Kuda Binal Kasmaran Bab 11

 
Bab 11

Wajah gadis ayu ini kelihatan membengkak, sorot matanya yang bening mengundang rasa hambar dan tak habis mengerti. Mendadak dia menghampiri dan langsung duduk di pangkuan Siau Ma, tangan merangkul leher, tangan yang lain mengelus pipinya, mulutnya bernyanyi kecil seperti amat sayang terhadap benda kesenangannya, desisnya kemudian, "Wajahmu tampan, aku suka laki-laki tampan, laki-laki gagah dan kekar, aku senang ... aku suka "

Siau Ma diam saja dan hanya mengawasi, tak mendorong atau balas memegangnya. Seorang kalau berani mengutarakan isi hatinya, maka dia pasti tidak bermaksud jahat.

Lalu Siau Ma bertanya dengan nada iba, "Kau terluka?" Darah yang berkelepotan di baju karung masih basah, belum kering seluruhnya, namun gadis ini menggeleng kepala, sahutnya, "Aku tidak terluka, aku tidak apa-apa."

"Tapi darah ini datang darimana?" tanya Siau Ma sambil menuding dadanya.

Gadis itu tertawa, suaranya lembut, "Ini bukan darah, ini air tetek, air susuku. Aku memberi air susu kepada si upik." Sembari bicara dia menyingkap belahan lubang lehernya hingga dada yang berlepotan darah terpampang di depan mata Siau Ma.

Dalam masa akil baliq seusia gadis ini, payudara anak perempuan masih membukit kencang dan tegak, tapi Siau Ma hanya melihat separoh payudara di sebelah kanan, meski payudara di sebelah kiri masih utuh.

Seketika dingin kaki tangan Siau Ma.

Melihat mimik dan sikap Siau Ma, gadis itu cekikikan geli.

Padahal betapa sakit dan derita yang dirasakan seseorang yang kehilangan separoh payudara sebelah kanannya, tetapi gadis ini masih bisa tertawa riang, seolah-olah tidak merasa apa-apa.

"Coba kau terka," demikian tanyanya dengan nada lucu, "kemana susuku yang separoh ini?"

Sudah tentu Siau Ma tidak bisa menerka, tidak mau menerka, ia hanya menggeleng kepala.

"Dimakan oleh Hoatsu," kata si gadis dengan riang dan bangga, "dia adalah anak mestikaku, dia paling suka makan daging dan menerima susuku, aku suka memberi susuku kepadanya."

Jari-jari Siau Ma yang kaku menahan perutnya, hampir saja dia muntah.

Di Long-san ada Thaubak bernama Hoatsu, seorang pendeta, Hwesio tidak pernah makan daging hewan, entah daging babi, sapi, ayam, anjing atau kambing.

Hoatsu yang satu ini hanya makan daging manusia.

Perut Lan Lan juga mual, mendahului rekan-rekannya ia menumpahkan isi perutnya.

Payudara sebelah kiri gadis ini masih utuh dan kelihatan membungkit tegak, mendadak gadis itu mendorong payudaranya ke mulut Siau Ma, katanya lembut, "Aku pun suka kepadamu, kau adalah anak kesayanganku yang kedua, aku ingin memberi susuku kepadamu."

Siau Ma menghela napas, mendadak ia angkat tangan menepuk tengkuknya. Gadis itu menjadi lemas dan kelengar.

Pelan-pelan Siau Ma memapahnya lalu membaringkan tubuhnya di lantai di sebelah meja pinggir sana, lalu katanya dengan menyengir, "Sebetulnya tidak pantas aku berbuat begini kepadanya, tapi tiada cara lain untuk mengurangi penderitaannya."

Untuk menghilangkan derita, cara yang paling manjur adalah cara yang digunakan Siau Ma atas gadis itu, cara langsung yang cespleng.

Tak lama kemudian juragan Jik muncul dari belakang, mengawasi gadis yang menggeletak di lantai, mendadak dia menghela napas panjang, gumamnya, "Gadis cantik lagi sehat, kenapa manusia mau makan daun."

Siau Ma melengak, tanyanya tidak mengerti "Apa? Makan daun? Maksudmu gadis ini suka makan daun."

"Ya, makan banyak sekali. Serakus kambing yang kelaparan," sahut juragan Jik.

Siau Ma lebih heran, "Dalam keadaan kepepet, manusia mau makan apa saja yang bisa dimakan, tapi dalam keadaan segar bugar orang makan daun. "

"Tapi daun yang dimakan bukan daun sembarang daun." "Daun apa yang dimakannya?"

"Daun beracun yang menuntut imbalan jiwa raga yang memakannya," demikian penjelasan juragan Jik dengan nada gegetun. "Di belakang gunung sini ada tumbuh sejenis pohon yang dinamakan ganja, siapa setelah makan daun ganja dia akan menjadi sinting, pikirannya tidak normal, tingkah lakunya juga serba salah, seperti. "

"Seperti orang sinting atau mabuk arak begitu?" "Sebetulnya lebih menakutkan dibanding orang mabuk

arak, orang mabuk arak masih punya ingatan tiga puluh persen, tiga puluh persen sadar, tapi orang yang makan daun ganja, bukan saja menjadi sinting, malah tidak sadar bahwa dirinya masih ada di dunia fana, tidak tahu apa-apa, tapi perbuatan apapun dapat ia lakukan."

"Maksudmu seorang yang makan daun itu akan selalu kecanduan?" tanya Siau Ma. Juragan Jik manggut-manggut, katanya ngeri, "Konon kalau sehari tidak makan daun ganja, mereka tidak bisa hidup senang, maka saban hari harus makan, makin makan makin celaka."

"Siapa yang kau maksud dengan mereka?" tanya Siau Ma.

"Yang kumaksud dengan mereka adalah kaum muda yang hidup di pegunungan ini, anak-anak besar yang menganggap segala sesuatu di dunia ini tidak mencocoki selera, terhadap siapa dan apapun yang ada di sekelilingnya, mereka merasa sebal dan sial."

Untuk menghilangkan keresahan dan lari dari tujuan hidup selayaknya, mereka makan ganja, setelah sinting baru mereka bebas dari tekanan dan beban hidup, mereka hanya menuntut kesenangan.

Siau Ma paham, menyelami keadaan dan jiwa mereka. Maklum Siau Ma juga pernah meresapi betapa resahnya seorang hidup dalam kebingungan, risau lagi sengsara, terkekang serta menderita dan tak mampu melimpahkan penasaran hatinya. Semua perasaan itu hanya dimiliki anak- anak muda yang tidak diberi tuntutan hidup yang wajar, lingkungan hidup yang sempit menjadikan mereka hidup nyentrik. Tapi lingkungan hidup Siau Ma lebih luas, maka ia tidak pernah lari dari kenyataan hidup. Karena dia tahu, lari dari kenyataan bukan cara terbagus untuk menyelesaikan persoalan, hanya kerja berat, rajin lagi tekun, penuh semangat pengabdian dan tanggung jawab, berjuang mempertahankan hidup, seorang baru bisa membuang rasa resah, menyingkirkan kesengsaraan.

Perlahan Siau Ma berjongkok menutup baju karung si gadis di bagian dada yang tersingkap. Teringat kepada Hoatsu yang suka makan daging manusia, terbayang betapa keji dan nelangsanya manusia yang satu ini, kejahatan sadis ini perlu ditumpas dengan ganjaran yang setimpal. Kaki tangan Siau Ma berkeringat dingin.

Sambil berdiri mendadak Siau Ma bertanya, "Kau pernah melihat Hoatsu?" Matanya mengawasi juragan Jik.

"Ehm, sudah tentu pernah melihatnya," sahut juragan Jik. "Apa betul dia makan daging manusia?"

"Kalau punya anak, mungkin daging anak sendiri juga dimakannya."

Siau Ma mendesis geram, nadanya penuh kebencian, "Manusia seperti ini masih dibiarkan hidup, sungguh aneh dan luar biasa."

"Di sini, di Long-san tidak ada yang aneh dan luar biasa." "Jika anak gadis atau binimu diganyang dagingnya, tentu

kau akan heran dan penasaran, kenapa manusia kejam seperti

dirinya tidak lekas mampus saja."

"Umpama benar anak gadis atau biniku digares habis oleh Hoatsu, bukan saja aku tidak menuntut balas, malah akan menyingkir ke tempat jauh untuk menonton apa yang dia lakukan," lalu dengan tertawa getir juragan Jik meneruskan, "karena aku tidak ingin dagingku juga dimakan olehnya."

Siau Ma tidak sempat bertanya lagi karena dilihatnya dari luar beranjak masuk seorang tua dengan langkah lambat.

Seorang tua yang kelihatan kereng dan mengenakan kopiah bambu lebar sebesar baskom, jubah hitam yang gombrong dan panjang membungkus tubuhnya sampai menyentuh tanah. Jenggotnya panjang memutih menyentuh dada, siapa pun yang berhadapan dengan orang tua ini akan menaruh hormat padanya.

Juragan Jik menyambut kedatangan orang tua ini dengan laku hormat dan tersipu, sambil munduk-munduk ia menarik sebuah kursi di pojokan sana, lalu berkata dengan mengunjuk tawa ramah, "Silakan duduk."

"Terima kasih," sahut orang tua itu mengangguk. "Hari ini kau orang tua masih ingin minum ten?" tanya

juragan Jik.

"Benar," sahut si orang tua, suaranya kalem lagi damai, gerak-geriknya berwibawa dan hati-hati, siapa pun yang melihat orang tua ini, dalam hatinya akan merasa salut dan hormat.

Demikian pula Siau Ma, dia pun tidak terkecuali. Tak pernah terbayang sebelumnya oleh Siau Ma bahwa di Long- san sini ada orang tua yang bersikap kereng dan berwibawa seperti orang tua ini. Diam-diam Siau Ma berdoa agar orang tua ini tidak melihat gadis yang menggeletak di lantai di belakang meja itu.

Syukur orang tua ini memang tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya. Dia duduk tegak dan rapi, matanya tidak pernah melirik ke sana atau ke sini, hakikatnya tidak pernah melihat orang lain, seolah-olah hanya dia sendiri yang berada di tempat itu.

Juragan Jik bertanya lagi masih sambil munduk, "Kau orang tua ingin minum Hiang-pi atau Liong-kin dari Hokkian?"

"Terserah apa saja yang kau siapkan, cuma seduhkan teh itu lebih kental dari biasanya, hari ini aku sudah kenyang dan puas," dengan suara lega ia melanjutkan, "tiap kali melihat gadis-gadis belia yang montok, seleraku menjadi tinggi, aku makan lebih banyak dari biasanya. Daging nona cilik memang empuk, enak lagi gurih, dan yang penting daging muda menambah sehat badanku."

Berubah air muka Siau Ma, jari-jari tangannya mengepal keras dan dingin.

Meski tempat duduknya tidak jauh, tapi orang tua ini melirik pun tidak ke arah Siau Ma, sikapnya tetap kereng berwibawa, dengan sebelah tangan dia membuka ikatan tali di bawah dagunya, lalu mencopot kopiah bambu di atas kepalanya. Siau Ma melihat kepala orang tua ini gundul kelimis. Kini orang tua ini kelihatan mirip padri kosen yang mendalam ajaran agama yang dianutnya.

Mendadak Siau Ma berdiri lalu menghampiri, setelah menarik kursi, lalu duduk di depan orang tua itu, tanyanya, "Kau mau minum arak?"

Orang tua itu menggeleng kepala.

"Konon orang yang suka makan daging manusia harus banyak minum arak, kalau tidak, perut bisa mulas," demikian olok Siau Ma.

"Sudah setua ini usiaku, belum pernah perutku sakit," sahut orang tua itu kalem.

"Sebentar lagi mungkin perutmu akan sakit," ucap Siau Ma menyeringai.

Perlahan orang tua ini mengangkat kepala memandang Siau Ma sejenak, lalu geleng kepala, ujarnya, "Sayang, sayang sekali." "Apa yang dibuat sayang?" tanya Siau Ma.

"Sayang hari ini aku sudah banyak makan, perutku sudah kenyang."

"Kalau belum kenyang apa kau ingin mencicipi dagingku?" "Tidak perlu dicicipi, sebagai seorang ahli, sekali pandang

aku sudah tahu dagingmu pasti lezat," lalu ia menjelaskan

lebih lanjut, "daging manusia dibagi beberapa jenis, dagingmu adalah jenis yang paling baik."

Siau Ma tertawa, tertawa lebar.

Juragan Jik keluar sambil membawa sepoci wedang teh yang wangi dan kental, asap putih mengepul dari mulut poci yang tegak melengkung ke depan.

Mendadak Siau Ma bertanya kepada juragan Jik, "Apa betul di tempat ini belum pernah ada orang berkelahi?"

Juragan Jik mengangguk, sahutnya, "Ya, sekalipun belum pernah ada."

"Bagus sekali," lenyap suara Siau Ma, meja kayu di depannya mendadak mencelat ke atas dan meluncur keluar rumah, berbareng tinju kirinya menggenjot hidung sang Hoatsu.

Hoatsu tertawa dingin, telapak tangannya yang kurus seperti ranting kering melambai, kuku jari panjang yang semula melingkar itu mendadak mulur laksana pisau mengiris urat nadi Siau Ma di pergelangan tangannya. Tak nyana, kali ini Siau Ma membarengi dengan tinju kanan yang menggenjot perut. Jotosan Siau Ma dilontarkan secara gamblang, tanpa tipu tidak memakai akal, namun serangannya memang lihai, gerak tinjunya sangat menakjubkan, tinju Siau Ma memang teramat cepat.

"Bluk", begitu tinju menghantam perut, suaranya seperti kayu memukul tambur pecah, menyusul terdengar suara "Krak", kursi di bawah pantat sang Hoatsu mendadak hancur. Tapi orangnya masih bergaya duduk terapung di udara.

Seakan kekuatan tinju Siau Ma menghajar hancur kursi yang diduduki orang tua ini, bukan menggenjot perutnya.

Siang Bu-gi mengerut kening, ia maklum orang tua atau Hoatsu telengas ini menggunakan ilmu meminjam tenaga memunahkan pukulan lawan, jarang ada dalam Bu-lim jago silat yang mampu meyakinkan ilmu setara orang tua atau Hoatsu ini.

Siau Ma tidak peduli bagaimana akibat pukulannya, tidak mau tahu ilmu apa yang digunakan lawan, dengan mendelik dia berkata, "Perutmu sakit tidak?"

Dingin suara Hoatsu, "Perutku tidak pernah sakit." "Bagus," belum lenyap suaranya, sepasang tinju Siau Ma

bergerak lagi, yang diincar tetap hidungnya. Gerak tangan Hoatsu juga tidak lambat, kuku jarinya yang panjang dan runcing setajam pisau menusuk tenggorokan Siau Ma. Hoatsu balas menyerang dengan harapan dapat menghalau atau mematahkan tinju Siau Ma, maka serangan balasan mengincar leher yang cukup vital di tubuh manusia, sebelum melukai atau merobohkan lawan, Siau Ma dipaksa untuk menyelamatkan diri lebih dulu.

Siau Ma memang nekat, bukan saja tidak berusaha menolong diri sendiri, hakikatnya tak peduli apakah serangan kuku lawan bisa menamatkan jiwanya. Yang penting tinjunya menjotos remuk muka lawan, maka tinju kanannya tetap menggenjot perut lawan. Padahal kuku jari si Hoatsu yang panjang runcing tinggal setengah senti menusuk lehernya, sayang sekali tinju Siau Ma sudah mendahului mengenai perutnya.

Tinju Siau Ma bergerak laksana kilat, nyalinya teramat besar. Bila dia ingin memukul perut seseorang, maka sasarannya harus kena, lawan harus roboh setelah kena jotosannya, mati hidup diri sendiri tidak pernah dipikirkan.

Mesti perutnya kena dua kali jotosan, Hoatsu tetap tidak bergeming dari tempatnya, pantatnya masih bergantung di udara, nyata kuda-kuda kedua kakinya memang hebat sekali. Namun mukanya kelihatan berubah sedikit, kukunya yang panjang kembali melingkar di ujung jarinya. Ternyata jotosan kedua Siau Ma di perutnya telah membuat pertahanan tenaga dalamnya di pusat dada, buyar tanpa terbendung lagi, laksana tanggul yang jebol diterjang air bah. Tanpa landasan tenaga dalam, kuku jarinya itu tidak berfungsi sama sekali.

"Bagaimana? Perutmu mulai sakit bukan?" ejek Siau Ma sinis.

Hoatsu menggeleng kepala.

Siau Ma menyeringai dingin, "Kalau perutmu tidak sakit, kenapa mukamu berubah, kenapa tidak mampu bicara?"

Pelan-pelan Hoatsu menarik napas panjang, mendadak tubuhnya mencelat ke udara, berbareng telapak tangan berbalik memenggal leher Siau Ma, sementara dua kakinya menendang perut dan dadanya. Tipu ganas tipu telengas, gerak-geriknya aneh, waktu bergerak, sekujur badan bagai bergoyang, jubah longgar yang membungkus badannya juga bergetar, wajahnya beringas mirip siluman iblis kelaparan. Sayang sebelum serangannya kena sasaran, tinju Siau Ma lebih dulu mendarat di perutnya. "Blang" tubuh orang tua ini mental ke sana dan "Bluk" menumbuk ke dinding, lalu melorot ke bawah.

Siau Ma memburu maju, tinjunya bergerak cepat dan ganas, sederas hujan ia menghajar hidung dan muka orang, memukul perut, menggenjot pinggang dan dada. Hoatsu dihajarnya sampai muntah darah, air liur, isi perut dan air kuning pun tertuang dari mulutnya. Tapi Siau Ma masih terus menghajar dan memukul hingga tulang dadanya hampir remuk, saking kesakitan Hoatsu berguling di tanah, meratap dan meraung kesakitan.

Untung Siau Ma yang keletihan menghentikan pukulannya.

Lan Lan juga memeluknya dari belakang dan menyeretnya mundur.

Hoatsu menggeletak tak bergerak.

Wajah juragan Jik tampak pucat dan tegang, "Begitu cepat tinjunya bergerak, bagai kilat saja."

Siau Ma berkata dengan napas tersengal, "Boleh kau siarkan pada orang-orang di Long-san, bahwa si Kuda Binal pernah menghajar orang di hotelmu."

Juragan Jik menghela napas, "Hanya di hotel ini kalian bisa aman, dapat makan kenyang dan tidur lelap tanpa diganggu. Kenapa kau justru melanggar larangan di tempatku ini?"

"Kalian sendiri yang bikin peraturan, aku orang luar tak perlu patuh pada larangan itu."

"Apa kau tidak tahu aturan?" tegur juragan Jik. "Aku punya aturan sendiri." "Aturan apa?"

"Orang yang patut dihajar harus diganyang, umpama harus mempertaruhkan jiwa ragaku juga akan kuhajar dulu bangsat itu," lalu dengan nada dingin Siau Ma menambahkan, ”itulah aturanku, aturanku pasti lebih baik."

"Dalam hal apa aturanmu lebih baik?" tanya juragan Jik. Siau Ma mengangkat tinjunya, "Selama tinjuku berguna,

dia akan menegakkan aturan, tidak boleh ditawar lagi."

Juragan jik harus menerima kenyataan, siapa pun takkan bisa membantah, segala aturan di dunia ini, peduli aturan apa, tidak sedikit yang ditegakkan dengan kerasnya tinju. Tinjuku lebih keras, maka aturanku pasti lebih baik, itulah hukum rimba persilatan.

Siau Ma mendelik pada juragan Jik, "Satu hal perlu aku tegaskan kepadamu."

Juragan Jik mendengarkan.

"Hanya aku yang melanggar aturan, orang lain tiada sangkut pautnya, oleh karena itu, di saat mereka istirahat di sini, kalau ada orang berani mempersulit mereka, aku akan membuat perhitungan denganmu," lalu dengan muka membesi menambahkan, "aku yakin kau tidak akan melupakan peringatan ini."

Siau Ma tahu juragan Jik takkan berani alpa, tinjunya merupakan jamiman. Mendadak Lan Lan bertanya, "Kami istirahat di sini, lalu engkau?"

"Lo-bi adalah sahabatku, Cen Cen dan Cen Cu juga baik terhadapku."

"Kau akan mencari mereka?"

Mengawasi gadis yang menggeletak di lantai, Siau Ma berkata sedih, "Aku tidak akan membiarkan mereka tinggal di sini makan daun!"

"Tapi tenagamu amat kami butuhkan!"

"Saat ini kalian tidak perlu bantuan orang lain, kalau kalian tetap tinggal di sini akan aman sementara, apalagi kalian memang perlu istirahat."

"Bukankah kau juga harus istirahat?"

"Kondisiku masih baik," ujar Siau Ma, "kalau ada teman hendak terjun ke lautan api, asal masih bisa menariknya, peduli apapun yang harus kulakukan, tidak kupikirkan lagi."

"Apakah itupun aturanmu?"

"Ya, aturan yang tidak boleh diubah."

"Umpama jiwamu harus menjadi korban karena aturan itu, tetap tidak kau langgar aturanmu itu?"

"Ya, mati pun tidak akan kulanggar."

Tiba-tiba juragan Jik muncul lagi, sepoci arak ditaruh di depan Siau Ma, "Silakan minum." Melihat arak, Siau Ma tertawa lebar, "Kau ingin jual arakmu kepadaku?"

"Untuk satu poci arak ini kau boleh minum tanpa bayar, gratis!"

"Sejak kapan kau mau mentraktir tamumu?"

"Mulai saat ini, aku hanya mentraktir tamu seperti dirimu." "Orang macam apa aku ini?"

"Orang yang punya aturan, aturan yang ditegakkan sendiri," lalu ia tuang arak secangkir penuh untuk Siau Ma. "Orang seperti dirimu sudah makin jarang di dunia ini, maka dengan senang hati aku mentraktirmu."

Siau Ma tertawa lebar, cangkir diangkat, arak pun pindah ke dalam perut, "Sayang, hari ini kau harus mentraktirku dua kali."

"Lho, kenapa?"

"Sebelum mentari terbenam, aku pasti kembali, umpama harus merangkak juga aku akan pulang ke sini."

Lan Lan menggigit bibir. "Pulang untuk minum araknya?" tanyanya dengan mendelu.

Siau Ma menatapnya, "Pulang untuk melaksanakan tugas yang pernah kujanjikan kepadamu."

Mendadak Siang Bu-gi menyeletuk, "Kalau kau mampus bagaimana?"

"Lebih baik kalau mampus." "Lebih baik bagaimana?" tanya Lan lan.

"Betapapun ganas dan buas seekor serigala takkan berani melawan setan penasaran, di waktu hidup, aku laki-laki jalang, setelah mampus aku akan jadi setan liar," lalu dengan tersenyum Siau Ma menambahkan, "kalau setan liar melindungi kalian lewat gunung, apa pula yang harus kalian kuatirkan?"

Lan Lan ingin tertawa, tapi kulit mukanya terasa kaku tebal, lalu ia mengisi secangkir arak untuk Siau Ma, "Sebelum matahari terbenam, kau yakin dapat menemukan kawanan serigala itu?"

"Aku tidak yakin, tidak punya pegangan, tapi ada orang yang dapat menunjukkan tempat itu."

Lan Lan mengawasi gadis yang semaput itu, "Gadis ini maksudmu?"

"Ya, aku punya akal untuk membuatnya sadar," ujar Siau Ma.

Lan Lan menghela napas, "Lukanya tidak ringan, kalau sadar tentu amat menderita."

"Derita itu justru akan membuatnya selalu sadar."

Derita memang bisa menjernihkan otak manusia. Setiap orang yang mengarungi kehidupan pasti pernah menderita, dan siapa pun tak mungkin menghindarinya. Jikalau manusia bisa selalu ingat hal ini, maka orang dapat bertahan hidup, hidup lebih tabah, hidup lebih senang gembira. Lambatlaun orang akan sadar, hanya manusia sadar yang dapat meresapi penderitaan hidupnya, maka hidup itu akan ada artinya, hidup itu bermakna, maka harga dirinya pun harus dihormati.

* * * * *

Air mengalir dari atas gunung, Siau Ma cemplungkan gadis itu ke dalam air gunung yang bening dan dingin.

Luka irisan di payudara gadis itu tidak ringan. Air dingin merasuk ke dalam tubuh, membuat luka-luka itu perih sekali, rasa sakit memang susah ditahan, tapi rasa sakit itu akan membuatnya sadar.

Gadis itu meronta-ronta dalam air, berusaha berdiri, tangannya menggapai-gapai, mirip ikan yang terbidik tusukan tombak, namun ikan tidak bisa bersuara, sebaliknya gadis itu menjerit-jerit, ratapannya amat menyedihkan.

Siau Ma diam menyaksikan dan mendengar derita gadis ini, bukan karena tega dan tabah menyaksikan keadaan yang mengenaskan ini. Tapi Siau Ma beranggapan, gadis ini harus dicuci jiwa raganya, bukan dicuci dengan air dingin, tapi dicuci dengan penderitaan, dicuci dengan rasa sakit yang luar biasa.

Emas dibakar baru bisa memperlihatkan kemurniannya, burung Hong harus mandi di dalam api baru akan memperlihatkan bulunya yang indah dan semarak.

Lama kelamaan gadis itu menjadi lemas, tidak meronta juga tidak merintih lagi, dengan tenang dia biarkan tubuhnya terapung di permukaan air, dengan napas tersengal-sengal ia membuka mata dan menengadah, maka ia melihat Siau Ma, sorot matanya tampak jernih, gadis ini sudah sadar.

Waktu lupa daratan karena pengaruh daun, mungkin gadis ini menjadi jalang dan cabul, setelah sadar, dia tidak lebih hanya gadis cilik yang tidak tahu apa-apa, gadis kesepian yang mendambakan pertolongan. Melihat Siau Ma duduk tenang mengawasi dirinya di pinggir kolam, sikap dan mimik gadis ini tampak malu, kaget dan bingung.

Gadis cabul atau perempuan jalang takkan memperlihatkan sikap dan mimik begitu. Hanya gadis cabul dan perempuan jalang yang berani berdiri dan bertolak pinggang tanpa mengenakan benang selembar pun di badannya.

Setelah gadis itu tenang, Siau Ma tersenyum ramah. "Aku she Ma," ia memperkenalkan diri, "orang memanggil aku Siau Ma."

Dengan melenggong gadis itu mengawasinya sesaat lamanya, "Aku tidak mengenalmu!"

"Ah, masa ya? Tadi kau mengajakku bermain, kenapa secepat ini kau lupa."

Gadis itu mengawasinya lagi beberapa saat, lalu mengawasi keadaan sendiri, lapat-lapat masih teringat olehnya apa yang telah dialaminya tadi. Seorang yang terjaga dari mimpi buruk, takkan lekas melupakan makna dari impiannya.

Gadis itu termenung, agaknya susah dia membedakan kenyataan dalam mimpi atau keadaan yang dihadapinya sekarang. Maklum gadis ini sudah lama terbenam dalam mimpi buruk itu.

Siau Ma maklum dan meresapi perasaannya, "Apa kau ingin berdiri? Atau masih takut?"

Mendadak gadis itu melompat dari dalam air, menubruk ke arah Siau Ma, jari-jarinya seperti ingin mencekik leher dan mencolok mata Siau Ma. Tapi sekali gebrak, urat nadi gadis itu telah tergenggam kencang olehnya, seketika gadis itu menjadi lumpuh, tak mampu berkutik lagi. Dengan baju luarnya, Siau Ma membungkus tubuhnya, perlahan memeluknya penuh kasih sayang.

Gadis cilik itu mengertak gigi, desisnya geram, "Akan kubunuh kau, cepat atau lambat pasti kubunuh kau."

Siau Ma berkata, "Sebetulnya kau tidak ingin membunuhku, kau tidak membenciku, tapi kau membenci dirimu sendiri." Sambil bicara Siau Ma tersenyum lembut, senyum simpatik.

Tapi setiap patah kata yang dia ucapkan setajam jarum menusuk perasaannya, "Aku tahu sekarang kau sudah menyesal, sudah bertobat, kau terperosok ke jurang nista itu hanya untuk mengejar kesenangan, mencari gembira dan ingin bebas, tapi di sana kau mendapatkan derita dan penyesalan."

Siau Ma saksikan mimik orang yang tersiksa lahir batin, kata-katanya pedas setajam sembilu menusuk ulu hati, "Di kala kau sadar, kau akan selalu membenci diri sendiri, oleh karena itu kau berusaha menyiksa diri, menebus dosa yang pernah kau lakukan, tapi mungkin kau lupa atau tidak sadar, apa yang sudah kau lakukan justru tidak bermanfaat bagi orang lain, lebih celaka lagi, tidak berguna untuk dirimu sendiri."

Kata-kata yang tajam seruncing jarum menusuk sanubarinya hingga membuka bundel dalam hatinya. Hal ini dirasakan dan diresapi juga oleh Siau Ma. Tubuh gadis itu berguncang, air mata pun bercucuran, terisak dengan sedih. Seorang kalau masih bisa mencucurkan air mata, maka dia masih bisa ditolong.

Dengan penuh kasih sayang Siau Ma membelai rambutnya, "Untung kau masih muda, masa depanmu masih terbentang lebar, kesempatan masih menunggumu untuk membina diri ke jalan benar, menjadi manusia lumrah yang hidup tenteram sentosa."

Mendadak gadis itu menengadah, dengan air mata berlinang ia menatap Siau Ma, mimiknya seperti orang yang hanyut di sungai berarus deras berhasil meraih sebatang balok yang terapung di permukaan air.

"Apa betul aku masih sempat menolong diriku?" "Ya, betul," sahut Siau Ma tegas.

* * * * *

Air gunung itu jernih kembali, air kolam terus mengalir silih berganti.

Menyusuri arus sungai di bawah petunjuk gadis cilik itu, Siau Ma menuju ke pedalaman.

"Air gunung ini bersumber dari sebuah danau," demikian kata gadis cilik itu, "namanya danau Surya."

"O, jadi di danau itulah kalian mengadakan upacara persembahan kepada sang surya?" tanya Siau Ma.

Gadis itu memanggut, "Setiap pagi di kala sang surya terbit, cahayanya menyinari permukaan danau." Sorot matanya membayangkan khayal yang indah, "Maka air danau menjadi cemerlang. Beramai-ramai kami terjun ke dalam danau tanpa menggunakan selembar benang, laki perempuan tidak berbeda, seolah-olah kita dipeluk atau direnggut oleh sang surya yang hangat dan damai." Suaranya seperti igauan di alam mimpi yang penuh khayal, bukan merayu juga tidak mengandung maksud jahat.

"Biasanya kita mengadakan persembahan di kala sang surya terbit, kami berdoa semoga persembahan kami tetap abadi, kami tidak akan melupakan pujaan kami kepadanya."

"Dengan cara apa kalian mengadakan persembahan?" tanya Siau Ma.

"Biasanya kami hanya menggunakan untaian bunga warna- warni," gadis itu bercerita dengan suara lembut. "Rangkaian bunga yang segar yang kami petik dari pegunungan nan jauh di sana."

"Lalu kapan yang kau anggap bukan hari biasa?"  "Setiap tanggal 15 tiap bulan kami mengadakan upacara

khusus."

"Dengan apa kalian mengadakan upacara khusus." "Dengan awak kami sendiri," si gadis menerangkan lebih

jauh. "Tiap tanggal 15 kami akan mempersembahkan jiwa raga kami kepada sang surya."

Siau Ma belum mengerti, "Cara bagaimana upacara persembahan dilakukan?"

"Kami memilih seorang pemuda yang paling gagah dan perkasa di antara kita, dia kita lambangkan sebagai malaikat surya, setiap gadis di sini ingin mempersembahkan dirinya kepada malaikat surya ini. Biasanya upacara ini berlangsung sehari penuh, setelah sang surya turun di balik gunung baru upacara usai." Lalu dengan suara lebih kalem gadis itu melanjutkan, "Terakhir kali kami buat persembahan itu mati di bawah pancaran sinar surya yang terakhir kali menyorot di balik gunung itu." Kini suaranya datar tapi mengesankan, seperti sedang berkisah tentang dongeng yang indah.