Kuda Binal Kasmaran Bab 12

 
Bab 12

Sebaliknya perut Siau Ma mengejang setelah mendengar ceritanya, isi perut bergolak, hampir saja tumpah-tumpah. "Apakah pemuda itu juga rela dijadikan korban?"

"Wah, sudah tentu rela," sahut gadis itu, "Di dunia ini tiada kematian yang dibanggakan seperti cara itu, mati secara suci." Mendadak suaranya berubah duka nestapa, "Sayang sekali kesempatanku terbuang percuma."

"Kau?" pekik Siau Ma. "Dirimu juga jadi persembahan?" "Pada hari upacara, setiap pemuda yang hadir akan

mencari gadis pasangannya, memilih gadis yang dipujanya

untuk dijadikan malaikat perempuan."

"Lalu tiap pemuda yang hadir akan ... akan " sukar Siau

Ma menemukan ungkapan yang tepat untuk menjelaskan kejadian brutal itu.

"Setiap pemuda akan berusaha menyemburkan benih keturunannya ke tubuhnya. Bagi kami benih laki-laki jauh lebih berharga daripada darah, adalah jamak kalau setiap orang mempersembahkan miliknya yang paling berharga untuk disampaikan kepada sang surya." Tinju Siau Ma mengepal kencang. Nalurinya mendadak menangkap adanya suatu kekuasaan atau katakanlah seorang yang berikhtiar jahat menguasai atau mengendalikan anak- anak muda yang keblinger itu. Justru karena para pemuda itu mendambakan hidup bebas, hidup senang dan merdeka dalam alam khayal yang tak pernah tercapai, lalu orang ini melansir peritiwa kotor dan sesat sebagai kedok indah untuk mencpai keinginannya.

Kini sudah jelas, bukan hanya badaniah anak-anak muda ini saja yang terinjak-injak, dirusak dan disiksa, batin mereka pun dilukai, dikuasai dan pikiran juga dikelabui oleh suasana yang memabukkan.

Berkerutuk jari-jari Siau Ma saking kencang menggenggam gemas, ingin rasanya menjotos ringsek hidung orang jahat yang berkedok sebagai duta sang surya itu.

Gadis itu bercerita lebih lanjut, "Besok lusa adalah tanggal 15, malaikat perempuan yang mereka pilih untuk persembahan bulan ini sebetulnya adalah aku."

"Lalu bagaimana sekarang?"

"Aku dicampakkan karena mereka ganti memilih pendatang baru," demikian tutur gadis itu dengan suara sendu, jelas hatinya mendelu, "Gadis yang terpilih itu adalah perempuan asing yang baru datang dari tempat jauh."

"Karena itu kau amat penasaran, sedih, marah dan masgul, maka kau makan daun sebanyak-banyaknya, kau ingin melupakan kejadian yang memalukan dan menyedihkan ini."

Gadis itu menunduk diam, diam adalah pengakuan. Mendadak Siau Ma tertawa, tertawa besar.

Gadis itu menatapnya kaget, "Kenapa kamu tertawa?" "Aku merasa lucu, kejadian ini amat jenaka." "Kejadian apa yang lucu?"

"Peristiwa yang menimpa dirimu." "Maksudmu aku yang lucu?"

"Seorang yang mesti menjadi korban, mendadak menjadi sadar dan tidak jadi berkorban sia-sia. Bahwa dirinya batal menjadi korban konyol, umumnya orang akan merasa senang dan lega, sebaliknya engkau justru amat sedih." Lalu dengan menggeleng kepala ia menambahkan, "Selama hidupku belum pernah aku mendengar atau menyaksikan kejadian selucu ini."

"Soalnya ada yang tidak kau ketahui." "Soal apa yang tidak kuketahui."

"Kau tidak tahu apa makna kehidupan yang sejati."

"O, jadi kalau engkau meninggal, menjadi korban secara penasaran, di luar kesadaran lagi, coba jelaskan apa makna dari kehidupanmu?"

Gadis itu menghela napas, "Kejadian itu boleh dianggap ajaib, suatu yang ... ya katakanlah penuh magis, sukar aku memberi penjelasan."

"Kau tahu siapa gerangan yang dapat menjelaskan?" Siau Ma memancing. "Ya, ada seorang dapat memberi penjelasan," ucap si gadis dengan sorot mata bercahaya, "Hanya seorang saja, karena hanya dia yang menuntun kami ke alam hidup abadi."

Tinju Siau Ma terangkat ke atas kepala, dia menekan emosi, mengendalikan gelora amarah yang membakar dada. Dia memancing lebih jauh, "Siapakah dia?"

"Dia bukan lain ialah duta sang surya, malaikat lelaki, dialah yang menjadi pimpinan upacara persembahan itu."

"Dapat aku bertemu dengannya?" "Kau ingin bertemu dengannya?" "Ya, ingin sekali."

"Apa benar kau tulus ingin menjadi anggota kita? Menjadi pemuja malaikat surga."

"Ehm, aku ingin menjadi pengikutmu."

"Kalau begitu sekarang akan kubawa kau ke sana."

Siau Ma berjingkrak, "Ayolah, sekarang juga berangkat."

Tabir malam masih lama, mentari masih bercokol di cakrawala, teriknya masih terasa seperti bara yang membakar kulit.

* * * * *

"Setiap hari kala senja, waktu mentari menjelang kembali ke peraduannya, cahaya terakhir selalu kemilau di permukaan danau." "Jadi saat itu kalian juga mengadakan upacara?" "Ehm, menyenangkan sekali."

"Yang memimpin upacara juga malaikat surya itu?" "Biasanya memang demikian."

Siau Ma mengawasi jari-jari tangannya yang terkepal, gumamnya, "Kuharap hari ini juga ada upacara seperti biasanya."

* * * * *

Cahaya mentari menerangi langit, menerangi jagat raya, menyinari permukaan danau. Di bawah pancaran cahaya sang surya, permukaan danau yang tenang itu kelihatan seperti bara yang sedang menyala benderang.

Di tengah danau terapung sebuah kapal. Kapal yang kecil, di atas kapal penuh bertumpuk bunga segar, bunga warna- warni yang harum semerbak, bunga-bunga segar yang dipetik dari atas gunung.

Di pinggir danau ada satu orang. Seorang yang berpakaian serba kuning mirip robot yang dibuat dari emas murni, jubah panjang kuning emas, dengan mahkota yang serba mengkilap pula, demikian pula topeng menutup mukanya juga terbuat dari emas murni.

Sendirian robot kuning ini berdiri di bawah cahaya sang surya, mentari hampir tenggelam, tampak betapa angker, gagah, semarak dan agung keadaannya.

Siau Ma melihat orang ini, melihat robot kuning itu. Siau Ma sudah berada di pinggir danau, berada di tempat tujuan, dia meluruk datang dengan sepasang tinju yang terkepal sejak tadi, dalam pandangannya tidak nampak ada keangkeran dan keagungan dari robot kuning itu. Dia hanya melihat kesesatan, munafik dan kejahatan.

Tak jarang terjadi di dunia ini, adanya peristiwa kotor yang memalukan, sering kali terselubung di balik keagungan yang indah.

Sambil mengepal tinju Siau Ma maju menghampiri. "Kaukah duta malaikat surya?" tanyanya berang dan gemas.

Duta kuning itu manggut-manggut.

Siau Ma menuding hidung sendiri, "Kau tahu siapa aku?"

Duta itu manggut pula, lalu bicara, "Aku tahu siapa engkau, aku sedang menunggumu." Suaranya sinis tidak simpatik, tidak sehangat cahaya sang surya, namun membawa daya magis yang menyesatkan, robot kuning ini melanjutkan, "Kalau kau benar-benar tulus memujaku, aku akan menerimamu, akan kutuntun engkau pergi ke surga, ke alam hidup abadi."

"Maksudmu mati adalah abadi?"

"Ya, ada kalanya mati diartikan hidup abadi."

"Kalau demikian kenapa tidak kau saja yang mampus?" sembari bicara Siau Ma menerjang sambil menjotos dengan sepasang tinjunya, menjotos hidung orang. Umpama dia tahu hidung orang ini terbuat dari tembaga atau emas murni juga tetap akan digenjotnya sampai penyok, memukulnya hingga ringsek atau hancur luluh. Berapa banyak hidung orang pernah dipukulnya sampai ringsek, Siau Ma sendiri tidak ingat. Dia hanya ingat setiap kali tinjunya menggenjot, jarang ada musuh yang mampu menyelamatkan hidungnya, jadi tidak pernah ada lawan yang luput dari serangannya, umpama tidak mengenai hidung, paling tidak mata atau gigi lawan pasti dibuatnya cacat dan memar. Padahal gerak jotosannya sederhana saja, tidak mengandung perubahan yang lihai, juga bukan tipu atau jurus yang menyesatkan, kelihaian jotosan Siau Ma hanya bisa dinilai dengan satu kata 'Cepat'.

Cepat sekali, kecepatan tinjunya memang patut membuat ciut nyali setiap lawan yang berhadapan dengannya, begitu cepat tinjunya bekerja, lawan sukar menghindar meski melihat jelas tinju Siau Ma menjotos tiba, namun sukar dielakkan dan tidak bisa ditangkis atau dipatahkan. Kecepatan gerak tinjunya sukar diukur.

Tui-hong-to (golok pengejar angin) Ting-ki, tokoh yang terkenal dengan golok kilatnya di kalangan Kangow. Konon di saat golok kilatnya bergerak, mampu membelah lalat atau nyamuk yang terbang di udara.

Suatu ketika Ting Ki menantang Siau Ma berduel, dia ingin membelah tubuh Siau Ma menjadi dua potong dengan golok pengejar anginnya. Kenyataan goloknya memang sudah menyentuh leher Siau Ma, tapi bukan leher Siau Ma yang putus, sebaliknya hidungnya ringsek oleh tinju Siau Ma.

Kecepatan tinju Siau Ma mungkin belum mampu menandingi kecepatan pisau terbang Li Sin-hoan, seratus kali Li Sin-hoan menimpukkan pisaunya seratus kali kena, belum pernah pisau terbang itu gagal menunaikan tugas, kalau tidak yakin berhasil, Li Sin-hoan tidak akan menyambitkan pisaunya, tapi begitu pisau itu disambitkan, lawan pasti roboh binasa, hanya sekali sambit saja. Meski belum seratus persen menyamai kecepatan pisau terbang Li Sin-hoan, sedikitnya sudah mencapai sembilan puluh lima persen. Kalau ada orang iseng mau menghitung dan membandingkan pisau terbang dengan tinju kilat Siau Ma, rekor yang dicapai Siau Ma mungkin sudah mencapai sembilan puluh sembilan persen, berarti dalam seratus kali menyerang, hanya sekali tinju Siau Ma gagal merobohkan lawan.

Menakjubkan adalah kejadian sore hari ini, sungguh luar biasa bahwa tinju Siau Ma kali ini gagal menunaikan tugasnya.

Begitu tinjunya bergerak, duta malaikat surya segera melayang mundur seenteng daun segesit tupai.

Dalam jangka setengah hari, tepatnya belum cukup enam jam, sudah dua kali tinju Siau Ma tidak manjur lagi, gagal merobohkan lawannya. Sungguh kejadian ini belum pernah dialaminya. Mendadak Siau Ma sadar bahwa Ginkang dan gerak-gerik duta surya setingkat lebih tinggi dibanding Long- kun-cu.

Duta itu bertolak pinggang mengawasi dirinya, lalu berkata dengan santai, "Kau luput memukulku!"

"Ya, sekali luput, masih ada pukulan kedua dan seterusnya."

"Jadi kau masih ingin mencoba?"

"Selama hidungmu masih utuh, selama tinjuku masih bisa bergerak, pukulanku tidak akan berhenti, serangan takkan putus," Siau Ma siap menerjang lagi.

"Tunggu dulu," mendadak duta surya berteriak. "Tunggu apalagi?" jengek Siau Ma.

"Tunggu sebentar, akan kuperlihatkan seorang kepadamu."

"Siapa yang akan kuperlihatkan kepadaku?"

"Yang pasti orang ini amat elok dipandang, aku tanggung kau ingin melihatnya," demikian ucap sang duta, nadanya tandas penuh keyakinan.

Mau tidak mau tergerak hati Siau Ma, agaknya dia terpengaruh oleh ucapannya.

Duta itu berkata pula, "Setelah melihatnya, jikalau kau masih ingin memukul hancur hidungku, aku pasti tidak balas menyerang."

Siau Ma tidak percaya, namun hatinya lebih tertarik, maka ia bertanya, "Siapa sebetulnya orang itu?"

"Keadaannya sekarang sudah bukan manusia lagi." "Bukan manusia? Memangnya jadi apa dia?" "Sekarang dia menjadi malaikat perempuan."

Hari itu setiap pemuda yang hadir dalam upacara akan memilih pasangan yang dipujanya untuk dijadikan malaikat perempuan sebagai pelampias napsunya.

Malaikat perempuan yang mereka pilih ternyata adalah perempuan asing yang datang dari lain tempat.

Jari-jari Siau Ma mengendor, tangannya jadi lemas, lutut pun goyah, tiba-tiba tinjunya mengepal. Firasat jelek mendadak menggelitik sanubarinya, tak tahan ia bertanya, "Dimana dia sekarang?"

Duta itu berputar dan menoleh ke sana, tangannya menuding kapal kecil di tengah danau yang ditaburi kembang itu, "Di sana itulah."

Sang surya hampir terbenam. Di saat hampir terbenam dan belum terbenam itulah, terasa merupakan saat-saat yang paling indah, paling menakjubkan.

Kapal kembang itu tampak semarak di bawah pancaran sinar surya, kelihatannya seperti di alam mimpi yang indah. Namun mimpi indah itu mendadak berubah menjadi mimpi buruk, mimpi terkutuk.

* * * * *

Dari atas geladak yang penuh bertaburan kembang segar itu, perlahan muncul bayangan seorang, lebih tepat kalau dikata berdiri pelan-pelan. Yang muncul seorang gadis cantik, gadis rupawan yang bugil alias telanjang bulat.

Rambutnya yang hitam panjang terurai mayang laksana sutera, kulit badannya halus mulus laksana sutra. Payudaranya membukit tegak, mungil lagi kencang dan menggiurkan, pinggangnya ramping, pahanya lurus jenjang dan bersih.

Gadis seperti ini merupakan idaman setiap lelaki, gadis yang selalu dirindukan setiap perjaka, seorang gadis yang hanya dapat ditemukan di alam mimpi.

Sebaliknya bagi Siau Ma pertemuan ini merupakan pertemuan buruk, mimpi buruk, semua serba buruk. Betapa pahit getir dan sedih hatinya. Betapa manis madu pengalaman masa lalu? Kenangan yang tak terlupakan sepanjang masa. Betapa senang dan riang mereka berkumpul? Betapa sepi dan pilu perpisahan itu?

Untuk siapa selama ini Siau Ma menyiksa diri, kasmaran dan pesimis?

Siau Lin.

Dia menderita dan sedih karena siapa? Karena Siau Lin.

Siau Ma menjadi gelandangan, berkelana ke ujung langit sekali pun, siapa yang dicarinya?

Siapa lagi kalau bukan Siau Lin. Dimanakah Siau Lin sekarang? Ternyata Siau Lin ada di sini.

Gadis yang berdiri di tengah tumpukan kembang, gadis yang bugil di atas kapal itu, gadis yang akan dipersembahkan kepada malaikat surya, tidak lain tidak bukan adalah Siau Lin yang selama ini dia cari, selama ini dia rindukan, Siau Lin yang tidak pernah lepas dari benaknya.

* * * * *

Tangan Siau Ma berkeringat, sekujur badan menjadi dingin. Dalam keadaan seperti ini, entah marah atau murka? Sedih atau menderita? Apapun bukan. Hatinya kosong, menjadi hampa, sukma maupun darahnya, seolah tersedot habis.

Hanya orang yang pernah mengalami pukulan lahir batin, hanya yang pernah meresapi penderitaan hidup yang dapat memahami perasaan Siau Ma waktu itu.

Bagaimana dengan Siau Lin? Seolah-olah gadis ini tidak punya perasaan. Berdiri kaku, berdiri linglung di tengah taburan kembang, sukma dan darahnya seperti tersedot musnah dari raganya.

Siau Lin juga mengawasi Siau Ma, pandangan sayu, hambar, pandangan yang tidak kenal orang yang ada di depannya.

Mendadak Siau Ma menggembor, menggembor dengan segenap tenaganya, berteriak dengan segala tenaganya, berteriak dengan kilap dan histeris.

"Siau Lin ... Siau Lin "

Siau Lin tidak mendengar, Siau Lin sudah bukan Siau Lin yang semula, gadis telanjang ini sudah bukan Siau Lin, gadis bugil ini sudah siap dipersembahkan kepada malaikat surya.

Siau Ma memburu ke depan, lalu terjun ke dalam danau.

Tiada orang mencegah, tiada yang merintangi. Kapal kembang itu juga bergerak pergi, Siau Ma berpacu dengan sekuat tenaga, Siau Ma berenang ke sana, kapal kembang itu melaju makin jauh dan akhirnya tidak kelihatan. Kapal kembang itu mirip bunga dalam mimpi, kabut di tengah hembusan angina lalu, atau rembulan dalam air, hanya bias dilihat tapi tak mugkin dipegang.

* * * * * Sang surya telah terbenam.

Entah sejak kapan tahu-tahu tabir malam sudah menyelimuti jagat raya, gunung nan jauh di sana kelihatan dalam bentuk yang samar-samar, air danau yang mengalun tenang juga tenggelam dalam kegelapan.

Duta malaikat surya yang serba kuning mengkilap di  bawah pancaran sinar surya tadi, sudah berubah menjadir setitik hitam di kejauhan. Padahal dia masih berdiri di sana, berdiri di pinggir danau, pandangan dan sikap dingin tak acuh mengawasi Siau Ma. Siau Ma meronta-ronta dalam air,  berjerih payah mengerjar kapal itu, jeritannya berubah menjadi lolong panjang yang mengundang gema tak berarti, kapal itu berubah menjadi bayangan dalam khayal meski dikejar dengan mempertaruhkan jiwa juga tak ada artinya lagi.

Waktu terus berlalu, malam makin gelap. Air danau makin dingin.

Mendadak Siau Ma merasa hatinya sakit seperti ditusuk sembilu, begitu keras tusukan ini hingga kaki tangannya menjadi lemas, rasa sakit itu merasuk ke tulang sumsumnya, tubuhnya makin mengendap ke bawah, tenggelam di air danau yang dingin.

* * * * *

Di sini tiada air, yang ada hanya api. Api yang berkobar, jago merah sedang menyala benderang. Lidah api menjilat udara tak pernah padam, begitu benderang cahaya api yang menyala itu hingga orang sukar membuka mata karena silau.

Akhirnya Siau Ma membuka matanya. Di tengah kobaran api, muncul bayangan seorang, lidah api yang berkobar-kobar itu mirip kembang semarak, bayangan itu masih di tengah taburan kembang yang semerbak.

“Siau Lin… Siau Lin…”

Ada hasrat Siau Ma menubruk ke sana, menerjang dalam kobaran api.

Kenapa laron suka menerkam api? Apakah laron bodoh? Atau karena laron hanya mengejar cahaya benderang? Mesti berkorban jiwa, tapi laron ingin memperoleh sinar harapan?

Demikian halnya dengan Siau Ma, besar hasratnya menerkam ke sana, namun tubuhnya terasa lunglai, tidak bisa bergerak.

Untung matanya masih terbuka, bisa melihat dan mendengar. Orang pertama yang dilihat olehnya bukan lain adalah Lo-bi.

Lo-bi berdiri di pinggir api unggun itu, dengan cengar- cengir mengawasi dirinya.

Entah karena lidah api yang menjilat-jilat atau karena pandangannya yang kabur, yang pasti Lo-bi terlihat olehnya serkarang, rasanya sudah berbeda dengan Lo-bi yang dahulu, Lo-bi sahabatnya yang dikenal baik itu. Lo-bi yang dahulu meski berkulit tebal, walau seorang pemalas, seorang yang tidak tahu artinya malu, tapi kelihatannya dia masih mirip manusia, manusia lumrah seperti manusia pada umumnya, perawakan gagah, wajah pun genah dan wajar sebagaimana laki-laki umumnya.

Seroang jika hidupnya tidak keruan, mana mampu menyamar sebagai Sin-kun-siau-cu-kat Teng Ting-hou, mana mungkin menggasak makanan orang secara gratis alias tidak bayar, mana mungkin jual lagak dan main tipu?

Tetapi Lo-bi yang satu ini rasanya sudah berubah, berubah menjadi sinting. Tujuh bagian gila, tiga bagian linglung.

Waktu mudanya dulu Lo-bi adalah laki-laki perlente, tak mau mengenakan pakaian sembarangan yang tidak memenuhi seleranya. Apalagi dalam kehidupan bermasyarakat yang hanya menitik beratkan pada pakaian, tidak menghargai orang ini, maka syarat utama bagi seorang yang ahli menipu orang, pakaian adalah modal utama, pakaian adalah modal murah tapi membawa hasil besar.

Tapi Lo-bi sekarang hanya berpakaian pendek dengan baju kutang saja, serba kotor dan jorok lagi. Siau Ma melotot geram, ingin rasanya melakukan sesuatu, menjotos penyok hidung orang ini, sayang sekali, mengepal tinju pun jarinya tidak mampu bergerak.

Lo-bi yang cengar-cengir itu mendadak menuding hidung sendiri, lalu bertanya dengan nada jenaka, "Bagaimana menurut pendapatmu tentang diriku sekarang?"

Siau Ma menjawab dengan dengusan hidung.

Lo-bi tertawa, "Jangan khawatir, keadaanku sekarang baik dan segar, malah selama hidup belum pernah aku menikmati hidup senang dan sebaik sekarang." Waktu tertawa mimiknya kelihatan linglung, "Sejak berada di sini, baru aku tahu, baru aku sadar, bahwa kehidupan yang hampir setengah abad dulu, hakikatnya tiada artinya, hambar dan sia-sia belaka."

"Enyah kau!" hardik Siau Ma gusar.

"He, kau suruh aku enyah? Baiklah aku enyah saja," ucap Lo-bi sambil menjatuhkan diri terus menggelundung pergi.

Tampak oleh Siu Ma setelah menggelinding beberapa meter jauhnya, Lo-bi merangkak mirip anjing, pergi dengan merangkak. Tidak keruan perasaan Siau Ma. Peduli apapun yang telah terjadi, jelek-jelek Lo-bi adalah temannya, sahabat yang pernah sehidup semati. Dalam keadaannya seperti itu masihkah dia dianggap sebagai manusia?

Namun pikiran Siau Ma terganggu oleh bayangan Siau Lin, terbayang dalam benaknya adegan apa yang akan dialami gadis pujaannya itu, Siau Ma lebih sedih, menangis dalam batin, hatinya remuk redam.

Namun Siau Ma tidak menangis, tidak mencucurkan air mata, tidak berteriak histeris. Dia juga melihat duta malaikat surya muncul di pinggir api unggun, bertolak pinggang sambil mengawasi dirinya dengan sikap dan pandangan menghina, "Sekarang ada dua jalan dapat kau pilih salah satu."

Karena tidak mampu bergerak, terpaksa Siau Ma mendengarkan saja.

Lebih jauh duta itu berkata, "Masih kuberi kesempatan padamu untuk menjadi pemujaku setulus hati, sebaliknya kalau kau ingin mampus, sekarang juga bisa kulakukan."

Siau Ma putus asa, ingin mati. Dalam keadaan seperti ini dirinya jelas tidak mampu menolong Lo-bi, apalagi membebaskan Siau Lin dari cengkraman tangan iblis ini, saking gregetan, ingin rasanya terjun saja ke dalam api, biar jiwa dan raganya terbakar habis menjadi abu.

Untunglah pada saat-saat kritis itu, terkiang nasehat Ting Si sahabatnya itu.

Ting Si adalah temannya juga, teman akrab yang melebihi saudara kandung. Olehnya maupun orang banyak, Ting Si dipandang sebagai si cerdik pandai. Ting Si pernah bilang kepadanya, "Mati, bukan cara terbaik untuk menyelesaikan persoalan, hanya manusia lemah atau orang rendah budi yang membereskan dengan kematian. Selama masih hidup, masih punya tekad dan kemauan, ada semangat dan berani berjuang, persoalan apapun meski pelik dan rumit, tentu dapat diatasi dengan cara yang sederhana malah."

Terbayang oleh Siau Ma wajah Ting Si mendadak muncul di tengah kobaran api unggun, wajah yang tertawa penuh harap dan cerah, tawa yang mengundang simpati, senyum Ting Si selalu menarik perhatian orang, tawanya selalu menambah semangat dan mengobarkan keberanian.

Siau Ma mendesis perlahan, "Aku belum ingin mati." "Kalau begitu kau harus pahami satu hal," duta itu

menegas.

Siau Ma mendengarkan.

"Jiwa ragamu kini tergenggam di tanganku, jiwamu menjadi milikku."

"Aku mengerti."

"Lalu dengan apa kau akan membarter jiwa ragamu?" "Apa yang kau inginkan?" "Lan Lan."

Siau Ma melengak, "Kau ingin memilikinya?" "Ya, ingin sekali."

"Lalu bagaimana dengan pasien dalam tandu itu?" "Dialah tujuanku yang utama."

Tenggelam perasaan Siau Ma. Dia bukan orang cerdik pandai, namun dia paham kemana maksud tujuan si duta, "Maksudmu menukar Siau Lin dengan Lan Lan?"

Duta tidak menyangkal, "Bila kau dan kawan-kawanmu berada di pihakku, mereka tidak akan lolos dari tanganku."

Siau Ma tidak segera menjawab, bukan menyetujui usul orang. Dia harus mengambil sikap untuk menarik kesan supaya lawan tidak menaruh curiga. Agak lama kemudian baru ia memancing dengan pertanyaan, "Kalau kau ingin aku melakukan sesuatu, tentu kau akan membebaskan aku lebih dulu?"

"Ya, sudah tentu," sahut si duta.

Berdetak jantung Siau Ma, "Kau percaya kepadaku?" "Aku percaya sepenuhnya."

Berdebur keras jantung Siau Ma, "Menurut anggapanmu apakah aku ini manusia yang rela menjual kawan sendiri?" "Ya, aku tahu Kuda Binal bukan manusia macam demikian.

Tapi mereka bukan temanmu, bukan keluarga atau sanak kadangmu. Hanya Lo-bi adalah sahabatmu, demikian pula Siau Lin sudah menjadi milikmu." Dengan santai sang duta berkata lebih lanjut, "Aku percaya, untuk membela dan menyelamatkan Siau Lin, kau rela mengorbankan mereka."

Perasaan Siau Ma mulai tenggelam lagi.

"Oleh karena itu, cukup kau berjanji lantas kubebaskan kau. Tanggal 15 sebelum menyingsing fajar, jika kau tidak membawa mereka kemari, maka Siau Lin ..." sang duta tidak melanjutkan perkataannya, persoalan sudah jelas maka ia tidak perlu banyak bicara.

Siau Ma tidak ingin mendengar ucapan yang menyakiti hatinya, mendadak ia bertanya, "Ada satu hal aku tidak mengerti."

"Kau boleh tanya."

"Bukankah aku yang kalian benci?"

Duta itu diam, tidak menyangkal, diam itu adalah jawaban. "Orang dalam tandu itu adalah seorang asing yang sedang

sakit, karena sakit keras, dia perlu cari pengobatan di gunung

sebelah sana."

"Ehm, memang demikian."

"Tapi lantaran aku, kalian menbebaskan dia yang sedang sakit itu, kenapa pasien itu lebih penting dibanding diriku?"

"Karena pasien itu lebih berharga dibanding engkau," cekak lagi tandas jawaban sang duta. "Berapa duit harganya?" tanya Siau Ma.

"Nilai harganya cukup besar, betapa besarnya, mimpi pun kau takkan menduganya."

Siau Ma bungkam. Rasanya ingin tumpah, dilihatnya Lo-bi sedang merangkak maju menghampiri, mirip anjing yang munduk-munduk di bawah kaki sang majikan lalu mencium kaki sang duta.

Sungguh Siau Ma tidak habis mengerti, kenapa manusia berubah secepat ini, dalam sehari saja terjadi perubahan yang begitu mengerikan.

"Kau harus berterima kasih kepadaku," demikian ucap si duta. "Aku tidak memaksa kau makan rumput, tapi kuberi obat jenis lain padamu."