Kuda Binal Kasmaran Bab 09

 
Bab 09

"Bagus, berarti daganganmu sudah berhasil." "Sekarang belum berhasil."

"Lho, belum berhasil?"

"Terus terang saja, di tempatku itu hanya melayani sejenis manusia, aku harus menilai dulu apakah kalian manusia jenis itu, apakah kalian memenuhi syarat?"

"Manusia jenis apa yang bisa kau terima?"

"Manusia yang punya duit, orang yang punya banyak uang," dengan tertawa dia menjelaskan lebih lanjut, tarip yang berlaku di hotelku, terus terang lebih mahal sedikit dibanding tempat lain."

"Lebih mahal berapa?" "Ada orang bilang, harga secangkir arak dalam hotelku lebih mahal dua puluh kali lipat dari tempat lain, padahal mereka memfitnah, membuat aku penasaran saja."

"Berapa kali lipat lebih mahal tarip arakmu?"

"Kalau di kota secangkir arak harganya satu tahil, di hotelku harganya hanya dua puluh delapan tahil."

Siau Ma tertawa lebar. Lan Lan juga tertawa geli.

Pedagang itu mengawasi mereka, katanya, "Entah kalian adalah orang-orang jenis yang kukatakan?"

"Ya," ucap Lan Lan. "Kami adalah orang yang punya duit, punya banyak uang."

Apa yang dikatakan Lan Lan memang benar. Sekenanya dia merogoh saku lalu mengeluarkan beberapa lembar uang kertas, setelah dihitung, nilainya genap sepuluh ribu tahil perak, lalu diserahkan begitu saja kepada pedagang atau pemilik hotel ini, seperti dia menyerahkan selembar kertas yang tidak terpakai lagi.

Siau Ma berkata, "Cukup tidak duit itu untuk kita tinggal setengah hari?"

Sepuluh ribu tahil perak cukup untuk membeli sebuah rumah gedung yang cukup mentereng, untuk tinggal di sini, selama tiga atau lima ratus hari juga lebih dari cukup.

Tapi pedagang itu berkata, "Asal kalian mau makan sederhana, arak juga tidak minum terlalu banyak, kalau menghemat tentu cukup." Siau Ma tertawa besar, katanya, "Sekarang aku percaya kau bukan serigala, kau manusia tulen."

"Lho, kenapa?"

"Soalnya hanya manusia yang bisa memeras manusia, hanya orang yang pandai menindas sesamanya"

* * * * *

Hotel damai mirip sebuah hotel, tapi hanya mirip saja. Dikata mirip karena di depan pintu dipasang sebuah pigura besar, pigura yang diukir huruf besar berbunyi 'Hotel Damai'. Kecuali sekedar mirip, tempat lain hakikatnya tidak pantas disebut hotel. Yang paling janggal sudah tentu bentuk rumahnya.

Rumah kuno itu sudah bobrok, sudah reyot. Seorang anak kecil kepala gundul borokan berdiri di ambang pintu menyambut tamu.

"Ini putraku," kata pedagang bangga, mesti anaknya kurus, borokan lagi, tapi putra sendiri adalah anak tersayang, "Biniku sudah lama kucerai, biniku bukan manusia baik."

Bini orang lain selalu baik, lebih bagus, anak sendiri adalah yang tersayang.

Pedagang berkata pula, "Rumah ini ada delapan kamar tidur dan sebuah kamar makan!"

Kamar makan amat besar dan luas, dua kali lebih besar dibanding kamar tidur yang terbesar, kamar tidur berukuran 5x7 meter itu hanya berisi satu ranjang untuk satu orang tidur. Pedagang berkata pula, "Menu yang kami sediakan kelas satu, maka sembarang waktu para langganan suka berkunjung kemari."

Apa yang diucapkan memang benar.

Hari masih pagi, cuaca masih remang-remang, tapi tamu sudah berkunjung di hotel bobrok itu. Tapi hanya seorang tamu saja.

Seorang tua yang kurus kering, seorang kakek yang berbaju kapas tebal terbuat dari kain sutera. Waktu itu bulan sembilan, meski pagi hari hawa terasa panas dan gerah, tapi kakek yang satu ini pakai baju kapas yang tebal, minum arak dengan santai. Di atas meja yang disandingnya menggeletak beberapa botol arak, sedikitnya dia sudah minum lima kati. Tapi setetes keringat pun tidak kelihatan menghias mukanya. Mukanya bercahaya, mengkilap ditingkah cahaya api dari pipa cangklongnya yang panjang.

Pipa cangklong itu panjang tiga kaki, lebih besar dari lengan bocah, siapa pun tahu pipa itu terbuat dari baja asli. Bentuk kepala pipa amat menakutkan, tembakau yang dimasukkan kalau tidak setengah kilo, mungkin ada lima ons.

Menurut perhitungan Thio-gongcu, bobot pipa cangklong itu ada 50 kati, tapi menurut penilaian Siau Ma, beratnya ada delapan atau sembilan puluh kati.

Pipa seberat dan sepanjang itu berada di tangan seorang kakek kurus kering, tapi lagaknya seperti memegang sebatang jerami. Kulit mukanya yang gemerdep kelihatan kuning seperti malam, penuh kerut-merut, namun penampilan sikap dan wibawanya menciutkan nyali orang. Padahal dia hanya duduk seenaknya, duduk sembarangan, jarang ada orang duduk seangker kakek kurus ini.

Pok Can. Orang tua kurus kering ini adalah Pok Can, serigala tertua di Long-san. Setiap orang tahu dan kenal siapa kakek tua kurus dengan pipa cangklong yang khas itu.

Sepasang bola mata mencorong bagai api, perlahan menyapu pandang orang-orang yang baru datang, mendadak ia bertanya, "Siapa yang membunuh Thi-sam-kak?"

"Aku!" jawaban diucapkan dua orang, jawaban yang dilontarkan oleh Siau Ma dan Siang Bu-gi, mereka ingin memikul tanggung jawab dari tuntutan balas musuh yang kurus kering berpipa cangklong ini. Siau Ma dan Siang Bu-gi maklum bahwa kehadiran Pok Can di hotel Damai ini adalah ingin menuntut balas, mereka maklum, dengan bekal ilmu pedang Cen Cen dan Cen Cu pasti bukan tandingan serigala tua yang lihai ini.

Pok Can tertawa dingin.

Siau Ma berbicara dengan nada mantap, "Kecuali Thi-sam- kak masih banyak lagi anak buahmu yang kubunuh, kalau kamu ingin menuntut balas, boleh membuat perhitungan dengan aku."

"Aku pernah mendengar tentang kau," ucap Pok Can kalem.

"Aku bernama Siau Ma, si Kuda Binal."

"Kamu bukan kuda, kamu lebih mirip keledai daripada kuda."

Siau Ma menyeringai dingin. "Hanya keledai yang melakukan perbuatan bodoh. Kau merebut kesalahan orang lain dan ingin menanggung dosanya," demikian dampratnya, sebelum Siau Ma bicara dia menambahkan lagi, "senjatamu tinju, tapi Thi-sam-kak mati karena pedang."

"Tapi aku "

"Mereka ingin membunuh kalian, pantas kalau membunuhnya, bunuh membunuh di kalangan Kangouw memang lumrah, kejadian yang adil dan nyata."

"Tak nyana, manusia serigala seperti dirimu juga kenal keadilan."

"Sakit hati kematian para anak buahku itu sebetulnya tidak perlu diperhitungkan, hanya saja " tiba-tiba jari jemarinya

mengepal, "hanya saja kematiannya amat mengenaskan, sudah puluhan tahun aku berkecimpung di Kangouw, pertempuran besar kecil pernah kualami ribuan kali, namun susah aku membayangkan siapa yang melontarkan ilmu pedang sekeji itu untuk membunuhnya."

Siang Bu-gi terus bungkam, tapi dia mengeluarkan pedang.

Sebatang pedang lemas yang mengkilap tajam dan dingin, sekali sendal pedang lemas itu menjadi kaku lurus.

"Pedang bagus," Pok Can memuji.

"Betul, pedang bagus," ucap Siang Bu-gi dingin. "Baik, kutunggu kamu."

"Menunggu aku?" "Kamu perlu istirahat dan tidur, setelah badanmu segar aku akan menunggumu di luar."

"Tidak usah kau menunggu."

"Di sini bukan tempat untuk membunuh orang." "Sekarang juga aku keluar dan bertempur denganmu."

Pok Can menatapnya lekat, mendadak dia berdiri, dengan langkah lebar beranjak keluar.

Ternyata Siang Bu-gi sudah mendahului menunggu di luar.

Cen Cen dan Cen Cu berdiri lengang seperti orang kesurupan, seolah-olah kejadian ini tiada sangkut-pautnya dengan mereka.

Lan Lan bertanya dengan suara lirih, "Bagaimana pendapatmu? Menguatirkan tidak?"

Siau Ma mengepal tinju, membungkam.

Siapa bakal menang dan kalah dalam duel ini, Siau Ma tidak tahu dan tidak bisa meramalkan, dia tidak yakin Siang Bu-gi dapat mengalahkan lawannya.

Pedagang atau pemilik hotel tertawa lebar, katanya, "Tidak jadi soal dan tidak perlu kuatir, mati satu orang kan juga bermanfaat dan menguntungkan kalian."

Siau Ma menatapnya mendelik, "Keuntungan apa?" tanyanya geram.

"Kalau mati satu orang berarti kurang pengeluaran, jatah makan minum kalian kan jadi tambah." Fajar telah menyingsing, tapi kabut masih tebal, mesti angin gunung menghembus cukup kencang, kabut tebal itu seperti tidak berujung pangkal, tidak buyar dan tidak habis- habisnya.

Baju kapas Pok Can yang tebal tampak bergoyang oleh tiupan angin, tapi orangnya berdiri kokoh dan tegap seperti gunung. Sepasang kakinya terbuka satu kaki, memasang kuda-kuda dengan berdiri tanpa gaya, berdiri santai seenaknya, pembawaannya benar-benar menciutkan nyali orang. Hanya seorang kosen atau ahli silat yang sudah

kenyang bertempur di medan laga dapat memperlihatkan gaya segagah itu.

Siang Bu-gi juga tak bergerak. Pedang masih membelit pinggangnya, dia tidak pernah turun tangan lebih dulu.

Pok Can mengangkat pipa cangklongnya lalu diisap perlahan tapi lama, tembakau di ujung pipa yang segede kelapa itu menyala benderang memercikkan lelatu api.

Dengan tatapan dingin ia mengawasi Siang Bu-gi, katanya menantang, "Aku tahu kau seorang ahli pedang."

Siang Bu-gi tidak menanggapi ocehannya.

"Oleh karena itu aku yakin kau juga tahu, bahwa tembakau dalam pipaku adalah senjata rahasia yang dapat membunuh orang."

Siang Bu-gi mengangguk. Tembakau lembut yang terbakar membara itu jauh lebih menakutkan dibanding senjata rahasia jenis apapun. "Bila sudah turun tangan, aku tidak kenal kasihan, kau boleh melancarkan jurus ilmu pedang keji apapun yang mampu kamu kembangkan."

"Untuk menang, tentu akan kulancarkan," sahut Siang Bu- gi tegas.

"Jika aku mati di bawah pedangmu, murid dan cucu muridku takkan menuntut balas."

"Bagus sekali."

"Umpama kau mengelupas kulit badanku, aku tak akan membenci atau menyalahkanmu."

"Kulitmu tidak dibutuhkan, keutuhan badanmu boleh dipertahankan."

"O."

"Kulitmu tidak tebal, sudah keriput lagi."

Siang Bu-gi memang sering mengelupas kulit badan manusia, tapi hanya satu jenis manusia yang dia kuliti, yaitu manusia yang berkulit tebal.

Lama Pok Can menatapnya, akhirnya mendesis perlahan, "Bagus sekali."

"Bagus sekali" adalah dua patah kata yang menutup pembicaraan mereka. Hanya sekejap mata pipa cangklong seberat tujuh puluh kati dengan panjang satu meter lebih itu menyapu melintang.

Pipa cangklong umumnya adalah senjata khusus untuk menutuk jalan darah, permainannya tak banyak beda dengan Boan-koan-pit yang juga khusus menyerang Hiat-to. Tapi berbeda dengan pipa cangklong Pok Can, bukan saja pembawaannya mirip tombak panjang atau toya, tipu permainannya juga diselipi dan dikombinasikan dengan permainan tongkat, ruyung lemas, kampak dan jenis senjata berat lainnya. Apalagi tembakau yang membara di kantong pipa sembarang waktu dapat disemburkan untuk melukai musuh, cahaya tembakau yang membara itu juga menyilaukan mata.

Diam-diam Siau Ma menghela napas. Betapa kenyang pengalaman Siau Ma berkelahi, musuh macam apapun pernah dihadapi, bersenjata maupun tangan kosong, tapi belum pernah melihat gaman seganas dan selincah pipa cangklong di tangan kakek tua kurus kering ini. Mau tidak mau timbul rasa was-was dalam benaknya, Siau Ma menguatirkan keselamatan Siang Bu-gi.

Pok Can sudah menyerang 18 jurus secara beruntun, sejurus pun Siang Bu-gi belum balas menyerang. Walau pipa cangklong belum menyentuh badan atau ujung bajunya, namun posisi atau keadaannya tidak lebih baik atau unggul di atas angin. Padahal permainan Kiam-hoat merupakan serangan gencar yang selalu membuat lawan bertahan, jurus tipunya tak kenal kompromi, tapi dalam beberapa gebrak ini ia justru terdesak di bawah angin, sehingga tak sempat balas menyerang. Maklum gamannya adalah pedang tipis lagi lemas, untuk memainkannya diperlukan kepandaian khusus dan tenaga yang memadai, serangan lawan sederas hujan lebat, jelas amat sukar dan tak mungkin dilawan dengan kekerasan.

"Blup", sekonyong-konyong terjadi sebuah letupan disertai cahaya api benderang dari nyala tembakau di kantong pipa cangklong itu. Di saat api membara besar itulah, kepala pipa yang berkantong sebesar kelapa menindih ke bawah dengan jurus Thay-san-ap-ting (Thay-san menindih kepala) mengepruk batok kepala Siang Bu-gi.

Siang Bu-gi sudah mati langkah dan terpojok ke sudut yang mematikan, demikian pula pedang di tangannya seperti tidak mampu balas menyerang lagi.

Di luar dugaan, pada detik-detik gawat itulah, Siang Bu-gi justru balas menyerang. Pedang itu mendadak bergerak selincah ular sakti, laksana benang sutera, pedang lemas yang disendal lurus oleh landasan tenaga dalam yang hebat, mendadak berubah menjadi lingkaran cahaya yang tak terhitung jumlahnya. Putaran cahaya yang mclingkar-lingkar itu seperti saling belit, sehingga cahaya api tembakau yang membara di kantong pipa cangklong itu redam seketika dan lenyap tak berbekas.

"Ting" kembali terdengar suara nyaring, pedang membentur pipa, di saat kembang api berpijar, pedang mendadak mental lurus dan tegak ke atas.

Dalam detik kejadian itu juga Siau Ma maklum dan menangkap maksud tujuan Siang Bu-gi.

Agaknya Siang Bu-gi menunggu dan memberi kesempatan pada Pok Can mendesak dirinya ke posisi yang terkunci langkahnya, ke sudut yang mematikan baru akan balas menyerang.

Duel dua jago kosen seumpama pertempuran dua raksasa yang baku hantam di medan laga, siapa lebih dulu menempatkan diri pada posisi yang mematikan, akhirnya akan tampil sebagai pemenang, menang berarti hidup. Ia insaf kekuatan musuh lebih tangguh, pambeknya lebih besar, maka ia memaksa dirinya menggunakan cara yang amat berbahaya ini. Diam-diam Siau Ma amat kagum, kagum setengah mati.

Mendadak Siau Ma sadar, dua tahun belakangan ini, bukan saja Siang Bu-gi bertambah bekal kepandaiannya, permainan Kiam-hoatnya lebih matang dibanding dahulu.

Ilmu pedang lihai tidak terletak pada pedangnya, tapi berada di sanubari orang yang memainkannya. Permainan pedang yang gemilang dengan kemenangan yang dicapai bukan karena permainan ilmu pedang yang lihai, tapi menang dengan akal, bukan menang karena Lwekang yang tangguh, tetapi menang karena menggunakan otak.

Siang Bu-gi menggunakan otak, maka ia menang.

Begitu pedang melenting ke atas, menyisir gagang pipa lawan.

Pok Can dipaksa menjejak kaki lalu melambung tinggi dan bersalto di udara, pakaiannya yang tebal tampak melambai, pipa cangklong yang berat itu sudah tidak berada di tangannya lagi. Untuk menyelamatkan jari-jarinya dari tebasan pedang lemas yang menyisir pipanya, terpaksa ia melepas dan membuang senjata. Kehilangan senjata lebih mending daripada tangan buntung. Pertarungan jago kosen kalau senjata sampai dilucuti lawan, bukan saja kalah, hal ini merupakan penghinaan pula.

Waktu kaki Pok Can menginjak bumi, roman mukanya tampak pucat pias, sikap angkuh dan wibawa yang kereng tadi sudah tak berbekas lagi.

Pedang Siang Bu-gi juga lenyap, pedang itu kembali ke sarungnya. Mendadak Pok Can menghardik beringas, "Cabut lagi pedangmu!"

Siang Bu-gi menyeringai, "Kau masih ingin bertarung?"

"Pedang untuk membunuh orang, bukan untuk hiasan!" "Aku sudah bilang tidak akan menguliti dirimu. Jika kau

tewas, mana ada kulit yang ditinggalkan?"

Jari-jari Pok Can mengepal kencang, tangannya gemetar, lututnya goyah. Hanya beberapa kejap saja, roman mukanya yang tepos kelihatan lebih tua sepuluh tahun.

Karena Siang Bu-gi tidak mau membunuhnya, terpaksa ia menyingkir, pergi meninggalkan hotel Damai. Sebagai jago silat, meski sudah kalah, ia ingin bertarung sampai titik darah penghabisan, sayang sekali Siang Bu-gi sudah menyimpan pedang, terpaksa ia menyingkir dari tempat itu.

Mati ternyata tidak mudah, keinginan mati di medan laga susah tercapai. Padahal usianya sudah lanjut, badan sudah renta, hidup ini takkan lama lagi. Orang yang berusia lanjut sudah meresapi pahit getir kehidupan, betapapun hidup lebih menyenangkan daripada mati, kehilangan jiwa harus dibuat sayang.

* * * * *

Kabut makin tipis.

Bayangan Pok Can telah lenyap ditelan kabut, pipa cangklong itu menggeletak di tanah, tembakau yang tadi membara di kantong pipa sudah padam. Mata Lan Lan seperti bercahaya, katanya lega, "Setelah kalah, mungkin dia takkan datang lagi."

Siau Ma berkata, "Ya, sesuai janjinya sendiri, ia tak akan datang, murid dan cucu muridnya juga tidak akan mengganggu kita."

Mereka tahu serigala tua ini amat disegani dan besar wibawanya, ditakuti karena kekuasaannya besar.

Pedagang atau pemilik hotel Damai yang sejak tadi menonton di samping mendadak tertawa, katanya, "Ternyata jumlah orangnya tidak berkurang, kalian boleh minum dua cangkir lebih banyak."

"Lho, kenapa?" tanya Siau Ma.

Pedagang itu tertawa lebar. "Karena Kiam-hoat tuan ini hebat luar biasa," demikian katanya, "aku amat kagum, aku terpesona."

"Aku juga kagum," mendadak seorang menyeletuk dari belakangnya.

Bila orang banyak membalik badan, seseorang telah berada dalam rumah itu, seorang berpakaian pelajar dengan mahkota tinggi, tangan memegang kipas lempit.

Long-kuncu akhirnya muncul.

* * * * *

Tanggal 13 bulan 9, pagi. Cuaca cerah tetapi berkabut.

Berada di ruang makan hotel Damai, rasanya memang tenteram dan damai. Semuanya duduk tenang, duduk sewajarnya. Long-kuncu seperti ingin bersikap ramah, sopan sebagai orang sekolahan.

Tapi Siau Ma justru tidak sopan, sikapnya kasar dan temberang, ia sambut kedatangan Long-kuncu dengan pandangan tajam menyelidik, tinjunya terkepal siap menghajar hidungnya.

Un Liang-giok seperti tidak melihat dan tidak peduli akan sikap Siau Ma yang kasar, dengan senyum ramah ia berkata, "Semalam suntuk kalian berjerih payah, sampai sekarang belum tidur dan tak sempat istirahat."

"Hm," Siau Ma menggeram dalam mulut.

Lan Lan tertawa ramah, katanya, "Payah memang benar, syukur kita sudah aman dan tenteram di sini."

"Jik-lopan (juragan Jik)," mendadak Un Liang-giok memanggil.

Pedagang atau pemilik hotel mengiakan sambil menghampiri, katanya dengan tertawa lebar, "Hamba ada di sini."

Un Liang-giok berkata, "Bikinkan beberapa macam nyamikan, panaskan beberapa kati arak, rekeningnya aku yang bayar."

Mendadak Siau Ma menyeringai dingin, "Juragan Jik akan kelarisan hari ini. Sebaliknya usahamu justru gagal total, kenapa kamu muncul di babak terakhir malah?"

"Berdagang dan menjamu tamu adalah dua persoalan yang berbeda, jangan disamaratakan." Dengan senyum ramah Un Liang-giok menjawab. "Usahamu gagal, tapi mau menjamu kami?" Siau Ma menegas.

"Kalian datang dari jauh, di sini aku tuan rumah, kan pantas Cayhe bersikap ramah terhadap tamunya."

"Baik, keluarkan mangkuk besar," seru Siau Ma ke dalam. "Semalam kau tidak tidur," Lan Lan membujuk, "perut

masih kosong, jangan minum arak."

"Setelah berada di sini, sia-sia kalau tidak minum," demikian ujar Siau Ma bandel, "biar mampus juga tidak jadi soal."

Un Liang-giok tertawa sambil keplok, "Betul, memang demikian, mumpung bisa dan ada kesempatan minum. Kalau tinjumu sudah tiada, bagaimana kau bisa minum?"

"Kau ingin membeli sepasang tinjuku?" tanya Siau Ma. Un Liang-giok hanya tersenyum saja.

"Baiklah, sekarang juga boleh kuserahkan kepadamu," belum habis Siau Ma bicara, mendadak tinjunya menggenjot. Jotosan telak lagi cepat, begitu cepatnya sehingga sukar diikuti pandangan mata.

Agaknya Un Liang-giok sudah siaga, sudah memperhitungkan serangan tinju Siau Ma, cepat sekali dia menjatuhkan tubuh terus menggelundung pergi bersama kursi yang didudukinya. Ternyata Un Liang-giok tidak marah, senyum ramah masih menghias wajahnya, "Arak belum disuguhkan, apa kau sudah mabuk?" "Siau Ma tidak pernah mabuk," Lan Lan menjawab tegas.

Un Liang-giok tidak membantah atau mendebat, sikapnya tetap sopan, "Mungkin kuda binal dilahirkan untuk menghajar orang."

Lan Lan tertawa menggiurkan, "Dugaanmu keliru lagi." "Keliru?" Un Liang-giok menegas.

"Kalau tidak perlu, Siau Ma tidak suka menghajar orang, kecuali menghajar dirimu seorang."

"O, hanya aku yang dijadikan sasaran?"

"Bukan hanya Siau Ma yang ingin menghajar kamu, setiap orang yang ada di sini semua ingin menghajar hidungmu!"

"Aku tidak ingin menghajarnya," tiba-tiba Siang Bu-gi menyeletuk.

"Kau tidak ingin menghajarnya? Habis akan kau apakan?" tanya Lan Lan.

"Aku hanya ingin mengelupas kulit badannya," sahut Siang Bu-gi.

Un Liang-giok masih bersikap ramah, tidak marah meski disindir dan diejek secara pedas, malah berkata dengan tawa lebar, "Kabarnya adikmu sedang sakit, apa benar?"

"Ehm," Lan Lan bersuara dalam mulut.

"Apa dia adik sepupumu?" tanya Un Liang-giok penuh perhatian. "Ehm," Lan Lan mengiakan. "Demikian pula Ma-kongcu ini?" Lan Lan geleng kepala.

"Apa jiwa adik kandungmu lebih berharga dibanding sepasang tinju si Kuda Binal?"

"Sayang tinju itu tumbuh di badannya," ucap Lan Lan kalem.

Un Liang-giok terbahak-bahak, "Nona bilang demikian, apa tidak terlalu sungkan?"

"Kenapa?" tanya Lan Lan heran.

"Nona mahir menggunakan Am-gi, senjata rahasia selihai itu belum pernah Cayhe melihatnya selama ini."

Un Liang-giok seperti sengaja membongkar rahasia Lan Lan, ternyata cewek ini tidak kaget atau heran, sikapnya wajar dan tenang, katanya kalem, "Pandangan tuan memang tajam."

"Dua nona cilik di pinggir itu adalah jago pedang yang kosen, mereka dilatih dan meyakinkan kepandaian khusus. Jika kau menginginkan sepasang tinju si Kuda Binal, kurasa segampang mengambil barang dalam kantong baju sendiri."

Lan Lan tertawa, "Kalau mereka mengambil sepasang tinjumu, apakah semudah merogoh uang dalam sakumu?"

Mimik muka Un Liang-giok mulai kurang wajar, "Agaknya kontrak dagang yang kau inginkan tidak akan terkabul." "Persetan dengan kontrak dagangmu!" jengek Siau Ma.

"Kapan nona mau meninggalkan tempat ini?" tanya Un Liang-giok.

"Kami tidak akan lama di sini, cepat atau lambat setelah cukup beristirahat kami akan berangkat lagi."

"Bagus. Kalau begitu Cayhe mohon diri saja," Un Liang- giok bicara sambil menjura, lalu membuka kipas lempit serta beranjak keluar.

"Tunggu dulu," mendadak Siau Ma berseru, belum lenyap suaranya bayangannya sudah menghadang di depan pintu.

Un Liang-giok tetap tenang, "Masih ada urusan lain?"

"Ya, masih ada yang belum kau lakukan," jengek Siau Ma. "Urusan apa belum kulakukan?" tanya Un Liang-giok. "Membayar rekening."

Un Liang-giok tertawa lucu.

"Dagang adalah dagang, mentraktir orang harus bayar, bukankah kau sendiri yang bilang demikian?" demikian semprot Siau Ma.

Un Liang-giok tidak menyangkal, ia mengangguk. "Konsuken tidak kau dengan ucapanmu? Sebelum

membayar rekening, jangan harap bisa keluar dari pintu ini." Sambil menggerakkan kipasnya, Un Liang-giok membalik dan duduk kembali di kursinya semula, suaranya kalem, "Kukira kau perlu memahami persoalan."

Siau Ma mendengarkan.

"Aku sudah tidur, makan kenyang dan banyak istirahat, kalian justru sebaliknya. Kalian masih harus menggunakan banyak tenaga untuk melewati gunung ini, kalau keadaan tetap seperti ini, posisi dan kondisi kalian jelas tidak menguntungkan," dengan senyum lebar ia melanjutkan, "selama kalian berada di hotel Damai, sesuai peraturan yang berlaku di sini, siapa pun tidak boleh berkelahi atau melukai orang, kalau kalian berani melanggar peraturan, kurasa sukar kalian berpijak lebih lama di Long-san."

Merah padam muka Siau Ma menahan amarah, marah karena tahu ancaman Un Liang-giok itu serius dan bukan gertak sambal.

Thio-gongcu mendadak menyeletuk, "Apa benar kau tidak mau membayar rekening?"

"Kalian bukan tamuku, kenapa aku harus mentraktir kalian?"

"Baiklah, kalau kau tidak mentraktir, biar aku yang melunasi rekeningnya," demikian ujar Thio-gongcu kalem.

Un Liang-giok tertawa besar sambil mendongak, mendadak kipasnya terayun dan berputar, bayangannya bertaburan menimbulkan deru angin, deru angin tajam yang membuat orang banyak memejamkan mata sekejap. Ketika orang banyak membuka mata, bayangan Un Liang-giok sudah lenyap. Tak tahan Lan Lan memuji, "Kepandaian bagus!"

Juragan Jik tertawa lebar, katanya, "Pandangan nona memang tajam, kecuali Cu Ngo Thay-ya, kungfu Un Liang-giok terhitung paling bagus di Long-san."

"Kau pernah melihat Cu Ngo Thay-ya?" tanya Lan Lan pula.

"Sudah tentu pernah," sahut juragan Jik.

"Bagaimana cara untuk bertemu dengannya," tanya Lan Lan.

Juragan Jik tampak ragu-ragu, "Nona ingin bertemu dengan beliau?" tanyanya.

"Konon Cu Ngo Thay-ya orang luar biasa, setiap patah katanya adalah perintah. Aku sedang berpikir " sorot mata

Lan Lan bercahaya. "Kalau kami dapat bertemu dengan beliau, lalu beliau memberi izin dan membiarkan kami lewat dengan selamat, orang lain tentu tidak berani menghadang kami.

Untuk lewat dan sampai di tempat tujuan dengan aman dan selamat, kurasa hanya cara ini yang harus kita lakukan."