Kuda Binal Kasmaran Bab 05

 
Bab 05

Siang Bu-gi duduk di atas kursi, duduk di depan Lan Lan, sepasang bola matanya yang tajam gemerdep menjadi merah. Dia sudah mabuk. Biasanya dia jarang minum arak, apalagi minum seguci, bahwa dia kuat bertahan sekian lama sudah patut dipuji.

Lan Lan berkata, "Percakapan kalian sudah kami dengar dengan jelas."

Siang Bu-gi tahu. Memang ia mengharap bisa mendengar percakapannya dengan si nenek, supaya dirinya tak usah menjelaskan lagi.

"Siapakah nenek tua itu?" tanya Lan Lan. "Seorang nenek tua." Lan Lan mengedipkan mata, katanya, "Kukira dia seorang Bu-lim Cianpwe, kungfunya amat tinggi.”

Siang Bu-gi menoleh, tiba-tiba dia bertanya kepada Siau Ma, "Dia ini binimu?"

Siau Ma tidak menyangkal, sulit dia menjelaskan.

Siang Bu-gi berkata pula, "Kalau dia binimu, lebih baik kau suruh ia tutup mulut."

Lan Lan menyeletuk; "Kalau bukan bininya?"

Siang Bu-gi berkata dengan nada tegas, "Perjalanan ke atas gunung bukan untuk bertamasya, kita ke sana mempertaruhkan jiwa, maka. "

"Masih ada syarat lain?" tanya Siau Ma.

"Bukan syarat, tapi peraturan. Siapa pun harus patuh dan tunduk pada perturan," ujar Siang Bu-gi.

Orang banyak sedang mendengarkan penuh perhatian, Siang Bu-gi berkata pula, "Mulai sekarang, laki-laki tidak boleh menyentuh perempuan, juga dilarang minum arak." Tatapan matanya setajam pisau, "siapa terbukti melanggar aturan, tidak pandang bulu, aku akan mengelupas kulitnya."

* * * * *

Situasi Long San sebetulnya tidak berbahaya kalau dibanding puncak-puncak gunung kenamaan lain di Tionggoan, yang berbahaya di daerah ini justru orang-orang yang hidup di atas gunung. Sejauh mata memandang, selama mereka menempuh perjalanan dan menjelajah gunung ratusan li, bayangan seorang pun tidak pernah mereka lihat.

Hari sudah menjelang senja.

Sinar matahari yang kuning emas cemerlang menerangi pegunungan, sehingga kelihatan seindah lukisan.

Siang Bu-gi melompat ke atas sebuah batu cadas besar yang rata bagian atasnya, lalu kata, "Kita istirahat di sini."

Seorang segera bertanya, "Saat ini harus istirahat, apa tidak terlalu pagi?" Yang bertanya adalah Hiang-hiang.

Sejauh mereka menjelajah, gunung di bawah kaki mereka kelihatan rata dan naik turun seperti alunan ombak. Mereka masih bercokol di punggung keledai. Gaya dan perawakan Hiang-hiang semampai, menggiurkan lagi molek, pandangan Thio-gong-cu jarang meninggalkan tubuhnya.

Tapi Siang Bu-gi melirik saja tidak kepadanya, agaknya segan bicara dengan dia.

Maka Thio-gongcu memberi tanggapan, "Sekarang sudah tidak pagi lagi."

Hiang-hiang berkata, "Tapi sekarang hari belum gelap." "Setelah cuaca gelap," kata Thio-gongcu, "kita justu harus

melanjutkan perjalanan."

"Lho, kenapa justru melanjutkan perjalanan di tengah kegelapan?" tanya Hiang-hiang "Kalau cuaca gelap kita lebih mudah menyembunyikan diri, lebih gampang menyelamatkan jiwa, dan yang penting adalah serigala malam di gunung ini jauh lebih mudah dilayani dibanding serigala siang, apalagi. "

Mendadak Siang Bu-gi menukas, "Apa dia binimu?"

Thio-gongcu ingin mengangguk, tapi terpaksa geleng kepala.

Siang Bu-gi berada di hadapan Hiang-hiang, dengan enteng telapak tangannya menepuk kepala keledai yang ditunggangi Hiang-hiang. Kontan keledai itu roboh binasa. Hampir saja Hiang-hiang ikut ambruk tertindih tunggangannya. Syukur reaksinya cekatan, dengan tangkas dia melompat turun sebelum keledainya ambruk. Selanjutnya dia tidak berani banyak bicara lagi.

Siau Ma tertawa geli.

Mendadak Siang Bu-gi melotot kepadanya, "Kenapa Kau tertawa?"

Siau Ma memang tertawa, saat itu dia masih tertawa. "Siapa yang kau tertawakan?" tanya Siang Bu-gi. "Menertawakan kau," sahut Siau Ma.

Siang Bu-gi menarik muka, katanya merenggut, "Aku pantas ditertawakan?"

Siau Ma berkata, "Seorang kalau selalu melakukan pekerjaan yang menggelikan, peduli siapa dia, pasti menimbulkan tertawaan orang lain." Tanpa menunggu Siang Bu-gi buka suara, dia sudah menyambung, "Kalau melarang langit hujan, melarang orang kencing dan buang kotoran, adalah tugas yang menggelikan, demikian pula kalau kau melarang cewek bungkam, melarang anak perempuan berbicara."

Semula Siang Bu-gi melotot kepadanya, namum lama kelamaan bola matanya memicing.

Siau Ma masih tertawa, katanya, "Kabarnya kulit keledai laku meski harganya murah, kenapa tidak kau kuliti keledai ini?"

Siang Bu-gi segera melangkah maju, melangkah ke hadapannya. Siau Ma masih berdiri di tempat, tidak maju juga tidak mundur.

Mendadak Thio-gongcu menjerit kaget, "He, lihat manusia serigala muncul."

Manusia serigala memang menampakkan diri. Yang datang tiga orang. Kelihatannya mereka mirip manusia purba yang hidup liar di alas pegunungan, berdiri di bawah pohon besar delapan tombak jauhnya di atas batu sana.

Suara Thio-gongcu amat lirih rendah, "Yang datang pasti serigala pemakan manusia!"

"Me ... mereka, apa benar mereka makan manusia?" Hiang-hiang bertanya. Suaranya gemetar, takutnya luar biasa, takut terhadap manusia serigala makan manusia, juga jeri terhadap Siang Bu-gi. Tak tahan dia tetap mengajukan pertanyaan. Kalau melarang anak perempuan tutup mulut, memang sukar sekali.

Thio-gongcu berkata, "Belum pasti makan manusia, tetapi mungkin mereka berani makan manusia." Sudah lama Lo-bi tidak bicara, sejak tadi dia berdiri jauh di Sana, kini dia pun tak kuat bungkam, katanya, "Aku tahu manusia jenis apa yang paling suka mereka makan."

"Orang ... orang jenis apa?" tanya Hiang-hiang. "Sudah tentu jenis perempuan," sahut Lo-bi dengan

tertawa, "Terutama perempuan yang enak dipandang, perempuan yang harum badannya!"

Pucat pias muka Hiang-hiang. Muka Thio-gongcu justru membesi hijau.

Untung Siau Ma segera menarik tangannya, katanya, "Tiga orang di atas itu kelihatan sedang bicara."

Thio-gongcu manggut-manggut. "Apa yang mereka bicarakan?"

Thio-gongcu memejamkan mata, hanya sebentar lalu membuka mata, Roman mukanya seketika berubah, kelihatannya tidak lagi mirip tukang tambal sepatu yang kotor dan bau. Mendadak berubah kereng dan berwibawa. Dalam melaksana tugas dia selalu memeluk keyakinan dan kepercayaan terhadap kemampuan sendiri. Seorang yang tidak punya keyakinan, bagaimana mungkin bisa punya kewibawaan.

Semua orang bungkam, pandangan mereka tertuju ke mulutnya. Hiang-hiang juga mengawasinya.

Thio-gongcu tahu, namun kali ini dia tidak balas memandang Hiang-hiang, matanya tertuju ke atas, ke arah tiga orang yang lagi bicara di atas sana. Mulut tiga manusia serigala di atas batu di bawah pohon itu memang bergerak- gerak, namun bola mata Thio-gongcu mengawasi penuh perhatian.

Agak lama kemudian baru Thio-gongcu buka suara, "Beberapa ekor kambing gemuk ini mungkin sudah gila, berani naik ke Long-san?"

"Mereka malah ada yang naik tandu, kelihatannya bukan saja edan, duit dan bekalnya tentu tidak sedikit."

"Tapi di antara mereka kelihatan ada yang susah dihadapi."

"Siapa menurut pandanganmu?"

"Orang yang bermuka seperti mayat hidup, bertingkah seperti orang banci, pasti sukar dilayani."

"Demikian pula yang bertubuh tinggi tegap, kelihatannya amat perkasa, bukan mustahil dialah pengawal barisan ini."

"Kakek rudin yang melotot ke arah kita itu, menurut pendapatmu mirip apa?"

"Kukira mirip kakek rudin, saking rudinnya hingga dia ketakutan hingga pikun."

"Sekarang jumlah mereka lebih banyak, kita harus mencari bantuan."

"Dua tiga hari ini tidak sedikit kambing-kambing gemuk yang naik ke atas gunung, semua orang sudah punya kerja dan tugas, hasilnya tidak sedikit, kemana kita mencari bala bantuan?" "Biarkan saja, mereka takkan lolos, yang jelas kita yang menemukan kambing-kambing gemuk itu, umpama harus bekerja sama, bagian kita toh yang paling banyak."

"Aku hanya minta tiga cewek itu."

"Kalau sampai bangkotan tua yang kemaruk paras ayu itu tahu, mungkin kau tidak kebagian meski hanya menyentuh tangannya saja."

"Biarlah, setelah mereka puas dan habis mengerjainya, apa salahnya aku makan dagingnya."

"Kalau hanya ingin makan dagingnya, kurasa tidak jadi soal."

"Lebih baik kalau separoh dipanggang, separohh lagi digodok, sudah lama aku tidak makan daging segar dan cantik seperti itu."

"Baiklah, akan kubagi tiga mangkok besar kepadamu, biar perutmu meledak."

Percakapan ini sudah tentu bukan langsung diucapkan oleh Thio-gongcu, tapi menjiplak percakapan ketiga manusia serigala itu, serta mendikte dengan mulutnya.

Sambil bergelak tawa tiga manusia serigala itu melompat pergi dan lenyap dari pandangan.

Siang Bu-gi tetap tidak menampilkan perubahan wajah, sementara Lo-bi mengunjuk rasa senang dan puas.

Hiang-hiang sebaliknya sudah meloso jatuh dan semaput saking takut. Satu di antara kedua tandu itu tampak bergetar, seorang batuk-batuk dan terus batuk hingga lama, napasnya sudah senin kamis, dengkur napasnya mirip kerbau yang akan disembelih.

Sementara Lan Lan berada di tandu lain, melongok mengawasi Siau Ma, lalu menoleh ke arah Siang Bu-gi.

Siang Bu-gi sudah tidur di atas batu cadas besar itu. Kalau dia sudah bilang istirahat di sini, maka dia akan mendahului melepaskan lelah, tidur dengan lelap.

"Tempat ini memang bagus," ucap Siau Ma. "Bagus?" seru Lan Lan.

"Ya, bagus," sahut Siau Ma.

"Tapi ... tapi kurasa tempat ini justru lebih mudah diincar dan diperhatikan musuh, serangan atau bidikan panah musuh lebih mudah ditujukan kemari."

Batu cadas itu menjulang tinggi di lereng sana, sementara tanah di sekitar mereka lapang dan kosong, pohon atau tempat yang cukup untuk bersembunyi dari bidikan panah tidak ada.

Siau Ma berkata, "Justru karena tempat ini terbuka, maka lebih baik dan menguntungkan bagi kita."

Lan Lan tidak mengerti. Dia ingin bertanya, tapi melihat sikap Siang Bu-gi, segera dia bungkam lagi.

Untung Siau Ma segera menjelaskan, "Tempat ini terbuka, siapa pun datang kemari, begitu membuka mata kita bisa segera melihatnya." Thio-gongcu berkata, "Apalagi sementara ini mereka takkan mendapat bantuan, bila mereka mendapat bantuan, kita sudah berpindah ke tempat lain."

Hari belum gelap, mereka belum pergi, juga tidak melihat orang, tapi mendengar suara orang. Suara yang tidak mirip suara manusia, tapi lebih mirip suara babi disembelih. Tapi suara itu jelas keluar dari mulut manusia.

Kambing-kambing gemuk yang datang beberapa hari ini cukup banyak. Apakah mereka siap menyembelih para korbannya?

Siau Ma sudah duduk, mendadak dia berjingkrak berdiri.

Siang Bu-gi masih tetap rebah di tempatnya, matanya terpejam, namun dia mendesis kereng, "Duduk."

"Kau suruh siapa duduk?" tanya Siau Ma. "Kau."

"Kenapa kau suruh aku duduk?"

"Karena kau kemari bukan untuk turut campur urusan orang lain."

"Sayang, aku justru dilahirkan buat mencampuri urusan orang lain."

"Kalau begitu silakan." "Memangnya aku akan ke sana." "Satu hal aku berani tanggung." "Satu hal apa?"

"Setelah kau mampus, tiada orang mengubur mayatmu." "Aku justru suka terkubur di perut orang lain, dan itu

memang keinginanku."

"Sayang mereka hanya suka makan daging perempuan." "Tapi dagingku gurih dan empuk."

Siau Ma sudah siap pergi. Tapi sebelum dia bergerak, orang lain sudah datang.

Beberapa tombak dari batu cadas besar sebelah kiri adalah hutan. Hutan dengan pohon yang rindang, dihitung-hitung jaraknya mungkin ada belasan tombak dari tempat Siau Ma berdiri.

Jeritan menyayat hati seperti babi disembelih berkumandang dari dalam hutan. Tampak beberapa orang menerobos keluar, mereka menjerit-jerit kesakitan, sebelum lenyap lolong jeritan mereka, satu per satu terjungkal roboh kelejetan di tanah. Kebetulan sudah dekat batu cadas besar itu.

Melihat jiwa orang terancam, berpeluk tangan adalah perbuatan yang munafik, ini tak pernah dilakukan Siau Ma, umpama batok kepala sendiri terancam juga pasti akan berusaha memberi pertolongan. Maka dia melompat mendahului, namun cuma dia saja yang memburu ke sana.

Siang Bu-gi masih rebah di atas batu. Hiang-hiang juga duduk di pinggir tandu. Lo-bi adalah seorang rudin, kelihatannya sudah pulas di sebelah sana. Hiang-hiang ternyata sedang mengawasi Thio-gongcu.

Thio-gongcu belum tidur, maka dia melompat turun dan memburu ke depan. Kupingnya memang tuli, tapi dia bukan orang bodoh, umpama dia ingin pura-pura pikun juga tidak mungkin lagi. Dia tahu Hiang-hiang tengah mengawasi dirinya, walau kupingnya tuli, tapi matanya lebih jeli dibanding telinga kelinci.

Di bawah batu cadas besar mirip panggung itu rebah malang melintang delapan orang. Semua merintih dan berkelejetan, ada pula yang bergulingan saking tidak kuat menahan sakit. Tapi ada juga yang rebah lemas tidak mampu bergerak, seperti kehabisan tenaga atau terlalu banyak mengeluarkan darah. Darah segar yang merah kental, sungguh menggiriskan.

Siau Ma ingin menolong orang yang lengannya putus, namun juga kasihan terhadap yang buntung kakinya, tapi juga ingin menolOng orang yang terlalu banyak mengeluarkan darah. Sungguh dia bingung kehabisan akal, orang mana yang harus ditolong terlebih dahulu. Untung Thio-gongcu melompat turun mendekati dirinya.

Siau Ma bertanya, "Bagaimana pendapatmu?"

"Tolong dulu yang lukanya ringan," ucap Thio-gongcu. Siau Ma setuju. Dia tahu usul Thio-gongcu masuk akal,

sebenarnya dia sudah memikirkan hal ini, soalnya hatinya lunak, perasaannya tidak tega. Orang yang terluka ringan ada harapan ditolong jiwanya. Hanya orang hidup yang bisa menceritakan pengalaman tragis ini. Pengalaman orang lain, sebagai cermin pengalaman diri sendiri. Pengalaman selalu berguna. * * * * *

Yang terluka paling ringan, usianya juga paling muda.

Darah yang keluar juga paling sedikit, namun kerut-merut di mukanya justru paling banyak.

Siau Ma memapahnya lebih dulu, lalu menempeleng mukanya dua kali pulang pergi. Menampar muka orang belum pasti lantaran marah atau dendam dan benci, menampar juga kadang-kadang terpaksa karena rasa kasihan dan cinta kasih terhadap sang korban. Ada kalanya menampar karena ingin supaya orang sadar dan tobat.

Setelah digampar dua kali, orang ini membuka mata, sejenak ia mengedipkan mata lalu celingukan seperti ngeri, takut, tapi lekas sekali dia memejamkan mata.

"Kalian datang darimana?" tanya Siau Ma.

Orang muda ini tersengal-sengal, mulutnya merintih dan terisak, katanya, "Manusia serigala ... ke Long-san ... minta uang ... menuntut jiwa.,.."

Walau orang tidak menjawab secara jelas, Siau Ma maklum, tapi dia bertanya pula, "Untuk apa jauh-jauh kalian pergi ke Long-san?"

Orang muda itu megap-megap, katanya, "Karena ... karena ... karena ... ingin menjagal kau."

Beruntun dia mengatakan tiga kali "karena", hingga Siau Ma dipaksa memperhatikannya. Di saat Siau Ma mendengar sepenuh perhatian itulah, orang itu mengatakan ingin menjegal kau, tiga patah kata. Lenyap perkataannya tinjunya pun bekerja. Bukan hanya orang muda itu saja yang menyergapnya, tujuh orang yang lain juga serentak turun tangan, empat orang mengeroyok satu, delapan orang mengeroyok Siau Ma dan Thio-gongcu.

Yang buntung tangannya memang bertangan tunggal, demikian pula yang buntung kakinya memang sudah lama putus. Darah yang berlepotan di tubuh mereka sebetulnya lebih merah dan kental, kalau mau diteliti, sebetulnya bisa diketahui, darah itu tidak mirip darah manusia.

Delapan orang turun tangan serempak, seperti berlomba saja, delapan orang ini seperti ingin mendahului mengajar roboh dua orang ini dan merenggut jiwanya. Terbukti delapan orang ini mengeluarkan senjata, empat bilah badik, dua batang pedang pandak, sebuah ganco panjang, dan gaman satu lagi jarang terlihat di Bu-lim, yaitu tombak pendek berantai. Kecuali dapat digunakan sebagai tombak, tombak inipun dapat ditimpukkan seperti senjata rahasia.

Delapan orang menggunakan gaman pendek. Satu senti lebih pendek, satu langkah lebih berbahaya. Apalagi mereka bergerak serempak di saat lawan tidak menyangka dan tak terduga.

Untung Siau Ma punya tinju. Sekali jotos dia bikin remuk tulang hidung orang muda yang berkeriput itu, sekali genjot pula dia bikin amblek muka orang lain yang ada di sebelahnya.

Untung dia masih punya kaki. Sekali sepak dia bikin si tangan tunggal yang membawa badik terlempar terbang. Ketika si kaki buntung menusuk dengan tombaknya, maka terdengar tulang hidung dua rekannya dipukul ringsek oleh tinju Siau Ma. Begitu bertepuk tangan Siau Ma menjepit ujung tombak lawan, matanya menatap tajam ke arah si kaki buntung. Sebelum ia turun tangan, hidungnya sudah mencium bau busuk. Ternyata si kaki buntung basah celananya, saking ketakutan dan kaget dia terberak-berak.

Siau Ma tidak perlu menguatirkan keselamatan si tuli.

Walau kuping Thio-gongcu tuli seperti tanduk kerbau, gerak kaki tangannya jauh lebih cepat dan lincah dibanding ketajaman telinga kelinci. Di saat dia menjepit ujung tombak si kaki buntung, kupingnya juga mendengar suara tulang patah dari empat orang yang mengeroyok Thio-gongcu.

Dengan melotot kepada si kaki buntung yang terberak- berak ini, Siau Ma bertanya, "Kau juga tinggal di Long-san?"

Si kaki buntung manggut.

"Kau ini serigala pemakan manusia atau Kun-cu-long?"

Si kaki buntung megap-megap, sahutnya, "Aku ... aku adalah Kuncu ..."

Siau Ma tertawa, jengeknya, "Kau terhitung Kuncu keparat." Di saat gelak tawanya berkumandang, mendadak lututnya terangkat dan telak mendarat di bagian vital si kaki buntung yang segera menungging kesakitan. Tanpa mengeluh sedikitpun, serigala buntung ini meloso roboh tak bergerak lagi.

Delapan orang berkelejetan di tanah, benar-benar kelejetan menahan sakit. benar-benar rebah tak kuat berdiri, umpama tabib sakti diundang kemari juga sukar menyembuhkan mereka dalam waktu singkat.

Dengan senyum lebar Siau Ma mengawasi Thio-gongcu. Thio-gongcu berkata, "Kelihatannya kita kena tipu." Siau Ma tetap tertawa.

"Kenyataan justru mereka tertipu, bukan kita."

Siau Ma bergelak tawa, katanya, "Mungkin lantaran mereka Kuncu tulen."

"Apa benar Kuncu mudah ditipu orang ?" "Kuncu lebih senang kalau orang lain tertipu." Mereka tertawa latah, tertawa bingar.

Keadaan sekitar tetap tenang dan sunyi, tiada gerakan apapun di atas maupun di sekitar batu cadas. Tiba-tiba mereka sadar, mungkin lawan menggunakan tipu memancing harimau meninggalkan sarang, orang yang berani turun, nyalinya tentu lebih besar dibanding orang yang tidak berani turun.

Berkepandaian tinggi nyalinya besar. Orang yang bernyali besar, kungfu umumnya juga tinggi dan lihai. Kalau benar mereka turun, itu berarti orang-orang yang berada di atas cadas dan sekitarnya sudah dikerjai musuh.

Kali ini Thio-gongcu mendahului melompat ke atas. Dia tidak bisa melupakan pandangan Hiang-hiang ke arah dirinya tadi. Begitu naik ke atas, dia melihat sepasang mata Hiang- hiang. Mata yang terbuka, kalau tidak mau dikata terbelalak, sepasang bola mata yang besar bundar lagi jeli dan indah, menampilkan mimik yang lucu.

* * * * *

Setiap manusia, siapa saja, untuk menunjukkan perasaan yang berbeda biasanya di wajah mereka. Wajah manusia mana saja, mata adalah indra yang terbanyak menampilkan perubahan.

Mata siapa saja, selalu memapilkan banyak perubahan perasaan hatinya, entah sedih, riang gembira, dingin, marah dan takut.

Tapi perasaan yang ditampilkan oleh mata Hiang-hiang justru tidak bisa dilukiskan dengan rangkaian huruf-huruf indah. Karena sebatang golok melintang di lehernya, jiwanya terancam oleh gaman yang berat itu.

Hiang-hiang adalah gadis jelita yang molek, kulit badannya putih halus lagi mulus, lembut dan indah. Lehernya jenjang.

Tapi golok yang mengancam tengkuknya ternyata tidak kecil, Kui-thau-to atau golok kepala setan bobotnya tiga puluh kati. Jari-jari yang menggenggam gagang golok amat besar, lengannya lebih besar lagi berotot.

Perasaan Thio-gongcu menjadi beku, badannya seperti kecemplung sumur yang dingin.

Umumnya binatang berkumpul dengan jenisnya.

Maksudnya ular berkumpul dengan ular, harimau dengan harimau, kura-kura mungkin bergaul dengan bulus, kalau tikus juga punya kawan, maka kawannya itu pasti juga pandai membuat lubang.

Siau Ma bukan orang baik, paling tidak dalam segi tertentu, dia pasti bukan orang baik. Dia suka berkelahi, suka mencampuri urusan orang lain, berkelahi adalah hobinya, seperti hobi orang lain yang suka makan sayur putih. Mirip Hwesio yang suka makan kentang atau lobak.

Thio-gongcu adalah sahabat lama Siau Ma, dalam waktu sekejap tadi, sekaligus dia merobohkan empat orang. Sebagai pejantan yang sudah sekian tahun digembleng dalam kehidupan susah, orang ini pasti takkan gentar menghadapi ancaman golok setan seberat tiga puluh tujuh kati, takkan mungkin menjublek kuatir dan mencucurkan keringat dingin seperti itu. Peduli golok setan itu mengancam leher siapa, perasaannya takkan terguncang, hatinya takkan bingung.

Hanya seorang yang benar-benar dibuat kaget dan takut baru perasaannya beku, hatinya menjadi pilu. Perasaannya beku, karena kecuali sebatang golok kepala setan yang besar itu, juga karena melihat tujuh belas batang golok yang sama besar dan beratnya.

Termasuk tukang pikul tandu, di atas batu cadas besar itu semua ada sebelas orang kecuali Lan Lan dan si pasien yang tetap berada dalam tandu, leher setiap orang diancam oleh sebatang golok setan.

Bobot Kui-thau-to itu ada yang berat dan enteng, golok yang mengancam leher Hiang-hiang, umpama bukan yang paling besar dan paling berat, juga pasti bukan yang paling enteng.

Bentuk Kui-thau-to memang berbeda dengan golok umumnya, ujung golok lebih besar dan berat, batang golok yang lonjong lagi tipis, maka kalau golok ini membacok, bacokannya mirip sebatang kampak.

Biasanya Kui-thau-to jarang membacok sasaran di tubuh manusia, Kui-thau-to khusus memancung kepala manusia, menebas leher orang.

Sekali bacok kepala menggelundung jatuh. Pasti tak perlu dibacok dua kali. Golok yang mengancam leher Siang Bu-gi. Sekali pandang orang tahu, bahwa Kui-thau-to itu adalah yang paling besar, paling berat juga paling tajam.

Ternyata Siang Bu-gi masih enak-enak tidur, masih menggeros.

Delapan belas batang Kui-thau-to, sembilan belas orang, mereka adalah manusia serigala dan hanya satu orang tidak memegang golok, tapi memegang pipa cangklong yang lebih panjang melebihi Kui-thau-to.

Thio-gongcu tahu dan kenal siapa laki-laki yang memegang pipa cangklong ini. Dia pernah melihat serigala tua Pok Can.

Ternyata dandanan, sikap dan tindak-tanduk orang ini, boleh dikata adalah duplikat Pok Can, mirip kue yang dicetak dan dipanggang bersama dalam tungku. Seorang duplikat yang tidak baik.

Oleh karena itu ciri-ciri Pok Can, orang ini dapat menirunya dengan sempurna. Namun sikap dan tingkah laku Pok Can yang gagah-gagahan, seolah-olah dunia miliknya sendiri, jelas tak mungkin ditiru, seumur hidup jangan harap orang ini bisa mempelajarinya.

Maka Thio-gongcu bertanya, "Kau ini putra Pok Can atau muridnya?"

Orang ini tak mempedulikan pertanyaannya, matanya mendelik ke arah Siau Ma.

Siau Ma melompat ke atas batu cadas, jengeknya dingin, "Kalau menurut pendapatku keparat ini cucu kura-kura serigala tua itu." Thio-gongcu terloroh-loroh. Dia sengaja tertawa, padahal rasa geli atau ingin tertawa sedikitpun tidak timbul dalam hatinya. Melihat golok tajam sebesar itu mengancam leher gadis yang dipujanya, siapa saja pasti takkan bisa gembira, apalagi tertawa riang. 

Padahal Thio-gongcu sering mendengar bahwa anak buah atau serigala-serigala perang di bawah pimpinan serigala tua Pok Can semuanya gagah perkasa, berani mati, bila membunuh orang, seperti tukang sayur memotong lobak dan membelah pepaya, berkedip mata pun tidak.

Tertawa sengaja dikumandangkan, nadanya sudah tentu sumbang dan tidak enak didengar, dan biasanya memancing amarah orang lain. Tapi orang ini ternyata cukup tabah dan tebal muka, dia tetap tidak peduli kepada Thio-gongcu, katanya sambil melotot kepada Siau Ma, "Kau she Ma?"

Siau Ma manggut.

"Jadi kau ini si Kuda Binal yang nakal itu?" ucap orang itu pula.

"Dan kau? Apakah kau bernama anjing kecil berkulit serigala?"

Meski wajah panjang orang dengan bola mata sudah berubah putih saking marahnya, namun sekuatnya dia menekan emosi dan menahan gengsi, dengan mengendalikan emosi dia berkata dingin, "Aku tahu asalmu."

"O? Lalu?"

"Kau datang dari Loan-ciok-san-kang yang berada di perbatasan timur laut sana." "Kalau benar kenapa?"

"Konon tinjumu amat keras, sekali pukul bikin Peng-lohau tidak bisa bangun, sampai sekarang masih rebah di ranjang."

"Apakah kau juga ingin merasakan tinjuku?"

"Sekarang Loan-ciok-san-kang sudah bubar, runtuh dan tinggal puing-puingnya saja. Hitung-hitung kita masih kawan sehaluan, oleh karena itu aku bersikap sungkan dan memberi muka kepadamu."

"Tidak perlu kau sungkan kepadaku."

Orang itu menarik muka, katanya, "Aku bernama Thi Sam- kak."

Melihat muka dan mata orang yang segitiga, Siau Ma tertawa, katanya, "Namamu tepat dan cocok."

"Tapi namamu justru keliru."

"Hus, namaku pemberian orang tua."

"Sebetulnya kau lebih tepat dinamakan telur goblok, karena memang goblok sekali," dengan pipa cangklongnya dia menuding sekitarnya, "coba kau hitung berapa batang golok yang kita bawa kali ini?"

Siau Ma tidak perlu menghitung.

Sekaligus melihat Kui-thau-to sebanyak itu, siapa pun pasti akan menghitungnya diam-diam, maka sejak naik ke atas batu Siau Ma sudah menghitungnya. Thi Sam-kak berkata, "Coba kau periksa sekali lagi, delapan belas golok itu mengancam jiwa orang-orangmu."

Siau Ma juga tidak perlu memeriksa lagi, sekilas pandang dia sudah melihat jelas. Siang Bu-gi, Hiang-hiang, Cen Cen, Cen Cu, Lo-bi ditambah empat tukang pikul tandu, sembilan orang semuanya diancam golok pada lehernya. Sisa lagi sembilan golok, empat batang mengancam dua tandu, lima batang terpencar, menjaga dan mengelilingi batu cadas.

Jelas aksi mereka sudah direncanakan dengan baik, perhitungan mereka tepat, kelemahan pihak Siau Ma juga sudah diraba, maka mereka menyergap dengan hasil baik. Dengan bermain sandiwara, delapan orang yang pura-pura terluka tadi menarik perhatian dan memecah tenaga mereka, lalu secara tiba-tiba dan tidak terduga menyergap serta membekuk dan mengancam jiwa mereka.

Satu hal yang membuat Siau Ma tidak mengerti adalah, Siang Bu-gi tidak buta, bukan tuli, kenapa diam saja membiarkan golok orang mengancam lehernya. Dia menduga dalam hal ini pasti ada latar belakang yang belum dia ketahui, namun maknanya amat berarti. Oleh karena itu, sengaja dia ajak Thi Sam-kak bicara, dengan tujuan mengendorkan kewaspadaan mereka.

Ternyata Thio-gongcu tidak sabar lagi, keadaan Hiang- hiang amat runyam dan harus dikasihani.

Thi Sam-kak berkata, "Ada delapan belas golok mengancam leher kawan-kawanmu, kau masih berani bertingkah dan ngobrol tidak keruan di hadapanku, coba kau bilang, bukankah kau orang goblok, laki-laki dungu?"

"Betul, aku ini memang goblok, sangat dungu," Siau Ma masih juga bersikap santai, dengan tertawa dia menambahkan, "begitu goblok aku ini, sehingga mempertaruhkan jiwa orang lain."

Thi Sam-kak tertawa lebar, tertawa besar dan latah. Jelas dia sengaja tertawa, tawanya lebih jelek dari loroh Thio- gongcu tadi, "Ucapanmu betul. Saking gobloknya sampai jiwa orang lain sengaja kau korbankan dengan sia-sia." Mendadak gelak tawanya berhenti, mukanya juga berubah masam, mukanya yang segitiga mendadak membesi hijau, jengeknya dingin, "Sekarang korbankan dulu satu orang, untuk itu boleh aku memberi kelonggaran kepadamu untuk memilih korban yang pertama." Dengan pipa cangklongnya dia menunjuk Hiang-hiang, "Bagaimana kalau kau renggut dulu jiwanya."

"Bagus sekali," seru Siau Ma bertepuk tangan.

Keruan Thio-gongcu gopoh, tanyanya gugup, "Bagus sekali apa artinya?"

"Maksudnya, jiwanya itu tidak boleh diambil orang lain."