Kuda Binal Kasmaran Bab 17

 
Bab 17

Lan Lan bertanya, "Coba katakan, apa kau ini gadis jelek?" Hiang-hiang geleng kepala.

"Kalau kau anggap dirimu cantik dan elok, kenapa tidak kau perlihatkan kecantikanmu di hadapan mereka?"

Air mata masih membasahi pipi, pelan Hiang-hiang membaringkan jenazah Thio-gongcu di lantai, lalu berdiri dan maju beberapa langkah ke depan, dengan gaya yang mempesona, pelan-pelan ia mencopot pakaian satu per satu hingga tubuhnya telanjang tanpa selembar benang melekat di tubuhnya. Dalam keadaan telanjang, sebagai gadis terhormat, bugil di depan umum, sudah tentu gerak-geriknya tidak enak dipandang mata. Tapi postur tubuhnya memang indah, montok semampai dan menggiurkan, payudaranya tumbuh tegak, montok lagi padat dan kenyal, pinggang yang ramping, pinggul nan bulat besar, pahanya yang jenjang mulus, tidak setiap laki-laki bisa menyaksikan tubuh semulus dan seelok ini.

Lan Lan juga perempuan cantik, namun ia pun kesemsem melihat kemontokan Hiang-hiang, katanya kemudian, "Bagaimana, cantik tidak dia?"

"Cantik sekali," Ling-liong-siang-kiam menjawab bersama. "Coba kalian perhatikan lebih seksama."

"Kami puas melihat tubuhnya, tapi kami juga ingin melihat tubuhmu," ucap Ling-liong-siang-kiam bersaudara dengan tersenyum nakal.

Lan Lan pun tertawa manis, "Usiaku sudah tua, seperti nenek-nenek, tubuhku tidak bagus untuk dipamerkan, tapi kalau kalian ingin menyaksikan, ya, aku " Kepalanya

menunduk, jari-jarinya mulai membuka kancing. Dalam kancing bajunya ini tersimpan senjata rahasia yang lihai lagi ganas.

Namun sebelum senjata rahasia dalam kancing menyerang musuh, pedang Ling-liong-siang-kiam bergerak lebih dulu.

Bahwasanya kedua bersaudara cebol ini tidak lagi memperhatikan tangan Lan Lan yang membuka kancing, karena sedikit curiga, jago silat yang banyak pengalaman ini segera bersiaga. Lan Lan menghela napas, "Agaknya aku keliru menilai kalian, dari yang cebol sampai yang gede, dari tua sampai muda, laki-laki yang ada di pendopo ini semua bukan pejantan, agaknya kalian sudah dikebiri oleh tua bangka laknat itu." Karena sudah telanjur, terpaksa Lan Lan tetap menyerang dengan senjata rahasia yang tersembunyi dalam kancing bajunya. Namun dengan mudah senjata rahasianya disampuk jatuh oleh pedang Ling-liong-siang-kiam.

Ling-liong-siang-kiam adalah saudara kembar, lahir dan batin bersatu padu, katakanlah dwi-tunggal, maka permainan Kim-gin-siang-kiam (sepasang pedang emas dan perak) saudara kembar ini amat rapat, ketat dan lihai.

Dalam menghadapi keadaan yang kritis ini, Lan Lan dipaksa menampakkan diri sebagai jago kungfu yang tidak lemah kepandaiannya, gadis ini memang pandai silat, namun menghadapi rangsekan sepasang pedang emas dan perak saudara kembar cebol ini, ia terdesak di bawah angin.

Hanya beberapa gebrak saja, sanggul kepalanya tersampuk lepas, pedang emas menyilaukan seperti membelit tubuhnya, sementara cahaya pedang perak beberapa kali hampir menusuk bolong lehernya. Namun Lan Lan terus bertahan dan melawan sekuat tenaga meski napasnya sudah mulai ngos-ngosan. Karena kewalahan dan terdesak, terpaksa ia berteriak minta tolong, "Siau Ma, lekas bantu aku."

Siau Ma ingin menolongnya, dalam beberapa gebrak tinjunya sudah berulang kali mematahkan serangan kakek penyapu kembang yang timpang, tapi pipa cangklong Pok Can selalu mengacau dari pinggir, beberapa kali gaman orang mengetuk mukanya. Pipa cangklong ini berat lagi besar, tembakaunya juga menyala dan panas, sebelum berhasil merobohkan lawan, terpaksa Siau Ma harus menyelamatkan diri. Padahal Lan Lan sudah terdesak di bawah angin, jiwanya terancam, namun karena dirinya juga terlibat dalam keroyokan dua lawan tangguh, jangan kata menolong Lan Lan, untuk mempertahankan diri sendiri saja sukar, mana mungkin membantu si nona.

Lan Lan berteriak pula dengan suara gemetar, "Apa kalian tega membunuh aku?"

Agaknya Ling-liong-siang-kiam sudah tergembleng sebagai algojo yang tidak kenal kasihan terhadap korban yang harus dibunuhnya, meski sang korban adalah seorang gadis jelita yang molek. Cahaya pedang emas berputar kencang serapat jala, jalan mundur Lan Lan tercegat dan buntu, sementara cahaya pedang perak menusuk turun naik dengan gerakan lurus seperti ular mematuk, gelagatnya dada Lan Lan yang montok kenyal itu bakal tertusuk bolong oleh pedangnya.

Untunglah pada saat kritis itu, mendadak suara Cu Ngo Thay-ya berkumandang, "Pertahankan jiwanya."

Begitu suara majikan berkumandang, pedang perak pun berhenti, bukan mengancam dada tapi menungging ke atas mengancam tengah alis Lan Lan.

Suara Cu Ngo Thay-ya berkumandang lagi, "Yang kuinginkan adalah orang dalam tandu itu."

Ling-liong-siang-kiam bertanya berbareng, "Ingin mati atau yang masih hidup?"

Hanya sepatah kata jawaban Cu Ngo Thay-ya, "Bunuh!"

* * * * *

Sesuai namanya gunung serigala, maka warga atau penduduk yang bertempat tinggal di Long-san adalah manusia-manusia liar dan buas, jiwa sesama manusia mereka anggap sebagai rumput liar yang tumbuh dimana-mana, apalagi Cu Ngo Thay-ya sudah bilang "bunuh", maka jiwa orang itu tidak ada ampun lagi.

Demikian halnya nasib yang menimpa Lan Lan dan adiknya. Dalam keadaan awak sendiri terdesak, Siau Ma hanya dapat menonton meski harus mempertahankan diri dari rangsekan kakek penyapu kembang yang dibantu Pok Can.

Padahal ia sudah berjanji dan bertanggung jawab untuk mengawal, melindungi Lan Lan dan adiknya melewati Long- san. Untuk keselamatan gadis ayu dan adiknya ini, Siau Ma sudah banyak mengucurkan keringat dan mengalirkan darah. Namun betapapun perkasa dirinya, tidak lebih hanya sebagai manusia biasa, bukan manusia super, bukan malaikat apalagi dewa.

Sebagai manusia biasa, betapapun tenaganya terbatas, dalam tata kehidupan manusia di dunia ini, sering kali menghadapi masalah pelik dan kejadian yang apa boleh buat. Kalau orang menghadapi persoalan seperti ini, mengucurkan keringat tidak berguna, mengalirkan air mata tidak berfaedah, apalagi menumpahkan darah, jelas juga tidak bermanfaat.

* * * * *

Perintah Cu Ngo Thay-ya disambut keempat pemikul tandu yang kekar besar itu dengan mencabut senjata masing- masing.

Di tengah gerungan murka keempat orang gede ini, empat batang golok dan dua pedang serempak menusuk dan membacok tandu, tusukan dilakukan dari empat sudut yang berlawanan, bacokan dilakukan dari dua arah sisi kanan dan kiri. Ke arah mana pun si pasien dalam tandu menyingkir, disergap serangan serempak serapat itu, jelas sukar menyelamatkan diri, umpama pasien itu segagah naga dan segarang harimau juga takkan mungkin menghindari enam batang senjata tajam yang menyerang sekaligus. Apalagi pasien dalam tandu mengidap sakit yang parah, keadaannya payah, mengangkat tangan sendiri saja tidak mampu lagi, mana mungkin menyelamatkan dirinya.

Lan Lan yang terdesak mundur menjadi lunglai, dengan dua tangannya ia mendekap muka, tidak tega melihat nasib adiknya yang sekarat dalam tandu dihujani serangan segencar itu, umpama tidak mati seketika, keadaannya tentu amat mengenaskan dengan tubuh yang tidak utuh lagi.

Biasanya perempuan mendekap muka karena tidak tega menyaksikan sesuatu peristiwa yang mengerikan atau menakutkan, lucu cara Lan Lan mendekap muka, jari-jari tangannya ternyata tidak rapat, dari sela-sela jari yang renggang, diam-diam matanya mengintip keluar. Hatinya menduga setelah dihujani serangan golok dan pedang, darah tentu muncrat dan mengalir keluar dari tandu, namun kenyataan tidak demikian, setelah golok dan pedang membuat tandu itu berantakan, keadaan ternyata tetap sunyi, tiada jeritan juga tidak tampak adanya darah yang meleleh keluar. Keruan para penyergap yang bersenjata golok dan pedang itu tercengang, berubah air muka mereka, kaki tangan menjadi kaku.

Sekejap kemudian, terdengar suara 'pletak pletok' dari dalam tandu, lalu enam orang yang menyergap dengan serangan ganas itu menyurut mundur seraya menarik senjata masing-masing.

Empat golok besar lagi tebal itu terbuat dari baja murni dan terasah tajam dan runcing, namun ujung golok mereka kini sudah buntung menjadi tumpul, sudah patah bagian ujungnya. Demikian pula sepasang pedang Ling-liok-siang- kiam juga buntung.

Maka berkumandanglah tawa dingin Cu Ngo Thay-ya, "Hm, tidak luput dugaanku, kau pura-pura sakit, padahal memiliki kungfu yang hebat dan tinggi." Lalu suaranya menjadi kereng dan keras, "Panah!"

Begitu suara menjepret terdengar, anak panah pun berhamburan selebat hujan deras, seluruhnya memberondong ke arah tandu.

Keadaan amat gawat, namun dari dalam tandu tetap tidak kelihatan reaksi apa-apa, secara nyata, anak panah yang menancap di tandu mendadak mencelat jatuh berhamburan, panah itu ternyata patah, ujung anak panah yang terbuat dari baja ternyata sudah putus seluruhnya. Entah dimana anak panah yang terbuat dari baja campur tembaga itu?

Sekonyong-konyong ramailah suara "Ser, ser", yang melengking memecah udara keluar dari tandu, lalu tampak puluhan larik sinar dingin meluncur dengan kecepatan kilat melaju ke arah deretan jendela kecil di atas dinding di kanan kiri kerai mutiara itu. Lalu terdengarlah jeritan mengerikan dari balik dinding, darah muncrat dan bola mata pun terpanah buta.

Mereka yang hadir dalam pendopo menyaksikan secara nyata seluruh kejadian dari awal hingga akhir. Terutama Siau Ma menyaksikan dari jarak yang paling dekat, sesaat dia berdiri melenggong, sukar ia menjelaskan bagaimana perasaan hatinya saat itu.

Baru sekarang Siau Ma sadar, dengan mencucurkan keringat dan mengalirkan darah, ia bersama kawan-kawannya melindungi seorang yang dikatakan sakit keras, demi menunaikan tugas, adu jiwa pun sudah dilakoni, ternyata si pasien yang dilindunginya seorang kosen yang memiliki kemampuan luar biasa, kenyataan sudah membuktikan, bocah yang dikatakan sedang sakit ternyata memiliki ilmu silat yang tiada taranya.

* * * * *

Siau Ma menjadi tidak mengerti, orang memiliki kungfu setinggi ini, kenapa pura-pura sakit keras dan terima mendekam dalam tandu tanpa kena angin? Dengan Lan Lan yang ayu jelita sebagai umpan, Siau Ma dipancing menjadi pengawal dan melindunginya naik ke Long-san dengan alasan mencari obat di negeri barat, ada rencana apa di balik semua kejadian ini?

Lamunan Siau Ma mendadak terjaga oleh bentakan Cu Ngo Thay-ya yang keras menggelegar, "Berhenti!"

Pertarungan sengit yang tengah berlangsung pun berhenti.

Setelah melihat kenyataan dan sadar apa yang telah terjadi, dirinya ditipu dan dijadikan alat belaka, sudah tentu Siau Ma tidak mau menjual jiwa dan berkorban percuma. Beberapa hari ini, dirinya mirip seekor keledai yang ditutup matanya dan digiring berputar-putar menggiling beras.

Siang Bu-gi juga menghentikan aksinya, gejolak perasaannya tidak banyak beda dengan rasa penasaran yang menggelitik sanubari Siau Ma.

Di Long-san, apa yang diucapkan Cu Ngo Thay-ya adalah perintah, maka anak buahnya tiada yang berani membangkang, mereka pun berhenti bergerak dan mundur ke pinggir. Pendopo besar itu menjadi hening lelap, agak lama kemudian baru Lan Lan menghela napas dan berkata, "Tadi sudah kuperingatkan kepada kalian, jangan mengganggu adikku yang ada dalam tandu, kenapa kalian mengabaikan peringatanku?"

Orang dalam tandu terdengar sedang batuk.

Cu Ngo Thay-ya menjengek dingin, "Nah, sang naga terpaksa menampakkan ekornya, kenapa masih pura-pura sakit?"

"Kenyataan dia memang sakit," ujar Lan Lan tegas. "Sakit apa?" tanya Cu Ngo Thay-ya.

"Sakit hati."

"Parahkah penyakitnya?"

"Sudah tentu parah, tapi ada obat mujarab yang dapat mengobatinya."

"0, obat apa yang diinginkan?"

"Obat mujarab yang kumaksud ada di seberang gunung di sebelah barat sana."

"Tepatnya dimana?"

"Baiklah, agaknya sudah tiba saatnya aku berterus terang dan bicara secara gamblang. Obat mujarab yang kami inginkan sebenarnya berada di sini, bahwa kita terima kau sudutkan hingga kedudukan kita sekarang dalam posisi yang tersudut ini memang sudah kami rencanakan, supaya kau beranggapan, kami hanyalah lawan lemah dan terpaksa mandah kau giring kemari."

"Ehm, kau merancang muslihat dengan tujuan menemui aku?"

Lan Lan manggut-manggut.

"Kini kalian sudah di sini, sudah berhadapan denganku," demikian ucap Cu Ngo Thay-ya. "Kenapa masih main sembunyi, cobalah suruh dia keluar."

"Baik, akan kutanya kepadanya," kata Lan Lan sambil mendekati tandu, lalu bertanya dengan suara perlahan, "Cu Ngo Thay-ya minta kau keluar menemuinya, bagaimana pendapatmu?"

Orang dalam tandu bersuara perlahan, tidak jelas apa yang diucapkannya, namun Lan Lan mengulur tangannya sehingga tangan orang ini memegang tangannya, lalu ia memapahnya turun dari tandu. Yang keluar memang pemuda yang dilihat Siau Ma dalam kamar di hotel Damai kemarin. Wajahnya kelihatan pucat seperti tidak berdarah sedikitpun. Di bulan sembilan yang panas ini, tubuhnya dibungkis mantel tebal berbulu rase, namun tidak kelihatan merasa gerah atau berkeringat. Mantel bulu itu amat lebar dan panjang sehingga separoh wajahnya tertutup, namun orang dapat melihat sepasang matanya yang jeli dan tajam dinaungi sepasang alis yang tegak dan gagah, meski pucat, wajahnya kelihatan bersih.

Lan Lan mengawasinya penuh iba dan lembut, katanya dengan nada prihatin, "Dapatkah kau berjalan?"

Pemuda itu manggut-manggut sambil beranjak maju beberapa langkah, perlahan pula ia mengangkat kepala memandang ke arah kerai mutiara, lalu berkumandang suaranya yang lemah, "Kau sudah melihatku?"

"Kelihatannya kau memang sedang sakit," bergema suara Cu Ngo Thay-ya, bagaimana reaksi mimik mukanya, orang tidak melihat jelas karena jarak teramat jauh, namun dari suaranya, orang merasakan haru dan kasihan, ucapan untuk menenteramkan dan menahan gejolak hati.

Pemuda itu berkata, "Sayang sekali, kau sudah melihatku, sebaliknya aku tidak melihat dirimu."

"Kenapa kau tidak kemari saja?"

"Ya, aku ingin bicara denganmu dari dekat," sembari bicara, kakinya beranjak ke depan, meski perlahan namun langkahnya tidak berhenti setiba di undakan batu.

Siapa berani menginjak undakan batu, bunuh habis semua.

Seakan-akan pemuda ini tidak peduli, atau memang tidak pernah mendengar larangan serius ini.

Padahal dari jendela kecil di deretan dua sisi kerai mutiara itu, bermunculan ujung anak panah yang siap dibidikkan ke arahnya, tapi pemuda ini seperti tidak sadar bahwa bahaya tengah mengancam jiwanya, dengan tak acuh ia tetap melangkah ke sana.

Pok Can, Bu-ci-thong-cu, Ling-liong-siang-kiam dan para pemikul tandu siap bertindak bila diperintah sang majikan, seperti tidak dianggap kehadirannya di pendopo ini.

Ternyata Pok Can dan kawan-kawannya tidak berani bereaksi, tanpa perintah Cu Ngo Thay-ya, mereka tidak berani sembarang bertindak. Diam-diam mereka menduga, apakah Cu Ngo Thay-ya akan melabrak sendiri pemuda ini? Mereka maklum, di Long-san, Cu Ngo Thay-ya diakui sebagai jago kosen yang tiada bandingnya, adalah logis kalau hanya Cu Ngo Thay-ya saja yang mampu menghadapi pemuda penyakitan yang lihai ini.

Pada masa ini, rasanya susah dicari tokoh silat yang memiliki Khikang setaraf yang dikuasai oleh Cu Ngo Thay-ya. Tapi dari kekuatan si pemuda mematahkan senjata dan panah, dapat dibayangkan bahwa bocah ini memiliki Lwekang yang amat tangguh pula, pemuda yang satu ini ibarat seekor naga sakti yang jarang menampakkan diri, betapa tinggi ilmu silatnya, sukar orang menjajakinya.

Siapakah pemenang duel antara Cu Ngo Thay-ya dengan pemuda penyakitan ini? Tiada orang bisa meramalkan. Tapi telapak tangan setiap hadirin berkeringat karena tegang.

Mereka boleh tidak peduli pihak mana yang akan menang dalam duel nanti, yang pasti pertarungan kedua jago kosen ini tentu amat seru, dahsyat dan menegangkan, selama berkecimpung di Kangouw, belum pernah mereka mengalami atau menyaksikan pertarungan hebat yang susah dibayangkan sebelumnya.

Kini pemuda penyakitan itu sudah tak jauh di luar kerai mutiara, anehnya Cu Ngo Thay-ya tetap bercokol di tempatnya tanpa gerak, tidak bersuara. Naga-naganya raja serigala ini sudah membuat perhitungan dan yakin bahwa dirinya pasti menang, maka ia bersikap kalem saja.

Tinju Siau Ma tergenggam erat, dalam hati ia bertanya pada diri sendiri, "Pemuda ini berani ke sana dan tidak apa- apa, kenapa aku harus takut? Kenapa aku terima dijadikan keledai dungu yang diperalat belaka?" Persoalan lain, Siau Ma boleh bersabar, harus menekan emosi, umpama perutnya harus kelaparan, badan babak belur dihajar orang, kantong kempes, ia bisa bersabar, tidak peduli. Tapi penasaran karena merasa dirinya dikibuli sungguh tidak terlampias sebelum dirinya berkelahi dengan sengit.

Ada sementara orang di dunia ini, meski jiwa harus melayang dan badan hancur, dirinya tidak mau diremehkan, tidak mau diabaikan, Siau Ma adalah identik orang sejenis ini.

Mendadak Siau Ma melompat jauh ke depan lalu menerjang ke arah kerai mutiara. Selincah kijang lompatannya yang jauh dan tangkas itu, hingga ia mendahului si pemuda menerobos kerai mutiara dan masuk ke sana, menubruk ke belakang meja besar lagi panjang itu. Orang banyak tidak menduga juga tidak memperhatikan aksi Siau Ma, karena pandangan mereka tertuju ke arah si pemuda penyakitan. Siau Ma bereaksi secara kilat, tahu-tahu ia sudah menerobos  masuk dan berdiri di hadapan Cu Ngo Thay-ya.

Manusia kalau usianya sudah lanjut, wajah, suara, watak dan tingkah lakunya sering berubah, adakalanya seorang tua berubah menjadi eksentrik, berjiwa sempit dan senang menyendiri. Demikian halnya yang terjadi pada Cu Ngo Thay- ya, perubahannya juga terjadi secara menyolok. Beberapa tahun belakangan ini, kecuali Bu-ci-thong-cu yang bisu tuli menjadi pembantunya yang setia dan dipercaya, Pok Can yang tertua di antara kawanan serigala dan bergaul paling lama dengan raja yang berkuasa ini, dia toh tidak berani gegabah atau bertingkah di hadapannya, tanpa perintah jelas ia pun tidak berani masuk ke balik kerai mutiara itu.

Ada larangan yang berbunyi, 'Masuk selangkah tanpa ijin, hukumannya cacah hancur tubuhnya'. Betapa keras dan kukuh watak Cu Ngo Thay-ya, pasti tidak memberi ampun kepada Siau Ma yang berani melanggar pantangan ini. Mampukah Siau Ma melawan jurus serangannya yang dahsyat?

Siang Bu-gi juga siap menerjang ke sana bila perlu, biar dirinya bukan tandingan lawan, biar gugur di medan laga, ia lebih suka gugur bersama teman sejati.

Setelah Siau Ma menerobos masuk ke dalam kerai mutiara dan berdiri di depan meja, ternyata Cu Ngo Thay-ya tetap duduk mematung di tempatnya tanpa bergerak. Ternyata setelah menerobos masuk Siau Ma malah berdiri kaku mirip patung, seperti kena sihir atau takjub melihat sesuatu di hadapannya, sesuatu yang ajaib atau kejadian yang amat mengejutkan hatinya.

Adakah kekuatan gaib yang mengandung magis terselubung dalam kamar di balik kerai mutiara, maka Siau Ma yang kurang ajar dan main terobos menjadi kaku seperti batu? Mungkinkah Cu Ngo Thay-ya meyakinkan ilmu mukjizat yang dapat melumpuhkan lawannya tanpa ia sendiri bergerak?

Banyak kejadian di dunia kadang sukar diterima secara wajar oleh nalar manusia, namun secara nyata terjadi dan sukar ditelaah dan dijelaskan perkaranya.

Demikian kejadian yang menimpa Siau Ma, mereka yang masih berada jauh di luar pasti berprasangka buruk dan menduga-duga secara negatif, rasa tegang dan takut menghantui sanubari mereka.

Sambil menggenggam gagang pedangnya, Siang Bu-gi beranjak ke sana, selangkah demi selangkah ia berjalan dengan mantap dan berat, tidak cepat tapi tegap dan waspada. Hatinya takut setengah mati, badannya basah kuyup oleh keringat dingin saking tegang, tapi Siang Bu-gi bertekad dan nekad, apapun yang akan terjadi meski awak harus mampus dengan badan hancur juga tidak akan mundur.

Tapi beberapa tindak menjelang ia menyelinap ke dalam kerai mutiara, mendadak dilihatnya Siau Ma mulai bergerak.

Siau Ma bukan disihir, juga tidak menjadi patung, keadaannya masih segar bugar, bebas dan wajar bergerak. Bahwa dia berdiri mematung sekian saat di depan meja bukan karena dibekuk musuh dengan ilmu mujizat, soalnya secara nyata dan tak terduga ia menghadapi peristiwa besar yang luar biasa, kejadian yang sukar diterima oleh nalar sehat.

Begitu menerobos ke dalam kerai mutiara, Siau Ma melihat dan mendapatkan tokoh persilatan yang disegani dan ditakuti kaum Bu-lim ternyata sudah ajal, bukan saja orang ini sudah mati, tubuh orang malah sudah kaku, sudah kering, namun tidak membusuk, ini menandakan bahwa kematian orang ini sudah cukup lama berselang.

Asap dupa wangi mengepul dalam ruang di balik kerai mutiara, Cu Ngo Thay-ya terus bercokol dengan gayanya yang angker di singgasananya, tidak bergerak tidak bisa bersuara, karena sekujur badan sudah kaku dan mengering. Demikian pula kulit mukanya sudah mengering, mengkeret dan

berkerut-merut. Wajah yang dahulu kereng berwibawa kini menjadi seram menakutkan.

Sukar orang menentukan sudah berapa lama orang ini meninggal, bahwa jenazahnya masih utuh dan tidak membusuk, karena sekujur jasadnya dipoles sejenis obat khusus, hingga tubuhnya tetap utuh meski kematian sudah merenggut nyawanya sejak beberapa waktu yang lalu. Bahwa jenazah Cu Ngo Thay-ya dipertahankan utuh dan bercokol di singgasana untuk memberikan perintah, ini menandakan di balik peristiwa ini ada dalangnya, seseorang menggunakan kedok Cu Ngo Thay-ya untuk memberi perintah dan memegang tampuk pimpinan dan kekuasaan di seluruh wilayah Long-san.

Suara orang yang menirukan suara Cu Ngo Thay-ya tadi jelas adalah tokoh misterius yang memegang peranan di belakang layar, bukan mustahil dialah perencana kejahatan dengan tewasnya Cu Ngo Thay-ya sebagai langkah pertama untuk mengejar cita-citanya menguasai gunung serigala.

Untuk menjaga dan mempertahankan rahasia dirinya yang berperan di belakang layar, dan supaya kematian Cu Ngo Thay-ya tidak diketahui orang lain, maka orang dilarang mendekati dirinya dalam jarak dua tombak, mulai undakan batu kaca, ruang dimana jenazah Cu Ngo Thay-ya masih kelihatan bercokol juga ditutup dengan kerai mutiara, sehingga dalam jarak dua puluhan tombak orang sukar melihat jelas keadaan sebenarnya.

Orang yang dipercaya adalah Bu-ci-tong-cu, sesuai nama julukannya, orang bisu tuli ini jelas tidak akan membocorkan rahasianya, apalagi dia buta huruf, celakanya orang bisu tuli ini berotak tumpul, kecuali belajar ilmu silat, dia tidak punya keinginan, cita-cita maupun nafsu.

Sekarang Siau Ma maklum, kenapa Thio-gongcu nekat menerjang ke depan meski besar sekali resiko yang harus dihadapinya. Kenyataan jiwanya melayang sebelum berhasil membongkar rahasia busuk ini.

Sejak dilahirkan Thio-kongcu memang memiliki pembawaan luar biasa, terutama sepasang bola matanya, makin tumbuh dewasa ia memperoleh gemblengan luar biasa, maklum sepasang telinganya tuli, maka ia melatih kedua matanya lebih tajam dari mata manusia umumnya.

Di kala kerai mutiara terguncang karena suara "berhenti" Cu Ngo Thay-ya yang lantang tadi, mata Thio-gongcu yang jeli menangkap adanya muslihat di balik permainan sandiwara yang belum diketahui orang.

Manusia kalau bicara pakai mulut menggerakkan bibir, tapi orang bercokol di kursi kebesaran di balik kerai mutiara tidak kelihatan bergerak, mulutnya tetap bungkam, bibir pun tetap tidak bergerak. Padahal untuk mengucap sepatah kata "berhenti" orang harus membuka lebar mulutnya, apalagi suaranya yang begitu lantang dan mendengung.

Berhasil membuka rahasia orang, Thio-gongcu lantas sadar bahwa orang yang bercokol di kursi di balik kerai mutiara itu hanyalah sesosok mayat manusia yang sengaja dibuat pajangan untuk mengelabui orang banyak. Saking terburu nafsu ingin membongkar kedok dan rahasia orang, Thio- gongcu lupa kalau benar orang yang duduk di kursi itu sudah mati, mana mungkin bisa bicara, namun kenyataan suara lantang itu bergema dalam pendopo ini, itu berarti ada seseorang bersembunyi dan memegang rol dalam kasus ini.

Karena Thio-gongcu tahu rahasia orang, sudah tentu orang itu tidak memberi ampun kepadanya.

Lama Siau Ma menjublek tanpa bergerak atau bersuara, hatinya sedih dan pilu, perasaannya sukar dilukiskan dan dilimpahkan, sedih bagi nasib sang raja yang berkuasa di Long-san, pilu demi kematian kawan sejati, penasaran bagi manusia umumnya.

Betapapun besar kekuasaan seseorang di masa hidup, setelah mati dengan mudah ia akan dibuat mainan oleh orang hidup. Setelah menghela napas Siau Ma bergerak perlahan, membalik tubuh, waktu ia mengangkat kepala lagi, pandangannya bentrok dengan mata seseorang, rona mata orang ini menampilkan rasa duka lara yang men-dalam.

Pemuda penyakitan yang masih teka-teki asal-usulnya ini berdiri mematung di belakangnya, berdiri menjublek mengawasi jenazah Cu Ngo Thay-ya, wajah yang pucat dan bersih tampak basah oleh air mata yang bercucuran.

Tidak kuat Siau Ma menahan rasa ingin tahu hatinya, maka ia bertanya, "Siapa kau sebetulnya?"

Pemuda itu diam saja, seperti tidak mendengar pertanyaannya.

"Aku menduga kau bukan she Lan sebagaimana yang dikatakan Lan Lan, apalagi adik kandungnya. Nama aslimu juga pasti bukan Lan Ki-hun," mendadak bersinar bola mata Siau Ma. "Apa kau bukan she Cu?"

Pemuda itu tetap diam, tidak menanggapi pertanyaan Siau Ma, tapi perlahan bertekuk lutut lalu menyembah di hadapan Cu Ngo Thay-ya.

Melihat kelakuannya, Siau Ma sadar dan mengerti, "He, kiranya kau adalah putranya."

"Betul," seorang berkata perlahan di belakang Siau Ma. "Memang dia putra tunggal Cu Ngo Thay-ya, namanya Cu Hun."