Neraka Hitam Jilid 03

Jilid 03

Tapi ia tidak menjadi gelisah atau panik karenanya, sebab dengan dasar hiolo kumala yang diperoleh disisi mayat Suma Tiang cing, ia bisa minta keterangan dari Giok teng hujin yang kini sudah merubah nama menjadi Tiang heng Tokeh, sekalipun belum tentu pembunuhnya bisa ditemukan, paling sedikit ia bisa mengorek keterangan tentang nyonya Yu dan Si Leng jin…..

Berpikir sampai disitu, sadarlah pemuda kita bahwa Kok See-piau memang sengaja berkata demikian karena mengandung maksud-maksud tertentu, cuma apa maksudnya tidak berhasil ditebak olehnya. Setelah termenung sebentar, katanya kemudian sambil tertawa, “Dalam dunia persilatan dewasa ini hanya ada tiga perkumpulan besar yang menjadi motornya, bila ada orang ingin beradu akal dengan Kui im kaucu, hakekatnya perbuatan orang itu adalah perbuatan dari seorang manusia goblok”

Lau san in siu Ui Shia leng yang selama ini cuma membungkam, tiba-tiba ikut menimbrung, “Pada umumnya orang lebih suka mengbaikan fakta atau bukti yang telah berada di depan mata dengan mencari fakta yang jauh darinya, mungkin orang itu memahami akan hal tersebut sehingga secara berani melakukan tindakan diluar peri kemanusiaan itu.”

“Haaahh…haaah…haaahhh.. Kaucu kalian adalah seorang manusia berbakat yang sangat cerdik, mana boleh menyamakan dia dengan orang-orang biasa.”

“Jadi Hoa kongcu menaruh kecurigaan dan sangsi terhadap apa yang diucapkan oleh Sinkun barusan?” tanya Ci Siucu.

Hoa In-liong segera berpaling, kemudian katanya dengan wajah bersungguh sungguh, “Kaucu kalian adalah seorang manusia yang jempolan, tokoh yang terhormat, mana mungkin orang terhormat semacam dia sengaja menciptakan kabar bohong untuk menipu orang? Tentu saja aku sangat mempercayai perkataannya itu dan sekarang justru aku sedang siap menantikan penjelasan berikut-nya dari Sinkun.

Selama ini Kok See-piau hanya mengamati mimik wajah Hoa In-liong dari samping ternyata ia gagal menemukan perubahan wajah anak muda itu, sehingga dia sendiripun tak tahu apa yang sedang diper-timbangkannya sekarang, tak kuasa lagi dampratnya di dalam hati.

“Huuh….licik amat bajingan cilik ini!”

Sementara itu terdengar Hoa In-liong berkata kembali, “Ketika Suma siok-ya suami istri terbunuh, mayat mereka telah kuperiksa dengan seksama, kalau ditinjau dari bekas gigitan yang begitu rata pada tenggorokannya, jelas mereka tewas karena gigitan sejenis makhluk buas, kemudian akupun telah berjumpa dengan seorang perempuan she-Yu yang membopong seekor kucing hitam, orang itu jelas adalah anak buah dari Kiu-im kau….”

“Yu-si memang amat mencurigakan, cuma ia bukan pembunuh yang sesungguhnya,” kata Kok See-piau.

“Aneh benar orang ini……” Hoa In-liong lantas berpikir, “kenapa ia berusaha keras membersihkan Kiu im kau dari keterlibatan peristiwa ini? Entah apa maksud dan tujuannya?”

“Hoa kongcu!” Ci Soat-cu lantas berkata “sepanjang perjalanan pinto pulang kedaratan Tionggoan dari luar samudra, telah kujumpai beberapa orang manusia baju hitam berkerudung yang mencurigakan sekali gerak geriknya, ilmu silat mereka sangat tinggi, jelas merupakan jago-jago tangguh berilmu tangguh!” “Ah….masa benar?” tegur Hoa In-liong.

“Benar, aku berbicara apa adanya!” Ci Soat-cu menegaskan kembali dengan wajah serius.

Dapatkah tootiang memberi penjelasan lebih lanjut?

Ci Soat cu termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya, “Tahun berselang ketika pinto sedang berada di luar kota Ciok kun, tiba-tiba kusaksikan ada sesosok bayangan manusia bergerak lewat, aku merasa tertarik sekali dan segera menyusulnya…….”

Tootiang, sebagai murid Sim-cing koang masih besar amat rasa ingin tahumu!” sindir Hoa In-liong sambil tertawa.

Hmm…! Keturunan orang kaya ternyata kebanyakan memang tak tahu sopan santun, damprat Toa-koay dari Im- siang kay dengan nada ketus”.

Tapi Hoa In-liong pura pura berlagak tidak mendengar, sorot matanya masih tetap tertuju ke arah toosu tadi.

Ci Soat-cu sendiri juga tidak terlalu memperhatikan sindiran tadi, sambil tertawa tergelak katanya, “Bukan berarti pinto sangat besar rasa ingin tahunya, adalah karena Sinkun berpesan agar sepanjang perjalanan bertindak lebih berhati- hati maka dari itu setelah menjumpai kejadian tersebut, tentu saja pinto tak dapat melepaskannya dengan begitu saja.”

Setelah berhenti sebentar, kembali lanjutnya, “Setelah pengejaran dilakukan sekian lama akhirnya sampailah di depan sebuah rumah gubuk di dalam hutan, bayangan hitam itu berkelebat masuk ke dalam rumah dan pintopun segera menyusul ke situ, ternyata di dalam rumah telah berkumpul lima orang manusia berbaju hitam, cuma kain cadar mereka telah dilepaskan, sayang pinto terlalu jarang berkelana dalam dunia persilatan, jadi orang-orang itu tidak kukenali pula siapa nama-nama mereka, meski demikian raut wajahnya sempat kuinngat selalu, beberapa orang itu berusia sekitar lima puluh tahunan, mukanya sangat biasa cuma salah seorang diantaranya bercodet pada pipi kirinya mungkin pernah tersambar tusukan pedang hingga mata kiripun ikut lenyap, ia berjenggot dan ru panya merupakan pemimpin rombongan.”

Hoa In-liong sendiripun tidak dapat menduga, apakah jago persilatan dengan raut wajah semacam itu, maka pikirnya, “Hmmm…….? Siapa tahu kalau kau cuma mengarang saja yang bukan bukan ?”

“Setelah berbicara beberapa patah kata masalah ringan, mereka mulai berunding.”

Ci Soat-ca melanjutkan, “Pinto yang berhasil menyadap pembicaran mereka merasa amat terkejut, ternyata dalam pembicaraan itu mereka berencana hendak memusuhi tiga perkumpulan besar serta keluarga Hoa kongcu, bahkan bila perlu mereka hendak mengajak beradu jiwa sehingga musuh- musuhnya dapat dilenyapkan satu persatu… ”

“Dapatkah tootiang menjelaskan pembicaraan diantara kelima orang itu secara lebih terperinci?” sela Hoa In-liong tiba-tiba.

CiSoat-cu tertegun, kemudian katanya, “Pinto sudah tidak terlalu ingat lagi!”

“Aaah… ! Masa terhadap masalah penting seperti itu,

dengan kecerdasan totiang-pun bisa terlupakan?” Ci Soat-cu tahu kalau Hoa In-liong menaruh curiga terhadap pembicaraannya dan ingin menemukan titik kelemahan dari balik perkataannya, maka ia cuma tersenyum dan tidak menanggapi.

Ji-koay dari Im san siang-koay tidak terima dengan cepat katanya, “Lupa adalah suatu kejadian yang umum dijumpai dalam kehidupan manusia, apa yang musti diherankan?”

Hoa In-liong segera tertawa nyaring. “Haaahh…….haaahhh……….haaahh… maklumlah,

lantaran urusan ini sangat luar biasa, jadi jangan salahkan

kalau terpaksa aku orang She Hoa musti berhati-hati.”

Setelah berhenti sebentar, katanya lagi dengan suara dalam.

“Dengan kepandaian silat yang dimiliki tootiang, kenapa tidak kau tangkap seorang diantara mereka untuk diperiksa?”

Ci Soat cu tertawa getir.

“Apa yang musti kulakukan? Pinto merasa menyesal karena dihari-hari biasa telah melantarkan pelajaran silatku, aaai… !

Ketika Pinto telah menginjak patah ranting pohon, dengan cepat jejakku diketahui oleh kelima orang tersebut. Sungguh amat hebat ilmu silat mereka, dibawah kerubutan mereka berlima, Pinto harus berjuang mati matian untuk menyelamatkan diri, bisa kabur dari kepunganpun sudah termasuk untung, apa lagi berbicara soal menangkap salah seorang diantara mereka untuk diperiksa?”

Hoa In-liong tertawa. “Sejak rahasia mereka tertahan, orang-orang itu tentu semakin menghilangkan jejak mereka dalam dunia persilatan,” katanya.

Lau-san in siu Ui Shia ling segera terbahak-bahak.

“Haa-h…..haah…..haaahh…..sejak dulu sampai sekarang orang-orang yang menganggap dirinya cukup tangguh dan berilmu, selamanya tak suka mengasingkan diri hidup menyendiri, bagi mereka berlaku prinsip lebih baik mampus daripada tidak melakukan sesuatu pekerjaan yang besar dan cemerlang.”

Hoa In-liong manggut-manggut.

“Betul, kemungkinan besar mereka malah melaksanakan perbuatan tersebut secara terbuka!”

Tiba-tiba Kok See-piau menyesal dengan hambar. “Kalau toh Hoa kongcu tetap menaruh curiga, banyak bicara juga tak ada gunanya, untung saja kata-kata tersebut bukan sengaja dibuat buat dengan dasar kecerdasan Hoa kongcu asal mau menaruh perhatian secara khusus, rasanya tidak sulit untuk menemukan gejala gejala tersebut.”

Ci Soat cu mengebalkan senjata Hud timnya dan menyahut. “Ucapan Sinkun ada benarnya juga, baiklah pinto akan

mengakhiri ceritaku sampai disini saja.”

Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian tersebut, diam- diam berpikir dalam hati, “Kebanyakan perbuatan mereka itu cuma sandiwara yang telah diatur terlebih dulu, hmm…….! Memang kalian anggap aku orang she Hoa adalah orang bodoh yang gampang dikelabuhi? Jangan bermimpi disiang hari bolong … ….!” Berpikir sampai disitu, katanya sambil tersenyum, “Sesungguhnya aku ingin mohon petunjuk, cuma tidak kuketahui bagaimana caranya untuk buka suara!”

Sambil mengelus jenggotnya Ci Soat cu tertawa. “Waaah….pinto sama saja, dibuat harus mengingkari kata-

kata sendiri, silahkan Hoa kongcu bertanya,”

Hoa In-liong berpikir sebentar, tiba-tiba katanya sambil tertawa, “Dari pembicaraan orang-orang itu , tootiang berhasil menemukan soal apa yang dirasakan penting?”

Ci soat cu berpikir sebentar, kemudian sahutnya, “Sesungguhnya tidak terlalu banyak yang berhasil pinto dengar, aku hanya sempat mendengar sebutan Cong tongkeh sebanyak beberapa kali.”

Mendengar itu, Hoa In-liong manjadi sangat terkejut. “Oooh…jadi Hong im hwe hendak munculkana diri kembali

dalam dunia persilatan.”

“Pinto sendiripun pernah menduga sampai ke situ!”

Hoa In-liong kembali berpikir, “Kemungkinan besar Hong im hwa hendak munculkan diri kembali ke dalam dunia persilatan dan mungkin saja Hian-beng-kau diminta untuk menyelidiki gejala gejala dalam dunia persilatan pada umumnya…”

Berpikir sampai disini, dia lantas mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya, “Dalam surat undangan sie-kun mengatakan hen dak Cu ciu lun kiam (minum arak sambil membicarakan ilmu pedang), entah dengan cara apakah kalian hendak membicarakan soal ilmu pedang?” “Ilmu silat Hoa kongcu sangat lihay, aku rasa pasti sudah memperoleh seluruh kepandaian warisan ayahnya bukan?” kata Kok See-piau dengan kening berkerut.

Ilmu silat Sinkun merajai seluruh dunia, aku mengaku masih bukan tandingannmu, entah pertandingan ini akan dilakukan secara lisan saja ataukah……..

“Sebenarnya hendak diselenggarakan secara lisan saja,” tukas Kok See-piau sambil tertawa, “sayangnya ilmu silat aliran Kiu ci ki Ong sangat aneh dan asing bagi pendengaran orang, aku kuatir sekalipun jurus-jurus serangan kusebutkan, belum tentu orang luar mengetahuinya.”

“Kalau begitu pertandingan akan diselenggarakan dimana?

Silahkan Sinkun memberi petunjuk.”

Kok See-piau ikut bangkit lalu katanya sambil tertawa, “Umum kalau pemuda itu berdarah panas, jadi kalau ingin cepat-cepat angkat nama bukan lagi suatu kejadian aneh.”

Sesudah ketuanya bangkit Ui-san-in-siu, Lau-san-siang- koay dan jago-jago lainnya ikut bangkit berdiri, dipimpin oleh Kok See-piau yang jalan bersanding dengan Hoa In-liong, berangkatlah mereka tinggalkan ruangan tersebut.

Turun dari ruang tengah mereka melalui sebuah jalan sempit dan tiba disebuah tanah datar yang beralaskan batu- batu hijau, luasnya cuma sepuluh kaki, dan suasananya terang benderang karena kawanan jago Hian-beng-kau telah mengelilingi sekitar sana sambil mengangkat tinggi obor- obornya.

Jika Hoa In-liong ingin menjajal kepandaian Kok See-piau, maka Kok See-piau ingin mengetahui taraf kepandaian silat Hoa Thian-hong dari kepandaian yang dimiliki Hoa In-liong sekarang, dengan demikian kedua belah pihak sama-sama berhasrat untuk menyelidiki taraf kemampuan masing-masing pihak.

Setelah berada di tengah lapangan batu, dua orang itu berdiri saling berhadapan, kemudian berkatalah Hoa In-liong, “Apakah Sinkun sendiri yang hendak memberi petunjuk kepadaku??”

Sebenarnya lohu ingin turun tangan sendiri tapi akupun kuatir kalau orang mengatakan aku si-tua menganiayai si- muda. Sementara itu Go Tang cuan, Ci Soat cu, Ui Shia-ling dan sekalian jago telah berdiri pula di sekitar gelanggang, tiba-tiba Ciu-hoa lompat tampil kedepan, setelah memberi hormat kepada Kok See-piau katanya, “Suhu, kenapa kau musti turun tangan sendiri? Tecu bersedia mewakili dirimu.”

“Tapi kau masih bukan tandingan Hoa kongcu…” kata Kok See-piau dengan kening berkerut.

Hoa In-liong putar otak dengan cepat, tiba-tiba ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh……,haaahhh,….haaahhh… maaf kalau aku

orang she Hoa terpaksa omong besar, pada hakekatnya ke delapan orang murid Sinkun tak akan mampu menahan tiga puluh gebrakan seranganku, tapi jika kalian tidak percaya dengan pendapatku orang she Hoa, tentu saja tidak ada halangannya jika muridmu dipersilahkan turun kearena.”

Ciu Hoa sekalian menjadi gusar sekali setelah mendengar perkataan itu, ditatapnya Hoa In-liong dengan sepasang mata melo tot besar, kalau bisa mungkin mereka ingin menelan si anak muda itu bulat-bulat. Kok Shee piau juga bukan orang bodoh diam-diam ia lantas berpikir pula, “Aneh, kenapa secara tiba-tiba bajingan cilik ini menjadi takabur? Sudah pasti ada sebab musababnya!”

Berpikir sampai disitu dia lantas siapkan tangannya sambil berkata, “Kalau begitu terimalah ketiga puluh jarus serangannya, kalau sudah kalah cepat mundur, jangan dipaksakan terus”

Ciu Hoa lo pat memberi hormat sambil menerima perintah. kemudian ia memutar badan sambil maju dua langkah katanya dengan suara menyeramkan, “Hoa kongcu, maaf!”

“Silahkan!” kata Hoa In-liong sambil megulapkan tangannya, sikapnya sangat santai seakan akan musuhnya tak dipandang sebelah mata pun.

Semenjak tadi Ciu Hoa lo pat sudah menahan rasa cemburu dan irinya yang meluap-luap, tentu saja ia tidak sungkan sungkan lagi, telapak tangannya segera dikepalkan dan langsung menghantam ke dada lawan.

Hoa In-liong miringkan badannya ke samping menghindari ancaman itu, kemudian telapak tangan kanannya disodok ke depan menangkis datangnya ancaman musuh itu.

Sejak gerakan yang pertama Kok See-piau sekalipun sudah mengetahui bahwa ilmu silat yang di miliki Hoa In-liong jauh melebihi kepandaian Ciu Hoa lo pat, dalam tiga puluh gebrakan kemungkinan Ciu Hoa lo pat memang bisa dikalahkan, bergetar juga perasaan batinya.

“Jika seorang bocah muda dari keluarga Hoa pun memiliki ilmu silat setangguh ini, apalagi Hoa Thian bong pribadi?” demikian pikirnya. Ciu Hoa lo-pat sendiripun merasakan juga betapa tangguhnya ilmu silat lawan, akan tetapi ia enggan mengundurkan diri dengan begitu saja, sambil membentak keras ia keluarkan ilmu Kiu-ci-sin ciang (pukulan sakti dari istana Kiu ci) yang maha sakti itu, jurus demi jurus semuanya dilancarkan dengan gerakan aneh.

Hoa In-liong masih tetap bersikap santai dengan entengnya ia sambut semua serangan demi serangan, pikirnya, “Kelihatanrya ilmu pedang mereka diciptakan berasal dari ilmu pukulan, wah, kalau begitu ilmu kepandaian tersebut bisa juga di bandingkan dengan ilmu Su-siu-heng huan ciang dari keluarga Coa.”

Tapi si anak muda itu sama sekali tidak mengeluarkan ilmu pukulan Su-siu-huan heng ciang, dia hanya melayani serangan-serangan musuh dengan ilmu Sian kici lip dan Mie tiong toa jiueng yang, tercatat dalam kitab Thian-bua-cha-ki, rupanya selama beberapa hari belakangan ini, sebagai persiapan untuk menghadapi Mo Kau ia khusus melatih ilmu silat tersebut sebagai bekal.

Dalam waktu singkat dua puluh gerakan sudah lewat, Hoa In-liong yang teringat bahwa ia telah sesumbar dengan mengatakan akan mengalahkan muridnya Kok See-piau dalam tiga puluh gebrakan, segera membentak keras, ilmu pukulannya lantas berubah dengan jurus Kuo sia ci tau (perlawanan binatang terkurung) ia menghantam tubuh lawan.

Dari deruan angin pukulan yang begitu dahsyat Ciu Hoa lo pat sudah tahu bahwa sulit baginya untuk menahan ancaman tersebut, padahal kepandaian silatnya merupakan yang tertinggi diantara ketujuh orang saudara seperguruannya, jelas bukan kepandaian sembarangan. Maka dengan jurus Moay im kiu-huan (bayangan iblis berubah sembilan) telapak tangannya menyambar dari samping mengancam iga kiri Hoa In-liong, sementara tubuhnya berkelabat lewat meng-hindari serangan dahsyat musuh itu.

Secara beruntna Hoa In-liong menyerang musuhnya dengan tiga jurus Kun siu ci tau.

kemudian secara tiba-tiba gerakkannya berubah menjadi jurus It yong bu wi (satu kegunaan tak berkedudukan), tubuhnya menerjang ke muka dan jari tangannya menekan di atas jalan darah Hiat bun siang ki ditubuh Ciu Hoa Lo pat, setelah itu sambil tertawa ringan ia menarik kembali serangannya sambil mundur ke belakang.

Jurus jurus serangan itu semuanya dilancarkan secara bersambungan antara yang satu dengan lainnya, sedikitpun tidak ditemukan tanda-tanda yang bisa ditunggangi oleh lawan, sekalipun Goau cing taysu yang menyaksikan sendiri, tak urung akan memuji juga, apalagi Kok See-piau sekalian, mereka lebih lebih tertarik lagi.

“Apakah sudah melampaui jurus ketiga puluh?” tanya Hoa In-liong sambil putar badan dan tertawa.

“Baru jurus yang ke dua puluh sembilan jawab Kok See- piau hambar.

Merah padam selembar wajah Ciu Hoa lo pat, tiba-tiba ia membentak keras lalu menerjang ke depan, dengan sekuat tenaga ia lancarkan sebuah pukulan ke tubuh lawan dengan jurus Hun yu-kiu yu (sukma bergentayangan ke neraka tingkat sembilan) sebuah jurus tangguh dari ilmu pukulan Kiu ci sin ciang. “Hmmm….. manusia yang tak tahu diri!” hardik Kok See- piau gusar.

Secepat sambaran kilat ia cengkeram bahu kiri Ciu Hoa lo pat, lalu….

“Plok! Plok!” ia tempeleng wajah muridnya keras-keras, lalu sambil melemparkun tubuhnya ke luar gelanggang hardiknya, “Enyah kau dari sini!”

Ciu Hoi Lo pat terlempar jatuh diluar lapangan berbatu, secara beruntun ia harus mundur beberapa langkah sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak secara paksa, ia berpaling dan melotot sekejap ke arah Hoa In-liong dengan penuh kebencian kemudian putar badan dan kabur ke halaman belakang….

Air muka Kok See-piau tetap tenang dan tidak menunjukan perubahan apa apa katanya malah, “Muridku tidak tahu kalau Hoa kongcu telah mengampuni selembar jiwanya, maka untuk kelancangan serta ketidak tahuanya itu itu lohu mohon maaf pula untuk diri Hoa koagcu.”

“Apakah Siukun telah bersedia untuk memberi petunjuk sendiri kepadaku…..?

Kok See-piau tersenyum, dengan mata memancarkan sinar tajam jawabnya, “Lohu akan mohon petunjuk lima puluh jurus dari kongcu.”

Arti dari kata-kata tersebut adalah dalam lima puluh jurus pasti ia akan berbasil mengalahkan Hoa In-liong.

Terkesiap pula si anak itu, pikirnya!

Dalam pertempuran barusan, aku belum mempergunakan segenap kekuatanku, tapi Kok See-piau berani mengatakan bahwa dalam lima puluh gebrakan ia bisa mengalahkan diriku, bila tiada kenyakinan sebesar tujuh delapan puluh persen tak nanti ia berani bicara sesumbar, apalagi sebagai ketua dari suatu perguruan besar, tentu saja dia tak mau kalau perkataannya sampai dibuat bahan tertawa orang lain…”

Karena berpikir, ia segera memusatkan segenap pikiranya untuk menghadapi lawan, katanya sambil memberi hormat, “Silahkan.”

“Lohu sudah siap menantikan petunjukku?” Kok See-piau memberi hormat pula.

Tiba-tiba Lau san in sin Ui Shia ling berteriak, “Hoa kongcu!! Siokun! Harap tunggu sebentar!”

Sambil berkata ia lantas memburu maju ke depan dan menghadang di tengah antara Kok See-piau dengan Hoa In- liong, kemudian sambil memberi hormat kepada ketuanya dia berkata, “Tiba-tiba saja hamba merasa gatal tangan, bolehkah aku beradu kepandaian dengan Hoa kongcu?”

Kok See-piau mengerutkan dahinya.

“Selayaknya Ui lo boleh saja melayani dia jika kalau benar merasa gatal tangan, akan tetapi dengan demikian bukankah sama artinya bahwa pun sin-kuo telah melayani Hoa kongcu dengan cara ber gilir?”

“menurut pendapat bodoh hamba, lebih baik pertarungan, antara Siakun melawan Hoa kongcu ditunda sampai lain waktu saja.

Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian tersebut, kembali berpikir dalam hatinya, “Agaknya Ui Shia-ling dan Ci Soat-cu sekalipun tidak yakin jika Kok See-piau sanggup mengalahkan diriku dalam lima puluh gebrakan, maka sengaja mereka tampilkan diri untuk menggantikan kedudukkannya.”

Sorot matanya segera dialihkan kembali ke tengah gelanggang, dia ingin tahu apakah Kok See-piau mengijinkan permintaan tersebut atau tidak.

Tampak Kok See-piau termenung dan berpikir sebentar, kemudian seraya berpaling katanya sambil tertawa.

“Bagaimana pula dengan pendapat Hoa kongcu?” Hoa In-liong tertawa, “Buat aku sih sama saja……”

Diluar berkata begitu, dalam hati pikirnya, “Sudah pasti Kok See-piau tidak mempunyai keyakinan untuk menangkan aku dalam lima puluh gebrakan, sedang kata-kata sumbarnya hanya di pakai untuk mencari kembali mukanya yang hilang, coba kalau berganti Ting Kwik siu dan Kiu im kaucu, sekalipun bisa menangkap diriku juga bukan urusan gampang, masa dia sehebat itu?”

Berpikir sampai disitu, lagi ia merasa bahwa Kok See-piau yang dihadapinya sekarang mempunyai jalan pikiran yang lebih dalam dari samudra, jelas manusia semacam ini tak boleh dihadapi secara gegabah.

Sementara itu Ui Shia ling telah berkata lagi sambil memberi hormat, “Hoa kongcu dengan tak tahu diri, lolap ingin memohon petunjuk ilmu silat dari Liok-soat sanceng, semoga kau bersedia mengampuni selembar jiwa tuaku dalam setangan seranganmu nanti.” “Aaah……kepandaian silatku amat terbatas, justru Ui locian pwelah yang harus mengampuni jiwaku… ” kata Hoa

In-liong dengan cepat sambil tertawa lebar.

Sesungguhnya ucapan ucapan dari Ui Shia ling tadi hanya merupakan kata-kata untuk sopan san-tun, siapa tahu Hoa In- liong sebagai anak muda yang belum lama terjun ke dalam dunia persilatan telah menganggapnya sungguhan, ini membuatnya menjadi tertegun.

“Lantas menurut anggapan Hoa kongcu… ” katanya.

Hoa In-liong tertawa nyaring.

“Haahhh…. haahhh… haahh… dalam suatu pertempuran sang anak tak akan mengenali sang ayah, aku rasa segala macam kata-kata sopan santun lebih baik jangan dibicarakan.”

Sungguh amat gusar Ui Shia ling mendengar perkataan itu, makinya di dalam hati, “Sombong amat bocah keparat ini!”

Tapi diluar wajahnya ia tetap tersenyum ramah, katanya kemudian sambil mengelus jenggotnya, “Kalau begitu, biarlah kuturuti saja kehendak Hoa kongcu.”

Kok See-piau sendiri telah mengnndurkan! diri ketepi arena, pikirnya, “Konon meski bocah ini binal dihari biasa, tak pernah sikapnya sombong atau tinggi hati sewaktu berhadap dengan musuh, kenapa secara tiba-tiba sikapnya berubah sesombong itu? Dia maksudnya ingin memancing amarah pun sinku agar kau mendapat kesempatan untuk mencuri lihat tinggi rendahnya ilmu silatku, maka anggap saja keinginanmu itu cuma sia-sia belaka.”

Sementara ia berpikir sampai kesitu, Hoa In-liong sudah berkata, “maaf” lalu menyerbu kemuka dan sebuah pukulan langsung di lontarkan ke depan tapi sebelum mencapai pada sasarannya serangan itu telah berubah menjadi serangan jari.”

Hoa In-liong tahu bahwa Ui shia- ling pastilah salah seorang diantara lima orang jago paling tangguh dalam perkumpulan Hian-beng-kau, ia tak berani bertindak gegabah, begitu maju melancarkan serangan, ia langsung mempergunakan “Menyerang sampai mati bagian pertama” dari ilmu Ci yu-jit-ciat (tujuh kupasan jari Ci yu)

Ui Shia ling adalah seorang jago tangguh yang bermata tajam, dalam sekilas pandangan saja ia sudah tahu kalau serangan pertama adalah serangan kosong sedang ancaman yang mematikan berada di belakang, maka ketika menyaksikan datangnya serangan jari yang begitu dahsyat, ia segera membentak nyaring, “Bagus!”

Telapak tangan kirinya menyambar ke depan mengancam pergelangan tangan lawan, kelima jari tangannya menyentil bersama dan desingan angin tajam pun menderu-deru menembusi angkasa langsung menyambar ketubuh lawan, sedemikian hebatnya ancaman tersebut, sungguh tak malu disebut sebagai seorang jago tangguh.

Jurus serangan Hoa In-liong kembali berubah, ibu jarinya direntangkan kaku, desingan angin tajam langsung menerobos kedepan mengancam jalan darah Tay-ik-hiat di tubuh Ui Shia- ling.

Sebelum melepaskan serangan tadi, Ui Shia-ling telah menyiapkan jalan mundur bagi diri sendiri, ia segera tertawa terbahak-bahak, disaat yang kritis tiba-tiba badannya bergeser setengah depa ke samping menghindari ancaran desingan jari tangan musuh, kemudian pikirnya, “Rangkaian ilmu jari ini benar-benar merupakan serangkaian ilmu silat yang amat hebat!” Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan sengit yang betul-betul amat seru.

Tenaga dalam yang dimiliki kedua orang itu boleh dibilang sudah mencapai puncak kesempurnaan, Kok See-piau sebagai seorang tokoh persilatan yang maha sakti segera dapat mengetahui bahwa pertarungan tersebut merupakan sebuah pertarungan menarik, seluruh perhatiannya segera di tujukan untuk memperhatikan gerakan serangan dari Hoa In-liong.

Siapa tahu empat puluh gerakan kemudian Hoa In-liong masih tetap berada dibawah angin meskipun dengan mengandalkan satu dua macam gerakan aneh ia berhasil mempertahankan diri, namun wajahnya tampak begitu cemas dan gelisah.

Setelah mengikuti jalannya pertarungan sekian lama Go Tang cuan lantas berbisik kepada Kok See-piau dengan ilmu menyampaikan suara, “Jelas si bocah cilik dari keluarga Hoa sengaja sedang menyembunyikan ilmu silatnya.”

Kok See-piau manggut-manggut, lalu menggunakan ilmu menyampaikan suara katanya pula, “Menurut pendapatmu, berapa hebatnya ilmu silat bocah itu?”

Go lang cuan mengalihkan kembali sinar matanya ke tengah gelanggang dan memperhatikan sekejap gerakan tangan Hoa In-liong, lalu seraya berpaling sahutnya, “Aku rasa tidak berada dibawah kepandaiaan Ui Kim.”

“Kalau begitu pandanganmu…….” Kok See-piau manggut- manggut. Setelah berhenti sebentar, katanya lagi, “Kalau begitu, tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong tentu berkembang jauh lebih hebat lagi.”

“Bagaimana kalau Siakun lukai secara diam-diam si bocah tersebut dengan ilmu Kiu ci im jiu (Tangan pembunuh dari Kiu ci), dari pada meninggalkan bibit bencana dikemudian hari?”

“Kurang cocok!” Kok See-piau menggeleng “orang pandai dari keluarga Hoa sangat banyak, bocah itu sendiri, juga bukan manusia sembarangan, sulit rasanya untuk bertindak tanpa meninggalkan jejak, padahal persiapan kita sekarang belum sempurna, tidak baik jika menimbulkan perpecahan dengan pihak keluarga Hoa terlalu awal”

“Lantas bagaimana dengan kejadian hari ini? Apakah hendak dilaksanakan seperti apa yang kita rencanakan semula?”

Sementara Kok See-piau sedang termenung untuk mengambil keputusan, tiba-tiba muncul seorang anggauta perkumpulan yang menghampiri Toan bok See-liang secara tergesa-gesa, kemudian katanya, “Lapor kaucu, diluar perkampungan ditemukan segerombolan besar jago persilatan yang menyembunyikan diri dibalik hutan, sudah enam tujuh buah pos penjagaan kita yang kena dibereskan oleh mereka.”

“Kawanan manusia macam apakah yang telah datang?” tanya Toan-bok See-liang dengan kening berkerut.

“Hamba belum melakukan pemeriksaan yang seksama!” “Berapa besar jumlah kekuatan mereka?” sela Heng Wi-cian

tiba-tiba. “Paling sedikit juga mencapai dua sampai tiga puluh orang!”

Beng Wi-cian lantas berpaling ke arah Toan-bok See liang seraya berkata pula, “Kemungkinan besar mereka adalah sahabat sahabat dari si bocah dari keluarga Hoa, padahal letak perkampungan kita cukup rahasia, selama kita bawa bocah itu menuju kemari, sepanjang perjalananpun su-dah dilakukan pengawasan serta pengamatan yang amat teliti serta rahasia, kenapa begitu cepat pihak lawan bisa mengetahui tempat kita ini? Tong-boa Heng, lebih baik kita laporkan saja kepada siakun…

Padahal Kok See-piau sudah mendengar pembicaraan mereka, seraya berpaling dan tertawa tawa katanya, “Orang- orang pandai dipihak mereka sangat banyak, kejadian ini tak perlu diherankan.”

“Berbicara atas dasar kekuatan kita sekarang, sesungguhnya tidak sulit untuk melenyapkan semua musuh yang menyerang datang Sinkun….”

“Jika ingin menggunakan kekerasan, kenapa kita mesti menunggu sampai sekarang?” tukas Kok See-piau, “sama sekali tak boleh kita lakukan segala tindakan secara gegabah.”

Setelah berhenti sejenak, kepada Tang Bong liang katanya pula, “Tang bong liang, cepat turunkan perintah, jangan sampai bentrok secara langsung dengan para pendatang.”

Tang Bong liang membungkukkan badan menerima perintah, kemudian mengundurkan diri dari situ.

Toan bok See liang dan Beng Wi cian meski merasa tindakan tersebut terlampau melemahkan semangat sendiri, akan tetapi setelah Kok See-piau memutuskan demikian tentu saja mereka tak berani banyak berbicara lagi.

Berbeda hanya dengan Lau san siang koay (sepasang manusia aneh dari Lui san) ini, sebagai tamu agung dalam perkumpulan Hian-beng-kau, mereka lebih bebas bergerak dan tak perlu menguatirkan apa apa, ketika menyaksikan kejadian itu langsung saja Toa koy berteriak, “Sebagai orang utara aku adalah manusia yang punya sepatah kata mengucapkan sepatah kata ha-rap Sinkun jangan menjadi gusar. Sesungguhnya sampai dimanakah kelihayan Hoa Thian- hong? Kenapa Sinkun musti jeri kepadanya?”

Kok See-piau segera tersenyum.

“Meskipun Hoa Thian-hong itu sangat lihay Pun Sinkun tak sampai jeri kepadanya. Cuma selama dua puluh tahun terakhir ini daya pengaruh serta kekuasaan keluarga Hoa sudah mulai berakar dalam du nia persilatan, segala yang telah berakar biasanya sukar dihilangkan, maka tanpa rencana serta perhitungan yang matang lebih baik jangan bertindak sekehendak hati sendiri.”

Tiba-tiba dari tengah arena berkumandang suara bentakan Ui Shia ling yang amat nyaring, Lohu tidak percaya kalau tak sanggup memaksamu untuk menggunakan segenap kekuatan tubuh yang kau miliki.

Kata terakhir belum diucapkan, tiba-tiba ia mengeluarkan ilmu simpanan dari aliran Lau-san yang disebut ilmu pukulan Hay-eng kun-hoat, setiap jurus pukulan yang dilancarkan selalu disertai dengan tenaga dalam yang cukup sempurna, ibaratnya gulungan ombak di tengah samudra, segulung demi segulung datang menerjang tiada hentinya. Dalam waktu singkat, Hoa In-liong sudah terjebak dalam posisi yang sangat membahayakan jiwanya, suasana menjadi gawat…

Hoa In-liong mengernyitkan sepasang alis matanya, tiba- tiba diapun mengembangkan ilmu pukulan saktinya secara beruntun ia per gunakan jurus-jurus Pian-tong-put-ki (berubah tidak menetap), Jit gwat-siang-tui (matahari dan saling mendorong) dan To-yau-siu jut (pompa angin keluar masuk).

Dalam waktu singkat semua pukulan dari Ui Shia ling terbendung dan tidak mampu dikembangkan kembali, dari posisi di atas angin seketika itu juga ia malah berbalik ada dibawah angin.

Semenjak semula Kok See-piau sudah mendapat laporan dari Beng Wi cian tentang kehebatan ilmu pukulan tersebut, maka ketika dilihatnya si anak muda itu mengembangkan permainannya dengan mempergunakan kehebatan ilmu pukulan itu, dengan sinar mata yang tajam dan perhatian yang terpusatkan menjadi satu, ia memperhatikan perubahan gerak dari kepandaian tersebut maksudnya ia berusaha menemukan bagian-bagian dari ilmu pukulan tadi.

Hoa In-liong meski berada dalam keadaan yang gawat, akan tetapi setiap detik dan setiap saat ia selalu memperhatikan gerak-gerik Kok See-piau, menyaksikan keadaan itu segera pikirnya, “Hmm…..! Kau anggap ilmu silat maha sakti peninggalan dari malaikat ilmu silat bisa kau tebak dengan begitu saja? Jangan bermimpi disiang hari bolong.

Cuma……akupun tak boleh terlalu menyolok!”

Berpikir sampai disini ia lantas menyerang dengan jurus kuo siu ci tau, kemudian dengan ilmu langkah Gi beng huan wi (mengeser badan berganti tempat) dia berkelebat mundur beberapa kaki jauhnya. Aku orang she Hoa mengaku kalah!” serunya.

Ui Shi ling sebagai seorang jago lihay dari angkatan tua, hampir boleh dibilang telah mempergunakan segenap kekuatan tubuhnya untuk menggencet lawan, tapi ia selalu gagal untuk mengalahkan si anak muda itu, terutama setelah di desak mundur pada beberapa jurus serangan yang terakhir, batinya semakin tak puas.

Mendengar perkataan itu ia lantas tertawa dingin, lalu katanya, Hoa kongkcu, membuat apa kau menyindir diri ku? Sudah terang aku yang tak sanggup menandingimu, cuma… Ui Shi ling tak tahu diri, aku ingin mohon beberapa petunjuk lagi.

Tiba-tiba Kok See-piau berteriak, “Kalau memang Hoa kongcu enggan memberi petunjuk lagi kepadamu, Ui-lo! Silahkan kembali saja!”

Padahal Ui Shia-Iing sendiripun tahu bahwa kesempatannya untuk merebut kemenangan tipis cuma dia tak mau mundur dengan begini saja karena kuatir kehilangan muka, dan kini setelah memperoleh kesempatan baik, cepat katanya, “Setelah kaucu berkata demikian, baiklah akupun mengaku kalah!”

OO000O000OO

Bab 42

Hoa In-liong tertawa ewa.

“Aaah… mana mungkin aku bisa menandingi

kelihayan Ui lo?” katanya merendah. Sementara itu Kok See- piau telah berkata, “Diluar perkampungan telah kedatangan sejumlah jago lihay tampaknya mereka adalah sahabat- sahabat Hoa kongcu, untuk menghindari segala kesalahpahaman, bagaimana kalau Hoa kongcu mempersilahkan mereka masuk ke dalam perkampungan?”

Hoa In-liong tahu bahwa gerombolan jago yang muncul diluar perkampungan itu sudah pasti adalah Ho Kee siau, Coa Cong gi dan kawan-kawannya yang kuatir Hian-beng-kau bersikap tidak menguntungkan baginya maka bersiap-siap diluar perkampungan untuk menghadapi segala kemungkinan.

Lantaran diapun kuatir kalau mereka sampai menyerbu ke dalam perkampungan Karena lama tidak melihatnya keluar dari perkampungan sehingga keadaan waktu itu tak terlainkan, segera katanya pula, “Yaa, aku memang harus menjumpai mereka apakah Sinkun juga ingin bertemu dengan kawan kawan persilatan?”

Kok See-piau termenung sejenak, lalu katanya sambil tertawa, “Salah satu tujuan dari kemunculanku kembali di dalam dunia persilatan adalah menjumpai kawan kawan lama, tentu saja setiap ke sempatan baik seperti ini tak akan kulepaskan dengan begitu saja.”

“Yaa, jejak dari empok Hoo sekalian sudah tentu tak bisa mengelabui Kok See-piau,” pikir Hoa In-liong.

Dengan tenang diapun melangkah pergi dari tanah lapang tersebut.

Kok See-piau miringkan tubuhnya ke samping memberi jalan lewat, lalu dia ulapkan tangannya, tiba-tiba saja Ci Sooat cu, Ui Shian ling dan Ciu Hoa sekalian membungkukan badannya memberi hormat dan membubarkan diri ke serambi samping, para jago Hian-beng-kau yang membawa obornya tanpa menimbulkan sedikit suarapun membubarkan diri. Sejak awal sampai akhir kecuali Ciu Hoa lo pat seorang yang kena dampratan Kok See-piau hampir boleh dikata sama sekali tidak menunjukkan perubahan aneh atau gerak-gerik yang mencurigakan, jelas semua orang-orang itu sudah pernah memperoleh pendidikan disiplin yang ketat.

Dalam sekejap mata lapangan berbatu itu sudah pulih kembali dalam kegelapan, hanya sebuah lampu kecil dibawah serambi sana yang memancarkan sedikit sinar yang redup.

Hu kaucu dari Han beng kau, Go Tang cuan masih tetap berdiri kaku dibawah ruang tengah sana.

Ketika kedua orang itu masuk ke dalam ruangan, Go Tang cuan baru mundur setengah langkah.

Kok See-piau melirik sekejap meja perjamuan dalam ruangan, lalu katanya sambil tertawa, “Sebenarnya aku ingin mengaajak Hoa kongcu minum arak sambil

membicarakan soal para eng-hiong dalam dunia persilatan…..

Hoa In-liong tertawa nyaring. “Haaahh……haaahh……haaahh……. entah manusia macam

apakah yang dapat disebut sebagai enghiong dalam hati

Sinkun?”

Waktu itu dari bawah ruangan sampai ke-pintu gerbang gedung telah berjajar barisan laki-laki berbaja ungu, di tangan kiri membawa obor di tangan kanan mereka membawa golok, suasananya jauh berbeda dengan sewaktu masuk ke dalam gedung tadi, cahaya golok menyiarkan suasana yang menggidikkan hati. Menyaksikan adegan tersebut, diam-diam ia lantas berpikir, “Situasi yang diatur Kok See-piau sekali ini sungguh menggelikan sekali.”

Terdengar Kok See-piau telah berkata, “Menurut pandanganku yang bodoh, yang di maksudkan sebagai enghiong adalah orang yang berjiwa besar, berlapang dada, berotak cerdas berilmu silat tinggi dan mempunyai bakat, kebijaksanaan serta pengetahuan yang amat luas.”

“Waah…..jika harus mengikuti apa yang diucapkan Sinkun, dewasa ini sulit sekali untuk menemukan seorang enghiong semacam itu.”

Tiba-tiba Kok See-piau menghentikan langkahnya, Hoa In- liong tertegun dan segera ikut berhenti pula, terlihatlah Kok See-piau dengan sinar mata yang amat tajam, sepatah demi sepatah sedang berkata.

“Selama beratus tahun belakangan ini hanya ayahmu yang dapat disebut sebagai engbiong sungguhan, seorang manusia yang jantan betul-betul hebat…..”

“Ayahku pernah berkata bahwa pujian orang luar terhadapnya pada hakekatnya terlalu berlebihan kata Hoa In- liong dengan nada serius, “padahal beliau sendiri merasa bahwa ia tidak memiliki ke ampuhan apa apa yang bisa disebut sebagai seorang enghiong oleh karena itulah seringkali ia memberi nasehat agar anak cucunya bisa berbuat apa yang bisa dilakukan sebagai manusia.”

Kok See-piau menarik kembali sinar matanya sambil melanjutkan perjalanan ke depan, katanya sambil tertawa hambar. “Sifat ketidak puasan pada diri sendiri yang di miliki ayahmu juga sudah menjadi rahasia umum dalam dunia persilatan.”

Hoa In-liong ikut beranjak mengikuti disampingnya, diam- iam ia berpikir, “Sekalipun ia membenci ayahnya hingga merasuk ke tulang sumsum tapi dimulutnya selalu memuji ayah setinggi langit, mungkin inilah yang disebut sebagai imbauan hati nurani, tapi jelas dia bukan termasuk seorang manusia yang berjiwa besar…….”

Sekalipun dia mengikutii terus disisi tubuhnya kemanapun ia pergi, namun tubuhnya selalu ketinggalan setengah langkah di belakang, hal ini sebagai persiapan untuk menghindari sergapan maut dari Kok See-piau.

Kok See-piau sendiri berpura-pura tidak menyadari, kembali katanya, “Ayah harimau anaknya tentu harimau juga, enghiong yang akan datang sudah pasti akan menjadi milik Hoa kongcu.”

“Sinkun terlalu memuji!” Kok See-piau tertawa berat katanya, “Apalagi berbicara dari ulah Hoa kongcu sewaktu ada di kota Si-kiu, dari kegagahanmu itu terbuktilah sudah bahwa perkataanku ada benarnya juga…….”

Tiba-tiba Hoa In-liong merasakan nada aneh dibalik perkataan Kok See-piau, terkesiap hatinya, segera ia berpikir, “Rupa rupanya ia sudah berniat untuk membinasakan diriku.

Kok See-piau memang sudah dipengaruhi oleh hawa nafsu membunuh, cuma ia masih ragu untuk mengambil keputusan, sekalipun tujuan dari kemunculannya kali ini adalah untuk mengadu kepandaian dengan Hoa Thian-hong, tapi entah mengapa dari dasar hatinya tiba-tiba muncul suatu perasaan takut yang sangat aneh, bukan lantaran kuatir akan kehebatan ilmu silat Hoa Thian-hong saja, tapi termasuk juga oleh kegagahan Hoa Thian-hong.

Sebab itu, sekalipun berhadapan dengan Hoa In-liong ia merasa seakan-akan bertemu dengan Hoa Thian-hong waktu itu, hingga hawa nafsu membunuhnya segera berkobar.

Seandainya bangsat ini benar-benar adalah seorang manusia hidung belang yang lebih suka bermain perempuan daripada menghadapi masalah besar, apalagi malam ini kewaspadaannya mengendor, jelas merupakan kesempatan baik bagiku untuk turun tangan cuma………

Baru berpikir sampai disjtu, mereka sudah tiba di depan pintu, maka iapun mengambil keputusan, apabila Hoa In-liong secara kebe tulan berjalan lewat dari sebelah sisi tubuhnya nanti, dia hendak melukai si anak muda itu dengan ilmu Kiu- ki-im-satnya yang maha sakti.

Kiu-ki-im-sat atau hawa pukulan dingin dari istana Kiu-ci termuat dalam kitab pusaka Kiu-ci-cin-keng, pukulan itu bisa melukai isi perut orang tanpa disadari oleh sang korban sendiri, biasanya kendatipun pihak musuh memiliki tenaga sim-hoat yang sangat sempurna, pukulan tersebut sulit juga diatasi dan masa kerja dari luka itu biasanya menuruti kehendak hati si pelancar serangan, bila belum bekerja keadaan masih biasa tapi begitu mulai bereaksi maka dahsyatlah akibatnya.

Sesungguhnya ilmu itu merupakan suatu llmu pukulan yang jahat sekali, apalagi setelah dicampur dengan ilmu pukulan beracun yang memang dimiliki Kok See-piau sebelumnya, hal ini semakin menambah ke dahsyatan pukulan itu. Akan tetapi Hoa In-liong selalu dua langkah berada dibelakangnya, saat itu dia sedang bertanya, “Sobat-sobatku kini berada dimana?”

Kok See-piau berpikir, “Seandainya bocah keparat ini benar-benar dapat menebak maksud hatiku sehingga sedia payung sebelum hujan, ia lebih-lebih tidak boleh diampuni lagi.”

Dalam hati ia berpikir demikian, diluaran katanya, “Sahabatmu sudah banyak sekali menangkapi anggota perkumpulan kami, mungkin mereka sedang bersembunyi dibalik hutan.”

Kemudian sambil memperkeras suaranya ia berkata lagi diiringi gelak tertawa nyaring, “Haahh…..haahh……haahh……Hoa kongcu sudah keluar dari gedung dengan selamat, silahkan kalianpun munculkan diri pula.”

Gelak tertawa nyaring menggema pula dari balik hutan sana, dipimpin oleh Ho Kee-si an serentak kawanan jago itu munculkan diri dan berhenti kurang lebih lima kaki dihadapan kedua orang itu, dengan sorot mata tajam ia menyapu sekejap ke arah Hoa In-liong ketika dilihatnya si anak muda itu tetap sehat tidak kekurangan sesuatu apapun, legalah hatinya, menyusul kemudian setelah memandang sekejap ke arah Kok See-piau ia menghela nafas panjang.

“Adik In-liong, kau tidak apa-apa bukan?”

“Hey, siapakah orang yang berada disampingmu itu?”

Sambil berkata ia melompat lebih maju ke depan disusul kemudian oleh Si Jin-kiu, Yu Siau-lam dan lain lainnya, mereka berdiri dibelakang Ho Kee-sian sambil melotot ke-arah Kok See-piau.

Hoa In-liong tersenyum, katanya, “Dia bukan lain adalah Hian-beng-kaucu kiu ci Sinkun!”

Sebenarnya Kok See-piau dengan orang-orang penting dalam tubuh Sin-ki-pang adalah kenalan lama, hubungan mereka tidak terlalu jelek, cuma kemudian hubungan itu kian lama kian bertambah renggang dan asing hingga pada pertemuan dua puluh tahun kemudian mereka harus berhadapan sebagai musuh bebuyutan.

Meskipun Kok See-piau berhati licik dan keji, tapi bayangan tubuh Pek Kun-gi dimasa muda dulu masih terbayang selalu dalam benaknya, sedikit banyak tertegun, juga untuk sesaat lamanya setelah bertemu dengan rekan-rekan lamanya ini.

Tapi hanya sejenak kemudian ia sudah sadar kembali dari lamunannya, ditatapnya sekejap sekeliling hutan itu dengan tatapan tajam, kemudian katanya lantang.

“Kawan-kawan yang bersembunyi di dalam hutan, kenapa tidak sekalian munculkan diri?”

Gelak tertawa nyaring menggelegar memecahkan kesunyian, bayangan manusia berkelebat lewat daun dan ranting bergoyangan, dalam sekejap mata Hoan TSong, Bu tim tootiang Cia Yu cong, Kongsun peng dan sekalian jago bermunculan dari mana-mana dan segera memenuhi sekeliling gedung tersebut, jumlah mereka diantara enam tujuh puluhan orang lebih.

Kiranya Hoo Kee sian dan Yu Siau-lam sekalian merasa tidak tega untuk membiarkan ia pergi penuhi janji sendirian, maka bukan saja rekan-rekan bekas seperkumpulannya dikumpulkan semua bahkan juga memberi kabar kepada Huan Thong Bu tim tootiang, Cia Yu cong dan Kongsun Peng sekalian agar segera berkumpul, tanpa perundingan lebih jauh semua jago itu diboyongnya menuju ke situ.

Diam-diam Hoa In-liong merasa amat berterima kasih atas kesetia kawanan rekan-rekan lainnya, dengan suara lantang dia lantas berseru, “Urusan sekecil itupun harus merepotkan saudara sekalian untuk memburu kemari, sungguh membuat hatiku tak enak”

“Sebagai sesama umat persilatan sudah sepantasnya kalau saling bantu membantu, apa lagi urusan Hoa kongcu ini menyangkut masalah yang amat penting sekali artinya!” Kongsun Peng segera menanggapi dengan lantang.

Bagi Kok See-piau sendiri walaupun gerombolan manusia- manusia tersebut masih belum dipan-dang sebelah mata pun olehnya, namun diam-diam ia merasa tercengang juga menyaksikan kesemuanya itu.

Tiba-tiba Ci Soat cu, Im sansiang koay dan sekalian jago muncul kembali dibelakang Kok See-piau, menyusul kemudian kawanan jago dari Hian-beng-kau lainnya ikut pula muncul dibelakang barisan Kok See-piau, seakan akan dua pasukan besar yang telah berhadapan muka siap bertempur.

Hoa In-liong berpikir sebentar untuk menghadapi keadaan tersebut, ia merasa inilah kesempatan yang terbaik baginya untuk meninggalkan tempat itu, maka sambil menjura kepada Kok See-piau katanya, “Pertemuan pada hari ini biarlah kita akhiri sampai disini saja, aku tak mau mengganggu lebih lanjut”

Kok See-piau termenung sejenak, akhirnya dia pun mengangguk. “Baiklah kalau dilihat situasinya sekarang, jelas pertemuan memang tak dapat dilanjutkan.”

Sementara di hati kecilnya ia berpikir, “Sayang……..sayang,… aku telah membuang suatu

kesempatan baik untuk turun tangan.”

Dalam penggalian harta karun di bukit Kiu-ci-san tempo hari, Huan Tong sempat turut serta dalam peristiwa besar itu, ia pernah berjumpa dengan Kok See-piau dan mengetahui pula sampai dimana dalamnya permusuhan antar Kok See- piau dengan keluarga Hoa, ketika dilihatnya jarak antara Hoa In-liong dengan Kok See-piau cuma dua depa tak sampai, dia kuatir si anak muda itu kena dilukai, maka segera teriaknya, “Hoa Kongcu, cepat kemari kau!”

Hoa In-liong tersenyum, pelan-pelan dia maju menghampiri ke arahnya.

Sorot mata semua orang segera ditujukan ke arah Kok See- piau, meskipun berulang kali Kok See-piau hendak nekad untuk membinasakan Hoa In-liong, tapi akhirnya ia menghela napas dan membuyarkan kembali hawa sakti Im-sat sin- kangnya.

Ketika semua orang menyaksikan Hoa In-liong telah kembali dengan selamat, merekapun dapat menghembuskan napas lega.

Cia Cu cong segera tertawa terbahak-bahak. “Haahh…hhaah…..hhhaaah… rupanya saudara adalah

Hian-beng-kaucu. Kok See-piau hanya mendengus sinis, ia berlagak seolah- olah tidak mendengar teguran itu.

Toa koay dari Im san siang koay segera mendengus dingin, katanya

“Kau itu manusia apa? Belum berhak untuk berbicara dengan kaucu kami!”

Paras muka Cia Yu conG berubah hebat, lalu setelah tertawa dingin katanya, “Dalam dunia persilatan dewasa ini belum ada seorang manusiapun yang bisa menandingi kemashuran Hoa tay hiap, tapi belum pernah didengar bahwa Hoa tayhiap bersikap sesombong itu seperti lagakmu ini.”

Selama hidup Kok See-piau paling benci kalau mendengar ada orang mengatakan bahwa ia tak bisa menandingi Hoa Thian-hong mendengar ucapan tersebut, dengan sinar mata setajam sembilu ditatapnya wajah Cia Yu cong lekat-lekat.

Terkesiap pula Ci Yu cOng melihat ketajaman mata orang, dengan perasaan tercekat dia mundur selangkah.

Toa koay dari Im san siang koay menyeringai dan tertawa seram, kemudian katanya, “Bajingan cilik, mulutmu kotor dan tak bisa diampuni, lebih baik lohu hantar kau pulang ke langit berat untuk menjumpai Ji-lay hud saja….”

Seraya berkata selangkah demi selangkah ia maju menghampirinya.

Hoa In-liong cukup mengetahui bahwa kepandaian Ci Yu cong masih selisih jauh bila dibandingkan dengan Im san siang koay, tentu saja ia tak akan membiarkan mereka sampai terlibat dalam pertarungan, tiba-tiba serunya, “Sinkun, apakah kau menginginkan pertarungan mati-matian antara pihakmu melawan pihakku agar orang lain yang mendapat keuntungan dalam peristiwa ini?”

Kok See-piau mengernyitkan alis matanya, lalu memanggil, “Sim lo, kembali!”

Toa koay tak berani membantah, terpaksa dengan uring- uringan dia berjalan balik. Hoa In-liong kembali berpikir, ““Jika keadaan semacam ini dibiarkan berlarut-larut terus, suatu pertarungan massal sudah pasti akan berkobar, lebih baik cepat cepat pergi saja…

Berpikir demikian ia lantas berkata, “Terima kasih banyak atas petunjuk Sinkun tentang masalah pembunuhan tersebut, bila duduknya persoalan telah beres, lain waktu aku pasti akan berkunjung lagi kemari.”

Kok See-piau memang berharap demikian, maka diapun berkata, “Silahkan, silahkan!”

Dari pihak para pendekar, Hoa In-liong merupakan pemimpinnya karena dia hendak pergi maka orang lainpun tidak memberi komentar apa apa, mereka menelusuri jalan kecil dan mundur dari hutan tersebut.

Hoa In-liong kuatir Kok See-piau bertindak sesuatu yang tidak menguntungkan orang-orangnya maka bersama Coa Cong gi, Ho Kee siao dan lain-lainnya mereka berjaga dibelakang..

Sepintas lalu pertemuan antara Hoa In-liong dan Kok See- piau cuma begitu saja padahal kedua belah pihak sama-sama menggunakan akal dan tipu muslihat yang disusun melalui pemikiran yang seksama, siapakah yang berhasil meraih keuntungan besar dari pertemuan itu, ini harus dilihat dalam perkembangan dihari-hari kemudian. Dengan gencar Coa Cong gi mendesak Hoa In-liong agar menceriterakan keadaan yang telah terjadi, ini semua dijawab oleh si anak muda itu dengan senyuman dikulum.

Baru keluar dari hutan, tiba-tiba Hoa In-liong mendengar ada suara lembut seperti bisikan nyamuk berkumandang disisi telinganya.

“Liong ji, setelah menghantar pergi semua, secepatnya datang menjumpai diriku.”

Dari suara orang itu Hoa In-liong segera mengetahui siapa dia diam-diam pikirnya, “Paman dari See-ih berbicara melalui ilmu menyampaikan suara, rupanya ia enggan bertemu dengan semua orang, entah apa sebabnya?”

Ketika Coa Cong gi menyaksikan secara tiba-tiba pemuda itu menghentikan langkahnya dengan keheranan dia lantas bertanya, “Ada urusan apa kau?”

Hoa In-liong tertawa.

“Ooh,… ada seorang cianpwe memanggilku harap kalian berangkat duluan……..

“Cianpwe dari manakah itu? Kenapa tidak munculkan diri untuk menjumpai kami?” tanya Coa Cong gi keheranan.

Ho Kee sian juga kuatir kalau Hoa In-liong cuma menggunakan hal tersebut sebagai alasan agar bisa meninggalkan rombongan serta menyusup kembali ke dalam gedung Kok See-piau, dengan cepat selanya pula, “Liong saunya! kenapa tidak kau undang cianpwe itu untuk berjumpa dirumah penginapan saja?” Hoa In-liong tertawa lebar, cepat katanya, “Empek Ho tak usah kuatir, dewasa ini tiada kepentingan bagiku untuk mencari kabar tentang Hian beng kau dengan menempuh bahaya, sebenarnya benar-benar memang ada seorang cianpwe memanggilku kesana.”

“Kalau begitu aku ikut tetap tinggal disini,” kata Hoa Kee sian setelah merenung sejenak.

Ketika dilihatnya ia bersikeras ingin tetap tinggal disini, Hoa In-liong pun tidak banyak berbicara lagi, buru-buru disusulnya Huan-Thong sekalian yang sudah beberapa kaki jauhnya itu meninggalkan beberapa pesan.

Setelah itu bersama Ho Kee sian menembusi hutan dan menuju ke arah tenggara sejauh beberapa puluh kaki.

Benar juga, disana duduk bersila seorang laki-laki setengah umur yang berwajah gagah, orang itu bukan lain adalah pamannya dari wilayah See ih, siapa lagi kalau bukan Haputule.

Haputule adalah seorang jago yang berasal dari suku Fabuo diwilayah see ih, tiga puluh tahun berselang ia merupakan murid ter kecil dari seorang pendekar aneh yang pernah mengobrak-abrik dunia persilatan lantaran sebilah pedang emas kecil, yakni It ki-Lim kay tionggoan (pedang sakti yang meliputi daerah Tionggoan) Siang Tang lay.

Meskipun ilmu silat milik Siang Tang lay sangat tinggi, akan tetapi setelah dikeroyok dan disergap oleh pek Siau thian, Jin- Hian, Thian Ik-cu, Bu liang Sinkun dan Ciu It beng mengakibatkan ia menderita cacat seumur hidup, untung jiwanya ditolong oleh kakek Hoa In-liong yang bernama Hoa Goan liu dan di bawa pulang ke See ih. Belasan tahun kemudian, ia muncul kembali didaratan tionggoan, sekalipun sakit hatinya berhasil dibalas, namun akhirnya ia sendiri tewas di tangan Pia Leng cu dari Thong thian-kau, keenam orang muridnya secara beruntun juga tewas dibunuh orang hingga akhirnya tinggal Haputule seorang yang masih hidup.

Semenjak itulah Haputule ikut Bun Tay-kun belajar silat selama lima tahun sebelum pulang ke See-ih, karena itu hubungan keluarga mereka boleh dibilang intim sekali.

Disamping Haputule duduk seorang kakek berjubah kuning, dalam sekilas pandangan saja Hoa In-liong segera mengenalinya sebagai kakek yang telah bertarung melawannya dengan mengandalkan senjata Jit-gwat-bu-hu an tersebut, tentu saja ia menjadi tertegun.

Sambil tersenyum Haputule segera menegur.

“Dia adalah Ting Ji-san cianpwe, Liong-ji! Cepat maju dan memberi hormat kepadanya.”

Hoa In-liong buru-buru maju kedepan dan memberi hormat, katanya, “Kenapa kau orang tua tak mau menjelaskan asal usulmu? Kalau bukan demikian, tentu akupun tak sampai bersikap kurang hormat kepadamu.”

“Oooh….rupanya kalian sudah pernah saling bertemu!” kata Haputule tercengang.

Hoa In-liong tertawa.

“Ting locianpwe malah sudah memberi pelajaran pula kepada keponakan!” katanya.

Ting Ji-san segera mendengus. “Hmm! Aku segan memberi pelajaran kepadamu.”

Tiba-tiba ucapannya terhenti di tengah jalan dan tangannya diulapkan berulang kali.

“Liong-ji, kesalahan apa yang telah kau perbuat kepada cianpwee ini?” tegur Haputule.

Dengan cepat Ting in san gelengkan kepalanya berulang kali.

“Ia tidak berbuat salah apa-apa akulah yang telah menjajal kepandaian silatnya.”

“Yaa, mana Liong-ji berani melakukan perbuatan kurang- ajar kepada Ting locianpwe?” sambung Hoa In-liong cepat- cepat.

Haputule kembali tersenyum, ia lantas berpaling ke arah Ho Kee-sian seraya berkata, “Ho Thongcu, selama Liong ji berbuat onar di kota Si-ciu, terima kasih banyak atas bantuanmu.”

Buru-buru Ho Kee-sian goyangkan tangannya berulang kali, katanya sambil tertawa, “Ilmu silat dan kecerdasan Liong sauya boleh dibilang amat luar biasa, bantuan apa lagi yang bisa kuberikan kepadanya?”

Setelah berhenti sebentar, katanya lagi sambil tertawa, “Sejak dulu aku sudah bukan menjadi Thian-leng thongcu dari perkumpulan Sin-ki-pang, panggilan semacam itu lebih baik dihapuskan saja.”

“Ooohho…kalau begitu maafkanlah aku bila sudah salah, berbicara!” Haputule segera menjura sambil tertawa. Ting Ji san dulunya juga pernah berjumpa dengan Hoa Kee siao, sekali pun antara mereka terlihat sedikit perselisihan karena urusan sudah lewat, maka merekapun tidak mempersoalkannya kembali, sambil saling menjura mereka hanya tertawa.

“Ada urusan apa paman mengundang keponakan kemari?” “Soal ini nanti saja, sekarang ada baiknya kau jelaskan dulu

apa arti dari ‘orang lain yang mendapat keuntungan’!”

“Yang kau katakan kepada Kok See-piau si gembong iblis itu? Apakah dibalik tewasnya Suma tayhap masih terdapat kejadian-kejadian lain yang mencurigakan?”

“Kejadian yang menyimpang sih tidak ada, cuma memang rada mencurigakan sekali.”

Setelah berpikir sebentar, si anak muda itupun menceritakan apa yang dituturkan Kok See-piau dan Ci-soat cu tanpa mengurangi sepatah katapun.

Haputule naengangguk tidak hentinya, ia berkata, “Yaa, memang tak bisa dipercaya, memang tak bisa dipercaya.”

Sedang Ting Ji-san tertawa dingin. “Heehhh..heeehh….heeehh.. pada hakekatnya cuma

memutar balikan duduknya persoalan, anak kecilpun tak akan

kena ditipu.”

Sementara Po Kee-sian berkata, “Ucapan tersebut jelas merupakan kata-kata yang sengaja dicari cari, Kok See-piau kuatir ji kohnya turun tangan, maka diaturlah siasat tersebut….. “Boanpwe mempunyai pendapat lain,” kata Hoa In-liong.

Dengan kening berkerut Haputule lantas berkata, “Sejak kecil kau memang banyak tipu muslihatnya, dalam bidang ini rasanya sudah cukup berpengalaman, coba katakan bagaimana menurut pendapatanmu?”

Hoa In-liong berpikir sebentar, lalu katanya, “Menurut pendapat keponakan, Kok See-piau yang sekarang adalah seorang manusia dengan jalan pikiran yang lebih dalam dari samudra..”

Haputule mendengus dingin.

“Hmmm! Aku tidak percaya orang she Kok itu bisa memperoleh kemajuan sedemikian pesat, huuuuh….. paling banter juga tak lebih dari pada seorang bajingan tengik”

“Paman, kau jangan menganggap enteng orang itu,” kata Hoa In-liong sambil tertawa, “cukup ditinjau dari kemampuannya untuk mengum pulkan jago lihay sebanyak itu, bisa diketahui bahwa orang itu bukan manusia sembarangan, semenjak tadi paman telah bersembunyi disamping arena, tentunya semua kejadian sudah diikuti dengan jelas, entah bagaimana pendapat paman tentang ilmu silat Kok See-piau?”

“Sebelum pertandingan dilakukan, dari mana aku bisa tahu?”

“Maaf kalau keponakan bicara kurangajar, tapi keponakan yakin bahwa paman masih bukan tandinggannya Kok See- piau.” Haputule mengerutkan dahinya seperti tidak puas dengan perbandingan itu, tapi ujarnya juga sambil tertawa, “Lebih baik urusan ini ditunda untuk sementara waktu, coba akan kudengarkan dulu pendapatmu.”

Dengan otak Kok See-piau yang tajam, mana mungkin ia tidak tahu kalau dibalik kesemuanya itu masih terdapat banyak titik kelemahan? Untuk menciptakan suatu pembicaraan yang sempurna sesungguhnya bukan pekerjaan yang menyulitkan untuk mereka, maka menurut dugaanku pastilah ucapan itu merupakan kenyataan, tentu saja ia selipkan juga rencana busuknya  disana  sini  secara lembut… ”

Haputule tertawa terbahak-bahak memotong pembicaraannya yang belum selesai, katanya, “Aku lihat kau adalah orang pinter yang menjadi keblinger, darimana datangnya tetek bengek semacam itu? Hanya ada sepatah kata untukmu, kau sudah ditipu Kok See-piau.”

Hoa In-liong tertawa pula.

“Bagaimanapun juga tujuannya adalah menunda pertarungan yang bakal berlangsung, hal ini jelas sangat cocok dengan jalan pikiranku, jadi siapa yang sesungguhnya tertipu, hanya thianlah yang tahu.”

Haputule menjadi tertegun.

Baginya mungkin saja menunda pertarungan yang bakal terjadi, tapi bagaimana pula dengan dirimu?

“Keengganan ayah turun gunung merupakan sebuah masalah bagiku dan mau tak mau memaksa aku untuk melakukan perlawanan, keponakan percaya bahwa tenaga dalamku masih kalah setingkat jika dibandingkan dengan milik Kok See-piau tapi kesempatan untuk maju jauh lebih menguntungkan bagiku dan rugi bagi Kok See-piau, kalau memang begitu kenapa kita tidak mengulur waktu terus terusan?”

Haputule gelengkan kepalanya berulang kali sambil mengeluh.

“Payah! Payah! Urusan sebesar inipun telah kau anggap sebagai permainan kawan kawan.”

Tiba-tiba ia mengulurkan tangannya sambil membentak, “Ulurkan tanganmu, aku ingin tahu sampai dimanakah kemajuan yang berhasil kau capai sehingga berani bicara sesombong itu!”

Sambil tersenyum Hoa In-liong segera menjulurkan tangannya, dan kedua orang itupun saling berjabatan tangan sebentar lalu masing masing menarik kembali tangannya.

“Aaah…….!” Haputule menjerit tertahan.

“Sungguh tak kusangka tenaga dalammu telah peroleh kemajuan sedemikian pesatnya sungguh berada diluar dugaanku.”

Ternyata dari biji mata orang dia sudah tahu kalau tenaga dalam Hoa In-liong telah memperoleh kemajuan, cuma ia tidak percaya kalau dalam waktu sesingkat itu ia bisa memperoleh kemajuan sedemikian pesatnya.

Ting Ji-san segera tertawa terbahak-bahak. “Haahh…….,.haahn………haahh………aku yang terlibat

dalam pertarungan sengit pun tidak berhasil mendapat

keuntungan apa apa, lote, lebih baik jangan buang tenaga dengan percuma, kini ilmu silatnya sudah cukup bisa diandalkan asal mau berhati-hati rasanya bukan persoalan baginya untuk menembusi seluruh kolong langit.”