Kait Perpisahan Bab 2 : Tongkat Gigi Serigala.

 
Bab 2 : Tongkat Gigi Serigala.

Tongkat Gigi Serigaia atau lebih dikenal sebagai Long Ya Pang termasuk sebuah jenis senjata yang jarang digunakan dalam dunia persilatan, selain berat, bentuknya kelewat besar, tidak leluasa untuk dibawa ke mana mana, dalam penggunaan pun sangat canggung dan tak gesit, Tanpa memiliki kekuatan lengan seberat ribuan kati, jangan harap bisa mainkan senjata ini dengan lancar.

Biasanya, senjata macam begini hanya dijumpai dalam sebuah pertempuran kolosal, sebuah pertempuran akbar yang melibatkan beribu ribu orang prajurit, pertempuran berdarah yang bisa menciptakan banjir darah dan bukit bangkai. Sementara dalam dunia persilatan, teramat jarang orang menggunakan senjata jenis ini.

Tapi orang yang menerjang keluar dari balik lorong saat ini justru menggunakan senjata Long Ya Pang dengan bobot paling tidak tujuh-delapan puluh kati, gigi serigala yang mencorong diatas tongkat memancarkan sinar tajam yang menyilaukan mata, sekilas pandang persis seperti berpuluh puluh ekor serigala kelaparan yang slap menerkam Nyoo Cing dan mencabik cabik tubuhnya hingga hancur berkeping.

Orang itu berperawakan tinggi besar, tinggi badan hampir sembilan depa dengan panjang lengan hampir dua depa, bertelanjang dada, berkepala botak, memakai anting anting besar terbuat dari emas pada telinga kirinya dan berwajah merah membara seperti kobaran api.

Dia mempunyai sebuah bekas bacokan golok yang memanjang di ujung bibirnya, membuat hidungnya yang besar bagai telur itik terbelah dua.

Jika ada orang yang menyaksikan kemunculannya ditengah malam buta, pasti akan mengira telah berjumpa dengan jin atau memedi jahat.

Nyoo Cing membalikkan badan menghadap ke arah manusia raksasa itu, dia tak ambil perduli dengan Sun Ji Hay yang berada di belakangnya, seolah-olah dia sama sekali tak tahu kalau senjata garpu yang berada di tangan Sun Ji Hay pun merupakan senjata pembunuh, bahkan sudah banyak jago yang menemui ajalnya di ujung senjata garpu yang tajam itu.

Perawakan Nyoo Cing termasuk cukup tinggi, namun dibandingkan manusia raksasa yang berada di hadapannya, dia nampak pendek sekali.

"Konon Ni Pat punya seorang anak buah dari suku Miau yang disebut orang si Kerbau liar, jadi kaulah si suku Miau itu?" tegur Nyoo Cing kemudian.

"Tepat sekali, akulah orangnya"

"Konon kau buas, kasar, tak pakai aturan dan tak takut mati, apa benar kau tak takut mampus?"

"Yang bakal mampus bukan aku, tapi kau si anak kura kura!" orang Miau itu mengumpat dengan dialek Tionggoan yang lucu, apalagi kata umpatan yang digunakan, kedengarannya aneh dan amat istimewa.

Nyoo Cing tidak bersenjata, jarang orang melihat dia gunakan senjata.

Dengan tangan kosong dia berdiri dihadapan manusia raksasa itu, bukan saja tak panik, dia justru kelihatan tenang sekali.

Pada saat itulah, Tongkat gigi serigala seberat tujuh-delapan puluh kati itu sudah diayunkan ke muka dan menyapu ke arah tubuhnya dengan membawa deruan angin serangan yang rnemekikkan telinga.

Dia tak dapat menangkis, dalam genggamannya sama sekali tak ada benda yang bisa dipakai untuk menangkis.

Dia pun tak dapat mundur, sebuah senjata garpu yang tajam sedang mengancam dari belakang tubuhnya.

Jangan lagi melawan, mau berkelit pun sulit baginya.

Lorong itu kelewat sempit, sementara senjata tongkat gigi serigala itu kelewat panjang, sewaktu menyambar ke depan, hampir seluruh jalan mundumya telah terblokir total, mau berkelit ke arah mana pun, sulit baginya untuk melepaskan diri dari ancarnan tersebut. Sun Ji Hay tidak turun tangan.

Dia memang tak perlu turun tangan, bahkan saat itu dia sedang mencari akal bagaimana caranya memusnahkan mayat orang itu, agar manusia yang bernama Nyoo Cing lenyap untuk selamanya dan muka bumi.

Belum sempat dia menemukan sebuah cara yang sempurna, tahu tahu satu perubahan telah terjadi, dia segera sadar, percuma dia melanjutkan pemikiran itu.

Karena dalam sekejap mata itulah dia menjumpai bahwa untuk sementara waktu Nyoo Cing tak bakalan mampus.

Tadi, posisi Nyoo Cing memang sudah terkurung, kelihatannya dia segera akan menemui ajalnya.

Dengan cara apapun dia menangkis atau dengan cara apa pun dia berkelit, apalagi mundur dan arena, sebuah pukulan dahsyat tetap akan bersarang di tubuhnya.

Tak ada orang yang mampu menahan serangan tongkat bergigi serigala itu.

Siapa nyana Nyoo Cing sama sekali tidak menangkis, dia tidak menghindar, apalagi mundur dari arena memang ada sementara orang yang selama hidup tak sudi mundur dari arena, Nyoo Cing termasuk manusia type ini.

Bukan saja dia tidak mundur, sebaliknya dia malah menerjang ke muka, menyongsong datangnya serangan tongkat bergigi serigala itu.

Tak seorang pun yang mengira dia akan berbuat demnkian, karena selama ini memang tak seorang pun berani berbuat demikian.

Seorang jago silat yang benar benar hebat clan berkepandaian tinggi, pasti memiliki cara lain yang lebih bagus untuk menghadapi ancaman tersebut, sebaliknya buat orang yang berilmu agak rendah, mungkin saat ini tubuhnya sudah terkoyak koyak oleh senjata tongkat bergigi serigala.

Nyoo Cing menerjang ke muka, menyongsong datangnya serangan.

Pada detik yang terakhir, tiba tiba dia jatuhkan diri ke lantai, dengan sepasang tangan menekan permukaan tanah, dia menerobos masuk melalui bawah serangan senjata bergigi serigala itu, kepalanya langsung menumbuk perut si kerbau liar.

Gerak serangan semacam ini tak bisa dianggap sebagai jurus ilmu silat, seorang jagoan murni dari dunia persilatan tak bakalan menggunakan cara seperti ini, mereka tak sudi berbuat begitu.

Tapi cara yang digunakan Nyoo Cing justru sangat manjur dan bermanfaat, begitu perutnya tertumpuk sodokan kepala lawan, si kerbau liar dengan berat badan hampir mencapai dua ratus kati itu kontan roboh terguling ke atas tanah, sambil memegangi perut sendiri dan bergulingan, dia menjerit jerit karena kesakitan, begitu keras jerit kesakitannya hingga orang yang berada tiga gang dari tempat itu pun dapat mendengar sangat jelas.

Menyusul kemudian Nyoo Cing mengeluarkan seutas tali yang terbuat dari otot kerbau dan langsung membelenggu kaki dan tangan manusia raksasa itu, bahkan dia jejalkan sebiji buah tho ke dalam mulutnya agar orang itu tidak menjerit lagi.

Kemudian setelah menghembuskan napas panjang, dia berbalik ke hadapan Sun Ji Hay dan menegur hambar,"Bagaimana?"

Dalam pada itu Sun Ji Hay sudah tertegun dibuatnya, sampai setengah harian kemudian dia barn bergumam:"Ilmu silat macam apa itu?"

"Gerakan itu sama sekali bukan gerak jurus ilmu silat" sahut Nyoo Cing ketus, "aku tidak mengerti apa itu ilmu silat, yang kuketahui hanya bagaimana cara merobohkan seseorang"

"Gerakan dungu semacam itu bukan termasuk jurus silat, seorang enghiong hohan, tak akan sudi menggunakannya" "Aku memang bukan enghiong hohan, aku pun tak pingin mampus, yang kuinginkan hanya menggunalcan akal untuk membekuk si tersangka"

"Kini, dengan cara apa kau hendak menangkapku?” tanya Sun Ji Hay kemudian sambil rnenggenggam semakin kencang sepasang senjata garpunya.

"Aku tak perduli cara apa yang mau dipakai, asal dapat membekukmu, cara apa pun akan kuhalalkan"

Sun Ji Hay tertawa dingin.

Nyoo Cing tidak menggubris, sambil menatapnya tajam kembali ujamya:"Kau mengerti ilmu silat dan aku tidak! Kau adalah seorang jagoan termashur dalam dunia persilatan, sedang aku bukan. Di tanganmu tergenggam senjata dan aku tidak, bila kau memang hebat dan mampu menaklukkan aku, yaa, aku pun tak bisa bilang apa-apa!”

Sun Ji Hay masih tertawa dingin, tapi paras mukanya telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat.

Nyoo Cing berjalan mendekat dengan amat lambat, katanya lagi:

"Sayang kau tak becus, aku tahu, kau memang tak becus, kalau berani bergerak sedikit saja, akan kusuruh kau berbaring selama tiga bulan di ranjang tanpa mampu merangkak bangun, kau percaya?"

Kini dia sudah berada dihadapan Sun Ji Hay, jantung serta ulu hatinya sudah berada tak lebih satu depa dari ujung senjata garpu yang berada dalam genggaman Sun Ji Hay.

Namun Sun Ji Hay tak bergerak, menggeserkan badan pun tidak.

"Criiing!" diiringi suara nyaring, sebuah borgol tangan yang terbuat dari besi baja sudah terpasang di tangannya.

Tempik sorak bergema gegap gempita dari balik lorong gelap, rnenyusul kemunculan belasan sosok lelaki kekar berbaju hitam berjalan mendekat dengan langkah Iebar

Mereka semua adalah anak buah Nyoo Cing, juga terhitung saudara sealiran dengan Nyoo Cing, terhadap opas yang satu ini bukan saja mereka menaruh perasaan kagum, rasa hormatnya sangat berlebihan.

"Nyoo toako, kau memang hebat"

"Kalian juga hebat" jawab Nyoo Cing sambil tertawa, "tahu aku sedang menghadapi kesulitan, bisanya kalian hanya menonton keramaian ditempat kegelapan, masa tak seorang pun yang muncul membantu aku"

"Kami tahu untuk mengatasi persoalan ini, kekuatan toako seorang sudah lebih dari cukup, kami datang karena ingin membantu toako untuk menyelesaikan urusan berikut"

Berubah serius paras muka Nyoo Cing.

"Rupanya kalian pun tahu tentang persoaJan ini, dari mana kalian bisa tahu?" hardiknya. "Semalam, Tio Loji mengutus Siau Liu mencari toako di kantor, kami tahu pasti ada urusan

penting yang harus dikerjakan, maka siang tadi saudara saudara kami sengaja menahan Siau Liu untuk minum arak"

"Jadi dia yang beritahu kalian" seru Nyoo Cing gusar, "padahal berulang kali aku sudah peringatkan padanya, jangan bocorkan rahasia ini. Besar amat nyali si telur busuk ini"

"Kami mengerti maksud toako, kami pun tahu toako amat memperhatikan keselamatan kami, toako melarang kami tahu peristiwa ini lantaran ilmu silat yang dimiliki musuh kelewat tangguh, masalah ini sangat gawat dan berbahaya, salah salah dapat kehilangan nyawa.”

Kawanan lelaki kekar itu berebut bicara:"Tapi kami sudah banyak tahun mengikuti toako, apabila selama ini toako tidak selalu membentengi kami, mungkin separuh diantara kami sudah mampus sejak awal, karenanya sudah lama kami siapkan nyawa untuk diserahkan kepada toako, walaupun tahu bukan tandingan lawan, paling tidak kami akan mencoba untuk beradu nyawa, biar mesti mati, kami semua saudara slap mati bersama"

Nyoo Cing mengepal tinjunya kencang kencang, sementara pandangan matanya terasa kabur karena air mata yang nyaris meleleh keluar, masih untung ia sanggup menahan diri.

Kembali kawanan lelaki itu berseru:"Meskipun kami tak tahu seberapa hebatnya manusia she-Ni itu, tapi dilihat dari keberaniannya menyatroni perusahaan ekspedisi Tionggoan piaukiok, bisa disimpulkan bahwa dia memang seorang lawan tangguh, biar jelek begini kami pun bukan orang bodoh, dibawah bimbingan toako, kami sempat berapa kali menangani kasus kasus bergengsi secara sukses, maka dari itu, biar mesti gunakan dua nyawa untuk ditukar selembar nyawa, kami tetap akan beradu jiwa dengan mereka"

"Bagus, bagus sekali" seru Nyoo Cing sambil menggenggam tangan saudara saudaranya, "kalian semua ikut aku!"

Kembali kawanan lelaki kekar itu bersorak sorai, entah siapa yang punya ide ternyata sebuah gentong arak wangi telah digotong ke arena.

"Toako, bagaimana kalau kau habiskan dua cawan arak lebih dulu?"

"Kira tak perlu membiarkan nyali dengan mengandalkan air kata kata, jika mau minum, kita minum sepuasnya nanti setelah urusan ini selesai kita kerjakan"

"Betul, betul!" teriak kawanan lelaki itu lagi, "kita bikin gepeng si telur busuk itu lebih dulu, kemudian baru bermabuk mabuk dengan menenggak arak kura-kura maknya!"

Tapi Sun Ji Hay dan si kerbau liar harus dikirim balik dulu ke markas, siapa yang mau bertugas mengawal mereka? Semua orang tentu saja enggan melewatkan peluang yang sangat bagus ini, maka semua orang pun berebut agar bisa terpilih.

Untuk menghindari keributan, akhimya Nyoo Cing yang mengambil keputusan, katanya, ”Biar si The tua dan Siau Hau Ji yang mengawal mereka pulang"

The tua belum lama menikah, putranya belum genap berusia satu tahun, tentu saja dia paham dengan maksud Nyoo Cing, dalam hati kecilnya dia sedih bercampur terharu, dia berterima kasih sekali dengan kebaikan saudaranya ini.

Sebaliknya si macan kecil Siau Hau Ji merasa tidak puas, teriaknyar"Toako, kenapa aku yang diutus?"

"Kau sudah lupa dengan ibumu di rumah yang sudah tua rental" Umpat Nyoo Cing sambil tempeleng wajahnya satu kali.

Siau Hau Ji tidak bicara lagi, semaktu berpaling, nyaris air matanya jatuh berlinang.

Melihat tingkah lake orang orang itu, mendadak Sun Ji Hay merasa hawa panas bergelora dalam rongga dadanya, dengan suara lantang teriaknya:

"Lepaskan aku, aku ingin beradu sekali lagi, aku Sun Ji Hay bukan manusia tempe, akupun tak takut mati macam kalian"

Si Kerbau liar yang sudah diikat tangan kakinya dengan otot kerbau langsung meludahi wajahnya sambil mengumpat"Anak kura-kura, kaJau kau tidak takut mampus, siapa yang takut? Buat apa kau teriak teriak macam kentut busuk? Lebih baik segera tutup bacotmu.”

Menyaksikan lo-The dan Siau Hau Ji menggotong pergi ke dua orang itu, tiba tiba Nyoo Cing menghela napas panjang.

"Mungkin saja Sun Ji Hay bukan manusia berjiwa tempe, tapi berhubung belakangan kehidupannya dilewatkan dalam keadaan serba berkecukupan, jiwanya jadi berubah"

Kemudian setelah berhenti sejenak dan menghela napas sedih, tambahnya:"Tidak gampang manusia macam dia hidup berkecimpungan dalam dunia persilatan, tapi lebih tak gampang untuk tak takut mati"

0-0-0 Ni Pat ya sedang sakit kepala.

Tentu saja kepalanya yang sakit bukan lantaran ulah Nyoo Cing, seorang opas dari sebuah kota keresidenan bisa berbuat apa terhadapnya? dia hampir tak pandang sebelah mata pun terhadap orang itu.

Dia sakit kepala karena saat ini dia hampir sadar dari mabuknya semalam, arak yang diminum semalam memang kelewat banyak.

Walaupun Congpiautau dari Tionggoan piaukiok, "Po Ma Kim To (Kuda Mestika Golok Emas) Ong Ceng Hui tidak mengawal sendiri barang kawalannya lantaran sedang beli kuda di perkampungan Botan Sanceng, tapi piausu dari marga Ong yang bertugas mengawal barang itu sudah cukup membuatnya sakit gigi.

Dia harus bertarung mati matian hampir setengah jam lamanya dengan mengandalkan senjata "To Tiong Koay" (Golok Dibalik tongkat) yang sudah mengikutinya hampir tiga puluhan tahun dan mendampinginya paling tidak dalam tiga ratusan kali pertempuran, ditambah dukungan dari lima belas orang antek dan begundalnya yang paling diandalkan, itupun harus kehilangan enam orang jagoan dulu sebelum berhasil merampas barang dalam kereta kawalan itu.

Tapi semua perjuangannya itu tidak sia sia, seratus delapan puluh laksa tahil perak bukan jumlah yang kecil, jumlah itu sudah Iebih dari cukup baginya untuk melewati sisa hidupnya dengan penuh kemewahan dan kenikmatan.

Tahun ini usianya sudah mencapai lima puluh enam tahun, setelah mengirim semua uang hasil jarahan itu ke rumah di desa, dia sudah bersiap cuci tangan dan mencari tempat yang jauh dan keramaian dunia untuk menikmati sisa hidupnya dengan aman sentosa,

Ni Pat Toaya berasal dari daerah Su Chuan, dia senang menaiki "tandu peluncur"

Bangku yang diikatkan pada dua batang bambu dan digotong oleh dua orang, dinamakan "tandu peluncur".

Duduk diatas tandu peluncur, selain enak juga tanpa halangan, selain dapat melihat ke delapan penjuru secara babas, bila menoleh ke belakang, dia pun bisa melihat kereta yang penuh berisi uang perak.

Penghela kereta maupun kawanan pengawal barang merupakan konco konco sehidup sematinya, mereka semua merupakan jagoan yang berilmu tinggi dan sangat berpengalaman dalam menghadapi pelbagai pertempuran.

Walaupun dia yakin tak akan ada orang berani mengusiknya di jalanan itu, namun semua gerak geriknya tetap dilakukan dengan sangat berhati hati.

Dia menggunakan kereta semacam ini untuk mengangkut uang peraknya karena kereta kecil semacam ini paling lincah dan paling handal dalam menempuh perjalanan jauh, apalagi kereta yang kecil tak bakal menggganggu atau menghalangi perjalanan orang lain.

Kereta kecil seperti ini mirip kereta gerobak, kereta yang didorong dengan tenaga manusia.

Kuda atau keledai akan menimbulkan suara, sedang manusia tidak, kuda atau keledai bisa meringkik dan berteriak susah terkendali, manusia tak akan.

Karena itu dia sangat tenteram, dia sangat lega hatinya. Sementara itu hari sudah akan terang tanah.

Sambil pejamkan matanya Ni Pat Toaya beristirahat berapa saat lamanya, ketika berpaling ke belakang, tiba tiba dia jumpai rombongan kereta gerobak yang seharusnya rnembentuk sebuah barisan panjang, kini sudah tinggal separuh! Dia mencoba menghitung jumlahnya, betul juga, telah berkurang tujuh buah kereta gerobak. Jago yang mengawal kereta gerobak di barisan terakhir itu adalah si "Martil Tembaga", seperti halnya "si Kerbau Liar", mereka adalah jago jago yang khusus didatangkan dari wilayah Miau di perbatasan sana, dalam situasi macam apapun tak mungkin mereka akan menghianatinya.

Ke mana perginya gerobak gerobak berisi uang perak itu?

Sepasang tangan Ni Pat Toaya segera menekan sisi bambu lalu melejit ke tengah udara, berjumpalitan beberapa kali, kemudian ujung kakinya mental diatas kepala kusir yang mendorong gerobak keempat, dalam sekejap mata dia sudah melalui diatas kepala delapan orang kusir gerobak dan tiba di gerobak terakhir dengan kecepatan tinggi, itulah ilmu meringankan tubuh Pat Poh Kam Jan (delapan langkah mengejar ronggeng) yang paling dibanggakan selama ini.

Tak ada kejadian apa apa dibagian belakang sana, tapi si "Martil Tembaga" yang bertugas mengawal gerobak uang sudah lenyap tak berbekas.

Orang yang mendorong gerobak di depan si Martil Tembaga adalah Seng Kong, hari ini dia memang minum agak banyak, tapi dia tidak mengetahui apa yang telah terjadi di belakang tubuhnya, dia baru bertanya setelah melihat Ni Pat Toaya melayang turun persis di hadapannya.

Ni Pat Tanya tak bicara apa apa, dia langsung tempeleng dua kali wajahnya kemudian baru berseru, "Cepat ikut aku periksa keadaan di belakang sanal"

Rembulan sudah mulai tenggelam, cahaya bintang pun mulai redup, suasana di empat penjuru gelap gulita, sesaat menjelang ddtangnya fajar, suasana memang selalu paling gelap pekat

Tak ada gerak gerik yang mencurigakan di belakang sana, tak kedengaran suara apa apa, juga tak nampak sesosok bayangan manusia pun.

Tapi suasana di balik semak belukar di sisi jalan nampak sedikit kurang beres… waktu itu angin sedang berhembus menggoyangkan semak dan rerumputan, tapi ada sebagian diantaranya sama sekali tak bergerak.

Semak disitu tak bergerak karena sudah ditindih manusia, ditindih delapan orang manusia, tujuh orang pendorong gerobak sudah dipukul hingga semaput dan diikat dengan tali kuda, mulutnya disumpal dengan buah tho dan tergeletak tak berkutik disana, sementara si Martil Tembaga yang mengawal di paling belakang juga sudah diikat dengan otot kerbau bahkan sudah mati terbunuh.

Melihat situasi ini, Ni Pat Toaya malah jauh lebih tenang darpada keadaan semula, dia segera bertanya kepada Seng Kong:

"Masa kau tidak mendengar suara apa pun yang mencurigakan?"

Seng Kong menunduk rendah, dia memang tidak mendengar apa apa, selama ini kesadarannya memang tak pernah jernih.

Dari mulut kusir gerobak yang terikat Ni Pat Toaya lepaskan sebiji buah tho, kemudian setelah menengok sekejap empat penjuru, serunya sambil tertawa dingin tak hentinya:"Bagus, bagus sekali, cara kerja yang cepat, tak nyana dari kalangan kepolisian pun ada jagoan yang cukup hebat.”

.

"Konon opas handalan tempat ini bernama Nyoo Cing, ilmu silat yang dimiliki cukup tangguh" timbrung Seng Kong tiba tiba.

Ni Pat segera mengerutkan dahinya.

"Aku sudah utus Sun Ji Hay dan si Kerbau Liar untuk menghadapinya, masa mereka berdua tak sanggup menghadapinya? Kalau dia betul betul hebat, saat ini aku duga dia sudah berputar ke depan dan menyikat tandu luncur ku"

"Coba kutengok" seru Seng Kong dengan wajah berubah. "Percuma, sekarang sudah terlambat" sahut Ni Pat dengan suara hambar, wajahnya sama sekali tak berubah. Dia memang tak malu disebut jago tua yang kenyang dengan pengalaman, biarpun tahu sudah masuk perangkap namun otaknya tetap jernih, analisa serta kesimpulan yang diambil juga masih tepat.

Pada saat itulah dari barisan depan telah bergema suara jerit kesakitan yang memilukan hati, suara dari si tua botak Pa.

Si botak Pa termasuk salah satu anak buah handalannya, dia bertugas mengawal di barisan terdepan, jelas sudah, dia pun telah masuk perangkap.

Deegan wajah tidak berubah kembali Ni Pat berseru."Si botak Pa sudah habis riwayatnya, si setan hitam, si serigala kuning dan si gajah kelewat berangasan dan talc sabaran, mereka pasti menyusul ke situ, kalau dugaanku tak salah, Nyoo Cing tentu akan menghindari mereka dan kini berputar ke tengah rombongan untuk menyikat Phang Hau terlebih dulu"

"Kita susul mereka?"

"Tidak, kita tak perlu menyusul, kita tidak ke mana pun"

“Masa kita hanya berdiri melulu, menyaksikan mereka membunuh orang orang kita?' seru Seng Kong tertegun.

Ni Pat Toaya tertawa dingin.

"Hmm, siapa lagi yang bisa dia bunuh? Selama aku belum mati, cepat atau lambat dia bakal jatuh ke tanganku. Sasaran utamanya adalah aku, kalau aku ada disini, cepat atau lambat dia pasti datang kemari untuk menghantar kernatiannya"

Angin berhembus makin kencang, langit semakin gelap, tiba tiba Seng Kong merasa hawa bergidik muncul dan dasar lcakinya menyusup hingga ke kepala.

Sekarang dia baru sadar, Ni Pat Toaya tak pernah perduli dengan keselamatan anak buahnya, termasuk para konco konco sehidup sematinya.

Kini, kereta gerobak tak mungkin bisa jalan, uang yang dimuat dalam gerobak juga tak akan ke mana mana, asal mereka bisa bertahan hingga akhirnya membunuh Nyoo Cing, uang tetap akan menjadi miliknya, orang yang memperoleh bagian uang pun semakin sedikit, dalam keadaan begini buat apa dia mesti membuang tenaga untuk menolong orang? Buat apa dia mesti buang tenaga dengan percuma?

Tentu saja dia dapat menahan diri asal dia bisa menahan diri dan menunggu kedatangan lawan, Nyoo Cing akhimya pasti akan mati.

Seng Kong merasa makin bergidik, namun dia tak berani tampilkan perubahan perasaan hatinya diatas wajah.

Tiba tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, sekalipun Nyoo Cing tidak turun tangan, siapa tahu akhirnya Ni Pat akan turun tangan sendiri untuk menyingkirkan anak buahnya satu per satu?

Bila tak ada yang mendapat bagian, maka seratus delapan puluh Iaksa tahil perak akan menjadi miliknya seorang, jika tak ada yang tahu rahasia ini, kehidupannya dikemudian hari bukankah jauh lebih aman, tenteram dan bahagia?

Sementara itu Ni Pat Toaya telah siapkan golok dibalik tongkat To Tiong Koay yang tak pernah berpisah dari sisi tubuhnya itu.

Sebilah golok Liu Yap To ditambah sebuah tongkat baja, Ditengah golok terselip tongkat, ditengah tongkat terselip golok, satu keras satu lunak, keras lunak bersatu padu; satu menyerang satu bertahan, serangan dan pertahanan saling membantu, itulah kepandaian yang paling diandalkan Ni Pat Toaya selama menjelajahi dunia persilatan.

Dengan menjepit tongkatnya dibawah ketiak dan membelai mata golok dengan telapak tangannya, Ni Pat Toaya melirik wajah Seng Kong sekejap, tiba tiba tegurnya, "Kau sudah memahami maksud hatiku?" Seng Kong terkesiap, den tak berani mengakui, tidak berani pula menyangkal.

Jerit kesakitan yang mengerikan bergema silih berganti dari balik kegelapan, Ni Pat tak bergeming, dia seolah olah sama sekali tak mendengar suara itu.

"Kau keliru besar bila beranggapan aku sedang "meminjam golok membunuh orang'"' katanya hambar,"sudah banyak tahun mereka ikut aku, kalau sampai menghadapi seorang opas kecil pun tak mampu, buat apa aku mesti pikirkan nasib dan keselamatan mereka?"

"Yaa, aku mengerti" jawab Seng Kong dengan kepala tertunduk.

"Tapi kau beda, kau paling lama ikut aku, selama kau tetap setia kepadaku, penghidupanmu dimasa mendatang pasti akan lebih baik"

"Yaa, aku mengerti"

"Bagus sekali kalau kau mengerti" Ni Pat Toaya mulai tertawa.

Dengan tangan kanan menggenggam tongkat, tangan kiri mengayunkan golok, diantara kilatan cahaya tajam tiba tiba teriaknya nyaring:"Nyoo Cing, aku berada disini, kenapa kau belum muncul juga?"

Kereta gerobak sudah berserakan, suara bentakan dan jerit kesakitan sudah mekin mereda, akhirnya dari balik kegelapan muncul seseorang, kepada Ni Pat hardiknya nyaring:"Manusia she- Ni, kasus kriminalmu sudah terbukti, ayoh ikut karni pulang ke markas"

"Jadi kaulah Nyoo Cing?" "Ehmm"

Kembali Ni Pat tertawa dingin.

"Manusia macam apa kau itu? Hmm, kenapa aku Pat Loya mesti turun tangan sendiri? Seng Kong, ayoh maju hadapi dia!"

Seng Kong cabut keluar senjara ruyungnya yang terbuat dari bambu, sambil memutar ruyung dia menerjang maju ke muka.

Dia bukannya tak paham maksud tujuan Ni Pat, dirinya jelas digunakan sebagai lempar batu periksa jalan, dia digunakan untuk menjajal kemampuan yang dimiliki Nyoo Cing.

Sekalipun mengerti, mana mungkin baginya untuk tidak maju?

Ni Pat Tayya menggenggam kencang golok tongkatnya, sementara sorot matanya menatap tajam sepasang bahu, sepasang kaki dan sepasang kepalan dari orang yang berada di hadapannya.

Asal bisa meraba aliran ilmu silat yang dimiliki orang tersebut, mati hidup Seng Kong sama sekali tak dia perdulikan. Semenjak dia dihianati orang sampai dua kali, dia mulai belajar tentang hal ini, asal dirinya bisa hidup, dapat hidup lebih baik, apa urusannya dengan mati hidup orang lain?

Disaat Seng Kong mulai bergerak menyerang, tiba tiba dari balik semak belukar sebelah kiri jalan bergema suara gedebukan nyaring.

Dari antara pendorong gerobak yang dipukul pingsan dalam semak belukar itu, mendadak menggelinding keluar seseorang, sambil bergulingan orang itu lepaskan tiga buah anak panah beracun, arah sasaran adalah dada Ni Pat yang bidang itu.

Sesungguhnya Ni Pat termasuk orang yang hebat dan pandai menduga apa yang bakal terjadi, tapi dia sama sekali tak menyangka akan datangnya serangan itu.

Dia sangat terkejut, untung dalam kagemya dia tak sampai panik, tubuhnya segera melejit ke tengah udara, dalam keadaan yang kritis, Dia keluarkan ilmu meringankan tubuhnya yang paling hebat "Han Tee Pat Jiong" (Mencabut Bawang Ditanah Tandus), menghindarkan diri dari ancaman ke tiga anak panah itu. Si opas yang menyaru sebagai kuli dorong kereta cepat menggelinding ke muka dan menunggu jatuhnya badan Ni Pat dari tengah udara.

Sadar ada musuh dibawah yang sedang menunggu, tergesa Ni Pat mengubah gerakan tubuhnya, dia berniat menghindar ke samping.

Siapa tahu tatkala dia tarik napas sambil berusaha mengalihkan posisi, tiba tiba dari belakang tubuhnya menerjang masuk seseorang sembari melepaskan sebuah tonjokan keras ke arab pinggangnya.

Jotosan itu tidak meleset.

Biar sehebat apapun pengalaman Ni Pat Taiya, dia tak menyangka akan datangnya serangan itu, orang bilang sepandai pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga, sodokan tinju yang keras itu kontan membuat tubuhnya terguling ke lantai, napasnya tersumbat hingga sukar ganti hawa, nyaris dia tak mampu merangkak bangun lagi.

Tapi dia mesti merangkak bangun, kalau tidak, sebuah tendangan yang dilepaskan musuh dapat mencabut selembar jiwanya.

Sambil paksakan diri menahan rasa sakit yang luar biasa di atas jalan darahnya, dia gunakan tongkat bajanya menutul permukaan tanah lalu melompat bangun dengan segera.

Tahu tahu seorang lelaki kurus berwajah hitam sudah berdiri hadapannya, mengawasinya dengan sepasang mata harimaunya vang tajam, bahkan beritahu kepadanya dengan nada mengejek"Akulah Nyoo Cing yang asli, tadi kau salah orang"

Ni Pat tertawa keras, air getir hampir saja tumpah keluar dari perutnya yang mual, teriaknya berulang kali:"Bagus, bagus! Aku kagum kepadamu, semua ini memang kesalahanku, bukan saja aku salah melihat orang, akupun kelewat pandang enteng kemampuanmu, tak nyana kau adalah manusia busuk yang banyak akal"

"Aku bukan seorang kuncu, tapi akupun bukan siaujin" kata Nyoo Cing, "kadangkala aku memang suka menggunakan sedikit tipu muslihat, disaat aka harus gunakan maka aku akan menggunakan, sewaktu bisa menggunakan akupun akan menggunakan"

"Bagaimana kalau tak bisa digunakan?"

"Kalau tak bisa digunakan, terpaksa aku akan beradu nyawa"

Ni Pat tertawa tergelak, padahal dia sudah tak mampu tertawa, tapi dia harus tertawa, apalagi dalam situasi seperti ini.

Diwaktu biasa dia jarang tertawa, dikala harus tertawa diapun tidak tertawa, sebaliknya disaat bukan waktunya tertawa. seringkali dia justru tertawa sangat keras, tertawa sangat riang, dia memang selalu menganggap tertawa adalah sebuah kamuflase yang paling jitu, bisa menyembunyikan perasaan sedih dan titik kelemahan seseorang.

Nyoo Cing sangat keheranan, dia tak habis mengerti, dalam keadaan seperti ini mengapa dia masih sanggup tertawa, bahkan tertawa begitu riang?

Saat itulah mendadak Ni Pat melejit ke depan, golok dibalik tongkatnya dengan memakai jurus "Thian Tee Sip Si" (Bumi dan Langit Kehilangan Pamor) melancarkan sebuah serangan dahsyat ke depan.

Jurus serangan ini banyak titik kelemahannya, ada sisinya yang terrbuka namun tingkat keganasannya luar biasa, jurus tersebut memang terhitung sebuah jurus serangan beradu nyawa.

Situasi yang terdesak tidak mengijinkan dia untuk menyerang secara normal, hanya sebuah jurus adu jiwa yang paling pas untuk menghadapi Nyoo Cing saat itu, hanya serangan macam begini yang bisa memaksa musuhnya ikut mati.

Dia tak yakin Nyoo Cing berani beradu nyawa, biasanya seseorang yang banyak akal dan pandai mengatur perangkap, tak bakal sudi mati sekonyol itu. Asal Nyoo Cing keder, asal opas itu mundur sedikit saja dari posisinya sehingga melewatkan kesempatan emas yang sangat langka itu, dia pasti akan tewas terhajar serangan maut ini.

Mimpi pun dia tak menyangka, ternyata Nyoo Cing nekad hendak beradu jiwa.

Nyoo Cing bukan manusia tak berotak, tapi setiap saat dia harus bersiap menghadapi serangan adu jiwa macam begini, dia masih belum pingin mampus.

Tapi dia sadar, andaikata dia dipaksa untuk berhadapan dengan situasi kritis seperti ini, dia putuskan, biar harus mati pun akan dia hadapi.

Dia manfaatkan peluang itu dengan sebaik-baiknya, caranya beradu nyawa lebih nekad ketimbang siapa pun.

Yang dia gunakan bukan aliran ilmu silat yang mumi, belum pernah orang melihat dia berkelahi dengan memakai gerak jurus ilmu sIlat murni.

Arah serangan dari Ni Pat segera melenceng dari sesaran.

Ketika seseorang terhantam pinggangnya ketika sedang berganti napas, bisa dipastikan penghimpunan tenaganya akan melenceng, otomatis serangan yang dilancarkan akan melenceng juga.

Padahal jurus serangan Thian Tee Sip Si yang digunakan nerupakan gerak jurus adu nyawa yang murni, namun dia gagal mencapai target itu.

Tak ampun dia pun roboh binasa di tanah, sementara Nyoo mg masih berdiri segar bugar. Seng Kong tak sempat menyaksikan kematian Ni Pat.

Ketika mengayunkan ruyungnya dengan sepenuh tenaga tadi, dia sama sekali tidak menyerang ke arah orang yang diduga Ni pat sebagai Nyoo Cing.

Menggunakan kegelapan malam yang masih menyelimuti jagat ia segera melarikan diri, disaat Ni Pat melancarkan jurus "Thian Tee Sip Si", dia sudah kabur meninggalkan arena pertempuran.

Tak seorang pun mengejar dia, perhatian semua orang sedang tertuju pada pertarungan mati hidup antara Ni Pat melawan Nyoo Cing.

Ketika Ni Pat roboh terjungkal, Nyoo Cing ikut roboh terjungkal, bedanya Ni Pat sudah tak pernah bangkit berdiri lagi sementara Nyoo Cing masih sanggup bangkit berdiri lagi.

Biarpun punggungnya termakan sebuah gebukan tongkat Iawan, namun dia masih dapat bangkit, setelah berdiri dia hanya mengucapkan sepatah kata"Ayoh kita nikmati arak yang tersedia!'

0-0-0

Mereka tidak minum arak.

Guci berisi arak itu sekalian dibawa pulang oleh lo-The dan Siau Hau Ji yang mengawal para tawanan pulang ke kantor pengadilan, namun mercka tak pemah sampai di Kantor.

Lo-The maupun Siau Hau Ji tak pernah sampai di rumah masing-masing, bersama Sun Ji Hay dan si Kerbau Liar, mereka hilang lenyap tak berbekas, tak ada yang tahu kabar berita mereka, juga tak ada yang berhasil mengetahui jejak mereka.

Dengan disertai semua saudaranya, Nyoo Cing telah menelusuri hampir setiap sudut kota keresidenan itu, namun jejak mereka belum juga ditemukan. Anggota keluarga Sun Ji Hay dengan membawa serta kakak, istri dan ke empat orang putra putrinya berteriak dan menangis di depan kantor pengadilan menuntut ditemukan kembali Sun Ji Hay, membuat suasana disitu jadi amat ramai.

Mereka menuntut untuk melihat Sun Ji Hay kalau masih hidup dan menuntut jenasahnya bila sudah mati. Bupati keresidenan hanya bisa menuntut Nyoo Cing untuk memberikan pertanggungan jawabnya.

Bini lo-The yang baru dinikahi serta ibu Siau Hau Ji yang sudah berusia 76 tahun hampir semaput setelah mendengar berita duka itu.

Ke mana mereka telah pergi? Mengapa jejak dan kabar berita mereka hilang Ienyap tak berbekas?

0-0-0

Senja telah menjeIang.

Nyoo Cing sangat lelah, sangat gelisah, lapar bercampur dahaga, dia amat sedih, perasaannya tersiksa setengah mati.

Hampir seharian penuh dia tidak makan tidak minum, dia pun belum sempat pejamkan mata, setiap orang telah memaksanya untuk pulang beristirahat bahkan Bupati pun sampai berkata."Apa gunanya kau gelisah? Gelisah juga tak ada gunanya, bila ingin selidiki kasus ini hIngga tuntas, kau tak boleh sampai roboh, jika kau roboh, siapa yang akan bertanggung jawab selesaikan tugas ini?”

Maka dari itu, Nyoo, Cing terpaksa pulang ke rumah.

Biarpun dia masih membujang, masih hidup seorang diri. namun dia menolak untuk tinggal di asrama pengadilan, karena sejak awal kedatangannya ke tempat itu, dia sudah menyewa sebuah rumah kecil dengan dua bilik kamar di luar kota.

Pemilik rumah dari marga Yu, sudah tua dan tak berputra, dia hanya memiliki seorang putri tunggal Lian Koh, mereka berdiam di halaman muka rumah yang disewa Nyoo Cing itu, tak heran kalau sikap kakek Yu terhadapnya sangat akrab bagai terhadap anak kandung sendiri.

Tiap pagi Lian Koh pasti akan datang mengirim sarapan untuknya, menu sarapan terdiri dan empat butir telur dan semangkuk mie kuah, sebelum pergi dia akan membawa pakaian kotornya untuk dicuci. Bila pakaiannya ada yang berlubang atau hilang kancingnya, ketika kembali, pakaian itu tentu sudah ditambal atau terpasang kembali kancingnya.

Lian Koh tidak cantik tapi berbadan sehat, lemah lembut dan jujur. Bila sehari saja Nyoo Cing tidak pulang, dia akan panik dan kebingungan sendiri, seringkali nona itu akan Iari ke tepi seIokan dan diam diam mengucurkan air mata.

Seandainya Nyoo Cing tidak secara kebetulan bersua lagi dengan Lu Siok Bun, nona yang telah dicintainya semenjak masa kanak-kanak, mungkin saat ini dia sudah menjadi menantunya keluarga Yu. Dan dia pun tak perlu mengalami banyak peristiwa mengerikan, menakutkan dan mengharukan dimasa mendatang.

Nasib memang selalu mempermainkan manusia, takdir sukar diramal, perjalanan hidup manusia sukar diduga

Seringkali peristiwa besar yang akan mengubah jalan kehidupan seseorang terjadi hanya dalam waktu singkat dan terjadi secara kebetulan.

Dalam perjalanan pulang menuju ke rumah sewanya, Nyoo Cing selalu lewat didepan sebuah warung, di warung itu dia sering membeli sayur asin dan arak, sayur asin buatan warung itu sangat lezat dan amat cocok dengan seIeranya. Pemilik warung, si kakek Thio adalah sahabat Nyoo Cing, kadang kalau sedang menganggur dia sering menemaninya minum dua cawan arak.

Dia merasa lelah sekali tapi masih ingin mampir dulu ke warung itu untuk makan mie, kemudian pesan tahu dan usus babi goreng sebagai teman minum arak.

Matahari senja memancarkan cahayanya dari balik gunung, membiaskan sebuah pemandangan alam yang sangat indah, seorang buta penjual ramalan berbaju abu abu dengan memukuI sebuah genta kecil berjalan menelusuri jalanan kecil itu, ia mucul dari balik hutan di ujung jalan dengan panduan sebuah tongkat bambu. "Trang, traang" bunyi gembrengan bertaIu talu mengiringi hembusan angin senja yang silir semilir, biarpun tidak memekikkan telinga, namun sangat merusak suasana di senja itu.

Nyoo Cing menyingkir ke samping jaIan, memberi jalan lewat kepada si buta itu untuk lewat duluan.

Paras muka si buta itu kaku tanpa perasaan, susah senang yang dialami manusia dalam perjalanan hidupnya dianggap sebagai impian indah baginya.

Gembrengan tembaga ditabuh susul menyusul, sekaIi cepat sekali lambat, sementara si buta menelusuri jalan kecil perbukitan itu dengan ayunan kaki yang lambat, se1angkah demi selangkah berjalan menuju ke hadapan Nyoo Cing.

Mendadak Nyoo Cing merasa hatinya berdetak keras, dia seperti tertusuk oleh sebuah jarum tajam yang tak terlihat.

Dia termasuk seseorang yang peka dan cekatan dalam bereaksi. namun hanya orang yang sedang terancam jiwanya baru akan menunjukkan perasaan seperti itu.

Orang buta itu sama sekali tidak menaruh niat jahat terhadapnya, bahkan waktu itu sudah berjalan Iewat dari hadapannya.

Aneh, mengapa bisa timbul perasaan semacam itu di dalam hatinya?

Tiba tiba Nyoo Cing teringat, dulu, ada seseorang yang sangat akrab dengan dirinya pernah berkata demikian: Seorang jago lihay dari dunia persilatan yang sudah sering membunuh orang, biasanya dari tubuh mereka akan muncul hawa pembunuhan yang tak terlihat dengan kasat mata, perasaan tersebut mirip dengan hawa pembunuhan yang terpancar keluar dari sebilah pedang mestika yang sering dipakai untuk membunuh orang.

Jangan jangan orang buta itu memiliki ilmu silat yang tinggi dan dia adalah seorang jagoan tangguh yang sedang menyembunyikan identitasnya?

Sementara itu si buta telah pergi jauh, Nyoo Cing pun tidak memikirkan lagi peristiwa itu.

Dia sudah sangat lelah, dia tak ingin berpikir apa apa lagi, yang dipikirkan sekarang minum berapa cawan arak lalu tidur yang nyenyak.

Setelah melewati hutan, warung milik kakek Thio berdiri dihadapannya.

Sewaktu Nyoo Cing tiba disitu, dalam warung sudah ada seorang tamu sedang bersantap, yang disantap adalah bakmi kuah seperti yang dimakan Nyoo Cing diwaktu biasa, dia pun memesan tahu dan usus babi goreng sebagai teman minum arak.

Orang itu mengenalcan topi lebar yang terbuat dari anyaman bambu, topi itu dikenakan sangat rendah, bukan hanya alis mata serta sepasang matanya yang tertutup, bahkan selembar wajahnya pun ikut tersembunyi dibalik anyaman bambu itu, yang dapat dilihat Nyoo Cing hanya sepasang tangannya.

Telapak tangan itu sangat lebar, jari tangamiya panjang-panjang lagi kurus, kuku jarinya dipotong pendek, tangan itupun kelihatan bersih sekali.

Nyoo Cing tahu, dengan tangan semacam ini benda apapan yang dipegangnya pasti sangat mantap. dan bukan pekerjaan yang mudah untuk merampas sesuatu benda yang telah berada dalam genggamannya.

Dia minum arak tapi sedikit yang diminum, dia makan tapi sedikit yang dimakan bahkan caranya bersantap sangat lamban, setiap sumpitan yang dimasukkan ke dalam mulutnya selalu dilakukan amat berhati hati, seperti dia takut ada lalat yang ikut terjepit dan tertelan ke perut.

Jangan dilihat warung makan milik kakek Thio kecil lagi sederhana, namun kebersihannya patut diacungi jempol, mustahil ada lalat yang tercampur dalam hidangan yang disajikan.

Hanya keranjang berisi sayur asin yang diletakkan ditepi jalan dan mungkin saja kemasukan debu, tapi yang lain boleh dibilang terjamin kebersihannya. Tapi orang itu seperti amat berhati hati, dengan telitinya dia periksa setiap hidangan yang disuap ke dalam mulut, dia seperti takut kecampuran debu dalam hidangan itu hingga merasa perlu untuk membuang setiap butir debu yang menempel di hidangannya. Orang itu mengenakan jubah berwama biru yang sudah dicuci hingga luntur wamanya, jelas pakaian itu dicuci bersih sekali dan berulang kali. Pada punggungnya tersoren sebilah pedang dengan gagang terbuat dari kulit kerbau, pedangnya tujuh delapan inci lebih panjang ketimbang pedang yang biasa digunakan orang, pada gagang pedang tergantung pita baru berwarna biru, gagang pedang maupun sarung pedang yang terbuat dari tembaga kuning juga digosok hingga berkilat.

Jelas orang ini adalah seorang manusia yang amat memperhatikan soal kebersihan, hingga setitik debu saja sudah membuatnya tidak tahan.

Apa mungkin dia bisa melihat dengan jelas setiap debu yang menempel di tubuhnya?

Sekali lagi Nyoo Cing merasa jantungnya berdetak keras, hatinya sudah berdebar semenjak melihat sepasang tangan milik orang itu.

Waktu itu, manusia berbaju biru itu sedang asyik menikmati bakmi dan sayur asin yang terhidang di hadapannya, Dia tidak berpaling, juga tidak melirik Nyoo Cing walau sekejap pun, dia seperti tidak menaruh niat jahat terhadapnya

Aneh, mengapa secara tiba tiba Nyoo Cing merasakan firasat semacam itu?

Mungkinkah orang ini seperti juga si buta penjual ramalan itu, seorang jago pedang yang memiliki kepandaian tinggi?

Diwaktu biasa., tidak mudah menjumpai jagoan Bu lim berilmu tinggi di tempat tersebut, mengapa hari ini, pada waktu yang hampir bersamaan telah muncul berapa orang jago lihay di kota kecil tanpa nama ini?

Apakah mereka telah berjanji untuk datang bersama ke situ? Tapi, mau apa mereka datang ke kota kecil tanpa nama ini?

Nyoo Cing memesan semangkuk mie kuah, dia pun memesan berapa macam hidangan teman minum arak.

Dia sudah kelewat lelah, yang dipikirkan sekarang hanya cepat selesai makan lalu pulang dan tidur yang nyenyak.

Sudah terlalu banyak masalah yang dihadapi, dia tak ingin mencampuri urusan orang lain, apalagi urusan semacam ini, siapa pun pasti segan turut campur karena salah salah malah mendatangkan bencana kematian bagi diri sendiri.

Waktu itu, Ielaki bertopi anyaman bambu itu sudah bangkit berdiri, ia siap membayar rekening dan pergi dari situ.

Begitu bangkit berdiri, Nyoo Cing segera menjumpai balwa perawakan tubuh orang itu persis seperti pedang yang digembolnya, jauh lebih tinggi dari kebanyakan orang, tubuhnya ramping tapi kencang, sama sekali tak nampak sisa daging yang menonjol.

Biarpun gerak geriknya sangat lamban namun kegesitannya tak terlukis dengan kata, hampir setiap gerakan yang dilakukan sangat tepat seolah olah sama sekali tidak memakai kelebihan tenaga, bahkan sampai caranya mengambil uang untuk membayar rekening pun tidak nampak dengan jelas.

Dia seperti selalu menyisakan tenaganyn agar bisa digunekan untuk pekerjaan lain kapan saja, dia seperti enggan membuang tenaga percuma.

Bakmi telah dihidangkan, sambil menundukkan kepala Nyoo Cing mulai bersantap. Sementara itu lelaki bertopi anyaman bambu itu sudah keluar dari pintu, Nyoo Cing tak tahan untuk mendongakkan kepala dan memandangnya sekejap. Kebetulan pada saat yang bersamaan orang itu juga berpaling dan memandang sekejap ke arahnya.

Sekali lagi Nyoo Cing merasa jantungnya berdetak keras, hampir saja sumpit yang berada dalam genggamannya terjatuh dari pegangan.

Sorot mata orang itu luar biasa tajamnya, jauh lebih tajam dari pedang yang tercabut keluar dari sarung, pedang tajam yang telah banyak membunuh orang! Selama hidup belum pernah Nyoo Cing menjumpai sorot mata setajam itu.

Dia hanya melirik Nyoo Cing sekejap, tapi pemudaitu seolah olah merasa ada hawa pedang yang menggidikkan hati menerpa tuhuhnya, menyerang langsung ke tenggorokan dan jidatnya

0-0-0

Senja semakin kelam.

Lelaki bertopi anyaman bambu itu sudah keluar dari pintu warung dan lenyap di balik keremangan senja.

Nyoo Cing berulang kali mengingatkan diri sendiri agar ridak memikirkan orang itu lagi, terlebih jangan mencampuri urusan mereka, yang penting baginya sekarang adalah cepat selesaikan makannya dan pulang ke rumah tidur yang nyenyak.

Kakek Thio telah menarik sebuah bangku dan duduk persis dihadapannya.

"Komandan Nyoo" tegurnya, "kau adalah orang yang berpandangan tajam, apakah kau juga merasakan kalau orang itu membawa hawa sesat?"

"Hawa sesat apa?"

"Sewaktu memasak bakmi diair panas, tentu ada berapa bakmi putus karena air, ketika diaduk juga pasti ada berapa bakmi yang putus," ujar kakek Thio.

"Tapi orang itu hanya makan bakmi yang utuh dan meninggalkan semua bakmi yang putus dalam mangkuknya?" sambung Nyoo Cing.

Kakek Thio segera menghela napas penjang;

"Yaa, aku tak habis mengerti, darimana dia bisa melihat dengan jelas dan memilahnya dengan tepat?"

Nyoo Cing segera terbayang kembali cara orang itu menyumpit sayur.

Benarkah ketajaman mata orang itu dapat melihat persoalan yang tak dapat dilihat orang lain?

Kakek Thio bantu Nyoo Cing penuhi cawannya dengan arak, tiba-tiba dia berkata lagi dengan kata kata yang mengejutkan hati, "Aku lihat dia pasti datang untuk membunuh orang, aku berani bertaruh dugaaanku pasti benar"

Dia bicara dengan penuh keyakinan, sepertinya apa yang dikatakanakan terjadi. "Darimana kau bisa yakin kalau kedatangannya untuk membunuh orang"

"Aku sendiripun tak bisa menjelaskan, tapi aku bisa rnerasakan. Sewaktu mendekatinya aku merasa sekujur tubuhku jadi dingin, bulu kudukku pada bangun berdiri, hatiku betul betul bergidik.”

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya, "Dulu aku pun seorang serdadu, aku baru akan merasakan perasaan semacam itu tatkaia berada di tengah medan pertempuran yang sengit, karena waktu itu semua orang harus maju ke medan laga dan slap membunuh orang, karenanya hawa pembunuhan baru tercipta"

Nyoo Cing tidak meneruskan makannya, arak juga tidak diminumnya, dia tidak berkata apa pun, mendadak dia bangkit berdiri dan menerjang keluar dari warung makan itu.

Dia yang bertanggung jawab dengan keamanan di wilayah tersebut, dia tak mengijinkan siapa pun membunuh orang di wilayah kekuasaannya, perduli siapa pun orangnya. Walaupun dia tahu kemungkinan besar orang itu dapat membunuhnya dalam sekejap mata, tapi dia tak bisa berpeluk tangan belaka.

Kendatipun saat itu dia sangat lelah, walaupun saking lelahnya dia sudah tak kuat berjalan, biar mesti rnerangkak pun dia harus merangkak ke situ.

0-0-0