Golok Kumala Hijau Bag 02 : Perempuan cantik dalam perahu

Bag 02 : Perempuan cantik dalam perahu

Siapa tahu perempuan cantik berbaju putih itu berjalan keluar lebih dulu. Sambil berpegangan pada pintu ruangan, ia menatapnya, menatap dengan matanya yang indah dan penuh perhatian, lalu dengan suara halus dan lembut, tegurnya, "Toan- kongcu jangan-jangan kau masuk angin? Kebetulan aku punya koyo cap pipa, paling bagus untuk mengobati batuk."

Kini Toan Giok tak berani mendehem lagi, bersuara sedikit pun tak berani, ia tertawa paksa. “Ah, tidak usah tidak usah Cayhe baik.. baik sekali."

"Kongcu, aku tahu kau memang baik sekali," ucap gadis cantik itu sambil tersenyum. Merah padam wajah Toan Giok karena jengah, selanya, “Aku bukan bermaksud begitu,

maksudku.. maksudku, aku tidak berpenyakit."

Senyuman gadis berbaju putih itu makin manis dan menghanyutkan.

"Oh, alangkah baiknya bila kau tak berpenyakit. Dalam perahu, aku masih menyimpan sebotol Tiok-yap-cing usia tua”

"Tidak usah, tidak usah sungkan," tukas Toan Giok cepat, "Cayhe akan mohon diri."

"Bila kongcu ingin pergi, tentu saja aku tak berani menghalangi," perlahan gadis berbaju putih itu menundukkan vpala, ''hanya saja, semisal Kongcu sudah pergi dan kawanan hwesio jahat itu balik lagi, apa yang harus kuperbuat?"

Toan Giok tak dapat menjawab, ia terbungkam.

Kalau ingin jadi orang baik, alangkah baiknya jadi orang baik hingga akhir. Tiba-tiba dari tepi telaga terdengar seseorang berteriak,

“Kongcu yang berada di atas perahu, uang arakmu total satu tahil tujuh rence dan belum dibayar "

Sambil tertawa, gadis cantik berbaju putih itu segera menyahut, "Uang arak kongcu ini, biar aku "

"Tidak usah, kau tak perlu sungkan, aku punya uang," potong Toan Giok segera.

Minta cewek membayar rekening araknya? Oh, suatu kejadian yang sangat memalukan. Memangnya Toan Giok turun tangan menolongnya hanya gara-gara ingin dibayari?

Jelas hal ini sangat memalukan, dia tak ingin orang lain salah-paham, apalagi salah mengartikan tujuan pertolongannya.

Toan Giok segera mengeluarkan kantong uangnya.

Karena gugup, dia jadi kurang hati-hati, bukan hanya uang kertas dan kepingan daun emasnya yang jatuh berceceran di lantai geladak, bahkan golok kumala hijau pun ikut terjatuh.

Masih untung gadis berbaju putih itu tidak terlalu menaruh perhatian, sepasang matanya yang jeli seakan sudah terpikat oleh sepasang lesung pipi di wajah Toan Giok dan begitu terpikat sampai dia segan mengalihkan perhatiannya ke arah lain.

***

Arak Tiok-yap-cing memang terbukti arak bagus. Bukan hanya warnanya membuat mata jadi lega, begitu masuk ke mulut, rasanya halus, lembut dan hangat, seperti lidah kekasih

yang dijulurkan ke dalam bibir.

Kebetulan gadis cantik berbaju putih sedang menjulurkan lidahnya yang mungil, sedang menjilat bibir sendiri.

Buru-buru Toan Giok menundukkan kepala sambil menghabiskan arak dalam cawannya, sekarang dia baru teringat, ternyata dalam sekali gebrakan, dia sudah melanggar beberapa pantangan sekaligus. Pantangan pertama, keempat, kelima dan ketujuh. Empat pantangan besar sekaligus.

Yang lebih parah lagi, entah sejak kapan perahu pesiar itu telah berlayar menuju ke tengah telaga. Saat ini, dia sudah tak sempat lagi pergi meninggalkan tempat itu. Apalagi sekarang dia telah menganggap dirinya sebagai teman, walau pun dia sendiri belum tahu siapa nama gadis itu.

“Aku she Hoa, bernama Ya-lay”

Hoa Ya-lay! Sebuah nama yang indah, sebuah nama yang menawan.

Cahaya rembulan yang indah ditambah suasana yang indah dan arak yang wangi. Segala sesuatunya begitu indah dan menawan, bagaikan hidup dalam alam nirwana.

Toan Giok menghela napas, ia putuskan untuk hidup santai hari ini. Setiap orang memang butuh waktu untuk hidup santai, bukankah begitu?

Apalagi yang dia lakukan hari ini bukan terhitung perbuatan jahat, siapa bilang menolong orang itu perbuatan jahat? Siapa bilang minum arak itu perbuatan jahat?

Dengan cepat Toan Giok memaafkan diri sendiri.

Bukankah memaafkan diri sendiri jauh lebih mudah daripada memaafkan orang lain? Oleh sebab itu, Toan Giok tak ingin mabuk pun akhirnya mabuk juga.

***

Bulan Purnama.

Rembulan di telaga Se-ouw, tampak sebuah perahu pesiar berlabuh ditepi pantai penuh pohon Yang-liu.

Kemana orangnya?

Orangnya masih mabuk, terlelap tidur.

Toan Giok hanya tahu dia digotong turun dari atas perahu pesiar, digotong orang menuju ke sebuah rumah yang dipenuhi harumnya bunga, berabring diatas pembaringan yang lebih harum dari bunga, ia tak bisa membedakan apakah sadar atau sedang bermimpi?

Disampingnya seakan terdapat seseorang, orang itupun lebih harum dari bunga, apakah harumnya bunga sedap malam (Ya-lay-hiang)?

Dia tak bisa membedakan dengan jelas, diapun enggan membedakan.

Mau mimpi tidak masalah, mau sadar pun bukan masalah, yang penting perasaan melayang, perasaan samar-samar memang sangat nikmat. Sepanjang hidup, berapa orang yang bisa merasakan kenikmatan seperti ini?

Malam itu sangat hening, suasana malam amat dingin.

Hanya angin yang berhembus di luar jendela, hanya bayangan bunga yang bergoyang dibalik daun jendela.

Dari sisi tubuhnya seolah ada orang memanggil dengan lembut, “Toan kongcu, Giok long!” Toan Giok tidak menjawab, dia tak ingin menjawab, tak ingin mendusin dari impiannya.

Tapi ia dapat merasakan orang yang berada disisinya mulai membalikkan badan, kemudian terasa ada sebuah tangan yang harum bagai bunga menjulur, seakan sedang memeriksa dengus napasnya.

Napasnya memang teratur, halus dan berirama.

Kemudian tangan itu mulai membelai wajahnya. Setelah itu, ia merasa orang itu merangkak turun dari ranjang.

Orang yang lebih indah dari bunga.

Kakinya yang panjang, pinggangnya yang langsing, rambutnya yang hitam berombak sebahu, kulit tubuh yang putih halus bagai sutera.

Bahkan rembulan pun sedang mengintip dari luar jendela, apalagi manusia?

Diam-diam Toan Giok memicingkan mata mengintip, tak tahan seruan pujian mendesah dari dalam hatinya. Untung saja desah pujian itu tak sampai meluncur keluar dari mulutnya.

Karena secara tiba-tiba ia saksikan Hoa Ya-lay sedang mengambil pakaiannya, dengan gerakan tangan yang lembut mengambil keluar kantung uang dari sakunya.

Kemudian perlahan-lahan ia berjalan menuju daun jendela. Disisi jendela berderet beberapa pot bunga, apakah bunga sedap malam yang berada disana?

Dia sedikit sangsi, kemudian diambilnya pot bunga yang kedua, mencabutnya keluar berikut tanahnya.

Kemudian dengan menggunakan gerakan yang paling cepat ia masukkan kantung uang milik Toan Giok itu ke dasar pot, setelah itu dimasukkan kembali bunga diatasnya dan meratakan tanah diseputarnya.

Sekarang siapa pun tak akan mengetahui apa keistimewaan pot bunga itu.

Ia menghembuskan napas lega, sewaktu membalikkan badan, sekulum senyuman bangga tersungging di bibirnya.

Senyuman gadis ini memang sangat manis. Pada hakikatnya bagaikan seorang bocah yang polos dan sama sekali belum mengenal arti dosa.

Tapi sayang Toan Giok sudah tak dapat menikmatinya, saat itu ia sudah kehilangan selera.

Kembali matanya dipejamkan, bahkan dari hidungnya mengeluarkan semacam dengkuran perlahan, persis suara dengkuran orang yang sedang mabuk arak.

Hoa Ya-lay berdiri di ujung ranjang, memandang pemuda itu dengan puas. Diam-diam ia merangkak naik ke ranjang, menggunakan lengannya yang putih halus dan lembut untuk memeluk pemuda itu erat-erat.

Agaknya sekarang dia berharap pemuda itu tersadar dari mabuknya. Tentu saja Toan Giok tidak mendusin.

Akhimya dia menghela napas, kemudian dengan suara lirih mulai bersenandung, "Aduh kasihan si anak muda "

Senandungnya makin lama makin rendah, dengusan napasnya makin lama makin berat, lengan yang menindih di atas badan Toan Giok pun seolah makin lama semakin berat.

Ia telah tertidur, tertidur dengan membawa perasaan bangga dan gembira.

Angin masih berhembus di luar jendela bayangan bunga masih bergoyang di luar jendela. Perlahan-lahan Toan Giok membalik badan, memanggil dengan perlahan, "Nona Hoa, Hoa Ya-

lay "

Tiada jawaban.

Dengus napasnya semakin berat, kelihatannya dia pun ikut meneguk arak Tiok-yap-cing.

Kembali Toan Giok menunggu cukup lama, lalu diam-diam merangkak bangun, mengambil kembali pakaiannya dan menghampiri daun jendela, waktu itu cahaya putih mulai

membias di atas kertas jendela.

Toan Giok mengambil pot bunga itu. Dengan gerakan tangan paling cepat, dia tuang semua barang yang ada dalam pot itu ke dalam saku sendiri.

Kemudian dia masukkan kembali bunga itu ke dalam pot dan meratakan tanahnya.

Sekulum senyuman bangga tersungging di ujung bibir, namun sewaktu membalikkan badan memandang ke arah si nona, timbul perasaan menyesal di hati kecilnya.

Pemuda yang berbudi luhur, biasanya tak ingin orang lain kecewa, apalagi terhadap seorang wanita yang begitu cantik.

Perlahan dia menghampiri ranjang. Sembari lewat, dia ambil kembali pecut kulit kerbaunya yang tergeletak di sana.

Tiba tiba nona itu menggeliat sambil bergumam, "Mau apa kau bangun? Toan Giok berusaha mengendalikan detak jantungnya yang berdebar dan menyahut lembut, "Aku harus berangkat lebih awal, karena aku mesti meneruskan perjalanan."

Nona di atas ranjang itu manggut-manggut, matanya masih juga terpejam, gumamnya lagi, "Sewaktu kembali nanti jangan lupa menengok aku lagi."

“Tentu saja."

Padahal dia pun tahu, besok belum tentu dia masih berada di tempat itu.

Dengan perasaan puas, nona di ranjang menghela napas panjang, dengan cepat ia terlelap tidur kembali.

Tentu saja dia tak menyangka pemuda yang tampak masih hijau itu sudah mengetahui rahasianya, kini dia hanya berharap Toan Giok segera pergi dari situ.

Bawah pot bunga memang tempat yang paling bagus untuk menyembunyikan barang.

Coba kalau dia tidak melihat secara kebetulan, ketika keesokan harinya tersadar dan tidak menemukan kembali barang-barangnya, saat itu dia pasti tak bisa menuduh gadis itu pencurinya.

Kalau ingin menangkap maling harus berikut barang jarahannya, dia pun tahu akan teori itu, jadi tanpa barang bukti dia bakal menelan kepahitan tanpa bisa berkeluh.

Lagi pula tuduhan semacam ini jelas tak mungkin bisa dilontarkan begitu saja, terlebih terhadap seorang nona cantik.

Ai, perempuan, tampaknya kaum lelaki memang harus waspada menghadapi kaum wanita.

Langit hampir terang tanah, rembulan yang tampak remang masih bertengger di ujung pohon, cahaya bintang yang redup sudah mulai bersembunyi di balik jagat raya yang kelabu.

Di atas jalan kecil beralas batu hijau, masih basah oleh embun yang dingin.

Toan Giok dengan bertelanjang kaki menembusi halaman, air embun yang dingin merasuk dari dasar kakinya hingga tembus ke ubun-ubun.

Tiba-tiba saja ia berubah jadi lebih sadar, pada hakikatnya belum pernah dia sesadar hari ini.

Dinding itu tidak terlalu tinggi, di ujung dinding pun ditanami aneka bunga.

Harum bunga yang sedap terbawa angin semilir yang dingin, merasuk ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam.

Toan Giok menyelinap keluar, dari sudut dinding ia temukan sepatunya, kemudian memasukkan benda yang diambil dari dasar pot bunga ke dalam saku bajunya, setelah mendongakkan kepala dia menarik napas panjang, menghirup harumnya bunga di tengah hembusan angin fajar.

Tiba-tiba ia merasa keindahan telaga Se-ouw di tengah fajar jauh lebih indah daripada di saat senja.

Ia berjalan santai menelusuri jalan di tepi telaga, menikmati keindahan alam telaga yang segar dan cantik.

Ia memang tak perlu terburu-buru, biarpun harus berjalan selama tiga hari tiga malam sebelum tiba di rumah penginapan kemarin juga bukan masalah baginya.

Ketika perempuan cantik yang licik itu mendusin esok, ketika menemukan pot bunganya berubah jadi kosong, entah bagaimana perubahan mimik mukanya?

Berpikir sampai di sini, tak tahan Toan Giok tertawa geli, sekalipun muncul juga perasaan menyesal dan iba, tapi kegembiraan karena ulahnya, karena perbuatan dosanya yang begitu penuh misteri jauh lebih kental daripada perasaan menyesal dan iba.

Tak tahan ia merogoh ke dalam sakunya, menikmati sekali lagi benda-benda miliknya yang semula dicuri dan kini diperoleh kembali.

Tapi dengan cepat pemuda itu tertegun. Ternyata dalam kantung uang itu selain terdapat uang kertas pemberian ayahnya, daun emas, serta golok kumala hijau pemberian ibunya, kini tertambah lagi dengan dua jenis benda.

Serenteng mutiara sebesar buah kelengkeng dan sebuah tanda pengenal terbuat dari batu kumala.

Mencari sebutir mutiara sebesar kelengkeng memang tidak terlalu susah, tapi menjadi amat susah bila ingin mengumpulkan satu renteng mutiara dengan ukuran yang serasi.

Kepingan batu kumala itu pun bersinar hijau mulus, sama sekali tak tampak cacat atau retakan apa pun.

Tentu saja Toan Giok tahu nilai barang. Sekilas pandang ia sudah tahu kedua jenis benda itu merupakan barang mestika yang tak ternilai harganya.

Darimana ia memperoleh kedua jenis benda itu?

Dengan cepat Toan Giok menjadi mengerti. Sudah pasti sejak lama Hoa Ya-lay telah menggunakan pot bunga itu sebagai gudang harta rahasianya.

Sebelum dia, pasti ada orang yang pernah tertipu oleh perbuatannya yang sama.

Sekali lagi Toan Giok tertawa geli. Ia merasa kejadian ini memang lucu dan menarik.

Sebetuknya ia bukan termasuk orang yang tamak, tapi tak ada salahnya untuk memberi sedikit pelajaran dan hukuman kepada perempuan cantik yang tamak itu dengan cara begini, sedikit pun ia tak merasa menyesal.

Apalagi walau sekarang dia ingin mengembalikan barang-barang itu kepadanya pun belum tentu ia dapat menemukan kembali sarang rasenya.

Tapi sejujurnya, dia memang tak ingin mencari masalah lagi.

“Barang-barang ini memang asalnya bukan milik dia. Sekalipun harus dikembalikan, aku tak boleh mengembalikan kepadanya” Toan Giok menghela napas, akhirnya dia mengambil keputusan begitu.

Maka sekali lagi dia masukkan seluruh barang itu kedalam saku bajunya.

Dia merasa puas karena ketenangan dan keteguhan hatinya, pada hakikatnya ia betul-betul merasa sangat puas.

Bahkan dia berpendapat, sudah seharusnya memperoleh hadiah akan tindakan yang telah dia lakukan.

Langit semakin terang.

Tiba-tiba muncul sebuah sampan kecil dari balik rimbunnya pohon Liu.

Pemilik sampan adalah seorang lelaki dengan usia tidak terlalu tua, ia mengenakan sepatu rumput dan di kepalanya mengenakan sebuah taping lebar.

Dari kejauhan ia telah menyapa Toan Giok dengan suara keras, "Siangkong, apakah kau hendak menyeberang telaga?"

Tiba-tiba Toan Giok merasa nasib sendiri sungguh bagus, sementara ia sedang bingung dan tak tahu harus pergi kemana, sementara dia sedang bingung rnencari perahu untuk menyeberang, sampan penyeberang telah muncul di depan mata.

"Kau tahu dimana letak rumah penginapan Sik-ke?"

Tentu saja tahu, tukang perahu mana di telaga Se-ouw yang tidak rnengetahui letak rumah penginapan Sik-ke!

Maka Toan Giok pun melompat naik ke atas sampan, serunya sambil tertawa, "Cepat bawa aku menyeberang telaga ini, akan kubayar sepuluh tahil perak."

Di saat sedang gembira, dia berharap orang lain pun ikut merasakan kegembiraannya. Gembira memang suatu kejadian yang aneh, tak mungkin berkurang sekali pun telah kau bagikan untuk orang lain. Kadang kala semakin banyak yang kau bagikan untuk orang lain, s semakin banyak pula yang kau peroleh.

Siapa tahu pemilik sampan itu bukan saja tak merasa gembira, bahkan sambil melototkan mata, ia berteriak, "Jangan jangan kau adalah bandit?"

"Memangnya tampangku mirip bandit?" tanya Toan Giok sambil tertawa.

"Kalau bukan bandit, mengapa sekali menyeberang kau membayarku sepuluh tahil perak?" tegur pemilik sampan itu dingin.

“Oh, jadi kau merasa kebanyakan?"

“Sebenarnya kebanyakan, tapi sekarang malah merasa kelewat sedikit!" “Kenapa?” tak tahan Toan Giok bertanya.

“Kalau memang uang itu kau peroleh secara gampang, sudah sepantasnya kau bayar lebih banyak bila ingin naik perahuku”

“Berapa yang kau minta?" kembali Toan Giok bertanya sambil mengedipkan mata. “Berapa banyak yang kau punya, berapa banyak pula yang kuminta"

Sekali lagi Toan Giok tertawa.

"Ternyata bukan aku yang bandit, kaulah bandit yang sebenarnya" ia mengejek. "Kalau sekarang baru sadar, keadaan sudah terlambat."

Bambu panjangnya hanya ditutulkan beberapa kali, sampan itu sudah melesat menuju ke tengah telaga. Kekuatan dua lengannya paling tidak mencapai tiga sampai lima ratus kati.

"Jadi perahu ini benar-benar perahu bandit?" tegur Toan Giok sambil menatapnya. "Hm!" pemilik sampan itu tidak menjawab, dia hanya mendengus.

"Konon bila ingin membunuh orang di atas perahu bandit, biasanya berlaku dua macam cara." "Tak sedikit urusan yang kau ketahui."

"Aku hanya ingin tahu, kau ingin mengundangku makan bakmi golok atau pangsit bungkus?" "Itu tergantung berapa banyak uang perak yang akan kau serahkan padaku. Kalau orang pelit

harus mendermakan duitnya, mana mungkin ia mau memberi dengan tulus?" ejek pemilik perahu itu sambil tertawa dingin. "Rasanya aku harus mempersilakan kau mandi lebih dulu."

"Oh, jangan sungkan-sungkan, tadi aku telah selesai mandi," sahut Toan Giok sambil tertawa.

Tidak menunggu ia menyelesaikan perkataannya, tiba tiba pemilik sampan itu melompat masuk ke dalam air. Menyusul sampan kecil itu mulai berputar di tengah telaga, putaran itu makin lama semakin cepat.

Toan Giok sama sekali bergeming, bahkan tidak panic juga tidak gelisah, gumamnya, ''Kalau hanya berputar bukan masalah, kalau sampai terguling ke air, itu baru celaka."

Belum lagi selesai bicara, benar saja, sampan kecil itu benar-benar terguling. Siapa sangka Toan Giok belum juga tercebur ke air.

Di saat perahu itu mulai terbalik, tubuhnya telah melambung ke udara. Menanti sang perahu terjungkir dengan dasar menghadap ke atas, ia baru melayang turun lagi ke dasar perahu dengan enteng, lagi-lagi gumamnya, "Kalau hanya terbalik bukan masalah, bila benar-benar tenggelam, itu baru celaka!"

Tiba-tiba dasar sampan mulai berbunyi keras, kemudian muncul sebuah lubang besar, sampan itu pun perlahan-lahan mulai tenggelam ke dasar telaga.

Toan Giok belum juga tercebur ke air.

Galah bambu yang dipakai untuk mendayung sampan masih terapung di atas permukaan, tiba- tiba dia melompat ke depan, ujung kakinya menutul perlahan di atas galah bambu itu dan meluncurlah dia ke depan.

Pada kesempatan itu ia berganti napas dan sekali lagi menutul di atas bambu tadi. Menanti bambu itu meluncur lagi sejauh tiga tombak, ujung kakinya menutul di atas bambu. Setelah dua kali menarik napas, tubuhnya dengan sangat ringan telah mendarat kembali di tepi telaga,

gumamnya, "Wah sayang, sayang sekali! Sebuah sampan yang begitu bagus ternyata harus ditenggelamkan dengan percuma."

Terdengar suara air tersibak, lalu tampak pemilik sampan muncul di atas permukaan air.

Dengan sepasang matanya yang hitam berkilat, ia mengawasi pemuda itu.

Sambil menggendong tangan dan tersenyum, Toan Giok berkata, "Saat ini air telaga pasti dingin sekali, hati-hati kalau mandi saat seperti ini, bisa masuk angin."

Cukup lama pemilik sampan itu melotot, tiba-tiba pujinya sambil menghela napas panjang, "Ternyata ilmu meringankan tubuhmu sangat hebat."

“Ah, hanya begitu saja, tak perlu kelewat dikagumi.”

Kembali pemilik perahu itu berkata dingin dengan wajah serius, "Sayang kemampuan yang hebat tidak dipergunakan sebagaimana mestinya."

"Digunakan tidak semestinya? Kau yang tak berguna atau aku yang tak berguna?" Toan Giok balik bertanya sambil tertawa geli.

"Ai, sebetulnya aku ingin melindungimu menunjukkan jalan terang. Sekarang tampaknya kau harus memilih jalan kematian," kembali pemilik perahu itu menghela napas.

Toan Giok ikut menghela napas.

"Mula-mula mengundang aku menikmati bakmi golok, lalu mengundangku mencebur telaga untuk mandi dan sekarang jalan terang apa yang hendak kau tunjukkan pula padaku?"

Pemilik perahu itu tertawa dingin, tanpa berkata ia segera menyelam kembali ke dalam air. "Hey, tunggu sebentar," tiba-tiba Toan Giok berteriak memanggil.

Perlahan pemilik perahu itu muncul kembali ke atas permukaan, tanyanya, "Masih ada yang ingin kau sampaikan?"

"Aku lupa untuk berterima kasih padamu," ucap Toan Gio,k tertawa. "Berterima kasih kepadaku?" pemilik perahu itu berkerut kening.

Kembali Toan Giok tersenyum.

"Terlepas perkataanmu tadi benar atau bohong, aku tetap harus berterima kasih kepadamu," katanya.

Senyuman itu polos dan bersungguh hati. Selamanya kau tak bakal rugi bila tersenyum macam ini terhadap orang lain.

Pemilik perahu itu menatapnya, lewat lama kemudian ia baru berkata sambil menghela napas, "Memang kelewat sayang bila pemuda macam kau harus mati mengenaskan."

"Aku pun tak ingin mati," jawab Toan Giok tertawa.

Pemilik perahu itu termenung sambil berpikir, sejenak kemudian katanya lagi, "Bila sekarang juga kau pergi ke biara Hong-lin-si dan mencari seorang she Ku, siapa tahu masih ada

secercah harapan untuk tetap hidup."

Toan Giok tertawa getir, keluhnya, "Sekarang aku masih hidup segar-bugar, kenapa kau menyumpahi aku untuk mati?"

"Masa kau sudah melupakan perbuatan yang pernah kau lakukan?"

"Perbuatan apa yang telah kulakukan?" Toan Giok balik bertanya dengan kening berkerut. "Menyalahi seseorang yang tidak boleh disalahi dan tidak pantas disalahi."

Toan Giok berpikir sejenak, mendadak seakan baru sadar, serunya, "Oh, kau maksudkan keempat orang Hwesio itu?" Agaknya tukang perahu itu sadar kalau perkataannya kelewat banyak, tanpa bicara ia segera menyelam kembali ke dalam air.

"Hey, dimana letak Hong-lin-si?" teriak Toan Giok, ''Kalau tidak kau terangkan, aku harus mencarinya kemana?"

Biarpun suara teriakannya keras, sayang di atas permukaan telaga sudah tak tampak lagi bayangan tubuh si tukang perahu itu.

Jangankan manusia, bayangan sampan kecil itu pun telah lenyap.

Toan Giok menghela napas panjang, gumamnya sambil tertawa getir, "Apakah nasibku akan berubah semakin buruk?"

Perlahan ia membalikkan tubuh, tiba-tiba dijumpai ada sepasang mata bulat besar sedang mengawasinya dari balik pepohonan Liu yang lebat.

Ternyata nona cilik dengan mata besar telah muncul kembali, dia masih mengenakan jubah panjang berwarna ungu yang dikenakan kemarin, hanya di sisi pinggangnya kini telah bertambah dengan sebilah pedang antik dan indah.

Sekarang Toan Giok baru teringat, dia telah melupakan sebuah benda, golok miiliknya.

Dia hanya teringat, sewaktu mulai meneguk arak di atas perahu pesiar semalam, golok itu masih berada di atas meja.

Kemudian dia telah melupakannya, bukan hanya golok itu terlupakan, bahkan dia sendiri pun nyaris terlupakan.

Bi-giok-to, golok kumala hijau. Dulu merupakan senjata andalan Toan-loyacu ketika mengembara dalam Kango uw semasa mudanya, konon terhitung benda pengikat tunangan

diberikan Toan-hujin sebelum menikah dulu.

Hingga Toan Giok berusia delapan belas tahun, Toan loyacu baru menyerahkan golok itu kepadanya.

Diam-diam Toan Giok menghela napas panjang. Dalam pandangan matanya seolah muncul wajah ayahnya yang kereng, penuh wibawa dan serius.

Nona kecil bermata besar itu telah berpaling menatap ke arahnya sambil menarik muka dan tertawa dingin, sindirnya,

“Kalau letak Hong-lin-si saja tidak tahu, buat apa kau terjun ke dunia persilatan?" "Jadi kau tahu dimana letak Hong-lin-si?" tak tahan Toan Giok bertanya.

Nona cilik itu menengok sekejap ke belakang, lalu celingukan pula ke kiri kanan, kemudian bertanya keheranan,

“Hey, kau sedang berbicara dengan siapa?" "Memangnya di sini masih ada orang lain?"

"Hm, kalau sudah tahu bahwa antara laki dan perempuan itu ada bedanya, buat apa kau masih mengajakku bicara?" seru nona cilik itu dengan muka cemberut.

Ternyata dia masih memendam sakit hati semalam.

Bisa dimaklumi, kaum wanita memang lebih gampang tersinggung daripada kaum pria. Apalagi kalau sudah sakit hati, biasanya perasaan itu akan selalu tersimpan dalam hatinya.

Sebagai seorang lelaki sejati, sudah sepantasnya bila mereka mengalah terhadap kaum wanita. Maka sambil tertawa, Toan Giok berkata, "Bila nona mengetahui dimana letak Hong-lin-si,

tolong berilah sebuah petunjuk kepadaku,"

Kembali nona cilik itu mendelik, dengusnya sambil tertawa dingin, "Aku tak kenal dirimu, kenapa aku harus memberi petunjuk?"

"Cayhe Toan Giok, boleh tahu siapa nama nona?" "Kalau kau berpendapat laki dan perempuan itu berbeda, bahkan arak pun tak boleh diteguk.

Buat apa mesti saling bertukar nama?"

Kelihatannya nona cilik ini selain sempit pikirannya, juga sulit dilayani.

Toan Giok bukan seorang pria yang terbiasa menerima perlakuan semacam ini. Asal di seputar sana memang terdapat Hong-lin-si, memangnya sulit untuk mencari tahu tempat itu?

Maka sambil tertawa dia pun menjura kepada si nona sambil katanya, "Wah, aku memang tak tahan menghadapi nona macam kau, lebih baik menyingkir saja."

Siapa tahu kembali nona kecil itu berteriak, "Hey, kembali! Perkataanku belum selesai!"

Terpaksa Toan Giok balik kembali, tanyanya sambil tertawa getir, "Perkataan mana yang belum selesai kau sampaikan?"

"Aku ingin bertanya," ujar nona cilik itu sambil tertawa dingin. "Kalau kau tak boleh minum arak semeja denganku, kenapa boleh minum arak di atas perahu orang, bahkan minum

semalam suntuk, apakah dia bukan wanita? Apakah kalian tak perlu membedakan antara pria dan wanita?"

Ternyata persoalan inilah yang mengganjal hatinya, membuat perasaan hatinya tak senang!

Toan Giok benar-benar terbungkam.

Bagaimana pun persoalan ini memang sulit untuk dijelaskan, terkadang tidak memberi penjelasan justru merupakan penyelesaian yang paling baik.

Lagipula kenapa dia harus memberi penjelasan kepada seorang nona cilik yang tak tahu aturan?

Ternyata nona cilik itu belum mau melepaskan dirinya begitu saja, kembali teriaknya, "Kenapa kau tidak menjawab? Apakah sudah tahu kalau alasanmu sangat tak masuk akal?"

Toan Giok tidak menjawab, dia hanya tertawa getir.

Setelah melotot beberapa saat, mendadak nona cilik itu tertawa, katanya, "Kalau kau sadar bahwa alasanmu tak masuk akal berarti penyakitmu masih bisa diobati. Ayo, ikuti aku!"

"Kau bersedia mengajakku pergi ke Hong-lin-si?" tanya Toan Giok tertegun.

"Kalau bukan mengajakmu ke Hong-lin-si, memangnya mengajakmu pergi mampus?" sahut nona cilik itu sambil menggigit bibir.

"Jangan sekali-kali berhubungan dengan wanita asing, jangan sekali-kali kau lakukan!"

Toan Giok hanya bisa menghela napas, tampaknya saat ini mau tak mau dia harus berhubungan dengan seorang wanita asing lainnya.

Kini dia hanya berharap gadis ini jauh lebih baik daripada perempuan semalam.

Angin mulai berhembus, daun Liu menari-nari di tengah udara, persis seperti bunga salju yang mulai turun.

Sambil membelah ranting Liu, nona kecil itu perlahan-lahan berjalan ke depan. Sekalipun berdandan sebagai seorang lelaki namun pinggulnya tampak bergoyang waktu melangkah.

Mungkinkah dia sengaja bergoyang pinggul untuk diperlihatkan pada Toan Giok? Untuk membuktikan kalau ia bukan nona kecil, melainkan seorang gadis yang telah dewasa?

Ingin tidak melihat pun sulit bagi Toan Giok, tapi kenyataan, pinggang nona cilik ini memang ramping bagaikan ranting pohon Liu. Sekali pun sifat kanak-kanaknya belum hilang, namun memancarkan daya pikat yang memabukkan.

Bukankah lelaki punya mata khusus untuk menikmati keindahan tubuh seorang gadis semacam ini? Toan Giok masih muda, baru berusia sembilan belas. Tampaknya si nona tahu kalau anak muda itu sedang memperhatikan tubuhnya, tiba-tiba ia berpaling dan tertawa. "Aku she Hoa, bernama Hoa-hong!"

Hoa Hoa-hong, sebuah nama yang sangat indah.

Toan Giok tertawa, ia merasa dirinya telah memberikan sebuah pertanggung-jawaban pada dirinya sendiri. Paling tidak saat ini nona cilik itu sudah tidak termasuk seorang gadis asing

Lagi.

Paling tidak ia sudah mengetahui namanya.

***

Biara Hong-lin-si terletak di sisi kiri dusun Sin-hoa-cun, dusun ini berada di samping komplek kuburan Gak-ong. Merupakan salah satu hutan terbesar di antara delapan hutan telaga Se-ouw.

Banyak peziarah yang datang berkunjung ke biara ini, terutama di musim semi dan gugur. Sekalipun para pesiar yang tidak percaya Buddha pun seringkali datang ke biara untuk sekedar mampir dan menyulut beberapa batang hio.

Hong-lin-si adalah biara para Hwesio.

Kalau memang biara Hwesio, kenapa tukang perahu itu menganjurkan Toan Giok datang menjumpai seorang Tojin she Ku?

Hoa Hoa-hong memutar biji matanya, lalu bertanya,

“Benarkah si tukang perahu minta kau datang mencari seorang Tojin she Ku?°' "Ehm."

"Kau tidak salah dengar?"

"Aku jamin telingaku tak bermasalah," sahut Toan Giok sambil tertawa getir.

"Tapi setahuku, Hong-lin-si hanya dihuni kaum Hwesio, tak seorang Tosu pun tampak di situ." "Jangan-jangan keempat Hwesio yang kuhajar kemarin berasal dari Hong-lin-si?" tanya Toan

Giok sambil berkerut kening.

"Tidak benar, Hongtiang Hong-lin-si rasanya bukan ahli ahli waris biara Hoa-lam-si, sementara ilmu silat yang digunakan keempat orang Hwesio itu jelas merupakan Siau-lim-kun."

"Kelihatannya kau termasuk jagoan berpengalaman."

"Hm, memangnya hanya kaum laki yang boleh berkelahi dan melarang kaum wanita berlatih kungfu?" seru Hoa HoaI hong sambil tertawa dingin.

"Aku sama sekali tak bermaksud begitu." "Lantas apa maksudmu?"

"Aku hanya memuji ketajaman mata mu, seorang jago pengalaman, hebat pengetahuannya.

Masakah masih terselip maksud lain?"

"Memang betul, perkataanmu memang tak salah, tapi nada bicaramu itu yang membikin orang penasaran, seperti sedang mengolok-olok."

Toan Giok segera menghela napas panjang.

"Ai, sekarang pun aku mulai mengerti maksud hatimu," katanya. "O, ya?"

"Kau tampaknya suka mencari masalah dengan orang lain, suka mencari keributan, suka berkelahi," kata Toan Giok sambil tertawa getir.

"Siapa bilang aku suka mencari keributan, suka berkelahi? Aku hanya suka mencari kau." Begitu ucapan itu diutarakan, dia sendiri tak tahan untuk tertawa.

Melihat tertawanya yang manis, tiba-tiba Toan Giok merasa hatinya ikut manis, bahkan dia sendiri pun tak jelas apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi. Bila seorang wanita suka mencari masalah denganmu, mengajak kau berkelahi, semestinya hatimu merasa sedih, merasa amat kesal.

Tapi anehnya, terkadang kau justru merasa amat senang, amat gembira.

Mungkin inilah alasan mengapa kaum wanita selalu mengatakan kaum lelaki, "dasar balung kere (tulang miskin)".

Tatkala Toan Giok sedang memandangnya, Hoa Hoa hong pun sedang memandang Toan Giok, maka mereka pun saling beradu pandang, kau memandang aku, aku pun memandang kau, seolah-olah mereka lupa kalau di dunia masih ada orang lain.

Tentu saja di tempat itu bukan hanya ada mereka berdua, tentunya orang lain pun hampir semuanya sedang memandang mereka

Pada dasarnya Toan Giok memang sudah amat menarik perhatian, apalagi sekarang didampingi Hoa Hoa-hong yang laki bukan perempuan pun tidak.