Golok Kumala Hijau Bag 09 : Memburu begal wanita Hoa Ya-lay

Bag 09 : Memburu begal wanita Hoa Ya-lay

Tapi dia telah memaafkan Thiat Sui, karena dia berpendapat Thiat Sui adalah seorang Enghiong.

Biasanya sepak-terjang seorang Enghiong memang agak berbeda bila dibandingkan orang biasa.

"Sayangnya meski Thiat Sui kuat, Cing-liong-hwe jauh lebih kuat," kata Toan Giok. "Oleh sebab itu, sejak bergabung dengan Cing-liong-hwe, lambat-laun dia mulai dikuasai orang, makin lama semakin tak bebas melakukan apa pun dan dipaksa untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang sebetulnya tak ingin dia lakukan. Bila dalam keadaan seperti ini, dia baru berkeinginan meninggalkan Cing-liong-hwe, jelas keadaan sudah terlambat."

Karena dia sudah terbiasa merasakan kehidupan yang serba ada, serba berlebihan dan penuh kenikmatan. Sudah terbiasa main perempuan dan menenggak arak paling bagus.

Mungkin saja dalam hati kecilnya dia pun sadar kalau semua yang dilakukan adalah perbuatan salah, mungkin dia pun mulai membenci diri sendiri, benci karena menceburkan diri sendiri dalam perangkap dan kekuasaan orang lain.

Oleh karena itu dia pun semakin menceburkan diri, sekuat tenaga pergi mencari rangsangan dan kenikmatan. Semua itu dia lakukan demi melampiaskan rasa dendam pada diri sendiri.

Setelah itu dia baru ditelan Cing-liong-hwe, dilibat dan dimusnahkan.

Lu Kiu menghela napas panjang, ujarnya sedih, "Dia menjadi pendeta karena ingin hidup menonjol, hidup penuh kesenangan, sama sekali tak ada niat untuk mengkhianati ajaran Buddha, namun dalam hal ini dia telah salah langkah."

"Ai " Toan Giok menghela napas. "Setelah melakukan satu kesalahan, dia melakukan

kesalahan yang lain dan sekali lagi terjun ke dalam Cing-liong-hwe."

Lu Kiu pun menghela napas panjang.

"Cing-liong-hwe memang kelewat kuat, kelewat besar. Siapa berani bergabung dengan mereka, pada akhirnya pasti akan tertelan, terlibas hingga lenyap."

Mendengar itu, tanpa terasa Toan Giok menghela napas panjang.

Sudah cukup lama Ku-tojin termenung tanpa bicara. Pada saat itulah, tiba-iba ia bertanya, "Menurutmu, kejadian ini adalah rencana yang disusun Cing-liong-hwe dan dilaksanakan oleh Thiat Sui?"

"Aku rasa pasti begitu."

"Konon Cing-liong-hwe mempunyai tiga enam puluh lima cabang, kota Hangciu pasti merupakan salah satu di antaranya?" tanya Ku-tojin.

"Tepat sekali."

"Jangan-jangan Thiat Sui adalah Tongcu tempat ini?" "Sebetulnya aku mengira dia."

"Dan sekarang?"

"Sekarang aku sudah mengetahui kalau ternyata masih ada orang lain. Selama Thiat Sui berada di sini, dia selalu diawasi oleh seseorang. Oleh sebab itu, setelah terjadi peristiwa di luar dugaan ini, dia segera dihabisi nyawanya."

"Kenapa dia hams dibunuh?"

"Demi menghilangkan saksi, demi memperlihatkan kewibawaan." "Demi kewibawaan?"

"Siapa pun yang gagal melakukan tugas bagi Cing-liong¬hwe, dia harus mati!"

Setelah menghela napas, lanjutnya, "Karena itulah tak ada orang yang bekerja untuk Cing- liong-hwe, yang tidak berusaha mati-matian."

"Mungkin inilah salah satu alasan mengapa Cing-liong-hwe dapat berhasil," kata Ku-tojin sambil menghela napas.

"Namun dalam kejadian kali ini, mereka tidak berhasil." Dengan wajah tersenyum, Ku-tojin manggut-manggut, sahutnya, "Sekarang bukan saja kau masih hidup segar-bugar, bahkan bila ingin pergi pun segera dapat pergi."

"Tapi bila aku benar-benar pergi, rencana mereka pun akan berhasil," tukas Toan Giok cepat. "Kenapa?"

Toan Giok tertawa.

"Rencana mereka, target utama adalah melenyapkan aku serta Lu Siau-hun." "Sekarang Lu-kongcu telah meninggal."

"Betul," sahut Toan Giok sambil mengangguk, "Walaupun sekarang aku masih hidup, namun sama artinya telah mati." "Kenapa? Aku tak habis mengerti."

"Karena aku telah menjadi seorang pembunuh. Paling tidak, belum terbukti kalau aku bukan pembunuh. Oleh sebab itu biarpun aku menebalkan muka dan tetap datang ke Po-cu-san-ceng, perjalananku kali ini pasti sia-sia."

"Betul," teriak Ku-tojin seakan barn mengerti. "Tentu saja Cu-jiya tak akan mengambil seseorang yang dicurigai sebagai seorang pembunuh untuk dijadikan menantunya."

Toan Giok tertawa getir.

"Seseorang yang sudah dicurigai sebagai seorang pembunuh, mau pergi kemana pun pasti tak akan dipandang sebelah mata oleh orang lain. Sekalipun secara tiba-tiba kau ditemukan mati di tengah jalan pun, tak bakal ada yang menaruh simpatik kepadamu."

"Oleh karena itu kau berpendapat setiap saat ada kemungkinan mereka akan mencelakaimu?" sambung Ku-tojin. Toan Giok menghela napas panjang.

"Bahkan setelah mereka berhasil membunuhku, semua tanggung jawab dapat mereka timpakan ke tubuh Lu-kiuya, sebab Lu-kiuya mesti tak ingin bermusuhan secara langsung dengan keluarga Toan, dia pun tak rela membiarkan putranya mati secara mengenaskan, maka satu-satunya jalan adalah mencari orang untuk membokongku, bukankah alasan ini sangat masuk akal?"

Ku-tojin memandangnya beberapa saat, tiba-tiba ia menghela napas panjang, desahnya, "Aku benar-benar telah salah menilai dirimu."

"Salah menilai aku?"

Ku-tojin tertawa lebar, katanya, "Semula kusangka kau adalah seorang Kongcu hidung bangor yang pandai minum, berjudi, main perempuan dan melakukan perbuatan busuk lainnya. Meski kemudian jalan pikiranku berubah, namun aku sama sekali tak mengira kalau kau ternyata adalah manusia seperti ini.”

Sudah cukup lama Hoa Hoa-hong membungkam, tiba tiba ia menimbrung, "Menurut kau, dia adalah orang seperti apa?"

"Walaupun sekilas dia mirip seorang Toasiauya yang tak tahu apa-apa. Padahal persoalan yang dia pahami, pada hakikatnya jauh lebih banyak daripada kami rase-rase tua."

Hoa Hoa-hong tak tahan untuk tertawa geli, sindirnya, "Kemampuan paling utama yang dimiliki orang ini adalah berlagak jadi babi namun menerkam harimau. Bila ada orang menyangka dia adalah seorang lelaki goblok, maka pandangan itu keliru besar."

Dari balik matanya terpancar sinar berkilauan, begitu juga dengan air mukanya.

"Oleh sebab itu bila aku jadi Cu-jiya, kalau bukan memilih dia sebagai menantu, mau memilih siapa lagi?" Ku-tojin menambahkan sambil tertawa.

Tiba-tiba paras muka Hoa Hoa-hong berubah jadi suram.

Sambil menarik muka, dengusnya dingin, "Sayang kau bukan dia!"

Mendadak terdengar Lu Kiu terbatuk-batuk, kemudian perlahan-lahan bangkit.

Langit sudah semakin gelap, di tengah hembusan angin, terasa hawa yang dingin mencekam. Ia berdiri di tengah hembusan angin, mengawasi peti mati di hadapannya, lalu katanya perlahan, "Orang yang berbaring di dalam sana adalah putraku."

Tak seorang pun bicara, tak seorang pun tahu apa yang harus diucapkan.

Terdengar Lu Kiu berkata lebih lanjut, "Biarpun dia tidak terlalu pintar, juga tidak terhitung kelewat jujur, namun aku hanya memiliki seorang putra."

Semua orang-tua pasti akan mengatakan putra sendiri paling baik. Sekalipun tidak dia uffgkapkan, semua orang dapat memakluminya.

Kembali Lu Kiu melanjutkan, "Ibunya paling memahami tabiat anaknya. Dia tahu anakmya keras kepala dan suka mencari menang sendiri. Orang semacam ini paling gampang

menderita kerugian dalam Kangouw, maka sebelum ia meninggal, ibunya berulang kali memohon kepadaku, agar aku merawat dan menjaganya secara khusus."

Paras mukanya kini berubah makin pucat, nada suaranya makin parau. Dengan nada mengenaskan, lanjutnya, "Dia menjadi istriku sejak berusia enam belas tahun, selain rajin dan hidup hemat, selama puluhan tahun dia hidup dalam ketidak-bahagiaan. Hingga menjelang ajal, dia hanya memohon satu hal padaku, tapi aku ternyata aku tak mampu melaksanakannya."

Toan Giok tertunduk sedih.

Dia cukup memahami perasaan seperti ini, karena dia pun mempunyai seorang ibu yang penuh perhatian.

Lu Kiu menatapnya tajam, kemudian katanya lebih jauh, "Mengapa kuucapkan perkataan ini kepadamu? Tak lain agar kau pun tahu bahwa aku sangat berharap dapat menemukan pembunuh sebenarnya, agar aku bisa membalas dendam bagi bocah ini, karena keinginanku untuk balas dendam jauh lebih kental daripada keinginanmu."

"Aku mengerti," Toan Giok tertunduk rendah.

"Namun sebelum kita berhasil mengumpulkan bukti, kita tak boleh mencurigai siapa pun sebagai pembunuhnya."

"Aku mengerti."

"Kau tidak mengerti!" "Kenapa?"

"Maksudku, walaupun sepak-terjang Cing-liong-hwe banyak yang tidak benar dan tidak mencerminkan jiwa kependekaran, kita pun tak boleh mencurigai mereka." "Kenapa?" tak tahan Toan Giok bertanya lagi.

"Sebab, bila dalam dasar hati kita sudah tertanam pendapat, kadangkala pendapat itu bisa membuat kita melakukan kesalahan, apalagi Cing-liong-hwe kelewat kuat, kelewat besar. Asal kita melakukan sebuah kesalahan, niscaya kita semua akan tertelan dan lenyap dari muka bumi."

"Sekarang aku sudah memahami maksud hatimu," seru Toan Giok dengan serius dan sungguh sungguh.

"Baguslah kalau kau sudah mengerti."

Dia tidak berbicara lagi. Dengan sapu-tangannya dia menutupi mulut, kemudian diiringi suara batuk, perlahan-lahan beranjak pergi dari tempat itu.

Angin berhembus datang dari arah depan, meniup di atas tubuhnya.

Dia membungkukkan pinggang, seakan tak kuat menahan hembusan angin itu.

Ketika tiba di pintu depan, kembali is terbatuk-batuk hingga seakan pinggang pun tak kuat ditegakkan kembali.

Pada saat itulah mendadak dari balik hembusan angin berkumandang suara helaan napas yang berat.

Tempat dimana layon itu berada adalah ruang samping Hong-lin-si. Di luar gedung merupakan halaman kecil, di tengah halaman tertanam aneka bambu ungu serta pohon Boddhi. Begitu mendengar helaan napas itu, tiba-tiba paras muka Lu Kiu berubah hebat, segera bentaknya, "Siapa itu?"

Di tengah bentakan, tubuhnya bagaikan anak panah yang terlepas dari busur segera melesat ke depan.

Kakek tua yang lemah dan berpenyakitan itu dalam waktu singkat tiba-tiba berubah segesit burung elang.

Dalam sekejap, terdengar suara gemuruh yang ramai berkumandang dari balik daun bambu, lalu terlihat sesosok bayangan meluncur keluar dengan kecepatan tinggi, dalam waktu singkat telah tiba di luar pagar pekarangan.

Walaupun gerakan tubuh Lu Kiu sangat cepat, ternyata gerakan tubuh orang ini pun tidak kalah cepatnya.

Di luar pagar terdapat hutan yang cukup luas, daun di sekeliling tempat itu sangat rimbun dan lebat. Menanti Lu Kiu tiba dil uar sana, bayangan tubuh orang itu sudah lenyap.

Entah sejak kapan sinar matahari sudah tertutup di balik awan hitam, hembusan angin terasa makin dingin menggigilkan.

Saat ini memang permulaan musim semi.

Lu Kiu berdiri termangu-mangu sambil memandang pegunungan nun jauh di sana. Mimik mukanya menunjukkan perubahan yang sangat aneh, tak seorang pun bisa menduga apa gerangan yang sebenarnya sedang dia pikirkan saat itu.

Toan Giok pun tak dapat menduga, maka tak tahan dia bertanya. "Apakah sudah kau ketahui siapakah orang itu?"

Lu Kiu ragu-ragu sejenak, akhirnya dia mengangguk, kemudian secara tiba-tiba menggeleng pula! Sebenarnya apa maksud semua itu? Tak seorang pun paham.

Sebenamya siapakah orang itu?

Mengapa bersembunyi di balik hutan bambu mengintai? Mengapa pula dia menghela napas?

Jangan-jangan Lu Kiu sudah tahu siapakah orang itu, hanya saja dia enggan mengatakan kepadanya?

Sesudah menghela napas, kata Toan Giok, "Terlepas siapa pun orang itu, aku rasa dia tidak mempunyai niat jahat."

"Kalau tak punya niat jahat, mengapa harus kabur?" tanya Hoa Hoa-hong. "Mungkin saja dia tak ingin asal-usulnya diketahui kita semua."

"Tapi kenapa dia tak ingin asal-usulnya diketahui oleh kita? Apakah dia pun mempunyai kesulitan yang tak bisa dikatakan kepada orang lain?"

"Aku rasa orang itu mirip seseorang," mendadak Hoa Hoa-hong berkata lagi. "Mirip siapa?"

"Walaupun aku tak melihat jelas paras mukanya, tapi dari pakaian yang dia kenakan, aku masih dapat mengenalinya."

"Pakaian siapa yang dia kenakan?"

"Apakah kau benar-benar tak bisa mengenali?"

Tiba-tiba saja Toan Giok tidak berbicara lagi.

Tentu saja dia tak mungkin tidak mengenali pakaian siapakah itu. Kenyataan, ia telah melihat dengan jelas sekali. Pakaian yang dikenakan orang itu tak lain adalah jubah sutera ungu yang dikenakan Hoa Hoa-hong sewaktu menyaru sebagai pria.

Ketika tercebur ke dalam telaga, dia masih mengenakan pakaian itu. Setelah balik ke rumah, dia baru melepaskan pakaian itu dan membuangnya ke belakang pintu. Toan Giok masih teringat dengan jelas, ketika akan keluar rumah semalam, dia masih melihat pakaian itu berada di sana. Sambil merendahkan suaranya dan tertawa dingin, bisik Hoa Hoa- hong, "Kau tak usah mengelabui aku lagi, aku tahu kau pun sudah melihat kalau orang itu adalah orang yang kita selamatkan dari dalam peti."

"Kalau kau tidak melihat jelas bentuk mukanya, lebih baik jangan sembarangan mencurigai orang," kata Toan Giok hambar.

Hoa Hoa-hong mencibirkan bibir. Sambil tertawa dingin, ia menyahut, "Hm, aku sengaja mencurigai dia, siapa tahu dia memang ada sangkut-pautnya dengan peristiwa ini. Kalau tidak, kenapa dia mesti bersembunyi tak berani ketemu orang?"

Toan Giok tertawa, dia tak lebih hanya tertawa, tak sepatah kata pun yang diucapkan lagi.

Sejak awal dia sudah melanggar sebuah pantangan lagi di antara ketujuh pantangan yang dibuat orang-tuanya jangan mengajak debat Hoa Hoa-hong.

Ternyata Hoa Hoa-hong tak mau melepaskan dirinya begitu saja. Sambil tertawa dingin, kembali ujarnya, "Baru saja orang mengatakan kau pintar, apakah kau merasa dirimu benar-benar sangat pintar? Apakah orang lain goblok semua? Atau kau anggap hanya aku seorang yang goblok?"

Biarpun Toan Giok tidak mengakui, namun dia pun tidak berusaha untuk menyangkal.

Hawa amarah Hoa Hoa-hong semakin memuncak. Kali ini sambil bercekak pinggang, teriaknya, "Bila kau anggap dirimu benar-benar pintar, maka pendapatmu itu keliru besar.

Padahal apa yang kau ketahui, tidak sampai separoh dari apa yang kuketahui."

Toan Giok masih mengambil keputusan untuk tidak buka suara. Kebetulan saat itu Ku-tojin sedang berjalan mendekat, sambil tersenyum ia segera menimbrung, "Apalagi yang nona ketahui? Bolehkah kau mengatakannya agar kami semua ikut mendengarkan?"

Dengan gemas, Hoa Hoa-hong melotot sekejap ke arah Toan Giok, kemudian katanya, "Sebetulnya aku tak ingin mengatakannya, tapi orang ini benar-benar kelewat menghina, kelewat memandang rendah diriku. Aku benar-benar tak tahan

melihat wataknya itu!"

Biarpun Ku-tojin tidak membantunya berbicara, namun sorot matanya memancarkan perasaan simpatik dan pengertian, seakan Tosu ini pun ikut merasa tak terima dengan perlakuan yang diperoleh gadis itu.

Terdengar Hoa Hoa-hong berkata lebih jauh, "Untuk melepaskan keleningan, carilah pemasang keleningan itu. Bila ingin membongkar rahasia ini, kita harus menemukan Hoa Ya lay terlebih dahulu."

Ku-tojin segera menyatakan persetujuannya.

Usul semacam ini memang masuk akal dan tak mungkin ditolak siapa pun.

Dengan nada dingin, kembali Hoa Hoa-hong berkata,

"Tapi mampukah kalian menemukan Hoa Ya-lay? Di antara kalian semua, siapa pula yang tahu dimanakah ia berada?"

Mencorong sinar terang dari balik mata Ku-tojin. Dengan nada menyelidik, tanyanya, “Jadi nona mengetahui dimanakah ia berada?"

Dengan sudut matanya Hoa Boa-hong melirik Toan Giok sekejap, lalu jawabnya, "Biarpun sekarang aku mengatakan tahu, apakah kalian mau percaya? Karena kalian pada hakikatnya tidak tahu siapakah diriku yang sebenamya, darimana asal

usulku dan sebenamya siapakah aku?"

Apakah nona ini mempunyai asal-usul yang luar biasa dan mengejutkan? Terpaksa semua orang berpaling dan memandang Toan Giok dengan mata terpentang lebar, seolah mereka berharap pemuda ini dapat menjawab pertanyaan itu.

Toan Giok hanya bisa tertawa getir, dia sendiri pun tidak tahu.

Terdengar Hoa Hoa-hong berkata lagi, "Aku tahu jalan pikiran kalian pasti sama seperti dia, pasti mengira aku hanya seorang nona kecil yang tak mengerti urusan apa pun, seorangnona nakal yang suka mengajak berdebat."

Setelah tertawa dingin, lanjutnya, "Tapi pernahkah kalian berpikir, mengapa secara tiba-tiba aku bisa muncul di sini? Kenapa muncul tepat pada saatnya? Padahal urusan ini sama

sekali tak ada hubungannya dengan diriku, kenapa pula aku justru suka mencampuri urusan ini?"

Semua orang mulai berpikir, segera dirasakan kalau kejadian ini memang suatu hal yang sangat aneh dan mencurigakan.

Nama Hoa Hoa-hong tak pernah terdengar sebelumnya, juga belum pernah ada orang bertemu dengannya sebelum ini. Orang ini seakan-akan seperti mendadak terjatuh dari

langit, bahkan terjatuh persis pada senja tanggal sembilan, terjatuh tepat di samping Toan Giok.

Mana mungkin ada kejadian yang begitu kebetulan di kolong langit?

Di balik semua ini pasti masih terdapat rahasia lagi. Bahkan Lu Kiu pun tak tahan untuk tidak bertanya,

"Sebenarnya siapakah nona? Berasal darimana? Dan apa kedudukanmu dalam dunia persilatan?"

Hoa Hoa-hong nampak sangsi sejenak, seakan sedang mempertimbangkan apakah harus mengakui semuanya secara terus terang atau tidak.

Tapi pada akhirnya, dia mengakui juga.

"Pernahkah kalian mendengar kalau dalam kalangan Lak¬san-bun terdapat seorang opas wanita yang tiada duanya di kolong langit, orang menyebutnya Jit-jiau-hong-huang (Burung hong bercakar tujuh)?"

Tentu saja semua orang pernah mendengamya.

Mereka memang jago-jago kawakan yang banyak pengalaman dalam persilatan, apalagi Jit- jiau-hong-huang memang seorang opas yang amat tersohor.

Konon dalam beberapa tahun belakangan ini, kasus kejahatan yang berhasil dibongkar oleh opas wanita itu tidakberada di bawah jumlah kasus yang berhasil dituntaskan opas

nomor wahid di kolong langit, Sin-gan-eng (Elang bermata sakti).

Kembali terdengar Hoa Hoa-hong bertanya, "Pernahkah kalian berjumpa dengan Jit-jiau-hong- huang?"

"Belum pernah," semua orang menggeleng. "Kalau begitu, kalian telah menjumpainya hari ini."

"Jadi. kau adalah Jit-jiau-hong-huang?" tanya Ku-tojin, agak berubah wajahnya. "Betul sekali, memang akulah orangnya," sahut Hoa Hoa hong dengan nada hambar.

"Jadi kedatanganmu kemari bertujuan untuk menangkap si bandit wanita Hoa Ya-lay?"

Kembali Hoa Hoa-hong mengangguk.

"Sudah kelewat banyak kasus kejah-atan yang ia lakukan, aku telah mengawasinya sejak awal." Ku-tojin segera menghela napas, ujarnya sambil tertawa getir, "Tampaknya kita semua benar-

benar punya mata tak berbiji. Nona, kau benar-benar seorang jagoan yang tak mau menampakkan diri." "Padahal sudah cukup lama aku tiba di sini, diam-diam kuawasi terus tingkah-laku serta sepak- terjang bandit wanita itu. Hanya saja lantaran urusan ini adalah urusan golongan Lak-san bun (Pengadilan), maka aku pun tak ingin kalian turut campur dalam persoalan ini."

"Apakah nona berhasil mencari tahu dimana tempat persembunyian bandit wanita itu?" tanya Ku-tojin lagi.

"Bandit perempuan itu memang lebih licik daripada seekor rase,” sahut Hoa Hoa-hong dengan angkuhnya. "Sayang dia bernasib sial, karena harus bertemu dengan aku."

Setelah melirik sekejap ke arah Toan Giok, katanya lagi, "Kau sangka dirimu pandai berlagak bodoh? Padahal kemampuanku berlagak bodoh seratus kali lipat lebih hebat daripada kemampuanmu. Sementara bandit wanita itu pun selalu beranggapan aku tak lebih hanya seorang nona cilik yang tak tahu urusan, sama sekali tidak menaruh kewaspadaan terhadapku. Itulah sebabnya ia terjatuh ke tanganku."

Toan Giok masih tetap membungkam, dia hanya bisa tertawa getir. Dalam keadaan seperti ini, tentu saja dia tak sanggup berkata-kata lagi.

"Aku tahu dalam dua hari terakhir, demi menghindari terpaan hujan badai, untuk sementara waktu dia tak akan melakukan gerakan apa pun, maka sebetulnya aku pun berniat menunggu sampai tibanya bala bantuan sebelum melakukan langkah lebih jauh!" kata Hoa Hoa-hong lagi.

Setelah menghela napas, Ianjutnya, "Sayang aku telah membocorkan rahasiaku sekarang, berarti aku sudah tak bisa menunggu lagi sampai tibanya bala bantuan."

"Kami pun tak akan membiarkan nona menunggu sampai datangnya bala bantuan," kata Ku- tojin cepat. "Bila kau membutuhkan pembantu, kami bersedia menyumbangkan tenaga untuk membantu."

"Aku tahu, demi kalian sendiri, tentu saja kalian tak bisa berpeluk tangan." "Lalu nona berencana kapan akan mulai turun tangan?"

Tiba-tiba paras muka Hoa Hoa-hong berubah serius, katanya, "Aku pun tahu, kalian tak bakal membocorkan rahasiaku ini. Tapi untuk menghindari segala kemungkinan yang tak diinginkan, aku berencana untuk turun tangan pada malam ini juga. Dan mulai sekarang, semua orang yang telah mendengar rahasia ini tak boleh pergi meninggalkan sisiku, aku pun melarang kalian mengajak bicara orang lain."

Ternyata dia telah berubah seperti berganti orang lain.

Bukan saja berubah lebih hati-hati, bahkan setiap tindakan dan ucapannya amat tegas. Dengan nada serius Lu Kiu segera berkata, "Kami semua pasti akan mentaati perintah nona."

Hoa Hoa-hong segera melotot sekejap ke arah Toan Giok, tegurnya cepat, "Bagaimana dengan dirimu?"

"Aku memang selama ini selalu menuruti perkataanmu," sahut Toan Giok sambil tertawa getir. "Kau suruh aku ke timur, belum pernah aku berani pergi ke barat"

Hoa Hoa-hong kembali menarik muka, katanya dingin, "Bagus sekali, hanya saja "

"Hanya saja kenapa?" serentak Lu Kiu, Ku-tojin, serta Kiau-losam bertanya. "Untuk menghindari segala kemungkinan, kita harus mencari pembantu lagi." "Mencari siapa?" tanya Lu Kiu.

"Tongcu dan Kang-say, Pi-lik-tong!" "Ong Hui?"

Hoa Hoa-hong manggut-manggut.

"Untuk menangkap rase, setiap saat kita butuh menggunakan senjata peledak Pi-lik-tong."

Padahal dirinya sekarang sudah mirip seekor rase, bahkan seekor rase tua yang sangat berpengalaman. Jangankan orang lain, bahkan Toan Giok pun merasa kagum sekali setelah menyaksikan sikapnya.

Kembali Hoa Hoa-hong termenung, kemudian katanya, "Aku hanya tak tahu apakah ia bersedia mencampuri urusan ini?"

"Kujamin dia pasti mau," Ku-tojin segera menyahut,

"Karena pada dasarnya dia memang orang yang suka mencampuri urusan orang lain." "Kau dapat menemukan dia?"

Ku-tojin tertawa tergelak.

"Kalau disuruh mencari orang lain, aku tak yakin akan berhasil. Kalau suruh aku mencari Ong Hui, pada hakikatnya jauh lebih gampang daripada seekor kucing menangkap tikus."

Ternyata untuk mencari Ong Hui memang tak terlampau sulit,

karena dia berada di luar Hong-lin-si, tepatnya berada dalam warung arak milik Ku-tojin sedang minum arak.

Tosu perempuan yang cantik jelita sedang duduk di sampingnya, menemani. Tampaknya perasaan wanita itu sedang sangat baik.

Setelah meneguk dua cawan arak, wajahnya kelihatan lebih bersinar dan menawan hati.

Tampaknya Ku-tojin memang orang yang bernasib mujur, tidak banyak lelaki yang bisa memperistri wanita secantik dia.

Saat itu Ku-tojin telah menarik Ong Hui ke samping.

Cukup dengan beberapa patah kata, Ong Hui segera menganggukkan kepala berulang kali.

Tosu perempuan menggunakan ujung mata mengerling sekejap ke arah mereka, tak tahan tegurnya, "He, kalian berdua sedang membicarakan rahasia apa? Hm, mau mencari perempuan lain secara diam-diam?"

Buru-buru Ku-tojin menyahut sambil tertawa, "Kami tak bakal mencari terlalu banyak, paling tiap hari mencari tiga orang saja."

"Kalau begitu, aku pun tak akan mencari kelewat banyak," sahut Tosu perempuan itu tertawa. "Kau akan mencari apa?"

"Kalian boleh pergi mencari perempuan, memangnya aku. tak bisa mencari Ielaki di rumah?" "Untung di seputar sini hanya ada kaum Hwesio."

"Hm, jangan lupa, Hwesio pun laki-laki, Tosu perempuan memang paling cocok dijodohkan dengan Hwesio," kata Tosu perempuan hambar.

Ku-tojin tertawa terbahak-bahak, ternyata dia sama sekali tidak gelisah atau cemas, dia pun tak akan minum cuka, sebab siapa pun dapat melihat kalau dia pasti amat mempercayai bininya.

Hoa Hoa-hong pun merasa sangat puas, karena ia mengetahui bahwa orang ini memang bisa pegang rahasia, buktinya di hadapan bini sendiri pun, dia sama sekali tidak memberi bocoran apa pun.

"Ai, aku benar-benar kagum kepadamu," gumam Ong Hui sambil menghela napas.

"Mengagumi aku? Apa yang perlu dikagumi?" tanya Ku tojin. "Paling tidak ada sate hal kau lebih tangguh dari aku."

"0, ya?"

"Bila aku memiliki istri secantik ini, tak nanti aku akan berlega hati membiarkan dia berada di rumah seorang diri."

Kontan saja Ku-tojin tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, maka kau sering datang minum arak ketika aku tak ada di rumah, rupanya kau sudah tertarik padanya?" Tosu perempuan ikut tertawa. Sambil menggigit bibir dan mengerling Ong Hui sekejap, serunya, "Karena dia sudah berkata begini, lain kali mari kita berikan topi hijau untuknya. Lihat saja apa yang akan dia perbuat?"