Kait Perpisahan Bab 1 : Bangsawan pembunuh berwajah tampan

 
Bab 1 : Bangsawan pembunuh berwajah tampan

"Aku tahu kait adalah sejenis senjata, berada pada urutan ke-7 dalam deretan 18 jenis senjata, bagaimana dengan kait perpisahan?"

"Kait perpisahan juga sejenis senjata, juga sebuah Kaitan"

"Kalau memang sebuah senjata kait, mengapa dinamakan kait perpisahan?"

"Sebab kaitan ini bisa menciptakan sebuah perpisahan bila berhasil mengait mana pun, bila ia berhasil mengait tanganmu, maka tanganmu akan berpisah dengan pangkal lenganmu, jika berhasil mengait kakimu maka kaki mu akan mengucapkan selamat berpisah dengan pahamu"

"Bila leherku yang terkait, benarti aku akan berpisah dengan dunia ini?" "Benar!"

"Mengapa kau harus menggunakan senjata begitu kejam dan begitu sadis?" "Sebab aku tak ingin dipaksa orang untuk berpisah dengan orang yang kucintai" "Aku mengerti maksudmu"

"Kau benar benar mengerti?"

"Kau menggunakan kait perpisahan karena kau ingin selalu berkumpul?" "Betul!”

Perpisahan.

Kesedihan yang harus diterima orang yang hampir terbetot sukmanya. Jika tidak mencintai kuda jempolan bukanlah seorang enghiong.

0-0-0

“Tiada benda yang lebih indah dan nikmat daripada arak wangi yang berlimpah dan kuda jempolan sebanyak ribuan ekor, jika anda berminat, kami akan sambut kedatangan anda dengan gembira.”

Itulah isi undangan yang disebar congkoan nomor satu dari petemakan kuda Lok Jit di wilayah Kwan Tong, Jiu Heng Kian mewakili majikannya Kim Toa tauke.

Tujuan dari undangan itu adalah untuk menyelenggarakan pesta besar yang pertama kali di selenggarakan di petemakan kuda Lok Jit untuk mencoba menunggang kuda serta menjual kuda, tempat penyelenggaraan adalah Pesanggrahan Pit Su San Ceng milik “Hoa Kay Hok Kui" (Bunga mekar banyak rejeki dan terhormat) Hoa Suya, seorang saudagar kaya raya asal kota Lok Yang. Waktu penyelenggaraan bulan tiga tanggal dan jam bulan purnama.

Undangan semacam ini hanya disebar sebanyak belasan lembar, sasaran yang pantas diundang Jiu congkoan memang tidak terlalu banyak.

Tentu saja orang yang pantas mendapat undangan adalah para tokoh dunia persilatan serta jago silat kenamaan yang berilmu tinggi. Tidak mencintai kuda jempolan bukanlah seorang enghiong. Yang hadir hampir semuanya adalah para enghiong, kawanan enghiong yang pemah menunggang kuda jempolan hasil temak Petemakan kuda Lok Jit. Dimana ada matahari terbenam, disitu pasti ada kuda jempotan hasil temak Petemakan Lok Jit yang sedang berlarian. (Lok Jit = matahari terbenam)

Kata motto yang digunakan majikan petemakan kuda ini Kim Toa tauke memang merupakan kata kata yang nyata.

Bulan tiga, kota Lok Yang, musim semi.

Rembulan pada malam tanggal tujuh betas masih kelihatan bulat, malam telah semakin larut, angin yang berhembus sepoi membawa bau harum bunga yang semerbak.

Suara ringkikan kuda jempolan yang sedang berlarian di bukit sebelah belakang, lamat lamat masih kedengaran, tapi suara manusia telah hening, tak kedengaran lagi orang berbicara.

Sinar rembulan memancar masuk melalui luar jendela, meninggalkan sebuah bayangan hitam yang panjang di lantai ketika menyoroti tubuh Jiu Heng Kian yang tinggi kekar.

Orang ini mempunyai mata yang besar dengan alis mata yang sangat tebal, jidatnya tinggi, hidungnya mancung seperti hidung elang dan wajahnya penuh bercambang, dibawah sorot sinar rembulan, Dia nampak begitu seram dan mengerikan.

Dia adalah seorang lelaki sejati, seorang hohan kelas satu di luar perbatasan, tapi saat ini dia nampak sangat gelisah dan tak tenang.

Baru pertama kali ini dia memikul tanggung jawab berat, dia berjanji akan mensukseskan tugas dan tanggung jawab ini sebaik baiknya.

Sejak tanggal lima belas, selama tiga hari ini meski hasil yang diperoleh terhitung sangat memuaskan, bahkan sekelompok kuda yang berada di kandang terbesar dalam petemakan kuda itu sudah dibeli dengan harga tinggi oleh Ong Cong piautau dari perusahaan ekspedisi Tionggoan piaukiok, namun dua pembeli utama yang selalu dinantikan selama ini, hingga kini belum nampak juga batang hidungnya.

Semestinya, tidak seharusnya dia mengharapkan kedatangan ke dua orang itu.

Ho Sou Tayhiap (pendelcar utara sungai) Ban Kun Bu yang nama besarnya sudah lama menggetarkan sungai telaga sudah tak pemah meninggalkan perkampungannya sejak dia cuci tangan mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan dua tahun berselang.

Ti Cing Ling, bangsawan kelas satu yang kaya raya dan selama ini memandang nama serta harta bagai kotoran kerbau juga tak pemah terlihat lagi batang hidungnya selama berapa tahun terakhir, selama ini orang tersebut selalu berkelana dalam dunia persilatan, bisa jadi dia belum pernah menerima surat undangan itu.

Dia berharap mereka akan datang, sebab kuda terhaik diantara sekumpulan kuda pilihan yang dia bawa jauh-jauh dari luar perbatasan hanya pantas ditunggangi mereka yang besar benar tahu soal kualitas barang.

Hanya orang yang tahu soal kwalitas barang berani menawar dengan harga tinggi barang yang dibelinya.

Dia tak rela bila kuda sebagus itu dibayar bukan pada harga yang sepantasnya, terlebih tak ingin membawa balik rombongan kuda itu ke luar perbatasan.

Sekarang sudah tengah malam hari ke dua sudah hampir lewat, ketika dia mulai merasa kecewa itulah tiba tiba dari luar perkampungan kedengaran suara manusia, Ho Sou Tayhiap yang sudah tiga tahun lamanya tak pemah meninggalkan tempat tinggalnya, kini sudah muncul di perkampungan Botan Sanceng

0-0-0

Ban Kun Bu mulai terjun ke dalam dunia persilatan pada usia 14 tahun, pada umur 16 tahun dia mulai membunuh manusia, umur 19 tahun dengan mengandalkan sebilah golok besar berhasil memenggal batok kepala Hong Hau, seorang gembong perampok terkenal dari bukit Tay Hang San, pada usia 23 tahun dia telah bertukar senjata dari sebuah golok besar menjadi sebilah golok emas bersisik ikan dan nama besarnya menggetarkan sungai telaga, belum genap 30 tahun dia sudah dihormati dan disegani segenap anggota Bu Lim sebagai pendekar Ho Sou Tayhiap.

Dia dilahirkan dalam naungan shio "tikus", tahun ini belum genap 46 tahun, usia yang jauh lebih muda dari apa yang dibayangkan kebanyakan orang selama ini.

Kali ini dia tidak membawa serta golok andalannya. Karena dia sudah muak dengan segala urusan dunia persilatan, ketika cuci tangan menyegel goloknya dihadapan para enghiong hohan dari seluruh dunia persilatan, Golok emas bersisik ikan yang menyertainya selama banyak tahun telah dibungkusnya dengan kain kuning dan diletakkan diatas rak kayu cendana persis dihadapan area Kwan Kong yang disembahnya.

Sekalipun begitu, kedatangannya kali ini disertai tiga bilah golok yang lain.

Ke tiga bilah golok itu adalah kakak seperguruannya "Ban- Seng To" (Golok Selaksa Kemenangan) Kho Tong, murid kesayangannya "Kuay To" (si Golok Kilat) Pui Seng serta teman sehidup sematinya "Ji Gi To" (Golok Kebanggaan) Ko Hong.

Seorang jagoan semacam dia, bila pergi tanpa membawa golok sama ibaratnya dia pergi tanpa mengenakan pakaian. tak mungkin dia mau sembarangan keluar dari rumah tinggalnya

Tapi dia yakin dan percaya, ke tiga orang itu adalah tiga bilah golok yang pantas diandalkan.

Entah siapapun orangnya, bila disisi mereka sudah didampingi tiga bilah golok macam ini, maka dia bisa menghadapi setiap ketegangan dengan perasaan tanang.

Bulan tiga di kota Lok Yang, aneka bunga mekar dengan subumya disetiap sudut taman.

Bukit kecil di belakang pesanggrahan Botan Sanceng telah dipenuhi oink bunga Botan yang sedang mekar, sementara dibawah bukit, didalam lingkaran arena yang dibatasi dengan kayu, dipenuhi berpuluh kuda jempolan.

Kuda tak mengerti bagaimana menikmati keindahan bunga Botan, sebaliknya bunga Botan juga tak mengerti bagaimana menikmati kebagusan seekor kuda, tapi kedua duanya pantas dinikmati oleh manusia yang sedang menikmatinya.

Bunga Botan yang indah dan cantik persis seperti seorang gadis cantik dari keluarga kenamaan; sementara kuda yang kekar dan lincah persis seperti seorang enghiong hohan dari dunia persilatan.

Saat ini suasana dibawah bukit sangat ramai, ada yang sedang menikmati kecantikan bunga Botan, ada pula yang sedang mengagumi kegagahan dan kelincahan kuda kuda jempolan, tapi diantara sekian banyak orang yang sedang menikmati suasana, hanya satu orang yang benar benar menikmati.

Ban Kun-bu seperti sama sekali tidak tertarik dengan suasana disekeliling tempat itu, dia setengah memejamkan matanya sambil bersandar diatas sebuah kursi empuk yang terbuat dari anyaman rotan.

Dia merasa sangat kelelahan.

Yaa, siapa pun pasti akan merasa kelelahan jika dalam semalaman harus tiga kali bertukar kuda dan menempuh perjalanan sejauh sembilan ratus tiga puluh tiga li.

Kakak seperguruannya, murid kesayangannya dan teman sehidup sematinya masih berdiri disampingnya tanpa bergerak setengah langkah pun, kuda demi kuda telah dibeli orang dengan harga tinggi dari arena penampungan ditengah lapangan, tapi dia hanya pejamkan matanya terus menerus, seakan akan tak ada hal yang menarik minatnya selama ini.

Hingga pada akhimya ketika ada seekor kuda yang sangat istimewa dituntun keluar dari arena penampungan, dia baru membuka matanya mengawasi kuda yang sedang dituntun keluar oleh Jiu congkoan itu, seekor kuda berwama hitam pekat dengan wama putih persis pada ujung hidungnya.

Suara pujian dan pekikan kagum segera bergema memenuhi angkasa, siapa pun yang ada disitu dapat melihat kalau kuda tersebut adalah seeker kuda jempolan yang sangat luar biasa.

Dengan wajah berseri penuh kebanggaan Jiu Heng-kian menepuk nepuk kepala kudanya, kemudian berkata,"Kuda ini bemama Sin-Ciam (Pariah Sakti), Ban Tayhiap, kau adalah seseorang yang sangat ahli dalam hal kuda, tentunya kau tahu bukan kalau kuda ini adalah kuda mestika yang luar biasa hebatnya"

Ban Kun-bu gelengkan kepalanya berulang kali dengan malas, sahutnya"Aku bukan seorang ahli, kuda itu pun bukan kuda yang bagus, cukup mendengar namanya saja aku sudah tahu kalau kuda itu tidak bagus"

"Kenapa?" tanya Jiu Heng-kian keheranan.

"Panah itu tak bisa mencapai jarak yang jauh, lagipula cepat duluan lambat dibelakang, kekuatan akhimya pasti tidak bagus" Kemudian setelah berhenti sejenak, Ban Kun-bu mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, ujarnya lagi, "Sewaktu masih muda dulu, aku punya seorang sahabat, tingkah lakunya tak beda jauh dengan Jiu congkoan sekarang, suatu kali dia mengundangku makan seekor ayam, tapi ayam yang tak berpaha"

Walaupun dia sedang bercerita tentang seorang sahabatnya sewaktu masih muda serta seekor ayam yang tak berpaha namum orang lain tidak mengerti apa maksud dari ceritanya itu.

Jiu Heng Kian juga tidak mengerti, tak tahan tanyanya:"Kenapa ayamnya tidak berpaha?" "Karena sepasang pahanya sudah keburu dipotong oleh tuan rumah untuk dimakan sendiri"

jawab Ban Kun Bu dengan suara hambar, "keadaan seperti ini tak ada bedanya dengan Jiu congkoan sekarang, kuda yang terbagus selalu disembunyikan untuk dipakai sendiri"

"Ban Tayhiap" bantah Jiu Heng Kian, "dengan ketajaman mata anda, mana berani aku berbuat hal semacam itu dihadapan Tayhiap?"

Tiba tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Ban Kun Bu, katanya:"Kalau tidak, kenapa Jiu congkoan sembunyikan kuda tersebut disana?"

Sinar matanya dialihkan ke arena penampungan kuda yang terIetak dipaling belakang, dalam arena itu terdapat belasan ekor kuda kurus sisa kuda kuda yang sudah dipilih orang, diantara kuda kurus itu terlihat seekor kuda berwama kuning yang tubuhnya kurus kering bagai seekor busur panah yang melengkung, kuda itu diikat sendirian disudut arena, gerak geriknya sangat loyo seperti tak bersemangat, lagipula selalu menjaga jarak dengan kumpulan kuda lainnya, seakan akan kuda itu enggan berkumpul dengan rekannya.

"Maksud Ban Tayhiap kuda kurus itu?" tanya Jiu Heng Kian sambil mengerotkan dahinya. "Betul, kuda itu yang kumaksud!"

Jiu Heng Kian tertawa getir.

"Ban tayhiap, kuda ini adalah kuda setan arak, masa kau tertarik dengan kuda semacam itu?" "Satan arak? Jadi kuda itu baru bersemangat bila sudah diberi sedikit arak?"

"Tepat sekali!" Jiu Heng Klan menghela napas panjang, "bila didalam ransum kuda tidak dicampuri dengan arak, biar lapar seharian pun dia tak mau makan"

"Apa nama kuda itu?" "Arak Tua!"

Tiba tiba Ban Kun Bu bangkit berdiri dan menghampiri kuda itu dengan langkah lebar, kemudian setelah mengamati sejenak binatang itu dengan sorot mata tajam, mendadak dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Arak Tua, bagus! Bagus sekali" serunya sambil tertawa, "nah kalau arak tua pasti punya tenaga lagipula makin ke belakang semakin bertambah kuat, aku berani bertaruh kalau si panah sakti harus beradu dengannya lari sejauh lima ratus li, mungkin pada dua ratus Ii pertama si panah sakti akan memimpin duluan, tapi setelah lewat jarak itu, dia pasti dapat meIampaui si panah sakti pada dua ratus li terakhir"

Kemudian seraya memandang wajah Jiu Heng Kian, tambahnya:"Kau berani bertaruh dengan aku?"

Jiu Heng-Idan termenung berapa saat, tiba tiba dia tertawa keras, sambil tertawa dia acungkan ibu jarinya tanda memuji.

"Ketajaman mata Ban Tayhiap sungguh mengagumkan" pujinya, "ternyata semua urusan tak bisa mengeIabuhi pandangan mata Ban Tayhiap"

Kembali terdengar suara pujian bergema dari balik kerumunan orang banyak, bukan saja mereka mengagumi ketajaman mata Ban Kun Bu, bahkan pandangan mereka terhadap kuda kurus yang sama sekali tak mencolok itupun mulai berubah, bahkan ada orang yang berebut membuka penawaran lebih dulu, walaupun tahu bahwa mereka tak akan bisa menangkan persaingan itu dengan Ho Sou Tayhiap, namun mereka berpendapat sekalipun harus kalah, mereka ingin kalah secara terhormat.

Penawaran tertinggi yang diajukan adalah "sembilan ribu lima ratus tahil" satu angka penawaran yang amat besar.

Ban Kun Bu sama sekali tidak menanggapi teriakan-teriakan orang lain, pelan pelan dia acungkan tiga jari tangannya sambil membuat satu gerakan tangan tertentu. Jiu congkoan dengan suara lantang segera mengumumkan, "Ban tayhiap mengajukan penawaran sebesar tiga laksa tahil, apakah ada orang yang berani mengajukan penawaran lebih tinggi?"

Temyata tidak ada. Setiap orang mengunci mulutnya rapat rapat, tak seorangpun berani bersuara lagi.

Baru saja Ban Kun Bu dengan wajah berseri siap menghampiri arena penampungan untuk menuntun kuda kurus itu, mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara nyaring:"Aku berani menawar tiga laksa tiga tahil"

Paras muka Ban Kun Bu segera berubah hebat, sambil menarik wajahnya dia bergumam, "Sejak awal sudah kuduga, bocah ingusan ini pasti akan datang mengacau!"

Sementara itu Jiu Heng Kian dengan wajah berseri telah berseru:"Sungguh tak disangka Ti Siau Hou muncul juga tepat pada waktunya!"

Kerumunan orang banyak segera menyebar ke kiri kanan membuka jalan, siapa pun ingin melihat macam apakah wajah Bangsawan nomor wahid, pemuda paling romantis dalam dunia persilatan saat ini.

0-0-0

Dia adalah seorang pemuda tampan yang mengenakan baju berwama putih salju, pakaian itu tampak bersih sekali tanpa ada debu yang menempel diatasnya, dia mempunyai wajah putih bersih yang kelihatan begitu dingin dan hambar, sebuah senyuman seolah olah selalu menghiasi ujung bibimya; Disamping pemuda ini selalu terlihat seorang perempuan cantik jelita yang berjalan mengiringinya, bahkan setiap kali menampakkan diri di muka umum, gadis yang mengiringinya selalu berganti orang.

Pemuda inilah Bangsawan yang menganggap harta kekayaan sebagai sampah, memandang kuda jempolan dan wanita cantik bagai nyawa sendiri, Ti Cing Ling.

Perduli ke manapun dia pergi, dia selalu paling menarik perhatian orang banyak, dia pula yang selalu menimbulkan rasa kagum orang terhadap dirinya.

Tidak terkecuali pada penampilannya kali ini.

Gadis cantik yang mendampinginya hari ini adalah seorang gadis cantik berbaju merah segar, gadis itu mempunyai kulit badan yang putih bersih, bibir mungil bernarna merah seperti bunga tho, mata yang bening dan sangat menawan hati serta pipi yang semu merah seperti orang yang sedang mabuk arak.

Tak seorang pun yang tahu dari mana Bangsawan Ti berhasil mendapatkan seorang gadis cantik seperti ini.

Melihat kehadirannya, Ban Kun Bu hanya bisa gelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang:"Mau apa kau datang kemari? Kenapa kau harus datang kemari?"

Bangsawan Ti memandangnya sekejap sambil tertawa hambar, dengan perkataan yang paling singkat dia beritahu kepada Ban Kun Bu:"Aku datang untuk mencelakaimu!”

"Mencelakai aku? Dengan cara apa kau hendak mencelakaiku?"

"Berapa tinggi pun penawaran yang kau ajukan, aku selalu akan menawar tiga tahil lebih tinggi"

Ban Kun Bu memandang wajah lawannya dengan sorot mars berkilat, entah berapa lama dia melototi pemuda itu, kemudian sambil tertawa tergelak dia berkata:"Bagus, bagus sekali!"

Semua orang beranggapan jago tangguh dari sebelah utara sungai besar ini pasti akan mengajukan satu penawaran yang lebih tinggi lagi untuk menggertak lawannya.

Tak nyana begitu berhenti tertawa, mendadak Ban Kun Bu berseru:"Aku tidak jadi membeli kuda itu, kau boleh menjualnya kepada dia" Jiu Heng Kian melengak, untuk sesaat dia nampak tertegun dan tak tahu apa yang harus diperbuat.

Belum sempat Ban Kun Bu melangkah pergi dari situ, tiba tiba terdengar Ti Cing Ling berteriak lagi:"Tunggu sebentar!"

"Apa yang mesti kutunggu lagi?" sahut Ban Kun Bu sambil berpaling memandangnya sekejap.

Ti Cing Ling tidak menjawab pertanyaan ini, dia bertanya kepada Jiu Heng Kian:"Apakah masih ada orang lain yang akan mengajukan penawaran lebih tinggi?"

"Rasanya sudah tak ada lagi"

"Berarti mulai saat ini kuda tersebut sudal menjadi milikku?" "Benar!"

"Kalau begitu kuhadiahkan kuda ini untukmu" kata Ti Cing Ling kemudian sambil berpaling ke arah Ban Kun Bu.

Ban Kun Bu tertegun.

"Apa kau bilang?" serunya tertahan, "kau benar-benar akan menghadiahkan kuda ini kepadaku?

Kenapa kau berbuat begitu?'

Dia tidak paham, orang lain tentu saja lebih tak mengerti.

Dengan suara hambar Ti Cing Ling menjawab:"Tidak ada maksud lain atas pemberianku ini, sudah sepantasnya kalau seekor kuda jempolan dihadiahkan untuk seorang jagoan sejati, kenapa harus ditanya lagi mengapa?"

Memang begitulah tingkah laku Ti Cing Ling, satu tindakan yang aneh bagi pandangan orang lain.

0-0-0

Malam semakin larut, dibawah cahaya lentera yang menerangi setiap sudut ruangan, pesta perjamuan sedang berlangsung dengan meriahnya. Arak wangi mengalir tiada hentinya berpindah dari dalam guci ke perut setiap jago yang ada disitu.

Ban Kun Bu minum terus tiada hentinya.

Semua jago persilatan tahu bahwa orang ini mempunyai takaran minum arak yang luar biasa mengagumkan.

"Bukan saja Ban Tayhiap memiliki ilmu golok yang tiada ke duanya dikolong langit, takaran minum araknya juga tiada tandingan di dunia saat ini"

Tentu saja hari ini dia minum sangat banyak, luar biasa banyaknya.

Mau tidak mau dia harus menerima maksud balk Ti Cing Ling, namun setelah menerima kebaikannya dia pun tak tahu harus merasa gembira atau tidak.

Oleh sebab itulah dia terus minum arak karena setelah minum arak dia akan merasa sangat gembira.

Kakak seperguruannya, murid kesayangannya serta teman sehidup sematinya membiarkan dia minum sepuas hati, sebab tempat yang digunakan mink minum adalah kamar pribadi dan Hoa Suya, tidak banyak tamu yang diundang dalam pertemuan kali ini, lagipula asal usul setiap orang yang hadir disitu pun sudah diperiksa secara ketat dan teliti, karenanya tempat itu boleh dibilang aman sekali.

Ban Kun Bu sering berkata kepada teman temannya"Bila seseorang kelewat cepat ternama dalam dunia persilatan, hal in bukanlah satu kejadian yang menggembirakan, sebab orang yang kelewat cepat ternama biasanya pada waktu malam susah untuk tidur nyenyak"

Contohnya orang macam dia, dalam melakukan pekerjaan dan perbuatan apapun semuanya harus dilakukan ekstra hati hati, karena sangat berhati hati maka dia bisa hidup sehat hingga hari ini. Sekalipun ada orang menginginkan nyawanya, belum tentu kesempatan semacam itu bisa didapatkan secara mudah. Orang pertama yang mengundurkan did dan pesta meriah itu adalah Ti Cing Ling.

Sejak dulu dia tak pemah suka minum arak, dia pun merasa amat lelah, apalagi didalam kamar tamu yang disiapkan tuan rumah masih ada seorang wanita cantik yang menunggunya bagi sebagian besar orang, asal ada alasan yang terakhir pun sudah lebih dari cukup untuk mundur Iebih cepat dan pasta pora yang meriah itu.

Setiap orang dengan membawa sorot mata kagum dan iri mengiringi kepergian pemuda tampan itu, bukan hanya kagum bahkan sangat memuji:"Cara kerja Bangsawan Ti memang menarik dan menggiurkan, tak heran banyak perempuan cantik yang mencintainya setengah mati"

Hoa Suya termasuk orang yang sangat terbuka dan luas pandangannya

Dia berperawakan tinggi besar, gemuk tapi berotot, jujur, berkemauan karat dan punya sikap yang hangat terhadap siapa pun, wajahnya yang gemuk lagi bulat sama sekali tidak mencerminkan kelicikan maupun kemunafikan, walau saban tahun dia harus berapa kali ditipu orang, namun masalah semacam itu tak pemah dimasukkan ke dalam hati.

"Sudah berapa ekor kuda yang kau bell kali ini" tanya Ban Kun Bu kepadanya.

"Tak seekor pun yang kubeli" jawab Hoa Suya sambil tertawa terkekeh kekeh, "sebab baik Kim Toa tanya maupun Jiu congkoan sama sama adalah sahabatku, aku tak boleh mencelakai teman sendiri, tak boleh membuat mereka tertipu olehku, karena itu hanya aku yang ditipu orang, bukan aku yang menipu temanku sendiri"

Ban Kun Bu tertawa terbahak bahak.

"Bagus, bagus sekali… " serunya "hahaha…aku pantas menghormati tiga cawan arak kepadamu"

Selesai minum tiga cawan arak, kembali Hoa Suya balas menghormatinya dengan tiga cawan arak, setelah itu Ban Kun Bu pun berpamit untuk "meringankan tubuh" nya sebentar.

Tak heran orang ini mempunyai takaran minum yang luar biasa, sebab dia memiliki sebuah rahasia dalam tehnik minum arak yaitu dia bisa muntah. Begitu selesai minum arak dalam jumlah banyak, dia pasti berpamit untuk muntah dulu. Selesai muntah, dia akan kembali untuk melanjutkan minumnya lagi.

Itulah rahasia darinya..

Walaupun kakak seperguruannya, murid kesayangannya dan teman sehidup sematinya semuanya ikut mengetahui rahasia ini, namun dia selalu menganggap mereka tak pemah tahu, karena itu mereka pun terpaksa harus berlagak seolah olah tidak tahu.

Oleh sebab itu ketika dia berpamit mau "meringankan tubuh", mereka membiarkan dia pergi seorang diri.

Diatas liang yang amat dalam tampak melintang papan kayu cendana sebagai tempat pijakan, diatas papan tempat pijakan dilapisi sebuah karpet yang indah sementara pada dasar liang dilapisi bulu angsa.

Hoa Suya memang termasuk orang yang pandai menikmati hidup, apa yang dia inginkan selalu dipersiapkan secara lengkap dan sempuma, termasuk tempat untuk "meringankan tubuh" pun tanpa kecuali.

Ketika berjalan masuk ke ruang "meringankan tubuh" dengan sorot mata yang masih mabuk dia awasi tempat itu dengan perasaan kagum, dia memutuskan untuk membuat juga satu tempat yang persis seperti ini setibanya di rumah nanti.

Maka dia pun mulai muntah. Tidak sulit baginya untuk melakukan hal itu… asal dia masukkan jari telunjuknya ke dalam mulut, kemudian menekan lidahnya kuat kuat maka semua isi perutnya akan mulai tumpah keluar. Tapi sayang kali ini dia tak sempat muntah.

Baru saja dia masukkan jari telunjuknya ke dalam mulut, tiba tiba muncul sebuah tangan yang lain dari belakang tubuhnya, tangan itu langsung menekan dagunya ke atas sehingga sebaris giginya langsung menggigit ujung jarinya sendiri.

Dia merasa kesakitan tapi sayang tak mampu bertenak, dengan sekuat tenaga dia coba menyikut tulang iga lawan dengan sikutnya, tapi sayang tindakan inipun tak berhasil karena orang itu keburu menotok jalan darah Ci Ti Hiat nya terlebih dulu.

Ilmu silat yang dilatihnya dengan susah payah selama dua puluh delapan tahun, kini tak satu pun yang bisa digunakan, kini seluruh tenaga dan kekuatan tubuhnya telah hilang musnah.

Padahal dia memiliki pengalaman bertempur yang sangat matang, banyak sudah korban yang berhasil dibunuhnya, banyak juga orang yang ingin menghabisi nyawanya, tapi hanya orang ini yang mampu memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk membekuknya.

Kini, dia hanya ingin tahu siapakah orang itu?

Tampaknya orang inipun berniat untuk memberitahu siapakah dirinya, dengan suara setengah berbisik katanya pelant, "Sejak tadi aku toh sudah beritahu kepadamu, aku datang untuk mencelakaimu, sudah lama aku melakukan penyelidikan serta pengamatan, setiap urusanmu, setiap tindak tandukmu sudah kuselidiki sangat jelas, bahkan mungkin lebih jelas daripada dirimu sendiri, aku pun tahu saat ini kau pasti akan datang kemari untuk muntah"

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menambahkan dengan suara dingin, "Oleh karena itu, kau boleh mati dengan perasaan tenteram, mati tanpa menyesal!"

Ban Kun Bu segera tahu siapakah orang itu, hanya sayang selama hidup dia tak berkesempatan lagi untuk bicara.

Pada saat yang terakhir dia hanya sempat menyaksikan berkilatnya selapis cahaya pisau, begitu tawar cahaya itu persis seperti sekilas cahaya fajar yang baru muncul di ufuk timur saat itu.

Menyusul kemudian dia merasa ulu hatinya sakit sekali, sebilah pisau belati sudah menusuk masuk dari tulang iga dada sebelah kirinya langsung tembus hingga ke jantungnya.

Sebilah pisau yang sangat tipis, lebih tipis dari selembar kertas.

Tak ada orang yang bisa melukiskan kecepatan gerak pisau tipi situ.

Ketika dicabut keluar, gerakan itupun sama cepatnya seperti ketika melancarkan tusukan tadi.

Ketika sebilah pisau yang sangat tipis menusuk ke dalam tubuh lalu dicabut kembali, maka tusukan tersebut tidak akan meninggalkan bekas mulut luka yang kentara atau terlihat dengan mata telanjang.

Oleh karena itu tak ada yang bisa membalaskan dendam atas kematian Ban Kun Bu.

Sebab kematiannya disebabkan minum arak kelewat banyak, dalam pandangan kebanyakan orang, mereka sependapat bahwa seseorang yang minum arak kelewat banyak, seringkali bisa mati secara mendadak

Tentu saja semua orang tak pemah menyangka kalau peristiwa kematian ini mempunyai hubungan yang erat dengan Bangsawan Ti yang baru saja menghadiahkan seekor kuda jempolan kepadanya.

Oleh sebab itu kuda jempolan tetap mengikuti layon majikannya pergi meninggalkan tempat itu, sementara Ti Cing Ling pergi sambil diikuti perempuan cantik miliknya.

Nanti ketika dia munculkan diri sekali lagi dikemudian hari semua orang pasti masih tetap akan memandangnya dengan sorot mata kagum serta memuji, tak akan ada orang yang percaya kalau dia pernah membunuh orang, menghabisi nyawa seseorang tanpa menimbulkan suara dan menggunakan gerakan yang menyolok.

Memang inilah ciri khas dari Ti Cing Ling, tehnik membunuh orang yang tiada duanya di kolong langit.

0-0-0

Ruangan dalam kereta kuda itu lebar dan terasa sangat nyaman, bukan saja kuda yang menghela kereta itu terdiri dari kuda kuda pilihan, sang kusir pun sangat mahir dalam mengendalikan kereta kuda itu.

Duduk didalam kereta kuda yang diperoleh Ti Cing Ling dari tangan seorang permaisuri raja yang ditukar dengan sebuah mutiara mestika ini serasa duduk di dalam sebuah perahu pesiar di telaga See Ou yang berair tenang, bahkan sama sekali tidak terasa katau kereta itu sedang bergerak.

Si Si dengan mengenakan sebuah jubah sutera berwarna merah yang amat lembut duduk melingkar di sudut ruang kereta bagaikan seekor kucing Persia, saat itu dengan menggunakan tangannya yang putih mulus dengan kuku yang diberi cat merah, sedang menyuapi kekasihnya dengan buah anggur yang manis dan segar.

Dia adalah seorang wanita yang lemah lembut, cantik dan cerdik, dia sangat mengerti bagaimana menikmati hidup, juga tahu bagaimana kaum lelaki menikmati kemesrahan yang dia berikan.

Dia tak ingin kehilangan lelaki yang berada disisinya saat ini, tapi dia sadar, sudah saatnya akan segera kehilangan lelaki itu.

Ti Cing Ling tidak pemah membiarkan seorang wanita berada di sisinya terlalu lama.

Tapi Si Si telah mengambil keputusan, dia harus berupaya agar Bangsawan Ti menahannya lebih lama.

Ti Cing Ling mengawasi terus perempuan yang berada disisinya, mengawasi sepasang kakinya yang telanjang, putih, indah dan lembut yang muncul dari balik jubah sutera merahnya.

Dia tahu, tubuh dibalik jubah sutera berwarna merah yang membalut badan perempuan itu adalah sebuah tubuh telanjang bulat yang sangat indah dan menggairahkan napsu syawat.

Tubuh perempuan itu lembut, putih, halus dan montok, apalagi sewaktu mencapai puncak kenikmatan, seluruh badannya akan berubah jadi dingin bahkan akan gemetaran terus tiada hentinya.

Si Si memang tahu bagaimana cara untuk menaklukan seorang pria, dia tahu bagaimana cara mengendalikan seorang lelaki.

Bagi Ti Cing Ling yang sudah kelewat banyak menikmati tubuh wanita, hanya perempuan ini yang terasa sangat cocok bagi seleranya, hanya perempuan ini yang selalu memberikan kepuasan seks kepadanya.

Dia ambil keputusan akan menahannya lebih lama, gejolak hawa panas yang timbul dalam tubuhnya membuat dia mengambil keputusan tersebut.

Pelan-pelan tangannya mulai digerakkan, menggerayang masuk ke balik jubah merahnya yang Iebar, dipegang dan diremasnya sepasang payudaranya yang besar, montok dan kenyal itu dengan penuh napsu.

Pada saat itulah, tiba tiba perempuan itu mengucapkan sepatah kata yang aneh sekali nadanya. "Aku tahu kau sudah lama mengenali Ban Kun Bu" kata Si Si dengan suara lembut, "apakah

kalian saling mendendam atau terlibat suatu permusuhan?" "Sama sekali tidak"

"Dulu pun dia tak pemah menyalahi dirimu?" "Sama sekali tidak"

"Lalu, mengapa kau harus membunuhnya?" tanya Si Si sepatah demi sepatah kata, ditatapnya pemuda itu dengan pandangan tajam.

Aliran hawa panas yang semula mengalir dalam tubuh Ti Cing Ling, tiba tiba saja berubah jadi dingin membeku, entah mengapa dia merasa merinding hatinya

Terdengar Si Si masih melanjutkan kata-katanya,"Aku tahu, pasti kau yang telah membunuhnya, sebab ketika dia menemui ajalnya secara kebetulan kau tidak berada disisiku, dan sewaktu kembali kau pun kelihatan gembira sekali; Dalam semalaman kau sudah mengajakku berbuat intim sampai tiga kali, jauh lebih banyak ketimbang sewaktu pertama kali kau bertemu denganku. Dulu, aka pemah mendengar cerita dari seorang nyonya, katanya ada sementara orang yang akan lebih bernapsu dan bergairah setelah membunuh seseorang, dia akan berubah brutal diranjang, bertambah gila dan liar, persis seperti tingkah lakumu semalam tadi"

Ti Cing Ling hanya mendengarkan dengan tenang, sedikitpun tidak memberikan reaksinya.

Si Si kembali berkata:"Aku pun tahu, kau menyembunyikan sebilah pisau yang tipis, sangat tipis dibalik bajumu, pernah beritahu kepadaku, jika membunuh seseorang dengan menggunakan pisau semacam itu, maka akan sulit untuk menemukan mulur luka ditubuh korbannya,"

Ti Cing Ling tetap membungkam, tapi dia mulai menghela napas di dalam hati kecilnya.

Tidak seharusnya Si Si kenal dengan 'Toaci' tersebut, seorang wanita memang tidak sepantasnya mengetahui begitu banyak urusan.

Si Si kembali mengawasi kekasihnya, sambil membelai wajah pemuda itu dengan lembut, katanya lebih jauh: "Kau tak perlu merahasiakan urusan apapun kepadaku, toh aku sudah menjadi milikmu, aku tak perduli kau akan melakukan perbuatan apapun, aku tetap akan selalu mengikuti dirimu "

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya dengan lembut: "Oleh sebab itu kau boleh berlega hati, aku tak akan bercerita tentang perbuatanmu, biar sampai matipun tak akan kuceritakan"

Nada suaranya bertambah halus dan lembut belaian tangannya juga bertambah lembut. Dengan cepat perempuan ini mulai merasakan, napsu birahi pemuda itu mulai bangkit kernbali,

jubah sutera berwarna merah yang dikenakan segera mulai dirobek, mulai dicabik cabik dengan penuh napsu.

Sekarang Si Si boleh merasa lega.

Dia tahu, taktik yang dipergunakan telah membuahkan hasil, sekarang pemuda itu tak akan meninggalkan dirinya, tak akan berani meninggalkan dirinya.

Goncangan hebat yang melanda kereta kuda itu pelan pelan mereda kembali, akhirnya kereta pun dapat bergerak semakin tenang, bergerak ke depan rnengikuti helaan kuda didepannya.

Dari bawah tempat duduknya Ti Cing Ling ambil keluar sebotol arak anggur, setelah meneguk satu cawan kecil dia baru berkata:"Tadi kau bertanya kepadaku kenapa harus membunuh Ban Kun Bu, perlukah aku beritahu kepadamu sekarang?"

"Asal kau mau bercerita, aku akan mendengamya"

"Aku bunuh dia karena ada seorang sahabatku tidak menginginkan dia hidup terus"

"Kau punya sahabat?" Si Si tertawa. "aku belum pemah tahu kalau kaupun punya sahabat"

Setelah berpikir sejenak kembali tanyanya:"Apapun yang diminta sahabatmu itu, kau selalu akan mengabulkan permintaannya?" Ti Cing Ling manggut-manggut.

"Hanya dia yang bisa membuatku berbuat begitu sebab aku sudah hutang budi kepadanya" Bangsawan Ti menjelaskan, "sekarang dia adalah seorang pentolan paling top dari sebuah organisasi rahasia terbesar dalam dunia persilatan, dia pemah membantuku satu kali, satu-satunya syarat yang dia ajukan hanyalah ketika dia butuh aku melakukan suatu pekerjaan, maka aku tak boleh menolak" Setelah berhenti sejenak, kembali ujamya:"Organisasi rahasia itu bernama perkumpulan Cing Liong Pang (Perkumpulan Naga Hijau), mempunyai tiga ratus enam puluh lima kantor cabang, hampir di setiap propinsi, tiap keresidenan dan setiap sudut tempat terdapat orang orang mereka, begitu besar dan dahsyatnya pengaruh mereka, jauh diatas apa yang kau bayangkan selama ini"

"Kalau mereka punya pengaruh dan kekuatan sedahsyat itu, kenapa harus minta bantuanmu untuk bunuh orang?" tak tahan Si Si bertanya.

"Sebab ada sementara orang yang tak bisa membunuh orang, sebab setelah membunuh, akibat yang timbul terlalu besar, kesulitan dan pertikaian yang muncul juga kelewat banyak, apalagi manusia macam begini tentu mempunyai banyak sahabat, mereka tentu akan berupaya untuk membalaskan dendam sakit hatinya"

"Yaa, benar juga, pihak kerajaan pasti akan mengirim petugas untuk melakukan penyelidikan" Si Si mengangguk, "orang persilatan selalu enggan menghadapi kesulitan macam begini"

Ti Cing Ling manggut manggut membenarkan.

"Biasanya orang yang tak mungkin bisa dibunuh justru dapat kubunuh dengan mudah, dan cuma aku yang bisa membunuh" katanya, "sebab siapapun tak akan mengira kalau aku bisa bunuh orang, karena itu setelah membunuh orang aku pun tak akan menghadapi banyak kerepotan, terlebih tak akan menyusahkan sahabatku itu"

Si Si tidak bertanya lebih jauh, karena sekarang dia lebih lega, dia merasa lega sekali.

Hanya dihadapan seorang wanita yang paling dicintai dan paling dipercaya, seorang lelaki baru mau membeberkan rahasia semacam ini.

Dia bertekad untuk menjaga rahasia ini dengan sebaik-baiknya„ sebab dia pun sangat mencintai lelaki yang kadang lembut bagaikan alur air, kadang dingin bagaikan salju dan terkadang begitu panas dan bergairah bagai kobaran api ini.

Dia percaya dan yakin dirinya pasti dapat mengendalikan lelaki ini. Sayang sekali semua dugaannya keliru besar.

Walaupun dia sangat memahami kaum pria, tapi pria yang berada di hadapannya saat ini justru sulit dipahami oleh siapa pun.

Bahkan dia sendiripun terkadang tidak paham dengan diri seniri.

Kereta kuda masih bergerak melanjutkan perjalanannya, hanya saja di dalam ruang kereta saat ini tinggal Ti Cing Ling seorang.

Si Si sudah lenyap dari permukaan bumi, sejak detik itu dia sudah hilang lenyap untuk selamanya.

Ti Cing-ling mempunyai tiga macam cara yang dapat melenyapkan seseorang dari muka bumi, cara yang digunakan terhadap Si Si adalah cara yang terampuh diantara cara cara lainnya.

Tak ada orang yang tahu cara apa yang dia gunakan, ketiga cara itu hanya dia seorang yang tahu akan rahasianya.

Rahasia miliknya kecuali untuk dia sendiri, selama hidup tak pemah ada orang hidup kedua yang mengetahuinya.

Si Si telah keliru besar, dia salah tafsir.

Sebab dia tak tahu kalau Ti Cing-ling selama hidup tak pernah akan percaya dengan siapa pun yang masih bisa bernapas.

Dia pun tak tahu kalau satu satunya orang yang paling dicintai Ti Cing Ling hanya diri sendiri.

Jika seorang wanita semacam Si Si lenyap secara tiba tiba dari muka bumi, kejadian ini tak mungkin bisa menimbulkan kesulitan ataupun persoalan apapun.

Sebab perempuan semacam ini tak lebih hanya seperti pohon Yang liu yang dipermainkan hembusan angin, bagai daun teratai yang mengapung diatas permukaan air, seandainya dia lenyap maka orang akan menduga besar kemungkinan dia sudah kabur bersama seorang playboy, atau mungkin dia sudah disembunyikan seorang saudagar kaya raya dalam rumah emasnya, atau bahkan mungkin dia sedang bersembunyi didalam sebuah kuil kecil ditengah hutan dan mencukur rambut jadi nikou.

Perempuan semacam dia memang bisa melakukan perbuatan apapun.

Oleh karena itu dikala dia merasa yakin dapat hidup mendampingi Ti Cing-ling secara aman dan tenteram, justru Ti Cing Ling mempersilahkan dia pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya.

Dan hal ini merupakan salah satu ciri khas Ti Cing Ling terhadap kaum wanita.

0-0-0

"Toaci" sedang bersandar disisi pembaringan yang terbuat dari tembaga dengan seprei wama merah menyala, dalam hati kecilnya dia sedang berpikir:

"Sudah seharusnya Si Si tiba dirumah, kenapa dia belum juga muncul?"

Dia sangat mencintai Si Si, sebab di kolong langit saat ini dia sudah tak punya sanak maupun keluarga lagi, dan dia pun sudah mulai terbiasa disebut orang sebagai ` Toaci'.

Seorang wanita macam dia ternyata dipanggil orang sebagai ` Toaci. (kakak tertua), sesungguhnya kejadian ini merupakan satu kejadian yang amat memilukan.

Usia remajanya sudah lama berlalu, sekarang, dia hanya berharap Si Si tidak meninggalkan dirinya dan tidak mengecewalcan harapannya, dia berharap Si Si bisa menikah dengan seorang pria yang jujur dan setia.

Sayang sekali Si Si justru tak pemah suka dengan pria yang jujur dan bersikap setia.

Si Si terlalu pintar, kelewat angkuh, dia ingin hidup menonjol, dia ingin jadi bini orang tenar, orang kaya, persis seperti sikapnya ketika masih muda dulu.

Ditengah ruangan tersedia sebuah meja bulat yang terbuar dari kayu cendana, disisi meja duduk seorang lelaki kurus kering, berkulit hitam, berwajah murung dan usianya sekitar tiga puluh tahunan, dia duduk termenung sambil mengawasi perempuan itu tanpa berkedip.

Pemuda ini bernama Nyo Cing, teman mainnya semasa kecil, boleh dibilang dia merupakan sahabat karibnya sejak kecil hingga kini.

Ketika berusia lima belas tahun, gara gara tak punya uang untuk mengubur kedua orang tuanya, dia terjun dalam kehidupan malam sebagai seorang pelacur, setelah berpisah belasan tahun akhirnya mereka berdua lagi disitu, sungguh tak disangka lelaki muda itu sudah jadi seorang komandan opas di kota keresidenan tersebut.

Dengan jabatan serta kedudukannya sekarang, tidak pantas dia mendatangi tempat pelacuran seperti ini.

Tapi kenyataannya hampir setiap dua tiga hari sekali, dia pasti datang berkunjung, setiap kali datang, dia hanya duduk termenung disitu sambil mengamati wajahnya tanpa berkedip.

Diantara mereka berdua sama sekali tak ada ikatan hubungan seperti apa yang diduga orang lain, hubungan perasaan mereka berdua tak akan dipahami orang lain, juga tak akan dipercayai siapa pun

Dia selalu nasehati Nyo Cing agar tidak terlaIu sering datang berkunjung, agar terhindar dari pergunjingan orang, yang mana dapat mempengaruhi dan menodai nama baik serta karier kerjanya.

Tapi Nyo Cing selalu bilang:"Selama aku tidak melakukan perbuatan yang melanggar norma susila dan norma hukum, perduli amat dengan pergunjingan orang, aku tetap akan mendatangi tempat yang ingin kudatangi"

Dia memang seorang lelaki keras hati. Selama dia anggap hal tersebut patut dilakukan, selama tidak melanggar norma susila, tidak melanggar norma hukum, biarpun ada golok mengancam di tengkuknya, tak seorangpun bisa mencegah sepak terjangnya.

Dia bertekad akan menikahinya.

Dalam benaknya, dari dulu hingga sekarang dia tetap adalah si nona kecil berkepang besar "Lu Siok Bun", dan bukan lonte kenamaan "Ji Giok", juga bukan si germo "Toaci" seperti predikatnya saat ini.

Sebaliknya, dalam benak sang "Toaci" pun bukan tak punya keinginan untuk kawin dengan pemuda ini, siapa sih yang tak mau dikawini seorang lelaki yang keras hati, romantis lagi jujur?

Sejak berapa tahun berselang, dia telah menebus perempuan itu dari rumah bordil, asal dia bersedia, setiap waktu setiap saat dia akan memboyongnya ke rumah.

Tapi dia tak boleh berbuat begitu, pemuda itu setahun lebih muda dari usianya, dalam pandangan para anggota kepolisian, dia adalah seorang hohan yang jujur, bersih, punya masa depan cemerlang, banyak sahabat dan mampu bekerja.

Sebaliknya dia sendiri tak lebih seperti sekuntum bunga yang mulai layu, mulai kusam dan sudah sering diinjak kaki banyak orang, dia tak lebih hanya seorang lonte yang tak bermoral, seorang lonte busuk yang sama sekali tak ada harganya.

Dia tak mau memusnahkan masa depannya, rnaka dia mesti bulatkan tekad untuk menampik pinangannya, dia lebih suka hidup seorang diri dalam kesepian, seorang diri menyeka air mata dikala ter jaga dari tidumya tengah malam.

Tiba tiba Nyoo Cing bertanya:"Apakah Si Si telah menemukan seorang lelaki yang baik, apakah dia sudah dikawini seseorang?"

"Akupun berharap dia bisa peroleh seorang suami yang baik" Lu Siok Bun menghela napas panjang, "sayang cepat atau lambat akhirnya dia harus kembali juga"

"Kenapa?"

"Kau tahu tentang manusia yang bemama Ti Cing Ling?"

"Aku tahu, keturunan bangsawan kelas satu, seorang pendekar muda yang romantis dan amat termashur dalam dunia persilatan" jawab Nyoo Cing, "jadi Si Si pergi bersamanya,"

Lu Siok Bun mengangguk.

"Mana mungkin seorang lelaki macam Ti Cing Ling dapat menaruh cinta murni terhadap seorang wanita? Paling banter cuma buat main main, setelah bosan ditinggal begitu saja"

Kembali Nyoo Cing duduk termangu berapa saat lamanya, kemudian pelan pelan dia bangkit berdiri.

"Aku pergi dulu" katanya, "malam ini aku masih punya tugas untuk dilaksanakan"

Lu Siok Bun tidak berusaha mencegah, dia pun tidak bertanya tugas apa yang hendak dilaksanakan.

Dalam hati mestinya dia ingin menahannya, ingin bertanya kepadanya, berbahayakah tugas yang akan dijalankan? Di dalam hati kecilnya, dia selalu menguatirkan keselamatan jiwanya, begitu kuatir sehingga kadang kadang sukar untuk tidur.

Namun diluar, ia hanya berkata hambar"Kalau begitu pergilah" Malam semakin hening.

Di depan pinto gerbang rumah bordil "Gie Hong Wan" tergantung dua buah lentera merah yang amat besar, dipandang dari kejauhan, lentera itu mirip sekali dengan sepasang mata hewan buas.

Seekor binatang buas yang bisa menelan manusia tanpa memuntahkan tulang belulangnya!

Sejak dulu, entah sudah berapa banyak gadis lemah yang ditelan bulat bulat oleh hewan buas itu, berapa banyak gadis miskin yang dinodai dan dicemooh dalam gedung tersebut Nyoo Cing amat benci, amat gemas dan mendendam! Sayang dia tak punya kemampuan untuk mendobrak tradisi itu, karena rumah bordil dibuka atas dasar hukum, dilindungi undang undang, sebuah usaha resmi yang lengkap dengan ijin ijinnya, bukan saja dia tak boleh mengusiknya, bahkan harus melindungi dan menjaga keamanan serta kelancaran usaha itu.

Angin malam yang berhembus dalam lorong gelap itu basah lagi dingin, dengan melawan angin dia berjalan keluar.

Mendadak muncul seseorang dari balik lorong, sambil tertawa menggapai ke arahnya memberi tanda.

Orang itu bernama Sun Ji Hay, Ji piautau dari sebuah perusahaan ekspedisi, nama besamya cukup termashur dalam dunia persilatan, dalam kota pun sangat disegani orang banyak, konon ilmu silat yang dimiliki terhitung tangguh.

Tapi Nyoo Cing tak pernah suka dengan orang ini, karena itu tegurnya dengan suara dingin,i "Ada apa?"

"Ada sedikit benda akan kuserahkan kepada komandan Nyoo, titipan seorang teman" kata Sun Ji-hay sambil mengeluarkan setumpuk uang kertas dari sakunya, "uang kertas ini dikeluarkan rumah uang "Toa Thong", tiap lembar bernominal seribu tahil yang bisa diuangkan dimana pun"

Nyoo Cing memandangnya dengan sorot mata dingin, dia tidak bereaksi, ditunggunya orang itu berkata lebih lanjut.

"Dengan uang tersebut, komandan Nyoo bisa membeli sebuah rumah gedung dengan halaman yang luas, juga bisa menjemput nona Giok pulang ke rumah" tertawa Sun Ji Hay membuat sepasang matanya kelihatan makin sipit, "asal malam ini komandan Nyoo mau beristirahat di rumah dan tidak ke mana mana, tumpukan uang kertas ini akan menjadi milikmu"

"Siapa yang suruh kau serahkan ini kepadaku?" Nyoo Cing sama sekali tak tergerak hatinya, "Apakah dari teman yang mau lewat disini malam ini?”

"Betul!" Sun Ji Hay segera mengakui, "dihadapan orang pintar tak perlu berbohong, memang dia"

"Konon baru saja dia berhasil membegal sebuah kereta kawalan di jalan raya Siang Lim To, nilai kereta kawalan itu hampir seratus delapan puluh laksa tahil, masa dia cuma memberi aku sedemikian kecilnya? Apa tidak kebangetan?"

"Komandan Nyoo minta berapa?"

"Tidak banyak yang kuminta, aka cuma pingin mendapat seratus delapan puluh laksa tahil plus dua orang manusia"

"Dua orang yang mana?" Sun Ji-hay tak mampu tertawa lagi

"Yang satu kau, yang lain dia" kata Nyoo Cing, "sebagai seorang pengawal barang, ternyata kau malah bersekongkol dengan kaum begal, manusia macam kau pantas dibantai"

Sun Ji Hay rnundur dua langkah, cepat cepat dia masukkan kembali tumpukan uang kertas itu ke dalam saku, lalu dengan kecepatan bagaikan kilat dia cabut keluar sebuah senjata garpu dari sakunya.

"Sialan!" umpatnya sambil tertawa seram, "hanya seorang opas kecil di kota keresidenan juga berani melawan Ni Pat taiya? Hmmm! Yang pingin mampus seharusnya kau"

"Dia bukan saja pantas mampus, bahkan sudah dipastikan akan mampus" dari balik lorong gelap tiba tiba terdengar seseorang menimpali dengan suara dingin.