Kait Perpisahan Bab 3 : Sesaat menjelang tibanya badai.

 
Bab 3 : Sesaat menjelang tibanya badai.

Matahari senja sudah lenyap dibalik gunang, kegelapan senja teIah menyelimuti angkasa, itulah sesaat menjelang tibanya malam hari, lapisan kelabu seakan akan membenteng di seluruh jagad, membuat, gunung, air, dedaunan dan bunga-bunga nampak serba kelabu, persis seperti sebuah lukisan tinta yang hambar.

Lelaki bertopi anyaman bambu itu berjalan sangat lamban menelusuri jalan kecil di kaki bukit, biarpun langkahnya kelihatan amat lambat, namun bila kita tidak melihatnya dalam waktu sekejap, tahu-tahu dia sudah berada jauh sekali dari posisi semula.

Wajahnya masih tersembunyi dibalik topi anyaman bambunya yang lebar, sulit bagi siapa pun untuk melihat perubahan mimik mukanya.

Tiba tiba "Traang!" bunyi gembrengan bergema memecahkan keheningan yang mencekam sekeliling tempat itu.

Ditengah burung yang beterbangan karena takut, seorang Ielaki buta penjual ramalan muncul dan balik hutan dan berjalan mendekat.

Orang berbaju biru itu berjalan menyongsong kedatangannya, pada sebuah jarak tertentu mendadak ke dua orang itu sama sama berhenti.

Ke dua orang itu berdiri saling berhadapan bagaikan dua arca batu, lewat lama kemudian mendadak si buta itu berkata kepada orang berbaju biru itu, "Apakah Sin Wan Sin Kiam (si Pedang Sakti Mata Sakti) Lan Toa sianseng yang telah datang?”

"Behar, aku Lan It Cing" orang berbaju biru itu balik bertanya, “darimana kau bisa tahu kalau yang datang pasti aku?"

"Biar mataku buta, hatiku tidak buta" “Hati mu juga bermata dan bisa melihat?"

"Benar, bedanya yang dapat kulihat adalah masalah yang tak bisa dilihat orang lain dan orang lain tak akan bisa melihatnya"

''Apa yang telah kau lihat sekarang?”

"Aku telah melihat hawa pedangmu dan hawa membunuhmu, aku masih punya telinga, aku bisa mendengar"

Lan It Cing segera menghela napas panjang.

"Ku Bok Sin Kiam (Pedang Sakti Bermata Buta) Ing Sianseng memang tak malu disebut jago diantara jago dan dewa diantara jago pedang"

Orang buta itu tertawa dingin.

"Sayang aku masih tetap seorang yang buta, mana mungkin bisa dibandingkan dengan sepasang matamu yang masih jeli dan sakti itu?" jengeknya.

"Kau suruh aku kemari apa lantaran tidak leluasa mendengar julukanku sebagai si mata sakti?" "Benar" orang buta itu segera mengakui, "tiga puluh tahun aku belajar pedang, banyak sudah

jago pedang dikolong langit yang pemah kujumpai, namun masih ada satu keinginan yang belum terkabul, selama aku masih bisa bernapas, aku berjanji akan menjajal apakah aku si buta dapat menandingi sepasang mata sakti mu yang tersohor itu" Sekali lagi Lan It Cing menghela napas.

"Ing Bu Ok" katanya, "mata mu memang Ing Bu Ok (seharusnya tanpa materi), tak nyana dalam hatimu masih memikirkan materi, tampaknya kau sangat tidak berkenan dengan julukan mata sakti ku itu"

"Lan It Cing, sekarang akupun baru tahu mengapa kau bernama Lan It Cing (setitik debu)" sela Ing Bu Ok dengan suara dingin, "karena dalam hatimu sesungguhnya masih tertinggal setitik debu, setitik kecongkakan, karena debu kecongkakan maka kau datang kemari"

"Betul, kau minta aku kemari maka akupun kemari, kau bisa suruh aku pergi, make akupun akan pergi" dengan cepat Lan It Cing mengakui.

"Pergi? Kemana?" "Pergi mati"

Tiba tiba Ing Bu Ok mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak, “Hahahaha betul, pedang adalah benda tanpa perasaan, sewaktu cabut keluar pedang pun pasti tak berperasaan, kini kau telah datang kemari sedang akupun ikut datang, diantara kita berdua memang sepantasnya ada seorang diantaranya harus pergi dari sini, pergi mampusl"

Dia telah mencabut keluar pedangnya.

Sebilah pedang yang tipis lagi panjang dalam sekejap mata telah dicabut keluar dari balik tongkat bambunya, cahaya tajam yang bergetar bagai seekor ular cobra menggelegar tiada hentinya ditengah hembusan angin malam yang gelap, agar orang lain tak pernah dapat menduga dari arah manakah ujung pedang itu akan menyerang, terlebih tak bisa melihat dari arah mana serangan akan muncul, bukan hanya getaran, cahaya sinar pedang pun seakan akan tiada hentinya ikut berubah.

Ada kalanya berubah merah, kadangkala berubah jadi hijau. Sepasang mata Lan Toa Sianseng mulai berkilat, kelopak matanya mulai berkerut kencang.

"Sebilah pedang ular cobra yang sangat hebat, lentur bagai bambu, ganas racunnya bagai patukan ular kobra, tujuh langkah mencabut nyawa, tubuh hancur nyawa melayang" pujinya.

Si buta mendengus dingin.

"Mana Pedang Antik Bukit Biru, (Lan San Ku Kiam) milikmu?" "Ada di sini"

Lan It Ceng membalikkan tangannya, sebilah cahaya pedang yang memancarkan cahaya biru bagai birunya langit telah tercabut keluar dari sarungnya.

Kalau ujung pedang Ing Bu Ok bergetar tiada hentinya maka pedang milik Lan It Cing sama sekali tak bergerak, jika cahaya pedang lng Bu Ok berubah tiada hentinya, pedang itu sama sekali tak berubah.

Dengan tenang menghadapi gerak, tanpa perubahan mengatasi sejuta perubahan.

Bila dibilang pedang milik Ing Bu Ok seperti ular yang paling racun, maka pedangnya mirip sebuah bukit karang.

Tiba tiba lng Bu Ok menghela napas pula.

"Sejak dua puluh tahun berselang, seringkali aku dengar, konon pedang antik Lan San Ku Kiam milik Lan Toa-sianseng adalah sebilah pedang mestika yang bisa menebas kutung rambut dan bulu, sudah lama aku pingin melihatnya"

Setelah berhenti sejenak dan kembali menghela napas, lanjutnya."Tapi sayang, sampai kini pun aku tetap tak bisa melihatnya"

"Yaa, memang patut disayangkan" kata Lan It Ceng dingin, kau bukan cuma ingin melihat, aku pun sangat ingin agar kau bisa melihatnya"

Begitu pedang tercabut keluar dari sarungnya dan berada dalam genggamannya, benda itu kembali berubah, berubah semakin tenang, semakin dingin dan semakin mantap. Dingin bagai air, mantap bagai bukit karang.

Malam hari telah menjelang tiba, lapisan kelabu telah berubah menjadi lapisan kegelapan yang pekat, yang terdengar hanya bunyi burung yang terlambat balik ke sarangnya.

Tiba tiba Ing Bu Ok bertanya"Apakah sekarang hari sudah malam?" "Benar"

"Kalau begitu ada baiknya pertempuran diundur hingga esok pagi" "Kenapa?"

"Hari sudah gelap, aku tak bisa melihat apa apa, kaupun tak bisa melihat apa apa, biar pun kau punya mata tapi sekarang menjadi tak bermata, aku tak ingin mencari kemenangan dalam situasi begini"

"Kau keliru besar" tukas Lan It Ceng dengan suara makin dingin, "biarpun berada dalam kegelapan malam tanpa bintang tanpa rembulan tanpa lentera, aku tetap bisa melihatnya dengan jelas, karena aku memiliki sepasang mata sakti"

Dia melintangkan pedangnya, pedang bergerak tanpa suara, kembali katanya"Kau tak dapat melihat pedangku, kau pun kelewat pandang enteng sepasang mata ku, tidak sepantasnya kau suruh aku datang kemari"

"Kenapa?"

"Karena setelah aku datang kemari. maka kaulah yang bakalan pergi"

Gerak serangan mulai dipersiapkan, tapi belum sampai dilancarkan, orang pun sama sekali belum bergerak.

Mendadak dari jalanan kecil perbukitan itu bergema suara orang yang sedang berlarian mendekat, terdengar seseorang berteriak dengan suara lantang, “Siapapun diantara kalian tak boleh pergi, tak boleh pergi ke mana pun" teriakan orang itu semakin nyaring, "sebab aku sudah datang!"

Kalau didengar perkataan itu, seakan akan dianggapnya persoalan apa pun pasti akan beres dengan kehadirannya, seberat apa pun masalahnya, semua akan beres dan terselesaikan.

"Siapa orang itu?" tanya lagi Bu ok dengan kening berkerut.

"Aku she-Nyo, bemama Nyo Cing, seorang opas kota keresidenan ini" "Mau apa kau kemari?"

"Aka melarang kalian menggunakan pedang untuk melukai orang, selama berada di wilayahku, siapa pun tidak kuperkenankan melakukan tindakan brutal dan melakukan tindak kriminal. Tidak perduli siapa pun orang nya!"

lng Bu Ok tidak menunjukkan perubahan mimik muka. Dia tetap bersikap hambar tanpa perasaan, tiba tiba pedang ular yang berada dalam genggamannya digetarkan, diantara kilatan cahaya yang menggelegar di udara, pakaian dibagian dada yang dikenakan Nyo Cing sudah robek tiga belas tempat, namun kulit badannya sama sekali tidak terluka.

Biarpun serangan itu dilancarkan dengan kecepatan Iuar biasa, namun penggunaan tenaga serangannya sangat tepat dan telak.

"Tadi kau bilang, tidak perduli siapa pun kau tetap akan melarang, sekarang apakah masih sama jawabanmu?" tegur lng Bu Ok dingin.

"Tetap sama saja, sama sekali tak berubah. Jika kau ingin membunuh, lebih baik bunuhlah aku terlebih dulu"

"Baik!" jawaban lng Bu Ok sangat singkat, hanya sepatah kata. Begitu selesai berkata, cahaya pedang yang bergetar bagaikan seoker ular berbisa itu sudah tiba di depan tenggorokan Nyo Cing. Jangan dianggap sepasang matanya buta, serangan pedangnya sama sekali tidak buta.

Ujung pedangnya seolah olah mempunyai mata yang tajam, bila dia ingin menusuk jalan darah "Thian To" di atas tenggorokannya, serangan itu tak pernah akan meleset walau hanya seinci pun.

Diantara kilauan cahaya pedang yang menggeletar, secara beruntun dia melancarkan tiga belas buah serangan berantai, jarang ada jagoan dalam dunia persilatan yang dapat lolos dari ancaman itu. Siapa sangka Nyo Cing dapat menghindar dari ancaman itu, berkelit dengan tepat dan luar biasa.

Bukan saja dia dapat berkelit, dalam keadaan nyaris tertusuk senjata musuh, dia masih sempatnya berusaha merobohkan tubuh lawan.

Memang begitulah perangainya sejak lahir, jika sudah bertarung, dia tak perduli siapa musuh yang sedang dihadapi, dengan cara apa pun dia tetap akan berusaha untuk merobohkan lawannya.

Kembali gerakan nekad yang dipakai, dia menerobos maju ke muka di bawah bayang bayang ancaman sinar pedang lawan dan langsung merangkul pinggang lng Bu Ok kuat kuat.

“Bagus!" pekik Ing Bu Ok sambil tertawa dingin.

Pedang ularnya berputar seraya berpusing, dia kurung seluruh tubuh Nyo Cing dalam ancaman senjatanya, dalam waktu singkat dia telah melepaskan serentetan serangan yang mengancam tiga belas jalan darah Nyo Cing dari belakang kepala hingga ujung kakinya, hampir semua jalan darah yang diancam adalah titik jalan darah kematian.

Sayang Nyo Cing sudah nekad, dia tak ambil perduli.

Masih dengan gerakannya semula, dia berusaha memeluk pinggang Ing Bu-ok, asal terangkul maka sampai mati pun dia tak akan lepaskan rangkulan itu.

Biar nyawa sebagai taruhan, dia tetap akan berusaha merobohkan lawannya. Tentu saja Ing Bu Ok tak boleh roboh.

Dia boleh kehilangan nyawa tapi tak boleh roboh, sekalipun dia sudah memperhitungkan secura tepat bahwa tusukan senjatanya bakal mencabut nyawa Nyo Cing, dia harus berusaha tidak sampai roboh.

Tiba tiba gerakan cahaya pedangnya lenyap tak berbekas, tahu tahu Ing Bu Ok sudah mundur delapan depa dan posisi semula, dia tidak menyerang lagi.

"Lan It Ceng, kuserahkan dia kepadamu" teriaknya. "Serahkan kepadaku? Apanya yang diserahkan kepadaku?"

"Kuserahkan orang gila itu kepadamu, untuk menjajal pedangmu"

"Kau punya pedang, pedangmu bisa juga dipakai bunuh orang, kenapa mesti serahkan kepadaku? Kau takut aku berhasil melihat perubahan senjata mu? Atau kau takut aku berhasil melihat To Mia Sat hie (Tangan Pembunuh Pencabut Nyawa) mu?"

"Betul!" ternyata Ing Bu Ok mengakui.

Mendadak Lan Toa Sianseng tertawa keras:"Pedang adalah senjata pembunuh, sedang aku adalah seorang pembunuh, hanya satu jenis manusia yang tidak kubunuh"

"Manusia apa?"

"Manusia nekat" kata Lan It Ceng, "kalau nyawa sendiri pun tak digubris, kenapa aku mesti menghendaki nyawanya?"

Malam semakin larut, angin malam yang berhembus lewat terasa makin dingin dan menggigilkan Ing Bu Ok berdiri tenang dibawah hembusan angin malam, dia berdiri sangat lama, tiba tiba cahaya pedangnya kembali berkelebat, tahu tahu pedang ularnya sudah disarungkan kembali.

Menyusul kemudian suara gembrengan kembali bertalu, "Traang!” tahu tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap di balik kegelapan malam.

Ketika angin berhembus lewat, terdengar suara teriakannya bergema tiba dari kejauhan sana,

Tampaknya dia sudah pergi sangat jauh, tapi suara ucapannya masih kedengaran sangat jelas...

Dia hanya mengucapkan lima kata, tapi setiap patah kata kedangaran sangat jelas""Aku bakal mencari mu lagi!"

0-0-0

Sekujur badan Nyo Cing bermandikan peluh, angin malam terasa makin dingin, peluh yang bercucuran ditubuhnya adalah peluh dingin, ketika terkena hembusan angin, seluruh badannya terasa dingin menggidikkan hati.

Ketika seseorang yang menganggap dirinya pasti mati, tahu tahu mendapatkan diri sendiri masih hidup, entah bagaimana perasaan hatinya saat itu?

Lan Toa sianseng menatapnya, tiba tiba bertanya:"Sudah tahu siapa si orang buta itu?" "Tidak"

"Kau tahu siapa pula dirimu?" Lan It Ceng menatapnya semakin tajam, belum sempat Nyo Cing menjawab, dia kembali mendahului, "kau adalah seorang manusia yang teramat sangat beruntung"

"Kenapa?”

"Karena kau masih hidup, tidak banyak manusia di dunia ini bisa lolos dalam keadaan hidup dari ancaman pedang Ku Bok Sin kiam (Pedang Sakti Mata Buta) Ing Bu Ok"

"Kau sendiri sudah tahu, siapakah dirimu?" dengan menggunakan nada dan kata yang sama Nyo Cing balik bertanya kepada Lan It Ceng, kemudian tidak memberi kesempatan lawannya menjawab, dia sudah menjawabnya terlebih dulu, "Kau pun seorang yang besar hoki-nya, karena kau sendiri pun tidak mati"

"Kau kira kau yang telah menolongku?"

"Yang kutolong mungkin kau, mungkin juga dia, terlepas kesemuanya ini, yang penting aku tak akan mengijinkan kalian saling membunuh orang disini, aku tak ijinkan dia membunuhmu, begitu pun aku melarang kau membunuhnya"

"Kalau kami yang membunuh dirimu?"

"Kalau begitu, anggap saja aku memang lagi sial"

Sekali lagi Lan Toa Sianseng tertawa tergelak, suara tertawanya kali ini sudah jauh lebih lembut dan hangat, dengan senyum dikulum tegumyal"Kau berasal dari aliran mana?"

"Dari aliran Nyo!"

"Nyo Pay?" Lan It Ceng tertegun, "Nyo Pay itu partai apa?” " Partai ku sendiri"

"llmu silat macam apa yang kau latih dan partai ini?"

"Aku sendiripun tak tahu aliran ilmu silat macam apakah itu, karena tak ada jurus serangan yang baku. Setiap kali berlatih, aku hanya menghapalkan belasan kata kaohoat (rumus silat)"'

"Apa kata kaohoat itu?"

"Robohkan musuh, jangan dirobohkan lawan!"

"Seandainya kau bertemu dengan seseorang, bukan saja tak mampu merobohkannya bahkan pasti akan dirobohkan lawan, apa yang kau lakukan waktu itu?"

"Terpaksa aka gunakan satu patah kata terakhir" "Apa kata kata itu?" "Nekad!"

"Ehm, kelihatannya jurus terakhirmu ini memang berguna" Lan Toa Sianseng mengakui, "Siapa pun pasti akan sakit kepala bila bertemu dengan orang nekad, asal kau masih punya cadangan tujuh¬ delapan puluh lembar nyawa, gunakan terus jurus ampuh itu"

Kemudian setelah menghela napas, tambahnya,"Sayang kau hanya memiliki selembar nyawa" Nyo Cing ikut tertawa.

"Selama masih punya selembar nyawa untuk diadu. aku akan memakainya terus untuk bertindak nekad" katanya.

"Kau ingin tidak mempelajari semacam kepandaian yang bisa merobohkan musuh tangguh tanpa harus berbuat nekad?"

"Kadangkala aku memang ingin"

"Bagus" kata Lan Toa Sianseng, "asal kau angkat aku sebagai gurumu, akan kuajarkan kepandaian kepadamu, asal kau mampu mempelajari ilmu pedangku, dikemudian hari kau tak perlu adu jiwa lagi dengan orang lain, orang persilatan pun tak akan ada yang berani mengusikmu lagi"

Setelah tersenyum, tambahnya:"Kau memang orang yang punya nasib baik, tidak sedikit orang yang ingin belajar silat dariku, tapi pilihanku justru jatuh pada dirimu"

Dia berkata jujur, karena memang begitu kenyataannya.

Belajar ilmu pedang dari Lan Toa Sianseng memang bukan satu pekerjaan yang gampang, tentu saja tak seorang pun yang akan lepaskan kesempatan langka tersebut dengan begitu saja.

Tapi Nyo Cing justru masih mempertimbangkan tawaran itu.

Tiba tiba Lan Toa Sianseng mengayunkan pedangnya, cahaya pedang berkilauan , sebilah mata pedang yang panjangnya tiga depa tujuh inci seakan akan bertambah panjang tiga depa secara tiba tiba, selapis cahaya biru yang menyilaukan mata memancar keluar dan ujung senjata membuat seluruh angkasa seperti terbungkus hawa pedang yang sangat menggidikkan.

Terdesak hawa pedang yang amat dahsyat, tanpa sadar Nyo Cing mundur beberapa langkah, hampir saja napasnya ikut terhenti... 'Kraaak!" diiringi suara keras, sebatang pohon yang berdiri tujuh depa jauhnya telah terpapas kutung jadi dua bagian.

Sembari menarik kembali senjatanya, Lan Toa Sianseng berkata,"Asal kau bisa menguasahi ilmu tersebut, biarpun belum bisa jadi jagoan tanpa tandingan di kolong langit, rasanya musuh yang bisa menandingi mu juga tak banyak jumlahnya"

Nyo Cing percaya.

Dia memang tak mengerti di mana letak kehebatan ilmu pedang itu, tapi dia dapat mellhat dengan jelas bagaimana pohon yang besar itu tumbang hanya dalam sekali sambaran saja.

Tampak Lan Toa Sianseng kembali menyentil pedangnya dan senjata itu mengeluarkan suara dentingan nyaring.

"Pedang bagus!" tak tahan Nyo Cing bersorak memuji. "Padang ini memang pedang bagus" dengan bangga Lan Toa

Sianseng menerangkan, "dengan mengandalkan senjata ini aku sudah malang melintang dalam dunia persilatan hampir dua puluh tahun lamanya, hingga kini belum menemukan tandingan"

"Dulu, kau tentu belum pernah berjumpa dengan orang yang

tak ingin mempelajari ilmu pedangmu bukan?" Nyo Cing balik bertanya. “Yaa, rasanya memang belum pernah"

“Tapi sekarang kau telah bertemu orang itu, belum pernah terlintas dalam pikiranku untuk mengangkat orang lain sebagai guruku, apalagi menjadi anak murid orang lain" Begitu selesai berkata, dia segera soja kepada Lan It Ceng kemudian sambil tertawa dan tanpa berpaling lagi berlalu dari situ. Dia tak ingin menyaksikan perubahan mimik Lan It Ceng, sebab dia tahu, perubahan mimik mukanya saat itu pasti tak sedap dilihat.

0-0-0

Bintang bertaburan di angkasa, membiaskan setitik cahaya yang berkedip-kedit. Dibawah cahaya bintang yang redup, sungai kecil yang terbentang membelah bumi nampak seperti sebuah sabuk naga yang penuh bertaburkan intan permata.

Dalam kenyataan, sungai itu sama sekali tak indah, dihari terang banyak perempuan mencuci pakaian ditempat itu, anak anak pun banyak yang buang air besar di situ. Tapi ketika malam sudah tiba, orang yang berlalu lalang ditepi sungai itu akan merasa betapa indahnya sungai kecil itu, begitu indah membuat orang hampir saja melelehkan air mata.

Ketika Nyo Cing lewat ditempat itu, tampak seseorang sedang duduk ditepi sungai, diatas sebuah batu cadas sambil melelehkan air mata.

Dia adalah seorang gadis yang kekar dan sehat, pakaian kembang kembang yang baru dijahitnya setahun berselang, kini nampak begitu ketat membungkus badannya, begitu ketatnya pakaian yang dikenakan membuat napasnya kelihatan sulit, apalagi sewaktu berjongkok, dia mesti berhati hati agar celana nya tak sampai robek.

Seandainya disekeliling tempat itu ada lelaki muda, mereka pasti akan terangsang bila melihat pakaian ketat itu, mungkin saja biji mata mereka akan meloncat keluar.

Dia memang senang memakai pakaian ketat ini, dia senang kalau orang lain memperhatikannya.

Usianya terhitung masih muda, tapi dia sudah bukan seorang nona kecil, itulah sebabnya dia punya masalah, masalah itu membuatnya mencucurkan air mata.

Air mata itu meleleh lantaran seseorang, dan kini orang tersebut sudah berdiri tepat di hadapannya.

"Lian Kou, sudah semalam kenapa masih duduk sendirian disini?"

Dia tundukkan kepalanya, meski secara diam-diam telah menyeka air matanya dengan ujung baju, namun dia belum juga mendongak, lewat lama kemudian baru ujamya:"Semalam kenapa kau tak pulang? Kemarin kami telah memotong seekor ayam, pagi ini aku khusus masakkan kuah ayam dan telur untuk sarapanmu, malah aku masih sisikan seekor paha ayam untukmu"

Nyo Cing tertawa, sambil menarik tangannya dia menyahut:"Kalau begitu ayoh kita pulang sekarang, aku makan paha ayam dan kau minum kuah nya"

Tiap kali dia menarik tangannya, meski wajahnya akan bersemu merah dan hatinya berdebar keras, namun belum pernah gadis im menampik tawaran tersebut.

Tapi kali ini dia menampik, bahkan meronta untuk lepaskan diri dari genggamannya, dengan kepala masih tertunduk katanya:"Sesibuk apa pun hari ini, kau seharusnya pulang lebih awal"

"Kenapa?'

"Had ini ada seorang tamu datang mencarimu, dia sudah menunggu hampir setengah harian di rumah"

"Ada tamu mencari aku?" Nyo Cing bertanya keheranan, “Manusia macam apa orang itu?" "Seorang nona yang teramat cantik, dia cantik dan sangat harum, memakai baju yang sangat

indah" kepala Lian Kou tertunduk semakin rendah, "aku suruh dia menunggu dalam kamarmu karena dia bilang dia adalah sahabat karibmu, sudah kenal dengan kau sejak masih ingusan"

"Apa dia bernama Lu Siok Bun?" "Rasanya begitu" Nyo Cing tidak bertanya apa pun, tiba tiba dia berlari meninggalkan tempat itu bagaikan seekor kuda yang dicambuk dengan lecut. Ketika Lian Kou mendongakkan kepalanya, dia sudah lenyap dari pandangan mata.

Cahaya bintang masih berkedip bagai kilauan batu permata, air mata yang bercucuran membasahi wajah Lian Kou persis seperti batu mutiara yang terputus dari benangnya.

0-0-0

Nyo Cing tinggal disebuah ruangan dua bilik, bangunan rumah itu tidak terhitung kecil, barang yang ada dalam ruangan pun tak terhitung banyak, tapi selalu tersapu bersih dan tertata rapi.

Bukan dia yang menyapu atau menata ruangan, Lian Kou selalu mengerjakan untuknya.

Ketika dia mendorong pintu dan menerjang masuk ke dalam, ruangan itu tak ada siapa pun, hanya sebuah cawan air teh masih terletak di meja, air teh itu sudah mendingin.

Tamunya sudah berbaring di kamar tidumya dan tertidur lelap, rambut hitamnya yang panjang berkilat dan setiap hari selalu disanggul anggun, kini sudah terurai lepas, berserakan diatas bantalnya.

Badannya putih bagai salju, rambutnya hitam amat pekat, jantungnya berdebur kacau dan keras, napasnya lirih tapi teratur.

Biji matanya kelihatan panjang melentak, tubuhnya begitu lembut dan halus, kakinya panjang ramping.

Ketika dalam keadaan sadar dia tampil anggun dan kenyang akan pengalaman, tapi sewaktu tidur semua kelebihan itu tak nampak sama sekali.

Dia tidur bagai seorang anak kecil.

Nyo Cing berdiri disisi ranjang bagaikan seorang bocah, mengawasinya dengan pandangan bodoh, dia memandang bodoh, pikirannya lebih bodoh lagi....

Entah berapa lama dia berdiri bagal orang dungu, tiba tiba Nyo Cing menjumpai Lu Siok Bun sudah mendusin dari tidurnya dan sedang mengawasi dirinya, sinar matanya penuh kelembutan serta kasih sayang yang mendalam, entah sampai berapa lama kemudian dia baru berkata,"Kau tentu lelah sekali" katanya sambil menggeser sedikit tubuhnya, "berbaringlah disisiku"

Dia hanya mengucapkan berapa patah kata, tapi setiap kata mengandung nada kasih yang dalam, kadangkala ucapan seperti ini jauh mengungguli beribu ribu patah kata.

Dengan mulut membungkam Nyo Cing berbaring, barbaring disisi perempuan yang siang malam selalu diimpikan, dia tidak merasa perasaannya menggelora, juga tak terlintas pikiran porno, dia hanya merasakan keheningan dan ketenangan yang luar biasa, semua kemurungan, kemasgulan dan penderitaan hidup sebagai manusia, seolah olah jauh meninggalkan dirinya.

Dia belum pemah datang kemari, mengapa tiba tiba muncul di situ? Dia tidak bertanya, karena sia telah menjelaslcan sendiri.

"Aku datang lantaran Si Si" Lu Siok Bun menjelaskan, "karena kemarin sore tiba tiba muncul orang yang sama sekali tab kuduga, datang ke tempatku mencari Si Si"

"Siapa orang itu?" "Ti Cing Ling!"

"Dia mencari Si Si?" Nyo Cing pun tidak menyangka, "mereka tidak bersama?" "Tidak, dia bilang Si Si sudah berapa hari pergi meninggalkannya"

"Setelah meninggalkannya, dia ke mana?"

"Tidak tahu, tak ada yang tahu" sahut Lu Siok Bun, "mereka berangkat bersama ke pesanggrahan Botan Sanceng untuk membeli kuda, tapi pada malam kedua Si Si telah pergi tanpa pamit, Ti Cing Ling sendiri pun tidak tahu apa sebabnya gadis itu pergi tanpa pamit?" “Apakah lantaran mereka cekcok mulut? Atau karena dia menjumpai pria lain yang jauh lebih menjanjikan ketimbang Ti Cing Ling?

Dalam pertemuan akbar itu, Pesanggrahan Botan Sanceng pasti kedatangan pelbagai lapisan masyarakat, setiap pria yang muncul di situ rata-rata merupakan manusia luar biasa, setiap pria besar kemungkinan akan terpikat oleh kecantikan Si Si karena Si Si memang seorang perempuan dengan kecantikan dan penampilan yang amat menonjol, padahal hubungannya dengan Ti Cing Ling bukan hubungan luar biasa, diantara mereka berdua sama sekali tidak terlibat dalam percintaan.

Walaupun di hati kecilnya Nyo Cing berpendapat begitu, namun tidak diutarakan keluar, dia tahu selama ini Lu Siok Bun selalu menganggap Si Si seperti adik kandung sendiri, dia pasti tak senang hati jika mendengar ucapan tersebut.

Karena itu dia hanya bertanya,"Menurut pendapatmu, besar kemungkinan dia telah ke mana?" "Aku tak tahu, aku tak bisa menjawab, karena aku sama sekali tidak percaya kepadanya" "Tidak percaya kepada siapa?"

"Tidak percaya dengan ucapan Ti Cing Ling, tidak percaya Si Si akan pergi meninggalkannya, karena Si-si pernah beritahu kepadaku, lelaki macam Ti Cing Ling merupakan lelaki idaman hatinva, type lelaki yang selalu didambakan, dia pasti akan berupaya untuk membelenggku dan mengikatnya"

Setelah berhenti sejenak, tambahnya, “Dihadapanku, Si Si tak berbohong"

“Banyak perubahan terjadi di dunia ini tapi perasaan wanita paling gampang berubah, apalagi perempuan macam Si Si, walaupun apa yang dia katakan waktu itu mungkin perkataan yang jujur, tapi siapa yang berani jamin dia tidak berubah pikiran?

“Tentu saja Nyo Cing tak bisa mengutarakan keluar perkataan ini.

“Jadi kau anggap Ti Cing Ling sedang berbohong?" katanya kepada Lu Siok Bun, "Jadi kau beranggapan dia telah berbuat sesuatu terhadap Si Si?"

"Aku sendiripun tak tahu, dari status sosial Ti Cing Ling, tidak seharusnya dia bicara bohong, tapi aku selalu merasa agak takut"

“Kau takut? Apa yang kau takuti?" “Takut telah to jadi apa apa" “Takut terjadi apa?"

“Apapun mungkin bisa terjadi, sebab aku tahu lelaki macam Ti Cing Ling pasti tak akan sudi dibelenggu terus oleh seorang wanita.”

Tiba-tiba dia genggam tangan Nyo Cing eras-erat, katanya, “Aku betul-betul merasa takut, maka aku tak berani berkata apa pun dihadapannya, aku tak berani bertanya apa pun, dia, meski berstatus sosial tinggi, tapi aku selalu menganggapnya sebagai seorang lelaki kejam yang tega melakukan perbuatan apapun"

Nyo Cing tahu, dia memang sungguh ketakutan, sepasang tangannya sudah berubah dingin bagai es.

"Tak ada yang perlu ditakuti" Nyoo Cing mencoba menghibur, "jika Ti Cing Ling benar benar telah berbuat sesuatu terhadap Si Si, perduli bagaimanapun tingginya status sosialnya, aku tak akan lepaskan dia, bahkan aku pasti akan selidiki kabar berita Si Si hingga tunas"

Lu Siok Bun menghela napas panjang, katanya sambil pejamkan mata.."Kemarin malam aku tak pemah bisa tidur, bolehkah aku tidur di sini?"

Dengan cepat perempuan itu sudah terlelap tidur.

Dia bisa tidur nyenyak karena dia tak perlu kuatir, walaupun selama hidup dia tak pernah percaya dengan lelaki mana pun, tapi dia percaya Nyo Cing seratus persen. Dia percaya selama Nyo Cing berada disampingnya, tak seorang manusia pun dapat mencelakainya.

Malam semakin Iarut, suasana makin tenang.

Di dalam kota keresidenan yang amat kecil ini, penduduk hidup dalam kesederhanaan dan sangat bersahaja, kini mereka sudah terbuai dalam impian musing masing.

Kecuali ibu kandung Siau Hau Ji dan bini lo-The yang baru kehilangan anak dan suami, kini mungkin tinggal seorang yang belum tidur.

0-0-0

Gwe Po adalah rumah penginapan terbesar di kota itu.

Rumah penginapan itu belum lama diresmikan, bangunannya masih serba baru, tapi berapa hari berselang tiba tiba dengan mengeluarkan biaya hampir ratusan tahil perak, paviliun sebelah barat telah dibongkar untuk dibangun kembali dengan sebuah bangunan yang baru.

Maka pemilik rumah penginapan itu tidak rela keluar uang banyak untuk berbuat begitu, tapi dia dipaksa untuk keluar uang.

Bila seseorang yang sangat berkuasa menghendaki begitu, siapa lagi yang berani menampik?

Dan seorang tamu yang sangat terhormat dan sangat berkuasa baru-baru ini telah menginap semalam disitu.

Tamu agung ini sangat banyak tuntutannya, meskipun hanya menginap semalam, dia tak mau dilayani seadanya.

Tamu agung itu tak lain adalah Ti Cing Ling.

Ti Cing Ling mengenakan jubah lebar berwama putih salju, dengan memegang sebuah cawan kemala putih yang penuh berisi arak, duduk bersandar diatas sebuah amben pendek yang dilapisi permadani kulit domba buatan Persia, dia seperti sedang memikirkan sesuatu. seperti juga sedang menunggu seseorang.

Dia sedang menunggu orang.

Tiba tiba ada orang mengetuk pintu dari luar ruangan, "Took, took took" dengan suatu sistim ketukan yang aneh orang mengetuk pintu beberapa kali.

"Siapa?" Ti Cing Ling segera menegur.

"Cia Gwee Je Sah" orang diluar pintu mengulang sekali lagi, 'bulan Cia Gwee tanggal tiga"

Tanggal yang disebut, bukan nama manusia. Mungkin juga bukan tanggal, tapi kata sandi yang digunakan untuk berhubungan.

Tapi sekarang kata sandi itu melambangkan seseorang, salah satu anggota dari sebuah organisasi raksasa yang amat misterius dan rahasia.

Dalam empat ratus tahun terakhir, belum pernah dalam dunia persilatan muncul organisasi rahasia yang begitu besar pengaruhnya seperti perkumpulan Cing Liong Pang (perkumpulan naga hijau). Organisasi rahasia ini membawahi tiga ratus enam puluh lima cabang yang tersebar diseluruh kolong langit, dan menggunakan almanac lmlek sebagai simbol. "Cia Gwee Je Sah" atau bulan satu tanggal tiga melambangkan seorang kepala cabang dari suatu kantor cabang daerah.

Orang yang sedang ditunggu Ti Cing Ling adalah orang ini, dalam operasinya kali ini orang itulah yang bertanggung jawab mewakill perkumpulan Cing Liong Pang untuk berhubungan dengannya

Orang itu sudah melangkah masuk ke dalam ruangan, dia adalah seorang lelaki tinggi besar, kekar dan mengenakan baju perlente.

Begitu melihat munculnya orang itu, jangankan orang awam, bahkan Ti Cing Ling yang tak pemah tergerak hatinya pun nampak ikut tercengang dibuatnya.

“Kau?” “Aku tahu, Siau Hoya pasti tak akan menyangka "Cia Gwee Je Sah” adalah aku" ujar orang itu sambil terlawa lebar, wajahnya

yang bulat gemuk dan putih bersih itu sama sekali tidak bertampang licik, "memang sedikit yang tahu kalau aku adalah anggota perkumpulan Naga Hijau"

Sekalipun ada yang tahu pun tak bakal curiga, sebab mana mungkin "Hon Kay Hok Kui" (Bunga mekar banyak rejeki dan terhormat) Hoa Suya yang begitu kaya raya, terhormat dan menjagoi satu wilayah mau tunduk dibawah perintah orang lain?

Tapi Ti Cing Ling sangat memahami hal itu.

Jika perkumpulan Naga Hijau menghendaki seseorang menjadi anak buahnya, biasanya orang itu tak akan mempunyai pilihan lain kecuali menerima tawaran tersebut.

Menolak berarti mati.

Bila kau adalah pemilik Pesanggrahan Botan San-ceng, bila harta kekayaanmu tak akan habis dipakai hingga keturunanmu yang ke delapan belas, apakah kau ingin mampus?

Biarpun orang itu miskin, tak punya sang setengek pun, dia sama saja tak ingin mati.

Ti Cing Ling segera tertawa.

"Aku memang tak menyangka kalau kaulah orangnya" dia balik bertanya, "pernah kau bayangkan, aku bisa bunuh orang?"

"Aku tak pernah menyangka" Hoa Suya mengakui, "bahkan mimpi pun aku tak pemah menyangka"

"Tapi sekarang, kau tentu sudah tahu bukan? Kau sendirl yang memasukkan Jenasah Ban Tayhiap ke dalam peti mati" Ti Cing Ling menghirup araknya satu tegukan, "bagaimana pun juga, tugas yang diberikan pemimpin kalian telah kuselesaikan dengan sukses"

"Aku telah melapor ke atasan dan atasan pun telah berpesan, bila Siau Hoya masih ada tugas yang hendak dikerjakan, kami tentu akan membantu dengan sepenuh tenaga" tiba tiba Hoa Suya tidak tertawa lagi, dengan wajah serius tambahnya, "jika Siau Hoya menginginkan Hoa Suya mati, aku segera akan menghabisi nyawa sendiri"

Ti Cing Ling mengawasi cawan kemala putih yang berada dihadapannya tanpa berkedip, lewat lama kemudian dia baru berkata, "Aku tak inginkan kematianmu, aku berharap kau panjang umur, banyak anak banyak cucu, tapi aku memang sangat berharap ada satu orang tak bisa hidup terus, biar hanya satu hari pun dia tak boleh hidup"

'Siapa yang Siau Hoya maksudkan?'

"Ji Giok" sahut Ti Cing Ling, "nona Ji Giok yang ada di rumah bordil Gi Hong"

Kemarin, Ti Cing Ling memang telah berkunjung ke rumah bordil Gi Hong, dia pun telah bersua dengan "Toaci" nya Si Si.

Setelah terjun ke rumah bordil, Lu Siok Bun memang berganti nama menjadi "Ji Giok".

Begitu bersua dengan perempuan itu, dia segera menyadari akan satu hal perempuan itu kelewat berpengalaman, kelewat teliti, tak ada kejadian apapun yang dapat mengelabuhinya, bukan urusan gampang untuk membohonginya.

"Aku harap kalian bunuh orang itu untukku" ujar Ti Cing Ling, cari saja sembarangan orang dengan sembarangan alasan, bunuh dia di tengah ruang rumah bordil itu, tapi ingat, jangan sampai meninggalkan jejak atau kecurigaan apapun hingga orang tahu kalau kematiannya ada sangkut paut dengan diriku"

"Aka memahami maksud Siau Hoya" Tertawa Hoa Suya seperti Buddha Mi Lek, "kami punya banyak pengalaman dalam menjalankan tugas seperti ini"

"Selain itu" sambung Ti Cing Ling, " aku dengar Ji Giok punya langganan tetap, dia adalah opas kota ini" "Betul, orang itu she-Nyo bernama Cing" "Manusia macam apa dia?"

“Seorang lelaki keras hati, tidak gampang dihadapi. dia punya sedikit nama dalam kalangan kepolisian"

"Kalau begitu jangan biarkan orang itu terjatuh ke tangannya selesai membunuh Ji Giok"

“Siau Hoya tak usah menguatirkan persoalan ini.” “Kenapa?"

"Nyo Cing sendiri sudah banyak masalah" ujar Hoa Suya sambil tertawa terkekeh kekeh, "mungkin dia sendiri pun tak dapat melindungi keselamatan jiwa sendiri"

“Masalahnya cukup besar?"

“Besar sekali, biarpun tak sampai kehilangan nyawa, paling tidak dia mesti merasakan pengapnya penjara selama delapan sampai sepuluh tahun.”

"Kalau begitu bagus sekali" seru Ti Cing Ling sambil tertawa congkak.

Dia tidak bertanya masalah apa yang sedang menimpa Nyo Cing, dia memang tak pernah suka mencampuri urusan orang lain.

Terdengar Hoa Suya berkata lagi, "Kalau diceritakan kembali memang sungguh kebetulan, kami sama sekali tak tahu kalau orang yang hendak dihadapi Siau Hoya adalah Nyo Cing dan Ji Giok, memang sejak awal kami pun punya rencana untuk menghadapinya"

Ti Cing Ling kembali tertawa.

Sekarang dia sudah mengerti, masalah yang dihadapi Nyo Cing adalah masalah yang sengaja diciptakan perkumpulan Naga Hijau secara cermat dan sempuma.

Bila seseorang sudah tertimpa masalah seperti ini, bukan pekerjaan yang kelewat gampang untuk meloloskan diri.

Ti Cing Ling bangkit berdiri dan menuanglcan arak untuk Hoa Suya, lalu tanyanya pelan"Ketika aku minum arak di rumahmu malam itu, ada seorang nona menari dengan bertelanjang kaki, siapa nona itu?"

"Dia bernama Siau Cing, sudah kubawa kemari, aku tahu Siau Hoya terpikat dengan nona itu" Ti Cing Ling tertawa tergelak.

"Hoa Suya" serunya, "sekarang aku baru tahu kenapa kau cepat kaya, aneh sekali bila orang macam kau tak bisa kaya raya"

Pinggul Siau Cing ketika bergoyang persis seperti seekor ular yang sedang menggeliat. Seekor ular hijau kecil.

0-0-0

Malam semakin kelam, suasana semakin hening, tiba-tiba Lu Siok Bun terjaga dari tidumya, dia terjaga dari mimpi buruknya

Dalam mimpi nya dia melihat dari mulut Ti Cing Ling tiba tiba muncul dengan dua taring gigi yang tajam, taring tajam itu sedang menggigit tengkuk Si Si, menghisap darahnya.

Ketika dia berjaga dari tidumya, Nyo Cing masih terlelap tidur dengan nyenyaknya.

Tiba tiba dia jumpai sekujur badan Nyo Cing panas menyengat, namun keringat yang bercucuran adalah keringat dingin. Nyo Cing sakit, bahkan sakit cukup parah.

Lu Siok Bun sedih bercampur terkejut, pelan pelan dia bangun dari atas ranjang, maksudnya ingin mencari sebuah handuk untuk menyeka peluh yang membasahi tubuh Nyo Cing.

Dalam ruangan tak ada lentera, suasana gelap gulita membuat dia tak bisa melihat benda apapun, tapi dia melihat daun jendela dalam keadaan terbuka. Cahaya bintang yang redup memancar masuk melalui daun jendela, tiba tiba dia jumpai diluar rumah berdiri serombongan manusia, ada yang bergolok ada pula yang membawa panah.

Golok telah terhunus dari sangkurnya, anak panah sudah terpasang diatas busur.

0-0-0