Kait Perpisahan Bab 5 : Sembilan ratus kati beras.

 
Bab 5 : Sembilan ratus kati beras.

Kuku jari tangan itu dicat merah dengan cairan bunga Hong Sian Hoa yang disuling secara khusus, warna merahnya amat cerah dan menyala.

Namun, begitu melihat kuku tangan itu, paras muka Lu Siok Bun segera berubah jadi pucat pias bagai mayat.

Dia rampas kuku itu dari tangan Nyo Cing, kemudian mengamatinya sampai lama sekali dibawah cahaya lentera yang baru saja disulutnya.

Tiba tiba tangannya gemetar keras, sekujur badannya ikut gemetar, dia putar badan dan bertanya kepada pemuda itu, “Darimana kau dapatkan benda ini?"

"Dari kereta milik Ti Cing Ling, benda itu benda di sela-sela karpet yang melapisi permukaan kereta"

Belum selesai dia bicara, air mata Lu Siok Bun telah jatuh bercucuran bagai hujan gerimis.

"Si Si sudah mati" katanya dengan air mata meleleh keluar, "sejak awal sudah kuduga, dia pasti mati ditangan Ti Cing Ling"

"Kenapa kau begitu yakin?"

"Kuku ini milik Si Si, cat merah dari cairan Hong Sian Hoa itu pemberianku, aku masih dapat mengenalinya" kata Lu Siok Bun sambil menangis, "Si Si selalu memelihara kukunya dengan baik, kalau tidak terjadi apa apa, mana mungkin kukunya bisa terputus dan tertinggal di kereta Ti Cing Ling?"

Paras muka Nyo Cing mulai memucat, pucat seperti wajah perempuan itu.

"Seorang Ielaki bangsawan macam Ti Siau Hou, kenapa begitu tega membunuh seorang wanita yang patut dikasihani seperti Si Si?" gumamnya lirih, "apakah lantaran ada rahasia besar yang telah diketahui oleh Si Si? Dengan status serta kedudukannya di dalam dunia persilatan, tidak seharusnya dia punya rahasia yang memalukan"

Sesudah menghela napas, lanjutnya,"Tapi seandamya dia benar benar telah membunuh Si Si, kita pun tak bisa berbuat apa apa"

"Kenapa?” tangis Lu Siok Bun semakin menjadi. "Karena kita tak punya bukti, tak punya saksi"

"Kau harus bantu aku selidiki kasus ini hingga tunas" pinta Lu Siok Bun sambil menggenggam tangan Nyo Cing erat-erat, "aku mohon, kau harus bantu aku mengungkap tabir kematiannya"

Tangannya amat dingin begaikan es, tangan Nyo Cing juga lebih dingin dari salju. "Sebenarnya selama ini aku hanya curiga" kata Nyo Cing 'tetapi sekarang, aku betul-betul

sudah mengerti"

"Apa yang kau curigai? Apa yang kau pahami?”

"Semalam Lian Kou mati tenggelam dalam sumur. Dia adalah seorang gadis yang saleh dan baik hati, tak akan ada yang membunuh karena dendam, bahkan orang tua nya pun mengira dia mati lantaran bunuh diri, tapi aku tetap curiga, karena waktu itu dia sedang merawatku, tak mungkin disaat aku sedang sakit parah, dia terjun ke sumur bunuh diri" Setelah berhenti sejenak, tambahnya,"Biarpun waktu itu keadaanku tidak baik, tapi lamat lamat aku sempat mendengar jeritan kesakitannya yang memilukan hati.”

Bila seseorang hendak menghabisi nyawa sendiri, tak mungkin dia akan mengeluarkan jeritan yang begitu ngeri dan menyayat hati.

“Jadi kau menganggap dia mati lantaran dibunuh?" tanya Lu Siok Bun. "Benar"

“Tapi siapa yang begitu tega membantai gadis sesaleh dan sebaik itu?”

"Seseorang yang sebetulnya ingin membunuhmu" sahut Nyo Cing dengan suara penuh amarah, kebencian dan rasa dendam yang membara, “dia tahu kau berada di rumahku, maka ketika melihat Lian Koh keluar dari kamarku, dia mengira Lian Koh sebagai dirimu"

"Mengapa dia hendak membunuhku?"

“Karena kau telah mencurigai Ti Cing Ling" jawab Nyo Cing.

“Karena itu kau tak boleh tetap tinggal disini, sebab Ti Cing Ling pasti tak akan biarkan kau hidup, sekali gagal membunuhmu, pasti ada kedua kali dan, ketiga kalinnya…”

Ditatapnya wajah Lu Siok Bun lekat lekat, kemudian tambahnya, “Kau harus pergi bersamaku, tinggalkan segala sesuatu yang ada disini dan pergi bersamaku, aku tak boleh membiarlcan siapa pun mencelaki jiwamu"

Sorot matanya begitu serius dan penuh permohonan, menandakan betapa tulus dan mendalamnya perasaan cinta terhadapnya.

Lu Siok Bun segera menyeka kering air matanya, setelah mengambil keputusan dia menyahut. 'Baik, aku pergi bersamamu, terserah mau pergi ke mana pun, aku akan selalu menguntilmu" PerasaanNyo Cing terasa hancur lebur.

Parasaan cinta yang merasuk hingga ke tuIang sumsum, sama menghancur Ieburkan perasaan hati seseorang persis seperti sebuah penderitaan, entah bagaimana yang terjadi, tahu tahu ke dua orang itu telah saling berpelukan dengan mesrahnya

Baru pertama kali ini mereka berpelukan dengan mesrah.

Semacam tenaga tekanan yang datang dari Iuar, seringkali dapat menghancurkan "sekat" yang memisahkan dua orang lawan jenis yang sesungguhnya saling mencintai namun karena sesuatu hal tak bisa saling mencurahkan perasaan hatinya, tapi begitu sekat tersebut hilang, perasaan mereka berdua justru tumbuh dan berkembang semakin mendalam.

Dalam waktu singkat, mereka seolah-olah sudah melupakan segala sesuatunya, melupakan semua kegundahan, penderitaan, kebencian sera perasaan sedih yang Iuar biasa.

Keadaan seperti ini tidak berlangsung tertalu lama.

Pada saat itulah, tiba tiba terdengar seseorang mengetuk pintu.

Seorang bocah lelaki berusia 12-13 tahunan yang berwajah putih bersih, tampan dan polos telah berdiri di depan pintu, dengan sikap yang amat hormat dia menjura kepada Lu Siok Bun yang sedang membukakan pintu.

"Aka datang mencari seorang nona yang bemama Ji Giok"

"Akulah Ji Giok" sahut Lu Siok Bun, "ada urusan apa mencari aku?"

Seandainya tidak berada datam situasi seperti itu, mungkin saja dia sudah tartawa lantaran geli, selama ini banyak sekali lelaki dari pelbagai jenis lapisan masyarakat datang mencarinya, mulai dari yang muda hingga kakek berusia tujuh-delapan puluh tahunan, tapi beIum pernah ada bocah sekecil itu datang mencarinya.

Mimpi pun dia tak menyangka bocah itu datang bukan untuk mencarinya, melainkan hendak mencabut nyawanya. "Aku bernama Siau Yap Cu" bocah lelaki itu memperkenaIkan diri sambil tertawa cekikikan, "banyak orang bilang nona Giok selain pintar juga amat cantik, ternyata mereka tidak membohongi aku"

Ketika memperkenalkan namanya tadi, diam-diam dia telah meloloskan sebilah pisau tajam, sebilah pisau yang belum pernah meleset bila digunakan untuk membunuh seseorang.

Tapi kali ini dia meleset.

Baru saja pisaunya di tusukkan ke atas, mendadak terdengar suara membentak gusar sambil menyerbu ke depan.

Sebuah tonjokan tinju yang keras langsung menohok biji tenggorokannya.

Seorang bocah kecil yang baru berumur tiga belas tahu, mana mungkin mempunyai biji tenggorokan?

Sebaliknya Siau Yap Cu sendiri pun tidak mengira kalau dari dalam rumah kediaman seorang pelacur bisa muncul seorang lelaki dengan serangan yang begitu cepat lagi kuat.

Tapi dia tak sampai gugup, dia pun tidak dibuat kalut oleh tonjokan maut itu.

Dia datang khusus untuk membunuh orang, karena itu biarpun dalam keadaan dan situasi perubahan seperti apa pun, dia tetap harus laksanakan tugas tersebut.

Sebagai seorang pembunuh yang terlatih, tentu saja dia tak melupakan wejangan itu.

Badannya berputar bagai gangsingan, begitu lolos dari sodokkan tinju Nyo Cing, dia berbalik tangan menusuk belakang tengkuk Lu Siok Bun.

Kali ini babatan pisaunya tidak me1eset, diantara kilatan cahaya senjata mata pisau sudah menembusi daging seseorang, daging bagian bawah bahu.

Bukan bahu miIik Ji Giok, tapi bahu itu miIik Nyo Cing.

Tiba-tiba saja Nyo Cing menerjang maju ke depan, menyambut datangnya tusukan pisau itu dengan bahunya kemudian menarik otot dan dagingnya kuat kuat.

Mata pisau seketika terjerumus ke dalam daging badan yang lebih keras daripada baja. Siau Yap Cu terkejut bercampur girang, dia tidak tahu apakah serangan itu berhasil atau tidak karena selama ini belum pernah menjumpai situasi macam begini.

Pada saat itulah telapak tangan Nyo Cing yang kuat bagai besi sudah membabat persis diatas tenggorokannya.

Sepasang biji matanya melotot keluar bulat-bulat, memandang Nyo Cing dengan perasaan terkesiap.

Menyusul kemudian tubuhnya roboh terkuiai ke tanah, roboh untuk selama-lamanya.

Buru buru Nyo Cing cabut keluar pisau pendek itu dari bahunya, lalu merobek pakaiannya untuk membalut luka dibahu, setelah menghentikan cucuran darah, dia tarik tangan Lu Siok bun sambil bisiknya,"Kita segera pergi"

Dengan wajah berubah Lu Siok Bun meronta melepaskan diri dari cekalan pemuda itu, teriaknya,"Kau pergilah seorang diri!"

"Kenapa?" Nyo Cing melengak.

"Bagaimana pun juga dia masih seorang bocah, kenapa kau begitu tega membunuhnya?" tegur Lu Siok Bun ketus, "aku tak sudi hidup bersama seorang lelaki berhati telengas semacam kau"

Nyo Cing tahu dia sedang marah, bila dia sudah menganggap sesuatu itu benar, mau dijelaskan dengan perkataan apa pun tak ada gunanya.

Karena itu terpaksa dia harus gunakan fakta untuk menjelaskan hal ini.

Tiba tiba dia tarik lepas celana Siau Yap Cu hingga telanjang bulat, kemudian serunya,"Coba kau periksa, dia seorang bocah atau bukan” Dengan perasaan terkejut bercampur heran Lu Siok Bun awasi "si bocah" milik Siau Yap Cu, siapa pun yang menyaksikan "hwesio" milik orang itu pasti akan tahu kalau dia sudah bukan anak anak lagi.

Bentuk serta tampilan "bocah" milik Siau Yap Cu jelas sudah sangat matang dan amat dewasa. "Darimana kau tahu kalau dia sudah bukan seorang bocah?"

"Karena tenggorokannya sudah berbiji, cara memakai pisau pun sangat terlatih dan matang" jelas Nyo Cing, "sejak awal aku sudah tahu kalau dalam dunia persilatan terdapat manusia macam dia, bahkan bukan hanya satu orang"

"Manusia macam apa dia itu?"

"Mereka adalah orang orang cebol yang memang sengaja dikendalikan pengembangan badannya dengan menggunakan obat, sejak kecil sudah dilatih menjadi seorang alat pembunuh manusia yang tangguh, karena dalam makanan yang disantapnya setiap hari dicampuri obat awet muda maka kulit dan wajah mereka selamanya tak pernah jadi tua, sampai kapan pun penampilan mereka tetap bagai seorang bocah"

Setelah berhenti sejenak, kembali dia menambahkan, "Bahan obat itu mahal sekali harganya, karena itu harga yang ditawarkan mereka sebagai upah pembunuh sangat tinggi dan mahal, kecuali bangsawan kaya raya macam Ti Cing Ling, tak banyak yang mampu menyewa mereka"

Tangan dan kaki Lu Siok Bun mulai mendingin, dia benar benar bergidik.

Mau tak mau dia harus mempercayai perkataan Nyo Cing, jangankan manusia, banyak pohon bongsai yang dikerdilkan orang dan terbukti memang selamanya tak dapat tumbuh jadi tinggi dan besar.

Tentu saja manusia berbeda dengan pepohonan.

"Siapa yang begitu kejam? Siapa yang begitu tega menggunakan cara yang begitu keji untuk mengerdilkan sekelompok anak-anak?" tanya Lu Siok Bum

"Perkumpulan Cing Liong Pang (perkumpulan Naga Hijau) yang pernah kusinggung tempo hari, mereka semua anggota Cing LiongPang dan biasanya menyamar sebagai kacungnya tokoh-tokoh penting perkumpulan itu"

Tiba tiba Dia tertawa, dibelainya mulut luka dibahunya sambungnya, “Untung saja pertumbuhan orang orang itu sudah dikendalikan sejak kecil hingga kekuatan tubuh mereka amat terbatas, kalau tidak mungkin akupun tak berani menerima tusukan pisaunya"

Lu Siok Bun menghela napas panjang.

“Kadangkala aku tak habis mengerti, darimana kau bisa mengetahui begitu banyak persoalan?

Tampaknya tak ada tipu muslihat dalam dunia persilatan yang dapat mengelabuhi dirimu"

Sekilas perasaan hormat dan pedih menghiasi wajah Nyo Cing, lewat lama kemudian dia baru berkata:"Aku tahu semua mengenai itu, karena ada seseorang yang mengajarkan kepadaku"

"Siapa yang mengajarkan kepadamu?"

Nyo Cing tidak menjawab lagi, dia lepaskan buntalan dari punggungnya, keluarkan daging dan kueh keras dan diserahkan ke perempuan itu, kemudian dia sendiri jatuhkan diri berbaring sambil memandangi bintang-bintang dilangit dengan termangu.

Apakah dia sedang memikirkan orang itu?

Waktu itu malam sudah amat larut, keluar dari rumah bordil ln Hong Wan, mereka menelusuri lorong kecil menuju ke luar kota, kini mereka sudah tiba dibawah sebuah bukit dengan mata air yang jernih. Pengaruh arak ditubuh Nyo Cing telah luntur, anehnya sakit yang dideritanya seolah olah juga ikut berkurang banyak, saat itu dia betul merasa amat lelah.

Dengan sorot mata penuh kasih sayang Lu Siok Bun mengawasinya, tak tahan dia ulurkan tangan dan mulai membelai wajahnya yang kurus dengan penuh rasa cinta.

"Lebih baik tidurlah sebentar, bila terjadi sesuatu aku akan membangunkan kau"

Nyo Cing mengangguk dan mulai pejamkan matanya, dia seakan tidak perduli dengan suara langkah manusia yang mulai terdengar di tanah perbukitan itu.

0-0-0

Langkah manusia itu lebih ringan daripada kucing, perlahan lahan berjalan mendekat melalui tanah berumput, dua pasang mata yang tajam bagai serigala mengawasi terus tangan Nyo Cing tanpa berkedip.

Ternyata yang datang adalah dua orang.

Nyo Cing tidak tidur, jantungnya sedang berdetak, berdetak sangat cepat.

Langkah kaki ke dua orang itu kelewat enteng, ilmu sitatnya pasti amat tangguh. padahal Nyo Cing merasa amat lelah, dia sudah kehabisan tenaga.

Dia hanya bisa berharap kedua orang itu menyangka dia telah tidur dan menggunakan kesempatan itu melancarkan serangan bokongan, dengan begitu dia baru punya peIuang untuk menyergap mereka.

Tak disangka mereka segera menghentikan langkahnya di tempat yang amat jauh, bahkan dengan suara lantang mulai berteriak:"Komandan Nyo, malam amat dingin, kau bisa masuk angin jika tidur ditempat terbuka, mari ikut kami, akan kuhantar kalian ke suatu tempat yang sangat nyaman"

Tampaknya ke dua orang itu jaga gengsi, mereka enggan melancarkan serangan bokongan. Nyo Cing merasa hatinya seakan tenggelam.

Manusia macam begini baru betul betul menakutkan, jika bukan seorang jago kelas satu yang berilmu tangguh, tak mungkin mereka akan bersikap begitu.

Tak dapat disangkal mereka sudah begitu yakin bisa mencabut nyawa Nyo Cing, maka mereka anggap tak perlu membokong secara licik.

Dibawah pohon Yang Liu dikaki bukit berdiri dua orang, mereka menggenggam dua jenis senjata berkilauan yang aneh sekali bentuknya, menanti hingga Nyo Cing bangkit berdiri, mereka baru berjalan menghampiri dengan langkah lambat, langkah kaki mereka enteng tapi mantap.

Ke dua orang itu sangat pandai menahan diri.

Dalam keadaan begini Nyo Cing harus berusaha mententeramkan hatinya, sambil menghadang didepan Lu Siok Bun yang sudah ketakutan hingga kejang kejang, tegumya lantang:

"Siapa kalian?"

"Kalau kau pingin tahu, kami akan beritahu"

Mereka seperti tak kuatir Nyo Cing mengetahui rahasia mereka, karena orang mampus memang tak bisa membocorkan rahasia apapun.

Dengan menggunakan suara yang sangat aneh mereka mengucapkan delapan patah kata, nada suaranya penuh mengandung kesombongan serta rasa percaya diri, seakan akan orang pasti akan ketakutan setengah mati setelah mendengar kata kata itu.

"Langit hijau bagai air" "Naga terbang di angkasa"

Betul juga, begitu mendengar ke delapan patah kata itu, paras muka Nyo Cing seketika berubah hebat.

"Cing Liong Pang? Kalian anggota Cing Liong Pang?" tanya Nyo Cing kaget, "kenapa perkumpulan Naga Hijau mencari aku?" "Karena kami suka kau!"

Rekannya segera menimpali sambil tertawa seram:"Oleh sebab itu kami akan hantar kau menuju ke suatu tempat yang selamanya tak bakal masuk angin, bahkan kami ijinkan kekasihmu ikut berangkat bersama"

Nyo Cing mengepal tinjunya kuat kuat, perasaan hatinya amat sakit.

Dia masih punya nyawa untuk diadu, dia masih mampu untuk beradu jiwa, tapi bagaimana dengan Lu Siok Bun?

Mendadak dari atas batang pohon Yang Liu dikaki bukit bergema suara tertawa seseorang yang amat nyaring, menyusul kemudian dia berseru:"Dia tak pingin berangkat ke situ, lebih baik kalian berdua saja berangkat duluan!"

Ke dua orang itu segera menyebarkan diri sambil membalikkan badan, gerakan tubuhnya enteng lagi lincah, reaksinya amat cepat.

Mereka seperti melihat ada orang melayang diatas pohon dan berdiri diatas batang pohon itu, namun tak nampak jelas paras mukanya.

Karena pada saat itulah ada sekilas cahaya pedang berwama biru yang amat menyilaukan mata telah menerjang ke bawah dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Menyusul gulungan cahaya pedang itu, suasana disekeliling bukit kembali jadi tenang, dua orang pembunuh yang datang untuk membunuh orang, kini sudah roboh bersimbah darah.

"Kau?" teriak Nyo Cing terkejut bercampur girang.

Seorang lelaki berbaju biru bertopi lebar dari anyaman bambu sedang memandang ke arahnya sambil bersandar dibatang pohon, senyuman lembut yang menghiasi wajahnya sama sekali tak mengandung hawa pembunuh.

"Kenapa orang Cing Liong Pang mencari kau?" tanya Lan Toa Sianseng kemudian, "kesalahan apa yang telah kau perbuat?"

“Aku tak pemah menyalahi mereka"

"Tidak mungkin, biarpun Cing Liong Pang sering membunuh orang, mereka tak pernah membunuh tanpa alasan, jika kau tidak menyalahi mereka, tak mungkin mereka akan mengusikmu"

Setelah termenung beberapa saat, Lan Toa Sianseng menambahkan,"Kecuali kau telah mengetahui rahasia besar mereka"

Tiba tiba kelopak mata Nyo Cing menyusut kencang, dia seperti teringat akan satu hal tapi untuk sementara waktu dia tak ingin mengungkap keluar.

Kembali Lan Toa Sianseng menghela napas, katany,` Aku rasa lebih haik kau pergi bersamaku, kini Cing Liong Pang telah menetapkan kau sebagai target, di kolong langit saat ini mungkin hanya aku seorang yang dapat menolong nyawamu"

"Terima kasih"

"Apa maksudmu berterima kasih? Mau ? atau tidak mau?"

"Aku hanya ingin berjalan menurut suara hatiku sendiri, biarpun jalan itu jalan kematian, aku tetap akan menjalaninya"

Menatapnya dengan pandangan tajam, Lan Toa Sianseng hanya bisa menggeleng sambil tertawa getir.

"Terhadap manusia macam kau, seharusnya aku biarkan kau mampus saja, tapi dikemudian hari mungkin aku akan menolong mu lagi, sebab kau terlalu mirip dengan seseorang"

"Siapa?"

"Seorang teman yang pemah kukenal dulu" Lan Toa Sianseng seperti terbuai kembali dengan kenangan lamanya, "biarpun dia tidak terhitung orang baik, tapi dia tetep sahabatku, selama hidupnya dulu mungkin hanya akulah satu satunya sahabat yang dia miliki" "Aku bukan sahabatmu, terlebih tak pantas menjadi sahabatmu" kata Nyo Cing cepat, "hari ini kau telah menolongku, aku pasti akan mencari kesempatan untuk membayar hutang ini, karenanya lain kali kau tak usah menolongku lagi"

Begitu selesai bicara dia segera tarik tangan Lu Siok Bun dan tanpa berpaling lalu berlalu dari situ.

Setelah berada ditempat yang amat jauh, Lu Siok Bun barn tak tahan untuk berkata:"Aku tahu, kau pasti bukan manusia yang tak tahu diri, kenapa kau bersikap kasar terhadapnya? Apakah lantaran kau tahu pengaruh serta kekuatan Cing Liong Pang sangat dahsyat hingga tak ingin menyusahkan orang lain?"

Nyo Cing membungkam.

Lu Siok Bun menggenggam tangannya erat-erat, kembali ujarnya:"Apa pun yang terjadi, aku sudah putuskan untuk selalu mengintilmu, biarpun jalan yang kau tempuh benar-benar adalah jalan kematian, aku tetap akan mengikutimu"

Nyo Cing mendongakkan kepalanya memandang angkasa, melihat cahaya bintang yang berkedip nun jauh di sana, dia menghela napas panjang.

"Kalau begitu kita pulang dulu" katanya. "Pulang? Pulang ke mana?"

"Biarpun sekarang kita tak punya, tapi dikemudian hari kita pasti memiliki rumah sendiri"

Lu Siok Bun tertawa, dibalik senyuman terlintas perasaan cinta yang amat mendalam

"Dulu kita pemah jatuh cinta, kau punya satu rumah dan akupun punya sebuah rumah, tapi dikemudian hari kita berdua hanya memiliki sebuah rumah"

Benar, dikemudian hari mereka hanya mempunyai satu rumah, bila mereka tak keburu mati, mereka pasti mempunyai sebuah rumah.

Sebuah rumah yang penuh kehangatan dan kemesrahan.

0-0-0

Bukan seperti itu rumah milik Ti Cing Ling.

Mungkin dia sama sekali tak punya rumah, yang dia miliki hanya sebuah gedung raksasa yang maha mewah, bukan sebuah rumah.

Gedung bangunan itu begitu besar, begitu luas dan begitu megah, namun selalu mendatangkan perasaan dingin, sepi dan seram yang tak terlukis dengan kata, terutama jika malam telah tiba, bahkan Hok congkoan si kepala rumah tangga pun tak berani seorang diri berkeliaran diseputar halaman.

Hok congkoan tidak bermarga Hok, dia dari marga Ti.

Ti Hok sudah puluhan tahun hidup dalam gedung keluarga bangsawan itu, di mulai sebagai seorang kacung hingga naik pangkat menjadi seorang congkoan, sebuah karier yang tak gampang untuk mencapainya.

Dia tabu Siau Hoya pulang bersama "Ing Sianseng", biarpun hingga kini dia belum bersua dengan Ing Sianseng, namun dia tak bakal banyak tanya, dia memang tak berani bertanya. Karena dia dapat merasakan, antara Siau Hoya dengan Ing sianseng pasti mempunyai suatu hubungan yang sangat istimewa.

Dia tak ingin tahu hubungan istimewa macam apa yang terjalin diantara mereka berdua.

Sekalipun tahu, diapun akan berlagak bodoh, bahkan pasti akan berusaha untuk melupakannya dalam waktu singkat.

Setiap pulang dari bepergian, Ti Cing Ling pasti akan meluangkan waktu hampir setengah harian lamanya untuk menyambangi meja abu almarhum ibunya dan duduk termenung disitu, disaat seperti ini, dia tak ingin diganggu siapa pun, tidak terkecuali orang yang paling dekat pun. Sebelum masuk ke gedung bangsawan itu sebagai Ti Toa Hujin, ibunya adalah seorang perempuan yang amat cantik, kecantikannya termashur di seluruh sungai telaga, bahkan dia pun seorang pendekar wanita kenamann, konon ilmu pedang Sian Li Kiam Hoat (Ilmu Pedang Bidadari) yang dipelajarinya diwarisi langsung dari Bwee Suthay, ciangbunjin partai Go Bie waktu itu.

Semenjak menikah dengan Lo Houya, kadangkala dia masih mengembara berduaan di sungai telaga, menelusuri kembali jalan kenangan dimasa lampau.

Tapi setelah melahirkan Siau Houya, dia mulai menyembah Buddha secara khusuk, kadang kadang sepanjang tahun dia tak pernah meninggalkan orang sembahyang barang selangkah pun.

Tak lama setelah Lo Houya meninggal, Tay Hujin juga ikut mangkat, setelah kenyang menikmati berlimpahnya kehidupan duniawi, mereka mati dalam suasana tenang tanpa penderitaan.

Tapi semasa hidupnya, hubungan cinta ke dua orang itu seperti kurang harmonis, kurang bahagia.

Malam ke dua sekembalinya Siau-houya, dia baru memanggil Hok congkoan untuk menghadap, yang ditanyakan hanyalah masalah masalah yang dia harus ketahui padahal tak ada persoalan berharga yang perlu ditanyakan

Setelah kepergiannya tempo hari, dalam gedung mewah miliknya telah terjadi suatu peristiwa aneh.

"Beberapa hari berselang, tiba tiba ada orang mengirim sembilan ratus kati beras, sebenamya aku tak berani menerima, tapi si pengirim beras berpesan katanya beras itu adalah hadiah uang tahun Siau Houya dari seorang sahabat karibnya yang bernama Liong Toaya, karena itu aku tak berani untuk menampik pemberiannya"

Sembilan ratus kati betas! berapa banyak, jumlah beras itu, bisa membuat kenyang berapa banyak orang?

Mungkin jarang ada yang bisa menjawab.

Malah sebagian besar orang di dunia ini tak pernah melihat beras sebanyak itu sepanjang hidupnya, orang yang bisa menghadiahican beras sebanyak sembilan ratus kati untuk orang lain pun mungkin bisa dihitung dengan jari tangan.

Ti Cing Ling tidak nampak terkejut, air mukanya sama sekali tidak berubah, dia malah bertanya:"Di mana berasnya sekarang?"

"Sudah dimasukkan ke dalam gudang besar yang pernah dipakai Lo Houya sewaktu menyiapkan rangsum sebelum berangkat perang, sebelum Siau-hou-ya kembali, siapa pun tak berani memindahnya"

Ti Cing Ling manggut manggut tanda sangat puas.

Kembali Hok Congkoan berkata:"Pagi tadi ada dua orang tamu datang mencari Siau Hoya, mereka mengaku sebagai sahabat Siau Houya, malah merekalah orang yang diutus Liong Toaya untuk menghantar beras itu, karenanya aku tak berani untuk tidak mempersilakan mereka menunggu"

"Di mana orangnya?” kali ini Ti Cing Ling kelihatan sedikit tercengang.

"Mereka berada di pesanggrahan Teng-Gwee Siau Ciok (Pesanggrahan menikmati suara rembulan)"

Rembulan tak bersuara, apa yang didengar dari rembulan?

Justru karena rembulan tak bersuara maka harus didengarkan, yang didengar adalah tidak bersuaranya rembulan, yang dinikmati adalah rembulan yang tak bersuara.

Benarkah Kadangkala tidak bersuara jauh lebih unggul ketimbang bersuara?

0-0-0 Tak ada rembulan, yang ada hanya bintang, cahaya bintang memancarkan sinar redupnya membias diatas kertas jendela.

Rembulan tak bersuara, bintang pun tak berkata.

Dalam pesanggrahan Teng Gwe Siau Ciok duduk dua orang, mereka duduk tenang disana sambil minum arak, arak yang diminum adalah " Li Ji Ang" yang harum.

Hoa Suya minum tidak terlalu banyak, tapi rekannya mmum banyak sekali, seolah dia jarang punya kesempatan untuk menikmati harumnya arak kenamaan dari wilayah Kanglam ini.

Ketika Ti Cing Ling muncul di depan pintu, dua orang tersebut segera bangkit menyambut, perkataan pertama dari Hoa Suya adalah bertanya, "Apakah Siau Houya sudah menerima kiriman beras sebanyak sembilan ratus kati dari Liong ya?"

Dengan pengalaman Hoa Suya dalam pergaulan, seharusnya dia berbasa basi lebih dulu sebelum menyinggung persoalan pokok, tapi begitu bertemu muka, pertanyaan pertama adalah sembilan ratus kati beras, padahal barang itu hadiah seseorang kepada Ti Cing Ling dan sama sekali tak ada sangkut paut dengan dirinya, dari sikapnya ini membuktikan bahwa ia memandang barang itu jauh lebih panting ketimbang Ti Cing Ling.

"Sudah kuterima sejak dua hari berselang" jawab Ti Cing Ling, "sampai kini belum ada yang berani menyentuhnya"

"Bagus sekali" Hoa soya menghembuskan napas lega, senyuman kembali menghasi wajahnya, "Siau Houya pasti sudah dapat menebak darimana datangnya beras itu bukan?"

"Kalau beras tentu datang dan persawahan" sahut Ti Cing Ling sambil tertawa hambar, ` tapi kalau dalam karung betas disembunyikan uang perak, itu mah susah untuk dikatakan"

Kontan Hoa Suya tertawa keras.

“Siau Houya memang tak malu disebut naga diantara manusia, sejak awal sudah kuduga tak bakal ada rahasia yang bisa mengelabuhi dirimu"

Dia rendahkan nada suaranya dan berkata lagi setengah berbisik.

"Pengeluaran serta biaya operasi Cing Liong Pang kian hari kian bertambah besar, kadangkala kami harus melakukan sedikit usaha tanpa modal untuk menopang pengeluaran itu, cuma, kami mesti bekerta serahasia mungkin dan rahasia itu tak boleh sampai bocor, kalau tidak susah untuk menghadapi akibatnya"

"Pekerjaan kalian kali ini sangat bagus dan sempuma" sela Ti Cing Ling sambil tersenyum.

Hoa Suya memenuhi cawan Ti Cing Ling dengan arak, setelah itu lanjutnya,"Tapi kali ini terpaksa kami harus mengganggu Siau Houya, seperti diketahui barang itu kelewat mencolok, sementara waktu tak leluasa untuk diangkut pulang, maka kami pikir paling baik jika dititipkan dulu di sini, menjaga kemungkinan gagalnya rencana tersebut"

"Aku paham" sahut Ti Cing Ling hambar, "ketika kalian akan membawanya pergi, kujamin setahil perak pun tak bakal kurang"

"Tentu saja tak bakal kurang" Hoa Suya tertawa paksa, "orang yang bertanggung jawab atas operasi kali ini adalah Tongcu dari "Sah-Gwe Tong" (Ruang Bulan Tiga), beliau selalu menaruh rasa kagum dan hormat yang luar biasa terhadap Siau Houya, beliau pasti akan datang sendiri untuk mengucapkan rasa terima kasihnya"

Perkumpulan Cing Liong-Pang terdiri dari tiga ratus enam puluh buah kantor cabang, terbagi meniadi dua belas ruang atau bagian.

Ti Cing Ling tidak bertanya siapa gerangan Tongcu tersebut, sebaliknya menegur orang yang sudah minum arak sangat banyak itu.

"Apakah kedatanganmu dari luar perbatasan juga lantaran persoalan ini?"

"Benar" jawab orang itu sambil tertawa paksa, "rencana yang disusun kali ini ibarat sebuah rantai, setiap rangkaian rantai itu mesti saling terkait dengan kuatnya, aku tak lebih hanya salah satu mata rantai itu, padahal tidak banyak tugas yang kukerjakan"

Dia berperawakan tinggi besar dan berwajah sangat wibawa, orang itu tak lain adalah Ji Congkoan dari petemakan kuda Lok Jit, Jin Heng Kian.

"Yang lebih kebetulan lagi" kata Hoa Suya lagi sambil tertawa, "dalam menjalankan rencana ini, tanpa disengaja kami telah melakukan sedikit pekerjaan bagi Siau Houya"

"Oya?"

"Sekarang kami sudah jadikan Nyo Cing sebagai kambing hitam, pihak kerajaan juga telah memberi batas waktu sepuluh hari untuk menangkap si pelaku pembegalan" suara tertawa Hoa Suya bertambah keras dan gembira, "jangan lagi sepuluh hari, biar seratus Iebih sepuluh hari pun jangan harap kasus ini dapat terungkap"

"Kenapa?"

"Sebab waktu ini manusia yang bernama Nyo Cing mungkin sudah lenyap, tentu saja pihak kerajaan mengira dia telah melarikan diri sambil membawa hasil rampokan, jadi urusan tersebut sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kita"

"Kenapa dia bisa lenyap secara tiba tiba?"

"Karena kami telah meminta kantor cabang untuk mengurus dua orang pembunuh tangguh" suara tertawa Hoa Suya bertambah riang, "dengan kemampuan ilmu silat dan kematangan pengalaman yang dimiliki ke dua orang pembunuh itu, mereka pasti dapat membunuh tanpa meninggalkan sedikit jejak pun"

"Kau kira dengan kemampuan mereka berdua sudah cukup untuk menghadapi Nyo Cing?" "Lebih dari cukup"

Ti Cing Ling menghirup araknya satu tegukan, kemudian baru berkata,"'Kalau begitu kuanjurkan kepada kalian agar segera bersiap siap untuk memberesi jenasah ke dua orang pembunuhmu"

"Kenapa?"

"Karena kalian terlalu pandang remeh kemampuan Nyo Cing. Siapa pun yang terlalu pandang remeh kemampuan musuhnya, mereka telah melakukan satu kesalahan yang fatal, kesalahan fatal yang mesti dibayar dengan nyawa sendiri"

Tiba tiba dia berpaling ke luar jendela dan menambahkan,"Bagaimana menurut pendapatmu Ong Tongcu dari Si ¬Gwee Tong (Rung Bulan Empat)?"

Dari luar jendela segera terdengar seseorang menghela napas panjang:"Aai, aka sependapat dengan Siau Houya, karena aku pernah membantu uruskan jenasah mereka"

Angin berhembus masuk dari daun jendela, seorang lelaki tinggi besar menerobos masuk ke dalam ruangan dengan gerakan lincah, dia adalah tongcu dari ruang Si Gwe Tong, salah satu cabang perkumpulan Cing Liong Pang, dan orang itu memang bermarga Ong.

Temyata otak pembegalan barang kawalan milik Tionggoan Piaukiok kali ini tak lain adalah Ong Ceng Hui, Congpiautau dari perusahaan ekspedisi Tionggoan Piaukiok sendiri.

Ti Cing Ling sama sekali tidak tercengang, sebaliknya Hoa Suya amat keheranan, serunya tak tahan, "Siau Houya, dan mana kau tahu kalau dialah Tongcu dari Si Gwe Tong?"

"Karena hanya Ong Congpiautau yang punya kesempatan untuk menukar isi uang perak itu dengan barang rongsok." Jelas Ti Cing Ling, "padahal ketika terjadi pembegalan atas barang kawalan itu, dia tak boleh berada ditempat, maka Jin Congkoan pun sengaja datang dari luar perbatasan untuk mengadakan lelang kuda, tak ada jago di dunia yang tak suka kuda mestika, maka Po Be Kim To yang keranjingan kuda pun pasti akan ikut menghadiri lelang akbar tersebut"

Setelah tertawa ringan, tambahnya,"Oleh sebab itulah Ban Kun Bu pasti tak akan melewatkan lelang kuda itu dan hadir juga disana" ltulah sebabnya, karena harus menghadiri lelang kuda, bukan saja Ong Ceng Hui punya alasan yang kuat untuk tidak hadir saat terjadinya pembegalan, Ti Cing Ling pun punya kesempatan emas untuk membunuh Ban Kun Ku.

"Maka dari itu mata rantai yang dipegang Jiu Congkoan justru merupakan mata rantai paling penting, Jiu Congkoan, kau tak usah merendah lagi" kata Ti Cing Ling sambil angkat cawan dan memberi hormat kepada Jin Heng Kian.

"Siau Houya, kau sangat hebat, aku kagum kepadamu" seru Jiu Heng Kian sambil meneguk habis isi cawannya.

"Tapi barang kawalan itu tak bisa lenyap begitu saja, harus ada orang yang menemukannya kembali, bahkan orang yang temukan barang kawalan itu tidak boleh Ong Congpiautau,” kata Ti Cing Ling lebih lanjut, "padahal uang kawalan itu sesungguhnya adalah uang kerajaan, memang paling pas bila petugas kerajaan yang menemukannya kembali, ketika pihak kerajaan menemukan isi barang kawalan telah diganti barang rongsokan, masalah tersebut sudah menjadi masalah intern mereka sendiri, bahkan sudah ada yang menjadi kambing hitamnya"

Sekali lagi ia teguk habis isi cawannya, lalu menambahkan:"Semua rencana telah berjalan dengan lancar dan sempuma, satu satunya masalah yang perlu disesali hanyalah si kambing hitam Nyo Cing temyata masih hidup"

Ong Ceng Hui merampas cawan arak yang dipegang Hoa Suya, secara beruntun dia habiskan tiga cawan arak.

Setelah itu dia pun berseru:"Dia bisa hidup hingga sekarang memang merupakan satu peristiwa yang patut disesali, untungnya dia tak bisa hidup terlalu lama"

"Kenapa?"

"Karena sekarang sudah ada orang pergi membunuhnya"

"Jagoan macam apa yang kalian utus kali ini" tanya Ti cing Ling dingin.

"Kali ini bukan kita yang mengirim pembunuh, kita tak akan mampu mengutus jagoan sehebat itu"

"Dia ingin membunuh Nyo Cing karena dia sudah kenali pemuda itu sebagai keturunan salah satu musuh besamya, bahkan dia sendiri yang mendatangi kami untuk mencari tahu jejak orang she¬Nyo itu"

"Kenapa dia bisa mencarimu?"

"Aku sendiripun tak tahu kenapa dia mencariku, mungkin lantaran dia tahu barang kawalanku telah diganti isinya dan orang yang paling dicurigai adalah Nyo Cing" jelas Ong Ceng Hui, "sesungguhnya dia adalah seorang jago yang luas pengetahuan serta pengalamannya, apa yang dia ketahui jauh lebih banyak daripada orang lain"

Berkilat sepasang mata Ti Cing Ling, sambil menatap Ong Ceng Hui, segera tegurnyai, "Siapa sih orang itu?"

"Dialah Sin Wan Sin Kiam (Padang Sakti Mata Sakti) Lan It Ceng, Lan Toa Sianseng yang amat termashur itu"

"Ooh!" sepasang mata Hoa Suya terbelalak jauh lebih lebar ketimbang orang lain.

Sebaliknya Ti Cing Ling menghela napes panjang, katanya,"Kalau benar-benar dia, kali ini Nyo Cing pasti akan mampus"

Saat itu Nyo Cing belum mampus.

Dia sedang mengetuk pintu rumah seseorang keras-keras, ketukan pintunya amat gencar seolah dia tahu kalau ada orang sedang mengejarnya, bila sampai terkejar maka setiap saat nyawa mereka akan melayang di ujung pedangnya.

0-0-0