Kuda Binal Kasmaran Bab 06

 
Bab 06

Thio-gongcu menghela napas lega. Thi Sam-kak sebaliknya menyeringai sadis.

Siau Ma menghela napas, katanya, "Sayang sekali golok besar itu mengancam lehernya, orang lain menuntut jiwanya atau tidak? Yang terang aku tidak berdaya menolongnya."

"Agaknya kau mulai mengerti," jengek Thi Sam-kak. "Tapi ada satu hal justru aku tidak paham."

"Kau boleh tanya." "Golok kalian kelihatannya dapat bergerak dengan cepat." "Ya cepat sekali."

"Dengan golok seperti itu, untuk memenggal kepala orang, kelihatannya bukan kerja yang susah dilakukan."

"Sedikitpun tidak sukar."

"Kenapa tidak segera kau penggal?" "Menurut pendapatmu?"

"Apakah karena belakangan ini kau banyak makan kenyang dan iseng, kau ingin mempermainkan jiwa orang lain untuk menghibur diri?"

"Cara menghibur diri seperti itu kurasa kurang menyenangkan."

"Jadi kau hendak mengancam aku dengan jiwa mereka, kau ingin aku melakukan sesuatu untuk kalian?"

"Pertanyaanmu kali ini betul." "Kau ingin aku melakukan apa?"

"Aku menuntut sepasang tinjumu itu."

Siau Ma mengangkat tinjunya, katanya sambil mengawasi tinjunya sendiri, "Tinjuku ini hanya untuk menghajar orang, untuk apa kau menuntut tinjuku?"

"Supaya kau tidak bisa menghajar orang lagi." "Kalian ada delapan belas batang golok, memangnya takut terhadap sepasang tinjuku ini?"

"Hati-hati kan lebih baik."

"Maksudmu supaya aku memotong dua tinjuku dan menyerahkan kepadamu, supaya aku tidak mencari permusuhan dengan kalian, begitu?"

"Apa yang kau ucapkan meski tidak seluruhnya benar, maksudku memang demikian."

"Baiklah," ujar Siau Ma tertawa, "dengan senang hati kuserahkan kepadamu."

Belum habis bicara tubuhnya menerjang ke depan, tahu- tahu tinjunya mendarat di hidung Thi Sam-kak.

Bukannya Thi Sam-kak tak melihat datangnya tinju Siau Ma. Dia melihat jelas, tapi justru tak mampu berkelit, tak bisa menghindar. Suaranya tidak keras waktu tinju mendarat di hidung, waktu hidung tergenjot dan ringsek hampir tidak mengeluarkan suara apapun. Tapi rasanya sungguh sukar dilukiskan.

Thi Sam-kak merasa mukanya seperti mendadak meledak, rasa sakit dan perih membuat matanya berkunang-kunang, di saat tubuhnya jungkir balik, mulutnya sempat berteriak memberi komando, "Sikat!"

Begitu "sikat" berkumandang di udara, sembilan golok yang mengancam leher para tawanan lantas terangkat hendak memenggal leher.

Thio-gongcu juga menerjang ke depan, dia siap menghajar lawan yang mengancam Hiang-hiang dengan sodokan sikut, lalu tempelengan di muka dan genjotan di dada. Tetapi dia belum atau tak usah turun tangan lagi.

Sebelum kakinya melangkah, laki-laki yang mengancam dengan golok kepala setan tiba-tiba menjerit sambil menungging memeluk perut, perlahan dia roboh ke tanah terus berguling sambil merintih-rintih.

Hiang-hiang yang kelihatan takut dan harus dikasihani, masih berdiri santai di tempatnya, mengawasi korbannya dengan rasa iba, katanya, "Maaf sebetulnya tidak pantas aku menendang anumu itu, tapi kau juga tidak perlu menyesal, bila anumu remuk, selanjutnya kau tidak akan mengalami kesulitan."

Thio-gongcu mengawasinya dengan terpesona dan kaget.

Seorang gadis yang kelihatan lemah lembut, penakut lagi ramah, ternyata tega bertindak sekejam itu, perbuatannya jelas lebih ganas dan menakutkan dibanding dirinya.

Bila dia menoleh dan melihat yang lain, sembilan belas manusia serigala yang datang, tujuh belas di antaranya meringkel di tanah. Seorang mukanya berlepotan darah, kulit mukanya terkelupas. Orang ini adalah serigala yang tadi mengancam Siang Bu-gi dengan goloknya yang paling besar.

Dua orang yang mampus adalah orang yang menjaga di luar tandu Lan Lan. Tanpa bergerak kedua orang ini rebah di tanah, sekujur badan tidak kelihatan ada luka yang menyebabkan kematiannya. Hanya di tengah kedua alisnya kelihatan setitik darah.

Dua orang lagi masih berdiri gemetar di depan tandu dimana si pasien itu berada, tapi golok di tangan mereka sudah tak kuat diangkat lagi. Siang Bu-gi tengah menatap tajam mereka. Lutut mereka goyah, orang yang di sebelah kiri celananya kelihatan basah.

Siang Bu-gi berkata, "Pulang dan laporkan kepada Pok Can, kalau ingin beraksi, lebih baik dia turun tangan sendiri."

Mendengar "pulang", seketika kedua orang ini terbelalak girang, rasa girangnya jauh lebih besar daripada mereka kejatuhan rejeki nomplok, tanpa berjanji keduanya lantas putar tubuh lari sipat kuping.

"Kembali," mendadak Siang Bu-gi menghardik.

Mendengar "kembali", seorang yang lain seketika terkencing-kencing, celananya basah seluruhnya.

Siang Bu-gi menuding mereka, katanya, "Kalian tahu siapa aku?"

Kedua orang itu geleng kepala bersama.

"Aku si tukang kulit," sembari bicara ujung kaki Siang Bu-gi menjungkit sebatang Kui-thau-to di atas tanah. Setelah dia habis bicara, kedua orang sudah kehilangan secuil kulit di kanan kiri pipi mereka.

Siau Ma menghela napas.

"Kenapa kau menghela napas?" tanya Siang Bu-gi. "Semula aku kira mereka hendak mempermainkan dirimu,

sekarang baru aku maklum, engkaulah yang mempermainkan mereka. Apakah kau juga beranggapan bahwa kita seperti mereka, setelah kenyang makan tidak punya kerja lalu cari hiburan?" Siang Bu-gi menyeringai dingin.

"Kenapa kau tidak turun tangan lebih dini?" tanya Siau Ma. "Karena aku tidak bodoh, membiarkan jiwa orang

berkorban dengan percuma." "Jiwa siapa yang berkorban?" "Mungkin sekali jiwamu." Siau Ma tertawa dingin.

"Jikalau kau tidak tergesa-gesa, tidak terburu napsu, sekarang kita sudah aman tenteram."

"Memangnya sekarang kita belum aman?" jengek Siau Ma.

Siang Bu-gi mengancing mulut, sorot matanya setajam pisau menatap ke lekuk gunung di sebelah kanan sana.

* * * * *

Sang surya sudah terbenam, tabir malam sudah menyelimuti mayapada.

Dari belakang pohon di lekuk gunung sana, perlahan beranjak keluar tujuh orang, langkah mereka santai, seperti pelancong yang jalan-jalan menikmati keindahan alam, sikap mereka ramah lagi sopan.

Orang yang berjalan paling depan berpakaian jubah panjang mirip pelajar dengan topi tinggi berhias, tangannya memegang kipas lempit. Kipas yang digoyang-goyang dan terbuka lebar tampak dihiasi dua baris huruf, huruf tulisan kuno, kaligrafi dengan gaya indah dan tajam. Syukur hari belum betul-betul gelap, di tengah keremangan itu, laki-laki ini melangkah santai menuju ke batu cadas, kira-kira setombak jauhnya dia berhenti, kipas dilempit lalu menjura dengan hormat. Enam orang di belakangnya juga ikut menjura.

Kalau orang tahu peradatan, betapapun marahnya juga tak bisa diumbar, apalagi orang memberi salam hormat, sudah tentu Siau Ma menjadi rikuh untuk menggunakan tinjunya di hidung orang.

Lo-bi segera tampil ke depan, dengan tertawa dia menyapa, "Sama-sama belum kenal, buat apa tuan sungkan dan sehormat ini?"

Pelajar berjubah sutera putih ini tersenyum ramah, katanya, "Bertemu di tengah jalan terhitung ada jodoh, sayang di sini tiada meja perjamuan untuk menyambut kedatangan tamu agung, maaf kami tidak mampu menyambut selayaknya."

"Tidak usah sungkan, jangan pakai peradatan," Lo-bi berkata dengan cengar-cengir.

Pelajar jubah putih memperkenalkan diri, "Cayhe Un Liang- giok."

"Cayhe she Bi," ucap Lo-bi.

Un Liang-giok berkata, "Sudah lama nama besar Bi-tayhiap terkenal dan kudengar, demikian juga nama besar Siang- siansing, Ma-kongcu, dan Thio-losiansing juga sudah lama kukagumi, sayang belum pernah berkenalan, hari ini bisa bertemu sungguh lega dan senang hati kami." Agaknya orang sudah mencari tahu asal-usul rombongan Siau Ma, maka dia dapat bicara lancar dan benar.

Perasaan Siau Ma mendelu, hatinya pun marah, melihat dua baris tulisan dikipas orang tadi, segera dia menerka siapa pelajar jubah sutera putih ini.

Un Liang-giok berkata, "Konon adik nona Lan sedang sakit, Cayhe juga ikut merasa gugup dan khawatir setelah mendengar berita ini."

Tak tahan Siau Ma bertanya, "Kelihatannya kau pandai mencari berita."

Un Liang-giok tertawa, katanya, "Sayang gunung ini bukan tempat aman, dalam kalangan kita juga tiada orang bajik, kalau kalian ingin pergi dengan aman, kurasa amat sukar, sukar sekali."

"Itu urusan kami, rasanya tiada sangkut-paut dengan kau," jengek Siau Ma.

"Sebagai penduduk gunung ini, mungkin Cayhe dapat membantu sedikit, agar kalian sampai di tempat tujuan dengan selamat."

Lo-bi segera menyeletuk, "Sekali pandang Cayhe lantas tahu, tuan adalah Kuncu, kau pandai menggunakan istilah bajik dan bijaksana segala."

Un Liang-giok pura-pura menghela napas gegetun, katanya, "Walau Cayhe ada niat menjadi orang bajik, sayang aku tak mampu berbuat banyak."

"Cara bagaimana supaya kau bisa berbuat bajik?" tanya Siau Ma. "Gunung ini penuh semak belukar, berduri lagi, untuk melewati sebuah gunung, pantasnya kalian membuka sebuah jalan lebih dulu."

"Cara bagaimana kita harus membuka jalan tembus itu?" tanya Siau Ma.

Un Liang-giok tertawa, katanya, "Sebetulnya tidak sukar, asal...”

"Sebetulnya apa sih keinginanmu?" tanya Siau Ma tandas.

Tawar suara Un Liang-giok, "Aku hanya ingin menuntut selaksa tahil uang emas, sepasang tinju dan sebuah tangan."

Siau Ma tertawa lebar, ujarnya, "Jika hanya minta uang emas itu urusan gampang, tapi tinju dan tangan jauh berbeda."

"Ya, memang jauh berbeda."

"Tinju macam apa dan tangan seperti apa yang kau inginkan?"

"Jiwa raga dilahirkan orang tua, sekali-kali tidak boleh dibuat cacat, oleh karena itu "

"Kau menuntut sepasang tinju yang pandai menghajar orang dan tangan yang ahli mengelupas kulit manusia."

Un Liang-giok tidak menyangkal, dengan senyum lebar dia berkata, "Asal kalian terima sekedar syaratku itu, Cayhe tanggung dalam tiga hari nona Lan dan adiknya bisa lewat gunung ini dengan aman, kalau tidak " Dia menghela napas, lalu menyambung, "Kalau tidak, terpaksa Cayhe tidak bisa membantu."

Siau Ma tertawa besar. Dia bukan sengaja tertawa, tapi tertawa besar sungguhan. Mendadak dia menyadari satu hal, manusia keji yang menggunakan kedok 'Kuncu' (sosiawan), bukan saja amat kejam dan patut ditindas, juga lucu menggelikan.

Dimana-mana manusia yang berkedok sebagai Kuncu sama saja semuanya munafik.

Un Liang-giok bersikap biasa dan wajar, roman mukanya tak berubah sedikitpun, katanya, "Boleh kalian pertimbangkan dan rundingkan dulu syarat yang kuajukan tadi, besok pagi Cayhe akan datang mendengar kabar gembira."

Segera Siau Ma bersikap pura-pura serius, katanya, "Kau harus datang lho!"

Un Liang-giok berkata, "Malam telah gelap, perjalanan ke depan makin berbahaya, kalau kalian ingin selamat dan aman malam ini, kuanjurkan diam dan tinggal saja di sini." Lalu dia menjura pula, kipas lempitnya terkembang pula, kakinya sudah beranjak pergi. Enam orang di belakangnya juga menjura, mereka ikut melangkah pergi dengan langkah tenang, sedikitpun tidak kelihatan marah.

Sebaliknya Siau Ma tak kuat menahan gelora amarahnya, desisnya geram, "Kenapa dia tidak turun tangan ?"

"Kalau dia turun tangan, memangnya kau bisa berbuat apa?" jengek Siang Bu-gi.

"Jika dia turun tangan, aku tanggung hidungnya ringsek." "Waktu itu mungkin dirimu juga tidak mirip manusia, tidak mirip kuda binal yang pandai menggunakan tinjunya lagi."

Tiba-tiba Thio-gongcu menyeletuk, "Apa betul mereka itu Kun-cu-long?"

"Orang tadi adalah Long-kuncu."

"Kau sudah melihat kedatangan mereka?"

"Waktu itu kalian sedang sibuk mempertahankan jiwa, menolong jiwa raga kalian."

"Kau sengaja bertahan dan main ulur waktu dengan anak buah Pok Can, karena kau sudah tahu bahwa pasukan tempur serigala sudah berada di sini, maka mereka takkan muncul."

"Itulah peraturan yang harus dipatuhi di Long-San." Thio-gongcu menghela napas gegetun, katanya,

"Kelihatannya mereka memang lebih mudah dilayani dibanding

beberapa batang Kui-thau-to itu." Lalu dia balas bertanya, "Tapi anak buah Pok Can sudah pergi, kenapa mereka juga tidak turun tangan?"

"Sekarang saat apa?" tanya Siang Bu-gi. "Sekarang sudah malam."

"Kung-cu-long tidak pernah turun tangan di malam hari." "Itupun peraturan yang berlaku di Long-san?"

"Begitulah kenyataannya." Lo-bi berdiri di kejauhan, mendadak dia menghela napas, katanya, "Untung yang dituntut bukan sepasang tinjuku, juga bukan tanganku."

Dia berdiri cukup jauh, tapi baru saja dia habis bicara, Siang Bu-gi sudah berada di depannya. Keruan berubah muka Lo-bi, ingin tertawa, tapi mukanya dingin kaku. Bila melihat, apalagi berhadapan dengan Siang Bu-gi, dia amat ketakutan seperti melihat setan di siang hari.

Siang Bu-gi menatapnya tajam, desisnya, "Dia tidak minta tinju atau tanganmu, biar aku yang minta."

"Kau ... kau " Lo-bi gelagapan.

"Bukan hanya tanganmu yang kuminta, kulitmu pun akan kubeset."

Perawakan Lo-bi sebetulnya tinggi, seakan tiba-tiba tubuhnya mengkeret jadi pendek.

Siang Bu-gi berkata dengan suara tawar, "Sayang sekali tiada orang mau membeli tanganmu, apalagi membeli kulitmu." Waktu dia membalik tubuh, kebetulan Lan Lan turun dari tandu. Segera dia melangkah pergi, melirik pun tidak sudi kepada Lo-bi.

Ternyata Lo-bi masih tidak berani berdiri.

Lan Lan menghampiri lalu memapahnya berdiri, katanya lembut, "Terima kasih atas bantuanmu tadi, dua batang Kui- thau-to itu hampir saja memenggal kepalaku, kalau Toh-bing- ciam tidak segera kau sambitkan, mungkin jiwaku sudah melayang sejak tadi." Lo-bi kucek-kucek hidung, lalu kucek-kucek mata, mulutnya menggumam, "Buat apa kau singgung soal itu, sebetulnya aku tidak ingin mereka tahu."

"Aku tahu kau menyembunyikan kepandaian, tapi kau telah menolongku, betapapun aku harus mengucap terima kasih kepadamu."

Dengan sebelah tangannya dia mengambil sekuntum kembang mutiara yang menghias sanggulnya, "Hadiah yang tidak berarti ini, kau harus menerimanya." Kembang mutiara ini dibikin sedemikian rupa, seluruhnya terdiri tiga puluh delapan mutiara yang besarnya sama.

Semula Lo-bi hendak menampik, tetapi setelah melihat kembang mutiara itu, tangan yang semula mau mendorong tangan orang malah menggenggam kembang mutiara itu. Sebagai kawakan Kang-ouw, dia juga kenal nilai suatu benda, dia tahu nilai kembang mutiara ini, kalau digadaikan, sedikitnya bisa berfoya-foya tiga bulan lamanya.

Siau Ma sebaliknya kelihatan amat kaget. Bukan karena Lo-bi menerima kembang mutiara itu, tapi terkejut setelah mendengar apa yang diucapkan Lan Lan. Yang pasti bukan Siau Ma saja yang terperanjat.

Thio-gongcu melirik Siau Ma, lalu mengawasi dua orang yang mati dengan setitik darah di tengah alisnya. "Sejak kapan kau mahir menggunakan Am-gi selihai itu? Kenapa belum pernah aku tahu atau melihat kau memakainya?"

Lo-bi batuk dua kali lalu mendongak, katanya, "Sekali sambit Am-gi itu merenggut jiwa orang, di hadapan sesama teman mana berani aku menggunakannya, jika tidak terpaksa, aku takkan menggunakan." Lan Lan menghela napas, katanya, "Kau memang teman yang baik." Sengaja atau tidak sengaja matanya melirik ke arah Siang Bu-gi, tampak wajah Siang Bu-gi tidak mengunjuk perasaan apa-apa.

Lan Lan berkata, "Sepuluh laksa tahil uang emas sebetulnya mampu kubayar, tapi syarat yang diajukan Un- kuncu itu, aku tidak mau mempertimbangkan." Lalu dia menoleh ke arah Siang Bu-gi, "Sekarang sudah gelap, apakah kita sudah boleh melanjutkan perjalanan?"

Siang Bu-gi manggut-manggut.

"Siapa yang membuka jalan?" tanya Siau Ma. "Engkau," seru Siang Bu-gi. .

"Kau di belakang?" tanya Siau Ma. "Boleh."

"Thio-gongcu dimana?" "Dia menemani kau."

Lo-bi segera menyeletuk, "Aku menemani Siau Ma saja."

Siang Bu-gi berkata dingin, "Kau mahir menggunakan senjata rahasia, maka kau harus di tengah barisan."

"Boleh, yang terang aku tidak akan ke belakang," ucap Lo- bi prihatin.

Siang Bu-gi menyeringai dingin. "Begitu datang tanda bahaya, kita harus serempak berusaha melindungi kedua tandu ini," demikian usul Siau Ma.

Siang Bu-gi menyeringai dingin, katanya, "Hakikatnya mereka tidak perlu " Belum habis dia bicara, mendadak dua

bayangan melompat dengan tangkas menubruk dengan sengit.

Ternyata Thi Sam-kak tidak mati. Demikian pula seorang lain yang penyok hidungnya oleh pukulan Siau Ma juga tidak mati. Hidung bukan tempat yang mematikan, Siau Ma bukan orang yang suka membunuh.

* * * * *

Pasien di dalam tandu mulai batuk-batuk. Kedua orang itu justru menubruk ke arah tandu yang satu ini, asal dapat membekuk dan menyandera si pasien, orang-orang ini akan tunduk oleh ancaman. Walau Thi Sam-kak tidak mampu menyelamatkan hidungnya dari genjotan Siau Ma, tetapi kungfunya cukup baik. Bukan saja gerak-geriknya cekatan, tindakannya juga cepat.

Sementara, Siau Ma, Thio-gongcu dan Siang Bu-gi berdiri cukup jauh dari tandu itu, dalam rombongan, hanya mereka bertiga yang ditakuti. Thi Sam-kak pandai mamanfaatkan kesempatan. Pipa cangklong di tangannya terbuat dari baja murni, ukuran wadah tembakau di ujung pipanya mirip tinju Siau Ma, kalau baja sebesar tinju mengetuk kepala manusia atau menjojoh Hiat-to, kalau tidak mampus seketika juga pasti terluka parah. Secara diam-diam temannya juga sudah meraih sebatang Kui-thau-to. Dimana sinar berkelebat, golok besar dan berat itu membelah tandu dari atas. Betapapun kuat dan terbuat dari kayu pilihan sekalipun, dibacok oleh golok seberat tiga puluh kati dari ayunan seorang yang memiliki tenaga raksasa, tandu itu pasti terbelah dan berantakan. Padahal si pasien lagi batuk-batuk, penyakitnya sedang kumat, jelas dia takkan terhindar dari bencana yang mengancam. Betapapun cepat, sigap Siau Ma dan Siang Bu-gi bergerak, juga pasti terlambat untuk menolong.

Bahwa Thi Sam-kak nekat bertindak dengan sergapan yang mematikan, jelas sudah punya perhitungan matang, dia yakin seorang musuh pasti dapat dibunuhnya.

Sayang dia salah perhitungan. Pada saat gawat itulah, dari bawah tandu yang gelap, berkelebat dua larik sinar terang yang menusuk bagai sambaran kilat. Sebatang pedang mengiris lurus ke atas menepis Kui-thau-to, maka terdengarlah jeritan yang menyayat hati. Darah berhamburan, empat jari tangan yang menggenggam golok tertabas kutung, sinar pedang berkelebat pula menukik ke bawah, ujung pedang mampir ke dada dan tembus ke punggung. Bukan saja lincah lagi beres, gerak pedang inipun tepat dan telengas.

Di sebelah kiri beruntun terdengar suara "tring, tring, tring" tiga kali benturan nyaring disertai percikan kembang api, pipa cang-klong dan pedang beradu tiga kali. Thi Sam-kak memang lawan yang tidak mudah dilayani, selincah tupai dia melejit ke atas, ujung kakinya sempat menutul pikulan tandu, meminjam tenaga tutulan kakinya, tubuhnya bersalto lebih tinggi di udara. Musuh berada di sekitar dirinya, setelah sergapan gagal, mana berani dia bertahan lebih lama. Dia ingin melarikan diri.

Di luar dugaan, di saat tubuhnya bersalto ke belakang itu, sinar pedang juga sudah menunggu di bawah selangkangan, begitu tubuhnya melorot turun, sinar pedang menyongsong, pedang ganas itu amblas di tengah kedua pahanya miring ke atas. Thi Sam-kak melolong seperti serigala kelaparan, sampai mati dia tidak percaya bahwa jiwanya melayang di ujung pedang yang menyerang dengan jurus sekeji itu, celakanya penyerang dirinya adalah nona cantik yang masih berusia enam atau tujuh belas.

Darah masih menetes di ujung pedang.

Dua nona cantik belia itu berdiri berjajar beradu pundak, cadar hitam yang menutup wajah mereka tampak melambai ditiup angin malam. Pedang di tangan mereka teracung ke depan, mereka cekikikan dan riang geli. Membunuh orang merupakan hobi, bagi mereka permainan yang menarik.

Mungkin karena mereka masih muda, belum menyelami betapa berharganya jiwa manusia, betapa penting arti kehidupan ini. Merdu cekikik tawa mereka, gaya tawa mereka justru lebih menarik.

Siang Bu-gi menatap dingin, mendadak dia berseru, "Ilmu pedang bagus."

Cen Cen cekikikan, katanya, "Banyak terima kasih."

Sebaliknya Cen Cu cemberut, katanya, "Sayang kami bukan tandingan Siau Ma, mukaku bengkak karena jotosannya." Melihat sikap dan mendengar omongannya, siapa percaya kalau mereka masih anak-anak. Anak siapa yang mampu melancarkan ilmu pedang seganas itu?

"Siapa yang mengajarkan Kiam-hoat kalian?" tanya Siang Bu-gi.

"Aku justru tak mau menerangkan," Cen Cu berkata.

Cen Cen cekikikan, katanya, "Kabarnya kau lebih lihai dari Siau Ma, kenapa kau tidak tahu asal-usul Kiam-hoat kami?" Siang Bu-gi tertawa dingin, tiba-tiba dia berkelebat dan tahu-tahu sudah berada di depan mereka, gerak tangannya laksana sambaran kilat, tujuannya merampas pedang kedua nona cilik ini. Dia menggunakan Khong-jiu-jip-pek-to dengan kombinasi Siau-kim-na-jiu-hoat yang berjumlah tujuh puluh dua jurus. Umpama kungfu yang diyakini ini belum mencapai taraf yang paling top, namun tidak banyak jago Bu-lim yang mampu menandingi dirinya.

Tak nyana kedua nona cilik ini malah cekikikan lalu membusung dada, sementara pedang mereka tersembunyi di punggung. Kedua nona cilik ini adalah gadis yang baru akil baliq, payudara mereka juga baru tumbuh membukit. Walau Siang Bu-gi tidak sengaja, betapun dia malu kalau tangannya menjamah payudara kedua nona cantik ini.

Cen Cen tertawa riang, serunya, "Pedang ini milik kami, bukan barang curian, kenapa kau hendak merampasnya?"

Cen Cu juga mencemooh, "Laki-laki gede mau merampas barang milik anak-anak, apa kau tidak malu?"

"Tidak tahu malu, tidak tahu malu," Cen Cen mengolok- olok.

Membesi hijau muka Siang Bu-gi, sekian lama ia menjublek tak bisa bicara.

Mendadak kedua nona cilik ini berputar ke kanan ke kiri, sinar pedang juga berpencar, laksana ular sakti mematuk, ujung pedang menusuk ke iga kiri kanannya. Walau ilmu Khong-jiu-jip-pek-to yang diyakinkan Siang Bu-gi cukup lihai, tapi serangan lawan datang tak terduga, mana berani merebut gaman lawan. Syukur dia sempat menyelamatkan diri. Tapi kedua nona cilik itu justru tidak memberi hati, dari kiri kanan mereka merangsek dengan jurus-jurus ilmu pedang lihai, beruntun tiga kali mereka menusuk. Bukan saja ganas lagi lihai, kerja sama permainan pedang kedua nona ini juga serasi, serangan jurus terakhir malah mirip bersilangnya cahaya lembayung. Orang lain menyaksikan dengan jelas, kedua pedang nona cilik itu sudah hampir menembus dada Siang Bu-gi secara silang. Tak nyana tubuh Siang Bu-gi mendadak miring lalu menegak lurus lagi, dua batang pedang yang menusuk silang itu tahu-tahu terkempit di ketiaknya.

Tindakannya amat tepat juga berbahaya.

Sekuat tenaga kedua nona cilik itu menarik pedang, namun ujung pedang seperti lengket di ketiak Siang Bu-gi, tubuhnya tidak bergeming sedikitpun.

Cen Cen cemberut mewek-mewek hampir menangis. Cen Cu sudah berkaca-kaca malah. Tapi mereka tidak kapok, sekuat tenaga masih berusaha menarik pedang mereka. Di saat mereka menarik sekuat tenaga, mendadak Siang Bu-gi mengendorkan jepitan ketiaknya. Keruan kedua nona cilik itu terjungkal ambruk ke belakang, lalu terduduk mencak-mencak tak mau bangun.

Dengan air mata bercucuran Cen Cu merengek, "Orang gede menghina anak kecil, tidak tahu malu, tidak tahu malu."

Semula Cen Cen hanya mewek-mewek, kini dia menangis tergerung-gerung.

Suara batuk dalam tandu sudah berhenti, dengan napas tersengal orang dalam tandu membentak tertahan, "Tutup mulut!" Walau hanya mengucap dua patah kata, kedengarannya dia mengerahkan seluruh tenaga, sehingga napasnya ngos- ngosan.

Walau suaranya lemah, tapi seperti mengundang kutukan yang menggiriskan, lebih manjur dari kutukan setan iblis.

Kedua nona cilik itu segera berhenti menangis, bergegas mereka menyeka air mata lalu berdiri di pinggir.

Siang Bu-gi masih berdiri di tempat, berdiri menjublek mengawasi tandu, pikirannya seperti mengembara entah kemana. Sayang dia tidak bisa melihat apa-apa. Tandu itu tertutup rapat dari luar maupun dalam, orang dalam tandu terdengar batuk-batuk lagi.

Orang macam apakah dia sebetulnya? Penyakit apakah yang diidapnya?

Siang Bu-gi tidak bertanya. Akhirnya dia membalik badan, perlahan dia beranjak ke sana, Siau Ma dan Thio-gongcu sedang menunggu dia.

Siau Ma bertanya, "Kau sudah melihat asal-usul Kiam-hoat mereka?"

Siang Bu-gi tidak menjawab, mulutnya bungkam. "Aku juga susah mengenalnya," ucap Siau Ma sambil

tertawa getir, "Kiam-hoat seperti itu, bukan saja aku tidak mengenalnya, melihat pun belum pernah."

Thio-gongcu berkata, "Jelas bukan Bu-tong-kiam-hoat?" "Pasti bukan," sahut Siau Ma. "Juga bukan ilmu pedang Tiam-jong, Kun-lun, Hay-lam dan Ui-san."

"Omong kosong," sentak Siau Ma.

Memang omong kosong. Jit-toa-kiam-pay (tujuh besar aliran ilmu pedang) amat terkenal di Bu-lim masa itu, satu jurus permainan sudah dapat mereka kenali.

"Kurasa justru omong kosong," bantah Thio-gongcu. "Lalu?" tanya Siau Ma.

"Kalau kami tidak pernah lihat Kiam-hoat seperti itu, apalagi orang lain, jelas mereka pun tiada yang pernah melihat."

"Ehm, betul."

"Oleh karena itu, Kiam-hoat jenis itu mungkin belum pernah muncul di Bu-lim"

Siau Ma mendengarkan, Siang Bu-gi juga mendengarkan. "Tapi menilai keganasan dan kemahiran permainan Kiam-

hoat mereka, jelas diwariskan oleh seorang tokoh kosen." "Ya, pasti," Siau Ma setuju.

"Ada berapa banyak tokoh kosen yang belum pernah muncul di Bu-lim?"

"Tidak banyak."

"Oleh karena itu," ucap Thio-gongcu lebih jauh, "kalau kita berpikir secara cermat, pasti dapat menemukan dia." Lan Lan sudah masuk ke dalam tandu, Lo-bi, Hiang-hiang dan kedua nona cilik itu menyingkir ke tempat jauh, kelihatannya mereka tidak berani dekat-dekat tiga orang yang lagi kasak-kusuk di sini. Akan tetapi, tiga orang ini tetap bicara dengan suara lirih.

Thio-gongcu bicara setengah berbisik, "Kedua batang Toh- bing-ciam (jarum perenggut sukma) itu pasti bukan sambitan Lo-bi."

Siau Ma mengangguk tanda sependapat.

"Nona Lan Lan itu sengaja bilang dia yang menyambit, karena dia sudah tahu bahwa Lo-bi akan berbuat demikian dan mengakui apa yang dia katakan."