Kuda Binal Kasmaran Bab 04

 
Bab 04

Lohor telah berlalu, wajah delapan orang itu tidak berkeringat, sorot mata mereka tidak tenteram, sikap mereka jelas mulai gelisah, namun mereka tetap duduk dikursi masing-masing, tiada yang bergerak atau beringsut.

Mendadak derap lari kuda berdentam di jalan raya, makin lama makin dekat, suaranya makin gemuruh. Delapan orang dalam warung itu menegakkan leher melongok keluar.

Seekor kuda dicongklang secepat angin, penumpangnya berpundak lebar, pinggang ramping, tangan besar kaki panjang, pakaian biru muda dan ketat, bagian pinggangnya tampak menonjol, di balik bajunya jelas menyembunyikan senjata lemas entah jenis apa.

Melihat orang ini, delapan orang itu hanya memandang sekejap, lalu melengos memperhatikan hidangan di depannya. Jelas bukan orang ini yang mereka tunggu.

Sekali menepuk kepala kuda, kuda segera berhenti. Begitu kuda berhenti, penunggangnya sudah berada di warung bobrok si nenek reyot, tiada orang melihat dengan cara apa dia melompat turun dari punggung kuda.

Kakinya panjang, bukan saja panjang juga istimewa. Tetapi yang panjang bukan hanya kakinya, tampangnya ternyata juga panjang, lonjong seperti muka kuda, di atas mukanya yang panjang itu tumbuh sepasang mata segitiga, bola mata yang segitiga itu ternyata gemerlap terang, satu per satu dia menyapu pandang wajah delapan orang yang hadir dalam warung reyot itu, mendadak dia berkata, "Aku tahu siapa kalian, aku juga tahu untuk apa kalian berkumpul di tempat ini." Tiada yang menjawab, tiada yang memberi reaksi, menoleh atau melirik kepadanya pun tidak, seolah-olah mereka takut sekilas melirik bola matanya akan dicolok keluar.

Orang berkaki panjang berkata sambil tertawa dingin, "Aku yakin kalian juga tahu siapa aku, untuk apa aku datang kemari."

Mendadak kakinya menendang. Kakinya memang panjang, betapapun panjang kaki seorang juga tak mungkin lima kaki panjangnya.

Warung itu dibangun secara sederhana, bentuknya kecil lagi pendek, tapi betapapun pendek sebuah rumah, tingginya juga pasti ada tiga empat meter. Siapa nyana seenaknya saja orang ini angkat kakinya, atap rumah ditendangnya jebol dan bolong.

Roman muka hadirin berubah, namun tetap tak bergerak.

Runtuhan genteng, kayu dan debu dari atas berjatuhan di kepala, badan, meja dan mangkuk bakmi mereka, namun tidak ada yang memberi reaksi.

Si kaki panjang sudah duduk, duduk di depan seorang laki- laki gede brewok, katanya dingin, "Selama setengah tahun di Ho Tang, kau melakukan beberapa kali jual beli yang besar nilainya, penghasilanmu amat besar."

Laki-laki gede itu tetap tidak memberi reaksi, namun otot- otot hijau di punggung tangannya tampak merongkol, jari- jarinya menggenggam kencang gagang golok di bawah meja.

Si kaki panjang berkata, "Mulai hari ini, kalau kau menghadapi kesukaran, aku akan melindungimu, usaha tanpa modal yang kau lakukan kita bagi tiga dan tujuh bagian." Akhirnya laki-laki gede bersuara, "Kau mau tiga bagian saja?"

"Kau terima tiga bagian, aku ambil tujuh bagian," demikian ujar si kaki panjang.

Laki-laki gede tertawa. Di saat dia mulai tertawa, golok sudah keluar dari sarungnya, sinar golok berkelebat, yang diincar adalah leher kiri si kaki panjang, gerakan goloknya itu keras lagi berat, serangannya cukup keji, entah berapa banyak kepala manusia yang terpenggal oleh golok ini.

Si kaki panjang tidak bergerak, yang jelas tubuh bagian atas tidak kelihatan bergerak, tapi laki-laki bertubuh segede anak kerbau itu mendadak mencelat terbang, tubuhnya terbang di atas kepala tiga orang yang duduk di belakangnya dan "Blang" dengan keras menumbuk dinding, rumah itu bergoyang seperti hampir ambruk.

Tabasan goloknya memang cepat, tapi tendangan si kaki panjang lebih cepat, seenaknya saja kakinya bergerak di bawah meja, tubuh laki-laki gede seberat ratusan kati itu ditendangnya mencelat beberapa tombak jauhnya.

Si kaki panjang tertawa dingin, katanya, "Itulah Tui-hong- toh-bing-bu-in-ga kebanggaanku, siapa lagi yang masih ingin merasakan kelihaian ’kaki tanpa bayangan mengejar angin merenggut sukma’ milikku ini?"

Tiada orang menjawab, hadirin seperti ciut nyalinya, bernapas juga ditahan.

Si kaki panjang berkata pula, "Baiklah, sejak hari ini, jual beli yang kalian lakukan, seluruhnya harus diserahkan kepadaku untuk membaginya. " Mendadak seorang berkata dingin di belakangnya, "Tiga bagian milik mereka, tujuh bagian jadi milikku."

Berubah air muka si kaki panjang, mendadak tubuhnya mengkeret, laksana angin puyuh sepasang kaki panjangnya menendang berantai. Maka berkumandanglah suara "Krak" dua kali, tubuhnya terlempar jauh keluar pintu dan terbanting keras di tengah jalan.

Kain gorden di bagian pintu belakang seperti ditiup angin, masih kelihatan bergetar, tiada hadirin melihat ada orang masuk. Tapi suara bicara di depan pintu besar sekarang sudah berpindah ke belakang pintu dalam warung jorok itu, katanya pula, "Tio-toa-hucu boleh mengambil dua bagian lebih banyak untuk ongkos perawatan sakitnya di rumah, yang lain juga diubah menjadi tiga dan tujuh bagian, siapa yang menyerahkan lebih dulu boleh segera menyingkir dari sini."

Seorang pemuda yang duduk di dekat pintu belakang segera buka suara, "Selama setengah tahun aku bekerja tanpa modal tiga belas kali total penghasilan tiga ribu lima ratus tahil perak, tapi untuk makan minum dan berfoya-foya dengan perempuan, seluruhnya sudah kuhabiskan hampir separoh."

Dengan nada tertawa orang itu berkata, "Kau bocah keparat memang pandai menghamburkan duit."

Pemuda itu berkata, "Sisanya sudah kubawa semua, sekarang seluruhnya akan kuserahkan kepada kau orang tua."

"Sisanya bagaimana?"

"Terserah bagaimana putusanmu, aku menurut saja." "Bagus, bijaksana mengingat kau berterus terang, aku hanya minta kau menebus kesalahanmu."

Waktu pemuda itu keluar dari warung reyot itu, wajahnya tampak berlepotan darah, pipi kirinya ternyata terkelupas kulitnya.

* * * * *

Tandu itu berhenti di sebelah depan, dengan langkah lebar Lo-bi berputar balik, biasanya kalau dia berjalan langkahnya tegap dan tenang, kelihatan gagah lagi angker, jarang orang melihat dia segopoh saat itu.

"Kau melihat setan?" Siau Ma segera menegur dia. "Setan aku tidak melihat, tapi manusia kulihat cukup

banyak."

"Siapa yang kau maksud?" "Tiang Tiang-tui."

Siau Ma mengerut alis, dia tahu Tiang Tiang-tui atau Tiang si kaki panjang memang tak lebih bagus dibanding setan atau dedemit.

"Dia dimana?" sela Thio-gongcu.

"Rebah di jalan raya tidak jauh di depan sana," sahut Lo- bi. "Untuk apa dia rebah di jalan raya?" tanya Thio-gongcu. "Kau masih ingat nenek peyot yang membuka warung nasi itu?" tanya Lo-bi. Thio-gongcu tahu, Siau Ma juga tahu, entah sudah berapa kali mereka lewat.

"Waktu aku sampai di depan warung reyot itu, kebetulan si kaki panjang terbang keluar dari warung si nenek, begitu terbanting di jalan raya lantas semaput!"

"Selanjutnya?" tanya Siau Ma.

"Selanjutnya dia tidak mampu bergerak lagi." "Lho, kenapa tidak bergerak."

"Karena kakinya buntung!" Siau Ma mengerut alis pula.

Tiang Tiang-tui atau si kaki panjang terkenal dengan Tui- hong-toh-bing-bu-in-ga, Siau Ma kenal kepandaian orang yang lihai dan khusus ini, orang yang mampu membikin Tiang-tui buntung kakinya bisa dihitung dengan jari.

"Masih ada siapa dalam warung si nenek?" tanya Siau Ma. "Masih ada tujuh delapan orang"

"Ada tidak yang kita kenal?" "Ada satu."

"Siapa?" Lo-bi menelan air liur, roman mukanya kelihatan kecut, mirip orang yang sekaligus menegak habis lima kati arak kuning.

Mata Siau Ma sebaliknya menjadi terang, katanya, "Apakah Siang-loto?"

Lo-bi manggut-manggut, mimiknya berubah pula, seperti seorang yang disuruh menelan telur busuk.

Siau Ma justru berjingkrak girang seperti ketiban rejeki, lebih senang dibanding gelandangan yang menemukan mestika dalam tumpukan sampah.

Lo-bi berkata tegas, "Kalau engkau mengajak dia, aku segera minggat."

"Kau bisa minggat kemana?" tanya Siau-Ma.

Apa boleh buat Lo-bi berkata, "Kalau aku harus tetap dalam rombongan ini, kau harus menerima satu syaratku."

"Coba katakan."

"Suruh dia menjauh dari aku, makin jauh lebih baik, satu tombak dia berada di sampingku, umpama tidak minggat, aku akan menumbukkan kepala di atas batu."

Siau Ma hanya tertawa saja.

Kerai tandu tersingkap sedikit, sepasang mata yang jeli tampak mengawasi mereka, tanyanya, "Orang macam apa Siang-loto itu?"

"Siang-loto adalah tukang kulit," sahut Siau Ma. Berkedip mata Lan Lan, katanya, "Tukang kulit jenis apa dia?" "Tukang kulit yang menguliti kulit," Siau Ma menjelaskan.

* * * * *

Tujuh orang dalam warung kini tinggal dua orang saja.

Dua orang pesilat yang tadi bersikap gagah kereng, kini mirip domba yang menunggu giliran untuk disembelih, muka cemberut, alis bertaut, berkeluh resah dan geleng kepala, seperti putus asa.

Orang di balik gorden di belakang pintu mendesak, "Kenapa kamu tidak segera setor?"

Kedua orang ini saling pandang, seperti ingin memberi kesempatan kepada orang lain bicara lebih dahulu, seolah- olah mereka sudah tahu bila masuk ke dalam, mereka pasti dihajar dan dicaci maki, mungkin disembelih.

Suara orang di balik gorden menjadi kaku, "Apa kalian ingin aku seret kemari?"

Seorang berusia lebih muda menabahkan hati, perlahan dia berdiri. Yang berusia lebih tua segera menarik lengannya, katanya dengan merendahkan suara, "Kali ini kau tidak bisa setoran?"

Yang muda manggut-manggut.

"Masih kurang berapa?" tanya yang berusia tua. "Kurang banyak," sahut yang muda.

Yang usia tua menghela napas, katanya, "Hasilku juga tidak cukup untuk setoran, kurang banyak." Mendadak dia mengertak gigi, dari dalam kantongnya dia merogoh setumpuk uang kertas, katanya, "Ditambah punyaku, setoranmu tentu cukup, semua milikku kau ambil saja."

Yang muda terbelalak kaget dan senang. "Dan kau?" tanyanya tak mengerti.

Yang tua tertawa getir, katanya, "Cepat diiris, terlambat juga diiris, aku sudah tua bangka, aku ... aku tidak jadi soal."

Yang muda menatapnya lekat, terharu dan terketuk sanubarinya, mendadak dia pun rogoh duit miliknya dari dalam kantong, katanya, "Ditambah punyaku, setoranmu pasti cukup, kau ambil saja."

Yang berusia tua terbelalak, serunya, "Tapi kau "

Yang muda menyengir tawa, katanya, "Kau punya anak bini, aku hidup sebatang kara, aku tidak jadi soal."

Kedua orang ini saling pandang saling pegang dengan mata berkaca-kaca, mereka tidak sadar seorang telah muncul dan berdiri di depan pintu besar.

Yang berdiri di ambang pintu adalah Siau Ma, terharu oleh kesetiakawanan kedua orang ini, air mata pun hampir meleleh keluar. Sebelum ia buka suara, orang di belakang gorden itu sudah pentang bacot mencaci maki, "Maknya, keparat, bedebah, kunyuk, jangkrik mampus, sundel, kurcaci "

rentetan caci maki menyembur dari mulut seorang yang berhati kaku dingin, sudah tentu kelakuannya cukup mengejutkan. Lebih mengejutkan lagi karena dia berkata, "Kalian dua cucu kelinci lekas enyah, menggelinding pergi, lebih jauh lebih baik, lebih cepat aku lebih senang."

Kedua orang yang saling pegang itu tertegun bingung, bukan tertegun bingung ketakutan lagi, tapi tertegun girang. Orang itu suruh mereka enyah, rasa senang mereka sungguh lebih besar dibanding mereka ketiban rejeki nomplok. Rasa senang yang tak terduga dan tak pernah mereka bayangkan ini benar-benar susah dipercaya.

Tapi Siau Ma percaya. Karena Siau Ma tahu dan maklum akan watak orang itu, maka Siau Ma berkata, "Dia suruh kalian pergi, kalian masih tunggu apa?"

Baru sekarang dua orang itu melihat kehadiran Siau Ma, yang berusia lebih tua berkata gagap, "Apa benar dia suruh kami pergi?"

"Kalian boleh setia kawan, kenapa dia tidak boleh?" Kedua orang itu masih bimbang, masih kurang percaya. "Kalian tak usah takut. Dia mencaci dan memukul, hanya

karena merasa harus setia terhadap kawan baru dia akan mencaci maki orang."

Kedua orang itu saling tatap lagi, lalu sama-sama menoleh ke arah Siau Ma, lalu pelan-pelan beranjak keluar. Tapi beberapa langkah kemudian mereka benar-benar pergi, tepatnya bukan pergi, tapi lari. Lari lebih cepat dibanding kuda yang dihajar tiga ratus kali dengan cemeti.

Siau Ma tertawa lebar.

Tak terdengar suara dari belakang gorden.

Dengan tertawa Siau Ma berkata, "Sungguh luar biasa, babi kurus yang biasanya mengelupas kulit orang, datang juga ke sini buat berburu." Orang di belakang gorden seperti tak kuat menahan diri, serunya, "Babi kurus adalah kau, bukan aku."

Siau Ma tertawa lebar.

Orang di belakang gorden berkata pula, "Kau lebih kurus dari aku, kau lebih babi dibanding aku."

Di tengah gelak tawanya, Siau Ma berkata, "Sedikitnya ada satu hal aku yang lebih kuat dari engkau."

"Satu yang mana?" tanya orang di balik gorden.

"Setelah bertemu, kau harus ikut aku," demikian ucap Siau Ma, lalu menjelaskan, "Ikut aku memang menyebalkan, nasibmu jadi jelek, tapi kalau kau tidak ikut aku, kau akan lebih celaka."

Siapa pun tidak mengharap dirinya celaka.

Kalau dua tukang kulit bertambah satu menjadi tiga tukang kulit. Seorang tukang tambal kulit, seorang ahli menguliti, seorang lagi tukang kerok kulit.

* * * * * Tanggal 12 bulan 9, setelah lohor.

Cahaya mentari di musim rontok tampak lebih cemerlang. Cahayanya yang benderang menyorot lewat jendela, sehingga warung nasi nenek peyot itu kelihatan lebih jorok dan kotor. Siang-loto yang kerjanya menguliti tubuh orang kelihatan lebih menakutkan.

Biasanya Siang-loto dipanggil Siang-po-bi. Karena dia memang sering mengelupas kulit manusia. Begitu Siang-loto muncul, Lo-bi segera menyingkir jauh, berdiri dalam jarak satu tombak lebih. Seolah-olah dia takut bila Siang-loto menguliti tubuhnya, sikap Siang-loto memang seperti ingin menguliti dia.

Siapa saja bila berhadapan dengan Siang-po-bi, pasti merasa takut dan ngeri serta merinding, takut dirinya dikuliti. Perawakannya pendek kalau tidak mau dibilang kate, kurus kering seperti kayu habis terbakar, seluruh berat badannya mungkin tidak lebih tiga puluh kilo. Tapi dia lebih menakutkan dibanding raksasa yang bertubuh segede gajah. Sesuai namanya, dirinya mirip sebilah pisau atau sebatang golok.

Golok yang beratnya tiga puluh kilo, lebih menakutkan dibanding besi karat yang bobotnya tiga ratus delapan puluh kilo. Apalagi pisau atau golok yang satu ini memiliki mata yang tipis tajam lagi runcing, sudah terlolos dari sarungnya. Siapa yang berhadapan dengan dia, hatinya pasti giris dan merinding.

Terutama sepasang matanya. Bila mengawasi orang, yang diawasi akan merasa seakan ditusuk pisau, menusuk di bagian yang paling sakit di tubuhnya.

Demikianlah perasaan Lan Lan saat itu, sepasang mata Siang-po-bi sedang menatap dirinya. Lan Lan adalah gadis yang cantik rupawan. Perempuan cantik belum tentu ada daya tarik. Tapi lain dengan Lan Lan, bukan saja cantik, dia juga punya daya tarik, sehingga laki-laki yang pernah melihatnya satu kali, mesti berada tiga ratus li jauhnya, akan disedot sukmanya. la lekas berdiri di hadapannya.

Tapi ia sadar dan maklum bahwa sorot mata laki-laki kate ini jauh berbeda. Kalau tatapan mata laki-laki umumnya ingin membelejeti pakaiannya, tapi tatapan laki-laki ini ingin membelejeti kulit tubuhnya. Pandangan yang ingin membelejeti pakaian, perempuan manapun bisa menerimanya, asal ia perempuan normal, perempuan yang berhati tabah, karena orang tidak membelejeti pakaiannya. Tapi berbeda dengan pandangan orang yang ingin membelejeti kulit manusia ini, perempuan pasti tak tahan ditatap seperti itu, entah perempuan normal, perempuan terhormat atau perempuan nakal.

Maka Lan Lan mengawasi Siau Ma, lalu tanyanya, "Apakah Siang-siansing juga ikut kita ke Long-san?"

"Dia akan ikut," sahut Siau Ma. "Kau yakin?"

"Ya, yakin."

"Kenapa?"

"Karena dia membuat si kaki panjang buntung." "Tiang Tiang-tui atau si kaki panjang itu juga manusia

serigala?"

"Bukan," sahut Siau Ma.

"Kaki panjang adalah gendak Liu-toa-ga (Liu si kaki besar)," ucap Thio-gongcu.

"Siapakah Liu-toa-ga?" tanya Lan Lan.

"Manusia serigala ada yang jantan dan betina, Liu-toa-ga adalah salah satu dari sekian serigala betina paling ganas, keji dan telengas," Thio-gongcu menjelaskan. Lan Lan tertawa, katanya, "Kaki panjang berjodoh dengan kaki besar, memang pasangan yang setimpal."

Siau Ma berkata, "Oleh karena itu, setelah kaki panjang menjadi buntung, Liu-toa-ga pasti naik pitam, umpama Siang- losam tidak pergi ke Long-san, Liu-toa-ga pasti turun gunung membuat perhitungan dengan dia."

Berputar mata Lan Lan, katanya, "Kalau dia pergi ke Long- san, bukankah masuk ke mulut serigala malah?"

"Tapi Siang-losam bukan kambing, juga bukan Lo-bi, kalau dia berani membabat buntung kaki si kaki panjang, tentu dia punya maksud dan ada akal, mungkin Liu-toa-ga juga akan dibuatnya buntung."

Thio-gongcu menimbrung, "Setiap melaksanakan tugas Siang-losam bekerja secara cermat, teliti dan bersih, kalau membabat rumput harus memotong akarnya, tak boleh meninggalkan bibit bencana di kemudian hari."

Sejak tadi Siang-po-bi hanya mendengarkan saja tanpa komentar, wajahnya tidak mengunjuk perasaan apa-apa, mendadak dia menyeletuk, "Selaksa tahil perak, dua guci arak paling bagus." Agaknya Siang-losam, tidak suka bicara. Apa yang ia ucapkan jarang ada orang paham maksudnya.

Lan Lan tidak mengerti, tapi dia mengawasi sikap Siau Ma dan Thio-gongcu, dia maklum kedua orang ini tahu apa yang dimaksud oleh ucapan si kate.

Thio-gongcu segera berkata, "Itulah syaratnya."

Lan Lan berkata, "Jadi kalau mau mengajak dia ke Long- san aku harus bayar selaksa tahil perak dan dua guci arak kualitet terbagus?" "Tidak salah," ucap Thio-gongcu. "Sepeser pun tidak boleh kurang, demikian pula araknya harus betul-betul bagus dan sesuai syarat yang diajukan Siang-loasam, selamanya tidak boleh ditawar, tiada kompromi."

Siau Ma berkata, "Tapi tuntutannya itu tidak dicaploknya sendiri, dia tidak suka minum, dia bukan setan arak."

Thio-gongcu berkata, "Dia minta duit, selalu senang menggunakan caranya yang khas, cara yang paling disenangi dia adalah hitam caplok hitam”. Maksudnya menodong kawanan penjahat yang berhasil dengan operasinya.

Siau Ma menambahkan pula, "Oleh karena itu, barang- barang yang ia tuntut diberikan kepada orang lain."

"Seorang lain siapa?" tanya Lan Lan.

Siau Ma tidak menjawab. Thio-gongcu juga diam. Karena mereka tidak tahu.

Ternyata Lan Lan tidak bertanya lagi, tanpa pikir ia berdiri dan beranjak keluar, waktu balik ke dalam dia membawa buntalan yang berisi uang selaksa tahil perak dan dua guci Li- ji-ang yang paling baik.

Lan Lan adalah perempuan, gadis jelita, tapi tindak tanduknya tegas, dalam menghadapi persoalan ia bisa berlapang dada dan jauh lebih cekatan dibanding laki-laki.

Siang-po-bi hanya meliriknya sekejap sepatah kata pun tidak bicara, dengan sebelah tangan dia apit kedua guci arak itu, dua jari tangan yang lain menjepit buntalan uang terus berdiri. Bukan beranjak keluar, malah masuk ke rumah atau tempat tinggal si nenek reyot pemilik warung kotor ini. * * * * *

Di dalam sebuah kamar kecil yang kotor, bobrok semrawut dan gelap, nenek kurus peyot itu meringkuk di atas ranjang batu yang dingin dan rusak, mengkeret di pojok, tubuhnya meringkel mirip trenggiling.

Siang-po-bi beranjak masuk, dengan laku hormat dia taruh kedua guci arak dan buntalan kain berisi uang itu di atas meja yang sudah setengah reyot di depan ranjang, lalu menjura hormat kepada si nenek. Belum pernah ada orang melihat Siang-lo-bi bersikap hormat seperti itu kepada orang lain, mesti terhadap ibu bapaknya juga tak pernah dia menjura.

Begitu Siang-po-bi masuk kamarnya, nenek itu tampak kaget serta mengkeret ke dalam, kelihatannya amat takut.

Siang-po-bi berkata, "Duitnya genap selaksa tahil, araknya adalah Li-ji-ang yang sudah tersimpan dua puluh tahun."

Bahwasanya nenek itu seperti tak mengerti apa maksud ucapannya.

Tapi Siang-po-bi masih berlaku hormat, katanya pula, "Wan-pwe she Siang, bernama Siang Bu-gi, dalam silsilah keluarga aku nomor tiga."

Mendadak nenek itu bertanya; "Bapakmu bernama Siang Pa-thian?"

"Betul," Siang Bu-gi munduk-munduk.

Mendadak si nenek meluruskan badan, sigap sekali dia sudah berada di depan meja, mulut guci ditepuknya hancur lalu mengendus bau arak, sorot mata yang semula kuyu karena dimakan usia mendadak bercahaya.

Hanya dalam sekejap nenek peyot yang giginya ompong tinggal satu dua itu, tahu-tahu berubah menjadi manusia lain, bukan saja berubah lebih muda, malah lebih tepat kalau dibilang penuh gairah, punya keyakinan dan berwibawa, berubah menjadi tenang dingin lagi kaku. Bukan saja mengejutkan, perubahan yang dramatis ini betul-betul menakutkan.

Ternyata Siang Bu-gi tidak takut juga tidak kaget, seakan- akan kejadian ini sudah sering dilihatnya.

Waktu nenek ini duduk di pinggir meja, buntalan berisi uang itu mendadak lenyap dari pandangan.

Walau wajah Siang Bu-gi tidak berubah, tidak menampilkan perasaan hatinya, tapi sorot matanya menampilkan harapan. Asal nenek ini mau menerima uang, urusan pasti ada harapan.

"Ini arak bagus," ujar si nenek. "Ya," sahut Siang Bu-gi.

"Arak tidak boleh diminum sendirian." "Betul."

"Duduklah, temani aku minum." "Boleh."

"Minum arak harus adil, satu orang satu guci." "Baiklah," sahut Siang Bu-gi, dia seret sebuah kursi lalu duduk di depan si nenek, dia tepuk hancur mulut guci yang lain.

Si nenek berkata, "Aku minum seteguk, kau pun minum seteguk."

"Baik," sahut Siang Bu-gi alias Siang-po-bi.

Si nenek angkat guci lalu menghirup seteguk. Siang Bu-gi juga angkat guci menghirup satu teguk. Seteguk besar.

Begitu arak masuk perut, mata si nenek bersinar lebih terang, ketika teguk kedua masuk kerongkongan, wajah yang keriput dan pucat berubah semu merah, lama ia menatap Siang Bu-gi, lalu berkata, "Sungguh tak nyana, kau bocah ini memang menyenangkan!"

Siang Bu-gi manggut-manggut.

"Paling tidak kau lebih menurut dibanding bapakmu." "Ya," sahut Siang Bu-gi.

Si nenek sekali lagi meneguk arak dalam guci, lama dia mengawasinya, mendadak bertanya, "Kau juga ingin ikut mereka ke Long-san?"

"Ya, apa boleh buat."

"Bapakmu sudah mampus, demikian pula Toako dan Jikomu juga mati, keluargamu hampir mampus seluruhnya."

"Betul."

"Kau juga ingin mampus?' "Aku tidak."

Nenek itu tertawa lebar, giginya memang ompong seluruhnya, katanya, "Aku sudah terima uangmu, menghabiskan arakmu, sudah tentu aku takkan membiarkan kau mati!"

"Ya," Siang Bu-gi mengiakan.

"Tapi setelah berada di Long-san, aku tak bertanggung jawab kau pulang dengan hidup dan sehat."

"Aku tahu."

"Di Long-san ada berbagai jenis serigala, ada serigala siang, serigala malam, ada Kun-cu-long, Siau-jin-long, ada serigala yang tidak makan orang, tapi ada juga serigala yang suka gegares daging manusia." Setelah meneguk araknya dia menambahkan, "Di antara sekian banyak serigala, tahukah kau jenis mana yang paling menakutkan?"

"Kun-cu-long," sahut Siang Bu-gi.

Si nenek tertawa senang, katanya, "Kurasa bukan saja menyenangkan, otakmu tidak bodoh."

Manusia munafik apalagi berwajah tampan dan gagah, dimana pun dia berada, selalu termasuk jenis yang paling menakutkan.

Si nenek berkata pula, Lotoa dari Kun-cu-long dinamakan Long-kuncu, orang ini mirip guru sekolah, kerja apa saja selalu penuh tata-krama, kalau bicara juga sopan dan lembut, orang yang tidak mengenalnya, setelah melihat dan berhadapan dengan dia tentu merasa kagum dan dekat kepadanya." Mendadak dia menggebrak meja, suaranya meninggi, "tapi orang ini bukan manusia, dia harus dipancung kepalanya hingga mampus, tubuhnya harus dicacah sampai tiga laksa tujuh ribu delapan ratus enam puluh kali."

Siang Bu-gi hanya mendengarkan.

Si nenek minum beberapa teguk lagi, syukur amarahnya mereda, katanya, "Kecuali kawanan serigala itu, sekarang di atas gunung muncul lagi serombongan serigala jenis lain."

"Serigala jenis apa?" tanya Siang Bu-gi. "Mereka dinamakan Hi-hi-long atau Bit-long."

Dua nama yang aneh, serigala jenis itu jelas juga aneh.

"Usia mereka masih muda, kebanyakan adalah generasi kedua dari kawanan serigala tua di atas gunung, sejak dilahirkan takdir sudah menentukan nasib mereka sebagai manusia serigala, mereka harus hidup sampai mati di atas gunung itu."

Siang Bu-gi maklum apa maksud perkataannya. Putra putri atau keturunan manusia serigala, kecuali di Long-san, di tempat mana mereka bisa hidup? Kemana mereka bisa mencari nafkah? Dunia memang besar, namun tiada tempat di dunia ini boleh dan mau menerima kehadiran mereka. Karena manusia serigala tidak memberi kesempatan orang lain hudup dalam kelompok mereka.

Akan tetapi mereka masih muda. Kaum muda umumnya lebih bajik, lebih bijaksana. Karena mereka tak mampu melampiaskan rasa penasaran, masgul, rasa sial mereka, putus asa lagi menghadapi masa depan, maka mereka berubah, dipaksa berubah oleh keadaan menjadi serombongan manusia yang aneh.

Si nenek bicara lebih lanjut, "Mereka tidak acuh terhadap segala persoalan, makan sembarangan, pakaian rombeng, ada kalanya tanpa sebab mereka membunuh orang, tapi datang saatnya mereka juga menolong orang, asal kau tidak mengusik atau menyentuh mereka, biasanya mereka tidak mengganggu kau, maka "

"Maka lebih baik aku tidak mengganggu mereka," ucap Siang Bu-gi.

"Lebih baik kau pura-pura tidak melihat, di antara rombongan kaum muda ini, tidak sedikit yang berkepandaian tinggi, terutama tiga putera serigala tua Pok Can dan dua putri Kun-cu-long."

"Konon di atas Long-san terdapat empat Toa-thau-bak, apakah Pok Can dan Long-kuncu adalah dua di antaranya?"

Si nenek manggut, katanya, "Tapi terhadap putra putri mereka, kedua orang ini tidak bisa berbuat apa-apa."

"Kecuali Pok Can dan Long-kuncu, siapa lagi kedua Thau- bak yang lain?"

"Orang ketiga bernama Liu Kim-lian, serigala betina yang buas, sayang sekali betina yang satu ini berjiwa sempit, kejam lagi telengas."

"Apakah Liu Kim-lian adalah Liu Toa-ga?"

Si nenek tertawa dengan memicingkan mata, katanya geli, "Serigala betina ini amat cabul lagi serakah, dia benci kalau orang memanggil dia Toa-ga (kaki besar), jikalau dia tahu kau membunuh lakinya, bukan mustahil dia bekuk kau sebagai gantinya, kalau terjadi begitu, lebih baik kau bunuh diri saja!"

Siang Bu-gi sedang meneguk arak, dengan guci dia menutupi wajahnya. Wajahnya berubah pucat. Dia tidak senang mendengar kelakar demikian.

"Seorang lagi bernama Hoat-su, seorang Hwesio, tidak membaca mantra tidak pernah kotbah, dialah pertapa yang tidak punya pantangan makan."

"Memangnya apa yang suka dia makan?"

"Dia paling suka daging manusia, daging manusia yang masih segar."

Seguci arak hampir ditenggak habis, mata si nenek sudah merem melek, kelihatannya setiap saat dia bisa roboh lalu tidur pulas.

Lekas Siang Bu-gi bertanya, "Konon keempat Thau-bak ini pimpinan tertinggi yang paling berkuasa di Long-san?"

"Ehm, benar."

"Siapakah pimpinan mereka yang tertinggi?" "Kau tidak perlu tahu."

"Kenapa?"

"Karena takkan bisa melihatnya, orang-orang yang menetap di atas Long-san juga sukar melihatnya."

"Maksudnya dalam memerintah kawanan serigala itu, dia tidak pernah tampil sendiri?" "Lebih baik kau tidak memaksa dia turun tangan."

"Kenapa?" mesti ngeri, tak tahan Siang Bu-gi bertanya juga.

"Bila dia turun tangan, jiwamu pasti tamat."

Lekas Siang Bu-gi menutupi wajahnya dengan guci arak. "Aku tahu, hatimu penasaran, aku juga tahu Kungfumu

luar biasa, tapi kemampuanmu sekarang dibanding Cu Ngo Thay-ya, jaraknya seperti bumi dan langit." Setelah menghela napas, si nenek melanjutkan, "Jangan kata engkau, aku sendiri masih jauh melawan dia, kalau tidak, buat apa aku hidup menderita di tempat ini, apakah untuk membunuh Cu Ngo?"

Siang Bu-gi tidak bertanya. Biasanya dia tidak senang dan pantang bertanya rahasia orang lain.

Si nenek berkata pula, "Cu Ngo bukan saja berkuasa dan jadi raja di Long-san, kalau dia mau, kemana pun dia pergi, di setiap tempat dia bisa menjadi raja, seluruh jago-jago kosen yang ada di dunia persilatan, tiada satu pun yang memiliki kungfu setaraf dia." Nada ucapannya datar lagi tegas, tidak marah, benci atau dendam, lebih tepat kalau dia bicara dengan nada kagum.

Tidak banyak sisa arak dalam guci, si nenek minum lagi, kali ini sekaligus dia habiskan sisa arak yang ada, sorot matanya gemerdep terang pula.

Guci di tangan Siang Bu-gi sudah kosong. Si nenek mengawasinya, mendadak berkata, "Kenapa tidak kau tanya, apa hubunganku dengan Cu Ngo?"

"Karena aku tidak ingin tahu." "Betulkah kau tidak ingin tahu?"

"Rahasia orang lain, kenapa aku harus tahu."

Lama si nenek mengawasinya, akhirnya menghela napas perlahan, katanya lembut, "Kau anak baik, aku suka kepadamu." Tangannya merogoh kantong mendadak dia mengeluarkan satu benda lalu disesepkan ke tangan Siang Bu- gi, katanya, "Ini untukmu, pasti berguna untukmu."

Yang dia berikan kepada Siang Bu-gi adalah sekeping uang tembaga yang sudah digosok mengkilap, tapi di atas uang tembaga itu membekas irisan pisau.

Karena tertarik, Siang Bu-gi bertanya, "Untuk apa ini?" "Itu bisa menolong jiwa."

"Menolong jiwa siapa?"

"Menolong jiwa kalian," ucap si nenek, "jika kau bisa bertemu dengan seorang yang mempunyai tujuh jari di tangan kirinya, serahkan uang tembaga ini kepada dia, apapun yang harus kau lakukan, dia pasti membantu kalian."

"Orang itu hutang budi terhadapmu?"

Si nenek manggut, katanya, "Sayang kau belum tentu bertemu dengan dia, karena dia adalah serigala malam, siang hari tidak pernah keliaran." "Aku bisa mencarinya malam hari."

"Jangan, sekali-kali kau mencari, kau hanya boleh menunggu, menunggu dia mencari kau." Sikapnya serius, lalu menambahkan, "Di hadapan manusia serigala lainnya, jangan kau singgung dirinya."

Siang Bu-gi masih ingin bertanya, tapi si nenek sudah tidur. Mendadak dia sudah menggeros, tidur lelap.

Terpaksa Siang Bu-gi berdiri perlahan lalu beranjak keluar, ketika dia berdiri di ambang pintu, nenek itu masih mengkeret seperti tadi di pojok dinding, keadaanya seperti tadi, sebagai nenek peyot yang tua renta dan lemah, gugup dan takut.