Kuda Binal Kasmaran Bab 08

 
Bab 08

Di jalan pegunungan yang turun naik dan tidak rata itu, menghadang sebuah batu gunung raksasa. Laki-laki timpang baju hitam itu berdiri di batu gunung raksasa ini, sepasang matanya memancarkan cahaya gemerdep di tengah kegelapan.

Ternyata Siang Bu-gi yang berada di buntut barisan juga sudah tahu munculnya laki-laki timpang baju hitam ini, segera dia memburu ke depan barisan, dengan menekan suara bertanya, "Terus terjang? Atau berhenti di sini?"

Siau Ma menurunkan tandu. Dia tahu, main terjang jelas tak mampu lewat. Batu gunung raksasa itu terletak di tempat yang berbahaya, tempat berbahaya cukup dijaga oleh seorang, puluhan musuh juga jangan harap dapat menerobos lewat. Apalagi di belakang batu gunung itu, banyak anak buahnya siap menyergap.

Perlahan Cen Cu bertanya kepada sang taci, "Bagaimana keadaanmu?"

Cen Cen berkata, "Aku hanya ingin mengganyang kura- kura."

"Kau masih mampu membunuh orang?" tanya Cen Cu. Cekak tapi tegas jawaban Cen Cen, "Bisa."

"Mari kita membunuhnya," kata Cen Cu. "Hayolah."

Mendadak kedua kakak beradik menerjang lewat kanan kiri tandu, waktu menerjang, pedang mereka sudah terhunus.

Anak muda umumnya tidak kenal arti takut. Bukan saja masih muda, jalan pikiran mereka masih kanak-kanak. Kanak-kanak tidak tahu artinya mati. Dua anak dua batang pedang, menerjang ke atas batu raksasa hendak membunuh laki-laki timpang baju hitam. Kejadian tidak terduga, semua kaget terpesona, ingin menariknya juga sudah terlambat.

Laki-laki timpang baju hitam berdiri sambil menggendong tangan, berdiri sambil menyeringai dingin.

Cen Cen berkata, "Kita ganyang dia, coba masih bisa tertawa tidak?"

"Tawanya lebih jelek dibanding kentut bebek, aku lebih senang mati daripada mendengar tawanya," Cen Cu mengolok dengan tertawa.

Kalau mereka mati tentu takkan mendengar suara tawa orang, langkah mereka berarti mengantar kematian. Mereka memang mempertaruhkan jiwa.

Walau laki-laki timpang baju hitam belum turun tangan, namun melihat sorot matanya, sikap dan gayanya, siapa pun belum tahu bahwa laki-laki timpang ini jagonya jago silat kosen. Batu raksasa dimana dia berdiri terletak di tempat yang berbahaya, berada di atas menghadapi serangan dari bawah. Di belakang batu raksasa ada anak buahnya yang siap bertindak bila mendengar perintah. Persoalan ini tidak terpikir atau memang tidak diketahui oleh kakak beradik ini.

Syukurlah masih ada orang lain yang menduga akan hal ini. Di saat kedua kakak beradik ini hampir mencapai batu raksasa, mendadak selarik bayangan mendesir lewat di tengah mereka, lalu berhenti tak jauhi di depannya. Kedua kakak adik ini belum sempat melihat siapa orang yang menerobos lewat di samping mereka, dengan keras mereka sudah saling bertumbukan. Orang itu tidak bergeming sedikitpun, namun kedua kakak beradik itu malah terpental mundur sempoyongan, hampir saja jatuh terduduk.

Orang itu tetap berdiri tegak, menoleh pun tidak, tapi Cen Cu berdua sudah melihat jelas siapa dia, hanya melihat bayangan punggung saja, orang akan tahu siapa dia. Orang itu bertubuh kurus sekali, punggungnya agak melengkung, setengah bungkuk, tapi pinggangnya tegak dan tegap.

Tangannya panjang, bila dilurusksn ke bawah, jari tangannya hampir menyentuh lutut.

Peduli apa yang terjadi di belakangnya, jarang dia menoleh ke belakang. Orang ini adalah Siang Bu-gi.

Cen Cu berteriak lebih dulu, "Apa yang kau lakukan?" Cen Cen ikut berkata, "Apa kau sinting?"

Siang Bu-gi tidak menjawab, juga tidak menoleh. Dia menatap laki-laki timpang di atas batu gunung besar itu.

Laki-laki timpang berbaju hitam sedang menyeringai dingin, mendadak dia berkata, "Kau pasti sinting."

Siang Bu-gi tetap tidak bersuara.

"Kau menolong mereka, mereka malah memaki engkau, orang yang tidak sinting, mana mau berbuat sebodoh ini."

Siang Bu-gi diam saja.

"Sebetulnya kau tolong mereka atau tidak sama saja, jiwa mereka sudah tergenggam di tanganku, tiada ampun bagi orang yang berdosa di tempat ini." Mendadak Siang Bu-gi berkata, "Kau punya tangan, kenapa tidak turun tangan."

"Aku tidak perlu melakukan," habis dia bicara, dari tempat gelap sekaligus muncul seratus orang berbaju hitam, umpama tidak genap seratus pasti ada delapan puluh orang.

Laki-laki timpang baju hitam berkata, "Pedangmu sangat cepat."

Siang Bu-gi membungkam.

Laki-laki timpang berkata pula, "Kau memiliki sebatang pedang bagus."

Siang Bu-gi tak menyangkal. Siapa pernah menyaksikan permainannya, pasti tak berani menyangkal, pasti mengakui bahwa pedang lemas miliknya itu adalah gaman bagus, pedang mestika yang luar biasa.

Laki-laki timpang baju hitam berkata pula, "Tinju anak muda yang memikul tandu itu juga tinju bagus, jotosannya luar biasa."

Tinju Siau Ma tidak bagus, tinju Siau Ma suka menghajar orang, terutama membuat hidung orang ringsek, kebiasaan jelek ini jelas tidak bagus. Tapi sepasang tinju itu memang cepat, teramat cepat, keras lagi.

Laki-laki timpang berkata, "Saudara-saudaraku ingin mencoba kecepatan tinjunya."

Lalu dia batuk-batuk dua kali. Sudah tentu suara batuknya berbeda dengan batuk si pasien dalam tandu. Medengar suara batuknya, Cen Cen dan Cen Cu berubah air mukanya. Walau mereka tidak takut mati, tapi dua kali pertempuran sengit yang sudah mereka alami tadi, masih segar dalam ingatan mereka. Sampai sekarang belum sempat mereka melupakan apa yang terjadi dengan pembantaian manusia tadi.

Begitu suara batuk berkumandang, pertanda pertempuran adu jiwa yang ketiga akan segera berlangsung. Pertarungan ketiga ini jelas lebih kejam, lebih berbahaya juga lebih seru. Bila pertempuran usai, berapa jiwa manusia akan ketinggalan hidup?

Sungguh tak terduga, di kala suara batuknya baru saja berkumandang di udara, suara kokok ayam berkumandang di kejauhan.

Sikap laki-laki timpang tampak berubah, kelihatan tertegun sejenak, lalu mengulap tangan, kawanan serigala yang siap menerkam serempak menghentikan gerakan.

* * * * *

Halimun tampak mulai mendatang dari depan gunung sana.

Dari arah datangnya halimun, berkumandang suara alat musik yang aneh lagi ganjil iramanya, cepat enteng mengandung daya tarik yang simpatik lagi menggelora semangat. Manusia mana pun meski dia sudah patah semangat, putus asa atau frustasi umpamanya, setelah mendengar irama musik yang satu ini, perasaannya pasti berubah, keinginan timbul, gelora hidup akan membara.

Laki-laki timpang baju hitam berdiri di atas batu gunung besar itu sudah menghilang. Demikian pula kawanan serigala malam lenyap ditelan gelap. Kokok ayam jantan bersahut-sahutan di kejauhan, fajar akan segera menyingsing, namun tabir gelap justru makin pekat.

Fajar hari ini kenapa datang lebih cepat dari biasanya? Irama musik masih terus mengalun merdu.

Siau Ma mengepal tinju dengan mengendorkan sekujur badan, bila dia membuka telapak tangan, didapatinya telapak tangannya basah oleh keringat dingin.

Lan Lan menarik napas panjang. Bagaimanapun juga malam yang penuh bahaya ini berakhir. Syukur pertempuran besar yang menentukan mati hidup mereka tidak terjadi.

Walau rona muka Siang Bu-gi tidak berubah, tidak menampilkan perubahan perasaan hatinya, namun sepasang bola mata yang memicing perlahan terpentang lebar.

Akhirnya dia menoleh lalu membalik badan, dilihatnya sepasang mata kakak beradik cewek ayu itu tengah mengawasi dirinya dengan pandangan menyala. Cadar hitam yang membungkus muka mereka sudah terjatuh. Walau luka- luka di wajah belum sembuh, tapi sepasang mata mereka yang indah, memancarkan cahaya terang, mengandung rasa haru, terima kasih lagi simpatik.

Mendadak kakak beradik ini memburu maju, satu di kanan yang lain di kiri, mereka memeluk Siang Bu-gi, lalu "Ngok" dengan mesra mencium pipinya.

Cen Cen berkata, "Ternyata kau bukan orang jahat." Cen Cu juga berkata, " Ternyata kau punya perasaan." Terunjuk perubahan mimik di wajah Siang Bu-gi, wajahnya menampilkan perasaan hatinya, namun siapa pun sukar mengatakan perasaan apa yang terkandung dalam sanubarinya.

Siau Ma tertawa lebar. Lan Lan juga tertawa lega. Dua orang ini beradu pandang sejenak, kerlingan mata mereka mengandung pandangan mesra dan manisnya cinta.

Kehidupan amat berharga. Betapapun kehidupan manusia mengandung rasa hangat dan kasih sayang, riang dan gembira.

Siau Ma berkata, "Walau wajahnya kaku dingin, tapi hatinya panas membara."

Lan Lan menatapnya, katanya lirih tapi mesra, "Kelihatannya kau pun mirip dia."

Mendadak Siang Bu-gi berkata dingin, "Kenyataan kita belum mampus, kaki juga belum patah, kenapa perjalanan tidak dilanjutkan.?"

Cen Cen tertawa riang, katanya jenaka, "Sekarang biar dia bersikap galak, aku tidak takut lagi."

Cen Cu juga berkata, "Sekarang kami sudah tahu, dia bersikap garang untuk menakuti orang lain."

Percakapan kakak beradik ini dilakukan setengah berbisik, tapi sengaja mereka berlaku berani supaya didengar oleh Siang Bu-gi. Saat menoleh ke arah mereka, dengan cekikikan kedua kakak beradik ini lari menyingkir.

Siau Ma tertawa besar, tandu segera diangkatnya, tapi baru saja tandu terangkat, suara tawanya pun sirap seketika. Mendadak dia melihat tiga pasang mata sedang melotot ke arahnya. Tiga pasang mata yang mencorong hijau seperti bola mata serigala, sorot mata yang mengandung perasaan dan harapan aneh, keinginan atau luapan hati yang penuh gelora birahi.

* * * * *

Ada kehidupan pasti ada birahi, ada nafsu. Tapi nafsu juga ada bermacam-macam. Ada nafsu yang mengangkat derajat manusia, ada pula nafsu yang membuat manusia sengsara, meruntuhkan moral manusia.

Nafsu yang terkandung di tiga pasang mata ini adalah nafsu yang dapat meruntuhkan martabat manusia. Bukan saja dapat meruntuhkan iman orang lain, juga akan meruntuhkan diri sendiri.

Kenapa manusia harus meruntuhkan diri sendiri? Apakah karena mereka sudah kehilangan kesadaran? Sudah tidak punya kepribadian?

Kini Siau Ma melihat jelas, tiga pasang mata ini adalah milik tiga muda mudi yang tadi bertemu dengan mereka. Pemuda dengan rambut awut-awutan mirip orang gelandangan yang sudah belasan hari tidak mandi. Gadis dengan sepasang paha yang jenjang dan payudara yang montok padat. Kenapa mereka putar balik setelah le-nyap dalam hutan tadi?

Siau Ma melengos ke arah lain, tidak mau atau tidak berani beradu pandang dengan mereka, padahal besar hasratnya melihat paha yang jenjang, dan payudara yang merangsang menggiurkan itu. Tapi Siau Ma masih dapat mengendalikan diri. Setelah meresapi pahit getirnya cinta, setelah tergembleng oleh siksa lahir batin selama ini, Siau Ma bukan pemuda yang suka emosi, bukan orang yang gampang dipancing amarahnya lalu bertindak semena-mena.

Gadis cantik itu sedang menatapnya, mendadak dia berteriak dari kejauhan, "Hai!"

Tak tahan Siau Ma menoleh, "Kau panggil siapa?" "Kau," sahut gadis itu.

"Aku tidak mengenalmu."

"Kenapa harus kenal kau, kalau tidak kenal apa tidak boleh memanggilmu?"

Siau Ma melenggong. Tiada manusia yang sejak dilahirkan lantas kenal satu dengan yang lainnya, apa yang dikatakan gadis ayu ini rasanya cukup beralasan dan masuk akal.

"Hai!" gadis itu berteriak pula. "Namaku bukan 'Hai'."

"Siapa namamu?"

"Orang memanggil aku Siau Ma."

"Aku justru suka memanggil kau 'Hai', asal kau tahu aku sedang memanggilmu saja."

Kembali Siau Ma tertegun.

Panggilan antara manusia dengan manusia memang tiada peraturan khusus, kalau orang boleh memanggil dengan tuan, nona, saudara dan Iain-lain, kenapa tidak boleh memanggil dengan 'Hai'.

Pikiran dan sikap gadis ayu ini memang eksentrik, amat aneh dan khusus, jauh berbeda dengan kebanyakan orang. Tapi kedengarannya juga mempunyai alasan dan pengertian yang dapat dimaklumi oleh siapa pun.

"Hai!" kembali gadis ayu itu berseru.

Siau Ma menjawab, "Untuk apa memanggil aku." Gadis ayu itu berkata, "Hayo ikut aku."

Siau Ma melenggong, katanya, "Kenapa ikut kau?"

"Aku suka padamu," jawaban terus terang yang mengejutkan orang.

Biasanya Siau Ma hidup dalam lingkungan bebas, tidak pernah terkekang oleh adat istiadat, seperti kuda liar yang binal, apa yang ingin diucapkan, tanpa tedeng aling-aling dia lontarkan. Maklum jika dia tidak menduga gadis ayu ini juga melontarkan omongannya itu.

Mendadak Lan Lan menyeletuk, "Dia tidak boleh ikut kau." "Kenapa?" tanya gadis ayu terbelalak.

"Aku menyukainya, aku lebih suka dia dibanding kau," ucapannya mengejutkan, karena ucapannya itu merupakan provokasi yang mungkin sekali mengundang perkelahian dua orang yang berebut kekasih.

Di luar dugaan, gadis ayu itu seperti maklum, seolah-olah merasa apa yang diucapkan Lan Lan masuk akal, dengan penuh pengertian dia balas bertanya, "Bila dia pergi, apakah kau bersedih?"

"Pasti sedih sekali," sahut Lan Lan.

"Sedih itu tidak baik, aku tidak senang membuat orang sedih."

"Kalau begitu, lekas kau pergi saja."

Gadis ayu itu berkata, "Kalian berdua boleh ikut bersamaku."

"Kenapa harus ikut kau?" tanya Lan Lan.

"Karena di tempat itu amat menyenangkan, setiba di sana, kalian pasti hidup senang."

Pemuda rambut panjang yang tidak keruan menyeletuk, "Di tempat kami hanya ada senda gurau, hidup bebas, riang gembira, tiada peraturan yang mengekang gerak-gerikmu, ada musik, bisa menari, tiada. "

"Musik!" mendadak Siau Ma menukas.

Irama musik yang merdu masih berkumandang di kejauhan.

Siau Ma bertanya, "Itukah musik kalian?"

Pemuda rambut panjang berkata, "Setiap ada prosesi penyembahan harus ada musik."

Musik dan upacara umumnya memang tidak pernah terpisah. Siau Ma tertarik, timbul rasa ingin tahu, tanyanya, "Apakah yang kalian sembah?"

"Surya," sahut pemuda rambut panjang.

"Sekarang masih gelap, masih malam, malam hari mana ada surya?" tanya Siau Ma.

Pemuda gondrong berkata, "Upacara penyembahan hari ini datang lebih dini dari biasanya."

"Kenapa?"

Pemuda gondrong itu tertawa, katanya sambil menepuk kepala gadis ayu di sebelahnya, "Karena dia menyukaimu."

Siau Ma segera mengerti. Bila musik upacara yang mengiringi penyembahan berbunyi, itu berarti fajar sudah akan menjelang.

Kawanan serigala malam itu seumpama setan atau dedemit, bila tabir malam lenyap, malam berganti pagi, maka mereka harus lenyap dari mayapada ini.

Lan Lan menyeletuk, "Umpama betul kalian menolong kami, dia tetap tidak boleh ikut kau."

"Dan kau?" tanya gadis ayu.

"Orang-orang di sini tiada satu pun yang boleh ikut kau," Lan Lan menegaskan.

Gadis ayu berkata, "Aku tidak suka memaksa orang, tapi bila kalian mau datang, siapa saja tidak pandang bulu, kami akan menyambut dengan gembira." Suaranya mengandung daya tarik, undangan yang menawan, "Asal kalian menuju ke arah datangnya suara musik, kalian akan menemukan kami, kalian akan menemukan taman firdaus, meresapi hidup bebas, riang gembira yang tiada taranya, aku berani tanggung, kalian pasti takkan menyesal." Ketika dia membalik tubuh, kebetulan angin menghembus kencang, maka belahan baju di bagian pahanya tersingkap, sehingga paha yang jenjang mulus terpampang di mata Siau Ma.

Bola mata Lo-bi melotot terpesona, bagai kelereng yang hampir mencotot jatuh.

Gadis yang dadanya tersingkap mendadak menghampiri Cen Cen dan Cen Cu. Sejak tadi gadis jelita ini terus mengawasi mereka. Sorot matanya seperti mempunyai daya gaib, tenaga iblis yang tak dapat dilawan, kakak beradik itu seperti terpesona dan terpengaruh alam pikirannya.

Waktu gadis yang tersingkap baju dadanya berada di depan mereka, ternyata keduanya berdiri kaku diam. Dengan mesra gadis montok itu memeluk, lalu berbisik-bisik di pinggir telinga mereka. Jari-jari tangannya mengusap dan mengelus pinggang mereka.

Sorot mata Cen Cen dan Cen Cu mendadak menjadi pudar, bola matanya seperti diselimuti halimun, matanya merem melek seperti menikmati sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang mengasyikan. Setelah gadis itu pergi jauh dan tidak kelihatan, mereka belum juga sadar.

Setelah ketiga muda-mudi itu pergi cukup lama, baru Lan Lan menghela napas lega, katanya, "Dua gadis itu seperti iblis."

"Bagaimana dibanding engkau?" goda Siau Ma tertawa. Lan Lan tidak menanggapi, ia menghampiri Cen Cen dan Cen Cu, katanya, "Apa yang dia bisikkan pada kalian?"

Merah jengah muka Cen Cen, katanya, "Dia ... dia tanya apakah kami masih perawan?"

Sudah tentu mereka masih perawan, seratus persen halal. "Apa pula yang dia katakan?" tanya Lan Lan pula.

Lebih merah muka Cen Cen, mulutnya megap-megap sukar mengucap sepatah kata pun.

Waktu Lan-Lan mendesak lagi, pasien dalam tandu mulai batuk-batuk. Kali ini batuknya lebih kerap, lebih keras dan napas pun ngos-ngosan. Memang ada sejenis penyakit yang hanya kumat di kala fajar menyingsing. Kalau sudah kumat, pasti fatal, obat apa-pun tak dapat menahannya.

Sorot mata Lan Lan memancarkan rasa prihatin dan kuatir, katanya, "Apapun yang akan terjadi, kita harus mencari tempat untuk istirahat." Matanya tertuju ke arah Siang Bu-gi.

Ternyata Siang Bu-gi tidak menentang, dia juga tahu bahwa mereka memang perlu istirahat. Tapi di gunung serigala ini, di tempat mana mereka bisa istirahat secara tenang dan tenteram? Setiap jengkal tanah di wilayahnya ini tiada tempat berpijak untuk mereka.

Lan Lan menoleh ke arah Thio-gongcu, katanya, "Kau pernah ke Long-san?"

Thio-gongcu manggut-manggut. Beberapa tahun yang lalu dia pernah kemari, waktu itu gunung ini belum ada serigala manusia sebanyak ini, maka dia masih selamat dan turun gunung tanpa kurang suatu apapun. "Orang-orang di sini banyak berubah, tetapi keadaan gunung kurasa tak banyak berbeda," demikian kata Lan Lan.

Thio-gongcu mengangguk.

"Aku yakin kau dapat mengingat tempat dimana kita bisa beristirahat dengan tenteram."

"Aku sedang berpikir," ucap Thio-gongcu.

Sudah lama dia berpikir, setiap pelosok tempat di sini yang pernah dia kunjungi sudah dipikirkan, sayang dia tidak yakin di tempat itu mereka akan selamat.

Di saat mereka kebingungan, mendadak seorang berkata, "Kalian tidak usah cari tempat, dipikir sampai otak pecah juga takkan menemukan tempat aman di sini, tapi aku bisa menunjukkan dan membawa kalian ke tempat aman."

* * * * *

Rembulan dan bintang sudah tenggelam, secercah cahaya putih menongol di ufuk timur.

Tapi orang ini memegang sebuah lampion kecil, lampion merah yang masih menyala, dengan langkah setengah diseret dia turun dari atas batu gunung.

Dandanan dan sikap serta tindak-tanduk orang ini mirip pedagang keliling yang menjajakan dagangan, seorang manusia yang betul-betul normal, seperti orang yang pernah mereka lihat sejak berada di daerah Long-san. Sikap orang ini kelihatan ramah, sopan dan ingin bersahabat.

"Siapa kau?" tegur Siau Ma. Orang itu tertawa, katanya, "Kalian tak usah kuatir, aku orang dagang, bukan serigala."

"Di Long-san juga ada pedagang?" tanya Siau Ma. "Hanya ada satu, orang itu adalah aku," ucap orang itu,

dengan tertawa dia menjelaskan, "Karena hanya aku seorang, maka sampai sekarang aku tetap bertahan hidup."

"Kenapa demikian?" tanya Siau Ma.

Pedagang itu menerangkan, "Hanya aku yang bisa berdagang dengan kawanan serigala yang memerlukan berbagai keperluan yang diinginkan, aku memnuhi kebutuhan hidup mereka, tanpa kehadiranku di sini, banyak persoalan atau pekerjaan di sini menjadi terbengkalai.

Setelah memadamkan lampionnya dia menghirup napas segar lalu menjelaskan lebih lanjut, "Kawanan serigala itu hanya pandai membunuh dan merampas harta orang, mereka tidak pandai berdagang."

"Dagang apa yang kau kerjakan?" tanya Siau Ma. "Dagang apa saja kukerjakan, aku menerima barang-

barang mereka, katakanlah tukang tadah, lalu kujual di kota

sekitarnya, aku juga sering mencarikan cewek untuk mereka."

Siau Ma tertawa, "Hal itu memang amat penting."

Pedagang itu tertawa, katanya, "Sudah tentu, jauh lebih penting dari pekerjaan apapun."

"Oleh karena itu mereka tiada yang tega membunuh kau." "Kalau mereka mau membunuh aku semudah memites semut, memites seekor semut apa manfaatnya bagi mereka?"

"Ya, tidak berguna."

"Oleh karena itu, selama beberapa tahun ini aku aman sentosa, mondar mandir leluasa."

"Lalu kau mau mengajak kami kemana?" "Ke hotel damai."

"Apa di Long-san ada hotel?" "Ya, hanya ada satu."

"Siapa yang membuka hotel itu?" "Aku, aku pemiliknya."

"Apa betul di hotelmu itu aman?"

"Siapa saja asal berada di hotelku, kutanggung selamat dan damai."

"Kau yakin apa yang kau ucapkan benar?"

"Aku sudah membuat kontrak dengan mereka, Cu Ngo Thay-ya juga setuju."

Siapa saja tahu apa yang diucapkan Cu Ngo si tuan besar adalah perintah, tiada penghuni gunung serigala ini yang berani menentang perintahnya. Dahulu tiada, sekarang juga belum pernah ada, kelak juga pasti takkan ada orang berani menentang. Pedagang itu berkata pula, "Tidak jarang Cu Ngo Thay-ya suruh aku melakukan sesuatu untuk beliau, karena beliau juga tahu, orang yang berani lewat Long-san pasti punya keperluan penting, tiada orang mau tinggal seumur hidup di hotelku."

"Oleh karena itu, bila mereka mau turun tangan, kesempatan masih banyak."

"Oleh karena itu, mereka memberi fasilitas kepada aku untuk berdagang kecil-kecilan, karena apa yang kukerjakan, hakikatnya tidak mengganggu juga tidak merugikan mereka."