hakekatnya adalah seorang manusia yang tak berguna.

Hoa In-liong seperti menyadari akan sesuatu, segera serunya, “Yaa, seandainya terdapat sejenis obat pemabuk yang dapat menghilangkan pikiran orang, bisa memerintahnya sekehendak hati dan ilmu silatnya tidak terpengaruh….”

“Itulah yang pinto takuti” sambung Thian Ik-cu agak kuatir, Tok liong wan adalah obat pemabuk dari jenis ini” Hoa In-liong menjadi sedih dan murung dengan perasaan kuatir serunya, “Waaah…..kalau sampai mereka berhasil membuat obat tersebut, umat persilatan pasti akan terancam marah bahaya, kita harus berusaha untuk membasmi mereka dari muka bumi”

“Tapi darimana kau tahu obat-obat tersebut di bikin dimana?” kata Thian Ik-cu dengan wajah yang murung pula. “kalau ingin tahu, terpaksa kita harus menangkap seseorang untuk ditanyai!”

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Untungnya hari ini kita akan menolong orang-orang itu. sekalipun Tang Kwik-siu bermaksud tidak menguntungkan terhadap kawanan jago itu, aku pikir dia bakal dibuat gelagapan juga”

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Hoa In-liong, diam-diam pikirnya, “Kalau begitu ditangkapnya empek Yu pasti di maksudkan untuk membuat obat tersebut tapi dengan sifat empek Yu yang jujur dan gagah perkasa, mana ia sudi membantu mereka untuk membuat obat racun seperti itu?

Cuma beberapa bulan berselang anggota Hian-beng-kau telah mencuri sebuah botol porselen dari rumah empek Yu, kalau bukan empek Yu yang memberitahukan tempat penyimpannya, siapapun tak akan mendapatkannya, jangan- jangan ia telah melakukan suatu persetujuan dengan gembong-gembong iblis itu? Sewaktu dilembah bukit Siong san, akupun sempat mendengar nama-nama seperti Su bok thian wi sekalian, mungkin saja itulah bahan-bahan penting untuk pembuatan bahan obat Tok liong wan……”

Sementara ia masih termenung, mendadak terdengar Thian Ik-cu berkata, “Hoa kongcu, kini udara masih terang benderang, suasana semacam ini tidak cocok untuk menolong orang, mari kita atur napas dulu untuk pulihkan tenaga, menanti hari sudah gelap nanti kita baru mulai bekerja?” Hoa In-liong menarik kembali lamunan-nya dan memandang sekeliling tempat itu, betul juga dalam cuaca terang benderang be gini, seluruh benda yang berada dalam lembah itu dapat terlihat dengan jelas, itu berarti bukan suatu hal yang mungkin terjadi untuk menyusup kedalam lembah tanpa di ketahui orang.

Sudah barang tentu, jangankan menolong orang dalam gua, untuk berdiri disana tanpa ketahuan orang pun mustahil.

Karena itu dia lantas mengangguk. Bersama Thian Ik-cu, kedua orang itu melampaui puncak bukit dan mencari sebuah gua yang kering dan tinggi untuk atur pernapasan sambil menanti tibanya malam hari.

Kurang lebih pukul lima sore, kedua orang itu menyelesaikan semedinya, untuk mengisi waktu, Thian Ik-cu mengisahkan kembali pengalaman tempo hari, lalu merundingkan cara penyergapan nanti serta menentukan jalan mundurnya.

Tebing-tebing karang dilembah itu kebanyakan menjulang tinggi keangkasa, yang paling rendah mencapai empat lima puluh kaki, malah dibagian tengah sana mencapai enam tujub puluh kaki lebih.

Bagi jago-jago biasa, mungkin mereka akan keder dan ketakutan, tapi tidak sampai menyusahkan Hoa In-liong, muski demikian untuk menghindari segala sesuatu yang tak diinginkant, mereka toh membuat juga seutas rotan yang panjangnya mencapai enam puluh kaki lebih.

Dinding tebing karang itu curam dan amat terjal, ditambah pula gersang tiada tumbuhan apapun, sungguh merupakan suatu tempat yang berbahaya. Untungnya malam itu udara berawan dan tiada cahaya bintang serta rembulan, pelan-pelan kedua orang itu merambati rotan dan meluncur turun ke bawah. Baru saja Hoa In-liong hendak meloncat turun, mendadak dalam jarak dua kaki dibagian bawah tubuhnya secara lamat-lamat kedengaran suara lirih, ia menjadi teperanjat dan segera berpikir, Sungguh berbahaya! Ternyata dibawah dinding tebing sanapun ada orang yang menyembunyikan diri.

Dengan sinar mata tajam, diapun memeriksa letak tempat persembunyian orang itu.

Kemudian ia memberi tanda kepada Thian Ik-cu yang berada diatas, dan dengan suatu gerakan cepat, tubuhnya melayang tiga kaki jauhnya ke depan, kebetulan tubuhnya tiba disudut pojok dari antara tempat persembunyian orang.

Terdengar hembusan angin lirih berkumandang dari arah belakang, ia tahu pasti Thian Ik-cu yang telah menyusul itu.

Penjagaan dalam lembah memang amat ketat dan keras, Thian Ik-cu sendiripun merupakan bekas ketua dari suatu perkumpulan besar sudah barang tentu pengetahuan serta pengalamannya luar biasa tidak mengalami kesulitan, selang sesaat kemudian sampailah mereka didepan gua yang dimaksudkan.

Dibawah dinding tebing tersebut sebuah mulut gua yang pintunya terturup rapat, disebelah kanan pintu batu itu terbuka sebuah lubang kecil seluas setengah depa, di depan gua berderet rumah-rumah batu, lampu lentera tergantung disudut ruangan dan menerangi wilayah seluas beberapa kaki disekitar tempat itu. Beberapa orang anggota Mokau dengann senjata lengkap mondar-mandir melakukan penjagaan, sedemikian ketatnya penjagaan disitu membuat seekor burungpun sukar melewitinya.

Sementara Hoa In-liong masih termenung sambil memikirkan cara untuk menembusi penjagaan itu, tiba-tiba kedengaran Thian Ik-cu berbisik dengan ilmu menyampaikan suaranya, “Bila pinto melakukan sesuatu gerakan di sebelah sana untuk menarik perhatian mereka, harap Hoa kongcu segera mulai bertindak, bilamana perlu kita lukai mereka tanpa ampun!”

Hoa In-liong manggut-manggut tanda mengerti, pikirnya, “Satu-satunya cara untuk mengatasi keadaan ini memang memancing harimau turun gunung… ”

Betul juga, tak lama kemudian dari jarak seratus langkah disebelah kiri terdengar suara lirih, agaknya ada batu disambit, pemuda itu segera bersiap sedia untuk menerjang masuk ke dalam ru mah batu tersebut…..

Mendadak terdengarlah gelak tertawa nyaring, Tang Kwik- siu berkata dengan suara langlang, “Hoa Yang, kau tidak menyangka bukan, jauh-jauh datang kemari ternyata tak lebih hanya mengantarkan dirimu sendiri? Haaahh…. haaaahh….haaah… Thian Ik-cu, lohu musti mengucapkan

banyak terima kasih kepadamu atas jasamu membawa orang she Hoa itu datang kemari”

Terkejut dan merah muka Hoa In-liong menghadapi kejadian ini, segera pikirnya, “Heran, darimana Tang Kwik-siu bisa tahu kalau malam ini aku bakal datang kemari?, Jangan- jangan Thian Ik-cu sengaja menipuku?” Berpikir sampai disitu, ia pun lantas berseru, Tang Kwik-siu, kata-kata yang bersifat mengadu domba lebih baik jangan dibicarakan, kalau toh aku orang she Hoa sudah terjatuh ke tanganmu, kenapa kalian tidak segera menampakkan diri?”

“Pasang lampu!” bentaknya.

Suara mengiakan berkumandang dari sekeliling tempat itu, mendadak cahaya api berkelebat lewat seluruh tempat, sekeliling tempat itu menjadi terang benderang.

Hoa ln liong mencoba untuk memeriksa keadaan disekeliling tempat itu, dia jumpai Thian Ik-cu sedang berdiri kurang lebih tujuh delapan kaki disampingnya dengan wajah gugup dan kaget, sementara sekeliling tempat itu sudah dipenuhi oleh jago-jago Mokau yang mengangkat obornya tinggi-tinggi.

Tang Kwik-siu yang berikat pinggang naga emas berdiri ditengah arena, sementara Leng hoa ki dan Lenghou yu, kakak beradik yang memakai ikat pinggang naga perak berada di kedua belah sisinya, selain itu masih ada juga Huyan Kiong serta Hong Liong.

Thian Ik-cu menghela nafas panjang, tiba-tiba ia meloloskan pedangnya sambil berkata kepada Hoa In-liong, “Hoa kongcu, pinto tak sanggup memberi penjelasan kepadamu, tampaknya hanya ada satu jalan…..

“Haaahhh…….haahhh………haahh… buat apa to-heng

mengelabuhi si bocah dari keluarga Hoa lagi?” tiba-tiba Tang Kwik-siu berseru sambil tertawa tergelak, “siaute telah mengambil keputusan untuk mengajak bocah itu bertarung secara adil, kami tidak akan melakukan tindak penyergapan..” Tak terlukiskan rasa gusar Thian Ik-cu menghadapi kejadian tersebut, bentaknya penuh kegusaran.

“Tutup mulutmu!”

Tang Kwik-siu segera pura-pura tercengang, katanya, “Sekarang siaute toh sudah terlanjur membongkar perasaan to-heng, apa gunanya to-heng musti berlagak terus?”

Kemarahan Thian Ik-cu tak terbendungkan lagi, kalau bisa dia ingin menerjang ke depan dan beradu jiwa dengannya.

Rasa sedih dan sesalnya kali ini boleh dibilang belum pernah dialami sebelumnya, dia tak menyangka kalau cerita tentang di sekapnya kawanan jago disana sesungguhnya hanya suatu tipu muslihat belaka, apa lacur, dimasa lampau ia memang bernama busuk, ditambah lagi dia pula yang mengajak Hoa In-liong kesitu, dengan keadaan seperti ini sekalipun ia hendak memberi penjelasan, belum tentu orang akan mempercayainya.

Tiba-tiba Hoa In-liong berkata dengan suara dalam, Boanpwe percaya kepada totiang, buat apa kita musti menggubris taktik Tang Kwik-siu yang hendak memecah belah kekuatan kita? Harap totiang pusatkan pikiran untuk menghadapi musuh.

Tak nyana kalau keturunan keluarga Hoa pun sangat bijaksana dan berjiwa besar, sekalipun harus mati pinto tak akan menyesal.

Sesungguhnya dia hendak bunuh diri untuk membuktikan kebersihan dirinya, tapi sekarang ia berubah pendapat, ia rela beradu jiwa dengan musuh demi menyelamatkan jiwa Hoa In- liong. Sementara itu Hoa In-liong sendiri masih tetap tenang dan seakan-akan tak pernah terjadi suatu kejadianpun, ditatapnya Tang Kwik-siu sekejap kemudian katanya, “Sekarang aku orang she Hoa belum dibekuk, lebih baik kaucu jangan keburu merasa senang!”

Setelah berhenti sejenak, kembali katanya, “Sampai kini aku orang she Hoa cuma merasa keheranan, darimana kaucu bisa tahu kalau aku bakal berkunjung kemari?”

Ketika dilihatnya pemuda itu masih tetap tenang dan tertawa, sekalipun keadaannya sudah terkepung dan untuk kabur sudah tak mungkin lagi, timbul juga perasaan sayang dihati Tang Kwik-siu.

Wajahnya yang berseri segera berubah menjadi serius, katanya sambil tertawa, “Hal ini kami musti berterima kasih kepada Tong thian kaucu!”

Hoa In-liong tertawa dingin.

“Buat apa kaucu berusaha mengadu domba terus? Bocah berumur tiga tahun pun tak akan percaya, apa kau tidak kuatir kehilangan ke-wibawaanmu sebagai seorang ketua?”

Diam-diam Tang Kwik-siu menyumpah dalam hati, “Bajingan terkutuk, akan kulihat sampai kapan kau dapat bersilat lidah terus?”

Dia lintas memberi tanda, lalu bersama dua bersaudara Lenghou, Huyan Kiong dan Hong Liong melompat turun ke bawah.

Seluruh anggota Mokau lainnya tetap memperketat pengepungan disekeliling tempat itu” Setelah melompat turun dari atas atap rumah, Tang Kwik- siu berpaling ke arah Thian Ik-cu, kemudian ujarnya sambil tertawa, “Keadaan situasi yang terbentang didepan mata sekarang sudah cukup jelas, jika To heng bersedia untuk bekerja sama dengan kami, siaute akan menyambutnya dengan senang hati, kalau enggan bekerja sama, kamipun mengingikan to-heng untuk pergi jauh ke ujung dunia, buat apa kau musti melakukan perjalanan bersama-sama bocah dari keluarga Hoa ini… ?”

Dengan kukuh Thian Ik-cu menggelengkan kepalanya. “Pinto sudah bersumpah akan mati atau hidup bersama

Hoa kongcu!” katanya serius.

“Hidung kerbau tua!” teriak Hong Liong dari samping dengan wajah menyeramkan, “tak kusangka kalau kau dapat begitu setia mengabdi untuk orang lain, Hmm! Rupanya cara keluarga Hoa dalam membohongi orang memang cukup hebat!”

Thian Ik-cu berpaling dan memandang sekejap kearah Hoa Liong dengan pandangan dingin.

Menyaksikan sikapnya itu, Tang Kwik-siu segera tahu bahwa dibujuk lebih jauh pun tak ada gunanya, maka sambil berpaling lagi ke arah Hoa In-liong, ujarnya sambil tertawa, “Dengan mengandalkan kepandaiannya Hoa Thian-hong mengangkangi seluruh dunia, lohu merasa sangat tidak puas kepadanya, tapi kau dengan usia yang begitu muda teryata bisa menaklukan Tong thian kaucu yang tersohor namanya sehingga bersedia menjual nyawa untukmu, untuk keberhasilan ini lohu merasa kagum sekali” Hoa In-liong segera menjura, katanya hambar, “Aku binal dan bodoh, tingkah lakuku hanya menambah kerisauan orang tuaku saja, Tang Kwik kaucu terlalu memuji”

Tang Kwik-siu tertawa angkuh, katanya, “Hoa Yang, kalau meninjau situasi yang terbentang dihadapan matamu sekarang, bagaimanakah penilaianmu?

Hoa In-liong tertawa hambar.

“Bila hari ini aku orang she Hoa ingin mundur dari sini dengan selamat, rasanya memang teramat sulit, cuma anggota kaucu pun pasti akan banyak yang jatuh korban, mungkin juga diantara sutemu ada satu dua orang yang akan mengiringi kepergianku menuju ke sorga atau neraka”

Huyan Liong teramat gusar melihat cara pemuda itu berbicara, apalagi senyuman yang selalu menghiasi bibirnya, kendatipun keadaan jiwanya sudah terancam.

Sambil tertawa dingin segera ujarnya.

“Bocah cilik dari keluarga Hoa, kali ini tak akan ada bajingan baju putih yang akan menolongmu lagi, ada pesan terakhir tidak? Kalau ada lekas diucapkan, memandang pada wajahmu mungkin saja aku bersedia merawat mayatmu!”

Yang dimaksudkan sebagai bajingan baju putih adalah sastrawan baju putih Swan Wi yakni hasil penyamaran dari Coa Wi-wi.

Oleh serangan racun ular keji yang dilepaskan Huyan Kiong tempo hari, tidak sedikit penderitaan yang telah di alami Hoa In-liong selama ini, mendengar ia buka suara, amarahnya segera berkobar. sambil marah serunya, “Huyan Kiong, keluar kau! Dengan mengandalkan sepasang kepalanku ini, aku orang she Hoa ingin melayanimu, jika dalam lima puluh gebrakan tidak berhasil menangkapmu, aku rela kau jatuhi hukuman”

Huyan Kiong tidak tahan menerima tantangan tersebut, dengan langkah lebar ia segera maju ke depan.

Ketika mendengar perkataan itu, Tang Kwik-siu merasa amat girang, pikirnya, “Untuk menangkap bocah diri keluarga Hoa dalam keadaan hidup, jelas merupakan suatu pekerjaan yang sulit, untuk membinasakannya merupakan suatu perbuatan yang terpaksa, kalau aku bisa menawannya hidup- hidup, hemm…..hehhm… waktu itu Thian Ik-cu pasti akan

menyerah juga, bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk menangkap dua orang jago lihay sekaligus… ”

Berpikir sampai disitu, karena kuatir Hoa In-liong menyesal, ia lantas berseru lantang, “Hoa Yang, seandainya dalam lima puluh gebrakan kau dapat menangkan sute ku, lohu ijinkan kau keluar dari lembah ini”

oooooOooooo 46

Baik, kita berjanji dengan sepatah-kata ini, kalau aku gagal menangkan sutemu dalam lima puluh gebrakan, aku akan menyerahkan diri kepadamu!”

Huyan Kiong benar-benar amat gusar, sambil tertawa dingin serunya, “Orang she Hoa, masuk hitungan tidak perkataanmu itu?”

“Belum pernah keturunan keluarga Hoa bicara mencla- mencle, apa yang pernah diucapkan tak pernah akan diingkari lagi!” Sambil tersenyum, Tang Kwik-siu segera menyela, “Janji dari orang keluarga Hoa bisa diandalkan, Ngo sute tak perlu sangsi lagi!”

Sebaliknya Thian Ik-cu merasa amat murung, sebab ucapan seorang kuncu bagaikan sebuah cambukan diatas tubuh kuda, sekali sudah lari sukar ditarik kembali, andaikata Hoa In-liong gagal menangkan Huyan Kiong dalam lima puluh gebrakan, untuk mempertahankan nama baik keluarganya terpaksa ia harus memenuhi janji.

Kini urusan telah berkembang jadi begini sekalipun dia ada maksud untuk beradu jiwa juga tak ada artinya.

Diam-diam ia merasa murung sekali, tapi dalam pergaulannya selama beberapa hari, diapun tahu kalau Hoa In-liong bukan seseorang yang bertindak gegabah, tanpa keyakinan yang masak tak mungkin anak muda itu akan mengambil tindakan tersebut.

Sementara itu para anggota dari Mokau rata-rata menganggap Hoa In-liong pasti akan kalah dalam pertarungan itu.

Sebagaimana diketahui, Huyan Kiong adalah adik seperguruan dari Tang Kwik-siu, tentu saja ilmu silat yang dimiliki olehnya sangat hebat sekali, jangankan orang lain, Tang Kwik-siu sendiripun tidak berkeyakinan bisa meraih kemenangan dalam lima puluh gebrakan.

Semua orang tahu bahwa keluarga Hoa mengandalkan ilmu pedangnya yang tiada tandingan, tapi Hoa In-liong sekarang melepaskan kesem-patannya untuk menggunakan pedang dan malah memilih menggunakan ilmu pukulan, hal ini sangat tidak menguntungkan posisinya. Yang penting lagi dalam pertarungan dibukit Yan san setengah tahun berselang, sekalipun dalam ratusan gebrakan Hoa In-liong berhasil menangkan Huyan Kiong dengan sebuah serangan jari, bicara soal tenaga dalam sesungguhnya mereka seimbang, mustilah kalau Hoa In-liong dapat peroleh kemajuan yang pesat hanya didalam tujuh delapan bulan.

Tang Kwik-siu adalah seorang manusia licik yang banyak tipu muslihatnya, dari sikap Hoa In-liong yang tenang dan mantap, diam diam ia lantas berpikir, “Sebodohnya bajingan ini, tak mungkin ia memilih jalan kematian untuk diri sendiri, jangan-jangan ia memang punya pegangan?”

Sekalipun demikian, ia toh cukup merasa bahwa Hoa In Iiong telah melangkah diatas jalan kematiannya sendiri.

Semenjak tadi Huyan Kiong sudah tak tahan untuk menghadapi sikap pandangan enteng musuhnya, sambil tertawa seram segera teriaknya, “Hoa loji, lohu ingin tahu kepandaian sakti apakah yang belakangan ini berhasil kau latih?”

Sambil maju ke depan, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ketubuh anak muda itu.

Hoa In-liong berkelit kesamping sambil membacok pergelangan tangan musuh, sebuah tendangan dikirim menghajar pusar Huyan Kiong sambil serunya dingin, “Ilmu silat mah cuma seperti dulu, tapi ini sudah lebih dari cukup untukmu!”

Diam-diam Huyan Kiong merasa amat gusar, badannya berkelebat dan ganti menyerang sayap kiri anak muda itu, tubuhnya bergerak maju mengikuti gerak pukulan, makin menyerang semakin ganas, suatu pertarungan sengit pun segera berkobar.

“Beruntun beberapa gebrakan kemudian, suatu bentrokan tak dapat dihindari lagi, dua orang itu sama-sama saling beradu sekali, a-kibatnya Hoa In-liong tetap berdiri ditempat semula, tapi Huyan Kiong terdorong sejauh tiga langkah ke belakang.

Kejadian ini cukup menggemparkan orang-orang Mokau, paras muka semua orang hampir saja berubah hebat, lebih- lebih Huyan Kiong sendiri, saking kagetnya ia sampai tertegun, ia tak habis mengerti mengapa tenaga dalam Hoa In-liong bisa peroleh kemajuan sepesat itu.

Hoa In-liong mendengus dingin, sepasang bahunya bergerak, sekali lagi ia menerjang ke muka.

Huyan Kiong merasa mendongkolnya bukan kepalang, terpaksa sambil menggertak gigi ia layani serangan musuh. Mendadak terdengar Tang Kwik-siu berseru, “Sute, perketat posisi pertahanan layani serangan-serangan dengan hati yang tenang”

“Mendengar seruan itu, Hoa In-liong berpikir pula dalam hati.

Sebagai ketua dari Seng-sut pay yang merupakan aliran sesat, Tang Kwik-siu termasuk seorang jago yang licik dan banyak tipu mus lihatnya, sekalipun aku dapat ungguli Huyan Kiong dalam lima puluh gebrakan, belum tentu ia bersedia pegang janji.

Berpikir sampai disitu, timbullah niatnya untuk satu lawan satu dan baik buruk menghancurkan dulu sebagian dari tenaga inti pihak Mokau. Berpikir sampai disitu, berkobarlah hawa nafsu membunuhnya, dia memutuskan untuk menyelesaikan pertarungan secepat mungkin, dengan wajah sedingin es, Hoa In-liong segera merubah gerakan pukulannya dan meneter Huyan Kiong habis-habisan.

Selama tinggal dikota Si ciu, boleh dibilang Hoa In-liong telah mendalami ilmu Thian-hua cahi ki serta melatihnya dengan tekun, karenanya setiap jurus serangan yang ia pergunakan selalu berhasil mematahkan serangan dari Huyan Kiong ditengah jalan.

setelah berulang kali menghadapi mara bahaya, Huyan Kiong merasa terkejut bercampur takut, jurus serangannya segera dirubah, dengan mengandalkan ilmu Ngo-kui-im hongjiau (cakar angin dingin lima setan) dan Tong pit mo ciang (ilmu pukulan iblis lengan panjang) dari perguruan, ia berusaha memperbaiki posisinya.

Hoa In-liong tertawa tergelak, ilmu Ci-yu jit ciat (tujuh kupasan dari Ci yu), Hu im ciang hoat (ilmu pukulan naga tunggal) serta Su siu hua heng ciang (pukulan empat gajah berubah bentuk) dari keluarga Coa di pergunakan silih berganti, jurus-jurus aneh digunakan tiada habisnya dengan perubahan perubahan yang tak terhitung banyaknya.

Dalam waktu singkat, napas Huyan Kiong sudah terengah- engah dibuatnya, ia semakin payah dan keteter hebat.

Tempo hari sewaktu Hoa Thian-hong berjumpa dengan Tang Kwik-siu untuk pertama kalinya di kota Lok-yang, dengan mengandalkan aneka macam ilmu pukulan dari Thian- hua-cha-ki itulah Tang Kwik-siu pernah diserang, mendadak Hoa Thian-hong sehingga tak punya tenaga untuk melancarkan serangan balasan dan kini sejarah terulang kembali cuma posisinya justru kebalikan.

Menyaksikan hal tersebut, Tang Kwik-siu lantas jadi teringat kembali dengan peristiwa lama dibukit Kiu ci san tempo hari, ia teringat dengan dendam sakit hatinya ketika dipaksa Hua Thian Hong untuk menyerahkan kitab Thian hua coa ki kepadanya,

Sekalipun demikian, sebagai seorang jago yang berhati licik, ia dapat menekan rasa dendamnya yang membara itu, pikirnya, “Bila Huyan sute dapat menahan sepuluh gebrakan lagi, lima puluh jurus akan segera tercapai, akan kulihat apa yang bisa dikatakan lagi oleh bajingan dari keluarga Hoa!”

Sementara itu kedengaran Hoa In-liong sedang membentak dengan suara berat, “Huyan Kiong, coba akan Kulihat kau bisa bertahan beberapa gebrakan lagi?”

Diantara seruan tersebut tangan kirinya mendadak melancarkan sebuah serangan dahsyat, jari tangannya menotok jalan darah Ki bun hiat di tubuh Huyan Kiong, sementara tangan kanannya dengan mengandung tenaga penuh melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke muka.

Waktu itu Huyan Kiong sudah bermandi keringat karena kepayahan, ketika secara tiba-tiba ia jumpai titik kelemahan diatas iga kiri lawan, tanpa berpikir panjang lagi, dengan jurus Siau kui tui mo (setan cilik mendorong gilingan), ia menyergap ke depan.

Tiba-tiba pandangan matanya terasa kabur, bayangan tubuh Hoa In-liong lenyap tak berbekas, sebagai gantinya segalung desingan angin tajam meluncur ke bawah ketiak kirinya. Huyan Kiong sadar bahwa ia tak sanggup menghindarkan diri lagi, dengan mempertaruhkan keselamatan jiwanya ia maju sambil menyodok, lalu telapak tangannya dibalik menghantam bahu kanan lawan.

Dengan mengandalkan ilmu Gi hiat ki khi ceng han (menggeser jalan darah menghimpun tenaga pantulan) yang dimilikinya, dalam keadaan terpaksa ia dapat menggeserkan letak jalan darahnya ke samping lain, selain daripada itu iapun bisa memantulkan tenaga serangan musuh yang bersarang ditubuhnya.

Semakin keras pukulan musuh semakin besar pula tenaga pantulan yang akan dihasilkan, cuma kalau berjumpa dengan jago yang memiliki kekuatan melebihi dirinya, sekalipun dapat memukul balik serangan musuh, akibatnya ia sendiripun akan terluka.

Oleh karena itulah sengaja dia menjajal kekuatan tenaga dalam lawan, kemudian setelah mengetahui taraf kepandaian yang di miliki musuhnya baru mengambil tindakan berikutnya.

Sekarang keadaan sudah mendesak sekali, diapun tahu bahwa tenaga pukulan musuhnya sangat kuat, dengan perasaan apa boleh buat ia bersiap sedia untuk beradu jiwa, dalam pemikirannya asal kedua belah pihak terluka itu berarti pertarungan seri.

Siapa tahu sejak pertarungan dibukit Yan san tempo hari, Hoa In-liong telah menyelidiki secara khusus cara untuk memecahkan ilmu Gi-hiat ki khi ceng itu, ia merasa kepandaian tersebut ada miripnya dangan ilmu Hui sin kang dari keluarga Hoa, maka dengan dasar kecerdasan otaknya tak lama kemudian ditemukanlah cara penang-gulangannya. Kedengaran Hoa In-liong tertawa dingin, lalu serunya, “Akan kucoba kepandaian saktimu yang tidak mempan tenaga pukulan itu….!”

Totokan yang hampir bersarang ditubuh lawan mendadak berubah menjadi serangan kebasan, ia menyapu bahu kiri Huyan Kiong.

Kontan saja Huyan Kiong merasakan desingan hawa murni yang menyusup kedalam tubuhnya dan langsung menyerang jalan darah Tay yang sam ciau, Yang beng tay cong serta Tay yang sing cong, tiga buah nadi penting didalam tubuh.

Tidak ampun lagi ia mendengus tertahan dan roboh tak sadarkan diri.

Dengan cepat Hoa In-liong menyambar tubuhnya dan mengempit Huyan Kiong dibawah ketiak.

Bayangan manusia secara berkelebat lewat, dengan suatu gerakan yang sangat cepat, Tang Kwik-siu menerjang ke muka, kelima jari tangannya seperti cakar setan langsung mencengkeram tubuh Hoa In-liong,

Thian Ik-cu membentak marah sambil mengeluarkan pedangnya, ia ikut menerkam pula ke depan.

Lenghou Ki bersuit nyaring, sebuah pukulan dahsyat dibacokkan ke tubuh Thian Ik-cu, sementara Lenghou Yu, dan Huyan Liong menerjang ke arah Hoa In-liong.

Thian Ik-cu mendengus dingin, pedangnya digerakkan keatas lansung merotok jalan darah Tay yang-hio ditubuh Huyan Liong, ditengah jalan, mendadak serangan itu berubah menyambar tubuh Leng Hoa ki, lalu serangannya ditarik dan gantian membacok Lenghou Yu. Lenghou Yu dan Hong Liong seperti didesak balik ke posisi semula, sedangkan Lenghou Ki pun terpaksa buru-buru menghindari serangan.

Thian Ik-cu sebagai bekas ketua Tong thian kau dimasa lalu memang memiliki pengalaman yang cukup luas dalam pertarungan, dalam satu gebrakan dengan tiga gerakan, ternyata dalam waktu singkat ia berhasil memaksa tiga orang jago lihay seng sut-pay sama sekali tak mampu berkutik.

Sementara Hoa In-liong sudah melompat tiga depa ke samping untuk menghindarkan diri dari sergapan Tang Kwik- siu, lalu dengan gusar ia membentak, “Tahan!”

Tang Kwik-siu pura-pura tidak mendengar, secepat kilat ia menubruk ke depan sambil melepaskan sebuah pukulan.

Dengan ilmu Hu-im ciang hoat, Hoa In-liong menyambut serangan dahsyat itu dengan tangan kanannya.

“Plaaak… !” meminjam tenaga dorongan yang sangat

kuat itu badannya melompat, mundur sejauh beberapa kaki, setelah berhasil menekan pergolakan hawa darah didalam dada, bentaknya keras, “Tang Kwik-siu! Kau sudah tidak mau nyawa sutemu lagi?”

Mendengar ancaman tersebut, terpaksa Tang Kwik-siu harus menghentikan serangannya, sambil tertawa serak ia berkata, “Hoa kongcu, kalau ada persoalan mari kita bicarakan secara baik baik, tolong lepaskan dulu suteku!”

“Hoa In-liong melirik sekejap kearah Thian Ik-cu, ketika dilihatnya tosu itu terdesak hebat dibawah kerubutan dua bersaudara Lenghou dan Hong Liong, sambil tertawa dingin ia lantas berkata, “Harap kaucu perintahkan dulu orang-orang untuk menghentikan serangan, setelah itu kalau mau bicara baru berbicara lagi!”

Tang Kwik-siu termenung sejenak, akhirnya ia berpaling sambil membentak keras, “Berhenti!”

Sesungguhnya Hong liong dan dua orang bersaudara Lenghou ada maksud untuk menyingkirkan Thian Ik-cu lebih dulu, tapi sesudah mendengar bentakan itu terpaksa mereka menarik kembali serangannya sambil mundur, menggunakan kesempatan itu Thian Ik-cu segera melompat ke depan dan berdiri berdampingan dengan Hoa In-liong.

Menanti Thian Ik-cu sudah berdiri disampingnya, Hoa In- liong baru berkata dengan hambar, “Tang Kwik-siu apakah perjanjian kita barusan sudah dibatalkan?”

Tang Kwik-siu segera tertawa hambar.

“Lohu bukan seorang manuusia yang mengingkari janji, silahkan saja pergi dari sini!” katanya, Tapi setelah berhenti sebentar, sambil tertawa licik ia menambahkan

“Cuma Thian Ik-cu terpaksa muski tinggal disini, sebab ia tidak terhitung dalam perjanjian kita tadi”

Hoa In-liong berpikir sebentar, betul juga, apa yang dikatakan memang tidak salah, diam-diam ia lantas menyumpah dihati, “Tua bangka sialan, kau memang betul- betul licik sekali!”

Tiba-tiba terdengar Thian Ik-cu berkata, “Hoa kangcu, harap kau keluar dulu dari tempat ini, pinto segera akan menyusulmu!” Tentu saja Hoa lu liong tahu bahwa ia cuma menghibur hatinya belaka, dengan jumlah anggota Mokau yang begitu banyak sementara Thian Ik-cu hanya seorang diri, mana mungkin ia dapat meloloskan diri?

Sementara itu Tang kwik Siau telah menegur, “Hoa In- liong, bagaimana denganmu?”

“Seandainya aku bersikeras hendak melakukan perjalanan bersamanya, bagaimana pendapat kaucu?” Hea In liong balik bertanya dengan alis mata berkedip,

kontan saja Tang kwik Siau tertawa dingin.

Kalau begitu, berarti kau hendak mengingkari janji, tentu saja lohu akan berusaha untuk menghalanginya!”

Menyaksikan keadaan yang terbentang di hadapan mukanya, Thian Ik-cu segera menghela nafas panjang, Hoa kongcu, silahkan kau pergi seorang diri, pinto merasa masih sanggup untuk menjaga diri.

Hoa In-liong berpikir kembali, “Jika aku menggunakan keselamatan Huyan Kiong sebagai sandera, takutnya Tang Kwik-siu akan menyerangku tanpa memperdulikan keselamatan sutenya, sekalipun aku hendak pergi seorang diri, dengan keganasan wataknya, Hemm! Mungkin juga akan turun tangan, saat ini paling juga ia sedang memancingku masuk jebakan!”

Meskipun usianya masih muda, tapi otaknya encer dan ia cukup memahami segala kelicikan serta kebusukan hati orang, kalau tidak karena kelebihan tersebut, tak mungki Bu Tay-kun berani mengutusnya turun gunung untuk menyelidiki sebab sebab kematian Suma liang cing dan melimpahkan tanggung jawab itu diatas bahunya. Begitulah, setelah berpikir sejenak dia memutuskan untuk coba menyerempet bahaya dengan mencobanya.

Dengan ilmu menyampaikan suara ia berbisik kepada Thian Ik-cu, “Totiang. Ingat baik baik! Jika kau tidak berhasil meloloskan diri, selembar jiwa boanpwe pun akan ikut berkorban!”

Thian Ik-cu tertegun.

Sebelum ia sempat berbuat sesuatu, Hoa In-liong telah berkata kepada Tang Kwik-siu.

“Boleh saja kulakukan seperti yang dijanjikan, cuma sutemu itu baru akan kulepaskan setelah sampai dimulut lembah nanti!”

Semua orang menjadi tertegun, siapapun tidak menyangka kalau dia akan berkata demikian.

Dengan marah Lenghou Yu berkata.

“Huuh! anggota keluarga Hoa ngakunya saja seorang pemimpin persilatan yang gagah perkasa, tak tahunya cuma manusia-manusia yang takut mampus”

Tiba-tiba Hoa In-liong membentak keras, “Totiang, serbu!”

Badannya berkelebat lewat dan melompat naik keatas atap rumah.

Thian Ik-cu tak berani bertindak gegabah, cepat-cepat dia menyusul dari belakangnya. Kawanan jago Mokau disekitar gelanggang yang menyaksikan kejadian itu serentak menggerakkan senjata dan pukulan mereka untuk menyerang Hoa In-liong, untuk sesaat lamanya bentakan nyaring menggelegar diangkasa, hembusan angin pukulan dan bayangan senjata tajam berkilauan

dimana-mana, keadaan sungguh mengerikan.

Hoa In-liong cukup mengerti, andaikata dia sedikit teledor saja akibatnya Tang Kwik-siu pasti sudah menyusul kesitu, waktu itu kesempatan untuk kabur tentu sulit sekali.

Sebab itulah tidak berayal lagi ia gunakan tubuh Huyan untuk menghadapi serangan-serangan itu.

Akibat lantaran kuatir melukai tubuh Huyan Kiong, kawanan jago dari Mokau itu tak berani sembarangan berkutik, buru- buru mereka buyarkan serangan dan melompat kebelakang.

Hoa In-liong dan Thian Ik-cu segera manfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya, secepat kilat mereka menerobos keluar dari kepungan.

Setelah berlangsungnya pertarungan, kedudukan Tang Kwik-siu, dua bersaudara Lenghon dan Hong Liong berubah jadi membelakangi rumah batu, waktu itu Tang Kwik-siu mengira ikan yang masuk jaring tak akan terlepas lagi, maka mereka kurang begitu merasakan kuatir.

Siapa tahu justru keadaan semacam itulah telah dimanfaatkan Hoa In-liong dan Thian Ik-cu dengan sebaik- baiknya.

Kemarahan Tang Kwik-siu betul-betul memuncak, segera bentaknya keras keras, “Hoa Yang, mau kemana?” Ia berusaha melakukan pengejaran, tapi jalan perginya justru terhalang oleh anak buahnya yang bersiap-siap diatas atap rumah.

Lenghoa hengte dan Hong Liong ikut membentak keras sambil melakukan pengejaran.

Tampaklah Hoa In-liong dan Thian Ik-cu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat meluncur ke arah mulut lembah.

Anak murid Mokau yang berada disepanjang jalan buru- buru berusaha menghadang jalan pergi mereka, tapi semuanya dapat di halau oleh Hoa In-liong yang berjalan dipaling muka sambil memutar tubuh Huyan Kiong.

Jangankan melancarkan serangan secara langsung, senjata rahasiapun tak berani di lepaskan secara sembarangan.

Kenyataan tersebut semakin mengobarkan kemarahan Tang Kwik-siu, ia berteriak-teriak seperti orang kalap, “Orang she Hoa kau punya muka tidak”

Dengan garangnya ia menerjang ke muka.

“Jangan ribut dulu!” seru Hoa In-liong sambil mencibirkan bibirnya, “pokoknya setelah sampai dimulut lembah nanti, sute mu pasti akan kulepaskan…..”

Dalam waktu singkat, suasana dalam lembah itu menjadi kacau balau, kawanan jago dari Mokau bersama-sama melakukan pengejaran dan penghadangan-penghadangan, suara bentakan dan makian bersimpang siur, bayangan manusia berkelebat, bayangan golok berkilauan…….

Apa lacur semua murid kepercayaan Tang Kwik-siu ditugaskan menjaga gua, padahal ilmu silat mereka terhitung lihay dan luar biasa, kini yang tergabung dalam penjaga lembah hanya mereka yang berilmu kelas dua, sudah barang tentu tiada kegunaan sama sekali kekuatan mereka ini.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah melewati dua buah pos penjagaan, asal melewati dua pos penjagaan lagi, niscaya mereka sudah akan tiba diluar lembah.

Waktu itu naga telah kembali ke samudra, burung terlepas dari sangkarnya, Tang Kwik-siu hanya bisa menggigit jari saja.

Untunglah ia tak malu disebut seorang pemimpin dari suatu perguruan besar, dalam kejut dan marahnya ia berusaha mengendalikan golakan emosi itu dengan suara lantang segera teriaknya, “Semua anggota perkumpulan, dengan cara apapun hadang jalan pergi bujingan licik dari keluarga Hoa serta Thian Ik-cu si tosu bangsat, kalian tak usah mamperdulikan lagi keselamatan jiwa Huyan susiok sekalian.

“Sreet……! Sreet……! Sreet…..!” berbareng dengan turunnya perintah dari Tang Kwik-Siu, serentak orang orang Seng sut-pay mulai turun tangan, senjata rahasia berhamburan ke arah mereka berdua ibaratnya hujan badai yang menderu-deru.

Dalam keadaan demikian, sekalipun Hoa In-liong menyandera Huyan Kiong yang juga tak ada gunanya, maka tubuh huyan Kiong yang lemas tak bertenaga itu dibuang keatas tanah, setelah itu sambil tertawa terbahak-bahak ejeknya, “Haaah….. haaah…… haaah….. Tang Kwik-siu tampaknya hubungan persaudaraan kalian kurang akur? Maka sudah tidak memper-dulikan keselamatan dari Huyan Kiong lagi”

Setelah merontokkan senjata rahasia yang menuju ketubuhnya, ia melayang kemuka melampaui pagar kayu ketiga, bentaknya garang, “Siapa berani menghadang jalan pergiku, mampus!”

Kawanan jago dari Mokau yang berdiri berderet diatas pagar kayu tak berani kabur dari situ, kendatipun mereka tahu kelihaiyan musuhnya, penghadangan toh tetap dilakukan.

Salah seorang diantaranya, sambil mengayunkan goloknya dengan gaya Thay-san-ya-ting (gunung Thay san menindih kepala) langsung membacok batok kepala anak muda itu dengan buasnya.

Hoa In-liong segera memutar telapak tangan kanannya, dengan jurus “menyerang sampai mati” ia melancarkan sebuah serangan dari Ci yu jit ciat tersebut, dua orang itu langsung termakan serangan dan mampus seketika itu juga.

Dipihak lain Thian Ik-cu telah bertindak pula dengan garang, pedangnya kembali membacok mampus seorang musuh.

Dalam repotnya Hoa In-liong sempat berpaling kebelakang, ia saksikan Tang Kwik-siu sudah makin mendekat tiga kaki dari jarak mereka karena penghadangan tersebut, matanya mencorong sinar tajam, rupanya merasa gusar sekali.

Dua bersaudara Lenghou dan Hong Liong justru berada dua kaki dibelakang ketuanya.

Hoa In-liong tidak berani berayal lagi, dia mengeluarkan sekeping uang perak, memencetnya sampai remuk lalu disebarkan ke be lakang, kemudian tubuhnya melompat turun dari pagar kayu dan bersama sama Thian Ik-cu kabur menuju ke mulut lembah. Dalam beberapa kali lompatan saja mereka telah tiba di pos penjagaan pertama, baru saja Hoa In-liong enjatkan badan untuk melewati pagar kayu itu, mendadak terdengar suara bentakan dari Tang Kwik-siu yang menyeramkan itu telah berkumandang dari belakang, “orang she Hoa, mau kabur kemana kau?”

Sambil berkata, Hoa In-liong merasakan tibanya segulung angin pukulan yang sangat digin bagaikan es menyergap punggungnya.

Sianak muda itu merasa sangat terkejut, berada ditengah udara tanpa berpling lagi pedangnya diputar lalu ditusuk ke belakang, ke tika ujung pedang mencapai jarak tiga empat depa dari tubuh Tang Kwik-siu, segulung desingan angin tajam menyerang alis matanya.

Sungguh bebat serangan hawa pedang dari Hoa In-liong ini, serangan tersebut merupakan salah satu hasil ciptaan Hoa Thian-hong selama dua puluh tahun belakangan ini.

Dalam kejut dan ngerinya Tang Kwik-siu tidak menjadi gugup, buru-buru badannya menyingkir ke samping untuk menghindarkan diri, tapi dengan demikian angin pukulan yang ia lepaskan pun ikut miring ke samping dan menyambar lewat dari atas bahu kanan Hoa In-liong.

Akan tetapi justru lantaran Hoa In Iiong harus mempergunakan serangan hawa pedang yang belum berhasil dikuasainya dengan sempurna itu untuk menghalau serangan lawan, hawa murninya menjadi buyar, tubuhnya yang sudah berada lima kaki dari ujung pagar kayupun gagal dilewati,

“Aduuh celaka!” pekik si anak muda itu dalam hatinya, Padahal Thian Ik-cu melompat bersama-samanya, tapi oleh karena Tang Kwik-siu amat membenci Hoa In-liong hingga merasuk ketulang sum sumnya, hal ini malah justru menguntungkan dirinya, dengan mudah ia berhasil melampaui pagar kayu itu.

Tosu itu agak kaget juga melihat tubuh Hoa In-liong merosot kebawah karena kehabisan tenaga, dengan suatu gerakan cepat ujung bajunya segera dikebaskan kebawah kaki Hoa In-liong, meminjam tenaga sapuan tersebut anak muda itu segera melompati pagar kayu dan kabur menuju ke luar lembah, Thian Ik-cu menghimpun tenaga murninya dan ikut melompat turun, mendadak kaki kanan-nya terasa kaku menyusul kemudian terdengar seseorang mengejek sambil tertawa seram, “Heeehh…..heeehh…..heeehh….. Thian Ik-cu tosu bajingan, kau sudah terkena jarum Ngo-tok-ci at mia ciam (jarum lima racun pencabut nyawa) dari perguruan Kami, nyawamu sudah tak akan berta han lebih lama lagi……!”

Sambil menggigit bibir, Thian Ik-cu melompat turun dan siap memutar badannya untuk beradu jiwa, tapi tiba-tiba saja ia teringat dengan pesan Hoa In-liong pikirnya, “Kalau aku yang mampus masih mendingan tapi kalau gara-garaku sampai menyeret pula dia…. wah, akulah yang akan menjadi orang paling berdosa didunia ini!”

Karena berpikir demikian diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan daya kerja racun jahat itu, kemudian buru-buru menyusul si anak muda itu kabur keluar lembah.

Ketika Tang Kwik-siu sekalian menyaksikan rencana mereka mengalami kegagalan total, tentu saja tak rela melepaskan musuhnya dengan begitu saja, dengan sinar mata berapi-api, ia memerintahkan Lenghou hengte dan Hong Liong sekalian untuk melakukan pengejaran terus secara ketat. Akan tetapi bukit itu penuh diliputi hutan yang lebat, ketika Hoa In-liong dan Thian Ik-cu berhasil menyusup kedalam hutan itu, jejak mereka seketika itu juga lenyap tak berbekas.

Makin dipikir Tang Kwik-siu semakin naik darah, sekalipun ia tahu harapannya untuk mengejar ke dua orang itu tipis sekali, tapi ia toh memerintahkan juga segenap anak murid Seng sut-pay dengan lima orang membentuk satu kelompok untuk melakukan penggeledahan secara besar-besarn di sekitar lembah.

Sementara itu Hoa In-liong dan Thian Ik-cu sedang menyusup ke dalam hutan lebat, mendadak tosu tua itu mendengus tertahan dan roboh diatas tanah.

“Totiang, bagian mana dari tubuhmu yang kurang enak?” Thian Ik-cu membuka matanya sambil tertawa getir. “Sungguh hebat racun itu, tampaknya pinto sudah tak

dapat bertahan lebih lama lagi!”

“Dimanakah letak lukamu itu?” tegurnya Thian Ik-cu segera menuding kearah kaki kanan-nya seraya tertawa.

“Tuh dikakiku! Pinto sudah termakan oleh permainan busuk tua bangka tersebut!”

Dengan sangat hati-hati Hoa jubah pendeta Thian Ik-cu, tampaklah bagian bawah lututnya telah disambung dengan kayu, tapi pada pahanya tertancap sebatang jarum yang setengah bagian diantaranya masih berada diluar.

Jarum itu berwarna kebiru-biruan, jelas mengandung sejenis racun yang jahat sekali. Diam-diam ia lantas berpikir”

“Sepasang kakinya sudah cacad, tapi gerak geriknya masih tetap lincah dan gesit, bagi orang yang tidak mengetahui latar belakangnya, mereka pasti tak akan percaya kalau dia itu seorang yang cacad!”

berpikir sampai disitu, diapun Lantas bertanya, “Siang locianpwe sudah tewas banyak tahun, sampai sekarang apakah totiang masih mendendam kepadanya?”

Thian Ik-cu segera tertawa terbahak bahak. “Haaahh……haaahh… haah sayang sekali kaki yang

dilenyapkan Siang lo ji dimasa lampau adalah kaki kiriku dan

bukan kaki kanan, coba kalau kebalikannya, hari ini akupun pasti akan terhindar pula dari bencana ini”

Hoa In-liong kembali berpikir, “Sekalipun nyawanya sudah berada diujung tanduk, ia masih bisa bergurau secara wajar, kebesaran jiwanya benar-benar amat mengagumkan, siapapun tidak akan percaya kalau manusia semacam ini sesungguhnya adalah bekas ketua Tong thian kau yang tersohor itu!”

“Karena berpikir demikian, rasa hormatnya semakin meningkat beberapa bagian, katanya sambil tertawa, “Aku pikir kalau cuma racun dari Seng-sut-pay sih masih terhitung luar biasa hebatnya”

Dari sakunya dia lantas mengeluarkan dua botol porselen setelah jarum racun itu dicabut keluar, dengan cepat ia taburkan bubuk Pah-tok-san disekitar mulut luka, lalu menggeluarkan pula dua butir Cing-hiat wan dan menyuruh Thian Ik-cu menelannya. Begitu bubuk Pah-tok san ditaburkan di sekitar mulut luka, Thian Ik-cu segera merasakan tubuhnya menjadi segar kembali, buru-buru Cing-hiat Wan ditelan ke dalam perut, kemudian ujarnya, “Obat ini betul-betul mujarab sekali, yaa lagi-lagi selembar nyawaku berhasil direbut kembali”

Karena harus mengerahkan segenap tenaganya untuk kabur, ia tak bisa menggunakan sepenuh kekuatannya untuk melawan racun, ketika itu hawa racun ada sebagian yang sudah menyusup ke dalam isi perut maka setelah menelan pil mujarab buru-buru ia pejamkan matanya untuk mengatur pernapasan.

Mendadak Hoa In-liong mendengar suara dedaunan yang disingkap orang ditempat kejauhan sana, alis matanya kontan berkeryit, bisiknya, “Sungguh tak kusangka Tang Kwik-siu masih juga melakukan pengejaran tiada hentinya, mari boanpwe menghantarmu untuk mencari sebuah tempat yang sepi dan aman!”

Tidak menunggu jawaban dari Thian Ik-cu lagi, ia segera membopong tosu tua itu dan kabur menuju ke tenggara.

Tak lama kemudian ia berhasil menemukan sebuah gua yang tersembunyi letaknya, setelah meletakkan Thian Ik-cu diatas tanah untuk mengatur pernapasan, si anak muda itu sendiri segera duduk bersila pula di mulut gua itu.

pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ketika terbayang kembali petualanganya ketika kabur dari kepungan tadi sekalipun ia bernyali besar tak urung hatinya merasa terkejut juga.

Padahal ia tahu ilmu silat yang dimiliki Tang Kwik-siu jelas berada diatas kepandaiannya, dua bersaudara Lenghou, Hong Liong serta Huyan Kiong juga terhitung jago-jago silat yang berilmu tinggi, coba kalau Huyan Kiong tidak terlalu mengandalkan ilmu Gi-biat-ki-khi ceng-han tay-hoat tersebut, mungkin agak sulit bagi Hoa In-liong untuk berhasil membekuknya.

Selain itu, diapun tahu diantara kawanan jago Mokau masih terdapat banyak sekali jago-jago kelas satu, maka kalau dibilang ia bisa lolos dengan selamat dari kepungan mereka kali ini, hal tersebut benar-benar merupakan suatu keberuntungan.

Berpikir sampai disana, iapun mulai merenungkan kembali kecurigaannya terhadap Tang Kwik-siu yang tahu akan jejaknya sehingga sebelum itu mengadakan persiapan dahulu untuk menjebaknya, ia berpikir, “Tidak mungkin kalau rahasia kepergianku ini dibocorkan oleh Ting Ji-san, Ho Kee-sian, Cia Sau yan atau dua bersaudara Kiong, yaa, dipikir pikir maka kecurigaan terbesar berada pada murid-murid Thian Ik-cu sendiri!”

“Ia pun berpikir juga bahwa kehadiran Thian Ik-cu tempo dulu disarangnya telah mempertingkat ke waspadaan Tang Kwik-siu, atau mungkin juga lantaran jejaknya sewaktu melakukan perjalanan telah diketahui mereka, maka Tang Kwik-siu lantas menduga arah kepergian mereka berdua.

Sementara ia masih terpikir tiba-tiba dari luar gua berkumandang suara teguran seseorang dengan suara yang menyeramkan, “Hoa yang, keluar kau!”

Hoa In-liong sangat terkejut, ia mencoba untuk berpaling memandang keadaan thian Ik-cu, tampak asap putih dengan mengepul dari atas batok kepalanya, itu menandakan semedinya sedang mencapai pada keadaan yang paling kritis. Terpaksa sambil menggigit bibir, ia meninggalkan beberapa tulisan diatas dinding gua, kemudian baru melompat keluar dari gua itu.

Dibawah cahaya bintang, tampak seorang kakek berjubah kuning yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, dengan lengan yang panjang melewati lutut dan mengenakan ikat pinggang naga perak telah berdiri dihadapannya bagaikan sesosok sukma gentayangan.

Hoa In-liong berusaha keras untuk menenangkan hatinya sambil berpikir.

“Ketika ada di lembah Yu, kok tadi aku tidak berjumpa dengan kemunculan Seng Tocu. Tidak disangka kalau gembong iblis inipun telah datang pula disini”

Kedengaran Seng Tocu dengan suaranya yang mengerikan sedang berkata, “Hoa Yang, tahukah kau bahwa pada malam ini lohu pun berada didalam lembah?”

Hoa In-liong tertegun lalu berseru dengan nada keheranan, “Kalau remang begitu, kenapa kau tidak ikut turun tangan?

Asal kau munculkan diri, niscaya aku sulit untuk melepaskan diri diri kepungan orang banyak”

“Mengembut dengan mengandalkan jumlah banyak bukan perbuatan lohu!” kata Seng Tocu dingin

“Ooooh…! Kalau begitu kau menang lebih berjiwa ksatria dari pada sute-sutemu itu!”

Setelah terhenti sejenak, ia melanjutkan, “Sekarang kau telah datang seorang diri, apakah kau bermaksud hendak mengajakku untuk berduel satu lawan satu?” Seng Tocu mengangguk.

“Sebenarnya lohu belum sampai memandang sebelah mata kepadamu, tapi sejak kemunculan di markas besar kami didaratan Tionggoan malam ini, tiba-tiba saja aku merasa bahwa membiarkan kau tetap hidup didunia ini sesungguhnya merupakan suatu tindakan yang keliru”

Suara pembicaraannya sangat hambar, seakan-akan baginya pekerjaan untuk membunuh Hoa In-liong adalah suatu pekerjaan yang gampang sekali.

Hoa In-liong mengerutkan dahinya ia bermaksud untuk balas mengejek lawannya, tapi setelah berpikir sebentar tiba- tiba ia mengangguk.

“Berbicara dari dasar kepandaian yang kau miliki, ucapan semacam itu memang pantas kau ucapkan cuma seandainya aku tak mampu untuk menandingimu, toh aku masih dapat melarikan diri!”

Seng Tocu menjadi tertegun sesudah mendengar perkataan itu, sebab bagi kebiasaan orang persilatan, mereka lebih suka mati dimedan pertarungan dari pada angkat kaki untuk melarikan diri, tapi sekarang Hoa In-liong telah mengucapkan kata-kata tersebut secara wajar, bahkan sama sekali tidak merasa malu, tak heran kalau hal ini malah mencengangkan jago lihay tersebut.

Setelah termenung sejenak, katanya kemudian dengan hambar, “Jika akau ingin kabur dengan hutan belantara yang terdapat disekitar tempat ini, tentu saja lohu tak akan bisa berbuat apa-apa, tapi Thian Ik-cu belum selesai dengan semedinya, aku pikir kau pasti tak akan kabur dengan meninggalkan kawan bukan?” Mendadak ia menyingsingkan ujung bajunya, lalu melemparkan sebilah pedang pendek ke arah Hoa In-liong seraya berkata, “Lohu telah berhasil juga menangkap seorang majikan dan seorang pelayan dari keluarga Si, apakah kau hendak menjumpai mereka?”

Dalam sekilas pandangan saja Hoa In Hong telah kenali pedang pendek itu sebagai milik Si Leng-jin, cepat ia menerima sambitan tersebut.

Tapi seketika itu juga ia merasakan telapak tangannya menjadi panas, nyaris pedang tersebut terlepas kembali dari tangan nya, diam-diam hatinya merasa terkejut sekali.

“Aku lihat, kau sebagai seorang cianpwe mempunyai kedudukan yang tinggi sekali” katanya sambil tertawa dingin, “masa seorang cianpwe sudi sudinya menghina kaum perempuan?”

Seng Tocu mendengus dingin.

“Pokoknya asal kau bersedia bertarung seorang lawan seorang denganku tanpa bermaksud melarikan diri, lohu siap melepaskan mereka dari cengkeramanku!

Sekali lagi Hoa In-liong merasakan hatinya tercekat, pikirnya, “Dengan segala daya upaya dia memaksaku untuk bersedia melayani pertarungannya, jangan-jangan ia memang bermaksud untuk membunuh aku?”

Sementara ia masih termenung, Seng Tocu telah berkata lebih jauh, “Terus terang saja kukatakan kepadamu meskipun tenaga dalam yang dimiliki Goan-cing hwesio jauh diatasku, tapi sejak kehilangan banyak tenaganya, selama tiga sampai lima tahun tidak mungkin baginya untuk memulihkan kembali seluruh kekuatan tubuhnya seperti semula, kendatipun berhasil, dengan usianya yang sudah begitu lanjut, masa kematiannya pun semakin dekat, manusia semacam itu masih bukan terhitung suatu ancaman bagi kami, sebaiknya ayahmu Hoa Thian-hong meski berilmu tinggi dan berjiwa gagah, itupun hanya terbatas pada ia seseorang”

Setelah berhenti sejenak, terusnya, “Tapi kau, bukan saja otaknya cerdas, punya bakat, punya nyali dan punya rejeki, temanmu juga banyak, maka lohu,……”

“Mau apa kau?” seru Hoa In-liong tanpa terasa.

Dengan hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, sepatah demi sepatah kata jawab Seng Tocu, “Demi kejayaan serta kecemerlangan nama Seng Kut pay, terpaksa lohu tak akan mengijinkan manusia berbakat seperti kau untuk melanjutkan hidupnya didunia ini”

“Aku merasa bangga sekali bisa mendapat perhatian khususmu!” Seru Hoa In-liong kemudian dengan kening berkerut.

“Apa yang hendak kau lakukan sekarang” “Akan kuusahakan untuk membantu terwujudnya cita-cita kalian itu!”

Mencorong sinar tajam dari balik mata Seng Tocu, tampaknya ia merasa agak gusar tapi kemudian setelah mendengus, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia berlalu dari sana.

Hoa In-liong juga sadar bahwa pertarungan yang bakal berlangsung nanti lebih banyak bahayanya daripada keberuntungannya tapi bagaimanapun juga ia tak tega membiarkan Si Leng-jin terjatuh ke tangan orang-orang Mokau, maka setelah menghela napas panjang ia segera menyusulnya sambil berseru,