Neraka Hitam Jilid 06

Jilid 06

“Hoa Kong Cu, aku hanya mohon maaf kepada nona Kiong atas gegabahanku tadi, dengan perbuatan Hoa kongcu, bukankah hal ini akan membuatku semakin tak punya muka?”

Sebenarnya Hoa In-liong sudah bersiap sedia untuk melakukan serangan kembali, tapi sesudah mendengar perkataan itu, diapun mem batalkan niatnya.

Bunyi roda kereta yang berputar berkumandang dari pintu kota, Li Po seng dengan membawa dua orang pegawai toko penjual peti mati telah datang menghantarkan peti mati, diapun lantas memerintahkan orang untuk membereskan jenasah tersebut, Setelah mayat Ou See tiong dimasukkan ke dalam peti, Hoa In-liong menyerahkan uang kepada pegawai tersebut dan menitahkannya untuk mengubur peti mati di luar kota.

Ia tahu kalau tidak memerintahkan orang untuk melaksanakan tugas tersebut, sudah pasti tak ada orang lain yang sudi mengurusi mayat Ou See tiong, akibatnya rakyat di sekitar situlah yang menjadi korban……

Kurang lebih dua puluh kaki baru kereta itu berjalan, tiba- tiba muncul beberapa orang jago per-silatan yang mengikuti dibelakangnya.

Menyaksikan kejadian tersebut, Hoa In-liong lantas berpikir, “Selama hidupnya mungkin terlampau banyak kejahatan yang dilakukan Ou See tiong, sehingga setelah mati pun begitu banyak orang yang tak terima dan ikut kekuburan untuk membongkar peti matinya……” 

Berpikir sampai disitu, diapun berseru dengan suara lantang, “Saudara sekalian, setelah orangnya mati dendam pun ikut berakhir, sekalipun ada sakit hati yang bagaimanapun besarnya, lebih baik disudahi sampai disini saja, apa gunanya kalian mengikuti peti mati itu serta melakukan perbuatan tercela?”

Setelah mendengar itu, beberapa orang tersebut segera berhenti, mereka ragu-ragu sejenak, kemudian tiga orang diantaranya pergi meninggalkan tempat itu, sedangkan empat orang lainnya setelah menjura kepada Hoa In-liong mereka lanjutkan pengejarannya ke arah kereta pembawa peti mati tadi.

Sekali lagi Hoa In-liong berpikir, “Kejahatan yang dilakukan orang she Ou selama hidupnya memang kelewatan, rasanya sebelum jenasah itu dicincang menjadi berkeping keping, tak lega perasaan beberapa orang itu, beginilah akhir dari seorang penjahat kalau melakukan perbuatan yang kelewat batas.”

Sebagaimana diketahui, Kumbang emas bermain diputik Ou See tiong bukan hanya memperkosa anak gagis dan istri orang saja, biasanya setelah menikmati kehangatan tubuh perempuan-perempuan itu, korbannya lantas dibunuh dan harta kekayaannya dirampok habis habisan.

Tidak heran kalau keluarga korban menjadi dendam bukan kepalang terhadapnya, itulah sebabnya meski sudah mati orang-orang itu masih tak rela melepaskan musuhnya dengan begitu saja.

Semula Hoa In-liong mencegah perbuatan orang-orang itu atas dasar kasihan dan welasnya, tapi melihat ketenangan orang-orang itu diapun merasa tak enak untuk mencegah perbuatannya.

Begitulah, sambil menghela napas diapun mengajak dua bersaudara Kiong dan Demor kembali ke gedung hadiah Pui Che-giok, sedangkan Coa Cong gi, Kongsun Peng, sebagai besar bekas anggota Sin ci ping telah menetap semua disitu.

Walaupun dengan perasaan yang kurang tenteram terpaksa Demor mengikuti pula dibelakang.

Sebelum masuk ke dalam ruangan, Hoa In-liong berpaling sambil berkata, “Paman sudah tinggalkan tempat ini, dalam tiga hari tak mungkin dia akan kembali disini, untuk sementara waktu kau boleh tinggal disini dengan tenteram.”

Mendengar perkataan itu Demor benar-benar merasa hatinya lega, diam-diam ia menghembuskan napas panjang. Terdengar Hoa In-liong berkata lagi dengan serius, “Undanglah Tehan untuk tinggal pula disini, kalau tidak bila ia sampai bergaul dengan orang jahat, bukan namanya saja yang hancur nama perguruan ikut ternoda, padahal perguruan pedang pendek kalian sejak Sucoumu sampai kini sudah memupuk nama besar, kalau sampai ternoda bukankah arwah Siang locianpwe di alam baka akan menjadi tidak tenang……?”

Diantara tingkatan yang sederajat, Demor paling mengagumi Hoa In-liong, maka ia mengiakan berulang kali. Menunggu pemuda itu telah selesai berkata dengan tergagap ia baru berseru, “Suhu sana…..”

Hoa In-liong segera tertawa.

“Soal paman, akan kubicarakan sedapat mungkin tapi selama disini kalian musti mendengarkan semua perkataanku, sebab kalau tidak paman pasti akan menegur kalian.”

Setelah berhenti sebentar sambil melirik ke arah Kiong Gwat-lan katanya, “Bukankah kau sudah berkenalan dengan seorang enci? Dia bisa membantumu dengan sepenuh tenaga bila yang menjadi enci enggan membantu sekecil ampun, lebih baik kau tak usah mengakuinya lagi.

Demor tertegun, lalu sambil menjura kepada KiOng Gwat- lan katanya, “Harap Kiong……cici banyak memberi petunjuk”

“Oooh…..hal ini tentu saja akan kubantu, tapi kau jangan bingung dulu dengan soal itu, aku adalah ji-ci disitu masih ada toaci, hayo beri hormat dulu,” kata Kiong Gwat-lan sambil tertawa.

Demor benar-benar maju ke depan dan memberi hormat kepada Kiong Gwat hui, katanya, “Siau te menjumpai toaci!” Kiong Gwat hui segera balas memberi hormat, ia seperti adiknya yang binal, dia suka bergurau, bagaimanapun juga sifatnya yang pendiam dan halus membuatnya bertindak menurut aturan.

Setelah itu Demor baru berkata, “Sekarang juga aku hendak membatalkan kamar dan mengajak sute datang ke mari….”

Ia putar badan dan berlalu dari situ.

Hoa In-liong hanya tersenyum, bersama rekan lainnya mereka masuk ke dalam gedung.

Sesudah berada di ruang tengah, Li Po seng, dua bersaudara Oh sekalian bertanya, “Apa masih ada ruangan kosong?”

Dua orang pelayan itu berpikir sebentar kemudian bayangan yang ada di sebelah kiri berkata, “Disisi sebelah barat masih ada sebuah gedung kecil, bunga Botan sedang mekar-mekarnya disana, budak pikir nona berdua pasti akan senang dengan suasana disini.”

Hoa In-liong manggut-manggut sambil berpaling dia lantas berkata, “Adik berdua, coba lihat dulu kamar tersebut, puas atau tidak? Kalau dirasakan kurang cocok katakan saja kepadaku, nanti kupikirkan tempat yang lain!”

Kiong Gwat hui cukup tahu kalau pemuda tersebut amat sibuk, katanya dengan suara minta maaf, “Kami tentu sudah mengganggu banyak diri ji-ko!”

Hoa In-liong segera tertawa, katanya. “Memang lebih baik kalau Kioang toa moay kerasan tinggal disini, sebagai sesama persaudaraan, lebih baik kata-kata sungkan tak usah dibicarakan lagi.”

“Kiu mengatakan gedung ini sebagai sumbangan dari orang lain, siapakah yang begitu baik hati dengan berbuat demikian kepadamu?” tiba-tiba Kiong Gwat-lan bertanya.

Hoa In-liong termenung dan berpikir sejenak, lalu jawabnya, “Pernahkah kau dengar tentang Cian li kaucu?”

Kiong Gwat-lan segera mencibirkan bibirnya sambil tertawa. “Huuh…….! Untuk memberi jawaban atas pertanyaan

itupun musti melewati dulu suatu pemikiran yang serius” katanya, “jangan Kuatir aku pasti tak akan mengemukakan perasaanku.”

Ucapan itu jelas bernada lain, dan kesannya terhadap perkumpulan Cian li kau juga kurang begitu bagus.

Perkataan itu diutarakan dengan cepat, Hoa In-liong mau mencegah tapi tidak sempat lagi, dengan kening berkerut ia lantas berpikir, “Waaah….. payah ini, kesulitan telah tiba!”

Betul juga, tiba-tiba kedengaran suara tertawa merdu berkumandang dari belakang ruangan, me-nyusul munculnya Cia Sau-yan, sambil mengawasi Kiong Gwat-lan dari atas sampai ke bawah, kemudian dengan senyum tak senyum ia berkata, “Entah bagaimanakah pandangan nona ini terhadap perkumpulan Cian li kau?”

“Aaah…. cuma urusan kecil kenapa musti di tanyakan lebih lanjut……?” tukas Hoa In-liong. Dengan kening berkerut Cia Sau-yan segera berkata, “Semenjak didirikan dalam dunia persilatan, perkumpulan kami selalu mempunyai pandangan yang luas serta jiwa yang besar untuk menilai seseorang, siau sauya tak usah kuatir, memangnya orang-orang Cian li kau pikir sepicik dan sesempit itu jalan pemikirannya?”

Dibalik ucapan tersebut lamat-lamat diapun menuduh Kiong Gwat-lan sebagai seorang gadis berjiwa sempit.

Sebagai seorang gadis pintar, sudah barang tentu Kiong Gwat-lan dapat menangkap arti dari ucapan tadi, segera ia tertawa angkuh.

“Huuuh….. apa salahnya kalau kuucapkan keluar?”

Sesudah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Seluruh anggota perkumpulan kalian sejak dari nona sekalian sampai para dayangnya semua berparas cantik jelita, lagipula berdaya tarik yang merangsang orang, Kiong Gwat-lan hanya kagum akan kehebatan kalian itu, lain tidak”

Nada dibalik perkataan itu jelas mengatakan bahwa orang- orang Cian li-kau semuanya genit dan sesat, pandai merayu orang lelaki dan terdiri dari perempuan-perempuan tidak baik.

Diam-diam Kiong Gwat hui mendepakkan kakinya berulang kali ke atas tanah, tapi sebagai seorang gadis yang lemah lembut, ia merasa kurang pantas untuk turut serta dalam pembicaraan itu.

Betul juga, paras muka dua orang dayang yang berada disisi ruangan segera berubah hebat, mereka segera menunjukkan wajah gu sar dan tak senang hati. Sedang Cia Sau-yan sedikitpun tidak marah, malahan sambil tertawa manis katanya, “Perkumpulan Cian li-kau memang khusus memikat orang dengan kecantikan anggotanya, jual senyum menarik simpatik, padahal hal tersebut tak perlu terlalu diherankan.”

Kiong Gwat-lan malah tertegun dibuatnya, diam-diam ia berpikir, “Sikapnya begitu biasa dan seolah olah tak pernah terjadi suatu kejadian apapun, tampaknya memang jiwanya yang terlalu sempit dan tak bisa menahan diri…..”

Timbul rasa sesalnya di dalam hati, cuma dengan wataknya yang keras kepala, ia merasa apa yang telah diucapkan tak mungkin bisa dirubah kembali.

Tiba-tiba muncul He lotia dari luar dengan langkah tergesa- gesa, kepada Hoa In-liong lapornya, “Ji kongcu, diluar pintu datang seorang imam yang mengatakan hendak mencari derma!”

“Langsung layani saja orang itu,” sela Cia Sau-yan,! “saat ini Hoa kongcu sedang sibuk, mana ia punya waktu untuk mengurusi segala urusan tetek bengek?”

Ho lotia segera gelengkan kepalanya berulang kali. “Tidak akan segampang itu!” serunya, “sebab si imam

mengatakan hanya akan mencari derma dari ji kongcu seorang…..”

Mendengar itu Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh….haaahhh……haaahhh… tidak kusangka ada orang yang tertarik untuk menderma diriku, sungguh suatu kejadian yang sulit ditemui, siapa tahu setelah mendengar aku dia betul-betul akan pergi? Mari kita tengok keluar!” lapun lantas beranjak dan keluar dari ruangan.

Dengan kejadian ini, tanpa terasa telah memecahkan pula situasi kaku antara dua bersaudara Kiong dengan Cia Sau-yan.

Dengan perasaan ingin tahu, tiga orang gadis itu pun mengikuti di belakang Hoa In-liong menuju keluar pintu.

seorang tosu tua berwajah merah bercahaya sedang berdiri di depan pintu gerbang, wajah tosu itu amat istimewa, selain wajahnya seperti bayi, rambutnya putih sepanjang pinggang, alis matanya yang putih mencapai tiga inci panjangnya, ia mengenakan sebuah jubah imam yang banyak tambalannya, sebuah senjata hud-tim ada di tangan kanan, sedang sebilah pedang antik, tersoren dipunggung.

Ketika Hoa In-liong munculkan diri, dengan sinar mata tajam tosu itu memperhatikan si anak muda itu tajam-tajam, tampaknya ia sangat menaruh perhatian kepadanya.

Hoa In-liong segera tersekut sambil menjula, sapanya, “Bolehkah aku tahu nama tootiang?”

Bukan menjawab, tosu tua itu malah balik bertanya, “Apakah kau adalah Hoa In-liong, putra dari Shian cu kiam Hoa Thian-hong?”

“Betul, ada urusan apa tootiang datang ke mari?”

Diluar ia menjawab demikian, sementara dihati kecilnya diam-diam pemuda itu berpikir, “Sudah jelas imam tua ini memiliki serangkai ilmu silat yang sangat lihay, padahal kudengar orang bilang banyak kaum iblis yang bermunculan kembali belakangan ini, bagaimanapun jua aku musti lebih waspada dan berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang tidak diinginkan,… ”

Sementara itu tosu tua tadi telah berkata “Adapun maksud kedatangan pinto adalah untuk menyelesaikan suatu pekerjaan mulia.”

“Oooh……..! Pekerjaau mulia ini pastilah suatu usaha untuk kesejahteraan umat manusia, aku bersedia untuk mendengarkan penje lasannya lebih jauh” kata Hoa In-liong tertawa.

“Huuh…. berlagak main kuasa, bergaya sebagai harimau, padahal tak lebih hanya seperti sekumpulan lalat atau sekumpulan semut yang berebut makanan, apakah masih belum juga mau sadar?” tegur imam beralis putih itu mendadak.

“Aku tidak mengerti apa yang di maksudkan dengan tootiang?” tanyanya.

Imam itu semakin mengerutkan dahinya, mencorong sinar tajam dari balik matanya, lalu berkata dengan suara keras, “Pinto hanya ingin tahu, karena persoalan apa kau menimbulkan gelombang besar di-kota Si ciu ini? Apakah perbuatanmu itu tidak lebih hanya ingin menciptakan banjir saja dalam dunia persilatan?”

Hoa In-liong tertawa tawa.

Sepantasnya jika perkataan tootiang ini di tujukan kepada pihak Hian-beng-kau, Mo kau atau Kiu lin kau, seandainya mereka bersedia melepaskan ambisinya untuk merajai dunia persilatan, secara otomatis akupun akan lepas tangan. Setiap persoalan pasti akan menjadi pertikaian seandainya ada lawan yang sama tangguhnya, coba kalau keluarga Hoa mengundurkan diri dari dunia persilatan, bukankah pertarungan ini bisa terhindari? Setiap kejadian pasti ada sebabnya, lagipula keluarga Hoa toh sudah hampir dua puluh tahunan memimpin dunia persilatan?

Hoa In-liong tertawa terkekeh.

“Heeehh… .heeehh…..heeeehh…..perkataan totiang memang ada benarnya, sayang aku hanya manusia yang tak punya nama serta kedudukan, mungkin hanya akan menyia- nyiakan pula pembicaraan dari tootiang.”

Tampaknya imam beralis putih itu dibuat gusar oleh ucapan tersebut, tiba-tiba ujarnya dengan suara dalam.”

“Kalau kau terus menerus tak tahu diri, pinto pun tak ingin banyak berbicara lagi, bagaimana kalau dengan pertarungan, kita ten tukan menang kalahnya?”

Hoa In-liong kembali berpikir, “Sudah jelas maksud kedatangan dari tosu tua ini adalah mencari gara-gara, memang ada baiknya kalau kucoba dulu sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimilikinya.”

berpikir demikian, selangkah demi selangkah ia berjalan menuju kepelataran rumah.

“Bocah muda sambutlah seranganku ini!” imam beralis patih itu segera membentak nyaring, senjata hud-timnya dikebut ke muka menyongsong datangnya tubuh Hoa In- liong.

“Tosu ini benar-benar tak tahu adat!” batin Hoa In-liong. Tanpa meloloskan senjatanya lagi dia berkelit ke samping, begitu lolos dari babatan hud-timnya itu, telapak tangannya kembali dibacokkan kedepan………

Tosu beralis putih itu mendengus dingin, tiba-tiba hud- timnya diputar balik menyerang jalan darah penting dibawah ketiak si pemuda itu, sementara jari tangan kirinya seperti tombak langsung menyodok ke lengan musuh, satu jurus dengan dua serangan, suatu gerakan kombinasi yang amat lihay.

Hoa In-liong sekali lagi miringkan dadanya kemudian menerjang kemuka, dengan jurus Ji yong-bu-wi (dua kegunaan tanpa kedudukan) ia lepaskan sebuah serangan balasan.

Karena tak sempat untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut, terpaksa secara beruntun tosu beralis putih itu merebah dan jurus serangannya untuk membendung tibanya ancaman.

“Hmm…… memang tak malu menjadi putra Thian cu kiam!” pujinya dengan suara lantang.

Tiba-tiba ia mundur delapan sembilan depa dari posisi semula, hud-timnya dibuang ke tanah, se-mentara Hoa In- liong telah menghentikan serangannya, imam beralis putih itu telah melololoskan pedangnya sambil berkata dengan tertawa, “Ilmu pedang keluarga Hoa tiada tandingannya dikolong langit, pinto dengan tak tahu diri ingin mencoba beberapa jurus!” Hoa In-liong kembali berpikir “Tampaknya ia lebih mengandalkan ilmu pedangnya, aku musti berhati-hati…..”

Pelan-pelan pedangnya pun diloloskan keluar. “Silahkan tootiang!” serunya kemudian. Tosu beralis putih itu tidak sungkan-sungkan lagi, ia segera menerjang maju ke depan, terasa serentetan cahaya tajam berkelebat lewat dan tahu-tahu ia sudah menyerang tubuh Hoa In-liong.

Si anak muda itu mengeryitkan alis matanya lalu membentak, “Ilmu pedang bagus!”

Pedangnya diputar sedemikian rupa, lalu melepaskan serangan balasan ke depan.

“Traaang! Traaang! Traaang!” secara beruntun kedua orang itu saling beradu senjata sampai tiga kali, sedemikian kerasnya benturan itu menyebabkan timbulnya serangkaian suara dentingan yang disertai dengan percikan bunga api.

Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan sengit, lima enam puluh jurus lewat tanpa terasa.

Ilmu silat kedua orang itu sama-sama telah mencapai puncak kesempurnaan, dibandingkan dua bersaudara Kiong dan Cia Sau-yan sekalian boleh dibilang mereka masih terpaut jauh sekali.

Terlihat dua orang itu bertarung dengan kecepatan luar biasa, cahaya pedang yang menyilaukan mata, membuat mata terasa amat ter tusuk, ini semua membuat para penonton jalannya pertarungan menjadi kuatir dan merasakan hatinya berdebar keras.

Pertarungan semacam ini boleh dibilang merupakan suatu pertarungan yang luar biasa, dengan ce-pat kejadian ini menarik perhatian orang banyak… Sekarang Hoa In-liong telah mengetahui bahwa ilmu silat yang dipergunakan imam beralis putih itu adalah kepandaian silat aliran Tong thiao kau, satu ingatan lantas melintas dalam benaknya.

“Waah… jangan jangan dia?” pikirnya.

Berpikir sampai disitu, tenaga dalamnya semakin dihimpun lagi terutama pada ketajaman pen-dengarannya, ia dapat mendengar suara langkah kaki dari tosu tersebut, sekalipun langkahnya enteng dan pelan seperti langkah dari seorang lihay, tapi diantara benturan pedang yang memekikkan telinga, ia toh sempat menangkap juga suara benturan kayu dengan batu diantara langkah kakinya.

Hoa In-liong semakin yakin bahwa dugaannya tidak meleset, tiba-tiba ia membentak keras, “Apakah tootiang adalah Tong-thian kaucu?”

Mendengar teguran itu, tosu beralis putih itu segera melepaskan sebuah serangan gencar lalu melompat mundur ke belakang, gumamnya dengan amat sedih, “Aaai……sudah tua, sudah tua, aku memang sudah tak berguna lagi……”

Kepalanya didongakkan, kemudian memberi hormat kepada Hoa In-liong, katanya lebih jauh, “Enghiong memang selalu muncul dikala masih muda, dengan usia Hoa kongcu sekarang ternyata sanggup menandingi pinto dengan posisi seimbang, pinto merasa bersyukur sekali atas keberhasilan Hoa tayhiap mempunyai keturunan yang bisa diandalkan!”

Tiba-tiba Bu tim tojin melompat keluar dari kerumunan orang banyak, lalu teriaknya keras-keras, “Suhu!”

la Segera menjatuhkan diri berlutut di depan tosu beralis putih itu. Menyusul kemudian muncul kembali dua orang imam setengah umur yang menggembol pedang, kedua orang itupun menjatuhkan diri berlutut di depan imam beralis putih itu.

Menyaksikan kesemuanya itu, imam beralis putih itu menghela napas panjang, sambil ulapkan tangannya, ia berkata, “Bagaimana kalian semua?”

Setelah memberi hormat Bu-tim totiang sekalian bangkit berdiri.

Sekarang Hoa In-liong sudah tidak sangsi lagi, dia tahu imam beralis putih yang berada dihadapannya sekarang tidak lain adalah salah satu diantara tiga besar yang pernah menggetarkan dunia persilatan pada dua puluh tahun berselang, yakti Thian Ik-cu, ketua dari perkumpulan Tong thian-kau.

“Kemungkinan besar kedatangannya kali ini adalah bersahabat bukan bermusuhan…. pikirnya.

Maka sambil menyarungkan kembali pedangnya, ia lantas menjura seraya berkata, “Jalan raya tidak pantas sebagai tempat bercakap-cakap, silahkan masuk totiang, ijinkanlah boanpwe memberi hormat kepadamu!”

Thian Ik-cu manggut-manggut, bersama Hoa In-liong lantas masuk keruang dalam, sementara Bu-tim tootiang suheng-te beserta dua bersaudara kiong, He lotia dan Cia Sau- yan sekalian mengikuti dibelakangnya.

Setelah masuk ke dalam ruangan dan mengambil tempat duduk, Thian Ik-cu ternyata menolak untuk menempati kursinya sebagai seorang angkatan tua, dalam keadaan demikian terpaksa Hoa In-liong harus menerimanya dengan pembagian atas tuan rumah dan tamu.

Bu-tim tojin suheng-te berdiri mengikuti dibelakang Thian Ik-cu.

Sesudah duduk, Thian Ik-cu mulai berkata, “Pinto pernah berpesan kepada muridku bahwa aku tiada bermaksud untuk turun gunung lagi, tapi sekarang aku melakukan apa yang bertentangan dengan ucapanku itu, mungkin Hoa kongcu akan menganggap pinto berbuat demikian karena ada rencana untuk menerbitkan kembali keonaran dalam dunia persilatan??”

Hoa In-liong segera tersenyum.

“Boanpwe tidak berani menggunakan hati seorang siaujin untuk menuduh orang yang bukan-bukan!”

Mendadak terdengar seseorang tertawa tergelak sambil berseru, “ Haaahh…..haaahh…..haaahh… hidung kerbau tua itu berbicara lain diluar lain dihati, lohu tidak percaya kalau kau betul-betul sudah bertobat dan tak ingin melanjutkan kembali ambisimu untuk merajai dunia persilatan.”

Diantara berkumandangnya perkataan itu, dari balik ruangan muncullah Ting Ji-san serta Ho-Keh-sian.

Thian Ik-cu segera bangkit sambil memberi hormat, kemudian katanya sambit tertawa.

“Haaahhh….haahh.. .haaahh…. setelah berjumpa dengan kenalan lama, sekalipun pinto bermaksud jahat, rasanya juga sulit untuk dilaksanakan lagi. Sebagaimana diketahui, Ting Ji sao serta Ho-Kee sian adalah musuh bebuyutan dari Tong thian kau dimasa lampau, kedua orang itu memang tidak percaya dengan niat Thian lk cu, sebab itu buru-buru mereka menyusul datang setelah mendapat laporan.

Menanti kedua orang itupun sudah ambil tempat duduk, Thian Ik-cu baru berkata, “Dengan ular sakti menggigit hati, pihak Mo kau berhasil menguasai sejumlah jago lihay, apakah Hoa kongcu telah mengetahui persoalan ini?”

Hoa In-liong segera tersenyum. “Hoanpwe sendiri pun pernah merasakan akibat dari ilmu ular sakti menggigit hati itu katanya.

Mendengar jawaban tersebut, Thian Ik-cu agak tertegun, dengan sepasang matanya yang tajam, diawasinya raut wajah anak muda itu tajam-tajam, kemudian katanya lagi, “Hoa kongcu sama sekali tidak menunjukkan gejala keracunan ular beracun itu, apatah ibumu telah berhasil memunahkan pengaruh racun ular sakti menggigit hati?”

“Ibuku sendiri juga kurang begitu yakin dengan kemampuannya untuk memunahkan pengaruh racun itu,” jawab Hoa In-liong secara gamblang dan terus terang, “adapun boanpwe bisa memunahkannya lantaran secara tidak sengaja aku berhasil mendesak racun itu ke dalam jalan darah Keng gwa-khi-hiat, kemudian dari situ racun tadi pelan-pelan di tempa sampai lenyap”

Ihian lk cu segera menunjukkan perasaan kecewa, katanya, “Aaai… .padahal ibumu sudah menjadi ahli waris dari Kiu tok- sian ci, kalau dia-pun tidak sanggup, rasanya di dunia ini tak ada orang lain lagi yang sanggup memunahkan pengaruh racun itu.” “Tapi kejadian ini berlangsung kurang lebih tujuh delapan bulan berselang,” sela Hoa In-liong cepat, “sedangkan ibuku selalu ber usaha untuk menemukan obat untuk memusnahkan pengaruh racun tadi, siapa tahu kalau sekarang ia telah berhasil dengan usahanya? Boanpwe mempunyai obat mustika yang bisa memunahkan pengaruh racun ular -sakti tersebut,”

“Kalau sudah tersedia obat mujarabnya, pinto pun tak usah kuatir lagi…..”seru Thian Ik-cu kemudian dengan kegirangan.

Diam-diam Hoa In-liong berpikir, “Dengan hasil latihan selama ini, sepantasnya kalau luapan emosi dapat dikendalikan, tapi terhadap masalah ini ia tak bisa menyembunyikan rasa murung dan gembiranya, ia menunjukan betapa seriusnya masalah tersebut, jangan jangan dikarenakan adanya sekelompok jago lihay yang keracunan itu?”

ooooOooooo Bab 44

Sementara itu Thian Ik-cu telah termenung beberapa saat lamanya tiba-tiba ia berkata, “Hoa kongcu, apakah kau bersedia mempercayai pinto?”

“Maksud tootiang?” Hoa In-liong balik bertanya sesudah tertegun sejenak lamanya.

Dengan wajah serius Thian Ik-cu berkata, “Berbicara sesungguhnya semua perbuatan dan tindak tanduk Tong hian kau dimasa lalu adalah perbuatan yang menimbulkan kebencian dan kutukan orang banyak, tiga puluh tahun berselang dalam pertemuan Pak beng hwe pun pinto pernah mengerubuti dan melukai leluhur Hoa kongcu, sekalipun atas keberesan jiwa ayahmu ia memberi sebuah jalan kehidupan untukku, aai….! Siang maupun malam pinto selalu merasa bahwa perbuatanku ini sangat berdosa…..”

Perkataan itu diucapkan pelan-elan dan penuh dengan perasaan menyesal, bahkan sama sekali tidak menunjukan kalau ucapan itu hanya pura-pura atau alasan saja.

Andaikata tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa yang menduga kalau seorang gem-bong iblis yang pernah di benci orang dulu, sekarang benar-benar telah bertobat dan menyesali semua perbuatannya?

“Urusan yang sudah lewat biarkan lewat, kenapa tootiang mesti mengungkapnya kembali?”

Sesudah berhenti sebentar, dengan nada seperti baru memahami, ia berkata lebih jauh, “Oooh. ..tampaknya karena boanpwe tidak menjawab langsung pertanyaan tootiang maka kau berkata begitu, padahal siapa bilang kalau boanpwe tidak mempercayai dirimu?”

“Kalau begitu, pinto lah yang sudah terlalu banyak curiga,” kata Thiao Ik-cu tertawa lirih.

Kemudian dengan wajah serius katanya lebih lanjut, “Kalau toh Hoa kongcu mempercayai pinto, baiklah pinto berbicara secara terus terang, dapatkah Hoa kongcu membawa obat obat mustika itu dan mengikuti pinto untuk menyelamatkan kawan jago lihay yang keracunan itu…..?”

Ketika ucapan tersebut diutarakan keluar, dua bersaudara Kiong dan Cia Sau-yan masih tidak merasa seberapa mereka mengira kebusukan hati Tang thian kaucu sesungguhnya tidak seperti apa yang disiarkan dalam dunia persilatan selama ini. Berbeda dengan Ting Ji san dan Hoa Kee si-an yang termasuk orang “Lama” mereka tertegun dan saling berpandangan sekejap dengan wajah ragu-ragu.

Dalam anggapan mereka tak nanti, Thian Ik-cu akan mempunyai pikiran untuk menolong orang, kedua orang itu justru kuatir kalau tosu tua itu hanya mempergunakan kata- kata manis untuk membohongi Hoa In-liong, kemudian di tengah jalan membunuhnya serta merampas obat mustika miliknya.

Tiba-tiba Tiang Ji san berkata, “Diantara kawanan jago lihay kena dikendalikan musuh itu, sesungguhnya terdapat jagoan macam apa saja, sehingga tootiang begitu memandang serius pada urusan ini?”

Thian Ik-cu bukan orang kemarin sore, sudah barang tentu diapun mengetahui akan kecurigaan Ho Kee sian serta Ting Ji san, iapun tertawa hambar.

“Menurut apa yang pinto ketahui, diantaranya terdapat ciangbunjin dari keluarga Wi di kota Wan ciu……. sam suan ni (tiga singa sakti) Can Kian-liong dan sebagainya, sekalipun secara dipaksakan masih bisa terhitung jagoan kelas satu, pinto masih belum tergerak hatinya tapi pinto justru menemukan bahwa salah seorang diantaranya justru memiliki ilmu silat jauh di atas kepandaian pinto sendiri.”

Agak tergerak perasaan semua orang setelah mendengar perkataan itu, sebagaimana diketahui kedudukan Thian Ik-cu Pek Siau thian dari perkumpulan Sin-ki-pang, Jin Hian dari Hong im hwee disebut tiga kekuatan besar dalam dunia persilatan tempo dulu, ilmu silat mereka boleh dibilang sudah mencapai tingkatan yang amat tinggi. Dalam pemunculan untuk kedua kalinya muski kepandaian mereka masih belum sanggup me-nandingi kehebatan dari Tang Kwik siu maupun ketua dari Hian-beng-kau, namun boleh dibilang juga cukup hebat.

Tapi kenyataanya sekarang, pihak Mo kau berhasil menguasai begitu banyak jago lihay dari dunia pesilatan, boleh dibilang kejadian ini sangat mengejutkan siapa pun.

Diam-diam Hoa In-liong berpikir.

“Jangan-jangan yang dimaksudkan adalah Coa? Hanya dia seorang yang memiliki kepandaian se-dahsyat itu, apalagi sebagai keturunan dari Bu seng (malaikat ilmu silat)……”

Berpikir sampai disitu, diapun lantas bertanya, “Tootiang, macam apakah raut muka orang itu?”

Ketika kesana, pinto saksikan orang itu penuh bercambang lebat, jelas tampaknya sudah terkurung lama sekali mukanya kurang begitu jelas, tapi kalau dilihat dari rambutnya hitam pekat serta nada suaranya, ia jelas ia masih muda.”

“Kalau dilihat dari usianya, memang rada mirip dengan empek Cou…” pikir Hoa In-liong.

Sekalipun ia tidak tahu berapakah usia Coa Go-an hau tahun ini, tapi atas dasar usia Kwan bun sian, ia tahu kalau umurnya kira kira setengah baya……

Ketika Thian Ik-cu menyaksikan pemuda itu lama sekali membungkam, sambil menghela napas lantas katanya, “Apakah Hoa kongcu merasa penjelasan pinto kurang lengkap…..” “Oooh tidak, harap tootiang jangan salah paham,” buru- buru Hoa In-liong menukas, “sebenarnya Boanpwe bermaksud menitipkan obat mustika itu kepada tootiang, tapi setelah mendengar uraian tadi terpaksa aku harus mengunjunginya sendiri, entah lang Kwik siu menyekap kawanan jago lihay itu dimana?”

“Tempat itu terletak di sebelah kiri kota Thong-shia, letaknya termasuk diwilayah Ci.

“Tidak heran kalau beberapa kali kuselidiki kebun keluarga Can yang dihuni Tang Kwik-siu sama sekali tidak menempatkan hasil apapun, rupanya Tang Kwik-siu telah menyembunyikan kawanan jago itu di atas bukit Cian sani…….”

“Lohu juga ingin ikut!” tiba-tiba Ho Kee-sian menimbrung. Dengan kening berkerut Hoa In-liong berpaling ke arahnya,

lalu berkata, “Empek Ho, bekas anak buah Sin ki-pang berada dibawah pimpinanmu, dalam menghadapi perserikatan tiga perkumpulan aku sangat mengandalkan kekuatan kalian semua, mana boleh bertindak secara sembarangan dan gegabah?”

“Lohu seorang diri tanpa sanak tanpa keluarga, apapun urusannya bukan menjadi tannggunganku, biar aku saja yang menemanimu,” sela Ting Ji san pula dengan suara dingin.

Kembali Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali. “Aku sangat membutuhkan bantuan cian-pwe untuk

mengadakan kontak dengan kawanan agar locianpwe tak

boleh sembarangan bertindak,” katanya dengan cepat.

Ting Ji san segera mendengus dingin. “Kau…..! Kau sebagai komandan yang memegang tampuk pimpinan, kenapa pula boleh sembarangan bertindak?”

Perlu diterangkan di sini, sekalipun Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang binal dan nampak aneh, kendatipun para cian-pwe menatap keren dan tegas kepadanya, padahal mereka semua amat menyayanginya, hakekatnya pemuda itu merupakan naga diantara manusia, sudah barang tentu mereka tak akan tega membiarkan, ia pergi seorang diri mendampingi seorang jago lihay yang sudah tersohor karena kelicikan serta kekejiannya.

Hoa In-liong tertawa, katanya, “Tiang locianpwe terlalu menyanjung diriku, padahal sekalipun kehilangan boanpwe seorang tapi begitu banyak jago lihay berhasil dilepaskan, bukankah hal ini justru lebih menguntungkan?”

Diluar ia berkata begitu, sementara dengan ilmu menyampaikan suara ia berbisik, “Thian Ik-cu benar-benar ada maksud untuk bertobat, tidak seharusnya kita selalu mencurigainya sehingga menggusarkan hatinya dan malah membuatnya berpikiran jauh, kalau sampai begitu jadinya kita menyesal sepanjang masa. Lagipula locianwee juga tak akan bertindak sembarangan, bukan suatu pekerjaan, yang gampang bagi Thian Ik-cu jika ingin mencelakai aku!”

Thiang jisan dan Ho Kee sian lalu terbungkam dalam seribu basa, sebabnya mereka masih kuatir kalau Thian Ik-cu menaruh maksud jahat  terhadap pemuda itu, tapi bila teringat akan kecerdasan serta, kemampuan ilmu silatnya, hati merekapun menjadi lega.

Hoa In-liong segera bangkit berdiri, katanya, “Persoalan ini tak bisa ditunda-tunda lagi, harap tootiang beristirahat sejenak, bila hari sudah gelap nanti kita baru berangkat” Lain kepada Cia Sau-yan dan dua bersaudara Kiong, katanya pula, “Kepergianku ini harus dilakukan diluar dugaan, jejakpun musti dirahasiakan, makin sedikit orang tahu semakin baik, dengan de mikian dalam lima sampai tujuh hari, belum tentu Tang Kwik-siau akan tahu kemanakah aku telah pergi.”

Cia Sau-yan berpikir sebentar, lalu ujarnya, “Kalau memang begitu, lebih baik aku berangkat lebih dulu dan membawa kuda tersebut keluar kota, kau boleh berganti kuda di kota Siok sian, Luciu serta Hway-wan, di mana berada kantor- kantor cabang kami. Sekalipun menunggang kuda agak pelan sedikit, jika dibedal secepat-cepatnya pun tidak akan sampai lambat sekali, apalagi sepanjang jalan pasti ada orang yang coba menyergapmu, menjaga keselamatan diri adalah penting sekali.”

Hoa In-liong diam-diam merasa kagum sekali dengan kecermatan jalan pemikirannya, ia manggut-manggut.

“Kalau begitu laksanakanlah!”

Thian ik cu melirik sekejap wajah Cia Sau-yan, tiba-tiba dengan paras muka berubah, katanya dengan suara dalam, “Nona cilik, apa hubunganmu dengan Ku Ing ing?”

Cia Sau-yan amat terkejut, pikirnya, “Tajam benar sepasang mata orang ini, tidak malu ia disebut, salah seorang pimpinan jago persilatan.”

Karena sadar bahwa tak mungkin persoalan itu dirahasiakan lagi, dengan ketenangan hati ia memberi hormat lalu jawabnya, “Guruku adalah Pui Che giok, boanpwe Cia Sau-yan menjumpai cianpwe!” “Kini Ku Ing ing ada dimana? Tentunya kau tahu bukan?” kembali Thian Ik-cu bertanya.

Cia Sau-yan tertawa genit.

Dengan memberanikan diri boanpwe ingin berkata, bahwa cianpwe meski sudah lama hidup mengasingkan diri, ternyata jiwa keduni awianmu belum juga hilang, kalau memang begitu, tak ada salahnya kalau kau membalas sakit hati itu di atas diri cianpwe.

Tiba-tiba Thian Ik-cu menghela nafas panjang, kepada Hoa In-liong, Ting Ji-san dan Ho Kee sian ia memberi hormat, lalu katanya

“Bila pinto sudah bertindak kasar, harap saudara sekalian jangan mentertawakannya.”

Aaah…… sudah sewajarnya kalau manusia bersikap demikian,” kata Hoa In-liong sambil tertawa.

Thian Ik-cu gelengkan kepalanya berulang kali, ia lantas berpaling ke arah Cia sau-yan sambil katanya, “Nona ciiik, tajamm amat selembar mulutmu yaa, pinto memang masih sangat terpengaruh oleh keduniawian tapi tak nanti aku akan me nyulitkan seorang cianpwe seperti kau. Lagi pula Hoa tay hiap telah memberi sebuah jalan hidup baru kepadaku, bila pinto masih ingat terus dengan sakit hati lama, bukankah aku betul-betul tak pantas menjadi manusia?”

Sesudah berhenti sejenak, ia menambahkan lebih jauh, “Tolong sampaikan kepada Giok teng hu Jin, semua hutang piutang dimasa lampau ku hapuskan sampai disini saja.”

Berbicara sampai disini, ia pun tidak berkata-kata lagi dan duduk dikursi sambil memejamkan mata. Ketika Ling Ji san dan Hoo kee sian mendengar ketulusan hatinya dalam pembicaraan tersebut, kecurigaan mereka pun jauh berkurang banyak.

Tempo dulu, Giok teng hujin Ku Ing ing mendapat perintah dari Kiu im kaucu untuk menyusup ke dalam perkumpulan Thong thian kau sebagai mata mata, kemudian ia pun merintahkan Pui Che giok dengan jalan menyaru membunuh putra Jin Hian serta mencuri pedang emas yang mengakibatkan per-pecahan diantara tiga perkumpulan besar.

Kemudian dalam pertemuan, thian ciau tay hwee, Thian Ik- cu menanam obat peledak dalam lembah Cu bu kok dengan maksud jika kemenangan gagal diraih, dia akan menyulut sumbu bahan peledak dan meledakkan seluruh anggota persilatan yang berkumpul disana.

Tapi kemudian, rencana besarnya itu berhasil digagalkan oleh Giok teng hujin, sudah barang tentu dendam sakit hati ini luar bi asa besarnya, jadi seandainya Thian Ik-cu dapat melepaskan niatnya untuk membalas sakit hati ini, berarti pula hatinya benar-benar sudah bertobat.

Menjelang malam, Hoa In-liong dan Thi an Ik-cu segera menggunakan ilmu meringan kan tubuhnya berangkat ke kota sebelah selatan dimana He lotia dan Cia Sau-yan telah menyiapkan kuda, air minum serta rangsum kering…….

Setelah mengucapkan terima kasih, berangkatlah kedua orang itu melakukan perjalanannya.

Sepanjang jalan menuju keselatan, mereka selain memilih jalanan yang sepi dan terpencil, yang mereka lewati sebagian besar adalah dusun kecil, tak seorang jago persilatan pun yang dijumpai. Malam ketiga, mereka telah tiba diluar kota Lu-ciu, setelah berganti kuda di kantor cabang Ci li kau, mereka tidak masuk kota melainkan menginap di sebuah rumah penginapan diluar kota.

Penginapan itu mencakup pula rumah makan kecil, ruangannya tidak terlampau luas dan terdiri dari empat lima buah meja, dua orang itu memilih tempat yang jauh dari keramaian dan memilih hidangan.

Sementara sedang bersantap, tiba-tiba Hoa In-liong mendengar Thian Ik-cu sedang berbisik dengan ilmu menyampaikan suara.

“Hoa tiongcu, sudah kau perhatikan dua orang yang baru masuk ke warung itu?”

Hoa In-liong segera memperhatikan secara diam-diam, ia dengar langkah kaki dua orang itu amat lirih jelas merupakan seorang persilatan yang berilmu tinggi

karena ia duduk membelakangi pintu, maka pemuda itu lantas berpalingg sekejap ke belakang, terlihat dua orang kakek sedang melangkah masuk ke dalam warung.

Orang di sebelah kanan adalah seorang kakek bermuka merah dengan jidat yang menonjol tinggi, pipinya sempit dan rambutnya digulung menjadi satu di atas kepala, jubahnya berwarna abu abu.

Sedang orang di sebelah kiri adalah seorang yang bercodet dipipi kirinya, jidat maupun dagunya melengkung ke dalan, matanya hitam kosong sehingga wajahinya tampak mengerikan. Setelah menyaksikan orang yang berada di sebelah kiri itu, Hoa In-liong merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya, “Menurut cerita Ci Soat cu dari Hian-beng-kau dikatakan bahwa salah satu jago yang ikut serta dalam pembunuhan atas diri Suma siok ya terdapat manusia dengan bentuk wajah semacam ini, jangan-jangan memang dialah orangnya,…..?”

Karena ingin tahu, tak tahan lagi ia bertanya dengan ilmu menyampaikan suara, “Apakah kau tahu asal usul diri kedua orang ini?”

Sambil tundukkan kepala pura-pura bersantap, jawab Thian Ik-cu dengan ilmu menyampaikan suaranya, “Kalau dibicarakan sebenarnya, kedua orang ini mempunyai hubungan permusuhan yang sangat mendalam dengan ayahmu, orang yang ada di sebelah kiri itu bernama Sui sim jin (tangan sakti penghancur hati) Gui-Gi-hong, codet pada pipi kirinya diperoleh dari bacokan pedang kakekmu ketika berlangsungnya pertemuan Pak-beng-hwee.

kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya, Walaupun pukulan penghancur hati dari Gui Gi hong sangat lihay, pinto masih sanggup menangkan dia, tapi orang yang ada di sebelah kanan itu memiliki ilmu silat yang jauh berada di atas kepandaian pinto.

Hoa In-liong merasa terkejut sekali, pikirnya, “Waah……kalau gembong-gembong iblis itu sudah bermunculan semua, bahaya sekali posisiku kini.”

“Orang itu bernama Kiong Hau, lantaran masa kemunculannya dalam dunia persilatan amat singkat, maka sekalipun ilmu silatnya sangat lihay, tidak banyak yang mengetahuinya sejak tiga kali pertarungannya dengan kakekmu, dengan kesudahan tiga kali menderita kekalahan total, ia mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan dan tidak diketahui jejaknya lagi.”

Sementara pembicaraan berlangsung, Kiong bun dan Sui sim jiu (tangan sakti penghancur hati) Gui Gi Hong telah duduk disamping sebuah meja dan memesan sebuah hidangan.

Oleh karena Hoa In-liong dan Thiao Ik-cu duduk di tempat kegelapan, lagi pula mereka bersantap dengan tertunduk, senjata yang digembolkan tersembunyi dibalik pakaian, serta susah ditemukan, maka Kiong Hao maupun Tangan sakti penghancur hati Gui Gi bongg tidak menyangka kalau di dalam warung yang, terpencil ini bakal menjumpai jago-jago lihay.

Sejak masuk ke dalam warung sampai ambil tempat duduk, kedua orang itu sama sekali tidak memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

Ketika sang pelayan menyaksikan raut wajah Gui Gi bong menyeramkan, ia meresa agak takut, tapi tak berani pula bertindak lancang, terpaksa sambil tertawa paksa katanya, “Yaya berdua, entah kalian ingin pesan apa?”

Kiong Hou dan tangan sakti penghancur hati Gui Gi-hong adalah dua orang gembong iblis yang berilmu tinggi, tapi terhadap rakyat kecil mereka tidak menunjukkan kebengisanya.

Dengan hambar Gui Gi hong berkata, “Ada apa saja hidangkan keluar tak usah banyak cerewet lagi!”

Pelayan itu menghembuskan napas lega, buru-buru memberi hormat dan mengundurkan diri untuk menyiapkan hidangan. Lewat beberapa Saat kemudian tiba-tiba kedengaran Tangan sakti penghancur hati Gui Gi hong berkata, “Menurut pendapat saudara Kiong bagaimana anggapanmu dengan apa yang dikatakan Jin Huan?”

“Rasa takut Jin loji terhadap Hoa Thian-hong sudah terlampau mendalam, sikapnya yang ragu-ragu tak menentu dan tiada tujuan, jelas bukan suatu tindakan yang tetap, jawab Kiong Hou hambar.

Diam-diam Thian Ik-cu berbisik dengan ilmu menyampaikan suaranya, “Ambisi Jin loji untuk merajai kolong langit belum padam, tampaknya ia bermaksud membangun kekuatan kembali untuk melanjutkan cita-citanya yang tempo hari terbengkalailai di tengah jalan!!” 

Hoa In-liong hanya teersenyum dan tidak menjawab.

Terdengar Gui Gi-hong berkata lebih jauh, “Jin Hian memang sudah lemah dan tak bersemangat lagi, tapi kekuasaan keluarga Hoa justru kian lama kian meluas kendatipun Hian Kiu im kau dan Seng sut pay bekerja samapun belum tentu sanggup menumbangkan kekuasaannya, menurut penilaianku lebih baik biarkan saja mereka saling bertarung sampai sama-sama terluka kemudian kita baru mendobrak diri tengah, ini baru suatu tindakan yang sangat bagus”

“Aaahh….aku rasa belum tentu demikian,” kata kiong Hau dengan suara hambar, “tempo hari bukankah Kiu im kau juga munculkan diri dari isolasi disaat kaum pendekar dengan Tong-thian-kau Sio ki pang dan Hong im hwee sudah menjadi lemah karena saling bertemu, kejadian ini sudah pernah berlangsung satu kali tak boleh sampai berlangsung untuk kedua kalinya, tidak mungkin mereka tanpa persiapan apalagi bagaimanapun juga Kiu-im kau toh akhirnya kalah juga di tangan Hoa Thian-hong.”

“Kalau memang begitu, lebih baik kita tak usah munculkan diri kembali dalam dunia persilatan kata Sui im sim jiu Giu Gi hong.

“Itupun tidak perlu,” jawab Kiong Hau dengan suara ketus, “siasat adalah hasil pemikiran manusia, semua makhluk adalah sama semua, kenapa kitapun tidak manfaatkan kelebihan kita masing masing?”

“Hmm..tampaknya mereka adalah sekelompok manusia yang enggan hidup tenang….” pikir Hoa In-liong.

Terdengar Tangan sakti penghancur hati Gui Gi hong telah berkata kembali, “Aku rasa saudara Kiong tentu mempunyai siasat bagus, dapatkah kudengarkan rencaramu itu?”

Tanpa terasa Thian Ik-cu dan Hoa In-liong sama-sama pasang telinga untuk menyadap pembicaraan tersebut, sebab jika rencana mereka sampai diketahui, maka sewaktu melakukan pembersihan nanti merekapun tak usah membuang tenaga terlalu banyak.

“Saudara Gui, kenapa kau demikian tololnya?” kata Kiong Hiu segera, “Tempat apakah ini? Dinding bertelinga, kau kira tempat semacam ini cocok untuk dipakai membicarakan semacam itu?”

Di tengah pembicaraan tersebut, sinar matanya yang biru dan tajam mendadak memandang sekejap ke arah Hoa In- liong serta Thian ik cu.

Hoa In-liong tahu bahwa musuhnya sudah mulai waspada, ia tersenyum sambil menahan pinggiran meja dan bangkit berdiri, bisiknya kepada Thian Ik-cu, “Dalam berapa gebrakan tootiang bisa membentak manusia she Gui itu?”

Mendengar perkataan itu, Thian Ik-cu segera tahu bahwa Hoa In-liong ada niat untuk bertarung melawan Kiong Hiu, sahut-nya, “Bukan pinto tiada keyakinan untuk membekuk orang itu, tapi menolong orang lebih penting, lebih baik kau berangkat duluan, biar pinto yang menghadang mereka sebentar, segera kususul dirimu nanti.”

Ia mengibaskan ujung bajunya, lalu bangkit berdiri.

Agaknya Tangan sakti penghancur hati Gui Gi-hong merasakan juga bahwa ke dua orang itu berilmu tinggi, ia tertawa seram lalu mengangkat lengan kanannya.

Kiong Hou sendiri sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apa, seakan-akan tak pernah terjadi suatu kejadian apapun, ditekannya lengan kanan Gui Gi hong, kemudian ujarnya kepada Thian ik cu dan Hoa In-liong, “Sahabat berdua, mengulur waktu tiada kegunaan untuk kalian berdua, apa salahnya kalau berbicara secara terus terang saja? Hey sobat yang memukai jubah pendeta, mengapa tidak kau perlihatkan tam- pangmu?”

Buru-buru Thian Ik ci berseru dengan ilmu menyampaikan suara, “Hoa kongcu harap merahasiakan dulu asal usulmu, pinto akan mencoba untuk mengatasi masalah ini, seandainya tidak dapat di rahasiakan lagi, belum terlambat rasanya untuk bertarung lebih jauh”

Hoa In-liong pun diam-diam berpikir, “Kedua orang itu bukan lawan enteng, bila sampai bentrok tak mungkin pertarungan itu bisa diakhiri dalam waktu singkat, kalau sampai kejadian ini meng-akibatkan rencana ku untuk menolong orang menjadi gagal, wah sudah pasti tindakanku ini bukaan suatu tindakan yang cerdik”

Ia bukan termasuk seseorang yang terlampau keras mempertahankan pendapatnya maka setelah berpikir sebentar dia pun mengangguk. Thian ik cu tidak banyak berbicara lagi sambil memutar tubuhnya ia tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh……..haaahh………haaahhh……. saudara Kiong, saudara Gui, sudah lama kita tak berjumpa, masih ingat dengan pinto?”

Sui sim jiu Gui Gi-hong melototkan sepasang matanya lebar-lebar, lalu serunya, “Oooh… rupanya kau adalah

Tong-thian kaucu, sungguh tak disangka kita dapat berjumpa kembali di kedai ini. Haaahhh….. haaahhh… haahhh,

selama dua puluh tahun terakhir ini to-heng telah tersembunyi di mana……?’“

Diam-diam Thian Ik-cu agak girang, sahutnya, “Kejadian yang sudah lewat tak akan berulang lagi, lebih baik tak usah kau singgung kembali. Justru dari pembicaraan saudara Gui dan saudara Kiong dapat kudengar bahwa kau ada niat untuk membangun kembali kejayaan tempo hari, teringat sampai kepersoalan tersebut hatiku gatal, aku jadi ingin pula mengikuti jejak kalian. Cuma… aku pikir tenaga yang

diandalkan saudara Kiong dan saudara Gui masih terlampau minim.”

Kalau masa jayanya tiga perkumpulan bessar dulu, sekalipun pekerja kasar juga mengetahui nama mereka tapi setelah mengalami masa damai selama dua puluh tahunan, nama besar mereka hampir boleh dibilang sudah dilupakan orang, maka pembicaraan antara kedua orang itu sama sekali tidak menarik perhatian para tamu lain-nya dalam warung.

“Bila to-heng bersedia membantu, masalah besar ini pasti tak sulit untuk diselesaikan!”

Setelah berhenti sebentar, katanya lagi sambil tertawa, “Terus terangnya saja to-heng, aku dan Kiong heng telah bersekutu.”

“Tunggu sebentar saudara Gui!” tiba-tiba Kiong Hui menukas.

Dengan wajah tertegun Gui Gi-hong menatap wajah rekannya.

Sementara itu Kiong Hau telah alihkan sinar matanya kewajah Hoa In-liong, lalu tegurnya dingin, “Siapakah orang yang berjalan bersama-sama to-heng itu??”

Agak tercekat juga perasaan Hoa In-liong ketika dilihatnya sampai saat itu Kiong Hau masih tetap duduk tak berkutik dengan wajah tanpa emosi, pikirnya, “Orang ini benar-benar luar biasa……”

Setelah berpikir sebentar, ia merasa jika dirinya membungkam terus hal ini malah akan menimbulkan kecurigaan orang, diapun tak ingin Thian Ik-cu mencari nama palsu baginya maka sambil tertawa ujarnya, “Bila kau ingin mengetahui siapakah aku, apa salahnya kalau dicari dari kepandaian silat yang dimiliki?”

Maksud lain dari ucapan itu jelas adalah menantang Kiong Hau untuk berduel. Menyaksikan ulah pemuda itu, Thian Ik-cu lantas mengerutkan dahinya dan berpikir, “Dasar anak muda, kau anggap Kiong Hau adalah seorang manusia yang gampang dilayani?”

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ki ong Hau, katanya, “Anak muda, semangatmu memang cukup boleh dipuji, tapi biar lohu periksa dulu apakah kau pantas untuk berduel denganku aku tidak?”

“Silahkan!” kata Hoa In-liong sambi! tersenyum.

Sepasang alis mata Kiong Hau yang tebal berkerut kencang lalu sambil tertawa dingin sepasang tangannya disodok kedepan.

Dua buah cawan arak dengan cepat melayang ke arah Hoa In-liong seakan akan ada orang yang membawanya.

Ketika menyaksikan adegan tersebut, semua tamu dalam warung hampir seluruhnya menjerit kaget kemudian suasana menjadi hening dan sepi, sinar mata semua orang tertuju pada dua buah cawan tadi bahkan ada pula yang berdiri dengan mata terbelalak dan mulut melongo sehingga keadaan-nya lucu sekali.

Sesaat kemudian kedua buah cawan arak itu sudah melewati dua buah meja ketika tiba pada jarak lima enam depa dari Hoa In-liong, mendadak cawan yang ada di sebelah belakang mempercepat gerakannya meluncur ke depan dan menyusul cawan yang berada di depan.

Seandainya kedua cawan arak itu sampai dibiarkan saling membentur antara yang satu dengan lainnya, niscaya cawan itu akan pecah dan akibatnya arak akan berhamburan membasahi tubuh Hoa In-liong. Sejak awal tadi Hoa In-liong sudah tahu kalau kepandaian yang dipergunakan Kiong Hau adalah Yen yang siang bui (sepasang burung meliwis terbang bersama) pada dasarnya dia memang ada minat untuk unjukkan kehebatannya, maka hawa murninya dihembuskan lewat tiupan……..

Cawan arak yang sedang melayang dibelakang itu segera tersambar bagaikan termakan oleh segulung tenaga pukulan yang dahsyat, mendadak berubah menjadi serentetan cahaya putih dan meluncur keluar dari pintu kedai lalu lenyap tak berbekas.

Sementara sisa cawan yang terakhir dikebut dengan ujung bajunya, dengan suatu gerakan yang pelan dan tenang, tahu- tahu sudah melayang turun di atas meja tanpa tumpah barang setetespun.

Gui Gi hong menjerit kaget, sementara sinar mata Kiong Hau semakin tajam, bahkan Thian Ik-cu sendiripun tidak menyangka kalau Hoa In-liong memiliki tenaga dalam sedemikian sempurnanya.

Terdengar Hoa In-liong berkata dengan wajah serius, “Kalau toh engkau telah unjukkan kepandaian, dengan menggunakan kesempatan ini aku yang tak becuspun ingin pula menjajal kepandaian sakti saudara……”

Tidak menanti jawaban dari Kiong Hau, lagi ia menjepit sebuah piring kosong lalu di lemparkan ke arah orang itu.

Dibalik piring kosong tersebut tersembunyilah tenaga murni yang sangat kuat, secepat kilat dengan gerakan berputar meluncur ke muka. Menyaksikan hal tersebut, Kiong Hau segera menyentilkan segulung desingan angin tatam ke depan, dengan cepat angin tajam itu menghantam bagian tengah piring.

Karena penggunaan tenaganya dilakukan sangat cepat, maka ia bermaksud mementalkan kembali piring tersebut, kemudian sekalian diberi sedikit permainan busuk agar pemuda tersebut kehilangan muka.

Siapa tahu, justru Hoa In-liong telah melakukan pula sedikit permainan busuk pada piring tersebut, begitu termakan angin pukulan dari luar …..

“Praaak…..!hancurlah piring itu menjadi hancur berkeping keping, lalu seperti hujan gerimis langsung mengurung sekujur badan kiong Hua malah Gui Gi hong yang berada di sampingnya ikut pula terkena hancuran piring itu.

Tampaknya Kiong Hua sulit menghindarkan diri lagi, tiba- tiba ia menggulung ujung bajunya ke depan, hancuran piring itu menjadi berubah arah, seperti ikan paus menghisapp air, selaksa kambing kembali kesarang, serentak semua hancuran piring itu terhisap kebalik ujung baju kiri Kiong Hau.

Padahal d antara hancuran piring tersebut Hoa In-liong telah menyertakan tenaga dalamnya yang amat sempurna, tentu saja dalam keadaan tergesa-gesa tak mungkin bagi kiong Hau untuk menghisap seluruh pecahan piring itu, salah satu diantaranya dengan telak menghantam di atas bahu kanannya.

Tenaga dalamnya cukup sempurna, sekali pun pecahan piring itu menembusi jubahnya tapi tidak sampai menimbulkan luka, tapi dengan kedudukannya yang tinggi ternyata kena dipecundangi oleh seorang angkatan muda, sedikit banyak hal ini sangat menurunkan martabatnya. Tampak Kiong Hau bangkit berdiri, ujung bajunya dikebaskan kemeja dan hancuran piringpun segera berhamburan kemeja, matanya memancarkan sinar merah, hawa nafsu membunuh menyelimuti wajahnya.

Thian Ik-cu dan Hoa In-liong kuatir dalam malunya ia menjadi gusar dan melancarkan serangan mematikan, serentak tenaga dalam yang mereka miliki di himpun menjadi satu untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Sementara itu Sui sim jiu Gui Gi hong berbuat pula menghindarkan diri dari pecahan piring, serunya, “Toheng, sungguh lihay ke pandaian silat yang kau miliki, aku orang she Gui dengan tak tahu diri ingin memohon beberapa petunjuk darimu.

Saudara Gui akulah yang telah salah tangan, sudah sepantasnya aku pula yang menghadapi mereka harap saudara Gui jangan mencampuri urusan ini, tiba-tiba Kiong Hau berka.

Gui Gi hong tertegun, terpaksa ia menghentikkan langkah kakinya sambil menjawab, “Kalau memang begitu, siau te akan menjadi penonton yang baik saja…”

Sementara itu, para tamu yang ada dalam warung telah merasakan pula hawa pembunuhan yang menyelimuti sekeliling tempat itu, tapi karena Kiong Hui dan Gui Gi hong duduk dekat pintu kedai, maka tak seorangpun diantara mereka yang berani melewati dari sampingnya, terpaksa sambil mengeluh mereka semua berkumpul disudut ruangan.

Hoa In-liong mengerling Ik-cu, kemudian sambil perpaling katanya, “Kiong Hau, jika kau ingin beradu kepandaian denganku lebih baik kita langsungkan pertarungan diluar dusun, jangan karena ulah kita mengakibatkan orang lain yang terluka.”

Jubah yang dikenakan Kiong Hau bergoncang keras meski tidak berhembus angin, jelas Kemara-hannya sudah memuncak tapi sejenak kemudian wajahnya telah putih kembali menjadi tenang, ia berkata, “Hari ini lohu mengaku kalah lain kali dimana kita berjumpa, distu kita bikin perhitungan, nama saudara, kita persoalkan lain kali saja.”

Lalu sambil berpaling ia berseru, “Saudara Gui, hayo berang kat!”

Ujung bajunya dikebaskan iapun putar badan dan berjalan keluar dari ruangan kedai. Menyaksikan sikap rekannya itu Sui sim jiu Gui Gi hong agak tertegun kemudian setelah melirik sekejap ke arah In-liong dan Thian Ik-cu, ia tertawa dingin, setelah melemparkan sekeping uang perak ke atas meja dan menekannya pada permukaan, iapun putar badan dan menyusul rekannya.

Sesungguhnya suatu pertarungan sengit tak akan terhindarkan, tapi secara aneh telah batal dengan begitu saja, sekarang para tamu dalam warung, baru bisa menghembuskan napas lega.

Sebaliknya Hoa In-liong pun merasa amat kagum dengan cara Kiong Hau yang berani mengaku kalah secara terus terang tanpa berusaha bermain curang.

Cuma dengan terjadinya peristiwa ini, mereka berdua pun tak berani menginap disitu lagi, selesai membereskan rekening kedua orang itu segera menitahkan pelayan untuk menyiapkan kuda. Tampak ciangkwe kedai itu dengan wajah bermandi peluh sedang berusaha mengorek keluar uang perak yang ditekan masuk ke dalam permukaan meja oleh Gui Gi hong itu, tapi sudah mengorek setengah harian pun tidak ada hasilnya.

Melihat itu Hoa In-liong segera tersenyum, di hampirinya orang itu, kemudian tangannya menekan pinggiran meja dan hawa murni disalurkan keluar, secara tiba-tiba saja uang perak itu melompat keluar dengan sendirinya……

Kejadian ini malah mengakibatkan ciangkwe ketakutan setengah mati, dengan sempoyongan dia mundur tiga langkah dari posisi semula.

Keluar dari kedai, dua orang itu melompat naik ke atas kuda dan membedalnya meninggal tempat itu.

Sesudah keluar dari wilayah kota Lu ciu, Thian Ik-cu baru berkata sambil tertawa terbahak-bahak, “Haaah…..haaahh…..haaahh….selama hidupnya Kiong loji selalu latah dan tinggi hati tapi berulang kali pula dia musti jatuh pecundang di tangan orang-orang keluarga Hoa, dulu kakeknya kini cu cunya, kalau dia sampai mengetahui tentang persoalan ini, entah bagaimanakah jalan pemikirannya waktu itu?”

Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulangkali. “Kekalahan yang dialami Kiong Han barusan adalah akibat

dari kegegabahannya sendiri, coba kalau kita bicarakan dari

caranya melepaskan senjata rahasia tadi, bisa diketahui bahwa ilmu silatnya betul-betul sudah mencapai setingkatan yang  luar biasa, andaikata sampai betul-betul terjadi pertarungan mungkin bonnpwe masih bukan tandingan-nya. Thian Ik-cu termenung sebentar, kemudian ujarnya, “Kalau begitu sewaktu bertarung melawan pinto tempo hari, Hoa kongcu belum menggunakan segenap kekuatan yang kau miliki?”

Hoa In-liong tersenyum.

“Dan tootiang sendiri? Masa kau telah menggunakan seluruh kekuatanmu…..?” ia balik bertanya.

Setelah berhenti sejenak, katanya lebih lanjut, “Kalau diperhatikan paras muka Kiong Hau dan Gui-Gi hong ketika pergi tadi, tampaknya bahkan tootiang pun ikut dibenci, bila tootiong sampai berjumpa lagi dengan mereka dikemudian hari, harap kau bersikap lebih hati-hati.”

“Aaah….. pinto tak akan sampai jeri kepada mereka,” jawab Khian Ik-cu angkuh, “Untuk satu lawan satu, Kiong Hau tidak berani kukatakan, tapi kalau orang she Gui sudah jelas tak akan mampu menahan seratus jurus seranganku, sekalipun mereka turun tangan bersama, pinto juga masih sanggup untuk angkat kaki dari situ.”

“Tootiang, tahukah kau semasa masih hidupnya dulu apakah Suma siok ya pernah terlibat dalam suatu pertikaian atau hubungan dendam sakit hati dengan Kiong Hau atau Gui Gi hong?” tiba-tiba Hoa In-liong bertanya secara serius.

Thian Ik-cu termenung sejenak, kemudian sambutnya, “Sudah terlalu banyak jago kalangan hitam yang dibunuh Suma tayhiap semasa masih hidupnya, ia boleh dibilang merupakan sumber pembunuh nomor satu dari golongan para hiap khek, sudah barang tentu permusuhan tak bisa dihindari, mungkin saja mereka pernah terikat oleh suatu dendam…” Setelah berhenti sebentar, terusnya, “Apakah Hoa kongcu menaruh curiga bahwa Suma tayhap tewas di tangan Kiong Hau dan Gui Gi hong sekalian?” Hoa In-liong mengangguk.

“Kok See-piau telah cuci tangan bersih-bersih dari keterlibatannya dalam peristiwa pembunuhan Suma siok-ya, sekalipun boanpwe tidak mempercayainya seratus persen, persoalan inipun musti di selidiki sampai jelas, agar putri Suma siok ya dapat secara langsung membalas sendiri sakit hatinya.

“Sebagai seorang anak yang berbakti, nona Suma memang sepantasnya berbuat demikian, kalau tidak bagaimana mungkin sukma Suma tayhiap suami-istri yang ada dialam baka bisa beristirahat dengan tenang?”

“Yaa……tampaknya bila ada kesempatan berjumpa lagi dengan Kiong Hau, aku musti menanyakan persoalan ini secara langsung ke padanya, aku rasa mereka sebagai seorang jago kelas satu dalam dunia persilatan pasti tidak akan bohong, sebaliknya kalau menyangkal, salah seorang diantara mereka tentu adalah pembunuhnya, asal diselidiki secara seksama, rasanya tidak sulit untuk menemukannya.”

“Pada akhirnya persoalan ini, pasti akan menjadi beres dengan sendirinya, waktu itu mungkin saja pinto masih hidup mungkin juga telah berpulang ke alam baka, aku tak lain hanya bisa mengucapkan sela-mat kepada nona Suma, semoga saja ia berhasil menuntut balas bagi sakit hatinya….”

“Boanpwe mewakili Jin Kokoh mengucapkan banyak terima kasih!”

Setelah memeriksa cuaca sejenak, ia lebih jauh, “Kiong Hau dan Gui Gi-hong tampaknya tak ada hubungan dengan ketiga buah perkumpulan besar, sekalipun belum mengenali asal usul boanpwe, tapi kitapun harus sedia payung sebelum hujan, lebih baik menggunakan keadaan gelap untuk melanjutkan perjalanan, menolong orang lebih penting dari segala galanya, entah bagaimana menurut pendapat tootiang?”

“Segala sesuatunya terserah pada keputusan Hoa kongcu, pinto tidak mempunyai usul lain.”

Hoa In-liong tahu bahwa tosu tua ini selalu teringat dengan budi kebaikan yang pernah diterima dari ayahnya, maka ia selalu berusaha membalas budi kebaikan itu.

Maka tanpa banyak berbicara lagi dia mengempit perut kuda dan melarikan binatang tunggangnya cepat-cepat ke depan.

Malam itu mereka berdua sudah memasuki daerah pegunungan, karena harus melakukan perjalanan ratusan li jauhnya non stop, kuda-kuda itu sudah mulai berbuih putih, napasnya ngos -gosan dan sukar untuk meneruskan perjalanan lagi, dalam keadaan demikian terpaksa mereka turun dari kuda dan melanjutkan perjalanan naik bukit dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.

Thian Ik-cu berjalan di paling depan diikuti Hoa In-liong dari belakangnya, di tengah jalan ia sama sekali tidak bertanya kepada Thian Ik-cu, dimanakah Tang Kwik siu menyekap jago-jago lihay yang berhasil ditawannya itu, atas kepercayaan pemuda itu kepadanya Thian Ik-cu merasa sangat berterima kasih.

Setelah mendaki bukit melewati jeram, mendekati fajar sampailah mereka di atas sebuah puncak gunung.

Sambil menunjuk ke lembah bukit di sebelah bawah sana Thian ik cu lantas berkata, “Kawanan jago lihay itu mereka sekap dalam lembah tersebut” Hoa In-liong coba menengok ke bawah, ia saksikan lembah dibawah bukit situ bentuknya seperti sebuah kupu-kupu, tengah lebar dengan kedua buah mulut lembahnya sempit, pada tiap mulut lembah berdirilah sebuah pagar kayu yang tingginya mencapai lima kaki.

Dalam lembah, setiap jarak tertentu berdiri pula sebuah pagar kayu yang banyaknya mencapai empat lapis, di atas pagar kayu tadi ber dirilah kawanan jago Mo kau yang berjubah kuning sedang melakukan perondaaan, sementara bagian tengah lembah dekat tebing curam berdirilah serangkaian bangunan rumah.

Setelah memandang sekejap dengan terburu-buru, sambil berpaling katanya, “Tampaknya penjagaan disana ketat sekali, tempo hari dengan cara apa tootiang berhasil masuk ke dalam?”

“Tempo hari pinto berhasil masuk ke dalam karena menguntit di belakang serombongan murid Mo kau yang ditugaskan keluar gunung untuk membeli bahan makanan, karena orang-orang itu tengah malam buta baru kembali ke dalam lembah, maka pinto menyembunyikan diri dalam sebuah kereta.

“Lantas kawanan jago lihay itu disekap dimana?” tanya Hoa In Liong lebih lanjut.